Friday, April 20, 2018

Daftar Kesenian Tradisional Asal Kalimantan Selatan, Indonesia

Kalimantan Selatan adalah salah satu provinsi di Indonesia yang terletak di pulau Kalimantan. Ibu kotanya adalah Banjarmasin.

Kultur budaya yang berkembang di Banjarmasin Kalimantan Selatan, sangat banyak hubungannya dengan sungai, rawa, dan danau, di samping pegunungan. Tumbuhan dan binatang yang menghuni daerah ini sangat banyak dimanfaatkan untuk memenuhi kehidupan mereka.

Kebutuhan hidup mereka yang mendiami wilayah ini dengan memanfaatkan alam lingkungan dengan hasil benda-benda budaya yang disesuaikan. hampir segenap kehidupan mereka serba religius. Di samping itu, masyarakatnya juga agraris, pedagang dengan dukungan teknologi yang sebagian besar masih tradisional.

Berikut ini kumpulan kesenian tradisional Asal Kalimantan Selatan yang sudah cukup populer di kalangan masyarakat Banjarmasin :

1. MADIHIN


Seni Madihin adalah suguhan pentas monolog oleh satu atau dua orang seniman tradisional yang merangkai syair  dan pantun diiringi dengan musik gendang khas Banjar. Sajian materi  seni ini biasanya melemparkan sindiran – sindiran dan pesan sosial dan moral dengan kosa kata yang menggelitik dan lucu.

2. MAMANDA


Seni Mamanda merupakan seni pentas teater tradisional Banjar. Menceritakan kisah-kisah kehidupan masyarakat perjuangan kemerdekaan serta kritik sosial dan politik yang berkembang.

3. Tari JAPEN


Jepen adalah kesenian rakyat Kutai yang dipengaruhi oleh kebudayaan Melayu dan Islam. Kesenian ini sangat populer di kalangan rakyat yang menetap di pesisir sungai Mahakam maupun di daerah pantai.

Tarian pergaulan ini biasanya ditarikan berpasang-pasangan, tetapi dapat pula ditarikan secara tunggal. Tari Jepen ini diiringi oleh sebuah nyanyian dan irama musik khas Kutai yang disebut dengan Tingkilan. Alat musiknya terdiri dari gambus (sejenis gitar berdawai 6) dan ketipung (semacam kendang kecil).

Karena populernya kesenian ini, hampir di setiap kecamatan terdapat grup-grup Jepen sekaligus Tingkilan yang masing-masing memiliki gayanya sendiri-sendiri, sehingga tari ini berkembang pesat dengan munculnya kreasi-kreasi baru seperti Tari Jepen Tungku, Tari Jepen Gelombang, Tari Jepen 29, Tari Jepen Sidabil dan Tari Jepen Tali.

Seni Tari Klasik Merupakan tarian yang tumbuh dan berkembang di kalangan Kraton Kutai Kartanegara pada masa lampau.

4. BALAMUT

Lamut adalah salah satu Sastra Banjar atau dikatakan juga cerita bertutur yang dikhawatirkan suatu saat nanti akan punah. Disebabkan hampir tidak ada lagi yang berminat untuk menjadi Palamutan ( orang yang bercerita lamut ), dan tidak ada yang peduli dari masyarakat banjar itu sendiri, lembaga atau instansi senibudaya untuk melestarikian kehidupan Lamut yang semakin langka ini.

Kata Lamut diambil dari nama seorang tokoh cerita di dalamnya, yaitu Paman Lamut seorang tokoh yang menjadi panutan, sesepuh, baik dilingkungan kerajaan atau pun masyarakat seperti halnya Semar dalam cerita wayang. Tetapi ada juga yang berpendapat bahwa lamut berasal dari kesenian Dundam yaitu cerita bertutur dengan menggunakan instrumen perkusi yaitu tarbang, Bercerita sambil membunyikan ( memukul ) alat tersebut.

Konon, pendundam ketika membawakan ceritanya tidak tampak atau samar – samar dalam gelap. Cerita yang dibawakan adalah dongeng kerajaan Antah Berantah. Sedang berlamut, pelamutannya tampak oleh penonton dan ceritanya menurut pakem yang ada walau tak tertulis.

Cerita yang dikenal masyarakat Banjar yakni cerita tentang percintaan antara Kasan Mandi dengan Galuh Putri Jung Masari. Kasan Mandi adalah putera dari Maharajua Bungsu dari Kerajaan Palinggam Cahaya, sedangkan Galuh Putri Jung Masari adalah putri dari Indra Bayu, raja dari Mesir Keraton. Kasan Mandi kawin dengan Galuh Putri Jung Masari melahirkan seorang putra bernama Bujang Maluala.

Di dalam cerita ini ada tokoh antagonis bernama Sultan Aliudin yang sakti mandraguna dari Lautan Gandang Mirung yang jadi penghalang, dan terjadi perang tanding. Kasan Mandi dibantu oleh paman Lamut bersama anak – anaknya yaitu Anglung, Anggasina dan Labai Buranta, akhirnya Sultan Aliudin kalah.

Berlamut sudah ada pada zaman kuno yaitu tahun 1500 Masehi sampai tahun 1800 Masehi tetapi bercerita tidak menggunakan tarbang. Ketika Agama Islam masuk ke Kalimantan Selatan, setelah Raja Banjar Sultan Suriansyah, barulah berlamut memakai tarbang. Sebab kesenian Islam terkenal dengan Hadrah dan Burdahnya.

Seiring dengan pesatnya penyebaran agama Islam, kesenian Islam sangat berpengaruh pada perkembangan kebudayaan dan kesenian Banjar. Syair – syair dan pantun hidup dan berkembang dalam masyarakat. Dan Sastra Banjar Lamut juga mendapat tempat yang strategis dalam penyebaran Islam di masyarakat Banjar.

5. MUSIK PANTING

Seni Musik Panting adalah paduan antara berbagai alat musik seperti Babun, Panting, Biola, Gong, yang menghasilkan irama khas, biasanya mengiringi lagu-lagu tradisional Banjar yang dinyanyikan, atau mengiringi tarian tradisional. Istilah panting  diambil dari salah satu jenis alat musik utamanya Panting, yaitu alat musik petik yang mirip dengan Gitar Gambus berukuran kecil.

6. UPACARA MARAAK PENGANTEN

Merupakan upacara di rumah pihak keluarga pengantin laki-laki untuk dipersiapkan dibawa ke rumah mempelai wanita. Diawali dengan doa dan selamat kecil, kemudian mempelai pria turun keluar rumah sambil mengucap doa keselamatan diiringi Shalawat Nabi oleh para sesepuh serta taburan beras kuning sebagai penangkal bala dan bahaya.

Meski acara tampak sederhana dan sangat mudah namun acara ini harus dilakukan, mengingat pada masa-masa lalu tak jarang menjelang keberangkatan mempelai pria mendadak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan yang berakibat gagalnya upacara pernikahan.

7. BAMANDI-MANDI

Bapapai atau badudus, memiliki kesamaan dalam fungsinya, hanya penempatannya yang berbeda.
Badudus adalah istilah mandi-mandi yang dipakai oleh keluarga kerajaan atau keturunan bangsawan atau yang ada hubungannya dengan keluarga candi (tutus candi). Bapapai adalah istilah mandi-mandi yang dipakai oleh orang Banjar pada umumnya.

Kata “papai” dalam bahasa Indonesia berarti “percik”, dalam praktiknya bapapai seperti memercik-mercikkan air memakai mayang pinang kepada calon mempelai yang sedang dimandi-mandi.

Alat kelengkapan dalam bapapai ini antara lain :

  • tempat air (gayung/ember)
  • kembang (bunga-bunga harum)
  • mayang pinang 
  • daun tulak yang dicampur air 
  • piduduk yang berisi beras, gula, kelapa ada juga yang memuat cingkaruk (kue dari kelapa), nasi kuning, dan nasi lamak.


Orang yang bertugas memandikan atau memapai biasanya perempuan lanjut usianya yang merupakan tetua/sesepuh dalam keluarga. Ada juga satu tradisi untuk sumber air dalam bapapai diambil dari “ulak” atau pusaran air pada sungai besar, karena ada kepercayaan bahwa ada naga yang ditinggal diulakan tersebut sehingga air ulakan dimaksudkan supaya jangan kena pengaruh buruk dari naga itu.

Tata cara dalam bapapai menurut adat kawin:


  • Calon pengantin pria diarak ke tempat calon pengantin wanita pada malam menjelang hari perkawinan.
  • pengantin didudukkan berdampingan di serambi rumah atau di bagian belakang rumah.
  • kemudian dimandikan dengan cara memercikkan air papaian oleh sesepuh wanita.
  • jumlah memandikan selalu ganjil ada 3,5, atau 7 secara bergantian.
  • setelah habis mandi, pengantin pria dan wanita disisiri, diminyaki, dan sebagainya 
  • kemudian didudukkan berdampingan (batatai) dikelilingi oleh cermin dan lilin.
  • cermin dan lilin dikelilingkan kepada mempelai sebanyak 3 kali oleh wanita yang memandikan tadi.
  • setelah selesai calon pengantin pria kembali ke rumahnya.


8. HADRAH (Sholawat Banjari)

Seni terbang al-Banjari adalah sebuah kesenian khas islami yang berasal dari Kalimantan. Iramanya yang menghentak, rancak dan variatif membuat kesenian ini masih banyak digandrungi oleh pemuda-pemudi hingga sekarang. Seni jenis ini bisa disebut pula aset atau ekskul terbaik di pondok-pondok pesantren Salafiyah.

Sampai detik ini seni hadrah yang berasal dari kota Banjar ini bisa dibilang paling konsisten dan paling banyak diminati oleh kalangan santri, bahkan saat ini di beberapa kampus mulai ikut menyemarakkan jenis musik ini.

Hadrah Al-Banjari masih merupakan jenis musik rebana yang mempunyai keterkaitan sejarah pada masa penyebaran agama Islam oleh Sunan Kalijaga, Jawa. Karena perkembangannya yang menarik, kesenian ini seringkali digelar dalam acara-acara seperti maulid nabi, isra’ mi’raj atau hajatan semacam sunatan dan pernikahan. Alat rebananya sendiri berasal dari daerah Timur Tengah dan dipakai untuk acara kesenian.

9. MAAYUN ANAK

Adalah tradisi ibu-ibu masyarakat banjar jika menidurkan anak bayinya dengan cara mengayun, sejak zaman dahulu sampai sekarang. Ayunan itu terbuat dari tapih bahalai atau kain kuning dengan ujung –ujungnya diikat dengan tali haduk ( ijuk ).

Ayunan ini biasanya digantungkan pada palang plapon di ruang tengah rumah. Pada tali tersebut biasanya diikatkan Yasin, daun jariangau, kacang parang, katupat guntur, dengan maksud dan tujuan sebagai penangkal hantu – hantu atau penyakit yang mengganggu bayi.

Baayun Anak ini adalah salah satu agenda tahunan bagi Museum Lambung Mangkurat Banjarbaru Kalimantan Selatan. Yang lebih unik lagi pesta Baayun Anak ini bukan hanya baayun anak tetapi pesertanya juga dari manula yakni nenek-nenek dan kakek-kakek. Mereka sengaja ikut baayun karena nazar.

