BONDOWOSO JATIM - Kasus kekerasan seksual terhadap anak di bawah umur masih kerap terjadi di Bondowoso. Kini ada seorang anak di bawah umur yang lapor polisi karena menjadi korban pencabulan.

Korban yang masih berusia 11 tahun ini merupakan warga Kecamatan Tamanan, Bondowoso. Sedangkan terduga pelaku merupakan tetangga korban yang sudah berusia sekitar 61 tahun.

"Benar. Memang ada laporan pencabulan. Akan kami dalami," ungkap Kapolres Bondowoso AKBP Erick Frendriz kepada wartawan di mapolres, Jumat (9/10/2020).

Dijelaskan lebih lanjut terkait adanya laporan tersebut, selain menghimpun barang bukti pendukung, pihaknya juga akan meminta keterangan sejumlah saksi.

"Korban juga langsung kami mintakan visum et repertum. Sehingga dapat kami jadikan dasar pengembangan lebih lanjut," kata Erick.

Data yang dihimpun kepolisian, pencabulan bermula saat korban yang masih duduk di bangku SD itu tidur-tiduran sambil mainan HP di kamarnya. Tiba-tiba pelaku masuk ke dalam kamarnya yang memang sedang tak ditutup.

Selanjutnya pelaku meminta korban untuk membuka celana, tapi korban menolak. Pelaku lantas memeluk korban dan melakukan pencabulan.

Untuk diketahui, dalam sepekan terakhir di Bondowoso telah terjadi 3 kasus kekerasan seksual pada gadis di bawah umur. Yakni di Botolinggo, Wringin, dan terakhir Tamanan.

Bahkan, dua kejadian di Botolinggo dan Wringin menyebabkan korban hamil. Dua pelaku kini sudah ditangkap dan ditahan. Keduanya menjalani proses hukum dan terancam hukuman maksimal 15 tahun penjara.

Sumber : detik.com

Keji, Kakek 61 Tahun di Bondowoso Setubuhi Bocah 11 Tahun

KEDIRI JATIM - Dua korban meninggal dunia setelah terlibat kecelakaan di Jalan umum Dusun Pohblembem Desa Badas Kecamatan Badas Kabupaten Kediri tadi malam. Satu korban bernama Rofi Virgiantoro, warga Desa Klampisan Kecamatan Kandangan Kabupaten Kediri. Satu korban lainnya masih belum diketahui identitasnya (Mr. X).


IPDA Aris Wigiarto, Kanit Laka Satlantas Polres Kediri saat dikonfirmasi mengatakan kecelakaan melibatkan sepeda motor nopol AG 5988 EU yang dikendarai Rofi Virgiantoro dengan truk nopol AG 9964 KA yang dikemudikan NURWIDI warga Desa Soso Kecamatan Gandusari Kabupaten Blitar.

Awalnya sepeda motor melaju di Jalan Raya Badas, Kediri. Sesampainya di Jalan Umum Dusun Pohblembem, Badas, Kediri, sepeda motor mendahului truk yang tidak dikenal hingga berjalan terlalu ke kanan dan bertabrakan dengan truk nopol AG 9964 KA yang berjalan dari arah berlawanan.

Akibat kecelakaan tersebut, ROFI VIRGIANTORO mengalami luka pada kaki kanan, sementara Mr. X, mengalami luka pada kepala. Keduanya meninggal dunia di Tempat Kejadian Perkara (TKP).

Sumber : andikafm.com

Kecelakaan Maut di Kediri, Dua Korban Tewas

TULUNGAGUNG JATIM - Diduga Depresi karena sakit tak kunjung sembuh, kakek di Dusun Kebonagung Desa Rejoagung Kecamatan Kedungwaru Tulungagung  gantung diri. Kejadian sekitar jam 05.00 WIB pagi tadi di kandang ayam rumah korban, Jumat 09/10/2020.


AKP Siswanto, Kapolsek Kedungwaru Polres Tulungagung saat dikonfirmasi mengatakan korban bernama GAPUR, usia 60 tahun. Menurut keterangan keluarga, GAPUR memiliki riwayat sakit ambeien dan sakit tenggorokan yang tidak kunjung sembuh. 

Sehingga korban depresi dan mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri.

Awalnya sekitar jam 04.40 WIB, istri GAPUR bernama INDASAH bangun tidur dan mengetahui suaminya tidak ada di kamar. Setelah dicari, GAPUR ditemukan di kandang ayam depan rumahnya dengan kondisi sudah tidak bernyawa. 

Kejadian ini langsung dilaporkan ke perangkat desa dan diteruskan ke pihak kepolisian.

Menurut AKP SISWANTO S.H., M.M., berdasarkan hasil olah TKP tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban. Korban meninggal dunia karena murni bunuh diri. 

Sumber : andikafm.com

Depresi Sakit'Tak Kunjung Sembuh, Pria Di Tulungagung Gantung Diri

PROBOLINGGO JATIM - Seorang pria di Kota Probolinggo ditemukan tewas gantung diri di SUTET. Polisi masih menyelidiki kasus ini.

Lokasi gantung diri berada di Kecamatan Kedopok, Kota Probolinggo. Pria tersebut berbadan besar dan memakai kaus abu-abu. Lalu bertopi hitam dan bercelana jeans.

Pria itu ditemukan tewas tergantung tali plastik, oleh petugas PLN yang mengecek aliran listrik. Polisi yang datang langsung melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) serta memeriksa saksi-saksi.

Kabar adanya orang tewas tergantung membuat banyak warga mendatangi lokasi. Mereka khawatir jika korban merupakan salah satu anggota keluarganya.

Di sekitar TKP, polisi menemukan sepeda motor korban, yakni jenis matic bernomor polisi N 5356 QI. Motor ini berwarna merah putih, serta ada tali tampar berukuran besar di kendaraan roda dua tersebut.

