SURABAYA JATIM - Sejak virus Corona masuk di Jatim Februari lalu, seluruh masyarakat diimbau tetap di rumah dan bekerja di rumah atau Work From Home (WFH). Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Jatim menyebut adanya WFH ini menyebabkan tingkat kehamilan meningkat sekitar 10 persen.

Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Timur Sukaryo Teguh Santoso mengatakan, jika dilihat dari data wanita hamil memang terjadi peningkatan.

"Februari 2,84% hamil atau 299.667, Maret mengalami peningkatan 2,93% atau 232.287, pada April ini mengalami penurunan 227.260 atau 2,90%. Kesan turun, bisa jadi yang bulan Maret usia kehamilan sudah besar, sehingga pada bulan Mei melahirkan," kata Teguh kepada wartawan di ruang kerjanya, Kamis (28/5/2020).

Selain pandemi Corona berdampak pada kenaikan kehamilan, di Jatim juga mengalami penurunan ber-KB. Sebab wanita yang belum ingin hamil atau memiliki anak lagi, tidak bisa keluar rumah.

"Penurunan KB di Jatim, Februari drop out 1,13% atau 68.547 push yang ber-KB jadi tidak KB, Maret menjadi 278.356 atau 4,68% naik, April 414.708 kurs yang ber-KB drop out kurang lebih 7,07%," jelasnya.

"Tren ini benar adanya. Angka drop out naik peserta menjadi turun. Dampaknya tidak bisa jangka pendek," imbuhnya.

Teguh juga berharap tidak ada kehamilan yang tidak direncanakan selama pandemi Corona. Karena tidak terproteksi, bahkan angka kehamilan akan meningkat hingga dua sampai tiga bulan ke depan.

"Kita tunggu saja sampai akhir tahun ini berapa banyak kehamilan di Jatim," ujarnya.

Semenjak Masa Pandemi Corona, Angka Kehamilan Di Jatim Meningkat

SURABAYA JATIM - Sejak virus Corona masuk di Jatim Februari lalu, seluruh masyarakat diimbau tetap di rumah dan bekerja di rumah atau Work From Home (WFH). Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Jatim menyebut adanya WFH ini menyebabkan tingkat kehamilan meningkat sekitar 10 persen.

Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Timur Sukaryo Teguh Santoso mengatakan, jika dilihat dari data wanita hamil memang terjadi peningkatan.

"Februari 2,84% hamil atau 299.667, Maret mengalami peningkatan 2,93% atau 232.287, pada April ini mengalami penurunan 227.260 atau 2,90%. Kesan turun, bisa jadi yang bulan Maret usia kehamilan sudah besar, sehingga pada bulan Mei melahirkan," kata Teguh kepada wartawan di ruang kerjanya, Kamis (28/5/2020).

Selain pandemi Corona berdampak pada kenaikan kehamilan, di Jatim juga mengalami penurunan ber-KB. Sebab wanita yang belum ingin hamil atau memiliki anak lagi, tidak bisa keluar rumah.

"Penurunan KB di Jatim, Februari drop out 1,13% atau 68.547 push yang ber-KB jadi tidak KB, Maret menjadi 278.356 atau 4,68% naik, April 414.708 kurs yang ber-KB drop out kurang lebih 7,07%," jelasnya.

"Tren ini benar adanya. Angka drop out naik peserta menjadi turun. Dampaknya tidak bisa jangka pendek," imbuhnya.

Teguh juga berharap tidak ada kehamilan yang tidak direncanakan selama pandemi Corona. Karena tidak terproteksi, bahkan angka kehamilan akan meningkat hingga dua sampai tiga bulan ke depan.

"Kita tunggu saja sampai akhir tahun ini berapa banyak kehamilan di Jatim," ujarnya.

Tidak ada komentar