Monday, June 11, 2018

Inilah Manfaat Silaturahmi Saat Lebaran (Hari Raya idul Fitri)

Silaturahim adalah bagian dari akhlak yang sangat mulia. Silaturahmi Dianjurkan dan diseru oleh agama Islam yang tercinta ini. Dan juga diingatkan untuk tidak memutus silaturahmi tersebut.


Allah Ta’ala telah menyeru kepada hambanya berkaitan dengan menyambung tali silaturahmi dalam beberapa ayat dalam Kitab Suci Al-Qur’an.

Dalil Al-Qur’an mengenai pentingnya dan manfaat menyambung tali silaturahmi itu adalah sebagai berikut:

Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (QS An Nisaa 4:1)

Sedangkan dalil hadist dengan keutamaan silaturahmi adalah Sabda Rasulullah SAW yang artinya:

Barang siapa yang senang untuk dilapangkan rizkinya dan diakhirkan ajalnya (dipanjangkan umurnya), maka hendaklah ia menyambung (tali) silaturahim.” (HR. Bukhari, Muslim, Abu Daud).

Barang siapa yang senang untuk dilapangkan rizkinya dan diakhirkan ajalnya (dipanjangkan umurnya), maka hendaklah ia menyambung (tali) silaturahim.” (HR. Bukhari, Muslim, Abu Daud).

Manfaat keutamaan dan pahala bersilaturahmi yaitu:

Rasulullah SAW dalam sebuah hadistnya menceritakan akan salah satu dari sekian banyak keutamaan silaturahmi bagi seorang mukmin dan muslim yaitu :

Dari Abu Hurairah ra beliau berkata: Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang senang diluaskan rizkinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung hubungan silaturahmi” (HR Bukhari Muslim).

Sesungguhnya pahala menyambung silaturahmi lebih besar daripada ganjaran dan pahala memerdekakan seorang budak.

Dari Ummul mukminin Maimunah binti al-Harits radhiyallahu ‘anha, bahwasanya dia memerdekakan budak yang dimilikinya dan tidak memberi kabar kepada Nabi SAW sebelumnya, maka tatkala pada hari yang menjadi gilirannya, ia berkata:

Apakah engkau merasa wahai Rasulullah bahwa sesungguhnya aku telah memerdekakan budak (perempuan) milikku? Beliau bertanya: “Apakah sudah engkau lakukan?” Dia menjawab: Ya. Beliau bersabda: “Adapun jika engkau memberikannya kepada paman-pamanmu niscaya lebih besar pahalanya untukmu.” (HR Bukhari Muslim).

Rasulullah SAW bersabda yang artinya:

Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah bersilaturahmi.” (Mutafaqun alaihi).

Sungguh dalam silaturahmi dan menyambung silaturahmi ini terkandung hikmah dan manfaat yang luar biasa bila kita jalankan sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah (Hadist).

Termasuk ketika kita nantinya memasuki bulan Syawal. Manfaatkanlah kebaikan bulan syawal untuk memulai menyambung silaturahmi yang terputus. Begitu besar manfaat silaturahmi di bulan syawal idul fitri juga bertepatan dengan Idul fitri.

Berikut beberapa manfaat dan Keutamaan silaturahmi yang dapat kita lakukan :

  • Mendapatkan Ridha dari Allah SWT

Memang banyak manfaat yang terkandung didalam islam dari silaturahmi. Rosullullah adalah panutan sejati, ketika ingin berdakwah dan mengajarkan agama islam ke seluruh umat di dunia, beliau bersilaturahmi terlebih dahulu. Karena silaturahmi akan mendapatkan ridha dari Allah SWT.

  • Orang yang dikunjungi merasa Bahagia

Hal ini memang amat sesuai dengan sabda rosullullah SAW yaitu "amal yang paling utama adalah membuat orang berbahagia".

Sabda rosul ini memberikan inspirasi bagi sebagian besar orang. Sehingga siapapun yang bersilaturahmi saat Hari Raya Idul Fitri maka akan memberikan kebahagiaan kepada banyak orang.

  • Menjauhkan Diri dari Setan

Banyak orang yang tidak menyadari bahwa setan itu akan muncul dengan berbagai cara. Seperti halnya ketika tidak mau bersilaturahmi ketika hari raya idul fitri. Setan akan terus menggoda manusia yang tidak sadar dengan manfaat silaturahmi itu sendiri. Sehingga bersilaturahmi di hari raya idul fitri adalah cara yang tepat untuk menjauhkan diri dari Setan.

  • Memperpanjang usia

Ini adalah salah satu hal yang paling di ketahui oleh banyak orang. Memperpanjang usia dengan bersilaturahmi ini terbukti dengan baik, saat anda bersilaturahmi kepada kerabat anda, dan anda mendapatkan hal baru dan pengalaman baru, maka hidup anda akan jauh lebih baik. Hal inilah menjadi tukar dan menukar pengalaman, sehingga untuk memperpanjang usia dengan cara bersilaturahmi adalah hal yang paling baik.

  • Memupuk Rasa Cinta

Meningkatkan Rasa kebersamaan dan kekeluargaan dan mempererat tali persaudaraan adalah hal yang poling dapat untuk memupuk rasa cinta. Sehingga jika silarutahmi tilakukan di hari raya idul fitri maka akan mendapatkan manfaat yang begitu besar, dan rasa cinta terhadap keluarga akan sangat besar.

Wallohua'lam Bisshowab

Thursday, May 31, 2018

Kisah Cerita Wafatnya Khalifah Ustman Bin Affan

Utsman adalah khalifah ketiga yang memerintah dari tahun 644 (umur 69–70 tahun) hingga 656 (selama 11–12 tahun). Selain itu sahabat nabi yang satu ini memiliki sifat lemah lembut, tutur kata yang baik, dan sangat pemalu.

Penyebab Kematian Utsman bin Affan

Utsman bin Affan merupakan sahabat nabi dan juga khalifah ketiga dalam Khulafaur Rasyidin. Beliau dikenal sebagai pedagang yang kaya raya dan handal dalam bidang ekonomi namun sangat dermawan. Banyak bantuan ekonomi yang diberikannya kepada umat Islam di awal dakwah Islam.

Beliau mendapat julukan Dzun Nurain yang berarti yang memiliki dua cahaya. Julukan ini didapat karena Utsman telah menikahi puteri kedua dan ketiga dari Rasullah yaitu Ruqayyah dan Ummu Kultsum.

Selama masa jabatannya, Utsman banyak mengganti gubernur wilayah yang tidak cocok atau kurang cakap dan menggantikaannya dengan orang-orang yang lebih kredibel. Namun hal ini banyak membuat sakit hati pejabat yang diturunkan sehingga mereka bersekongkol untuk membunuh khalifah.

Khalifah Utsman kemudian dikepung oleh pemberontak selama 40 hari dimulai dari bulan Ramadhan hingga Dzulhijah. Dia diberi dua ultimatum oleh pemberontak (Ghafiki dan Sudan), yaitu mengundurkan diri atau dibunuh.

Kejadian tersebut Bermula dari fitnah yang melanda pemerintahan Utsman bin Affan. Abdullah bin Saba' mendatangi Ali bin Abi Thalib dan 'merayunya' untuk menggantikan Khalifah Utsman bin Affan. Ali menolaknya mentah-mentah, bahkan membunuh sebagian pengikut Abdullah bin Saba'. Akan tetapi pimpinan kaum munafik itu berhasil melarikan diri ke Mesir.

Setiba di Mesir Abdullah bin Saba' bertemu dengan beberapa kaum munafik untuk merencanakan makar yang hebat. Dengan pengaruhnya, Abdullah bin Saba' berhasil membuat opini tentang keburukan pemerintahan Utsman bin Affan di Madinah.  Sehingga beberapa kaum muslim terpengaruh oleh cerita Abdullah bin Saba' itu.

Setelah dirasa banyak kaum muslimin yang terpengaruh. Abdullah bin Saba' bersama rombongannya kembali ke Madinah, dan membuat fitnah besar terhadap Khalifah Utsman bin Affan. Saking hebatnya api fitnah yang tersebar, sebagian para sahabat terpengaruh oleh ucapan kaum munafik tersebut. Sampai-sampai putra sulung Khalifah pertama, Abdurrahman bin Abu Bakar Ash-shiddiq mendatangi Sang Khalifah sembari marah dan menarik jenggotnya.

Pada suatu malam, tepatnya malam Kamis, Utsman bin Affan bermimpi. Ia bermimpi bertemu Rasulullah SAW dan berkata kepadanya, "Mereka telah membuatmu haus, wahai Utsman". Ia lalu berkata, "Benar, wahai Rasulullah". Rasulullah berkata lagi, "Mereka telah membuatmu lapar, wahai Utsman." Ia menjawab, "Benar, wahai Rasulullah". Rasulullah kembali berkata, "Mereka mengepungmu, wahai Utsman". Ia menjawab, "Benar, wahai Rasulullah". Rasulullah berkata, "Sukakah bila besok kamu berpuasa, lalu berbuka di sisi kami?" Ia menjawab, "Mau, wahai Rasulullah". Ia kemudian bangun dari tidurnya sambil tertawa.

Detik-detik akhir telah datang. Para pengacau mulai menyalakan api di pintu rumah Utsman bin Affan. Para sahabat dan para pemuda kaum muslimin kemudian berdatangan ke rumah Utsman bin Affan, sementara Utsman berteriak dan memanggil mereka, "Aku bersumpah kepada kalian agar kalian kembali ke rumah kalian masing-masing dan tidak menetap kecuali dua orang, yaitu Hasan bin Ali dan Abdullah bin Umar bin Khattab".

Para pengacau mulai mengerahkan daya dan upaya mereka untuk mencoba memasuki rumah Utsman bin Affan. Istri Utsman kemudian mencoba untuk menampakkan rambutnya kepada mereka, dengan harapan jika melihat rambutnya yang terbuka, mereka pun tidak akan masuk. Akan tetapi Utsman bin Affan melarangnya.

Para pengacau kemudian masuk menemui Utsman yang sedang membaca Al-Qur'an dan ketika itu sedang berpuasa. Ia membaca firman Allah SWT dari Surah Al-Baqarah,

"Maka Allah akan memelihara kamu dari mereka. Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui". [QS Al-Baqarah : 137]

Salah seorang pengacau tersebut kemudian masuk dan memukul Utsman bin Affan dengan pedangnya. Pukulan tersebut mengenai tangannya hingga putus. Utsman bin Affan kemudian berkata. "Allahu Akbar! Sesungguhnya, kamu tahu bahwa tangan ini telah menuliskan wahyu untuk Rasulullah SAW".

Kemudian datanglah Sayyidah Nailah, istrinya, bermaksud untuk membelanya. Tetapi mereka malah memotong jari-jarinya. Kemudian datanglah seorang laki-laki dan memukul Utsman bin Affan dengan potongan besi tepat mengenai bagian atas bahunya. Utsman lantas berkata, "Ya, Allah segala puji bagi-Mu". Utsman kemudian menutup Mushaf Al-Quran yang terlumuri dengan darahnya. Utsman kemudian berkata lagi, "Ya Allah. wahai Zat yang memiliki kemuliaan, Aku bersaksi kepada-Mu bahwa aku telah bersikap sabar sebagaimana Nabi-Mu telah berwasiat kepadaku".

Utsman bin Affan kemudian terbunuh pada hari Jumat tanggal 18 Dzulhijjah. Ia dikubur di Pekuburan Baqi'. Lalu Ali bin Abi Thalib berdiri di atas makamnya seraya menangis dan berkata. "Aku mohon kepada Allah agar aku dan kamu termasuk dalam golongan yang di firmankan Allah;

'Dan Kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara'. [QS Al-Hijr : 47]"

Meski Utsman mempunyai kekuatan untuk menyingkirkan pemberontak, namun ia berprinsip untuk tidak menumpahkan darah umat Islam. Utsman akhirnya wafat sebagai syahid pada bulan Dzulhijah 35 H ketika para pemberontak berhasil memasuki rumahnya dan membunuh Utsman saat sedang membaca Al-Quran.

Pembunuhan Terhadap Utsman, Persis seperti apa yang disampaikan Rasullullah  perihal kematian Utsman yang syahid nantinya, peristiwa pembunuhan usman berawal dari pengepungan rumah Utsman oleh para pemberontak selama 40 hari. Utsman wafat pada hari Jumat 18 Dzulhijjah 35 H. Ia dimakamkan di kuburan Baqi di Madinah.

Wallohua'lam Bisshowab

Kisah Cerita Wafatnya Khalifah Ali Bin Abi Thalib

Ali bin Abi Thalib, khalifah keempat Kekhalifahan Rasyidin dan Imam Syi'ah pertama, beliau dibunuh oleh seorang Khawarij bernama Abdurrahman bin Muljam pada tanggal 26 Januari 661 di Masjid Agung Kufah.

Penyebab Kematian Ali bin Abi Thalib

Ali bin Abi Tholib yang pada saat itu berumur 62 atau 63 tahun, meninggal karena luka-lukanya, dua hari setelah Abdurrahman bin Muljam memukul kepalanya dengan pedang yang dilapisi racun, pada tanggal 21 (atau 19) Ramadan 40 Hijriyah (28 Januari 661 M). Ali bin Abi Thalib adalah khalifah ketiga secara berturut-turut, setelah Umar dan Utsman, yang dibunuh.