Nazar ini karena sudah tercapai niat atau tujuannya seperti sudah kesampaian naik haji, mendapat rejeki yang banyak atau untuk maksud agar penyakitnya hilang dan panjang umur.

Tarian suku Banjar

  • Baksa Kambang 
  • Radap Rahayu
  • Kuda Gepang


Tarian suku Dayak Bukit


  • Tari Tandik Balian, 
  • Tari Babangsai (tarian ritual, penari wanita) 
  • Tari Kanjar (tarian ritual, penari pria)


Itulah beberapa kesenian tradisional Asal Kalimantan Selatan.

Daftar 20 Kesenian Tradisional Asal Kalimantan Timur, Indonesia

Kalimantan Timur atau biasa disingkat Kaltim adalah sebuah provinsi Indonesia di Pulau Kalimantan bagian ujung timur yang berbatasan dengan Malaysia, Kalimantan Utara, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, dan Sulawesi.

Di wilayah Kalimantan Timur ini memiliki Kesenian Tradisional yang cukup banyak, lebih detailnya berikut ini kami merangkumnya spesial hanya untuk Anda :

1. Tari Topeng Kemindu


Tari Topeng Kemindu adalah salah tarian tradisional yang berasal dari Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur. Tarian ini sering disebut juga dengan tari topeng Kutai, hal tersebut digunakan untuk membedakan dengan berbagai jenis tarian tradisional yang ada di berbagai daerah lainnya yang ada di Indonesia.

Dahulu, Tari Topeng Kemindu ini hanya berkembang dikalangan terbatas. Tarian ini hanya dapat dibawakan oleh orang-orang dari strata sosial tertentu, yakni para remaja putri dari kalangan bangsawan yang ada di Kesultanan Kutai.

Seiring waktu, tarian ini mulai diperbolehkan untuk dibawakan oleh masyarakat yang ada di luar lingkungan Keraton. Perubahan ini terjadi dimasa pemerintahan Sultan Haji Aji Muhammad Salehuddin II dengan tujuan untuk mempopulerkan dan menjaga kelestarian seni tradisi dari Keraton Kutai Kartanegara Ing Martadipura.

2. Tari Jepen


Kesenian jepen adalah kesenian Melayu Rakyat Kutai Kartanegara, yang muncul pada diiringi alat musik “Gambus“ dan “Ketipung“ atau semacam “Marwas“ serta berbagai alat musik perkusi lainnya.

Tari Jepen adalah tari garapan yang tidak meninggalkan gerak ragam aslinya, yang disebut ragam penghormatan, ragam gelombang, ragam samba setangan, ragam samba penuh, ragam gengsot, ragam anak, dan lain-lain. Eroh dalam bahasa Kutai berarti ramai, riuh dan gembira. Oleh sebab itu, penataan Tari Jepen Eroh ini penuh dengan gerak-gerak yang dinamis dan penuh unsure kebahagiaan.

3. Tari Gantar


Tarian yang menggambarkan gerakan orang menanam padi. Tongkat menggambarkan kayu penumbuk sedangkan bambu serta biji-bijian didalamnya menggambarkan benih padi dan wadahnya.

Tarian ini cukup terkenal dan sering disajikan dalam penyambutan tamu dan acara-acara lainnya.Tari ini tidak hanya dikenal oleh suku Dayak Tunjung namun juga dikenal oleh suku Dayak Benuaq. Tarian ini dapat dibagi dalam tiga versi yaitu tari Gantar Rayatn, Gantar Busai dan Gantar Senak/Gantar Kusak.

4. Tari Kancet Papatai / Tari Perang


Tarian ini menceritakan tentang seorang pahlawan Dayak Kenyah berperang melawan musuhnya. Gerakan tarian ini sangat lincah, gesit, penuh semangat dan kadang-kadang diikuti oleh pekikan si penari. Dalam tari Kancet Pepatay, penari mempergunakan pakaian tradisionil suku Dayak Kenyah dilengkapi dengan peralatan perang seperti mandau, perisai dan baju perang. Tari ini diiringi dengan lagu Sak Paku dan hanya menggunakan alat musik Sampe.

5. Tari Kancet Ledo / Tari Gong


Jika Tari Kancet Pepatay menggambarkan kejantanan dan keperkasaan pria Dayak Kenyah, sebaliknya Tari Kancet Ledo menggambarkan kelemahlembutan seorang gadis bagai sebatang padi yang meliuk-liuk lembut ditiup oleh angin.
Tari ini dibawakan oleh seorang wanita dengan memakai pakaian tradisionil suku Dayak Kenyah dan pada kedua tangannya memegang rangkaian bulu-bulu ekor burung Enggang. Biasanya tari ini ditarikan diatas sebuah gong, sehingga Kancet Ledo disebut juga Tari Gong.

6. Tari Hudoq


Tarian ini dilakukan dengan menggunakan topeng kayu yang menyerupai binatang buas serta menggunakan daun pisang atau daun kelapa sebagai penutup tubuh penari. Tarian ini erat hubungannya dengan upacara keagamaan dari kelompok suku Dayak Bahau dan Modang. Tari Hudoq dimaksudkan untuk memperoleh kekuatan dalam mengatasi gangguan hama perusak tanaman dan mengharapkan diberikan kesuburan dengan hasil panen yang banyak.

7. Tari Hudoq Kita’

Tarian dari suku Dayak Kenyah ini pada prinsipnya sama dengan Tari Hudoq dari suku Dayak Bahau dan Modang, yakni untuk upacara menyambut tahun tanam maupun untuk menyampaikan rasa terima kasih pada dewa yang telah memberikan hasil panen yang baik. Perbedaan yang mencolok anatara Tari Hudoq Kita’ dan Tari Hudoq ada pada kostum, topeng, gerakan tarinya dan iringan musiknya.

Kostum penari Hudoq Kita’ menggunakan baju lengan panjang dari kain biasa dan memakai kain sarung, sedangkan topengnya berbentuk wajah manusia biasa yang banyak dihiasi dengan ukiran khas Dayak Kenyah. Ada dua jenis topeng dalam tari Hudoq Kita’, yakni yang terbuat dari kayu dan yang berupa cadar terbuat dari manik-manik dengan ornamen Dayak Kenyah.

8. Tari Belian Bawo

Upacara Belian Bawo bertujuan untuk menolak penyakit, mengobati orang sakit, membayar nazar dan lain sebagainya. Setelah diubah menjadi tarian, tari ini sering disajikan pada acara-acara penerima tamu dan acara kesenian lainnya.
Tarian ini merupakan tarian suku Dayak Benuaq.

9. Tari  Kancet Tebengang Madang (Tari Burung Enggang).

Kancet Tebengang Madang yang dalam bahasa Indonesia berarti Tari Enggang Terbang. Tarian ini berasal dari Suku Dayak Kenyah yang menggambarkan perpindahan mereka dari Apau Kayan secara menyebar keseluruh wilaayah di Kalimantan Timur, demi mencari kehidupan yang lebih baik.

Dimana burung enggang selalu mengikuti pemimpinnya, begitu juga dengan suku Dayak Kenyah, yang selalu menuruti apa perintah pemimpinnya. Burung enggang juga merupakan symbol perdamaian. Tarian ini diawali dengan “lemaloq” yang merupakan syair dalam bahasa Dayak Kenyah bercerita tentang perjalanan mereka. Tarian ini dibawakan dengan lemah gemulai oleh gadis–gadis Dayak laksana burung enggang yang sedang terbang.

10. Tari Sumpit Beracun

Tarian ini belum banyak di ekspos, belum banyak di ketahui bahkan belum menjadi sajian utama dalam atraksi seni budaya Dayak di desa Pampang.  Ibarat menu masakan tari menyumpit/tari berburu ini adalah menu khusus atau menu bonus.  Penyebabnya adalah sebagian besar warga enggan untuk menanpilkan kemahiran menyumpit tersebut dalam sebuah tarian, karena sumpit dianggap sebagai senjata rahasia.

Namun demikian dalam setiap penampilannya, Tari sumpit menjadi tarian yang paling menarik dan membuat detak jantung para pengunjung berdegub kencang.

Tari menyumpit / Tari berburu menceritakan pamuda dayak  dalam membela diri dengan senjata khas yaitu MANDAU,  dilanjutkan dengan kepiawaian berburu di hutan dengan senjata sumpit ( tombak panjang, berlubang didalamnya ).
Pengunjung akan melihat secara langsung bagaimana senjata sumpit di gunakan, bagaimana anak-anak sumpit tersebut bisa menancap pada batang-batang kayu ulin. Kalo lagi beruntung pengunjung akan diminta untuk mencoba meniup sumpit tersebut ke sasaran yang telah disiapkan.

11. Tari Kancet Punan Letto


Tari Punan Letto adalah tari tradisional Kalimantan Timur, kata “Punan” artinya merebut, “letto” artinya gadis/wanita. Tarian ini memang menceritakan tentang dua orang pemuda yang sama-sama menyukai seorang gadis dan memperebutkannya. Pemuda yang mempertahankan gadisnya dengan gagah berani akhirnya memenangkan pertarungan tersebut. Sudah merupakan sifat suku Dayak Kenyah, untuk memepertahankan miliknya apa pun itu bentuknya.

12. Tari Leleng

Tarian Leleng merupakan tarian tradisional Kalimantan Timur. Kata "Leleng" dalam bahasa Kenyah berarti berputar-putar. Adalah Utan Along (sebutan untuk seorang gadis yatim), yang sedang bimbang karena kekasihnya pergi dan belum kembali. Berputar-putar melambangkan kebimbangan. Layaknya orang yang sedang kebingungan lalu mondar mandir. Begitu juga dengan Utan Along. Oleh sebab itu dinamakan Leleng. Tarian ini diiringi oleh nyanyian leleng. Dalam nyanyian itu menceritakan tentang Utan Along.

13. Tari Ngelewai

Tarian tradisional Ngelewai merupakan tarian tradisional yang  diiringi musik “Rendete” yaitu musik khas suku Dayak Tonyoi-Benuaq. Tarian NGelewai  ini dibawakan oleh gadis-gadis cantik dengan memakai selendang dengan lemah gemulai. Mereka menari laksana kupu-kupu yang sedang terbang mencari kembang untuk dihisap madunya. Tarian ini juga biasa dibawakan sebagai tarian menyambut tamu dan acara sukacita.

14. Tari Ganjur

Tari Ganjur adalah salah satu tarian tradisional yang berasal dari Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur. Tarian ini merupakan salah satu tarian penting didalam rangkaian Festival Erau, dimana tarian ini dibawakan setiap malam sebagai bagian dari rangkaian ritual bepelas. Selain di Festival Erau, tarian ini juga dapat ditemukan didalam seremoni penyambutan para tamu agung, upacara penobatan Sultan Kutai, dan juga acara sakral lainnya.

