Social Items

Showing posts sorted by date for query Agama. Sort by relevance Show all posts
Showing posts sorted by date for query Agama. Sort by relevance Show all posts
Pada abad ke-7, di Jawa Barat berdiri pula kerajaan Banjarsari yang terletak di daerah Rawalakbok, sebuah daerah yang diapit kota Cimais dan Banjar Tasikmalaya, hingga sekarang masih ada petilasannya yaitu petilasan Pameradan Ciung Wanara, rajanya bernama Prabu Adi Mulya, semasa kecilnya bernama Pangeran Lelean.

Raja Ciung Wanara (Prabu Adi Mulya) wafat lalu digantikan oleh putri sulungnya yang bernama Ratu Purbasari, kemudian ia membangun dan memindahkan kerajaanya ke Pakuan Bogor. Pada waktu itu agama yang dianutnya adalah agama Sang Hiyang (Hindu-Budha). Setelah Ratu Purbasari wafat, kemudian secara berturut-turut digantikan oleh putra-putranya, yaitu:

1. Prabu Linggahian
2. Prabu Linggawesi
3. Prabu Wastukancana
4. Prabu Susuk Tunggal
5. Prabu Banyak Larang
6. Prabu Banyakwangi
7. Prabu Anggalarang
8. Prabu Mundingkawati
9. Prabu Siliwangi

Prabu Siliwangi, Raja Pajajaran, semasa kecilnya bernama Raden Pamanahrasa yang merupakan raja Pajajaran yang ke-9. Kemudian ia mempersuting Nyimas Subanglarang (Subang Kerancang), yaitu seorang putri Mangkubumi Mertasinga (Singapura). Dari perkawinannya dengan Nyimas Subanglarang tahun 1404 M dikaruniai 3 (tiga) orang anak yaitu:

1. Pangeran Walangsungsang (1423 M)
2. Nyimas Ratu Rarasantang (1427 M)
3. Pangeran Raja Sengara/Kian Santang (1429 M)

Tiga putra inilah kelak kemudian hari akan membabad / membangun pedukuhan Cirebon yang berlangsung pada tanggal 1 Syuro tahun 1445.  Pangeran Walangsungsang dilahirkan pada tahun 1423 M di keraton Pajajaran ayahnya bernama Prabu Siliwangi, raja ke-9. Sedangkan ibunya Ratu Subang Larang yang memeluk agama Islam di Pengguron Syekh Quro Kerawang, Jawa Barat.

Pangeran Walangsungsang dalam usia remaja pada tahun 1441 M keluar dari kerton Pajajaran, pada saat itu usianya baru 17 tahun. Kala itu, pada suatu malam ia mimpi bertemu dengan Nabi Muhammad saw. Dalam mimpinya beliau diperintahkan agar mencari agama Islam yang dapat menyelamatkan manusia di dunia dan akhirat. Hal yang sama juga dialami oleh adiknya yaitu Nyimas Rarasantang, kemudian satu persatu mereka keluar dari keraton Pajajaran untuk berguru agama Islam, mengembara menelusuri hutan belantara, naik gunung turun gunung selama sembilan bulan. Pertama kali yang dituju adalah Gunung Merapi yang terletak di Padepokan Priyangan Timur, tepatnya di desa Raja Desa Ciamis Timur.

Alkisah, Ratu Mas Rarasantang yang berada di Pajajaran rindu kepada kakanda Raden Walangsungsang yang telah mendahului keluar dari istana. Setelah ditinggalkan oleh kakandanya, Ratu Mas Rarasantang selalu murung. Ia menangis tersedu-sedu siang malam berturut-turut selama empat hari. Dikala malam telah sunyi Ratu Mas Rarasantang sedang tidur nyenyak bermimpi bertemy dengan seorang laki-laki yang tampan lagi berbau harum memberi wejangan-wejangan ajaran Islam dan menyuruh berguru agama Islam syaiat Nabi Muhammad saw, dan kelak dikemudian hari akan mempunyai suami raja islam dan akan mempunyai anak laki-laki yang akan menjadi wali kutub. Ratu Mas Rarasantang tersentak dan bangun dari tidurnya dan ia sadar dari mimpinya, lalu ia keluar dari istana untuk menyusul kakaknda Raden Walangsungsang yang sedang terus berjalan tak mengenal lelah menuju ke arah timur.

Dikisahkan setelah keluarnya dua putra mahkotanya, sang ibunda tercinta, Ratu Subang Larang, merasa sangat sedih dan prihatin. Ia menangisi dan menyungkemi sang prabu karena kedua putranya telah hilang pergi. Setelah mendengar penuturan Ratu Subang Larang, sang prabu tersentak dan terkejut.

Sang prabu segera memanggil seluruh satria, sentana, patih, bupati, dan menteri. Setelah semua para wadiabala dikumpulkan dan  juga para pembesar kerajaan sudah hadir, maka Sang Prabu Siliwangi bersabda: “Wahai Patih Argatala, Dipati Siput, sekarang carilah putriku Dewi Ratu Mas Rarasantang , disuruh pulang, carilah jangangan sampai tidak berhasil.” Patih Argatala menjawab: “Sendika Gusti.”

