Friday, August 9, 2019

7 Pondok Pesantren Terbaik dan Terbesar di Kabupaten Lebak Banten

Kabupaten Lebak merupakan kabupaten yang terletak di Provinsi Banten, Indonesia. Ibukotanya adalah Rangkasbitung, yang berada di bagian utara wilayah kabupaten.

Di kabupaten Lebak selain memiliki perguruan tinggi juga terdapat banyak Pesantren yang sangat berkualitas dalam menunjang ilmu agama. Berikut ini tim kami Kuwaluhan.com telah merangkum Daftar Ponpes Modern maupun Salafiyah Terbaik dan Favorit di Kabupaten Lebak :

1. PONDOK PESANTREN LA TANSA

Lokasi : Kampung Parakansantri, Banjar Irigasi, Lebakgedong, Kabupaten Lebak, Banten 42372

Pondok Pesantren La Tansa merupakan pondok pesantren modern yang terletak di daerah Parakansantri, Lebakgedong, Lebak, Banten. Pesantren ini didirikan oleh Drs. K.H. Ahmad Rifa'i Arief (Almarhum) yang bertindak juga sebagai pemimpin pesantren Daar el-Qolam (Pasir Gintung, Jayanti, Tangerang) saat itu. Kini, setelah pendiri wafat, Pesantren La Tansa dipimpin oleh K.H. Adrian Mafatihullah Karim, MA dan Dr. K.H. Sholeh, S.Ag, MM. Lembaga ini bernaung di bawah Yayasan La Tansa Mashiro, yang juga didirikan oleh Drs K.H. Ahmad Rifa'i Arief.

PONDOK PESANTREN “LA TANSA” berdiri di sebuah lembah seluas ±13 ha. yang sekelilingnya dialiri sungai Ciberang dan dikelilingi oleh gunung-gunung dan bukit yang menghijau, terhindar dari polusi udara bahkan polusi budaya dan pergaulan amoral, merupakan tempat tafaqquh fiddien yang nyaman dan rekreatif. Lembaga ini dilahirkan oleh Pondok Pesantren Daar El-Qolam Gintung, Jayanti, Tangerang, sebagai suatu pengembangan wawasan dan pengembangan daya tampung dengan sistem pendidikan serta pengajaran yang lebih variatif dan memenuhi hajat umat. yang memberikan prospek yang sangat baik untuk sebuah sarana pendidikan. Sasaran siswa yang ditargetkan untuk menuntut ilmu di Pondok Pesantren La Tansa bukan hanya warga di wilayah ini, namun lebih jauh lagi adalah seluruh rakyat Indonesia yang ingin memperdalam ilmu umum sekaligus ingin memahami dan mengamalkan ajaran agama Islam yang baik.

Dan sejak tahun 2017, pondok pesantren La Tansa telah mengembangkan sayapnya dengan dibukanya Pondok Pesantren La Tansa 3 Kun Karima di Kecamatan Majasari, Pandeglang. Sementara Pondok Pesantren La Tansa 2 yang berlokasi di Kampus La Tansa Mashiro Rangkas Bitung akan segera dibuka pada tahun ajaran 2018-2019. Dan untuk Pondok Pesantren La Tansa 4 & 5 yang berlokasi di Cipanas, Lebak sedang dalam proses pembangunan.

2. PONDOK PESANTREN MODERN DAREL AZHAR


Lokasi : Jl. Komp. Pendidikan No.RT 08/09, Muara Ciujung Tim., Kec. Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Banten 42314

Ponpes Modern Daar El-azhar merupakan lembaga pendidikan yang berada di Muara Ciujung Tim., Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Banten 42314.

Ponpes Modern Daar el-Azhar Rangkasbitung (PMDARB), tidak ubahnya seperti pondok pesantren lainnya, adalah; “lembaga pendidikan Islam dengan system asrama, kyai sebagai sentral figurenya dan masjid sebagai titik pusat yang menjiwainya.”

Sebagai lembaga yang mengintegrasikan seluruh pusat pendidikan, pendidikan pesantren bersifat total; membina kecakapan spiritual (Spiritual Quotient), kecakapan Intelektual (intellectual Quotient), dan kecakapan moral-emosional (Emotional Quotient). Untuk itu, lingkungan pesantren secara keseluruhannya adalah lingkungan yang dirancang untuk kepentingan pendidikan, sehingga segala yang didengar, dilihat, dirasakan, dikerjakan, dan dialami para santri bahkan seluruh penghuni pesantren adalah dimaksudkan untuk mencapai tujuan pendidikan.

Sejarah awal berdirinya Pondok Modern Daar El Azhar berawal dari banyaknya minat terhadap pendidikan pesantren begitu besar dan respon dari masyarakat begitu baik, maka pada 1991 –1992 mulailah dirintis pendidikan dan pengajaran extra di asrama (di luar jam sekolah) yang dinamakan “Persemaian Santri Madinah el-Tullab”. Santri pada waktu itu  berasal dari tingkat SD, SMP, SMEA, dan STM. Mereka digembleng sebelum dan sepulang sekolah. Seiring dengan berjalannya waktu dan bertambahnya kebutuhan pendidikan dan pengajaran, maka diperlukan elaborasi sistem pendidikan dan pengajaran selama 24 jam.

PROGRAM PENDIDIKAN

1.Program pesantren 6 (Enam) Tahun  :

A. SLTP (Ma’had Mutawasithi) terakreditasi A SK. Badan Akreditasi Nasional  No.01/BAS/MN/II/2007.
Program ini diperuntukkan bagi siswa lulusan Sekolah Dasar atau Madrasah Ibtida’iyah dengan masa  pendidikan selama enam tahun, yakni ditempuh dari kelas satu berurutan sampai kelas enam.


B. SMA (Ma’had Tsanawi) Terakreditasi B SK. Badan Akreditasi Sekolah No. 02/BASDA-BTN/SK/V2007.
1.  Jurusan IPA (Ilmu Pengetahuan Alam)
2.  Jurusan IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial)
Program  ini diperuntukkan bagi seluruh santri Pondok Pesantren Modern Daar el-Azhar yang melanjutkan studinya pada jenjang pendidikan SMA-nya  di Pondok Pesantren Modern Daar el-Azhar dan santri pindahan dari Pondok Pesantren lain dengan terlebih dahulu mengikuti tes akademik yang telah ditentukan. Pada jenjang ini ada dua jurusan pendidikan yang dipilih oleh santri yaitu jurusan IPA (Ilmu Pengetahuan Alam), jurusan IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial)

2.  Program 4 (Empat) Tahun :

Program penyetaraan Materi Pesantren &  Bahasa untuk calon santri lulusan SLTP/MTs (1 Tahun); dilanjutkan
B.Program Pesantren SMA Daar el-Azhar (3 Tahun).
Program ini diperuntukan bagi santri lulusan Sekolah Menengah Pertama (SMP)  atau Madrasah Tsanawiah (MTs). Program ini dilaksanakan selama empat tahun, tahun pertama sebagai tahun pembelajaran matei-materi kepondokkan  dan kebahasaan setingkat materi kelas satu dan dua SMP, baru kemudian pada tahun kedua santri dari program ini terdaftar sebagai santri SMA dan duduk di kelas empat dengan  memulai pembelajaran materi yang sama dengan santri dari  program  pertama (SMP).

3. PONDOK PESANTREN MODERN AL-MIZAN


Lokasi : Jl. Jenderal Sudirman Km.3, Narimbang Mulia, Rangkasbitung, Narimbang Mulia, Kec. Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Banten 42315

Pondok Pesantren Modern Al-Mizan adalah sebuah lembaga sosial yang bergerak dalam kegiatan pendididkan, nilai-nilai islami yang bertujuan menghidupkan, memelihara serta meningkatkan semangat dikalangan umat islam khusus nya dan bangsa Indonesia pada umumnya.
Pondok Pesantren Modern Al-Mizan berdiri pada tanggal 1 Mei 1993 berdasarkan Akta Notaris Nuzwar, SH Rangkasbitung Nomor 16 tanggal 15 maret 1993.

Pendiri Pondok Pesantren Modern Al-Mizan adalah Drs KH Anang Azhari Alie, M.Pd.I , ketika itu Pondok dibangun diatas tanah milik Bapak H Kustani yang berlokasi di jalan kapugeran dekat alun-alun Rangkasbitung di atas tanah seluas 316 m2 yan merupakan sebuah gudang balok yang kemudian disulap menjadi asrama putri yang serba darurat. Untuk asrama putra berlokasi di kantor PT Andi Jaya milik Bpk H Kustani yang berjarak 100 m dari asrama putri.

Suatu Lembaga pendidikan pasti dibagun karena memiliki tujuan tertentu dan pondok Pesantren Modern Al-Mizan  ini juga memiliki visi dan misi serta juga memiliki Tujuan dan disini ane mau menjabarkan hal tersebut. Al-Mizan sebagai pesantren prosfektif yang mampu mencetak santri berakhlaq mulia, berbadan sehat, kreatif, berpengetahuan luas dan berfikiran terbuka, berjiwa ikhlas, kebersahajaan, berukhuwah Islamiyah dan berdikari.

PROGRAM PENDIDIKAN

1. Program Diniyah Awaliyah. (Bagi Putra/I warga masyarakat sekitar pesantren ),
2. Program TMI Reguler/MTs dan Aliyah (masa tempuh 6 tahun bagi lulusan SD/MI),
3. Program TMI Intensif/Aliyah, program IPA & IPS (masa tempuh 3 tahun bagi lulusan SMP/MTs),
4. Pengembangan Tahfidzul Qur’an (masa tempuh 6 tahun bagi lulusan SD/MI) dan tenaga pengajar di lembaga pendidik ini berasal dari Tenaga pengajar yang diperbantukan di PPM Al-Mizan adalah mereka para sarjana S1 dan S2 yang memiliki latar belakang pendidikan yang cukup professional berasal dari berbagai perguruan tinggi dan para alumni dari berbagai pesantren.

Dan pendidikan di Pondok Pesantren Modern Al-Mizan mengharapkan kompetensi kelulusannya menguasai Kompetensi Spiritual; Menguasai dan mampu mengimplementasikan nilai ajaran Islam, Kompetensi Personal; Berakhlakul karimah, mandiri, kreatif dan inovatif, Kompetensi Sosial; mampu berinteraksi dan berkomunikasi efektif.

4. PONDOK PESANTREN MANAHIJUSSADAT


Lokasi : Serdang, Cibadak, Malabar, Cibadak, Kabupaten Lebak, Banten 42357

Pondok Pesantren Modern MANAHIJUSSADAT adalah lembaga pendidikan formal yang menyelenggarakan program pendidikan terpadu 24 jam dengan menggunakan bahasa Arab dan Inggris dalam percakapan sehari-hari.

Berdiri sejak tahun 1997 dan telah menghasilkan para alumni yang berkiprah di tengah-tengah masyarakat, baik di lembaga formal maupun non formal.

Pondok Manahij didirikan pada 03 agustus 1997 di rangkas bitung banten oleh KH. Sulaiman Effendi.

Pada masa itu masyarakat di sekitar pesantren masih dibawah setandar dalam pengetahuan agama,dan para santri yang mulai mendaftarkan diri pada saat itu belum tahu apa arti dan tujuan pondok pesantren berdiri,kemudian pimpinan dan guru-guru  menerapkan format baru dan mendirikan Pondok Manahij dengan mempertahankan  tradisi pesantren salaf,modern dan menerapkan system sekolahan umum.

Sementara para pengajarnya memulai beberapa Pesantren ternama di Nusantara dan para sarjana S1 dan S2 yang sesuai dengan bidangnya.

LEMBAGA PENDIDIKAN

- Madrasah Tsanawiyah (Mts)

Untuk tamatan SD / MI, masa studi 6 tahun diasramakan. Para lulusan mendapatkan Ijazah  Madrasah Tsanawiyah (MTs) terakreditasi “B” dan Ijazah Madrasah Aliyah (MA) terakreditasi “B” serta Ijazah Pondok.

- Madrasah Aliyah (Ma)

Untuk tamatan SMP / MTs, masa studi 4 tahun diasramakan. Para lulusan mendapatkan Ijazah Madrasah Aliyah (MA) terakreditasi “B” dan Ijazah Pondok.

Kurikulum KMI yang bersifat akademis dibagi dalam beberapa bidang, yaitu:

-  Bahasa Arab
-  Dirasah Islamiyah
-  Ilmu keguruan dan psikologi pendidikan
-  Bahasa Inggris
-  Ilmu Pasti
-  Ilmu Pengetahuan Alam
-  Ilmu menengah kejuruan(SMK)
-  Ilmu pertanian
-  Ilmu agri bisnis
-  Ilmu Pengetahuan Sosial
-  Keindonesiaan/ Kewarganegaraan.

KMI membagi pendidikan formalnya dalam perjenjangan yang sudah diterapkan sejak awal berdirinya pesantren. KMI memiliki program reguler dan program intensif, dan masih banyak lagi program lainnya.