Tari Ganjur ini biasanya dibawakan oleh para penari pria dan wanita yang berasal dari kalangan dalam Keraton Kutai. Tarian ini dicirikan dengan sejenis gada kayu yang berlapis kain atau yang sering disebut dengan ganjur. Ganjur ini dimainkan oleh 2 (dua) penari pria secara berpasangan dengan gerakan seolah-olah akan saling menyerang. Selain ganjur, biasanya digunakan pula kipas sebagai perlengkapan bagi penari wanita.

15. Tari Persembahan Kutai

Tari Persembahan Kutai adalah salah satu tarian tradisional yang berasal dari Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur. Dahulu, tarian persembahan hanya bisa ditemukan di lingkungan Keraton Kesultanan Kutai Kartanegara. Tarian ini dibawakan secara khusus oleh putri putri Keraton didalam suatu upacara penyambutan resmi dengan diiringi alat musik gamelan. Tidak ada batasan yang jelas mengenai jumlah para penari dalam tarian ini, tapi dipercaya bahwa semakin banyak jumlah para penari, maka akan semakin baik. Seiring waktu, tarian ini lalu diperbolehkan untuk ditarikan oleh kalangan dari luar Keraton supaya tetap lestari sebagai bagian dari warisan kebudayaan Kutai.

16. Tari Datun Julud

Tarian Datun Julud adalah salah satu tarian tradisional yang berasal dari kalangan masyarakat Kayan atau Kenyah yang mendiami pedalaman Kutai, Berau, Bulungan, dan Pasir yakni kawasan persempadanan antara Sarawak dan Provinsi Kalimantan Timur.

Tarian ini biasanya dibawakan di hari-hari besar ataupun untuk merayakan kedatangan para pelawat ke rumah panjang, terutama para pelancong dari luar negeri.
Tari Datun Julud merupakan tarian wajib bagi suku dayak kenyah. Karena di dalam upacara apa saja tarian datun julud ini selalu dihadirkan, seperti pada upacara adat mecaq undat ataupun pesta panen. Bahkan dapat sehari penuh jika merayakan kemenangan di dalam peperangan.

17. Mamanda

Mamanda merupakan seni panggung (teater), kesenian klasik Melayu (setengah musical/opera) dengan menggunakan instrument Biola dan Gendang. Tema cerita yang dibawakan biasanya tentang kisah para raja.

18. Sholawat Hadrah

Merupakan kesenian islam yang ditampilkan dengan iring-iringan rebana/terbang (alat perkusi) sambil melantunkan syair-syair serta pujian terhadap akhlak mulia Nabi Muhammad SAW, yang disertai dengan gerak tari. Terdiri dari 2 kelompok, kelompok penabuh hadrah dan kelompok yang melantunkan syair berjanji. Hadrah biasa dipakai pada acara perkawinan, mengantar orang berangkat haji, hari-hari besar islam dan lain sebagainya.

19. Teater

Teater adalah cabang dari seni pertunjukan yang berkaitan dengan akting/seni peran di depan penonton dengan menggunakan gabungan dari ucapan, gestur (gerak tubuh), mimik, boneka, musik, tari dan lain-lain.

20. Sandiwara Tingkilan (Sangkilan)


Setidaknya ada tiga budaya Kalimantan Timur tumbuh berkembang secara berdampingan satu sama lain.  Ragam budaya itu di antaranya budaya pantai atau pesisir, budaya pedalaman dann budaya Istana (keraton atau peninggalan zaman kerajaan).

Budaya pantai atau pesisir umumnya mempunyai ciri-ciri identik dengan rumpun budaya melayu muda.  dan budaya pedalaman umumnya mempunyai ciri-ciri berupa tradisi suku-suku  bangsa pedalaman di wilayah Kalimantan Timur. Sangkilan (SandiwaraTingkilan) bersumber dari seni budaya pantai atau pesisir yakni seni musik tingkilan, tari jepen dan tarsul yang dipadukan dengan Sandiwara Komedi.

Sebagaimana diketahui teater tradisional sering juga disebut sebagai teater daerah, Indonesia yang luas daerahnya dan mempunyai sifat Bhineka Tunggal as aneIka  (berbeda beda tetap satu), terdiri atas aneka ragam suku bangsa yang mempunyai corak kebudayaan yanagn beragam pula, sehingga melahirkan kesenian dengan corak yang berbeda pula.

Itulah 20 kesenian tradisional asal provinsi Kalimantan Timur Indonesia.

Thursday, April 19, 2018

Daftar Kesenian dan Kerajinan Tradisional Asal Kalimantan Barat, Indonesia

Kalimantan Barat adalah sebuah provinsi di Indonesia yang terletak di Pulau Kalimantandengan ibu kota Provinsi Kota Pontianak.

Kalimantan Barat termasuk salah satu daerah yang dapat dijuluki provinsi "Seribu Sungai". Julukan ini selaras dengan kondisi geografis yang mempunyai ratusan sungai besar dan kecil yang di antaranya dapat dan sering dilayari. Beberapa sungai besar sampai saat ini masih merupakan urat nadi dan jalur utama untuk angkutan daerah pedalaman, walaupun prasarana jalan darat telah dapat menjangkau sebagian besar kecamatan.

Kalimantan Barat berbatasan darat dengan negara bagian Sarawak, Malaysia. Walaupun sebagian kecil wilayah Kalimantan Barat merupakan perairan laut, akan tetapi Kalimantan Barat memiliki puluhan pulau besar dan kecil (sebagian tidak berpenghuni) yang tersebar sepanjang Selat Karimata dan Laut Natuna yang berbatasan dengan wilayah Provinsi Kepulauan Riau.

Di kawasan Kalimantan Barat terdapat banyak kesenian tradisional dan kerajinan yang masih menyatu dengan masyarakatnya, berikut ini kami merangkum beberapa kesenian dan kerajinan yang berasal dari Kalimantan bagian Barat :

A. KESENIAN


1. Tari Kinyah Uut Danum


Tarian ini memperlihatkan keberanian dan juga teknik bela diri pada saat berperang. Sesuai dengan namanya, bahwa tarian ini berasal dari sub suku dayak uut danum yang ada di Provinsi Kalimantan Barat. Tari Kinyah Uut Danum ini awalnya merupakan tarian untuk persiapan fisik sebelum mengayau, yakni tradisi pemburuan kepala musuh yang dilakukan oleh suku dayak zaman dahulu. 

Tarian ini untuk menunjukan kesiapan dari para laki laki dayak uut danum untuk dilepaskan dihutan untuk mengayau. Hampir semua dari sub suku dayak memiliki tarian perang yang seperti ini. Namun setiap sub suku dayak tentunya mempunyai teknik membunuh rahasia. Suku dayak uut danum ini sendiri dikenal dengan gerakan dan juga teknik yang berbahaya dalam membunuh para musuhnya.

Seiring perkembangan zaman, tradisi mengayau ini berakhir pada saat perjanjian tumbang anoi. Perjanjian tumbang anoi ini merupakan perjanjian damai, dimana para pemimpin setiap sub suku dayak di Provinsi Kalimantan berkumpul dan melakukan perjanjian damai. Setelah adanya perjanjian damai itu, tradisi mengayau ditinggalkan dan tari kinyah mulai dijadikan sebagai tarian tradisional. 

Selain itu juga tarian ini untuk memperingati sejarah serta keberanian laki laki dayak zaman dahulu. Selengkapnya tentang tari kinyah uut danum dapat anda lihat pada artikel berjudul "Tari Kinyah Uut Danum, Tarian Perang Dari Kalimantan Barat".

2. Tari Monong


Tarian Monong ini pada awalnya merupakan tarian penyembuhan yang dilakukan oleh para dukun suku Dayak dengan membacakan mantra sambil menari. Dalam tarian ini juga diikuti oleh anggota keluarga dari yang sakit dan dipimpin oleh seorang dukun. Tarian Monong ini merupakan ritual yang dilakukan untuk memohon penyembuhan kepada Tuhan supaya warga yang sakit diberikan kesembuhan. 

Namun dengan seiring perkembangan zaman, tarian ini tidak hanya digunakan sebagai tarian penyembuhan saja, tetapi juga sebagai sarana hiburan dan pelestarian kesenian tradisional suku Dayak. Selengkapnya tentang tari monong dapat anda lihat pada artikel berjudul "Tari Monong, Tarian Tradisional Suku Dayak di Kalimantan Barat".

3. Tari Pingan

Tari Pingan merupakan tarian tradisional yang bersifat hiburan untuk rakyat. Dalam bahasa Dayak Mualang, kata "pingan" dalam nama tarian ini artinya adalah piring yang terbuat dari bahan dasar batu atau dari tanah liat. Sesuai dengan namanya, dalam pertunjukannya para penari akan memakai piring sebagai propertinya.


Tari Pingan ini terbagi menjadi 2 (dua) jenis yaitu Tari Pingan inok (wanita) dan juga Tari Pingan laki (laki-laki). Perbedaan dari kedua jenis ini adalah pada gerakannya, dimana gerakan tersebut memiliki tingkat kesulitan yang berbeda pada gerakan atraksinya. 

Dalam hal tersebut Tari Pingan laki memiliki tingkat kesulitan yang lebih tinggi dibandingkan dengan Tari Pingan inok. Selengkapnya tentang tari pingan dapat anda lihat pada artikel berjudul "Tari Pingan, Tarian Tradisional Dari Provinsi Kalimantan Barat".

4. Tari Jonggan

Tarian ini menggambarkan suka cita dan juga kebahagiaan didalam pergaulan masyarakat dayak. Tarian Jonggan merupakan salah satu tarian tradisional yang berasal dari kebudayaan masyarakat suku Dayak kanayant di Provinsi Kalimantan Barat.


Nama jonggan ini sendiri diambil dari bahasa dayak yang artinya joget atau menari. Selengkapnya tentang tari jonggan dapat anda lihat pada artikel berjudul "Tarian Jonggan, Tarian Tradisional Dari Provinsi Kalimantan Barat".

5. Tari Bopureh

Tarian ini merupakan tari kreasi yang menceritakan sebuah kisah cinta pemuda Suku Dayak Jangkang dengan seorang gadis Kanayan yang terhalang oleh adat. Dalam bahasa Jangkang, bopureh ini mengandung arti silsilah. Tari Bopureh ini coba menggambarkan silsilah adat memisahkan tali kasih yang telah terikat erat antara dua sejoli.

Sebagai garapan seni kreasi, tari bopureh ini tidak lepas dari unsur-unsur estetika tari tradisional Dayak pada lainnya. Misalnya pada busana. Penari bopureh ini masih mengenakan pakaian adat Suku Dayak Provinsi Kalimantan Barat, namun yang telah dimodifikasi dibeberapa bagiannya. 

Perlengkapan mahkota burung tingang yang dikenakan oleh pria penari semakin memperkental identitas dari tari bopureh sebagai bagian dari kesenian pertujukan Suku Dayak. Selengkapnya tentang tari bopureh dapat anda lihat pada artikel berjudul "Tari Bopureh, Tarian Tradisional Dari Kalimantan Barat".

