KLATEN JATENG - Lima SMP negeri di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah diizinkan untuk mulai sekolah tatap muka. Sekolah tatap muka itu akan dimulai tanggal 9 Oktober 2020.

"Kita sudah menggelar rapat dengan Forkompinda tadi malam. Hasilnya disepakati uji coba belajar tatap muka dimulai tanggal 9 Oktober atau hari Jumat besok," jelas Kepala Dinas Pendidikan Klaten, Wardani Sugiyanto, kepada wartawan, usai menggelar rapat koordinasi di kantornya, Rabu (7/10/2020).

Wardani mengatakan proses belajar uji coba tatap muka itu sifatnya masih terbatas dan tidak berlangsung di semua SMP. Untuk sementara belajar tatap muka akan berlangsung di lima SMPN.

"Untuk sementara di SMPN 1 Karangdowo, SMPN 2 Klaten, SMPN 1 Gantiwarno, SMPN 2 Kemalang dan SMPN 1 Kebonarum. Belajar tatap muka itu dengan beberapa skenario.

Skenario yang akan diambil yakni belajar selama dua jam, setiap satu mata pelajaran berlangsung 30 menit dengan jumlah siswa 10-12 orang.

"Sehingga sehari hanya empat jam pelajaran," ungkap Wardani.

Selain itu, jelas Wardani, para murid hanya akan masuk sekolah dua kali dalam sepekan. Kemudian pada tahap awal, para siswa akan diberi materi terkait protokol kesehatan COVID-19.

"Kita sosialisasi protokol COVID dulu, agar siswa terbiasa hidup di tengah COVID. Sarana penunjang belajar itu sudah disiapkan sekolah sejak jauh hari dan sudah dicek oleh tim dinas," jelasnya.

Wardani juga mengungkap nantinya tidak ada jam istirahat saat sekolah tatap muka berlangsung. Jam istirahat diganti dengan kegiatan berjemur selama 15 menit.

"(Belajar tatap muka) untuk menghilangkan beban psikologis. Ibarat berkendara kalau kita terus takut berkendara tidak akan sampai sehingga belajar harus jalan dengan tetap berhati-hati," terang Wardani.

"Semua setuju dan siap mendampingi tetapi dengan protokol Kesehatan ketat. Nanti sebelum masuk juga akan di-screening dulu dan jika mungkin diantar orang tua, setelah pulang tidak ke mana-mana," sambung Wardani.

Dia menegaskan proses sekolah tatap muka ini tetap akan mempertimbangkan situasi perkembangan kasus COVID-19 di wilayahnya. Apabila ada banyak kasus dan risiko penularannya tinggi, maka proses sekolah tatap muka akan dihentikan.

Proses sekolah tatap muka di tingkat SMP ini, kata Wardani, nantinya akan dievaluasi. Jika hasil evaluasinya positif maka akan dipertimbangkan untuk melaksanakan proses sekolah tatap muka pada siswa SD.

"SD sudah kita minta untuk persiapan," kata Wardani.

Sumber : detik.com

Mulai 9 Oktober, 5 SMPN Di Klaten Bisa Belajar Tatap Muka

KLATEN JATENG - Lima SMP negeri di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah diizinkan untuk mulai sekolah tatap muka. Sekolah tatap muka itu akan dimulai tanggal 9 Oktober 2020.

"Kita sudah menggelar rapat dengan Forkompinda tadi malam. Hasilnya disepakati uji coba belajar tatap muka dimulai tanggal 9 Oktober atau hari Jumat besok," jelas Kepala Dinas Pendidikan Klaten, Wardani Sugiyanto, kepada wartawan, usai menggelar rapat koordinasi di kantornya, Rabu (7/10/2020).

Wardani mengatakan proses belajar uji coba tatap muka itu sifatnya masih terbatas dan tidak berlangsung di semua SMP. Untuk sementara belajar tatap muka akan berlangsung di lima SMPN.

"Untuk sementara di SMPN 1 Karangdowo, SMPN 2 Klaten, SMPN 1 Gantiwarno, SMPN 2 Kemalang dan SMPN 1 Kebonarum. Belajar tatap muka itu dengan beberapa skenario.

Skenario yang akan diambil yakni belajar selama dua jam, setiap satu mata pelajaran berlangsung 30 menit dengan jumlah siswa 10-12 orang.

"Sehingga sehari hanya empat jam pelajaran," ungkap Wardani.

Selain itu, jelas Wardani, para murid hanya akan masuk sekolah dua kali dalam sepekan. Kemudian pada tahap awal, para siswa akan diberi materi terkait protokol kesehatan COVID-19.

"Kita sosialisasi protokol COVID dulu, agar siswa terbiasa hidup di tengah COVID. Sarana penunjang belajar itu sudah disiapkan sekolah sejak jauh hari dan sudah dicek oleh tim dinas," jelasnya.

Wardani juga mengungkap nantinya tidak ada jam istirahat saat sekolah tatap muka berlangsung. Jam istirahat diganti dengan kegiatan berjemur selama 15 menit.

"(Belajar tatap muka) untuk menghilangkan beban psikologis. Ibarat berkendara kalau kita terus takut berkendara tidak akan sampai sehingga belajar harus jalan dengan tetap berhati-hati," terang Wardani.

"Semua setuju dan siap mendampingi tetapi dengan protokol Kesehatan ketat. Nanti sebelum masuk juga akan di-screening dulu dan jika mungkin diantar orang tua, setelah pulang tidak ke mana-mana," sambung Wardani.

Dia menegaskan proses sekolah tatap muka ini tetap akan mempertimbangkan situasi perkembangan kasus COVID-19 di wilayahnya. Apabila ada banyak kasus dan risiko penularannya tinggi, maka proses sekolah tatap muka akan dihentikan.

Proses sekolah tatap muka di tingkat SMP ini, kata Wardani, nantinya akan dievaluasi. Jika hasil evaluasinya positif maka akan dipertimbangkan untuk melaksanakan proses sekolah tatap muka pada siswa SD.

"SD sudah kita minta untuk persiapan," kata Wardani.

Sumber : detik.com