Menampilkan postingan yang diurutkan menurut relevansi untuk kueri Sejarah. Urutkan menurut tanggal Tampilkan semua postingan
Menampilkan postingan yang diurutkan menurut relevansi untuk kueri Sejarah. Urutkan menurut tanggal Tampilkan semua postingan


Sejarah kabupaten Pamekasan diperkirakan baru diketahui sejak pertengahan abad ke-15 berdasarkan sumber sejarah tentang lahirnya mitos atau legenda Aryo Menak Sunoyo yang mulai merintis pemerintahan lokal di daerah Proppo atau Parupuk.

Jauh sebelum munculnya legenda ini, keberadaan Pamekasan tidak banyak dibicarakan. Diperkirakan, Pamekasan merupakan bagian dari pemerintahan Madura di Sumenep yang telah berdiri sejak pengangkatan Arya Wiraraja pada tanggal 13 Oktober 1268 oleh raja Kertanegara.

Kabupaten Pamekasan lahir dari proses sejarah yang cukup panjang. Istilah Pamekasan sendiri baru dikenal pada sepertiga abad ke-16, ketika Ronggosukowati mulai memindahkan pusat pemerintahan dari Kraton Labangan Daja ke Kraton Mandilaras.

Memang belum cukup bukti tertulis yang menyebutkan proses perpindahan pusat pemerintahan sehingga terjadi perubahan nama wilayah ini. Begitu juga munculnya sejarah pemerintahan di Pamekasan sangat jarang ditemukan bukti-bukti tertulis apalagi prasasti yang menjelaskan tentang kapan dan bagaimana keberadaannya.

Jika pemerintahan lokal Pamekasan lahir pada abad ke-15, tidak dapat disangkal bahwa kabupaten ini lahir pada zaman kegelapan Majapahit yaitu pada saat daerah-daerah pesisir di wilayah kekuasaan Majapahit mulai merintis berdirinya pemerintahan sendiri.

Berkaitan dengan sejarah kegelapan Majapahit tentu tidak bisa dimungkiri tentang kemiskinan data sejarah karena di Majapahit sendiri telah sibuk dengan upaya mempertahankan bekas wilayah pemerintahannya yang sangat besar, apalagi saat itu sastrawan-sastrawan terkenal setingkat Mpu Prapanca dan Mpu Tantular tidak banyak menghasilkan karya sastra.

Sedangkan pada kehidupan masyarakat Madura sendiri, tampaknya lebih berkembang sastra lisan dibandingkan dengan sastra tulis. Graaf (2001) menulis bahwa orang Madura tidak mempunyai sejarah tertulis dalam bahasa sendiri mengenai raja-raja pribumi pada zaman pra-islam.

Tulisan-tulisan yang kemudian mulai diperkenalkan sejarah pemerintahan Pamekasan ini pada awalnya lebih banyak ditulis oleh penulis Belanda sehingga banyak menggunakan Bahasa Belanda dan kemudian mulai diterjemahkan atau ditulis kembali oleh sejarawan Madura, seperti Zainal Fatah ataupun Abdurrahman. Memang masih ada bukti-bukti tertulis lainnya yang berkembang di masyarakat, seperti tulisan pada daun lontar atau Layang Madura, namun demikian tulisan pada layang inipun lebih banyak menceritakan sejarah kehidupan para Nabi (Rasul) dan sahabatnya, termasuk juga ajaran-ajaran agama sebagai salah satu sumber pelajaran agama bagi masyarakat luas.

Masa pencerahan sejarah lokal Pamekasan mulai terungkap sekitar paruh kedua abad ke-16, ketika pengaruh Mataram mulai masuk di Madura, terlebih lagi ketika Ronggosukowati mulai mereformasi pemerintahan dan pembangunan di wilayahnya. Bahkan, raja ini disebut-sebut sebagai raja Pertama di Pamekasan yang secara terang-terangan mulai mengembangkan Agama Islam di kraton dan rakyatnya.

Hal ini diperkuat dengan pembuatan jalan Se Jimat, yaitu jalan-jalan di Alun-alun kota Pamekasan dan mendirikan Masjid Jamik Pamekasan. Namun, sampai saat ini masih belum bisa diketemukan adanya inskripsi ataupun prasasti pada beberapa situs peninggalannya untuk menentukan kepastian tanggal dan bulan pada saat pertama kali ia memerintah Pamekasan.

Bahkan zaman pemerintahan Ronggosukowati mulai dikenal sejak berkembangnya legenda kyai Joko Piturun, pusaka andalan Ronggosukowati yang diceritakan mampu membunuh Pangeran Lemah Duwur dari Aresbaya melalui peristiwa mimpi. Padahal temuan ini sangat penting karena dianggap memiliki nilai sejarah untuk menentukan Hari Jadi Kota Pamekasan.

Terungkapnya sejarah pemerintahan di Pamekasan semakin ada titik terang setelah berhasilnya invansi Mataram ke Madura dan merintis pemerintahan lokal dibawah pengawasan Mataram. Hal ini dikisahkan dalam beberapa karya tulis seperti Babad Mataram dan Sejarah Dalem serta telah adanya beberapa penelitian sejarah oleh Sarjana barat yang lebih banyak dikaitkan dengan perkembangan sosial dan agama, khususnya perkembangan Islam di Pulau Jawa dan Madura, seperti Graaf dan TH. Pigeaud tentang kerajaan Islam pertama di Jawa dan Benda tentang Matahari Terbit dan Bulan Sabit, termasuk juga beberapa karya penelitian lainnya yang menceritakan sejarah Madura.

Masa-masa berikutnya yaitu masa-masa yang lebih cerah sebab telah banyak tulisan berupa hasil penelitian yang didasarkan pada tulisan-tulisan sejarah Madura termasuk Pamekasan dari segi pemerintahan, politik, ekonomi, sosial dan agama, mulai dari masuknya pengaruh Mataram khususnya dalam pemerintahan Madura Barat (Bangkalan dan Pamekasan), masa campur tangan pemerintahan Belanda yang sempat menimbulkan pro dan kontra bagi para Penguasa Madura, dan menimbulkan peperangan Pangeran Trunojoyo dan Ke’ Lesap, dan terakhir pada saat terjadinya pemerintahan kolonial Belanda di Madura.

Pada masa pemerintahan Kolonial Belanda inilah, tampaknya Pamekasan untuk perkembangan politik nasional tidak menguntungkan, tetapi disisi lain, para penguasa Pamekasan seperti diibaratkan pada pepatah Buppa’, Babu’, Guru, Rato telah banyak dimanfaatkan oleh pemerintahan Kolonial untuk kerentanan politiknya. Hal ini terbukti dengan banyaknya penguasa Madura yang dimanfaatkan oleh Belanda untuk memadamkan beberapa pemberontakan di Nusantara yang dianggap merugikan pemerintahan kolonial dan penggunaan tenaga kerja Madura untuk kepentingan perkembangan ekonomi Kolonial pada beberapa perusahaan Barat yang ada didaerah Jawa, khususnya Jawa Timur bagian timur (Karisidenan Basuki).

Tenaga kerja Madura dimanfaatkan sebagai tenaga buruh pada beberapa perkebunan Belanda. Orang-orang Pamekasan sendiri pada akhirnya banyak hijrah dan menetap di daerah Bondowoso. Walaupun sisi lain, seperti yang ditulis oleh peneliti Belanda masa Hindia Belanda telah menyebabkan terbukanya Madura dengan dunia luar yang menyebabkan orang-orang kecil mengetahui system komersialisasi dan industrialisasi yang sangat bermanfaat untuk gerakan-gerakan politik masa berikutnya dan muncul kesadaran kebangsaan, masa Hindia Belanda telah menorehkan sejarah tentang pedihnya luka akibat penjajahan yang dilakukan oleh bangsa asing. Memberlakukan dan perlindungan terhadap system apanage telah membuat orang-orang kecil di pedesaan tidak bisa menikmati hak-haknya secara bebas.

Begitu juga ketika politik etis diberlakukan, rakyat Madura telah diperkenalkan akan pentingnya pendidikan dan industri, tetapi disisi lain, keuntungan politik etis yang dinikmati oleh rakyat Madura termasuk Pamekasan harus ditebus dengan hancurnya ekologi Madura secara berkepanjangan, atau sedikitnya sampai masa pemulihan keadaan yang dipelopori oleh Residen R. Soenarto Hadiwidjojo. Bahwa pencabutan hak apanage yang diberikan kepada para bangsawan dan raja-raja Madura telah mengarah kepada kehancuran prestise pemegangnya yang selama beberapa abad disandangnya.

Perkembangan Pamekasan, walaupun tidak terlalu banyak bukti tertulis berupa manuskrip ataupun inskripsi tampaknya memiliki peran yang cukup penting pada pertumbuhan kesadaran kebangsaan yang mulai berkembang di negara kita pada zaman Kebangkitan dan Pergerakan Nasional. Banyak tokoh-tokoh Pamekasan yang kemudian bergabung dengan partai-partai politik nasional yang mulai bangkit seperti Sarikat Islam dan Nahdatul Ulama diakui sebagai tokoh nasional.

Kita mengenal Tabrani, sebagai pencetus Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan yang mulai dihembuskan pada saat terjadinya Kongres Pemuda pertama pada tahun 1926, namun terjadi perselisihan paham dengan tokoh nasional lainnya di kongres tersebut. Pada Kongres Pemuda kedua tahun 1928 antara Tabrani dengan tokoh lainnya seperti Mohammad Yamin sudah tidak lagi bersilang pendapat.

Pergaulan tokoh-tokoh Pamekasan pada tingkat nasional baik secara perorangan ataupun melalui partai-partai politik yang bermunculan pada saat itu, ditambah dengan kejadian-kejadian historis sekitar persiapan kemerdekaan yang kemudian disusul dengan tragedi-tragedi pada zaman pendudukan Jepang ternyata mampu mendorong semakin kuatnya kesadaran para tokoh Pamekasan akan pentingnya Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang kemudian bahwa sebagian besar rakyat Madura termasuk Pamekasan tidak bisa menerima terbentuknya negara Madura sebagai salah satu upaya Pemerintahan Kolonial Belanda untuk memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa.

Melihat dari sedikitnya, bahkan hampir tidak ada sama sekali prasasti maupun inskripsi sebagai sumber penulisan ini, maka data-data ataupun fakta yang digunakan untuk menganalisis peristiwa yang terjadi tetap diupayakan menggunakan data-data sekunder berupa buku-buku sejarah ataupun Layang Madura yang diperkirakan memiliki kaitan peristiwa dengan kejadian sejarah yang ada. Selain itu diupayakan menggunakan data primer dari beberapa informan kunci yaitu para sesepuh Pamekasan.

HARI JADI KABUPATEN PAMEKASAN

Pemerintah setempat telah menetapkan hari jadi kabupaten Pamekasan yaitu tepat pada tanggal 3 November 1530 M, berdasarkan tanggal pelantikan Ronggosukowati sebagai adipati Pamekasan.

Sejarah dan Asal Usul Terbentuknya Kabupaten Pamekasan Madura Jawa Timur

Sejarah munculnya olahraga sepak bola sampai saat ini masih mengundang perdebatan.


Beberapa dokumen menjelaskan bahwa sepak bola lahir sejak masa Romawi, sebagian lagi menjelaskan sepak bola berasal dari tiongkok.

FIFA sebagai badan sepak bola dunia secara resmi menyatakan bahwa sepak bola lahir dari daratan Cina yaitu berawal dari permainan masyarakat Cina abad ke-2 sampai dengan ke-3 SM.
Olah raga ini saat itu dikenal dengan sebutan “tsu chu “.

Dalam salah satu dokumen militer menyebutkan, pada tahun 206 SM, pada masa pemerintahan Dinasti Tsin dan Han, masyarakat Cina telah memainkan bola yang disebut tsu chu. T
su sendiri artinya “menerjang bola dengan kaki”.
sedangkan chu, berarti “bola dari kulit dan ada isinya”.

Permainan bola saat itu menggunakan bola yang terbuat dari kulit binatang, dengan aturan menendang dan menggiring dan memasukkanya ke sebuah jaring yang dibentangkan diantara dua tiang.
Versi sejarah kuno tentang sepak bola yang lain datangnya dari negeri Jepang, sejak abad ke-8, masyarakat disana telah mengenal permainan bola.

Masyarakat disana menyebutnya dengan: Kemari. Sedangkan bola yang dipergunakan adalah kulit kijang namun ditengahnya sudah lubang dan berisi udara.