Ali bin Abi Tholib menjadi khalifah setelah terbunuhnya Utsman pada tahun 656. Namun, dia menghadapi tentangan dari berbagai faksi termasuk Gubernur Syam, Muawiyah bin Abu Sufyan. Sebuah perang sipil, yang disebut Fitnah Pertama, terjadi di negara Islam awal yang mengakibatkan penggulingan Khalifah Rasyidin  dan berdirinya dinasti Umayyah.

Hal ini dimulai ketika Khalifah Utsman bin Affan dibunuh pada tahun 656 dan kemudian dilanjutkan melalui pemerintahan Ali selama empat tahun. Setelah Ali setuju untuk melakukan arbitrase dengan Muawiyah bin Abu Sufyan pada saat Pertempuran Shiffin(657), sebuah pemberontakan terjadi terhadap Ali yang dilakukan oleh beberapa anggota tentaranya, yang kemudian dikenal sebagai Khawarij ("mereka yang keluar").

Mereka membunuh beberapa pendukung Ali, namun mereka dihancurkan oleh pasukan Ali pada Pertempuran Nahrawan pada bulan Juli 658.

Pada suatu hari Abdurrahman bin Muljam bertemu dengan dua orang Khawarij lainnya yaitu Al-Burak bin Abdillah dan Amru bin Bakr at-Tamimi di Mekkah, dan menyimpulkan bahwa situasi umat Islam pada saat itu disebabkan oleh kesalahan Ali, Muawiyah dan Amru bin Ash, Gubernur Mesir.

Mereka memutuskan untuk membunuh ketiganya agar menyelesaikan "situasi menyedihkan" pada masa mereka dan juga membalas dendam kepada teman-temannya yang terbunuh di Nahrawan. Bertujuan untuk membunuh Ali, Abdurrahman bin Muljam menuju Kufah di mana dia jatuh cinta pada seorang wanita yang saudara dan ayahnya meninggal di Nahrawan.

Wanita tersebut setuju untuk menikah dengannya jika saja dia bisa membunuh Ali. Akibatnya, Ali ditikam oleh Abdurrahman bin Muljam di Masjid Agung Kufah. Setelah kematian Ali, Abdurrahman bin Muljam dihukum matisebagai pembalasan oleh Hasan bin Ali.

Pada masa ke-khalifahan Ali bin Abi Thalib RA. memanglah sangat berat. Hal itu karena pembangkangan penduduk Syam dan Irak, juga karena fitnah-fitnah yang banyak terjadi pada masa ke-khalifahannya. Setiap hari musibah semakin berat, krisis membelitnya, dan ia merasakan ajalnya semakin dekat. Ia berkata :

Kencangkanlah ikat pinggangmu untuk menjemput kematian,
Sesungguhnya kematian akan mendatangimu,
Jangalah engkau berkeluh kesah dari kematian,
Jika telah berhenti gurunmu.

Tiga orang dari golongan khawarij telah bersekongkol hendak membunuh Ali bin Abu Thalib, Mu'awiyah bin Abu Sufyan dan Amru bin Ash. ketiganya pun hendak dibunuh pada hari yang sama, yaitu pada hari ke-17 dari bulan Ramadhan. Mereka bersepakat bahwa Abdurrahman bin Miljam-lah yang akan membunuh Ali RA.

Ibnu Miljam mengasah pedangnya selama 40 hari. Lalu, sampailah ia ke Kufah dan di sana ia bertemu dengan seorang wanita Khawarij yang membuatnya merasa kagum terhadapnya. ia kemudian meminangnya dan wanita tersebut meminta maharberupa kepala Ali bin Abu Thalib.

Ali bin Abu Thalib merasa bahwa ajalnya sudah dekat. Sehari ia makan pagi di tempat Al-Hasan, sehari berikutnya di tempat Al-Husain, dan sehari lagi di tempat Abdullah bin Ja'far bin Abu Thalib. Ia tidak makan melainkan hanya dengan beberapa suapan saja. Tatkala ia ditanya tentang hal itu, ia menjawab, "Aku lebih suka bertemu dengan Allah dalam keadaan lapar hingga aku dapat merasakan nikmatnya berjumpa dengan Rabb-ku."

Pada hari ke-17 dari bulan Ramadhan, seperti biasanya ia bangun dari tidurnya kemudian memgerjakan shalat malam. Setelah itu, ia keluar untuk mengerjakan shalat subuh bersama kaum muslimin. lalu, terdengarlah suara ayam berkokok hingga para wanita terbangun dan hendak mengusir ayam-ayam tersebut. Ali RA.berkata, "Biarkan mereka. Mereka tengah mengabarkan kematian kepadaku."

Lalu, ia pun keluar. Sesampainya di luar, ia diserang dan disabet beberapa kali dengan pedang oleh Ibnu Miljam. Pukulan itu begitu keras hingga jenggotnya berlumuran darah. Sesudah itu, Ali tersenyum seraya berkata, "Benar kata Rasulullah."

Amirul Mukminin lantas dibawa kerumahnya. Abdurrahman bin Miljam didatangkan kehadapannya dalam keadaan tangannya terikat di belakang. Ali RA. kemudian berkata kepadanya, "Apa yang mendorongmu berbuat seperti itu? Tidakkah aku telah berbuat baik kepadamu?"

Ibnu Miljam lantas menjawab, "Pedangku ini telah ku asah selama empat puluh malam yang akan kupergunakan untuk membunuh orang yang paling jahat." Ali RA.kemudian berkata lagi, "Justru kamu yang akan dibunuh dengannya.

Ali RA. kemudian berkata kepada anak-anaknya, "Muliakan dan berbuat baiklah kepadanya. Jika aku hidup, aku tahu pendapatku tentangnya. Dan jika aku mati maka bunuhlah ia dengan pedang itu dan janganlah kalian menyalibnya, serta jangalah kalian membunuh seorang pun selainnya. Sesungguhnya, Allah tidak menyukai orang yang melampaui batas."

Selama dua hari keadaan Amirul Mukminin sangat lemah dan tidak sepatah kata pun terucap dari mulutnya, kecuali hanya kalimat "La Ilaha Ilallah." Lalu, ia pun wafat dan dikafani oleh Al-Hasan dan Al-Husain kemudian dikuburkan di Kufah.

Setelah itu Al-Hasan diangkat menjadi Khalifah. Hal itu hanya berlangsung enam bulan saja. Kemudian ia melepaskan kekhalifahan kepada Mu'awiyah bin Abu Sufyan hingga fitnah berakhir secara sempurna, dan tahun tersebut dinamakan dengan Tahun Jama'ah.

Wallohua'lam Bisshowab

Kisah Cerita Wafatnya Khalifah Umar Bin Khattab

Sebelum memeluk Islam, Umar adalah orang yang sangat disegani dan dihormati oleh penduduk Mekkah. Umar juga dikenal sebagai seorang peminum berat, beberapa catatan mengatakan bahwa pada masa pra-Islam (Jahiliyyah), Umar suka meminum anggur. Setelah menjadi seorang Muslim, ia tidak menyentuh alkohol sama sekali, meskipun belum diturunkan larangan meminum khamar (yang memabukkan) secara tegas.

Penyebab Kematian Umar Bin Khattab

Umar bin Khattab wafat dibunuh oleh Abu Lu'lu'ah (Fairuz), seorang budak yang fanatik pada saat ia akan memimpin salat Subuh. Fairuz adalah orang Persia yang masuk Islam setelah Persia ditaklukkan Umar. Pembunuhan ini konon dilatarbelakangi dendam pribadi Abu Lu'lu'ah (Fairuz) terhadap Umar.

Fairuz merasa sakit hati atas kekalahan Persia, yang saat itu merupakan negara adidaya, oleh Umar. Peristiwa ini terjadi pada hari Rabu, 25 Dzulhijjah 23 H/644 M. Setelah wafat, jabatan khalifah dipegang oleh Usman bin Affan.

Semasa Umar masih hidup Umar meninggalkan wasiat yaitu:

  • Bila engkau menemukan cela pada seseorang dan engkau hendak mencacinya, maka cacilah dirimu. Karena celamu lebih banyak darinya.
  • Bila engkau hendak memusuhi seseorang, maka musuhilah perutmu dahulu. Karena tidak ada musuh yang lebih berbahaya terhadapmu selain perut.
  • Bila engkau hendak memuji seseorang, pujilah Allah. Karena tiada seorang manusia pun lebih banyak dalam memberi kepadamu dan lebih santun lembut kepadamu selain Allah.
  • Jika engkau ingin meninggalkan sesuatu, maka tinggalkanlah kesenangan dunia. Sebab apabila engkau meninggalkannya, berarti engkau terpuji.
  • Bila engkau bersiap-siap untuk sesuatu, maka bersiaplah untuk mati. Karena jika engkau tidak bersiap untuk mati, engkau akan menderita, rugi, dan penuh penyesalan.
  • Bila engkau ingin menuntut sesuatu, maka tuntutlah akhirat. Karena engkau tidak akan memperolehnya kecuali dengan mencarinya.

Beberapa hari sebelum kematiannya, Umar bin Khattab bertanya kembali kepada Hudzaifah bin Yaman tentang orang yang disebut Rasulullah SAW termasuk dalam golongan orang-orang munafik. Umar berkata, "Aku bersumpah kepadamu, apakah Rasulullah SAW memasukkan aku dalam nama-nama orang munafik?" Hudzaifah lalu menjawab, "Wahai Amirul Mukminin, sudah aku katakan kepadamu bahwa Rasulullah SAW tidak memasukkanmu ke dalam golongan orang-orang munafik." Umar kemudian berkata, "Segala puji bagi Allah."

Kemudian ia menatap Hudzaifah, "Beritahukan kepadaku tentang fitnah yang akan menenggelamkan umat!" Hudzaifah kemudian berujar, "Sesungguhnya antara dirimu dan fitnah tersebut terdapat pintu yang menutup selama engkau hidup." Umar lantas berkata, "Wahai Hudzaifah, apakah pintu itu akan dibuka ataukah dirobohkan?" Hudzaifah menjawab, "Pintu itu akan dirobohkan!" Umar bin Khattab kemudian berkata lagi, "Jikalau begitu, ia tidak akan kembali ke tempatnya." Hudzaifah menimpali, "Benar, wahai Amirul Mukminin." Setelah itu Umar berdiri dan menangis. Lalu orang-orang bertanya kepada Hudzaifah tentang fitnah dan pintu itu. Hudzaifah menjawab, "Pintu itu adalah Umar. Jika Umar bin Khattab meninggal, maka pintu fitnah itu akan dibuka."

Diantara sebagian sahabat, Mughirah bin Syu'bah memiliki seorang budak yang bernama Fairuz yang dijuluki dengan sebutan Abu Lu'lu'ah Al-Majusi. Pada suatu hari, Abu Lu'lu'ah mengadu kepada Amirul Mukminin bahwa uang yang dipatok Mughirah untuk pekerjaannya sangat besar, sedangkan ia tidak mampu membayarnya. Umar bin Khattab kemudian berkata, "Harga ini cukup, takutlah kepada Allah dan berbuat baiklah pada tuanmu."

Abu Lu'lu'ah Al-Majusi kemudian pergi mengadukan Amirul Mukminin kepada orang-orang bahwa ia telah berbuat adil kepada seluruh manusia kecuali kepada dirinya. Dia berkata, "Umar telah memakan hatiku!" Dari sinilah, sebuah konspirasi berawal, yang dipelopori oleh empat orang. Abu Lu'luah adalah salah satu dari empat sumber konspirasi tersebut. Dua orang lainnya sebagai Majusi dan Yahudi.

Pada suatu hari tatkala Al-Faruq bersama sahabatnya, ia melihat Abu Lu'lu'ah. Lantas Umar berkata kepadanya, "Aku telah mendengar bahwa engkau mampu membuat penggilingan yang dapat digerakkan dengan angin." Kemudian Abu Lu'lu'ah memandang Amirul Mukminin dan berkata, "Aku akan membuatkan untukmu penggilingan yang bisa berbicara dengan manusia." Mendengar itu para sahabat merasa senang.

Umar bin Khattab kemudian berkata kepada mereka, "Apakah kalian merasa senang?" Mereka menjawab, "Ya!" Umar kemudian berkata, "Sesungguhnya ia mengancam hendak membunuhku." Mendengar penjelasan Umar, para sahabat lalu berkata, "Kalau begitu kita bunuh saja ia!" Umar berkata, "Apakah kita hendak membunuh sesorang dengan prasangka? Demi Allah, aku tidak akan bertemu dengan Allah sedangkan di leherku terdapat darah lantaran prasangka." Mereka berkata, "Jika begitu kita lenyapkan saja dia." Umar berkata lagi, "Apakah aku akan berbuat zalim terhadap seseorang dan mengeluarkannya dari dunia lantaran prasangkaku bahwa dirinya akan membunuhku? Sekiranya Allah hendak mencabut nyawaku melalui kedua belah tangannya, niscaya urusan Allah itu merupakan takdir yang telah digariskan."

Suatu hari, tatkala Umar bin Khattab sedang mengimami Shalat Subuh berjamaah di Masjid Nabi, terjadilah bencana besar itu. Allah SWT telah mengabulkan doa Umar, yaitu dengan mencabut nyawanya di kota Rasul sebagai syahid dengan keutamaan yang paling utama. Sebab dirinya tidak saja memperoleh kesyahidan di kota Rasul, akan tetapi ia berada di dalam masjid, mihrab, Raudah Nabi Muhammad SAW. Saat itu ia sedang mengerjakan Shalat Subuh dengan para sahabat.