5. PONPES SALAFIYAH AL FUTUHIYAH


Lokasi : Jl. Raya Cipanas-Warung Banten Km.4, Banjar Pahingeun, Banjar Irigasi, Lebak Gedong, Banjar Irigasi, Lebakgedong, Kabupaten Lebak, Banten 42372

Pondok Pesantren Salafiyyah merupakan pesantren mayoritas di wilayah Provinsi Banten termasuk “ Al-Futuhiyyah “ walaupun di jaman Moderen seperti sekarang ini dan mulai menjamurnya Pesatren-Pesantren Moderen khususnya di wilayah Banten, Al-Hamdullilah Pondok Pesantren Salafiyyah  Al-Futuihiyyah senantiasa eksis dan tetap pada komitmenya sebagai benteng perjuangan pendidikan maupun Syiar Islam dan mencetak kader-kader Ulama Salafy Solihin.

Pengasuh Pondok Pesantren Salafiah “Al-Futuhiyyah”, Buya KH. Ahmad Qurthubi Jaelani, dilahirkan pada tanggal 09 Maret 1971 M. di Kp. Buluheun Ds. Banjar Irigasi Kec. Cipanas Kab. Lebak Banten.

Setelah beliau lulus Sekolah Dasar ( SD ) Tahun Ajaran 1983-1984 M. beliau melanjutkan Pendidikanya ( Mesantren ) ke empat ( 4 ) Pondok Pesantren di Daerah Pandeglang Banten, kemudian di lanjutkan ke Ciamis Jawa Barat dan Kudus Jawa Tengah, terakhir di Sukabumi Jawa Barat, yang jumlah lama mesantrenya di seluruh Pesantren-Pesantren tersebut -+ 4 Tahun ( Bulan ).

Dalam waktu yang sangat singkat itu, dan umurnya yang masih muda ( 19 Tahun ), beliau di p[erintah oleh Gurunya Al-Mukarom KH. Badruddin Sofiyullah ( Sukabumi Jawa Barat ) agar mendirikan Pondok Pesantren Salafiyyah. Setelah adanya perintah dari Guru tersebut maka beliau memperbanyak Istikhoroh dan Kholwat memohon petunjuk kepada Allah SWT.

Akhirnya pada tanggal 24 Rajab 1411 H / 1990 M. beliau mendirikan Pondok Pesantren Salafiyyah “ Al-Futuhiyyah “ di Kp. Banjar Pangingeun Ds. Banjar Irigasi Kec. Lebak Gedong Kab. Lebak Prov. Banten.

6. PONDOK PESANTREN MODEREN DAARUSSA'ADAH


Lokasi : Jl. Raya Leuwidamar KM. 08, Cimarga, Marga Jaya, Cimarga, Kabupaten Lebak, Banten 42361

Pondok Pesantren Daarussa’adah di dirikan oleh K.H Hasan Aping (Alm) dan K.H Pupu Mahfuddin M.Pd.I pada tahun 1989 . Lahirnya Pondok Pesantren Daarussa’dah untuk mencetak kader muslim yang berakidah islamiah,berkualitas,berwawasan jauh kedepan mempunyai kesemimbangan antara ilmu dan amal serta keseimbangan antara dzikir dan fikir.

Untuk merealisasikan tujuan tersebut, Pondok Pesantren Daarussa’adah selain ditunjang oleh psilitas yang refresentatif, didukung juga oleh tenaga pendidikan yang propesional dibidangnya. Tenaga pendidik terdiri atas lulusan Pondok-pondok alumni Gontor, Gintung, dan para sarjana perguruan tinggi negeri dan suasta. Al-azhar University, UNPAD, UIJ, UNISBA, STAI, dan lain-lain. Allhamdullah Alumni Pondok Pesantren Daarussa’adah diterima di tengah-tengah masyarakat sebagai pemimpin pesantren, dai, mubaligh, guru ngaji, ustadz, dosen, PNS, Militer dan Lain-lain.

KURIKULUM PENDIDIKAN

Dalam proses pengembangan fikir dan dzikir Pondok Pesantren Daarusaadah memadukan kurikulum Pendidikan Nasional dan kurikulum Pesantren sebagai satuan pelajaran yng integral bahasa pengantar yang diggunaka Disesuaikan dengan mata pelajaran Bahasa Indonesia untuk mata pelajaran yang berbaris Nasional, Bahasa inggris dan Bahasa Arab untuk Mata Pelajaran yang berbaris Pesantren (Keagamaan), serta masih banyak lagi program lainnya.

7. PONDOK PESANTREN AL-IDRUS


Lokasi : Jl. Maulana Hasanuddin No.1, Kaduagung Tim., Kec. Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Banten 42317

Pondok Pesantren Al-Anwariyah Al-Idrus didirikan oleh KH. Nunung Anwarudin di kampung Kebonjati bertepatan tanggal 05 Rabiul Tsani 1402 M / tahun 1982 M.Berdirinya pondok pesantren tersebut disambut baik oleh masyarakat kampung Kebon Jati dan masyarakat diluar Wilayah Desa Pajagan dengan mengirimkan anak-anaknya untuk belajar Agama Islam dan menjadi santri muqim atau santri mufasir.

Keberadaan Pondok Pesantren Al-Anwariyah Al-Idrus cukup diakui oleh pemerintah daerah Kabupaten Lebak. Pemerintah menetapkan Pondok Pesantren Al-Anwariyah Al-Idrus sebagai lembaga penyelanggara Program Pendidikan Agama dan Keagamaan.

Pondok Pesantren Al-Anwariyah Al-Idrus hijrah Pada tanggal 07 Rabil Tsani 1433 H / 29 Pebruari 2012 M ke Kp. Pajagan karena tempat di Kp. Kebonjati terkena relokasi waduk karian. Hikmah dari hijrahnya Pondok Pesantren Al-Anwariyah Al-Idrus adalah KH. Nunung Anwarudin Sebagai Alumni Pondok Pesantren Al-Idrus Rancagawe mengembangkan Pondok Pesantren Al-Anwariyah Al-Idrus dengan mendirikan sebuah YAYASAN AL-ANWARIYAH AL-IDRUS dengan Akta Notaris: Aris Rismansyah, S.H, M.Kn. Lebak No. 02 Tanggal 11 Maret 2013 dan SK KEMENKUMHAM No: AHU-2191.AH.01.04.Tahun 2013. Pada tahun 2013 berdiri Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah dan sudah terakreditasi.

Itulah Deretan Pondok Pesantren Terbaik dan Terbesar di Kabupaten Lebak Banten, jika ada pertanyaan silahkan beri komentar pada kotak di bawah.

Thursday, August 8, 2019

Inilah 14 Pondok Pesantren Terbaik dan Terkenal di Banten

Berikut ini adalah daftar pondok pesantren Terbaik dan Populer di Provinsi Banten Indonesia :

1. PONDOK PESANTREN LA TANSA

Lokasi : Kampung Parakansantri, Banjar Irigasi, Lebakgedong, Kabupaten Lebak, Banten 42372

Pesantren ini didirikan oleh Drs. K.H. Ahmad Rifa'i Arief (Almarhum) yang bertindak juga sebagai pemimpin pesantren Daar el-Qolam (Pasir Gintung, Jayanti, Tangerang) saat itu. Kini, setelah pendiri wafat, Pesantren La Tansa dipimpin oleh K.H. Adrian Mafatihullah Karim, MA dan Dr. K.H. Sholeh, S.Ag, MM. Lembaga ini bernaung di bawah Yayasan La Tansa Mashiro, yang juga didirikan oleh Drs K.H. Ahmad Rifa'i Arief.

Pondok Pesantren La Tansa terlahir sebagai manisfestasi kebutuhan ummat akan pola dan sistem pendidikan yang sesuai dengan kondisi kekinian, kondisi di mana hajat akan terciptanya sebuah generasi yang tidak hanya mengejar nilai-nilai duniawi tetapi juga tidak menghilangkan nilai-nilai ukhrawi yang tertanam dalam kehidupan sehari-hari.

“Dan tuntutlah dengan apa yang telah diberikan Allah kepadamu kebahagiaan akhirat, dan jangan lupakan bagianmu di dunia, dan berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berlaku baik kepadamu, dan jangan membuat kerusakan di muka bumi, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang merusak” (QS Al-Qashash:77)

2. PONDOK PESANTREN DAAR EL-QOLAM



Lokasi : Jl. Raya Serang, Pasir Gintung, Jayanti, Tangerang, Banten 15610

Pondok Pesantren Daar el-Qolam (معهد دار القلم للتربية الإسلامية) adalah sebuah pondok pesantren berlokasi di Desa Pasir Gintung, Kecamatan Jayanti, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten yang didirikan pada tanggal 20 Januari 1968. Pesantren ini adalah gagasan Haji Qasad Mansyur yang direalisasikan oleh Drs. K.H. Ahmad Rifai Arief(1942-1997). Setelah K.H. Ahmad Rifa'i Arief meninggal dunia pada tanggal 15 Juni 1997, pondok ini dilanjutkan oleh K.H. Drs. Ahmad Syahiduddin, K.H. Adrian Mafatihullah Karimdan Hj. Enah Huwaenah. Lembaga pendidikan Islam ini adalah model integrasi antara sistem pendidikan pondok dengan sistem pendidikan madrasah dan sekolah. Hingga Juli 2012, Pondok Pesantren Daar el-Qolam merupakan pondok pesantren terbesar sedaerah Banten, dengan jumlah kurang lebih 5000 jiwa.

Adapun kurikulum yang diterapkan dalam Pondok Pesantren Daar el-Qolam mencakup pelajaran agama dan pelajaran umum yang terintegrasi. Setiap hari santri mendapatkan pelajaran 7 jam pelajaran, yang masing-masing berdurasi 45 menit, diselai oleh 25 menit istirahat, yang berkisar dari pukul 7:00 waktu setempat hingga pukul 15:00 waktu setempat. Di luar jam formal tersebut, santri juga mendapatkan pengajaran al-Quran, kitab kuning, dan kursus-kursus yang bisa diikuti sesuai dengan minat dan kemampuan santri itu sendiri, seperti kursus Bahasa Inggris, kursus Bahasa Arab, kursus komputer, kursus bela diri, dan lain sebagainya.

Integrasi sistem itu juga memudahkan para santri untuk melanjutkan pendidikannya pada tingkat pendidikan tinggi, khususnya ke Institut Agama Islam Negeri (IAIN) yang memang diperuntukkan untuk para lulusan madrasah dan pesantren. Bekal bahasa Arab dan Inggris yang telah diberikan semasa belajar di pondok, memudahkan para santri untuk memahami kurikulum pada IAIN. Beberapa santri Daar el-Qolam yang menjadi mahasiswa berprestasi di IAIN. Selain itu pula, banyak pula santri yang melanjutkan pendidikan ke Timur Tengah seperti Mesir, Makkah dan Madinah.

Mulai tahun ajaran 2007/2008, Pondok Daar el-Qolam mencanangkan program kelas unggulan, yang disebut dengan Program Excellent Class. Di dalam program itu, semua siswa yang telah lolos kualifikasi dari segi nilai rata-rata saat kenaikan (minimal 6.25) dan kelakukan bisa merasakan pengalaman yang sedikit berbeda dengan kelas biasa. Di masing-masing kelas, yang terdapat 25 kelas itu, terdapat proyektor berteknologi Digital Light Processing (DLP) dan juga diizinkannya mereka untuk membawa dan menggunakan Internet melalui komputer atau notebook milik sendiri (dengan skema Bring Your Own Device/BYOD) di luar jam pelajaran formal (seperti waktu istirahat dan malam hari), tentu saja untuk menunjang pembelajaran.

3. PONDOK PESANTREN RIYADHUSHOLIHIIN


Lokasi : Jl. Kadukacang KM.0,5, Rocek, Cimanuk, Batubantar, Cimanuk, Kabupaten Pandeglang, Banten 42271

Pondok Pesantren Riyadhussholihiin dibangun di atas pondasi TAQWA dengan Asas Al-Qur’an dan Sunnah, berupaya mengembalikan masyarakat islam kepada jalan Islam yang sesungguhnya yang datang dari Allah dan Rosul-Nya serta berupaya mendidik dan membekali kader dakwah dengan Aqidah Sholihah, ‘Ibadah, Adab dan Akhlak dan Mu’amalah berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah dengan Manhaj Salafus Sholeh, Ahlus Sunnah wal Jama’ah serta ditambah materi khusus Hafalan Qur’an juga dipadu dengan Ilmu umum dan keterampilan yang dibimbing oleh tenaga pengajar lulusan dalam dan luar negeri.

Pondok pesantren yang bertempat di bawah kaki dua gunung Pulau Sari dan gunung Karang ini Insya Allah dibangun di atas pondasi taqwa dan asas Al-Qur’an dan As-sunnah, dengan berupaya mengembalikan masyarakat islam secara khusus yang sudah banyak terkontaminasi dengan ajaran-ajaran dan pemikiran-pemikiran yang menyimpangkan mereka dari jalan yang lurus dan agama yang hanif, kepada jalan islam yang sesungguhnya yang datang dari Allah Ta’ala dan Rasul-Nya.

