Social Items

Tampilkan postingan dengan label Berita Jateng. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita Jateng. Tampilkan semua postingan
SRAGEN JATENG - Satpol PP Kabupaten Sragen, Jawa Tengah mengamankan seorang ibu bersama dua anaknya yang masih balita. Ibu berinisial G (35) warga Kecamatan Miri itu diduga dipaksa mengemis oleh sang suami berinisial S (41).

"Kami mendapatkan laporan dari masyarakat, diduga ibu tersebut sengaja dipekerjakan oleh suaminya. Jadi kalau pagi diantar, malam baru dijemput. Akhirnya yang bersangkutan kami amankan, kemarin sore," kata Kepala Satpol PP Sragen, Heru Martono, ditemui wartawan di kantornya, Selasa (25/2/2020).

Saat diamankan petugas Satpol PP, ibu tersebut tengah mengemis di sekitar Pasar Gemolong bersama dua orang anak perempuannya yang berusia enam dan empat tahun. Setelah diamankan, ibu dan dua anaknya ini lalu diserahkan ke Rumah Singgah (Rusi) Dinas Sosial Kabupaten Sragen di jalan Ade Irma Suryanti Nasution, Kecamatan Sragen Kota.

"Kondisinya hamil enam bulan, jadi anaknya hampir empat. Dua (anak) diajak mengemis, (anak) yang gede nggak. Waktu diamankan kami cek di dompetnya ada uang Rp 60 ribu. Kami langsung kirim ke Rusi," terang Heru.

Terpisah, Kasi Rehabilitasi Sosial dan Tuna Sosial Dinas Sosial Sragen, Ine Marliah mengungkapkan telah melakukan pembinaan kepada G dan suaminya, S. Ine mengungkapkan dari hasil pemeriksaan, S mengaku memaksa istri dan anaknya untuk mengemis karena faktor ekonomi.

S dalam kesehariannya bekerja serabutan mengaku tidak cukup untuk menghidupi keluarganya. S dan anak istrinya kini mengontrak sebuah rumah di Kecamatan Sidoharjo, karena ada sengketa tanah dengan keluarganya.

"Kalau istrinya cenderung menutupi bahwa ada pemaksaan. Mungkin takut, soalnya sempat mengakui bahwa dulu sering dianiaya suaminya. Tapi setelah anak-anaknya yang perempuan lahir, sudah tidak (dianiaya) lagi. Pengakuan sang istri sudah bertahun-tahun menjadi pengemis," ujar Ine.

Petugas juga memberikan peringatan kepada S, tindakan yang dilakukannya terhadap istri dan anak-anaknya bisa dikenai sanksi pidana. S kemudian menandatangani surat perjanjian yang isinya kesanggupan dirinya untuk tidak memaksa istri dan anaknya mengemis lagi.

"Kemudian nanti ke depan akan kami carikan solusi, mungkin ke lembaga-lembaga yang bisa memberikan kontribusi kepada warga yang kekurangan seperti Baznas. Kami juga akan cek apakah mereka masuk dalam PKH (Program Keluarga Harapan)," lanjut Ine.

Usai dilakukan pembinaan, petugas lalu memperbolehkan keluarga itu untuk pulang, disaksikan oleh aparat desa tempat mereka tinggal. Dinas Sosial juga menggandeng perangkat desa setempat untuk terus melakukan pengawasan terhadap keluarga ini.

Ibu Hamil 6 Bulan dan Balitanya Dipaksa Ngemis Oleh Suami

SLEMAN YOGYAKARTA - Polisi mengumumkan dua tersangka baru dalam tragedi maut yang menewaskan 10 siswa SMPN 1 Turi saat susur Sungai Sempor, Donokerto, Turi, Sleman. Dua tersangka baru itu yakni Riyanto (58) dan Danang Dewo Subroto (58). Keduanya merupakan warga Sleman.

"Hari ini kita menaikkan status dua orang yang terlibat dalam kegiatan Pramuka menjadi tersangka yakni Riyanto (58) dan Danang Dewo Subroto (58) keduanya warga Sleman," kata Kabid Humas Polda DIY, Kombes Yulianto di Mapolda DIY, Senin (24/2/2020).

Polisi menetapkan keduanya sebagai tersangka berdasarkan bukti yang sudah didapatkan. Ditambah keduanya terbukti tidak mendampingi kegiatan Pramuka padahal kedua tersangka memiliki sertifikat Kursus Mahir Dasar (KMD) Pramuka.

