Tampilkan postingan dengan label Berita Jateng. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita Jateng. Tampilkan semua postingan
BLORA JATENG - Memprihatinkan, dua orang remaja di Blora yang masih berstatus pelajar diduga terlibat aksi pencurian kayu jati milik Perhutani. Aksi pencurian kayu itu terjadi di wilayah hutan Kesatuan Pemangku Hutan (KPH) Randublatung, Kabupaten Blora, Jawa Tengah.

Saat ini, kasus tersebut tengah ditangani lebih lanjut oleh Polres Blora. "Peristiwa pencurian kayu itu ada 3 tersangka, dua di antaranya masih berstatus pelajar," kata Waka Administratur KPH Randublatung, Agus Kusnandar, Jumat (10/7/2020).

Penangkapan para pelaku beserta barang buktinya terjadi pada saat dilakukan patroli rutin di kawasan hutan pt.83 BKPH Kemadoh, KPH Randublatung, Kamis (9/7) malam.

Di tengah perjalanan, petugas berpapasan dengan sebuah mobil truk bermuatan kayu bakar. Kemudian, petugas melakukan pemeriksaan.

"Ternyata di bawah tumpukan kayu bakar terdapat kayu jati berbagai ukuran tanpa dilengkapi dokumen yang sah. Kayu bakar itu untuk mengelabui petugas," jelas Agus.

Untuk tersangka, lanjut dia, 1 orang sopir diserahkan ke Polres Blora untuk ditindaklanjuti. "2 orang kernet hanya disanksi wajib lapor karena masih berstatus pelajar," ujar Agus.

Adapun barang bukti berupa truk dan kayu jati berbagai ukuran selanjutnya diserahkan kepada Polres Blora sebagai barang bukti.

Sumber rujukan: m.detik.com

Memprihatinkan, Dua Pelajar Di Blora Terlibat Pencurian Kayu Jati Perhutani

BREBES JATENG - Polisi menetapkan Kepala Desa (Kades) Luwunggede, Kecamatan Tanjung, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, Enggin, sebagai tersangka dalam kasus penganiayaan terhadap anak di bawah umur. Sementara, pihak korban meminta agar tersangka segera ditahan atas kasus tersebut.

Saat dimintai konfirmasi, Kasat Reskrim Polres Brebes AKP Triagung Suryomicho mengatakan, berkas kasus tersebut sudah lengkap atau P21 dan akan segera dilimpahkan ke kejaksaan.

"Prosesnya tetap jalan dan (kades) statusnya sekarang jadi tersangka. Berkasnya sudah lengkap dan akan segera dilimpahkan ke kejaksaan," kata Triagung, Jumat (10/7/2020).

Meski berstatus tersangka, polisi tidak melakukan penahanan terhadap Enggin. Selain ancaman hukuman di bawah 5 tahun, ujar Triagung, Enggin juga dinilai kooperatif.

"Yang bersangkutan memang tidak kami tahan, karena ancaman hukumannya di bawah 5 tahun," jelasnya.

Terpisah, salah satu pengacara korban, Bambang Riyanto, menyambut baik terkait penetapan Kades Luwunggede sebagai tersangka. Dia meminta agar segera dilakukan penahanan terhadap Enggin.

"Kami mewakili pihak korban meminta agar Kades Luwunggede segera ditahan," pinta Bambang saat ditemui di kantor Desa Luwunggede.

Terpisah, Kades Luwunggede, Enggin saat diwawancara menegaskan akan mengikuti dan menghormati proses hukum yang berjalan.

"Sebagai warga yang baik kami hormati proses hukum," ujarnya saat dihubungi via telepon.

Diberitakan sebelumnya, Kades Luwunggede, Kecamatan Tanjung, Brebes bernama Enggin dilaporkan ke polisi karena dituding menganiaya seorang anak di bawah umur. Kejadian ini disebut dipicu saat korban bermain es batu dan mengenai kepala anak kades.

