Tuesday, February 19, 2019

Inilah Daftar Tokoh Pahlawan Dari Jawa Tengah (Jateng)

Berikut ini adalah daftar nama-nama Tokoh Pahlawan Nasional yang berasal dari Provinsi jawa Tengah/Jateng :

KH Ahmad Rifa'i


lahir: 1786,
wafat: 1870,
Peran: Pemikir dan penulis Islam yang dikenal karena pernyataan anti-Belandanya, penetapan menjadi pahlawan: 2004

Kiai Haji Ahmad Rifa'i lahir di Tempuran, Kendal, Jawa Tengah pada tahun 1786 dan meninggal di Manado, Sulawesi Utara pada tahun 1859. Ahmad Rifa'i merupakan pahlawan nasional Indonesia yang berasal dari Jawa Tengah dan juga seorang ulama pendiri , penulis buku semangat perjuangan kemerdekaan.

Sejak kecil ia sudah dididik oleh ayahnya, KH Muhammad Marhum untuk mendalami agama. Sejak remaja ia sering melakukan dakwah ke berbagai tempat di sekitar Kendal. Pada tahun 1826, ia menunaikan ibadah hajikemudian memperdalam ilmu agama di Mekkah dan Madinah selama 8 tahun. Setelah itu ia juga menimba ilmu di Mesir.


Ia Dimakamkan di Pekuburan Jawa Tondanodi Kelurahan Kampung Jawa, di kecamatan Tondano Utara, Kabupaten Minahasa, provinsi Sulawesi Utara, Indonesia.

Nyi Ageng Serang


lahir : 1752,
wafat : 1828,
peran : Pemimpin gerilyawan Jawa yang memimpin penyerangan terhadap kolonial Belanda atas beberapa pendudukan, penetapan menjadi pahlawan: 1974

Nyi Ageng Serang bernama asli Raden Ajeng Kustiyah Wulaningsih Retno Edi lahir di Purwodadi, Jawa Tengah tahun 1752  dan wafat  di Yogyakart tahun 1828.

Beliau merupakan seorang Pahlawan Nasional Indonesia. Ia adalah anak Pangeran Natapraja yang menguasai wilayah terpencil dari kerajaan Mataram tepatnya di Serang yang sekarang wilayah perbatasan Grobogan-Sragen.

Nyi Ageng Serang adalah salah satu keturunan Sunan Kalijaga, ia juga mempunyai keturunan seorang Pahlawan nasional yaitu Soewardi Soerjaningrat atau Ki Hajar Dewantara. Ia dimakamkan di Kalibawang, Kulon Progo. Ia pahlawan nasional yang hampir terlupakan, mungkin karena namanya tak sepopuler R.A. Kartini atau Cut Nyak Dhien tetapi ia sangat berjasa bagi negeri ini.Warga Kulon Progo mengabadikan monumennya di tengah kota Wates berupa patungnya yang sedang menaiki kuda dengan gagah berani membawa tombak.

Ahmad Yani


lahir : 1922,
wafat : 1965,
peran: Pemimpin Angkatan Darat, terbunuh saat Gerakan 30 September, penetapan menjadi pahlawan: 1965

Jenderal TNI Anumerta Ahmad Yani  atau Achmad Yani lahir di Purworejo, Jawa Tengah tanggal 19 Juni 1922 dan meninggal di Lubang Buaya, Jakarta, 1 Oktober 1965 pada umur 43 tahun. Beliau adalah komandan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat, dan dibunuh oleh anggota Gerakan 30 September saat mencoba untuk menculik dia dari rumahnya.

Alimin


Lahir : 1889,
wafat: 1964,
Peran: Pendukung kemerdekaan, politisi, dan tokoh Partai Komunis Indonesia, penetapan menjadi pahlawan tahun 1964

Alimin bin Prawirodirdjo lahir di Surakarta Jawa Tengah tahun 1889 dan meninggal di Jakarta tanggal 24 Juni 1964.
Beliau adalah seorang tokoh pergerakan kemerdekaan Indonesia serta tokoh komunis Indonesia. Berdasarkan SK Presiden No. 163 Tahun 1964 tertanggal 26 Juni 1964, Alimin tercatat sebagai salah satu Pahlawan Nasional Indonesia.

Setelah tidak lagi aktif di PKI, Alimin menikah dengan Hajjah Mariah dan dikaruniai dua orang putra, yaitu Tjipto dan Lilo, dan ia tinggal di Jakarta hingga wafatnya pada tahun 1964. Pada saat wafatnya Alimin, Soekarno, Presiden RI pertama menganugerahkan gelar pahlawan nasionalberdasarkan Surat Keputusan Presiden Nomor 163 tanggal 26 Juni 1964 dan dimakamkan di TMP Kalibata.

Cipto Mangunkusumo


lahir: 1886,
wafat: 1943,
Peran: Politisi Jawa, mentor Sukarno, penetapan menjadi pahlawan tahun 1964

Tjipto Mangoenkoesoemo (EYD: Cipto Mangunkusumo) lahir di Pecangaan, Jepara, Jawa Tengah tahun 1886 dan meninggal di Jakarta, 8 Maret 1943.
Beliau adalah seorang tokoh pergerakan kemerdekaan Indonesia. Bersama dengan Ernest Douwes Dekker dan Ki Hajar Dewantara ia dikenal sebagai "Tiga Serangkai" yang banyak menyebarluaskan ide pemerintahan sendiri dan kritis terhadap pemerintahan penjajahan Hindia Belanda.

Ia adalah tokoh dalam Indische Partij, suatu organisasi politik yang pertama kali mencetuskan ide pemerintahan sendiri di tangan penduduk setempat, bukan oleh Belanda. Pada tahun 1913 ia dan kedua rekannya diasingkan oleh pemerintah kolonial ke Belanda akibat tulisan dan aktivitas politiknya, dan baru kembali 1917.

Gatot Subroto


Lahir: 1907,
Wafat: 1962,
Peran: Jenderal, deputi ketua staff Angkatan Darat, penetapan menjadi pahlawan: 1962

Jenderal TNI (Purn.) Gatot Soebroto lahir di Sumpiuh, Banyumas, Jawa Tengah tanggal 10 Oktober 1907 dan meninggal di Jakarta, 11 Juni 1962 pada umur 54 tahun.
Beliau adalah tokoh perjuangan militer Indonesia dalam merebut kemerdekaan dan juga pahlawan nasional Indonesia. Ia dimakamkan di Ungaran, kabupaten Semarang.

Usman Janatin


Lahir: 1943,
wafat: 1968,
peran: Mengebom MacDonald House saat konfrontasi Indonesia–Malaysia, penetapan menjadi pahlawan : 1968

Sersan Dua KKO (Anumerta) Usman Jannatin bin H. Muhammad Ali lahir di Banyumas, Jawa Tengah tanggal 18 Maret tahun 1943 dan meninggal di Singapura tanggal 17 Oktober 1968 pada umur 25 tahun.

Beliau adalah salah satu dari dua anggota KKO (Korps Komando; kini disebut Korps Marinir) Indonesia yang ditangkap di Singapura pada saat terjadinya Konfrontasi dengan Malaysia. Bersama dengan seorang anggota KKO lainnya bernama Harun Thohir, ia di hukum gantung oleh pemerintah Singapura pada Oktober 1968 dengan tuduhan meletakkan bom di wilayah pusat kota Singapura yang padat pada 10 Maret 1965.

Harjo Djatikoesoemo 


Lahir : 1917,
wafat : 1992,
Peran : Jenderal Angkatan Darat dan politisi, penetapan menjadi pahlawan : 2002

Jenderal TNI (Purn.) Goesti Pangeran Harjo Djatikoesoemo lahir di Surakarta, Jawa Tengah, 1 Juli 1917 dan meninggal di Jakarta, 4 Juli 1992 pada umur 75 tahun.
Dia adalah mantan Kepala Staf TNI Angkatan Darat yang pertama (1948-1949) dan mantan Duta Besar RI untuk Singapura (1958-1960).

Djatikoesoemo merupakan putra bangsa yang berdarah keraton, terlahir sebagai putra ke-23 dari Susuhunan Pakubuwono X. Jenazahnya dimakamkan di kompleks Makam Imogiri, Bantul, Yogyakarta.

RA Kartini


Lahir: 1879,
wafat: 1904,
peran: Tokoh hak asasi perempuan Jawa, penetapan menjadi pahlawan : 1964

Raden Adjeng Kartini lahir di Jepara, Hindia Belanda, 21 April 1879 dan meninggal di Rembang, Hindia Belanda, 17 September 1904 pada umur 25 tahun) atau sebenarnya lebih tepat disebut Raden Ayu Kartini. Dia adalah seorang tokoh Jawa dan Pahlawan Nasional Indonesia. Kartini dikenal sebagai pelopor kebangkitan perempuan pribumi.

Katamso Darmokusumo


Lahir: 1923,
Wafat: 1965,
Peran: Jenderal Angkatan Darat, terbunuh saat Gerakan 30 September, penetapan menjadi pahlawan : 1965

Brigadir Jenderal TNI (Anumerta) Katamso Darmokusumo lahir di Sragen, Jawa Tengah, 5 Februari 1923 dan meninggal di Yogyakarta, 1 Oktober 1965 pada umur 42 tahun. Dia adalah salah satu pahlawan nasional Indonesia, Ia merupakan mantan Komandan Korem 072/Pamungkas. Katamso termasuk tokoh yang terbunuh dalam peristiwa Gerakan 30 September. Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kusuma Negara, Yogyakarta.

Ki Sarmidi Mangunsarkoro 


Lahir: 1904,
wafat: 1957,
Peran: Pengajar bersama dengan Budi Utomo dan Taman Siswa, menteri pemerintahan, penetapan menjadi pahlawan : 2011

Ki Mangunsarkoro atau Sarmidi Mangunsarkoro lahir 23 Mei 1904 dan meninggal 8 Juni 1957 pada umur 53 tahun. Dia adalah pejuang di bidang pendidikan nasional, ia dipercaya menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia pada tahun 1949 hingga tahun 1950.

Perjuangan Ki Sarmidi Mangunsarkoro dalam bidang pendidikan, di antaranya pada tahun 1930-1938 menjadi Anggota Pengurus Besar Kepanduan Bangsa Indonesia (KBI) dan penganjur gerakan Kepanduan Nasional yang bebas dari pengaruh kolonialisme Belanda. Selanjutnya pada tahun 1932-1940 ia menjabat sebagai Ketua Departemen Pendidikan dan Pengajaran Majelis Luhur Tamansiswa merangkap Pemimpin Umum Tamansiswa Jawa Barat. Pada tahun 1933 Ki Sarmidi Mangunsarkoro memegang Kepemimpinan Taman Dewasa Raya di Jakarta yang secara khusus membidangi bidang Pendidikan dan Pengajaran.

Mangkunegara I


lahir: 1725,
wafat: 1795,
Peran: Melakukan perlawanan terhadap penjajah Belanda dan antek-anteknya di Jawa Tengah, penetapan menjadi pahlawan: 1988

Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara I (nama lahir Raden Mas Said, lahir di Kartasura, 7 April 1725 dan meninggal di Surakarta, 23 Desember 1795 pada umur 70 tahun. Dia adalah pendiri Praja Mangkunegaran, sebuah kadipaten agung di Jawa bagian tengah selatan, dan Pahlawan Nasional Indonesia. Ayahnya bernama Pangeran Arya Mangkunegara dari Kartasura dan ibunya bernama R.A. Wulan.