Menurut subagio, Ketua RT setempat, awalnya korban ditemukan oleh petugas PLN yang rutin memeriksa tiang SUTET pukul 06.00 WIB. Selanjutnya dirinya melapor ke pihak berwajib. Hasil pemeriksaan, korban bukan warganya.

"Awal ditemukan korban oleh petugas PLN yang setiap pagi mengecek kondisi tiang SUTET dan aliran listrik. Korban sudah tidak bernyawa. Selanjutnya saya laporkan ke pihak kepolisian. Yang jelas bukan warga saya dan sekitar lokasi," ujar Subagio, Kamis (8/10/2020).

Sementara Kapolsek Wonoasih, Kompol Kuzaini mengatakan, sampai sejauh ini pihaknya masih melakukan penyelidikan. Apakah korban murni gantung diri atau ada unsur lain?

"Kami masih melakukan penyelidikan motif pria ini, apakah murni bunuh diri atau ada unsur lain. Kami masih menunggu hasil olah TKP dan visum oleh tim medis kamar mayat RSUD dr Mochamad Saleh," ujar Khuzaeni saat dikonfirmasi.

Beberapa saat kemudian, ada seorang perempuan berinisial DAS datang ke lokasi. Ia mengaku sebagai istri korban. Menurutnya, korban diketahui berinisial S warga Kecamatan Kanigaran, Kota Probolinggo.

DAS langsung dibawa petugas kepolisian setempat untuk dimintai keterangan. Guna kepentingan penyelidikan, jenasah korban dibawa ke kamar mayat RSUD dr Mochamad Saleh.

Sumber : detik.com

Pria Di Probolinggo Tewas Gantung Diri Di Sutet

BLITAR JATIM - Warga Jalan Kenari, Kelurahan Plosokerep Kecamatan Sananwetan Kota Blitar dihebohkan dengan penemuan seorang laki-laki yang mengakhiri hidupnya dengn cara gantung diri. 


Korban yang belum diketahui identitasnya ini (Mr.X) ditemukan sudah dalam keadaan meninggal dunia di pohon perdu berduri setinggi 1,5 meter di area persawahan selatan SPBU Kenari Kota Blitar, sore kemarin.
 
Kasubbag Humas Polres Blitar Kota, IPTU Ahmad Rochan mengatakan, kejadian itu awalnya diketahui oleh seorang warga yang sedang mencari rumput sekitar jam 17.15 WIB. Saat itu saksi melihat ada sebuah terpal warna oranye berada di tengah semak-semak. Saat didekati ada seorang yang lehernya terikat oleh tali dadung. Kejadian ini kemudian dilaporkan ke Polsek Sananwetan Polres Blitar Kota.
 
Dari hasil pemeriksaan petugas, tidak ditemukan adanya tanda-tanda kekerasan pada tubuh jenazah. Petugas tidak menemukan kartu identitas korban di sekitar lokasi kejadian. 

Ciri-ciri korban, mengenakan celana panjang warna hitam, baju batik warna merah setrip putih hitam dan sandal selop warna hitam. Petugas juga menemukan dompet warna coklat serta tiket perjalanan bus dari Lampung ke Blitar. 

Jenazah korban dievakuasi ke RSUD Mardi Waluyo Kota Blitar.

Sumber : andikafm.com

Warga Blitar Ditemukan Tewas Gantung Diri

LUMAJANG JATIM - Pasangan suami istri (pasutri) di Lumajang dianiaya orang tak dikenal. Mereka dicangkul hingga luka parah.

Pasutri yang menjadi korban penganiayaan ini yakni Pandi (58) dan Juminah (56). Mereka tinggal di Dusun Karangrejo, Desa Kedungmoro, Kecamatan Kunir, Kabupaten Lumajang.

Penganiayaan berawal saat Pandi bersama istrinya menonton TV di ruang belakang rumah, Rabu (7/10) sekitar pukul 21.00 WIB. Tiba-tiba seseorang tak dikenal masuk ke rumah mereka dengan memakai penutup wajah.

Pelaku membawa cangkul milik korban. Kemudian pelaku mencangkul kedua korban yang sedang menonton TV sambil tiduran.

Pandi mengalami luka parah di bagian kepala. Sedangkan Juminah luka di bagian dahi. Korban dilarikan ke Rumah Sakit Bhayangkara dan RSUD dr Haryoto Lumajang untuk menjalani perawatan.

"Kedua korban sedang menonton TV kemudian ada orang tak dikenal dengan menggunakan penutup wajah masuk, dan menganiaya kedua korban menggunakan cangkul, hingga keduanya mengalami luka di bagian kepala," ujar adik korban, Buadi, Kamis (8/10/2020) dini hari.

Polisi yang datang ke lokasi kejadian langsung memasang police line dan melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). Polisi mendapati bercak darah korban di lantai dan perlak, serta sebuah cangkul yang gagangnya patah di dekat pintu belakang rumah korban.

"Setelah kami dapat informasi dari masyarakat, kita langsung mendatangi lokasi dan melakukan olah TKP," ujar Kapolsek Kunir Iptu Haryono kepada wartawan.

Polisi akan berupaya mengungkap kasus penganiayaan tersebut. "Kami masih melakukan penyelidikan terhadap penganiayaan pasutri menggunakan cangkul," pungkas Haryono.

Sumber : detik.com

Lagi Asyik Nonton TV, Pasutri Lumajang Dicangkul Orang Tak Dikenal

MADIUN JATIM - Lima warga tertabrak dua kendaraan sekaligus di Jalan Raya Madiun Surabaya, tepatnya depan Pos 906 Desa Bagi Kecamatan/Kabupaten Madiun. Dua orang meninggal dan tiga lainnya terluka.

Kendaraan yang terlibat adalah Toyota Kijang Innova bernopol AE 536 BG dan bus Gunung Harta bernopol DK 7169 GH.