Pelaporan didampingi oleh kuasa hukum, Muhamad Fayyadh. Mereka mendatangi Polres Brebes dan diterima oleh Kanit Perlindungan Perempuan dan Anak, Ipda Puji Haryati.

"Kedatangan kami ke sini untuk melaporkan Kades (Luwunggede) atas tindakan penganiayaan terhadap anak 14 tahun," terang Fayyadh, Kamis (9/4) lalu.

Fayyadh menjelaskan, peristiwa penganiayaan terhadap bocah berinisial T terjadi pada 3 April lalu di hadapan orang tuanya. Korban sempat dipukul beberapa kali di bagian kepalanya.

"Penganiayaan ini terjadi di rumah korban dan dilakukan di depan mata kedua orang tua. Dia mengaku tiga kali dipukul di kepala," ungkap Fayyadh.

Dia membeberkan, penganiayaan ini bermula saat korban bersama teman-temannya bermain lempar-lemparan es batu pada 2 April kemarin sekitar pukul 19.00 WIB. Tanpa disengaja, es batu yang dipegang T mengenai kepala anak Pak Kades.

"Karena terkena lemparan ini, anak kades menangis. Teman-temannya yang main-main es ini pun bubar. Termasuk anak kades ini pulang sambil terus menangis," bebernya.

Tidak lama, Enggin datang ke rumah korban bersama istri dan anaknya. Saat keluarga kades ini datang, korban tengah berkumpul dengan keluarganya.

"Tiba tiba, kades nanya, mana anaknya? Langsung ditampar di depan orang tuanya tiga kali. Kades ini juga ngomong kalau bukan anaknya D, kamu sudah saya bunuh," ujarnya.

Ibu korban sempat menangis menyaksikan anak bungsunya ditampar. Akibat kejadian ini, tambah dia, kepala korban mengalami memar dan bengkak di kepalanya. Tidak lama, orang tua membawa korban ke Puskesmas Kersana untuk diperiksa dan diobati.

Kades Luwunggede, Enggin saat dimintai konfirmasi mengatakan dirinya hanya menampar dua kali. Tindakan ini dipicu karena kasihan melihat anaknya terluka akibat ulah korban.

Sumber : detik.com

Keterlaluan, Kades Di Brebes Tega Aniaya Bocah Di Bawah Umur

SLEMAN YOGYAKARTA - 
Seorang pria warga Pakem, Sleman, Beni (26) mengaku dendam kepada mantan majikan karena telah memutus hubungan kerja. Dia pun melampiaskan dendam itu dengan membobol toko besi milik sang mantan majikan.

Kapolsek Depok Barat, Sleman, Kompol Rachmadiwanto mengatakan Beni mencuri di toko besi yang ada di Jalan Seturan, Caturtunggal, Depok, Sleman. Tempat di mana pelaku bekerja sebelumnya.
"Pelaku mencuri di tempat kerjanya dulu. Dia dendam dan jengkel terhadap majikannya yang telah memecat pelaku," kata Rachmadiwanto saat dihubungi wartawan, Jumat (10/7/2020).
Rachmadiwanto menjelaskan, pelaku dipecat pada Juni 2020. Sejak itu dia tidak punya penghasilan sama sekali. Selain itu, bibit dendam muncul juga disebabkan karena uang lembur tidak dibayarkan.

Berbekal kunci toko besi majikannya yang dia miliki, pelaku berhasil masuk ke toko tanpa merusak pintu. Namun, aksinya terekam kamera CCTV."Pelaku sudah dipecat Juni 2020 karena COVID-19, uang lembur juga tidak dibayarkan majikan. Ini yang memicu dendam," terangnya.
"Pada Rabu (1/7) sekitar pukul 20.00 WIB, pelaku diam-diam datang ke tempat kerja lama. Berbekal kunci toko yang dimiliki, pelaku berhasil masuk ke dalam toko tanpa merusak pintu," ungkapnya.
Kemudian Beni mengobrak-abrik semua isi yang ada di dalam toko, serta mengambil uang tunai sekitar Rp 3 juta beserta ponsel milik korban yang berada di dalam laci meja toko. Keespkan harinya korban melaporkan peristiwa itu ke Polsek Depok Barat.
"Kami mengumpulkan bukti dari CCTV. Dari rekaman itu korban dapat mengenali pelaku karena memiliki postur badan yang cukup berisi," paparnya.