Kurikulum di Pondok Pesantren Riyadhussholihiin terdiri dari kurikulum yang dipadukan antara:

1. Kurikulum Dinas Pendidikan (KTSP) dan Kurikulum Diniyyah Pondok Pesantren Riyadhussholihiin dengan rincian sebagai berikut :

- Kurikulum KTSP, kurikulum operasional yang disusun, dikembangkan, dan dilaksanakan oleh setiap satuan pendidikan dengan memperhatikan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang dikembangkan Badan Standar Nasional Pendidikan ( BSNP ).

Adapun Kurikulum KTSP yang kami gunakan yaitu: Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Biologi, Ekonomi, Fisika, Geografi, IPA, IPS, Kimia, Matematika, Sosiologi, Teknologi Informasi dan Komunikasi.

2. Kurikulum Diniyah Pondok Pesantren Riyadhussholihiin terbagi menjadi 2 bagian yaitu Pendidikan Agama dan Bahasa Arab dengan rincian sebagai berikut:
- Pendidikan Agama (Akhlaq, Faraidh, Fiqih, Hadits, Hifdzul Mutun, Manhaj, Qawaa`id Fiqhiyyah, Siroh, Tafsir, Tajwid & Tahsin, Tauhid, Ushul FiqihUshul Tafsir.
- Bahasa Arab (Al-'Arabiyah Linnasyi'in, Adab, Balagoh, Imla, Khot, Nahwu, Shorof, Ta`bir.

4. PONDOK PESANTREN AL-MUBAROK SERANG


Lokasi : Cimuncang, Kec. Serang, Kota Serang, Banten 42117

Pondok Pesantren Al-Mubarok Serang adalah sebuah pesantren yang berada di jalan KH. Abdul Latif nomor 07 Cimuncang Sumur Pecung, Kabupaten Serang, provinsi Banten, Indonesia.

Kurikulum yang digunakan mengacu pada Kurikulum Nasional dengan Muatan Lokal disesuaikan dengan Kurikulum Pondok Pesantren Modern Al-Mubarok. Selama 24 jam santri dibimbing oleh Dewan Guru dan Pengasuh Pesantren dengan landasan Panca Jiwa Pondok Pesantren (Keikhlasan, Kesederhanaan, Berdikari, Ukhuwah Islamiyah, Bebas Berfikir) dan memperhatikan perkembangan jiwa anak usia remaja.

Pondok Pesantren Al-Mubarok Serang memiliki ciri khas dalam mendidik, membina, dan membimbing santri. Hal ini dilakukan dengan cara kegiatan mengaji Al-Qur’an, kitab-kitab kuning, dan keterampilan. Mengaji dalah kegiatan utama para santri sementara sebagai penunjang, diberikan keterampilan-keterampilan sebagai bekal kelak para santri selepas keluar dari Pondok Pesantren Al-Mubarok Serang dalam mendakwahkan Islamiyah.

Seperti halnya pondok Pesantren lain, Pondok Pesantren Al-Mubarok Serang, juga mengajarkan materi-materi standar dan khas Pesantren. Diantaranya, dalam bidang fiqih, kitab yang dipeljari adalah : Safinatun-Najah, Taqrib, Fathul Qorib, Tadhib. Dalam bidang nahwu, para Santri diajarkan kitab yaitu : Matan Al-Jurumiyah, Awamil, Muhtashor Jidan, Imriti, dan Al-Fiyah Ibnu Malik. Sementara dalam bidang shorof, para santri diajarkan kitab kailany, Matan Bina. Kemudian para Santri juga diajarkan kitab-kitab yang lainnya seperti : Durotun Nasihin, Sullamut-Taufiq, Ta’lim Muta’lim dan tafsir Jalalain.

5. PONDOK PESANTREN NUR EL FALAH KUBANG


Lokasi : Desa Kubang Jaya, Kadugenep, Petir, Serang, Banten 42172

Pondok pesantren Nur El Falah didirikan pada tahun 1943 oleh Almarhum KH.Abdul Kabier (tokoh pendidikan Banten) murid dari Hadrotusyaikh KH.Hasyim Asyari (Pendiri Nahdlatul Ulama) yang beralamatdi kp. Kubang Ds.Kubang Jaya Kec.Petir Kab. Serang Banten.  Pondok Pesantren Nur El Falah saat ini konsisten mencetak kader ulama yang intelek sesuai visi misi dari didirikannya pesantren ini dan tahun ini pesantren serius membangun pesantren berbasis teknologi sehingga orang tua santri dapat melakukan pemantauan kegiatan santri dengan cara online baik kehadiran, kesehatan, kegiatan, nilai, prestasi, tabungan dan pelanggaran.

Kegiatan pendidikan di Pondok pesantren ini terbagi menjadi empat tahapan, yaitu:

1. Al-Mubtadi yaitu santri dibimbing menguasai 140 masalah agama dasar baik dari segi aqidah, fiqih ibadah, muamalah dan amaliyah harian sehingga para santri dapat beribadah dengan baik dan juga mampu memimpin Doa, tahlil dan fase ini di tempuh dalam waktu paling lama 5 bulan.

2. Tsanawi yaitu para santri di bina untuk mampu berkomunikasi menggunakan 2 bahasa Internasional  Bahasa Arab dan Inggris dan fase ini di selesaikan santri dalam waktu 6 bulan.

3. Aliyah yaitu fase dimana santri mempelajari kaidah Ilmu Nahwu dan Sharaf serta dibimbing untuk dapat menerapkan kaidah yang di kuasai untuk membaca Kitab Kuning dengan baik dan fase ini diselesaikan dengan waktu 6 bulan.

4. Ulya merupakan fase dimana para santri mendapatkan bimbingan ilmu ilmu keagamaan baik dalam Aqidah, Al-Quran, Hadits, Akhlaq, Fiqh, Usul Fiqih Tajwid, Tafsir, Balaghah, Mantiq dan lain-lain.

Program Unggulan Pesantren Nur El Falah antara lain:

1. Para santri dites potensi menggunakan sidik jari dan akan diketahui dari hasil tes berupa potensi, cara belajar, keahlian bakat dan lain lain.

2. Para santri juga dibina untuk dapat menguasai komputer dan Teknologi

3. Pesantren memiliki kegiatan Tahunan mendatangkan Syekh dari Al-Azhar Mesir untuk membimbing para santri agar dapat membaca Al-Quran dengan Baik dan pelatihan Hafal alQuran tanpa menghafal.

Pesantren memiliki jenjang pendidikan formal yang lengkap sehingga santri dapat memilih sesui dengan keinginannya. Pesantren memiliki jenjang pendidikan formal seperti Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (Mts), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Madrasah Aliyah (MA), Sekolah Menengah Atas ( SMA), Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan Perguruan tinggi STAIKHA (Sekolah Tinggi Agama Islam KH.Abdul Kabier).

6. PONDOK PESANTREN MODERN ASSA'ADAH


Lokasi : Jl. Raya Serang-Pamarayan KM.25, Dahu, Cikeusal, Dahu, Cikeusal, Serang, Banten 42175

Pada tahun 1985, atas dasar musyawarah keluarga, sesepuh dan tokoh masyarakat kampung Pasir manggu, terbentuklah sebuah Yayasan dengan nama Yayasan Assa’adah – sesuai dengan nama tempat diadakannya musyawarah yaitu Masjid Jami’ As-Sa’adah – dan tercatat dalam akta notaris Mahmudah Rijanto no. 6 tanggal 5 Desember 1985.

Dan pada tahun 1989 Yayasan Assa’dah memulai operasional Pondok Pesantren Modern Assa’adah dengan mengelola dan menyelenggarakan pendidikan formal dan menerapkan sistem asrama. Pada perkembangannya dalam hal operasionalisasi kegiatan, Pondok Pesantren Modern Assa’adah mengacu kepada standar isi dan arahan dari Departemen Agama dan Depertemen Pendidikan Nasional dan berafiliasi kepada Pondok Pesantren Modern Darussalam Gontor dalam hal pembinaan kepribadian santri. Adapun tingkat pendidikan yang diselenggarakan pada saat itu adalah Madrasah Tsanawiyyah (MTs) dan Madarasah Aliyah (MA)

Pondok Pesantren Modern Assa’adah menerapkan sistem pendidikan modern, dimana para santri tidak hanya belajar ilmu dan kajian kitab-kitab klasik (kitab kuning) tetapi juga mengajarkan santri ilmu pengetahuan umum seperti Matematia, Biologi, Fisika, Kimia, Bahasa Inggris, Teknologi dan informasi dalan lain sebagainya. Dan format pelaksanaan proses pembelajaran dibuat classical dimana satri tidak lagi belajar dengan format sorogan.

Walaupun format proses pembelajaran didesign modern, namum Pondok Pesantren Modern Assa’adah dalam prakteknya tetap melestarikan budaya pesantren tradisional dengan tetap mengajarkan kajian kajian kitab-kitab klasik (kitab kuning) sebagai ciri khas pesantren di Indonesia.

7. PONDOK PESANTREN PUTRI AL-MANSHUR DARUNNAJAH 3

Lokasi : Jalan Raya Palka KM. 07, Nangkabongkok, Pabuaran, Kec. Pabuaran, Serang, Banten 42163

Pondok Pesantren Putri Darunnajah 3 Al-Manshur Serang Banten adalah lembaga pendidikan Islam modern yang menerapkan sistem kurikulum terpadu, pendidikan berasrama serta pengajaran bahasa Arab dan Inggris yang intensif.

Lingkungan asri dan alami yang didukung dengan fasilitas lengkap, membuat santri-santri Al-Manshur selalu bersemangat dalam menuntut ilmu. Pesantren Al-Manshur menyelenggarakan pendidikan dari tingkat Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ), Madrasah Diniyah (MD), Madrasah Ibtidaiyah (MI) sampai Sekolah Menengah Pertama (SMP/SLTP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA/SLTA).

8. PONDOK PESANTREN MODERN AL-MIZAN

Lokasi : Jl. Jenderal Sudirman Km.3, Narimbang Mulia, Rangkasbitung, Narimbang Mulia, Kec. Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Banten 42315

Pondok Pesantren Modern Al-Mizan adalah sebuah lembaga sosial yang bergerak dalam kegiatan pendididkan, nilai-nilai islami yang bertujuan menghidupkan, memelihara serta meningkatkan semangat dikalangan umat islam khusus nya dan bangsa Indonesia pada umumnya.

Pondok Pesantren Modern Al-Mizan berdiri pada tanggal 1 Mei 1993 berdasarkan Akta Notaris Nuzwar, SH Rangkasbitung Nomor 16 tanggal 15 maret 1993. Pondok Pesantren Modern Al-Mizan pertama membuka penerimaan siswa/i tanggal 10 juni 1993, alhamdulillah pada tahun pertama Pondok Pesantren Modern AL-Mizan menerima 67 santri putra dan putri dari berbagai daerah.

Pendiri Pondok Pesantren Modern Al-Mizan adalah Drs KH Anang Azhari Alie, M.Pd.I , ketika itu Pondok dibangun diatas tanah milik Bapak H Kustani yang berlokasi di jalan kapugeran dekat alun-alun Rangkasbitung di atas tanah seluas 316 m2 yan merupakan sebuah gudang balok yang kemudian disulap menjadi asrama putri yang serba darurat.

Untuk asrama putra berlokasi di kantor PT Andi Jaya milik Bpk H Kustani yang berjarak 100 m dari asrama putri.
Suatu Lembaga pendidikan pasti dibangun karena memiliki tujuan tertentu dan pondok Pesantren Modern Al-Mizan  ini juga memiliki visi dan misi serta juga memiliki Tujuan dan disini ane mau menjabarkan hal tersebut.

Al-Mizan sebagai pesantren prosfektif yang mampu mencetak santri berakhlaq mulia, berbadan sehat, kreatif, berpengetahuan luas dan berfikiran terbuka, berjiwa ikhlas, kebersahajaan, berukhuwah Islamiyah dan berdikari.

Saat ini PPM Al-Mizan hingga kini telah mengeluarkan ribuan alumni, sebagian besar dari mereka melanjutkan ke PTN dan PTS baik dalam maupun luar negeri (Malaysia, Mesir, Yordania,  Yaman, Iran,) mereka tersebar di segala jurusan seperti : Keagamaan, Kedokteran, Ekonomi, Perbankan, Teknik, Akper, Akbid, Akpol, Akmil, Komputer, Hukum, Pertanian, Pariwisata, Psikologi dll. Sebagian mereka telah bekerja baik di sektor formal maupun nonformal atau terjun di lembaga pendidikan, organisasi keagamaan dan organisasi politik.

9. PONDOK PESANTREN DAARUTTASBIH AR-RAFI

Lokasi : Jl. Puri Agung No.RT 03/04, Gelam Jaya, Kec. Ps. Kemis, Tangerang, Banten 15560

Pondok Pesantren Daarut Tasbih Ar-Rafi atau biasa dikenal Pondok Pesantren Daarut Tasbih adalah salah satu Pondok Pesantren di Jl. Raya Puri Agung RT.03 / RW.04, Gelam jaya, Pasarkemis, Kuta Jaya, Tangerang, Banten. Pesantren ini dikenal sebagai pesantren rahabilitasi bagi orang-orang yang mengalami gangguan jiwa, pengobatan bagi pecandu narkoba, dan keterbelakangan mental.