Julukan Pangeran Sambernyawa diberikan oleh Nicolaas Hartingh, perwakilan VOC, karena di dalam peperangan R.M. Said selalu membawa kematian bagi musuh-musuhnya.

Muhammad Mangundiprojo


lahir: 1905,
wafat: 1988,
Peran : Pejuang kemerdekaan, pemimpin Pertempuran Surabaya, penetapan menjadi pahlawan : 2014

Mayor Jenderal TNI (Purn.) Raden Muhammad Mangoendiprodjo (EYD: Muhammad Mangundiprojo lahir di Sragen Jawa Tengah 5 Januari 1905 dan meninggal di Bandar Lampung, 13 Desember 1988 pada umur 83 tahun. Dia adalah seorang pejuang kemerdekaan dan perwira militer Indonesia yang ikut serta dalam Pertempuran Surabaya pada tanggal 10 November 1945. Ia diangkat sebagai Pahlawan Nasional Indonesia oleh Presiden Joko Widodo pada tanggal 7 November 2014.

Muwardi


lahir: 1907,
wafat: 1948,
Peran: Menangani keamanan saat Proklamasi Kemerdekaan, membangun sebuah rumah saat di Surakarta, penetapan menjadi pahlawan: 1964

Dr. Moewardi lahir di Pati, Jawa Tengah, 1907 dan meninggal Surakarta, Jawa Tengah, 13 Oktober 1948. Dia adalah seorang pahlawan nasional Indonesia. Moewardi adalah seorang dokter lulusan STOVIA. Setelah lulus, ia melanjutkan pendidikan Spesialisasi Telinga Hidung Tenggorokan (THT). Selain itu aa adalah ketua Barisan Pelopor tahun 1945 di Surakarta dan terlibat dalam peristiwa proklamasi 17 Agustus 1945. Dalam acara tersebut, ia juga turut memberikan sambutan setelah Soewirjo, wakil wali kota Jakarta saat itu.

Pakubuwono VI


lahir: 1807,
wafat: 1849,
Peran: Susuhunan Surakarta, memberontak melawan pasukan kolonial Belanda, penetapan menjadi pahlawan: 1964

Sri Susuhunan Pakubuwana VI atau Ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhunan Pakubuwono VI lahir di Surakarta, Jawa Tengah, 26 April 1807 dan meninggal di Ambon, 2 Juni 1849 pada umur 42 tahun. Dia adalah raja Kasunanan Surakarta yang memerintah tahun 1823 – 1830. Ia dijuluki pula dengan nama Sinuhun Bangun Tapa, karena kegemarannya melakukan tapa brata.

Sunan Pakubuwana VI telah ditetapkan pemerintah Republik Indonesia sebagai pahlawan nasional berdasarkan S.K. Presiden RI No. 294 Tahun 1964, tanggal 17 November 1964.

Pakubuwono X


lahir: 1866,
wafat: 1939,
Peran: Susuhunan Surakarta, mendukung berbagai proyek untuk kepentingan Pribumi Indonesia, penetapan menjadi pahlawan: 2011

Sri Susuhunan Pakubuwana X lahir di Surakarta, 29 November 1866 dan meninggal di Surakarta, 22 Februari 1939 pada umur 72 tahun. Dia adalah raja Kasunanan Surakarta yang memerintah pada tahun 1893 – 1939.

Pakubuwana X meninggal dunia pada tanggal 22 Februari 1939. Ia disebut sebagai Sinuhun Wicaksana atau raja besar dan bijaksana. Pemerintahannya kemudian digantikan oleh putranya, GRM. Antasena (KGPH. Hangabehi), yang kemudian bergelar Pakubuwana XI. Pakubuwana X mendapat anugerah gelar Pahlawan Nasional dari pemerintah Indonesiapada tahun 2011 atas jasa-jasanya dalam mendukung perjuangan organisasi pergerakan nasional.

Saharjo


lahir: 1909,
wafat: 1963,
Peran: Menteri Kehakiman, pelopor pengesahan pembaruan di negara tersebut, penetapan menjadi pahlawan: 1963

Dr. Sahardjo, SH lahir di Solo, Jawa Tengah, 26 Juni 1909 dan meninggal di Jakarta, 13 November 1963 pada umur 54 tahun. Dia adalah Menteri Hukum dan Hak Asasi ManusiaIndonesia pada Kabinet Kerja I (10 Juli 1959–18 Februari 1960), Kabinet Kerja II (18 Februari 1960–6 Maret 1962), Kabinet Kerja III(6 Maret 1962–13 November 1963).

Saharjo merupakan tokoh penting dalam bidang hukum di Indonesia. Hasil buah pemikirannya yang penting adalah Undang-undang Warga Negara Indonesia pada tahun 1947 dan Undang-undang Pemilihan Umum pada tahun 1953
Ia dimakamkan di TMP Kalibata, Jakarta.

Samanhudi


lahir: 1878,
wafat: 1956,
Peran: Pengusaha, mendirikan Sarekat Islam, penetapan menjadi pahlawan: 1961

Samanhudi atau sering disebut Kyai Haji Samanhudi lahir di Laweyan, Surakarta, Jawa Tengah, 1868 dan meninggal di Klaten, Jawa Tengah, 28 Desember 1956. Dia adalah pendiri Sarekat Dagang Islam, sebuah organisasi massa di Indonesia yang awalnya merupakan wadah bagi para pengusaha batik di Surakarta. Nama kecilnya ialah Sudarno Nadi.

Dalam dunia perdagangan, Samanhudi merasakan perbedaan perlakuan oleh penguasa Hindia Belanda antara pedagang pribumi yang mayoritas beragama Islamdengan pedagang Tionghoa pada tahun 1905. Oleh sebab itu Samanhudi merasa pedagang pribumi harus mempunyai organisasi sendiri untuk membela kepentingan mereka. Pada tahun 1905, ia mendirikan Sarekat Dagang Islam untuk mewujudkan cita-citanya.
Ia dimakamkan di Banaran, Grogol, Sukoharjo.

Siswondo Parman


lahir: 1918,
wafat: 1965,
Peran: Jenderal Angkatan Darat, terbunuh saat Gerakan 30 September, penetapan menjadi pahlawan: 1965

Letnan Jenderal TNI Anumerta Siswondo Parman lahir di Wonosobo, Jawa Tengah, 4 Agustus 1918 dan meninggal di Lubang Buaya, Jakarta, 1 Oktober 1965 pada umur 47 tahun, atau lebih dikenal dengan nama S. Parman. Beliau adalah salah satu pahlawan revolusiIndonesia dan tokoh militer Indonesia. Ia meninggal dibunuh pada persitiwa Gerakan 30 September dan mendapatkan gelar Letnan Jenderal Anumerta. Ia dimakamkan di TMP Kalibata, Jakarta.

Parman merupakan salah satu dari enam jenderal yang dibunuh oleh anggota Gerakan 30 September pada malam 30 September-1 Oktober 1965. Dia telah diperingatkan beberapa hari sebelum kemungkinan gerakan komunis. Pada malam 30 September-1 Oktober, tidak ada penjaga yang mengawasi rumah rumah Parman di Jalan Syamsurizal no.32

Siti Hartinah


lahir: 1923,
wafat: 1996,
Peran: Istri presiden Suharto, aktif dalam karya sosial, mendirikan Taman Mini Indonesia Indah, penetapan menjadi pahlawan: 1996

Raden Ayu Siti Hartinah lahir di Desa Jaten, Surakarta, Jawa Tengah, 23 Agustus 1923 dan meninggal di Jakarta, 28 April 1996 pada umur 72 tahun. Dia adalah istri Presiden Indonesia kedua, Jenderal Besar Purnawirawan Soeharto. Siti Hartinah, yang sehari-hari dipanggil Ibu Tien Soehartomerupakan anak kedua pasangan KPH Soemoharjomo dan Raden Ayu Hatmanti Hatmohoedojo. Ia merupakan canggah Mangkunagara III dari garis ibu. Tien menikah dengan Soeharto pada tanggal 26 Desember 1947 di Surakarta. Siti kemudian dianugerahi gelar pahlawan nasional Indonesia tak lama setelah kematiannya.

Slamet Riyadi


lahir: 1927,
wafat: 1950,
Peran: Brigadir Jeneral Angkatan Darat, terbunuh ketika putting down pemberontakan di Sulawesi, penetapan menjadi pahlawan: 2007

Brigadir Jenderal TNI Ignatius Slamet Rijadi atau Slamet Riyadi lahir di Surakarta, 26 Juli 1927 dan meninggal di Ambon, 4 November 1950 pada umur 23 tahun. Dia adalah seorang tentara Indonesia. Rijadi lahir di Surakarta, Jawa Tengah, putra dari seorang tentara dan penjual buah. "Dijual" pada pamannya dan sempat berganti nama saat masih balita untuk menyembuhkan penyakitnya, Rijadi tumbuh besar di rumah orangtuanya dan belajar di sekolah milik Belanda. Setelah Jepang menduduki Hindia Belanda, Rijadi menempuh pendidikan di sekolah pelaut yang dikelola oleh Jepang dan bekerja untuk mereka setelah lulus; ia meninggalkan tentara Jepang menjelang akhir Perang Dunia II dan membantu mengobarkan perlawanan selama sisa pendudukan.

Jendral Sudirman


lahir: 1916,
wafat: 1950,
Peran: Komandan Ketua Tentara Nasional Indonesia pada saat Revolusi Nasional, penetapan menjadi pahlawan: 1964

Jenderal Besar Raden Soedirman lahir 24 Januari 1916 dan meninggal 29 Januari 1950 pada umur 34 tahun. Beliau adalah seorang perwira tinggi Indonesia pada masa Revolusi Nasional Indonesia. Menjadi panglima besar Tentara Nasional Indonesiapertama, ia secara luas terus dihormati di Indonesia. Terlahir dari pasangan rakyat biasadi Purbalingga, Hindia Belanda, Soedirman diadopsi oleh pamannya yang seorang priyayi. Setelah keluarganya pindah ke Cilacap pada tahun 1916, Soedirman tumbuh menjadi seorang siswa rajin; ia sangat aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler, termasuk mengikuti program kepanduan yang dijalankan oleh organisasi Islam Muhammadiyah.

Setelah Jepang menduduki Hindia Belanda pada 1942, Soedirman tetap mengajar. Pada tahun 1944, ia bergabung dengan tentara Pembela Tanah Air (PETA) yang disponsori Jepang, menjabat sebagai komandan batalion di Banyumas. Selama menjabat, Soedirman bersama rekannya sesama prajurit melakukan pemberontakan, namun kemudian diasingkan ke Bogor.