Patih Argatala segera keluar dari keraton untuk mengumumkan kepada seluruh wadiabala di Pajajaran. Seketika semua orang geger dan panik, lalu semuanya menyebar ke segala penjuru Patih Argatala mencarinya dengan bertapa menuruti perjalanan para pendeta. Adipati Siput mencarinya dengan cara memasuki hutan keluar hutan menuruti perjalanan hewan. Para wadiabala bubar ketujuannya masing-masing, mereka takut pulang sebelum berhasil membawa pulang dua putra mahkota Pajajaran.

MENDIRIKAN CARUBAN

Pangeran Walangsungsang Cakrabuana dengan gelar raja muda. Pangeran Walangsungsang Cakrabuana merintis Caruban Nagari dari jenjang yang paling bawah sampai menjadi raja muda. Perintisannya diantaranya membuat pemukiman di Tegal Alang Alang, hingga akhirnya disebut Caruban yang artinya campuran. Membuat lahan pertanian di daerah Panjunan, membuat industry produk laut diantaranya terasi, petis, ikan kering dan garam. Mendirikan masjid dan Keraton Pakungwati dengan pembiayaan darai warisan kakeknya Ki Ageng Tapa, serta membuat pasukan keamanan lengkap dengan angkatan bersenjatanya.  Pada saat Pangeran Walangsungsangmenjadi pemimpin di Caruban, Ayahnya, Raja Sunda merestui dengan mengirim Tumenggung Jagabaya membawa panji-panji kerajaan serta memberikan wilayah kekuasaan kepada Pangeran Walngsungsang Cakrabuana.

Pangeran Walangsungsang Cakrabuana, bukan semata-mata untuk membentuk suatu pemerintahan yang berkuasa, namun mempersiapkan perkembangan dakwah Islamiyah yang menjadi cita-cita saat itu, yang kelanjutannya akan diteruskan oleh anak dari adiknya, Nyi Mas Ratu Rarasantang, yaitu Syarief Hidayat. Pengetahuan tentang akan datang seorang pemimpin dan pemuka agama islam, yang tidak lain adlah keponakannya sendiri, telah diketahui berdasarkan nasehat dari guru-guru keduanya diantaranya adalah Syekh Quro, Syekh Maulana Magribi dan Syekh Datul Kahfi.

Pangeran Walangsungsang bertemu Syekh Quro, di dalam pertemuan tersebut. Syekh Quro mengatakan kepada Pangeran Walangsungsang bahwa kelak adiknya akan berjodoh dengan raja Mesir dan akan dianugerahi anak yang bernama Maulana Jati, yang kelak ditakdirkan menjadi penguasa Cirebon. Seperti yang tertera dalam Naskah Carub Kanda Carang Seket.

Pada kesempatan yang berbeda, pada saat Pangeran Walangsungsang hendak berguru pada Syekh Maulana Magribi, Syekh Maulana Magribi  menolak untuk menjadi guru mereka. Ia menyarankan Pangeran Walangsungsang untuk berguru pada Syekh Datul Kahfi/ Syekh Maulana Idhofi.

Pada pertemuan tersebut Syekh Maulana Magribi mengatakan bahwa pada saat Pangeran Walangsungsang dan Nyi Mas Ratu Rarasantang menunaikan ibadah haji, maka beliau akan dinikahi oleh Sultan Mesir dan menikah disana, kemudian dari pernikahan tersebut akan lahir pemimpin para wali di Pulau Jawa.   Pertemuan Pangeran Walangsungsang dengan Syekh Maulana Magribi tersebut terekam dalam  Carub Kanda Carang Seket pupuh Asmarandana.

Pangeran Cakrabuana dan Nyi Mas Ratu Rarasantang kemudian menuruti saran dari Syekh Maulana Magribi berguru pada Syekh Datul Kahfi pada tahun 1442 M. Nyekh Datul Kahfi beserta istrinya sangat senang akan kedatangan keduanya. Mereka diperkenankan tinggal di Gunung Jati dan melarang keduanya kembali ke Negara Sunda. Syekh Datul Kahfi mengatakan pada Nyi Mas Ratu Rarasantang bahwa ia kelak akan bersuamikan Sultan Bani Israil, dan darinya akan lahir seorang anak yang akan meng-Islamkan tanah Sunda, mengalahkan agama Sunda.

Nyi Mas Ratu Rarasantang dan Pangeran Walangsungsang Cakrabuana memperoleh banyak nasehat dan ilmu dari Syekh Datul Kahfi.  Setelah tiga tahun berguru, mereka kemudian diperintahkan oleh Syekh Datul Kahfi untuk membuka Tegal Alang-Alang di Lemahwungkuk yang merupakan cikal bakal kota Cirebon.

Pada  tanggal 14 bagian terang bulan Carita tahun 1367 Saka atau Kamis tanggal 8 April tahun 1445 Masehi, bertepatan dengan masuknya penanggalan 1 Muharam 848 Hijriyah, Pangeran Walangsungsang alias Somadullah dibantu 52 orang penduduk, membuka perkampungan baru di hutan pantai kebon pesisir. Lama kelamaan daerah Tegal Alang-Alang berkembang menjadi pedukuhan yang maju. Tak lama kemudian mereka diperintahkan untuk menunaikan Rukun Islam kelima.  Setelah berhaji Nyi Mas Ratu Rarasantang bernama Hajjah Syarifah Mudaim, sedangkan Pangeran Walangsungsang Cakrabuana menjadi Haji Abdullah Iman.