"Riyanto tinggal di sekolah, tidak mendampingi. Termasuk kelalaian. Seharusnya yang bersangkutan juga ikut mendampingi. Danang Dewo ini tidak turun ke sungai dan hanya menunggu di garis finish," jelasnya.

Dengan tambahan 2 tersangka tersebut, saat ini Polda DIY telah menetapkan tiga tersangka dalam kasus tragedi siswa SMPN 1 Turi yang hanyut saat susur Sungai Sempor, Donokerto, Turi, Sleman. Tersangka sebelumnya adalah Isfan Yoppy Andrian (36) guru dan pembina Pramuka SMPN 1 Turi. Ketiganya telah ditahan.

"Saat ini sudah ada tiga orang yang ditahan dan statusnya tersangka," ujar Yuliyanto.

"Isfan Yopi dan Riyanto merupakan guru di SMPN 1 Turi, sedangkan Danang merupakan pembina pramuka dari luar sekolah," lanjutnya.

Ketiganya dijerat dengan pasal 359 KUHP dan 360 KUHP. Kini mereka ditahan di Polres Sleman. "Dugaannya lalai dan dijerat dengan pasal 359 KUHP dan 360 KUHP, ancaman kima tahun dan sekarang sudah di tahan di Polres Sleman," katanya.

Yulianto memastikan penanganan kasus itu akan terus berlanjut. Oleh karenanya tidak menutup kemungkinan adanya tersangka baru.

"Segala sesuatu masih memungkinkan untuk menambah tersangka," ungkapnya.

Tiga tersangka yang ditahan merupakan pembina pramuka. Dalam tragedi itu ada 7 pembina pramuka yang terlibat. Polisi, kata Yulianto, juga masih melakukan pendalaman terhadap 4 orang pembina pramuka apakah bisa memenuhi unsur untuk dijadikan tersangka atau tidak.

"Ya nanti kita lakukan, ini masih terus dilakukan pendalaman, apakah nanti ada penambahan tersangka lagi atau tidak, kita masih belum bisa menyampaikan. Nanti kita lihat perkembangannya," katanya.

Hingga saat ini, Polda DIY telah memeriksa 22 orang terkait tragedi tersebut. Mereka yang diperiksa terdiri dari pembina pramuka, kwarcab, warga. Terbaru, polisi juga sudah berhasil memeriksa siswa, kepala sekolah dan orang tua korban.

"Kami memeriksa 22 orang terdiri dari 7 pembina pramuka, 3 kwarcab, 3 warga atau pengelola wisata, 2 siswa yang selamat, 1 kepala sekolah, 6 orang tua korban," jelasnya.

Tewaskan 10 Siswi SMPN 1 Turi Sleman, 3 Pembina Pramuka Dijebloskan Tahanan

KULON PROGO - Seorang pelajar bernama Rian Haryanto (15) tewas tenggelam di underpass Kulur, Kulon Progo setelah mendapat prank ulang tahun dari teman-temannya sore tadi.

Padahal, keluarganya telah menyiapkan pesta kecil di rumah dengan sajian nasi tumpeng.

Kerabat Rian, Riyanto, mengatakan keluarga korban sudah menyiapkan pesta kecil di rumahnya di Sogan, Wates. Yakni dengan menyiapkan nasi tumpeng dan ikan bakar. Rencananya makanan ini akan dihidangkan dalam perayaan ulang tahun Rian dengan mengundang teman-temannya.

"Itu sudah disiapkan, tetapi Rian tidak berkenan dan malah pergi dengan teman-temannya," jelas Riyanto kepada wartawan, Sabtu (22/2/2020).

Hingga akhirnya terjadi musibah yang mengakibatkan Rian tewas tenggelam. Tidak hanya itu, dua teman Rian juga ikut tenggelam di genangan air underpass Kulur. Mereka adalah Tegar (16) warga Menggungan, Tawangsari yang juga tewas saat hendak menolong Rian. Dan Ramli (15) warga Kulur, Temon yang selamat dan kini mendapatkan perawatan di RSUD Wates.

Saat diwawancara terpisah, Ulu-Ulu Kalurahan Kulur, Kapanewon Temon, Sutardi mengatakan kasus tewasnya dua pelajar ini merupakan kejadian kedua di underpass Kulur. Tahun lalu, seorang warga sekitar juga ditemukan tewas mengambang.

"Jadi dua tahun ini, selalu ada korban jiwa," jelasnya.