Menurut Bill Muray, salah seorang sejarahwan sepak bola, dalam bukunya The World Game: A History of Soccer, permainan sepak bola sudah dikenal sejak awal Masehi.

Pada saat itu, masyarakat Mesir Kuno sudah mengenal teknik membawa dan menendang bola yang terbuat dari buntalan kain linen.

Sisi sejarah yang lain adalah di Yunani Purba juga mengenal sebuah permainan yang disebut episcuro, tidak lain adalah permainan menggunakan bola.
Bukti sejarah ini tergambar pada relief-relief museum yang melukiskan anak muda memegang bola dan memainkannya dengan pahanya.

Sejarah sepak bola modern dan telah mendapat pengakuan dari berbagai pihak, asal muasalnya dari Inggris, yang dimainkan pada pertengahan abad ke-19 pada sekolah-sekolah.
Tahun 1857 beridiri klub sepak bola pertama di dunia, yaitu: Sheffield Football Club. Klub ini adalah asosiasi sekolah yang menekuni permainan sepak bola.

Pada tahun 1863, berdiri asosiasi sepak bola Inggris, yang bernama Football Association (FA). Badan ini yang mengeluarkan peraturan permainan sepak bola, sehingga sepak bola menjadi lebih teratur, terorganisir, dan enak untuk dinikmati penonton.

Selanjutnya tahun 1886 terbentuk lagi badan yang mengeluarkan peraturan sepak bola modern se dunia, yaitu: International Football Association Board (IFAB).
IFAB dibentuk oleh FA Inggris dengan Scottish Football Association, Football Association of Wales, dan Irish Football Association di Manchester, Inggris.

Sejarah sepak bola semakin teruji hingga saat ini IFAB merupakan badan yang mengeluarkan berbagai peraturan pada permainan sepak bola, baik tentang teknik permainan, syarat dan tugas wasit, bahkan sampai transfer perpindahan pemain.

VERSI LAIN

Sepak bola atau Soccer ( lebih dikenal sebagai " football " Amerika ) sudah ada sekian lama.  Menurut the National Soccer Hall of Fame and Museum , sepak bola mulai dikenal di masa Mesir kuno , Dinasti Ts'in di Cina , dan orang - orang Indian di Amerika tahun 1600 - an .

Sepak bola modern lahir pada pertengahan abad ke 19 di england.Akan tetapi , FIFA ( Federation of International Football Association ) pada tahun 2004 sudah secara resmi mengakui bahwa sepak bola paling awal sekali berasal dari Tiongkok , ketika itu ia disebut Cu Ju ( baca : Ju cU ) . Permainan sepak bola tertua ini , dimulai dari 2400 tahun yang lalu pada masa Chun Qiu Zhan Guo ( Musim gugur negara - negara berperang ) dan telah melewati silih pergantian dinasti dan dalam jangka waktu lama tidak surut.


Yang lebih penting lagi ialah , orang Tiongkok kuno ternyata sudah lama bermain sepak bola ini untuk memperkuat semangat dan etika mereka .

Di Yunani bermain sepak bola diperkenalkan 800 tahun sebelum Masehi dengan nama episkyro dan harpastron . Tim Roma yang menyerbu Yunani tahun 146 sebelum Masehi kemudian mengambil permainan ini dan menyebarkannya dikawasan penaklukan wilayah - wilayah nya di Eropa.

Kaisar Roma Julius Caesar tercatat sebagai penggemar harpastrum . Ia menggunakan permainan ini sebagai tes untuk melatih fisik pasukan . Di Roma , ada daerah harpastrum menyebabkan ia lebih cocok dimainkan oleh penduduk ketika itu .

Orang Eropa mulai mengenal sepak bola pada sekitar abad 8 . Sama seperti di Roma , permainan bola di kontinental jauh lebih brutal . Bermain di lapangan yang luas berjarak 3-4 kilometer . Raja Edward II pernah menyebut sepak bola sebagai " permainan setan yang dibenci Tuhan . " Ia melarang rakyatnya melakukan kegiatan ini pada April 1314 , terutama untuk kalangan ningrat. Sepak bola dianggap kejam karena menggunakan tengkorak manusia sebagai bola.


Sejarah tentang asal - usul sepakbola dapat dikatakan berbagai . Asalkan di mana ada manusia , ada kaki, di situlah mungkin dimulainya sepak bola , ada pendapat yg mengatakan itu dimulai di Cina , Jepang juga ada versi bolasepaknya tersendiri , tanah Melayu juga ada versi permainan bola tersendiri , menggunakan bola raga yg terbuat dari rotan yg dianyam .

Ada setengah pihak mengaitkan sejarah sepak bola dengan perang karbala di mana cucu Rasulullah dibunuh lalu dipenggal kepala dan dijadikan sebagai sepak bola tendang . Tetapi tidak ada bukti utk menunjukkan sepakbola yg kita kenal sekarang dimulai dari peristiwa itu .

Seperti tulisan di atas , asalkan ada org , ada kaki , maka di situ mungkin ada permainan di kalangan org muda menyepak atau menendang bola . Namun , sepakbola modern yg kita kenal sekarang dikatakan dimulai di Inggris . Ada dua peraturan yg berlaku pada saat itu menyebabkan ia dibagi menjadi dua cara bermain yaitu football dan rugby yg ada sampai sekarang .

Sepakbola bukan lagi sekedar permainan masyarakat , atau sekedar tradisi setempat semata - mata . Sepakbola adalah satu bisnis yg sangat menguntungkan . Berapa banyak manusia yg mendapat rezeki hasil dari industri sepakbola .

Dari satu perspektif , sepakbola bukan lagi sejenis olahraga semata - mata , tetapi satu agama atau cara hidup baru . Banyak manusia sekarang menganut agama bola . Pertama , FIFA bekerja seolah sebagai satu sistem khalifah menetapkan hukum dalam permainan sepakbola , menyatukan seluruh tim sepakbola bernaung di bawah satu sistem . Memastikan semua kegiatan sepakbola di negara2 bawah naungannya berjalan berdasarkan proses dan prosedur yg telah ditetapkan sistem khalifah " FIFA " .

Berita atau informasi tentang sepakbola muncul di mana2 saja di seluruh dunia tanpa kita harus susah payah mencarinya . Buat radio saja cerita tentang bola , buka TV saja penuh iklan tentang bola , banyak perusahaan seperti Celcom mengambil kesempatan membuat untung dari sepakbola menawarkan berbagai paket menarik dan istimewa sempena dan utk penggemar sepakbola .

Sejarah Asal usul Terbentuknya Sepakbola menurut Ahli Sejarah dan FIFA

Sejarah Asal Usul kabupaten Klaten tersebar diberbagai catatan arsip-arsip kuno dan kolonial, arsip-arsip kuno dan manuskrip Jawa. Catatan itu seperti tertulis dalam Serat Perjanjian Dalem Nata, Serat Ebuk Anyar, Serat Siti Dusun, Sekar Nawala Pradata, Serat Angger Gunung, Serat Angger Sedasa dan Serat Angger Gladag.


Dalam bundel arsip Karesidenan Surakarta menjadikan rujukan sejarah Klaten seperti tercantum dalam Soerakarta Brieven van Buiten Posten, Brieven van den Soesoehoenan 1784-1810, Daghregister van den Resi dentie Soerakarta 1819, Reporten 1787-1816, Rijksblad Soerakarta dan Staatblad van Nederlandsche Indie.

Babad Giyanti, Babad Bedhahipun Karaton Negari Ing Ngayogyakarta, Babad Tanah Jawi dan Babad Sindula menjadi sumber lain untuk menelusuri sejarah Klaten. Sejarah Klaten juga dapat ditelusuri dari keberadaan Candi-candi Hindu, Budha maupun barang-barang kuno.

Asal muasal desa-desa kuno tempo dulu menunjukan keterangan terpercaya. Desa-desa seperti Pulowatu, Gumulan, Wedihati, Mirah-mirah maupun Upit. Peninggalan atau petilasan Ngupit bahkan secara jelas menyebutkan pertanda tanggal yang dimaknai 8 November 66 Maeshi oleh Raden Rakai Kayuwangi.

Daerah Kabupaten Klaten pada mulanya adalah bekas daerah swapraja Surakarta. Kasunanan Surakarta terdiri dari beberapa daerah yang merupakan suatu kabupaten. Setiap kabupaten terdiri atas beberapa distrik. Susunan penguasa kabupaten terdiri dari Bupati, Kliwon, Mantri Jaksa, Mantri Kabupaten, Mantri Pembantu, Mantri Distrik, Penghulu, Carik Kabupaten angka 1 dan 2, Lurah Langsik, dan Langsir.

Susunan penguasa Distrik terdiri dari Pamong Distrik (1 orang), Mantri Distrik (5), Carik Kepanawon angka 1 dan 2 (2 orang), Carik Kemanten (5 orang), Kajineman (15 orang).

Pada zaman penjajahan Belanda, tahun 1749, terjadi perubahan susunan penguasa di Kabupaten dan di Distrik. Untuk Jawa dan Madura, semua provinsi dibagi atas kabupaten-kabupaten, kabupaten terbagi atas distrik-distrik, dan setiap distrik dikepalai oleh seorang wedono.

Pada tahun 1847 bentuk Kabupaten diubah menjadi Kabupaten Pulisi. Maksud dan tujuan pembentukan Kabupaten Pulisi adalah di samping Kabupaten itu menjalankan fungsi pemerintahan, ditugaskan pula agar dapat menjaga ketertiban dan keamanan dengan ditentukan batas-batas kekuasa wilayahnya.

Berdasarkan Nawala Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Pakubuwana Senopati Ing Alaga Abdul Rahman Sayidin Panata Gama VII, Senin Legi 23 Jumadilakhir Tahun Dal 1775 atau 5 Juni 1847 dalam bab 13 disebutkan :

“ KratonDalam SurakartaAdiningrat Nganakake Kabupaten cacah enem.” “Kabupaten cacah enem iku Nagara Surakarta, Kartosuro, Klaten, Boyolali, Ampel, lan Sragen ” “ Para Tumenggung kewajiban rumeksa amrih tata tentreme bawahe dhewe-dhewe serta padha ke bawah marang Raden Adipati”

ASAL USUL KABUPATEN KLATEN

Ada dua versi yang menyebut tentang asal muasal nama Klathèn.

mengatakan bahwa Klaten berasal dari kata kelathi atau buah bibir. Kata kelathi ini kemudian mengalami disimilasi menjadi Klaten. Klaten sejak dulu merupakan daerah yang terkenal karena kesuburannya.

Menyebutkan Bahwa Klaten berasal dari kata Melati (bahasa Jawa: Mlathi) yang berubah menjadi kata Klathi, sehingga memudahkan ucapan kata Klathi berubah menjadi kata Klathen.

Versi ke dua ini atas dasar kata-kata orangtua sebagaimana dikutip dalam buku Klaten dari Masa ke Masa yang diterbitkan Bagian Ortakala Setda Kab. Dati II Klaten Tahun 1992/1993.

Melati adalah nama seorang kyai yang pada kurang lebih 560 tahun yang lalu datang di suatu tempat yang masih berupa hutan belantara. Abdi dalem Kraton Mataram ini ditugaskan oleh raja untuk menyerahkan bunga Melati dan buah Joho untuk menghitamkan gigi para putri kraton (Serat Narpawada, 1919:1921).

MAKAM KYAI DAN NYAI MELATI

Guna memenuhi kebutuhan bunga Melati untuk raja, Kyai dan Nyai Mlati menanami sawah milik Raden Ayu Mangunkusuma, istri Raden Tumenggung Mangunkusuma yang saat itu menjabat sebagai Bupati Pulisi Klaten, yang kemudian dipindah tugaskan istana menjadi Wakil Patih Pringgalaya di Surakarta.

Tidak ditemukan sumber sejarah tentang akhir riwayat Kyai dan Nyai Melati. Silsilah Kyai dan Nyai Melati juga tidak diketahui. Bahkan penduduk Klaten tidak ada yang mengakui sebagai keturunan dua sosok penting ini.Kyai Melati Sekolekan, nama lengkap dari Kyai Melati, menetap di tempat itu. Semakin lama semakin banyak orang yang tinggal di sekitarnya, dan daerah itulah yang menjadi Klaten yang sekarang.