"Betul jadi kecelakaan dengan melibatkan dua kendaraan menabrak lima pejalan kaki. Korban meninggal dunia 2 dan terluka 3," ujar Kanit Laka Polres Madiun Ipda Johan Ariadi saat dikonfirmasi wartawan Rabu malam (7/10/2020).

Dua korban meninggal dunia, kata Johan, yakni Mochamad Syaifulloh (29), warga Kecamatan Taman, Kota Madiun dan Hari Purnomo (26), warga Kecamatan Dagangan, Kabupaten Madiun.

"Untuk tiga korban luka dilarikan ke RSUD dr Soedono Madiun," kata Johan.

Johan mengatakan untuk tiga warga yang terluka, yakni Fahrul Rozak (27), warga Tanah Kali Kedinding, Kenjeran, Surabaya; Ibrahim Anis (39), Kecamatan Kartoharjo, Kota Madiun; dan Mochamad Ardha Putra (24), warga Kecamatan Baron, Nganjuk.

Johan menambahkan kecelakaan bermula saat Innova yang dikemudikan oleh Darmono berjalan dari arah utara ke selatan atau dari arah Surabaya ke Kota Madiun. Sesampainya di lokasi, MPV itu menabrak lima pejalan kaki yang berdiri di tengah jalan saat menyeberang. Korban saat itu sedang menunggu arus sepi dari arah selatan atau kota Madiun.

"Jadi kelima pejalan kaki ingin menyeberang dari timur ke barat jalan, di mana pada saat itu berhenti di tengah menunggu arus sepi. Tiba-tiba saja korban tertabrak Innova dan terpental ke kanan. Saat terpental itulah dari arah selatan atau dari Kota Madiun melaju Bus Gunung Harta yang kemudian juga menabrak korban," tandas Johan.

Sumber : detik.com

5 Warga Tertabrak Dua Kendaraan di Madiun, Dua Orang Tewas

BOJONEGORO JATIM – Seorang pengendara motor meninggal dunia setelah terlibat kecelakaan tunggal di Jalan Raya Jurusan Kalitidu-Ngasem turut Desa/Kecamatan Kalitidu, Kabupaten Bojonegoro, sekitar pukul 06.00 WIB, Rabu (7/10/2020).

Kanit Laka Lantas, Satlantas Polres Bojonegoro Ipda Luluk Sulistiono mengatakan, kecelakaan tunggal tersebut melibatkan satu orang pengendara sepeda motor yang meninggal karena leher sebelah kirinya tertancap besi sambungan yang dipakai untuk pembangunan jalan cor.

Satu orang meninggal dunia, Bowo Sasmito (58) warga Desa/Kecamatan Kalitidu, Kabupaten Bojonegoro meninggal dunia saat menjalani perawatan di RSI Muhammadiyah Kalitidu.

Korban terjatuh dari motor diduga tidak bisa menguasai stir karena banyak berserakan pasir dan kerikil. Kondisi jalan di tempat kejadian kini sedang dalam proses pengecoran. Satu sisi jalan sudah selesai dicor. “Jalan yang sudah dicor itu ada besi yang muncul digunakan untuk sambungan, leher korban mengenai besi itu dan mengalami luka,” ujarnya kepada wartawan.

Sekadar diketahui saat itu korban dengan mengendatai sepeda motor Vario nomor polisi S 4649 CX melaju dari arah Utara ke Selatan dengan membonceng istrinya, Widiastuti. Saat terjatuh, Widiastuti jatuh ke kanan namun tidak mengalami luka. “Kasus kecelakaan itu sekarang masih dalam pengembangan,” pungkasnya. 

Pengemudi Motor Di Bojonegoro Tewas Dengan Leher Menancap Di Besi Cor

 MOJOKERTO JATIM - Dua orang mucikari diringkus anggota unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polres Mojokerto dari laporan masyarakat. Keduanya menawarkan gadis ingusan untuk melakukan hubungan layaknya suami istri dengan tarif Rp1 juta untuk tiga jam.

Kedua orang mucikari tersebut yakni Muhammad Agung Muliono (20) warga Desa Wonorejo, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto dan SM (18) warga Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto. Keduanya diamankan setelah adanya laporan dari masyarakat terkait maraknya perdagangan manusia di wilayah Pacet.


Dari pelaku Muhammad Agung Muliono (20) diamankan Rp1,1 juta, satu unit Handphone (HP) merk Vivo Y12 warna merah dan satu unit HP merk Oppa A3S warna hitam. Dari pelaku SM diamankan uang tunai sebesar Rp1 juta dan satu unit HP merk Oppo warna merah. 


Dari saksi Ilham diamankan barang bukti berupa satu unit HP merk Vivo V5 warna putih dan dari saksi Dwi Retno Sari satu unit HP merk Realme warna biru. Pelaku SM dijerat Pasal 296 KUHP dan Pasal 506 KUHP dengan ancaman 1 tahun 4 bulan penjara.


Pelaku Muhammad Agung Muliono dijerat Pasal 88 Jo Pasal 76 Undang-undang Nomor 35 Tahun 2014 dan Pasal 506 KUHP dengan ancaman 10 tahun penjara. Keduanya saat ini harus mendekam di jeruji penjara Polres Mojokerto.


Kapolres Mojokerto, AKBP Dony Alexander mengatakan, Unit PPA Satreskrim Polres Mojokerto setelah mendapatkan informasi dari masyarakat, langsung melakukan penyelidikan. “Unit PPA telah mengungkap kasus maraknya penjualan manusia di wilayah Pacet,” ungkapnya, Rabu (7/10/2020).


Kedua orang mucikari tersebut, lanjut Kapolres, mendapatkan keuntungan bervariasi antara Rp200 juta sampai Rp300 juta. Sementara dua korban masih berstatus pelajar, dengan usia 16 tahun dan 18 tahun. Kapolres menjelaskan, lokasi yang digunakan untuk menawarkan gadis ingusan tersebut di wilayah Pacet.


