Social Items

Pondok pesantren Nur El Falah didirikan pada tahun 1943 oleh Almarhum KH.Abdul Kabier (tokoh pendidikan Banten) murid dari Hadrotusyaikh KH.Hasyim Asyari (Pendiri Nahdlatul Ulama) yang beralamat di kp. Kubang Ds.Kubang Jaya Kec.Petir Kab. Serang Banten.

Pondok Pesantren Nur El Falah saat ini konsisten mencetak kader ulama yang intelek sesuai visi misi dari didirikannya pesantren ini dan tahun ini pesantren serius membangun pesantren berbasis teknologi sehingga orang tua santri dapat melakukan pemantauan kegiatan santri dengan cara online baik kehadiran, kesehatan, kegiatan, nilai, prestasi, tabungan dan pelanggaran.

Kegiatan pendidikan di Pondok pesantren ini terbagi menjadi empat tahapan, yaitu:

1. Al-Mubtadi yaitu santri dibimbing menguasai 140 masalah agama dasar baik dari segi aqidah, fiqih ibadah, muamalah dan amaliyah harian sehingga para santri dapat beribadah dengan baik dan juga mampu memimpin Doa, tahlil dan fase ini di tempuh dalam waktu paling lama 5 bulan.

2. Tsanawi yaitu para santri di bina untuk mampu berkomunikasi menggunakan 2 bahasa Internasional  Bahasa Arab dan Inggris dan fase ini di selesaikan santri dalam waktu 6 bulan.

3. Aliyah yaitu fase dimana santri mempelajari kaidah Ilmu Nahwu dan Sharaf serta dibimbing untuk dapat menerapkan kaidah yang di kuasai untuk membaca Kitab Kuning dengan baik dan fase ini diselesaikan dengan waktu 6 bulan.

4. Ulya merupakan fase dimana para santri mendapatkan bimbingan ilmu ilmu keagamaan baik dalam Aqidah, Al-Quran, Hadits, Akhlaq, Fiqh, Usul Fiqih Tajwid, Tafsir, Balaghah, Mantiq dan lain-lain.

Program Unggulan Pesantren Nur El Falah antara lain:

1. Para santri dites potensi menggunakan sidik jari dan akan diketahui dari hasil tes berupa potensi, cara belajar, keahlian bakat dan lain lain.

2. Para santri juga dibina untuk dapat menguasai komputer dan Teknologi

3. Pesantren memiliki kegiatan Tahunan mendatangkan Syekh dari Al-Azhar Mesir untuk membimbing para santri agar dapat membaca Al-Quran dengan Baik dan pelatihan Hafal alQuran tanpa menghafal.

Pesantren memiliki jenjang pendidikan formal yang lengkap sehingga santri dapat memilih sesui dengan keinginannya. Pesantren memiliki jenjang pendidikan formal seperti Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (Mts), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Madrasah Aliyah (MA), Sekolah Menengah Atas ( SMA), Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan Perguruan tinggi STAIKHA (Sekolah Tinggi Agama Islam KH.Abdul Kabier).

PENDIDIKAN PESANTREN

1. Madrasah Ibtidaiyah (MI)
2. Madrasah Tsanawiyah (Mts)
3. Sekolah Menengah Pertama (SMP)
4. Madrasah Aliyah (MA)
5. Sekolah Menengah Atas ( SMA)
6. Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)
7. Perguruan tinggi STAIKHA (Sekolah Tinggi Agama Islam KH.Abdul Kabier)
8. Madrasah Diniah
9. Tahfidzul Qur'an

FASILITAS PESANTREN

1. Asrama Santri
2. Gedung Sekolah
3. Pesantren
4. Laboratorium Komputer
5. Pos Kesehatan
6. Tempat Ibadah
7. Aula
8. Tempat Parkir
9. Internet dan Hotspot area
10. Lapangan Serbaguna
11. Laboratorium Bahasa
12. Perpustakaan
13. koperasi Pesantren
14.Gudang

PENDIDIKAN EKSTRAKURIKULER

1. Tahfidz al-Qur’an
2. Pengajian Kitab Kuning
3. Ziarah
4. Musyawarah Ma’hadiyah
5. Bahtsul Ma’sail
6. Diskusi Ilmiah
7. Hadrah/Rebana
8. Pengembangan Berbagai Olahraga
9. Keterampilan Wirausaha
10. Drumb Band
11. Pengembangan Jurnalistik dan Publish
12. Kaligrafi
13. Beladiri
14. Latihan berpidato
15. Diskusi dan Penelitian Ilmiah

Profil Sejarah Pondok pesantren Nur El Falah Serang

Pondok Pesantren Salafiyyah merupakan pesantren mayoritas di wilayah Provinsi Banten termasuk “ Al-Futuhiyyah “ walaupun di jaman Moderen seperti sekarang ini dan mulai menjamurnya Pesatren-Pesantren Moderen khususnya di wilayah Banten, Al-Hamdullilah Pondok Pesantren Salafiyyah  Al-Futuihiyyah senantiasa eksis dan tetap pada komitmenya sebagai benteng perjuangan pendidikan maupun Syiar Islam dan mencetak kader-kader Ulama Salafy Solihin.

Pengasuh Pondok Pesantren Salafiah “Al-Futuhiyyah”, Buya KH. Ahmad Qurthubi Jaelani, dilahirkan pada tanggal 09 Maret 1971 M. di Kp. Buluheun Ds. Banjar Irigasi Kec. Cipanas Kab. Lebak Banten.

Setelah beliau lulus Sekolah Dasar ( SD ) Tahun Ajaran 1983-1984 M. beliau melanjutkan Pendidikanya ( Mesantren ) ke empat ( 4 ) Pondok Pesantren di Daerah Pandeglang Banten, kemudian di lanjutkan ke Ciamis Jawa Barat dan Kudus Jawa Tengah, terakhir di Sukabumi Jawa Barat, yang jumlah lama mesantrenya di seluruh Pesantren-Pesantren tersebut -+ 4 Tahun ( Bulan ).

Dalam waktu yang sangat singkat itu, dan umurnya yang masih muda ( 19 Tahun ), beliau di perintah oleh Gurunya Al-Mukarom KH. Badruddin Sofiyullah ( Sukabumi Jawa Barat ) agar mendirikan Pondok Pesantren Salafiyyah. Setelah adanya perintah dari Guru tersebut maka beliau memperbanyak Istikhoroh dan Kholwat memohon petunjuk kepada Allah SWT.

Akhirnya pada tanggal 24 Rajab 1411 H / 1990 M. beliau mendirikan Pondok Pesantren Salafiyyah “ Al-Futuhiyyah “ di Kp. Banjar Pangingeun Ds. Banjar Irigasi Kec. Lebak Gedong Kab. Lebak Prov. Banten.

Profil Sejarah Pondok Pesantren Salafiyyah Al-Futuihiyyah Lebak

Pondok pesantren Darul Mustafa merupakan ponpes yang berbasis Salafiyah yang di pimpin oleh K.H. Omik Hadromi bin Sobirin yang merupakan lulusan dari almukarom abah K.H. Sardi bin Mad Yusuf Ciherang Gajrug  (Pondok Pesantren Riyadul Muta’alimin) Ciherang Gajrug Lebak Banten.

Atas dorongan saran dan anjuran seorang ulama besar mamanda K.H. Tb. Ahmad Ma’ani Rusydi Guru dari menes pandeglang maka dimulailah pembangun Pondok Pesantern Darul Mustafa   pada bulan sya’ban tahun 2013.

Demi kemajuan di  bidang pendidikan  baik  pendidikan agama maupun pendidikan umum pada tahun 2013 Pondok Pesanten Darul Mustafa membuka madrasah Tsanawiyah dan pada tahun 2014 membuka madrasah aliyah kemudian berlanjut pada tahun 2017 membuka tahfidzul qur’an yang ditangani langsung oleh para ahinya.

Di Pondok Pesantren Darul Mustafa dikaji berbagi bidang illmu seperti ulumul qur’an, ulumul hadist, kitab kuning seperti kitab amil, safinnatunnajah, Tijan durori, Riyadul ba’diyah, takrib, talimmuta’alim dan lain-lain, di ajarkan pula di Pesantren ini ilmu kemasyarakatan, ekstralikuler untuk menopong santri dalam berinteraksi dengan masyarakat, tidak kalah pentingnya  juga pengetahuan dibidang IMTEK (ilmu pengetahuan teknologi ).

PENDIDIKAN

1. MADRASAH DINIYAH
2. MADRASAH TSANAWIYAH
3. MADRASAH LIYAH


Profil Sejarah Pondok Pesantren Darul Mustafa Lebak Banten

Pondok Pesantren Al-Marjan Mulabaru sebuah lembaga pendidikan dan dakwah yang berlokasi di Kampung Malangnengah, Desa Sukasari, Kecamatan Cipanas, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, Kode Pos 42372.

Ponpes Al-Marjan didirikan oleh KH Tadjuddin Azwari pada tahun 1967. Pesantren ini merupakan kelanjutan dari pondok yang didirikan dan dipimpin ayahanda beliau KH Azwari bin Jamsari sejak tahun 1932. Sebagai keluarga kyai, Almaghfurlah KH Azwari pun meneruskan estafet kepemimpinan pondok dari ayahandanya yakni KH Jamsari bin Ghari.

PROGRAM PENDIDIKAN

1. TK ISLAM
2. Madrasah Diniyyah
3. Madrasah TSANAWIYAH
4. Madrasah ALIYAH

Profil Sejarah Pondok Pesantren Al Marjan Lebak Banten

Pondok Pesantren Al Husna adalah Ponpes yang berbasis Salafiyah yang didirikan oleh KH. Thobary Syadzily, pondok ini terletak di Jalan Raya M. Toha No 51 Rt 02 Rw 02 Km 4,5 Priuk Jaya Tangerang Banten.

Sejarah awal Yayasan Pendidikan Al Husna yang berdiri sejak tahun 1929 merupakan pelopor pendidikan anak bangsa di wilayah Tangerang, Provinsi Banten. Sejak era perjuangan merebut kemerdekaan dari penjajah para pengajar di sekolah ini telah berperan besar meletakkan pondasi tauhid dan akhlak bagi masyarakat terutama generasi penerus bangsa.

Yayasan Pendidikan Al Husna telah dapat melayani pendidikan generasi muda bangsa mulai dari tingkat TK sampai Perguruan Tinggi. Beberapa alumni sekolah ini berhasil menjadi tokoh masyarakat seperti wakil gubernur Banten Muhammad Masduki serta Bupati Tanggerang Ismed Iskandar.

Kyai Thobary Pendiri Pondok Al Husna juga diberi amanah sebagai ketua Lajnah Falaqiyah PWNU Provinsi Banten, ketua Lajnah Falaqiyah PCNU Kota Tangerang, Anggota tim fatwa dan hukum MUI Kota Tangerang, sebagai pengurus di Dewan Masjid Indonesia Kota Tangerang, pengurus di Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur an, pengurus Masjid Raya Al Ahzab, sekaligus anggota tim Nasional Kementrian Agama dan ada beberapa jabatan lagi yang Beliau emban.

Sejak kecil hingga dewasa KH. Thobary memang akrab dengan pendidikan dan kegiatan agama. Di samping latar belakangnya sebagai cucu dari Syekh Nawawi Al Bantani. Selama Tholabul Ilmi KH. Thobary As Syadily, juga mengenyam pendidikan formal. Pendidikannya dilalui di Madrasah Ibtidaiyah MI , Madrasah Tsanawiyah Negeri MTsN , madrasah Aliyah MA hingga kuliah.

Disamping belajar formal, Kyai Thobary juga pernah menimba ilmu di beberapa Pondok Salafiyah yang saat itu dikenal dengan istilah Salafiyah Club yang khusus membahas Kitab kitab Kuning. Seperti di Pondok Pesantren Pantar Gedang Kecamatan Ciberem Tasikmalaya untuk mendalami Ilmu Shorof, di Pondok Pesantren Riyadul Alqiyah, Sadang Garut Jawa Barat yang juga untuk mendalami ilmu Shorof khususnya Nahwu.

Di Pondok Pesantren Darul Hikam Ciberem Sukabumi Jawa Barat untuk mendalami ilmu mantik dan Balaghoh serta ilmu Maf ulat, di Pondok Pesantren Darul Ahkam Padarejang Serang Banten untuk mendalami ilmu Fiqih khususnya Fathul Mu in, di Pondok Pesantren Mursidul Falah Kampung Sawah Rengasdengklok Karawang Jawa Barat untuk mendalami ilmu Tauhid dan ilmu Usul Fiqih, dan Pondok Pesantren di Jawa Timur, seperti di Pondok Pesantren Tebuireng Jombang selama 5 tahun.

Profil Sejarah Pondok Pesantren Al Husna Tangerang

Pondok Pesantren Al-Khudriyah merupakan ponpes yang berbasis Salafiyah, didirikan pada tahun 1995 oleh KH. Ujang Said al-Khudri atas gagasan ayahnya, KH. Ahmad Widara Musa al-Bantani, pendiri Pondok Pesantren Riyadlul Mubarakah. Pesantren Al-Khudri berdiri di sebuah lahan bekas perkebunan milik H. Abdurrasyid (mertua KH. Ujang Said al-Khudri) di kampung Pasar Kadubitung, desa Malangsari, kecamatan Cipanas, kabupaten Lebak, Banten.

Sejarah awal berdiri, Pondok Pesantren Al-Khudri hanya berupa sebuah bangunan gubuk sempit yang terdiri dari beberapa kamar. Pada tahun 2000-an pondok mulai dibangun lebih luas dan bertingkat. Tingkat pertama dijadikan sebuah Majelis Taklim yang menunjang berbagai kegiatan belajar mengajar para santri, sedangkan tingkat kedua digunakan sebagai kamar para santri dengan alas kayu dan dinding anyaman bambu.

