Social Items

Tampilkan postingan dengan label Berita Jateng. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita Jateng. Tampilkan semua postingan
SLEMAN YOGYAKARTA - Dua siswa SMPN 1 Turi yang hanyut saat susur Sungai Sempor, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) berhasil ditemukan. Kedua korban ditemukan dalam kondisi tak bernyawa lagi.

"Total sembilan korban (meninggal). Kami masih mencari satu orang lagi, doakan agar segera ketemu," kata Kapolda DIY Irjen Asep Suhendar saat ditemui di lokasi Sungai Sempor, Dusun Dukuh, Desa Donokerto, Kecamatan Turi, Sleman, Sabtu (22/2/2020).

Kepala Basarnas Yogyakarta, Lalu Wahyu Efendi menjelaskan, dua korban terakhir ditemukan pukul 10.15 WIB dan 10.35 WIB. Namun untuk identitasnya belum terkonfirmasi.

"Identitasnya belum, baru proses identifikasi, tapi tadi ditemukan di 10.15 WIB di dam Lengkong dan 10.35 WIB di dam Polowidi dalam kondisi meninggal dunia. Kami masih cari 1 siswa lagi," katanya.

Diberitakan sebelumnya, proses pencarian terhadap siswa SMPN 1 Turi yang hanyut di Sungai Sempor, Sleman terus dilakukan. Tim SAR gabungan hingga pagi tadi telah mengevakuasi tujuh orang korban meninggal dunia.

"Update hingga 04.20 WIB, telah ditemukan satu lagi korban sehingga total ada tujuh orang korban meninggal dunia. Korban terakhir teridentifikasi pukul 23.00 WIB," kata Kepala Pelaksana BPBD DIY Biwara Yuswantana dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (22/2).

Update: 9 Siswa SMP 1 Turi Sleman Yang Hanyut Ditemukan Tewas

YOGYAKARTA - Terdapat Enam siswa SMPN 1 Turi tewas usai hanyut di Sungai Sempor, Sleman. Kegiatan susur sungai saat musim hujan ini disayangkan apalagi sampai memakan korban.

"KPAI menghaturkan bela sungkawa atas meninggalnya siswa dalam kegiatan susur sungai Pramuka di Sungai Sempor Yogyakarta," kata Komisioner KPAI Jasra Putra kepada wartawan, Jumat (21/2/2020).

Jasra berharap kasus yang terjadi dari SMPN 1 Turi ini bisa jadi pelajaran bagi sekolah lainnya. Dia mengingatkan peringatan BMKG wajib jadi catatan saat menggelar kegiatan.

"Sekolah perlu mengindahkan dan memantau Peringatan BMKG tentang kondisi cuaca ekstrim yang sewaktu-waktu terjadi, harus menjadi pertimbangan ketika ingin melaksanakan kegiatan di alam," tuturnya.

Dia pun mendorong adanya investigasi terkait peristiwa tersebut. Jasra berharap Dinas Pendidikan Sleman juga ikut mengawasi kegiatan sekolah yang dilakukan di alam terbuka.

"Saya kira ini penting dilakukan investigasi, agar para keluarga yang siswa-siswinya meninggal dapat tahu penyebabnya. Ada kewajiban sekolah, Dinas Pendidikan Sleman dan pihak berwenang atas penggunaan sungai Sempor untuk menjelaskan peristiwa tersebut kepada para keluarga korban," tuturnya.

Dia lalu menyinggung soal batas aman dan kode etik bekerja dengan anak. Dalam kasus ini, Jasra menyebut pentingnya pengaman seperti pelampung. Tak lupa dia juga mendoakan anak-anak yang hilang segera ditemukan.

"Mari kita berdoa semoga korban-korban yang hilang segera ditemukan selamat dan para korban meninggal segera ditangani dengan baik.

Peristiwa tersebut tentu membawa trauma dari ringan sampai berat kepada anak-anak," tuturnya.

"Untuk itu pemerintah daerah Yogyakarta penting melakukan pendampingan segera. Biasanya kegiatan kegiatan di luar sekolah ada pembiayaan, artinya harus ada tanggung jawab profesional atas peristiwa tersebut," ucap Jasra.

6 Siswa SMP Sleman Tewas Di Sungai Sempor

SLEMAN - Sejumlah siswa SMPN 1 Turi, Sleman hanyut saat menyusuri Sungai Sempor, Dusun Dukuh, Desa Donokerto, Turi, Sleman. Basarnas Yogyakarta mengungkap ada empat siswa tewas dalam kejadian ini.

"Iya memang betul ada pelajar SMP Turi yang hanyut saat susur sungai. Ada empat siswa yang ditemukan meninggal," ujar humas Basarnas Yogya Pipit Eriyanto saat dihubungi wartawan, Jumat (21/2/2020).

Para siswa ini hanyut saat menyusuri sungai dalam rangka melaksanakan kegiatan Pramuka. Jumlah pesertanya diperkirakan sebanyak 250 orang.

