Social Items

Pelit atau Bakhil merupakan perbuatan yang sangat dibenci oleh Allah dan Rasul-nya. Kita sebagai hamba Allah yang beriman sangat dianjurkan untuk tidak Pelit atau Bakhil pada sesama.

Rasulullah pernah mensabdakan, salah satu diantara tiga hal yang membinasakan adalah pelit alias bakhil.

“Tiga perkara yang membinasakan: rasa pelit yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dan ujubnya seseorang terhadap dirinya sendiri” (HR. Thabrani)

Alloh SWT berfirman :

“Dan jangan sekali-kali orang-orang yang kikir dengan apa yang diberikan Allah kepada mereka dari karunia-Nya, mengira kikir itu baik bagi mereka, padahal kikir itu buruk bagi mereka. Harta yang mereka kikirkan itu akan dikalungkan di lehernya pada hari kiamat. Milik Allah-lah warisan apa yang ada di langit dan dibumi. Allah Maha teliti terhadap apa  yang kamu kerjakan.”
(QS. Ali Imran [3]: 180)

Maksudnya Allah SWT menjadikan harta yang mereka kikirkan itu akan dikalungkan dileher mereka, mereka disiksa pada hari Kiamat dengan harta yang mereka miliki. Hal ini sebagaimana yang disebutkan dalam kitab shahih Al-Bukhari:

“Barangsiapa yang diberi Allah SWT harta dan ia tidak menunaikan zakatnya, maka akan diperumpamakan baginya pada hari kiamat seekor ular yang besar, memiliki dua titik, lalu ular itu mencengkeramnya dengan kedua rahangnya, kemudian ular itu berkata: “Aku adalah hartamu, akulah harta simpananmu.” Kemudian Rasulullah SAW membacakan ayat:

“Dan jangan sekali-kali orang-orang yang kikir dengan apa yang diberikan Allah kepada mereka dari karunia-Nya, mengira kikir itu baik bagi mereka, padahal kikir itu buruk bagi mereka. Harta yang mereka kikirkan itu akan dikalungkan di lehernya pada hari kiamat. Milik Allah-lah warisan apa yang ada di langit dan dibumi. Allah Maha teliti terhadap apa  yang kamu kerjakan.”
(QS. Ali Imran [3]: 180)

Allah SWT berfirman:

“Ketika Allah memberikan kepada mereka sebagian dari karunia-Nya, mereka menjadi kikir dan berpaling dan selalu menentang kebenaran.”
(QS. At-Taubah [9]: 76)

Maksudnya; ketika Allah SWT memberikan rezeki kepada mereka dan mencukupkan mereka dengan karunia-Nya akan tetapi mereka justru kikir, mereka tidak mau berinfak dan mereka melanggar perjanjian serta berpaling dari ketaatan kepada Allah SWT dan Rasul-Nya.

“Siapa saja yang kikir dan merasa dirinya cukup (kaya) tidak perlu pertolongan Allah dan mendustakan pahala yang terbaik. Maka akan Kami mudahkan baginya jalan menuju kesukaran (kesengsaraan). Serta mendustakan pahala terbaik. Maka kelak Kami akan menyiapkan baginya jalan yang sukar.”
(QS. Al-Lail [8]: 8-10)

Maksudanya; “yaitu orang yang kikir terhadap hartanya dan merasa cukup sehingga tidak butuh kepada Allah SWT, mendustakan surga dan kenikmatannya, maka akan Kami siapkan baginya jalan menuju kesulitan yaitu kehidupan yang buruk di dunia dan akhirat. Itulah jalan  kejahatan.”

Para ahi tafsir berkata;

“Jalan kebaikan dinamakan dengan jalan kemudahan, karena jalan itu berakhir dengan kemudahan yaitu masuk ke dalam surga tempat segala kenikmatan. Sementara jalan kejahatan itu dinamakan dengan kesulitan karena ia akan berakhir dengan kesulitan yaitu masuk ke dalam neraka.”

“Sekiranya Allah meminta harta kalian, maka Allah akan terus menuntut kalian untuk memberikan harta itu, sehingga kalian menjadi kikir. Allah akan menampakkan kedengkian (kebencian) kalian untuk berderma.”
(QS. Muhammad [47]: 31)

‘Sekiranya Allah meminta harta kalian, maka Allah akan terus menuntut kalian untuk memberikan harta itu, sehingga kalian menjadi kikir, maksudnya; jika Allah meminta semua harta kamu, permintaan itu tampak bagimu terlalu berlebihan dan meski Allah terus meminta agar kamu menginfakkannya, maka pastilah kamu kikir. Dan Allah akan menampakkan kedengkianmu (kebencian). Maksudnya Allah akan mengungkap dan memperlihatkan kepada orang lain apa yang ada didalam hati kamu, seperti sifat kikir dan tidak mau berinfak.’

Dan siapa yang kikir sesungguhnya dia hanyalah kikir terhadap dirinya sendiri:
“Maksudnya, barangsiapa yang kikir tidak mau berinfak di jalan Allah SWT, maka bahaya kikirnya itu akan mengancam untuk dirinya sendiri.”

Ash-Shawi berkata;

“Kata bukhl (kikir) itu adalaah kata kerja yang membutuhkan objek dengan tambahan huruf ala, jika berarti kikir. Dengan huruf an, jika berarti menahan.”

Dan Allah-lah yang Maha kaya sedangkan kemulah orang-orang yang berkehendak (kepada-Nya). Maksudnya Allah SWT tidak butuh terhadap infak kamu, ia tidak perlu kepada harta kamu, akan tetapi sesungguhnya kamulah yang membutuhkan-Nya.

