Social Items

Tampilkan postingan dengan label Berita Jateng. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita Jateng. Tampilkan semua postingan
Angin Kencang Sebabkan Satu Rumah Roboh di Dukuhseti, Pati.

Telah terjadi rumah roboh di desa Banyutowo rt 6/1 Kecamatan Dukuh Seti, Kabupaten Pati. Rumah milik Ibu Sumi umur 62 tahun. Janda. Islam. Rumah ukuran 5×7. Kronologi jam 10 pagi tiba-tiba ada angin kencang dan merobohkan rumah tersebut. Kerugian kurang lebih 15 juta. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini.

Angin kencang, salah satu rumah seorang janda di Pati rata dengan tanah

REMBANG JATENG - Sebuah tower Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) di Rembang roboh dan mengakibatkan listrik dua kabupaten di Jawa Tengah mati selama dua hari hingga besok. Lokasi tower yang roboh itu kini dipasangi garis polisi.

"Kami pasang garis polisi di sekitar lokasi kejadian, untuk mengamankan agar warga tidak mendekat ke lokasi, karena berbahaya itu," ujar Kapolres Rembang AKBP Dolly A Primanto kepada wartawan, Rabu (26/2/2020).

Dolly menjelaskan sejumlah pihak juga telah dimintai keterangan atas kejadian ini. Namun dia belum mengungkap siapa saja pihak yang sudah dimintai keterangan oleh polisi.

"Kami tadi menjenguk korban di RSUD, kasihan masih anak-anak kena kepalanya luka. Kami akan memintai keterangan pihak-pihak terkait. Siapa saja nanti akan kami sampaikan melalui Kasat Reskrim," paparnya.

Manajer ULP PLN Rembang, Arif Setiawan menambahkan kedua korban telah dilarikan ke RSUD Rembang. Kedua korban mengalami luka-luka akibat tertimpa reruntuhan bangunan saat tower SUTT roboh.

"Ada dua orang korban luka sudah dilarikan ke RSUD. Infonya sudah bergeser ke ruang perawatan. Mereka anaknya pak Lilik, pemilik rumah, luka-luka," kata Arif kepada wartawan, pagi tadi.

Arif mengaku pihak PLN akan bertanggungjawab sepenuhnya. Selain biaya perawatan korban, PLN juga akan menanggung biaya perbaikan rumah yang rusak parah akibat tertimpa tower SUTT PLN.

"Kami berkomitmen akan menanggung semua, mulai biaya perawatan dan proses perbaikan rumah yang tertimpa tower roboh," jelasnya.

Tertimpa Tower Listrik, Dua Warga Rembang Dilarikan Ke RS

PEMALANG - Warga Desa Wisnu, Kecamatan Watukumpul, Pemalang, digemparkan dengan temuan kerangka manusia. Kerangka di hutan pinus petak 17 RPH Wisnu ini ditemukan dalam kondisi mengenaskan.

Kapolsek Watumpul, AKP M Subagyo mengatakan temuan tulang kerangka berawal dari kecurigaan dua warga pencari pohon serut untuk bonsai mencium bau busuk, Selasa (25/2) sekitar pukul 10.00 WIB.

"Awalnya ada dua orang yang tidak sengaja mencium bau busuk di sekitar area Hutan Pinus petak 17 setempat", kata M Subagyo.

"Setelah dilakukan pencarian sumber bau busuk tersebut ditemukan tulang kerangka dan batok kepala manusia", lanjut Subagyo.

Atas temuan tersebut keduanya langsung melaporkan ke warga lainnya untuk diteruskan ke Mapolsek Watukumpul. Dari hasil pemeriksaan tim medis Puskesmas setempat, tidak ditemukan tanda-tanda penganiayaan. "Hasilnya tidak ditemukan tanda atau bekas penganiayaan," katanya.

Kepala Desa Wisnu, Bambang Sutejo saat dihubungi menjelaskan sejauh ini tidak ada warganya yang kehilangan anggota keluarganya. "Itu (tulang kerangka) bukan warga sini. Tidak ada laporan warga di desa ini yang kehilangan anggota keluarganya," katanya.