Sutardi mengatakan, underpass Kulur setiap musim hujan selalu tergenang air. Bahkan kedalaman bisa lebih dari tiga meter.

Menurutnya, di lokasi underpass Kulur sudah disiapkan mesin pompa air pembuangan. Namun kapasitasnya tidak mencukupi. Jalan di underpass Kulur baru bisa dimanfaatkan optimal ketika musim kemarau.

"Begitu masuk musim hujan, underpass ini akan langsung tergenang," ujarnya.

Diberitakan sebelumnya, polisi turun tangan menyelidiki peristiwa prank atau candaan ulang tahun yang berujung tewasnya dua remaja, Rian (15) dan Tegar (16) di underpass Kulur ini. Sejumlah saksi telah dimintai keterangannya.

Saat dimintai konfirmasi, Kapolsek Temon Kompol Hery Setyo Budi mengatakan, pihaknya melakukan penyelidikan dengan meminta keterangan saksi-saksi. Di antaranya adalah rekan korban yang tidak ikut mencebur ke underpass yang tergenang air hujan, sore tadi.

"Ada dua meninggal (Rian dan tegar), dan satu selamat dan dirawat di rumah sakit. Mereka temen sepermainan, bukan dari satu sekolah. Tapi beberapa," kata Hery kepada wartawan, Sabtu (22/2/2020) malam.

Seorang saksi yang juga teman korban, berinisial F, mengatakan kejadian berawal saat dia dan enam orang temannya datang ke lokasi underpass Kulur.

Begitu sampai di lokasi, mereka awalnya hanya duduk-duduk di dinding underpass. Entah siapa yang mempunyai ide, mereka ingin bercanda dengan menceburkan Rian yang kebetulan ulang tahun ke air yang menggenangi underpass.

Mereka akhirnya mendorong Rian hingga tercebur ke dalam underpass yang ternyata kedalaman genangan airnya lebih dari tiga meter.

"Sengaja diceburkan, untuk surprise, dia kan ulang tahun," jelasnya saat ditemui.

Namun ternyata Rian tidak bisa berenang, hingga akhirnya dua temannya, Tegar dan Ramli mencoba menolong korban. Namun keduanya justru ikut tenggelam.

"Awalnya ada satu yang nolong, karena tidak bisa, satu masuk lagi, dan ke tepi pingsan," ujarnya.

Dia dan temannya yang ada di atas kemudian meminta tolong warga. Hingga akhirnya dilakukan pencarian di air. Ramli (15) warga Kulur, Temon ditemukan pingsan dan dilarikan ke rumah sakit. Sedangkan Tegar (16) warga Tawangsari, Pengasih ditemukan dalam kondisi meninggal dunia.

Rian yang berulang tahun ke-15 ini berhasil dievakuasi tim SAR dalam kondisi meninggal. Para korban saat ini sudah dibawa ke RSUD Wates.

"Begitu ada laporan kami langsung ke sini dan melakukan pencarian. Semua korban sudah ditemukan," kata anggota Sarlinmas Kulon Progo, Samsudin.

Prank Berujung Maut, Dua Remaja Di Kulon Progo Tewas Hanyut Ke Sungai

SLEMAN YOGYAKARTA - Dua siswa SMPN 1 Turi yang hanyut saat susur Sungai Sempor, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) berhasil ditemukan. Kedua korban ditemukan dalam kondisi tak bernyawa lagi.

"Total sembilan korban (meninggal). Kami masih mencari satu orang lagi, doakan agar segera ketemu," kata Kapolda DIY Irjen Asep Suhendar saat ditemui di lokasi Sungai Sempor, Dusun Dukuh, Desa Donokerto, Kecamatan Turi, Sleman, Sabtu (22/2/2020).

Kepala Basarnas Yogyakarta, Lalu Wahyu Efendi menjelaskan, dua korban terakhir ditemukan pukul 10.15 WIB dan 10.35 WIB. Namun untuk identitasnya belum terkonfirmasi.

"Identitasnya belum, baru proses identifikasi, tapi tadi ditemukan di 10.15 WIB di dam Lengkong dan 10.35 WIB di dam Polowidi dalam kondisi meninggal dunia. Kami masih cari 1 siswa lagi," katanya.

Diberitakan sebelumnya, proses pencarian terhadap siswa SMPN 1 Turi yang hanyut di Sungai Sempor, Sleman terus dilakukan. Tim SAR gabungan hingga pagi tadi telah mengevakuasi tujuh orang korban meninggal dunia.