Yayasan Pondok Pesantren Daarut Tasbih Ar-Rafi telah memiliki lembaga yang bergerak di bidang pendidikan, yaitu Lembaga Pendidikan Islam Daarut Tasbih dengan jenjang pendidikan yang sudah ada saat ini yaitu Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Taman Pendidikan Al-qur’an (TPA), Taman Kanak-Kanak (TK), Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan Sekolah Menengah Atas (SMA) dengan Tanpa Dipungut atau Biaya Gratis untuk Anak - Anak Yatim, Yatim Piatu, Fakir Miskin yang kurang dan tidak mampu.

10. PONDOK PESANTREN MANAHIJUSSADAT

Lokasi : Serdang, Cibadak, Malabar, Cibadak, Kabupaten Lebak, Banten 42357

Pondok Pesantren Modern MANAHIJUSSADATadalah lembaga pendidikan formal yang menyelenggarakan program pendidikan terpadu 24 jam dengan menggunakan bahasa Arab dan Inggris dalam percakapan sehari-hari.

Berdiri sejak tahun 1997 dan telah menghasilkan para alumni yang berkiprah di tengah-tengah masyarakat, baik di lembaga formal maupun non formal.

Sementara para pengajarnya memulai beberapa Pesantren ternama di Nusantara dan para sarjana S1 dan S2 yang sesuai dengan bidangnya.

11. PONDOK PESANTREN MODERN DAREL AZHAR

Lokasi : Jl. Komp. Pendidikan No.RT 08/09, Muara Ciujung Tim., Kec. Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Banten 42314

Sejarah awal berdirinya Pondok Modern Daar El – Azhar berawal dari banyaknya minat terhadap pendidikan pesantren begitu besar dan respon dari masyarakat begitu baik, maka pada 1991 –1992 mulailah dirintis pendidikan dan pengajaran extra di asrama (di luar jam sekolah) yang dinamakan “Persemaian Santri Madinah el-Tullab”.

Santri pada waktu itu  berasal dari tingkat SD, SMP, SMEA, dan STM. Mereka digembleng sebelum dan sepulang sekolah.Seiring dengan berjalannya waktu dan bertambahnya kebutuhan pendidikan dan pengajaran, maka diperlukan elaborasi sistem pendidikan dan pengajaran selama 24 jam.

Bermula dari seorang figur Drs. K H. Ikhwan Hadiyyin, MM yang meneguhkan cita-cita sucinya yang taken for granted, santri dari berbagai tingkat (SD, SLTP dan SLTA) dan berbagai daerah yang berjumlah 17 serta dukungan penuh 11 orang tenaga pengajar dengan menggunakan fasilitas Madrasah Diniyah sebagai ruang belajar dan rumah Bapak H. A. Damanhuri, BA (Alm) Ketua Yayasan Nurul Hasanah sebagai Asrama.

Pada 3 Maret 1995 itulah, diiringi dengan niat Jihad li I’lai Kalimatillah sebagai kredonya, Bismillah Pondok Pesantren Modern Daar el-Azhar  didirikan.

Semakin hari bilangan santri semakin bertambah, sehingga rumah kyai tidak mencukupi. Para santri berinisiatif untuk mendirikan sebuah Gedung yang yang dibiayai keluarga yayasan kelak kemudian hari disebut Al-Azhar Building yang berlokasi + 400 M dari lokasi semula. Dengan Self Berdruifing System (sama-sama membayar dan sama-sama memakai) gedung tersebut akhirnya terwujud dan menjadi titik sejarah perkembangan Daar el-Azhar di kemudian hari.

 Berangkat dari sinilah Sang Kiai dan semua Pendidik menyetrum santri-santri dengan berbagai doktrin-doktrin religius, scince, bimbingan-bimbingan etos kerja yang tinggi dalam bekerja, pemahaman cultur Islam, dan jiwa-jiwa keislaman yang berfundamental Quran dan Hadist (Holy Book dan Propetic Tradition) sebagai pedoman hidup. Bekerja dengan Ihsan yaitu bekerja sebaik-baiknya guna mencapai tujuan yang optimal, tidak setengah-setengah atau mediocre.

12. PONDOK PESANTREN SALAFI NAHDLATUL ULUM CEMPAKA

Lokasi : Jl. Raya Kresek No.10, Renged, Kec. Kresek, Tangerang, Banten 42196

Pondok Pesantren Salafiyah Nahdlatul Ulum (NU) berdiri tanggal 23 Sya’ban 1423 H bertepatan dengan tahun 2002. Semula Pondok pesantren ini menggunakan metode salafiyah murni tidak menyelenggarakan pendidikan formal. Basis pengkajian Ponpes ini adalah kitab kuning dengan target capaian dalam tiga tahun santri telah dapat membaca kitab kuning.

Bertepatan dengan tanggal 1 Muharram 1431 atau 18 Desember 2009 mengakomodir pendidikan formal berupa Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah.

Metode pembelajaran yang diterapkan Pondok Pesantren Salafiyah NU terdiri dari dua metode:

Santri belajar di madrasah dari jam 8.00-12.30 sebagaimana laiknya pembelajaran MTs/MA lainnya.

Santri belajar kitab kuning dengan cara klasikal di waktu sore, malam, dan subuh dengan cara klasikal sesuai kemampuan siswa, tidak menilai klas berapa dia di madrasah. Bisa jadi klas XII MA berada satu kelas dengan kelas VII MTs bila kemampuannya dalam kitab kuning dianggap belum laik berada di klas yang lebih tinggi, begitupula sebaliknya.

13. PESANTREN NURUL ILMI DARUNNAJAH 14

Lokasi : Jl. Raya Palka Km. 05, Pabuaran, Sindangheula, Kec. Pabuaran, Kota Serang, Banten 42163

Pesantren Nurul Ilmi Darunnajah 14 berada di Pabuaran Serang Banten. Pondok Pesantren Modern terbaik ini memiliki dua jenjang pendidikan, yaitu SMP (Sekolah Menengah Pertama), dan SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) jurusan Multimedia.

Pondok Pesantren Nurul Ilmi khusus menerima santri putra dan menyediakan beasiswa bagi santri berprestasi. Nurul Ilmi memiliki banyak kegiatan ekstrakulikuler seperti pramuka, seni bela diri, public speaking (latihan pidato), kursus programming, robot, desain, dan bebagai cabang olah raga seperti futsal, basket, volly, badminton.

Pondok Pesantren Modern Nurul Ilmi memiliki banyak prestasi dalam bidang IT (Informasi dan Teknologi), sering menjadi juara dalam perlombaan dari taraf regional sampai nasional.

Nurul Ilmi memiliki fasilitas lengkap seperti asrama, masjid, koperasi, laboratorium komputer, lapangan futsal, lapangan basket, lapangan badminton, guest house (penginapan), perkantoran, gedung sekolah, ruang rapat, kantor organisasi santri, dll.

14. PONDOK PESANTREN AL RAHMAH WALANTAKA

Lokasi : Lebakwangi, Kec. Walantaka, Kota Serang, Banten 42183

Pondok pesantren Al-Rahmah adalah lembaga pendidikan di bawah naungan Yayasan Rahmatan Lil'alamin, menginduk pada pondok pesantren Darussalam Gontor. Terletak di Desa Lebakwangi, Kecamatan Walantaka, Kota Serang, Banten. Daerah pondok pesantren seluas 5 Ha diorientasikan pada aktivitas santriwan dan santriwati untuk pembentukan generasi Islam yang handal dan berintegritas tinggi.

Pondok Pesntren Al Rahmah menekankan pada pembentukan pribadi mukmin muslim yang berbudi tinggi, berbadan sehat, berpengetahuan luas dan berpikiran bebas. Kriteria atau sifat-sifat utama ini merupakan motto pendidikan di Pondok Pesntren Al Rahmah.

Itulah 14 pondok pesantren Terbaik dan Populer di Provinsi Banten.

Wednesday, August 7, 2019

Hukum, Syarat Dan Manfaat Qurban Idul Adha Dalam Islam

Qurban adalah salah satu ibadah dalam agama islam yang mana dilakukannya penyembelihan binatang ternak yang di lakukan sebagai wujud pengorbanan umat muslim. Ibadah qurban dilakukan pada bulan dzulhijah dalam penanggalan hijiriah, tepatnya pada 10 dzulhijjah.

Ibadah qurban diawali dalam sejarah Nabi Ibrahim dan Ismail, yang kisahnya tertuang di dalam Al-qur’an surat Ash shaafaat : 102-107.

“ Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya ), dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata, dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.”

HUKUM QURBAN BAGI UMAT ISLAM

Orang yang disyariatkan bequrban adalah orang yang mampu melaksanakan qurban. Memang ada dua pendapat tentang syariat qurban ini. Pendapat pertama mewajibkan, inilah pendapat yang dianut oleh Imam Hanafi. Pendapat yang kedua menyatakan bahwa hukum berqurban adalah sunnah muakkadah. Tapi inti dari kedua pendapat ini adalah bahwa berqurban disyariatkan kepada orang yang mampu. Berdasarkan hadits Rosulullah SAW, dari Abu Hurairah ra berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda:

”Siapa yang memiliki kelapangan tapi tidak menyembelih qurban, janganlah mendekati tempat shalat kami”. (HR. Ahmad, Ibnu Majah dan Al-Hakim menshahihkannya).

Adapun yang tidak mampu tidak disyariatkan berqurban, bahkan merekalah yang berhak menerima daging qurban.

Karena sesungguhnya banyak sekali manfaat dari berqurban yang bisa dirasakan oleh umatnya baik di dunia maupun di akhirat nanti. Qurban dapat menutup segala amalan buruk yang pernah Anda perbuat, khususnya untuk umat muslim yang rajin melakukannya. Tidak hanya itu, qurban juga dapat mempererat tali silaturahmi antar umat muslim. Dengan melakukan ritual qurban mulai dari membeli, menyembelih dan membagikan daging qurban, kita telah meningkatkan solidaritas antar umat muslim.

Dengan berqurban kita juga dapat menabung bekal pahala untuk di akhirat nanti, karena malaikat akan mencatat segala amal baik yang kita lakukan. Tidak akan merugi umat muslim yang selalu berqurban setiap tahunnya, apapun hukum qurban dalam islam. Karena islam mengajarkan kita sebagai umatnya untuk selalu menjalankan amanah dan perintah Nya.

Hukum qurban dalam islam seharusnya memang diwajibkan bagi umat muslim yang dirasa mampu dalam segi materi. Karena rezeki itu berasal dari Allah dan akan kembali pada Allah. Jika Anda sbagai umat muslim sudah berhasil menggunakan dan mengamalkannya dengan baik, maka harta yang Anda gunakan tersebut akan menjadi tabungan amal Anda di akhirat nanti.

Sebelum berqurban ada baiknya Anda mengetahui apa saja persyaratan yang harus dipenuhi agar qurban Anda sah di mata Allah. Hewan yang akan Anda kurbankan harus terbebas dari segala cacat yang terlihat oleh mata. Harus sehat dan tidak boleh ada penyakit. Karena dalam islam, dilarang untuk membunuh hewan atau binatang yang sedang sakit. Hukum qurban idul adha wajib dilaksanakan sesaat setelah pelaksanaan sholat idul adha. Karena jika dilaksanakan sebelum atau berjarak jauh dari selesainya sholat idul adha, qurban tidak akan sah di mata Allah.

Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam selalu berqurban setiap tahun. Namun tidak dinukil riwayat bahwasanya beliau mempergilirkan qurban, kepada istri-istrinya dan anak-anaknya. Bahkan beliau menganggap qurban beliau sudah mencukupi seluruh keluarganya. Dari Anas bin Malik radhiallahu’anhu, beliau berkata:

ضحَّى رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ بكبشَيْنِ أقرنيْنِ أملحيْنِ أحدِهما عنهُ وعن أهلِ بيتِه والآخرِ عنهُ وعمَّن لم يُضَحِّ من أمَّتِه

“Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam berqurban dengan dua domba gemuk yang bertanduk salah satunya untuk diri beliau dan keluarganya dan yang lain untuk orang-orang yang tidak berqurban dari umatnya” (HR. Ibnu Majah no.3122, dihasankan oleh Al Albani dalam Irwaul Ghalil.

Beliau juga mengatakan:

فإن قال قائل: لعل ذلك لفقرهم؟ فالجواب: إن هذا احتمال وارد لكنه غير متعين، بل إنه جاءت الآثار بأن من أزواج الرسول عليه الصلاة والسلام من كانت غنية

“Jika ada orang yang berkata: mungkin itu karena Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam sangat miskin? Maka kita jawab: memang kemungkinan tersebut ada, namun tidak bisa kita pastikan. Bahkan terdapat banyak atsar yang menunjukkan bahwa para istri-istri Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam adalah orang-orang kaya“ (Durus Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, 8/5).