"Jadi setelah mencuri itu dia pergi ke Pasar Kembang bersama teman-temannya. Uangnya habis buat itu," bebernya.Beni baru dapat diamankan pada Selasa (7/7) sekitar pukul 14.15 WIB di tempat temannya. Berdasarkan keterangan pelaku, uang yang dia curi digunakan untuk pergi ke Pasar Kembang.
Atas perbuatannya, pelaku dijerat Pasal 363 KUHP tentang pencurian dengan pemberatan. Beni terancam hukuman maksimal 7 tahun penjara.

Dendam Karena Dipecat, Pria Di Sleman Bobol Toko Majikan

BLORA JATENG - Seorang guru sekolah luar biasa (SLB) di Kabupaten Blora, Jawa Tengah tega mencabuli muridnya. Bahkan, korban disabilitas tunagrahita ringan itu kini hamil dengan usia kandungan sudah 7 bulan.

"Secara berat hati, saya benarkan kabar itu. Namun sekarang oknum guru itu bukan keluarga kami. Sejak tanggal 6 Juli 2020 sudah mengundurkan diri. Dia sudah saya coret namanya," ujar kepala sekolah tempat pelaku bekerja, Sutoto saat ditemui di Blora, Kamis (9/7/2020).

Sutoto menyebut oknum guru itu sempat mengajar di sekolahnya sekitar 5-6 tahun. Dia mengatakan guru maupun murid tersebut sudah keluar dari sekolah.

"Keduanya (guru dan murid) saat ini sudah mantan, sedangkan oknum guru itu sudah masuk mendapat honorer pemerintah. Adanya kejadian ini lalu saya koordinasi dengan Jateng agar namanya dicoret dan tidak bisa dapat honor lagi," ucap Sutoto.

Dia mengaku mengetahui peristiwa itu setelah pihak orang tua korban menemuinya beberapa waktu lalu. Sejak pandemi virus Corona atau COVID-19, tak ada aktivitas tatap muka di sekolahnya karena diganti daring.

"Lalu saya mencari informasinya lebih lanjut ternyata benar telah hamil sekitar 7 bulan," jelasnya.


Sutoto mengungkapkan mantan gurunya tersebut sebenarnya sudah menikah dan belum mempunyai anak. Istri oknum guru itu juga difabel tuna rungu.

"Persoalan ini sudah sepenuhnya ditangani Pemkab Blora dan kasus ini tidak dilaporkan ke pihak yang berwajib (kepolisian)," ucapnya.

Sementara itu, Kapolsek Jepon Iptu Supriyono saat ditemui juga membenarkan kasus tersebut. Pihaknya juga sudah mengklarifikasi kepada pihak yang terkait.

"Kita mendapatkan keterangan dari pihak desa memang kejadian itu benar adanya. Kasus ini belum ada aduan yang masuk," katanya.

Sumber : m.detik.com

Kejam, Guru SLB di Blora Tega Cabuli Muridnya Hingga Hamil

MAGELANG JATENG - Seorang pria bernama Rizki Adi Setiawan (25) ditemukan tewas dengan penuh luka di Sungai Progo, Kabupaten Magelang. Ternyata Rizki merupakan korban penganiayaan oleh temannya sendiri karena tak mengembalikan kamera yang dipinjamnya.