Dukuh tempat tinggal Kyai Melati oleh masyarakat setempat lantas diberi nama Sekolekan. Nama Sekolekan adalah bagian darinama Kyai Melati Sekolekan. Sekolekan kemudian berkembang menjadi Sekalekan, sehingga sampai sekarang nama dukuh itu adalah Sekalekan. Di Dukuh Sekalekan itu pula Kyai Melati dimakamkan.

Kyai Melati dikenal sebagai orang berbudi luhur dan lagi sakti. Karena kesaktiannya itu perkampungan itu aman dari gangguan perampok. Setelah meninggal dunia, Kyai Melati dikuburkan di dekat tempat tinggalnya.

Sampai sekarang sejarah kota Klaten masih menjadi silang pendapat. Belum ada penelitian yang dapat menyebutkan kapan persisnya kota Klaten berdiri. Selama ini kegiatan peringatan tentang Klaten diambil dari hari jadi pemerintah Kab Klaten, yang dimulai dari awal terbentuknya pemerintahan daerah otonom tahun 1950.

HARI JADI KABUPATEN KLATEN

Berdirinya Benteng atau loji Klaten di masa pemerintahan Sunan Paku Buwana IVmempunyai arti penting dalam sejarah Klaten. Pendirian benteng tersebut peletakan batu pertamanya dimulai pada hari sabtu Kliwon, 12 rabiulakir, Langkir, Alit 1731 atau sengkala RUPA MANTRI SWARANING JALAK atau dimaknai sebagai tanggal 28 JULI TAHUN 1804 sebagai hari jadi kabupaten Klaten.

Sumber sejarah ini dapat ditemukan dalam Babad Bedhaning Ngayogyakarata dan Geger Sepehi. Catatan sejarah ini oleh pemerintah Kabupaten Klaten melalui Peraturan Daerah Nomor 12 Tahun 2007 sebagai Hari Jadi Kabupaten Klaten yang diperingati setiap tahun.

Sejarah Asal Usul Terbentuknya Kabupaten Klaten Jawa Tengah

Manchester United adalah klub sepakbola asal kota Manchester, Inggris. Klub ini jadi salah satu klub terbaik dan terpopuler di dunia. Manchester United juga biasa disebut dengan singkatan Man United, Man Utd atau MU. Tim ini jadi kolektor gelar Liga Inggris terbanyak yaitu 20 kali, termasuk yang terbanyak juga di era Premier League.

Manchester United memiliki sejarah panjang sebagai salah satu klub tertua di Inggris yang pertama dibentuk pada tahun 1878. Berikut ini merupakan sejarah Manchester United FC lengkap, termasuk info awal berdirinya klub ini.

SEJARAH MANCHESTER UNITED


Manchester United pertama dibentuk pada tahun 1878. Saat itu klub ini bernama Newton Heath Lancashire and Yorkshire Railway Football Club atau Newton Heath LYR FC. Yang pertama mendirikan Newton Heath LYR FC adalah depatemen transportasi kereta dari perusahaan Lancashire dan Yorkshire, stasiun kereta api di Newton Heath, sebuah distrik di kota Manchester. Saat itu, tim ini menggunakan kostum kebesaran berwarna hijau-emas.

Awalnya, tim ini dibentuk untuk bermain melawan klub dari departemen stasiun kereta api lain. Saat itu, markas dari Newton Heath FC adalah lapangan kecil di North Road, dekat stasiun kereta api Piccadilly Manchester.

Setelah itu, Newton Heath FC mengikuti sejumlah kompetisi regional amatir, mulai dari Lancashire Cup, Manchester and District Challenge Cup, The Combination hingga Football Alliance. Di tahun 1892, kompetisi Football Alliance yang mereka ikuti digabung dengan Football League yang merupakan kompetisi liga profesional pertama di Inggris. Hasilnya, Newton Heath ikut berkompetisi di First Division, kasta utama Liga Inggris.

Sejak itu, Newton Heath langsung berbenah dan menjadi klub independen yang tidak terikat dengan perusahaan dan stasiun kereta api lagi. Stadion mereka pun pindah ke wilayah Bank Street. Di musim pertamanya di Liga Inggris, Man United menempati posisi terakhir, meski akhirnya tidak terdegradasi karena menang dalam play-off melawan juara Divisi 2. Baru pada musim 1893-94, Newton Heath kembali berada di posisi juru kunci dan kalah dalam play-off, sehingga mereka menjadi klub pertama yang terdegradasi dalam sejarah Liga Inggris.

BERGANTI NAMA MANCHESTER UNITED

Pada tahun 1902, klub ini sempat mengalami krisis keuangan dengan memiliki banyak hutang. Sempat ada kekhawatiran bahwa klub ini akan bangkrut. Hal ini kemudian bisa diselesaikan dengan dana dari investor baru, termasuk John Henry Davies yang jadi presiden klub.

Untuk menandai awal baru, pada tanggal 24 April 1902, klub ini berganti nama menjadi Manchester United FC. Nama baru lain yang sempat diusulkan adalah Manchester Celtic dan Manchester central, meski kemudian nama Manchester United yang dipilih. Perubahan lain terjadi pada warna kostum, yang berganti dari hijau-kuning menjadi merah-putih seperti sekarang.

Meski sempat terdegradasi, Manchester United akhirnya berhasil merengkuh gelar juara Liga Inggris pertama di tahun 1908 yang dilanjutkan dengan trofi pertama di kompetisi lain seperti Community Shield dan FA Cup. Pada tahun 1910, Man United pindahh ke stadion baru bernama Old Trafford yang tetap dihuni hingga sekarang.

Di era 20an dan 30an, klub ini sempat mengalami pasang surut prestasi dengan beberapa terdegradasi ke Second Division. Tahun 1934 menjadi titik terburuk dalam sejarah klub dimana MU menempati posisi 20 di klasemen Divisi 2.

Saat masa perang dunia, kompetisi Liga Inggris sempat berhenti dan Man United mengikuti sejumlah kompetisi tidak resmi. Stadion Old Trafford sempat rusak parah setelah dibom oleh tentara Jerman di Perang Dunia II. Akibatnya Manchester United sempat pindah ke Stadion Maine Road miliki Manchester City sampai tahun 1949 saat renovasi Old Trafford selesai.

ERA MATT BUSBY DAN TRAGEDI MUNICH

Pada era pelatih Matt Busby, Man United menemukan masa keemasan mereka termasuk menjadi juara liga di tahun 1956 dan 1957 dengan pemain rata-rata usia muda 22 tahun. Oleh karena itu, pemain mereka sempat dijuluki sebagai The Busby’s Babes.

Man United pun jadi klub Inggris pertama yang berpartisipasi di ajang Liga Champions Eropa, tepatnya pada musim 1956-57. Di musim itu juga, Man United sempat mengalahkan klub Belgia, Anderlecht dengan skor telak 10-0 yang masih jadi kemenangan terbesar sepanjang sejarah Manchester United.

Di tahun 1958, tragedi besar terjadi saat pesawat yang mengangkut pemain dan ofisial Man United kecelakaan. Total 23 orang meninggal termasuk 8 pemain utama Man United saa itu. Tepat pada tanggal 6 Februari 1958 kecelakaan tersebut terjadi dan sering disebut sebagai Tragedi Munich, yang kemudian menjadi tragedi kelam dalam sejarah Manchester United dan dunia sepakbola secara keseluruhan.

Meski sempat mengalami tragedi, pelatih Matt Busby yang selamat dari kecelakaan kembali membangun skuad hingga Man United meraih kejayaan di tahun 60an. Mereka pun sukses jadi klub Inggris pertama yang meraih gelar juara Liga Champions di tahun 1968. Di final, MU sukses mengalahkan Benfica 4-1. Sejumlah pemain kunci MU di era itu antara lain adalah Bobby Charlton, Denis Law dan George Best.

ERA ALEX FERGUSON

Setelah ditinggal pelatih Matt Busby, Man United sempat mengalami keterpurukan di era 70an dan awal 80an, bahkan sempat terdegradasi di tahun 1974. Di tahun 1986, Alex Ferguson ditunjuk sebagai pelatih baru Man United. Ia kemudian membawa Man United menuju masa kejayaan di era sepakbola modern selama 27 tahun karir kepelatihan di klub ini.

Total ia mempersembahkan puluhan trofi bagi Manchester United, termasuk 2 kali menjadi juara Liga Champions di tahun 1999 dan 2008. Ferguson pun menjadi pelatih tersukses dalam sejarah Manchester United.

Ferguson juga sukses menorehkan prestasi treble winners (juara Liga Champions, Premier League, FA Cup) di musim 1998-1999. Prestasi itu jadi yang pertama dan satu-satunya bagi klub Inggris. Sejumlah nama pemain seperti Eric Cantona, Peter Schmeichel, Ryan Giggs, David Beckham, Paul Scholes, Gary Neville, Cristiano Ronaldo hingga Wayne Rooney jadi nama pemain bintang Manchester United di era modern. Kini Manchester United masih jadi salah satu klub paling populer di dunia dengan jutaan fans dan suporter yang tersebar di seluruh dunia.

STADION UTAMA MANCHESTER UNITED


Old Trafford, yang dijuluki "The Theater of Dreams" oleh Sir Bobby Charlton, telah menjadi markas United sejak tahun 1910, meskipun dari tahun 1941 sampai 1949, klub tersebut bersama Maine Road dengan rival lokal Manchester City setelah kehancuran yang disebabkan oleh pemboman Perang Dunia II.

Old Trafford menjalani beberapa ekspansi pada 1990-an dan 2000an, termasuk penambahan tingkat tambahan di Utara, Barat dan Timur Tribune, yang membuat stadion kembali ke kapasitas aslinya sebesar 80.000. Ekspansi masa depan mungkin termasuk penambahan lapis kedua di South Tribune, yang dapat meningkatkan kapasitas menjadi 90.000.

Kehadiran catatan stadion tercatat pada tahun 1939, ketika 76.962 orang menghadiri semifinal Piala FA antara Wolverhampton Wanderers dan Grimsby Town. Old Trafford menjadi tuan rumah semifinal Piala FA, pertandingan Inggris, Piala Dunia 1966 dan Kejuaraan Eropa 1996 dan Final Liga Champions UEFA 2003, serta pertandingan liga rugby tahunan, Super League Grand Final dan dua final Piala Dunia Rugby .

Stadion ini juga menjadi tuan rumah cabang sepakbola Olimpiade Musim Panas 2012, termasuk sepak bola internasional wanita untuk pertama kalinya dalam sejarahnya.

Sejarah Asal usul Terbentuknya Manchester United Football Club

Kabupaten Ketapang adalah salah satu Daerah Tingkat II di provinsi Kalimantan Barat. Ibu kota kabupaten ini terletak di Kota Ketapang, sebuah kota yang terletak di tepi Sungai Pawan. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 31.240,74 km² dan berpenduduk sebesar 578.533 Jiwa.

Dibandingkan kabupaten lain di Kalimantan Barat, Kabupaten Ketapang merupakan kabupaten terluas, memiliki pantai yang memanjang dari selatan ke utara dan sebagian pantai yang merupakan muara sungai, berupa rawa-rawa terbentang mulai dari Kecamatan Teluk Batang, Simpang Hilir, Sukadana, Matan Hilir Utara, Matan Hilir Selatan, Kendawangan dan Pulau Maya Karimata, sedangkan daerah hulu umumnya berupa daratan yang berbukit-bukit dan diantaranya masih merupakan hutan.

Sungai terpanjang di Kabupaten Ketapang adalah Sungai Pawan yang menghubungkan Kota Ketapang dengan Kecamatan Sandai, Nanga Tayap dan Sungai Laur serta merupakan urat nadi penghubung kegiatan ekonomi masyarakat dari desa dengan kecamatan dan kabupaten.

SEJARAH KABUPATEN KETAPANG


Masa Hindia Belanda

Pada masa pemerintahan Hindia Belanda, sejak tahun 1936 Kabupaten Ketapang adalah salah satu daerah (afdeling) yang merupakan bagian dari Keresidenan Kalimantan Barat (Residente Western Afdeling van Borneo) dengan pusat pemerintahannya di Pontianak. Kabupaten Ketapang ketika itu dibagi menjadi tiga Onder Afdeling, yaitu:


  • Sukadana, berkedudukan di Sukadana
  • Matan Hilir, berkedudukan di Ketapang
  • Matan Hulu, berkedudukan di Nanga Tayap


Masing-masing Onder Afdeling dipimpin oleh seorang Wedana.