6. Tari Jepin

Tari Jepin adalah kesenian tradisional yang berasal dari Kalimantan Barat yang diadaptasi dari kesenian melayu, agama islam, dan juga budaya lokal. Tarian ini merupakan salah satu media penyebaran dari agama Islam di Provinsi Kalimantan Barat. Tari Jepin merupakan kesenian tari gerak dan lagu yang memiliki arti disetiap gerakannya.

Menurut beberapa sumber sejarah yang ada. Tari Jepin ini awalnya merupakan kesenian yang menjadi media dakwah didalam penyebaran agama islam pada abad ke-13. Tarian ini pada awalnya ditampilkan di daerah Sambas Provinsi Kalimantan Barat. 

Kemudian menyebar dan juga berkembang ke berbagai daerah di Provinsi Kalimantan Barat. Selengkapnya tentang tari jepin dapat anda lihat pada artikel berjudul "Tari Jepin, Tarian Tradisional Dari Provinsi Kalimantan Barat".

7. Tari Pedang Mualang

Tari Pedang Mualang adalah sebuah tarian tunggal tradisional yang umumnya dipentaskan untuk menghibur masyarakat, seperti acara Gawai Belaki Bini (pesta pernikahan), acara Gawai Dayak (pesta panen padi), dan acara lainnya. Dalam pertunjukannya, tarian ini lebih mengedepankan gerakan yang sangat aktraktif dengan memakai pedang sebagai propertinya.

Di masa lalu, tarian ini dilakukan oleh para kesatria untuk mendatangkan rasa semangat dan kepercayaan dalam berperang sebelum melaksanakan ekspedisi Mengayau. 

Hal tersebut berguna untuk memperkuat kepercayaan mereka bahwa mereka harus menang didalam melawan baik itu serangan maupun dalam menyerang lawannya. Tarian ini umumnya akan diiringi oleh tebah tradional yang disebut dengan tebah Undup Banyur, namun ada kalanya juga dilakukan dengan Tebah Undup Biasa.

8. Wayang Gantung

Wayang  memang banyak jenisnya. Salah satunya, wayang gantung. Namanya hampir tidak pernah kedengaran lagi. Salah seorang kakek Chin Nen Sin di Desa Lirang, Singkawang Selatan masih menyimpan boneka wayang gantung asli dari Cina.

Pertunjukkan wayang gantung dimainkan oleh 112 orang. Semua pemainnya adalah kakek-kakek. Hmm, generasi muda belum banyak yang tahu tentang pertunjukkan wayang ini. Jadilah, kakek-kakek yang paling menguasainya.

Pertunjukkan wayang gantung diiringi dengan kecapi dan lagu Mandarin. Selain itu, ceritanya juga dituturkan dalam bahasa Cina.

B. KERAJINAN


1. Kerajinan Tenun

Kain Tenun Tradisional terdapat di beberapa daerah, di antaranya:

  • Tenun Daerah Songket SambasTenun Belitang daerah Kumpang Ilong Kabupaten Sekadau ( Dayak Mualang / Ibanik )
  • Tenun Ensaid Panjang Kabupaten Sintang ( Dayak Desa / Ibanik)
  • Tenun Kapuas Hulu ( Iban dan Kantuk / Kelompok Ibanik )
  • Sulam Kalengkang khas suku Melayu Kabupaten Sanggau

2. Kerajinan Anyam Manik

Anyam Manik kelompok Dayak Banuaka Group:

Anyam baju adat Dayak Taman, tamambaloh, peniung, Kalis ( baju Manik dan baju Burik)

3. Kerajinan Anyam Rotan

Bakul, keranjang, Kelayak, Tudung Saji, ambinan, dsb. tersebar di Pontianak, Landak, Sanggau, Sekadau, Sintang, Kapuas hulu.

4. Kerajinan Tangan Lainnya

Berbagai macam kerajinan tangan dapat diperoleh dari daerah ini, misalnya:
  • Tikar Lampit, di Pontianak dan daerah Bengkayang, Sintang, Kapuas Hulu, Ketapang. 
  • Bidai ( bahasa Ibanik ) atau bide (bahasa Kanayatn Group) tersebar hampir disebagian suku Dayak baik di Indonesia maupun di Serawak, bidai merupakan tikar tradisional Dayak, terdapat di Bengkayang, Sekadau, Kapuas Hulu, Serawak ( pada komunitas Dayak Iban) 
  • Ukir-ukiran, perisai, mandau dan lain-lain terdapat di Pontianak dan Kapuas Hulu. 
  • Kacang Uwoi (tikar rotan bermotif) khas suku Dayak Uut Danum. 
  • Takui Darok (caping lebar bermotif) khas suku Dayak Uut Danum.

Sumberkamerabudaya.com dan Wikipedia

Wednesday, April 18, 2018

Sejarah Asal Usul Terbentuknya Kota Banda Aceh Indonesia

Banda Aceh adalah salah satu kota yang berada di Aceh dan menjadi ibukota Provinsi Aceh, Indonesia. Sebagai pusat pemerintahan, Banda Aceh menjadi pusat kegiatan ekonomi, politik, sosial dan budaya. Kota Banda Aceh juga merupakan kota Islam yang paling tua di Asia Tenggara, di mana Kota Banda Aceh merupakan ibu kota dari Kesultanan Aceh.

Sejarah Banda Aceh


Banda Aceh sebagai ibu kota Kesultanan Aceh Darussalam berdiri pada abad ke-14. Kesultanan Aceh Darussalam dibangun di atas puing-puing kerajaan-kerajaan Hindu dan Budha yang pernah ada sebelumnya, seperti Kerajaan Indra Purba, Kerajaan Indra Purwa, Kerajaan Indra Patra, dan Kerajaan Indrapura (Indrapuri). Dari batu nisan Sultan Firman Syah, salah seorang sultan yang pernah memerintah Kesultanan Aceh, didapat keterangan bahwa Kesultanan Aceh beribukota di Kutaraja (Banda Aceh). (H. Mohammad Said a, 1981:157).

Kemunculan Kesultanan Aceh Darussalam yang beribukota di Banda Aceh tidak lepas dari eksistensi Kerajaan Islam Lamuri. Pada akhir abad ke-15, dengan terjalinnya suatu hubungan baik dengan kerajaan tetangganya, maka pusat singgasana Kerajaan Lamuridipindahkan ke Meukuta Alam. Lokasi istana Meukuta Alam berada di wilayah Banda Aceh.

Sultan Ali Mughayat Syah memerintah Kesultanan Aceh Darussalam yang beribukota di Banda Aceh, hanya selama 10 tahun. Menurut prasasti yang ditemukan dari batu nisan Sultan Ali Mughayat Syah, pemimpin pertama Kesultanan Aceh Darussalam ini meninggal dunia pada 12 Dzulhijah Tahun 936 Hijriah atau bertepatan dengan tanggal 7 Agustus 1530 Masehi.

Kendati masa pemerintahan Sultan Mughayat Syah relatif singkat, namun ia berhasil membangun Banda Aceh sebagai pusat peradaban Islam di Asia Tenggara. Pada masa ini, Banda Aceh telah berevolusi menjadi salah satu kota pusat pertahanan yang ikut mengamankan jalur perdagangan maritim dan lalu lintas jemaah haji dari perompakan yang dilakukan armada Portugis.

Pada masa Sultan Iskandar Muda, Banda Aceh tumbuh kembali sebagai pusat perdagangan maritim, khususnya untuk komoditas lada yang saat itu sangat tinggi permintaannya dari Eropa. Iskandar Muda menjadikan Banda Aceh sebagai taman dunia, yang dimulai dari komplek istana. Komplek istana Kesultanan Aceh juga dinamai Darud Dunya (Taman Dunia).

Pada masa agresi Belanda yang kedua, terjadi evakuasi besar-besaran pasukan Aceh keluar dari Banda Aceh yang kemudian dirayakan oleh Van Swieten dengan memproklamasikan jatuhnya kesultanan Aceh dan mengubah nama Banda Aceh menjadi Kuta Raja.

Setelah masuk dalam pangkuan Pemerintah Republik Indonesia baru sejak 28 Desember 1962 nama kota ini kembali diganti menjadi Banda Aceh berdasarkan Keputusan Menteri Pemerintahan Umum dan Otonomi Daerah bertanggal 9 Mei 1963 No. Des 52/1/43-43

Pada tanggal 26 Desember 2004, kota ini dilanda gelombang pasang tsunami yang diakibatkan oleh gempa 9,2 Skala Richter di Samudera Indonesia. Bencana ini menelan ratusan ribu jiwa penduduk dan menghancurkan lebih dari 60% bangunan kota ini.

Berdasarkan data statistik yang dikeluarkan Pemerintah Kota Banda Aceh, jumlah penduduk Kota Banda Aceh hingga akhir Mei 2012 adalah sebesar 248.727 jiwa.
Sedangkan Hari jadi Kota Banda Aceh yaitu pada tanggal 22 April 1205 M.


SEJARAH KERAJAAN LAMURI


Bandar Aceh mempunyai sejarah yang sangat panjang sebagai cikal-bakal Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Disinilah mula-mula berdirinya Kerajaan Aceh yang bernama Lamuri atau Al Ramni atau Rami, yang situsnya masih terdapat di Gampong Pande.

Dari literature-literatur dan buku-buku sejarah tentang Aceh, sejarah Melayu, Naskah-naskah tua, hikayat-hikayat Aceh serta wawancara dengan orang-orang tua, maka dapatlah diketahui, bahwa Aceh sudah mempunyai peradaban dan mempunyai system pemerintahan pada masa berabad-abad sebelum masehi.

Catatan sejarah tentang kegiatan pelaut-pelaut Paoenisia yang tersimpan dalam perpustakaan dikota pelabuhan Alexandria (Iskandariyah), tetapi karena sudah hilang maka yang dapat digunakan sebagai sumber adalah Injil (Thomas Braddell “ The Ancient trede of the Indian Archipelago”, Jil. II No: 3, 1857) antara lain tentang apa yang pernah disampaikan oleh The King of Salomon (Nabi Sulaiman A.S) kepada rakyatnya, yaitu pelaut-pelaut Phonesia supaya berlayar menuju ke timur untuk menemui gunung Ophir, karena ditempat tersebut banyak tersimpan harta berharga yaitu emas.

Tiga tahun lamanya pelaut tersebut berpergian, mereka kembali dengan berhasil membawa harta karun tersebut dalam jumlah besar ( D.M. Champhel mengatakan Ophir itu terletak di ujung utara Sumatra yaitu Aceh yang sekarang disebut kampong Pande.

Semenjak itu daya tarik berlayar semakin besar untuk menuju ke timur kearah matahari terbit dan berangsur angsur pula bahan dagangan bertambah ragam. Dari Eropa dibawa orang-orang barang perdagangan ke Alexanderia, disini dipertukarkan dengan barang-barang yang dibawa oleh orang Arab Saba yang pada giliranya pula menampung barang-barang baik dari sepanjang pantai Arab Selatan maupun dari Teluk Parsi dan India.

Pada masa itulah tampil di pasar Alexanderia hasil-hasil kekayaan dari Aceh seperti rempah-rampah, kapur barus, belerang, kemenyan, emas, perak dan timah. Pada tahun 376 S.M.