"Atas laporan penemuan sesosok mayat laki-laki mengapung di Sungai Progo. Kami bersama BPBD, mengevakuasi korban dan dilakukan visum di RSUD Muntilan," ujar Kasat Reskrim Polres Magelang AKP Hadi Handoko dalam jumpa pers di kantornya, Rabu (8/7/2020).

Menurut Hadi, dari hasil visum ditemukan adanya kejanggalan yakni beberapa luka memar pada mayat korban. Luka memar tersebut diduga karena adanya kekerasan benda tumpul. Selain itu, ada luka sobek di tangan kanan korban.

Temuan adanya kejanggalan tersebut, kemudian disampaikan kepada keluarga korban. Sehingga akhirnya jenazah korban diautopsi di RS Bhayangkara Yogyakarta.

"Hasil dari autopsi, betul ada luka memar akibat benda tumpul dan kemudian luka sobek pada tangan kanan akibat benda tajam. Yang di mana posisi korban adalah mati lemas, jadi sebelum masuk sungai itu korban masih hidup karena lemas kehabisan darah sehingga akhirnya tenggelam," kata Hadi.

Untuk itu, penyidik Reskrim Polsek Borobudur dan Polres Magelang melakukan penyelidikan dengan memeriksa beberapa saksi. Selain itu, polisi juga mengamankan barang bukti.

Polisi akhirnya menangkap empat orang tersangka yakni Tiyo Budi Prasetyo alias Ombos (21), warga Kecamatan Mertoyudan; Reza Dwi Darmawan (20), warga Kecamatan Borobudur; A Nanang Setyanto (25), Kecamatan Mungkid dan Rizky Aries Wicahyo alias Kutil (25), warga Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang.

"Alhamdulillah dua orang pertama ini, dalam waktu kurun 1x24 jam, kami berhasil mengamankan. Atas nama Tiyo dan Reza. Dua orang ini kami amankan, dua orang lagi mencoba melarikan diri. Kami memperoleh informasi kabur ke wilayah Bogor. Langsung dilakukan pengejaran, Alhamdulillah kami berhasil menangkap kedua tersangka atas nama Nanang dan Rizky di sebuah kontrakan," tuturnya.

Hadi menyebutkan, barang bukti yang diamankan yakni baju korban dan pisau yang digunakan tersangka Nanang untuk melukai korban. Selain itu, polisi juga menyita sapu ijuk yang digunakan untuk memukul korban dan kondisi gagangnya sudah patah.

"Motif para pelaku ini awalnya menagih utang pada korban. Saat menagih utang, Nanang memukul korban hingga sapunya patah," ujarnya.

Setelah itu, pelaku mengambil sepeda motor milik korban untuk digadaikan. Namun, dalam perjalanan korban dianiaya. Selain itu, Hadi mengungkap tersangka tidak mengakui membuang korban ke sungai. Tersangka menyebut korban lari sendiri menuju ke sungai.

"Keterangan dari pelaku, korban lari ke sungai. Mereka tidak mengakui, para tersangka membuang ke sungai, tapi kan kita dari penyidik tidak mengejar dari pengakuan. Kita berdasarkan alat bukti yang sudah kita kumpulkan. Kami menduga setelah dipukuli, dihajar langsung dibuang ke arah sungai, mereka langsung melarikan diri. Kami mempunyai saksi kunci yang dimana korban pergi bersama keempat orang ini," ujar Hadi.

Hadi mengungkap penganiayaan ini terjadi di Jembatan Sigug, Borobudur. Mereka datang ke lokasi dengan naik tiga sepeda motor dan korban memboncengkan pelaku Reza. Dalam perjalanan, korban dipukul hingga sepeda motornya jatuh.

Dalam kesempatan yang sama, tersangka Nanang mengatakan, korban semula pinjam kamera DSLR selama sekitar 1,5 tahun lebih. Namun saat ditagih kamera tersebut sudah tidak ada. Kemudian, korban berniat mengganti dengan uang sebesar Rp500.000.