Albertus Sugiyapranata

lahir: 1896,
wafat: 1963,
Peran: Uskup Katolik Jawa dan nasionalis, penetapan menjadi pahlawan: 1963

Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ atau Albertus Sugiyapranata lahir pada tanggal 25 November 1896 dan meninggal 22 Juli 1963 pada umur 66 tahun. Beliau lebih dikenal dengan nama lahir Soegija, merupakan Vikaris Apostolik Semarang, kemudian menjadi uskup agung. Ia merupakan uskup pribumi Indonesia pertama dan dikenal karena pendiriannya yang pro-nasionalis, yang sering disebut "100% Katolik, 100% Indonesia".

Suharso

lahir: 1912,
wafat: 1971,
Peran: Pelopor pengobatan prostesis, penetapan menjadi pahlawan: 1973

Prof. Dr. Suharso lahir di Ampel, Boyolali, Jawa Tengah, 13 Mei 1912 dan meninggal di Solo, Jawa Tengah, 27 Februari 1971 pada umur 58 tahun. Beliau adalah dokter ahli bedah, pahlawan nasional Indonesia, dan pendiri Pusat Rehabilitasi Profesor Dokter Suharso yang merupakan tempat merawat penderita cacat jasmani.

Sukarjo Wiryopranoto

lahir: 1903,
wafat: 1962,
Peran: Tokoh kemerdekaan, diplomat, dan politisi, penetapan menjadi pahlawan: 1962

Sukarjo Wiryopranoto lahir di Kesugihan, Cilacap, Jawa Tengah, 5 Juni 1903 dan meninggal di New York, Amerika Serikat, 23 Oktober 1962 pada umur 59 tahun. Beliau adalah seorang pejuang kemerdekaan dan pahlawan nasional Indonesia.

Tamatan Sekolah Hukum tahun 1923 ini kemudaian bekerja di Pengadilan Negeri di beberapa kota sampai akhirnya mendirikan sendiri kantor pengacara "Wisnu" di Malang, Jawa Timur.

Sukardjo menjadi anggota Volksraad pada tahun 1931. Selain itu bersama Dr. Soetomoia mendirikan Persatuan Bangsa Indonesia(PBI).

Ia juga pernah menjabat sebagai Perwakilan Tetap Indonesia di Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) sampai akhir hayatnya.
Ia dimakamkan di TMP Kalibata, Jakarta.

Supeno

lahir: 1916,
wafat: 1949,
Peran: Menteri pemerintahan, terbunuh ketika perlawanan terhadap Belanda saat Revolusi Nasional, penetapan menjadi pahlawan: 1970

Soepeno lahir di Kota Pekalongan, 12 Juni1916 dan meninggal di Ganter, Ngliman, Sawahan, Nganjuk, 24 Februari 1949 pada umur 32 tahun. Beliau adalah Menteri Pembangunan dan Pemuda pada Kabinet Hatta I, dan juga tokoh pemuda pada saat Pergerakan Nasional. Dia meninggal dunia sewaktu masih menjabat dalam jabatan tersebut akibat Agresi Militer Belanda II.

Supomo

lahir: 1903,
wafat: 1958,
Peran: Menteri Kehakiman Pertama, membantu penulisan Konstitusi, penetapan menjadi pahlawan: 1965

Prof. Mr. Dr. Soepomo atau Supomo lahir di Sukoharjo, Jawa Tengah, 22 Januari 1903 dan meninggal di Jakarta, 12 September 1958 pada umur 55 tahun. Beliau adalah seorang pahlawan nasional Indonesia. Soepomo dikenal sebagai arsitek Undang-undang Dasar 1945, bersama dengan Muhammad Yamin dan Soekarno.

Suprapto

lahir: 1920,
wafat: 1965,
Peran : Jenderal Angkatan Darat, terbunuh saat Gerakan 30 September, penetapan menjadi pahlawan: 1965

Letnan Jenderal TNI Anumerta R. Suprapto lahir di Purwokerto, Jawa Tengah, 20 Juni 1920 dan meninggal di Lubangbuaya, Jakarta, 1 Oktober 1965 pada umur 45 tahun. Beliau adalah seorang pahlawan nasional Indonesia. Ia merupakan salah satu korban dalam G30S/PKI dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta.

Sutoyo Siswomiharjo

lahir: 1922,
wafat: 1965,
Peran : Jenderal Angkatan Darat, terbunuh saat Gerakan 30 September, penetapan menjadi pahlawan: 1965

Mayor Jenderal TNI Anumerta Sutoyo Siswomiharjo lahir di Kebumen, Jawa Tengah, 28 Agustus 1922 dan meninggal di Lubang Buaya, Jakarta, 1 Oktober 1965 pada umur 43 tahun. Beliau adalah seorang perwira tinggi TNI-AD yang diculik dan kemudian dibunuh dalam peristiwa Gerakan 30 September di Indonesia.

Tirto Adhi Suryo

lahir: 1880,
wafat: 1918,
Peran: Jurnalis, diasingkan karena editorial anti-Belanda buatannya, penetapan menjadi pahlawan: 2006

Raden Mas Djokomono Tirto Adhi Soerjo lahir di Blora, 1880 dan meninggal tahun 1918. Beliau adalah seorang tokoh pers dan tokoh kebangkitan nasional Indonesia, dikenal juga sebagai perintis persuratkabaran dan kewartawanan nasional Indonesia. Namanya sering disingkat T.A.S

Tirto adalah orang pertama yang menggunakan surat kabar sebagai alat propaganda dan pembentuk pendapat umum. Dia juga berani menulis kecaman-kecaman pedas terhadap pemerintahan kolonial Belanda pada masa itu. Akhirnya Tirto ditangkap dan disingkirkan dari Pulau Jawa dan dibuang ke Pulau Bacan, dekat Halmahera (Provinsi Maluku Utara). Setelah selesai masa pembuangannya, Tirto kembali ke Batavia, dan meninggal dunia pada 17 Agustus 1918.

Kisah perjuangan dan kehidupan Tirto diangkat oleh Pramoedya Ananta Toer dalam Tetralogi Buru dan Sang Pemula.

Pada 1973, pemerintah mengukuhkannya sebagai Bapak Pers Nasional. Pada tanggal 3 November 2006, Tirto mendapat gelar sebagai Pahlawan Nasional melalui Keppres RI no 85/TK/2006.

Urip Sumoharjo

lahir: 1893,
wafat: 1948,
Peran : Pemimpin Angkatan Darat Indonesia, komandan kedua setelah Sudirman, penetapan menjadi pahlawan: 1964

Jenderal TNI (Anumerta) Oerip Soemohardjo atau Urip Sumoharjo lahir 22 Februari1893 dan meninggal 17 November 1948 pada umur 55 tahun. Beliau adalah seorang jenderal dan kepala staf umum Tentara Nasional Indonesia pertama pada masa Revolusi Nasional Indonesia. Lahir di Purworejo, Hindia Belanda.

Setelah lulus pada tahun 1914, ia menjadi letnan di Koninklijk Nederlands-Indische Leger (KNIL), tentara pemerintah kolonial Belanda. Bertugas selama hampir 25 tahun, ia ditempatkan di tiga pulau berbeda dan dipromosikan beberapa kali, dan akhirnya menjadi perwira pribumi dengan pangkat tertinggi di KNIL.

Yos Sudarso

lahir: 1925,
wafat: 1962,
Peran : Komodor Angkatan Laut, terbunuh saat konfrontasi dengan Belanda di Nugini Belanda, penetapan menjadi pahlawan : 1973

Laksamana Madya TNI (Ant.) Yosaphat Soedarso (lahir di Salatiga, Jawa Tengah, 24 November 1925 dan meninggal di Laut Aru, 15 Januari 1962 pada umur 36 tahun. Beliau adalah seorang pahlawan nasional Indonesia. Ia gugur di atas KRI Macan Tutul dalam peristiwa pertempuran Laut Aru setelah ditembak oleh kapal patroli Hr. Ms. Everstenmilik armada Belanda pada masa kampanye Trikora. Namanya kini diabadikan menjadi nama KRI dan pulau.

Itulah daftar tokoh Pahlawan Nasional yang berasal dari Provinsi Jawa Tengah Indonesia.

Thursday, February 14, 2019

Inilah Tokoh Pahlawan Nasional yang Berasal dari Banten

Berikut ini adalah daftar nama-nama Pahlawan Nasional yang berasal dari Provinsi/Wilayah Banten yang diambil dari banyak sumber :

1. Ageng Tirtayasa


Sultan Ageng Tirtayasa adalah putra dari Sultan Abu al-Ma'ali Ahmad (Sultan Banten periode 1640-1650) dan Ratu Martakusuma. Sejak kecil ia bergelar Pangeran Surya, kemudian ketika ayahnya wafat, ia diangkat menjadi Sultan Muda yang bergelar Pangeran Dipati. Setelah kakeknya meninggal dunia pada tanggal 10 Maret 1651, ia diangkat sebagai Sultan Banten ke-6 dengan gelar Sultan Abu al-Fath Abdulfattah.

Nama Sultan Ageng Tirtayasa berasal ketika ia mendirikan keraton baru di dusun Tirtayasa(terletak di Kabupaten Serang).

Pada tahun 1683, Sultan Ageng tertangkap dan dipenjarakan di Batavia. Ia meninggal dunia dalam penjara dan dimakamkan di Komplek Pemakaman Raja-raja Banten, di sebelah utara Masjid Agung Banten, Banten Lama.

Atas jasa-jasanya pada negara, Sultan Ageng Tirtayasa diberi gelar pahlawan Nasionalberdasarkan SK Presiden Republik Indonesia No. 045/TK/Tahun 1970, tanggal 1 Agustus 1970.

Nama Sultan Ageng Tirtayasa juga kemudian diabadikan menjadi nama salah satu perguruan tinggi negeri di Banten, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.

2. Syafruddin Prawiranegara


Sjafruddin Prawiranegara lahir di Serang, Banten tanggal 28 Februari 1911 dan meninggal di Jakarta, 15 Februari 1989 pada umur 77 tahun) adalah seorang pejuang kemerdekaan, Menteri, Gubernur Bank Indonesia, Wakil Perdana Menteri dan pernah menjabat sebagai Ketua (setingkat presiden) Pemerintah Darurat Republik Indonesia(PDRI).

Ia menerima mandat dari presiden Sukarno ketika pemerintahan Republik Indonesia yang kala itu beribukota di Yogyakarta jatuh ke tangan Belanda akibat Agresi Militer Belanda II pada tanggal 19 Desember 1948. Ia kemudian menjadi Perdana Menteri bagi kabinet tandingan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) di Sumatera Tengah tahun 1958.

Syafruddin kemudian menjabat sebagai Gubernur Bank Sentral Indonesia yang pertama, pada tahun 1951. Sebelumnya ia adalah Presiden Direktur Javasche Bank yang terakhir, yang kemudian diubah menjadi Bank Sentral Indonesia.

3. Syekh Arsyad Thawil al-Bantani 


Syekh Arsyad lahir di desa Lempuyang, Tanara, Kabupaten Serang. Ayahnya adalah orang Banten yang bernama Imam As'ad bin Mustafa bin As'ad, sementara ibunya adalah Ayu Nazham. Tidak ada yang tahu persis tanggal dan tahun kelahirannya, namun di batu nisannya tertulis bahwa ia lahir pada tahun 1851 M.