MASUKNYA AGAMA ISLAM DI BANDA ACEH


Seorang nahkoda Yunani yang tidak dikenal siapa orangnya pernah membuat semacam buku penuntun yang diberinama “Periplus Maris Erythraea) (Petunjuk Pelayaran laut India) menjelaskan lintasan perdagangan yang terjadi masa itu antara Mesir dan India dan pelabuhan-pelabuhan yang dijumpai ditengah perjalanan laut dan barang yang diperjual belikan antara negara yang bersangkutan, tetapi keterangan sampai ke timur lagi diperoleh dari orang-orang India yang mena mereka menceritakan ada suatu pulau dilautan India yang bernama Chryse yang menghasilkan penyu terbaik di lautan India. Jadi dapatlah diketahui bahwa pulau yang menghasilkan penyu adalah Sumatera, yang oleh Periplus ini oleh orang-orang barat dianggap sebagai perintis jalan untuk mengenal kepulauan Indonesia yang menghasilkan kekayaan alam dan hasil bumi rempah-rempah tersebut.

Namun orang pertama yang memperkenalkan Nusantara dan semenanjung Melayu adalah Ptolemaeus pada tahun 301 SM dia juga salah seorang panglima atau menteri dari Maharaja Iskandar Zulkarnaen, dimana setelah beliau wafat dia mengambil alih kekuasaan di Alexanderia.

Kota tersebut merupakan suatu pelabuhan besar pada zaman dulu di Mesir yang banyak memegang peranan dalam lintas perdagangan antar bangsa. Bukunya yang terkenal “geograpike Uplehesis” berupa ilmu bumi dunia yang lengkap dengan peta-petanya.

Pada Bab ketujuh, dia membicarakan kepulauan dan semenanjung bagian Asia Tenggara. Dia memperkenalkan “Aureachersoneseus” atau “Golden Chersoneseus” atau dalam bahasa Indonesia disebut “Pulau Emas” kalau orang Belanda menyebutnya Golden Berg.

Dalam peta itu ditempatkannya sebuah pulau bernama Jabadiou (Sumatera). Suatu kemungknan dapat diperhitungkan bahwa barang-barang yang dibeli atau diangkut dari Barygaza, sebagiannya berasal dari ujung pulau Sumatera yaitu Aceh, dalam kaitan ini dapat diperhitungkan, telah terjadi perdagangan antar pulau, seperti Kalimantan, Bugis, Maluku, Jawa maupun Palembang, Aceh sebagai entreport untuk hubungan ke luar negeri karena yang terpenting komoditi eksport pada masa itu adalah rempah-rempah (lada), kapur barus, emas dan perak, semuanya disuplai oleh pelabuhan Aceh.

Ptolemaeus menyebutkan kota pelabuhan daripada Aurea Chersoneseus dalam catatannya bernama “Argure” atau kota perak yang terletak dibagian paling barat pulau emas, yang banyak menghasilkan emas dan sangat subur.

Dapat diperhitungkan bahwa Argire yang dimaksudkan adalah Lamuri, atau sekarang kampong Pandee (J. L Moens). Dalam catatan sejarah China dalam tarikh Dinasti Han pada abad 206 SM, catatan dimaksud berkenaan dengan masa pemerintahan Kaisar “Wang Mang” yang mana Kaisar tersebut mengirimkan bingkisan berupa mutiara, permata dan barang-barang lain kepada sebuah negeri yang disebut dalam catatan itu bernama Huang Tsche dan Kaisar Wang meminta imbalan dari bingkisan nya, supaya dikirimkan binatang badak yang terdapat dinegeri itu, Wang bermaksud hendak memelihara badak tersebut dikebun binatangnya, disini sejarahwan berpendapat yang dimaksud Huang Tsuie adalah Aceh yang terletak di Ujung Pulau Sumatera Bagian Utara.

Dapat dijelaskan disini bahwa masih banyak catatan-catatan sejarah baik dari perjalanan pelaut-pelaut Phoenesia maupun perjalanan daripada bangsa-bangsa Arab, Persia dan Tionghoa yang tidak ditulis disini.

Sesudah ± tahun 400 SM, Aceh di ujung paling barat Pulau Sumatera, dinamai oleh orang Arab Rami (Al Ramni) oleh orang Tionghoa menyebut Lan-li, Lam-wuli, Nan-wuli, Nan-poli yang sebenarnya sebutan Aceh adalah Lamuri menurut sejarah Melayu, oleh Marcopolo menyebut Lambri setelah kedatangan Portugis nama Lambri tidak pernah disebut lagi melainkan Achem atau (Acheh) Sejak permulaan abad ke 1 Masehi di Aceh sudah ada pemerintahan atau kerajaan yang diperintahkan oleh Meurah-Meurah dan meugat-meugat dengan nama Kerajaanya Lamuri, yang terletak di ujung Barat Pulau Sumatera didekat pantai ± 2 km dan ± 500 meter di pinggir Krueng Aceh yang sekarang disebut Kampung Pande Situs daripada Istana (pendopo). Dan mesjid masih ada sampai dengan sekarang) walaupun sebagian sudah rusak akibat tsunami pada tanggal 26 Desember 2004.

Kalau diperhatikan dari letak geografisnya, maka Aceh Lamuri berkedudukan sebagai pintu masuk perlintasan laut dari Barat ke timur, atau pintu keluar dari timur ke barat. Jadi disini dapat diketahui bahwa Aceh menjadi daerah lintasan pedagang-pedagang dari segala bangsa yang terutama pelaut-pelaut atau saudagar-saudagar Arab, Persi, Phoenesia, India dan Cina.

Dengan berjalanya waktu dan bertambah majunya arus perdagangan Aceh Lamuri dengan dunia luar dan hilir mudik saudagar-saudagar Parsi, Arab maka mereka membuat perkampungan di Aceh Lamuri, sampai pada abad ke VI Masehi.

Kedatangan Islam ke Aceh Menjelang wafatnya Nabi Besar Muhammad SAW pada tanggal 8 Juni 632 Masehi, tahun pertama Hijriah. Agama Islam sudah berkembang luas ke seluruh Jazirah Arab. Pengembangan keluar Jazirah Arab berjalan terus bahkan sudah mencapai ke Tiongkok pada Zaman Khalifah Usman bin Affan pada tahun 651 M.

Sesuai catatan sejarahwan Dinasti Tang tentang kedatangan perutusan amirul mukminin dalam bahasa tiong hoa bertana han mi mo mo ni dengan membawa sepucuk surat yang menyebut bahwa kerajaanya (Islam) sudah berdiri sejak 34 tahun yang lalu. Untuk penelitian kapan Islam mencapai Nusantara khususnya Aceh, yang cukup penting adanya fakta, yaitu:

  • Sudah terlaksananya peng-Islaman diseluruh Jazirah Arab sebelum Rasullullah wafat. 
  • Pedagang-pedagang atau pelaut-pelaut Arab yang menlintasi lautan sejak masa itu sudah terdiri dari oang-orang muslim. 
  • Pedagang/pelaut Arab selalu mondar-mandir ke Aceh untuk membeli barang-barang dagangan yang akan dibawa ke Iskandariyah. 

Seperti yang tersebut sebelumnya bahwa orang-orang Arab dan Parsi sudah membuat perkampungan di Aceh (Lamuri), jadi kegiatan merantau dan orang-orang Arab dan Parsi yang terdapat dalam catatan Tionghoa, paling sedikit ada dua yang menjadi perhatian, antara lain: a. Kesan-kesan perjalanan biksu Tionghoa I-Tsing pada tahun 672 M menuju Nusantara melewati selat malaka menyinggahi O-Shen yang dimaksud adalah pelabuhan Aceh Lamuri. b. Catatan yang dilengkapi oleh W.P Groenevelt yang didapat dalam naskah Dinasti Tang, bahwa di pantai sebelah Barat Sumatera (Aceh) telah ada bermukim orang-orang Arab yang disebut bangsa TA-SHI.

Mengenai (a) I Tsing mengatakan bahwa dia menumpang kapal orang Po-ssu yaitu Parsi, diperhatikan dari masanya tahun 672 M yaitu sekitar 40 tahun berkembangnya Islam di Parsi, dapat diambil suatu kesimpulan bahwa pelaut-pelaut dan saudagar-saudagar dari Parsi sudah memeluk agama Islam.

Mengenai (b), orang Arab atu Ta-Shi yang bermukim dipantai barat Sumatera (Aceh) disekitar tahun 674 Masehi, tentulah pula sudah menjadi pemeluk agama Islam.

Pencatat dari Tionghoa menyebut mereka orang Ta-shi. Jadi pendatang Arab, Parsi yang membangun permukiman di Aceh Lamuri atau Kampung Pande sekarang ini jumlah mereka sangat banyak, ini dapat dilihat sewaktu mereka bermaksud menyerang Holling (Keudah-Malaysia) yang juga negerinya sangat makmur sama dengan di Aceh Lamuri, sekaligus memberi petunjuk bahwa jumlah mereka tidak sedikit dan kedudukan mereka sudah sangat kuat.

Sejak tersiarnya pendapat dari Groneveldt itu, para sarjana menjadi meningkat perhatianya untuk mengetahui kedatangan Islam ke Aceh. Kolonel G. E. Gerini dalam studinya mengatakan bahwa pernah ada permukiman orang Arab, Persi di wilayah Ta-shi (Aceh) dan dia meneguhkan ketidak sangsian lagi bahwa yang dimaksud Ta-shi adalah Aceh. Antara lain diyakinkan bahwa ISLAM sudah masuk ke Aceh pada tahun 674 M atau pada abad pertama Hijriah.

Profesor Syed Naquib Al-Ahas dalam satu studinya yang kemudian disiarkan oleh Dewan Bahasa dan Pustaka Kualalumpur mengatakan bahwa “catatan yang paling tua mengenai kemungkinan bermukimnya orang Arab Muslim di Aceh adalah bersumber daripada laporan Cina tentang permukiman Arab dan Parsi di ujung Sumatera bagian utara (Aceh) di tahun 55 H atau 674 M.

Pada seminar sejarah masuknya Islam ke Indonesia yang dilangsungkan di Medan pada tanggal 17-20 Maret 1967 telah diambil kesimpulan antara lain: a. Bahwa Islam masuk pertama kali ke Indonesia adalah pada Abad ke I Hijriah dan langsung dari Arab. b. Bahwa daerah pertama didatangi Islam ialah pesisir Sumatera dan terbentuknya masyarakat Islam dan system kerajaan (kesultanan) di Aceh.

Professor Hamka yang dalam seminarnya itu tampil sebagai pembanding utama, yang mendukung penuh bahkan menperjelas kelansungan datangnya ISLAM dari Arab pada Abad ke I Hijriah.

Dalam tahun 1978 pada tanggal 10-16 Juli 1978 di Banda Aceh telah berlangsung suatu seminar tentang masuk dan berkembangnya Islam di Aceh yang diselenggarakan oleh Majelis Ulama Propinsi D. I Aceh, seminar tersebut bertujuan mengupas dan mencari kesimpulan yang akurat bagian-bagian seluruh aspek yang berkaitan dengan sejarah perkembangan islam di Propinsi Aceh.