Sepanjang tahun 2015 -2016, pondok dan Majelis Taklim mulai diperluas, serta struktur bangunan kamar tempat tinggal para santri mulai diubah menjadi berupa tembok. Majelis Taklim mulai diisi oleh kitab-kitab fikih berjilid jilid yang menjadikannya sebagai perpustakaan pesantren, yang selanjutnya disebut Pustaka al-Khudri.

Pustaka al-Khudri adalah sebuah perpustakaan yang diperuntukan bagi masyarakat umum dan santri sekitar kecamatan Cipanas, kitab-kitab yang dihadirkan berupa kitab-kitab fikih karangan para ulama salaf Ahlussunah wal Jamaah.

Pada perkembangan selanjutnya, Pesantren Al-Khudri tidak hanya mengadakan jadwal pengkajian rutin dengan para santri, melainkan juga menghidupkan pengkajian mingguan bagi masyarakat setempat dan para alumni di Majelis Taklim Al-Khudriyah, setiap selasa pagi untuk ibu-ibu, sedangkan bakda zuhur jadwal pengkajian untuk bapak-bapak dan para alumni pesantren.

Kitab yang dikaji bersama para alumni dan masyarakat sekitar diantaranya adalah kitab Tafsir al-Jalalain, Shahih Bukhari, dan Nihayatuz Zayn.

SISTEM PENDIDIKAN

Metode pembelajaran di Pesantren Al-Khudri hampir sama dengan Pesantren Salaf lain pada umumnya, yaitu dilaksanakan dengan tiga tahapan metode: Metode Sorogan sebagai metode evaluasi dan setoran hafalan kitab oleh santri kepada kiai, Metode Bandungan (Wetonan) sebagai metode dasar, dan Metode Pasaran sebagai metode tambahan.

Sebagai salah satu pesantren berbasis salafiyah murni, Pesantren Al-Khudri tidak terikat dengan yayasan manapun. Tahap pembelajaran dilaksanakan dari pagi, siang, sore, hingga malam tanpa ada pembelajaran umum atau pendidikan formal. Adapun bagi santri setingkat SD, SMP, atau SMA, diperbolehkan untuk melaksanakan pendidikan formal di sekolah yang relatif dekat dengan pesantren, seperti SD Negeri 1 Malangsari, SMP Negeri 1 Cipanas, SMP Negeri 2 Cipanas, SMA Negeri 1 Cipanas, atau pun SMK Negeri 1 Cipanas.

Metode Sorogan

Sorogan adalah metode di mana santri membaca kitab sedangkan Kiai menyimak dan membenarkan bacaan kitab oleh santrinya.

Saat ini, metode sorogan diyakini sebagai tolok-ukur untuk mengetahui kemampuan santri, karena di sebagian besar Pesantren Salaf termasuk Pesantren Al-Khudri, Ujian tulis tidak dilaksanakan.

Metode Bandungan

Bandungan atau Wetonan adalah metode dasar, di mana Kiai membaca, menerjemahkan, dan menjelaskan kitab-kitab kuning, sedangkan santri memaknai, menyimak, dan mencatat apa yang disampaikan oleh Kiai ataupun pengurus lain yang sedang mengkaji kitab. Di Pesantren Al-Khudri sendiri, kitab yang dikaji diterjemahkan atau dimaknai dengan Bahasa Jawa Banten, kemudian dijelaskan menggunakan Bahasa Sunda atau Bahasa Banten.

Metode Pasaran

Metode Pasaran adalah metode Pengkajian Kilatan yang hanya dilaksanakan pada bulan-bulan tertentu (musiman), sehingga waktu khatam dari satu kitab cenderung lebih cepat. Metode ini dilaksanakan seperti pada bulan Ramadan, Syawal, Dzulkaidah, dan Dzulhijjah. Biasanya pada metode Pasaran waktu pengkajian dilaksanakan lebih lama.

KITAB YANG DIKAJI

Berikut daftar kitab yang dikaji di Pondok Pesantren Al-Khudri :

- Fathul Qarib
- Fathul Mu'in
- Nashoihud Diniyyah
- Sulam at-Taufiq
- AlfiyahTafsir al-Jalalain (pada pengkajian Majelis Taklim bersama bapak-bapak dan para alumni hari Selasa)
- Shahih Bukhari (Majelis Taklim)
- Nihayatuz Zayn (Majelis Taklim)
- Jauhar al-Maknun

- Al-Ajurumiyah
- Tijan ad-Durari
- Fathul Aqfal Fi Syarhi Tuhfatil Athfal
- Ta'līm al-Muta'allim
- Matan ar-Rahbiah
- Yaqulual-'Imrithy
- Waraqat

- Riyadhus Shalihin
- Safinatun Najah
- Sulam al-Munawaraqal-
- Syamsiyah fi Qawa'id al-Manthiqiyah

Untuk menunjang pembelajaran, Pondok Pesantren Al-Khudriyah juga menyediakan fasilitas berbagai kitab Syafiiyah sebagai bahan referensi para santri.

Sumber Rujukan : https://alkhudriyah.wordpress.com/profil/sejarah/

Profil Sejarah Pondok Pesantren Al-Khudriyah Lebak Banten

Pondok Pesantren Riyadul Alfiyah adalah Ponpes yang berbasis Salaf, didirikan pada tanggal 2 Juli 1998 oleh Abuya Sanja dan terletak di Pandeglang Banten.

Sejarah Penamaan Riyadul Alfiyah disesuaikan dengan kekhususan pelajaran yang dikaji di pesantren ini yaitu kitab al-Fiyah, membahas tentang ilmu alat bahasa Arab karangan Syeikh Jamaluddin Muhammad bin Abdullah bin Malik yang gelaran masyhurnya dengan Ibnu Malik. Adapun nama Riyadl yang artinya taman, orang menyebutnya 'kebon' dan sesuai dengan tempat yang baru dibuka yaitu 'ngababakan' karena asal tempat itu berupa tempat yang belum berpenghuni di kelilingi banyak sawah setelah sepeninggal istri pertamanya bermukim di Kadubuluh.

Selain kitab al-Fiyah yang di muhit, secara priodik bila tamat maka kembali dari awal begitu seterusnya tiada henti yang dikaji dan di ajarkan tiap harinya. Banyak fan (disiplin) ilmu yang juga diajarkan terutama fan ilmu mantiq yaitu sebuah cabang ilmu yang mempelajari tentang bagaimana cara berpikir yang tepat sehingga melahirkan kesimpulan yang tepat pula.

Di Pesantren ini keistimewaannya dalam pengajaran isi kitab al-Fiyah, Mama menggunakan Syarah kitab al-Fiyah dari kitab al-Fiyah Maimuniyah. Isi yang terkandung didalamnya mencakup berbagai disiplin ilmu, mulai dari fan tauhid, fan fikih dan bidang tasawuf, juga didalamnya banyak mengandung ilmu hikam, kata-kata mutiara penuh nasihat.

Namun kitab ini sedari tahun sembilan puluhan telah hilang, dipinjam seseorang dan tidak pernah kembali. Selain disiplin keilmuan yang diajarkan di pesantren ini juga di selingi dengan ilmu bela diri sera Cimande, Cikalong dan berbagai ilmu kanuragan yang lainnya, sebagai pelatihan santri untuk berjiwa sehat jasmani dan sebagai persiapan nanti di kemudian hari bila terjun sendiri di masyarakat.

Adapun jiwa dan diri Mama memegang teguh perinsip kesehajaan. Ketawaduan adalah sifatnya yang menonjol. Walau ia dikenal banyak memiliki kekayaan tetapi hidupnya begitu sederhana. Disela-sela mengajar ngaji para santri, beliau selalu menyempatkan diri pergi ke sawah untuk mencangkul. Sawahnya begitu luas membetang dari ujung ke ujung. Sangking luas dan banyak sawah kepunyaanya, beliau sudah tidak diperkenankan lagi membeli sawah oleh pemerintah atas nama dirinya karena sawahnya telah berjumlah ratusan hektar.

Adapun sebutannya untuk beliau adalah Mama yang berartikan salah satu gelar orang yang mumpuni dalam keilmuan, namun beliau enggan disebut Mama, beliau hanya menamakan diri sebutan 'Akang' makna kakak dalam bahasa sunda.

Begitulah sosok yang penuh ketawadu'an dalam perikehidupan sehari-hari. Betapa tidak, hingga setelah mempunyai murid banyak pun beliau tidak gila hormat. Pernah satu kejadian dimana ada seorang santri yang mau mesantren ke Kadukaweng menggunakan jasa Mama yang disuruh membawa barang-barangnya. Sebagaimana biasa setelah sholat subuh Mama mencangkul disawah sampai menjelang waktu dimulainya pengajaran di majlis sekitar pukul tujuh pagi. Seorang santri itu membawa banyak bingkisan, ditengah perjalanan ke pesantren PIRAK, dia kewalahan membawa barang-barangnya dan kebetulan ada seorang tua yang berjalan kaki yang kelihatan seorang petani.

Santri ini memang belum tahu dimana tempat pesantren, dan dia bertaya pada orang itu bahkan menitipkan barang bungkusannya agar dibawa kepesantren, sekalian berjalan dengan orang tua tadi. Orang yang kelihatanya petani ini mengiakan saja dan siap mengantarkan santri yang ingin mesantren ini hingga ke kobong. Sesampainnya di depan majlis, orang itu berkata: " Saya hanya bisa antar sampai disini saja, bila 'mamang' (sebutan pada santri) mau bertemu seseorang yang akan dijadikan guru, silahkan kesana dan itu rumahnya, saya mau pulang".

Selanjutnya santri itu pergi sendirian menuju rumah dan akan bertemu dengan pak kiai, dan tidak lama dia bertemu juga. Namun betapa terkejutnya, ternyata orang tua yang mengantarkannya tadi adalah seseorang yang akan di jadikan guru. Apatah kata penyesalan dan kesia-siaan penyesalan, karena sesal kemudian tiada berguna. Singkat cerita setelah bercengkrama, si santri itu dititipkan sama santri senior oleh Mama, agar ditempatkan di kobong (asrama santri) yang masih tersedia, selanjutnya dia keluar ikut menuju tempat yang akan ditinggalinya mencari ilmu, namun tanpa ada orang yang tahu, dia pulang, pergi meningalkan pesantren begitu saja di malam hari.

Pengalaman ilmiyah Mama dimulai di pesantren Kadugadung Cipeucang, Pandeglang asuhan Kiayi Luthfi, sambil mengenyam pendidikan di Vervolksch School, Sekolah lanjutan untuk sekolah desa, belajar dengan bahasa pengantarnya bahasa daerah dan masa belajar selama 2 tahun. Setelah di Vervolksch School, dilanjutkan nyantri di Kadupeusing asuhan Syeikh Tubagus Abdul Halim, seorang Kiayi yang menjadi Bupati Pandeglang pertama pasca kemerdekaan.

Kemudian berguru kepada Syekh Muqri Karabohong Labuan, seorang kiayi yang terkenal dengan semangat pembelaannya pada tanah air. Syekh Muqri pula terjun pada perang Pandeglang pada tahun 1926 bersama Syekh Asnawi caringin dan Syekh Falati dari Maghrabi (maroko) yang sengaja datang ke Banten untuk membantu perjuangan rakyat Banten melawan belanda.

Setelah itu Mama menuntut ilmu di luar wilayah Banten. Ia mendatangi pesantren Sukaraja di Garut asuhan Syekh Adro’i. Syekh adro’I ini terkenal sebagai raja Alfiyah waktu itu. Setelah wafatnya Syekh Adro’I, Mama Sanja di yakini sebagai penerus risalah penghulu para ahli kitab alfiyah. Beliau juga menuntut ilmu di pesantren Sempur asuhan Syekh Tubagus Ahmad Bakri bin Tubagus Seda, yang terkenal dengan Mama Sempur. Mama Sempur adalah Bangsawan Banten yang menuntut ilmu kepada Syekh Nawawi bin Umar al-Jawi, kelahiran Tanara, Serang, Banten yang dipusarakan di pemakaman Ma'la Makkah al-mukarromah.

Setelah Mama Sempur pulang ke jawa beliau mendirikan pesantren di Sempur Purwakarta. Selain di Sempur Mama juga mesantren di Gentur asuhan Syekh Ahmad Syatibi, Mama Gentur nama lainnya, seorang ulama ahli ilmu balaghoh pengarang Maqulat dan Nasta'in. Selain itu pula Mama mesantren di Cirebon, di Pekalongan, di Bogor di Syeikh Ruyani, Mama Ruyani sebutan lainnya. Juga Mama belajar pada guru-guru yang lain.

Para ulama dan kiayi pengasuh pesantren di seluruh Banten dari mulai tahun limapuluhan sampai Sembilan puluhan rata-rata pernah merasakan nyantri di Mama. Belum lengkap rasanya ilmu yang ditimba di banyak pesantren bila belum merasakan nyantri dan ngaji ilmu nahwu dan shorof yang terdapat dalam kitab al-Fiyah ibnu Malik kepada Mama yang merupakan penghulu para ahli al-Fiyah. Murid-murid beliau menyebar di seluruh Banten dan tanah pasundan khususnya dan pulau jawa dan lampung juga Nusantara pada umumnya.

 Di antara dari ratusan bahkan ribuan kiayi yang bisa disebutkan sebagai muridnya dan sempat mengenyam pendidikan di Kadukaweng baik husus belajar dan menetap di sana, atau juga yang mengikuti pengajian kilatan sebulan di bulan Ramadhan yang dinamakan pasaran Alfiyah (satu kali khatam), atau mengikuti 'Yamanan' di bulan Rabi'ul Awal selama empatpuluh hari dari tanggal duapuluh safar hingga akhir Rabi'ul Awal, adalah Hadratus Syaikh Abuya Ahmad Damanhuri Arman, Syekh Ahmad Bushtomi (Buya Cisantri), dll.