Pada saat itulah Nyi Mas Ratu Rarasantang bertemu dengan  Maulana Sultan Mahmud/ Syarif Abdullah/ Sultan Amiril Mukminin/ Sultan Khut, Anak Nurul Alim dari bangsa Hasyim (Bani Ismail), yang memerintah kota Ismailiyah, Palestina.  Maulana Sultan Mahmud, yang baru saja ditinggal mati oleh istrinya bermaksud menikahi Nyi Mas Ratu Rarasantang. Syarif Abdullah pergi ke arah timur dari istananya dengan mengajak Nyi Mas Ratu Rarasantang ke bukit Tursinah dengan diikuti Pangeran Cakrabuana dan patih Jalalluddin.

Disana ia melamar Nyi Mas Rarasantang. Perjanjian pra nikah antara keduanya di Bukit Tursina terdapat dalalam Pupuh Kasmaran Naskah Mertasinga, Carang Seket, Serat Kawedar dan Sejarah Lampah ing para Wali Kabeh. Isi dari perjanjian tersebut adalah bahwa Nyi Mas Ratu Rarasantang bersedia dinikahi oleh  Syarif Abdullah dengan syarat bahwa bila ia melahirkan anak laki-laki, anak tersebut diperbolehkan untuk menjadi pemimpin agama di Jawa untuk mengislamkan saudara-saudaranya di Padjajaran.

Perjanjian tersebut dihadiri oleh Pangeran Walangsungsang Cakrabuana selaku wali dari Nyi Mas Rarasantang. Syarif Abdullah menyepakati perjanjian tersebut.

Pangeran Walangsungsang Cakrabuana pun menyetujui perjanjian tersebut. Karena hal tersebut pun telah diramalkan pada saat pertemuan mereka dengan Syekh Quro,  Syekh Maulana Magribi dan Syekh Datul Kahfi. Yang secara tidak langsung ramalan tersebut merupakan nasehat dan sekaligus merupakan amanat dari para pemuka agama di sana saat itu.

Akhirnya Nyi Mas Ratu Rarasantang menikah dengan Maulana Sultan Mahmud. Menikahnya Syarifah Mudaim dan Syarif Abdullah bukan merupakan kebetulan belaka. Syarif  Abdullah adalah adik ipar dari Syekh Datul Kahfi.  Antara Syekh Datul Kahfi, Syekh Quro dan Syekh Maulana Magribi merupakan utusan utusan dari Persia yang diperintahkan baik secara langsung maupun tidak langsung untuk menyebarkan  Agama Islam diluar jazirah Arab.

Penyebaran agama Islam keluar jazirah Arab sudah dilakukan beberapa abad sebelumnya, tetapi belum sanggunp mengislamisasi masal penduduk di luar jazirah Arab. Bahkan ratusan orang mati sahid dalam perjuan dakwah tersebut. Sampai akhirnya abad ke-13 penyebaran Islam di jazirah Arab mulai mengalami penurunan, sehingga dibuatlah strategi dakwah untuk tetap menyebarkan Islam dengan cara mengirimkan para pemuka agama ke berbagai daerah.

 Selain berdakwah, para penyebar agama Islam tersebut menikah pula dengan penduduk lokal. Pernikahan Nyi Mas Ratu Rarasantang merupakan sebuah skenario besar untuk melakukan Islamisasi masal melalui keturunan mereka di kemudian hari. Dengan cara mensugesti Pangeran Walangsungsang dan Nyi Mas Ratu Rarasantang, sehingga mereka mau mengikuti petunjuk para guru mereka.

 Para pendakwah senior tersebut telah mengkaji dan mengambil pelajaran dari pengamalan mereka sebelumnya, dimana perkawinan antar mualaf Nyi Mas Subang Karancang, ibunda Nyi Mas Ratu Rarasantang yang berguru pada Syekh Quro,  dengan Pemanah Rasa, calon Raja Sunda, gagal, tidak berhasil mengislamkan tanah Sunda, sehingga mereka membuat strategi dakwah baru dengan cara kaderisasi potensi calon-calon pendakwah baru.

 Salah satu caranya adalah mengawinkan anak-anak perempuan keturunan raja-raja Jawa dengan keturunan raja-raja di Timur Tengah, yang keturunan nabi, sehingga keturunannya yang akan menyebarkan agama Islam kelak memiliki legitimasi.

Pada tahun 1448 M,Syarifah Mudaim  yang dalam keadaan hamil tua menunaikan ibadah haji kembali. Di Kota Mekah ia melahirkan Syarif Hidayatullah di Kota Mekah. Dua tahun kemudian lahirlah Syarif Nurullah, adik Syarif Hidayat.

Syarif Hidayat, keponakan Pangeran Cakrabuana dibesarkan di negara ayahnya, Mesir. Syarif Hidayat tumbuh menjadi  pemuda yang cerdas.  Syarif Hidayatullah sangat taat menjalankan syariat Islam. Ia seorang muslim yang takwa. Syarif Hidayat gemar mempelajari ajaran Agama Islam. Ia bercita-cita mengajarkan dan menyebarkan agama Islam.Suatu hari ia membaca dan mempelajari sebuah kitab.