“Pengakuan dari yang bersangkutan, baru sekali namun tim masih melakukan pengembangan dan penyelidikan lebih lanjut untuk mencari alat bukti dengan membuka beberapa sistem komunikasi yang ada di alat komunikasi yang bersangkutan. Sehingga akan kita bisa buka semuanya, sudah berapa kali atau sudah berapa wanita ataupun anak-anak di bawah umur yang sudah dilakukan atau dieksploitasi oleh yang bersangkutan,” katanya.


Kapolres menambahkan, dalam praktek tersebut para mucikari sudah biasa komunikasi dengan para korban dan juga kepada para lelaki hidung belang. Menurutnya, antara mucikari dengan para korban memiliki jaringan sendiri dalam komunikasi baik melalui Whatsapp (WA) ataupun media sosial (medsos).


“Dalam proses penyidikan ini, Satuan Reserse Kriminal tidak berhenti di sini dan akan melakukan pengembangan jaringan-jaringan yang lain agar nantinya wilayah hukum Kabupaten Mojokerto bebas atau bersih-bersih dari pelanggaran-pelanggaran yang bersifat seperti ini. Kasus ini menjadi perhatian serius kami,” tegasnya.


Sumber : beritajatim.com

Tawarkan Gadis, Dua Mucikari Di Mojokerto Diringkus Polisi

TULUNGAGUNG JATIM - Sebuah Isuzu Panther Touring AG 418 RN menabrak tembok makam Masjid As Salam Desa Winong, Kecamatan Kedungwaru Tulungagung, Rabu (7/10/2020) siang.

Tembok pembatas makam dengan jalan raya ini ambruk, dan mobil masuk ke area makam.

Pengemudi atas nama Fadoli (59) waga Desa Pulosari, Kecamatan Ngunut Tulungagung meninggal dunia.

Sedangkan satu penumpang atas nama Sinarwati (37), warga Desa/Kecamatan Kauman selamat.

Menurut Sinarwati, Fadoli adalah teman yang baru dikenalnya lewat Facebook.

"Sebelumnya dia minta nomor telepon saya. Terus kami sering komunikasi lewat HP," ujarnya.

Hari ini Fadoli menghubunginya dan mengajaknya jalan-jalan.

Sinarwati mengaku, ini adalah pertama kalinya dia bertemua dengan Fadoli.

Fadoli menjemputnya di rumah, dan sempat mengajak ke area wisata Kebun Belimbing, di Desa Moyoketen, Kecamatan Boyolangu.

"Setelah itu dia ngajak jalan-jalan, saya hanya ikut saja di dalam mobilnya. Dari wisata belimbing, kami lewat ke Pasar Ngemplak," sambung Sinarwati.

Sampai di simpang empat Mangunsari, Kecamatan Kedungwaru, Fadoli berbelok ke utara.
Saat masuk ke Desa Winong, Fadoli tiba-tiba mengaku pusing.

Sinarwati sempat memintanya menghentikan mobil, tapi tubuh Fadoli kejang-kejang.

"Tiba-tiba dia kejang-kejang, mobilnya tidak terkendali. Dia tidak bisa menghentikan mobilnya," tuturnya.

Mobil berbelok tajam ke kanan dan menghantam tembok makam.
Mobil berhenti setelah jatuh ke area makam, dan menabrak pusaran di area makam itu.

Sinarwati mengaku ketakutan karena mengira mobil akan terbakar.

"Saya coba buka pintu, ternyata bisa terbuka. Terus saya langsung keluar lari minta tolong," katanya.

Sinarwati tidak mengalami luka yang berarti.
Namun Fadoli meninggal dunia di lokasi kejadian.
Lelaki nahas ini dievakuasi dengan mobil ke RSUD dr Iskak Tulungagung. 

Baru Pertama Bertemu, Pria Di Tulungagung Tewas Tabrak Tembok Kuburan

BOJONEGORO JATIM - Komplotan curanmor di Bojonegoro diringkus. Komplotan yang terdiri dari 3 orang ini mencuri motor milik petani yang ditinggal ke sawah.

Mereka adalah AP (36), warga Bojonegoro dan AS (25) serta MSA (24), warga Gresik buka warung kopi di Bojonegoro. Kapolres Bojonegoro AKBP Budi Hendrawan mengatakan komplotan ini mengaku telah berhasil mencuri motor berbagai merek di 28 TKP.

"Pelaku ngaku ada 28 TKP di beberapa kota, yakni 13 di Bojonegoro, Jombang sebanyak 5 TKP, dan di Lamongan 10 TKP," ujar Budi kepada wartawan, Rabu (7/10/2020).

Ditambahkan Kasat Reskrim AKP Iwan Hary Poerwanto, salah satu dari ketiga tersangka yakni AP adalah residivis kasus penjambretan. Setelah mendekam dua tahun di penjara, AP malah beralih menjadi maling motor.

"Kawanan pelaku curanmor ini hanya berbekal kunci T untuk menggasak motor yang dicuri dengan waktu rata rata 3 menit" kata Iwan.

Komplotan curanmor ini selalu beraksi di kawasan pinggir jalan, dengan mengintai kendaraan yang parkir ditinggal pemiliknya ke sawah. Dari kasus ini, polisi menyita barang bukti berupa 2 unit motor Honda Beat, 1 BPKB, 1 Set kunci palsu, kunci dan gembok.

Polisi hingga kini masih memburu penadah dan motor curian lainnya yang telah dijual oleh pelaku. Para tersangka dijerat pasat 363 ayat 1 KUHP, dengan acaman hukuman 7 tahun penjara.