Dan perlu diperhatikan bahwa ibadah qurban ini wajib ikhlas hanya untuk meraih wajah Allah Ta’ala. Hendaknya jauhkan perasaan ingin dilihat, ingin dikenal pernah berqurban, ingin nampak namanya atau semisalnya yang merupakan riya dan bisa menghanguskan pahala amalan. Karena terkadang alasan orang berqurban atas nama istrinya atau anaknya karena anak dan istrinya belum pernah nampak namanya dalam list shahibul qurban. Allahul musta’an. Oleh karena itulah dalam hadits Abu Ayyub di atas disebutkan:

ثمَّ تباهى النَّاسُ فصارَ كما ترى

“Kemudian setelah itu orang-orang mulai berbangga-bangga sebagaimana engkau lihat”

Di sisi lain, ulama Malikiyah dan sebagian ulama Syafi’iyyah mensyaratkan yang berqurban haruslah yang memberikan nafkah, barulah mencukupi untuk satu keluarga. Dalam kitab Al Muntaqa karya Al Baji disebutkan:

والأصل في ذلك حديث أبي أيوب كنا نضحي بالشاة الواحدة يذبحها الرجل عنه وعن أهل بيته زاد ابن المواز عن مالك وولديه الفقيرين قال ابن حبيب: وله أن يدخل في أضحيته من بلغ من ولده وإن كان غنيا إذا كان في نفقته وبيته

“Landasan dari hal ini adalah hadits Abu Ayyub: ‘dahulu kami biasa berqurban dengan satu kambing yang disembelih SEORANG LELAKI untuk dirinya dan keluarganya’. Dalam riwayat Ibnu Mawaz dari Malik adal tambahan: ‘dan orang tuanya dan orang fakir yang ia santuni’. Ibnu Habib mengatakan: ‘Maka boleh meniatkan qurban untuk orang lain yang bukan keluarganya, dan ia orang yang kaya, jika memang orang lain tersebut biasa ia nafkahi dan tinggal di rumahnya'”

Sehingga dengan pendapat ini, jika yang berqurban adalah istri atau anak, maka qurban tidak mencukupi seluruh keluarga.

Walhasil, kami bertanya kepada beberapa ulama dalam masalah ini, dengan teks pertanyaan, “wahai Syaikh, terkait qurban. Diantara kebiasaan di negeri kami, seorang lelaki misalnya tahun ini berqurban, namun tahun depan dia tidak berqurban melainkan istrinya yang berqurban. Tahun depannya lagi anak pertamanya, dan terus demikian secara bergiliran. Apakah ini baik?”.

Syaikh Walid Saifun Nashr menjawab:

لا أعلم له أصلا

“Saya tidak mengetahui ada landasan dari perbuatan ini”.

Syaikh Dr. Aziz Farhan Al Anazi menjawab:

الأصل أن على ان أهل كل بيت أضحية والذي يتولى ذلك الوالد لانه هو المكلف بالإنفاق على زوجته واولاده

“Asalnya tuntutan untuk berqurban itu pada setiap keluarga, dan yang bertanggung-jawab untuk menunaikannya adalah suami karena dia yang wajib memberikan nafkah kepada istri-istri dan anak-anaknya”

SYARAT DALAM BERQURBAN

Islam telah menentukan ketetapan jumlah orang dalam berqurban sebagaimana yang dijelaskan dalam sabda Rosulullah SAW. Untuk kambing hanya diperbolehkan satu orang saja yang menjadi pequrban dan tidak boleh berpatungan dengan yang lainnya. Sedangkan sapi dan sejenisnya serta unta diperbolehkan berpatungan dengan jumlah tujuh orang. Hal ini berdasarkan hadits Rosulullah SAW :

“Kami menyembelih hewan pada saat Hudaibiyah bersama Rasulullah SAW. Satu ekor badanah (unta) untuk tujuh orang dan satu ekor sapi untuk tujuh orang”.(HR. Muslim, Abu Daud dan Tirmizy)

Dalam hadits lain disebutkan :”Seseorang laki-laki menjumpai Rasulullah saw. dan berkata, “Saya harus menyembelih Badanah (Sapi/Unta) dan saya memang seorang yang mampu, tetapi saya tidak mendapatkan Badanah itu untuk dibeli dan disembelih,” Rasulullah saw. kemudian menyuruh laki-laki itu membeli 7 ekor kambing untuk disembelihnya (HR. Ahmad dan Ibnu Majah dari Abu Abbas).

Demikian juga dalam riwayat Muttafaqun alaih dari Jabir, ia berkata : “Aku disuruh Rasulullah saw. bersekutu dalam seekor unta dan sapi untuk tujuh orang satu ekor badanah (sapi/unta)” (HR. Ahmad Bukhari dan Muslim), dan masih banyak riwayat lainnya yang menjelaskan masalah ini.

Hadits-hadits tersebut menerangkan bahwa hewan jenis sapi dan sejenisnya serta unta diperbolehkan berpatungan dengan jumlah tujuh orang. Sedangkan hewan jenis kambing tidak ada keterangan yang menyatakan boleh lebih dari satu orang. Karena itu para fuqaha sepakat bahwa kambing dan yang sejenisnya tidak boleh disembelih atas nama lebih dari satu orang.

Bagi yang Memiliki Qurban, jangan Memotong Rambut dan Kukunya setelah Masuknya 10 Dzul Hijjah hingga Dia Berqurban

“Dari Ummu Salamah, bahwasanya Rasulullah saw bersabda: “Apabila kalian melihat hilal bulan Dzulhijjah dan salah seorang di antara kalian hendak menyembelih, maka hendaknya dia menahan (yakni tidak memotong, pent) rambut dan kukunya.”(HR. Muslim).

Imam Nawawi berkata: “Maksud larangan tersebut adalah dilarang memotong kuku dengan gunting dan semacamnya, memotong rambut; baik gundul, memendekkan rambut,mencabutnya, membakarnya atau selain itu. Dan termasuk dalam hal ini, memotong bulu ketiak, kumis, kemaluan dan bulu lainnya yang ada di badan (Syarah Muslim 13/138).”

ORANG YANG MELAKUKAN PENYEMBELIHAN TIDAK BOLEH DIBERI UPAH DARI HEWAN QURBAN

Apabila penyembelihan dilakukan oleh orang lain atau tukang potong dan perlu diberi upah, maka upah itu tidak boleh diambil dari hewan qurban tersebut, misalnya upah tukang potong adalah kepala kambing atau kulit kambing dan sebagainya. Jika penyembelih atau pemotong hewan tersebut termasuk orang yang berhak menerima daging qurban, itu adalah hal lain.

Jika orang itu berhak menerima daging qurban, apakah ia sebagai penyembelih atau bukan, ia tetap berhak mendapatkannya. Ia mendapatkan daging qurban itu bukan sebagai penyembelih, tetapi sebagai orang yang berhak. Dalam suatu hadits dinyatakan :

“Saya diperintah oleh Rasulullah saw untuk menyembelih unta-untanya, membagi-bagikan kulit dan dagingnya dan saya diperintahkan agar tidak memberikan sesuatupun daripadanya kepada tukang potong.” (HR, Jamaah).

Dalam hadits lainnya dari Ali bin Abi Thalib ra, ia berkata :
“Rasulullah saw memerintahkan aku untuk menyembelih hewan qurbannya dan membagi-bagi dagingnya, kulitnya, dan alat-alat untuk melindungi tubuhnya, dan tidak memberi tukang potong sedikitpun dari qurban tersebut.” (HR. Bukhari Muslim).

Syarat-syarat hewan qurban:

1. Cukup Umur

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dari Jabir bahwasannya Rasulullah saw bersabda., “Jangan kamu menyembelih untuk qurban melainkan yang �mussinah� (telah berganti gigi) kecuali jika sukar didapat, maka boleh berumur satu tahun (yang masuk kedua tahun) dari kambing/domba” (HR. Muslim)

Hadits lain dari Jabir, ia berkata: Rasulullah saw bersabda:
“Janganlah kalian menyembelih kecuali musinnah, akan tetapi jika kalian merasa berat hendaklah menyembelih Al-Jadz’ah” (HR. Muslim dan Abu Daud).

Syaikh Al-Albani menerangkan :
– Musinnah yaitu jenis unta, sapi dan kambing atau kibas. Umur kambing adalah ketika masuk tahun ketiga, sedangkan unta, masuk tahun keenam.
– Al-jazaah yaitu kambing atau kibas yang berumur setahun pas menurut pendapat jumhur ulama (Silsilah Ad-Dlaifah 1/160).

Salah satu hikmah dan manfaat disyariatkannya hewan qurban yang cukup umur adalah bahwa hewan qurban yang cukup umur akan menghasilkan daging yang berprotein tinggi dengan kadar asam amino yang lengkap, mudah dicerna, begitu pula teksturnya empuk.sedangkan ternak yang belum cukup umur akan menghasilkan daging yang lembek begitu pula yang telah tua sekali akan menghasilkan daging yang alot, sulit dicerna serta tidak berlemak yang menyebabkan rasa daging tidak lezat.

2. Sehat, tidak sakit dan cacat

Binatang yang akan disembelih untuk ibadah qurban adalah binatang yang sehat, dan tidak boleh binatang yang sakit, cacat, atau hilang sebagian tubuhnya, seperti kambing yang kurus, lemah, tidak berlemak, buta sebelah matanya, pincang, terpotong telinganya atau bagian tubuh lainnya.

Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadits : “Tidak bisa dilaksanakan qurban binatang yang pincang, yang nampak sekali pincangnya, yang buta sebelah matanya dan nampak sekali butanya, yang sakit dan nampak sekali sakitnya dan binatang yang kurus yang tidak berdaging.” (HR. Tirmidzi).

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad dan disahihkan oleh Tirmidzi dari Bara bin Azib bahwasannya Rosulullah saw bersabda.: “Empat macam binatang yang tidak sah dijadikan qurban yaitu, yang rusak matanya, yang sakit, yang pincang, yang kurus dan tidak berlemak lagi.”

Juga riwayat Ahmad, An-Nasai, Abu Daud At-Tirmidzi dan Ibn Majah dari Ali ra yang menyatakan, “Rasulullah saw mencegah kita berqurban dengan hewan yang tercabut tanduknya, terputus sebagian kupingnya”

3. Hewan kurban adalah binatang ternak seperti sapi, kambing, domba, ataupun onta.

4. Binatang qurban juga harus memiliki umur tertentu untuk boleh dikorbankan.

Untuk onta minimal umur 5 tahun, Untuk sapi minimal telah berumur 2 tahun, sedangkan kambing dan domba minimal berumur 1 tahun.

5. Orang yang berkurban sebaiknya adalah mereka yang merdeka, sudah dewasa, dan berakal atau dalam keadaan sadar dan tidak memiliki masalah kejiwaan.

MANFAAT QURBAN

1. Memupuk Rasa Peduli

Hikmah di balik berkurban adalah melatih kita untuk memiliki sikap kepedulian sosial. Kita yang selama ini memiliki kelebihan harta maka sudah seharusnya menyisihkan sebagian untuk di korbankan dalam wujud binatang ternak untuk kemudian dagingnya akan di konsumsi oleh banyak orang yang membutuhkan.

2. Melatih diri untuk dermawan

Seseorang yang menjadi pribadi yang dermawan perlu dilatih hingga menjadi kebiasaan. Menjadi dermawan dalam kebaikan sangat baik dan banyak manfaatnya. Untuk bisa menjadi dermawan perlu di latih terus-menerus dan tidak hanya sekali dua kali saja melainkan terus dilakukan hingga menjadi kebiasaan. Jika kita sudah sering bersedekah harta mungkin bisa di tingkatkan dengan berqurban di waktu hari raya idul adha.

3. Meningkatkan ketaqwaan kepada Allah

Berqurban adalah salah satu perintah Allah yang jelas di cantumkan di Al-qur’an. Dalam manfaat memeluk agama islam, ibadah qurban akan menjaga bahkan meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah. Sehingga kita akan memiliki iman yang semakin kuat dan tidak mudah mengikuti hawa nafsu.

4. Bekal di hari akhir

Tentu saja ibadah qurban akan menjadi amal baik yang akan di catat oleh malaikat. Ibadah qurban yang semata-mata ikhlas dilakukan sebagai bagian dari pengabdian kepada Allah akan mendapatkan pahala yang setimpal. Pahala inilah yang nantinya akan menyelamatkan kita di hari akhir kelak.

5. Membangun sikap solidaritas

Saat berqurban, sebaiknya juga membaur dengan orang lain dalam proses penerimaan, penyembelihan, dan membagikan hewan kurban. Ada hikmah lain yang bisa didapat dalam kegiatan kurban ini. Manfaat hidup rukun, saat kegiatan qurban akan membuat kita saling bekerjasama dalam melakukan ibadah ini, setiap apa yang kita lakukan akan menjadi amalan baik. Oleh karena itu akan membuat kita, lebih bisa bersosialisasi dan berhubungan baik dengan orang lain.

6. Rezeki menjadi berkah

Saat kita berkurban menjadi salah satu upaya untuk menjadikan apa yang selama ini kita kumpulkan, harta benda yang kita miliki menjadi berkah dengan menggunakannya untuk ibadah. Bahkan manfaat qurban, akan membahagiakan orang lain dalam jalan keislaman.