Tiap-tiap Onder Afdeling dibagi lagi menjadi Onder Distrik, yaitu:


  • Sukadana terdiri dari Onder Distrik
  • Sukadana, Simpang Hilir dan Simpang Hulu
  • Matan Hilir terdiri dari Onder Distrik Matan Hilir dan Kendawangan
  • Matan Hulu terdiri dari Onder Distrik Sandai, Nanga Tayap, Tumbang Titi dan Marau


Masing-masing Onder Distrik dipimpin oleh seorang Asisten Wedana.

Afdeling Ketapang terdiri atas tiga kerajaan, yaitu:


  • Kerajaan Matan yang membawahi Onder Afdeling Matan Hilir dan Matan Hulu
  • Kerajaan Sukadana yang membawahi Onder Distrik Sukadana
  • Kerajaan Simpang yang membawahi Onder Distrik Simpang Hilir dan Simpang Hulu


Masing-masing kerajaan dipimpin oleh seorang Panembahan. Sampai tahun 1942, wilayah-wilayah ini dipimpin oleh:

Kerajaan Matan oleh Gusti Muhammad Saunan dan sekarang dipimpin Raja PRK Haji Gusti KambojaKerajaan Sukadana oleh Tengku BetungKerajaan Simpang oleh Gusti Mesir

Masa Jepang

Masa pemerintahan Hindia Belanda berakhir dengan datangnya bala tentara Jepang pada tahun 1942. Dalam masa pendudukan tentara Jepang, Kabupaten Ketapang masih tetap dalam status Afdeling, hanya saja pimpinan langsung diambil alih oleh Jepang.

Pemerintahan pendudukan Jepang yang berakhir kekuasaannya pada tahun 1945 diganti oleh Pemerintahan Tentara Belanda (NICA). Pada masa ini bentuk pemerintahan yang ada sebelumnya masih diteruskan. Kabupaten Ketapang berstatus Afdeling yang disempurnakan dengan Stard Blood 1948 No. 58 dengan pengakuan adanya Pemerintahan swapraja. Pada waktu itu Kabupaten Ketapng terbagi menjadi tiga pemerintahan swapraja, yaitu Sukadana, Simpang dan Matan, kemudian semua daerah swapraja yang ada digabungkan menjadi sebuah Federasi.

Pembentukan Kabupaten Ketapang pada masa Pemerintahan Republik Indonesia adalah berdasakan Undang-undang Nomor 25 tahun 1956 yang menetapkan status Kabupaten Ketapang sebagai bagian Daerah Otonom Provinsi Kalimantan Barat yang dipimpin oleh seorang Bupati.

SEJARAH AWAL MULA KOTA KETAPANG 

Dalam Atlas Sejarah yang disusun oleh Muhammad Yamin (1965) untuk mengidentifikasi Nusantara Raya menurut Mpu Prapanca di dalam naskah Nagarakertagama, wilayah geografi kota Ketapang saat ini diberi nama Tandjungpura. Kemudian dalam peta pada masa kesultanan Riau-Johor (Harun : 2003), wilayah kota Ketapang dinamai Matan.

Perubahan nama wilayah geografis dari Tanjung Pura menjadi Matan dan kemudian Ketapang, tidak diketahui dengan pasti karena tidak ada catatan sejarah atau prasasti yang menunjukkan peristiwa itu. Namun perubahan nama tempat atau kota pada masa kerajaan diduga akibat perubahan letak kerajaan atau berubahnya raja yang berkuasa ditempat itu akibat suatu peristiwa tertentu (perang, bencana alam dan keputusan raja).

Kepastian sejarah mengenai berdirinya Kota Ketapang hingga saat ini masih samar. Namun dapat dikatakan bahwa Kota Ketapang merupakan salah satu kota tertua di wilayah Kalimantan Barat yang dibuktikan dengan keberadaan Kerajaan Tanjungpura - Matan di wilayah Kota Ketapang yang merupakan kerajaan tertua di Kalimantan Barat.

Dugaan itu setidaknya didasarkan beberapa kronik Cina, Nagarakertagama, prasasti Waringin Pitu dan penelitian para ahli linguistik di kepulauan Indo-Malaya.
Dalam kronik Cina Chu Fan Chi yang dibuat oleh Chau Ju Kwa tahun 1225 M, Tanjungpura disebut dengan nama Tan-jung-wu-lo, dikatakan bahwa daerah ini sekitar tahun 1200 M merupakan jajahan raja Jawa.

Periode sezaman dengan tarikh kronik ini, di Jawa berkuasa Raja Jenggala - Kediri terakhir yaitu Sri Jayawarsa/Kertajaya (1190 - 1205 M) serta merupakan periode pertama berdirinya kerajaan Singasari dengan rajanya yaitu Sri Ranggah Rajasa/Ken Arok (1222 - 1227 M).

Maka apabila menggunakan tarikh dalam kronik Cina ini, Tanjungpura baik sebagai kerajaan maupun sebagai kota sudah berdiri pada sebelum tahun 1200 M. Namun letak wilayah geografisnya sulit ditentukan apakah dalam batasan "Kota Ketapang".

Chau Ju Kwa adalah seorang pedagang yang kemungkinan singgah di kota Tan Jung Wu Lo yang terletak di tepi pantai atau di dekat sungai. Sebagai pedagang antar negara, "perahu" yang dibawanya tentulah dengan tonase cukup besar, dan hanya bisa berlabuh dialur yang dalam dan luas. Diduga saat itu, lokasi kota Tan Jung Wu Lo berada dekat dengan pelabuhan, dan wilayah geografisnya saat ini mungkin terletak di "Ketapang Kecik", Kandang Kerbau (Sukabangun), atau sekitar kuala sungai pawan (Negeri Baru).

Dalam Nagarakertagama, Tanjungpura disebut sebagai daerah bawahan Majapahit. Naskah Nagarakertagama oleh Prapanca selesai ditulis pada tahun 1365 M, periode Raja Hayam Wuruk berkuasa (1350 - 1389 M). Selain menceritakan tentang kerajaan Majapahit, naskah tersebut juga menceritakan kerajaan Singasari (1222 - 1292 M).

Salah satu alur sejarah yang dapat dicermati yaitu pada saat pelantikan Gajah Mada menjadi Mahapatih Amangkubumi (1334 M) oleh Sri Tribuana Tunggadewi (1328 - 1350 M) dia mengucapkan sumpah setianya (disebut Sumpah Palapa), dan Tanjungpura pada saat itu belum merupakan daerah bawahan Majapahit.

Oleh karenanya salah satu isi sumpah Gajah Mada adalah akan menundukkan Tanjungpura (Atmodarminto : 2000).
Dalam Prasasti Waringin Pitu (1447 M), Tanjungpura (Tanjungnagara) sudah merupakan nama ibu kota negara bagian Majapahit untuk wilayah Pulau Kalimantan (Sehieke 1959). Pada masa itu, Majapahit dipimpin oleh raja Dyah Kertawijaya/Prabu Kertawijaya Brawijaya I (1447 - 1450 M).

Letak geografis kota Tanjungpura tersebut sebagaimana yang identifikasi Pigeaud (1963), Djafar (1978), dan Muhammad Yamin (1965), adalah terletak didalam batasan wilayah "Kota Ketapang" yaitu sebelah selatan kota Ketapang (sekarang Negeri Baru).

Versi lain mengenai berdirinya kota Ketapang dapat ditinjau dari peristiwa sejarah yang sangat penting pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Zainuddin di Kerajaan Matan, yaitu peristiwa perampasan kekuasaan oleh saudaranya sendiri Pangeran Agung pada tahun 1710 M. Pangeran Agung yang gagal merebut tahta saudaranya, dipenjarakan (diasingkan) oleh Sultan Muhammad Zainuddin dengan membuatkannya suatu kota kecil lengkap dengan pelayannya (gundik) 40 orang.

Dalam Sejarah Kalimantan Barat (Loutan 1973) daerah tersebut adalah Darul Salam. Orang Ketapang menyebut daerah tersebut Tembalok (tempat penjara raja) atau Sei Awan seberang Sukabangun. Dalam sejarah kerajaan Riau Johor dikatakan "dikurung dalam kota kecil sampai mati" (Ahmad 1985).

Hingga saat ini kesepakatan tentang hari jadi Kota Ketapang masih dalam proses kajian. Data diatas dapat dijadikan sebagai bahan rujukan dalam penentuan hari jadi Kota Ketapang secara legal formal (berdasarkan rujukan hasil Diskusi Panel Adat Budaya dan Kelestariannya di Musyawarah Besar II Ikatan Keluarga Kerajaan Matan dan Tanjungpura tanggal 7 s/d 8 Agustus 2004). 

Sejarah Asal Usul Kabupaten dan Kota Ketapang Kalimantan Barat

Sejarah Sunderland dimulai saat James Allen, seorang guru sekolah di Sunderland, membentuk seorang guru tim sepak bola khusus di wilayah Sunderland yang disebut "Klub Sepak Bola Asosiasi Sepak Bola Sunderland & Distrik" pada bulan Oktober 1879.


Klub ini kemudian berganti nama menjadi Sunderland Association Football Club , menunjukkan bahwa klub sekarang memperluas keanggotaannya ke publik. Tujuannya agar klub bisa memiliki dana yang cukup dan untuk memperbesar sumber pemain bagus.

Beberapa tahun kemudian, James Allen, pendiri Sunderland sendiri, merasa bahwa arah klub itu terlalu komersial dan dia tidak setuju dengan cara klub tersebut berjalan. Puncaknya, pada tahun 1888, Allen beserta sejumlah anggota dewan lainnya yang tidak merasa fit dari Sunderland AFC dan mereka membentuk sebuah counter club bernama Sunderland Albion Football Club.

Persaingan kedua klub semakin kentara dan bahkan malah membawa persaingan tidak sehat lagi. Pada saat kedua klub kebetulan bertemu di Piala FA musim 1888-1889, Sunderland AFC memilih untuk mengundurkan diri ketimbang membuat Albion mendapatkan uang dari penjualan tiket.

Albion adalah salah satu pendiri dan anggota liga Aliansi Sepak Bola, sebuah liga kontra Liga Sepak Bola. Sementara Sunderland AFC, saingannya, masuk menjadi anggota musim Football League 1890-1891. Saat Sunderland AFC mulai berkompetisi di Football League, Albion kemudian mulai kekurangan pendukung dan penonton. Dan saat Sunderland AFC keluar sebagai juara Football League di musim 1891-1892, Albion dibubarkan.

SUNDERLAND COMMUNITY (1892-1936) 

Sunderland benar-benar mendominasi sepak bola Inggris pada tahun-tahun awal lahirnya liga, yaitu di musim 1891-1892, 1892-1893, 1894-1895. William McGregor, pendiri Football League, untuk menjuluki mereka sebagai 'Full Talent Team'. Sunderland kembali menjuarai liga pada 1913, di tahun yang sama mereka gagal di final Piala FA setelah mengalahkan Aston Villa di final.

Kejuaraan liga keenam dimenangkan pada tahun 1936. Setahun kemudian, mereka memenangkan Piala FA untuk pertama kalinya setelah mengalahkan Preston North End 3-1 di final.

SEJARAH TRANSFER PEMAIN (1949-1950)

Sunderland adalah klub pertama dalam sejarah yang melakukan transfer saat mereka membayar £ 18.000 untuk pemain manajer Carlisle United, Ivor Broadis. Kemudian menyusul rekaman pembelian pemain Len Shackleton dan Wales Trevor Ford.

Karena pembelian pemain tersebut, Sunderland dijuluki klub 'Bank of England'. Sunderland mencapai peringkat 3 liga pada tahun 1950, peringkat tinggi terbaru sampai sekarang.

KRISIS KEUANGAN (1957-1958) 

Pada tahun 1957, Sunderland dihukum oleh liga karena tertangkap di luar batas gaji pemain (pada saat itu ada peraturan di mana klub tidak dapat melebihi jumlah total tertentu dalam pemain gaji - seperti gaji di NBA sekarang). Hasilnya adalah sebuah klub yang didenda £ 5.000, ketua klub dan tiga direktur liga yang ditangguhkan.

Hukuman tersebut terbukti menjadi pengaruh besar sehingga pada tahun 1958 Sunderland harus diturunkan untuk pertama kalinya setelah umpan silang berusia 68 tahun di divisi satu. FA CUP 1973 Sunderland yang notabene hanya klub divisi 2 bisa memenangi Piala FA pada 1973 dengan menggulingkan Leeds United 1-0.