Seorang Tabiin yang bernama Amru bin Maimun Al-Masyad menceritakan, "Ketika aku sedang berdiri di shaf kedua, sedangkan antara dirik dan Amirul Mukminin tidak ada seorangpun selain Abdullah bin Abbas. Ketika lampu di masjid tiba-tiba mati. Amirul Mukminin kemudian mengankat takbir memulai shalat. Sebelum ia membaca Al-Fatihah, seorang Majusi maju menghampirinya lalu menikamnya sebanyak enam kali tikaman." Setelah itu, Umar berteriak, "Dia telah membunuhku." Kemudian para sahabat menyerang Abu Lu'lu'ah dan ia pun menyerang jamaah membabi buta ke kanan dan ke kiri. Lalu, Abdurrahman bin Auf segera menelungkupkan mantelnya ke arah Abu Lu'lu'ah. Dengan begitu Abu Lu'lu'ah baru sadar bahwa dirinya telah tertangkap dan tidak bisa berkutik, sehingga ia menikam dirinya sendiri dan akhirnya ia pun mati.

Umar bin Khattab meminta Abdurrahman bin Auf untuk memimpin Shalat Subuh. Dengan darah yang semakin deras mengalir, Umar kemudian menanyakan Abdullah bin Umar. Maka datanglah Abdullah dan meletakkan kepala ayahnya di pangkuannya. Lalu ayahnya berkata, "Wahai anakku, letakkan pipiku di atas tanah semoga Allah mengasihiku, jika aku telah mati pejamkanlah mataku dan sederhanakanlah kain kafanku. Sebab, jika aku menghadap Rabbku sedangkan Dia ridha terhadapku, maka Dia akan mengganti kain kafan ini dengan yang lebih baik, sedangkan jika Dia murka kepadaku, maka Dia akan melepasnya dengan keras." Setelah itu ia pun jatuh pingsan.

Ketika Umar bin Khattab siuman Ibnu Abbas berkata, "Shalatlah!, wahai Amirul Mukminin." Al-Faruq menoleh ke arahnya seraya berkata, "Aku hendak berwudhu untuk mengerjakan shalat." Mereka kemudian membangunkan Umar untuk wudhu, sedangkan lukanya terus mengeluarkan darah.

Setelah Umar bin Khattab selesai shalat, Ibnu Abbas berkata, "Wahai Amirul Mukminin, orang yang mencoba membunuhmu adalah budak milik Mughirah bin Syu'bah, yaitu Abu Lu'lu'ah." Umar bin Khattab kemudian berkata, "Segala puji bagi Allah, bahwa dia telah menjadikanku terbunuh di tangan seorang yang tidak pernah bersujud kepada Allah sama sekali. Semoga hal itu menjadi penuntut atasnya pada hari akhir kelak. Apakah ia telah bersepakat dengan salah seorang dari kaum muslimin?" Ibnu Abbas lantas keluar seraya bertanya kepada kaum muslimin, "Wahai kaum muslimin sekalian! Apakah ada seorang diantara kalian yang bersekongkol dengan Abu Lu'lu'ah?"

Mendengar hal itu, tangis kaum muslimin makin keras. Mereka berkata, "Demi Allah, sungguh kami ingin menambahkan umur kami kepada Umar bin Khattab." Kaum wanita pun berkata, "Demi Allah, kematian anak-anak kami lebih kami sukai daripada matinya Umar bin Khattab."

Abdullah bin Abbas kemudian masuk menemui Umar bin Khattab lalu mengusap dada Al-Faruq seraya berkata, "Wahai Amirul Mukminin, tenanglah. Engkau telah berhukum dengan kitab Allah dan engkau telah berlaku adil kepada sesama." Mendengar hal itu Umar tersenyum lalu berkata, "Apakah engkau bersaksi untukku dengan hal ini pada hari kiamat kelak?" Ibnu Abbas kemudian menangis. Umar lalu menepuk bahunya seraya berkata lagi, "Apakah engkau akan bersumpah untukku pada hari kiamat kelak bahwa aku telah berhukum dengan kitab Allah dan berlaku adil?" Ibnu Abbas lalu menjawab, "Aku akan bersaksi untukmu wahai Amirul Mukminin." Ketika itu Ali bin Abu Thalib menimpali, "Dan aku akan bersaksi pula untukmu, wahai Amirul Mukminin."

Umar bin Khattab kemudian berkata, "Lalu bagaimana dengan hutang-hutangku? Aku takut bila menghadap Allah, sedangkan aku masih memiliki hutang." Kemudian para sahabat menghitung semua hutang-hutangnya. setelah usai menghitung, terbilanglah bahwa hutangnya sebanyak delapan puluh enam ribu dirham.

Setelah itu, para sahabat mengumpulkan harta mereka untuk melunasi hutang-hutang Umar bin Khattab hingga ketika ia bertemu dengan Allah, ia tidak memiliki hutang. Sepekan setelah kematian Umar, terkumpullah harta tersebut lalu dibayarkan kepada Khalifah Utsman bin Affan, sehinga setelah itu Umar bin Khattab telah terbebas dari tanggungan hutang mana pun.

Pada detik-detik terakhir kematian Umar bin Khattab, ia meminta puteranya menghadap Ummul Mukminin Aisyah ra. untuk meminta izin agar setelah kematiannya nanti ia dikuburkan di dekat makam Nabi Muhammad SAW dan Abu Bakar Ash-Shiddiq. Ia berkata kepada puteranya, "Katakanlah kepada Aisyah ra., Umar meminta izin dan jangan engkau katakan Amirul Mukminin meminta izin. Sebab aku tidak patut sebagai pemimpin bagi kaum muslimin. Dan katakan kepadanya bahwa Umar tidak akan merasa tenang sehingga ia dikuburkan di dekat makam kedua sahabatnya dan ia meminta izin kepadamu. Jika ia mengizinkanku, maka segeralah datang kemari menemuiku!"

Ketika Abdullah bin Umar tiba di tempat Ummul Mukminin, ia mendapatinya tengah menangis. Aisyah sadar, kematian Umar itu sama halnya dengan terbukanya pintu-pintu fitnah. Ibnu Umar kemudian berkata kepadanya, "Dia meminta kepadamu agar ia dikuburkan di dekat makam kedua sahabatnya." Mendengar hal itu Aisyah menjawab, "Sebenarnya aku ingin agar tempat itu untukku. Jika Umar menginginkannya, maka aku mengutamakan dirinya daripada diriku."

Setelah itu, Abdullah bin Umar kembali menemui bapaknya untuk memberi kabar gembira. Umar bertanya kepadanya, "Apa yang ia katakan padamu wahai Ibnu Umar?" Abdullah menjawab, "Wahai Amirul Mukminin, aku beritahukan kabar gembira untukmu bahwa ia telah mengizinkanmu." Mendengar hal itu Umar berkata, "Alhamdulillah." Lalu ia kembali berkata, "Wahai Ibnu Umar! Jika aku telah mati bawalah aku dan baringkanlah aku di depan pintu Aisyah lalu katakanlah bahwa Umar meminta izin. Boleh jadi ia mengizinkanku ketika aku masih hidup karena merasa malu kepadaku."

Sebelum Umar bin Khattab meningal, ia telah memilih enam orang diantara para sahabat yang akan menggantikannya menjadi khalifah. Mereka adalah, Utsman bin Affan, Ali bin Abu Thalib, Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, Sa'ad bin Abu Waqash dan Abdurrahman bin Auf. Ketika puteranya diusulkan menjadi salah satu dari dewan syura, ia berkata, "Cukuplah satu saja keluarga Umar bin Khattab yang akan ditanya tentang urusan manusia pada hari kiamat kelak."

Umar bin Khattab meninggal pada hari Rabu, tangal 23 Dzulhijjah. Tepatnya, pada tahun 23 Hijriyah. Seluruh penduduk Madinah menangisi kepergiannya, dan ia dikuburkan di dekat makam kedua sahabatnya.

Wallohua'lam bisshowab

Kisah Cerita Wafatnya Khalifah Abu Bakar As Siddiq

Setelah Nabi Muhammad wafat, Abu Bakar menjadi khalifah Islam yang pertama pada tahun 632 hingga tahun 634 Masehi. Lahir dengan nama asli Abdul ka'bah bin Abi Quhafah.

Penyebab Kematian Abu Bakar As Siddiq

Beliau adalah satu di antara empat khalifah yang diberi gelar Khulafaur Rasyidin atau khalifah yang diberi petunjuk. Abu Bakar menjadi Khalifah selama 2 tahun, 2 bulan, dan 14 hari sebelum meninggal terkena penyakit.

Abu Bakar meninggal pada tanggal 23 Agustus 634 di kota Madinah karena sakit yang dideritanya pada usia 61 tahun. Abu Bakar dimakamkan di rumah putrinya Aisyah di dekat Masjid Nabawi, di samping makam Nabi Muhammad SAW.

Penyebab kematian Abu Bakar Ash-Shiddiq masih diperselisihkan. Ada yang mengatakan bahwa karena dia mandi dengan air yang sangat dingin yang menyebabkannya menderita demam, sehingga menyebabkan ia sakit yang membawanya wafat. Inilah yang menjadi penyebab kematiannya. Dikatakan pula bahwa penyebab kematiannya adalah racun yang disembunyikan oleh orang Yahudi sehingga jatuh sakit selama lima belas hari.


Kejadian ini tidak jauh berbeda dari orang-orang yang membunuh para nabi, yang berusaha membunuh Nabi Isa AS dan Nabi Muhammad SAW yang dilakukan sebanyak tiga kali. Mereka juga menghembuskan berbagai fitnah dan mencari-cari sebab untuk membunuh Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Thalhah dan Zubair.

Pada suatu hari saat ABu Bakar Ash-Shiddiq masih terbaring lemah karena sakit, Aisyah datang menemui bapaknya dan menangis. Abu Bakar Ash-Shiddiq pun melarangnya. Aisyah kemudian duduk di dekat bapaknya seraya membacakan beberapa syair tentang duka cita. Abu Bakar lalu berkata. "Wahai Aisyah bacalah firman Allah berikut :

"Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari daripadanya. Dan ditiuplah sangkakala. Itulah hari terlaksananya ancaman". (QS Qaaf  50:19-20).

Tatkala sakit Abu Bakar Ash-Shiddiq semakin parah, dia mulai bermusyawarah dengan para sahabat tentang penggantinya, yakni Umar bin Khattab. Abu Bakar bertanya kepada Abdurrahman bin Auf dan dijawab, "Dia lebih baik dari apa yang engkau perkirakan wahai Khalifah Rasulullah." Abu Bakar kemudian bertanya kepada Utsman bin Affan dan dia menjawab, "Menurut pengetahuanku, apa yang tersembunyi darinya lebih baik dari apa yang tampak darinya.

Abu Bakar Ash-Shiddiq kemudian memanggil Utsman bin Affan dan berkata kepadanya, "Tulislah wahai Utsman, ini perintah Abu Bakar bin Abu Quhafah pada akhir hayatnya, menjelang keluar ruh darinya dan pada permulaan masanya menuju akhirat. Sekiranya orang yang berdusta berkata jujur, orang yang fajir yakin dan orang yang kafir beriman, sungguh aku telah mencari pengganti bagi kalian." Sesudah itu ia pingsang sebelum menyebutkan nama.

Lalu Utsman bin Affan menuliskan: "Telah kucarikan pengganti atas kalian, yaitu Umar bin Khattab." Hal itu lantaran dia khawatir bilamana Khalifah Abu Bakar As-Shiddiq meninggal sebelum menentukan nama sehingga kaum muslimin berselisih mengenai siapakah pengganti sesudahnya. Utsman melakukan hal ini karena dia mengetahui bahwa Abu Bakar telah meminta pendapatnya mengenai penggantinya, yaitu Umar bin Khattab.

Ketika Abu Bakar As-Siddiq telah siuman, dia lantas berkata kepada Utsman bin Affan, "Bacakanlah apa yang telah kau tuliskan." Utsman kemudian membacanya, "Telah kuangkat Umar bin Khattabmenjadi penggantiku bagi kalian." Mendengar hal itu, As-Shiddiq berkata, "Allahu Akbar!, Aku melihat engkau khawatir jika aku meninggal sehingga umat bisa berelisih dan diantara mereka terjadi fitnah, semoga Allah membalasmu dengan kebaikan dari Islam dan Kaum Muslimin, wahai Utsman."

Setelah itu Abu Bakar Ash-Shiddiq mengumpulkan kaum muslimin dan berkata, "Wahai sekalian kaum Muslimin! Sesungguhnya aku hendak menuju negeri akhirat dan keluar dari dunia ini. Sesungguhnya, aku telah memilih untuk kalian sebagaimana yang tertulis di dalam lembaran ini. Maka dengarkan dan taatilah.

Apakah kalian akan menerima seseorang yang telah kumusyawarahkan dengan para sahabat dan kupilihkan untuk kalian?" Mereka menjawab, "Kami ridha!" Ali bin Abu Thalib kemudian berdiri seraya berkata, "Kami tidak ridha kecuali yang akan menjadi penggantinya adalah Umar bin Khattab." Abu Bakar Ash-Shiddiq pun lantas tersenyum dan berkata, "Dia adalah Umar bin Khattab. Maka dengarkanlah dan taatilah dia. Demi Allah, aku tidak mengetahui sesuatu pun tentangnya kecuali kebaikan."