 Dari kitab tersebut ia menyatakan keinginannya kkepada ibundanya, Syarifah Mudaim, berguru kepada Nabi Muhammad SAW. Syariffah Mudaim mengatakan bahwa Rasulullah telah meninggal dunia. Dengan ilmu yang dipelajari oleh Syarif Hidayat secara diam-diam,  melalui silaturruhiyah ia bertemu dengan Nabi Khidir dan Rasulullah, hal tersebut merupakan perjalanan spiritual Syarif Hidayat yang ditulis pada Naskah Mertasinga dan Naskah Kuningan. Dalam naskah tersebut, Syarif Hidayat  hendak berguru kepada Rasulullah. Namun Rasullullah menyuruh Syarif Hidayat mencari guru dzohir.

Sehingga ketika berusia dua puluh tahun, pergi ke Mekah, berguru kepada Syekh Tajuddin al-Kubri/ Najmuddin. Naskah Kuningan menjelaskan tentang Syarif Hidayat yang berguru kepada Syekh Tajuddin. Kepada Syekh Tajuddin, Syarif Hidayat belajar adab para guru, dzikir, silsilah, shugul, Tarekat Isqiyah, dan adab Syatori. Ia juga belajar tentang ilmu syariat, ilmu tarekat, ilmu hakekat dan ilmu makrifat. Pada saat berguru pada Syekh Tajuddin, Syarif Hidayat diberi nama Madkurullah.

Setelah dua tahun lamannya, Syarif Hidayat kemudian menuntut ilmu tawasul rasul pada Syekh Athaullah Sadili, yang bermahzab Syafi’i  di Bagdad. Darinya Syarif Hidayat juga belajar istilah Sirr (Sirrullah), Tarekat Syaziliyah, Tarekat Syatariyah, Isyki Naqisbandiyah, dzikir jiarah, bermeditasi,  riyadhah (latihan tarekat/sufi) di tempat-tempat suci.  Oleh Syekh Athaullah, Syarif idayat diberi nama Arematullah.

Setelah itu ia kembali ke negara ayahnya, dan diminta untuk menggantikan posisi ayahnya yang sudah meninggal. Tetapi ia memilih untuk pergi ke Pulau Jawa untuk menyebarkan Islam bersama pamannya, Pangeran Walangsungsang Cakrabuana.  Posisi Raja Mesir diserahkan dari Patih Ongkhajuntra, paman Syarif Hidayat kepada oleh adiknya, Syarif Nurullah.

Syarif Hidayat memiliki banyak nama yaitu Sayyid Kamil dan  Syekh Nuruddin Ibrahim Ibnu Maulana Sultanil Mahmud al Kibti[9].  Kemudian Sayid Kamil pergi ke pulau Jawa, di perjalanananya  ia singgah di Gujarat, tingal disitu selama tiga bulan, selanjutnya ia tingal di Paseh (Pasei). Di Paseh, Syarif Hidayat tinggal di pondok saudaranya selama dua tahun, yaitu Sayid Ishaq, bapak Raden Paku/ Sunan Giri, yang menjadi guru agama Islam di Paseh di Sumatra. 

Kemudian Syarif Hidayat pergi ke ke pulau Jawa, singgah di negeri Banten. Disini banyak penduduk telah memeluk agama Rasul, karena Sayyid Rahmat (Ngampel Gading) telah menyebarkan Agama Islam di sini, yang di gelari Susuhunan Ampel, juga salah seorang saudaraanya.

Berdasarkan Naskah Kuningan, Syarif Hidayat kemudian berguru pada Syekh Sidiq di Surandil  jati wisik (ajaran sejati), ba’iyat serta muhal maha, talkin dalam dzikir sirr, tarekat Muhammadiyah, Anapsiah, dan Jaujiyah Makomat Pitu, serta melakukan kanaat dan uzlah.

Syarif Hidayat kemudian berguru kepada Syekh Mad Kurullah (Syekh Quro) di Gunung Gundul. Syekh Quro adalah penganut mahdzab Hanafi. Pada saat berguru pada Syekh Quro, Syarif Hidayat banyak mempelajari dan mengalami perjalanan spiritual. Kemudian ia diperintahkan berguru pada Syekh Bahrul al Amien, yang tinggal di sebelah utara Kudus. Syarif hidayat berguru mengenai sifat-sifat jati (baca : sempurna), rasa jati (sejatine rasa), khofiyah, dukiyah, sarariyah (rasa yang sejati) ranaban. Belajar mengenai Sirrullah, ya hati ya badan, ya badan, ya roh, ya badan ya nyawa, nyawa adalah wujud tunggalnya Dzatullah (ibarat punglu). Rasa yang sejati, rasa goib, yang tidak ada antara dengan yang agung, ya badan ya rasa, ibarat jambe/ pinang yang menyatu antara kulit dengan buahnya. Kemudian Datul Bahrul kemudian memberi nama Syarif Hidayat dengan Wujudullah dan menyarankan Syarif  Hidayat menambah pengetahuan tentang pada Sunan Ampel Denta. Maka berangkatlah Syarif Hidayat  pergi ke Ngampel dengan naik perahu milik orang Jawa Timur. Perjalanan Syarif Hidatyat berguru pada beberapa orang tertulis dalam Kitab Negara Kertabhumi.