Beliau mempunyai sebelas orang anak yaitu KH. Encep fathoni (alm), H. Naning Yunani, KH. Juwaini (H. Neni, yang meneruskan beliau menjadi pengasuh pesantren sekarang bersama adik dan adik iparnya, KH. Malik (alm)), Hj. Fathonah, H. ahmad Yani, H. Badruddin, H. Farhani, H. Endin, H. Lutfi, Hj. Lutfiyah dan sibungsu H. Encep. Penganut tariqah Al-qadiriyah wa- Annaqsyabandiyah ini kembali ke Rafiiqul a’la dalam usia ke 82 tahun pada hari Ahad tanggal 25 Muharram 1420 H. bertepatan dengan 11 mei 1999 M.

Sumber Rujukan : https://muhtadiblog.blogspot.com/2011/11/mama-sanja-kadu-kaweng-pandeglang.html?m=1

Profil Sejarah Pondok Pesantren Riyadhul Alfiyah Pandeglang Banten

Pondok Pesantren Al Hidayah Cisantri didirikan oleh Abuya Busthomi. Nama lengkap beliau adalah Ahmad Bushtomi bin Ahmad Jasuta. Beliau adalah pendiri dan pengasuh pesantren salafiyah Al-hidayah Cisantri, Cipeucang, Pandeglang Banten.

Istiqomah dalam kesantrian dan keulamaan adalah kata yang bisa diungkapakan untuk menggambarkan kiayi yang kharismatik ini. Waktunya habis untuk mengajar para santri dan beribadah kepada Allah Swt. Santri dan masyarakat sekitarnya memanggilnya Buya Busthomi. Panggilan Buya adalah panggilan untuk kiayi yang telah melampaui derajat tertentu dalam ilmu dan makrifat.

Kezuhudan dan wara adalah prinsip hidup yang dipegangya erat-erat. Ketegasan dan keberanian adalah sifat yang menonjol dari Buya Bushtomi. Di samping memang ilmu kedikjayaannya telah banyak yang membuktikan.

Dihikayatkan ketika awal-awal Buya mendirikan pesantren banyak mendapatkan tantangan dari berbagai kelompok masyarakat. Bahkan ada yang bermaksud mengusir beliau. Puluhan orangpun telah mengepung rumah beliau dengan berbagai macam senjata tajam. Beliau bukan malah takut, beliau mencabut pohon yang cukup besar yang ada di sekitar rumahnya. Kelompok pengepung itupun gentar dan mengurungkan niyat jahat mereka.

KESAKTIAN BUYA BUSTHOMI

Beberapa kali Buya berurusan dengan pihak kepolisian karena membela santrinya yang menghadapi masalah. Bahkan Buya pernah dipenjara karena hal tersebut. Dihikayatkan pada awal tahun sembilanpuluhan ada santrinya yang dipukuli kondektur sebuah mobil bus. Kemudian puluhan santri mencegat Bus itu sehingga terjadi perkelahian yang mengakibatkan seorang kondektur terluka akibat bacokan santri. Akhirnya pihak managemen bus itupun melaporkan santri Al-hidayah ke pihak kepolisian. Sebagai pengasuh pesantren Buya Bustomi bertanggung jawab atas apa yang dilakukan santri-santrinya itu. Buya pun ditahan di kantor kepolisian.

Ketika proses hokum itu berjalan, perusahaan bus itu mengalami kerugian besar. Banyak penumpang yang enggan menaiki bus itu karena takut kewalat kepada Buya Bustomi. Dan memang banyak bus dari perusahaan itu yang mengalami berbagai macam kecelakaan. Mungkin itu adzab tuhan bagi orang-orang yang sombong kepada para ulama. Wallahu a’lam bishowab.

Pada era Suharto berkuasa, Buya Bushtomi berada di luar pagar Suharto. Beliau mendukung partai berlambang ka’bah sebaga di partai yang berazaz Islam. Selain sebagai kecintaannya kepada Islam, dukungannya ke P3 adalah sebagai lambang perlawanannya kepada Suharto.

Dihikayatkan, ketika masa kampanye P3 tiba, hari itu seluruh SPBU tidak ada bensin. Mungkin suatu kesengajaan agar kampanye P3 tidak semarak. Panitia pun bingung, padahal kemarin ketika kampanye Golkar, SPBU seluruhnya tidak kekurangan bensin. Akhirnya Buya Bushtomi, memerintahkan para peserta kampanye yang membawa kendaraan untuk mengambil air sawah untuk dijadikan bahan bakar. Awalnya banyak yang tidak yakin, namun akhirnya keyakinan kepada Allah melalui orang yang di cintai-Nya membuat para peserta menurut perintah Buya. dan subhanallah, hari itu seluruh kendaraan dapat berjalan sampai selesai kampanye hanya berbahan bakar air sawah yang dibacakan doa oleh Buya Bushtomi.

Sedangkan Pondok Pesantren Al hidayah Cisantri sendiri sampai saat ini terus berkembang dan banyak santri dari berbagai daerah mendalami ilmu agama di ponpes sini.

Sumber Rujukan : majelisgapi.blogspot.com

Profil Sejarah Pondok Pesantren Al hidayah Cisantri Pandeglang

Pondok Pesantren Salafiyah Al-Istiqlaliyah Tangerang merupakan Pesantren yang berbasis Salaf, ponpes ini berdiri sejak tahun 1957, didirikan oleh seorang ulama besar di wilayah kabupaten Tangerang. KH. Dimiyati (almarhum) merupakan seorang ulama yang memiliki komitmen kuat dalam menjaga tradisi kepesantrenan yang saat ini juga dilanjutkan oleh putra beliau, KH. Uci Turtusi sejak sepeninggalnya di awal tahun 2001.

Pada saat Tim Tabloid Pondok Pesantren berkunjung ke komplek Pesantren Al-Istiqlaliyah, tidak ada kesan istimewa dari pesantren ini, sama halnya dengan kebanyakan pesantren di tempat lainnya. Menurut pengurus pesantren, KH. Tohari (beliau adalah salah satu putra KH. Dimiyati), pesantren salafiyah menjauhi popularitas. Bahkan menurut beliau, “kalau perlu nama pesantrennya juga nggak usah, yang penting pelaksanaan pengajaran ilmu-ilmu keislaman dijalankan sebaik-baiknya”, karena pesantren merupakan wadah penyebaran agama Islam bagi masyarakat, dan sekaligus panutan akan sikap keberagamaan bagi masyarakat sekitar. Menjaga tradisi keislaman dengan corak sikap tasawwuf yang kental adalah keunikan tersendiri di kalangan pesantren salafiyah.

Kampung Cilongok, desa Sukamantri, kecamatan Pasar Kemis, berdiri di atas lahan seluas ± 4,5 ha saat ini di lingkungan komplek pesantren terdapat tiga buah masjid dan satu buah lagi di luar lokasi pesantren. Cukup unik karena tidak seperti kebanyakan pesantren yang hanya memiliki satu masjid. Karena di pesantren ini pada tiap hari ahad ba’da subuh selalu dilaksanakan majelis akbar bagi masyarakat luas yang langsung dipimpin oleh Abah Uci ­(begitu KH. Uci Turtusi akrab dipanggil). Tradisi ini telah berlangsung lama sejak masa kepemimpinan KH. Dimiyati. Jumlah jamaah yang mengikuti pengajian inipun sangat banyak, tidak kurangnya dari 5.000 orang datang dari sekitar wilayah Tangerang, Banten, Bogor, Bekasi dan juga Jakarta.

Pada majelis akbar tersebut, materi yang diberikan lebih mengarah kepada bimbingan kerohanian, etika keagamaan dan nasehat-nasehat yang menenangkan bagi masyarakat. Hal ini menjadi kebutuhan spiritual bagi masyarakat luas terutama di wilayah Tangerang. Tidak hanya sekedar untuk mengaji, kehadiran masyarakat pada saat majelis akbar tersebut juga tidak lepas dari kebesaran sosok Abah Uci sebagai ulama kharismatik yang dikenal memiliki kedalaman ilmu agama dan keberkahan sebagai seorang ulama, tidak jarang seusai pengajian para tamu yang hadir meminta keberkahan untuk dido’akan dan menyampaikan persoalan-persoalan mereka untuk diberi bimbingan dan jalan keluar oleh Abah Uci.

Berada di tengah-tengah masyarakat modern dengan lanscape kota industri, tidak menggoyahkan prinsip pesantren ini dalam menjaga tradisi salafiyah. Kesan tradisional Pesantren Al-Istiqlaliyah tampak jelas dalam manajerial pondok yang masih mempertahankan sistem kekeluargaan. Pengelolaan pesantren dilakukan oleh keluarga besar almarhum KH. Dimiyati dengan amanah kepemimpinan yang dipegang langsung oleh Abah Uci (dibantu juga oleh keluarga).

Tak ada sistem penerimaan santri, dalam artian penerimaan santri terbuka untuk semua kalangan usia dari mulai anak-anak hingga dewasa. Administrasipun tidak dibebankan kepada para santri yang menuntut ilmu di pesantren ini, mereka hanya diminta iuran listrik Rp. 5.000,- per-bulan. Sementara dalam pembalajaranpun tidak ada penjenjangan, para santri dibebaskan untuk mengikuti pengajian kitab-kitab kuning yang diajarkan oleh kiai dan asatidz di pesantren ini.

SARANA DAN KEGIATAN SANTRI

Saat ini, dengan jumlah ± 600 santri, Pesantren Al-Istiqlaliyah secara mandiri telah membangun sarana dan prasarana penunjang bagi keberlangsungan pendidikan di pesantren. Asrama santri dalam bentuk kobong-kobong dan dikepalai oleh seorang lurah pada setiap lokalnya telah banyak didirikan memenuhi areal komplek pesantren, serta aula untuk pelaksanaan pengajian harian yang dilaksanakan ba’da subuh dan ba’da ashar hingga larut malam. Untuk keperluan memasak disediakan dapur umum di masing-masing lokal asrama santri.

Seperti pada pesantren-pesantren kebanyakan, kegiatan bagi santri di Pesantren Al-Istiqlaliyah juga dimulai sejak subuh dengan sholat berjamaah. Sehabis jamaah subuh dilanjutkan dengan pengajian kitab kuning di majelis hingga menjelang pukul 07.00. Selanjutnya para santri memasak untuk sarapan pagi. Pada pukul 08.00, kegiatan pengajian dilanjutkan sampai pukul 10.00. setelah itu, santri diberikan waktu untuk beristirahat di kobong dan pekarangan pesantren.

Pada pukul 14.00 pengajian dilanjutkan kembali sampai masuk waktu ashar dan berjamaah. Setelah ashar pengajian disambung kembali sampai pukul 17.30. Setelah maghrib, giliran pengajian al-Qur’an dilaksanakan. Kemudian setelah isya’, para santri belajar kembali selama 90 menit sebelum kembali ke kamar masing-masing untuk istirahat. Kegiatan mereka begitu padat dan berlangsung secara terus-menerus selama satu minggu, kecuali pada hari ahad pagi, karena waktunya digunakan untuk pelaksanaan majelis akbar yang diikuti oleh masyarakat luas.

KURIKULUM PENDIDIKAN

Kurikulum pendidikan yang ada di pesantren salafiyah ini tidak mengikat dan bukan dalam bentuk materi pelajaran, melainkan didasarkan pada kajian kitab kuning (kutub at-turots) serta dalam berbagai disiplin ilmu, seperti ilmu bahasa (nahwu shorof), fiqh, akhlaq, tasawwuf, tafsir, hadits dan ulumul Qur’an dengan kitab kitab seperti Shahih Muslim, Dzam’ul Jawami, Jauharul Maknun, Fathul Mu’in, Kifayatul Akhyar, Alfiyah, Tafsir Jalalain, dan lain sebagainya, semuanya disampaikan dalam metode pengajaran sorogan.

Hingga saat ini, di tengah arus perubahan masyarakat sebagai dampak modernisasi dan globalisasi, keberadaan Pondok Pesantren Al-Istiqlaliyah di tengah masyarakat semakin kuat pengaruhnya. Hal ini bisa terjadi karena konsistensi yang diterapkan para pengelola pesantren untuk tetap berada pada jalur pelayanan bimbingan keagamaan bagi masyarakat tanpa berkecimpung pada hingar-bingar dunia politik yang semu. Dengan demikian, bermodalkan kemandirian dan keikhlasan dalam menjalankan fungsi pencerahannya, Pondok Pesantren Al-Istiqlaliyah bisa terus berkiprah sebagai benteng moralitas masyarakat dari pengaruh modernisasi dan globalisasi.

Bagi masyarakat Tangerang dan sekitarnya, keberadaan Pondok Pesantren Salafiyah Al-Istiqlaliyah atau yang lebih dikenal oleh masyarakat dengan sebutan Pesantren Cilongok sudah tidak asing lagi. Setiap hari ahad pagi, ribuan orang dari berbagai wilayah Tangerang dan sekitarnya memadati komplek pesantren untuk mendengarkan siraman rohani dan pengajian kitab yang disampaikan oleh pimpinan pesantren, Abah Uci.

 Tradisi ini sudah berlangsung sejak lama dan antusiasme masyarakat semakin hari semakin besar untuk menghadiri kegiatan majelis ini, di samping pada saat pelaksanaan hari-hari besar Islam juga demikian. Kegiatan ini selain diisi dengan siraman rohani dan ceramah keagamaan juga menjadi semacam wadah silaturrahmi antar masyarakat dari berbagai kalangan di wilayah Tangerang dan sekitarnya. Peran pesantren dalam memberikan pembinaan mental spiritual sangat terlihat dalam hal ini, dan inilah yang dipertahankan oleh kalangan pesantren salafiyah, sebagai komunitas keagamaan yang menjadi panutan masyarakat yang bersih dari unsur kepentingan politik kelompok ataupun kekuasaan.