"Update hingga 04.20 WIB, telah ditemukan satu lagi korban sehingga total ada tujuh orang korban meninggal dunia. Korban terakhir teridentifikasi pukul 23.00 WIB," kata Kepala Pelaksana BPBD DIY Biwara Yuswantana dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (22/2).

Update: 9 Siswa SMP 1 Turi Sleman Yang Hanyut Ditemukan Tewas

YOGYAKARTA - Terdapat Enam siswa SMPN 1 Turi tewas usai hanyut di Sungai Sempor, Sleman. Kegiatan susur sungai saat musim hujan ini disayangkan apalagi sampai memakan korban.

"KPAI menghaturkan bela sungkawa atas meninggalnya siswa dalam kegiatan susur sungai Pramuka di Sungai Sempor Yogyakarta," kata Komisioner KPAI Jasra Putra kepada wartawan, Jumat (21/2/2020).

Jasra berharap kasus yang terjadi dari SMPN 1 Turi ini bisa jadi pelajaran bagi sekolah lainnya. Dia mengingatkan peringatan BMKG wajib jadi catatan saat menggelar kegiatan.

"Sekolah perlu mengindahkan dan memantau Peringatan BMKG tentang kondisi cuaca ekstrim yang sewaktu-waktu terjadi, harus menjadi pertimbangan ketika ingin melaksanakan kegiatan di alam," tuturnya.

Dia pun mendorong adanya investigasi terkait peristiwa tersebut. Jasra berharap Dinas Pendidikan Sleman juga ikut mengawasi kegiatan sekolah yang dilakukan di alam terbuka.

"Saya kira ini penting dilakukan investigasi, agar para keluarga yang siswa-siswinya meninggal dapat tahu penyebabnya. Ada kewajiban sekolah, Dinas Pendidikan Sleman dan pihak berwenang atas penggunaan sungai Sempor untuk menjelaskan peristiwa tersebut kepada para keluarga korban," tuturnya.

Dia lalu menyinggung soal batas aman dan kode etik bekerja dengan anak. Dalam kasus ini, Jasra menyebut pentingnya pengaman seperti pelampung. Tak lupa dia juga mendoakan anak-anak yang hilang segera ditemukan.

"Mari kita berdoa semoga korban-korban yang hilang segera ditemukan selamat dan para korban meninggal segera ditangani dengan baik.

Peristiwa tersebut tentu membawa trauma dari ringan sampai berat kepada anak-anak," tuturnya.

"Untuk itu pemerintah daerah Yogyakarta penting melakukan pendampingan segera. Biasanya kegiatan kegiatan di luar sekolah ada pembiayaan, artinya harus ada tanggung jawab profesional atas peristiwa tersebut," ucap Jasra.

6 Siswa SMP Sleman Tewas Di Sungai Sempor

SLEMAN - Sejumlah siswa SMPN 1 Turi, Sleman hanyut saat menyusuri Sungai Sempor, Dusun Dukuh, Desa Donokerto, Turi, Sleman. Basarnas Yogyakarta mengungkap ada empat siswa tewas dalam kejadian ini.

"Iya memang betul ada pelajar SMP Turi yang hanyut saat susur sungai. Ada empat siswa yang ditemukan meninggal," ujar humas Basarnas Yogya Pipit Eriyanto saat dihubungi wartawan, Jumat (21/2/2020).

Para siswa ini hanyut saat menyusuri sungai dalam rangka melaksanakan kegiatan Pramuka. Jumlah pesertanya diperkirakan sebanyak 250 orang.

Hingga saat ini, jumlah korban luka-luka saat ini belum diketahui jelas. Proses evakuasi pun masih dilakukan sampai saat ini.

Diwawancarai terpisah, Kepala Dusun Dukuh Tartono (54) mengaku tahu kejadian itu dari siaran toa masjid.

"Tahunya tadi 14.30 WIB ada anak hanyut di Sungai Sempor. Kegiatan di situ murni kegiatan Pramuka SMPN 1 Turi yakni susur sungai," ujar Tartono saat ditemui di lokasi sore ini.

Tartono menjelaskan saat kejadian di Dusun Dukuh belum terjadi hujan. Namun dari informasi yang dia dapat hujan telah terjadi di wilayah atas.

"Di sini belum terjadi hujan. Tapi di atas sudah hujan," katanya.

4 Siswa Di Sleman Hanyut Dan Tewas Di Sungai

PEKALONGAN - Seorang warga di Kota Pekalongan meninggal saat bersih-bersih genangan banjir di rumahnya. Pria bernama Alwi Yahya (59) warga Poncol Baru Gang Kataliya, Kecamatan Pekalongan Timur itu sebelumnya jatuh tak sadarkan diri lalu meninggal dunia.