Setibanya Syarif Hidayat/ Wujudullah di Ampel Denta lalu pergi menghadap dan menyampaikan hormatnya kepada yang mulia Sunan Ampel. Maka Wujudullah pun kemudian mengabdi di Ampel Denta dan dia diangkat saudara oleh anak-anaknya. Di sana sudah berguru pula murid yang lain diantaranya , Sunan Bonang, Sunan Giri, Sunan KaliJaga. Wujudullah sangat disayangi oleh Sunan Ampel karena berbagai ilmu yang diajarkan oleh Sunan Ampel dapat dikuasai oleh Wujudullah.

Sementara itu, para Wali semuanya (sedang) ada di situ, mereka masing-masing di beri tugas mengajarkan agama Rasul kepada penduduk di daerah yang menganut agama Siwa- Budha. Kemudian Syarif Hidayat meminta nasehat pada Sunan Ampel. Sunan Ampel memberikan nasihat sebagai berikut :

“he putra, jandika iku mung aja ngebat-tebati, iku laku ingkang ala.lawan putra ya den wani  ngajaga ing perkara agama ingkang sayakti. Lan kang sabar putera iku, tawekal maring yang Widhi. Lan den esak maring sanak, saying ing kawla wargi, lawan putera ya den inget enggal, saniki wis sedeng dadi. Molana ingkang luhung, dadi guru ing Gunung Jati, ya kalawan uwa dika, mapan waris saking umi. Cipamali wates sira dumugi ing ujung kulon. Inggih waris dika ikumugi jandika wengkoni. Mung pacuan ngembat-embatan, sabab lepen cipamali wawtesing balambangan iku dudu dika waris. Poma-poma ya den emut, lawan putera dika yen wangsul ing amparan sampun margi ing darat, marginana sing lautan”.

(Anakku, janganlah kamu bertindak berlebihan karena itu adalah sifat yang tercela, dan beranilah menjaga kebenaran agama, bersabarlah, tawakkal kepada yang Maha esa, dan jangan menyakiti sesame saudara. Dan ingatlah anakku bahwa sekarang sudah cukup waktunya anakku untuk menjadi Maulana yang luhur dan menjadi Guru di Gunungjati bersama uwakmu. Mewarisi pusaka ibumu, dari Cipamali hingga di Ujung Kulon, itulah warisanmu. Hanya saja hati-hati bahwa batas dari sungan Cipamali hingga Blambangan itu bukanlah warisanmu. Ingatlah nasihatku baik-baik, dan anakku bilmana kamu pulang ke Amparan janganlah pulang melalui daratan, pergilah melalui lautan). Demikianlah pesan sang guru.

Sayid kamil menerima tugas di negeri Carbon, yaitu di Gunung Sembung, karena disana tempat tinggal uwanya, yaitu Haji Abdullah Iman yang menjadi Kuwu Carbon kedua.
Syarif Hidayat menuruti nasehat Sunan Ampel.

Dalam perjalanan ke Carbon, Syarif Hidayat bertemu dengan Dipati Keling dan berhasil mengislamkannya berikut rombongan mereka sejumlah sembilan puluh delapan orang. Selanjutnya Dipati Keling dan rombonganpa tahun, nya menjadi pengikut Syarif Hidayat yang setia.

Setibanya di Carbon Syarif Hidayat  kemudian membangun pondok dan menjadi guru agama Islam. Di Babadan Syarif Hidayat mengislamkan Ki Gede Babadan dan menikah dengan putrinya Ki Gede Babadan. Umur pernikahan mereka hanya berlangsung beberapa tahun karena Nyi Mas Babadan meninggal dunia. Kemudian Syarif Hidayat menikah dengan Syaripah Bagdad, putri Syekh Datul Kahfi.


Kisah Cerita Raden Walang Sungsang Dan Perjalanan Hidupnya


Konon, raden Kiansantang terkenal sakti mandraguna. Tubuhnya kebal, tak bisa dilukai senjata jenis apapun. Auranya memancarkan wibawa seorang ksatria, dan sorot matanya menggetarkan hati lawan.
Diriwayatkan, prabu Kiansantang telah menjelajahi seluruh tanah Pasundan. Tapi, seumur hidupnya dia belum pernah bertemu dengan orang yang mampu melukai tubuhnya. Padahal ia ingin sekali melihat darahnya sendiri. Maka pada suatu hari, dia memohon kepada ayahnya agar dicarikan lawan yang hebat.

Untuk memenuhi permintaan putranya, Prabu Siliwangi mengumpulkan para ahli nujum. Dia meminta bantuan pada mereka untuk menunjukkan siapa dan dimana orang sakti yang mampu mengalahkan putranya.