Hari terus berlalu, dalam keadaan sakit Abu Bakar Ash-Shidiq bertanya kepada Umat Muslimin yang datang menjenguknya, "Hari apa ini?" "Senin" jawab mereka. Dia bertanya lagi. "Lalu hari apakah Nabi SAW wafat?" Mereka kembali menjawab, "Senin". Kemudian Ash-Shiddiq berkata, "Ya allah matikanlah aku pada malam ini." Dia bertanya kembali kepada mereka, "Berapakah kain kafan yang dikenakan pada Rasulullah SAW?" Mereka menjawab, "Tiga." Kemudian dia menyuruh orang-orang untuk menyiapkan tiga kain kafan baginya, dan agar kelak dia dimandikan oleh isterinya, Asma' binti Umais.

Kalimat terakhir yang diucapkan oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq sebelum dia wafat adalah, "Matikanlah aku dalam keadaan muslim dan susulkanlah aku bersama orang-orang yang shalih." Ash-Shiddiq meninggal pada waktu malam. Umar bin Khattab kemudian menshalatinya dan seluruh Madinah pun menangis. Dia dikuburkan berdampingan dengan makan Rasulullah SAW.

Suatu ketika Ali bin Abu Thalib pernah berhenti di makam beliau dan berkata, "Semoga Allah merahmatimu, wahai Abu Bakar. Demi Allah, engkau adalah orang pertama yang masuk Islam, yang paling tulus keimanannya, yang paling kokoh pendiriannya, yang paling besar kekayaannya, yang paling menjaga Rasulullah SAW, yang paling bersemangat menegakkan Islam, yang paling penyayang terhadap Kaum Muslimin, dan orang yang paling mirip dengan Rasulullah SAW dalam hal fisik, perilaku, sifat dan ketika memberi petunjuk. Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan dari Islam dan dari Rasulullah.

Engkaulah yang membenarkan Rasulullah saat orang-orang mendustakannya. Engkaulah yang menolongnya saat orang-orang menentang. Engkaulah yang selalu menyertainya saat orang-orang meninggalkannya. Allah menyematkan nama kepadamu di dalam kitab-Nya dengan 'Shiddiq' :

"Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertakwa". (QS Az-Zumar 39:33).


Engkaulah orang yang membenarkannya. Demi Allah, engkau adalah benteng bagi Islam, kekokohan dan azab bagi orang-orang kafir. Engkau seperti gunung yang tak tergoyahkan oleh badai dan tak terhempaskan oleh perpecahan. Engkau sebagaimana telah disabdakan Rasulullah SAW :

"'Bertubuh lemah, tapi kuat dalam menjalankan perintah Allah.''

Tawadhu terhadap dirimu dan agung di sisi Allah, mulia di bumi dan terhormat di kalangan Muslimin. Semoga Allah membalasmu dengan sebaik-baik balasan. Tidak ada seorang pun di sisinya yang berambisi dan tidak ada seorang pun disisinya yang diremehkan. Orang yang kuat di sisimu adalah lemah dan orang yang lemah di sisimu adalah kuat sehingga engkau mengambilkan hak baginya. Semoga Allah tidak menghalangi kami dari pahalamu dan tidak menyesatkan kami sesudahmu."

Wallohua'lam bisshowab

Wednesday, May 30, 2018

Kisah Cerita Wafatnya dan Meninggalnya Nabi Muhammad Saw

Nabi Muhammad lahir sekitar tahun 570 (Tahun Gajah) kota Arab Mekkah, Muhammad menjadi yatim piatu di usia mudanya; ia tumbuh di bawah pengasuhan Abu Talib.

Kisah wafatnya Nabi Muhammad

Wafatnya Nabi dan Rasul Islam Muhammad(570 – 632) disebabkan oleh demam tinggi di usianya yang ke-62 tahun, yang beliau alami selama beberapa bulan setelah kepulangannya dari Mekkah untuk melaksanakan ibadah Haji pertama dan terakhirnya.

Di dalam ibadah Haji tersebut terdapat sebuah khotbah terkenal yang disampaikan oleh Muhammad, yakni Khotbah Perpisahan, didalamnya berisi perintah dan larangan dari Allah. Untuk yang terakhir kalinya, nabi Muhammad mendapatkan wahyu melalui Malaikat Jibril di tahun 632 yakni Surah Al-Ma'idah ayat 3 yang menyatakan bahwa Tuhan telah meridoi Islam sebagai agama Muhammad dan sebagai agama yang sempurna dan disempurnakan, serta pernyataan bahwa nikmat kehidupan yang diberikan Tuhan kepada Muhammad telah dicukupkan.

Peristiwa tersebut terjadi dalam kejadian yang disebut Haji Perpisahan (Haji Wada'). Sebelumnya Muhammad telah menaklukan seluruh Semenanjung Arabia, dan menjadikannya sebagai negara di bawah pengaruh Islam. Berkat adanya Pertempuran Hunain dan Ekspedisi Tabuk, Muhammad memperoleh kejayaannya dan memindahkan agama Semenanjung Arabia dari Yahudi, Nasrani, dan Pagan menjadi Islam.

Rasulullah Saw telah kembali dari haji wada 'setelah Allah SWT memberi dorongan firman-Nya,

إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ. وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا. فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ ۚ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا.

Waktu telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Penerima Taubat. ”(QS: An-Nashr | Ayat: 1-3).

Setelah itu, Rasulullah Saw mulai mengucapkan kalimat dan melakukan sesuatu yang menyiratkan perpisahan. Beliau Rasulullah Saw bersabda pada haji wada '

لتأخذوا عني مناسككم لعلي لا ألقاكم بعد عامي هذا

Pelajarilah dariku tata cara haji kalian, bisa jadi aku tidak berjumpa lagi dengan kalian saat tahun ini.” (HR. Al-Bukhari, 4430).

Kemudian di Madinah, beliau berziarah ke makam baqi ', mendoakan keluarga. Juga menziarahi dan mendoakan syuhada Perang Uhud. Ia juga berkhotbah di hadapan para sahabatnya, berucap pesan seorang yang ingin wafat kepada yang hidup.

Pada akhir bulan Shafar tahun 11 H, Nabi Muhammad mulai mengeluhkan sakit kepala. Beliau merasakan sakit yang berat. Sepanjang hari-hari sakitnya beliau banyak berwasiat :

Pertama: Beliau mewasiatkan agar orang-orang musyrik dari Jazirah Arab Bertobat

Kedua: Berpesan untuk berpegang teguh dengan Alquran.

Ketiga: Pasukan Usamah bin Zaid inginnya tetap diberangkatkan pada layar Romawi.

Keempat: Berwasiat agar berbuat baik kepada orang-orang Anshar.

Kelima: Berwasiat agar menjaga shalat 5 waktu

Beliau mengecam dan melaknat orang-orang Yahudi yang menjadikan kuburan para nabi sebagai masjid. Lalu beliau mengumumkan dan melarang kuburan beliau menjadi berhala yang untuk disembah.

Di antara pesan beliau adalah agar orang-orang Yahudi dikeluarkan dari Jazirah Arab. Disebut termaktub dalam Musnad Imam Ahmad , 1/195.

Beliau berpesan dalam dunia tentang gemerlapan dunia. Janganlah berlomba-lomba dari dunia. Agar dunia tidak membuat binasa sebagaiman alam sebelumnya binasa karena dunia.

Dalam keadaan sakit berat, beliau tetap menjaga adab terhadap istri-istri, dan adil terhadap mereka. Nabi Muhammad meminta izin pada istri-istri untuk tinggal di rumah Aisyah. Mereka pun mengizinkannya.

Karena sakit yang sangat berat, Nabi Muhammad Mengizinkan Abu Bakar untuk mengimami Shalat terhadap masyarakat. Abu Bakar pun menjadi imam shalat selama beberapa hari di masa Hidup Rasulullah.

Sehari sebelum wafat, beliau bersedekah beberapa dinar. Lalu bersabda,

لا نورث ، ما تركناه صدقة

Kami (para nabi) tidak mewariskan. Apa yang kami berikan menjadi sedekah. ”(HR. Al-Bukhari dalam Fathul Bari , 12/8 No. 6730).

Pada hari senin, bulan Rabiul Awal tahun 11 H, Nabi Muhammad wafat. Hari itu adalah waktu dhuha yang penuh kesedihan. Wafatnya manusia sayyidalat Adam. Bumi orang yang paling mulia yang pernah menginjakkan kaki di atasnya.

Aisyah bercerita, “Ketika kepala beliau terbaring, tidur di atas pahaku, beliau pingsan. Kemudian (saat tersadar) mengarahkan pandangannya ke atas, seraya berucap, ' Allahumma ar-rafiq al-a'la '. ”(HR. Al-Bukhari dalam Fathul Bari , 8/150 No. 4463).

Beliau memilih perjumpaan dengan Allah SWT diakhirat. Beliau wafat setelah menyempurnakan risalah dan menyerahkan amanah.

Berita di pagi duka itu menyebar di antara para sahabat. Dunia terasa gelap bagi mereka. mereka bersedih karena berpisah dengan al-Kholil al-Musthafa. Hati-hati mereka bergoncang. Tidak percaya bahwa mereka memiliki tiada. Hingga di antara mereka menyanggahnya. Umar angkat bicara, “Rasulullah tidak wafat. Beliau tidak akan pergi kepada Allah, melambungkan orang-orang munafik. ”(Ibnu Hajar dalam Fathul Bari , 8/146).

Abu Bakar hadir, "Duduklah Umar", perintah Abu Bakar pada Umar. Namun Umar menolak duduk. Orang-orang mulai mengalihkan diri dari Umar menuju Abu Bakar. Kata Abu Bakar, “Amma ba'du… siapa di antara kalian yang menyembah Muhammad Saw, maka Muhammad telah wafat. Siapa yang menyembah Allah, maka Allah Maha Hidup dan tidak akan wafat. Kemudian ia membacakan firman Allah,

وما محمد إلا رسول قد خلت من قبله الرسل أفإن مات أو قتل انقلبتم على أعقابكم ومن ينقلب على عقبيه فلن يضر الله شيئا وسيجزي الله الشاكرين

Muhammad itu tidak lain hanya rasul, benar-benar telah menembak sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah Jika Anda melakukan sesuatu dengan memasukkan ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berputar ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur. ”(QS: Ali Imran | Ayat: 144).

Mendengar ayat yang dibacakan Abu Bakar, orang-orang seakan merasakan ayat itu baru turun hari itu. Mereka sangat larut dalam kesedihan. Mereka dalam keadaan kosong. Bagaimana tidak, mereka ditinggal orang yang paling mereka cintai.

Orang yang mereka rindu untuk berjumpa setiap hari. Orang yang lebih mereka cintai dari ayah, ibu, anak, dan semua manusia. Mereka lupa akan ayat itu. Dan mereka diajarkan oleh Abu Bakar, seorang yang paling kuat di antara mereka.

Wallohua'lam bisshowab

Itulah kisah menjelang Wafatnya Nabi Muhammad Saw, jika ada Kekeliruan silahkan anda memberi kami masukkan.

Kisah Cerita Wafatnya Nabi Isa dan diangkatnya Nabi Isa ke langit

Nabi Isa yang merupakan sumber perselisihan setelah pengangkatannya ke langit oleh Alloh SWT agar terhindar dari kepungan orang Yahudi.

Diangkatnya Nabi Isa ke langit

Al-Qur’an al-Karim menceritakan bahwa Allah SWT tidak menghendaki Bani Israil untuk membunuh Isa atau menyalibnya tetapi Allah SWT menyelamatkannya dari kekufuran mereka lalu mengangkatnya di sisi-Nya. Mereka tidak berhasil membunuhnya dan tidak berhasil menyalibnya tetapi ia diserupakan seperti orang-orang di antara mereka. Allah SWT berfirman:
(QS. An-Nisa’, 4: 157-158).

Dan Allah SWT juga berflrman:

“(Ingatlah), ketika Allah berfirman: ‘Hai Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu pada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orang-orang yang kafir. ”, dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu di atas orang-orang yang kafir hingga hari kiamat. Kemudian hanya kepada Aku-lah kembalimu, lalu Aku memutuskan diantaramu tentang hal-hal yang selalu kamu berselisih padanya”(QS. Ali ‘Imran, 3: 55).

Para ulama-ulama Islam sepakat atas hal itu dan mereka berselisih pendapat tentang cara beragumentasi terhadap apa yang mereka yakini sebagai kebenaran. Sebagian mereka meyakini nas-nas Al-Qur’an saja yang menyebut tentang Isa al-Masih dan mereka tidak mendukungnya atau memperkuatnya dengan kitab-kitab lain selain Al-Qur’an. Kedua metode tersebut memiliki titik kekuatan tersendiri. Orang yang berpegangan dengan pendapat yang pertama mengatakan bahwa Nabi melarang untuk membahas kitab-kitab pegangan kaum Yahudi dan kaum Nasrani. Bagi kaum itu agama mereka dan bagi kita agama kita dan hanya Allah SWT yang akan memutuskan segala perselisihan di antara kita pada hari kiamat.