Dan jika kamu berpaling niscaya Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain, maksudnya; yaitu kamu berpaling dari ketaatan kepada-Nya dan tidak mengikuti perintah-perintah-Nya, maka Allah akan mengganti kamu dengan kaum yang lain yang lebih taat kepada-Nya daripada kamu.

“Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak mau menginfakkan di jalan Allah, maka berikanlah kabar gembira kepada mereka, bahwa mereka akan mendapat azab yang pedih. Ingatlah Pada hari ketika emas dan perak dipanaskan dalam neraka Jahanam, lalu dengan itu disetrika dahi, lambung dan punggung mereka; “Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah akibat dari apa yang kamu simpan itu.”
(QS. At-Taubah [9]: 35)

Ibnu Mas’ud berkata;

“Keadaanya bukan dinar ditumpak-tumpuk pun buka dirham ditumpuk-tumpuk. Tetapi masing-masing dinar dan dirham dihamparkan yang mana kulitnya telah dilebarkan sedemikain rupa sehingga masing-masing dinar dan dirham mengambil tempatnya.”

Jika ada yang bertanya mengapa khusus dahi, lambung dan punggung yang terkena siksaan ini, maka jawabnya adalah;
“Apabila seorang hartawan yang kikir melihat orang fakir pastilah masam mukanya, ia lebarkan dahinya, lalu berpaling (menarik) lambung ke samping. Dan jika orang fakir tadi mendekatinya niscaya dia akan membelakanginya (menampakkan punggungnya).”

Abu Bakar Ash Siddiq menggambarkan tujuh bahaya kikir :

1» Orang kikir akan meninggalkan hartanya itu pada ahli waris yang tidak mampu mengurusnya, sehingga harta itu akan dihambur-hamburkan untuk sesuatu yang tidak bermanfaat.
2» Harta yang ditinggalkannya itu dirampas oleh penguasa yang dzalim.
3» Hartanya untuk melampiaskan keinginan nafsu seksualnya hingga ludes.
4» Hartanya dipergunakan untuk membangun sesuatu yang rapuh, kemudian roboh.
5» Hartanya habis karena dicuri, terbakar atau sebab-sebab musibah lainnya.
6» Hartanya yang tidak bermanfaat itu semata-mata hanya untuk biaya berobat dirinya yang menderita penyakit kronis.
7» Hartanya itu hilang karena disimpan di suatu tempat yang mana dia lupa tempat penyimpanannya.

DOA MALAIKAT PADA SESEORANG YANG BAKHIL

Imam al-Bukhari dan Imam Muslim telah meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيْهِ إِلاَّ مَلَكَانِ يَنْزِلاَنِ فَيَقُوْلُ أَحَدُهُمَا: اَللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا، وَيَقُوْلُ اْلآخَرُ: اَللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا.

‘Tidak satu hari pun dimana seorang hamba berada padanya kecuali dua Malaikat turun kepadanya. Salah satu di antara keduanya berkata, ‘Ya Allah, berikanlah ganti  bagi orang yang berinfak.’ Sedangkan yang lainnya berkata, ‘Ya Allah, hancurkanlah harta orang yang kikir.'”

Al-Malla ‘Ali al-Qari berkata di dalam syarah hadits ini, “Yang dimaksud dengan ‘kikir’ di sini adalah pelit memberikan kebaikan atau harta bagi yang lainnya.”

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Adapun do’a dengan dihancurkan mempunyai makna bahwa harta itu sendiri yang hancur atau pemilik harta tersebut, maksudnya adalah hilangnya kebaikan karena sibuk dengan yang lainnya.”

Para Imam, yaitu Imam Ahmad, Ibnu Hibban, dan al-Hakim meriwayatkan dari Abud Darda’ Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

مَا طَلَعَتْ شَمْسٌ قَطُّ إِلاَّ بُعِثَ بِجَنْبَتَيْهَا مَلَكَانِ يُنَادِيَانِ يُسْمِعَانِ أَهْلَ اْلأَرْضِ إِلاَّ الثَّقَلَيْنِ، يَا أَيُّهَا النَّاسُ هَلُمُّوْا إِلَى رَبِّكُمْ فَإِنَّ مَا قَلَّ وَكَفَى خَيْرٌ مِمَّا كَثُرَ وَأَلْهَى وَلاَ آبَتْ شَمْسٌ قَطٌّ إِلاَّ بُعِثَ بِجَنْبَتَيْهَا مَلَكَانِ يُنَادِيَانِ يُسْمِعَانِ أَهْلَ اْلأَرْضِ إِلاَّ الثَّقَلَيْنِ، اَللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا وَأَعْطِ مُمْسِكًا مَالاً تَلَفًا.

“Tidaklah matahari terbit kecuali diutus di dua sisinya dua Malaikat yang berseru. Semua penduduk bumi mendengarkannya kecuali jin dan manusia, mereka berdua berkata, ‘Wahai manusia menghadaplah kalian kepada Rabb kalian, karena yang sedikit dan cukup itu tentu lebih baik daripada yang banyak tetapi dipakai untuk foya-foya, dan tidaklah matahari terbenam kecuali diutus di antara dua sisinya dua Malaikat yang berseru, semua penduduk bumi mendengarkannya kecuali jin dan manusia, mereka berdua berkata: ‘Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak dan hancurkanlah harta orang yang pelit.’”

Dua Imam, yaitu Ahmad dan Ibnu Hibban meriwayatkan dari Abi Hurairah Radhiyallahu anhu, dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

إِنَّ مَلَكًا بِبَابٍ مِنْ أَبْوَابِ السَّمَاءِ يَقُوْلُ: مَنْ يُقْرِضِ الْيَوْمَ يُجْزَى غَدًا، وَمَلَكًا بِبَابِ آخَرَ يَقُوْلُ: اَللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا وَعَجِّّلْ لِمُمْسِكٍ تَلَفًا.