Syekh Arsyad Thawil merupakan ulama sekaligus pahlawan Indonesia yang berjuang dalam Perang Cilegon dari 9 sampai 30 Juli 1888 bersama Ki Wasyid, Tubagus Ismail, dan pejuang lainnya dari Banten. Arsyad adalah murid dari Syekh Nawawi al-Bantani, seorang ulama dari Banten yang menjadi Imam Masjidil Haram, Mekkah.

4. KH Tubagus Ahmad Khatib al-Bantani

Tubagus Ahmad Chatib al-Bantani adalah seorang ulama, pejuang, dan perintis kemerdekaan Republik Indonesia dari Banten. Pada tanggal 19 September 1945 Soekarno, selaku Presiden Republik Indonesia mengangkat Ahmad Chatib menjadi Residen Banten.

Pada masanya, Ia juga pernah menduduki jabatan penting lain di pemerintahan Indonesiaseperti Dewan Pertimbangan Agung, Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong (DPRGR), bahkan pernah menduduki kursi MPRS dan BPPK.


Beliau lahir di Pandeglang, Banten, 1855 dan meninggal di Pandeglang, Banten, 19 Juni 1996 pada umur 80–81 tahun.

Selain peran K.H. Tubagus Ahmad Chatib dalam roda pemerintahan negara, dalam usahanya memajukan agama dan umat ia mencetuskan berdirinya Majelis Ulama, Perusahaan Alim Ulama (PAU), serta mendirikan perguruan tinggi seperti Universitas Islam Maulana Yusuf yang di kemudian hari berganti nama menjadi IAIN Sunan Gunung Jati, Banten.

Untuk mengenang jasa-jasanya, Dinas Sosial Provinsi Banten melalui Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Daerah mengusulkan K.H. Tb. Ahmad Chatib untuk ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional oleh pemerintah pusat melalui Kementerian Sosial Republik Indonesia.

5. KH Syam'un


KH Syam'un merupakan seorang tokoh pejuang kemerdekaan menentang pemerintahan Hindia Belanda di Banten. Beliau lahir di Beji, Bojonegara, Bojonegara, Serang, Banten, 5 April 1894 dan meninggal di Kamasan, Cinangka, Serang, Banten, 28 Februari 1949 pada umur 54 tahun.

KH. Syam’un meninggal pada Tahun 1949 karena sakit saat memimpin gerilya dari hutan sekitar Kamasan. Pada saat meninggal, pangkat militer KH Syam'un adalah Kolonel, kerena jasa jasanya, kemudian mendapat kenaikan pangkat anumerta menjadi Brigadir Jenderal Anumerta.

6. KH Abdul Fatah Hasan


K.H. Abdul Fatah Hasan atau Ki Fatah Hasan merupakan ulama dan pejuang kemerdekaan Republik Indonesia dari Banten. Ki Fatah Hasan juga merupakan anggota Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia yang mulai bersidang pada tanggal 10 Juli 1945, setelah adanya penambahan 6 anggota dari bangsa Indonesia pada sidang kedua.

K.H. Abdul Fatah Hasan adalah murid dari Brigjen K.H. Syam'un, perintis berdirinya Pondok Pesantren al-Khiriyah Citangkil, tempatnya menimba ilmu. Pada tahun 1933 Ki Fatah Hasan dikirim untuk belajar di Fakultas Syari'ah ke Universitas Al-Azhar oleh gurunya. Setelah menyelesaikan studinya di Kairo pada tahun 1939, Ki Fatah Hasan kembali ke Cilegon untuk mengamalkan ilmunya di Pesantren al-Khairiyah.

Atas jasa-jasa K.H. Abdul Fatah Hasan dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia inilah kemudian pada tahun 1992, ia dianugerahkan Bintang Mahaputra oleh Soeharto, Presiden Republik Indonesia saat itu.

7. KH Wasyid bin Muhammad Abbas 

Ki Wasyid adalah seorang pejuang yang memimpin Perang Cilegon pada tanggal 9 Juli 1888 hingga gugurnya di medan perang pada tanggal 30 Juli 1888 di Banten. Pada praktiknya, gerakan Ki Wasyid dalam perang tersebut banyak dipengaruhi oleh pemikiran guru-gurunya: Syekh Nawawi al-Bantani dan Abdul Karim al-Bantani, seorang mursyid Tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah.

Dalam perjuangannya, ia memiliki keahlian dan kemampuan strategis, seperti bagaimana ia melakukan komunikasi-komunikasi politik dengan para ulama, jawara, dan pejuang-pejuang lainnya di Banten dan luar Banten untuk terlibat dalam perang melawan penjajah Belanda.

Pada 25 September 2013, kisah perjuangan Ki Wasyid dalam peristiwa Geger Cilegon 1888diangkat ke dalam sebuah film berjudul Ki Wasyid: Di Balik Jihad sang Pejuang 1888 yang disutradarai oleh Darwin Mahesa dan diproduksi oleh Kremov Pictures.

Untuk mengenang perjuangannya, pemerintah Provinsi Banten kemudian akan mengajukan Ki Wasyid sebagai Pahlawan Nasional Indonesia.

Itulah daftar tokoh Pahlawan Nasional dari Wilayah Banten yang terdaftar dalam pemerintahan RI. Jika ada kesalahan silahkan beri komentar di bawah.

Wednesday, February 13, 2019

Inilah Daftar Nama Pahlawan Yang Berasal dari Jawa Barat

Berikut ini merupakan kumpulan Nama-nama Pahlawan yang berasal dari Provinsi/Wilayah Jawa Barat yang diambil dari banyak sumber :


1. Abdul Halim

Abdul Halim atau K.H. Abdul Halim, lebih dikenal dengan nama K.H. Abdul Halim Majalengka lahir di Desa Ciborelang, Jatiwangi Kecamatan Jatiwangi Kabupaten Majalengka, Jawa Barat.


Beliau lahir tanggal 26 Juni 1887 dan meninggal di Majalengka tanggal 7 Mei 1962 pada umur 74 tahun. Abdul Halim adalah Pahlawan Nasional berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudoyono Nomor: 041/TK/Tahun 2008 tanggal 6 November 2008 . Seorang tokoh pergerakan nasional, tokoh organisasi Islam, dan ulama yang terkenal toleran dalam menghadapi perbedaan pendapat antar ulama tradisionaldan pembaharu (modernis).

2. Ahmad Soebardjo


Mr. Raden Achmad Soebardjo Djojoadisoerjo lahir di Kabupaten Karawang, Jawa Barat tanggal 23 Maret 1896 dan meninggal pada tanggal 15 Desember 1978 pada umur 82 tahun. Beliau adalah tokoh pejuang kemerdekaan Indonesia, diplomat, dan seorang Pahlawan Nasional Indonesia. Beliau merupakan Menteri Luar Negeri Indonesia yang pertama. Achmad Soebardjo memiliki gelar Meester in de Rechten, yang diperoleh di Universitas Leiden Belanda pada tahun 1933.

3. Dewi Sartika


Dewi Sartika lahir dari keluarga Sunda yang ternama, yaitu R. Rangga Somanegara dan R. A. Rajapermas di Cicalengka pada 4 Desember 1884.

Beliau meninggal di Cineam, Tasikmalaya, 11 September 1947 pada umur 62 tahun) adalah tokoh perintis pendidikan untuk kaum wanita. Ia diakui sebagai Pahlawan Nasional oleh Pemerintah Indonesia pada tahun 1966.

4. Eddy Martadinata

Raden Eddy Martadinata lahir di Bandung, Jawa Barat tanggal 29 Maret 1921 dan meninggal di Riung Gunung, Jawa Barat tanggal 6 Oktober 1966 pada umur 45 tahun. Beliau juga lebih dikenal dengan nama R. E. Martadinata. Eddy Martadinata merupakan tokoh ALRI dan pahlawan nasional Indonesia. Ia meninggal dunia akibat kecelakaan helikopter di Riung Gunung dan dimakamkan di TMP Kalibata, Jakarta.

5. Gatot Mangkoepradja

Gatot Mangkoepradja lahir di Sumedang, Jawa Barat, 25 Desember 1898 dan meninggal di Bandung Jawa Barat tanggal 4 Oktober 1968 pada umur 69 tahun. Ayahandanya adalah dr. Saleh Mangkoepradja, dokter pertama asal Sumedang.

6. Oto Iskandar di Nata

Otto Iskandardinata lahir pada 31 Maret 1897 di Bojongsoang, Kabupaten Bandung. Ayah Otto adalah keturunan bangsawan Sunda bernama Nataatmadja. Otto adalah anak ketiga dari sembilan bersaudara.

Beliau meninggal di Mauk, Tangerang, Banten tanggal 20 Desember 1945 pada umur 48 tahun. Beliau merupakan salah satu Pahlawan Nasional Indonesia. Ia mendapat nama julukan si Jalak Harupat.

7. Zainal Mustafa

Zaenal Mustofa adalah pemimpin sebuah pesantren di Tasikmalaya dan pejuang Islampertama dari Jawa Barat yang mengadakan pemberontakan terhadap pemerintahan Jepang. Nama kecilnya Hudaeni. Lahir dari keluarga petani berkecukupan, putra pasangan Nawapi dan Ny. Ratmah, di kampung Bageur, Desa Cimerah, Kecamatan Singaparna (kini termasuk wilayah Desa Sukarapih Kecamatan Sukarame) Kabupaten Tasikmalaya (ada yang menyebut ia lahir tahun 1901 dan Ensiklopedia Islam menyebutnya tahun 1907, sementara tahun yang tertera di atas diperoleh dari catatan Nina Herlina Lubis, Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia Cabang Jawa Barat). Namanya menjadi Zaenal Mustofa setelah ia menunaikan ibadah haji pada tahun 1927.

Zainal Mustafa meninggal di Jakarta tanggal 28 Maret 1944. Beliau juga merupakan salah satu pahlawan nasional Indonesia. Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Tasikmalaya.

8. Noer Alie

Kiai Haji Noer Alie lahir di Bekasi, Jawa Barat, 15 Juli 1914 – meninggal di Bekasi, Jawa Barat, 29 Januari 1992 pada umur 77 tahun Adalah pahlawan nasional Indonesia Dengan SK Presiden : Keppres No. 085/TK/2006, Tgl. 3 November 2006, dia berasal dari Jawa Barat dan juga seorang ulama.

Beliau merupakan putera dari Anwar bin Layu dan Maimunah binti Tarbin. Noer Ali mendapatkan pendidikan agama dari beberapa guru agama di sekitar Bekasi. Pada tahun 1934, ia menunaikan ibadah haji dan memperdalam ilmu agama di Mekkah dan selama 6 tahun bermukim disana.

9. Raden Djoeanda Kartawidjaja

Ir. H. Djuanda dilahirkan di Tasikmalaya, 14 Januari 1911, merupakan anak pertama pasangan Raden Kartawidjaja dan Nyi Monat, ayahnya seorang Mantri Guru pada Hollandsch Inlansdsch School (HIS).

Beliau meninggal di Jakarta tanggal 7 November 1963 pada umur 52 tahun.

Ir.H. Djuanda adalah Perdana Menteri Indonesia ke-10 sekaligus yang terakhir. Ia menjabat dari 9 April 1957 hingga 9 Juli 1959. Setelah itu ia menjabat sebagai Menteri Keuangan dalam Kabinet Kerja I.