Sedangkan orang-orang yang berpegangan dengan cara yang kedua mengatakan bahwa larangan Nabi tersebut terjadi pada permulaan masa Islam di mana kaum Muslim sangat dekat dengan masa jahiliah. Nabi memerintahkan mereka agar tidak disibukkan dengan kitab-kitab lain selain kitab mereka, yakni Al-Qur’an. Yang demikian ini dimaksudkan agar mereka memiliki akidah yang kuat dan keyakinan mereka benar-benar tertanam dalam diri mereka, tetapi ilmu dan pandangan ilmiah menetapkan bahwa seorang yang alim harus banyak menggali kitab-kitab kuno dalam rangka mengetahui kebenaran dan jika ia mendapati sesuatu yang sesuai dengan apa yang didapatinya dengan kebenaran, maka hatinya akan lebih merasa tenang dan damai.

Berkaitan dengan kelompok yang pertama yang merasa cukup dengan Al-Qur’an, kita tidak menemukan perincian-perincian yang mendalam berkenaan dengan usaha penangkapan Isa, bagaimana proses pengangkatannya ke langit, di mana Isa diserupakan dengan salah seorang di antara mereka, bagaimana dia diserupakan dengan salah seorang di antara mereka. Allah SWT telah menyerupakannya dengan salah seorang di antara mereka sedangkan Nabi Isa diangkat ke langit.

Demikianlah penjelasan singkat mereka, tidak ada penambahan lagi. Sedangkan kelompok yang kedua, mereka melontarkan kisah secara lengkap. Mereka mengatakan bahwa Allah SWT menyerupakan Isa dengan Yahuda. Yahuda ini adalah Yahuda al-Askhariyutha yang menurut Injil ia menjualnya kepada musuh-musuhnya dan menunjukkan kepada mereka tentang keberadaannya. Ia adalah seorang muridnya yang terpilih. Demikian ini sesuai dengan Injil Barnabas di mana disebutkan di dalamnya: “Ketika para tentara mendekat bersama Yahuda di tempat yang di situ terdapat Yasu’, maka Yasu’ mendengar kedatangan segerombolan orang yang menuju tempatnya. Oleh karena itu, ia segera pergi ke rumah dalam keadaan takut. Di dalam rumah itu terdapat sebelas orang yang tidur.

Ketika Allah melihat bahaya akan mengancam hamba-Nya, maka Dia merintahkan Jibril, Mikail, dan Rafail (Israfil), serta Idril (Izrail) yang mereka semua adalah para utusan-Nya untuk mengambil Yasu’ dari dunia. Lalu datanglah malaikat-malaikat yang suci di mana mereka mengambil Yasu’ dari pintu yang dekat dengan arah selatan.

Mereka membawanya dan meletakkannya di langit yang ketiga dengan disertai para malaikat yang selalu bertasbih kepada Allah selama-lamanya. Yahuda masuk secara paksa ke kamar yang di situlah Yasu’ diangkat ke langit.

Saat itu murid-murid sedang tidur semuanya, lalu Allah mendatangkan keajaiban yang luar biasa di mana Yahuda berubah cara berbicaranya dan juga wajahnya. Ia sangat mirip sekali dengan Yasu’ sehingga kami mengiranya Yasu’. Adapun ia (Yahuda) setelah membangunkan kami, ia mencari-cari di mana si guru berada.

Oleh karena itu, kami merasa heran dan kami menjawab, “bukankah engkau wahai tuanku guru kami, apakah sekarang engkau telah melupakan kami?” Demikianlah kisah yang terdapat dalam Injil Barnabas.

Allah SWT berfirman:

Al-Masih putra Maryam itu hanyalah seorang rasul yang Sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa rasul, dan ibunya seorang yang sangat benar, kedua-duanya biasa memakan makanan.”. perhatikan bagaimana Kami menjelaskan kepada mereka (ahli Kitab) tanda-tanda kekuasaan (Kami), Kemudian perhatikanlah bagaimana mereka berpaling (dari memperhatikan ayat-ayat kami itu).(QS. Al-Maidah, 5: 75).

Di antara kejahatan yang pernah dilakukan oleh orang-orang Yahudi adalah upaya pembunuhan terhadap salah satu nabi utusan Allah SWT yang mulia, yaitu Isa Al-Masih bin Maryam ‘alaihissalam, setelah sebelumnya mereka dengki kepada beliau, mendustakan, dan tidak mau beriman kepada beliau.

Begitulah Yahudi, membunuh nabi merupakan sifat dan kebiasaan mereka sejak dahulu. Kalau para nabi saja mereka bunuh, maka tentu menumpahkan darah kaum muslimin secara umum merupakan perbuatan yang lebih ringan lagi bagi mereka. Sehingga tidaklah mengherankan jika kemudian orang-orang Yahudi di masa kini dengan mudahnya melakukan pembantaian terhadap saudara-saudara kita kaum muslimin di Palestina dan di negeri-negeri lainnya.

Orang-orang Yahudi mengklaim telah berhasil membunuh Nabi Isa AS. Namun ayat 157 surah An-Nisa’ ini membantah pengakuan mereka itu. Allah subhanahu wata’ala menjaga dan melindungi Nabi Isa ‘AS dari makar jahat mereka. Allah SWT tidak membiarkan jiwa dan darah Nabi-Nya yang suci itu terkotori oleh tangan-tangan najis orang-orang Yahudi.

PERISTIWA PENYALIBAN NABI ISA

Dalam tafsirnya, al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah menyebutkan bahwa di antara kisah mengenai orang-¬orang Yahudi -semoga laknat Allah SWT, kemurkaan, kemarahan, dan adzab-Nya selalu menimpa mereka- adalah tatkala Allah SWT mengutus Isa bin Maryam ‘alaihissalam dengan membawa bukti-¬bukti (kebenaran risalah-Nya) yang nyata dan petunjuk, mereka (orang-orang Yahudi) dengki kepadanya karena beliau telah dikaruniai oleh Allah SWT berupa risalah kenabian dan berbagai mukjizat yang nyata.

Di antara mukjizatnya adalah dapat menyembuhkan orang yang buta dan orang yang terkena penyakit sopak (penyakit belang pada kulit), menghidupkan kembali orang yang telah mati dengan izin Allah SWT mampu membuat patung seekor burung dari tanah liat lalu ia meniupnya dan jadilah patung itu burung sungguhan dan dapat terbang dengan disaksikan oleh banyak orang dengan seizin Allah SWT, serta berbagai mukjizat lainnya sebagai bentuk pemuliaan Allah SWT tehadap beliau ‘alaihissalam. Berbagai mukjizat tersebut atas kehendak Allah SWT melalui kedua tangan Nabi Isa AS.

Walaupun demikian, orang-orang Yahudi mendustakan beliau dan menyelisihinya, serta berupaya untuk mengganggunya dengan segenap kemampuan yang mereka miliki. Sehingga hal ini menyebabkan Nabiyullah Isa ‘AS tidak bisa tinggal dalam satu negeri bersama mereka, namun beliau banyak mengembara, dan ibunya (Maryam) pun ikut mengembara bersama beliau ‘alaihissalam.

Orang-orang Yahudi masih belum puas dengan keadaan ini. Akhirnya mereka pun berusaha menemui Raja Dimasyq (Damaskus) di masa itu. Raja Dimasyq adalah seorang musyrik penyembah bintang, para pemeluk agamanya dikenal dengan sebutan pemeluk agama Yunani.

Ketika orang-orang Yahudi itu sampai kepada raja tersebut, mereka menyampaikan (berita dusta) kepadanya bahwa di Baitul Maqdis terdapat seorang lelaki yang menebarkan fitnah di tengah-tengah manusia, menyesatkan mereka, dan mengajak mereka agar memberontak kepada raja. Si raja pun murka demi mendengar laporan tersebut. Kemudian ia menulis surat kepada wakilnya (kepala daerah) yang ada di Baitul Maqdis, memerintahkan agar menangkap lelaki yang dimaksud, lalu menyalibnya, dan meletakkan duri-duri di kepalanya agar tidak mengganggu orang-orang lagi.

Ketika surat raja itu sampai kepadanya, ia segera melaksanakan perintah rajanya itu. Lalu ia berangkat bersama sekelompok orang Yahudi menuju sebuah rumah yang di dalamnya terdapat Nabi Isa‘AS. Ketika itu, beliau bersama sejumlah sahabatnya, jumlah mereka ada dua belas atau tiga belas orang. Menurut pendapat yang lain adalah tujuh belas orang. Peristiwa tersebut terjadi pada hari Jum’at, sesudah waktu Ashar, yaitu malam Sabtu. Mereka pun mengepung rumah tersebut.

Ketika Nabi Isa ‘AS merasa bahwa mereka pasti dapat memasuki rumah itu atau ia (terpaksa) keluar rumah dan akhirnya pasti berjumpa dengan mereka, maka ia pun berkata kepada para sahabat¬nya, “Siapakah di antara kalian yang bersedia untuk diserupakan dengan diriku? Kelak ia akan menjadi temanku di surga.” Maka ada seorang pemuda yang bersedia untuk itu. Namun Nabi Isa AS memandang pemuda itu masih terlalu kecil untuk melakukannya. Sehingga ia pun mengulangi permintaannya sebanyak dua atau tiga kali.

Tetapi setiap kali ia mengulangi perkataannya, tidak ada seorang pun yang bersedia kecuali pemuda itu. Akhirnya Nabi Isa ‘AS pun berkata, “(Kalau memang demikian), kamulah orangnya.” Maka Allah SWT menjadikannya mirip seperti Nabi Isa AS, hingga seolah-olah ia me¬mang Nabi Isa ‘AS sendiri.

Lalu terbukalah salah satu bagian dari atap rumah itu, dan Nabi Isa ‘AS tertimpa rasa kantuk yang sangat hingga ia pun tertidur. Dalam keadaan demikian, Allah SWT mengangkat beliau ‘alaihissalam menuju langit sebagaimana firman-Nya :

"(ingatlah), ketika Allah berfirman: “Hai Isa, Sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orang-orang yang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu di atas orang-orang yang kafir hingga hari kiamat. Kemudian hanya kepada Aku-lah kembalimu, lalu Aku memutuskan diantaramu tentang hal-hal yang selalu kamu berselisih padanya”.(QS. Ali Imran, 3: 55).

Setelah Nabi Isa AS diangkat ke langit, para sahabatnya keluar. Ketika mereka (orang-orang yang hendak menangkap Nabi Isa AS) melihat pemuda (yang mirip Nabi Isa AS) itu, mereka menyangka ia adalah Nabi Isa AS. Pada malam itu juga mereka menangkap dan menyalibnya, serta meletakkan ¬duri-duri di kepalanya.

Orang-¬orang Yahudi menampakkan bahwa merekalah yang telah berhasil menyalib Nabi Isa AS dan mereka merasa bangga dengan hal ini. Ternyata beberapa kalangan dari orang-¬orang Nasrani juga mempercayai hal tersebut (bahwa Nabi Isa AS disalib) karena kebodohan dan pendeknya akalnya mereka.

Kecuali mereka yang ada di rumah tersebut bersama Nabi Isa Al-Masih ‘alaihissalam, mereka tidak mempercayainya karena menyaksikan sendiri bahwa Nabi Isa AS diangkat ke langit. Adapun selain dari mereka, semuanya menyangka sebagaimana yang disangka oleh orang-¬orang Yahudi, bahwa orang yang disalib itu adalah Isa Al-Masih putra Maryam ‘alaihissalam.

Hingga akhirnya mereka pun menyebutkan (sebuah mitos) bahwa Ibunda Maryam duduk di bawah orang yang disalib itu dan menangisinya. Disebutkan pula bahwa Nabi Isa ‘AS (yang mereka sangka disalib itu) bisa berbicara dengan ibundanya itu. Wallahu a’lam. (lihat Tafsir Ibnu Katsir)

Walaupun mereka mengaku telah membunuh dan menyalib Isa Al-Masih ‘alaihissalam, namun sebenarnya mereka sendiri ragu, apakah yang dibunuh dan disalib itu benar-benar Nabi Isa AS atau bukan. Allah Dzat yang Maha Mengetahui isi hati hamba-Nya menyatakan (artinya):

Sesungguhnya kami telah membunuh Al Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah”, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. (QS. An-Nisa’4: 157).

Kini, Orang-Orang Nasrani Telah Menyimpang dari Ajaran Isa Al-Masih

Orang-orang Nasrani yang masih saja mempercayai bahwa Nabi Isa ‘AS (Yesus menurut mereka) sudah meninggal dalam keadaan tersalib, maka sungguh mereka telah tertipu. Allah SWT telah menyelamatkan dan mengangkat beliau ke langit. Dengan kehendak dan kemampuan-Nya, Nabi Isa ‘AS masih hidup hingga sekarang, dan nanti di akhir zaman, Allah SWT akan menurunkan beliau kembali ke muka bumi dalam rangka menjalankan syariat Islam sebagaimana yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW, menyeru umat manusia untuk menauhidkan Allah SWT, mengajak mereka agar beribadah dan sujud hanya kepada-Nya, serta menjauhkan mereka dari segala bentuk kesyirikan.