Selanjutnya temuan tulang kerangka dan tengkorak kepala ini usai dilakukan pemeriksaan langsung dimakamkan di Desa Wisnu, Kecamatan Watukumpul, Pemalang pada Selasa, sekitar pukul 15.00 WIB.

Tulang Manusia Ditemukan Warga Di Pemalang

PEKALONGAN - Akibat diterjang banjir, 1.265 warga Pekalongan masih mengungsi. Wakil Wali Kota Pekalongan, Achmad Afzan Arslan Djunaid mengungkap sejumlah wilayah di antaranya Kelurahan Tirto dan Pasir Sari masih tergenang Banjir.

"Ya banjir di Kota Pekalongan, sudah turun menyusut demikian juga dengan pengungsian, yang semula 1.776, update terakhir 1265. Genangan jalan-jalan terpantau tadi juga sudah surut semua. Namun dari pantauan kami, seperti di wilayah Kelurahan Tirto, Kelurahan Pasir Kraton Kramat (perkampungan Pasir Sari dan Kramat Sari) masih tergenang," ucap pria yang akrab dipanggil dengan Aap itu kepada wartawan, Rabu (26/2/2020).

Meski begitu, debit air Sungai Bremi masih tinggi dan pompa belum bekerja secara maksimal. Kawasan di Pekalongan Utara dan Pekalongan Barat hingga saat ini masih tergenang.

Aap mengungkap banjir di Kota Pekalongan sangat mengganggu sektor perekonomian. Salah satunya warga Pekalongan yang masih belum bisa bekerja dengan normal karena banjir.

"Kemarin juga kita ke posko mendapat curhatan dari warga tidak dapat bekerja karena lokasi kerjaa juga banjir. Kerja menjahit, batik dan lain sebagaimana," jelasnya.

Selain itu, banjir juga menyebabkan kerusakan jalan karena terendam banjir di antaranya di kawasan Kramat Sari 1,2, 3 Kota Pekalongan.

"Alhamdulilah dari dinas perumahan dan pemukiman (Kota Pekalongan) sudah dianggarkan, mudah mudahan hujan reda, banjir usai, dan bisa dibangun. Karena jalan aspal itu akan rusak karena terendam air dan banjir," jelasnya.

Selain itu, Pemkot Pekalongan juga menggratiskan biaya pelayanan kesehatan untuk korban banjir di RSUD Kota Pekalongan.

"Ke depan kita akan menata drainase yang tidak berjalan dengan baik. Ini penting di Kota Pekalongan. Bukan hanya curah hujan yang tinggi, tetapi hujan satu dua jam, wilayah sudah banjir terendam air," jelasnya.

"Kita sudah melakukan rakor, kemarin dengan Pemprov dan Pemkab Pekalongan untuk bersama-sama mengatasi dan menanggulangi banjir tahunan," pungkasnya.

Diterjang Banjir, Ribuan Warga Pekalongan Mengungsi

SRAGEN JATENG - Satpol PP Kabupaten Sragen, Jawa Tengah mengamankan seorang ibu bersama dua anaknya yang masih balita. Ibu berinisial G (35) warga Kecamatan Miri itu diduga dipaksa mengemis oleh sang suami berinisial S (41).

"Kami mendapatkan laporan dari masyarakat, diduga ibu tersebut sengaja dipekerjakan oleh suaminya. Jadi kalau pagi diantar, malam baru dijemput. Akhirnya yang bersangkutan kami amankan, kemarin sore," kata Kepala Satpol PP Sragen, Heru Martono, ditemui wartawan di kantornya, Selasa (25/2/2020).

Saat diamankan petugas Satpol PP, ibu tersebut tengah mengemis di sekitar Pasar Gemolong bersama dua orang anak perempuannya yang berusia enam dan empat tahun. Setelah diamankan, ibu dan dua anaknya ini lalu diserahkan ke Rumah Singgah (Rusi) Dinas Sosial Kabupaten Sragen di jalan Ade Irma Suryanti Nasution, Kecamatan Sragen Kota.

"Kondisinya hamil enam bulan, jadi anaknya hampir empat. Dua (anak) diajak mengemis, (anak) yang gede nggak. Waktu diamankan kami cek di dompetnya ada uang Rp 60 ribu. Kami langsung kirim ke Rusi," terang Heru.