“Sesungguhnya seorang Malaikat yang ada di sebuah pintu dari pintu-pintu langit, berkata: ‘Barangsiapa meminjamkan pada hari ini, maka akan dibalas pada hari nanti.’ Dan seorang Malaikat lagi yang berada pada pintu yang lain berkata, ‘Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak dan percepatlah kehancuran harta orang yang pelit.’”

BAHAYA SIFAT PELIT (KIKIR)

Dijauhi Teman Dan Sanak Saudara

Kerugian berupa miskin teman dan renggangnya hubungan kekerabatan. Orang yang kikir akan dijauhi, karena orang menganggap tidak ada untungnya bergaul dengan orang yang kikir dan bakhil, bahkan sifat itu akan membinasakan dirinya dan orang lain. Nabi SAW bersabda:
“Jauhilah oleh kalian sifat kikir, karena sifat itulah yang membinasakan orang-orang sebelum kalian. Sifat kikir menyuruh mereka berlaku zhalim, maka merekapun berlaku zhalim. Kikir menyuruh mereka memutus kekerabatan, merekapun memutusnya.”
(HR Abu Dawud)

Adalah Qais bin Saad bin Ubadah RA dikenal sebagai orang yang suka berderma. “Suatu hari beliau sakit, namun teman-temannya tak kunjung menjenguknya. Beliau merasa penasaran, lalu mencari tahu tentang sebabnya. Hingga kemudian diperoleh kabar jawaban, bahwa mereka malu untuk datang karena masih punya tanggungan hutang kepada beliau. Beliau berkata; “Alangkah buruknya harta yang menghalangi seseorang untuk menjenguk saudaranya.” Lalu beliau menyuruh orang untuk mengumumkan bahwa siapapun yang memiliki beban hutang kepada Qais, maka diputihkan dan dianggap lunas. Maka sore harinya daun pintunya rusak lantaran banyaknya orang yang menjenguk beliau.” Sungguh beruntung orang yang terhindar dari sifat kikir dan bakhil.

Miskin Pahala

Sifat kikir menyebabkan seseorang miskin pahala kebaikan.
Dan ini yang paling parah, karena sifat ini merusak hasrat dan motivasi akhirat, menjauhkan pemiliknya dari keberuntungan yang hakiki dan abadi. Hasratnya hanya tertuju untuk dunia yang hina dan fana. Maka kelak, sebagai balasan bagi mereka, lihat ayat diatas at-Taubah: 35

Menimbulkan Sifat Munafik

Allah Ta’ala berfirman yang artinya:
“Maka setelah Allah memberikan sebagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling dan  memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran), maka Allah menimbulkan kemunafikan pada hati mereka sampai mereka menemui Allah.”
(QS. At-Taubah: 76-77)

Menimbulkan Kesengsaraan

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda:
“Beramallah, karena setiap sesuatu akan dimudahkan terhadap apa-apa yang diciptakan pada-Nya. Barangsiapa dari ahli kesengsaraan maka dimudahkan beramal seperti amalan orang-orang yang sengsara.”
(HR. Bukhari)

Imam An-Nawawi rahimahullah berkata:
“Maka apa-apa yang melebihi hajat manusia dan keluarganya, menahannya adalah suatu keburukan. Jika ia enggan melaksanakan kewajiban, maka dia berhak mendapatkan siksaan. Dan jika enggan melakukan hal-hal Sunnah maka dapat mengurangi pahalanya serta menghilangkan mashlahat dunia dan akhirat.”
(Syarah shahih Muslim oleh Imam Nawawi)

Menimbulkan Kehancuran

Dari Jabir bin Abdillah radiyaallahu ‘anhu, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam  bersabda:
“Takutlah dari sifat kikir, karena kikir dapat menghancurkan apapun, sebelum kamu membawa pada pertumpahan darah dan menghalalkan apa-apa yang diharamkan.“
(HR. Muslim)

Al-Qadhi rahimahullah berkata:
“Kerusakan disini bisa mencakup dunia dan akhirat.”
(Syarah shahih Muslim oleh Nawawi)

Dimurkai Allah SWT

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda:
“Tiga golongan yang dibenci Allah: Orang tua yang berzina, orang bakhil dan orang yang sombong.”
(HR. Ibnu Hibban)

Terhalang Dari Kenikmatan

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda:
“Dan tidaklah ada kaum yang menolak membayar zakat, kecuali Allah yang menghalangi turunnya hujan.”
(HR. Al-Hakim, shahih)

Menimbulkan kegelisahan dan kegundahan

Kekikiran akan menyebabkan seseorang tenggelam dalam dosa dan kehinaan, baik kecil maupun besar, dzahir maupun batin, akan mendapat akibat dari perbuatannya di dunia sebelum akhirat. Allah berfirman yang artinya:
“Barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit.”
(QS. Toha: 124)

Imam Ibnu Qayyim rahimahullah berkata:
“Kekikiran menghalangi seseorang dari ditimpa kesempitan hati, jauh dari kelapangan dan kegembiraan, banyak ditimpa kecemasan dan kesedihan dan tidak ditolong untuk bisa memenuhi hajatnya.”
(Al- Wabil As-sho’ib oleh Ibnu Qoyyim dan juga dalam kitabnya Zadul Ma’ad)

AZAB PEDIH ORANG KIKIR (PELIT)

“…Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih,” (QS. At-Taubah ayat 34)

Dibakar dahi, lambung, dan punggungnya dengan emas dan perak yang mereka simpan

Sahabat, pernahkah merasakan ada anggota tubuh yang terbakar? Mungkin karena terkena sundutan rokok, tersetrum listrik, terkena hotplate, atau bahkan karena tersenggol setrikaan. Bagaimana rasanya saat benda panas tersebut mengenai kulit kita? Sensasi membakar yang tak hilang selama beberapa waktu tentunya memberi efek kejut luar biasa bukan?

