Social Items

Tampilkan postingan dengan label Agama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Agama. Tampilkan semua postingan
Lesbian atau Gay adalah perbuatan yang haram. Para ulama menggolongkannya sebagai dosa besar. Para ulama sepakat bahwa pelaku lesbi tidak dihukum had. Karena lesbi bukan zina. Hukuman bagi pelaku lesbi adalah ta’zir, dimana pemerintah berhak menentukan hukuman yang paling tepat, sehingga bisa memberikan efek jera bagi pelaku perbuatan haram ini.


Ibnu Qudamah mengatakan, “Jika ada dua wanita atau pria yang saling menempelkan badannya maka keduanya berzina dan dilaknat.

Berdasarkan riwayat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda:

 “Apabila ada wanita yang menggagahi wanita maka keduanya berzina.” Tidak ada hukuman had untuk pelakunya, karena lesbi tidak mengandung jima (memasukkan kemaluan ke kemaluan). Sehingga disamakan dengan cumbuan di selain kemaluan. Namun keduanya wajib dihukum ta’zir.” (Al-Mughni, 9:59).

Hanya saja, hadis yang disebutkan Ibnu Qudamah di atas adalah hadis lemah. Sebagaimana dijelaskan Syaikh Al-Albani dalam Dhaif al-Jami’. Karena itu, lesbi tidak disamakan dengan zina.

As-Sarkhasi mengatakan, “Andaikan hadis itu sahih, tentu maknanya adalah bahwa keduanya melakukan dosa sebagai orang yang berbuat zina, namun tidak dihukum sebagaimana orang yang melakukan zina.” (Al-Mabsuth, 9: 78)

Disebutkan oleh Imam Ibnu Hajar Al-Haitami :

الْكَبِيرَةُ الثَّانِيَةُ وَالسِّتُّونَ بَعْدَ الثَّلَاثِمِائَةِ : مُسَاحَقَةُ النِّسَاءِ وَهُوَ أَنْ تَفْعَلَ الْمَرْأَةُ بِالْمَرْأَةِ مِثْلَ صُورَةِ مَا يَفْعَلُ بِهَا الرَّجُلُ . كَذَا ذَكَرَهُ بَعْضُهُمْ وَاسْتَدَلَّ لَهُ بِقَوْلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : السِّحَاقُ زِنَا النِّسَاءِ بَيْنَهُنَّ

وَقَوْلُهُ : ثَلَاثَةٌ لَا يَقْبَلُ اللَّهُ مِنْهُمْ شَهَادَةَ أَنْ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ : الرَّاكِبُ وَالْمَرْكُوبُ ، وَالرَّاكِبَةُ وَالْمَرْكُوبَةُ ، وَالْإِمَامُ الْجَائِرُ .

“Dosa yang ke-362 Lesbian yaitu seorang wanita melakukan hubungan intim dengan sesama wanita seperti layaknya hubungan suami istri.

Ini yang disebutkan oleh sebagian ulama dan mereka berdalil dengan sabda Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam ; Lesbian adalah zinanya wanita dengan sesama wanita.

Sabda Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam :

"Ada tiga kelompok manusia yang Allāh tidak akan menerima syahadat mereka : Pelaku homoseksual, pelaku lesbian dan penguasa yang keji.” (Az-Zawajir ‘An Iqtirafil Kabaa’ir : 472 dosa besar no. 362).

Dan khusus perbuatan lesbian atau gay ini, ia tidak sama dengan zina karena tidak ada unsur yang disebut oleh sebagian ulama “Timba masuk ke dalam sumur”. Sehingga pelakunya tidak dihukum sebagaimana pelaku zina. Disebutkan di dalam Mausu’ah Kuwaitiyyah :

اتَّفَقَ الْفُقَهَاءُ عَلَى أَنَّهُ لا حَدَّ فِي السِّحَاقِ ; لأَنَّهُ لَيْسَ زِنًى . وَإِنَّمَا يَجِبُ فِيهِ التَّعْزِيرُ ; لأَنَّهُ مَعْصِيَةٌ

“Para ulama ahli fiqih sepakat bahwasanya tidak ada “Had” /pidana bagi pelaku suka sesama karena ia bukan zina. Akan tetapi wajib untuk diberlakukan “Ta’zir” dalam kasus lesbian karena ia perbuatan kemaksiatan.” (Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah : 24/252).

Salah satu perbedaan antara Had dengan Ta’zir adalah : bahwasanya Had itu jenis dan ukuran hukumannya ditentukan oleh syariat. Sedangkan Ta’zir adalah hukuman bagi pelaku maksiat yang jenis dan ukurannya tidak ditentukan syariat, maka ia diserahkan kepada penguasa kaum muslimin.

Imam Ibnu Abdil Bar pernah menyebutkan salah satu bentuk Ta’zir, beliau menyatakan :

على المرأتين اذا ثبت عليهما السحاق : الأدب الموجع والتشريد

“Bagi dua orang wanita jika telah terbukti kuat melakukan lesbian maka mereka harus diberi pelajaran, pukulan/cambuk serta diusir.” (Al-Kafi Fil Fiqhi Ahlil Madinah : 2/1073).

Demikian pula Imam Ibnu Rusyd menyatakan :

هذا الفعل من الفواحش التي دل القرآن على تحريمها بقوله تعالى : ( والذين هم لفروجهم حافظون ) إلى قوله ( العادون ) ، وأجمعت الأمة على تحريمه ، فمن تعـدى أمر الله في ذلك وخالف سلف الأمة فيه كان حقيقا بالضرب الوجيع

“Perbuatan lesbian ini bagian dari perbuatan keji yang Al-Qur’an telah mengharamkannya dengan firman Allāh Ta’ālā : ‘Dan orang-orang yang senantiasa menjaga kemaluannya’. Sampai firman Allāh : ‘Mereka (yang mencari selain itu) adalah orang-orang yang melampaui batas.‘

Dan umat Islam sepakat akan haramnya lesbian, barangsiapa melanggar batasan Allah (dengan melakukan lesbian) dan menyelisihi salaful ummah dalam hal ini maka ia berhak untuk dipukul dengan pukulan yang menyakitkan.” (Al-Bayan Wat tahshil : 16/323).

Pada intinya lesbian adalah termasuk dosa-dosa besar dalam islam dan kaum muslimin sepakat akan keharaman perbuatan ini. Maka wajib bagi para pelakunya untuk segera bertaubat dan meninggalkan perbuatan serta menjauhi para pelakunya agar tidak ketularan.>>

Dan wajib bagi kaum muslimin secara umum untuk mencegah terjadinya kemaksiatan ini di tengah-tengah komunitas mereka serta mengantisipasi segala hal yang bisa mengantarkan pada perbuatan sesat ini. Karena perbuatan ini tidak hanya membahayakan pelakunya namun ia juga membahayakan orang-orang di sekitar mereka, Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam menyatakan :

إِذَا اسْتَحَلَّتْ أُمَّتِي سِتًّا فَعَلَيْهِمُ الدَّمَارُ : إِذَا ظَهَرَ فِيهِمُ التَّلَاعُنُ ، وَشَرِبُوا الْخُمُورَ ، وَلَبِسُوا الْحَرِيرَ ، وَاتَّخَذُوا الْقِيَانَ ، وَاكْتَفَى الرِّجَالُ بِالرِّجَالِ ، وَالنِّسَاءُ بِالنِّسَاءِ

“Apabila umatku telah menganggap halal enam perkara, maka mereka akan diluluh-lantakkan ; Apabila muncul pada mereka perbuatan saling melaknat, meminum khamr, memakai sutra, memainkan alat musik, homoseksual dan lesbian.”
(HR Ath-Thabarani dalam Mu’jamul)

Sumber Referensi : https://bimbinganislam.com & http://www.islamqa.com

Hukum Suka Sesama Jenis dalam Ajaran Islam

Dalam hal ini telah dijelaskan dalam Al-Quran surat Al-Jumu’ah ayat 9 mengenai shalat jumat, penjelasannya sebagai berikut :

“Wahai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum`at, maka bersegeralah kalian kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” ( QS. Al-Jumu`ah : 9)


Penjelasan dalam Al-Qur’an tersebut diperkuat dengan penjelasan pada hadits yang diriwayatkan oleh Thariq bin Syihab berdasarkan sabda Rasulullah Saw :

“Shalat Jumat itu adalah kewajiban bagi setiap muslim dengan berjamaah, kecuali atas 4 orang, (yaitu) Budak, Wanita, Anak kecil dan Orang sakit.” (HR. Abu Daud).

Telah meriwayatkan, Abu Daud, no. 1052, Tirmizi, no. 500 dan Nasai, no. 1369 dari Abi Al-Ja'd radhiallahu anhu sesungguhnya Rasulullah shallallah alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ تَرَكَ ثَلَاثَ جُمَعٍ تَهَاوُنًا بِهَا طَبَعَ اللَّهُ عَلَى قَلْبِهِ(وصححه الشيخ الألباني في " صحيح الجامع)

"Siapa yang meninggalkan shalat Jumat sebanyak tiga kali dengan meremehkannya, maka Allah tutup hatinya." (Dishahihkan oleh Al-Albany dalam Shahih Al-Jami)

Ibnu Majah, no. 1126 juga meriwayatkan dari Jabir bin Abdullah radhiallahu anhuma, dia berkata, Rasulullah shallallah alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ تَرَكَ الْجُمُعَةَ ثَلَاثًا مِنْ غَيْرِ ضَرُورَةٍ طَبَعَ اللَّهُ عَلَى قَلْبِهِ   (وحسنه الشيخ الألباني في " صحيح ابن ماجه)

"Siapa yang meninggalkan shalat Jumat sebanyak tiga kali tanpa kebutuhan darurat, Allah akan tutup hatinya." (Dinyatakan hasan oleh Al-Albany dalam Shahih Ibnu Majah)

Al-Manawi rahimahullah berkata, "Yang dimaksud ditutup hatinya adalah Allah tutup dan cegah hatinya dari kasih sayangnya, dan dijadikan padanya kebodohan, kering dan keras, atau menjadikan hatinya seperti hati orang munafik." (Faidhul Qadir, 6/133)

Dalam sebagian riwayat disebutkan dengan membatasi tiga kali dengan berturut-turut. Dalam musnad Thayalisi dari Abu Hurairah radhiallahu anhu, dia berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

من ترك ثلاث جمع متواليات من غير عذر طبع الله على قلبه

"Siapa yang meninggalkan shalat Jumat sebanyak tiga kali berturut-turut tanpa uzur, maka Allah akan tutup hatinya."

Dalam hadits yang lain,

من ترك الجمعة ثلاث مرات متواليات من غير ضرورة طبع الله على قلبه   (وصححه الشيخ الألباني في " صحيح الجامع)

"Siapa yang meninggalkan shalat Jumat sebanyak tiga kali berturut-turut tanpa darurat, maka Allah akan tutup hatinya." (Dinyatakan shahih oleh Syekh Al-Albany dalam Shahih Al-Jami)

Abul Hasan Mubarakfuri rahimahullah berkata, "Tiga kali Jumat" Asy-Syaukani berkata, "Kemungkinan yang dimaksud adalah meninggalkannya secara mutlak, apakah terus menerus atau terpisah-pisah, walaupun dalam setiap tahun dia meninggalkan satu kali Jumat, maka Allah akan tutup hatinya jika dia meninggalkan yang ketiga kalinya. Inilah zahir haditsnya. Kemungkinan juga maksudnya adalah tiga kali Jumat berturut-turut. Sebagaiman disebutkan dalam sebuah hadits Anas, dari Ad-Dailamy dalam musnad Al-Firdaus, karena terus menerus melakukan perbuatan dosa menunjukkan tidak adanya perhatian." Aku katakan bahwa kemungkinan makna yang kedua, "tiga kali berturut-turut" adalah yang lebih jelas, dikuatkan oleh prinsip membawa makna mutlak kepada makna terikat. Hal ini dikuatkan oleh hadits Anas yang diriwayatkan oleh Abu Ya'la dengan perawi yang shahih dari Ibnu Abbas, bahwa siapa yang meninggalkan shalat Jumat tiga kali berturut-turut, maka dia telah melempar Islam ke belakang punggungnya." Mir'atul Mafatih Syarh Misykatil Mashabih, 4/446)

Ditutupnya hati sebagaimana disebut dalam hadits-hadits yang telah dikutip di atas, tidak berarti bahwa pemilik hati itu menjadi kafir. Dia hanyalah berupa ancaman yang ditetapkan syariat terhadap orang muslim dan kafir.