7. Menjauhkan dari sikap tamak

Berkurban membutuhkan banyak syarat yang harus dipenuhi, mulai dari orang tersebut harus mampu, hingga mau melakukannya adalah hal yang tidak mudah. Sebagaian dari kita mungkin ada yang mampu namun tidak mau. Oleh karena itu ketika kita mau untuk berkurban, itu sudah membuktikan kita tidak terlalu tergila-gila dengan harta dan susah untuk mengeluarkannya. Manfaat agama terutama islam, akan membuang sifat serakah yang ada di dalam diri dengan ikhlas dalam berqurban.

8. Menjaga tali silaturahmi

Saat hari raya qurban adalah salah satu sarana untuk menjalin tali silaturahmi kepada orang lain. Tidak hanya kepada satu orang saja bahkan bisa sampai banyak orang. Menyukseskan kegiatan kurban dibutuhkan kebersamaan dan peranan banyak orang. Ini akan menjadi sarana pemersatu diantara umat islam. Tidak ada perbedaan di hari itu, kita bersama-sama berbagi kebahagian untuk sesama.

9. Mencukupi kebutuhan gizi kaum kecil

Dari tinjauan kesehatan, manfaat qurban bisa membantu memenuhi kebutuhan gizi masyarakat indonesia. Mengingat kebutuhan gizi rakyat indonesia sangat tinggi dan tidak semua rakyat mampu merasakan manfaat daging. Oleh karena itu, saat hari raya qurban menjadi salah satu kesempatan bagi masyarakat dari kalangan bawah untuk memperbaiki asupan gizi, terutama yang berasal dari manfaat daging sapi dan kambing.

10. Mendapatkan ampunan

Berkurban dapat menolong kita untuk memperoleh ampunan dari Allah SWT, sebagaimana dalam sebuah riwayat “Hai Fatimah,berdirilah di sisi korbanmu dan saksikanlah ia, sesungguhnya titisan darahnya yang pertama itu pengampunan bagimu atas dosa-dosamu yang telah lalu” (HR. Al-Bazzar dan Ibnu Hibban)

11. Mensucikan harta dan jiwa

Harta kita tidak semuanya milik kita, ada sebagian merupakan hak dari mereka yang membutuhkan. Dengan berzakat dan berkurban, maka kita telah membersihkan harta kita dari yang bukan hak kita. Sekaligus mensucikan jiwa dari penyakit hati seperti pelit dan dengki.

12. Kemudahan di hari akhir

Di hari akhir, hewan kurban yang kita sembelih di dunia akan menolong kita karena ikhlasan kita dalam berkurban dahulu. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW: “Tiada suatu amalan yang dilakukan oleh manusia pada Hari Raya Kurban, yang lebih dicintai Allah selain daripada menyembelih haiwan Kurban. Sesungguhnya hewan kurban itu pada hari kiamat kelak akan datang berserta dengan tanduk-tanduknya, bulu-bulunya dan kuku-kukunya, dan sesungguhnya sebelum darah kurban itu menyentuh tanah, ia (pahalanya) telah diterima disisi Allah, maka beruntunglah kamu semua dengan (pahala) kurban itu.” (HR.Al-Tarmuzi, Ibnu Majah dan Al-Hakim)

13. Meneladani Nabi Ibrahim as.

Berkurban adalah salah satu teladan yang disampaikan oleh Nabi Ibrahim as. Bentuk kecintaan yang tertinggi kepada Allah SWT.

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعْىَ قَالَ يَٰبُنَىَّ إِنِّىٓ أَرَىٰ فِى ٱلْمَنَامِ أَنِّىٓ أَذْبَحُكَ فَٱنظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَٰٓأَبَتِ ٱفْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِىٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ

Artinya: ” Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.(Q.S. Ash Shafaat:102)

Wallohu'alam bhissowab

Tuesday, August 6, 2019

Kisah Sejarah Dan Asal Usul Kerajaan Pat Petulai Bengkulu

Kerajaan Pat Petulai adalah Kerajaan di Wilayah Bengkulu. Kerajaan ini dibangun oleh 4 anak keturunan Majapahit.

Pat Petulai berasal dari kata Pat Petu Loi yang artinya Empat Pintu Besar. Tanah Rejangdulunya bernama Renah Sekalawi dan telah diduduki oleh Bangsa Rejang. Saat itu rajanya bergelar Ajai yang dipercayai untuk memimpin sekelompok manusia. Lama kelamaan dari keempat Ajai dan tempat tersebut, rakyat masing-masing terus berkembang, maka keempat Ajai dari empat daerah ini bersepakat mengadakan rapat untuk menentukan batas kekuasaan masing-masing daerah, yang akhirnya disebutlah dengan nama Jang Pat Petuloi.

RAJA-RAJA TERKENAL

Diantara raja-raja tersebut nama dan tempatnya masih dikenali sampai saat ini adalah

1. Ajai Bitang di Dusun Pelabai (Pelabi) Lebong (Marga Suku IX sekarang),

2. Ajai Begeleng Mato di Kutai Belek Tebo Lebong (Marga Suku VIII sekarang),

3. Ajai Siang di Dusun Siang Lekat Lebong (Marga Jurukalang)

4. Ajai Tiea Keteko di Dusun Bandar Agung Lebong (Marga Suku IX sekarang).

Berakhirlah zaman Ajai kemudian timbul zaman Biku/Bikau (Biksu). Sekitar abad ke 12atau 13 atau sekitar 600 dan 700 tahun lalu datanglah keempat Biku ini ke Renah Sekalawi (Lebong) dari Kerajaan Majapahit. Konon, keempat orang ini merupakan putra-putra raja Majapahit. Keempat orang ini dikawal oleh para pengawal dan tujuan mereka datang ke Renah Sekalawi (Lebong) Pinang Belapis menurut riwayat adalah ingin mencari negeri dan akan dipimpin oleh masing-masing empat putra-putra Raja Majapahit.

BIKU TERKENAL

Hampir sama dengan zaman Ajai, empat orang Biku yang dipercaya untuk memimpin pada saat itu adalah

1. Biku Sepanjang Jiwo (Petulai Tubei),

2. Biku Bermano (Petulai Bermani atau Manai),

3. Biku jembo (Petulai Jekalang), dan

4. Bikau sangkalo (Petulai Selupuak Jang).

MASA TUAN BIKU SEPANJANG JIWO

Tuan Biku Sepanjang Jiwo, karena arif dan bijaksana dan sangat pengasih penyayang serta sakti, maka diangkatlah dirinya sebagai raja oleh bangsa Rejang untuk menjadi raja menggantikan Ajai Bintang yang berkedudukan di Pelabai (Pelabi). Kemudian datang pula Tuan Biku Jembo dan menjadi raja di Ulu Sungai Ketahun menggantikan Ajai Siang yang berkedudukan di Sukanegeri dekat Tapus dan Biku Bermano yang juga datang dan kemudian menjadi ketua atau raja Bangmego Pitulai Bermani di Kota Rukam dekat Dusun Tes. Kemudian datang pula Tuan Biku Sangkalo yang memudiki biduk menyusuri Sungai Musi sampai ke Ulu Sungai Musi, akhirnya di sanalah dia diangkat menjadi raja Bangsa Rejang di Batu Lebar dekat Dusun Agung Rejang.

Ketika Tuan Biku Sepanjang Jiwo berpisah dengan saudara-saudaranya di Majapahit, dirinya sempat memberikan amanat, bila ingin mencari dirinya, hendaklah terlebih dahulu ditimbang Air Tujuh Kuala Sungai. Manakala kedapatan suatu sungai yang lebih berat dari yang lain, hendaklah sungai itu dimudiki niscaya akan bertemu dengan dirinya. Saat itu Tuan Biku Bermano bermaksud untuk mencari saudaranya Biku Sepanjang Jiwo. Setelah menimbang air kuala tujuh buah, maka didapatlah olehnya air kuala sungai Ketahun lebih berat dari air kuala sungai yang lainnya. Akhirnya Tuan Biku Bermano pun menyusuri Sungai Ketahun dengan menaiki sebuah biduk, akhirnya bertemulah Tuan Biku Bermano dengan saudaranya Biku Sepanjang Jiwo.

Saat bertemu dengan saudaranya, Tuan Biku Bermano mengatakan “Disini kiranya saudara-saudara telebong (Telebong artinya terkumpul). Akhirnya Renah Sekalawi bertukar nama menjadi Lebong. Sedangkan negeri tempat pertemuan itu di sebut Pelabai yang artinya tempat.

Pada suatu masa datanglah musim kedukaan dalam Kerajaan Rejang Empat Petulai yakni Tuan Biku Sepanjang Jiwo, Tuan Biku Bermano, Tuan Biku Bembo dan Tuan Biku Bejenggo, rakyat banyak yang sakit dan mati, padi ternak pun tiada yang jadi. Setelah melakukan berbagai upaya untuk menolak balak (bahaya dan musibah) yang juga tiada hasil, maka keempat raja ini mufakat untuk memanggil dan menyuruh ahli nujum melihat dalam ramalannya terhadap kejadian yang dialami oleh keempat kerajaan tersebut. Menurut perkataan ahli nujum, yang menyebabkan kedatangan marabahaya negeri semacam itu adalah seekor siamang (Beruk) putih yang tinggal di atas Pohon Benuang Sakti. Apabila siamang putih ini mengeluarkan suara ke arah yang ditujunya, maka negeri-negeri sebagian yang dihadapinya itu mendapat marabahaya seperti yang telah diderita oleh mereka pada masa itu.

Atas kesepakatan keempat raja tersebut, dicarilah batang Benuang Sakti tempat kediaman Siamang Putih untuk ditebang. Keempat raja ini akhirnya berpencar mencari batang Benuang Sakti yang dimaksud. Akhirnya batang Benuang Sakti yang dimaksud itu ditemukan oleh Tuan Biku Bermano. Ditebangnya batang Benuang Sakti, anehnya saat batang itu ditebang oleh Tuan Biku Bermano tidak juga kunjung roboh, bahkan lebih anehnya lagi segempal potongan kayu runtuh akibat ditebang dua gempal pula kayu itu kian membesar batangnya.

setelah kayu sakti itu roboh dan siamang putih pun raib, keempat kelompok itu mendapatkan julukan masing-masing menurut kelakuan dan pekerjaan waktu menebang pohon yang dikenal Pat Petulai yang masing-masing diberi nama:

- Petulai Sepanjang Jiwo diberi nama Tubai (Tubei) asal katanya dari beubei-ubei artinya bertumpuk-tumpuk.
- Petulai Bembo diberi nama Juru Kalang yang artinya tukang galang.
- Petulai Bejenggo diberi nama Selupuei (Selupu) berasal dari kata berupuei-upuei artinya bergegas-gegas.
- Petulai Bermano diberi nama Manei artinya daya.

Keempat Biku tersebut berhasil menebang Pohon Benuang Sakti mereka pun beristirahat untuk melepas lelah. Pada saat istirahat, cacahan kayu Benuang Sakti disusun oleh mereka untuk menyimbolkan kata-kata yang mereka ucapkan, menjadi bentuk-bentuk huruf yang mereka sebut Ka Ga Nga.

Kerajaan Pat Petulai runtuh pada abad ke-14. Dimana Kerajaan Pat Petulai Kalah dengan Kerajaan Inggris pada saat itu.

Sejarah Awal Kerajaan Minanga Melayu


Minanga merupakan pusat Kerajaan Melayu yang telah ada pada tahun 645. Berita tentang keberadaannya didapat dari buku T'ang-Hui-Yao yang disusun oleh Wang p'u pada tahun 961 masa Dinasti Tang, di mana Minanga mengirimkan utusan ke Tiongkok pada tahun 645 untuk pertama kalinya. Selain itu nama Minanga juga muncul pada Prasasti Kedukan Bukit yang bertarikh 682. Minanga selanjutnya tetap menjadi daerah Kerajaan Melayu setelah ibu kotanya telah berpindah.

Dari Prasasti Kedukan Bukit, disebutkan bahwa Dapunta Hyang pendiri Sriwijayabertolak dari Minanga, dengan membawa puluhan ribu tentara lengkap dengan perbekalan. Berita tentang Kerajaan Melayu ini juga disebut dalam catatan perjalanan Pendeta I-tsing atau I Ching (義淨; pinyin Yì Jìng) (634-713) identik dengan kerajaan ini.

Selain dari berita buku T'ang-Hui-Yao, dari buku Tse-fu-yuan-kuei pada masa Dinasti Song yang dibuat atas dasar sejarah lama oleh Wang-ch'in-jo dan Yang I antara tahun 1005 dan 1013, juga menceritakan adanya utusan dari Kerajaan Melayu datang ke Tiongkok antara tahun 644 dan 645.

Ada beberapa pendapat sejarawan mengenai lokasi Minanga. Poerbatjaraka dan Soekmono berpendapat bahwa Minanga terletak di hulu Sungai Kampar, tepatnya dipertemuan Sungai Kampar Kanan dan Kampar Kiri. Poerbatjaraka juga mengatakan bahwa kata Minangatamwan merupakan nama lama dari Minangkabau. Dr. Buchari mengemukakan bahwa Minanga berada di hulu Batang Kuantan. Sedangkan Slamet Muljana menyatakan bahwa Minanga berada di hulu Sungai Batanghari.