Di final yang diadakan di Wembley, kiper Sunderland, Jimmy Montgomery, melakukan penyelamatan yang menakjubkan dua kali. Penyelamatan ini secara luas disebut sebagai keselamatan terbaik dalam sejarah Wembley, dan banyak bahkan menyebutnya sebagai keselamatan terbaik dalam sejarah.

Itu adalah Ian Porterfield yang mencetak gol kemenangan Sunderland dengan tendangan voli di menit ke-30. Sejak 1973 hanya ada dua klub lain yang bisa memenangi Piala FA di luar divisi satu, Southampton pada 1976 dan West Ham United pada 1980.

PERIODE 1974-1991

Pada periode ini, prestasi Sunderland yang luar biasa adalah saat mereka memasuki final Piala Liga 1985 dimana mereka kalah di final di atas Norwich City. Uniknya setelah pertemuan mereka di final tahun 1985, mereka menandatangani sebuah kesepakatan bahwa setiap Sunderland dan Norwich City bertemu dalam acara apapun, ada trofi pertemanan yang selalu ada di antara mereka.

Setelah tahun 1985, prestasi Sunderland terus melorot, puncaknya pada tahun 1987 mereka harus terdegradasi ke Divisi 3 untuk pertama kalinya dalam sejarah mereka. Namun di bawah pimpinan dan manajer baru Bob Murray dan Denis Smith, mereka mulai bangkit dengan cepat dan sukses meraih promosi hingga mencapai divisi pertama lagi di tahun 1990.

Sayangnya kali ini mereka hanya bertahan selama satu musim di divisi satu dan lagi di musim depan.

PERIODE 1992-2006 

Sunderland mengejutkan Inggris lagi saat mereka mencapai final Piala FA 1992 dengan status hanya klub divisi 2. Tapi kali ini tidak ada pengulangan sejarah besarnya di tahun 1973, Sunderland kalah 2-0 dari Liverpool.

Setelah itu Sunderland tampil tidak stabil dan hampir terdegradasi ke divisi 3 jika saja Peter Reid tidak menyelamatkan klub. Reid, mantan pemain internasional Inggris, dengan cepat membuat perubahan untuk memperbaiki penampilan Sunderland.

Di Era Peter Reid ditandai dengan proses menstabilkan klub, ia menahan Sunderland selama 7 tahun dan termasuk uded salah satu manajer terpanjang Sunderland.

STADION UTAMA SUNDERLAND AFC 


Pada tahun 1997, Sunderland menyelesaikan pembangunan stadion barunya dan berpisah dengan stadion Roker Park, kandang berusia 99 tahun mereka. Kandang baru bernama Stadium Of Light, sebuah stadion berkapasitas 42.000 penonton yang pada saat itu merupakan stadion baru terbesar yang pernah dibangun setelah Perang Dunia II.

Kapasitas stadion kemudian ditambahkan ke 49.000 penonton. Pada tahun 1999, Sunderland kembali melakukan promosi ke Premier League dengan memenangi divisi kedua dengan catatan 105 poin. Kucing Hitam bertahan sampai tahun 2003 di mana mereka dengan malu-malu terdegradasi setelah menjadi juru kunci liga dan menghasilkan hanya 19 poin.

Mick McCarthy kemudian membawa promosi Sunderland lagi ke Premiership pada tahun 2005, namun kali ini lebih buruk lagi, di mana mereka mencetak hanya 15 poin, rekor Premiership rendah sebelum dipecahkan lagi oleh Derby County pada musim 2007-2008.

Ketika Sunderland terdegradasi lagi di tahun 2006, Konsorsium Drumaville, sebuah konsorsium Irlandia yang dipimpin oleh mantan pemain Sunderland sendiri, Nial Quinn, datang untuk mengambil alih kepemilikan klub tersebut. Quinn kemudian menjadi ketua baru Sunderland untuk menggantikan Bob Murray.

Selama kekosongan kursi manajer, Quinn bahkan berhasil menyusul klub tersebut sebagai manajer namun dengan hasil buruk. Roy Keane, mantan legenda Manchester United yang juga berselisih dengan Quinn di Irlandia, ditunjuk sebagai manajer Sunderland baru. Sementara masih menjadi pemain di Manchester United, Ferguson pernah mengatakan bahwa Roy Keane suatu hari nanti akan menjadi manajer hebat berkat penglihatannya yang tajam dalam sepakbola.

Keane kemudian membawa Sunderland naik dari dasar kejuaraan divisi (sebelumnya divisi 2) untuk kemudian promosi ke Premier League di musim pertamanya sebagai manajer. Musim 2007-2008, Sunderland bisa bertahan di Premiership setelah duduk di posisi ke-15 klasemen sementara.

Musim 2008-2009 diawali dengan penampilan Black Cats yang tidak konsisten yang membuat manajer Roy Keane memutuskan untuk mengundurkan diri. Keane kemudian diganti sementara oleh pelatih Ricky Sbragja, yang kemudian statusnya dikonfirmasi. Meski mampu membuat Sunderland tetap di Premiership Sbragja mengundurkan diri dan kemudian memutuskan hanya untuk menjadi pramuka klub.

Ellis Short, seorang pengusaha Amerika, kemudian datang untuk mengambil alih saham Konsorsium Drumaville bersama Nial Quinn yang tersisa sebagai ketua Sunderland. Untuk menggantikan Sbragja membawa Steve Bruce, manajer Wigan yang berhasil menangani Latics dan Birmingham sebelumnya.

Sejarah Asal usul Terbentuknya Sunderland A.F.C

Kerajaan Sindangkasih merupakan kota kecamatan Majalengka Jawa Barat. Keberadaannya disebut sebagai cikal bakal sejarah Kabupaten Majalengka. Sementara itu, dalam kewilayahan Kabupaten Majalengka sekarang ini berdasarkan besluit Pemerintah Belanda; Besluit Gubernur Jenderal D. J. de Eerens No. 11 Februari tahun 1840 Mengubah Kabupaten Maja menjadi Majalengka serta memindahkan ibu kota ke Sindangkasih dan mengubah nama Sindangkasih menjadi Majalengka. Secara de facto dalam wilayah yang disebutkan mencakup Kerajaan Sindangkasih, Kerajaan Talaga, Kerajaan Rajagaluh, dan Kerajaan Jatiraga.

ASAL USUL KERAJAAN SINDANGKASIH

Kerajaan Sindangkasih keberadaanya hanya dikaitkan dengan proses penyebaran Islam dari Cirebon. Ternyata penelusuran sejarah keberadaan Sindangkasih seharusnya dari Kerajaan Sumedang Larang dan Kerajaan Galuh. Sindangkasih disebutkan dalam Naskah Sunda Kuno (NSK) oleh Undang A Darsa sebagai salah satu dari 73 Ke-Mandala-an Sunda di Tatar Pasundan. Mandala adalah tempat suci keagamaan bagi Urang Sunda. Selain itu, tempat suci juga ada yang disebut dengan Kabuyutan. Di Tatar Pasundan, terdapat 800 Kabuyutan.

Sindangkasih adalah ke-Raja Mandala-an seperti tertulis dalam sejarah Kerajaan Tarumanagara. Bagi masyarakat awam seringkali menyamakan istilah ka-Mandala-an atau Kabuyutan dengan kerajaan. Serta pemimpin Mandala sering disebut Rajaresi, selain Rajamandala.

Para pemimpin Mandala atau dalam pandangan masyarakat umum sering disamakan dengan "Kabuyutan" adalah Guru Resi, Resi Guru atau Guruloka (dalam Kitab Sanghyang Siksa Kanda Ng Karesian. Bedanya, Mandala atau Kemandalaan adalah Lemah Dewasasana yang merupakan tempat suci yang di dalam ajarannya terpengaruh Hindu-Buddha (Siwa-Buddha) sedangkan Kabuyutan termasuk Lemah Parahyangan, yaitu tempat suci ajaran Jati Sunda atau Sunda Wiwitan.

 Di tatar Pasundan terdapat 800 kabuyutan, dan 73 Mandala yang ada sering disamakan sebagai kabuyutan. Memang bisa dikatakan bahwa semua Mandala adalah kabuyutan, sedangkan tidak semua kabuyutan adalah kemandalaan.

Lemah Dewasasana adalah Mandala sebagai tempat pemujaan kepada para Dewa, sedangkan Lemah Parahyangan adalah Mandala sebagai tempat pemujaan Hyang(Danasasmita & Anis Djatisunda, 1986:3 dalam Luthfiyani, 2017).

Wilayah Kamandalaan secara fisik berwujud adanya tempat suci khusus tempat pemujaan, misalnya berupa punden berundak Selain itu juga terdapat wilayah "paguron" yaitu tempat para murid atau Sastri (siswa Buddha) mengkaji (dari sini muncul istilah mengaji) ilmu agama dengan adanya bangunan-bangunan. Wilayah perdikan Mandala juga dilengkapi dengan pusat tata niaga, pertanian dan sebagainya untuk keperluan para sastri. Lingkungan paguron ini disebut pesastrian atau pesantren (yang kemudian hari bermetamorfosis menjadi pesantren dalam ajaran Islam).

Yang paling menarik, Mandala-mandala ini mendapatkan perlindungan dari kerajaan Sunda-Galuh juga pada masa Pajajaran. Pihak kerajaan menempatkan tentaranya untuk menjaga keamanan Mandala. Pun demikian dengan Mandala Sindangkasih.

Pandangan masyarakat umum dikemudian hari yang menganggap bahwa Mandala adalah kerajaan wajar terjadi. Karena adanya keteraturan sistem pengelolaan yang mirip pemerintahan kerajaan juga ditambah adanya prajurit keamanan semakin menguatkan Mandala adalah kerajaan. Ditambah lagi, dalam tata kelola kerajaan pusat menyebut para pemimpin Mandala sebagai "Rajamandala".

Kisah legenda Kerajaan Sindangkasih dipimpin oleh seorang Ratu cantik bernama Nyi Rambut Kasih yang memimpin kerajaannya dengan bijaksana dan penuh dengan kemakmuran. Di Sindangkasih ini dikisahkan terdapat buah Maja.

Tersebutlah sebuah kisah Istri Sultan Cirebon, mengalami sakit dan setelah diterawang oleh seorang ahli keraton ternyata obatnya adalah buah maja. Utusan Cirebon datang menghadap Ratu Sindangkasih untuk meminta buah Maja sebagai obat, tetapi Sang Ratu tidak memberikannya. Sang Ratu tidak peduli dan menunjukkan rasa benci terhadap orang Cirebon.

Kisah ini menjadi kontroversi karena tidak menggambarkan suasana kebudayaan Sunda sama sekali. Banyak pihak menganggap ketidakmukinan adanya pengabaian dari seorang ratu Sindangkasih ketika dimintai sebutir buah Maja untuk mengobati seseorang. Suatu tindakan yang mustahil dilakukan oleh orang Sunda serta sikap yang tidak menunjukkan sikap orang Sunda. Menurut pupuhu Sunda Majalengka, hal tersebut "henteu Nyunda" tak menunjukkan layaknya perilaku Sunda. Jadi peristiwa itu ditenggarai sebagai dongeng semata.

Selanjutnya kerajaan Sindangkasih berganti nama menjadi Majalengka berdasarkan ucapan para prajurit Cirebon yang mengatakan Maja Langka. Maksudnya buah Maja hilang atau tidak ada. Disusul dengan sang Ratu Sindangkasih yaitu Nyi Rambut Kasih ngahiyang. Kejadian ini diperkirakan pada tahun 1480 Masehi.

Kisah dari Cirebon tersebut hanya beruba babad atau epik kepahlawan tentang penggamabaran betapa sulitnya menyebarkan Islam di wilayah Majalengka. Kisah yang diragukan kebenarannya. Seperti umumnya sejarah yang ditulis oleh pemenang, tentu menimbulkan bias. Banyak hal yang irasional serta tidak menunjukan kronologi kejadian mengenai Kisah Nyi Rambut Kasih yang berasal dari dongeng-dongeng Cirebon.

kini muncul lagi versi lain dari Cirebon dalam Naskah Mertasinga, bahwa kerajaan Sindangkasih yang dimaksud adalah wilayah beber Cirebon.