10. Iwa Kusuma Sumantri

Iwa Kusuma Sumantri lahir di Ciamis, Jawa Barat, pada tanggal 31 Mei 1899. Beliau adalah seorang politikus Indonesia. Iwa lulus dari sekolah hukum di Hindia Belanda (sekarang Indonesia) dan Belanda sebelum menghabiskan waktu di sebuah sekolah di Uni Soviet.
Iwa Kusuma Sumantri meninggal tanggal 27 November 1971 pada umur 72 tahun.

11. Kusuma Atmaja

Kusuma Atmaja adalah salah satu pahlawan Indonesia dan Ketua Mahkamah Agung Indonesia pertama.

Kusuma Atmaja Dilahirkan di Purwakarta, Jawa Barat pada tanggal 8 September 1898 dalam sebuah keluarga terpandang sebagai Raden Soelaiman Effendi Koesoemah Atmadja. Kusumah Atmadja pun dapat mengenyam pendidikan yang layak. Ia memperoleh gelar diploma dari Rechtshcool atau Sekolah Kehakiman pada 1913.

Beliau meninggal di Jakarta, Taman Makam Pahlawan Kalibata tanggal 11 Agustus 1952 pada umur 53 tahun.

12. Maskun Sumadireja

Maskoen Soemadiredja lahir di Bandung, Jawa Barat pada tanggal 25 Mei 1907 dan meninggal di Jakarta tanggal 4 Januari 1986 pada umur 78 tahun. Beliau adalah pahlawan nasional Indonesia yang berasal dari Jawa Barat.

Ia adalah putra dari Raden Umar Soemadiredja dan Nyi Raden Umi. Sejak tahun 1927, Maskoen sudah aktif dalam pergerakan politik untuk berjuang mewujudkan kemerdekaan negara Indonesia. Karena itu ia bergabung dengan Partai Nasional Indonesia(PNI) yang dipimpin oleh Ir. Soekarno.

Maskoen memegang jabatan sebagai komisaris merangkap sebagai sekretaris II PNI cabang Bandung. Ia sering melakukan propaganda dengan menyebarkan prinsip-prinsip nasionalisme dan menggugah semangat rakyat untuk memperjuangkan kemerdekaan.

13. Muhammad Toha

Muhammad Toha Lahir di Bandung pada tahun 1927. Mohammad Toha merupakan komandan dari Barisan Rakjat Indonesia. Ia bersama pasukannya berjuang dengan berperang pada masa Perang Kemerdekaan Indonesia. salah satu peristiwa yang membuat Mohammad Toha dikenang adalah peristiwa Bandung Lautan Api yang terjadi pada tanggal 24 Maret 1946.

Muhammad Toha meninggal dalam kebakaran dalam misi penghancuran gudang amunisi milik Tentara Sekutu bersama rekannya, Ramdan, setelah meledakkan dinamit dalam gudang amunisi tersebut.

14. Raden Abdullah Bin Nuh

K.H. R. Abdullah Bin Noeh lahir di Cianjur tanggal 30 Juni 1905 dan wafat di Bogor tanggal 26 Oktober 1987.

Selain maha guru para ulama ia juga merupakan seorang sastrawan, pendidik, dan pejuangkemerdekaan Indonesia. Sejak kecil mendapat pendidikan agama Islam yang sangat keras dari ayahnya, yakni K.H.R. Muhammad Nuh bin Muhammad Idris. Juga seorang ulama besar, pendiri Sekolah AI’ Ianah Cianjur.

15. Aria Adipati Wiranatakusuma

Wiranatakusuma adalah Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia yang pertama. Beliau Lahir di Bandung sebagai keturunan ningrat, Wiranatakoesoemah mendapat pendidikan di ELS, OSVIA, dan HBS. Sewaktu pembentukan Republik Indonesia Serikat, ia pernah menjabat sebagai Wali atau Presiden Negara Pasundan, salah satu negara federal RIS.

Selain itu ia juga merupakan Bupati BandungPeriode 1920 - 1931 dan Periode 1935 - 1945dan Pada tahun 1945 ia diangkat menjadi Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia setelah itu ia diangkat menjadi Ketua Dewan Pertimbangan Agung dari tahun 1945 sampai 1948, sebelum akhirnya menjadi Presiden Negara Pasundan.

Itulah daftar Nama Pahlawan Indonesia yang berasal dari Provinsi Jawa Barat. Jika ada kekurangan silahkan beri komentar di bawah.

Sumber : Google Search

Tuesday, February 12, 2019

Sejarah Asal Usul Suku Ambon dan Adat Kebudayaannya

Suku bangsa Ambon mendiami Pulau Ambon, Hitu dan Saparua, Provinsi Maluku. Sebenarnya mereka berasal dari Pulau Seram seperti halnya dengan suku-suku bangsa lain yang lebih dulu mendiami pulau-pulau di Maluku Tengah.


Menurut terbentuknya sebuah komunitas negeri, negeri itu dibuka pertama kali oleh soa-soa yang digolongkan ke dalam kelompok soa hitam. Biasanya orang-orang dari kelompok soa hitam inilah yang dianggap berhak menjadi raja, sekaligus menjadi tuan tanah yang menentukan tanah mana saja yang boleh digarap oleh soa-soa yang datang kemudian.

Menerima soa baru sebagai anggota pada masa dulu diperlukan, terutama untuk menambah kekuatan laskar dalam rangka peperangan antar negeri yang lazim terjadi pada waktu itu. Sekarang upacara Nae Baileu sudah banyak dipengaruhi oleh agama Islam atau Kristen, sesuai dengan agama yang dipeluk oleh mayoritas penduduk sebuah negeri.

Pada zaman Belanda kota Ambon ramai dikunjungi oleh berbagai bangsa dan suku bangsa, sehingga muncullah beberapa istilah penunjuk kelompok pendatang, seperti Tuni, Moni, Mahu, dan Wahan. Tuni adalah istilah untuk menyebut suku-suku bangsa yang berasal dari pulau seram (nunusaku).

Pulau seram sering pula disebut Nusa Ina, karena sebagian besar suku bangsa yang tersebar di kepulauan Maluku Tengah dianggap berasal dari pulai ini. Moni adalah istilah untuk menyebut suku-suku bangsa dari daerah sekitar Lautan Pasifik (Papuan dan Melanesian). Mahu dipakai untuk menyebut suku-suku bangsa yang berasal dari Indonesia bagian barat, seperti orang bugis, Makassar, Buton, Minangkabau, dan Jawa. Sementara itu Wahan adalah sebutan untuk menyebut suku-suku bangsa yang berasal dari pulau-pulau sekitar Ambon, seperti orang ternate, Banda, Buru.

Agama Dan Kepercayaan Suku Ambon

Sekarang orang Ambon sudah memeluk agama Islam atau Kristen. Jumlah pemeluk agama Islam sedikit lebih banyak, dan mereka umumnya lebih terampil dalam bidang perdagangan dan ekonomi umumnya. Sedangkan orang Ambon pemeluk agama Kristen lebih banyak memilih pekerjaan sebagai pegawai negeri, guru, dan tentara.

Namun kehidupannya sehari-hari mereka masih menjalankan kegiatan adat tertentu dari kebudayaan lama, dan menjadi salah satu identitas kesukubangsaan yang menonjol, seperti mengadakan upacara Nae Baileu atau upacara Cuci Negeri yang merupakan warisan kepercayaan nenek moyang mereka. Dalam menangani masalah kematian dan pelaksanaan upacaranya mereka selesaikan lewat kesatuan sosial adat yang disebut mubabet.

Nae Baileu adalah sebuah upacara yang bersifat "cuci negeri" yang ditemukan pada msayarakat adat di negeri-negeri Ambon umumnya. Upacara ini berpusat di sebuah balai adat yang mereka sebut baileu. Pada zaman dulu balai adat ini digunakan untuk tempat musyawarah adat dan pelaksanaan upacara religi.

Tujuan utama upacara Nae Baileu selain untuk menjauhkan unsur-unsur buruk dari negeri, meminta berkat dan perlindungan kepada roh kakek moyang, juga untuk memperkuat kembali ikatan sosial yang damai antara semua soa yang ada dalam negeri itu.

Bahasa Suku Ambon

Bahasa Ambon sendiri merupakan perkembangan dari bahasa asli yang dipengaruhi oleh bahasa Melayu. Ada juga yang menyebut bahasa Ambon sebagai bahasa Melayu Ambon atau Nusalaut. Pemakai bahasa ini sekarang berjumlah sekitar 100.000 jiwa, belum termasuk yang berada di Negeri Belanda.

Melihat daerah pemakaiannya bahasa Ambon dibagi ke dalam dialek-dialek : Nusalaut, Saparua, Haruku, Hila, Asilulu, Hatu, Wakasihu, dan lain-lain. Sekarang bahasa Ambon menjadi bahasa pengantar bagi masyarakat yang berbeda-beda suku bangsa di daerah Provinsi Maluku.

Mata Pencaharian Utama Suku Ambon

Pada dasarnya mata pencaharian utama orang Ambon adalah bercocok tanam di ladang dengan tanaman pokok padi, jagung, ubi jalar, ubi kayu, sayur-sayuran, kacang-kacangan, kelapa, kopi, cengkeh, tembakau dan buah-buahan. Sementara itu sagu masih dianggap sebagai makanan pokok. Bahan makanan itu dulu mudah didapat di hutan-hutan, karena tumbuh secara liar.

Sekarang tanaman sagu sudah dibudidayakan dengan jalan menanamnya secara teratur seperti menanam pohon kelapa. Selain bertani masyarakat ini suka pula menangkap ikan di perairan sekitar pulau-pulau mereka yang memang kaya dengan hasil laut. Dalam hal pendidikan formal orang Ambon sudah sejak zaman Belanda banyak bersekolah dan memilih pekerjaan sebagai pegawai negeri dan tentara.

Kekeluargaan Dalam Suku Ambon

Orang Ambon menghitung hubungan kekerabatan melalui garis keturunan pihak ayah (patrilineal), dan pola menetap setelah kawin adalah di lingkungan pihak ayah (patrilokal). Kesatuan kekerabatan yang terpenting adalah matarumah (keluarga batih) yaitu sebuah kesatuan keluarga  yang terdiri dari satu keluarga inti senior dan keluarga-keluarga inti junior dari garis keturunan laki-laki.

Pada tingkat yang lebih luas lagi mereka mengenal bentuk kesatuan kekerabatan berupa keluarga luas terbatas yang disebut soa. Pada masa sekarang istilah soa ini sering mereka kacaukan dengan istilah fam (family, dari bahasa Belanda).

Masyarakat Ambon menyebut desa-desa mereka negeri. Kesatuan hidup setempat ini dipimpin oleh seorang kepala Negeri yang lebih sering digelari bapa raja, kebetulan kedudukan ini memang dimiliki secara turun-temurun oleh matarumah dari soa yang paling senior dalam desa tersebut.