PENDIRIAN SRIWIJAYA

Berdasarkan Prasasti Kedukan Bukit, pada tahun 682 Dapunta Hyang bertolak dari Minanga dengan membawa 20.000 tentara lalu mendirikan Kerajaan Sriwijaya. Ekspedisi ini juga bertujuan untuk memindahkan pusat kerajaan dari Minanga di pedalaman ke daerah yang strategis di tepi laut.

Tuesday, July 2, 2019

Asal Usul Dan Silsilah Keturunan Dinasti Kuru Mahabharata

Dalam sastra dan wiracarita India Kuno, Kerajaan Kuru merupakan kerajaan yang diperintah oleh Wangsa Kuru, keturunan Sang Kuru. Tidak diketahui dengan pasti kapan kerajaan ini berdiri, dan hingga sekarang dikenal sebagai legenda dalam wiracarita India, seperti misalnya Mahabharata. Kerajaan Kuru yang lain berada di utara Himalaya, dan disebut Uttara Kuru. Menurut sastra Hindu, Kerajaan Kuru terbentang di antara sungai Saraswati dan sungai Gangga. Salah satu kitab yang dijadikan sumber keberadaan kerajaan Kuru adalah Mahabharata, dan tokoh utama yang diceritakan dalam kitab tersebut merupakan keturunan Kuru. Menurut Mahabharata, pada masa pemerintahan Raja Dretarastra, Kerajaan tersebut terbagi menjadi dua bagian, yaitu Kurujangala dan Kuru asli.

RAJA PERTAMA DINASTI KURU INDIA

Dalam Mahabharata disebutkan bahwa para raja Dinasti Kuru merupakan keturunan Sambarana. Sambarana, seorang yang lahir dalam garis keturunan Pururawa, menikahi Tapati, dan memiliki seorang putera yang diberi nama Kuru. Raja Kuru tersebut memiliki sifat kebaikan yang tinggi, maka dari itu ia dilantik untuk mewarisi tahta kerajaan oleh rakyatnya. Namanya membuat dataran Kurujanggala menjadi masyur di seluruh dunia. Ia melakukan tapa di sebuah tempat bernama Kurukshetra dan semenjak itu tempat tersebut suci dan keramat.

Leluhur Dinasti Kuru adalah Sang Puru. Purumenikah dengan Pausti dan memiliki tiga putera, yaitu: Prawira, Iswara, dan Rodraswa. Di antara mereka, Prawira merupakan penerus dinasti. Prawira menikah dengan Suraseni dan berputera Manasyu. Manasyu menikah dengan Sauwiri dan memiliki tiga putera bernama Sakta, Sahana, dan Wagmi. Rodraswa menikah dengan bidadari Misrakesi dan memiliki sepuluh putera. Mereka adalah Riceyu, Kaksreyu Wrikeyu, Standileyu, Waneyu, Jaleyu, Tejeyu, Satyeyu, Dharmeyu dan Sanateyu yang kesepuluh.

Di antara mereka semua, Riceyu menjadi penguasa tunggal dan dikenal dengan nama Anadristi. Anadristi memiliki putera bernama Matinara yang kemudian menjadi seorang raja terkenal dan bijaksana dan menyelenggarakan Rajasuya dan Ashwamedha. Matinara memiliki empat putera, yaitu Tansu, Mahan, Atirata, dan Druhyu. Di antara mereka, Tansu yang dipilih menjadi penerus keturunan Puru. Tansu memiliki putera bernama Ilina. Ilina menikah dengan Ratantara dan memiliki lima putera.

 Mereka adalah Duswanta, Sura, Bima, Prabasu, dan Basu (Basu dikatakan sebagai pendiri kerajaan Chedi). Yang sulung di antara mereka adalah Duswanta, yang kemudian menjadi raja. Dushmanta menikah dengan Sakuntala dan memiliki putera yang sangat cerdas bernama Bharata, yang kemudian menjadi raja. Bharata memberikan namanya kepada setiap suku yang ia dirikan. Dari sanalah dinasti Bharata terkenal tersebar dengan luas. Bharata memiliki tiga istri dan sembilan putera. Namun di antara mereka tidak ada yang seperti ayahnya sehingga Bharata tidak senang kepada mereka. Ibu mereka akhirnya menjadi marah dan membunuh mereka semua.

Kemudian diselenggarakan upacara besar dan atas bantuan Bharadwaja, lahirlah putera bernama Bumanyu. Kemudian Bharata, keturunan terbesar Sang Puru, mengangkatnya sebagai anak dan memilihnya sebagai ahli waris. Bumanyu menikah dengan Puskarini dan memiliki enam putera bernama Suhotra, Suhotri, Suhawiha, Sujeya, Diwirata dan Kicika. Suhotra menikah dengan Aikasaki dan memiliki tiga putera bernama Ajamida, Sumida, dan Purumida. Yang sulung di antara mereka, Ajamida, menjadi pewaris kerajaan. Ia memiliki enam putera, antara lain Riksa yang lahir dari Dumini; Dusmanta dan Paramestina lahir dari Nili; Jahnu, Jala dan Rupina yang lahir dari Kesini.

Pangeran dari Dinasti Bharata bernama Riksa yang lebih tua daripada Jala dan Rupina menjadi raja dan memiliki putera bernama Sambarana, penerus tahta kerajaan. Dikisahkan ketika Sambarana berkuasa, banyak penduduk yang meninggal karena kelaparan, penyakit pes, kekeringan, dan wabah. Kemudian kerajaannya mendapat serbuan dari Kerajaan Panchala.

 Para kesatria Bharata terpukul mundur oleh tentara musuh. Panchala dengan sepuluh Aksauhini mengalahkan dinasti Bharata. Kemudian Sambarana bersama istri, menteri, putera dan kerabatnya, melarikan diri, dan menempati sebuah hutan di tepi sungai Sindhu, yang termasuk wilayah dari kaki pegunungan di sebelah barat.

Di sana para keturunan Bharata hidup selama seribu tahun penuh (untuk jangka waktu yang lama) dengan bentengnya. Setelah mereka tinggal di sana dalam jangka waktu yang cukup lama, suatu hari Resi Wasista datang mengunjungi tempat pengasingan tersebut.

AWAL MULA DINASTI KURU

Sambarana menikahi Tapati (yang tinggal di tepi sungai Tapati), puteri Surya (raja dari Dinasti Surya) dengan pertolongan Wasista, pendeta para raja Dinasti Surya. Sambarana berputera Sang Kuru. Raja Kuru tersebut memiliki sifat kebaikan yang sangat tinggi, maka dari itu ia dilantik untuk mewarisi tahta kerajaan oleh rakyatnya. Namanya membuat dataran Kurujanggala (sebelah timur Haryana) menjadi masyur di seluruh dunia. Ia melakukan tapa di sebuah tempat bernama Kurukshetra dan semenjak itu tempat tersebut suci dan keramat.

Wahini, istri Sang Kuru, melahirkan lima putera, yaitu Awikesit, Bhawisyanta, Citrarata, Muni dan Janamejaya-1. Awikesit berputera Parikesit-1, Sawalaswa, Adiraja (lihat: Kerajaan Karusha), Wiraja, Salmali, Uccaihsrawa, Bhanggakara dan Jitari yang kedelapan. Parikesit-1 memiliki putera-putera yang bernama Kaksasena, Ugrasena, Citrasena, Indrasena, Susena dan Bimasena. Putera dari Janamejaya-2 adalah Dretarastra-1 yang tertua, Pandu-1, Balhika-1, Nishadha, Jambunada, Kundodara, Padati, dan Wasati yang kedelapan.

KELAHIRAN RAJA SANTANU

Di antara keturunan Janamejaya-2, Drestarastra-1 yang menjadi raja. Dretarastra-1 memiliki delapan putera, yaitu Kundika, Hasti, Witarka, Krata, Hawihsrawas, Indraba, dan Bumanyu. Dretarastra-1 memiliki cucu-cucu, dan hanya tiga orang yang terkenal. Mereka adalah Pratipa, Dharmanetra, Sunetra. Di antara mereka bertiga, Pratipa menjadi seorang yang tak tersaingi di muka bumi. Pratipa memiliki tiga putera, yaitu Dewapi, Santanu dan Bahlika-2. Putera sulung yang bernama Dewapi meninggalkan kerajaannya demi bertapa, sedangkan Bahlika meninggalkan kerajaannya karena berambisi menaklukkan suku Arya di wilayah Afganistan. Oleh karena keadaan tersebut, tahta diwariskan kepada Santanu.

Dalam Mahabharata diceritakan bahwa raja Janamejaya ingin mengetahui garis keturunan leluhurnya yang dimulai dari Manu, yang konon merupakan raja pertama di dunia. Wesampayana kemudian menguraikan penjelasan dengan panjang lebar, dan dimulai dari Daksa.

DINASTI CANDRA

Daksa menurunkan Aditi, dan Aditi menurunkan Wiwaswat (Surya). Wiwaswat (golongan Dinasti Surya) melahirkan Waiwaswata Manu, dan Manu menurunkan Iladan Ila menurunkan Pururawa. Maka dari itu ia disebut Pururawa-Aila. Seorang dewa yang bernama Budha (Vudha) dikatakan sebgai ayahnya. Pururawa menikah dengan Urwasi dan menurunkan Ayu.

Raja Ayu menurunkan Nahusa, dan Nahusa menurunkan Yayati. Maharaja Yayati memiliki lima putera, yaitu Yadu dan Tuwasu dari Dewayani (puteri dari Usana atau Mahaguru Sukra); dan Anu, Druhyu, Puru dari Sarmishta. Di antara kelima orang tersebut, Puru-lah yang menurunkan keluarga Bharata, yaitu keluarga besar Pandawa dan Korawa. Keturunan Yadu disebut Yadawa sedangkan keturunan Puru disebut Paurawa.

Puru menikahi Kosalya, kemudian menurunkan Janamaejaya-1, yang menyelenggarakan tiga upacara korban kuda, dan upacara tersebut bernama Wiswajit. Janamejaya-1 menikahi Ananta, puteri dari Kerajaan Madhawa, yang kemudian menurunkan Pracinwata. Pracinwata disebut sebagai penakluk negara timur dimana matahari terbit (Arunachal Pradesh).

KETURUNAN RAJA BHARATA

Pracinwata menikahi Asmaki, puteri dari Wangsa Yadawa, yang kemudian menurunkan Sanyati. Sanyati menikahi Waranggi, puteri dari Dresadwata, yang kemudian menurunkan Ahayanti. Ahayanti menikahi Bhanumati, puteri dari Kertawirya, yang kemudian menurunkan Sarwaboma. Sarwaboma menikahi Sunanda-1, kemudian menurunkan Jayatsena, yang kemudian menikahi Susrawa, puteri Raja Widarbha, dan menurunkan Awacina. Awacina juga menikahi puteri dari Kerajaan Widarbha, bernama Maryada-1. Kemudian ia menurunkan Arihan-1. Arihan-1 menikahi Anggi, kemudian menurunkan Mahaboma.

Mahaboma menikahi Suyadnya, puteri Prasenajit. Darinya lahirlah Ayutanayi. Ayutanayi menikahi Kama, puteri Pertusrawas. Darinya lahirlah Akrodana. Akrodana kemudian menikahi Karamba, puteri dari Kerajaan Kalinga. Mereka memiliki putera bernama Dewatithi, dan Dewatithi menikahi Maryada-2, puteri Kerajaan Wideha. Dewatithi menurunkan Arihan-2. Arihan-2 menikahi Sudewa, puteri dari Kerajaan Anga, dan darinya lahirlah Riksa. Riksa menikahi Jwala, puteri dari Naga Taksaka, dan menurunkan putera bernama Matinara. Matinara menikahi seorang puteri dari lembah sungai Saraswati, kemudian menurunkan putera bernama Tansu. Tansu menikahi puteri dari Kerajaan Kalinga, dan memiliki putera bernama Ilina. Ilina menikahi Ratantari, dan memiliki lima putera, yang tertua bernama Duswanta. Duswanta menikahi Sakuntala, kemudian menurunkan Bharata.

DINASTI BHARATA

Bharata menikahi Sunanda-1, puteri Sarwasena, raja dari Kerajaan Kasi, dan menurunkan putera bernama Bumanyu. Bumanyu menikahi Wijaya, puteri Dasarha, kemudian menurunkan putera bernama Suhotra. Suhotra menikahi Suwarna, puteri Ikswaku. Suhotra menurunkan Hasti, pendiri Hastinapura. Hasti menikahi Yasodara, puteri dari Kerajaan Trigarta. Hasti menurunkan Wikuntana. Wikunthana menikahi Sudewa, puteri dari Kerajaan Dasarha. Wikuntana menurunkan Ajamidha. Ajamidha memiliki empat istri, yaitu Kekayi, Gandari, Wisala dan Riksa. Mereka melahirkan banyak putera, namun yang paling terkemuka bernama Sambarana. Sambarana menikahi Tapati, putera Wiwaswat (Dewa Surya).