Sumber : https://www.arrahmah.co.id/2012/08/12672/ponpes-al-istiqlaliyah-suka-mantri-tangerang.html

Profil Sejarah Pondok Pesantren Salafiyah Al-Istiqlaliyah Tangerang

Pondok Pesantren Roudhotul Ulum Cidahu merupakan Pesantren yang menggunakan sistem Salaf dan terletak di Kampung Cidahu Lebak Rt.01 Rw.01 Desa Tanagara Kecamatan Cadasari Kabupaten Pandeglang Provinsi Banten.

Sejarah awal berdirinya Pesantren ini dipimpin oleh KH. Muhammad Dimyathi Amin yang akrab dipanggil dengan sebutan Abuya Dimyathi yang lahir di Pandeglang pada tahun 1930 M. Beliau merupakan putra pertama yang hidup sampai dewasa dari pasangan KH. Amin dan Nyai Hj. Ruqoyyah. Abuya mulai merintis Pesantren di Kampung Cidahu pada tahun 1975 M.

 Saat itu Santrinya masih sedikit dan masih menumpang di rumah-rumah warga karena belum ada kobong (Bangunan Pesantren dari kayu dan bambu), baru pada tahun 1977 M setelah Abuya bebas dari Penjara karena di dzalimi oleh oknum penguasa orde baru saat itu, Beliau mulai membangun kobong. Tapi lama kelamaan santri terus bertambah hingga mencapai sekitar 500 Santriwan dan 200 Santriwati Muqimin dan Ribuan Santri yang bukan Muqimin.

 Mereka berasal dari berbagai penjuru daerah di Indonesia. Perkembangan jumlah Santri itu seiring dengan Kemasyhuran Ilmu dan Nama Besar Abuya. Karena itu tak heran jika Abuya tidak hanya dikenal di Pandeglang maupun Banten tapi di Indonesia bahkan Dunia sekalipun.

 Berkat Abuyalah Kampung Cidahu (Jalan Raya Pandeglang – Serang Km 5) menjadi pusat pendidikan dan pengajaran Islam dan menjadi perhatian umat di Dunia. Bahkan Kabupaten Pandeglang dikenal orang  banyak, salah satuya dari sosok Kharismatik Abuya.

Pendidikan dan pembinaan Ilmu Agama yang diterapkan Abuya di Pesantren Cidahu menjadi barometer bagi Pesantren-Pesantren lain di Pandeglang Khususnya dan beberapa Pesantren lain di Banten dan sekitarnya. Sebab yang datang mengunjungi Abuya bukan hanya masyarakat yang ingin jadi Santri Muqim atau Santri tidak Muqim, tapi banyak pula Ulama dan Kyai yang mengaji atau meminta Petuah dan Nasihat kepada Beliau, hingga sangatlah pantas kalau Beliau bergelar Syaikhul Masyayikh / Kyainya para Kyai.

PROFIL SANG PENDIRI

Abuya merupakan sosok Ulama Banten yang memiliki kharismatik dan cukup sempurna dalam memadukan Syari’at dan Thariqat sehingga dapat meraih Haqiqat.

Sejak kecil Abuya Dimyathi sudah menampakkan keistimewaannya yang tidak dimiliki oleh orang lain, beliau Siyahah, Tholabul Ilmi dan Tabarruk dari satu pesantren ke pesantren lainnya, dari Ulama Sepuh satu ke Ulama Sepuh lainnya di Pulau Jawa dan Pulau seberang selama 38 tahun (1937 M – 1975 M), mulai dari yang terdekat yaitu Pesantren di Kadupeusing Pandeglang dibawah asuhan KH. Tb. Abdul Halim, Pesantren Sempur Plered Purwakarta dibawah asuhan KH. Tb. A. Bakri,  Pesantren Payaman Secang Magelang yang diasuh oleh KH. Siroj, Pesantren Watu Congol Muntilan Magelang yang diasuh oleh KH. M. Nahrowi (Mbah Dalhar), Pesantren Kedung Paruk Purwokerto yang diasuh oleh KH. Abdul Malik, Pesantren Bendo Pare Kediri yang diasuh oleh KH. Khozin Al-Muhajir, Pesantren Gontor pimpinan KH. Zarkasyi, Pesantren Lasem Rembang dibawah asuhan KH. Baidlowi dan KH. Ma’shum, Pesantren Kaliwungu Kendal dibawah asuhan KH. Ru’yat dst hingga Pesantren yang terjauh di Lombok NTB dibawah asuhan KH. M. Zainuddin Abdul Majid, dan selama masa itu Abuya senantiasa bertirakat dengan menahan lapar yang sangat.

Sepeninggal Abuya Dimyathi yang wafat pada malam Jum’at tanggal 03 Oktober 2003 M kepemimpinan Pesantren Cidahu dipegang oleh Putra tertua Abuya Dimyathi yaitu KH. Ahmad Muhtadi Dimyathi sampai sekarang dengan dibantu oleh Putra dan Putri Abuya Dimyathi lainnya yaitu KH. Murtadlo Dimyathi, KH. Abdul Aziz Dimyathi, KH. Muntaqo Dimyathi, KH. Muqotil Dimyathi, KH. Mujtaba Dimyathi, Alm. Hj. Musfiroh Dimyathi dan Hj. Qoyyimah Dimyathi.

KH. Ahmad Muhtadi Dimyathi yang akrab dengan sebutan Abuya Muhtadi dilahirkan pada tanggal 26 Desember 1953 M. Beliau sejak kecil sudah berkeliling mengikuti ayahandanya dengan gemblengan pendidikan dari ayahandanya yang sangat luar biasa selama 38 tahun (1965 M – 2003 M), sehingga Beliau sudah sangat siap ketika Beliau harus estafet memegang tampuk kepemimpinan Pesantren Cidahu dan melanjutkan perjuangan ayahandanya.

Kalangan yang pesimis berpendapat bahwa Pondok Pesantren Salafiyyah merupakan pendidikan tradisional yang eksklusif sehingga sulit berkembang ditengah-tengah masyarakat. Alasannya adalah bahwa selama ini pola pendidikan yang diselenggarakan terlalu lamban untuk melahirkan sosok lulusan yang diharapkan masyarakat. Pondok Pesantren yang memadukan pengakaran Agama dan pengajaran umum akan lebih eksis, sebab dinilai memiliki kemampuan adaptabilitas sosial.

 Sedangkan untuk kalangan yang optimis berpendapat sebaliknya. Pondok Pesantren Salafiyyah sebagai lembaga pendidikan dan pemberdayaan masyarakat sampai kapanpun akan tetap eksis, sebab memiliki karakteristik tradisional asli Indonesia yang unik dan kehadirannya dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan pendidikan bagi masyarakat khususnya masyarakat pedesaan. Interaksi yang intens, harmonis, saling membutuhkan dan menguntungkan antara Pondok Pesantren Salafiyyah dengan masyarakat menjadikan Pesantren ini semakin mantap dan kokoh.

 Oleh karena itu pandangan kalangan pesimis ditolak oleh kalangan Pesantren Salafiyyah yang diantaranya Pesantren Cidahu. Pesantren Cidahu biarpun merupakan Pesantren Salafiyyah Tradisional tetapi pada kenyataannya banyak diminati oleh para santri terutama mereka yang ingin memperdalam belajar Kitab Kuning. Santri yang datang ke Pesantren Cidahu memiliki latar belakang pendidikan yang memadai dan kebanyakan sudah mengantongi ijazah formal baik setara SLTP, SLTA bahkan lulusan S2.

 Pola belajar di Pesantren yang seperti itu mempunyai dampak yang positif karena mereka mempunyai konsentrasi yang luar biasa, tidak berbagi dengan pendidikan formal atau keinginan di pendidikan formal.

Para Santri yang mondok di Pesantren Cidahu kebanyakan alumni-alumni Pesantren lain yang tersebar di Indonesia. Motivasi mereka melanjutkan mondoknya di Pesantren Cidahu karena :

a. Ingin mengembangkan dan meneruskan ngaji Kitab Kuning pada umumnya dan khususnya untuk kepentingan pribadi yaitu memperbaiki diri dan mengamalkan ilmu yang telah diperoleh selama mondok nantinya di masyarakat.
b. Ingin mengikuti jejak Kyai.
c. Menjaga dan turut serta dalam mencerdaskan bangsa.
d. Kitab-Kitab yang diajarkan tidak semuanya diajarkan di Pesantren lain, sedangkan Kitab Fiqih sebagai fokus pengajiannya berada diatas Pesantren yang lain.
e. Energi spiritual, ketenangan hati dan kesejukan jiwa yang tidak didapatkan di Pesantren lain.  

SARANA DAN PRASARANA

Berbeda dengan Pesantren modern yang dilengkapi dengan fasilitas lengkap dari mulai kamar atau asrama Santri, ruang kelas atau aula, peralatan belajar dan lain sebagainya, dalam hal sarana dan prasarana pengajian bagi Pesantren Cidahu ini tidak ada yang perlu dipamerkan, semuanya serba minim.

 Para Santri kesehariannya berada di asrama yang disebut kobong (bangunan pesantren dari kayu dan bambu). Pesantren Cidahu memiliki 13 Kobong yang masing-masing kobong ditempati oleh sekitar 20-30 Santri. Tempat ngaji adalah rumah Abuya Muhtadi yang sekarang difungsikan sebagai sebuah aula besar yang dapat menampung seluruh Santri dan tidak dilengkapi dengan sarana pembelajaran seperti White Board, Komputer, Laptop apalagi LCD.

 Proses pembelajaran dilakukan dengan sangat tradisional dimana para Santri hanya bermodalkan Kitab, buku dan pena. Tidak ada aktiitas yang bersifat administrasi seperti papan form absensi, buku rekap nilai Santri, daftar registrasi Santri dan sebagainya yang biasanya dibutuhkan oleh sebuah lembaga pendidikan atau organisasi.

 Meskipun tidak ada catat administrasi tetapi Abuya Muhtadi tidak pernah lupa siapa saja yang absen dalam pengajian dan Beliau sangat faham akan kadar kwalitas para Santri satu persatu.

 BIAYA PONDOK

Santri yang mondok di Pesantren Cidahu sama sekali tidak dipungut biaya sepeserpun, mereka cuma diwajibkan ngaji dan Ibadah saja. Kitab-kitab kuning yang dikaji semuanya disediakan oleh Abuya Muhtadi untuk menolong para santri yang kurang mampu agar tetap mengikuti pengajian, adapun pembayaran Kitab tersebut bisa kredit sesuai dengan kemampuan santri. Sedangkan untuk kebutuhan pangan sehari-hari para santri masak/ngliwet sendiri, kecuali di bulan Romadlon yang mana untuk sahur dan buka puasa sudah di tanggung oleh Kyai.

Pondok Pesantren Salafiyyah merupakan jenis Pondok Pesantren yang hanya mengutamakan pengajian Kitab dan tidak menyelenggarakan pendidikan formal atau Pondok Pesantren yang berorientasi mengajarkan pengetahuan Agama sepenuhnya (Tafaqquh Fid-diin) dengan metode sorogan atau bandungan. Pondok Pesantren Salafiyyah sering dikategorikan sebagai Pondok Pesantren Tradisional karena lebih menekankan kepada pengajaran Kitab Kuning.

Pondok Pesantren Cidahu merupakan Pondok Pesantren Salaf yang sangat memegang teguh prinsip kesalafiyyahannya sehingga seluruh pengajaran hanya berfokus pada pengajaran Kitab Kuning, hafalan Al-Qur’an, Wirid-Wirid tertentu dan lainnya, dan tidak menerapkan sistem penjenjangan atau tingkatan pendidikan bagi para Santri yang artinya tidak ada pembagian kelas dimana semua Santri bergabung menjadi satu dalam sebuah majlis.

Pengajaran di Pesantren Cidahu lebih dominan pada pelajaran Fiqih, sistem pendidikannya sangat simple tidak terkontaminasi oleh pihak atau orang lain, sistem pengajaran yang diterapkan adalah :

1. Sangat memberikan kepercayaan kepada para santrinya dan Kyai tidak mengharuskan agar santri hanya mengikuti apa yang telah disampaikan oleh Kyai dalam pemberian materi, akan tetapi Kyai menetapkan standar yang tidak boleh dilanggar oleh para santri dan juga Kyai mengajarkan teori-teori yang wajib di taati oleh para santri didalam mengupas materi yang telah diajarkan oleh Kyai agar para santri tetap di jalur yang benar.

2. Lamanya santri belajar tidak dibatasi, sampai kapanpun santri belajar tidak diberi batas waktu.

3. Yang menarik di Pesantren Cidahu tidak ada aturan khusus yang ketat sehingga santri merasa betah tinggal di Pesantren. Jangankan peraturan, Pesantren Cidahu tidak seperti Pesantren-Pesantren yang lain di Jawa yang memiliki kantor, humas, struktur organisasai dan sebagainya. Meskipun demikian, ngaji dan aktifitas Pesantren yang lain bisa berjalan dengan lancar tanpa ada hambatan jika semua didasarkan atas kesepakatan-kesepakatan dan kesadaran. Para santri memiliki nalar yang cukup baik cepat mengerti dan menyerap adat, tradisi dan kesepakatan yang sebenarnya semua itu sudah masyhur dalam aturan yang baku didalam Syara’ dan Akhlaq para Ulama.

4. Metode pengajaran.

Menggunakan sistem pengajaran bandungan. Dalam sistem ini para santri berkumpul lesehan disebuah aula yang telah disediakan dan menyiapkan Kitab yang sama dengan Kitab yang akan diajarkan oleh Kyai untuk dimaknai dengan arab pegon, lalu santri mendengarkan Kyai membaca Kitab, memaknai dengan ala Pesantren, menjelaskan dan mengulas dengan keterangan dan sumber-sumber dari Kitab lain. Dalam menjelaskan sebuah materi yang terdapat disebuah Kitab sering kali Kyai memberikan penjelasan yang berkait dengan tatanan dan perilaku di masyarakat. Sehingga apa yang disampaikan dapat menjadi sebuah pelajaran yang sangat berharga bagi para santri sebagai bekal menjadi evaluator dan memberikan kritik membangun tentang keadaan sosial, ekonomi, politik, pemerintah sesuai dengan tema materi yang sedang dibaca oleh Kyai.