Sumber : detik.com

Sering Curi Motor, 3 Warga Bojonegoro Berhasil Diringkus Polisi

SEMARANG - Aksi demo memprotes pengesahan Omnibus Law UU Cipta Kerja di Kota Semarang diwarnai ricuh. Massa merobohkan pagar gedung DPRD Jawa Tengah (Jateng).

Pantauan di lokasi, Rabu (7/10), massa aksi berdatangan sekitar pukul 12.00 WIB. Aksi demo itu diawali dengan orasi di depan pagar gedung DRPD Jateng di Jalan Pahlawan, Kota Semarang.

Barisan massa dari berbagai elemen termasuk mahasiswa itu di bagian depan lalu berpegangan ke pagar. Pagar itu digoyang-goyang hingga tidak kuat menahan hingga akhirnya roboh ke dalam halaman Gedung DPRD Jateng.

"DPR sekarang dewan pengkhianat rakyat!" teriak salah seorang orator.

Tampak petugas kepolisian yang berada di balik pagar ada yang terluka karena tertimpa pagar. Polsi tersebut lalu dievakuasi oleh tim medis.

Di antara massa aksi, ada juga seorang perempuan yang berdarah di bagian kepalanya. Perempuan itu lalu dievakuasi tim medis dan dibawa menggunakan ambulans.

Hingga pukul 13.35 WIB massa tampak terus berdatangan, dan berorasi di Jalan Pahlawan Semarang, Kota Semarang. Sementara itu, petugas kepolisian mengamankan aksi termasuk water cannon yang bersiaga.

Arus lalu lintas pun ditutup di Jalan Pahlawan Semarang sehingga kendaraan dialihkan.

Sumber : detik.com

Aksi Demo Demo Tolak Omnibus Law Robohkan Pagar Gedung DPRD Jateng

KLATEN JATENG - Lima SMP negeri di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah diizinkan untuk mulai sekolah tatap muka. Sekolah tatap muka itu akan dimulai tanggal 9 Oktober 2020.

"Kita sudah menggelar rapat dengan Forkompinda tadi malam. Hasilnya disepakati uji coba belajar tatap muka dimulai tanggal 9 Oktober atau hari Jumat besok," jelas Kepala Dinas Pendidikan Klaten, Wardani Sugiyanto, kepada wartawan, usai menggelar rapat koordinasi di kantornya, Rabu (7/10/2020).

Wardani mengatakan proses belajar uji coba tatap muka itu sifatnya masih terbatas dan tidak berlangsung di semua SMP. Untuk sementara belajar tatap muka akan berlangsung di lima SMPN.

"Untuk sementara di SMPN 1 Karangdowo, SMPN 2 Klaten, SMPN 1 Gantiwarno, SMPN 2 Kemalang dan SMPN 1 Kebonarum. Belajar tatap muka itu dengan beberapa skenario.

Skenario yang akan diambil yakni belajar selama dua jam, setiap satu mata pelajaran berlangsung 30 menit dengan jumlah siswa 10-12 orang.

"Sehingga sehari hanya empat jam pelajaran," ungkap Wardani.

Selain itu, jelas Wardani, para murid hanya akan masuk sekolah dua kali dalam sepekan. Kemudian pada tahap awal, para siswa akan diberi materi terkait protokol kesehatan COVID-19.

"Kita sosialisasi protokol COVID dulu, agar siswa terbiasa hidup di tengah COVID. Sarana penunjang belajar itu sudah disiapkan sekolah sejak jauh hari dan sudah dicek oleh tim dinas," jelasnya.

Wardani juga mengungkap nantinya tidak ada jam istirahat saat sekolah tatap muka berlangsung. Jam istirahat diganti dengan kegiatan berjemur selama 15 menit.

"(Belajar tatap muka) untuk menghilangkan beban psikologis. Ibarat berkendara kalau kita terus takut berkendara tidak akan sampai sehingga belajar harus jalan dengan tetap berhati-hati," terang Wardani.

"Semua setuju dan siap mendampingi tetapi dengan protokol Kesehatan ketat. Nanti sebelum masuk juga akan di-screening dulu dan jika mungkin diantar orang tua, setelah pulang tidak ke mana-mana," sambung Wardani.

Dia menegaskan proses sekolah tatap muka ini tetap akan mempertimbangkan situasi perkembangan kasus COVID-19 di wilayahnya. Apabila ada banyak kasus dan risiko penularannya tinggi, maka proses sekolah tatap muka akan dihentikan.

Proses sekolah tatap muka di tingkat SMP ini, kata Wardani, nantinya akan dievaluasi. Jika hasil evaluasinya positif maka akan dipertimbangkan untuk melaksanakan proses sekolah tatap muka pada siswa SD.

"SD sudah kita minta untuk persiapan," kata Wardani.

Sumber : detik.com

Mulai 9 Oktober, 5 SMPN Di Klaten Bisa Belajar Tatap Muka

NGANJUK JATIM - Empat pengedar pil koplo di Nganjuk dibekuk polisi. Satu di antaranya merupakan seorang pelajar.

"Betul dalam dua hari berturut-turut kita penangkapan empat pemuda diduga pengedar narkoba. Satu di antaranya masih belia seorang pelajar," ujar Kasat Reskoba Polres Nganjuk, Iptu Pujo Santoso saat dikonfirmasi wartawan, Rabu (7/10/2020).

Empat tersangka tersebut, kata Pujo, diamankan dari dua kasus. Tersangka yang merupakan pelajar yakni berinisial NA (17), warga Kecamatan Baron, Nganjuk. Kemudian satu rekan NA yang juga diamankan yakni TE (24) warga Kecamatan Tanjunganom.

"Untuk empat tersangka ini dari dua kasus. Kasus yang baru kemarin Selasa (6/10) dini hari menimpa pelajar bersama rekannya TE. Untuk pelajar karena pelajar di bawah umur tidak ditahan dan ditangani unit PPA," kata Pujo.