Bayangkanlah orang-orang bakhil kelak dibakar dahi, lambung, dan punggungnya dengan menggunakan emas dan perak yang dipanaskan. Terbayang bagaimana rasanya? Na’udzubillah min dzalik, semoga kita takkan merasakan siksaan demikian.

“Pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: “Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu”.” (QS. At-Taubah : 35)

Dibakar selama 50.000 tahun

Sahabat, terbakar api selama beberapa menit saja sudah membuat kulit kita hangus dan benar-benar menyakitkan, lantas apa yang terjadi pada orang bakhil yang masuk neraka kemudian disiksa bakar selama 50.000 tahun lamanya?

“Sesungguhnya pemilik emas dan perak yang tidak membayarkan kewajibannya, benar-benar di hari kiamat nanti harta itu akan menjadi potongan-potongan berupa api neraka, lalu membakar pemiliknya di atas neraka jahannam. Lalu diletakkan pada dahinya, pinggang dan punggungnya. Setiap panasnya berkurang maka akan diganti dengan panas yang seperti semula, hal itu berjalan selama kurang lebih 50.000 tahun, sampai Allah memberi keputusan atas manusia, lalu ketika itu dia akan mengetahui apakah ia akan masuk ke dalam neraka lagi atau tidak (dimasukkan ke surga).”

Kemudian di waktu itu ada salah seorang sahabat bertanya kepada Nabi Shalallaahu ‘Alaihi Wassalam: “Wahai Rasulullah, bagaimana haknya dengan pemilik unta?” Rasul menjawab, “Demikian juga pemilik unta yang tidak membayar kewajibannya, di hari kiamat dia pasti akan dikenakan siksa.” [HR. Bukhori dan Muslim]

 Setiap kulit mereka hangus, Allah akan ganti dengan kulit baru

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab, Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Annisa: 56)

Dalam ilmu dermatologi diketahui bahwa pusat rasa sakit adalah di ujung-ujung syaraf kulit, sehingga luka bakar yang parah pada kulit akan menyebabkan seseorang tak bisa lagi merasakan perihnya luka karena syarafnya hangus. Oleh sebab itulah Allah mengganti kulit yang sudah hangus tersebut dengan kulit baru agar para penghuni neraka itu tetap dapat merasakan panasnya siksa yang membakar.

 Harta yang mereka tahan selama di dunia akan dikalungkan di lehernya

Apa saja kelebihan harta yang kita tahan dan enggan kita infakkan di jalan Allah dengan menyedekahkannya pada kaum dhuafa, maka harta tersebut nantinya akan dikalungkan ke leher pemiliknya, sungguh siksaan yang amat menghinakan.

“Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karuniaNya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Ali ‘Imran: 180)

 Dilempar ke dalam Huthamah yang apinya dapat membakar sampai ke hati

Sungguh berbeda api di dunia ini dengan api neraka kelak di akhirat. Api yang akan membakar orang-orang bakhil ada pada neraka Huthamah, api itu dinyalakan dan dapat membakar tidak hanya bagian terluar tubuh kita, melainkan sampai ke hati. Bisakah membayangkan pedihnya?

“Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela, yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitung (kikir). dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya, sekali-kali tidak! Sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Huthamah. Dan tahukah kamu apa Huthamah itu? (yaitu) api (yang disediakan) Allah, yang dinyalakan yang (membakar) sampai ke hati.” (QS. Al Humazah 1-7)

Wallohua'lam Bisshowab

Marilah kita berdoa, supaya kita dihindarkan dari sifat Kikir/Pelit:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْجُبْنِ ، وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ أُرَدَّ إِلَى أَرْذَلِ الْعُمُرِ ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الدُّنْيَا ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ

“Ya Allah, saya berlindung kepada-Mu dari ketakutan, saya berlindung kepada-Mu dari kikir, saya berlindung kepada-Mu supaya saya tidak dikembalikan ke masa yang paling hina (pikun), saya berlindung kepada-Mu dari siksa dunia dan akhirat.”
(HR. Bukhari 11/181)

« اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ ، وَتَرْكَ الْمُنْكَرَاتِ ، وَحُبَّ الْمَسَاكِينِ ، وَأَنْ تَغْفِرَ لِي وَتَرْحَمَنِي ، وَإِذَا أَرَدْتَ فِتْنَةَ قَوْمٍ فَتَوَفَّنِي غَيْرَ مَفْتُونٍ ، أَسْأَلُكَ حُبَّكَ وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ وَحُبَّ عَمَلٍ يُقَرِّبُ إِلَى حُبِّكَ »

”Ya Allah, saya meminta kepada-Mu melakukan kebaikan, meninggalkan keburukan, mencintai orang miskin. Saya meminta Engkau mengampuni dan mengasihi saya. Jika Engkau hendak memberi ujian pada sebuah umat, maka wafatkanlah saya tanpa terkena ujian. Saya meminta agar Engkau memberi pada saya rasa senang terhadap-Mu, rasa senang terhadap orang yang senang terhadap-Mu, dan senang terhadap amal yang mendekatkan pada rasa senang terhadap-Mu.”
(HR Ahmad 5/243, Turmudzi 5/369, dan Al Hakim 1/521)

Hukum Dan Azab Pedih Orang Pelit, Bakhil dan Kikir di Akhirat

Pelit atau Bakhil merupakan perbuatan yang sangat dibenci oleh Allah dan Rasul-nya. Kita sebagai hamba Allah yang beriman sangat dianjurkan untuk tidak Pelit atau Bakhil pada sesama.