Kesimpulan-kesimpulan yang berhasil diambil terbagi dalam tiga bab yaitu: - Bab pertama diambil kesimpulan yaitu, masih banyak lagi bahan-bahan yang harus dikumpulkan dan diteliti sehubungan dengan masuk dan berkembangnya Islam di Aceh. - Bab kedua meliputi 29 kesimpulan - Bab Ketiga: berkenaan dengan saran-saran yang bernilai dengan Bab 2, khususnya mengenai masuk dan berkembangnya Islam, yang terpenting diantaranya adalah: a. Sebelum Islam masuk ke Aceh, sudah ada kerajaan-kerajaan di Aceh diantaranya Lamuri di Aceh Besar (Kampung Pande sekarang) dan kerajaan-kerajaan lain (Sumber catatan bangsa lain yang pernah atau sering berkunjung ke Lamuri). b. Pada abad ke I Hijriah, Islam sudah masuk ke Aceh. c. Kerajaan Islam yang pertama adalah Lamuri, Peureulak dan Pasai.

Jadi disini dapat diambil kesimpulan bahwa Islam masuk ke Aceh pada tahun 674 M, sesuai dengan catatan dan pendapat-pendapat dari para ahli sejarah dan catatan naskah Tionghoa, dan masih banyak pendapat ahli-ahli sejarah yang tidak diungkapkan dalam tulisan ini, serta dari hasill seminar-seminar yang sudah dijelaskan sebelumnya.

Sejarah Kerajaan Aceh Lamuri sampai Aceh Darussalam. Sudah dikelaskan pada permulaan sekali, bahwa Aceh sudah dikenal sejak dari 1000 tahun SM dimasa pemerintahan Nabi Sulaiman A.s (The King of Salomon) sampai pada masa Periplus, tahun 376 SM, Prolemeus 301 S.M Dinasti Han I, 206 SM smpai pada abab I M s/d abad ke 4 Masehi, dimana orang-orang Arab menamakan Aceh dengan Al-Ramni atau Lamuri yang terletak di ujung barat pulau Sumatera atau di Kampung Pandee sekarang (situsnya masih ada) sampai dengan masuknya Islam pada tahun 674 M, disini penulis tidak mau mempermasalahkan apakah Aceh Besar yang pertama masuk Islam menurut “Bustanul Salatun” karangan Syech Nurdin Arraniry ataupun di Pasai menurut Hikayat raja-raja Pasai.

Sejak masuknya Islam ke Aceh Besar pada tahun 674 M dimana Islam terus berkembang pesat dan dapat diketahui system pemerintahan sejak 1000 tahun SM sampai abad ke I M sudah mulai ada dan mulai abad 1 M sampai dengan masuknya Islam sistem pemerintahan bertambah baik dan komplet.

Pada waktu itu kerajaan Lamuri di Aceh Besar atau lebih dikenal dengan nama Aceh tiga segi (Aceh Lhee Sagoe), dimana pada masa itu Aceh Lamuri masih diperintah oleh meurah-meurah dan meugat-meugat (pembesar Negara).

Pada saat Islam terus berkembang dengan pesatnya, mulailah berdatangan ulama-ulama yang mengembangkan agama Islam ke Aceh Raya, salah seorang diantaranya adalah turunan Bani Saljuk berasal dari bangsa Turky yaitu Sulthan Malik Syah Saljuk, salah seorang Sulthan Malik Syah Saljuk salah seorang Sulthan pada masa Dinastu Abbasyiah yang mana salah seorang cucu beliau yaitu Machdum Abi Abdullah Syeh Abdurrauf Baghdady atau Tuan dikandang Syeh Bandar Aceh Darussalam yang makamnya sekarang ada dikampung Pande.

Kalau kita mengikuti catatan dari naskah tua yang disimpan di perpustakaan Universitas Kebangsaan Malaysia di Kuala Lumpur (foto copy dari naskah tersebut tersimpan dalam perpustakaan Ali Hasyimi Banda Aceh) oleh Ayahnda Ali Hasyimi menyimpulkan dan beliau lebih condong dan sangat meyakinkan fakta-fakta yang tercatat dalam naskah tua tersebut, selain itu dalam naskah itu terdapat banyak lagi fakta-fakta sejarah yang sangat penting mengenai Aceh.

Kesimpulan yang diambil oleh Prof. Ali Hasyimi, bahwa sebagian raja-raja dan para pembesar yang memerintah Aceh dan para ulama. Ulama yang mengembangkan ilmu agama dan ilmu pengetahuan di Aceh dan daerah-daerah kekuasaanya adalah turunan dari Bani Saliuk yang berasal dari Kabilah kecil keturunan Turki, yaitu Kabilah Qunuq.

Kabilah ini bersama dengan duapuluh kabilah-kabilah kecil lainnya bersatu membentuk rumpun Chuz, semula gabungan Kabilal ini tidak memiliki nama hingga muncul tokoh Saljuk bin Tuqaq yang mempersatukam mereka dengan memberi nama suku Saljuk.

Suku ini bermukim atau mendiami pengunungan emas di Asia Barat, mereka terkenal salah satu suku yang berdarah panas dan berani, daerah tempat suku ini bermukim di daerah Turkistan. Dibawah pemerintahan Raja Bighu yang mengangkat Saljuk bin Tugaq sebagai pemimpin militer dari suku Saljuk. Suku ini bertetangga dengan Dinasti Samaniyah dan Dinasti Gaznawijah, suku ini memihak pada Dinasti Samaniyah ketika terjadi persengketaan anatara samaniyah dengan Gaznawijah dimana Dinasti Samaniyah dikalahkan oleh Dinasti Gaznawiyah, Saljuk menolak untuk bergabung dengan Gaznawiyah dan memproklamirkan wilayah yang diduduki suku ini sebagai negeri merdeka.

Bahkan ketika muncul tokoh generasi Saljuk yang bernama Tughrilbek, suku Saljuk berhasil mengalahkan dan mengakhiri kekuasaan Ghaznawiyah pada tahun 429 H (1036 M), dan semenjak itu Dinasti Saljuk sukses dalam setiap upaya ekspansi. Pada masa kepemimpinan Tughril Bek tahun1037-1063 M (430-456 H) suku Saljuk berhasil memasuki Bagdad, setelah mengalahkan DInasty Buwaihiyyah.

Mulai dari sini Bani Saljuk mulai memerintahkan didalam DInasty Abbasiyah. Setelah Tughril beg wafat dan diganti oleh kemenakannya yang bernama Alp Arselan (1063-1072 atau 456 H-465 H), pada masa itu ekspansi besar-besaran kea rah timur, menundukan Armenia, ke Arab bagian barat sampai ke Asia kecil, begitu hebat perkembangan pada masa itu sehingga semakin luas daerah kekuasaan Bani Saljuk. Disini tercatat Alp Arsilan sebagai penguasa yang adil dan bijaksana, beliau mangkat pada tahun 465 H/1072 M dan digantikan oleh putranya bernama Malik Syaj.

Pada masa Pemerintahan Sultan Malik Syah seluruh wilayah kesultanan saljuk yang luas ini diwarnai kemakmuran dan kedamaian hidup, pembangunan dalam segala bidang berkembang dengan pesat, demikian juga bidang seni dan budaya terutama bidang ilmu pengetahuan pengembanganya sangat maju sekali.

Yang paling menonjol adalah ilmu teknik pemerintahan , ilmu astronomi, ilmu matematika (Aljabar) dengan penemuan system hitungan decimal, aritmatika, geometri, logaritma. Selain itu mereka juga memberikan kontribusi besar dalam bidang ilmu kimia yaitu “Term chemistry” yang mereka sebut Al Kimia. Demikian masa pemerintahan Sulthan Malik Syah sampai dengan mangkatnya beliau tahun 485 H/1092M.

Kemudian sulthan-sulthan pengganti beliau tidak memiliki kecakapan dalam memerintah sehingga kesulthanan Bani Saljuk mengalami kemunduran, sampai pada masa perang salib dan kehancuran Bani Saljuk oleh serangan bangsa Mongol (Hulagu Khan) pada masa itu sedang dibentuk Dinasti Turki Usmani berpangkal pada sebuah suku kecil yakni Kabilah Ughu semula mereka tinggal disebelah utara negeri Cina.

NENEK MOYANG MASYARAKAT BANDA ACEH


Karena tekanan-tekanan dari bangsa Mongol, mereka dibawah pimpinan Sulaiman Syah, berpindah kearah barat hingga mereka bergabung dengan saudara seketurunan, yakni orang Turki Saljuk di Asia Kecil. Dibawah pimpinan Usman mereka membentuk kerajaan Turki Usmani dengan raja yang pertama Usman I yang bergelar “Padinsyah Ali Usman” pada tahun 1281-1324 kemudian Dinasti Usman berjalan terus sampai terjadi perang dunia pertama (1915 M), dan pada masa Mustafa Kamal dalam kapasitas pemimpin dewan majelis menghapus jabatan Khalifah pada tahun 1924 semenjak itu berakhir Imperium Turki Usmani dan sejarah Turki memasuki era modern dengan system pemerintahan republik.

Kembali pada masalah datangnya ulama-ulama ke Aceh Besar, yaitu ada lima orang ulama yang mengembangkan agama Islam dan ilmu pengetahuan di Aceh Bandar Darussalam (Lamuri-Aceh Besar). Kelima ulama-ulama pengembang Islam tersebut adalah:

  • Abdullah, berasal dari Persia, Mazhab hanafi, Ahlus sunnah wal jama’ah, datan ke Aceh pada tahun 229 H (843 M). 
  • Sulaiman bin Abdullah Yamani, Mazhab Zidi, datang ke Aceh pada tahun 236 H (850 M). 
  • Syeck Umar bin Abdullah Malabari, dari Mekkah, Mazhab Syafi’i, Ahlus sunnah wal jama’ah, ke Aceh pada tahun 275 H (879 M). 
  • Abdullah Hasan Al-Makki, dari Mekkah, Mazhab Syafi’i, Ahlus sunnah wal jama’ah, ke Aceh pada tahun 284 H (889 M). 
  • Makhdum Abi Abdullah Syekh Abdul Rauf Baghdadi bergelar Tuan dikandang Syekh Bandar Aceh Darussalam, beliau keturunan dari Sultan Malik Syah Saljuk, kuburan di Kampung Pandee. 

Beliau inilah nenek moyang dari pada raja-raja, pembesar-pembesar dan Ulama-ulama dalam zaman kerajaan Aceh Lamuri (Bandar Aceh Darussalam) sampai pada zaman Kerajaan Aceh Darussalam. Beliau datang ke Aceh pada Abad ke 11 Masehi atau ke IV Hijriah.

Setelah ulama-ulama berdatangan ke Aceh, perkembangan Islam yang mencapai puncaknya, apalagi dengan datangnya ulama pendiri Tharikat Kadriyah yaitu Sykh Abdulkadir Jaelani, pada abad k XI atau pada masa Tuan Dikandang atau Makhdun Abi Abdullah Syekh Abdul Ra’uf Baghdadi, dari sinilah mulai terbentuk kerajaan Islam Aceh Lamuri atau Bandar Aceh Darussalam dilembah Aceh Tiga Segi (Aceh Lhee Sagoe) Aceh Besar.