Demikianlah sejak awal mula diangkat menjadi rasul, sampai meninggalnya nanti setelah turun ke bumi, Nabi Isa AS senantiasa mengajak umat manusia agar beribadah hanya kepada Allah SWT. Nabi Isa AS tidak akan pernah rela diibadahi dan dipertuhankan. Nabi Isa‘AS tidak pernah mengajak umatnya untuk menyembah beliau dan tidak pula mengajak umatnya agar sujud kepada ibundanya. Allah SWT berfirman :

"Dan (Ingatlah) ketika Allah berfirman: “Hai Isa putera Maryam, Adakah kamu mengatakan kepada manusia: “Jadikanlah aku dan ibuku dua orang Tuhan selain Allah?”. Isa menjawab: “Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). jika aku pernah mengatakan maka tentulah Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha mengetahui perkara yang ghaib-ghaib”. (QS. Al-Maidah, 5: 116)

Kalau Nabi Isa AS menyaksikan keyakinan dan kehidupan beragama orang-orang Nasrani sekarang, pasti beliau akan mengingkarinya dan akan menyatakan bahwa mereka adalah orang-orang kafir. Allah SWT berfirman :

Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah Al-Masih putra Maryam”, padahal Al-Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israil, beribadahlah kepada Allah Rabbku dan Rabb kalian semua.”. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. (QS. Al-Maidah, 5: 72)

Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali sesembahan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir diantara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih.” (QS. Al-Maidah, 5: 73)

Orang-orang Yahudi berkata: “Uzair itu putera Allah” dan orang-orang Nasrani berkata: “Al Masih itu putera Allah.” Demikianlah itu ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah mereka , bagaimana mereka sampai berpaling?”(QS. At-Taubah, 9: 30)

Ketika turun ke muka bumi ini, Nabi Isa ‘AS akan berjuang bersama kaum muslimin untuk menegakkan syariat Islam dan memerangi kekufuran dan syiar-syiarnya. Beliaulah yang akan membunuh Dajjal, menghancurkan salib yang merupakan simbol kebesaran dan syiar kaum Nasrani, membunuh babi-babi, dan beliau tidak menghendaki apapun dari orang-orang kafir melainkan mereka harus masuk Islam, karena jizyah (upeti) sudah tidak berlaku lagi. Hal ini sebagaimana yang telah diberitakan oleh Rasulullah SAW dalam sabda beliau :

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَيُوشِكَنَّ أَنْ يَنْزِلَ فِيكُمْ ابْنُ مَرْيَمَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَكَمًا مُقْسِطًا، فَيَكْسِرَ الصَّلِيبَ، وَيَقْتُلَ الْخِنْزِيرَ، وَيَضَعَ الْجِزْيَةَ، وَيَفِيضُ الْمَالُ حَتَّى لاَ يَقْبَلَهُ أَحَدٌ.

Demi Dzat Yang jiwaku berada di tangan-Nya (Demi Allah), sungguh telah dekat saatnya Isa putra Maryam turun di tengah-tengah kalian sebagai hakim yang adil (yang menjalankan syariat ini), ia akan menghancurkan salib, membunuh babi, meletakkan (tidak memberlakukan) jizyah, dan harta akan melimpah sampai-sampai tidak ada seorangpun yang mau menerimanya.” (H.Riwayat Muttafaqun ‘Alaihi).

Wallohua'lam bisshowab

Kisah Cerita wafatnya Nabi Zakariya dan Nabi Yahya

Nabi Zakaria diutus kepada bani Israil ketika kemaksiatan, kemungkaran, kezhaliman, dan kerusakan merajalela di kalangan mereka. Selain itu, raja-raja kejam serta zhalim juga berkuasa di sana dan selalu berbuat kerusakan. Herodes, penguasa Palestina adalah raja yang paling jahat dan suka melanggar.

Kuwaluhan.com

Dialah yang memerintahkan membunuh Nabi Zakaria dan Nabi Yahya. Saat dibunuh, Nabi Zakariya berusia sekitar 122 tahun. Sedangkan Nabi Yahya belum jelas usianya, karena tidak banyak disebutkan.

Ishaq Bin Bisyr dan Ibnu Asakir dari Ibnu Abbas berkata bahawa pada malam Nabi S.A.W. diisra'kan, baginda Muhammad Saw telah bertemu dengan Nabi Zakaria di langit.

Zakaria mengucapkan salam kepada Nabi Muhammad S.A.W. Setelah itu baginda bertanya kepada Nabi Zakaria mengenai perkara yang terjadi ke atasnya.

"Wahai Abu Yahya,beritahu kepadaku ketika engkau dibunuh, bagaimana kejadiannya dan mengapa Bani Israil membunuhmu?"

Nabi Zakaria menjawap,"Wahai Muhammad, Yahya adalah orang yang paling baik pada zamannya. Paling tampan dan cukup menawan wajahnya."

"Sebagaimana yang difirmankan Allah,dia juga menjadi pemimpin yang handal. Inilah yang menyebabkan isteri Bani Israil(Herod Antipas) jatuh hati kepadanya meskipun dia itu asalnya seorang pelacur."

"Dia telah mengirim utusan kepada beliau namun Allah memelihara dirinya hingga Yahya menolak dan enggan kepadanya. Maka dia bertekad untuk membuat Yahya sengsara."

"Bani Israil mempunyai hari raya setahun sekali. Pada hari itu mereka akan berkumpul. Menjadi kebiasaan raja ini,dia sentiasa menepati janji dan dia tidak pernah berdusta. Raja ini sangat cinta kepada isterinya. Jadi pada hari raya itu, raja bersama isterinya yang cantik."

"Ketika berjalan-jalan itulah raja bertanya kepada isterinya supaya meminta sesuatu dan raja akan mengikut kehendaknya. Isteri raja pun memberitahu bahawa dia ingin mendapatkan darah Yahya Bin Zakaria."

"Raja berkata,mintalah selain daripada itu. Tetapi isterinya tetap menginginkan darah nabi Yahya juga dan tidak mahu yang lain. Raja pun bersetuju. Kemudian dia pun mengutuskan para pengawal untuk menemui Yahya yang pada ketika itu sedang berada di mihrab,sedang bersolat."

"Saat itu,aku(Nabi Zakaria) berada di sisi Yahya ikut sholat. Seketika itu juga Yahya dipenggal lehernya dan darahnya ditampung pada sebuah bekas bersama kepalanya,"begitu cerita Nabi Zakaria mengenai kejadian yang berlaku di depan matanya.

Nabi S.A.W. bertanya bagaimana Zakaria boleh bersabar melihat kejadian itu?

"Aku tidak menoleh dari sholatku. Sewaktu kepala Yahya dibawa ke hadapan isteri raja itu, maka Allah membalikkan raja dan segenap keluarganya."

"Pada pagi harinya, Bani Israil berkata bahawa Tuhan Zakaria telah marah disebabkan peristiwa itu tetapi orang Bani Israel lebih berhak untuk marah semata-mata kerana hendak membela rajanya. Justru itu mereka hendak membunuh Zakaria pula."

"Mereka pun mencariku untuk membunuhku. Ada orang memberitahu niat mereka itu kepadaku menyebabkan aku pun lari menghindarkan diri dari mereka. Pihak Iblis pun ada di hadapan mereka untuk menunjukkan arah di mana aku berada."

"Ketika aku sudah putus-asa dan tidak ada harapan untuk lari dari mereka,tiba-tiba ada pohon yang berkata kepadaku: Masuklah ke mari."

"Pohon itu terbuka dan aku masuk ke dalamnya. Iblis pula datang dan dia melihat hujung serbanku yang masih  kelihatan di luar pohon."

Kuwaluhan.com

"Setelah Bani Israil tiba,  Iblis berkata, Adakah kamu tidak melihat bahwa dia Zakariya berada di dalam batang pohon itu? Inilah hujung serbannya, Dia masuk ke dalam batang pohon dengan kekuatan sihir."

"Mereka bertanya sesama mereka apakah pohon ini boleh dibakar saja? sebaliknya Iblis menyarankan supaya pohon itu dibelah dengan gergaji. Sebab itulah mereka membelahnya dengan gergaji."

Demikian kisah panjang yang diceritakan semula oleh Nabi Zakaria A.S. kepada Nabi Muhammad S.A.W.di malam Isra' mi'raj.

Pembunuhan kepada Nabi Zakaria adalah atas bantuan Iblis yang memang tugasnya mengoda manusia supaya melakukan sesuatu termasuk membunuh.

Hasutan Iblis ke atas isteri raja sehingga dia sanggup meminta darah Nabi Yahya dengan maksud membunuh kerana tidak mahu tunduk kepada kehendak isteri raja.

Begitulah nasib yang menimpa Nabi Zakaria. Beliau mati digergaji oleh Bani Israil atas hasutan Iblis.

Kedua-dua Nabi ini mati syahid dalam mempertahankan ajaran Allah. Kedua-duanya tidak takut mengkritik raja yang mau mengawini anak tirinya kerana perbuatan tersebut adalah melanggar syariat.

Wallohua'lam bisshowab

Kisah Cerita Nabi Ilyas yang tidak Wafat

Nabi Ilyas AS diduga tidak wafat (meninggal dunia), dan kini beliau sedang berdzikir di tengah-tengah muka bumi ini, dan jasadnya dijadikan ghaib oleh Allah SWT sehingga beliau tidak bisa diketahui akan keberadaannya sekarang.

Kuwaluhan.com

Imam Ad-Daraqathni meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas RA:
Nabi Khidir dan Nabi Ilyas bertemu setiap tahun saat musim haji, dan mereka berdua saling mencukur kepala (Tahallul) satu sama yang lain”. (Riwayat Ibnu ‘Abbas RA).

Dalam Az-Zuhd riwayat Imam Ahmad dan Imam Thabarani dikatakan:
Nabi Khidir dan Nabi Ilyas bertemu setiap tahun pada saat musim haji, dan mereka berdua saling mencukur kepala (Tahallul) satu sama yang lain. Dan mereka berdua berpuasa Ramadhan di Baitul Maqdis!”. (Menurut Ibnu Hajar, riwayat ini sanadnya hasan).

Di dalam Musnad Abu Usamah dikatakan: “Nabi Khidhir di samudra dan Nabi Ilyas di daratan, mereka bertemu tiap malam di samping tembok yang dibuat oleh Dzulqarnain”. (Lihat Syawahid Al-Haq pada halaman 200 tentang 4 hadits yang dibawakan oleh Ibnul Jauzi).

Nabi Ilyas AS dan Nabi Ilyasa AS bersama-sama mengemban misi dakwahnya kepada Bani Isra’il di Isra’il. Kurang lebih selama delapan tahun, Nabi Ilyas AS hidup bersama Nabi Ilyasa AS untuk menjalankan misi dakwahnya kepada Bani Isra’il.

Ketika itu mereka berdua berjalan-jalan ke sebelah timur sungai Yordan. Tiba-tiba datanglah angin badai disana dan akhirnya reda.

Pada suatu hari, ketika Nabi Ilyas AS sedang beristirahat datanglah Malaikat Maut kepadanya. “Hai Ilyas, penuhilah panggilan Allah, kini saatnya nyawa mu akan kujemput! Maka bersiap-siaplah, hai Ilyas!” kata Malaikat Maut. Mendengar berita itu, Nabi Ilyas AS menjadi sedih dan menangis. “Mengapa engkau bersedih, Ilyas?” tanya Malaikat maut. “Tidak tahulah” jawab Nabi Ilyas AS. “Apakah engkau bersedih karena akan meninggalkan dunia dan takut menghadapi kematian ?” tanya malaikat Maut. “Tidak.

Tidak ada satupun yang aku sesali kecuali karena aku menyesal karena tidak bisa lagi berdzikir kepada Allah, sementara yang masih hidup bisa terus berdzikir memuji Allah,” jawab Nabi Ilyas AS.

Saat itu Allah SWT lantas menurunkan wahyu kepada Malaikat Maut agar menunda pencabutan nyawa itu dan memberi kesempatan kepada Nabi Ilyas AS berdzikir sesuai dengan permintaannya. Nabi Ilyas  ingin terus hidup semata-mata karena ingin berdzikir kepada Allah SWT. Maka berdzikirlah Nabi Ilyas AS sepanjang hidupnya.

Allah SWT berfirman:
Biarlah Nabi Ilyas hidup di taman untuk berbisik dan mengadu serta berdzikir kepada-Ku sampai akhir nanti (hari kiamat)!”.

Mendengar firman Allah tersebut, maka Malaikat Maut tidak jadi mencabut nyawa Nabi Ilyas AS. Maka selama-lamanya Nabi Ilyas AS tidak akan pernah mati (tidak akan pernah meninggal dunia) kecuali di Hari Kiamat.

Maka dibuatlah Nabi Ilyas AS tetap hidup abadi hingga hari kiamat, nyawa nya tidak dicabut, namun diri nya dijadikan ghaib oleh Allah SWT sebagaimana Nabi Khidir yang tetap hidup namun diri nya dijadikan ghaib oleh Allah SWT agar tidak bisa dilihat, didengar, dan diketahui keberadaannya oleh orang yang masih hidup di dunia.

Allah SWT menjadikan Nabi Khidir AS dan Nabi Ilyas AS tetap hidup dan tidak pernah mati hingga hari kiamat kelak. Allah SWT menempatkan Nabi Khidir AS di tengah-tengah lautan, sedangkan Nabi Ilyas ASditempatkan-Nya di tengah-tengah taman yang luas yang indah yang ada di tengah-tengah muka bumi ini, sambil terus-menerus dalam keadaan berdzikir kepada Allah SWT dari dulu, dan detik ini, dan sampai wafatnya nanti di hari kiamat.

Wallohua'lam bisshowab

Tuesday, May 29, 2018

Kisah Cerita Wafatnya Nabi Sulaiman As

Pada suatu ketika nabi Sulaiman menyendiri di Baitul Maqdis yang saat itu dibangun pada tahun keempat kekuasaannya. Nabi Sulaiman AS menyendiri dalam waktu satu atau dua tahun, satu atau dua bulan.