Tirmizi, no. 3334, meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu anhu, dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam, dia berkata, "

إِنَّ العَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ ، فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ ، وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ ، وَهُوَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ اللَّهُ ( كَلاَّ بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ  (حسنه الشيخ الألباني في " صحيح الترمذي)

"Sesungguhnya, jika seorang hamba melakukan satu kesalahan, akan dibuatkan satu titik hitam dalam hatinya. Jika dia cabut dengan istighfar dan taubat, maka hatinya menjadi bersih kembali. Jika dia kembali, maka semakin bertambah titik hitamnya hingga mendominasi hati. Itul Ar-Raan yang Allah sebutkan, 'Sekali-kali tidak, pada hatinya terdapat Ar-Ran atas apa yang mereka lakukan." (Dinyatakan hasan oleh Al-Albany dalam Shahih Tirmizi)

Al-Hafiz Ibnu Hajar rahimahullah dari Mujahid, dia berkata, "Mereka mengartikan Ar-Ran adalah sebagai penutup hati." (Fathul Bari, 8/696, berdasarkan penomoran Maktabah Syamilah)

Ibnu Qayim rahimahullah berkata, "Dosa, jika banyak, akan menutupi hati seseorang, maka dia menjadi orang yang lalai. Sebagaiman ucapan sebagian salaf tentang firman Allah Ta'ala, "Sekali-kali tidak, pada hati mereka terdapat Ar-Raan atas apa yang mereka perbuat." Dia berkata, "Itu adalah dosa di atas dosa." (Al-Jawabul Kafi, hal. 60)

Syekh Abdulaziz bin Baz rahimahullah, "Siapa yang tidak melakukan shalat Jumat bersama kaum muslimin karena uzur syar'i, baik berupa sakit, atau lainnya, maka dia hendaknya shalat Zuhur. Demikian pula halnya jika seorang wanita shalat, hendaknya dia shalat Zuhur.

Begitupula dengan musafir dan penduduk yang tinggal di pedusunan (yang tidak ada shalat Jumat), maka hendaknya mereka shalat Zuhur, sebagaimana disebutkan dalam sunah. Inilah pendapat mayoritas ulama, tidak dianggap bagi yang berpenapat menyimpang. Demikian pula bagi yang meninggalkannya dengan sengaja, hendaknya dia bertaubat kepada Alalh dan dia melakukan shalat Zuhur." (Majmu Fatawa Ibnu Baz, 12/332)

Itulah penjelasan tentang meninggalkan shalat Jum'at.

Hukum Meninggalkan Shalat Jum'at 3 Kali dalam Islam

Onani atau masturbasi merupakan kebiasaan buruk yang sering dilakukan. Dalam ajaran Islam Onani dan masturbasi itu haram hukumnya berdasarkan dalil Qur’an dan Hadits.


Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Imam Syafi’I dan orang yang sependapat dengan beliau telah berdalil akan pengharaman onani memakai tangan dengan ayat Firman Allah ini:

والذين هم لفروجهم حافظون . إلا على أزواجهم أو ما ملكت أيمانهم فإنهم غير ملومين . فمن ابتغى وراء ذلك فأولئك هم العادون ) 4-6 سورة المؤمنون

“dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada terceIa. Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. QS. Al-Mukminun: 5-7

Imam Syafi’I dalam kitab Nikah mengatakan, 

“Penjelasan dengan menyebutkan menjaga kemaluanya kecuali kepada istri-istri atau budak yang mereka miliki. Menunjukkan pengharaman selain istri dan budak yang dimiliki. Kemudian dikuatkan dengan firman-Nya “Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.” Tidak dihalalkan melakukan sesuatu di kemaluan kecuali istri atau budak yang dimiliki. Dan tidak dihalalkan beronani. Wallahua’lam ‘Kitab Al-Umm karangan Imam Syafi’i.

Sebagian ahli ilmu berdalil dengan firman Allah Ta’ala:

( وَلْيَسْتَعْفِفْ الَّذِينَ لا يَجِدُونَ نِكَاحًا حَتَّى يُغْنِيَهُمْ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ ) النور 33

“Dan orang-orang yang tidak mampu kawin hendaklah menjaga kesucian (diri)nya, sehingga Allah memampukan mereka dengan karunia-Nya.” QS. An-nur: 33.

Printah menjaga diri, mengandung kesabaran terhadap selainnya.

Mereka berdalil dengan hadits Ibnu Mas’ud radhiallahu anhu berkata:

كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَبَابًا لا نَجِدُ شَيْئًا فَقَالَ لَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ الْبَاءةَ ( تكاليف الزواج والقدرة عليه ) فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ ( حماية من الوقوع في الحرام ) رواه البخاري فتح رقم 5066

“Kita para pemuda bersama Nabi sallallahu alaihi wa sallam tidak mendapatkan sesuatu. Maka Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam mengatakan kepada kita, “Wahai para pemuda siapa yang mampu ba’ah (biaya pernikahan dan kemampuan akan hal itu) maka hendaknya dia menikah. Karena ha itu dapat menahan pandangan dan menjaga kemaluan. Siapa yang tidak mampu hendaknya dia berpuasa karena hal itu menjadi tameng (tameng terjatuh dari yang diharamkan).” HR. Bukhori, Fathul Bari no. 5066.

Syari'at memberi arahan ketika tidak mampu menikah agar berpuasa meskipun dengan  kesulitannya. Tanpa mengarahkan ke onani padahal pendorong yang kuat ke arah itu dan ia lebih mudah dibandingkan berpuasa. Meskipun begitu tidak diizinkan.

Para ulama seperti halnya madzhab Maliki, Syafi’i dan Zaidiyah sudah sangat jelas melontarkan argumen mereka mengenai ayat di atas bahwa onani pada dasarnya memang di haramkan. Hal tersebut didasarkan dengan perintah Allah Swt pada surat Al-Mu’minun ayat 5 sampai bahwa anda sebagai laki-laki harus pandai-pandai menjaga kemaluannya tersebut dan hanya diperbolehkan terhadap istri anda saja.

Kemudian jika anda sekalian tidak mengindahkannya dan tetap melakukan perbuatan onani, maka anda termasuk ke dalam orang-orang yang melampaui batas yang sudah ditetapkan kehalalannya oleh Allah dan justru malah memilih keharaman yang ditetapkan oleh Allah.

Para ulama madzhab Hanafi mempunyai pendapat lainnya yakni sebagai berikut, bahwa melakukan perbuatan onani bisa termasuk diharamkan untuk kondisi-kondisi tertentu saja, dan akan berubah menjadi wajib pada kondisi-kondisi yang lainnya.

Mereka juga menjelaskan bahwa melakukan perbuatan onani bisa menjadi wajib jika seseorang takut melakukan perbuatan yang termasuk perzinahan bila tidak segera melakukan onani. Hal seperti ini juga tidak sembarangan diutarakan, karena sudah didasarkan pada kaidah-kaidah yang berlaku dengan mengambil dari kemudharatan yang dirasa akan lebih ringan.

Namun para ulama tersebut menganggap haram jika onani hanya dilakukan untuk aktivitas bersenang-senang yang digunakan sebagai rutinitas dan untuk memancing syahwatnya saja. Mereka juga menjelaskan bahwa perbuatan onani bisa dikatakan tidak menjadi masalah, jika orang tersebut dirinya sudah dikuasai oleh hawa nafsu ataupun syahwat yang tidak bisa ditahan lagi, sementara ia belum mempunyai seorang istri atau pun budak perempuan untuk menyalurkan hasratnya sehingga ketenangan syahwat bisa diatasi dan dikendalikan.

Ditambah lagi dengan sabda Rasulullah Saw, dengan penjelasan sebagai berikut :

“Wahai para pemuda, apabila siapa diantara kalian yg telah memiliki ba’ah (kemampuan) maka menikahlah, karena menikah itu menjaga pandangan dan kemaluan. Bagi yang belum mampu maka puasalah, karena puasa itu sebagai pelindung. (HR Muttafaqun `alaih)

Sedangkan pendapat Ibnu Hazm mengenai onani bahwa perbuatan itu termasuk makruh hukumnya dan tidak akan mendapatkan dosa akibatnya karena apabila seseorang yang memegang bagian kemaluannya dengan menggunakan bagian tangan kirinya, maka bisa dikatakan diperbolehkan menurut ijma dari para ulama. Sehingga melakukan perbuatan onani itu, bukanlah dianggap sebagai suatu perbuatan yang tergolong diharamkan. Hal ini dijelaskan dalam Al-Qur’an surat Al An’am ayat 119, penjelasannya sebagai berikut :

Artinya : “Padahal Sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya atasmu.” (QS. Al An’am : 119)

Dan melakukan perbuatan onani tidak ada keterangan jelasnya mengenai keharamannya, oleh sebab itu bisa dikatakan halal sebagaimana firman-Nya yang tercantum di dalam Al-Qur’an surat Al Baqoroh ayat 29, penjelasannya sebagai berikut :

Artinya : “Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu.” (QS. Al Baqoroh : 29)

Dari beberapa pendapat para ulama yang menyimpulkan bahwa melakukan perbuatan onani itu makruh ialah Ibnu Umar dan Atho’. Bisa disimpulkan seperti itu dikarenakan bahwa melakukan perbuatan onani bukanlah tergolong suatu perbuatan yang terpuji, namun bukan juga merupakan perilaku yang mulia. Terdapat suatu cerita mengenai manusia yang sedang bercakap-cakap tentang onani, selanjutnya ada sebagian dari mereka yang berpendapat memakruhkannya dan juga ada sebagian dari lainnya mengizinkannya.

Wallohua'lam Bisshowab

Itulah sedikit keterangan mengenai hukum Onani/Masturbasi dalam agama Islam. Semoga bermanfaat buat kita semua.

Sumber : islamqa.info & dalamIslam.com

Hukum Onani dan Masturbasi Dalam Islam

Kegiatan penipuan sering kita jumpai di zaman sekarang ini, misalnya seorang pedagang mencampur barang dagangan yang baik dengan yang jelek, barang-barang yang memiliki harga mahal beragam dengan barang yang murah, mereka mencampur susu dengan udara, mencampur madu dengan bantuan gula, mencampur bensin dengan minyak tanah atau mencampur minyak tanah itu sendiri dengan air agar menjadi banyak.


Mereka adalah orang-orang yang mengumpulkan harta manusia dengan cara batil, padahal harta yang mereka ambil itu adalah kemurkaan Allah Subhanahu wa Ta'ala yang mereka akan dibalas menerima. Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

Sesungguhnya surga masuk yang tumbuh dari kemurkaan Allah Subhanahu wa Ta'ala dan neraka lebih layak untuknya .” (HR. Ahmad, 28: 468 dan At-Tirmidzi, 3: 1, lihat A l-Misykah , 2: 126)

Ini adalah tantangan yang sangat sulit yang menunjukkan harta manusia dengan cara yang batil termasuk dari perbuatan dosa-dosa besar.

Adz-Dzahabi berkata, “Ditanyakan juga, harta yang diambil dari pemungut cukai, para perampok, pencuri, koruptor, dan pezina semuanya termasuk dosa-dosa besar. Dan kemudian meminjamkan pinjaman kemudian mengingkarinya, seorang yang mengurangi timbangan atau takaran, seorang yang menemukan barang-barang temuan tetapi tidak memperolehnya, tetapi ia mengumpulkannya, dan seorang yang menjual barang-barang dagangan yang kemudian dapat dibuka-tutup membuka. Demikian juga berjudi dan yang semisalnya. Semuanya termasuk dosa-dosa besar berdasarkan hadis di atas, masih ada sebagiannya yang diperselisihkan.