Rasulullah pernah mensabdakan, salah satu diantara tiga hal yang membinasakan adalah pelit alias bakhil.

“Tiga perkara yang membinasakan: rasa pelit yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dan ujubnya seseorang terhadap dirinya sendiri” (HR. Thabrani)

Alloh SWT berfirman :

“Dan jangan sekali-kali orang-orang yang kikir dengan apa yang diberikan Allah kepada mereka dari karunia-Nya, mengira kikir itu baik bagi mereka, padahal kikir itu buruk bagi mereka. Harta yang mereka kikirkan itu akan dikalungkan di lehernya pada hari kiamat. Milik Allah-lah warisan apa yang ada di langit dan dibumi. Allah Maha teliti terhadap apa  yang kamu kerjakan.”
(QS. Ali Imran [3]: 180)

Maksudnya Allah SWT menjadikan harta yang mereka kikirkan itu akan dikalungkan dileher mereka, mereka disiksa pada hari Kiamat dengan harta yang mereka miliki. Hal ini sebagaimana yang disebutkan dalam kitab shahih Al-Bukhari:

“Barangsiapa yang diberi Allah SWT harta dan ia tidak menunaikan zakatnya, maka akan diperumpamakan baginya pada hari kiamat seekor ular yang besar, memiliki dua titik, lalu ular itu mencengkeramnya dengan kedua rahangnya, kemudian ular itu berkata: “Aku adalah hartamu, akulah harta simpananmu.” Kemudian Rasulullah SAW membacakan ayat:

“Dan jangan sekali-kali orang-orang yang kikir dengan apa yang diberikan Allah kepada mereka dari karunia-Nya, mengira kikir itu baik bagi mereka, padahal kikir itu buruk bagi mereka. Harta yang mereka kikirkan itu akan dikalungkan di lehernya pada hari kiamat. Milik Allah-lah warisan apa yang ada di langit dan dibumi. Allah Maha teliti terhadap apa  yang kamu kerjakan.”
(QS. Ali Imran [3]: 180)

Allah SWT berfirman:

“Ketika Allah memberikan kepada mereka sebagian dari karunia-Nya, mereka menjadi kikir dan berpaling dan selalu menentang kebenaran.”
(QS. At-Taubah [9]: 76)

Maksudnya; ketika Allah SWT memberikan rezeki kepada mereka dan mencukupkan mereka dengan karunia-Nya akan tetapi mereka justru kikir, mereka tidak mau berinfak dan mereka melanggar perjanjian serta berpaling dari ketaatan kepada Allah SWT dan Rasul-Nya.

“Siapa saja yang kikir dan merasa dirinya cukup (kaya) tidak perlu pertolongan Allah dan mendustakan pahala yang terbaik. Maka akan Kami mudahkan baginya jalan menuju kesukaran (kesengsaraan). Serta mendustakan pahala terbaik. Maka kelak Kami akan menyiapkan baginya jalan yang sukar.”
(QS. Al-Lail [8]: 8-10)

Maksudanya; “yaitu orang yang kikir terhadap hartanya dan merasa cukup sehingga tidak butuh kepada Allah SWT, mendustakan surga dan kenikmatannya, maka akan Kami siapkan baginya jalan menuju kesulitan yaitu kehidupan yang buruk di dunia dan akhirat. Itulah jalan  kejahatan.”

Para ahi tafsir berkata;

“Jalan kebaikan dinamakan dengan jalan kemudahan, karena jalan itu berakhir dengan kemudahan yaitu masuk ke dalam surga tempat segala kenikmatan. Sementara jalan kejahatan itu dinamakan dengan kesulitan karena ia akan berakhir dengan kesulitan yaitu masuk ke dalam neraka.”

“Sekiranya Allah meminta harta kalian, maka Allah akan terus menuntut kalian untuk memberikan harta itu, sehingga kalian menjadi kikir. Allah akan menampakkan kedengkian (kebencian) kalian untuk berderma.”
(QS. Muhammad [47]: 31)

‘Sekiranya Allah meminta harta kalian, maka Allah akan terus menuntut kalian untuk memberikan harta itu, sehingga kalian menjadi kikir, maksudnya; jika Allah meminta semua harta kamu, permintaan itu tampak bagimu terlalu berlebihan dan meski Allah terus meminta agar kamu menginfakkannya, maka pastilah kamu kikir. Dan Allah akan menampakkan kedengkianmu (kebencian). Maksudnya Allah akan mengungkap dan memperlihatkan kepada orang lain apa yang ada didalam hati kamu, seperti sifat kikir dan tidak mau berinfak.’

Dan siapa yang kikir sesungguhnya dia hanyalah kikir terhadap dirinya sendiri:
“Maksudnya, barangsiapa yang kikir tidak mau berinfak di jalan Allah SWT, maka bahaya kikirnya itu akan mengancam untuk dirinya sendiri.”

Ash-Shawi berkata;

“Kata bukhl (kikir) itu adalaah kata kerja yang membutuhkan objek dengan tambahan huruf ala, jika berarti kikir. Dengan huruf an, jika berarti menahan.”

Dan Allah-lah yang Maha kaya sedangkan kemulah orang-orang yang berkehendak (kepada-Nya). Maksudnya Allah SWT tidak butuh terhadap infak kamu, ia tidak perlu kepada harta kamu, akan tetapi sesungguhnya kamulah yang membutuhkan-Nya.

