Thursday, May 31, 2018

Kisah Cerita Wafatnya Khalifah Abu Bakar As Siddiq

Загрузка...
Setelah Nabi Muhammad wafat, Abu Bakar menjadi khalifah Islam yang pertama pada tahun 632 hingga tahun 634 Masehi. Lahir dengan nama asli Abdul ka'bah bin Abi Quhafah.

Penyebab Kematian Abu Bakar As Siddiq

Beliau adalah satu di antara empat khalifah yang diberi gelar Khulafaur Rasyidin atau khalifah yang diberi petunjuk. Abu Bakar menjadi Khalifah selama 2 tahun, 2 bulan, dan 14 hari sebelum meninggal terkena penyakit.

Abu Bakar meninggal pada tanggal 23 Agustus 634 di kota Madinah karena sakit yang dideritanya pada usia 61 tahun. Abu Bakar dimakamkan di rumah putrinya Aisyah di dekat Masjid Nabawi, di samping makam Nabi Muhammad SAW.

Penyebab kematian Abu Bakar Ash-Shiddiq masih diperselisihkan. Ada yang mengatakan bahwa karena dia mandi dengan air yang sangat dingin yang menyebabkannya menderita demam, sehingga menyebabkan ia sakit yang membawanya wafat. Inilah yang menjadi penyebab kematiannya. Dikatakan pula bahwa penyebab kematiannya adalah racun yang disembunyikan oleh orang Yahudi sehingga jatuh sakit selama lima belas hari.


Kejadian ini tidak jauh berbeda dari orang-orang yang membunuh para nabi, yang berusaha membunuh Nabi Isa AS dan Nabi Muhammad SAW yang dilakukan sebanyak tiga kali. Mereka juga menghembuskan berbagai fitnah dan mencari-cari sebab untuk membunuh Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Thalhah dan Zubair.

Pada suatu hari saat ABu Bakar Ash-Shiddiq masih terbaring lemah karena sakit, Aisyah datang menemui bapaknya dan menangis. Abu Bakar Ash-Shiddiq pun melarangnya. Aisyah kemudian duduk di dekat bapaknya seraya membacakan beberapa syair tentang duka cita. Abu Bakar lalu berkata. "Wahai Aisyah bacalah firman Allah berikut :

"Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari daripadanya. Dan ditiuplah sangkakala. Itulah hari terlaksananya ancaman". (QS Qaaf  50:19-20).

Tatkala sakit Abu Bakar Ash-Shiddiq semakin parah, dia mulai bermusyawarah dengan para sahabat tentang penggantinya, yakni Umar bin Khattab. Abu Bakar bertanya kepada Abdurrahman bin Auf dan dijawab, "Dia lebih baik dari apa yang engkau perkirakan wahai Khalifah Rasulullah." Abu Bakar kemudian bertanya kepada Utsman bin Affan dan dia menjawab, "Menurut pengetahuanku, apa yang tersembunyi darinya lebih baik dari apa yang tampak darinya.

Abu Bakar Ash-Shiddiq kemudian memanggil Utsman bin Affan dan berkata kepadanya, "Tulislah wahai Utsman, ini perintah Abu Bakar bin Abu Quhafah pada akhir hayatnya, menjelang keluar ruh darinya dan pada permulaan masanya menuju akhirat. Sekiranya orang yang berdusta berkata jujur, orang yang fajir yakin dan orang yang kafir beriman, sungguh aku telah mencari pengganti bagi kalian." Sesudah itu ia pingsang sebelum menyebutkan nama.

Lalu Utsman bin Affan menuliskan: "Telah kucarikan pengganti atas kalian, yaitu Umar bin Khattab." Hal itu lantaran dia khawatir bilamana Khalifah Abu Bakar As-Shiddiq meninggal sebelum menentukan nama sehingga kaum muslimin berselisih mengenai siapakah pengganti sesudahnya. Utsman melakukan hal ini karena dia mengetahui bahwa Abu Bakar telah meminta pendapatnya mengenai penggantinya, yaitu Umar bin Khattab.

Ketika Abu Bakar As-Siddiq telah siuman, dia lantas berkata kepada Utsman bin Affan, "Bacakanlah apa yang telah kau tuliskan." Utsman kemudian membacanya, "Telah kuangkat Umar bin Khattabmenjadi penggantiku bagi kalian." Mendengar hal itu, As-Shiddiq berkata, "Allahu Akbar!, Aku melihat engkau khawatir jika aku meninggal sehingga umat bisa berelisih dan diantara mereka terjadi fitnah, semoga Allah membalasmu dengan kebaikan dari Islam dan Kaum Muslimin, wahai Utsman."