Bila ada yang mengatakan Mengapa laki-laki ini dicela sebab mencampur khamr dengan udara dan tidak dicela sebab berjualan khamr padahal khamr adalah sesuatu yang diharamkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala ? Jawabannya adalah khamr pada waktu itu bukan sesuatu yang haram dalam syariat laki-laki tersebut. Demikian pula pada awal-awal Islam, khamr adalah minuman halal di kota Madinah. Kemudian setelah beberapa waktu peminumnya dicela tetapi belum sampai diharamkan, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala ,

Mereka bertanya kepadamu tentang khamr dan judi. Katakanlah, "Pada sebagian dari dosa yang besar dan beberapa Manfaat bagi manusia, tetapi dosa antara lebih besar dari Manfaatnya ..." (QS. Al-Baqarah: 219)

Kemudian setelah beberapa waktu, meminum khamr diharamkan pada waktu seseorang melaksanakan shalat saja sekali pun disetujui untuk memperjualbelikannya, menyetujui firman Allah Subhanahu wa Ta'ala ,

" Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, kamu sedang dalam kesulitan, jadi kamu mengerti apa yang kamu ucapkan ... " (QS. An-Nisa: 43)

Baru kemudian diharamkanlah khamr setelah itu dinyatakan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala , karena meminum khamr akan banyak menimbulkan madharat (bahaya). Memperbaiki dalam firman-Nya:

" Hai orang-orang yang beriman, sungguh (meminum) khamr, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah sebagai termasuk setan, maka jauhilah tugas-tindakan itu agar kamu mendapatkan liburan ." (QS. Al-Maidah: 90)

Diceritakan setelah turunnya ayat tersebut jalan-jalan kota Madinah dibanjiri khamr . Bahkan tatkala gelas-gelas dan botol-botol itu masih di tangan-tangan mereka, jadi dengar ayat ini mereka tumpahkan minuman kesenangan dan kebanggaan mereka itu.

AKIBAT MENIPU DAN MAKAN HARTA HARAM

Secara ringkas, akibat mendapatkan dan menggunakan uang hasil menipu dan mencuri doanya tidak terkabul, hati menjadi keras, anak dan istri yang turut mengkonsumsinya juda terkena dampak (keras hati), dan tentu ada adzab Allah SWT lainnya.

Yang jelas, uang dan makanan/minuman haram Tidak Berkah dan hanya akan mendatangkan dosa dan malapetaka, cepat atau lambat.

Setiap daging yang tumbuh dari yang haram maka neraka lebih pantas untuk menyentuhnya” (HR Tirmidzi)

Dikisahkan ada seorang pengembara berjalan tertatih-tatih. Kelelahan tampak pada raut muka dan rambutnya yang tak teratur dan penuh debu, menandakan ia telah menempuh perjalanan jauh.

Merasa tanpa daya lagi, ia menengadahkan tangannya ke langit, berdoa untuk memohon pertolongan Allah SWT. Terucap dari mulutnya: "Ya Rabbi, Ya Rabbi!"

Namun, doa sang pengembara tersebut tidak dikabulkan Allah SWT. Mengapa? “Bagaimanakah Allah akan mengabulkan doanya, sedangkan makanan, minuman, dan pakaiannya haram,” tegas Nabi Saw.

Kisah yang digubah dari sebuah hadits riwayat Muslim, sebagaimana tercantum dalam Shahih Muslim itu, secara jelas mengabarkan, doa orang yang suka memakan makanan haram atau meminum minuman haram, dan memakai pakaian haram, ditolak oleh Allah SWT (mardud).

Pesan yang hendak disampaikan hadits di atas, tentu saja bukan semata agar kita memakan, meminum, dan memakai barang halal supaya doa kita makbul.

Doa tidak terkabul lantaran dalam diri seseorang yang berdoa itu penuh barang haram, mengisyaratkan pula betapa tidak maslahat dan hinanya barang haram jika kita makan atau pakai.

Apalagi, dalam hadits lain Rasulullah saw bersabda, setiap tubuh yang dibesarkan dengan cara yang haram, maka neraka lebih layak baginya.

"Makanan haram termasuk kotoran, bukan makanan yang baik," tulis Imam Al-Ghazali dalam Kitabul Arba'in fi Ushuliddin.

Haram dikategorikan ke dalam dua macam:
Yaitu Haram Lizatihi dan Haram Li'ardihi.

1. Haram Lidzatihi adalah perbuatan yang ditetapkan haram sejak semula, karena secara tegas mengandung mafsadat (kerusakan), seperti berzina, mencuri, meminum khamar, memakan daging babi, riba, dan memakan harta anak yatim (Q.S. Al-An'am:151, Al-Maidah:90 dan 96, Al-Baqarah:228, Al-Isra:32, An-Nisa:10).

2. Haram Li'ardhihi adalah perbuatan yang pada mulanya tidak diharamkan, kemudian ditetapkan haram karena ada sebab lain yang datang dari luar. Misalnya, shalat dengan pakaian hasil tipuan atau bersedekah dengan harta hasil mencuri.
Islam menggariskan, umatnya harus selalu mengkonsumsi barang halalan thayiba (halal lagi baik) dan cara mendapatkannya juga harus halal.

Barang haram --seperti daging babi-- umumnya umat Islam menghindarinya. Namun tentang "cara mendapatkan rezeki halal", banyak umat yang mengabaikannya.

Padahal, barang halal pun jika didapat dengan cara haram, seperti pencurian, penipuan, korupsi, suap, dan sebagainya, maka barang itu pun haram dikonsumsi.

Di akhirat nanti, kepemilikan dan penggunaan harta kekayaan akan dimintai pertanggung jawabannya dari berbagai arah:
Dari mana didapatkanBagaimana mendapatkannyaDigunakan untuk apa Jika harta didapat dari sumber halal, cara halal, namun penggunaannya melanggar aturan Allah, atau digunakan di jalan selain-Nya, maka keharaman jatuh atas penggunaan.

Jika sumber halal, penggunaan halal, namun cara mendapatkannya tidak halal, maka haram jatuh atas cara mendapatkan harta tersebut. Begitu seterusnya.

Demikianlah, kehati-hatian kita dalam mendapatkan harta atau makanan, diperlukan mutlak. Agar darah-daging kita terhindar dari barang haram. Kehalalan sumber, cara, dan penggunaan harus selalu dijaga, agar rezeki yang kita dapatkan mengandung berkah dan menyelamatkan kita dunia-akhirat.

Wallohua'lam Bisshowab

Sumber: Kisahmuslim.com & Risalahislam.com

Azab Menipu dan Makan Harta Haram dalam Islam

Dalam pandangan Islam, menyekutukan Allah merupakan dosa besar, dosa berat. Bahkan, perbuatan menyekutukan Tuhan dalam Islam adalah dosa terberat nomor satu dari ratusan jenis dan macam-macam dosa yang dilakukan manusia.

Dosa seorang pembunuh, pezina, memakan riba, memakan harta anak yatim, durhaka kepada orang tua, dan macam-macam dosa besar lainnya, masih besar dosanya seorang yang syirik kepada Allah. Orang yang syirik disebut juga musyrik.

Menurut Al Quran dalam Surat An Nisaa ayat 48, Allah berfirman: “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa selain (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendakiNya.”

Dalam Al Quran Surat Al Maidah ayat 72 juga dijelaskan, “Sesungguhnya orang yang mempersekutukan Allah, maka Allah pasti mengharamkan surga kepadanya, dan neraka adalah tempatnya.”

Menurut Al Qur’an Surat Luqman ayat 13, Allah juga berfirman: ” Sesungguhnya menyekutukan (Allah) merupakan sebuah kedzaliman besar.”

Bahkan, segala amal baiknya berupa pahala dihapuskan ketika ia menjadi seorang yang musyrik. Allah dalam QS Al An’am ayat 88 berfirman: “Seandainya mereka mempersekutukan Allah, maka lenyap amalan yang telah mereka kerjakan.”

Dalam pesugihan, sudah jelas manusia menyekutukan Allah dengan bangsa gaib seperti jin, setan atau iblis. Bahkan, mereka mengorbankan anggota keluarganya seperti anak untuk dijadikan tumbal. Pengorbanan selain untuk Allah, itu juga bagian dari syirik besar.

Tidak ada syarat dalam pesugihan yang dilakukan dengan cara islami. Sebagian besar syarat-syaratnya jauh dari agama Islam. Misalnya, berzina, mengorbankan keluarga kepada makhluk halus pemberi rejeki, dan ritual-ritual musyrik lainnya.

Bahkan, dosa dari perbuatan pesugihan berlipat ganda, tidak hanya syirik saja. Bila dalam pesugihan mensyaratkan tumbal, maka ia juga melakukan pembunuhan. Bila ada syarat berhubungan intim dengan bukan istrinya, berarti dia berzina.

Semua syarat-syarat untuk mendapatkan pesugihan memang jauh dari syariat Islam. Cara-cara seperti itu memang menjadi bagian dari cara syetan, iblis yang ingin menyesatkan manusia ke dalam gelombang kenistaan dan material yang hanya sementara.

Padahal, Allah sudah mengatakan bila semua kekayaan alam yang melimpah di dunia ini sudah disediakan untuk manusia agar bisa hidup dan menyembah-Nya. Kita sebagai manusia hanya berikhtiar, kerja keras, dan tidak lupa berdoa supaya usahanya diberikan kemudahan oleh Tuhan.

Pesugihan yang sejati berasal dari Allah. Namun, Allah tidak kemudian mengabulkan berupa kemudahan yang nyata seperti meminta kepada syetan. Allah menghendaki adanya proses, sehingga alam berjalan sesuai dengan sunatullah. Manusia harus berikhtiar, hasilnya diserahkan kepada Allah.

“Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum, kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa yang ada dalam dirinya mereka.” Dalil ini yang dinamakan proses alam, sunatullah, dan ikhtiar.

AZAB PESUGIHAN (SIRYIK)

Menurut Alquran, syirik dalam hal keyakinan (syirik besar) mengakibatkan sanksi-sanksi besar, baik di dunia maupun di akhirat. Sanksi-sanksi  tersebut ialah sebagi berikut:

Dosa yang disebabkan oleh syirik tidak akan diampuni oleh Allah. Ini berlaku bagi yang tidak bertaubat atau meninggal dalam dosa itu.


إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَغۡفِرُ أَن يُشۡرَكَ بِهِۦ وَيَغۡفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَآءُۚ وَمَن يُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ فَقَدِ ٱفۡتَرَىٰٓ إِثۡمًا عَظِيمًا ٤٨

Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar, “ (Qs. An-Nisa’, 48).

Wahbah Zuhaili dalam tafsirnya menjelaskan sebab nuzul ayat ini. Bahwa Ibnu Abi Hatim dan Ath-Thabrani meriwayatkan dari Abu Ayyub al-Anshari yang menceritakan bahwa ada seorang laki-laki datang dan menghadap Rasul dan berkata kepada beliau: “Saya tidak mempunyai keponakan laki-laki yang tidak henti-hentinya melakukan keharaman.” Rasul bertanya: “Agamanya apa?” Orang itu lantas menjawab, “Dia shalat dan beriman bahwa Allah adalah satu.” Rasul kemudian berkata kepada laki-laki tersebut: “Mintalah agamanya darinya.” Lalu laki-laki itu meminta agama anak saudaranya itu, nemun anak saudaranya itu enggan memberitahukannya. Akhirnya laki-laki itu kembali menghadap Rasul lagi dan berkata: ”Dia memang erat agamanya.” Lalu turunlah ayat ini.

Ayat di atas menegaskan bahwa setiap orang yang melakukan dosa yang sangat besar dan berada di bawah keputusan Allah. Apabila Dia berkehendak, maka Allah akan mengampuninya. Namun apabila tidak, maka Allah akan menyiksanya selagi dosa besar tersebut tidak berupa kemusyrikan.

Terkait aturan balasan orang yang melakukan dosa, Allah jelaskan di ayat lain, seperti dalam firman-Nya:

إِن تَجۡتَنِبُواْ كَبَآئِرَ مَا تُنۡهَوۡنَ عَنۡهُ نُكَفِّرۡ عَنكُمۡ سَيِّ‍َٔاتِكُمۡ وَنُدۡخِلۡكُم مُّدۡخَلٗا كَرِيمٗا ٣١

Artinya: “Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga) (Qs. An-Nisa’, 31).