"Tapi dijanjikan lagi. Saya datang ngajak Tiyo, yang dua ikut," ujarnya.

"Saya nggak lihat teman-teman mukul (korban) karena lokasi kejadian gelap. Pisau itu saya gunakan untuk melukai tangan korban. Saya cuma mau 'ngasih pelajaran'," tutur Nanang.

Para pelaku dijerat dengan Pasal 170 ayat (2) dan ke-1 dan atau Pasal 351 ayat (1) KUHP juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1e dengan ancaman hukuman maksimal 9 tahun penjara.

Sumber : m.detik.com

Gegara Pinjam Kamera, Pria Di Magelang Dibunuh Temannya

PEKALONGAN JATENG - Seorang wanita bakul jamu keliling di Pekalongan membuat heboh para netizen. Bagaimana tidak, penjual jamu emak-emak tampak santai alias santuy melayani pembeli walaupun di tengah jalan.

Jepretan netizen ini diunggah di media sosial, salah satunya akun grup Facebook Pekalongan Info yang di-posting pada Selasa (7/7) malam. Ternyata foto itu diambil di ruas Jalan Raya Surabaya, Kecamatan Kedungwuni, Kabupaten Pekalongan. Lokasi sekitar 15 meter sebelah utara Jembatan Surabayan, Kabupaten Pekalongan.

Dalam foto tersebut tampak emak-emak pedagang jamu keliling menggunakan sepeda ontel dengan santai melayani seorang pembeli di tengah jalan raya itu.

Menurut warga sekitar, aksi penjual jamu yang dengan santai memarkirkan sepeda di lokasi itu bukan yang hanya sekali saja. Warga mengungkap, lokasi itu juga kerap dijadikan warga berhenti sejenak saat akan menyeberang jalan, baik dengan jalan kaki atau motor.

"Ya sering lihat (pedagang jamu) kalau sore hari. Biasanya sore di situ," kata Khaeriyah (35), warga Desa Karangdowo, Kecamatan Kedungwuni.

Kebetulan rumah Khaeriyah berada di pinggir jalan raya itu. Menurutnya, penjual jamu ini hampir setiap hari keliling ke gang desanya.

"Kemarin saya sempat lihat saat melayani pembeli di situ (menunjuk titik tengah jalan)," imbuhnya.

"Kalau tidak salah, rumahnya sekitar Wonopringgo," kata Kaeriyah.

Lokasi jual beli bakul jamu emak-emak ini, di titik tengah ruas jalan, yang menuju ke Jembatan Lengkung Surabayan. Jembatan Surabayan sendiri ada dua jalur terpisah. Masing-masing jalurnya ada dua lajur.

Dengan Santuy, Bakul Jamu Di Pekalongan Melayani Pembeli Di Tengah Jalan

DEMAK JATENG - Seorang pasien tewas usai lompat dari ruang perawatan di lantai 3 RSUD Sunan Kalijaga, Demak, Jawa Tengah. Pemkab Demak mendapatkan kabar terkait peristiwa itu pada dini hari tadi.

Juru Bicara Gugus Tugas (Gustu) Percepatan Penanganan COVID-19 Kabupaten Demak, dr Singgih Setyono membenarkan kejadian tersebut. Singgih mengaku menerima kabar tersebut pada pukul 01.50 WIB dini hari tadi.

"Semalam memang saya dikabari sekitar jam 01.50 WIB. Laporan dari Direktur Rumah Sakit (Sunan Kalijaga), ada sentinel," kata Singgih saat ditanyai wartawan terkait informasi pasien lompat dari lantai 3 RS.

Hal itu disampaikan Singgih kepada wartawan di Ruang COVID Center, Pendopo Kabupaten Demak, Rabu (8/7/2020).

"Sentinel itu istilah meninggal di rumah sakit ya, seperti itu, dan sudah kita perintahkan untuk lapor ke polisi bahwa kejadian itu di luar kendali rumah sakit," sambungnya.