Hingga saat ini, jumlah korban luka-luka saat ini belum diketahui jelas. Proses evakuasi pun masih dilakukan sampai saat ini.

Diwawancarai terpisah, Kepala Dusun Dukuh Tartono (54) mengaku tahu kejadian itu dari siaran toa masjid.

"Tahunya tadi 14.30 WIB ada anak hanyut di Sungai Sempor. Kegiatan di situ murni kegiatan Pramuka SMPN 1 Turi yakni susur sungai," ujar Tartono saat ditemui di lokasi sore ini.

Tartono menjelaskan saat kejadian di Dusun Dukuh belum terjadi hujan. Namun dari informasi yang dia dapat hujan telah terjadi di wilayah atas.

"Di sini belum terjadi hujan. Tapi di atas sudah hujan," katanya.

4 Siswa Di Sleman Hanyut Dan Tewas Di Sungai

PEKALONGAN - Seorang warga di Kota Pekalongan meninggal saat bersih-bersih genangan banjir di rumahnya. Pria bernama Alwi Yahya (59) warga Poncol Baru Gang Kataliya, Kecamatan Pekalongan Timur itu sebelumnya jatuh tak sadarkan diri lalu meninggal dunia.

Petugas PMI Kota Pekalongan, Ariful Amar, mengatakan laporan tersebut diterima Rabu (19/2) pukul 23.45 WIB. Kala itu ada laporan untuk merujuk warga yang terjatuh ke rumah sakit.

"Ada laporan masuk meminta bantuan untuk merujuk warga ke rumah sakit. Saat itu kita langsung ke lokasi dan merujuk ke Rumah Sakit Siti Khotidjah," kata Amar saat dikonfirmasi, Kamis (20/2/2020).

Dia mengatakan sesampainya di rumah sakit, korban sempat mendapatkan penanganan medis di UGD. Nahas, nyawa korban tidak tertolong.

"Hasil pemeriksaan rumah sakit, korban sudah meninggal dunia setelah 20 menit dilakukan pemeriksaan," jelasnya.

Amar menjelaskan dari keterangan tetangga korban, sebelum terjatuh Alwi disebut sedang membersihkan air yang mulai masuk ke rumah. Namun tiba-tiba dia jatuh dan tak sadarkan diri.

"Tiba-tiba korban terjatuh dan pingsan. Kita ke lokasi kondisi nadi lemah, muka pucat dan langsung evakuasi ke rumah sakit," ujarnya.

Menurut tetangga korban, Alwi terjatuh di depan rumahnya. Kala itu dia hendak mengambil gayung untuk membuang air genangan.

"Kamis tadi kita sudah antar korban ke rumah duka untuk dilakukan pemakaman," ucapnya.

Amar mengatakan korban diketahui memiliki riwayat sakit. "Riwayat korban juga kerap sakit-sakitan, stroke dan asam lambung," ucap Amar.

Warga Pekalongan Tewas Saat Bersihkan Genangan Banjir

PEKALONGAN - Akibat hujan deras, sembilan desa di Kabupaten Pekalongan tergenang banjir. Banjir terparah terjadi di Desa Pacar, Kecamatan Tirto.

"Untuk saat ini, jumlah pengungsi sebanyak 240 orang dari Desa Pacar, Kecamatan Tirto, saja. Kalau di tempat lain masih dalam batas-batas tidak untuk mengungsi, bisa ditolerir," ucap Wakil Bupati Pekalongan Arini Harimurti setelah mendatangi pengungsi banjir di Masjid Dupantek, Tirto, Kabupaten Pekalongan, Kamis (20/2/2020).

Arini mengatakan datang untuk memastikan kondisi para pengungsi. Dia mengklaim kebutuhan logistik dan kebutuhan pengungsi sudah tercukupi.

"Logistik dan kebutuhan anak-anak dan lansia serta wanita tercukupi. Pemkab melalui BPBD mencukupinya. Kami kirim juga kebutuhan warga yang bertahan di rumah," jelasnya.

Dia menjelaskan langkah darurat akan dilakukan hingga akhir Februari.

"Jika diperlukan, kami perpanjang keadaan darurat itu," katanya.

Sementara itu, dari data yang ditunjukkan Kepala BPBD Kabupaten Pekalongan Budi Rahardjo, berikut ini sembilan desa yang kebanjiran di Kabupaten Pekalongan:

1. Desa Mejasem Kecamatan Siwalan, yang terdampak: 257 rumah dan 367 KK.

2. Desa Tengengwetan, yang terdampak: 556 rumah dengan 1.000 KK.

3. Desa Sipait Siwalan, yang terdampak: 130 rumah dan 130 KK.

4. Desa Pucung, yang terdampak: 60 rumah dan 122 KK.

5. Desa Samborejo Tirto, yang terdampak: 110 rumah dan 121 KK.

6. Desa Pacar Tirto, yang terdampak: 632 rumah dengan 990 KK.

7. Kel Bener Wiradesa Tirto, yang terdampak: 20 rumah dan 30 KK.

8. Desa Karangjompo Tirto, yang terdampak: 300 rumah dan 491 KK.

9. Desa Tegaldowo Tirto, yang terdampak: 255 rumah dan 325 KK.

"Dengan jumlah total terdampak banjir yakni 2.320 rumah dengan 3.576 KK. Untuk yang mengungsi hanya di Pacar dengan jumlah 240 jiwa warga," urai Budi.