Setiap santri memperhatikan Kitabnya masing-masing dan membuat catatan-catatan baik arti perkata maupun keterangan Kyai yang dianggap penting dan diberi catatan ditepi Kitab kanan atau kiri, sedangkan terjemahannya ditulis dibawah teks Kitab dengan huruf Arab dengan bahasa Arab yang searti dengan kata-kata diatasnya atau dengan bahasa Jawa atau Sunda dan ditulis miring.

Canda Cinta, itulah istilah khusus yang sangat indah buat nuansa pengajian di Majelis Abuya Muhtadi Dimyathi, karena Beliau didalam pengajian selalu menghiasinya dengan humor humor sufi yang membuat para santri jadi rileks.

Sistem pengajaran disamping memegang teguh prinsip (Al-‘Ilmu Shoidun Wal Kitabatu Qoyduhu) Ilmu itu bagaikan hewan buruan dan catatan-catatan itu bagaikan talinya, juga menganut prinsip dan pendirian bahwa Ilmu itu ada didalam dada bukan didalam tulisan (Al-‘Ilmu Fish-Shudur La Fis-Suthur), oleh sebab itu pendidikan karakter sudah dilakukan Pesantren sejak dulu kala, saat ini pemerintah sedang mempunyai masalah besar dengan pembentukan karakter bangsa yang semestinya pemerintah belajar dari Pesantren.

KURIKULUM PENDIDIKAN

Pesantren Cidahu mendidik santrinya dengan Thariqah (jalan Tashowwuf para Ulama Salaf), yang menjadi prinsip utama Pesantren adalah totalitas ngaji Kitab Kuning, sehingga Pesantren Cidahu tidak memiliki kurikulum yang baku atau terstruktur. Ngaji adalah jalan yang ditempuh oleh para Ulama, dan para Ulama lah yang tahu betapa tingginya derajat ngaji dan buah dari ngaji yaitu ilmu. Mencari ilmu hukumnya wajib karena dengan ilmu itu amal dan praktek Ibadah bisa sah dan bersih dari afat-afat dan penyakit yang selalu mengiringi amal ibadah (Al-‘Ilmu Li Tashhihil ‘Amal).

Pesantren Cidahu menggunakan arah kiblat pendidikan yang diprakarsai oleh Alm. Abuya Dimyathi dimana dari kecil Abuya Muhtadi tidak pernah belajar dari sipapun kecuali dari ayahandanya sendiri Abuya Dimyathi, dan Ilmu yang dimiliki oleh Abuya Dimyathi itu hasil rangkuman dari Ilmunya para Ulama sepuh di seantero Jawa dan sekitarnya dengan mengutamakan Kitab-Kitab yang tercatat di dalam Kitab Tsabat Kifayatul Mustafid, Asy-Syarqowi dan Asy-Syanwani.

Wallohu'alam bisshowab

Sumber : https://www.jagatngopi.com/pesantren-abuya-cidahu-nuansa-shufy-untuk-kehidupan-haqiqy-dunyawy-dan-ukhrowy/

Profil Sejarah Pondok Pesantren Roudotul 'Ulum Cidahu Pandeglang

Kota Yogyakarta adalah ibu kota dan pusat pemerintahan Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia. Kota Yogyakarta adalah kediaman bagi Sultan Hamengkubuwana dan Adipati Paku Alam.

Berikut ini adalah Daftar Pondok Pesantren Salafiyah maupun Modern Terbesar Dan Terkenal di  Yogyakarta menurut hasil penelusuran tim kami kuwaluhan.com berdasarkan dari berbagai sumber :

1. YAYASAN ALI MAKSUM PONDOK PESANTREN KRAPYAK

Lokasi : Jl. Kyai Haji Ali Maksum, Krapyak, Panggungharjo, Sewon, Krapyak Kulon, Panggungharjo, Kec. Sewon, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta 55143

Pondok Pesantren Ali Maksum Krapyak merupakan lembaga pendidikan dan sosial keagamaan di bawah naungan Yayasan Ali Maksum Krapyak Yogyakarta. Didirikan pada tahun 1990, Yayasan Ali Maksum adalah badan hukum pelanjut amal usaha almarhum Kyai Haji Ali Maksum dalam kiprah perjuangan selama hidup beliau. Pondok pesantren Ali Maksum Krapyak saat ini telah menjadi salah satu Pondok Pesantren Terbesar Dan Terbaik di Yogyakarta.

PROGRAM PENDIDIKAN

Pendidikan di Pondok Pesantren Ali Maksum Krapyak menganut pola campuran yang terintegrasi baik ke dalam sistem formal maupun nonformal. Pengajaran kepesantrenan sebagai bentuk pendidikan nonformal di samping dalam rangka mempertahankan pola konvensional, juga sebagai wahana pengintensifan pendidikan dan bimbingan antar pribadi dalam bentuk metode  sorogan dan  bandongan .

Sementara pendidikan pola madrasah-formal diselenggarakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dan juga untuk mengembangkan metode-metode belajar mengajar moderen dan terukur dengan tetap memasukkan muatan-beban kepesantrenan di materi non-agama keagamaan.

Berikut lembaga pendidikan formal Pondok Pesantren Ali Maksum Krapyak:

1. Madrasah Tsanawiyah Ali Maksum

Madrasah Tsanawiyah Ali Maksum adalah sekolah formal setingkat SLTP berciri-khas agama Islam dengan status Terakreditasi A. Madrasah Tsanawiyah Ali Maksum memadukan program kurikulum lokal pondok pesantren dan kurikulum nasional (Depag dan Diknas)

Pengembangan bakat dan minat siswa Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah Ali Maksum dilaksanakan melalui kegiatan tambahan kurikuler antara lain: belajar kelompok setiap malam, pendidikan pers, majalah siswa, majalah dinding, buletin siswa, penelitian olahraga, pelatihan kepemimpinan, berbicara empat bahasa, pengerjaan, tata aturan boga, Palang Merah Remaja (PMR), beladiri Pencak Silat Pagar Nusa, olah raga, kesenian qasidah dan hadrah, seni baca Al-Qur'an, Muhadloroh Arabiyyah dan Pertemuan Bahasa Inggris dan sebagainya.

2. Madrasah Aliyah Ali Maksum

Madrasah Aliyah merupakan lembaga pendidikan formal setingkat SLTA dengan akreditasi A. MA Ali Maksum menyelenggarakan pendidikan dengan 3 jurusan:

-. Jurusan Agama
- Jurusan Ilmu Pengetahuan Alam
- Jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial Sosial

3. Lembaga Kajian Islam Mahasiswa (LKIM)

Lembaga Kajian Islam Mahasiswa merupakan lembaga pendidikan tinggi nonformal pondok pesantren yang diselenggarakan oleh pondok pesantren Krapyak Yogyakarta khusus untuk pelajar (PT umum maupun PT agama) yang berminat belajar agama Islam. Mereka yang pada pagi hari kuliah di beberapa perguruan tinggi tersebut, jika sakit, malam dan pagi hari mengikuti kegiatan pengajian program LKIM untuk mendalami Agama dan pelatihan dakwah serta kepemimpinan.

Untuk menjamin kualitas pendidikan, para santri-mahasiswa LKIM dibimbing oleh pengawas dan para ustad (alumni PT dalam dan luar negeri) baik dari dalam dan luar pondok pesantren yang ahli di bidangnya, yang akan mengantarkan santri pelajar berbagai macam pengetahuan yang luas dalam perbincangan pengajaran-pengajaran Islam.

2. PONDOK PESANTREN WAHID HASYIM

Lokasi : Jalan Wahid Hasyim No. 3, Gaten, Condongcatur, Depok, Dabag, Condongcatur, Kec. Depok, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55283

Pondok Pesantren Wahid Hasyim, adalah sebuah nama yang diberikan oleh Pendiri (Al-Marhum Al-Maghfurlah KH. Abdul Hadi As-Syafii) pada 11 Maret 1977 M untuk sebuah Pondok Pesantren yang bertujuan mewujudkan santri yang mempunyai intelektualitas keagamaan yang luas dan juga berdedikasi tinggi dengan didasari akhlaqul karimah. Pada 12 Oktober 1994 M / 7 Jumadil Ula 1415 H. Pondok Pesantren Wahid hasyim resmi berbadan hukum dengan dibentuknya Yayasan Pondok Pesantren Wahid Hasyim.

Pondok Pesantren Wahid Hasyim merupakan Pendidikan Islam Modern berbasis :

- Penanaman Akhlaqul Karimah
- Program Tahfidz Al-Quran
- Pengembangan Kemampuan Berbahasa Asing (Arab-Inggris)
- Pengembangan Ketrampilan Penguasaan Kitab At-Turats (Kitab Kuning)

Dengan visi Yayasan Pondok Pesantren Wahid Hasyim sebagai pusat pengembangan Agama Islam dan pemberdayaan masyarakat serta menjadi wahana bagi terbentuknya pribadi muslim yang berilmu, berhaluan Ahlus Sunah Wal Jamaah, berakhlak mulia, berjiwa khidmah, mandiri, dan berwawasan kebangsaan. Pondok Pesantren Wahid Hasyim kini menjadi institut pendidikan modern dan sosial keagamaan terkemuka di Yogyakarta.

3. PONDOK PESANTREN MODERN MIFTAHUNNAJAH

Lokasi : Kec. Gamping, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55291

Pondok pesantren Miftahunnajah merupakan lembaga pendidikan dibawah naungan Yayasan Pelita Umat Yogyakarta. Ponpes ini merupakan penjelmaan ide dan gagasan dari Ust. Didik Purwodarsono selaku pendiri yayasan Pelita Umat. Pada pertengahan Desember 2009, ide dan gagasan Beliau dimantapkan dan direalisasikan.

Maka dibentuklah tim perintisan dan pendirian pesantren yang sebagian besar terdiri dari alumni pesantren Takwinul Muballighin. Tim tersebut terdiri dari Muahamad Mujari, S.T, Kustriyanto, S.Sos.I, Ibnu Asakir, S.Pd, Pradana Kurniawan, S.Pd, Heri Purnomo, S.Pd.I.
Setelah melakukan bebarapa kali rapat kerja tim, melakukan survey lapangan dan studi akhirnya diputuskan didirikanlah Pesantren Modern yang sekaligus melakukan pendidikan formal setingkat SMP.

Target peserta didik dari kelompok dengan intelegensi rata-rata sedang (menengah ke bawah) yang kebanyakan belum tergarap oleh lembaga pendidikan yang ada. Pondok pesantren Miftahunnajah hingga sekarang menjadi Ponpes Terbaik Di Yogyakarta.

4. PESANTREN NURUL UMMAH

Lokasi : Jl. Raden Ronggo No.982, Prenggan, Kec. Kotagede, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55172

Pondok pesantren Nurul Ummah yang berlokasikan di Kota Gede Yogyakarta pun sama. Pondok pesantren Nurul Umah yang biasa disingkat PPNU ini berdiri pada tanggal 9 Februari 1986. Peletakan batu pertamanya dilaksanakan oleh KH Asyhari Marzuqi, KH Nawawi Ngrukem, dan disaksikan oleh keluarga Krapyak. Sementara untuk upacara peresmiannya dilkasanakan dua hari setelah peletakan batu pertama tepatnya tanggal 11 Februari 1986 yang dihadiri oleh Wali Kota Yogyakarta; Sugiarto, Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama DIY, dan berbagai elemen masyarakat.

Berdirinya PPNU ini awalnya didasari oleh wasiat sang Ayah dari muassis (pendiri) PPNU KH Asyhari Marzuqi ketika Kiai Asyhari masih menuntut ilmu di Baghdad. Sebenarnya sang Ayah ingin Kiai Asyhari agar melanjutkan estafet kepengasuhan pesantrennya yang berada di Giriloyo, Imogiri. Namun melalui beberapa pertimbangan dan juga keprihatinan Kiai Asyhari terhadap kondisi pendidikan di kota khusunya Yogyakarta, beliaupun memutuskan mencari lokasi di sekitar perkotaan Yogya untuk mendirikan pesantren, dan akhirnya pilihan itu jatuh di Kota Gede Yogya, setelah melalui proses panjang.

Dengan Kiai Asyhari mendirikan pesantren di dekat kota Yogyakarta, besar harapan beliau dapat berperan penuh untuk menyelamatkan generasi bangsa yang sangat rentan hidup di perkotaan. Selain juga lokasinya yang strategis, mudah dijangkau dan segala akses pengetahuan serta keilmuannya yang mudah menjadi pertimbangan Kiai Asyhari. Pada awal berdirinya santri yang menuntut ilmu di PP Nurul Ummah, pada bulan Ramadhan di tahun 1986 berjumlah 25 orang putra dan 2 orang putri. Baru kemudian di tahun kedua meningkat menjadi 104 santri. Masuk di tahun ketiga, bertambah lagi menjadi 155 santri dan di tahun yang keempat, terhitung hingga 209 santri. Setelah nama Nurul Ummah semakin dikenal karena pengasuhnya yang alumni Timur Tengah, para santri yang masuk yang pada mulanya hanya mengkhususkan diri untuk menimba ilmu agama, kemudian berkembang para siswa dan mahasiswa pun banyak yang memilih untuk mondok di PPNU.

Kini Pondok pesantren Nurul Ummah menjadi salah satu Pondok Pesantren Terbesar Di Yogyakarta.