Kuwaluhan.com

Beliau membawa makanan dan minumannya. Beliau tidak bangun pagi dan di dalam Baitul Maqdis sudah tumbuh pohon. Nabi Sulaiman AS mendatangi pohon itu dan bertanya,

“Siapa namamu?”
“Namaku ini dan ini,” jawab pohon itu.
“Akan tumbuh sebagai tumbuhan atau sebagai obat?” tanya Nabi Sulaiman lagi.
“Aku tumbuh sebagai obat itu dan ini,” jawab pohon tersebut.

Akhirnya pohon itu dinamakan Al Kharubah (Perusak).

Nabi Sulaiman bertanya lagi, “Siapa namamu?”

“Namaku Kharubah,” jawab pohon itu lagi.
“Kenapa engkau tumbuh?” tanya Nabi Sulaiman.

“Aku tumbuh untuk merusak masjid ini,” jawab pohon itu.

Nabi Sulaiman berkata, “Allah tidak akan merusak masjid ini selama aku hidup. Pada wajahmu, ada kebinasaanku dan kerusakan Baitul Maqdis.”

Nabi Sulaiman lalu mencabut pohon itu dan menanamnya di dinding rumahnya. Lalu, Nabi Sulaiman masuk ke mihrab dan berdiri shalat sambil bersandar pada tingkatnya dan kemudian meninggal tanpa setan pun tahu.

Setan-setan yang sedang bekerja untuk Nabi Sulaiman pun takut kalau Nabi Sulaiman akan keluar dan memberikan hukuman pada mereka. Akhirnya mereka berkumpul di sekeliling mihrab dan di depan serta belakang Nabi Sulaiman ada dinding.

Setan yang ingin mencabut pohon Al Kharubah berkata, "Bukankah akan menjadi kuat jika aku masuk dan keluar dari sisi itu?"

Maka setan itu pun masuk dari sisi tersebut hingga keluar dari sisi yang lain. Setan yang berjalan di mihrab itu tidak melihat maupun mendengar suara Nabi Sulaiman 'alaihissalam yang berada di dalam mihrab dan setan tersebut malah terbakar.

Hingga setan itu kembali berada di Baitul Maqdis dan tidak terbakar lagi, ia lalu melihat Nabi Sulaiman telah jatuh dalam keadaan wafat.

Setan tersebut lalu keluar dan memberitahukan pada orang-orang bahwa Nabi Sulaiman telah meninggal dunia. Mereka pun membuka pintu dan mengeluarkan Nabi Sulaiman, lalu menemukan tongkat yang telah dimakan oleh tanah dan mereka tidak mengetahui sejak kapan Nabi Sulaiman telah meninggal dunia.

Mereka lalu menaruh tanah di atas tongkat tersebut, sehingga tanah itu memakannya siang dan malam hari. Akhirnya, mereka memperkirakan bahwa Nabi Sulaiman telah meninggal dunia sejak satu tahun yang lalu.

Ibnu Mas'ud berkata, "Kemudian mereka mencermati secara bersungguh-sungguh untuknya setelah kematian Sulaiman selama satu tahun penuh sehingga orang-orang pun yakin bahwa jin telah berdusta.

Seandainya bangsa jin mengetahui hal ghaib, niscaya mereka mengetahui kematian Sulaiman. Kemudian mereka akan merasakan azab yang menghinakan. Dan itulah makna firman Allah ta'ala yang diterangkan dalam Al-Quran Surat Saba’ ayat 14.
Maka tatkala Kami telah menetapkan kematian Sulaiman, tidak ada yang menunjukkan kepada mereka kematiannya itu kecuali rayap yang memakan tongkatnya. Maka tatkala ia telah tersungkur, tahulah jin itu bahwa kalau sekiranya mereka mengetahui yang gaib tentulah mereka tidak akan tetap dalam siksa yang menghinakan.” (QS. Saba' ayat 14).

Peristiwa kematian Nabi Sulaiman yang penuh dengan misteri dan keajaiban, wafat dalam keadaan duduk di kursi, dengan memegang tongkat sambil mengawasi dan memperhatikan jin yang bekerja.. Hal ini menunjukkan tanda-tanda kekuasaan Allah.

Ibnu Mas'ud mengemukakan, "Tampak oleh orang-orang secara jelas bahwa jin-jin itu telah berbohong. Kemudian setan-setan itu berkata kepada bumi, 'Jika kamu memakan makanan, niscaya aku akan datangkan kepadamu makanan yang paling lezat untukmu. Dan jika kamu meminum minuman, niscaya aku akan memberikan minuman yang paling segar kepadamu.
Tetapi, kami akan memindahkan air dan tanah kepadamu.'

Asbagh mengatakan, "Aku pernah mendengar juga dari ulama lainnya bahwa binatang-binatang itu tinggal di sana selama satu tahun memakan tongkat Sulaiman hingga akhirnya rapuh dan roboh,"

Wallohua'lam Bisshowab

Kisah Cerita Wafatnya Nabi Daud As

Nabi Daud meninggal dalam usia sekitar 100 tahun dan dikebumikan di Baitul Muqaddis.
Nabi Daud dalam islam di kenal dengan puasanya yaitu puasa Daud,(sehari puasa sehari tidak).

Kuwaluhan.com

Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah bersabda,
“Nabi Daud adalah seorang nabi yang memiliki rasa cemburu tinggi. Setiap Kali Beliau keluar Selalu Pintu-Pintu Nirkabel, tidak ada yang bisa masuk ke rumah Nabi Daud sebelum beliau pulang.

Suatu hari beliau ke luar dan rumah pun telah dikunci. Tiba-tiba tiba-tiba mengintip dan melihat ada lelaki ber-diri di ruang tengah. Istrinya bertanya, 'siapa yang di dalam kamar?' Dari mana lelaki itu bisa masuk padahal pintu terkunci? Demi Allah, ini merupakan cara untuk mencemarkan nama baik Daud .

Kemudian Nabi Daud datang, lelaki itu masih berada di ruang tengah, lalu Daud bertanya kepada lelaki tersebut, 'Kamu siapa?' Dia menjawab, 'Aku adalah yang tidak pernah merasa takut dengan para raja dan tidak ada sesuatu yang dapat terkendali!'

Nabi Daud berkata, 'Demi Allah, Tuhan adalah malaikat pencabut nyawa. Kalau begitu, aku ucapkan selamat datang kepadamu untuk melaksanakan perintah Allah. '

Kemudian Nabi Daud akan menuju kamar yang di situ akan dicabut ruhnya .

Setelah semua tanggung jawab jenazah ditunaikan dengan baik, matahari pun terbit. Nabi Sulaiman berkata kepada burung, 'Naungilah ayahku, Nabi Daud.' Kemudian burung itu menaunginya hingga sekian hari. Sulaiman berkata lagi, 'Lepaskan sayapmu satu persatu!'

Abu Hurairah berkata, “Rasulullah itu kepada kami apa yang dilakukan burung itu. Ketika beliau wafat, beliau dinaungi oleh burung-burung bersayap lebar. ”

Jenazah Daud terpayungi, begitu pula para pengantarnya. Langit matahari tidak berhasil menyusupkan dosa ke para pengantar. Menyesuaikan bumi menjadi gelap. Kisah-kisah tersebut dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad.

Wallohua'lam Bisshowab

Kisah Cerita Wafatnya Nabi Musa As

Disebutkan dalam riwayat, bahwa para malaikat yang mengurus pemakamannya dan yang menyalatkannya. Ketika itu, usia nabi Musa sekitar 120 tahun.

Kuwaluhan.com

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallammenceritakan tentang wafatnya Nabi Musa ‘alaihissalam sebagai berikut:

جَاءَ مَلَكُ الْمَوْتِ إِلَى مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ. فَقَالَ لَهُ: أَجِبْ رَبَّكَ قَالَ فَلَطَمَ مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ عَيْنَ مَلَكِ الْمَوْتِ فَفَقَأَهَا، قَالَ فَرَجَعَ الْمَلَكُ إِلَى اللهِ تَعَالَى فَقَالَ: إِنَّكَ أَرْسَلْتَنِي إِلَى عَبْدٍ لَكَ لَا يُرِيدُ الْمَوْتَ، وَقَدْ فَقَأَ عَيْنِي، قَالَ فَرَدَّ اللهُ إِلَيْهِ عَيْنَهُ وَقَالَ: ارْجِعْ إِلَى عَبْدِي فَقُلْ: الْحَيَاةَ تُرِيدُ؟ فَإِنْ كُنْتَ تُرِيدُ الْحَيَاةَ فَضَعْ يَدَكَ عَلَى مَتْنِ ثَوْرٍ، فَمَا تَوَارَتْ يَدُكَ مِنْ شَعْرَةٍ، فَإِنَّكَ تَعِيشُ بِهَا سَنَةً، قَالَ: ثُمَّ مَهْ؟ قَالَ: ثُمَّ تَمُوتُ، قَالَ: فَالْآنَ مِنْ قَرِيبٍ، رَبِّ أَمِتْنِي مِنَ الْأَرْضِ الْمُقَدَّسَةِ، رَمْيَةً بِحَجَرٍ، قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «وَاللهِ لَوْ أَنِّي عِنْدَهُ لَأَرَيْتُكُمْ قَبْرَهُ إِلَى جَانِبِ الطَّرِيقِ، عِنْدَ الْكَثِيبِ الْأَحْمَرِ»

Malaikat maut datang kepada Nabi Musa ‘alaihissalam, lalu malaikat itu berkata kepadanya, “Penuhilah Tuhanmu.” Maka Nabi Musa segera memukul mata malaikat maut dan mencoloknya, kemudian malaikat itu kembali kepada Allah Ta’ala dan berkata, “Engkau mengirimku kepada seorang hamba yang tidak mau mati.” Dan ia telah mencolok mataku, lalu Allah mengembalikan matanya dan berfirman, “Kembalilah kepada hamba-Ku dan katakan, “Apakah engkau ingin hidup?” Jika engkau ingin hidup, maka letakkanlah tanganmu di atas punggung sapi, maka hidupmu sampai waktu sebanyak bulu yang tertutup tanganmu. Engkau masih dapat hidup setahun.” Kemudian Musa berkata, “Selanjutnya apa?” Allah berfirman, “Selanjutnya engkau mati.” Musa berkata, “Kalau begitu sekaranglah segera.” Wahai Tuhanku, matikanlah aku di dekat negeri yang suci yang jaraknya sejauh lemparan batu.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Demi Allah, kalau sekiranya aku berada dekat sana, tentu aku akan memberitahukan kalian kuburnya di pinggir jalan, di dekat bukit pasir merah.” (HR. Muslim)

Pada suatu hari malaikat Izrail mendekati Musa as. Musa bertanya,“ Apakah engkau datang untuk mengunjungiku atau mencabut nyawaku?“

Izrail,“Untuk mengambil nyawamu.“
Musa,“Bisakah engkau beri kesempatan kepadaku untuk melakukan perpisahan dengan anak-anakku.“
Izrail,“Tidak ada kesempatan untuk itu.“
Musa bersujud kepada Tuhan memohon agar memerintahkan Izrail untuk memberikan kesempatan kepada Musa menyampaikan kata perpisahan kepada anak-anaknya.

Tuhan berkata kepada Izrail, “Berikan kesempatan kepada Musa.“
Izrail memberinya kesempatan. Musa as., mendatangi ibunya dan berkata,“Saya sebentar lagi mau melakukan safar.“
Ibunya bertanya,“Safar apa?“
Musa berkata,“Perjalanan ke akhirat“
Ibunya pun menangis.

Kemudia Musa mendatangi istrinya. Ia mengucapkan perpisahan kepada istrinya. Anak-anaknya mendekati pangkuan Musa as., dan menangis. Musa as., terharu dan ia menangis juga.

Tuhan berkata kepada Musa as.,“Hai Musa, kamu akan datang menemui-Ku. Untuk apa tangisan dan rintihan ini?“
Musa as. ,berkata,“Hatiku mencemaskan anak-anakku.“

Tuhan berfirman,“Hai Musa, lepaskan hatimu dari mereka. Biarkan aku menjaga mereka. Biarkan Aku mengurus mereka dengan kecintaanku.“ Barulah hati Musa as., berfikir tenang.

Musa bertanya kepada Izrail,“Dari mana engkau akan mengambil nyawaku ?“
Izrail,“Dari mulutmu.“

Musa,“Apakah engkau akan mengambil nyawaku lewat mulut yang sudah bermunajat kepada Tuhan?“
Izrail,“Kalau begitu lewat tanganmu.“
Musa,“Apakah engkau akan mengambil nyawaku melalui tangan yang pernah membawa lembaran-lembaran Taurat?“
Izrail,“Kalau begitu dari kakimu.“
Musa,“Apakah engkau mengambil nyawa dari kaki yang pernah berjalan ke bukit Thur untuk bermunajat kepada Tuhan ?“

Izrail kemudian memberikan jeruk yang harum untuk dihirup Musa dan Musa menghembuskan nafas yang terakhir.
Para malaikat bertanya kepada Musa,“ Ya ahwanal anbiya` mawtan. Kaifa wajadta al-mawt? Hai Nabi yang paling ringan matinya, bagaimana rasanya kematian ?“
Musa berkata,“Kasyatin tuslaku wa hiya hayyatun. Seperti kambing yang dikuliti hidup-hidup.“

Sungguh betapa sakit yang luar biasa ketika menghadapi kematian, oleh karenya ada sebuah doa yang dianjurkan untuk dibaca rutin agar diselamatkan Allah dari kepedihan jelang kematian.

