Social Items

Suku Pantar, Alor merupakan penduduk asli yang mendiami Pulau Pantar, Pura dan Pulau Alor, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur.

Mayoritas kepercayaan penduduk Alor adalah Islam, Kristen Protestan dan Kristen Katolik, tetapi tidak sedikit pula dari masyarakat Alor yang menganut paham animisme dan dinamisme yang menyembah:

- Larra/Lera yaitu matahari
- Wulang yaitu bulan
- Neda yaitu sungai bisa disebut juga dewa air
- Addi yaitu hutan bisa disebut juga dewa hutan
- Hari yaitu laut bisa disebut juga dewa laut.
- Penyembahan kepada Tuhan atau Allah disebut (Nayaning Lhahatal) Kepercayaan secara langsung kepada Tuhan.

AWAL MULA SUKU ALOR


Menurut sejarah, kerajaan tertua di Alor adalah kerajaan Abui di pedalaman pegunungan Alor dan kerajaraan Munaseli yang berada di pulau Pantar. Suatu ketika, kedua kerjaan ini terlibat perang magic peristiwa seperti ini banyak ditemukan pada kerjaan-kerajaan jaman dahulu, karena masyarakat jaman dahulu masih percaya dengan hal-hal yang bersifat tabu.

Perang ini dilakukan dengan cara kedua kerajaan tersebut saling melontarkan kata-kata gaib. Konon berdasarkan sejarah,dikatakan bahwa Kerajaan Munaseli mengirimkan lebah sedangkan Kerajaan Abui mengirimkan angin topan dan api pada akhirnya perang dimenangkan oleh Abui.

Perang belum selesai, sehabis kalah dari kerajaan Abui, Munaseli terlibat perang juga dengan Pandai yang bertetangga dengannya. Dikarenakan kekalahan atas Kerajaan Abui, pada saat itu Kerajaan Munaseli meminta bantuan pada Kerajaan Majapahit tetapi yang ditemukan Majapahit hanyalah puing-puing dari Kerajaan Munaseli dengan kata lain Majapahit mengirimkan bala bantuan setelah penduduk dari Munaseli telah melarikan diri ke berbagai tempat di Alor jadi tidak heran jika banyak ditemukan orang bertampang Jawa di Munaseli.

Bukan hanya Kerajaan Munaseli dan Abui saja, di pesisir pantai terdapat kerajaan Kui, Bunga Bali, Blagar, Pandai serta Baranua yang memiliki hubungan dekat satu sama lain, tidak heran jika mereka mengaku berasal dari leluhur yang sama.

Mayoritas agama pada penduduk Alor adalah kristen katolik dan kristen protestan, tapi tidak sedikit pula dari masyarakat Alor yang menganut paham animisme dan dinamisme yang menyembah Larra/Lera yaitu matahari, Wulang yaitu bulan, Neda yaitu sungai bisa disebut juga dewa air, Addi yaitu hutan bisa disebut juga dewa hutan serta Hari yaitu laut bisa disebut juga dewa laut. Sebagiannya lagi beragama islam, budha dan hindu.

Agama kristen datang ke Alor awalnya karena keputusan Leserborn yang isinya membagi dilayah Nusa Tenggara Timur menjadi dua yang mengharuskan Alor untuk dikuasai Kolonial Belanda. Sekitar tahun 1900 Belanda mengirim dua tahanannya yang dibuang ke Alor dikarenakan daratan Alor yang pada saat itu masih terjal dan bergunung, kedua utusan itu bernama Mingga dan Heo yang beragam kristen, dimana mereka masuk dalam Zegi Pastoral yang berimam umat kristeani.

Penduduk asli Alor yang masih menganut kepercayaan pada sukunya akan sesekali turun ke Pantai Makassar untuk berbelanja, tempat dimana Mingga dan Heo menetap. Disini terjadilah komunikasi dengan penduduk yang datang karena transaksi jual-beli serta kemahiran orang kristiani dalam Zegi Pastoral dan sosiologi, maka banyak penduduk yang simpati dan beralih memeluk agama kristen.

Mingga dan Heo membuat paham Zegi Pastoral seakan tidak hanya bergaul dengan sesama kristen tetapi juga penganut agama islam, maka dari itu mereka juga menjajaki penduduk asli yang masih tinggal di gunung-gunung dan berkomunikasi serta bersahabat dengan orang tua juga anak-anak. Sehingga sekitar  tahun 1905 dibuatlah sistem pendidikan yang disebut pula Sunday School.

Yang pertama pendidikan umum yang berisi upaya untuk mengajarkan anak-anak kepada huruf,  yang kedua yatu memberikan oemahaman tentang kristen, yang ketiga yaitu berbakti bersama dengan membaca alkitab,berkhotbah,benyanyi. Hingga tahun 1980an para misionaris kristen silih berganti datang ke Aor dengan berbagai macam pekerjaan, ada yang pendeta, dokter ataupun perawat.