Dan jika kamu berpaling niscaya Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain, maksudnya; yaitu kamu berpaling dari ketaatan kepada-Nya dan tidak mengikuti perintah-perintah-Nya, maka Allah akan mengganti kamu dengan kaum yang lain yang lebih taat kepada-Nya daripada kamu.

“Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak mau menginfakkan di jalan Allah, maka berikanlah kabar gembira kepada mereka, bahwa mereka akan mendapat azab yang pedih. Ingatlah Pada hari ketika emas dan perak dipanaskan dalam neraka Jahanam, lalu dengan itu disetrika dahi, lambung dan punggung mereka; “Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah akibat dari apa yang kamu simpan itu.”
(QS. At-Taubah [9]: 35)

Ibnu Mas’ud berkata;

“Keadaanya bukan dinar ditumpak-tumpuk pun buka dirham ditumpuk-tumpuk. Tetapi masing-masing dinar dan dirham dihamparkan yang mana kulitnya telah dilebarkan sedemikain rupa sehingga masing-masing dinar dan dirham mengambil tempatnya.”

Jika ada yang bertanya mengapa khusus dahi, lambung dan punggung yang terkena siksaan ini, maka jawabnya adalah;
“Apabila seorang hartawan yang kikir melihat orang fakir pastilah masam mukanya, ia lebarkan dahinya, lalu berpaling (menarik) lambung ke samping. Dan jika orang fakir tadi mendekatinya niscaya dia akan membelakanginya (menampakkan punggungnya).”

Abu Bakar Ash Siddiq menggambarkan tujuh bahaya kikir :

1» Orang kikir akan meninggalkan hartanya itu pada ahli waris yang tidak mampu mengurusnya, sehingga harta itu akan dihambur-hamburkan untuk sesuatu yang tidak bermanfaat.
2» Harta yang ditinggalkannya itu dirampas oleh penguasa yang dzalim.
3» Hartanya untuk melampiaskan keinginan nafsu seksualnya hingga ludes.
4» Hartanya dipergunakan untuk membangun sesuatu yang rapuh, kemudian roboh.
5» Hartanya habis karena dicuri, terbakar atau sebab-sebab musibah lainnya.
6» Hartanya yang tidak bermanfaat itu semata-mata hanya untuk biaya berobat dirinya yang menderita penyakit kronis.
7» Hartanya itu hilang karena disimpan di suatu tempat yang mana dia lupa tempat penyimpanannya.

DOA MALAIKAT PADA SESEORANG YANG BAKHIL

Imam al-Bukhari dan Imam Muslim telah meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيْهِ إِلاَّ مَلَكَانِ يَنْزِلاَنِ فَيَقُوْلُ أَحَدُهُمَا: اَللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا، وَيَقُوْلُ اْلآخَرُ: اَللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا.

‘Tidak satu hari pun dimana seorang hamba berada padanya kecuali dua Malaikat turun kepadanya. Salah satu di antara keduanya berkata, ‘Ya Allah, berikanlah ganti  bagi orang yang berinfak.’ Sedangkan yang lainnya berkata, ‘Ya Allah, hancurkanlah harta orang yang kikir.'”

Al-Malla ‘Ali al-Qari berkata di dalam syarah hadits ini, “Yang dimaksud dengan ‘kikir’ di sini adalah pelit memberikan kebaikan atau harta bagi yang lainnya.”

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Adapun do’a dengan dihancurkan mempunyai makna bahwa harta itu sendiri yang hancur atau pemilik harta tersebut, maksudnya adalah hilangnya kebaikan karena sibuk dengan yang lainnya.”

Para Imam, yaitu Imam Ahmad, Ibnu Hibban, dan al-Hakim meriwayatkan dari Abud Darda’ Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

مَا طَلَعَتْ شَمْسٌ قَطُّ إِلاَّ بُعِثَ بِجَنْبَتَيْهَا مَلَكَانِ يُنَادِيَانِ يُسْمِعَانِ أَهْلَ اْلأَرْضِ إِلاَّ الثَّقَلَيْنِ، يَا أَيُّهَا النَّاسُ هَلُمُّوْا إِلَى رَبِّكُمْ فَإِنَّ مَا قَلَّ وَكَفَى خَيْرٌ مِمَّا كَثُرَ وَأَلْهَى وَلاَ آبَتْ شَمْسٌ قَطٌّ إِلاَّ بُعِثَ بِجَنْبَتَيْهَا مَلَكَانِ يُنَادِيَانِ يُسْمِعَانِ أَهْلَ اْلأَرْضِ إِلاَّ الثَّقَلَيْنِ، اَللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا وَأَعْطِ مُمْسِكًا مَالاً تَلَفًا.

“Tidaklah matahari terbit kecuali diutus di dua sisinya dua Malaikat yang berseru. Semua penduduk bumi mendengarkannya kecuali jin dan manusia, mereka berdua berkata, ‘Wahai manusia menghadaplah kalian kepada Rabb kalian, karena yang sedikit dan cukup itu tentu lebih baik daripada yang banyak tetapi dipakai untuk foya-foya, dan tidaklah matahari terbenam kecuali diutus di antara dua sisinya dua Malaikat yang berseru, semua penduduk bumi mendengarkannya kecuali jin dan manusia, mereka berdua berkata: ‘Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak dan hancurkanlah harta orang yang pelit.’”

Dua Imam, yaitu Ahmad dan Ibnu Hibban meriwayatkan dari Abi Hurairah Radhiyallahu anhu, dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

إِنَّ مَلَكًا بِبَابٍ مِنْ أَبْوَابِ السَّمَاءِ يَقُوْلُ: مَنْ يُقْرِضِ الْيَوْمَ يُجْزَى غَدًا، وَمَلَكًا بِبَابِ آخَرَ يَقُوْلُ: اَللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا وَعَجِّّلْ لِمُمْسِكٍ تَلَفًا.