Tidak boleh melakukan perkawinan dengan wanita atau laki-laki Muslim

وَلَا تَنكِحُواْ ٱلۡمُشۡرِكَٰتِ حَتَّىٰ يُؤۡمِنَّۚ وَلَأَمَةٞ مُّؤۡمِنَةٌ خَيۡرٞ مِّن مُّشۡرِكَةٖ وَلَوۡ أَعۡجَبَتۡكُمۡۗ وَلَا تُنكِحُواْ ٱلۡمُشۡرِكِينَ

حَتَّىٰ يُؤۡمِنُواْۚ وَلَعَبۡدٞ مُّؤۡمِنٌ خَيۡرٞ مِّن مُّشۡرِكٖ وَلَوۡ أَعۡجَبَكُمۡۗ أُوْلَٰٓئِكَ يَدۡعُونَ إِلَى ٱلنَّارِۖ وَٱللَّهُ يَدۡعُوٓاْ إِلَى ٱلۡجَنَّةِ

وَٱلۡمَغۡفِرَةِ بِإِذۡنِهِۦۖ وَيُبَيِّنُ ءَايَٰتِهِۦ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمۡ يَتَذَكَّرُونَ ٢٢١

Artinya: “Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran, “ (Qs. Al-Baqarah, 221).

Di akhirat mereka akan meraskan azab yang berat.

وَيُعَذِّبَ ٱلۡمُنَٰفِقِينَ وَٱلۡمُنَٰفِقَٰتِ وَٱلۡمُشۡرِكِينَ وَٱلۡمُشۡرِكَٰتِ ٱلظَّآنِّينَ بِٱللَّهِ ظَنَّ ٱلسَّوۡءِۚ عَلَيۡهِمۡ دَآئِرَةُ ٱلسَّوۡءِۖ وَغَضِبَ

ٱللَّهُ عَلَيۡهِمۡ وَلَعَنَهُمۡ وَأَعَدَّ لَهُمۡ جَهَنَّمَۖ وَسَآءَتۡ مَصِيرٗا ٦

Artinya: “Dan supaya Dia mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan yang mereka itu berprasangka buruk terhadap Allah. Mereka akan mendapat giliran (kebinasaan) yang amat buruk dan Allah memurkai dan mengutuk mereka serta menyediakan bagi mereka neraka Jahannam. Dan (neraka Jahannam) itulah sejahat-jahat tempat kembali (Qs. Al-Fath, 6).

Mereka dimasukkan ke dalam neraka.

إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِنۡ أَهۡلِ ٱلۡكِتَٰبِ وَٱلۡمُشۡرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَٰلِدِينَ فِيهَآۚ أُوْلَٰٓئِكَ هُمۡ شَرُّ ٱلۡبَرِيَّةِ ٦

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk,’”(Qs. Al-Bayyinah, 6).

Diharamkan bagi mereka masuk surga.

لَقَدۡ كَفَرَ ٱلَّذِينَ قَالُوٓاْ إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلۡمَسِيحُ ٱبۡنُ مَرۡيَمَۖ وَقَالَ ٱلۡمَسِيحُ يَٰبَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمۡۖ إِنَّهُۥ

مَن يُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ فَقَدۡ حَرَّمَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِ ٱلۡجَنَّةَ وَمَأۡوَىٰهُ ٱلنَّارُۖ وَمَا لِلظَّٰلِمِينَ مِنۡ أَنصَارٖ ٧٢

Artinya: “Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putera Maryam”, padahal Al Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu”. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun, “ (Qs. Al-Maidah, 72).

Syirik  sebagai najis yang musti dijauhi.

 يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِنَّمَا ٱلۡمُشۡرِكُونَ نَجَسٞ فَلَا يَقۡرَبُواْ ٱلۡمَسۡجِدَ ٱلۡحَرَامَ بَعۡدَ عَامِهِمۡ هَٰذَاۚ وَإِنۡ خِفۡتُمۡ عَيۡلَةٗ

فَسَوۡفَ يُغۡنِيكُمُ ٱللَّهُ مِن فَضۡلِهِۦٓ إِن شَآءَۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ حَكِيمٞ ٢٨

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis, maka janganlah mereka mendekati Masjidilharam sesudah tahun ini. Dan jika kamu khawatir menjadi miskin, maka Allah nanti akan memberimu kekayaan kepadamu dari karunia-Nya, jika Dia menghendaki. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana,” (Qs. At-Taubah, 28).

Mereka masuk dalam orang-orang yang sesat.

 إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَغۡفِرُ أَن يُشۡرَكَ بِهِۦ وَيَغۡفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَآءُۚ وَمَن يُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ فَقَدۡ ضَلَّ ضَلَٰلَۢا بَعِيدًا ١١٦

Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya,” (Qs. An-Nisa’, 116).

Masih menurut Wahbah Zuhaili menegaskan bahwa surat An-Nisa’ ayat 116 ini dilatarbelakangi oleh kasus Thu’mah bin Ubairiq yang melakukan pencurian, ketika Rasulullah menjatuhkan vonis hukuman potong tangan terhadap dirinya, lalu ia melarikan diri ke Makkah dan murtad. Ketika di Makkah, ia membobol sebuah rumah, lalu orang orang musyrik penduduk Makkah berhasil menangkapnya, lalu membunuhnya. Lalu turunlah ayat ini.

Wallohua'lam Bisshowab

Hukum Dan Azab Mengerikan Pesugihan (Siryik)

Pelit atau Bakhil merupakan perbuatan yang sangat dibenci oleh Allah dan Rasul-nya. Kita sebagai hamba Allah yang beriman sangat dianjurkan untuk tidak Pelit atau Bakhil pada sesama.

Rasulullah pernah mensabdakan, salah satu diantara tiga hal yang membinasakan adalah pelit alias bakhil.

“Tiga perkara yang membinasakan: rasa pelit yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dan ujubnya seseorang terhadap dirinya sendiri” (HR. Thabrani)

Alloh SWT berfirman :

“Dan jangan sekali-kali orang-orang yang kikir dengan apa yang diberikan Allah kepada mereka dari karunia-Nya, mengira kikir itu baik bagi mereka, padahal kikir itu buruk bagi mereka. Harta yang mereka kikirkan itu akan dikalungkan di lehernya pada hari kiamat. Milik Allah-lah warisan apa yang ada di langit dan dibumi. Allah Maha teliti terhadap apa  yang kamu kerjakan.”
(QS. Ali Imran [3]: 180)

Maksudnya Allah SWT menjadikan harta yang mereka kikirkan itu akan dikalungkan dileher mereka, mereka disiksa pada hari Kiamat dengan harta yang mereka miliki. Hal ini sebagaimana yang disebutkan dalam kitab shahih Al-Bukhari:

“Barangsiapa yang diberi Allah SWT harta dan ia tidak menunaikan zakatnya, maka akan diperumpamakan baginya pada hari kiamat seekor ular yang besar, memiliki dua titik, lalu ular itu mencengkeramnya dengan kedua rahangnya, kemudian ular itu berkata: “Aku adalah hartamu, akulah harta simpananmu.” Kemudian Rasulullah SAW membacakan ayat:

“Dan jangan sekali-kali orang-orang yang kikir dengan apa yang diberikan Allah kepada mereka dari karunia-Nya, mengira kikir itu baik bagi mereka, padahal kikir itu buruk bagi mereka. Harta yang mereka kikirkan itu akan dikalungkan di lehernya pada hari kiamat. Milik Allah-lah warisan apa yang ada di langit dan dibumi. Allah Maha teliti terhadap apa  yang kamu kerjakan.”
(QS. Ali Imran [3]: 180)

Allah SWT berfirman:

“Ketika Allah memberikan kepada mereka sebagian dari karunia-Nya, mereka menjadi kikir dan berpaling dan selalu menentang kebenaran.”
(QS. At-Taubah [9]: 76)

Maksudnya; ketika Allah SWT memberikan rezeki kepada mereka dan mencukupkan mereka dengan karunia-Nya akan tetapi mereka justru kikir, mereka tidak mau berinfak dan mereka melanggar perjanjian serta berpaling dari ketaatan kepada Allah SWT dan Rasul-Nya.

“Siapa saja yang kikir dan merasa dirinya cukup (kaya) tidak perlu pertolongan Allah dan mendustakan pahala yang terbaik. Maka akan Kami mudahkan baginya jalan menuju kesukaran (kesengsaraan). Serta mendustakan pahala terbaik. Maka kelak Kami akan menyiapkan baginya jalan yang sukar.”
(QS. Al-Lail [8]: 8-10)

Maksudanya; “yaitu orang yang kikir terhadap hartanya dan merasa cukup sehingga tidak butuh kepada Allah SWT, mendustakan surga dan kenikmatannya, maka akan Kami siapkan baginya jalan menuju kesulitan yaitu kehidupan yang buruk di dunia dan akhirat. Itulah jalan  kejahatan.”

Para ahi tafsir berkata;

“Jalan kebaikan dinamakan dengan jalan kemudahan, karena jalan itu berakhir dengan kemudahan yaitu masuk ke dalam surga tempat segala kenikmatan. Sementara jalan kejahatan itu dinamakan dengan kesulitan karena ia akan berakhir dengan kesulitan yaitu masuk ke dalam neraka.”

“Sekiranya Allah meminta harta kalian, maka Allah akan terus menuntut kalian untuk memberikan harta itu, sehingga kalian menjadi kikir. Allah akan menampakkan kedengkian (kebencian) kalian untuk berderma.”
(QS. Muhammad [47]: 31)

‘Sekiranya Allah meminta harta kalian, maka Allah akan terus menuntut kalian untuk memberikan harta itu, sehingga kalian menjadi kikir, maksudnya; jika Allah meminta semua harta kamu, permintaan itu tampak bagimu terlalu berlebihan dan meski Allah terus meminta agar kamu menginfakkannya, maka pastilah kamu kikir. Dan Allah akan menampakkan kedengkianmu (kebencian). Maksudnya Allah akan mengungkap dan memperlihatkan kepada orang lain apa yang ada didalam hati kamu, seperti sifat kikir dan tidak mau berinfak.’

Dan siapa yang kikir sesungguhnya dia hanyalah kikir terhadap dirinya sendiri:
“Maksudnya, barangsiapa yang kikir tidak mau berinfak di jalan Allah SWT, maka bahaya kikirnya itu akan mengancam untuk dirinya sendiri.”

Ash-Shawi berkata;

“Kata bukhl (kikir) itu adalaah kata kerja yang membutuhkan objek dengan tambahan huruf ala, jika berarti kikir. Dengan huruf an, jika berarti menahan.”

Dan Allah-lah yang Maha kaya sedangkan kemulah orang-orang yang berkehendak (kepada-Nya). Maksudnya Allah SWT tidak butuh terhadap infak kamu, ia tidak perlu kepada harta kamu, akan tetapi sesungguhnya kamulah yang membutuhkan-Nya.

Dan jika kamu berpaling niscaya Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain, maksudnya; yaitu kamu berpaling dari ketaatan kepada-Nya dan tidak mengikuti perintah-perintah-Nya, maka Allah akan mengganti kamu dengan kaum yang lain yang lebih taat kepada-Nya daripada kamu.

“Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak mau menginfakkan di jalan Allah, maka berikanlah kabar gembira kepada mereka, bahwa mereka akan mendapat azab yang pedih. Ingatlah Pada hari ketika emas dan perak dipanaskan dalam neraka Jahanam, lalu dengan itu disetrika dahi, lambung dan punggung mereka; “Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah akibat dari apa yang kamu simpan itu.”
(QS. At-Taubah [9]: 35)

Ibnu Mas’ud berkata;

“Keadaanya bukan dinar ditumpak-tumpuk pun buka dirham ditumpuk-tumpuk. Tetapi masing-masing dinar dan dirham dihamparkan yang mana kulitnya telah dilebarkan sedemikain rupa sehingga masing-masing dinar dan dirham mengambil tempatnya.”

Jika ada yang bertanya mengapa khusus dahi, lambung dan punggung yang terkena siksaan ini, maka jawabnya adalah;
“Apabila seorang hartawan yang kikir melihat orang fakir pastilah masam mukanya, ia lebarkan dahinya, lalu berpaling (menarik) lambung ke samping. Dan jika orang fakir tadi mendekatinya niscaya dia akan membelakanginya (menampakkan punggungnya).”