SINDANGKASIH BERUPA MANDALA

Pengertian "Mandala" dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah 1 wilayah kekuasaan lembaga keagamaan; 2 bulatan; lingkungan (daerah). Semantara Mandala juga dapat dipandang secara politik. Mandala(मण्डल) adalah istilah bahasa Sanskerta yang bermakna "lingkaran". Mandala digunakan sebagai model untuk menggambarkan pola penyebaran pengaruh kekuasaan politik dalam sejarah purba Asia Tenggara ketika kekuasaan setempat memegang peranan penting.

 Konsep sejarah-politik mandala ini berkaitan dengan kecenderungan modern untuk memandang persatuan kekuasaan politik, misalnya kekuasaan kemaharajaan atau negara-bangsa besar di kemudian hari. Hal ini merupakan hasil dari kemajuan teknologi pembuatan peta pada abad XV. Sejarawan asal Inggris O. W. Wolters meyebutkan gagasan ini pada 1982:

"Peta sejarah purba Asia Tenggara berevolusi dari jejaring permukiman prasejarah yang muncul dalam catatan sejarah sebagai serpihan-serpihan yang membentuk mandala yang kadang saling tumpang tindih."

Istilah mandala digunakan untuk menjelaskan sejarah awal pembentukan politik Asia Tenggara, seperti federasi atau persekutuan beberapa kerajaan yang dipersatukan oleh kerajaan induk, atau kumpulan kerajaan-kerajaan bawahan (vasal) yang tunduk pada satu pusat kekuasaan. Istilah ini digunakan pada abad ke-20 oleh sejarahwan Barat dalam diskursus pranata politik India kuno, untuk menghindari penggunaan istilah "negara" dalam arti konvensional.

 Pranata atau kesatuan politik Asia Tenggara purba berbeda dengan kesatuan politik dalam pengertian China dan Eropa, dimana kawasan negara ditentukan oleh garis perbatasan yang jelas dan aparat birokrat, akan tetapi menyebar dengan arah kebalikannya: kesatuan politik ditentukan oleh pusat atau inti kekuasaannya daripada perbatasannya, dan dapat tersusun atas beberapa unit politik bawahan tanpa integrasi administratif lebih lanjut.

Dalam beberapa hal, sistem mandala ini mirip dengan sistem feodal di Eropa, negara-negara bagian atau negeri bawahan terikat oleh tuannya melalui hubungan tribut yaitu memberikan persembahan berupa upeti. Dibandingkan dengan sistem feodal, sistem mandala ini memberikan lebih banyak kebebasan kepada negeri bawahannya; hubungannya lebih bersifat hubungan pribadi antar penguasanya; dan seringkali bersifat tidak eksklusif. Suatu daerah tertentu dapat menjadi bawahan beberapa sistem mandala tertentu, atau bahkan tidak samasekali.

Mengutip pendapat Undang A Darsa, bahwa di Tatar Sunda terdapat 73 Mandala atau Kamandalaan. Mandala adalah kawasan perdikan (pusat pendidikan agama) di tatas Sunda. Salah satu diantaranya adalah Mandala Sindangkasih Majalengka.

Para pemimpin Mandala atau dalam pandangan masyarakat umum sering disamakan dengan "Kabuyutan" adalah Guru Resi, Resi Guru atau Guruloka (dalam Kitab Siksa Kanda Ng Karesian). Bedanya, Mandala atau Kemandalaan adalah Lemah Dewasasana yang merupakan tempat suci yang di dalam ajarannya terpengaruh Hindu-Buddha (Siwa-Buddha) sedangkan Kabuyutan termasuk Lemah Parahyangan, yaitu tempat suci ajaran Jati Sunda atau Sunda Wiwitan. Di tatar Pasundan terdapat 800 kabuyutan, dan 73 Mandala yang ada sering disamakan sebagai kabuyutan. Memang bisa dikatakan bahwa semua Mandala adalah kabuyutan, sedangkan tidak semua kabuyutan adalah kemandalaan.

Lemah Dewasasana adalah Mandala sebagai tempat pemujaan kepada para Dewa, sedangkan Lemah Parahyangan adalah Mandala sebagai tempat pemujaan Hyang (Danasasmita & Anis Djatisunda, 1986:3 dalam Luthfiyani, 2017).

Wilayah Kamandalaan secara fisik berwujud adanya tempat suci khusus tempat pemujaan, misalnya berupa punden berundak Selain itu juga terdapat wilayah "paguron" yaitu tempat para murid atau Sastri (siswa Buddha) mengkaji (dari sini muncul istilah mengaji) ilmu agama dengan adanya bangunan-bangunan. Wilayah perdikan Mandala juga dilengkapi dengan pusat tata niaga, pertanian dan sebagainya untuk keperluan para sastri. Lingkungan paguron ini disebut pesastrian atau pesantren (yang kemudian hari bermetamorfosis menjadi pesantren dalam ajaran Islam).

Yang paling menarik, Mandala-mandala ini mendapatkan perlindungan dari kerajaan Sunda-Galuh juga pada masa Pajajaran. Pihak kerajaan menempatkan tentaranya untuk menjaga keamanan Mandala. Pun demikian dengan Mandala Sindangkasih.

Pandangan masyarakat umum dikemudian hari yang menganggap bahwa Mandala adalah kerajaan wajar terjadi. Karena adanya keteraturan sistem pengelolaan yang mirip pemerintahan kerajaan juga ditambah adanya prajurit keamanan semakin menguatkan Mandala adalah kerajaan. Ditambah lagi, dalam tata kelola kerajaan pusat menyebut para pemimpin Mandala sebagai "Rajamandala".

Beberapa Mandala di tatar Sunda ada yang bermetamorfosis (berubah bentuk) menjadi kerajaan. Misalnya Mandala Sunda Sambawa. Ajaran Tri Tangtu Sunda diajarkan di Kamandalan Sunda Sembawa. Tri Tangtu (Rama, Resi, Ratu) merupakan tiga kekuataan Purbatisti Purbajati i Bhumi Pertiwi yang menghasilkan Uga (perilaku) Ungkara(nasihat) Tangara (tanda alam), sebagai sistem polaperilaku dalam berbangsa dan bernegara yang telah dipergunakan oleh para Pangagung mwah Pangluhung i Sunda Sembawa Sunda Mandala.

Panyca Pasagi (Sir Budi Cipta Rasa Adeg)adalah lima kekuatan dalam diri manusia (Raga Sukma Lelembutan) yang merupakan dasar kekuatan untuk menimbulkan serta menentukan Tekad Ucap Lampah Paripolah Diri manusia yang akan dan harus berinteraksi dengan Sang Pencipta, Bangsa dan Negara, Ibu Bapak Leluhur, Sesama makluk hidup, dan alam kehidupan jagar raya (Buana Pancer Sabuder Awun).

Lokasi Mandala Sindangkasih (maksudnya kota atau kecamatan Majalengka), bukan Kabupaten Majalengka. Alasannya Mandala Sindangkasih di sebelah Tenggara dibatasi Mandala Bitunggiri yang kelak berubah menjadi Kerajaan Talaga Manggung. dan di Timur Laut berbatasan dengan Kerajaan Rajagaluh. Sebagian Selatan dan Barat Mandala Sindangkasih berbatasan dengan Cilutung dan Mandala Tembong Agung(Kerajaan Tembong Agung lalu berubah menjadi Mandala Himbar Buana). Di bagian Utara Mandala Sindangkasih dibatasi Mandala Wanagiri (Palimanan) yang juga bermetamorfosis menjadi Kerajaan Wanagiridan Kerajaan Singhapura (Sing Apura) Cirebon.

Bila beberapa Mandala di sekitar Sindangkasih berubah menjadi Kerajaan, maka Sindangkasih tetap menjadi Mandala Sindangkasih dengan sebutan Raja-Mandala, buka kerajaan kedatuan. Ada banyak Mandala dan Kabuyutan yang tetap menjadi pusat keagaamaan. Tidak tercatat dalam sejarah bahwa 800 Kabuyutan (73 diantaranya adalah ke-Manndala-an) berubah menjadi 800 Kerajaan di Tatar Sunda. Bahkan terulis dalam Naskah kuno ada beberapa kerajaan yang di dalamnya terdapat dua atau lebih ke-Mandala-an.

GURU RESI WANGSA UNGKARA

Seperti disinggung di atas, Sindangkasih adalah sebuah Mandala atau tempat suci dan kawasan perdikan. Mandala ini dipimpin Guru Resi di Mandala Sindangkasih Majalengka. Keberadaanya diidentifikasi oleh "Komara Sunda" -Komunitas Masyarakat Arkeologi Sunda, Bandung sejak tahun 2014.

Nama keluarga dari keturunan Wangsa Ungkara tidak dipergunakan lagi. Alasannya sebagai penegas dan pembeda antara Islam abangan dan Islam putih. Islam abangan biasanya masih berpengaruh di kalangan pelaksana pemerintahan sebagai kelanjutan kerajaan-kerajaan di masa itu. Akhirnya, keberadaan Wangsa Ungkara "hilang ditelan bumi". Alasan meraka sesuai pepatah Sunda "ulah Agul ku Payung Butut" jangan membangga-bangkan silsilah. Zaman telah berganti, penulisan silsilah dan ditunjukan kepada orang lain dianggap tidak sesuai zaman. Menurut Ekadjati (1988: 9), naskah yang berisi silsilah, sejarah leluhur, dan sejarah daerah pada masanya merupakan pegangan kaum bangsawan. Selain itu, naskah tersebut juga menjadi alat legitimasi bagi raja yang berkuasa.

 Pada masa lalu raja-raja di tanah Jawa dikenal gemar sekali memamerkan silsilah atau asal-usul garis keturunannya sebagai alat legitimasi untuk melanggengkan kekuasa-annya. Namun, kini fungsi tersebut mengalami proses pelunturan, bahkan tidak berfungsi lagi.

Sejarah asal usul Guru Resi Wangsa Ungkara dari Kerajaan Galuh. Seperti halnya Kerajaan Talaga Manggung (berawal dari Mandala Bitunggiri) dan Mandala Purwa Talaga), Kerajaan Indraprahasta (Mandala Indraprahasta) dan Kerajaan Saunggalah(Mandala Saunggalah - Kuningan). Berawal adanya perbutan kekuasaan antara Sanjaya dan Purbasora, cucu Wretikandayun.

Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya adalah raja pertama Kerajaan Medang periode Jawa Tengah (atau lazim disebut Kerajaan Mataram Kuno), yang memerintah dari tahun 717(?) – 746 Masehi. Namanya dikenal melalui prasasti Canggal dan prasasti Mantyasih, serta naskah Carita Parahyangan. Sanjaya adalah pendiri Wangsa Sanjaya. Ia anak Bratasenawa atau Sang Sena putera Sang Wretikandayun penguasa Kerajaan Galuh.

Raja Kerajaan Galuh Sang Wretikandayun. Sang Wretikandayun adalah Raja pertama di Kerajaan Galuh yang memerintah di Kerajaan Galuh dengan gelar Maharaja Suradarma Jayaprakosa dari tahun 612 Masehi sampai 702 Masehi sebagai kelanjutan dari Kerajaan Kendan masih bawahan kerajaan Tarumanagara. Sang Wretikandayun ber­kuasa di Kerajaan Galuh pada tahun 534-­592 Saka (612/3-670/1 Masehi), lamanya 58 tahun, sebagai ratu wi­layah di bawah kerajaan Tarumanagara. Pa­da tahun 592-624 Saka (670/1-702/3 Masehi), selama 32 tahun sebagai raja Kerajaan Galuh merdeka. Dalam Carita Parahiyangan ditegaskan Kerajaan Galuh didiri­kan oleh Sang Wretikandayun, ba­ginda berkuasa 90 tahun.

Purbasora menyusun pasukan dengan merekrut rakyat limbangan dan sumedang larang bergabung dengan pasukan Purbasora lalu menyerbu istana Galuh, sehingga terjadi perang saudara dan Purbasora berhasil merebut istana Galuh, namun Bratasenawa berhasil meloloskan diri ke gunung Merapu sehingga selamat dari gempuran Pasukan Purbasora. Diawal kekuasaanya Purbasora mengikis habis pengikut Bratasenawa, Sementara Bratasenawa mendapa bantuan politik dari penguasa Kerajaan Kalingga utara.