Menurut Naskah tua yang terdapat di perpustakaan Universitas Kebangsaan Malaysia, terdapat sarakata (Ranji) sisilah dari raja-raja Aceh, mulai dari raja-raja kerajaan Aceh Lamuri sampai kepada raja-raja dan ratu-ratu kerajaan Aceh-Darussalam.

Begitulah sarakata atau ranji atau silsilah daripada raja-raja dari kerajaan Aceh, dan menurut keterangan dari salah seorang pegawai Dinas Kebudayaan Bagian Purbakala NAD, juga pernah ada silsilah atau sarakata dari raja-raja kerajaan Aceh yang persis sama dengan yang terdapat pada perpustakaan Universitas Kebangsaan Malaysia, tetapi sewaktu terjadi kebakaran pada tahun 2002, silsilah tersebut turut terbakar.

Sudah dijelaskan di atas bahwa kuburan dari pada Tuan di Kandang atau Makhdum Abi Abdullah Syekh Abdul Ra’uf Baghdadi terletak di Kampung Pandee, dan kuburan itu rusak dilanda tsunami, juga kuburan Sulthan Abdul Aziz Johan Syah serta Sulthan-Sulthan sesudahnya, Putroe Ijo, kuburan Raja Si Uroe atau Sulthan Alaiddin Mukminsyah, juga bernama raja Mukhal Ibnu Ali Riatsyah, beliau pernah menjadi raja di Pariaman Sumatera Barat dengan panggilan Sulthan Seri Alam Firmansyah.

Selain dari kuburan raja-raja juga terdapat kuburan ulama-ulama dan raja-raja di Kampung Jawa, Pelanggahan di Kecamatan Kutaraja, seperti kuburan Tengku Di Anjong atau Syekh Abubakar Al Fakih. Banyak kuburan-kuburan lama itu belum disentuh atau diselidiki oleh ahli-ahli sejarah dan juga bekas istana (pendopo) dan bekas mesjid pada masa kerajaan Lamuri.

Rangkuman Dari : Sejarah.Aceh.my.id dan Wikipedia

Daftar 11 Kesenian Tradisional Asal Banda Aceh, Indonesia

Provinsi Aceh yang terletak di ujung pulau Sumatera adalah salah satu wilayah di Indonesia yang paling menonjol dalam hal kebudayaan. Melalui sejarah yang begitu panjang, di daerah yang dikenal dengan sebutan Serambi Mekkah ini tercipta budaya yang khas mewakili identitas masyarakatnya.

Dan berikut ini merupakan daftar kesenian tradisional yang berasal dari Provinsi Banda Aceh :

1. Tari Saman


Tari tradisional ini dulunya adal tarian etis suku Gayo, ras gayo merupakan ras tertua di pesisir aceh saat itu, tujuan utama tari saman adalah sebagai media untuk penyebaran Agama Islam, islam masuk ke Aceh disesuaikan dengan adat istiadat daerah tersebut.

Sehingga penyebaran Islam di Aceh tidak mendapat penolakan, bahkan bisa dikatakan daerah yang paling mudah memeluk Islam, karena budaya Aceh tidak bertentangan dengan ajaran Islam, hanya memerlukan sedikit polesan budaya islam sudah sesuai dengan ajaran Islam. Tari saman dimainkan oleh 9 Orang karena jumlahnya harus Ganjil, tari saman bahkan sudah populer ke tingkat Internasional, bukan hanya Nasional.

2. Tari Likok Pulo


Tari Likok Pulo adalah tarian tradisi oleh masyarakat di Pulau Aceh. Dibawakan dengan duduk memanjang posisi selang seling atas bawah. Setiap gerakan biasanya memuat nasehat-nasehat yang disampaikan melalui syair.

3. Tari Seudati


Tari Seudati. Aceh merupakan salah satu daerah di Indonesia yang memiliki cukup banyak ragam kebudayaan dengan sebagian besarnya masih sarat akan nilai-nilai Islam.

4. Tari Laweut Aceh


Tarian Laweut adalah tarian yang berasal dari daerah Pidie, Laweut asl kata dari Shalawat yang merupakan kata pujian kepada Nabi Muhammad Sallallahu'alaihi wasallam. Tarian Laweut ini dulunya diberi nama Tarian Seudati dengan jumlah delapan (8) orang personil, sama dengan tari Saman.

Tari Laweut ini juga sudah go Internasional namun sama-sama tidak terlalu Femiliar lagi dikalangan Masyarakat, hanya sedikit Masyarakat Aceh yang mengenal Tari Laweut. Bisa dikatakan yang masih mempertahankan kesenian Aceh adalah kalangan Seniman asli Aceh, itupun yang memang mencintai dan menghargai kesenian Aceh.

5. Tarek Pukat


Tari tarek pukat berasal dari para nelayan Aceh, asal muasal tari tarek pukat juga sangat unik. pada saat itu banyak Masyarakat Aceh kesulitan kesulitan terhadap ikan, karena para nelayan tidak mendapatkan ikan pada saat penagkapan, sehingga Masyarakat pada saat itu berkesimpulan bergotong-royong mencari ikan, dan Alhamdulillah hasi tangkapannya luar biasa.

Setelah ikan berhasil di tangkap dan Masyarakat menikmati hasil jerih payah mereka, kemudian mereka mengadakan rapat untuk mengadakan pesta, pada saat rapat mereka berkesimpulan akan mengadakan suatu pesta yang menggambarkan tentang kebersamaan para Nelayan.

Dari hasil rapat maka terpilihlah nama acara "Tari Tarek Pukat", tari tarek pukat tersebut rupanya bisa menghipnotis berbagai kalangan pada saat itu. Tari Tarek Pukat sangat bernuansa tradisonal, sehingga sangat mudah masuk ke berbagai kalangan, jumlah personil tujuh (7) orang juga mengambarkan bahwa tari tarek pukat penuh kebersamaan, sehingga sangat wajar tari tarek pukat terkenal sampai kedunia Internasional.

6. Tari Bines

Tarian Banes ini berasal dari daerah Gayo Lues, dengan jumlah personil harus genap, bisa 10 atau 12 orang dengan gaya tari mulai dari lambat, sedang sampai dengan cepat hingga berhenti serentak.

7. Tari Didong

Tari didong merupakan kesenian dari hasil gabungan beberapa Tari, Vokal, dan Sastra, pencetus utamanya adalah : Abdul Kadir To’et. Tari ini berasal dari Bener Meriah dan Aceh tengah.

8. Rapai Geleng

Tarian ini berasala dari Aceh Selatan, kemudian di kembangkan oleh seorang Anonim. Tari Rapai Geleng di mainkan oleh para lelaki, karena alatnya dan modelnya memberatkan para Wanita.

9. Tari Ula ula lembing

Tarian ini bernuansa Arab, dengan model dan cara memainkannya yang mirip tradisi arab, hingga pakain juga bernuasa Arab. Tari Ula Ula Lembing dulu sangat Populer dikalangan Masyarakat Aceh, karena tarian tersebut merupakan tarian yang dipakai untuk ritual adat dan acara Pernikahan.

10. Tari Ratoh Duek Aceh

Tarian ini dipopulerkan oleh para Wanita sebagai ganti Tari Saman, karena setelah Tari Saman diakui oleh UNESCO sebagai Budaya Warisan Manusia, para wanita tidak diperbolehkan lagi memainkan tari saman. Pada saat itu para seniman perempuan asal aceh berusaha mencari jalan keluar, mereka mencetuskan ide dengan sedikit memodifkasi Tari Saman, dan Mendeklarasikan Tari Ratoh Duek Aceh sebagai kesenian baru di Aceh yang hampir-hampir mirip dengan Tari Saman, cuma pesertanya adalah perempuan.

Sekedar informasi Nama Ratoeh berasal dari bahasa Arab yaitu Rateb. Jumlah personuil Tari Ratoh Duek Aceh juga berbeda, yaitu genap berbeda dengan tari saman yang berjumlah ganjil. Tari tersebut juga menggunakan rebana sebagai alat musik, juga behasa aceh sebagai ca e.

11. Tari Pho

Tari Pho berasal dari kata peubae, dalam bahasa aceh adalah penghormatan. Tari ini adalah simbol kesedihan, asal muasal tari tersebut penuh dengan misteri, dimana pada saat itu ada seorang anak yatim piatu yang cantik jelita tinggal dirumah kakak ibunya, kakak ibunya juga mempunyai seorang anak laki-laki yang ganteng dan rupawan.

Pada suatu saat ada seorang yang iri terhadap mereka, sehingga difitnah mereka berdua melakukan zina, hukuman zina pada saat itu adalah hukuman mati, dan merekapun dihukum mati. Setelah kejadian tersebut Ibu laki-laki tadi menari-nari untuk mengekspresikan kesedihannya hingga lahirlah Tari pho.

Itulah beberapa ragam kesenian tradisional asla Provinsi Banda Aceh Indonesia.

Sumberhttps://steemit.com/budayakan/@safwaninisam/kesenian

Daftar 9 Kesenian Tradisional Asal Sumatera Selatan

Berikut ini adalah data tentang beberapa jenis kebudayaan yang dimiliki dan menjadi ciri khas masyarakat Propinsi Sumatera Selatan:

1. TARI GENDING SRIWIJAYA


Tari ini ditampilkan secara khusus untuk menyambut tamu-tamu agung seperti kepala Negara, Duta Besar dan Tamu-tamu agung lainnya.

Tari Gending Sriwijaya Hampir sama dengan tari Tanggai, perbedaannya terletak pada penggunaan tari jumlah penari dan perlengkapan busana yang dipakai. Penari Gending Sriwijaya seluruhnya

2. TARI TANGGAI


Tari tanggai dibawakan pada saat menyambut tamu-tamu resmi atau dalam acara pernikahan. Umumnya tari ini dibawakan oleh lima orang dengan memakai pakaian khas daerah seperti kaian songket, dodot, pending, kalung, sanggul malang, kembang urat atau rampai, tajuk cempako, kembang goyang dan tanggai yang berbentuk kuku terbuat dari lempengan tembaga.

Tari ini merupakan perpaduan antara gerak yang gemulai busana khas daerah para penari kelihatan anggun dengan busana khas daerah. Tarian menggambarkan masyarakat palembang yang ramah dan menghormati, menghargai serta menyayangi tamau yang berkunjung ke daerahnya

3. TARI TENUN SONGKET

Tari ini menggambarkan kegiatan remaja putri khususnya dan para ibu rumah tangga di Palembang pada umumya memanfaatkan waktu luang dengan menenun songket

4. TARI RODAT CEMPAKO

Tari ini merupakan tari rakyat bernafaskan islam. Gerak dasar tari ini diambil dari Negara asalnya Timur Tengah, seperti halnya dengan tari Dana Japin dan Tari Rodat Cempako sangat dinamis dan lincah

5. TARI MEJENG BESUKO

Tari ini melukiskan kesukariaan para remaja dalam suatu pertemuan mereka .Mereka bersenda gurau mengajuk hati lawan jenisnya.