Setelah itu Abu Bakar Ash-Shiddiq mengumpulkan kaum muslimin dan berkata, "Wahai sekalian kaum Muslimin! Sesungguhnya aku hendak menuju negeri akhirat dan keluar dari dunia ini. Sesungguhnya, aku telah memilih untuk kalian sebagaimana yang tertulis di dalam lembaran ini. Maka dengarkan dan taatilah.

Apakah kalian akan menerima seseorang yang telah kumusyawarahkan dengan para sahabat dan kupilihkan untuk kalian?" Mereka menjawab, "Kami ridha!" Ali bin Abu Thalib kemudian berdiri seraya berkata, "Kami tidak ridha kecuali yang akan menjadi penggantinya adalah Umar bin Khattab." Abu Bakar Ash-Shiddiq pun lantas tersenyum dan berkata, "Dia adalah Umar bin Khattab. Maka dengarkanlah dan taatilah dia. Demi Allah, aku tidak mengetahui sesuatu pun tentangnya kecuali kebaikan."

Hari terus berlalu, dalam keadaan sakit Abu Bakar Ash-Shidiq bertanya kepada Umat Muslimin yang datang menjenguknya, "Hari apa ini?" "Senin" jawab mereka. Dia bertanya lagi. "Lalu hari apakah Nabi SAW wafat?" Mereka kembali menjawab, "Senin". Kemudian Ash-Shiddiq berkata, "Ya allah matikanlah aku pada malam ini." Dia bertanya kembali kepada mereka, "Berapakah kain kafan yang dikenakan pada Rasulullah SAW?" Mereka menjawab, "Tiga." Kemudian dia menyuruh orang-orang untuk menyiapkan tiga kain kafan baginya, dan agar kelak dia dimandikan oleh isterinya, Asma' binti Umais.

Kalimat terakhir yang diucapkan oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq sebelum dia wafat adalah, "Matikanlah aku dalam keadaan muslim dan susulkanlah aku bersama orang-orang yang shalih." Ash-Shiddiq meninggal pada waktu malam. Umar bin Khattab kemudian menshalatinya dan seluruh Madinah pun menangis. Dia dikuburkan berdampingan dengan makan Rasulullah SAW.

Suatu ketika Ali bin Abu Thalib pernah berhenti di makam beliau dan berkata, "Semoga Allah merahmatimu, wahai Abu Bakar. Demi Allah, engkau adalah orang pertama yang masuk Islam, yang paling tulus keimanannya, yang paling kokoh pendiriannya, yang paling besar kekayaannya, yang paling menjaga Rasulullah SAW, yang paling bersemangat menegakkan Islam, yang paling penyayang terhadap Kaum Muslimin, dan orang yang paling mirip dengan Rasulullah SAW dalam hal fisik, perilaku, sifat dan ketika memberi petunjuk. Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan dari Islam dan dari Rasulullah.

Engkaulah yang membenarkan Rasulullah saat orang-orang mendustakannya. Engkaulah yang menolongnya saat orang-orang menentang. Engkaulah yang selalu menyertainya saat orang-orang meninggalkannya. Allah menyematkan nama kepadamu di dalam kitab-Nya dengan 'Shiddiq' :

"Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertakwa". (QS Az-Zumar 39:33).


Engkaulah orang yang membenarkannya. Demi Allah, engkau adalah benteng bagi Islam, kekokohan dan azab bagi orang-orang kafir. Engkau seperti gunung yang tak tergoyahkan oleh badai dan tak terhempaskan oleh perpecahan. Engkau sebagaimana telah disabdakan Rasulullah SAW :

"'Bertubuh lemah, tapi kuat dalam menjalankan perintah Allah.''

Tawadhu terhadap dirimu dan agung di sisi Allah, mulia di bumi dan terhormat di kalangan Muslimin. Semoga Allah membalasmu dengan sebaik-baik balasan. Tidak ada seorang pun di sisinya yang berambisi dan tidak ada seorang pun disisinya yang diremehkan. Orang yang kuat di sisimu adalah lemah dan orang yang lemah di sisimu adalah kuat sehingga engkau mengambilkan hak baginya. Semoga Allah tidak menghalangi kami dari pahalamu dan tidak menyesatkan kami sesudahmu."

Wallohua'lam bisshowab


EmoticonEmoticon

Note: Only a member of this blog may post a comment.