5. PONDOK PESANTREN AL MUNAWWIR

Lokasi : Jln. KH Ali Maksum Tromol Pos 5 RT.05 krapyak, Krapyak Kulon, Panggungharjo, Kec. Sewon, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta 55002

Pondok Pesantren Al Munawwir didirikan oleh KH. Muhammad Munawwir bin Abdullah Rosyad pada tanggal 15 November 1911 M, sejak awal berdiri dan berkembangnya pondok pesantren ini bernama pondok pesantren Krapyak, karena memang sudah ada di dusun Krapyak. Dan pada tahun 1976-an nama pondok pesantren ini ditambah 'Al-Munawwir'. Penambahan nama ini untuk mengenang pendirinya yaitu KH. M. Munawwir. Dan Al-Qur'anlah sebagai ciri khas pendidikan di pesantren ini di awal berdirinya.

Pondok pesantren Al-Munawwir adalah salah satu lembaga pendidikan yang ada di khazanah, ilmu dunia pesantren yang dikenal dengan istilah salaf yang saat ini mampu bertahan dan terus berkembang di kiprahnya, pembangunan bangsa dan negara Indonesia. Al-Munawwir tidak hanya mendukung pendidikannya dalam bidang Al-Qur'an saja, melainkan merambat ke bidang ilmu yang lain, khususnya kitab-kitab kuning (kutubussalafu assholih) yang kemudian disusul dengan menggunakan sistem madrasah (klasikal) yang menerima lembaga- lembaga pendidikan, diantaranya :

1. Madrasah Salafiyah (I, II, III, IV dan V)
2. Al-Ma'had al-'Aly
3. Madrasah Diniyah
4. Madrasah Huffadh (I dan II)
5. Majlis Ta'lim dan Majlis Masyayikh

Kini Pondok Pesantren Al Munawwir menjadi salah satu Pondok Terbaik Di Yogyakarta.

6. PONDOK PESANTREN MODERN BAITUSSALAM

Lokasi : Pulir Rejo, Bokoharjo, Kec. Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55572

istimewa jogjakarta.
Pondok pesantren baitussalam ini berdiri pada tahun 1985 dimana Pondok ini didirikan oleh almarhum ustad agus haryadi tepatnya pada tanggal 22 September. Pada awalnya pondok pesantren ini kasih di dusun taskombang di kediaman bapak bakti muranom. Setelah beberapa tahun pondok pesantren ini berada di Dusun taskombang klaten ada seorang dermawan bernama Bapak Kyai Haji dalhar di mana beliau memberikan tanah wakaf dusun Pule Rejo desa bokoharjo prambanan Sleman sehingga pesantren yang sebelumnya berada di daerah Klaten berpindah ke pulerejo.

Pada tahun 1998 pesantren ini mulai mendirikan pendidikan pertama yaitu TK Baitussalam kemudian disusul satu tahun setelahnya didirikan sD iT baitus salam alhamdulillah 2 pendidikan formal dirikan ini berkembang dengan pesat sampai saat ini miliki jumlah peserta didik yang semakin bertambah. Melihat adanya perkembangan dari lembaga pendidikan yang sebelumnya yaitu TK dan SD IT maka di tahun 2007 baitussalam mendirikan SMP yang berbasis boarding School atau berasrama lembaga pendidikan SMP baitussalam ini juga berkembang tahap demi tahap dan menunjukkan adanya minat yang banyak dari masyarakat sekitar sehingga pondok pesantren modern baitussalam mulai mendirikan lembaga pendidikan yang yang lain di tahun 2014 yaitu lembaga pendidikan SMA.

Hingga kini pondok Pesantren Modern telah memiliki beberapa unit pendidikan terhitung dari Paud SD SMP sampai SLTA dan pondok pesantren modern baitussalam sudah memiliki cabang baitussalam dua di kecamatan cangkringan dari tingkat paud hingga sd dan menjadi salah satu Pondok Pesantren Terbesar Di Yogyakarta.

7. PONDOK PESANTREN ASSALAFIYAH AL-LUQMANIYAH

Lokasi ; Jl. Babaran Gg. Cemani, P, UH-V Gg. Batu Rambat Kalangan No.759, Warungboto, Kec. Umbulharjo, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55161

Pondok Pesantren Al-Luqmaniyyah Yogyakarta mulai dibangun pada tahun 1998 M atas prakarsa Bapak H. Luqman Jamal Hasibuan, seorang pengusaha kelahiran Sumatera, dan selesai akhir tahun 1999 M. Kemudian diresmikan pada tanggal 9 Februari 2000 M oleh Simbah KH. Salimi, pengasuh Pondok Pesantren As Salimiyyah Cambahan Nogotirto Sleman DIY, dengan nama Pondok Pesantren Salaf Putra Putri Asrama Perguruan Islam (API) “Al Luqmaniyyah”. Penamaan ini diambil dari nama pendiri, yaitu Bapak H. Luqman Jamal Hasibuan.

Selanjutnya, Ponpes Al Luqmaniyyah diasuh oleh Abah KH. Najib Salimi selama kurang lebih 11 tahun (2000-2011) dan sepeninggal beliau yakni tepatnya pada tanggal 02 Dzulqo’dah 1432 H / 30 September 2011, Ponpes. Al Luqmaniyyah diasuh oleh istri beliau yakni Ibu Nyai Hj. Siti Chamnah dengan dibantu oleh sanak keluarga beliau.

Pada bulan Januari tahun 2016, Ibu Nyai Hj. Siti Chamnah dinikahkan dengan Abah Kyai Na’im Salimi (adik kandung Al Marhum Al Maghfurlah Abah Kyai Najib Salimi), dengan demikian kepengasuhan Pondok Pesantren Al Luqmaniyyah dilanjutkan oleh Abah Kyai Na’im Salimi. Dari segi materi pendidikan, Ponpes Al-Luqmaniyyah memiliki karakter yang mirip dengan sistem yang dipakai di API Tegalrejo, Magelang.

Sebagai salah satu contoh, Ponpes Al-Luqmaniyyah sangat menganjurkan para santrinya untuk mujahadah dan riyadloh sebagai sarana untuk mempersiapkan diri menerima ilmu yang bermanfaat. Setiap setelah maghrib dan sebelum subuh selalu terdengar lantunan dzikir mujahadah di masjid untuk santri putra dan Aula untuk santri putri Ponpes Al-Luqmaniyyah.

Saat ini Pondok Pesantren Al-Luqmaniyyah menjadi salah satu Pondok Terbaik di Yogyakarta.

8. PONDOK PESANTREN BINA UMAT YOGYA

Lokasi : Setran, Sumberarum, Kec. Moyudan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55563

Pondok Pesantren Terbaik berikutnya adalah Ponpes Bina Umat. Pondok pesantren Bina Umat adalah Sekolah Islam Terpadu yang berbasis pesantren modern berdiri diatas tanah wakaf seluas 12.000 m2 berkedudukan di dusun Setran, Sumberarum, Moyudan, Sleman, Yogyakarta dibawah naungan Yayasan Bina Umat Mulia Yogyakarta yang bergerak dibidang sosial keagamaan.

Yayasan Bina Umat Mulia Yogyakarta yang mulanya bergerak di bidang Bimbingan Haji  (KBIH Bina Umat) dan pengelolaan zakat (LAZ Bina Umat), tergerak untuk ikut berperan serta dalam proses tarbiyah/pendidikan umat maka didirikan Pondok Pesantren Bina Umat yang bersifat non formal pada tahun 2001.

Seiring dengan munculnya perkembangan sekolah Islam Terpadu pada dekade 2000-an, maka Yayasan Bina Umat Mulia mendirikan sekolah formal SMP-SMA IT Bina Umat pada tahun 2003 sebagai pengembangan Pondok Pesantren Bina Umat yang sudah terlebih dahulu berdiri. Munculnya sekolah islam terpadu dengan kurikulum pengayaan agama maupun merebaknya sekolah swasta dengan label plus agamanya, mendorong Yayasan Bina Umat Mulia untuk mengkaji dan mencari formula terbaik pendidikan islam yang tidak sekedar penambahan beberapa pelajaran agama tetapi memadukan langsung kurikulum pondok dan kurikulum nasional dengan harapan generasi muslim tidak tertinggal di bidang IPTEK tetapi terbekali dengan ilmu agama yang memadai melalui ilmu-ilmu kepesantrenan.

9. PONDOK PESANTREN ISLAMIC CENTRE BIN BAZ

Lokasi : Jl. Wonosari KM. 10, Karanggayam, Sitimulyo, Piyungan, Karang Gayam, Sitimulyo, Kec. Piyungan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta 55792

Pondok Pesantren Terbesar Dan terbaik berikutnya adalah Ponpes Bin Baz, Pondok Pesantren Islamic Centre Bin Baz adalah salah satu Pondok Pesantren di Yogyakarta. Dirintis sejak tahun 1993 berupa lembaga pendidikan tahfizul Al-Qur’an setingkat ibtidaiyyah (SD) dengan nama Ma’had Tahfizhul Qur’an di Sleman, Yogyakarta. Enam tahun kemudian, pada tahun 2000 Ma’had ini menempati lokasi baru di Desa Sitimulyo, Piyungan, Bantul, dan nama Islamic Centre Bin Baz mulai digunakan.

 Nama Bin Baz diambil dari nama salah seorang mufti di Saudi Arabia, Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, dengan harapan dan cita-cita agar para santri bisa meneladani keilmuan, kefaqihan, kedermawanan, dan kharisma beliau di hadapan umat.

Pondok Pesantren Islamic Centre Bin Baz menyelenggarakan program pendidikan terpadu antara diniyah dan ilmu umum. Kurikulum yang diterapkan adalah kurikulum pondok pesantren yang dipadukan dengan kurikulum pemerintah dalam hal ini Kementerian Agama.

Lulusan jenjang Madrasah Aliyah Bin Baz akan mendapatkan 2 ijazah yaitu Ijazah Pondok Pesantren (yang telah mendapatkan mu’adalah/akreditasi dari Universitas Islam Madinah) dan Ijazah Negara (yang bisa digunakan untuk melanjutkan kuliah baik di universitas negeri maupun swasta).

10. PONDOK PESANTREN AN-NUR

Lokasi : Jl. KH. Nawawi, Ngrukem, Pendowoharjo, Kec. Sewon, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta 55185

Perintisan Pondok Pesantren An Nur mengalami proses yang sangat panjang yang dimulai pada tahun 1960 M. Beliau ( Bapak KH. Nawawi Abdul Aziz ) dipercaya untuk menjabat ketua Pengadilan Agama Kab. Bantul, kemudian sejak bertugas di PA Bantul, beliau mengetahui secara persis tentang kehidupan keagamaan di wilayah Bantul, dimana kondisi pada saat itu masih memprihatinkan. Melihat realita demikian, beliau merasa sudah saatnyalah mengamalkan dan mengajarkan ilmu yang pernah didapat dari tempaan Pondok-Pondok Pesantren yang pernah beliau terima kepada masyarakat, sehingga pada tahun 1964 M, dengan kebulatan tekad dan mantab beliau hijrah ke dusun Ngrukem Pendowoharjo Sewon Bantul Yogyakarta didampingi oleh Istrinya ( Ibu Nyai. Walidah Munawwir ) dan Putra pertama Beliau ( ‘Ashim Nawawi ).

Walaupun beliau dan keluarga hanya menempati sebuah rumah yang berukuran 7x5 m milik Al Marhum Bapak KH. Abdul Aziz, beliau tetap semangat dan Ikhlas dalam mengajarkan ilmu agama kepada masyarakat, sehingga dalam waktu yang singkat Beliau telah mampu menarik hati masyarakat. Pada tahun tersebut, beliau mulai merintis pengajian-pengajian baik yang bersifat kuliah umum, sorogan, bandongan maupun klasikkal. Pengajian/Kuliah umum diselenggarakan setiap senin malam yang hingga sampai saat ini masih berjalan dan dikenal dengan sebutan pengajian “malam selasan” dan setiap jumat pagi.

Sedangkan setiap subuh diadakan pengajian dengan sistem sorogan dan klasikal dengan materi Al Qur’an. sedangkan pada malam hari berlangsung kegiatan belajar di Madrasah Diniyah yang dulu bernama Madrasah Lailiyah Salafiyah An Nur yang sejak tahun 1976 pengelolaannya diserahkan kepada Bapak KH. Khudlori Abdul Aziz, santri beliau yang merupakan putra asli Dusun Ngrukem. Seiring dengan berjalanya waktu, santri yang datang semakin banyak sehingga sangatlah perlu untuk membangun asrama guna menampung semua santri yang ada. Maka dengan segenap kemampuan yang dimiliki, dan atas dukungan dari masyarakat yang dipelopori oleh Al Marhum bapak KH. Anwar, dibangunlah asrama Pondok Pesantren An Nur dengan beberapa lokal.

Dan hingga sekarang Pondok Pesantren An-Nur menjadi salah satu Pondok Pesantren Terbesar Dan Terkenal di Yogyakarta.

Itulah daftar Pondok Pesantren Terbesar Dan Terkenal di Yogyakarta Indonesia.

10 Pondok Pesantren Terbesar Dan Terbaik di Yogyakarta

Sleman merupakan sebuah kabupaten di Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia. Ibu kota kabupaten ini adalah Sleman.  Berbagai perguruan tinggi yang ada di Yogyakarta sebenarnya secara administratif terletak di wilayah kabupaten Sleman, di antaranya Universitas Gadjah Mada dan Universitas Negeri Yogyakarta.