Abu Bakar Ash Siddiq menggambarkan tujuh bahaya kikir :

1» Orang kikir akan meninggalkan hartanya itu pada ahli waris yang tidak mampu mengurusnya, sehingga harta itu akan dihambur-hamburkan untuk sesuatu yang tidak bermanfaat.
2» Harta yang ditinggalkannya itu dirampas oleh penguasa yang dzalim.
3» Hartanya untuk melampiaskan keinginan nafsu seksualnya hingga ludes.
4» Hartanya dipergunakan untuk membangun sesuatu yang rapuh, kemudian roboh.
5» Hartanya habis karena dicuri, terbakar atau sebab-sebab musibah lainnya.
6» Hartanya yang tidak bermanfaat itu semata-mata hanya untuk biaya berobat dirinya yang menderita penyakit kronis.
7» Hartanya itu hilang karena disimpan di suatu tempat yang mana dia lupa tempat penyimpanannya.

DOA MALAIKAT PADA SESEORANG YANG BAKHIL

Imam al-Bukhari dan Imam Muslim telah meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيْهِ إِلاَّ مَلَكَانِ يَنْزِلاَنِ فَيَقُوْلُ أَحَدُهُمَا: اَللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا، وَيَقُوْلُ اْلآخَرُ: اَللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا.

‘Tidak satu hari pun dimana seorang hamba berada padanya kecuali dua Malaikat turun kepadanya. Salah satu di antara keduanya berkata, ‘Ya Allah, berikanlah ganti  bagi orang yang berinfak.’ Sedangkan yang lainnya berkata, ‘Ya Allah, hancurkanlah harta orang yang kikir.'”

Al-Malla ‘Ali al-Qari berkata di dalam syarah hadits ini, “Yang dimaksud dengan ‘kikir’ di sini adalah pelit memberikan kebaikan atau harta bagi yang lainnya.”

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Adapun do’a dengan dihancurkan mempunyai makna bahwa harta itu sendiri yang hancur atau pemilik harta tersebut, maksudnya adalah hilangnya kebaikan karena sibuk dengan yang lainnya.”

Para Imam, yaitu Imam Ahmad, Ibnu Hibban, dan al-Hakim meriwayatkan dari Abud Darda’ Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

مَا طَلَعَتْ شَمْسٌ قَطُّ إِلاَّ بُعِثَ بِجَنْبَتَيْهَا مَلَكَانِ يُنَادِيَانِ يُسْمِعَانِ أَهْلَ اْلأَرْضِ إِلاَّ الثَّقَلَيْنِ، يَا أَيُّهَا النَّاسُ هَلُمُّوْا إِلَى رَبِّكُمْ فَإِنَّ مَا قَلَّ وَكَفَى خَيْرٌ مِمَّا كَثُرَ وَأَلْهَى وَلاَ آبَتْ شَمْسٌ قَطٌّ إِلاَّ بُعِثَ بِجَنْبَتَيْهَا مَلَكَانِ يُنَادِيَانِ يُسْمِعَانِ أَهْلَ اْلأَرْضِ إِلاَّ الثَّقَلَيْنِ، اَللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا وَأَعْطِ مُمْسِكًا مَالاً تَلَفًا.

“Tidaklah matahari terbit kecuali diutus di dua sisinya dua Malaikat yang berseru. Semua penduduk bumi mendengarkannya kecuali jin dan manusia, mereka berdua berkata, ‘Wahai manusia menghadaplah kalian kepada Rabb kalian, karena yang sedikit dan cukup itu tentu lebih baik daripada yang banyak tetapi dipakai untuk foya-foya, dan tidaklah matahari terbenam kecuali diutus di antara dua sisinya dua Malaikat yang berseru, semua penduduk bumi mendengarkannya kecuali jin dan manusia, mereka berdua berkata: ‘Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak dan hancurkanlah harta orang yang pelit.’”

Dua Imam, yaitu Ahmad dan Ibnu Hibban meriwayatkan dari Abi Hurairah Radhiyallahu anhu, dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

إِنَّ مَلَكًا بِبَابٍ مِنْ أَبْوَابِ السَّمَاءِ يَقُوْلُ: مَنْ يُقْرِضِ الْيَوْمَ يُجْزَى غَدًا، وَمَلَكًا بِبَابِ آخَرَ يَقُوْلُ: اَللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا وَعَجِّّلْ لِمُمْسِكٍ تَلَفًا.

“Sesungguhnya seorang Malaikat yang ada di sebuah pintu dari pintu-pintu langit, berkata: ‘Barangsiapa meminjamkan pada hari ini, maka akan dibalas pada hari nanti.’ Dan seorang Malaikat lagi yang berada pada pintu yang lain berkata, ‘Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak dan percepatlah kehancuran harta orang yang pelit.’”

BAHAYA SIFAT PELIT (KIKIR)

Dijauhi Teman Dan Sanak Saudara

Kerugian berupa miskin teman dan renggangnya hubungan kekerabatan. Orang yang kikir akan dijauhi, karena orang menganggap tidak ada untungnya bergaul dengan orang yang kikir dan bakhil, bahkan sifat itu akan membinasakan dirinya dan orang lain. Nabi SAW bersabda:
“Jauhilah oleh kalian sifat kikir, karena sifat itulah yang membinasakan orang-orang sebelum kalian. Sifat kikir menyuruh mereka berlaku zhalim, maka merekapun berlaku zhalim. Kikir menyuruh mereka memutus kekerabatan, merekapun memutusnya.”
(HR Abu Dawud)

Adalah Qais bin Saad bin Ubadah RA dikenal sebagai orang yang suka berderma. “Suatu hari beliau sakit, namun teman-temannya tak kunjung menjenguknya. Beliau merasa penasaran, lalu mencari tahu tentang sebabnya. Hingga kemudian diperoleh kabar jawaban, bahwa mereka malu untuk datang karena masih punya tanggungan hutang kepada beliau. Beliau berkata; “Alangkah buruknya harta yang menghalangi seseorang untuk menjenguk saudaranya.” Lalu beliau menyuruh orang untuk mengumumkan bahwa siapapun yang memiliki beban hutang kepada Qais, maka diputihkan dan dianggap lunas. Maka sore harinya daun pintunya rusak lantaran banyaknya orang yang menjenguk beliau.” Sungguh beruntung orang yang terhindar dari sifat kikir dan bakhil.

Miskin Pahala

Sifat kikir menyebabkan seseorang miskin pahala kebaikan.
Dan ini yang paling parah, karena sifat ini merusak hasrat dan motivasi akhirat, menjauhkan pemiliknya dari keberuntungan yang hakiki dan abadi. Hasratnya hanya tertuju untuk dunia yang hina dan fana. Maka kelak, sebagai balasan bagi mereka, lihat ayat diatas at-Taubah: 35

Menimbulkan Sifat Munafik

Allah Ta’ala berfirman yang artinya:
“Maka setelah Allah memberikan sebagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling dan  memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran), maka Allah menimbulkan kemunafikan pada hati mereka sampai mereka menemui Allah.”
(QS. At-Taubah: 76-77)

Menimbulkan Kesengsaraan

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda:
“Beramallah, karena setiap sesuatu akan dimudahkan terhadap apa-apa yang diciptakan pada-Nya. Barangsiapa dari ahli kesengsaraan maka dimudahkan beramal seperti amalan orang-orang yang sengsara.”
(HR. Bukhari)

Imam An-Nawawi rahimahullah berkata:
“Maka apa-apa yang melebihi hajat manusia dan keluarganya, menahannya adalah suatu keburukan. Jika ia enggan melaksanakan kewajiban, maka dia berhak mendapatkan siksaan. Dan jika enggan melakukan hal-hal Sunnah maka dapat mengurangi pahalanya serta menghilangkan mashlahat dunia dan akhirat.”
(Syarah shahih Muslim oleh Imam Nawawi)

Menimbulkan Kehancuran

Dari Jabir bin Abdillah radiyaallahu ‘anhu, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam  bersabda:
“Takutlah dari sifat kikir, karena kikir dapat menghancurkan apapun, sebelum kamu membawa pada pertumpahan darah dan menghalalkan apa-apa yang diharamkan.“
(HR. Muslim)

Al-Qadhi rahimahullah berkata:
“Kerusakan disini bisa mencakup dunia dan akhirat.”
(Syarah shahih Muslim oleh Nawawi)

Dimurkai Allah SWT

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda:
“Tiga golongan yang dibenci Allah: Orang tua yang berzina, orang bakhil dan orang yang sombong.”
(HR. Ibnu Hibban)

Terhalang Dari Kenikmatan

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda:
“Dan tidaklah ada kaum yang menolak membayar zakat, kecuali Allah yang menghalangi turunnya hujan.”
(HR. Al-Hakim, shahih)

Menimbulkan kegelisahan dan kegundahan

Kekikiran akan menyebabkan seseorang tenggelam dalam dosa dan kehinaan, baik kecil maupun besar, dzahir maupun batin, akan mendapat akibat dari perbuatannya di dunia sebelum akhirat. Allah berfirman yang artinya:
“Barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit.”
(QS. Toha: 124)

Imam Ibnu Qayyim rahimahullah berkata:
“Kekikiran menghalangi seseorang dari ditimpa kesempitan hati, jauh dari kelapangan dan kegembiraan, banyak ditimpa kecemasan dan kesedihan dan tidak ditolong untuk bisa memenuhi hajatnya.”
(Al- Wabil As-sho’ib oleh Ibnu Qoyyim dan juga dalam kitabnya Zadul Ma’ad)

AZAB PEDIH ORANG KIKIR (PELIT)

“…Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih,” (QS. At-Taubah ayat 34)

Dibakar dahi, lambung, dan punggungnya dengan emas dan perak yang mereka simpan

Sahabat, pernahkah merasakan ada anggota tubuh yang terbakar? Mungkin karena terkena sundutan rokok, tersetrum listrik, terkena hotplate, atau bahkan karena tersenggol setrikaan. Bagaimana rasanya saat benda panas tersebut mengenai kulit kita? Sensasi membakar yang tak hilang selama beberapa waktu tentunya memberi efek kejut luar biasa bukan?

Bayangkanlah orang-orang bakhil kelak dibakar dahi, lambung, dan punggungnya dengan menggunakan emas dan perak yang dipanaskan. Terbayang bagaimana rasanya? Na’udzubillah min dzalik, semoga kita takkan merasakan siksaan demikian.

“Pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: “Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu”.” (QS. At-Taubah : 35)

Dibakar selama 50.000 tahun

Sahabat, terbakar api selama beberapa menit saja sudah membuat kulit kita hangus dan benar-benar menyakitkan, lantas apa yang terjadi pada orang bakhil yang masuk neraka kemudian disiksa bakar selama 50.000 tahun lamanya?

“Sesungguhnya pemilik emas dan perak yang tidak membayarkan kewajibannya, benar-benar di hari kiamat nanti harta itu akan menjadi potongan-potongan berupa api neraka, lalu membakar pemiliknya di atas neraka jahannam. Lalu diletakkan pada dahinya, pinggang dan punggungnya. Setiap panasnya berkurang maka akan diganti dengan panas yang seperti semula, hal itu berjalan selama kurang lebih 50.000 tahun, sampai Allah memberi keputusan atas manusia, lalu ketika itu dia akan mengetahui apakah ia akan masuk ke dalam neraka lagi atau tidak (dimasukkan ke surga).”

Kemudian di waktu itu ada salah seorang sahabat bertanya kepada Nabi Shalallaahu ‘Alaihi Wassalam: “Wahai Rasulullah, bagaimana haknya dengan pemilik unta?” Rasul menjawab, “Demikian juga pemilik unta yang tidak membayar kewajibannya, di hari kiamat dia pasti akan dikenakan siksa.” [HR. Bukhori dan Muslim]

 Setiap kulit mereka hangus, Allah akan ganti dengan kulit baru

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab, Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Annisa: 56)

Dalam ilmu dermatologi diketahui bahwa pusat rasa sakit adalah di ujung-ujung syaraf kulit, sehingga luka bakar yang parah pada kulit akan menyebabkan seseorang tak bisa lagi merasakan perihnya luka karena syarafnya hangus. Oleh sebab itulah Allah mengganti kulit yang sudah hangus tersebut dengan kulit baru agar para penghuni neraka itu tetap dapat merasakan panasnya siksa yang membakar.