Kemudian datang seorang kakek yang bisa menunjukkan orang yang selama ini dicari. Menurut kakek tersebut, orang gagah yang bisa mengalahkan Raden Kiansantang ada di tanah suci Mekkah, namanya Sayidina Ali.
“Aku ingin bertemu dengannya.” Tukas Raden Kiansantang.
“Untuk bisa bertemu dengannya, ada syarat yang harus raden penuhi,” ujar si kakek.
Syarat-syarat tersebut adalah:
Harus bersemedi dulu di ujung kulon, atau ujung barat Pasundan
Harus berganti nama menjadi Galantrang Setra
Dua syarat yang disebutkan tidak menjadi penghalang. Dengan segera Raden Kiansantang memakai nama Galantrang Setra. Setelah itu ia segera pergi ke ujung kulon Pasundan untuk bersemedi.
Pergi Ke Mekkah
Tak dijelaskan dengan apa Galantrang Setra pergi ke Mekkah. Yang pasti sesampainya di Arab beliau langsung mencari Sayidina Ali.
“Anda kenal dengan Sayidina Ali?” Tanya Kiansantang pada seorang lelaki tegap yang kebetulan berpapasan dengannya.
“Kenal sekali,” jawabnya.
“Kalau begitu bisakah kau antar aku kesana?”
“Bisa, asal kau mau mengambilkan tongkatku itu.”
Demi untuk bertemu dengan Ali, Kiansantang menurut untuk mengambil tongkat ya tertancap di pasir. Tapi alangkah terkejutnya ia ketika mencoba mencabut tongkat itu ia tak berhasil, bahkan meski ia mengerahkan segala kesaktiannya dan pori-porinya keluar keringat darah.
Begitu mengetahui Kiansantang tak mampu mencabut tongkatnya, maka pria itu pun menghampiri tongkatnya sambil membaca Bismillah tongkat itu dengan mudah bisa dicabut.
Kiansantang keheranan melihat orang itu dengan mudahnya mencabut tongkat tersebut sedang ia sendiri tak mampu mencabutnya.
“Mantra apa yang kau baca tadi hingga kau begitu mudah mencabut tongkat itu? Bisakah kau mengajarkan mantra itu kepadaku?”
“Tidak Bisa, karena kau bukan orang islam.”
Ketika ia terbengong dengan jawaban pria itu, seorang yang kebetulan lewat di depan mereka menyapa; “Assalamu’alaikum Sayidina Ali.”
Mendengar sapaan itulah kini ia tahu bahwa Sayidina Ali yang ia cari adalah orang yang sedari tadi bersamanya. Begitu menyadari ini maka keinginan Kiansantang untuk mengadu kesaktian musnah seketika. “Bagaimana mungkin aku mampu mengalahkannya sedang mengangkat tongkatnya pun aku tak mampu,” pikirnya.
Singkat cerita akhirnya Kiansantang masuk agama islam. Dan setelah beberapa bulan belajar agama islam ia berniat untuk kembali ke Pajajaran guna membujuk ayahnya untuk juga ikut memeluk agama islam.

Usaha Kiansantang Mengislamkan Ayahnya
Sesampainya di Pajajaran, dia segera menghadap ayahandanya. Dia ceritakan pengalamannya di tanah Mekkah dari mulai bertemu Sayidina Ali hingga masuk islam. Karena itu ia berharap ayahandanya masuk islam juga. Tapi sayangnya ajakan Kiansantang ini tak bersambut dan ayahandanya bersikeras untuk tetap memeluk agama Hindu yang sejak lahir dianutnya.
Betapa kecewanya Kiansantang begitu mendengar jawaban ayahandanya yang menolak mengikuti ajakannya. Untuk itu ia memutuskan kembali ke Mekkah demi memperdalam agama islamnya dengan satu harapan seiring makin pintarnya ia berdakwah mungkin ayahnya akan terbujuk masuk islam juga.

Setelah 7 tahun bermukin di Mekkah, Kiansantang pun kembali lagi ke Pajajaran untuk mencoba mengislamkan ayahandanya. Mendengar Kiansantang kembali Prabu Siliwangi yang tetap pada pendiriannya untuk tetap memeluk agama Hindu itu tentu saja merasa gusar. Maka dari itu, ketika Kiansantang sedang dalam perjalanan menuju istana, dengan kesaktiannya prabu Siliwangi menyulap keraton Pajajaran menjadi hutan rimba.

Bukan main kagetnya Kiansantang setelah sampai di wilayah keraton pajajaran tidak mendapati keraton itu dan yang terlihat malah hutan belantara, padahal dia yakin dan tidak mungkin keliru, disanalah keraton Pajajaran berdiri.
Dan akhirnya setelah mencari kesana kemari ia menemukan ayahandanya dan para pengawalnya keluar dari hutan.

Dengan segala hormat, dia bertanya pada ayahandanya, “Wahai ayahanda, mengapa ayahanda tinggal di hutan? Padahal ayahanda seorang raja. Apakah pantas seorang raja tinggal di hutan? Lebih baik kita kembali ke keraton. Ananda ingin ayahanda memeluk agama islam.”
Prabu Siliwangi tidak menjawab pertanyaan putranya, malah ia balik bertanya, “Wahai ananda, lantas apa yang pantas tinggal di hutan?”

“Yang pantas tinggal di hutan adalah harimau.” Jawab Kiansantang
Konon, tiba-tiba prabu Siliwangi beserta pengikutnya berubah wujud menjadi harimau. Kiansantang menyesali dirinya telah mengucapkan kata harimau hingga ayahanda dan pengikutnya berubah wujud menjadi harimau.