Hujan Deras, 9 Desa Di Pekalongan Terendam Banjir

Intensitas hujan tinggi di wilayah Kabupaten Rembang yang terjadi semalam sampai siang tadi, mengakibatkan tiga tebing di desa yang berada di Kecamatan Sluke Kabupaten Rembang Jawa Tengah longsor. Kamis (20/2/2020).

Berdasarkan data yang kami himpun dari BPBD Kabupaten Rembang, tiga desa yang mengalami tebing longsor adalah Desa Labuhan, Desa Manggar, dan Desa Bendo. Dalam peristiwa ini tidak ada korban jiwa. namun, total kerugian diperkirakan mencapai Rp. 35 juta.

Mendapatkan laporan tersebut, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) langsung bergerak ke lokasi kejadian. Babinkamtibmas, Polri dan BPBD Kabupaten Rembang, Bersama dengan masyarakat setempat membantu mengevakuasi dan membersihkan material tanah, akibat runtuhan matrial tanah yang jatuh.

Kepala Seksi Kedaruratan BPBD Kabupaten Rembang, Pramujo saat dikonfirmasi mengatakan peristiwa longsornya tebing dengan ketinggian -+ 3,5 meter dan panjang -+ 4 meter  yang terjadi di Desa Manggar tepatnya di belakang rumah Sarmiatun warga RT 01 RW 03 sekira pukul 05.00 WIB.

Dalam peristiwa tersebut, tidak ada korban jiwa, namun kerugian diperkirakan Rp. 3 juta. Sekira pukul 07.00 WIB peristiwa longsor kembali menimpa Desa Bendo, tebing dengan ketinggian -+ 4 meter dan panjang -+ 5 meter tersebut menimpa tepat di samping rumah Kardin warga RT 02 RW 03.

Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa longsor tersebut. namun, kerugian diperkirakan Rp. 2 juta. Selanjutnya, sekira pukul 08.00 WIB, tebing degan ketinggian -+ 4 meter dan panjang -+ 15 meter longsor tepatnya diarea madrasah islamiah mursidiah Desa Labuhan. tidak ada korban jiwa, namun, total kerugian diperkirakan Rp. 30 juta.

“Dari Pihak BPBD langsung melakukan upaya assesment pendataan dan memberikan bantuan berupa logistik yang nantinya akan digunakan oleh masyarakat setempat untuk kegiatan kerjabakti,” pungkasnya.


Akibat Hujan deras. Tiga Tebing di Kec Sluke Kab Rembang Longsor

Polsek Pedurungan Amankan Segerombolan Anak Muda Yang Menamai Kelompoknya "All Star Timuran"

Polsek Pedurungan amankan segerombolan anak muda yang menamai kelompoknya “All Star Timuran”. “Kami mengamankan 14 orang dari jumlah keseluruhan yaitu 25 orang yang semuanya masih di bawah umur, kejadian bermula dari gerombolan tersebut melempari angkringan yang berada di daerah Wolter Mangonsidi dengan botol kaca, setelah itu orang yang berada diangkringan tersebut membalas lalu gerombolan anak muda yang menamai dirinya All Star Timuran yang berjumlah 25 orang berputar balik dan melakukan penyerangan dengan menggunakan celurit yang mengakibatkan 2 orang terluka dan di bawa kerumah sakit,” pungkas Kapolsek Pedurungan AKP Eko Rubiyanto SIK., MH.

Kapolsek Pedurungan menambahkan dari gerombolan anak muda tersebut Polsek Pedurungan mengamankan 8 buah senjata tajam jenis Celurit, 1 botol kaca yang digunakan untuk menyerang, 5 unit sepeda motor.


Resahkan warga Semarang, Gerombolan anak muda "All Star Timuran" di ringkus

Telah terjadi musibah orang tersambar petir a.n. Wangsit (53) warga RT 04 RW III Desa Kancilan, Kembang Jepara. Senin, 17/02/2020 Pukul 08:30 WIB.

Korban sedang Memupuk Urea ( Pupuk Urea ) di sawah Lembahan yang terletak Dukuh Sekuping RT 01 RW VI, milik Wito warga RT 02 RW I Desa Kancilan.

Saat itu hujan deras di sertai petir, korban kemudian berteduh di gubuk tiba – tiba ada petir dan langsung menyambar atap gubuk berseta korban yang berada di gubuk dan langsung meninggal dunia.

Setelah itu dilakukan Visum  oleh Pukesmas Kembang di lokasi, selanjutnya korban di evakuasi dan di serahkan ke pihak keluarga.

Memupuk padi saat hujan, seorang warga di Jepara tewas tersambar petir

Loading...