 Harta yang mereka tahan selama di dunia akan dikalungkan di lehernya

Apa saja kelebihan harta yang kita tahan dan enggan kita infakkan di jalan Allah dengan menyedekahkannya pada kaum dhuafa, maka harta tersebut nantinya akan dikalungkan ke leher pemiliknya, sungguh siksaan yang amat menghinakan.

“Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karuniaNya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Ali ‘Imran: 180)

 Dilempar ke dalam Huthamah yang apinya dapat membakar sampai ke hati

Sungguh berbeda api di dunia ini dengan api neraka kelak di akhirat. Api yang akan membakar orang-orang bakhil ada pada neraka Huthamah, api itu dinyalakan dan dapat membakar tidak hanya bagian terluar tubuh kita, melainkan sampai ke hati. Bisakah membayangkan pedihnya?

“Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela, yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitung (kikir). dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya, sekali-kali tidak! Sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Huthamah. Dan tahukah kamu apa Huthamah itu? (yaitu) api (yang disediakan) Allah, yang dinyalakan yang (membakar) sampai ke hati.” (QS. Al Humazah 1-7)

Wallohua'lam Bisshowab

Marilah kita berdoa, supaya kita dihindarkan dari sifat Kikir/Pelit:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْجُبْنِ ، وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ أُرَدَّ إِلَى أَرْذَلِ الْعُمُرِ ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الدُّنْيَا ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ

“Ya Allah, saya berlindung kepada-Mu dari ketakutan, saya berlindung kepada-Mu dari kikir, saya berlindung kepada-Mu supaya saya tidak dikembalikan ke masa yang paling hina (pikun), saya berlindung kepada-Mu dari siksa dunia dan akhirat.”
(HR. Bukhari 11/181)

« اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ ، وَتَرْكَ الْمُنْكَرَاتِ ، وَحُبَّ الْمَسَاكِينِ ، وَأَنْ تَغْفِرَ لِي وَتَرْحَمَنِي ، وَإِذَا أَرَدْتَ فِتْنَةَ قَوْمٍ فَتَوَفَّنِي غَيْرَ مَفْتُونٍ ، أَسْأَلُكَ حُبَّكَ وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ وَحُبَّ عَمَلٍ يُقَرِّبُ إِلَى حُبِّكَ »

”Ya Allah, saya meminta kepada-Mu melakukan kebaikan, meninggalkan keburukan, mencintai orang miskin. Saya meminta Engkau mengampuni dan mengasihi saya. Jika Engkau hendak memberi ujian pada sebuah umat, maka wafatkanlah saya tanpa terkena ujian. Saya meminta agar Engkau memberi pada saya rasa senang terhadap-Mu, rasa senang terhadap orang yang senang terhadap-Mu, dan senang terhadap amal yang mendekatkan pada rasa senang terhadap-Mu.”
(HR Ahmad 5/243, Turmudzi 5/369, dan Al Hakim 1/521)

Hukum Dan Azab Pedih Orang Pelit, Bakhil dan Kikir di Akhirat

Fitnah merupakan usaha menyiarkan sesuatu berita tanpa dasar kebenaran, dengan tujuan untuk mencemarkan nama baik seseorang, menanamkan kebencian, menumbuhkan permusuhan serta memupuk kedengkian. Tujuan fitnah tersebut agar mudah untuk mencapai segala cita-cita para pelaku fitnah.

Perbuatan yang tercela seperti itu dilarang oleh Allah Swt dan orang yang membuat fitnah itu akan ditimpa azab yang amat pedih.

Allah berfirman;

 “Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan fitnah kepada orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, kemudian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab jahannam dan bagi mereka azab (neraka) yang sangat pedih.” (QS. al-Buruj: 10).

Fitnah itu lebih besar dosanya daripada dosa membunuh (manusia tak bersalah),

Allah berfirman:

Berbuat fitnah lebih besar dosanya daripada membunuh.” (Q.S. Al-Baqarah: 217).

Fitnah adalah perkara yang sangat fatal, sebab dan akibat dari fitnah akan mengakibatkan jatuhnya korban yang sungguh dahsyat, bukan saja nama orang yang difitnah itu mendapat aib, tetapi fitnah mengakibatkan lenyapnya suatu bangsa, dengan fitnah manusia akan saling mencaci, memaki dan bunuh membunuh walau sesama Islam.

Perkataan yang baik adalah pembuktian kemusliman seseorang. Hendaknya setiap orang memastikan bahwa kata-kata yang akan diucapkannya benar-benar baik. Apabila kita tidak yakin akan dapat mengeluarkan kata-kata yang baik, diam itu lebih baik. Berkata yang baik tentunya akan lebih bermanfaat dibandingkan diam.

Akan tetapi, menghindari akibat dari perkataan yang kurang baik akan lebih utama dibandingkan kita memaksakan berbicara yang akan berakibat jelek kepada diri sendiri maupun orang lain.

Berdasarkan Al-Qur’an dalam surat Al-Hujuraat ayat 6 yang berkaitan dengan larangan berburuk sangka dan menggunjing sebagai berikut :

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”. 

Firman Allah dalam Al-Qur’an surat Al-Hujuraat ayat 11 yang memiliki makna sebagai berikut :

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olokkan kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olokkan) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olokkan) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olokkan) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim”. 

Hal ini sesuai dengan Al-Qur’an berdasarkan surat Al-Hujuraat ayat 12 sebagai berikut :

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang”.

Alloh SWT berfirman dalam Al-Qur’an berdasarkan surat An-Nuur ayat 15 sebagai berikut :

Artinya : “(Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah benar”. 

Firman Allah dalam Al-Qur’an surat An-Nuur ayat 23 sebagai berikut :

Artinya : “Sesungguhnya orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik, yang lengah lagi beriman (berbuat zina), mereka kena laknat di dunia dan akhirat dan bagi mereka azab yang besar”.

Alloh SWT berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-Israa ayat 36 sebagai berikut :

Artinya : “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggunganjawabnya”.

Berdasarkan Al-Hadits yang berkaitan dengan menggunjing dan memfitnah yaitu :

Artinya : “Berhati-hatilah terhadap purbasangka. Sesungguhnya purbasangka adalah ucapan paling bodoh”. (H.R. Al-Bukhari)

Artinya : “Barangsiapa mengintai-intai keburukan saudaranya semuslim, maka Allah akan mengintai-intai keburukannya. Barangsiapa diintai keburukannya oleh Allah, maka Allah akan mengungkitnya (membongkarnya) walaupun dia melakukan itu di dalam (tengah-tengah) rumahnya”. (H.R. Ahmad)

Artinya : “Sesungguhnya bila kamu mengintai-intai keburukan orang, maka kamu telah merusak mereka atau hampir merusak mereka”. (H.R. Ahmad)

Artinya : “Seorang mukmin bukanlah pengumpat, pengutuk, berkata keji atau berkata busuk”. (H.R. Al-Bukhari dan Al-Hakim)

Artinya : “Rasulullah saw pernah ditanya : “Ya Rasulullah, apakah tebusan mengumpat?” Jawab Rasulullah : “Hendaklah engkau beristighfar (memohonkan ampunan) kepada Allah bagi orang yang engkau umpat”. (H.R. Thahawi)

Artinya : Dari Hudzaifah r.a, dia telah berkata : Rasulullah saw telah bersabda : “Tidak akan pernah masuk surga orang yang suka mengumpat”. (H.R. Bukhari dan Muslim)

Rasulullah memberikan solusi kepada umatnya yang terlanjur mengumpat orang lain. Yakni dengan memohonkan ampunan kepada Allah untuk orang yang diumpatnya. Dengan cara demikian, maka orang yang mengumpat akan mendapatkan maghfirah dari Allah SWT. Sebab bila tidak mendapat maghfirah, orang yang suka mengumpat atau menyebar fitnah pasti masuk neraka.

Dari Abu Hurairah r.a, bahwa sesungguhnya Rasulullah saw telah bersabda :

“Takutlah kamu terhadap prasangka. Sebab sesungguhnya prasangka adalah sedusta-dusta pembicaraan. Janganlah kamu mencari-cari dan meneliti kesalahan orang lain, janganlah kamu saling mendengki, janganlah kamu saling membenci dan janganlah kamu saling belakang membelakangi . Jadilah kamu hamba-hamba Allah yang bersaudara sebagaimana Allah telah memerintahkan kepadamu. Orang muslim adalah saudara muslim yang lain, tidak saling menzhalimi, tidak saling merendahkan dan tidak saling menghina. Takwa adalah di sini, takwa adalah di sini”, sambil Rasulullah menunjuk ke arah dada.

Kemudian melanjutkan sabdanya :
“Cukuplah keburukan bagi seseorang dengan menghina saudaranya sesama muslim. Setiap muslim adalah haram atas muslim yang lain akan darah, kehormatan dan hartanya. Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada tubuhmu dan rupamu, tetapi Allah melihat kepada hatimu”. (H.R. Muslim)

Dari Ibnu Abbas r.a, bahwa sesungguhnya Rasulullah saw pernah berjalan melewati 2 (dua) kuburan, kemudian beliau bersabda :

 “Sesungguhnya 2 (dua) orang ahli kubur itu disiksa dan keduanya tidak disiksa karena dosa besar. Ya, benar. Sesungguhnya dosa itu adalah besar. Salah seorang di antara keduanya adalah berjalan di muka bumi dengan menyebarkan fitnah (mengumpat). Sedang salah seorang yang lain tidak bertirai ketika kencing”. (H.R. Bukhari dan Muslim).

Orang yang senantiasa menyebarkan fitnah atau mengumpat sesama muslim kelak dikubur akan mendapatkan siksa yang berat.

“ Mencela sesama muslim adalah kefasikan dan membunuhnya adalah kekufuran” (Bukhari no.46,48, muslim)

Wallohua'lam Bisshowab

Hukum dan Azab Menyedihkan Tukang Fitnah Dalam Islam


Orang yang minum-minuman keras atau Pemabuk kesadaran mereka akan hilang karena pengaruh minuman keras tersebut, bahkan yang paling fatal adalah dapat menimbulkan kematian. Jika orang mati dalam keadaan mabuk seperti itu maka jangan harap kelak di akhirat akan bisa masuk ke dalam surga, justru orang seperti itu akan mendapatkan azab yang pedih dan menginakan di akhirat.

Orang-orang peminum khamr, arak, dan sejenisnya akan mendapatkan ancaman azab yang sangat mengerikan di akhirat kelak. Bahkan tak hanya di akhirat, azab tersebut juga bisa saja datang di dunia. Kita tentu sering mendengar kecelakaan maut yang disebabkan karena minuman keras tersebut? itu baru di dunia, padahal di akhirat nanti akan ada siksa yang lebih dahsyat disana.

Rasulullah pernah bersabda tentang siksaan yang akan diperoleh oleh orang yang suka meminum arak, Rasulullah bersabda:

"Ada tiga macam manusia yang tidak masuk surga, peminum arak, pemutus silaturahmi, dan orang yang percaya sihir. Barangsiapa mati sebagai peminum arak, maka Allah memberinya minum dari sungai Ghuthah. Seorang bertanya, 'Apa itu sungai Ghuthah?' Rasul menjawab, 'Sungai yang mengalir dari kemaluan para pelacur. Para penghuni neraka lain merasa terganggu oleh bau kemaluan mereka'," [HR. Ahmad]

Na'udzubillah, orang yang suka meminum arak (mabuk-mabukkan) di akhirat kelak akan diazab dengan diberi minuman yang sangat menjijikan yang berasal dari kemaluan para pelacur, sedangkan para penduduk neraka tersebut sangat terganggu dengan bau kemaluan mereka.

Untuk itu agar terhindar dari adzab seperti itu maka sebaiknya kita menghindari dan menjauhi apapun yang sudah Allah larang untuk kita. Karena hal itu akan membawa kebaikan bagi kita baik di dunia maupun di akhirat kelak.