Gereja pertama yang dibangun pada tahun 1912 di Alor adalah gereja Kalabahi, sekarang dikena dengan gereja Pola dan perlu diketahui bahwa perkerja untuk membuat gereja ini juga para tukang yang beragama islam, ini membuktikan bahwa adanya toleransi antar umat beragama di Alor sejak dahulu.

Terbukti toleransi antar suku Alor sudah terbangun sedari awal, tidak ada rasa risih ataupun dengki antar satu agama dengan agama lainnya. Latar belakang yang memunculkan rasa hormat terhadap satu agama dengan agama lainnya adalah, pemikiran masyarakat Alor bahwa menurut mereka masyarakat berasal dari satu tuhan yang sama dan tidak adanya prasangka buruk bahwa antar agama akan mengancm eksistensi agama lainnya.

Hal yang mungkin menarik untuk dibahaa adalah, jika ada perayaan hari besar seperti Natal ataupun Idul Fitri masyarakat Alor tidak pandang keyakinan, mereka tetap saling membantu. Dikala Idul Fitri, halal bihalal, serta acara keislaman lainnya yang akan menjadi tukang masaknya adalah orang Alor yang beragama Nasrani. Sebaliknya, jika Natal datang makan muslim di Alor akan diajak untuk menjadi panitia Natal tersebut.

Masyarakat Alor percaya ada semacam nilai holistis yang muncul diantara  mereka, yaitu nilai kemanusiaan yang menyatukan alam semesta dan manusia terkait dengan itu mereka berpendapat bahwa sang pencipta, alama semesta dan manusia menjadi satu kesatuaan yang total dan tidak bisa diubah atau mutlak.

Keindahan dari Alor sendiri masih terjaga karena, di kabupataen Alor masih terdapat suku tradisional Flores dengan adat istiadat yang tidak banyak berubah sejak zaman batu. Kebudayaan masih terjaga inilah yang membuat Alor menjadi tujuan untuk banyak wisatawan baik dalam atau luar negri, keramahan serta kesederhanaan masyarakatnya yang mudah untuk beradaptasi juga menjadi point penting bagi para wisatawan yang berkunjung.

Alat musik traditional moko

Dari bidang seni musik, kebudayaan suku alor dikenal memiliki satu alat musik traditional yang sangat terkenal yakni moko. Moko merupakan sebuah alat musik yang mirip dengan gendang dan merupakan hasil dari kebudayaan jaman perunggu yang sudah sangat lama.

Moko memiliki bentuk seperti bejana yang terbuat dari perunggu. Secara umum moko akan dimainkan sebagai pengiring dari tarian lego lego dan berbagai macam acara adat lainnya.

Dalam adat istiadar suku alor, moko juga dipersembahkan sebagai mahar atau mas kawin. Mahar adalah merupakan harta atau benda berharga yang diberikan oleh mempelai pria untuk mempelai wanita sebagai sebuah kompensasi atau syarat pernikahan. Dalam masyarakat suku alor pasti ditemukan minimal 1 moko dalam setiap keluarga suku alor.

 Makanan Khas

Makanan sudah menjadi salah satu unsur budaya pada suatu daerah tertentu, makanan khas juga dimiliki oleh masyarakat suku alor. Beberapa makanan khas yang berasal dari suku alor dan masih dikonsumsi oleh masyarakat alor diantaranya adalah sebagai berikut.

Jagung Bose, makanan khas dari suku alor yang terbuat dari butiran jagung.Kenari, biji kenari juga merupakan salah satu makanan khas dari suku alor yang sampai saat ini masih dikonsumsi.Kue Rambut, kue rambut juga merupakan makanan khas dari suku alor yang terbuat dari tepung dan gula lempeng atau gula yang berasal dari lontar yang kemudian digoren dengan alat serta cara tertenut untuk menghasilkan kue dengan bentuk suwir suwir seperti tumpukan helaian rambut.

Desa adat Takpala 

Berbagai kesenian dan peninggalan suku alor saat ini tidak mudah ditemukan disemua tempat di pulau alor. Bagi yang ingin mempelajari adat dan istiadat suku alor dan kebudayaannya maka berkunjunglah ke desa adat takpala yang dihuni tidak lebih dari 40 orang.

Desa Adat Takpala ini terdapat di atas kaki bukit yang rimbun sehingga letaknya tertutup oleh lebatnya pepohonan di daerah perbukitan tersebut. Jika dilihat dari kejauhan, akan tampak beberapa rumah adat yang memiliki bentuk limas dan beratap ilalang.

Sumber : Wikipedia.org

Sejarah Suku Alor dan Adat Kebudayaan Suku Alor

Suku Pantar, Alor merupakan penduduk asli yang mendiami Pulau Pantar, Pura dan Pulau Alor, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur.