Menurut Pujo, dari tangan NA polisi mengamankan barang bukti plastik klip berisi pil dobel l atau pil koplo sebanyak 27 butir. Lalu satu linting rokok berisi pil dobel l sebanyak 8 butir dan sebuah ponsel.

"Sedangkan dari tangan tersangka TE polisi mengamankan barang bukti satu plastik klip berisi pil dobel l 33 butir. Kemudian lima plastik berisi pil dobel l masing-masing berisi 100 butir, satu buah bekas bungkus rokok, satu buah plastik kresek warna hitam dan satu buah ponsel," paparnya.

Sementara dalam kasus sebelumnya, dua tersangka diamankan pada Senin (4/10). Mereka warga Kecamatan Kertosono, Nganjuk. Mereka dikenakan Pasal 197 Jo Pasal 196 UURI No 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, dengan ancaman lebih dari 5 tahun penjara.

"Kedua tersangka merupakan buruh serabutan yakni AN (24) seorang buruh lepas dan TE (19). Untuk barang bukti 10 grenjeng rokok masing-masing berisi 6 butir pil dobel l. Satu buah bekas bungkus rokok. Uang tunai sebesar Rp 200 ribu, satu buah HP warna biru, dan satu buah HP warna hitam," pungkasnya.

Sumber : detik.com

Empat Pengedar Pil Koplo di Nganjuk Dibekuk, Satu Diantaranya Pelajar

KEDIRI JATIM - Pemuda asal Bedali, Kediri meninggal dunia setelah terlibat kecelakaan dengan truk di Jalan Raya Desa Bedali, Ngancar, Kediri. Kecelakaan terjadi sekitar jam 20.00 WIB tadi malam.

Kasi Humas Polsek Ngancar Polres Kediri, BRIPKA Barra Bramantya yang dikonfirmasi mengatakan, kecelakaan ini berawal saat RIDOI warga Dusun Pucunganyar Desa Bedali Kecamatan Ngancar Kabupaten Kediri mengendarai sepeda motor Honda AG 6542 PN  melaju dari Ponggok, Blitar menuju Wates, Kediri. 

Sesampainya di lokasi kecelakaan, RIDOI bermaksud mendahului kendaraan lain di depannya. Diduga kurang hati-hati, saat mendahului tidak memperhatikan bahwa dari arah sebaliknya melaju truk dengan Nopol AG 8012 VH yang dikemudikan SLAMET WIDODO warga Grogot Kabupaten Paser Kaltim. Karena jarak sudah dekat akhirnya sepeda motor menabrak bamper depan truk.

Pengemudi sepeda motor terpental dan mengalami luka serius. RIDOI meninggal dunia saat perjalanan menuju rumah sakit. Sedangkan pengemudi truk selamat terluka. Kasus kecelakaan ini selanjutnya ditangani Unit Laka Satlantas Polres Kediri.

Sumber : andikafm.com

Kecelakaan Maut, Pemuda Di Kediri Tewas Tertabrak Truk

MOJOKERTO JATIM – Seorang Pelaku pemalakan sopir truk, Hamdani (36) asal Dusun Kedung Bendo, Desa Gemekan, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto diamankan anggota Polsek Dlanggu. Pelaku diamankan setelah adanya laporan sopir truk yang resah dengan aksi pelaku.

Pelaku diamankan pada, Minggu (4/10/2020) sekitar pukul 05.30 WIB usai melakukan aksinya. Pelaku diamankan usai menjalankan aksinya di jalan raya Desa Pohkecik, Kecamatan Dlanggu, Kabupaten Mojokerto. Dari tangan pelaku diamankan sejumlah barang bukti.

Barang bukti yang diamankan berupa uang tunai sebesar Rp 470 ribu, stiker bertuliskan AA sebanyak 44 lembar, satu unit sepeda motor dan satu buah Handphone (HP). Atas perbuatannya, pelaku dijerat Pasal 368 ayat 1 KUHP tentang Pemerasan dengan ancaman pidana penjara maksimal sembilan tahun.

Kapolsek Dlanggu, AKP Airlangga R Pharmady mengatakan, penangkapan terhadap pelaku setelah adanya laporan dari sopir yang mengaku resah dengan aksi pelaku. “Anggota Bhabinkamtibmas Desa Pohkecik sering mendapatkan banyak laporan dari para sopir truk yang menjadi korban pemalakan,” ungkapnya, Rabu (7/10/2020).

Para sopir yang melintas di Jalan Raya Desa Pohkecik tak luput dari aksi pelaku. Pelaku berdalih melakukan aksinya sebagai bentuk pengamanan yakni dengan cara memberhentikan truk yang melintas kemudian meminta uang keamanan. Jika tidak diberikan maka akan mengancam, sementara saat diberi maka akan ditempel stiker bertuliskan AA.

“Berbekal laporan para korban, petugas kemudian melakukan penyelidikan dan berhasil mengamankan pelaku usai melakukan pemalakan terhadap para sopir truk yang melintas. Berdasarkan hasil pemeriksaan, dalam sehari pelaku mampu mendapatkan uang sebesar Rp450 ribu,” katanya.

Jumlah uang yang dipalak dari para korbannya tidak ditentukan. Namun saat diamankan, pelaku baru beraksi dengan barang bukti uang senilai Rp20 ribu. Aksi pemalakan yang dilakukan oleh pelaku sudah dilakukan selama satu bulan dengan sasaran sopir truk dan aksi pelaku dilakukan di Kecamatan Dlanggu dan By Pass Kenanten, Kecamatan Puri.

Sering Malak Supir Truk, Pria Mojokerto Diringkus Polisi

KUDUS JATENG - Rumah warga di Desa Karangmalang Kecamatan Gebog, Kudus diduga dirampok. Pemilik rumah sempat disekap oleh pelaku bersenjata tajam.