Petugas PMI Kota Pekalongan, Ariful Amar, mengatakan laporan tersebut diterima Rabu (19/2) pukul 23.45 WIB. Kala itu ada laporan untuk merujuk warga yang terjatuh ke rumah sakit.

"Ada laporan masuk meminta bantuan untuk merujuk warga ke rumah sakit. Saat itu kita langsung ke lokasi dan merujuk ke Rumah Sakit Siti Khotidjah," kata Amar saat dikonfirmasi, Kamis (20/2/2020).

Dia mengatakan sesampainya di rumah sakit, korban sempat mendapatkan penanganan medis di UGD. Nahas, nyawa korban tidak tertolong.

"Hasil pemeriksaan rumah sakit, korban sudah meninggal dunia setelah 20 menit dilakukan pemeriksaan," jelasnya.

Amar menjelaskan dari keterangan tetangga korban, sebelum terjatuh Alwi disebut sedang membersihkan air yang mulai masuk ke rumah. Namun tiba-tiba dia jatuh dan tak sadarkan diri.

"Tiba-tiba korban terjatuh dan pingsan. Kita ke lokasi kondisi nadi lemah, muka pucat dan langsung evakuasi ke rumah sakit," ujarnya.

Menurut tetangga korban, Alwi terjatuh di depan rumahnya. Kala itu dia hendak mengambil gayung untuk membuang air genangan.

"Kamis tadi kita sudah antar korban ke rumah duka untuk dilakukan pemakaman," ucapnya.

Amar mengatakan korban diketahui memiliki riwayat sakit. "Riwayat korban juga kerap sakit-sakitan, stroke dan asam lambung," ucap Amar.

Warga Pekalongan Tewas Saat Bersihkan Genangan Banjir

PEKALONGAN - Akibat hujan deras, sembilan desa di Kabupaten Pekalongan tergenang banjir. Banjir terparah terjadi di Desa Pacar, Kecamatan Tirto.

"Untuk saat ini, jumlah pengungsi sebanyak 240 orang dari Desa Pacar, Kecamatan Tirto, saja. Kalau di tempat lain masih dalam batas-batas tidak untuk mengungsi, bisa ditolerir," ucap Wakil Bupati Pekalongan Arini Harimurti setelah mendatangi pengungsi banjir di Masjid Dupantek, Tirto, Kabupaten Pekalongan, Kamis (20/2/2020).

Arini mengatakan datang untuk memastikan kondisi para pengungsi. Dia mengklaim kebutuhan logistik dan kebutuhan pengungsi sudah tercukupi.

"Logistik dan kebutuhan anak-anak dan lansia serta wanita tercukupi. Pemkab melalui BPBD mencukupinya. Kami kirim juga kebutuhan warga yang bertahan di rumah," jelasnya.

Dia menjelaskan langkah darurat akan dilakukan hingga akhir Februari.

"Jika diperlukan, kami perpanjang keadaan darurat itu," katanya.

Sementara itu, dari data yang ditunjukkan Kepala BPBD Kabupaten Pekalongan Budi Rahardjo, berikut ini sembilan desa yang kebanjiran di Kabupaten Pekalongan:

1. Desa Mejasem Kecamatan Siwalan, yang terdampak: 257 rumah dan 367 KK.

2. Desa Tengengwetan, yang terdampak: 556 rumah dengan 1.000 KK.

3. Desa Sipait Siwalan, yang terdampak: 130 rumah dan 130 KK.

4. Desa Pucung, yang terdampak: 60 rumah dan 122 KK.

5. Desa Samborejo Tirto, yang terdampak: 110 rumah dan 121 KK.

6. Desa Pacar Tirto, yang terdampak: 632 rumah dengan 990 KK.

7. Kel Bener Wiradesa Tirto, yang terdampak: 20 rumah dan 30 KK.

8. Desa Karangjompo Tirto, yang terdampak: 300 rumah dan 491 KK.

9. Desa Tegaldowo Tirto, yang terdampak: 255 rumah dan 325 KK.

"Dengan jumlah total terdampak banjir yakni 2.320 rumah dengan 3.576 KK. Untuk yang mengungsi hanya di Pacar dengan jumlah 240 jiwa warga," urai Budi.

Hujan Deras, 9 Desa Di Pekalongan Terendam Banjir

Loading...