Bratasenawa (Sang Sena) menjadi Pemangku kerajaan Kalingga utara kemudian menikah dengan Sanaha melahirkan Raden Sanjaya. Kehadiran Sanjaya di Kalingga utara membuat kekhawatiran Prabu Purbasora bahwa Sanjaya akan membalas dendam kekalahan ayahnya Bratasenawa. Dugaan tersebut menjadi kenyataan Istana Galuh diserang oleh pasukan Sondjaya didalam pertempuran Prabu Purbasora diusia tuanya gugur ditangan Sanjaya.

Para pembesar Kerajaan Galuh termasuk para resi menyingkir atau mengungsi. Banyak yang menyingkir akibat terbununhya Purbasora oleh Sanjaya yang menganut Bhairawa. Pelarian ini terjadi karena Sanjaya yang memeluk agama Syiwa Bhairawa cenderung agresif dan berusaha menaklukan raja-raja. Sementara para raja Kerajaan Galuh menganut Hindu Waisnawa (menyembah Wisnu) dan adanya sinkretisme Hindu Buddha. Sanjaya di Jawa Barat juga dikenal dengan sebutan Prabu Harisdarma. Ia meninggal dunia karena jatuh sakit akibat terlalu patuh dalam menjalankan perintah guru agamanya. Dikisahkan pula bahwa putranya yang bernama Rahyang Panaraban dimintanya untuk pindah ke agama lain, karena agama Sanjaya dinilai terlalu menakutkan.

Diantara para pengungsi tersebut adalah Guru Resi Wangsa Ungkara. Pelariannya hingga tiba di Gunung Balay Pancurendang Tonggoh, (kini masuk kelurahan Babakan Jawa Majalengka Wetan, Kecamatan Majalengka). Posisinya aman dari jangkauan prajurit Galuh. Gunung Balay berada di Utara Sungai Cilutung dan di Selatan sungai Cijurey. Menurut cerita tutur tinular, turun temurun bahwa di Gunung Balay terdapat peilasan Prabu Adji Putih, pendiri kerajaan Tembong Agung sebagai cikal bakal Kerajaan Sumedang Larang.

Dalam sejarah Kerajaan Sumedang Larang bahwa Patih Bimaraksa beserta keluarganya berhasil meloloskan diri kedalam hutan belantara dan pasukan Sanjaya kehilangan jejak Patih Bimaraksa. Patih Bimaraksa beserta keluarganya melakukan perjalanan yang sangat jauh ke arah utara melintasi hutan lebat dan melintasi Gunung Penuh, Gunung Mandalasakti, Gunung Gunung Nurmala (Sangkanjaya sekarang) dan berakhir di kampung Muhara Leuwi Hideung Darmaraja.

Disanalah Bimaraksa mendirikan "Padepokan Tembong Agung" sekaligus mendidik putranya Adji putih yang dipersiapkan sebagai Pemimpin yang tangguh.

Padepokan Tembong Agung Mendorong perkembangan keagamaan dan kebudayaan secara perlahan-lahan Padepokan Tembong Agung menjadi Pusat penyebaraan Keagamaan dan kebudayaan Sunda. Setelah Penobatan putranya, Bimaraksa yang telah menjadi seorang Resi Bimaraksa pergi kedaerah utara ditepian sungai Cimanuk. Disana mendirikan "Padepokan Bagala Asih Panyipuhan" (Bagala atau Bagara = Tempat, Asih = Kasih sayang) yang bermakna tempat untuk menjalin kasih sayang antara sesama insan (tempat bersilaturahmi antara sang pencipta dan sesama insan) Panyipuhan = Membersihkan/penyucian jasmani dan rohani. Kemudian "Padepokan Bagala Asih Panyipuhan" menjadi tempat bekumpulnya/tempat konsultasinya para Resi ditatar Sunda. Apakah Guru Resi Bimaraksa adalah Guru Resi Wangsa Ungkara.

Sebagaimana konsep Tri Tangtu Sunda (Rama, Resi, Ratu) yang merupakan tiga kekuataan Purbatisti Purbajati i Bhumi Pertiwi yang menghasilkan Uga (perilaku) Ungkara (nasihat) Tangara (tanda alam). Guru Resi Wangsa Ungkara dipastikan bukan nama sebenarnya. Ungkara adalah nasihat. Bisa diartikan Wangsa Ungkara adalah seorang pemberi nasihat, yaitu para pendeta agama Hindu-Buddha. Sementara itu, keturunan-keturunan Guru Resi Wangsa Ungkara kelak menjadi para Kyai yang menyebarkan agama Islam di Sindangkasih (Majalengka).

 Oleh karena nama Wangsa Ungkara tidak digunakan lagi sejak Kyai Abhari dalam perjuangannya bersama KH Abdul Halim. Kyai Abhari berputera 8 orang. Diantaranya ada Kyai Haji Adnan, Kyai Hasyim dan Muchsin. Kyai Haji Adnan, serta para puteranya menjabat di Kantor Urusan Agama (KUA) Majalengka dan MUI Majalengka.

Meskipun dari penjelasan keluarga dan leluhur bahwa bergelar Raden, Rahadyan atau Rakyan, tetapi menurut penulusuran Komara Sunda bahwa Wangsa Ungkara bukan dari kalangan Tohaan (Raja), khususnya nama Wangsa tersebut, tetapi dari Kasta Brahmana atau Resi Guru. Wangsa Ungkara atau Wangsa Ongkara atau Wangsa Hungkara atau Wangsa Hongkara.

 Hongkara ini didapati sebagai Shiwa dalam kitab Weda Hindu. Disebutkan Hongkara Wangsa. Oleh karena itu terdapat bukti yang dapat dipahami jika keluarga keturunannya tidak ingin mencantumkan wangsa ungkara dibelakang nama keluarga mereka yang dikenal sebagai keluarga Kyai.

Keturunan wangsa Ungkara semenjak Guru Resi Wang Ungkara tetap menjadi Para Ungkara atau pemberi nasihat keagamaan. Yang membedakannya adalah agamanya. Putra-putri Kyai Abhari (pengajar PUI masa kepemimpinan KH Abdul Halim), seperti Kyai Muchsin memperdalam Ilmu agama Islam di Pesantren-pesantren di Cirebon, diantaranya pesantren Ciwaringin.

MENJADI BAGIAN DARI SUMEDANG LARANG

Sejarah Kerajaan Sumedanglarang sangat berkaitan dengan Sindangkasih. Peta wilayah kekuasaan Sumedanglarang berubah-ubah beriringan dengan situasi politik yang menentukannya.

Cikal bakal kerajaan Sumedang larang adalah Kerajaan Tembong Ageung. Kerajaan Tembong Agung (Tembong artinya tampak dan Agung artinya luhur) dipimpin oleh Prabu Guru Aji Putih pada abad ke-12. Kemudian pada masa zaman Prabu Tadjimalela, diganti menjadi Himbar Buana yang berarti menerangi alam, dan kemudian diganti lagi menjadi Kerajaan Sumedang Larang (Sumedang berasal dari kata Insun Medal/Insun Medangan yang berarti aku dilahirkan; aku menerangi dan Larang berarti sesuatu yang tidak ada tandingannya).

Prabu Guru Haji Putih berputra Prabu Resi Tadjimalela. Berdasarkan perbandingan generasi dalam Kropak 410 Tadjimalela sejajar dengan tokoh Ragamulya (1340 - 1350) penguasa di Kawali dan tokoh Surya Dewata, ayahanda Batara Gunung Bitung di Talaga, Majalengka.

Masa keemasan Kerajaan Sumedang Larang di bawah pemerintahan Prabu Geusan Ulun. Masa kekuasaan Prabu Geusan Ulun (1578 - 1601) bertepatan dengan runtuhnya Kerajaan Pajajaran akibat serangan Banten di bawah Sultan Maulana Yusuf.

Sebelum Prabu Siliwangi meninggalkan Pajajaran mengutus empat Kandaga Lante untuk menyerahkan Mahkota serta menyampaikan amanat untuk Prabu Geusan Ulun yang pada dasarnya Kerajaan Sumedang Larang supaya melanjutkan kekuasaan Pajajaran. Geusan Ulun harus menjadi penerus Pajajaran.

Dalam surat Rangga Gempol II menyebutkan Sindangkasih dengan kalimat "ditambah Sindangkasih" daerah muara Cideres ke Cilutung. Jadi wilayah ini berada di seberang Cilutung bila dilihat dari Sumedang. Sungai biasanya menjadi batas wilayah di tatar pasundan.

Sewaktu Kerajaan Sumedanglarang di bawah Mataram, terdapat Umbul Sindangkasih (bagian dari kabupaten Parakanmuncang. Umbul Sindangkasih dipimpin Somahita. Saat itu, Kerajaan Sumedang Larang diperintah oleh Raden Aria Suriadiwangsa, anak tiri Geusan Ulun dari Ratu Harisbaya, Sumedang Larang menjadi daerah kekuasaan Kesultanan Mataram sejak tahun 1620.

 Sejak itu status Sumedang Larang berubah dari kerajaan menjadi kabupaten dengan nama Kabupaten Sumedang. Mataram menjadikan Priangan sebagai daerah pertahanannya di bagian barat terhadap kemungkinan serangan pasukan Banten atau VOC yang berkedudukan di Batavia, karena Mataram di bawah pemerintahan Sultan Agung (1613-1645) bermusuhan dengan VOC dan konflik dengan Kesultanan Banten.

Gambaran bahwa Kerajaan Sindangkasih tak jauh dari Cideres dan Cilutung. Daerah yang termasuk Kerajaan Sindang dengan wilayah kekuasaanya meliputi Sindangkasih, Kulur, Kawunghilir, Cieurih, Cicenang, Cigasong, Babakan Jawa, Munjul, dan Cijati. Bila dilihat kondisinya sekarang ini, menunjukkan Kecamatan Majalengka Sekarang. karena perkembangan zaman wilayahnya bertambah Tarikolot (mungkin dulu dimasukan ke Cijati), Cicurug, Sidamukti (mungkin dulu dimasukan ke Munjul), Cibodas (Mungkin dulu sudah dimasukan ke Sindangkasih), Cikasarung, Kawunggirang (mungkin dulunya perbatasan, dan yang masuk ke Sindangkasih hanya Kawunghilir? karena dahulu kawunghilir dan kawunggirang adalah satu desa yakni: Kawungluwuk) Majalengka.

DISERAHKAN KE CIREBON

Sindang kasih adalah bagian Kerajaan Sumedang Larang, hingga diserahkannya Sindangkasih ke Cirebon dalam kasus Putri Harisbaya dan Prabu Geusan Ulun. Drama dimulai ketika Raja Sumedang era 1578-1610, Prabu Geusan Ulun, berkunjung ke Cirebon dalam perjalanan pulang dari Kesultanan Pajang yang berpusat di Kartasura, dekat Solo. Pusat pemerintahan dan pendidikan Islam di Jawa kala itu telah dipindahkan dari Demak yang sudah runtuh tahun 1548 ke Pajang –tidak jauh dari Surakarta. Demak dan Pajang adalah penerus Majapahit dari wangsa Mataram.

Di Kraton Cirebon, Geusan Ulun bertemu dengan Ratu Harisbaya yang konon pernah menjadi kekasihnya. Dari situlah cinta lama bersemi kembali walau terlarang. Harisbaya secara diam-diam meminta kepada Geusan Ulun agar membawanya kabur meskipun ia masih istri sah Panembahan Ratu.

Prabu Geusan Ulun mengiyakan permintaan putri Harisbaya. Kemudian, Harisbaya dilarikan ke Sumedang (versi lain, sang putri ngumpet di kereta Geusan Ulun) pada tahun 1585 (Naskah Pustaka Kertabhumi 1-2). Tentu saja peristiwa ini memicu murka Panembahan Ratu yang segera mengirimkan pasukan untuk menyerbu. Konflik ini berakhir dengan perjanjian damai kendati Sumedang Larang harus menyerahkan wilayah Sindangkasih sebelah timu Cilutung sampai muara Cideres ke Kesultanan Cirebon. Penyerahan ini juga dimaksudkan sebagai pengganti talak Panembahan Ratu kepada Harisbaya.

Cerita perselisihan antara Cirebon dan Sumedang ini pernah dituliskan oleh beberapa peneliti Barat, termasuk Veth, van Deventer, de Roo da Le Faille, dan juga dari cerita (babad) di Sumedang dan Cirebon dari Kraton Kasepuhan dan Kacirebonan (Asikin Wijayakusuma & R. Mohammad Saleh, Rucatan Sajarah Sumedang, 1960:51).