Maka dari itu, meski telah berubah menjadi harimau, namun Kiansantang masih saja terus membujuk mereka untuk memeluk agama islam.
Namun rupanya harimau-harimau itu tidak mau menghiraukan ajakannya. Mereka lari ke daerah selatan, yang kini masuk wilayah Garut. Kiansantang berusaha mengejarnya dan menghadang lari mereka. Dia ingin sekali lagi membujuk mereka. Sayang usahanya gagal. Mereka tak mau lagi diajak bicara dan masuk ke dalam goa yang kini terkenal dengan nama goa Sancang, yang terletak di Leuweung Sancang, di kabupaten Garut.

Wallohu'alam bisshowab

Itulah kisah Pertemuan Kian Santang Dengan Sayidina Ali, semoga bermanfaat.

Kisah Pertemuan Kian Santang Dengan Sayidina Ali

Nyai Dewi Rara Santang lahir pada sekitar tahun 1427 masehi, beliau merupakan anak kedua Prabu Siliwangi (Sribaduga Maharaja) Raja Kerajaan Pajajaran dari istrinya Ratu Subang Larang. Dari kecil beliau sudah memeluk Agama Islam mengikuti agama ibundanya, meskipun pada waktu itu ayah dan saudara-saudara tirinya Surya Wisesa masih memeluk Agama Budha.

Masa kanak-kanak Dewi Rara Santang dihabiskan di Istana Galuh Kawali akan tetapi, setelah ayahnya diangkat menjadi Raja Seluruh Tanah Sunda beliau kemudian hijrah ke Istana baru Kerajaan Pajajaran di Pakwan. Istana baru tersebut dikenal dalam sejarah dengan nama Istana Sang Bhima Narayan.

Seperti kabar yang beredar, pada masa kelahiran Dewi Rara Santang, sang Prabu Agung Binetoro Raja Siliwangi bersabda yang disertai gemuruh guntur dan badai.

Dalam sabdanya Siliwangi mengatakan, “Kelak putri keduaku ini, akan menjadi Ibunda dari berbagai Raja-raja besar di Nusantat. Dengan itu aku beri nama dia Rara Santang”.

Setelah kewafatan ibundanya, Dewi Rara Santang memilih keluar Istana bersama kakak kandungnya Pangeran Walangsungsang. Selama dalam pengembaraan Pangeran Walangsungsang mengganti namanya sebagai Cakrabuana untuk menutupi identitasnya dalam mengembara dari tempat satu ke tempat lainnya guna belajar agama Islam.

MENIKAH DENGAN RAJA MESIR

Pada sekitar tahun 1443 Dewi Lara Santang kemudian menjalankan ibadah haji bersama kakanya, ke tanah suci. Mereka berdua berguru di Bukit Amparan Jati Makkah/Baghdad kepada Syekh Nurul Jati selama 3 (tiga) tahun dan mendirikan Pedukuhan di Kebon Pasir.

Disana beliau dinikahi oleh penguasa Mesir dan Palestina bernama SULTAN BANI ISRAIL atau SULTAN MAHMUD atau Sultan Hud. Setelah menikah beliau diubah namanya menjadi Syarifah Muda’im. Sedang Raden Walang Sungsang diganti namanya kembali menjadi HAJI ABDULLAH IMAN.

Kisah perkawinan Sang Dewi tersebut, tertulis dalam naskah Mertasinga Pupuh I-05 sampai dengan II.04.

Dikisahkan bahwa, di Negeri Banisrail, istri Sultan Hud meninggal Dunia. Tidak lama kemudian Sultan pun mengirim utusan keseluruh pelosok negeri untuk mencari penggantinya, mencari seorang puteri yang setara dengan yang telah tiada.

Karena kesungguhannya utusan itu melakukan pencarian, akhirnya mereka berjumpa dengan kakak beradik yang tengah menunaikan haji dari Negara Pajajaran. Yaitu pengeran Cakrabwana dan adiknya Dewi Rarasantang, yang konon kecantikannya mirip bahkan melebihi mendiang Istri Sultan Hud yang telah tiada.

Utusan itu kemudian menanyakan tentang asal-asul dari keduanya, dan apa hubangan diantara keduanya. Setelah Pangeran Cakrabuana memberikan jawaban bahwa mereka berdua merupakan kakak beradik maka, gembiralah sang utusan tersebut. Sehingga kemudian sang utusan membawa keduanya kepada tuannya untuk dipertemukan dengan Sultan Hud.

Sang Sultan kemudian memohon agar Cakrabwana mengizinkan adiknya untuk dinikahi. Namun, demikian Cakrabwana menyerahkan sepenuhnya kepada adiknya. Singkat cerita, Rara Santang pun kemudian bersedia dinikahi oleh Sultan Hud dengan syarat-syarat khusus. Sultan Hud kemudian menyanggupi Syarat-syarat yang di ajukan Dewi Lara Santang.

Adapun syarat-syarat tersebut adalah bahwa kelak jika dari hasil perkawinan keduanya mempunyai seorang anak pertama laki-laki, maka anak tersebut harus direlakan untuk mensyiarkan Islam di tanah kelahiran Ibundanya yaitu di tatar Pasundan (Kerajaan Sunda).