“Sesungguhnya seorang Malaikat yang ada di sebuah pintu dari pintu-pintu langit, berkata: ‘Barangsiapa meminjamkan pada hari ini, maka akan dibalas pada hari nanti.’ Dan seorang Malaikat lagi yang berada pada pintu yang lain berkata, ‘Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak dan percepatlah kehancuran harta orang yang pelit.’”

BAHAYA SIFAT PELIT (KIKIR)

Dijauhi Teman Dan Sanak Saudara

Kerugian berupa miskin teman dan renggangnya hubungan kekerabatan. Orang yang kikir akan dijauhi, karena orang menganggap tidak ada untungnya bergaul dengan orang yang kikir dan bakhil, bahkan sifat itu akan membinasakan dirinya dan orang lain. Nabi SAW bersabda:
“Jauhilah oleh kalian sifat kikir, karena sifat itulah yang membinasakan orang-orang sebelum kalian. Sifat kikir menyuruh mereka berlaku zhalim, maka merekapun berlaku zhalim. Kikir menyuruh mereka memutus kekerabatan, merekapun memutusnya.”
(HR Abu Dawud)

Adalah Qais bin Saad bin Ubadah RA dikenal sebagai orang yang suka berderma. “Suatu hari beliau sakit, namun teman-temannya tak kunjung menjenguknya. Beliau merasa penasaran, lalu mencari tahu tentang sebabnya. Hingga kemudian diperoleh kabar jawaban, bahwa mereka malu untuk datang karena masih punya tanggungan hutang kepada beliau. Beliau berkata; “Alangkah buruknya harta yang menghalangi seseorang untuk menjenguk saudaranya.” Lalu beliau menyuruh orang untuk mengumumkan bahwa siapapun yang memiliki beban hutang kepada Qais, maka diputihkan dan dianggap lunas. Maka sore harinya daun pintunya rusak lantaran banyaknya orang yang menjenguk beliau.” Sungguh beruntung orang yang terhindar dari sifat kikir dan bakhil.

Miskin Pahala

Sifat kikir menyebabkan seseorang miskin pahala kebaikan.
Dan ini yang paling parah, karena sifat ini merusak hasrat dan motivasi akhirat, menjauhkan pemiliknya dari keberuntungan yang hakiki dan abadi. Hasratnya hanya tertuju untuk dunia yang hina dan fana. Maka kelak, sebagai balasan bagi mereka, lihat ayat diatas at-Taubah: 35

Menimbulkan Sifat Munafik

Allah Ta’ala berfirman yang artinya:
“Maka setelah Allah memberikan sebagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling dan  memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran), maka Allah menimbulkan kemunafikan pada hati mereka sampai mereka menemui Allah.”
(QS. At-Taubah: 76-77)

Menimbulkan Kesengsaraan

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda:
“Beramallah, karena setiap sesuatu akan dimudahkan terhadap apa-apa yang diciptakan pada-Nya. Barangsiapa dari ahli kesengsaraan maka dimudahkan beramal seperti amalan orang-orang yang sengsara.”
(HR. Bukhari)

Imam An-Nawawi rahimahullah berkata:
“Maka apa-apa yang melebihi hajat manusia dan keluarganya, menahannya adalah suatu keburukan. Jika ia enggan melaksanakan kewajiban, maka dia berhak mendapatkan siksaan. Dan jika enggan melakukan hal-hal Sunnah maka dapat mengurangi pahalanya serta menghilangkan mashlahat dunia dan akhirat.”
(Syarah shahih Muslim oleh Imam Nawawi)

Menimbulkan Kehancuran

Dari Jabir bin Abdillah radiyaallahu ‘anhu, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam  bersabda:
“Takutlah dari sifat kikir, karena kikir dapat menghancurkan apapun, sebelum kamu membawa pada pertumpahan darah dan menghalalkan apa-apa yang diharamkan.“
(HR. Muslim)

Al-Qadhi rahimahullah berkata:
“Kerusakan disini bisa mencakup dunia dan akhirat.”
(Syarah shahih Muslim oleh Nawawi)

Dimurkai Allah SWT

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda:
“Tiga golongan yang dibenci Allah: Orang tua yang berzina, orang bakhil dan orang yang sombong.”
(HR. Ibnu Hibban)

Terhalang Dari Kenikmatan

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda:
“Dan tidaklah ada kaum yang menolak membayar zakat, kecuali Allah yang menghalangi turunnya hujan.”
(HR. Al-Hakim, shahih)

Menimbulkan kegelisahan dan kegundahan

Kekikiran akan menyebabkan seseorang tenggelam dalam dosa dan kehinaan, baik kecil maupun besar, dzahir maupun batin, akan mendapat akibat dari perbuatannya di dunia sebelum akhirat. Allah berfirman yang artinya:
“Barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit.”
(QS. Toha: 124)

Imam Ibnu Qayyim rahimahullah berkata:
“Kekikiran menghalangi seseorang dari ditimpa kesempitan hati, jauh dari kelapangan dan kegembiraan, banyak ditimpa kecemasan dan kesedihan dan tidak ditolong untuk bisa memenuhi hajatnya.”
(Al- Wabil As-sho’ib oleh Ibnu Qoyyim dan juga dalam kitabnya Zadul Ma’ad)

AZAB PEDIH ORANG KIKIR (PELIT)

“…Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih,” (QS. At-Taubah ayat 34)

Dibakar dahi, lambung, dan punggungnya dengan emas dan perak yang mereka simpan

Sahabat, pernahkah merasakan ada anggota tubuh yang terbakar? Mungkin karena terkena sundutan rokok, tersetrum listrik, terkena hotplate, atau bahkan karena tersenggol setrikaan. Bagaimana rasanya saat benda panas tersebut mengenai kulit kita? Sensasi membakar yang tak hilang selama beberapa waktu tentunya memberi efek kejut luar biasa bukan?