Terpisah, Kasi Rehabilitasi Sosial dan Tuna Sosial Dinas Sosial Sragen, Ine Marliah mengungkapkan telah melakukan pembinaan kepada G dan suaminya, S. Ine mengungkapkan dari hasil pemeriksaan, S mengaku memaksa istri dan anaknya untuk mengemis karena faktor ekonomi.

S dalam kesehariannya bekerja serabutan mengaku tidak cukup untuk menghidupi keluarganya. S dan anak istrinya kini mengontrak sebuah rumah di Kecamatan Sidoharjo, karena ada sengketa tanah dengan keluarganya.

"Kalau istrinya cenderung menutupi bahwa ada pemaksaan. Mungkin takut, soalnya sempat mengakui bahwa dulu sering dianiaya suaminya. Tapi setelah anak-anaknya yang perempuan lahir, sudah tidak (dianiaya) lagi. Pengakuan sang istri sudah bertahun-tahun menjadi pengemis," ujar Ine.

Petugas juga memberikan peringatan kepada S, tindakan yang dilakukannya terhadap istri dan anak-anaknya bisa dikenai sanksi pidana. S kemudian menandatangani surat perjanjian yang isinya kesanggupan dirinya untuk tidak memaksa istri dan anaknya mengemis lagi.

"Kemudian nanti ke depan akan kami carikan solusi, mungkin ke lembaga-lembaga yang bisa memberikan kontribusi kepada warga yang kekurangan seperti Baznas. Kami juga akan cek apakah mereka masuk dalam PKH (Program Keluarga Harapan)," lanjut Ine.

Usai dilakukan pembinaan, petugas lalu memperbolehkan keluarga itu untuk pulang, disaksikan oleh aparat desa tempat mereka tinggal. Dinas Sosial juga menggandeng perangkat desa setempat untuk terus melakukan pengawasan terhadap keluarga ini.

Ibu Hamil 6 Bulan dan Balitanya Dipaksa Ngemis Oleh Suami

SLEMAN YOGYAKARTA - Polisi mengumumkan dua tersangka baru dalam tragedi maut yang menewaskan 10 siswa SMPN 1 Turi saat susur Sungai Sempor, Donokerto, Turi, Sleman. Dua tersangka baru itu yakni Riyanto (58) dan Danang Dewo Subroto (58). Keduanya merupakan warga Sleman.

"Hari ini kita menaikkan status dua orang yang terlibat dalam kegiatan Pramuka menjadi tersangka yakni Riyanto (58) dan Danang Dewo Subroto (58) keduanya warga Sleman," kata Kabid Humas Polda DIY, Kombes Yulianto di Mapolda DIY, Senin (24/2/2020).

Polisi menetapkan keduanya sebagai tersangka berdasarkan bukti yang sudah didapatkan. Ditambah keduanya terbukti tidak mendampingi kegiatan Pramuka padahal kedua tersangka memiliki sertifikat Kursus Mahir Dasar (KMD) Pramuka.

"Riyanto tinggal di sekolah, tidak mendampingi. Termasuk kelalaian. Seharusnya yang bersangkutan juga ikut mendampingi. Danang Dewo ini tidak turun ke sungai dan hanya menunggu di garis finish," jelasnya.

Dengan tambahan 2 tersangka tersebut, saat ini Polda DIY telah menetapkan tiga tersangka dalam kasus tragedi siswa SMPN 1 Turi yang hanyut saat susur Sungai Sempor, Donokerto, Turi, Sleman. Tersangka sebelumnya adalah Isfan Yoppy Andrian (36) guru dan pembina Pramuka SMPN 1 Turi. Ketiganya telah ditahan.

"Saat ini sudah ada tiga orang yang ditahan dan statusnya tersangka," ujar Yuliyanto.

"Isfan Yopi dan Riyanto merupakan guru di SMPN 1 Turi, sedangkan Danang merupakan pembina pramuka dari luar sekolah," lanjutnya.