"Iya ada dugaan perampokan rumah warga bernama Purwaningsih, guru SMPN 2 Gebog," kata Kepala Desa Mashuri saat ditemui di lokasi kejadian, Rabu (7/10/2020).

Mashuri mengaku tidak mengetahui secara pasti kejadian dugaan perampokan itu. Namun disebutkan, kejadian sekitar pukul 05.00 WIB. Korban yang tinggal sendirian di rumah tersebut sempat disekap dan dipaksa menunjukkan lokasi penyimpanan barang berharga.

"Ya (disekap), diminta untuk menunjukkan lokasi menyimpan barang. Pelaku satu orang masuk dari belakang," ujar dia.

Salah satu keluarga korban, Yoyok, mengatakan kejadian dugaan perampokan terjadi pada pukul 05.00 WIB, Rabu (7/10). Pelaku hanya seorang dengan membawa senjata tajam.

"Kejadian jam 5 (pagi), yang dibawa perhiasan sama uang. Tidak bisa menyebutkan (nominal) saya. Pelaku satu orang," kata dia kepada wartawan di lokasi.

Kata Yoyok korban sempat disekap. Namun beruntung dalam kejadian itu tidak ada korban jiwa. Hanya barang berharga berupa perhiasan dan uang raib. "Tidak ada yang luka," ujar Yoyok.

Kapolres Kudus AKBP Aditya Surya Dharma mengatakan masih akan mengecek kejadian tersebut. "Saya cek dulu ya," kata Aditya saat dimintai konfirmasi wartawan, Rabu pagi ini.

Dari pantauan, sejumlah petugas kepolisian INAFIS Polres Kudus sedang melakukan pemeriksaan. Sejumlah petugas sedang memeriksa sejumlah saksi.

Sumber : detik.com

Sebuah Rumah Di Kudus Dibobol Rampok, Pemilik Rumah Disekap

SRAGEN JATENG - Ervan Wahyu Anjasworo (16) bocah asal Sragen, Jawa Tengah, berhasil kembali bertemu dengan keluarganya usai dinyatakan hilang selama 11 tahun. Ervan hilang saat diajak ayahnya liburan di Jakarta tahun 2009 lalu.

Ervan dan ayahnya, Suparno (37), warga Dusun Gabus Wetan, Desa Gabus, Kecamatan Ngrampal, Sragen, dipertemukan atas kerja sama Dinas Sosial Kota Bogor dan Dinas Sosial Kabupaten Sragen. Untuk pertama kalinya dalam 11 tahun, Ervan kembali ke kampung halamannya hari ini, Selasa (6/10/2020).

Ayah Ervan, memang bekerja di Jakarta sebagai sopir metromini. Tahun 2009 lalu, Suparno mengajak Ervan yang masih duduk di bangku taman kanak-kanak untuk berlibur di Jakarta.

"Biasanya Ervan saya titipkan di rumah kakeknya. Karena sedang liburan, saya ajak ke Jakarta. Waktu itu kontrakan saya di daerah Kemayoran," ujar Suparno, ditemui wartawan di rumah orang tuanya di Dusun Panurejo, Desa Kedungupit, Kecamatan Sragen Kota.

Hampir tiga pekan di Jakarta, lanjutnya, Ervan minta untuk dipulangkan ke Sragen. Saat itu Suparno menyanggupi akan memulangkan Ervan dua hari kemudian.

"Saya bilang ke Ervan menyanggupi hari Minggu pulang ke Sragen. Tapi Jumat sekitar jam 3 sore sudah tidak ada," kata Suparno.

Suparno mengatakan, saat itu Ervan berpamitan untuk mengembalikan game watch yang disewanya dari tetangga. Namun hingga malam hari, bocah berumur 5 tahun tersebut tak kunjung pulang.

"Saya masih ingat waktu itu makanan dan minumannya saja belum sempat dihabiskan. Saya cari kesana kemari, akhirnya tengah malam saya lapor ke polisi," paparnya.

Suparno bahkan sempat tidak bekerja selama dua bulan agar lebih fokus mencari anaknya. Hari-hari dia habiskan menyusuri gang demi gang di seantero Jakarta, namun anaknya tidak bisa diketemukan.

"Karena waktu itu marak penculikan, pikiran saya anak saya diculik orang. Tapi saya yakin anak saya masih hidup, makanya saya tetap bekerja di Jakarta agar bisa terus mencari anak saya," terangnya.

Sementara ditanya seputar momen hilangnya, Ervan mengaku masih ingat betul apa yang menimpanya. Ervan yang waktu itu masih polos, dibujuk oleh empat orang pengamen untuk mengikuti mereka.

"Saya selesai ngembaliin game watch, baru mau pulang. Di jalan ada empat pengamen minta saya ikut, katanya nanti mau diantar pulang," kata Ervan yang kini sudah tidak bisa berbicara bahasa Jawa itu.

Karena masih bocah, Ervan pun menuruti rayuan keempat pengamen tersebut. Bersama keempat pengamen tersebut, Ervan pun hidup di jalanan.

"Saya disuruh mengamen. Hasilnya dibagi dua, separuh untuk Ervan makan separuh disetor ke mereka. Kalau tidurnya sembarangan, kadang di kolong kadang di trotoar," terangnya.

Hidup di jalanan, Ervan mengaku kerap mendapatkan kekerasan dari para pengamen jika setorannya tidak memenuhi target. Ervan menjalani hidup seperti itu selama 2,5 tahun.

"Sering dipukul kalau tidak dapat uang. Lari juga percuma, nanti ketangkep lagi malah dipukuli," paparnya.

Para pengamen tersebut ternyata menepati janji untuk memulangkan Ervan. Dengan menumpang kereta api, Ervan sempat diantar sampai Kota Solo. Namun karena tak ingat alamat rumahnya, Ervan pun terpaksa kembali ke Jakarta.