Wallohua'lam Bisshowab


Kisah Cerita Wafatnya Nabi Ya'qub As

Setelah Nabi Ya’qub memiliki 12 keturunan yang disebut dengan asbath (keturunan Ya’qub). Dengan istri pertamanya, Rahiil, Nabi Ya’qub mendapatkan Nabi Yusuf ‘alaihissalaam dan Bunyamin.

Kuwaluhan.com

Dari istri keduanya, Laya, lahirlah Ruubil, Syam’un, Laawi, Yahuudza, Isaakhar dan Zabilon. Sedangkan dari budak milik Rahiil lahir Daan dan Naftaali, dan dari budak milik Layaa lahir Jaad dan Asyir.
Beliau pun juga semakin dekat dengan datangnya kematian.

Alloh berfirman :

“Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab: “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya”. (Q.S. Al-Baqarah (2): 133)

Tergeletak di atas tikar maut, Nabi Ya’kub As tetap memikirkan keselamatan aqidah putra-putranya. Mulutnya terbata-bata menanyakan kiblat aqidah mana yang akan diikuti putra-putranya sepeninggalnya.

“Sepeninggalku, ke arah mana wajah aqidah kalian hadapkan? Tuhan seperti apa yang kalian sembah?” Tanya Ya’kub As.

“Qiblat aqidah kami mengikuti nenek moyang; Ibrahim, Ismail dan Ishaq. Sembahan mereka itu juga sembahan kami,  Tuhan Yang Maha Esa.” Jawab mereka.

Nabi Ya’kub As tidak menanyakan label ketuhanan dari apa yang akan mereka sembah sepeninggalnya, tetapi dia menanyakan sifat-sifat seperti apa yang dimiliki tuhan yang kelak mereka sembah.

Suatu hari Nabi Ya’qub sedang berbincang dengan Malaikat Maut. Di tengah-tengah perbincangannya, Nabi Ya’qub berkata, “Aku tahu tugasmu sebagai pencabut nyawa. Alangkah baiknya, jika engkau mengabari aku terlebih dahulu sebelum menjemput ajalku nanti.”

Malaikat Maut pun berkata, “Baiklah, nanti akan aku kirimkan kepadamu dua atau tiga utusan.” Kemudian Malaikat itupun pergi meninggalkan Nabi Ya’qub.

Setelah beberapa lama, Malaikat itu datang menghampiri Nabi Ya’qub. Karena biasanya bertamu, Nabi Ya’qub tak kaget lagi melihat Malaikat itu datang menemuinya.

Nabi Ya’kub bertanya, “Apa kedatangan engkau sekadar bertamu seperti biasanya?”

Malaikat Maut menjawab, “Tidak, aku mau mencabut nyawamu.”

Kaget, Nabi Ya’qub lantas berkata, “Bukankah aku pernah berpesan padamu agar mengingatkan aku sebelum kau mencabut nyawaku?”

Malaikat Maut menjawab, “Aku sudah kirimkan kepadamu pesan itu, tidak hanya satu bahkan tiga : pertama, rambutmu yang mulai memutih; kedua, badanmu yang mulai melemah; dan ketiga badanmu yang mulai membungkuk. Itulah pesan yang kukirimkan kepada semua manusia sebelum aku mendatangi mereka.”

Kemudian Malaikat mau mencabut nyawa Nabi Ya’qub. Ayah dari Nabi Yusuf itupun meninggalkan dunia dengan kedamaian.

Cerita ini menjadi pelajaran bagi kita. Bukan tanpa peringatan, Allah dan Malaikat-Nya sudah memberikan tanda-tanda seseorang yang akan menemui ajalnya melalui 3 hal tersebut.

Melaui uban pula seseorang akan ditinggikan derajatnya dan dihitung sebagai kebaikan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan, “Uban adalah cahaya bagi seorang mukmin. Tidaklah seseorang beruban, walau hanya sehelai, kecuali setiap ubannya akan dihitung sebagai kebaikan yang akan meninggikan derajatnya”

Maka ketika tanda-tanda tersebut telah muncul, hendaknya menjadi alarm kita bahwa sebentar lagi akan meninggalkan dunia yang fana. Bukan lagi waktunya untuk bersenang-senang dengan memperbanyak dosa, melainkan mnimbun pahala.

Alangkah baiknya seseorang yang panjang umurnya dan baik pula perbuatannya seperti hadits Nabi berikut, ”Sungguh berbahagia bagi orang yang panjang usianya dan baik amal perbuatannya.” (HR Thabrani).

Wallohua'lam Bisshowab

Inilah Kisah cerita Wafatnya Nabi Ibrahim As

Bismillahirrahmanirrohim

Artikel berikut ini mengisahkan tentang Wafatnya Nabi Ibrahim As dalam berbagai sumber. Langsung saja berikut kisahnya :

Ketika Siti Sarah meninggal, Nabi Ibrahim menikahi perempuan dari bangsa Kan'an. Lahir darinya lima  anak ; Bakisyan bin Ibrahim, Zamran bin Ibrahim, Madyan bin Ibrahim, Sabaq bin Ibrahim, dan Syuh bin Ibrahim. Mereka semua tidak menjadi nabi, akan tetapi yang menjadi nabi hanya keturunan Nabi Ishaq dan Nabi Ismail.

Kuwaluhan.com

Pada umur 150 tahun, Allah menampakkan uban Nabi Ibrahim. Ulama berkata, "Alasan Allah memunculkan uban kepada Nabi Ibrahim adalah karena Ishaq, putra beliau sangat mirip dengan beliau. Masyarakat tidak bisa membedakan antara keduanya.

Adab seseorang yang datang kepada Ishaq dan menyangka bahwa dia adalah Ibrahim. Orang tersebut menyapa, "Assalamualaikum, wahai kholilullah." Akhirnya Ishaq menjawab, "Aku adalah anak dari kholilullah. Ia lebih baik dari pada aku. Dia bak tuanku dan aku ibarat budaknya."

Saat orang-orang mulai tidak bisa membedakan antara Nabi Ibrahim dan Nabi Ishaq maka Allah memberinya tanda berupa uban. Nabi Ibrahim merasa sedih melihat rambut ubannya yang memutih. Namun beliau tidak bisa menolak apa yang dialaminya. Nabi Ibrahim adalah orang yang pertama kali beruban dari keturunan Nabi Adam.

"Wahai Tuhanku, apakah ini(uban)" tanya Ibrahim.

"Itu adalah kewibawaan, ketenangan, kebijaksanaan dariku." Jawab Allah.

"Wahai Allah, tambahkan kewibawaan, ketenangan, dan kegembiraan dengannya." Doa Ibrahim.

Nabi Ibrahim tetap hidup hingga 25 tahun kemudian. Umur beliau seluruhnya adalah 175 tahun. Ada yang mengatakan 200 tahun.

Ketika Allah hendak mencabut nyawa Nabi Ibrahim, terlebih dahulu Allah mengutus malaikat maut kepadanya. Saat itu Ibrahim berada di sebuah rumah, yang sama sekali tidak ada yang diperbolehkan masuk kecuali dengan izin beliau.

Suatu ketika malaikat maut masuk ke rumah beliau. Namun saat itu Nabi Ibrahim tidak di rumah. Hingga ketika Nabi Ibrahim kembali, dia mendapati laki-laki yang sangat buruk rupanya. Nabi Ibrahim pun tidak menginginkan kehadirannya.

"Siapa yang memperbolehkan kamu masuk?" Tanya beliau.

"Dzat yang memiliki rumah ini." Jawabnya.

"Dzat yang memiliki rumah lebih berhak atas rumah ini."

Lalu Malaikat maut keluar dari beliau.

Keesokan harinya, Nabi Ibrahim keluar dari rumahnya. Beliau mengunci pintu rumah tersebut. Malaikat maut kembali datang. Dia masuk.

Nabi Ibrahim pulang. Ternyata, di rumah beliau melihat laki-laki yang sangat bagus rupanya. Tidak pernah dia melihat orang yang lebih tampan darinya. Ketampanannya benar-benar membuat Nabi Ibrahim tercengang.

"Siapa kamu? Dan siapa yang mengizinkan kamu masuk rumahku?" Tanya beliau.

"Yang memberi izin kepadaku adalah dzat yang memiliki rumah ini." Jawabnya.

"Dzat yang memiliki rumah ini lebih berhak atasnya. Siapa sebenarnya dirimu?"

"Saya adalah malaikat maut, dan sayalah yang menemuimu kemarin." Dia berhenti. Kemudian melanjutkan ucapannya.

"Sesungguhnya ketika Allah menghendaki buruk terhadap seorang hamba maka dia akan mengutusku dalam keadaan yang engkau lihat kemarin. Apabila dia menghendaki baik maka dia mengutusku dalam wujud seperti ini."

Dalam riwayat lain :

Sesungguhnya Allah berkata kepada malaikat maut, "Pergilah kepada kekasihku, Ibrahim. Dia sudah tidak senang lagi dengan kehidupan dunia dan lebih suka kematian." Lalu malaikat maut pergi dengan wujud orang tua, yang punggungnya  menghitam, matanya buram, dan lubang hidungnya telah meleleh. Dia bersandar di tongkatnya.

Sedangkan Nabi Ibrahim duduk di rumahnya. Datang kepadanya orang-orang miskin, maka beliau menghormati mereka sebagai tamu. Lalu datang malaikat dengan rupa tersebut. Dia mengucapkan salam kepada beliau. Beliau mempersilakannya untuk makan. Dia duduk. Nabi Ibrahim melihat dia hendak makan. Namun saat ia menelan makanannya dari mulut, seketika itu makanannya terjatuh dari bawah. Nabi Ibrahim heran melihatnya.

"Wahai orang tua, apa yang terjadi dengan makananmu? Dan apa yang sebenarnya menimpamu?" Tanya beliau.

"Ini karena umurku yang sudah tua. Orang yang umurnya sudah tua juga akan mengalaminya." Jawab orang tua tersebut.

"Berapakah umurmu?"

"201 tahun."

Saat itu umur Nabi Ibrahim sudah 200 tahun. Beliau berkata dalam hati, "Masa antara diriku dan orang ini hanya satu tahun. Melihat apa yang dialaminya membuatku benci akan kehidupan dunia dan ingin segera meninggal." Kemudian orang tua tersebut pulang.

Setahun berlalu orang tua atau malaikat datang dengan wujud yang tampan. Nabi Ibrahim tahu bahwa dia adalah malaikat maut.

"Hai malaikat maut, aku ingin waktumu sebentar." Nabi Ibrahim menceritakan kejadian orang tua kemarin.

"Sedangkan aku diperintah untuk mencabut nyawamu."

Dalam riwayat lain :

Sesungguhnya malaikat maut datang kepada Nabi Ibrahim untuk mencabut nyawanya. Dia mengucapkan salam kepada beliau dan beliau pun menjawabnya.

"Siapa kamu?" Tanya nabi Ibrahim.

"Aku adalah malaikat maut. Aku diperintah karenamu," jawab malaikat.

Nabi Ibrahim menangis. Kemudian Nabi Ishaq mendengar tangisannya. Nabi Ishaq pun masuk, menemui beliau.

"Wahai kholilurrahman, apa yang membuatmu menangis?" Tanya Nabi Ishaq.

"Dia adalah malaikat maut yang akan mencabut nyawaku." Jawab beliau.

Nabi Ishaq pun ikut menangis. Karenanya, malaikat maut kembali kepada Tuhannya.

"Wahai Tuhanku, kekasihmu bersedih karena kematian," kata malaikat.

"Hai Jibril, ambilah wewangian dari surga. Pergilah bersama malaikat maut menuju Ibrahim. Tenangkan perasaannya dengan bau tersebut, dan katakan kepadanya, "Sesungguhnya seseorang akan rindu bila sudah lama tidak bisa berjumpa. Apakah kamu tidak rindu kepada-Ku, padahal kamu adalah kekasih-Ku." Perintah Allah kepada malaikat Jibril.

Jibril datang kepada Nabi Ibrahim, menyampaikan pesan dari Allah dan memberikannya wewangian surga. Nabi Ibrahim berkata, "Iya, wahai Tuhanku. Aku benar-benar rindu bertemu dengan-Mu dan akan bau wewangian ini." Lalu malaikat maut mencabut nyawa beliau.

Dan diriwayatkan bahwa, ketika malaikat maut hendak mencabut nyawa Nabi Ibrahim as, maka beliau berkata, "Hai malaikat maut, apakah kamu pernah tahu seorang kekasih mencabut nyawa orang yang dicintainya." Maka malaikat maut naik ke langit untuk melaporkannya kepada Allah Swt. Lalu Allah berkata, "Katakanlah kepada kekasihku, "Apakah seorang kekasih tidak suka bertemu dengan orang yang dicintainya?" Lalu malaikat maut kembali kepada Nabi Ibrahim.

Dia menyampaikan apa yang dikatakan Allah Swt. Mendengarnya, Nabi Ibrahim berkata kepada dirinya, "Tenanglah dirimu untuk saat ini." Lalu malaikat maut mencabut nyawa beliau. Beliau dikuburkan di perkebunan Hairun. Kebun ini adalah kebun milik seorang yang telah beliau beli. Beliau berwasiat agar dikuburkan di sana.

Wallohua'lam Bisshowab

Itulah kisah singkat Wafatnya Nabi Ibrahim As, jika ada kekeliruan silahkan anda berkomentar.