Secara tegas Rasulullah juga melarang kepada umat Islam melakukan minum khamar. Dan siapa saja yang meminum khamar, bukanlah termasuk golongan beriman, kecuali telah melakukan taubat:

 لايزني الزّانى حين يزنى وهو مؤمن، ولايسرق السّارق حين يسرق وهو مؤمن،ولايشرب الخمرحين يشرب وهو مؤمن، ولتّوبة معروضة بعد (رواه البخارى ومسلم)

Seseorang tidaklah dikatakan beriman ketika sedang menjalankan perbuatan zina; seseorang tidaklah dikatakan beriman ketika sedang minum khamar. Semuanya tidaklah termasuk orang-orang beriman apabila tidak segera melakukan taubat"
(Hadits riwayat Bukhari dan Muslim).

Rasulullah saw. Mengingatkan kepada segenap kaum muslimin agar jangan sampai meminum khamar. Sebab bagi yang melakukannya atau yang ikut terlibat di dalam urusan minuman keras akan dilaknat oleh Allah swt :

 لعن الله الخمر وشاربها وساقيها وبا ئهما ومبتاعها وعاصرها ومعتصرها وحاملها والمحمولة اليه (رواه مسلم والنسائ)

“Allah melaknat peminum khamar, yang menyuguhkannya, yang menjualnya, yang membelinya, yang membuatnya, yang meyuruh membuat, yang memanggul dan yang menerimanya” (Hadits riwayat Abu Daud dan Ibnu Majjah).

Laknat Allah ini akan mengakibatkan orang-orang yang terkena laknat jauh dari rahmat Allah. Kecuali apabila ia melakukan taubat dan takkan mengulangi perbuatannya.

Terdapat sebuah riwayat yang mengatakan bahwa seorang dari Yaman bertanya kepada Rasulullah saw. Mengenai sebuah minuman yang biasa mereka minum di negaranya. Minuman tersebut terbuat dari jagung yang diberi nama al-Mirz. Rasulullah bertanya kepadanya : Apakah minuman tersebut memabukkan?” Lelaki itu menjawab: “Ya”. Kemudian Rasul bersabda:

 كلّ مسكر حرام انّ على الله عزّوجلّ عهدا لمن يشرب المسكر ان يسقية من طينة الخبال، قال يارسول الله وما طينة الخبال قال: عرق اهل النّار اوقال عصارة اهل النّار

“Setiap barang yang memabukkan diharamkan; sesungguhnya Allah telah berjanji akan memberi minuman yang bernama Thinah al-Khabaal kepada orang yang meminum minuman keras”. Lelaki tersebut bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah yang dinamakan Thinah al-Khabaal?” Rasulullah menjawab : “Keringatnya ahli neraka atau perasan ahli neraka"
(Hadits riwayat Muslim dan An-Nasai.)”.

Rasulullah bersabda :

 لايشرب الخمر رجل من أمّتي فيقبل الله منه صلاة أربعين يوما (رواه النسائ)

“Seorang yang meminum khamar dari golonganku, tidak akan diterima shalatnya selama empat puluh hari” (Hadits riwayat An-Nasai.).

Rasulullah juga bersabda :

 لايدخل الجنّة مد مّن خمر (رواه ابن ماجه)

Tak akan bisa masuk surga orang yang suka meminum khamar (Hadits riwayat Ibnu Majjah)”.

Rasulullah memberikan perumpamaan terhadap orang yang suka minum khamar di dalam sabdanya :

مد مّن الخمر كعابد وثن (رواه ابن ماجه)

 “Orang yang suka meminum khamar bagaikan pengabdi berhala” (Hadits riwayat Ibnu Majjah).

Wallohua'lam Bisshowab

Semoga kita semua terhindar dari perbuatan yang keji dan senantiasa mendapat Rahmat dari Alloh SWT di dunia dan akhirat. Aminn ya rabbal alamin....

Hukuman Dan Azab Minum Arak Dalam Islam

Setiap orang yang hidup di dunia sudah barang tentu akan mengalami masalah dalam kehidupannya.

Ada yang ringan ada pula yang berat. Yang menjadi persoalan adalah ketika manusia menghadapi suatu masalah yang dianggapnya berat sehingga acapkali merasa tidak kuat memikul beban tersebut. Akhirnya mengambil tindakan keliru dengan cara bunuh diri karena menganggap bunuh diri sebagai solusi terbaik untuk melepaskan impitan masalah yang menimpanya.

Dalam agama Islam, bunuh diri dengan alasan apapun adalah haram. Orang yang melakukan perbuatan ini terancam akan mendapatkan dosa yang sangat besar. Sebab hidup dan matinya seseorang itu berada di tangan Allah SWT dan merupakan karunia dan wewenang dari Allah.

Allah SWT melarang umatnya untuk melakukan pembunuhan ataupun bunuh diri. Bagi mereka yang melanggarnya akan diancam dengan neraka dan ia akan kekal di dalamnya. Allah SWT berfirman:

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu." [QS. An-Nisa' ayat 29]

"Dan barangsiapa berbuat demikian dengan melanggar hak dan aniaya, maka Kami kelak akan memasukkannya ke dalam neraka. Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah." [QS. An-Nisa' ayat 30]

Tindakan bunuh diri jelas tidak dengan serta merta menyelesaikan masalah. Dalam pandangan Islam tindakan tersebut adalah tindakan yang diharamkan dan masuk kategori dosa besar.

Logika sederhana pelarangan ini adalah bahwa nyawa adalah milik Allah sehingga kita tidak memiliki hak apapun atas nyawa kita. Sedangkan dosa orang yang melakukan bunuh diri lebih besar dibandingkan membunuh orang lain, sebagaimana yang kami pahami dari keterangan yang terdapat dalam kitab Al-Mawsu’atul Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah.

إِنَّ مَنْ قَتَل نَفْسَهُ كَانَ إِثْمُهُ أَكْثَرَ مِمَّنْ قَتَل غَيْرَهُ

Artinya, “Sungguh orang yang melakukan bunuh diri dosanya lebih besar dibanding orang yang membunuh orang lain,”

Lantas jika dosa membunuh orang lain dikategorikan sebagai dosa besar, sedangkan dosa membunuh diri sendiri dianggap lebih besar lagi, apakah orang yang mati bunuh diri akan kekal di neraka? Untuk menjawab pertanyaan ini maka kami akan menyuguhkan salah satu hadits Nabi saw riwayat Muslim berikut ini.

مَنْ قَتَلَ نَفْسَهُ بِحَدِيدَةٍ فَحَدِيدَتُهُ فِي يَدِهِ يَتَوَجَّأُ بِهَا فِي بَطْنِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيهَا أَبَدًا وَمَنْ شَرِبَ سَمًّا فَقَتَلَ نَفْسَهُ فَهُوَ يَتَحَسَّاهُ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيهَا أَبَدًا وَمَنْ تَرَدَّى مِنْ جَبَلٍ فَقَتَلَ نَفْسَهُ فَهُوَ يَتَرَدَّى فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيهَا أَبَدًا

Artinya, “Barangsiapa yang bunuh diri dengan besi, maka besi yang tergenggam di tangannya akan selalu ia arahkan untuk menikam perutnya dalam neraka Jahanam secara terus-menerus dan ia kekal di dalamnya. Barangsiapa yang bunuh diri dengan cara meminum racun maka ia akan selalu menghirupnya di neraka Jahannam dan ia kekal di dalamnya. Barangsiapa yang bunuh diri dengan cara terjun dari atas gunung, maka ia akan selalu terjun ke neraka Jahanam dan dia kekal di dalamnya,” (HR Muslim).

Secara tekstualis hadits di atas jelas menyatakan bahwa orang yang mati karena melakukan bunuh diri akan masuk neraka dan kekal di dalamnya. Hal ini sebagai balasan atas tindakan bodohnya.

Muhyiddin Syaraf An-Nawawi dalam kitab Syarah Muslim-nya menghadirkan beberapa pandangan yang mencoba untuk menjelasakan maksud dari sabda Rasulullah SAW tentang kekekalan di neraka bagi orang mati karena bunuh diri.

Pertama, bahwa maksud dari ia (orang yang mati karena bunuh diri) kekal di dalam neraka adalah apabila ia menganggap bahwa melakukan tindakan bunuh diri tersebut adalah halal padahal ia tahu bahwa bunuh diri itu adalah haram. Karena itu maka tindakan menganggap halal bunuh diri menyebabkan ia menjadi kafir.

وَأَمَّا قَوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ فَهُوَ فِى نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيهَا أَبَدًا فَقِيلَ فِيهِ أَقْوَالُ أَحَدِهَا أَنَّهُ مَحْمُولٌ عَلَى مَنْ فَعَلَ ذَلِكَ مُسْتَحِلًّا مَعَ عِلْمِهِ بِالتَّحْرِيمِ فَهَذَا كَافِرٌ وَهَذِهِ عُقُوبَتُهُ

Artinya, “Adapun sabda Rasulullah SAW; ‘maka ia kekal selama-lamanya di dalam neraka Jahanam’, maka dalam hal ini dikatakan ada beberapa pandangan. Pertama, sabda ini mesti dipahami dalam konteks orang yang mati karena bunuh diri dan menganggap bahwa tindakan bunuh diri adalah halal padahal ia tahu bahwa bunuh diri itu haram. Maka hal ini menjadikannya kafir dan kekal di dalam neraka sebagai siksaan baginya (karena melakukan tindakan bunuh diri, pent),”

Andaikan bahwa ia kekal di neraka bukan diartikan secara hakiki sebagai kekal selamanya di neraka, tetapi dalam pengertian yang bersifat majazi. Hal ini seperti pernyataan, ‘khalladallahu mulkas sulthan’, (Semoga Allah kekalkan kekuasaan sultan).

وَالثَّانِىُّ أَنَّ الْمُرَادَ بِالْخُلُودِ طُولُ الْمُدَّةِ وَالْاِقَامَةُ الْمُتَطَاوَلَةُ لَا حَقِيقَةَ الدَّوَامِ كَمَا يُقَالُ خَلَّدَ اللهُ مُلْكَ السُّلْطَانِ

Artinya, “Kedua, apa yang dimaksud dengan kekal di dalam neraka adalah durasi waktu menetap di dalam neraka, bukan kekal dalam arti sesungguhnya, sebagaimana dikatakan ‘khalladallahu mulkas sulthan’ (Semoga Allah kekalkan kekuasaan sultan),


Ketiga, menyatakan bahwa kekekalan di dalam neraka adalah sebagai balasan bagi orang yang mati karena bunuh diri, tetapi Allah SWT bermurah hati sehingga kemudian memberi tahu bahwa orang yang mati dalam keadaan sebagai Muslim tidak kekal di dalam neraka.

وَالثَّالِثُ أَنَّ هَذَا جَزَاؤُهُ وَلَكِنْ تَكَرَّم سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فَأَخْبَرَ أَنَّهُ لَا يَخْلُدُ فِى النَّارِ مَنْ مَاتَ مُسْلِمًا


Artinya, “Ketiga, bahwa kekekalan di dalam neraka adalah balasan atas perbuatannya, akan tetapi Allah SWT bermurah hati sehingga kemudian Dia mengabarkan bahwa sesungguhnya orang yang mati dalam keadaan sebagai Muslim tidak kekal di dalam neraka,”

Dari ketiga pandangan tersebut, maka kesimpulan kami adalah selama orang yang bunuh diri tersebut masih sebagai orang Muslim maka ia tidak kekal di neraka, tetapi kendati demikian ia akan mendekam dalam neraka dalam waktu yang sangat panjang.

Lain halnya, apabila ia melakukan bunuh dirinya karena mengalalkannya padahal ia tahu bahwa hal itu diharamkan maka ia kekal di dalam neraka. Sebab, konsekuensi dari menghalalkan yang haram (bunuh diri) menyebabkan ia menjadi kafir sebagaimana yang kami pahami dari pandangan pertama yang dihadirkan oleh An-Nawawi di atas.

Wallohua'lam Bisshowab

Semoga kita semua digolongkan sebagai hamba Allah yang beriman dan bertaqwa, serta dijauhkan dari siksaan api neraka. Amin ya rabbal alamin...

Hukum dan Azab Bagi Orang yang Bunuh Diri Di Akhirat

Ibadah Puasa memiliki kedudukan yang tinggi dalam Islam. Puasa merupakan salah satu dari rukun Islam yang lima.