Dalam kedudukannya seorang Bapa Raja dibantu oleh suatu lembaga adat yang disebut saniri negeri. Lembaga ini ada beberapa macam. Pertama Saniri raja putih yang terdiri atas raja dan para kepala soa saja. Kedua, saniri negeri lengkap yang terdiri atas raja dan para kepala soa dan para kepala adat. Ketiga, saniri negeri besar yang terdiri atas raja, para kepala soa, kepala adat dan kepala matarumah atau warga masyrakat yang sudah dewasa.

Bapa Raja mempunyai tangan kanan yang disebut marinyo (pesuruh). Pada zaman dulu antara satu negeri dengan negeri lain ada yang tergabung ke dalam ikatan adat yang disebut pela, dimana mereka tidak boleh saling menyerang, malahan harus membantu jika salah satu diserang musuh. Masa sekarang ikatan adat pela ini diwujudkan dalam bentuk kerja sama sosial antar desa.

Rumah Adat Suku Ambon

Rumah adat Suku Ambon dinamakan Baileo, dipakai untuk tempat pertemuan, musyawarah dan upacara adat yang disebut seniri negeri. Rumah tersebut merupakan panggung dan dikelilingi oleh serambi. ATapnya besar dan tinggi terbuat dari daun rumbia, sedangkan dindingnya dari tangkai rumbia yang disebut gaba-gaba.

Pakaian Adat Suku Ambon

Prianya memakai pakaian adat berupa setelan jas berwarna merah dan hitam, baju dalam yang berenda dan ikat pinggang. Sedangkan wanitanya memakai baju cele, semacam kebaya pendek, dan berkanji yang disuji. Perhiasannya berupa anting-anting, kalung dan cincin. Pakaian ini berdasarkan adat Ambon.

Tarian Suku Ambon


Tarian Bambu Gila merupakan tarian paling terkenal dari orang Ambon. Tarian ini juga dikenal dengan nama Buluh Gila atau Bara Suwen. Untuk memulai pertunjukan ini sang pawang membakar kemenyan di dalam tempurung kelapa sambil membaca mantra dalam ‘bahasa tanah’ yang merupakan salah satu bahasa tradisional Ambon.

Kemudian asap kemenyan dihembuskan pada batang bambu yang akan digunakan. Jika menggunakan jahe maka itu dikunyah oleh pawang sambil membacakan mantra lalu disemburkan ke bambu. Fungsi kemenyan atau jahe ini untuk memanggil roh para leluhur sehingga memberikan kekuatan mistis kepada bambu tersebut. Roh-roh inilah yang membuat batang bambu seakan-akan menggila atau terguncang-guncang dan semakin lama semakin kencang serta sulit untuk dikendalikan.

Makanan Khas Suku Ambon

Belum lengkap makan tanpa Papeda, begitulah kata orang-orang ambon, makanan yang berasal dari sagu mentah ini bernama Papeda, papeda biasanya dimakan dengan ikan kuah kuning, jangan tanya rasanya, kalau kata orang ambon “Paleng Sadap Seng Ada Lawang” yang artinya sangat enak dan tidak ada tandinganya.

Papeda merupakan makanan Tradisional Ambon. Makanan ini sudah menjadi turun temurun bagi anak cucu orang ambon, orang ambon biasanya sebelum makan nasi terlebih dahulu memakan papeda, selanjutnya baru makan nasi.

Sejarah Suku Alor dan Adat Kebudayaan Suku Alor

Suku Pantar, Alor merupakan penduduk asli yang mendiami Pulau Pantar, Pura dan Pulau Alor, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur.

Mayoritas kepercayaan penduduk Alor adalah Islam, Kristen Protestan dan Kristen Katolik, tetapi tidak sedikit pula dari masyarakat Alor yang menganut paham animisme dan dinamisme yang menyembah:

- Larra/Lera yaitu matahari
- Wulang yaitu bulan
- Neda yaitu sungai bisa disebut juga dewa air
- Addi yaitu hutan bisa disebut juga dewa hutan
- Hari yaitu laut bisa disebut juga dewa laut.
- Penyembahan kepada Tuhan atau Allah disebut (Nayaning Lhahatal) Kepercayaan secara langsung kepada Tuhan.

AWAL MULA SUKU ALOR


Menurut sejarah, kerajaan tertua di Alor adalah kerajaan Abui di pedalaman pegunungan Alor dan kerajaraan Munaseli yang berada di pulau Pantar. Suatu ketika, kedua kerjaan ini terlibat perang magic peristiwa seperti ini banyak ditemukan pada kerjaan-kerajaan jaman dahulu, karena masyarakat jaman dahulu masih percaya dengan hal-hal yang bersifat tabu.

Perang ini dilakukan dengan cara kedua kerajaan tersebut saling melontarkan kata-kata gaib. Konon berdasarkan sejarah,dikatakan bahwa Kerajaan Munaseli mengirimkan lebah sedangkan Kerajaan Abui mengirimkan angin topan dan api pada akhirnya perang dimenangkan oleh Abui.

Perang belum selesai, sehabis kalah dari kerajaan Abui, Munaseli terlibat perang juga dengan Pandai yang bertetangga dengannya. Dikarenakan kekalahan atas Kerajaan Abui, pada saat itu Kerajaan Munaseli meminta bantuan pada Kerajaan Majapahit tetapi yang ditemukan Majapahit hanyalah puing-puing dari Kerajaan Munaseli dengan kata lain Majapahit mengirimkan bala bantuan setelah penduduk dari Munaseli telah melarikan diri ke berbagai tempat di Alor jadi tidak heran jika banyak ditemukan orang bertampang Jawa di Munaseli.

Bukan hanya Kerajaan Munaseli dan Abui saja, di pesisir pantai terdapat kerajaan Kui, Bunga Bali, Blagar, Pandai serta Baranua yang memiliki hubungan dekat satu sama lain, tidak heran jika mereka mengaku berasal dari leluhur yang sama.

Mayoritas agama pada penduduk Alor adalah kristen katolik dan kristen protestan, tapi tidak sedikit pula dari masyarakat Alor yang menganut paham animisme dan dinamisme yang menyembah Larra/Lera yaitu matahari, Wulang yaitu bulan, Neda yaitu sungai bisa disebut juga dewa air, Addi yaitu hutan bisa disebut juga dewa hutan serta Hari yaitu laut bisa disebut juga dewa laut. Sebagiannya lagi beragama islam, budha dan hindu.

Agama kristen datang ke Alor awalnya karena keputusan Leserborn yang isinya membagi dilayah Nusa Tenggara Timur menjadi dua yang mengharuskan Alor untuk dikuasai Kolonial Belanda. Sekitar tahun 1900 Belanda mengirim dua tahanannya yang dibuang ke Alor dikarenakan daratan Alor yang pada saat itu masih terjal dan bergunung, kedua utusan itu bernama Mingga dan Heo yang beragam kristen, dimana mereka masuk dalam Zegi Pastoral yang berimam umat kristeani.

Penduduk asli Alor yang masih menganut kepercayaan pada sukunya akan sesekali turun ke Pantai Makassar untuk berbelanja, tempat dimana Mingga dan Heo menetap. Disini terjadilah komunikasi dengan penduduk yang datang karena transaksi jual-beli serta kemahiran orang kristiani dalam Zegi Pastoral dan sosiologi, maka banyak penduduk yang simpati dan beralih memeluk agama kristen.

Mingga dan Heo membuat paham Zegi Pastoral seakan tidak hanya bergaul dengan sesama kristen tetapi juga penganut agama islam, maka dari itu mereka juga menjajaki penduduk asli yang masih tinggal di gunung-gunung dan berkomunikasi serta bersahabat dengan orang tua juga anak-anak. Sehingga sekitar  tahun 1905 dibuatlah sistem pendidikan yang disebut pula Sunday School.

Yang pertama pendidikan umum yang berisi upaya untuk mengajarkan anak-anak kepada huruf,  yang kedua yatu memberikan oemahaman tentang kristen, yang ketiga yaitu berbakti bersama dengan membaca alkitab,berkhotbah,benyanyi. Hingga tahun 1980an para misionaris kristen silih berganti datang ke Aor dengan berbagai macam pekerjaan, ada yang pendeta, dokter ataupun perawat.

Gereja pertama yang dibangun pada tahun 1912 di Alor adalah gereja Kalabahi, sekarang dikena dengan gereja Pola dan perlu diketahui bahwa perkerja untuk membuat gereja ini juga para tukang yang beragama islam, ini membuktikan bahwa adanya toleransi antar umat beragama di Alor sejak dahulu.

Terbukti toleransi antar suku Alor sudah terbangun sedari awal, tidak ada rasa risih ataupun dengki antar satu agama dengan agama lainnya. Latar belakang yang memunculkan rasa hormat terhadap satu agama dengan agama lainnya adalah, pemikiran masyarakat Alor bahwa menurut mereka masyarakat berasal dari satu tuhan yang sama dan tidak adanya prasangka buruk bahwa antar agama akan mengancm eksistensi agama lainnya.

Hal yang mungkin menarik untuk dibahaa adalah, jika ada perayaan hari besar seperti Natal ataupun Idul Fitri masyarakat Alor tidak pandang keyakinan, mereka tetap saling membantu. Dikala Idul Fitri, halal bihalal, serta acara keislaman lainnya yang akan menjadi tukang masaknya adalah orang Alor yang beragama Nasrani. Sebaliknya, jika Natal datang makan muslim di Alor akan diajak untuk menjadi panitia Natal tersebut.

Masyarakat Alor percaya ada semacam nilai holistis yang muncul diantara  mereka, yaitu nilai kemanusiaan yang menyatukan alam semesta dan manusia terkait dengan itu mereka berpendapat bahwa sang pencipta, alama semesta dan manusia menjadi satu kesatuaan yang total dan tidak bisa diubah atau mutlak.

Keindahan dari Alor sendiri masih terjaga karena, di kabupataen Alor masih terdapat suku tradisional Flores dengan adat istiadat yang tidak banyak berubah sejak zaman batu. Kebudayaan masih terjaga inilah yang membuat Alor menjadi tujuan untuk banyak wisatawan baik dalam atau luar negri, keramahan serta kesederhanaan masyarakatnya yang mudah untuk beradaptasi juga menjadi point penting bagi para wisatawan yang berkunjung.

Alat musik traditional moko

Dari bidang seni musik, kebudayaan suku alor dikenal memiliki satu alat musik traditional yang sangat terkenal yakni moko. Moko merupakan sebuah alat musik yang mirip dengan gendang dan merupakan hasil dari kebudayaan jaman perunggu yang sudah sangat lama.

Moko memiliki bentuk seperti bejana yang terbuat dari perunggu. Secara umum moko akan dimainkan sebagai pengiring dari tarian lego lego dan berbagai macam acara adat lainnya.

Dalam adat istiadar suku alor, moko juga dipersembahkan sebagai mahar atau mas kawin. Mahar adalah merupakan harta atau benda berharga yang diberikan oleh mempelai pria untuk mempelai wanita sebagai sebuah kompensasi atau syarat pernikahan. Dalam masyarakat suku alor pasti ditemukan minimal 1 moko dalam setiap keluarga suku alor.

 Makanan Khas

Makanan sudah menjadi salah satu unsur budaya pada suatu daerah tertentu, makanan khas juga dimiliki oleh masyarakat suku alor. Beberapa makanan khas yang berasal dari suku alor dan masih dikonsumsi oleh masyarakat alor diantaranya adalah sebagai berikut.