Singgih tak menjelaskan detail soal peristiwa tersebut. Saat ditanya apakah pasien itu terkait virus Corona atau COVID-19, Singgih juga tak memberikan jawaban pasti.

"Sampai saat ini belum tahu kepastiannya, tapi kalau di rumah sakit mestinya PDP (pasien dalam pengawasan)," jawab Singgih.

Dia menyebut pihak rumah sakit sudah memasang teralis di setiap jendela rumah sakit. Diduga pasien tersebut mengalami stres.

"Belum ada penyelidikan, mungkin (pasien) bunuh diri," terang Singgih.

Singgih menyebut peristiwa ini merupakan pertama kalinya terjadi di rumah sakit tersebut.

"Kejadian seperti ini langka, baru kali ini rumah sakit kejadian seperti ini. Kasusnya pas bareng dengan COVID-19," terang pria yang juga menjabat Sekda Kabupaten Demak itu.

Sumber rujukan : m.detik.com

Pasien Di Demak Tewas Usai Lompat Dari Lantai 3 RSUD SK

MAGELANG JATENG - Sungguh biadab, seorang pria di Magelang ditangkap polisi karena mencabuli anak tirinya. Pelaku mengaku sudah meniduri anak tirinya sebanyak tiga kali, bermula karena sering tidur di tempat yang sama.

Kasat Reskrim Polres Magelang AKP Hadi Handoko mengatakan, kasus tersebut terungkap berawal pada Kamis (23/4), korban yang masih berusia 13 tahun menghubungi ayah kandungnya dan mengaku sudah tidak nyaman tinggal bersama ibu kandung dan bapak tirinya.

Ayah kandung korban lalu menanyai alasan korban tak lagi nyaman. Saat itulah korban mengaku bahwa telah diperlakukan tak senonoh oleh ayah tirinya. Mendengar pengakuan itu, ayah kandung korban langsung melapor ke Polres Magelang.

Polisi segera menangkap S (37 tahun) selaku terlapor dan selanjutnya dia ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan. Kepada polisi, tersangka mengakui tindakannya.

"Awal mulanya dia (pelaku) hanya meraba-raba saja, kemudian lama-kelamaan sampai terjadi persetubuhan kurang lebih sebanyak 3 kali," kata Hadi, kepada wartawan di Mapolres Magelang, Rabu (8/7/2020).

Penyidik melakukan pemeriksaan dan mengamankan pelaku. Selain itu, mengamankan barang bukti berupa pakaian yang digunakan korban.

Pelaku dijerat pelanggaran Pasal 81 UU RI No 17 Tahun 2016 tentang Penetapan Perppu No 1 Tahun 2016 tentang perubahan kedua atas UU RI No 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak juncto UU RI No 35 tahun 2014 tentang perubahan atas UU RI No 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak dan atau Pasal 287 ayat (1) KUHP.

"Ancaman minimal 5 tahun, maksimal 15 tahun. Yang bersangkutan adalah sudah dianggap sebagai orang tua, kemungkinan nanti saat persidangan ditambah sepertiga karena pelaku adalah sebagai orang tua dari korban," ujarnya.

Sementara itu, pelaku yang dihadirkan dalam jumpa pers mengatakan, awalnya karena sering tidur jadi satu, terus meraba-raba, namun korban diam saja. "Sering jadi satu (tidur), diraba diam saja," tuturnya.

Pelaku mengakui jika telah menyetubuhi korban sebanyak tiga kali. Pelaku juga sempat menjanjikan akan memberikan uang sebesar Rp100.000.

"Seingat saya tiga kali," katanya seraya menambahkan bahwa dia mencabuli korban ketika istrinya yang juga ibu kandung korban sedang tidur.

Sumber : detik.com

Keji, Pria Di Magelang Tega Setubuhi Anak Tirinya