Pendidikan Agama di Sleman juga cukup banyak, hal ini terbukti dengan banyaknya Pondok Pesantren yang berada di Sleman. Dari hasil penelusuran tim kami kuwaluhan.com, di Sleman terdapat Ponpes Salaf maupun Modern Terbesar Dan Terkenal, diantaranya yaitu :

1. PONDOK PESANTREN MODERN MIFTAHUNNAJAH

Lokasi : Trini Trihanggo Gamping Sleman, Trini, Trihanggo, Kec. Gamping, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55291

Pondok pesantren Miftahunnajah merupakan lembaga pendidikan dibawah naungan Yayasan Pelita Umat Yogyakarta. Ponpes ini merupakan penjelmaan ide dan gagasan dari Ust. Didik Purwodarsono selaku pendiri yayasan Pelita Umat. Pada pertengahan Desember 2009, ide dan gagasan Beliau dimantapkan dan direalisasikan. Maka dibentuklah tim perintisan dan pendirian pesantren yang sebagian besar terdiri dari alumni pesantren Takwinul Muballighin. Tim tersebut terdiri dari Muahamad Mujari, S.T, Kustriyanto, S.Sos.I, Ibnu Asakir, S.Pd, Pradana Kurniawan, S.Pd, Heri Purnomo, S.Pd.I.
Setelah melakukan bebarapa kali rapat kerja tim, melakukan survey lapangan dan studi akhirnya diputuskan didirikanlah Pesantren Modern yang sekaligus melakukan pendidikan formal setingkat SMP.

2. PONDOK PESANTREN MODERN BAITUSSALAM

Lokasi : Jalan Pulerejo, Bokoharjo, Kecamatan Prambanan, Pulir Rejo, Bokoharjo, Prambanan, Kabupaten Sleman

Pondok pesantren baitussalam ini berdiri pada tahun 1985 dimana Pondok ini didirikan oleh almarhum ustad agus haryadi tepatnya pada tanggal 22 September. Pada awalnya pondok pesantren ini kasih di dusun taskombang di kediaman bapak bakti muranom. Setelah beberapa tahun pondok pesantren ini berada di Dusun taskombang klaten ada seorang dermawan bernama Bapak Kyai Haji dalhar di mana beliau memberikan tanah wakaf dusun Pule Rejo desa bokoharjo prambanan Sleman sehingga pesantren yang sebelumnya berada di daerah Klaten berpindah ke pulerejo.

Ketika sang pendiri dan pimpinan Pondok yaitu Ustadz Agus Haryadi meninggal pada tahun 1991 beliau meninggalkan 3 orang santri dan beliau memberikan wasiat kepada kakak iparnya untuk melanjutkan Pesantren ini sang kakak ipar adalah pondok saat ini yaitu Ustadz Abdul Hakim dengan bermodalkan 3 orang santri Alhamdulillah pondok pesantren ini terus berkembang dan santrinya pun bertambah. Namun 1995 santri di pondok pesantren Baitussalam ini habis kan tiga orang Santri lagi sehingga pimpinan pondok berfikir bagaimana upayakan agar Santri bertambah.

Pada tahun 1998 pesantren ini mulai mendirikan pendidikan pertama yaitu TK Baitussalam kemudian disusul satu tahun setelahnya didirikan sD iT baitus salam alhamdulillah 2 pendidikan formal dirikan ini berkembang dengan baik sampai saat ini miliki jumlah peserta didik yang semakin bertambah. Melihat adanya perkembangan dari lembaga pendidikan yang sebelumnya yaitu TK dan SD IT maka di tahun 2007 baitussalam mendirikan sMP yang berbasis boarding School atau berasrama lembaga pendidikan sMP baitussalam ini juga berkembang tahap demi tahap dan menunjukkan adanya minat yang banyak dari masyarakat sekitar sehingga pondok pesantren modern baitussalam mulai mendirikan lembaga pendidikan yang yang lain di tahun 2014 yaitu lembaga pendidikan sMA.

Hingga kini pondok Pesantren Modern telah memiliki beberapa unit pendidikan terhitung dari pAUD sD sMP sampai sLTA dan pondok pesantren modern baitussalam sudah memiliki cabang baitussalam dua di kecamatan cangkringan dari tingkat paud hingga SD.

3. PONDOK PESANTREN TARUNA AL - QURAN

Lokasi : Jl. Lempongsari Raya No.4a, Jongkang, Sariharjo, Kec. Ngaglik, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55581

Pondok pesantren Taruna Al Quran yang terletak di wilayah Provinsi Yogyakarta  merupakan yayasan Islam  yang dibentuk dan dinotariskan pada tanggal  21 September 2008, mempunyai visi dan misi serta bertujuan menyediakan pusat / kawasan pendidikan yang Islami dengan konsep berlandaskan Al Quran dan As Sunnah. Pemikiran ini dilandasi bahwa Yogyakarta merupakan daerah dengan yang berpendidikan dan memiliki budaya ke Islaman yang kuat.

Hingga saat ini santri yang mondok di sini semakin bertambah tiap tahunnya.

4. PONDOK PESANTREN WAHID HASYIM

Lokasi : Jalan Wahid Hasyim No. 3, Gaten, Condongcatur, Depok, Dabag, Condongcatur, Kec. Depok, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55283

Pondok pesantren Wahid Hasyim adalah sebuah nama yang diberikan oleh Pendiri (Al-Marhum Al-Maghfurlah KH. Abdul Hadi As-Syafi'i) pada 11 Maret 1977 M untuk sebuah Pondok Pesantren yang bertujuan mewujudkan santri yang mempunyai intelektualitas keagamaan yang luas dan juga berdedikasi tinggi dengan didasari akhlaqul karimah. Pada 12 Oktober 1994 M / 7 Jumadil Ula 1415 H. Pondok Pesantren Wahid hasyim resmi berbadan hukum dengan dibentuknya Yayasan Pondok Pesantren Wahid Hasyim.

Dengan visi Yayasan Pondok Pesantren Wahid Hasyim sebagai pusat pengembangan Agama Islam dan pemberdayaan masyarakat serta menjadi wahana bagi terbentuknya pribadi muslim yang berilmu, berhaluan Ahlus Sunah Wal Jamaah, berakhlak mulia, berjiwa khidmah, mandiri, dan berwawasan kebangsaan  dan misi Menyelenggarakan pendidikan formal dan non formal, melaksanakan pengabdian melalui pembinaan keagamaan dan pemberdayaan perekonomian santri dan masyarakat lembaga pendidikan dan sosial kemasyarakatan, Wahid Hasyim kini menjadi institut pendidikan modern dan sosial keagamaan terkemuka di Yogyakarta.

5. PONDOK PESANTREN MODERN MUHAMMADIYAH

Lokasi : Jl. Raya Piyungan - Prambanan No.KM, RW.2, Marangan, Bokoharjo, Kec. Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55792

Sebagai wujud nyata dari peran serta Muhammadiyah tersebut Warga Muhammadiyah di Kecamatan Prambanan melalui Pimpinan Cabang Muhammadiyah Prambanan Klaten telah bekerjasama dengan Pondok Pesantren Muhammadiyah Boarding School yang terletak di Desa Bokoharjo Prambanan Sleman DIY dalam pengelolaan Pondok Pesantren Modern Muhammadiyah diwilayah Prambanan Klaten.

Bentuk kerjasama dalam dunia pendidikan ini diwujudkan dalam pengelolaan SMP Muhammadiyah 17 Prambanan Klaten yang dikembangkan menjadi Pondok Pesantren Modern dengan sistem asrama (Boarding School) Sehingga pengelolaan sekolah muhammadiyah ini menjadi bagian yang tak terpisahkan dari MBS Yogyakarta dan yang merupakan cabang kedua dari PPM MBS Yogyakarta yang selanjutnya disebut sebagai MBS 2 Yogyakarta di Prambanan Klaten.

Tahun Pelajaran 2014-2015 menjadi awal bagi MBS 2 Yogyakarta untuk memulai proses pendidikan.

KURIKULUM

MBS 2 menerapkan kurikulum yang sama dengan MBS Pusat dengan memadukan Kurikulum antara Pendidikan Nasional (DIKNAS) dan Kurikulum Pondok Pesantren Modern.

Dengan Kurikulum Diknas dan Pesantren yang terpadu sehingga Mata Pelajaran yang diselenggarakan selama KBM berlangsung mencakup seluruh materi umum dan agama.

6. PONDOK PESANTREN BINA UMAT YOGYA

Lokasi : Setran, Sumberarum, Kec. Moyudan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55563

Lembaga pendidikan ini ditopang sistem pendidikan pondok pesantren modern yang mengedepankan nilai-nilai keislaman secara universal. Islamic Boarding School SMP/SMA IT Bina Umat merupakan sekolah menengah Islam Terpadu yang memadukan kurikulum Diknas dengan kurikulum Pesantren Modern. Para siswa/santri diwajibkan tinggal di asrama pondok pesantren selama 24 jam yang dibina oleh guru/ ustadz/ah yang profesionaI & lulusan dari Pesantren/ Perguruan Tinggi terkemuka di dalam maupun luar negeri, yang menjamin berlangsungnya proses p e n d i d i k a n Islam yang ber-dasarkan AI-Qur’an & as-Sunnah melalui implementasi kurikulum & proses belajar mengajar yang terpadu, serta di tunjang dengan lingkungan belajar yang Islami, Tarbawi, Ma’hadi.

7. PONDOK PESANTREN RAUDHATUS SALAAM

Lokasi : Jl. Wonosari, Km. 8, Karangsari, Sendangtirto, Berbah, Gamelan, Sendangtirto, Kec. Berbah, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55573

Pondok Pesantren Raudhatus Salaam adalah salah satu dari sekian banyaknya pondok alumni Gontor yang berada di Daerah Istimewa Yogyakarta. Adapun jenjang pendidikian formal yang telah berjalan saat ini adalah jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP Raudhatus Salaam). Kurikulum yang di terapkan pada Pondok Pesantren Raudhatus Salaam adalah kolaborasi dari Trilogi Kurikulum diantaranya adalah kurikulum Kemdikbud/ DIKNAS untuk kegiatan belajar mengajar SMP dalam kelas juga ditambah dengan kurikulum Kulliyatul Muallimiinal Islamiyah (KMI) Gontor dan kurikulum Tahfidz.

Dari trilogi kurikulum yang diterapkan ini kedepannya alumni Pondok Pesantren Raudhatus Salaam di harapkan mampu menjadi kader pemimpin umat yang mampu mengayomi masyarakat dan memberikan jawaban-jawaban dari masalah-masalah kehidupan yang kompleks.

Program Unggulan Pondok Pesantren Raudhatus Salaam antara lain adalah: Mampu berkomunikasi dengan dua bahasa Arab dan Inggris, Tahfidz Qur’an, Pengaplikasian Tekhnologi sebagai sarana dakwah, Mampu memahami ajaran-ajaran Islam dalam konteks kekinian, Mampu mengaplikasikan ajaran Islam dengan confidence dan santun.

8. PONDOK PESANTREN DARUL HIKMAH PAKEM

Lokasi : Jl. Palagan Tentara Pelajar Km 15, Sembung, Purwobinangun, Pakem, Donoharjo, Ngaglik, Sembung, Purwobinangun, Kec. Sleman, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55581

Pendirian pondok pesantren ini bermula dari sebuah masjid sederhana sebagai sarana beribadah masyarakat muslim di Dusun Sembung. Ketika masyarakat merasakan kebutuhan sarana dan prasarana beribadah yang lebih memadahi, maka masjid sederhana tersebut kemudian direnovasi untuk menambah daya tampung jama’ah. Melalui usaha yang kuat dari beberapa tokoh masyarakat Sembung baik yang berada di Jakarta, Surakarta maupun yang berdomisili di Sembung sendiri, maka pada tanggal 17 April 1992, pembangunan dan renovasi Masjid Darul-Hikmah selesai diresmikan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X.

Setelah masjid selesai dibangun dan direnovasi kemudian muncul ide bahwa anak-anak usia pra-sekolah dan usia sekolah membutuhkan sarana untuk kegiatan belajar mengajar. Di samping itu, kantor Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA), Taman Kanak-Kanak (TK) Kuncup Mekar II, Takmir Masjid dan Remaja Masjid Darul-Hikmah (PRIMADHA) serta Koperasi Sendi Mulya, yang berada di sekitar masjid juga perlu diperbaiki tempat kegiatannya.

Oleh karena itu, kemudian Yayasan Darul-Hikmah yang dibentuk bersamaan dengan selesainya pembangunan dan renovasi masjid, membangun satu unit gedung untuk dipergunakan bagi perkantoran yang ada di sekitar masjid tersebut, pembangunan gedung ini selesai pada tahun 1997.

Pada saat itu kegiatan Masjid Darul-Hikmah masih terbatas pada pengelolaan TPA, Majlis Ta’lim dan kegiatan remaja masjid.
b. Periode pembangunan (1996-1998). Pada periode ini Yayasan Darul-Hikmah (YDH) membangun dua buah unit gedung yang dikemudian hari diberi nama Gedung Ibnu Rusydi dan Gedung Ibnu Kholdun.

Sekolah yang pertama didirikan adalah SLTP (1999), disusul kemudian pada tahun 2002 berdiri SDIT dan terakhir SMA-T pada tahun 2003. Sedangkan sistem pendidikan pesantrennya dengan menyelenggarakan kajian-kajian khas pesantren seperti kajian kitab-kitab klasik/kitab kuning dengan metode bandongan, sorogan dan sejenisnya.

Itulah daftar Pondok Pesantren Terbesar Dan Terkenal di Kabupaten Sleman Yogyakarta.

8 Pondok Pesantren Terbaik, Terbesar Di Sleman Yogyakarta

Kulonprogo adalah sebuah kabupaten di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia. Ibu kotanya adalah Wates.

Berikut ini adalah Daftar Pondok Pesantren Terbesar Dan Terkenal di Kabupaten Kulonprogo Yogyakarta :

1. PONDOK PESANTREN NURUL HAROMAIN KULONPROGO

Lokasi : Taruban Kulon, Tuksono, Kec. Sentolo, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta 55664

Pondok Pesantren Nurul Haromain merupakan pesantren semi modern, meskipun sudah memasukkan sistem madrasah dan sekolah formal namun tetap mempertahankan corak salafnya.