Mayoritas kepercayaan penduduk Alor adalah Islam, Kristen Protestan dan Kristen Katolik, tetapi tidak sedikit pula dari masyarakat Alor yang menganut paham animisme dan dinamisme yang menyembah:

- Larra/Lera yaitu matahari
- Wulang yaitu bulan
- Neda yaitu sungai bisa disebut juga dewa air
- Addi yaitu hutan bisa disebut juga dewa hutan
- Hari yaitu laut bisa disebut juga dewa laut.
- Penyembahan kepada Tuhan atau Allah disebut (Nayaning Lhahatal) Kepercayaan secara langsung kepada Tuhan.

AWAL MULA SUKU ALOR


Menurut sejarah, kerajaan tertua di Alor adalah kerajaan Abui di pedalaman pegunungan Alor dan kerajaraan Munaseli yang berada di pulau Pantar. Suatu ketika, kedua kerjaan ini terlibat perang magic peristiwa seperti ini banyak ditemukan pada kerjaan-kerajaan jaman dahulu, karena masyarakat jaman dahulu masih percaya dengan hal-hal yang bersifat tabu.

Perang ini dilakukan dengan cara kedua kerajaan tersebut saling melontarkan kata-kata gaib. Konon berdasarkan sejarah,dikatakan bahwa Kerajaan Munaseli mengirimkan lebah sedangkan Kerajaan Abui mengirimkan angin topan dan api pada akhirnya perang dimenangkan oleh Abui.

Perang belum selesai, sehabis kalah dari kerajaan Abui, Munaseli terlibat perang juga dengan Pandai yang bertetangga dengannya. Dikarenakan kekalahan atas Kerajaan Abui, pada saat itu Kerajaan Munaseli meminta bantuan pada Kerajaan Majapahit tetapi yang ditemukan Majapahit hanyalah puing-puing dari Kerajaan Munaseli dengan kata lain Majapahit mengirimkan bala bantuan setelah penduduk dari Munaseli telah melarikan diri ke berbagai tempat di Alor jadi tidak heran jika banyak ditemukan orang bertampang Jawa di Munaseli.

Bukan hanya Kerajaan Munaseli dan Abui saja, di pesisir pantai terdapat kerajaan Kui, Bunga Bali, Blagar, Pandai serta Baranua yang memiliki hubungan dekat satu sama lain, tidak heran jika mereka mengaku berasal dari leluhur yang sama.

Mayoritas agama pada penduduk Alor adalah kristen katolik dan kristen protestan, tapi tidak sedikit pula dari masyarakat Alor yang menganut paham animisme dan dinamisme yang menyembah Larra/Lera yaitu matahari, Wulang yaitu bulan, Neda yaitu sungai bisa disebut juga dewa air, Addi yaitu hutan bisa disebut juga dewa hutan serta Hari yaitu laut bisa disebut juga dewa laut. Sebagiannya lagi beragama islam, budha dan hindu.

Agama kristen datang ke Alor awalnya karena keputusan Leserborn yang isinya membagi dilayah Nusa Tenggara Timur menjadi dua yang mengharuskan Alor untuk dikuasai Kolonial Belanda. Sekitar tahun 1900 Belanda mengirim dua tahanannya yang dibuang ke Alor dikarenakan daratan Alor yang pada saat itu masih terjal dan bergunung, kedua utusan itu bernama Mingga dan Heo yang beragam kristen, dimana mereka masuk dalam Zegi Pastoral yang berimam umat kristeani.

Penduduk asli Alor yang masih menganut kepercayaan pada sukunya akan sesekali turun ke Pantai Makassar untuk berbelanja, tempat dimana Mingga dan Heo menetap. Disini terjadilah komunikasi dengan penduduk yang datang karena transaksi jual-beli serta kemahiran orang kristiani dalam Zegi Pastoral dan sosiologi, maka banyak penduduk yang simpati dan beralih memeluk agama kristen.

Mingga dan Heo membuat paham Zegi Pastoral seakan tidak hanya bergaul dengan sesama kristen tetapi juga penganut agama islam, maka dari itu mereka juga menjajaki penduduk asli yang masih tinggal di gunung-gunung dan berkomunikasi serta bersahabat dengan orang tua juga anak-anak. Sehingga sekitar  tahun 1905 dibuatlah sistem pendidikan yang disebut pula Sunday School.

Yang pertama pendidikan umum yang berisi upaya untuk mengajarkan anak-anak kepada huruf,  yang kedua yatu memberikan oemahaman tentang kristen, yang ketiga yaitu berbakti bersama dengan membaca alkitab,berkhotbah,benyanyi. Hingga tahun 1980an para misionaris kristen silih berganti datang ke Aor dengan berbagai macam pekerjaan, ada yang pendeta, dokter ataupun perawat.