Sambarana menurunkan Sang Kuru. Kuru menikahi Subanggi, puteri dari kerajaan Dasarha, kemudian ia menurunkan putera bernama Widurata. Widurata menikahi Supriya, puteri dari Kerajaan Madhawa. Darinya lahirlah putera bernama Anaswan. Anaswan menikahi Amerta, puteri dari Kerajaan Madhawa. Darinya lahirlah putera bernama Parikesit-1. Parikesit-1 menikahi Suwasa, kemudian menurunkan Bhimasena-1. Bhimasena-1 menikahi Kumari, puteri dari kerajaan Kekaya, dan menurunkan Pratisrawas. Pratisrawas menurunkan Pratipa. Pratipa menikahi Sunanda, puteri dari Kerajaan Siwi, kemudian menurunkan tiga putera. Di antara ketiga putera tersebut, Santanu menjadi Raja.

KETURUNAN RAJA SANTANU

Santanu menikahi Dewi Gangga, yang kemudian memberinya seorang putera bernama Dewabrata, namun di kemudian hari bernama Bisma. Bisma yang ingin memberikan sesuatu yang terbaik bagi ayahnya, menikahkan ayahnya dengan Satyawati, alias Durgandini atau Gandakali atau Gandawati. Sebelumnya Satyawati pernah menikah dengan Parasara, yang memberinya seorang putera bernama Kresna Dwaipayana Wyasa. Dengan Satyawati, Santanu memiliki dua orang putera bernama Citrānggada dan Wicitrawirya. Setelah Citrānggada dibunuh oleh seorang Gandarwa, Wicitrawirya menjadi raja, dan menikahi dua orang puteri dari Kerajaan Kasi, bernama Ambika dan Ambalika. Namun Wicitrawirya wafat di usia muda tanpa memiliki keturunan.

LAHIRNYA PANDAWA DAN KURAWA

Atas permohonan Satyawati, Kresna Dwaipayana Wyasa memberikan tiga orang putera bernama Dretarastra, Pandu, dan Widura kepada janda Wicitrawirya. Dretarastra menikah dengan Gandari dan memiliki seratus putera atas pertolongan dari Kresna Dwaipayana Wyasa. Di antara seratus putera Dretarastra, hanya empat yang terkemuka. Mereka adalah Duryodana, Dursasana, Wikarna, dan Citrasena. Pandu memiliki dua orang istri, bernama Kunti (yang juga disebut Partha) dan Madri.

 Setelah Pandu dan Madri wafat, Kunti menjadi kepala keluarga sesuai dengan harapan Pandu. Dari Dewa Dharma(Yamaraja), lahirlah Yudistira. Dari Marut (Bayu), lahirlah Bima. Dari Sakra (Indra), lahirlah Arjuna. Dari dua Aswin, lahirlah Nakula dan Sadewa. Kelima pangeran tersebut dikenal dengan sebutan Pandawa. Para Pandawa tinggal bersama para Korawadi Hastinapura. Duryodana yang selalu merasa cemburu dengan Pandawa, selalu berusaha membunuh mereka. Namun Pandawa selalu berhasil melewati segala upaya pembunuhan. Pandawa memerintah sebagian dari Kerajaan Kuru, dengan Indraprastha sebagai ibu kota.

KETURUNAN PANDAWA

Yudistira berputera Pratiwindya; Bimaberputera Sutasoma; Arjuna berputera Srutakriti; Nakula berputera Satanika; dan Sadewa berputera Srutakarma. Di samping itu, Yudishtira menikahi Dewika, puteri dari Gowasana dari suku Saibya, dan memiliki putera bernama Yodheya. Bima menikahi Walandara, puteri dari Kerajaan Kasi, dan memiliki putera bernama Sarwaga. Arjuna menikahi Subadra, adik Kresna dari Dwarawati, dan memiliki putera bernama Abimanyu.

 Nakula juga menikahi Karenumati, puteri dari Kerajaan Chedi, dan memiliki seorang putera bernama Niramitra. Sadewa menikahi Wijaya, puteri Dyutimat, raja di Kerajaan Madra, dan memiliki seorang putera bernama Suhotra. Di kerajaan Rakshasa, Bima menikahi Hidimbi dan memiliki putera bernama Gatotkaca. Arjuna juga memiliki putera bernama Irawan dari Ulupi dan putera yang lain bernama Babruwahana dari Citrānggadā, puteri dari Manipura.

Di antara keturunan Pandawa, Abimanyumenjadi penerus keluarganya. Ia menikahi Utara, puteri Wirata dari Kerajaan Matsya, dan memiliki seorang putera bernama Parikesit. Parikesit menikahi Madrawati, dan memiliki seorang putera bernama Janamejaya. Janamejaya menikahi Wapustama alias Bamustiman, dan memiliki dua putera bernama Satanika-2 dan Sangkukarna. Satanika-2 menikahi puteri dari Kerajaan Wideha dan memiliki seorang putera bernama Aswamedadatta.

PENDIDIKAN MILITER OLEH GURU DRONA

Hastinapura, ibu kota kerajaan Kuru pada masa Mahabharata, adalah pusat pendidikan militer. Bhagawan Drona adalah yang paling utama dari semua guru dalam segala modus peperangan. Drona sendiri belajar ilmu perang dari ayahnya, Bharadwaja dan sang pendekar utama kala itu, Parasurama alias Bhargawa Rama. Bisma yang merupakan pendekar utama kaum Kuru juga siswa Bhargawa Rama. Krepa adalah ahli lainnya dalam ilmu peperangan. Di bawah bimbingan para ahli ilmu militer ini, kaum Pandawa dan Korawamenjadi sangat pandai dalam ilmu perang.

 Berkat akademi militer ini para Korawa dan Pandawa menjadi yang paling kuat di antara semua kerajaan kuno di India. Ilmu panah, pertempuran dengan gada, perang dengan pedang dan macam-macam senjata lainnya seperti lembing, ini semua bersama-sama dengan segala macam jenis peperangan, yaitu dengan kaki, di atas kuda, kereta atau gajah. Semua hal ini diajarkan oleh Drona kepada para siswanya di akademi ini. Ia juga mengajarkan ilmu membuat tata formasi barisan serdadu (Sanskerta: vyūha atau byūha) dan strategi perang serta cara mengendalikan kereta perang.

 Ilmu memanah adalah spesialisasi Drona, terutama jika sang pemanah berada di kereta perang. Yudistirapandai dalam menggunakan tombak, Arjunadan Karna adalah siswanya yang paling pandai dalam memanah. Bima dan Duryodanaterutama pandai dalam menggunakan gada; Drestadyumna, Nakula dan Sadewa terutama pandai menggunakan pedang.

Bahkan Drestadyumna, pangeran dari kerajaan Panchala yang paling kuat bertanding dengan kaum Kuru dalam menguasai Aryawarta, datang untuk mempelajari ilmu perang di akademi militer bagawan Drona di Hastinapura. Tokoh-tokoh lain yang datang ke Hastinapura untuk belajar adalah Ekalawya, pangeran dari kerajaan Nishada dan Karna, dari kerajaan Anga yang diperintah oleh suku-suku Suta.

WILAYAH KERAJAAN KURU

Raja kerajaan Kuru pertama – Pururawa – selalu dikelilingi sekutu/tetangga yang merupakan ras manusia sakti. Kerajaannya kemungkinan terbentang dari wilayah Himalaya di Tibet atau di utara Xin Jiang atau di Kirgizstan. Nahusa disebutkan pernah memerintah wilayah para dewa (suatu tempat di Tibet). Yayati adalah raja pertama dalam generasi tersebut yang berinteraksi dengan anggota klan asura seperti misalnya Wresaparwa (kerajaan Wresaparwa terbentang di sebelah utara Uttarakhand, di Tibet). Putera Yayati yang bernama Purumendirikan Dinasti Paurawa, salah satu cabang Dinasti Candra. Kemungkinan dia memerintah wilayah Himalaya selatan di Uttarakhand, Himachal Pradesh dan Punjab.

Di antara keturunan Puru, Bharata putera Duswanta adalah yang paling mahsyur yang telah mendirikan Dinasti Bharata. Selama masa itu, dinasti tersebut memerintah seluruh wilayah yang sekarang dikenal sebagai dataran Indo-Gangga dan menambah kekuasaan mereka di pegunungan Windhya di sebelah selatan. Dalam garis keturunan Bharata, lahirlah Sambarana. Selama pemerintahan Sambarana, dinasti tersebut diserbu oleh kerajaan Panchala di sebelah selatan dan barat.

 Kemudian mereka hidup di tepi sungai Sindhu dan di lembah pegunungan sebelah barat. Kuru putera Sambarana mendirikan dinasti Kuru dan merebut kembali wilayah mereka yang dahulu di dataran Indo-Gangga. Mereka memerintah sebuah wilayah antara sungai Saraswati dan Gangga.

Kerajaan Kuru diwarisi oleh Pratipa, Santanu, Wicitrawirya dan Dretarastra. Selama pemerintahan Dretarastra, karena kurangnya tanggapan pemerintah terhadap kebutuhan rakyatnya, disebutkan bahwa kemakmuran kerajaan Kuru menurun (9,41). Para Pandawabersama Yudistira sebagai rajanya, mencoba membangkitkan keharuman nama kerajaan Kuru dengan melakukan kampanye militer oleh empat kesatria yaitu Bima, Arjuna, Nakula and Sadewa.

 Ia menaklukkan seluruh wilayah India Kuno dan mengumpulkan banyak upeti, kumpulan persembahan dari para raja yang telah tunduk. Namun kemakmuran tersebut hilang saat terjadi perang di Kurukshetra, ketika para kesatria Kuru saling bantai satu sama lain, menghancurkan kerabat mereka, para pemimpin bangsa pada zaman India Kuno. Kehancuran besar yang tak terhitung mengakibatkan seluruh India pada masa itu mengalami depresi sosio-ekonomi yang panjang.

TEMPAT PENTING DI KERAJAAN KURU

Hastinapura merupakan kota terbesar di kerajaan Kuru dan ibu kota para Korawa(keturunan Kuru), dan ketika Pandawamemerintah di Indraprastha, kota tersebut menjadi kota terbesar kedua. Selain kota utama tersebut, Kerajaan Kuru juga memiliki banyak desa seperti misalnya Wardamana, Pramanakoti, Waranawati, Wrekastali; provinsi seperti misalnya Makandi; hamparan Kurukshetra dan hutan-hutan seperti hutan Kamyaka dan hutan Dwaita.

KURUKSHETRA

Perang di Kurukshetra terjadi karena adanya perkara di antara dua keluarga dalam Dinasti Kuru, yaitu Pandawa dan Korawa. Dalam pertempuran tersebut, hampir seluruh pemimpin kerajaan pada zaman India kuno berpartisipasi. Kehancuran yang didapat sebagai akibat dari pertempuran membawa India menuju zaman depresi sosial dan ekonomi (Kaliyuga atau 'zaman kegelapa') yang dapat berakhir dalam jangka waktu yang lama.

Setelah pemerintahan kaum Yadawa berakhir ketika pulau Dwaraka tenggelam dalam samudra, Arjuna membawa sisa kaum Yadawa dari sana ke Kurukshetra dan menempatkannya di beberapa daerah sekitarnya.

Putera Kretawarma (sang pahlawan Wangsa Bhoja-Yadawa) ditaruh di kota Martikawata. Kota ini adalah ibu kota kerajaan Salwa yang terletak di barat daya Kurujanggala. Pahalwan Wresni-Yadawa atau putera Satyaki ditaruh di tepi sungai Saraswati. Pangeran Bajra keturunan Kresna ditaruh di Indraprastha(16,7).

Trah Kuru dilanjutkan oleh Parikesit setelah pemerintahan prabu Yudistira. Putera Parikesit adalah prabu Janamejaya yang merupakan raja Kuru terkenal yang terakhir.

KERAJAAN KURU JENGALA

Kerajaan Kurujanggala, yang merupakan pecahan dari kerajaan Kuru asli, diperintah oleh Yudistira, saudara tertua dari para Pandawa, keturunan Pandu. Kerajaan ini diserahkan kepada para Pandawa karena adanya perselisihan di antara para putera Pandu (Pandawa) dengan para putera Dretarastra (Korawa). Perselisihan pecah sehingga kerajaan Kuru dibagi menjadi dua. Letak Kurujanggala di antara sungai Ganggadan sungai Yamuna. Ibu kota kerajaan ini adalah Indraprastha, yang pada masa sekarang merupakan sebuah kota kecil bernama Indraprast, di sebelah selatan New Delhi. Di peta India pada masa kini, wilayah kerajaan tersebut kira-kira mencakup seluas negara bagian Haryana.

KERAJAAN KURU ASLI

Kerajaan Kuru yang asli berada dibawah pemerintahan Duryodana, putera sulung Dretarastra. Letaknya di sebelah timur Kerajaan Kurujanggala yang dipimpin oleh para Pandawa, yakni di antara sungai Ganggadan sungai Yamuna. Di peta India masa kini, luas kerajaan ini mencakup Uttara Pradeshbagian barat, membatasi Haryana. Hastinapura (kini merupakan kota kecil bernama Hastinapur, 37 km sebelah timur laut dari kota Meerut, Uttar Pradesh) diidentifikasi sebagai ibu kotanya.