Ketiganya dijerat dengan pasal 359 KUHP dan 360 KUHP. Kini mereka ditahan di Polres Sleman. "Dugaannya lalai dan dijerat dengan pasal 359 KUHP dan 360 KUHP, ancaman kima tahun dan sekarang sudah di tahan di Polres Sleman," katanya.

Yulianto memastikan penanganan kasus itu akan terus berlanjut. Oleh karenanya tidak menutup kemungkinan adanya tersangka baru.

"Segala sesuatu masih memungkinkan untuk menambah tersangka," ungkapnya.

Tiga tersangka yang ditahan merupakan pembina pramuka. Dalam tragedi itu ada 7 pembina pramuka yang terlibat. Polisi, kata Yulianto, juga masih melakukan pendalaman terhadap 4 orang pembina pramuka apakah bisa memenuhi unsur untuk dijadikan tersangka atau tidak.

"Ya nanti kita lakukan, ini masih terus dilakukan pendalaman, apakah nanti ada penambahan tersangka lagi atau tidak, kita masih belum bisa menyampaikan. Nanti kita lihat perkembangannya," katanya.

Hingga saat ini, Polda DIY telah memeriksa 22 orang terkait tragedi tersebut. Mereka yang diperiksa terdiri dari pembina pramuka, kwarcab, warga. Terbaru, polisi juga sudah berhasil memeriksa siswa, kepala sekolah dan orang tua korban.

"Kami memeriksa 22 orang terdiri dari 7 pembina pramuka, 3 kwarcab, 3 warga atau pengelola wisata, 2 siswa yang selamat, 1 kepala sekolah, 6 orang tua korban," jelasnya.

Tewaskan 10 Siswi SMPN 1 Turi Sleman, 3 Pembina Pramuka Dijebloskan Tahanan

KULON PROGO - Seorang pelajar bernama Rian Haryanto (15) tewas tenggelam di underpass Kulur, Kulon Progo setelah mendapat prank ulang tahun dari teman-temannya sore tadi.

Padahal, keluarganya telah menyiapkan pesta kecil di rumah dengan sajian nasi tumpeng.

Kerabat Rian, Riyanto, mengatakan keluarga korban sudah menyiapkan pesta kecil di rumahnya di Sogan, Wates. Yakni dengan menyiapkan nasi tumpeng dan ikan bakar. Rencananya makanan ini akan dihidangkan dalam perayaan ulang tahun Rian dengan mengundang teman-temannya.

"Itu sudah disiapkan, tetapi Rian tidak berkenan dan malah pergi dengan teman-temannya," jelas Riyanto kepada wartawan, Sabtu (22/2/2020).

Hingga akhirnya terjadi musibah yang mengakibatkan Rian tewas tenggelam. Tidak hanya itu, dua teman Rian juga ikut tenggelam di genangan air underpass Kulur. Mereka adalah Tegar (16) warga Menggungan, Tawangsari yang juga tewas saat hendak menolong Rian. Dan Ramli (15) warga Kulur, Temon yang selamat dan kini mendapatkan perawatan di RSUD Wates.

Saat diwawancara terpisah, Ulu-Ulu Kalurahan Kulur, Kapanewon Temon, Sutardi mengatakan kasus tewasnya dua pelajar ini merupakan kejadian kedua di underpass Kulur. Tahun lalu, seorang warga sekitar juga ditemukan tewas mengambang.

"Jadi dua tahun ini, selalu ada korban jiwa," jelasnya.

Sutardi mengatakan, underpass Kulur setiap musim hujan selalu tergenang air. Bahkan kedalaman bisa lebih dari tiga meter.

Menurutnya, di lokasi underpass Kulur sudah disiapkan mesin pompa air pembuangan. Namun kapasitasnya tidak mencukupi. Jalan di underpass Kulur baru bisa dimanfaatkan optimal ketika musim kemarau.

"Begitu masuk musim hujan, underpass ini akan langsung tergenang," ujarnya.

Diberitakan sebelumnya, polisi turun tangan menyelidiki peristiwa prank atau candaan ulang tahun yang berujung tewasnya dua remaja, Rian (15) dan Tegar (16) di underpass Kulur ini. Sejumlah saksi telah dimintai keterangannya.