Pondok pesantren tersebut juga berkecimpung dalam masalah sosial, yaitu membangun panti asuhan untuk anak-anak yatim dan terlantar serta panti sosial untuk yang terkena gangguan jiwa dan narkoba. Pembahasan yang akan dikaji yaitu kondisi sosial dan keagamaan, biografi pendiri pondok pesantren, serta perkembangan dari pondok pesantren tersebut. Konsep yang digunakan adalah konsep pesantren dari Abd. Muin. Abd. Muin membagi pesantren dalam tiga tipologi yaitu pesantren salafiyah, khalafiyah dan kombinasi.

Pondok Pesantren Nurul Haromain merupakan pesantren kombinasi karena meskipun sudah membangun madrasah tetapi tetap mempertahankan corak salafinya.Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan sosiologis.

Ilmu sosiologi adalah ilmu sosial yang obyeknya masyarakat, maka pendekatan sosiologis berarti pembahasan tentang hubungan sosial, golongan sosial yang berperan, konflik berdasarkan kepentingan, pelapisan sosial dan status sosial. Penelitian ini dilakukan melalui empat tahapan, yaitu heuristik yakni pengumpulan sumber. Pengumpulan sumber diperoleh dari sumber lisan maupun tulis. Kedua adalah verifikasi, yakni tahapan penulis melakukan kritik terhadap sumber yang ditemukan.

Ketiga adalah interpretasi yakni menafsirkan terhadap fakta-fakta sejarah yang telah ditemukan sehingga sumber data yang telah diperoleh dapat disusun secara kronologis dan sistematis. Tahapan terakhir yaitu historiografi yakni penulisan sejarah yang mencakup pengantar, hasil penelitian, dan kesimpulan.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada hubungan yang erat antara Pesantren Nurul Haromain dan masyarakat sekitar. Pesantren yang benar-benar awalnya merintis dari bawah sekarang mampu survive di masyarakat.

Hal ini diwujudkan dengan pesantren mampu membangun Panti Asuhan, Madrasah Non Formal, Madrasah Formal, Panti Rehabilitasi Narkoba dibawah naungan Yayasan al-Maliky Pondok Pesantren Nurul Haromain. Pesantren selain bertujuan untuk mencetak kader-kader ulama juga berusaha untuk mensejahterakan masyarakat sekitar melalui lembaga-lembaga tersebut.

Hingga saat ini santri yang mondok di sini semakin bertambah banyak baik dari Yogyakarta maupun dari luar daerah.

2. PONDOK PESANTREN AN NADWAH

Lokasi : Kauman, RT.40/RW.18, Bendungan, Wates, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta 55651

Pondok Pesantren Annadwah adalah musholla kecil berdinding anyaman bambu yang digunakan untuk sholat berjamaah dan mengaji Al Qur'an dengan metode bin nadzri.

Lama-lama santri yang mengaji Al Qur'an semakin banyak dan ada yang menginap di musholla saat malam hari dan paginya pulang untuk aktifitas sehari-hari.

Tahun 1981 diadakan perbaikan bangunan musholla yang semula berdinding anyaman bambu diganti batu bata. Pembangunan mushola termotivasi dari isi pengajian khataman Al-Qur'an oleh K.H. Mufid Mas'ud.

Hingga sekarang santri yang menetap semakin banyak dan terus bertambah.

3. PONDOK PESANTREN DARUL ULUM KULONPROGO

Lokasi : Area Sawah, Pandowan, Kec. Galur, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta 55661

Pada masa penjajahan Belanda, lembaga Pendidikan masih sangat kurang, lebih-lebih dipelosok pedesaan didesa Sewugalur Kecamatan Galur Kabupaten Kulon Progo Daerah Istimewa Yogyakarta. Oleh Muhammadiyah Group Kranggan (sekarang ranting) didirikan lembaga pendidikan Islam tingkat menengah yang dinamakan Madrasah Darul Ulum.

Dengan nama Darul Ulum yang berarti gedung ilmu, maka dimadrasah tersebut memang memberikan bermacam-macam ilmu, baik ilmu agama maupun ilmu umum. Dari masa ke masa Darul Ulum telah banyak mengalami pasang surut, mengalami masa gemilang dan masa suram, mendapat sanjungan dan mendapat cacian. Namun kenyataan Darul Ulum suatu Madrasah yang telah banyak mendidik putra-putri Islam. Dan sesuai dengan ilmu yang didapat baik ilmu agama maupun umum sehingga para Abiturient Madrasah Darul Ulum dapat berperan dalam segala bidang. Ada yang menjadi mubaligh, pedagang, pegawai, pamong praja, ABRI dan lain lainnya. Namun pada umumnya mereka melaksanakan tugas dakwah dalam bidangnya masing-masing. Perlu diketahu bahwa Bapak H.AR. Fachruddin yang pernah menjabat Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah beberapa kali periode juga termasuk salah satu Abiturient Madrasah Darul Ulum.

Seperti Madrsah-madrsah pada umumnya Darul Ulum saat ini mengalami kemunduruan kemunduran yang perlu mendapat perhatian umat Islam pada umumnya. Untuk itulah kami sajikan sejarah singkat Madrasah tersebut, yang sekarang sudah berusia 75 tahun karena Darul
Ulum berdiri tanggal 05 Juli 1932.

Berdirinya madrasah Darul Ulum pada tahun 1932 tidak dapat dipisahkan dengan pertumbuhan Muhammadiiyah di daerah Kulon Progo, secara kronologis Muhammadiyah masuk didaerah Kulon Progo tahun 1926. salah satu syarat berdirinya Muhammadiyah (ketika itu Muhammadiyah Group Kranggan ) harus ada sekolah Muhammadiyah, karenanya didirikan sekolah dasar Muhammadiyah Wonopeti (Standard School Muhammadiyah Wonopeti) sekarang Sekolah Dasar Wonopeti I.

Itulah daftar Pondok pesantren Terbesar Dan terbaik di kabupaten Kulonprogo Yogyakarta.

3 Pondok Pesantren Terbaik, Terbesar Di Kulonprogo Yogyakarta

Gunungkidul adalah salah satu kabupaten di Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia. Pusat pemerintahan berada di Kecamatan Wonosari.

Berikut ini adalah Daftar Pondok Pesantren Salafiyah maupun Modern Terbesar Dan Terkenal di Kabupaten Gunungkidul Yogyakarta :

1. PONDOK PESANTREN DARUSH SHOLIHIN

Lokasi : Dusun Warak RT.08 / RW.02, Desa Girisekar, Panggang, Warak, Girisekar, Panggang, Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta 55872

Pesantren Darush Sholihin berdiri sejak tahun 2011, tepatnya selepas Idul Fithri 2011. Dana diperoleh dari para muhsinin yang telah menyumbangkan hartanya kegiatan buka puasa dan pembangunan masjid di Desa Girisekar.

Awalnya kegiatan belajar berlangsung di masjid dan di rumah pengajar. Karena begitu banyaknya santri, akhirnya diniatkan untuk didirikan pesantren. Pesertanya mulai dari anak-anak umur 4 tahun sampai pelajar SMA. Dan belakangan bertambah hingga santri-santri ibu-ibu dan bapak-bapak, bahkan para sepuh pun ikut.

Para santri rata-rata miskin, sehingga memang tidak dipungut biaya pendidikan untuk mengikuti kegiatan pesantren ini.

2. PONDOK PESANTREN AL JAUHAR

Lokasi : Tlepok, Semin, Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta 55854

Adanya permintaan pengelolaan  Tanah  Wakaf  yang belum dikelola dari  Bapak Hudi Suparjo seluas 824 m2 yang sudah diwakafkan ke MWC NU yang kemudian dialih kelolakan ke Pondok Pesantren Sunan Pandanaran.  Permohonan alih kelola  diwujudkan dalam  Surat Pernyataan  Pelimpahan yang ditandatangani pada  06 November 2006.

Pembukaan  Kegiatan Pendampingan Pondok Pesantren Sunan Pandanaran dimulai dengan Kegiatan Mujahadah  pada Sabtu Kliwon, 06 Juli 2007  yang kemudian pada penyelenggaraan berikutnya pada Selasa Kliwon, 20 September 2006 sekaligus untuk mengenang hari wafatnya dan sekaligus mendoakan   Almarhum Al Maghfurllah KH Mufid Mas’ud pendiri  Pondok Pesantren Sunan Pandanaran.

Program pengembangan kegiatan Pondok Pesantren Sunan Pandanaran dilanjutkan dengan pendirian Raudlatul Athfal pada tahun 2008, Madrasah Ibtidaiyah tahun  2009 serta Madrasah Tsanawiyah yang Insya Alloh akan mulai beroperasi  tahun 2012.

“Al Jauhar” begitulah nama Komplek Pondok Pesantren Sunan Pandanaran Tlepok, Semin, Semin Gunungkidul. Dinisbatkan terhadap  Almarhumah Ibu Jauharoh Munawir (Ibunda KH Mu’tashim Billah) dan penghormatan terhadap perjuangan nama beliau dijadikan sebagai Identitas Komplek ini. Semoga komplek ini bisa menjadi penerus perjuangan  beliau dalam bertaffaquh fiddin.

3. PONDOK PESANTREN DARUL QUR'AN WAL IRSYAD

Lokasi : Jl. Nusantara No.17, Ledoksari, Kepek, Kec. Wonosari, Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta 55813

Pondok Pesantren Darul Qur’an Wal Irsyad berdiri pada tanggal 27 Agustus 1999, bertepatan dengan tanggal 15 Jumadil Awwal 1420 H dan terdaftar di lingkungan Kementerian Agama Kabupaten Gunungkidul dengan nomor statistik D.99127. Pondok Pesantren Darul Qur’an Wal Irsyad ini terletak di jalan Nusantara No. 17 dusun Ledoksari, Desa Kepek, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta diatas tanah seluas 16319 m2. Lokasi Pondok Pesantren Darul Qur’an Wal Irsyad terletak 1 KM dari jantung kota Wonosari tepatnya berada disebelah utara SMKN 2 Wonosari.

Berdirinya Pondok Pesantren Darul Qur’an Wal Irsyad atau yang lazim disebut Ma’had Darul Qur’an Wal Irsyad merupakan hal yang menggembirakan, karena berdirinya sebuah pusat kajian dan penyelenggaraan pendidikan agama di daerah yang masuk wilayah perkotaan merupakan hal yang sulit, mengingat kehidupan masyarakat yang semakin konsumtif.

Pondok Pesantren Darul Qur’an Wal Irsyad adalah pondok pesantren yang berlandaskan akidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah yang memang paling tepat untuk konteks di Indonesia. Pondok Pesantren Darul Qur’an Wal Irsyad menjadi wadah untuk menampung santri-santri yang dipersiapkan untuk mendalami, menghayati, mengkaji dan mempelajari agama sehingga diharapkan santri tamatan Pondok Pesantren Darul Qur’an Wal Irsyad menjadi ulama, kyai, tokoh masyarakat yang bisa melanjutkan estafet perjuangan para ulama salafussholihin, dan mempersiapkan sumber daya manusia yang handal dan cakap dengan berbagai predikat yang mulia.

Pondok pesantren ini memiliki berbagai lembaga pendidikan dan program kegiatan, baik formal maupun non formal sebagai upaya untuk memberikan wadah bagi para santri untuk menyalurkan bakat dan minatnya masing-masing karena kita menyadari bahwa tidak semua orang bisa diproyeksikan menjadi manusia yang ahli dalam bidang yang sama, akan tetapi setiap orang dibekali oleh Allah dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing untuk dikembangkan menuju kehidupan yang saling mengisi dan menguntungkan.

4. PONDOK PESANTREN AL HIKMAH KARANGMOJO

Lokasi : Bulu, Karangmojo, Kec. Karangmojo, Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta 55891

Pondok Pesanteran Al Hikmah berdiri pada tahun 1989 setelah Yayasan Al-Hikmah Sumberjo selaku institusi penyelenggara Pondok Pesantren Al-Hikmah Sumberjo, Karangmojo, Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, resmi berdiri sejak tahun 1989.

Berdirinya Pondok Pesantren ini pada awalnya tidak lepas dari putra-putra Bani Iman Raji dan Bani Mukmin yang memiliki kepedulian terhadap perkembangan umat, sehinga pada masa awalnya modal material dan finansial sangat bergantung kepada mereka. Namun dalam perkembagannya, keterlibatan masyarakat sekitar sangat berpengaruh pada kemajuan dan perkembangan Pondok Pesantren Al Hikmah dan institusi-institusi formal di dalamnya.

Dari tahun ke tahun santri Al Hikmah jumlahnya semakin meningkat pesat. Sebagai ilustrasi, pada tahun 2019 ini jumlah santrinya baru sekitar 250 orang sekarang  jumlah santri telah mencapai angka 1068 orang lebih yang tersebar menjadi siswa MA atau SMK atau SMP dan semuanya tidak dipungut biaya apapun baik mondoknya maupun sekolah formalnya. Semuanya 100% gratis.

Bagaimana dengan honor ustadz dan guru? Pihak yayasan hanya menggaji guru-guru yang belum memiliki pekerjaan pokok. Mayoritas ustadz dan guru yang sudah memiliki pekerjaan pokok rela tidak dibayar. Tentunya dengan kondisi seperti ini pihak Pondok Pesantren Al Hikmah sangat mengharapkan bantuan dan dukungan dari semua pihak, terlebih lagi dari pemerintah mengingat apa yang dilakukan oleh Pondok Pesantren Al Hikmah ini sejalah dengan tujuan pemerintah yang telah mencanangkan wajib pendidikan dasar 9 tahun.

Itulah daftar Pondok Pesantren Terbesar Dan Terkenal di Kabupaten Gunungkidul Yogyakarta.

4 Pondok Pesantren Terbaik, Terbesar Di Gunungkidul Yogyakarta