Jagung Bose, makanan khas dari suku alor yang terbuat dari butiran jagung.Kenari, biji kenari juga merupakan salah satu makanan khas dari suku alor yang sampai saat ini masih dikonsumsi.Kue Rambut, kue rambut juga merupakan makanan khas dari suku alor yang terbuat dari tepung dan gula lempeng atau gula yang berasal dari lontar yang kemudian digoren dengan alat serta cara tertenut untuk menghasilkan kue dengan bentuk suwir suwir seperti tumpukan helaian rambut.

Desa adat Takpala 

Berbagai kesenian dan peninggalan suku alor saat ini tidak mudah ditemukan disemua tempat di pulau alor. Bagi yang ingin mempelajari adat dan istiadat suku alor dan kebudayaannya maka berkunjunglah ke desa adat takpala yang dihuni tidak lebih dari 40 orang.

Desa Adat Takpala ini terdapat di atas kaki bukit yang rimbun sehingga letaknya tertutup oleh lebatnya pepohonan di daerah perbukitan tersebut. Jika dilihat dari kejauhan, akan tampak beberapa rumah adat yang memiliki bentuk limas dan beratap ilalang.

Sumber : Wikipedia.org

Asal Usul Suku Alas Dan Adat Kebudayaan Suku Alas

Suku Alas adalah salah satu suku yang mendiami Tanah Alas, Kabupaten Aceh Tenggara, Provinsi Aceh. Arti kata "alas" dalam bahasa Alas berarti "tikar". Ini berkaitan dengan tempat daerah itu yang membentang datar seperti tikar di sela-sela Bukit Barisan. Daerah Tanah Alas dilalui banyak sungai, salah satu di antaranya adalah sungai Alas.

Desa orang Alas disebut kute yang biasanya dalam suatu kute didiami oleh satu atau beberapa klan, yang disebut merge. Anggota satu merge berasal dari satu nenek moyang yang sama. Mereka menarik garis keturunan patrilineal, artinya garis keturunan laki-laki. Mereka juga menganut adat eksogami merge, artinya jodoh harus dicari di merge lain.

SEJARAH AWAL MULA SUKU ALAS


Ukhang Alas atau biasa disebut juga khang Alas atau Kalak Alas telah lama bermukim di lembah Alas, hal ini dibuktikan jauh sebelum Pemerintah Kolonial Belanda masuk ke Indonesia. Keadaan penduduk lembah Alas telah tercatat dalam sebuah buku yang dikarang oleh seorang bangsa Belanda bernama Radermacher (1781:8), bila dilihat dari catatan sejarah masuknya Islam ke Tanah Alas, pada tahun 1325 (Effendy, 1960:26) maka jelas penduduk ini sudah ada walaupun masih bersifat nomaden dengan menganut kepercayaan animisme.

Nama Alas diperuntukan bagi seorang atau kelompok etnis, sedangkan daerah Alas disebut dengan kata Tanoh Alas. Menurut Kreemer (1922:64) kata "Alas" berasal dari nama seorang kepala etnis (cucu dari Raja Lambing) keturunan Raja Pandiangan di Tanah Batak. Beliau bermukim di desa paling tua di Tanoh Alas yaitu Desa Batu Mbulan.

Menurut Iwabuchi (1994:10) Raja yang pertama kali bermukim di Tanoh Alas adalah terdapat di Desa Batumbulan yang dikenal dengan nama RAJA LAMBING, keturunan dari Raja Pandiangan di Tanah Batak. Raja Lambing adalah moyang dari merga Sebayang di Tanah Karo dan Selian di Tanah Alas. Raja Lambing merupakan anak yang paling bungsu dari tiga bersaudara yaitu abangnya tertua adalah Raja Patuha di Dairi, dan nomor dua adalah Raja Enggang yang hijrah ke Kluet Aceh Selatan, keturunan dan pengikutnya adalah merga Pinem atau Pinim.

Mata pencaharian suku Alas adalah pertanian dan peternakan. Pertanian dapat berupa menanam padi, karet, kopi,dan kemiri, serta mencari berbagai hasil hutan, seperti kayu, rotan, damar dan kemenyan. Sedangkan untuk peternakan mereka memelihara kuda, kambing, kerbau, dan sapi.

AGAMA SUKU ALAS

Suku Alas menganut ajaran agama Islam. Tetapi masih ada juga yang mempercayai praktik perdukunan misalnya dalam kegiatan pertanian.

BAHASA

Bahasa yang digunakan adalah Bahasa Alas (Cekhok Alas) Bahasa ini merupakan rumpun bahasa dari Austronesia suku Kluet di kabupaten Aceh Selatan juga menggunakan Bahasa yang hampir sama dengan bahasa suku Alas.

ADAT KEBUDAYAAN

Upacara adat istiadat yang ada dalam masyarakat suku Alas adalah ‘Turun Mandi’, ‘Sunat Khitan’, ‘Perkawinan’, dan ‘Kematian’. Pada setiap kegiatan ini dikenal beberapa budaya tolong menolong yang dilakukan oleh masyarakat sesuai dengan posisinya dalam struktur kekerabatan. Ada tiga struktur kekerabatan dalam suku Alas yaitu Wali, Sukut/Senine, dan Pebekhunen/Malu. Adapun bentuk tolong-menolong yang dilakukan adalah

1. Pemamanen, yaitu panggilan yang diberikan kepada rombongan yang datang dari pihak Wali yaitu ayah dan saudara lelaki dari perempuan (Malu) yang mempunyai hajatan. Pada setiap acara adat Alas, pemamanen mempunyai peran penting karena mereka adalah tamu yang dimuliakan. Dalam setiap kegiatan mereka akan membawa bantuan kepada tuan rumah dan biasanya bantuan ini dalam bentuk materi atau sejumlah uang. Semakin tinggi nilai bantuan maka semakin tinggi pula prestige yang mereka dapatkan. Begitupula tuan rumah merasa lebih dihormati dan dimuliakan. Slogan yang menjadi failosofi budaya ini adalah Besar wali karena malu, besar malu karena wali.

2. Tempuh, artinya bantuan yang diberikan oleh saudara dekat atau diistilahkan dengan kelompok sukut artinya orang yang punya kerja (saudara kandung atau masih mempunyai pertalian darah dan marga). Bantuan ini terkadang ditentukan dalam musyawarah keluarga, namun terkadang juga tidak ditentukan, sehingga pemberian didasarkan oleh kesadaran masing-masing yang disesuaikan dengan kemampuannya, serta bergantung pula pada jauh dekatnya pertalian kekerabatan yang dimiliki.

3. Nempuhi Wali artinya membantu wali, bantuan ini diberikan oleh Malu yaitu anak perempuan atau saudara perempuan yang sudah kawin dan pebekhunen yaitu suaminya kepada pihak wali yang mempunyai hajatan/acara adat. Dalam setiap kegiatan bantuan yang mereka berikan adalah dalam bentuk tenaga, misalnya bertanggung jawab di dapur dalam menyiapkan hidangan dan membereskannya. Sebenarnya Nempuhi Wali ini merupakan kewajiban yang ditetapkan dalam budaya suku Alas tidak hanya pada kegiatan yang menyangkut adat-istiadat, tetapi juga pada kegiatan lainnya dalam kehidupan sehari-hari seperti membantu di sawah dan lain-lain.

Marga

Menurut buku Sanksi dan Denda Tindak Pidana Adat Alas, Dr Thalib Akbar MSC (2004) adapun marga–marga etnis Alas yaitu : Bangko, Deski, Keling, Kepale Dese, Keruas, Pagan, dan Selian kemudian hadir lagi marga Acih, Beruh, Gale, Kekaro, Mahe, Menalu, Mencawan, Munthe, Pase, Pelis, Pinim, Ramin, Ramud, Sambo, Sekedang, Sugihen, Sepayung, Sebayang dan marga Teriga

Kesenian


1. Tari Mesekat
2. Pelabat
3. Landok Alun
4. Tangis Dilo
5. Canang Situ
6. Canang Buluh
7. Genggong
8. Oloi-olio
9. Keketuk layakh

Kerajinan

1. Nemet (mengayam daun rumbia)
2. Mbayu amak (tikar pandan)
3. Bordir pakaian adat
4. Pande besi (pisau bekhemu)

Makanan Khas Tradisonal

1. Manuk labakh
2. Ikan labakh
3. Puket Megaukh
4. Lepat bekhas
5. Gelame
6. Puket Megaluh
7. Buah Khum-khum
8. Ikan pacik kule
9. Telukh Mandi
10. Puket mekuah
11. Tumpi
12. Godekhr
13. Puket sekuning
14. Cimpe
15. Getuk

Sumber : Wikipedia.org

Thursday, February 7, 2019

Sejarah Asal Usul Suku Aceh Serta Adat Kebudayaan Aceh

Suku Aceh merupakan nama sebuah suku penduduk asli yang mendiami wilayah pesisir dan sebagian pedalaman Provinsi Aceh, Indonesia. Suku Aceh mayoritas beragama Islam. Suku Aceh mempunyai beberapa nama lain yaitu Lam Muri, Lambri, Akhir, Achin, Asji, A-tse dan Atse. Bahasa yang dituturkan adalah bahasa Aceh, yang merupakan bagian dari rumpun bahasa Melayu-Polinesia Barat dan berkerabat dekat dengan bahasa Cham yang dipertuturkan di Vietnam dan Kamboja.


Suku Aceh sesungguhnya merupakan keturunan berbagai suku, kaum, dan bangsa yang menetap di tanah Aceh. Pengikat kesatuan budaya suku Aceh terutama ialah dalam bahasa, agama, dan adat khas Aceh.

AWAL MULA SUKU/ORANG ACEH

Bukti-bukti arkeologis terawal penghuni Aceh adalah dari masa pasca Plestosen, di mana mereka tinggal di pantai timur Aceh (daerah Langsa dan Tamiang), dan menunjukkan ciri-ciri Australomelanesid. Mereka terutama hidup dari hasil laut, terutama berbagai jenis kerang, serta hewan-hewan darat seperti babi dan badak. Mereka sudah memakai api dan menguburkan mayat dengan upacara tertentu.

Selanjutnya terjadi perpindahan suku-suku asli Mantir dan Lhan (proto Melayu), serta suku-suku Champa, Melayu, dan Minang (deutro Melayu) yang datang belakangan turut membentuk penduduk pribumi Aceh. Bangsa asing, terutama bangsa India selatan, serta sebagian kecil bangsa Arab, Persia, Turki, dan Portugis juga adalah komponen pembentuk suku Aceh.

Posisi strategis Aceh di bagian utara pulau Sumatra, selama beribu tahun telah menjadi tempat persinggahan dan percampuran berbagai suku bangsa, yaitu dalam jalur perdagangan laut dari Timur Tengah hingga ke Cina.