Bahkan tidak jarang diantara mereka ada yang jatuh hati dan menemukan jodohnya melalui pertemuan seperti ini

6. TARI MADIK (NINDAI)

Masyarakat Palembang mempunyai kebiasaan apabila akan memilih calon, orang tua pria terlebih dahulu dating kerumah seorang wanita dengan maksud melihat dan menilai (madik dan nindai) gadis yang dimaksud.

Hal yang dinilai atau ditindai itu, antara lain kepribadiannya serta kehidupan keluarganya sehari-hari. Dengan penindaian itu diharapkan bahwa apabila si gadis dijadikan menantu dia tidak akan mengecewakan dan kehidupan mereka akan berjalan langgeng sesuai dengan harapan pihak keluarga mempelai pria

7. DUL MULUK

Dul muluk adalah salah satu kesenian tradisional yang ada di Sumatera Selatan biasanya seni Dul Muluk ini dipentaskan pada acara yang bersifat menghibur, seperti pada acara : pernikahan pergelaran tradisional dan panggung hiburan.

8. Bangsawan

Merupakan bentuk teater tradisional yang lahir sesudah kehadiran teater Dul Muluk da n mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:

a) Sumber cerita bebas namun bersifat istana sentries;
b) Sifat cerita tragedy (sedih);
c) Pemeran cerita diperankan oleh jenis kelamin sesungguhnya; dan
d) Latar belakang cerita disesuaikan dengan kebutuhan cerita.

9. Tenun Songket

Tenun yang dilakukan oleh masyarakat Sumatera Selatan ialah menenun kain songket yang merupakan kain khas yang dimiliki oleh Sumatera Selatan dan biasanya digunakan dalam acara-acara adat yang sakral, seperti pernikahan dan sebagainya.

Itulah beberapa kesenian tradisional masyarakat Sumatera Selatan.

Sumber : diansilva2.blogspot.com & www.fbrs14.com

Tuesday, April 17, 2018

Daftar Lengkap Kesenian Tradisional Asal Sumatera Utara

Provinsi Sumatera Utara beribu kota di Medan. Provinsi Sumatera Utara memiliki banyak kesenian tradisional, di antaranya adalah tari-tarian dan beberapa kesenian lainnya seperti kesenian lompat batu.

Berikut ini beberapa kesenian daerah Sumatera Utara:

1. Tari Baluse


Tari Baluse adalah tarian khas dari Suku Nias yang melambangkan kegagahan prajurit saat di medan perang. Tari baluse merupakan tari perang ala masyarakat Nias. Tarian ini berasal dari Nias Selatan. Sekarang ini, tari baluse biasanya digunakan untuk penyambutan tamu atau wisatawan.

2. Tari Manduda


Tarian Manduda adalah tarian yang melambangkan perasaan suka cita saat sedang panen raya. Tari Manduda merupakan suatu bentuk tarian rakyat Simalungun yang bersuka ria di masa panen padi.

3. Tari Sekapur Sirih


Sekapur Sirih adalah salah satu tari tradisional dari daerah Sumatera Utara. Tari Sekapur Sirih adalah tarian yang dikhususkan untuk menyambut tamu dengan penarinya para wanita yang membawa bunga untuk ditaburkan.

4. Tari Tor-tor


Tari Tor-Tor merupakan tarian adat nan kadang juga disakralkan dan biasanya menjadi bagian dari pesta perkawinan masyarakat Sumatera Utara.

Tarian Tor-Tor dalam upacara eksklusif dapat menjadi tarian magis terutama Tarian Tor-Tor tunggal panaluan dan Tor-Tor Nasiaran, nan tidak sembarang orang dapat dan boleh menarikannya.

5. Tari Souan


Tari ini berasal dari daerah Tapanuli Utara. Tari ini merupakan tari ritual, dahulunya tari ini dibawakan oleh dukun sambil membawa cawan berisi sesajen yang Sebagai media penyembuhan penyakit bagi masyarakat Tapanuli Utara.

6. Tari Endeng-Endeng


Endeng-endeng dapat dikategorikan sebuah perpaduan tarian dan pencak silat. Tradisi ini lazimnya dilakukan masyarakat yang sedang menggelar pesat khitanan (sunat rasul) atau malam pesta perkawinan oleh masyarakat.

Tari ini menggambarkan semangat dan ekspresi gembira masyarakat sehari- hari. Tari endeng-endeng merupan tari tradisi yang berasal dari daerah Tapanuli Selatan. Dalam penampilannya, endeng-endeng dimainkan oleh sepuluh pemain yakni dua orang bertugas sebagai vokalis, satu orang pemain keyboard, satu orang pemain tamborin, lima orang penabuh gendang, dan seorang pemain ketipung (gendang kecil).

7. Tari Toping-Toping (Huda-Huda)

Toping-toping adalah jenis tarian tradisional dari suku Batak Simalungun yang dilaksanakan pada acara duka cita di kalangan keluarga Kerajaan.

Toping-toping atau huda-huda ini terdiri dari 2 (dua) bagian, bagian pertama yaitu huda-huda yang dibuat dari kain dan memiliki paruh burung enggang yang menyerupai kepala burung enggang yang konon menurut cerita orang tua bahwa burung enggang inilah yang akan membawa roh yang telah meninggal untuk menghadap yang kuasa.

8. Balanse Madam


Tari Balanse Madam sebuah tari tradisional yang terdapat di Seberang Palinggam Kota Padang, yang menjadi milik dan warisan budaya masyarakat Suku Nias Kota Padang. Tari Balanse Madam merupakan sebuah kesenian tari yang berupa peninggalan budaya lama yang telah ditransmisikan secara turun temurun dalam masyarakat suku Nias di Seberang Palinggam.

9. Tari Maena

Maena merupakan tarian yang sangat simpel dan sederhana, tetapi mengandung makna kebersamaan, kegembiraan, kemeriahan, yang tak kalah menariknya dengan tarian-tarian yang ada di Nusantara. Tari maena tidak memerlukan keahlian khusus. Gerakannya yang sederhana telah membuat hampir semua orang bisa melakukannya. Kendala atau kesulitan satu-satunya adalah terletak pada rangkaian pantun-pantun maena (fanutunõ maena), supaya bisa sesuai dengan event dimana maena itu dilakukan.

10. Tari Moyo (Tari Elang)

Tari moyo atau tarian elang juga merupakan tarian yang biasa digunakan untuk penyambutan tamu agung yang dilakukan secara adat. Tarian ini biasanya dibawakan oleh gadis-gadis Nias yang melakukan gerakan layaknya burung elang.

11. Tari Piso Surit


Piso Surit adalah salah satu tarianSuku Karo yang menggambarkan seoranggadis sedang menantikan kedatangan kekasihnya. Penantian tersebut sangat lama dan menyedihkan dan digambarkan sepertiburung Piso Surit yang sedang memanggil-manggil. Piso dalam bahasa Batak Karosebenarnya berarti pisau dan banyak orang mengira bahwa Piso Surit merupakan nama sejenis pisau khas orang karo.

12. Guro-Guro Aron


Guro-guro Aron adalah arena muda-mudi Karo untuk saling kenal dan sebagai lembaga untuk mendidik anak muda-mudi mengenal adat.

Dahulu acara ini dibuat sebagai salah satu alat untuk membudayakan seni tari Karo agar dikenal dan disenangi oleh muda-mudi dalam rangka pelestariannya.

Acara ini dilengkapi dengan alat-alat musik khas Karo yakni:
Sarune, gendang (singindungi dan singanaki), juga dari penganak.

13. Tari TaTak Garo-Garo


Tari ini menggambarkan kehidupan burung, terbang kesana kemari mencari makan dan bersendau gurau dengan kawan-kawanya. Tari ini berasal dari Phakpak, Dairi, Sumatera Utara.

14. Lompat Batu Nias


Tradisi ini biasanya dilakukan para pemuda dengan cara melompati tumpukan batu setinggi 2 meter dan setebal 40 cm untuk menunjukan bahwa mereka sudah pantas untuk dianggap dewasa secara fisik. Tradisi Lompat Batu ini merupakan salah satu tradisi yang cukup terkenal di Nias Sumatera Utara.

Sumber : rafartblog.wordpress.com dan naniksriwahyuni.blogspot.co.id

Daftar 8 Kesenian Tradisional Khas Asal Provinsi Sumatera Barat

Sumatra Barat adaah salah satu provinsi yang ada di Indonesia yang terletak di pulau Sumatra dan beribu kota di Padang. Daerah ini berbatasan langsung dengan Samudra Hindia dan memiliki identik dengan sebutan kota Minangkabau, dan memiliki aneka ragam kesenian dan kebudayaan yang unik dari daerah ini.

Berikut adalah beberapa jenis kesenian tradisional yang merupakan khas Sumatera Barat :

1. Tari Piring


Tari piring ini diketahui hampir semua orang Indonesia bahkan yang tak berada di Sumatera. Tarian khas ini mulanya merupakan bagian dari adat persembahan setelah panen, yang dilambangkan dengan piring-piring.

2. Tari Payung


Tari payung tergolong tarian pergaulan dan biasanya dilakukan pasangan pria serta wanita, dimana yang membawa payung adalah prianya karena payung diandaikan sebagai simbol perlindungan dari suami untuk keluarga.

3. Tari Rantak


Tari rantak adalah tari kesenian dari Sumatra Barat yang terinspirasi pencak silat; gerakan-gerakanya mudah dikenali karena banyak melibatkan gerakan pencak silat walaupun tetap terlihat sebagai tarian.

4. Tari Indang


Tari indang dikenal banyak orang sebagai tari ‘din din ba din din’ dan menjadi salah satu tarian paling ikonik, yang memadukan tarian serta seni bertutur dalam adat Islam Minangkabau.

5. Tari Pasambahan


Tari pasambahan adalah tarian yang digunakan sebagai sarana penyambut tamu, serta ditarikan dalam berbagai acara adat serta pernikahan. Tamu yang datang kemudian akan dipayungi dan tamu-tamu lain disuguhi sirih.

6. Tari Randai


Tari randai merupakan tari kesenian Sumatra Barat yang unik, karena sebenarnya lebih merupakan sebuah seni gabungan antara pencak silat, seni drama atau tutur, tarian dan musik. Penarinya banyak dan kini sering melibatkan penari perempuan (dulu biasanya hanya ditarikan lelaki). Tarian ini menggambarkan kisah-kisah atau cerita rakyat dan kini sering ditampilkan saat Idul Fitri.

7. Tari Alang Babega


Tari alang babega menggambarkan burung elang yang sedang terbang dan kemudian menukik menyambar anak ayam di tanah. Tarian ini biasa dibawakan berkelompok dan bisa oleh penari lelaki maupun perempuan.

8. Silat Minangkabau


Walau termasuk bela diri, silat Minangkabau ternyata juga termasuk dalam seni, terutama aspek pencak-nya. Dalam tradisi Minangkabau, aspek ‘pencak’ atau ‘mancak’ bermakna ‘kembang’ silat dan menunjukkan aspek seni dari bela diri tersebut.

Sumber : Pelangiholiday.com