Barangsiapa berpuasa untuk mencari ridha Allâh Azza wa Jalla dan sesuai dengan tuntunan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , maka ia akan meraih kebaikan dan keutamaan yang sangat besar. Oleh karena itu kewajiban kaum Muslimin memperhatikan ibadah puasa dengan sebaik-baiknya.

ARTI PUASA

Dalam bahasa Arab, puasa disebut dengan shaum atau shiyâm, artinya menahan. Adapun menurut istilah syari’at, Syaikh Muhammad bin Shâlih al-‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Shaum adalah: beribadah kepada Allâh Azza wa Jalla dengan menahan diri dari makan, minum, dan segala yang membatalkan, mulai terbit fajar (shadiq) sampai matahari tenggelam. (Syarhul Mumti’, 6/298)

MACAM-MACAM PUASA

Para ulama menyebutkan bahwa puasa ada dua: puasa wajib dan sunnah.

• Puasa wajib, seperti puasa Ramadhân, kaffârah, dan nadzar.

• Puasa sunnah, seperti puasa Senin dan Kamis, enam hari pada bulan Syawal, puasa Nabi Dawud, dan lainnya.

Selain itu ada juga puasa maksiat, seperti puasa pada hari ‘Idul Fithri dan Adh-ha, puasa mutih, puasa patigeni, puasa untuk mencari kesaktian, dan lainnya.

HUKUM PUASA RAMADHAN

Hukum Puasa Ramadhân sudah sangat dikenal oleh umat Islam, yaitu wajib, berdasarkan al-Qur’ân, al-Hadits, dan Ijma’. Barangsiapa mengingkari kewajiban puasa Ramadhân, maka dia menjadi kafir. (Lihat al-Wajîz, hlm. 189)

Allâh Azza wa Jalla berfirman.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. [al-Baqarah/2:183]

Puasa Ramadhân merupakan salah satu dari rukun Islam yang lima. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَالْحَجِّ وَصَوْمِ رَمَضَانَ

Islam dibangun di atas lima tiang: Syahadat Laa ilaaha illa Allâh dan Muhammad Rasûlullâh; menegakkan shalat; memberikan zakat; haji; dan puasa Ramadhân”. [HR. al-Bukhâri, no. 8; Muslim, no. 16]

Syaikh Abdul ‘Aziz ar-Râjihi -hafizhahullâh- berkata, “Barangsiapa mengingkari kewajiban puasa (Ramadhân), maka dia kafir, murtad dari agama Islam. Karena dia telah mengingkari satu kewajiban besar dan satu rukun dari rukun-rukun Islam, serta satu perkara yang diketahui dengan pasti sebagai ajaran Islam. Barangsiapa mengakui kewajiban puasa Ramadhân dan namun dia berbuka dengan sengaja tanpa udzur, berarti dia telah melakukan dosa besar, dia dihukumi fasik dengan sebab itu, namun tidak dikafirkan menurut pendapat yang paling kuat dari pendapat Ulama. Dia wajib berpuasa, dan Penguasa muslim (harus) menghukumnya dengan penjara atau dera atau kedua-duanya. Sebagian Ulama berkata, “Jika seseorang berbuka puasa Ramadhân dengan sengaja tanpa udzur, dia menjadi kafir”. [Ilmâm bi Syai-in min Ahkâmis Shiyâm, hlm. 1]

ANCAMAN MENINGGALKAN PUASA RAMADHAN TANPA UDZUR

Bagia mereka orang yang meninggalkan atau meremehkan puasa Ramadhan akan mendapatkan siksa yang pedih di akhirat.

Di antara hadits dan riwayat tentang bab ini adalah :

عَنْ أَبْي أُمَامَةَ الْبَاهِلِىِّ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ : بَيْنَا أَنَا نَائِمٌ إِذْ أَتَانِى رَجُلاَنِ فَأَخَذَا بِضَبْعَىَّ فَأَتَيَا بِى جَبَلاً وَعْرًا فَقَالاَ لِىَ : اصْعَدْ فَقُلْتُ : إِنِّى لاَ أُطِيقُهُ فَقَالاَ : إِنَّا سَنُسَهِّلُهُ لَكَ فَصَعِدْتُ حَتَّى إِذَا كُنْتُ فِى سَوَاءِ الْجَبَلِ إِذَا أَنَا بَأَصْوَاتٍ شَدِيدَةٍ فَقُلْتُ : مَا هَذِهِ الأَصْوَاتُ قَالُوا : هَذَا عُوَاءُ أَهْلِ النَّارِ ، ثُمَّ انْطُلِقَ بِى فَإِذَا أَنَا بِقَوْمٍ مُعَلَّقِينَ بِعَرَاقِيبِهِمْ مُشَقَّقَةٌ أَشْدَاقُهُمْ تَسِيلُ أَشْدَاقُهُمْ دَمًا قَالَ قُلْتُ : مَنْ هَؤُلاَءِ قَالَ : هَؤُلاَءِ الَّذِينَ يُفْطِرُونَ قَبْلَ تَحِلَّةِ صَوْمِهِمْ

Dari Abu Umâmah al-Bâhili, dia berkata:
Aku mendengar Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ketika aku sedang tidur, tiba-tiba ada dua laki-laki yang mendatangiku, keduanya memegangi kedua lenganku, kemudian membawaku ke sebuah gunung terjal. Keduanya berkata kepadaku, “Naiklah!” Aku menjawab, “Aku tidak mampu”. Keduanya berkata, “Kami akan memudahkannya untukmu”. Maka aku naik. Ketika aku berada di tengah gunung itu, tiba-tiba aku mendengar suara-suara yang keras, maka aku bertanya, “Suara apa itu?” Mereka menjawab, “Itu teriakan penduduk neraka”. Kemudian aku dibawa, tiba-tiba aku melihat sekelompok orang tergantung (terbalik) dengan urat-urat kaki mereka (di sebelah atas), ujung-ujung mulut mereka sobek mengalirkan darah. Aku bertanya, “Mereka itu siapa?” Mereka menjawab, “Meraka adalah orang-orang yang berbuka puasa sebelum waktunya”.
[HR. Nasâ’i dalam as-Sunan al-Kubra]

Di dalam sebuah hadits diriwayatkan:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَفْطَرَ يَوْمًا مِنْ رَمَضَانَ فِي غَيْرِ رُخْصَةٍ رَخَّصَهَا اللَّهُ لَهُ فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ الدَّهْرَ كُلَّهُ

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dia berkata,
Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa berbuka sehari dari (puasa) bulan Ramadhân bukan dengan (alasan) keringanan yang Allâh berikan kepadanya, maka tidak akan diterima darinya (walaupun dia berpuasa) setahun semuanya. [HR. Ahmad, no. 9002; Abu Dâwud, no. 2396; Ibnu Khuzaimah, no.1987; dll]

Namun hadits didha’ifkan oleh Imam Ibnu Khuzaimah, syaikh Syu’aib al-Arnauth, syaikh al-Albani, dan lainnya, karena ada perawi yang tidak dikenal yang bernama Ibnul Muqawwis.

Walaupun hadits ini lemah secara marfû’ (riwayat dari Nabi) akan tetapi banyak riwayat dari para sahabat yang menguatkannya.

Diriwayatkan dari Abdulah bin Mas’ûd Radhiyallahu anhu bahwa dia berkata:

مَنْ أَفْطَرَ يَوْمًا مِنْ رَمَضَانَ مِنْ غَيْرِ رُخْصَةٍ لَقِيَ اللَّهَ بِهِ، وَإِنْ صَامَ الدَّهْرَ كُلَّهُ، إِنْ شَاءَ غَفَرَ لَهُ، وَإِنْ شَاءَ عَذَّبَهُ

"Barangsiapa berbuka sehari dari (puasa) bulan Ramadhân dengan tanpa keringanan, dia bertemu Allâh dengannya, walaupun dia berpuasa setahun semuanya, (namun) jika Allâh menghendaki, Dia akan mengampuninya, dan jika Allâh menghendaki, Dia akan menyiksanya”. [Riwayat Thabarani, no. 9459]

Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thâlib Radhiyallahu anhu, bahwa dia berkata:

مَنْ أَفْطَرَ يَوْمًا مِنْ رَمَضَانَ مُتَعَمِّدًا لَمْ يَقْضِهِ أَبَدًا طُولُ الدَّهْرِ

"Barangsiapa berbuka sehari dari (puasa) bulan Ramadhân dengan sengaja, berpuasa setahun penuh tidak bisa menggantinya”. [Riwayat Ibnu Hazm dalam al-Muhalla, 6/184]

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwa ada seorang laki-laki berbuka di bulan Ramadhân dia berkata :

لاَ يُقْبَلُ مِنْهُ صَوْمُ سَنَةٍ

"Berpuasa setahun penuh tidak bisa menggantinya. [Riwayat Ibnu Hazm dalam al-Muhalla, 6/184]

Bahkan sahabat Ali bin Abi Thâlib memberikan hukuman dera (pukulan) kepada orang yang berbuka di bulan Ramadhân, sebagaimana disebutkan di dalam riwayat :

عَنْ عَطَاءِ بْنِ أَبِي مَرْوَانَ، عَنْ أَبِيهِ: أَنَّ عَلِيَّ بْنَ أَبِي طَالِبٍ أُتِيَ بِالنَّجَاشِيِّ قَدْ شَرِبَ الْخَمْرَ فِي رَمَضَانَ, فَضَرَبَهُ ثَمَانِينَ, ثُمَّ ضَرَبَهُ مِنْ الْغَدِ عِشْرِينَ, وَقَالَ: ضَرَبْنَاكَ الْعِشْرِينَ لِجُرْأَتِكَ عَلَى اللَّهِ وَإِفْطَارِكَ فِي رَمَضَانَ.

Dari Atha’ bin Abi Maryam, dari bapaknya, bahwa An-Najasyi dihadapkan kepada Ali bin Abi Thâlib, dia telah minum khamr di bulan Ramadhân. Ali memukulnya 80 kali, kemudian esoknya dia memukulnya lagi 20 kali. Ali berkata, “Kami memukulmu 20 kali karena kelancanganmu terhadap Allâh dan karena engkau berbuka di bulan Ramadhân”. [Riwayat Ibnu Hazm di dalam al-Muhalla, 6/184]

HUKUMAN UNTUK ORANG MENINGGALKAN PUASA RAMADHAN

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditunjukkan oleh Allah melalui malaikatNya, bagaimana siksa neraka untuk orang-orang yang tidak berpuasa.

Dalam sebuah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban, Rasulullah bersabda tentang satu kondisi penghuni neraka yang dilihatkan kepada beliau:

فإذا أنا بقوم معلقين بعراقيبهم مشققة أشداقهم تسيل أشداقهم دما قال قلت : من هؤلاء ؟ قال : هؤلاء الذين يفطرون قبل تحلة صومهم

Aku melihat orang-orang yang tergantung di tumit-tumit mereka, tulang rahang mereka pecah dan meneteskan darah. Aku bertanya, ‘Siapa mereka?’ Dia menjawab, ‘Orang-orang yang berbuka sebelum halal bagi mereka untuk berbuka’” (HR. Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban)

Dalam Shahih At Targhib wa At Tarhib dijelaskan bahwa maksud orang-orang yang berbuka sebelum halal bagi mereka untuk berbuka adalah berbuka sebelum waktunya. Secara umum, maksudnya adalah tidak berpuasa. Karenanya bab hadits ini diberi judul “Ancaman tidak berpuasa di bulan Ramadhan tanpa udzur.”

Demikianlah ancaman siksa neraka untuk orang yang tidak berpuasa. Sedangkan bagi umat Islam yang berpuasa atas landasan iman dan semata mengharap pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, Dia akan memberikan ampunan untuk dosa-dosa hamba tersebut yang telah lalu.

Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan atas landasan iman dan mengharap pahala dari sisi Allah, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Selain itu, bagi umat Islam yang menunaikan puasa, Allah menyediakan kegembiraan ketika kelak hamba tersebut berjumpa denganNya. Allah juga menyediakan satu pintu khusus di surga bernama Ar Rayan bagi hamba-hambaNya yang ahli puasa.

WALLOHUA'LAM BISSHOWAB

Hukum dan Azab Bagi Orang yang Tidak Puasa Ramadhan