Cerita Sejarah Kerajaan Sindangkasih Majalengka

Sejarah awal mula terbentuknya kabupaten Kendal dalam "Babad Tanah Kendal" karya Ahmad Hamam Rochani, menyebutkan banyak sekali yang melatar belakangi nama Kendal. Ada yang menyebut dengan Kendalapuraatau Kontali atau Kentali.


Namun dalam Babad Tanah Jawi menyebutkan bahwa Kendal berasal dari nama sebuah pohon, yaitu Pohon Kendal. Begitu pula tentang Kendal sebagai sebuah negeri, memang tenggelam oleh kerajaan atau negeri-negeri besar.

Namun pada akhirnya negeri Kendal menjadi catatan sejarah nasional dan bahkan internasional karena catatan sejarahnya disimpan di sebuah perguruan tinggi terkenal di Nederland yaitu Universitas Leiden Belanda. Menurut Penulis, dipakai kata babad karena kupasannya dari cerita yang mengandung sejarah. Kalau diartikan secara umumBabad Tanah Kendal artinya cerita sejarah tentang tanah Kendal.

Oleh karena itu, penekanan dalam hal ini adalah cerita, bukan sejarah yang harus dibuktikan dengan fakta. Sehingga mungkin akan dijumpai hal-hal yang kadang lain di telinga atau bertentangan dengan pemahaman yang sudah melekat erat di pikiran masyarakat

PADA AKHIR KERAJAAN MAJAPAHIT

Suatu hari, Sang Prabu Brawijaya bersemedi memohon pada yang Mahakuasa. Hasil semedinya cocok dengan pelaporan para ahli nujum kerajaan. Majapahit yang agung dan termasyhur akan segera beralih tempat. Namun pemegang kekuasaan tetap berada di tangan keturunan sang prabu.

Rajanya akan ditaati seluruh rakyat Jawa Dwipa bahkna nusantara. Sang prabu lalu jatuh sakit. Mendapat wisik, penyakit akan sembuh bila Sang Prabu mau mengawini seorang puteri berambut keriting dan kulit kehitam-hitaman, Puteri Wandan Tetapi setelah Puteri Wandan mengandung, Sang Prabu terusik lagi oleh pelaporan para nujum kerajaan, bahwa sang bayi kelak akan membawa bencana.

Ya, inilah awal kehancuran Majapahit. Tak pelak sang bayi diserahkan kepada seorang petani, dan jauh dari pusat kerajaan. Bayi itu adalah Bondan Kejawan, yang kemudian menurunkan Ki Getas Pendowo - Ki Ageng Selo - Ki Ageng Henis - Sunan Laweyan. Dari lelaki desa yang lugu tapi penuh sasmita itu, lahir sang Pemanahan, dan berdirilah Mataram.

ASAL-USUL NAMA KENDAL

Bathara Katong atau Sunan Katong besama pasukannya mendarat di Kaliwungu dan memilih tempat di pegunungan Penjor atau pegunungan telapak kuntul melayang.

Beberapa tokoh dalam rombongannya antara lain terdapat tokoh seperti Ten Koe Pen Jian Lien (Tekuk Penjalin),Han Bie Yan (Kyai Gembyang) dan Raden Panggung (Wali Joko).

Penyebaran Islam di sekitar Kaliwungu tidak ada hambatan apapun. Sedangka memasuki wilayah yang agak ke barat, ditemui seorang tokoh agama Hindu/Budha, bahka disebutkan sebagai mantan petinggi Kadipaten di bawah Kerajaan Majapahit untuk wilayah Kendal/Kaliwungu, bernama Suromenggolo atau Empu Pakuwojo.

Dikatakan dalam cerita tutur, ia seorang petinggi Majapahit dan ahli membuat pusaka atau empu. Ia seorang adipati Majapahit yang pusat pemerintahannya di Kaliwungu/Kendal. Untuk meng-Islamkan atau menyerukan kepada Pakuwojo supaya memeluk agam Islam, Tidaklah mudah sebagaimana meng-ISlamkan masyarakat biasa lainnya.

Biasanya sifat gengsi dan merasa jad taklukan adalah mendekati kepastian. Karena ia merasa punya kelebihan, maka peng-Islamannya diwarnai dengan adu kesaktian, sebagaimana Ki Ageng Pandan Aran meng-Islamkan para 'Ajar' di perbukitan Bergota/Pulau Tirang.
Kesepakatan atau persyaratan dibuat dengan penuh kesadaran dalam kapasitas sebagai seorang ksatria pilih tanding. "Bila Sunan Katong sanggup mengalahkannya, maka ia mau memeluk agama Islam dan menjadi murid Sunan Katong", demikian sumpah Pakuwojo di hadapan Sunan Katong.

Pola dan gaya pertrungan seperti it memang sudash menjadi budaya orang-orang dahulu. Mereka lebih menjunjung sportivitas pribadi.

Dengan didampingi dua sahabatnya dan satu saudaranya, pertarungan antarkeduanya berlangsung seru. Selain adu fisik, mereka pun adu kekuatan batin yang sulit diikuti oleh mata oran awam. Kejar mengejar, baik di darat maupun di air hingga berlangsung lama dan Pakuwojo tidak pernah menang.

Bahkan ia berkeinginan untuk lari dan bersembunyi. Kebetulan sekali ada sebuah pohon besar yang berlubang. Oleh Pakuwojo digunakan sebagai tempat bersembunyi dengan harapan Sunan Katong tidak mengetahuinya. Namun berkat ilmu yang dimiliki, Sunan Katong berhasil menemukan Pakuwojo, dan menyerahlah Pakuwojo.

Sebagaimana janjinya, kemudian ia mengucapkan dua kalimat syahadat sebagai tanda masuk Islam. Oleh Sunan Katong, pohon yang dijadikan tempat persembunyian Pakuwojo diberi nama Pohon Kendal yang artinya penerang.

Di tempat itulah Pakuwojo terbuka hati dan pikirannya menjadi terang dan masuk Islam. Dan Sungai yang dijadikan tempat pertarungan kedua tokoh itu diberi namaKali/Sungai Kendal, yaiut sungai yang membelah kota Kendal, tepatnya di depan masjid Kendal. Pakuwojo yang semula oleh banyak orang dipanggil Empu Pakuwojo, oleh Sunan Katong dipanggil dengan nama Pangeran Pakuwojo, sebuah penghargaan karena ia seorang petinggi Majapahit.

Setelah itu ia memilih di desa Getas Kecamatan Patebon dan kadang-kadang ia ebrada di padepokannya yang terletak di perbukitan Sentir atau GUnung Sentir dan menjadi murid Sunan Katong pun ditepati dengan baik. Sedangkan nama tempat di sekitar pohon Kendal disebutnya denganKendalsari.

Masih ada keterangan lain yang ada hubungannya dengan nama Kendal. Dikatakannya bahwa nama Kendal berasal dari kataKendalapura. Dilihat dari namanya, Kendalapura ini berkonotasi dengan agama Hindu. Artinya, bahwa Kendal sudah ada sejak agama Hindu masuk ke Kendal. Atau paling tidak di dalam berdo'a atau mantera-mantera pemujaan sudah menyebu-nyebut nama Kendalapura.

Ada juga keterangan yang menerangkan bahwa Kendal berasal dari kata Kantali atau Kontali. Nama itu pernah disebut-sebut oleh orang-orang Cina sehubungan dengan ditemukannya banya arca di daerah Kendal. Bahkan disebutkan oleh catatan itu bahwa candi-candi di Kendal jauh lebih tua dari candi Borobudur maupun candi Prambanan. Temuan-temuan itu patut dihargai dan bahkan bisa menjadi kekayaan sebuah asal-usul, walaupun kebanyakan masyarakat lebih cenderung pada catatan Babad Tanah Jawi yang menerangkan bahwa nama Kendal berasal dari sebuah pohon yang bernama pohon Kendal.

Kecenderungan itu karena dapat diketahui tentang tokoh-tokohnya yaitu Sunan Katong dan Pakuwojo yang mendapat dukungan dari Pangeran Benowo. Selain itu catatan-catatan pendukung lainnya justru berada di Universitas Leiden, Belanda, sebuah perguruan tinggi terkenal yang banyak menyimpan catatan sejarah Jawa.

Akan halnya cerita Sunan Katong dan Pakuwojo dalam legenda yang telah banyak ditulis itu menggambarkan sebuah prosesi, betapa sulitnya merubah pendirian seseorang, terlebih menyangkut soal agama/keyakinan. Cerita-cerita itu menerangkan bahwa antara Pakuwojo dan Sunan Katong pada akhirnya tewas bersama (sampyuh). Cerita yang sebenarnya tidaklah demikian. Cerita itu maksudnya, begitu Pakuwojo berhasil dibuka hatinya oleh Sunan Katong, dan Pakuwojo mau mengucapkan dua kalimat syahadat dan menjadi murid Sunan Katong, berarti antara kedua tokoh itu hidup rukun sama-sama mengembangkan agama Islam.

KENDAL MENJADI KABUPATEN

Sang nujum itu benar-benar titis pikir. Puteri Bondan Kejawan beriringan kasih sayang dengan KiAgeng Ngerang. Tuturnya dari sini lahir sang Bahu, sorang cicit yang berdampingan dengan Pangeran Benowo sang Mahkota Pajang. Ikatannya ditali dengan batin seperguruan sang leluhur. Setia tak gampang merekah.

Tanah Kukulan mengantar sang Bahurekso berdekat diri dengan orang agung dari Mataram, dimulai dari anugerah nama, Kyai Ngabehi Bahurekso, dan selanjutnya Raden Tumenggung Bahurekso, sang Adipati Kendal. Alas Roban dan Alas Gambiran, Batang dan Pekalongan karya utama sang Bahu, yang berdampingan dengan pengejawantahan Nawangsari sebidadarian dengan Nawangwulan.

Sang kekasih Bahurekso terpatri di hati dengan sebutan Dewi Lanjar. Magangan, Plantaran, Kali Aji, Sabetan dan Ngeboom merupakan saksi bisu dan monumen yang terlupakan dari sejarah sebuah kabupaten di Kaliwungu. Pusat budaya.

Kota kecil itu menjadi kota besar, dan dari Klaiwungu berhasil menembus Batavia pada Kaladuta. Nama Kendal tidak lagi menasional tetapi telah melangit di tingkat internasional. Sang Bahurekso, adipati, gubernur pesisir Jawa dan dan panglima perang.

KABUPATEN KENDAL DI KALIWUNGU

Kaliwungu, disebut juga Lepen Wungu (sejarah Bagelen), Lepen Tangi (Babad Sultan Agung), Caliwongo (Francois Valentiju), daerah yang dipilih oleh Bahurekso sebagai pusat pemerintahan sebuah Kadipaten. Pada saat itu Kaliwungu adalah daerah yang telah dibangun oleh Sunan Katong yang kemudian dikembangkan oleh ulama Mataram Panembahan Djoeminah.

Upaya pengembangan diteruskan oleh ulama yang punya garis keturunan dengan Sunan Giri, yaitu Kyai haji Asy'ari atau Kyai Guru, yang datang ke Kaliwungu pada beberapa tahun kemudian. Kaliwungu memang daerah berpotensi, selain itu dari faktor geografis memenuhi syarat sebagai daerah pertahanan.

Bandar (pelabuhan) Jepara mengalami perkembangan yang pesat bila dibanding dengan Bandar Bintara, Deamk. Selain itu, Bandar Asam Arang, yang strategis menjadikan Kadipaten Kendal di Kaliwungu semakin berkembang.

HARI JADI KABUPATEN KENDAL

Dari Hasil Seminar yang diadakan tanggal 15 Agustus 2006, dengan mengundang para pakar dan pelaku sejarah, seperti Prof. Dr. Djuliati Suroyo ( guru besar Fakultas sastra Undip Semarang ), Dr. Wasino, M.Hum ( dosen Pasca Sarjana Unnes ) H. Moenadi ( Tokoh Masyarakat Kendal dengan moderator Dr. Singgih Tri Sulistiyono.

Setelah diadakan penelitian dan pengkajian secara komprehensip menyepakati dan menyimpulkan bahwa momentum pengangkatan Bahurekso sebagai Bupati Kendal, dijadikan titik tolak diterapkannya hari jadi. Pengangkatan bertepatan pada 12 Rabiul Awal 1014 H atau tanggal 28 Juli tahun 1605. 

Sejarah Asal Usul Terbentuknya Kabupaten Kendal Jawa Tengah