"Ada sebulan muter-muter di Solo sambil ngamen tapi saya bener-bener nggak ingat. Akhirnya balik lagi ke Jakarta tapi berhenti di Parung Bogor," lanjutnya.

Di Parung, jalan hidup Ervan berubah. Dirinya terpisah dari rombongan pengamen saat lari menghindari petugas Satpol PP. Ervan beristirahat di masjid daerah Kemang Bogor, dan bertemu dengan orang baik yang mau mengangkatnya sebagai anak.

"Di masjid ketemu pak RT, saya ditanya-tanya terus diangkat anak. Namun hanya empat bulan karena pak RT meninggal, saya lalu diangkat anak oleh orang lain bernama Mbah Eli," kata dia.

Tujuh bulan setelahnya, Ervan dikirim ke Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan Dan Anak (P2TP2A) dan diasuh oleh salah seorang pegawainya bernama bu Wiwid. Saat itulah Ervan di sekolahkan hingga jenjang SMP.

"Sempat dipesantrenin juga selama tiga tahun. Setelah itu ditarik sama panti di Bogor untuk dilatih kerja," sambungnya.

Sampai September lalu, Ervan yang semakin rindu untuk pulang, mencoba mencari keterangan tentang kampung halamannya di internet. Berbekal kata kunci yang tepat, Ervan berhasil menemukan titik terang.

"Yang saya inget Pak Parno (ayah), Bu Tanti (ibu) dan Mbak Ajeng (kakak). Sama saya ingat rumah saya dekat Pasar Gonggang. Saya ingat sekali namanya karena nenek dulu sering ajak saya ke pasar," tukasnya.

Ervan semakin yakin setelah menelusuri Pasar Gonggang melalui aplikasi Google Street View. Menurutnya, bangunan Pasar Gonggang masih persis seperti waktu dirinya masih kecil dulu.

"Saya lapor kepada kepala panti yang kemudian menghubungi Dinas Sosial Solo dan sekitarnya, termasuk Sragen. Selang beberapa hari petugas panti datang membawakan saya foto. Benar itu foto keluarga saya," ujarnya haru.

Ternyata, lanjut Ervan, informasi dari panti sosial Kota Bogor tersebut ditindak lanjuti oleh Dinas Sosial Sragen, yang langsung melakukan home visit ke rumah Suparno untuk memastikan informasi tersebut.

"Lalu ayah saya bersama petugas Dinsos Sragen datang ke Bogor untuk menjemput. Setelah merampungkan proses, hari ini saya bisa sampai rumah lagi," imbuh Ervan.

Suparno mengaku bersyukur bisa kembali dipertemukan dengan anaknya. Dirinya berterima kasih kepada seluruh pihak, termasuk orang-orang yang berbaik hati mengasuh anaknya.

"Terima kasih kepada seluruh pihak. Saya berharap ini jadi pengalaman bagi orang tua yang lain, untuk lebih mengawasi anaknya dengan baik," pungkasnya.

Sumber : detik.com

Hilang 11 Tahun, Bocah Di Sragen Kembali Pulang Bertemu Keluarga

BLITAR JATIM - Tujuh santri Suluk Thareqah terkonfirmasi positif COVID-19. Mereka tertular dari satu di antara santri saat mengikuti suluk bersama selama beberapa hari.

Jubir Satgas COVID-19, Krisna Yekti mengatakan, sepulang dari suluk seorang santri dari Wonodadi mengalami gejala. Saat dilakukan tes swab ternyata hasilnya positif.

"Langsung kami tracing dan testing, hasilnya ada dua santri dari Nglegok dan Udanawu hasilnya juga positif," ungkapnya kepada wartawan, Rabu (7/10/2020).

Mengetahui hasil itu, Krisna mengaku pihaknya memperluas tracing termasuk terhadap sekitar 450 santri yang menempati pondok pesantren di satu areal dengan pondok suluk kawasan Mantenan Kecamatan Udanawu ini.

"Alhamdulillah para santri yang satu areal dengan pondok suluk hasil rapid testnya non reaktif semua. Tapi untuk yang santri suluk ada tambahan empat orang semuanya warga Kecamatan Wonodadi," ungkapnya.

Sumber : detik.com

7 Santri Thareqah Di Blitar Positif Corona

BOJONEGORO JATIM - Seorang duda di Bojonegoro melakukan pemerkosaan terhadap gadis di bawah umur. Korban diperkosa setelah dicekoki miras.

Pelaku yakni Kamto (45) warga Kecamatan Dander, Bojonegoro. Ia harus berurusan dengan hukum karena menyetubuhi tetangganya sendiri, yang masih berusia 14 tahun.

Kepada petugas Reskrim Polres Bojonegoro, Kamto mengakui perbuatannya. Ia mengaku hanya satu kali memperkosa gadis malang itu.

"Habis minum arak, terus saya masuk kamar. Saya pijiti dan terus saya setubuhi," Ujar Kamto, Selasa (6/10/2020).

Kasat Reskrim Polres Bojonegoro AKP Iwan Harry Purwanto yang mendampingi rilis kasus ini mengatakan, Kamto sebelumnya kerap membujuk korban agar mau melayani nafsu birahinya. Yakni dengan membelikan kosmetik, paket data dan memberi uang.

"Pelaku ini ternyata juga sudah beberapa kali membujuk dan merayu korban dengan iming-iming uang dan dibelikan alat kosmetik," jelas AKP Iwan.

Kini sang duda harus mempertanggungjawabkan aksi pemerkosaan itu. Untuk saat ini ia mendekam di balik jeruji Mapolres Bojonegoro.

Pelaku terancam Pasal 82 ayat 1 dan 2 Undang-Undang RI Nomor 17 Tahun 2016 tentang perlindungan anak. Yang ancamannya minimal 5 tahun dan maksimal 15 tahun hukuman penjara.

Usai Cekoki Miras, Duda Di Bojonegoro Perkosa Gadis 14 Tahun