Saat dimintai konfirmasi, Kapolsek Temon Kompol Hery Setyo Budi mengatakan, pihaknya melakukan penyelidikan dengan meminta keterangan saksi-saksi. Di antaranya adalah rekan korban yang tidak ikut mencebur ke underpass yang tergenang air hujan, sore tadi.

"Ada dua meninggal (Rian dan tegar), dan satu selamat dan dirawat di rumah sakit. Mereka temen sepermainan, bukan dari satu sekolah. Tapi beberapa," kata Hery kepada wartawan, Sabtu (22/2/2020) malam.

Seorang saksi yang juga teman korban, berinisial F, mengatakan kejadian berawal saat dia dan enam orang temannya datang ke lokasi underpass Kulur.

Begitu sampai di lokasi, mereka awalnya hanya duduk-duduk di dinding underpass. Entah siapa yang mempunyai ide, mereka ingin bercanda dengan menceburkan Rian yang kebetulan ulang tahun ke air yang menggenangi underpass.

Mereka akhirnya mendorong Rian hingga tercebur ke dalam underpass yang ternyata kedalaman genangan airnya lebih dari tiga meter.

"Sengaja diceburkan, untuk surprise, dia kan ulang tahun," jelasnya saat ditemui.

Namun ternyata Rian tidak bisa berenang, hingga akhirnya dua temannya, Tegar dan Ramli mencoba menolong korban. Namun keduanya justru ikut tenggelam.

"Awalnya ada satu yang nolong, karena tidak bisa, satu masuk lagi, dan ke tepi pingsan," ujarnya.

Dia dan temannya yang ada di atas kemudian meminta tolong warga. Hingga akhirnya dilakukan pencarian di air. Ramli (15) warga Kulur, Temon ditemukan pingsan dan dilarikan ke rumah sakit. Sedangkan Tegar (16) warga Tawangsari, Pengasih ditemukan dalam kondisi meninggal dunia.

Rian yang berulang tahun ke-15 ini berhasil dievakuasi tim SAR dalam kondisi meninggal. Para korban saat ini sudah dibawa ke RSUD Wates.

"Begitu ada laporan kami langsung ke sini dan melakukan pencarian. Semua korban sudah ditemukan," kata anggota Sarlinmas Kulon Progo, Samsudin.

Prank Berujung Maut, Dua Remaja Di Kulon Progo Tewas Hanyut Ke Sungai

SLEMAN YOGYAKARTA - Dua siswa SMPN 1 Turi yang hanyut saat susur Sungai Sempor, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) berhasil ditemukan. Kedua korban ditemukan dalam kondisi tak bernyawa lagi.

"Total sembilan korban (meninggal). Kami masih mencari satu orang lagi, doakan agar segera ketemu," kata Kapolda DIY Irjen Asep Suhendar saat ditemui di lokasi Sungai Sempor, Dusun Dukuh, Desa Donokerto, Kecamatan Turi, Sleman, Sabtu (22/2/2020).

Kepala Basarnas Yogyakarta, Lalu Wahyu Efendi menjelaskan, dua korban terakhir ditemukan pukul 10.15 WIB dan 10.35 WIB. Namun untuk identitasnya belum terkonfirmasi.

"Identitasnya belum, baru proses identifikasi, tapi tadi ditemukan di 10.15 WIB di dam Lengkong dan 10.35 WIB di dam Polowidi dalam kondisi meninggal dunia. Kami masih cari 1 siswa lagi," katanya.

Diberitakan sebelumnya, proses pencarian terhadap siswa SMPN 1 Turi yang hanyut di Sungai Sempor, Sleman terus dilakukan. Tim SAR gabungan hingga pagi tadi telah mengevakuasi tujuh orang korban meninggal dunia.

"Update hingga 04.20 WIB, telah ditemukan satu lagi korban sehingga total ada tujuh orang korban meninggal dunia. Korban terakhir teridentifikasi pukul 23.00 WIB," kata Kepala Pelaksana BPBD DIY Biwara Yuswantana dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (22/2).

Update: 9 Siswa SMP 1 Turi Sleman Yang Hanyut Ditemukan Tewas