Bayangkanlah orang-orang bakhil kelak dibakar dahi, lambung, dan punggungnya dengan menggunakan emas dan perak yang dipanaskan. Terbayang bagaimana rasanya? Na’udzubillah min dzalik, semoga kita takkan merasakan siksaan demikian.

“Pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: “Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu”.” (QS. At-Taubah : 35)

Dibakar selama 50.000 tahun

Sahabat, terbakar api selama beberapa menit saja sudah membuat kulit kita hangus dan benar-benar menyakitkan, lantas apa yang terjadi pada orang bakhil yang masuk neraka kemudian disiksa bakar selama 50.000 tahun lamanya?

“Sesungguhnya pemilik emas dan perak yang tidak membayarkan kewajibannya, benar-benar di hari kiamat nanti harta itu akan menjadi potongan-potongan berupa api neraka, lalu membakar pemiliknya di atas neraka jahannam. Lalu diletakkan pada dahinya, pinggang dan punggungnya. Setiap panasnya berkurang maka akan diganti dengan panas yang seperti semula, hal itu berjalan selama kurang lebih 50.000 tahun, sampai Allah memberi keputusan atas manusia, lalu ketika itu dia akan mengetahui apakah ia akan masuk ke dalam neraka lagi atau tidak (dimasukkan ke surga).”

Kemudian di waktu itu ada salah seorang sahabat bertanya kepada Nabi Shalallaahu ‘Alaihi Wassalam: “Wahai Rasulullah, bagaimana haknya dengan pemilik unta?” Rasul menjawab, “Demikian juga pemilik unta yang tidak membayar kewajibannya, di hari kiamat dia pasti akan dikenakan siksa.” [HR. Bukhori dan Muslim]

 Setiap kulit mereka hangus, Allah akan ganti dengan kulit baru

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab, Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Annisa: 56)

Dalam ilmu dermatologi diketahui bahwa pusat rasa sakit adalah di ujung-ujung syaraf kulit, sehingga luka bakar yang parah pada kulit akan menyebabkan seseorang tak bisa lagi merasakan perihnya luka karena syarafnya hangus. Oleh sebab itulah Allah mengganti kulit yang sudah hangus tersebut dengan kulit baru agar para penghuni neraka itu tetap dapat merasakan panasnya siksa yang membakar.

 Harta yang mereka tahan selama di dunia akan dikalungkan di lehernya

Apa saja kelebihan harta yang kita tahan dan enggan kita infakkan di jalan Allah dengan menyedekahkannya pada kaum dhuafa, maka harta tersebut nantinya akan dikalungkan ke leher pemiliknya, sungguh siksaan yang amat menghinakan.

“Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karuniaNya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Ali ‘Imran: 180)

 Dilempar ke dalam Huthamah yang apinya dapat membakar sampai ke hati

Sungguh berbeda api di dunia ini dengan api neraka kelak di akhirat. Api yang akan membakar orang-orang bakhil ada pada neraka Huthamah, api itu dinyalakan dan dapat membakar tidak hanya bagian terluar tubuh kita, melainkan sampai ke hati. Bisakah membayangkan pedihnya?

“Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela, yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitung (kikir). dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya, sekali-kali tidak! Sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Huthamah. Dan tahukah kamu apa Huthamah itu? (yaitu) api (yang disediakan) Allah, yang dinyalakan yang (membakar) sampai ke hati.” (QS. Al Humazah 1-7)

Wallohua'lam Bisshowab

Marilah kita berdoa, supaya kita dihindarkan dari sifat Kikir/Pelit:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْجُبْنِ ، وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ أُرَدَّ إِلَى أَرْذَلِ الْعُمُرِ ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الدُّنْيَا ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ

“Ya Allah, saya berlindung kepada-Mu dari ketakutan, saya berlindung kepada-Mu dari kikir, saya berlindung kepada-Mu supaya saya tidak dikembalikan ke masa yang paling hina (pikun), saya berlindung kepada-Mu dari siksa dunia dan akhirat.”
(HR. Bukhari 11/181)

« اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ ، وَتَرْكَ الْمُنْكَرَاتِ ، وَحُبَّ الْمَسَاكِينِ ، وَأَنْ تَغْفِرَ لِي وَتَرْحَمَنِي ، وَإِذَا أَرَدْتَ فِتْنَةَ قَوْمٍ فَتَوَفَّنِي غَيْرَ مَفْتُونٍ ، أَسْأَلُكَ حُبَّكَ وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ وَحُبَّ عَمَلٍ يُقَرِّبُ إِلَى حُبِّكَ »

”Ya Allah, saya meminta kepada-Mu melakukan kebaikan, meninggalkan keburukan, mencintai orang miskin. Saya meminta Engkau mengampuni dan mengasihi saya. Jika Engkau hendak memberi ujian pada sebuah umat, maka wafatkanlah saya tanpa terkena ujian. Saya meminta agar Engkau memberi pada saya rasa senang terhadap-Mu, rasa senang terhadap orang yang senang terhadap-Mu, dan senang terhadap amal yang mendekatkan pada rasa senang terhadap-Mu.”
(HR Ahmad 5/243, Turmudzi 5/369, dan Al Hakim 1/521)

No comments:

Post a Comment

Berkomentarlah Dengan baik dan sopan agar tidak terjadi hal-hal yang membuat orang lain gagal paham

Subscribe Our Newsletter

Notifications

Disqus Logo