Gereja pertama yang dibangun pada tahun 1912 di Alor adalah gereja Kalabahi, sekarang dikena dengan gereja Pola dan perlu diketahui bahwa perkerja untuk membuat gereja ini juga para tukang yang beragama islam, ini membuktikan bahwa adanya toleransi antar umat beragama di Alor sejak dahulu.

Terbukti toleransi antar suku Alor sudah terbangun sedari awal, tidak ada rasa risih ataupun dengki antar satu agama dengan agama lainnya. Latar belakang yang memunculkan rasa hormat terhadap satu agama dengan agama lainnya adalah, pemikiran masyarakat Alor bahwa menurut mereka masyarakat berasal dari satu tuhan yang sama dan tidak adanya prasangka buruk bahwa antar agama akan mengancm eksistensi agama lainnya.

Hal yang mungkin menarik untuk dibahaa adalah, jika ada perayaan hari besar seperti Natal ataupun Idul Fitri masyarakat Alor tidak pandang keyakinan, mereka tetap saling membantu. Dikala Idul Fitri, halal bihalal, serta acara keislaman lainnya yang akan menjadi tukang masaknya adalah orang Alor yang beragama Nasrani. Sebaliknya, jika Natal datang makan muslim di Alor akan diajak untuk menjadi panitia Natal tersebut.

Masyarakat Alor percaya ada semacam nilai holistis yang muncul diantara  mereka, yaitu nilai kemanusiaan yang menyatukan alam semesta dan manusia terkait dengan itu mereka berpendapat bahwa sang pencipta, alama semesta dan manusia menjadi satu kesatuaan yang total dan tidak bisa diubah atau mutlak.

Keindahan dari Alor sendiri masih terjaga karena, di kabupataen Alor masih terdapat suku tradisional Flores dengan adat istiadat yang tidak banyak berubah sejak zaman batu. Kebudayaan masih terjaga inilah yang membuat Alor menjadi tujuan untuk banyak wisatawan baik dalam atau luar negri, keramahan serta kesederhanaan masyarakatnya yang mudah untuk beradaptasi juga menjadi point penting bagi para wisatawan yang berkunjung.

Alat musik traditional moko

Dari bidang seni musik, kebudayaan suku alor dikenal memiliki satu alat musik traditional yang sangat terkenal yakni moko. Moko merupakan sebuah alat musik yang mirip dengan gendang dan merupakan hasil dari kebudayaan jaman perunggu yang sudah sangat lama.

Moko memiliki bentuk seperti bejana yang terbuat dari perunggu. Secara umum moko akan dimainkan sebagai pengiring dari tarian lego lego dan berbagai macam acara adat lainnya.

Dalam adat istiadar suku alor, moko juga dipersembahkan sebagai mahar atau mas kawin. Mahar adalah merupakan harta atau benda berharga yang diberikan oleh mempelai pria untuk mempelai wanita sebagai sebuah kompensasi atau syarat pernikahan. Dalam masyarakat suku alor pasti ditemukan minimal 1 moko dalam setiap keluarga suku alor.

 Makanan Khas

Makanan sudah menjadi salah satu unsur budaya pada suatu daerah tertentu, makanan khas juga dimiliki oleh masyarakat suku alor. Beberapa makanan khas yang berasal dari suku alor dan masih dikonsumsi oleh masyarakat alor diantaranya adalah sebagai berikut.

Jagung Bose, makanan khas dari suku alor yang terbuat dari butiran jagung.Kenari, biji kenari juga merupakan salah satu makanan khas dari suku alor yang sampai saat ini masih dikonsumsi.Kue Rambut, kue rambut juga merupakan makanan khas dari suku alor yang terbuat dari tepung dan gula lempeng atau gula yang berasal dari lontar yang kemudian digoren dengan alat serta cara tertenut untuk menghasilkan kue dengan bentuk suwir suwir seperti tumpukan helaian rambut.

Desa adat Takpala 

Berbagai kesenian dan peninggalan suku alor saat ini tidak mudah ditemukan disemua tempat di pulau alor. Bagi yang ingin mempelajari adat dan istiadat suku alor dan kebudayaannya maka berkunjunglah ke desa adat takpala yang dihuni tidak lebih dari 40 orang.

Desa Adat Takpala ini terdapat di atas kaki bukit yang rimbun sehingga letaknya tertutup oleh lebatnya pepohonan di daerah perbukitan tersebut. Jika dilihat dari kejauhan, akan tampak beberapa rumah adat yang memiliki bentuk limas dan beratap ilalang.

Sumber : Wikipedia.org

No comments:

Post a Comment

Berkomentarlah Dengan baik dan sopan agar tidak terjadi hal-hal yang membuat orang lain gagal paham

Subscribe Our Newsletter

Notifications

Disqus Logo