Proto dan Deutero Melayu

Legenda rakyat Aceh menyebutkan bahwa penduduk Aceh terawal berasal dari suku-suku asli; yaitu suku Mante (Mantir) dan suku Lhan (Lanun). Suku Mante merupakan etnis lokal yang diduga berkerabat rapat dengan suku Batak, suku Gayo, dan Alas sedangkan suku Lhan diduga masih berkerabat dengan suku Semang yang bermigrasi dari Semenanjung Malaya atau Hindia Belakang (Champa, Burma).

Suku Mante pada mulanya mendiami wilayah Aceh Besar dan kemudian menyebar ke tempat-tempat lainnya. Ada pula dugaan secara etnologi tentang hubungan suku Mante dengan bangsa Funisia di Babilonia atau Dravida di lembah sungai Indus dan Gangga, namun hal tersebut belum dapat ditetapkan oleh para ahli kepastiannya.

Ketika Kerajaan Sriwijaya memasuki masa kemundurannya, diperkirakan sekelompok suku Melayu mulai berpindah ke tanah Aceh. Di lembah sungai Tamiang yang subur mereka kemudian menetap, dan selanjutnya dikenal dengan sebutan suku Tamiang. Setelah mereka ditaklukkan oleh Kerajaan Samudera Pasai (1330), mulailah integrasi mereka ke dalam masyarakat Aceh, walau secara adat dan dialek tetap terdapat kedekatan dengan budaya Melayu.

Suku Minang yang bermigrasi ke Aceh banyak yang menetap di sekitar Meulaboh dan lembah Krueng Seunagan. Umumnya daerah subur ini mereka kelola sebagai persawahan basah dan kebun lada, serta sebagian lagi juga berdagang. Penduduk campuran Aceh-Minang ini banyak pula terdapat di wilayah bagian selatan, yaitu di daerah sekitar Susoh, Tapaktuan, dan Labuhan Haji. Mereka banyak yang sehari-harinya berbicara baik dalam bahasa Aceh maupun bahasa Aneuk Jamee, yaitu dialek khusus mereka sendiri.

Akibat politik ekspansi dan hubungan diplomatik Kesultanan Aceh Darussalam ke wilayah sekitarnya, maka suku Aceh juga bercampur dengan suku-suku Alas, Gayo, Karo, Nias, dan Kluet. Pengikat kesatuan budaya suku Aceh yang berasal dari berbagai keturunan itu terutama ialah dalam bahasa Aceh, agama Islam, dan adat-istiadat khassetempat, sebagaimana yang dirumuskan oleh Sultan Iskandar Muda dalam undang-undang Adat Makuta Alam.

India

Banyak pula terdapat keturunan bangsa Indiadi tanah Aceh, yang erat hubungannya dengan perdagangan dan penyebaran agama Hindu-Buddha dan Islam di tanah Aceh. Bangsa India kebanyakan dari Tamil dan Gujarat, yang keturunannya dapat ditemukan tersebar di seluruh Aceh.

Pengaruh bangsa India terlihat antara lain dari penampilan budaya dan fisik pada sebagian orang Aceh, serta variasi makanan Aceh yang banyak menggunakan kari. Banyak pula nama-nama desa yang diambil dari bahasa Hindi, (contoh: Indra Puri), yang mencerminkan warisan kebudayaan Hindu masa lalu.

Arab, Persia, dan Turki

"Sukèë Lhèë Reutōïh ban aneu' drang
Sukèë Ja Sandang jra haleuba.
Sukèë Ja Batèë na bachut-bachut;
Sukèë Imeum Peuët nyang gō'-gō' dōnya."

— Puisi lisan (hadih maja) dalam
De Atjeher, Snouck Hurgronje.

Bangsa Arab yang datang ke Aceh banyak yang berasal dari Hadramaut, Yaman. Di antara para pendatang tersebut terdapat antara lain marga-marga al-Aydrus, al-Habsyi, al-Attas, al-Kathiri, Badjubier, Sungkar, Bawazier, dan lain-lain, yang semuanya merupakan marga-marga bangsa Arab asal Yaman. Mereka datang sebagai ulamapenyebar agama Islamdan sebagai perdagang.

Daerah Seunagan misalnya, hingga kini terkenal banyak memiliki ulama-ulama keturunan sayyid, yang oleh masyarakat setempat dihormati dengan sebutan Teungku Jet atau Habib. Demikian pula, sebagian Sultan Aceh adalah juga keturunan sayyid. Keturunan mereka pada masa kini banyak yang sudah kawin campur dengan penduduk asli suku Aceh, dan menghilangkan nama marganya.

Terdapat pula keturunan bangsa Persia yang umumnya datang untuk menyebarkan agama dan berdagang, sedangkan bangsa Turkiumumnya diundang datang untuk menjadi ulama, pedagang senjata, pelatih prajurit, dan serdadu perang kerajaan Aceh. Saat ini keturunan bangsa Persia dan Turki kebanyakan tersebar di wilayah Aceh Besar.

Nama-nama warisan Persiadan Turki masih tetap digunakan oleh orang Aceh untuk menamai anak-anak mereka, bahkan sebutan Banda dalam nama kota Banda Aceh juga adalah kata serapan dari bahasa Persia (Bandar artinya "pelabuhan").

Portugis

Keturunan bangsa Portugis terutama terdapat di wilayah Kuala Daya, Lam No (pesisir barat Aceh). Pelaut-pelaut Portugis di bawah pimpinan nakhoda Kapten Pinto, yang berlayar hendak menuju Malaka, sempat singgah dan berdagang di wilayah Lam No, di mana sebagian di antara mereka lalu tinggal menetap di sana.

Sejarah mencatat peristiwa ini terjadi antara tahun 1492-1511, pada saat itu Lam No di bawah kekuasaan kerajaan kecil Lam No, pimpinan Raja Meureuhom Daya. Hingga saat ini, masih dapat dilihat keturunan mereka yang masih memiliki profil wajah Eropa.

BUDAYA DAN ADAT SUKU ACEH

Bahasa Aceh termasuk dalam kelompok bahasa Aceh-Chamik, cabang dari rumpun bahasa Melayu-Polinesia, cabang dari rumpun bahasa Austronesia. Bahasa-bahasa yang memiliki kekerabatan terdekat dengan bahasa Aceh adalah bahasa Cham, Roglai, Jarai, Rhade, Chru, Utset dan bahasa-bahasa lainnya dalam rumpun bahasa Chamik, yang dipertuturkan di Kamboja, Vietnam, dan Hainan.

Adanya kata-kata pinjaman dari bahasa bahasa Mon-Khmer menunjukkan kemungkinan nenek-moyang suku Aceh berdiam di Semenanjung Melayu atau Thailand selatan yang berbatasan dengan para penutur Mon-Khmer, sebelum bermigrasi ke Sumatera.

Kosakata bahasa Aceh banyak diperkaya oleh serapan dari bahasa Sanskerta dan bahasa Arab, yang terutama dalam bidang-bidang agama, hukum, pemerintahan, perang, seni, dan ilmu. Selama berabad-abad bahasa Aceh juga banyak menyerap dari bahasa Melayu. Bahasa Melayu dan bahasa Minangkabauadalah kerabat bahasa Aceh-Chamik yang selanjutnya, yaitu sama-sama tergolong dalam rumpun bahasa Melayu-Polinesia Barat.

Sekelompok imigran berbahasa Chamik tersebut mulanya diduga hanya menguasai daerah yang kecil saja, yaitu pelabuhan Banda Aceh di Aceh Besar. Marco Polo (1292) menyatakan bahwa di Aceh saat itu terdapat 8 kerajaan-kerajaan kecil, yang masing-masing memiliki bahasanya sendiri. Perluasan kekuasaan terhadap kerajaan-kerajaan pantai lainnya, terutama Pidie, Pasai, dan Daya, dan penyerapan penduduk secara perlahan selama 400 tahun, akhirnya membuat bahasa penduduk Banda Aceh ini menjadi dominan di daerah pesisir Aceh.

Para penutur bahasa asli lainnya, kemudian juga terdesak ke pedalaman oleh para penutur berbahasa Aceh yang membuka perladangan.

Dialek-dialek bahasa Aceh yang terdapat di lembah Aceh Besar terbagi menjadi dua kelompok besar, yaitu Tunong untuk dialek-dialek di dataran tinggi dan Baroh untuk dialek-dialek dataran rendah.

 Banyaknya dialek yang terdapat di Aceh Besar dan Daya, menunjukkan lebih lamanya wilayah-wilayah tersebut dihuni daripada wilayah-wilayah lainnya. di wilayah Pidie juga terdapat cukup banyak dialek, walaupun tidak sebanyak di Aceh Besar atau Daya. Dialek-dialek di sebelah timur Pidie dan di selatan Daya lebih homogen, sehingga dihubungkan dengan migrasi yang datang kemudian seiring dengan peluasan kekuasaan Kerajaan Aceh pasca tahun 1500.

Pemerintah daerah Aceh, antara lain melalui SK Gubernur No. 430/543/1986 dan Perda No. 2 tahun 1990 membentuk Lembaga Adat dan Kebudayaan Aceh (LAKA), dengan mandat membina pengembangan adat-istiadat dan kebiasaan masyarakat dan lembaga adat di Aceh.

 Secara tidak langsung lembaga ini turut menjaga lestarinya bahasa Aceh, karena pada setiap kegiatan adat dan budaya, penyampaian kegiatan-kegiatan tersebut adalah dalam bahasa Aceh. Demikian pula bahasa Aceh umum digunakan dalam berbagai urusan sehari-hari yang diselenggarakan oleh instansi-instansi pemerintahan di Aceh.

KESENIAN TARI TRADISIONAL SUKU ACEH


Tarian tradisional Aceh menggambarkan warisan adat, agama, dan cerita rakyat setempat. Tari-tarian Aceh umumnya dibawakan secara berkelompok, di mana sekelompok penari berasal dari jenis kelamin yang sama, dan posisi menarikannya ada yang berdiri maupun duduk.

Bila dilihat dari musik pengiringnya, tari-tarian tersebut dapat dikelompokkan menjadi dua macam; yaitu yang diiringi dengan vokal dan perkusi tubuh penarinya sendiri, serta yang diiringi dengan ensambel alat musik.

- Tari Seudati
- Tari Rateb Meuseukat
- Tari Likok Pulo
- Tari Laweut
- Tari Pho
- Tari Ratoh Duek
- Tari Tarek Pukat
- Tari Rabbani Wahed
- Tari Ranup lam Puan
- Tari Rapa'i Geleng

MAKANAN KHAS SUKU ACEH


Mie Aceh merupakan makanan khas Orang Aceh. Masakan Aceh terkenal banyak menggunakan kombinasi rempah-rempah sebagaimana yang biasa terdapat pada masakan India dan Arab, yaitu jahe, merica, ketumbar, jintan, cengkeh, kayu manis, kapulaga, dan adas.

Berbagai macam makanan Aceh dimasak dengan bumbu gulai atau bumbu kari serta santan, yang umumnya dikombinasikan dengan daging, seperti daging kerbau, sapi, kambing, ikan, dan ayam. Beberapa resep tertentu secara tradisional ada yang memakai ganja sebagai bumbu racikan penyedap; hal mana juga ditemui pada beberapa masakan Asia Tenggara lainnya seperti misalnya di Laos, namun kini bahan tersebut sudah tidak lagi dipakai.

Sumber : Wikipedia.org