Selain itu, Dewi Lara Santang juga menginginkan agar janji kesanggupan Sultan Hud di ikrarkan di bukit Tursnia (Palestina). Sang Sultan kemudian menyanggupinya dan ikrar janji tersebut kemudian dilaksanakan di bukit Tursina dan disaksikan oleh Pangeran Cakrabwana. Setelah Peristiwa tersebut kemudian keduanya menikah.

Pernikahaan Dewi Rara Santang dengan Sultan Hud dikarunia dua anak laki-laki, anak pertama diberi nama Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati yang belakangan menjadi Raja di Cirebon sementara anak keduanya diberi nama Syarif Nurullah.

Menurut Naskah Mertasinga, dimasa tuanya, selepas kemangkatan suaminya Sultan Hud Dewi Rara Santang dijemput anaknya Syarif Hidayatullah untuk diajak pulang ke Cirebon, beliaupun wafat di Cirebon dan dimakamkan di Cirebon.

Kisah Asal Usul Dewi Rara Santang, Putri Prabu Siliwangi

Nyai Mas Subang Larang adalah putri dari Ki Gedeng Tapa, seorang mangkubumi dari Nagari Singapura, dari Nhay Ratu Karanjang (putri Ki Gedeng Kasmaya penguasa -Guruloka Mandala Wanagiri atau Kerajaan Wanagiri Cirebon, yang masih saudara dari Prabu Anggalarang).

Subang Larang lahir pada 1404 M. Carita Purwaka Caruban Nagari mengisahkan bahwa Subang Larang adalah salah satu istri dari Raden Pamanah Rasa yang kelak menjadi Raja Pajajaran dengan gelar Prabu Siliwangi.

Dalam salah satu versi Nyi Subang Larang adalah kakak dari pendekar yang melegenda yakni Jaka Tingkir. Keduanya, anak Prabu Siliwangi seibu, yakni dari selir Dewi Khona’ah. Jaka Tingkir, kelak berguru kepada Syeh Quro Nahdatul Ain, di Karawang.

PERTEMUAN DENGAN PRABU SILIWANGI 

Pada Tahun 1409 Ki Gedeng Tapa dan anaknya nyai Subang Larang,penguasan Syahbandar Muara Jati Cirebon, menyambut kedatangan pasukan angkatan laut Tiongkok pimpinan Laksamana Muslim Cheng Ho ditugaskan oleh Kaisar Yung Lo (Dinasti Ming 1363-1644) memimpin misi muhibah ke-36 negara. Antara lain ke Timur Tengah dan Nusantara (1405-1430). Membawa pasukan muslim 27.000 dengan 62 kapal.

 Misi muhibah Laksamana Cheng Ho tidak melakukan perampokan atau penjajahan. Bahkan memberikan bantuan membangun sesuatu yang diperlukan oleh wilayah yang didatanginya. Seperti Cirebon dengan mercusuarnya. Oleh karena itu, kedatangan Laksamana Cheng Ho disambut gembira oleh Ki Gedeng Tapa sebagai Syahbandar Cirebon. Di Cirebon Laksmana Cheng Ho membangun mercusuar.

Dalam Armada Angkatan Laut Tiongkok itu, rupanya juga diikutsertakan seorang ulama Syekh Hasanuddin adalah putra seorang ulama besar Perguruan Islam di Campa yang bernama Syekh Yusuf Siddik yang masih ada garis keturunan dengan Syekh Jamaluddin serta Syekh Jalaluddin, ulama besar Makkah masih keturunan dari Sayidina Hussen Bin Sayidina Ali Ra.dan Siti Fatimah putri Rosulullah SAW. Syeh Hasanuddin, seorang ulama yang hafidz Al-qur’an serta ahli Qiro’at yang sangat merdu suaranya untuk mengajar Agama Islam di Kesultanan Malaka,

Dikisahkan pula bahwa setelah Syekh Hasanuddin menunaikan tugasnya di Malaka, selanjutnya beliau pulang ke Campa dengan menempuh perjalanan melewati ke daerah Martasinga, Pasambangan, dan Jayapura hingga melalui pelabuhan Muara Jati. Di Muara Jati Syeh Hasanuddin berkunjung kembali ke Ki Gedeng Tapa, Syahbandar Cerbon yang dulu pernah dikunjunginya bersama Laksamana Cheng Ho.

Kedatangan ulama besar yag ahli Qiro’at tersebut, disamping karena perubahan tatanan dunia politik dan ekonomi yang dipengaruhi oleh Islam seperti sangat banyak kapal niaga muslim yang berlabuh di pelabuhan Cirebon, kapal niaga dari India Islam, Timur Tengah Islam dan Cina Islam. memungkinkan tumbuhnya rasa simpati Ki Gedeng Tapa sebagai Syahbandar Cirebon terhadap Islam. Karenanya kedatangan Syekh Hasanuddin disambut baik oleh Ki Gedeng Tapa atau Ki Gedeng Jumajan Jati yang memperoleh kekuasaan berasal dari Ki Gedeng Sindangkasih setelah wafat.

Ketika kunjungan yang cukup lama itu berlangsung, Ki Gedeng Tapa dan anaknya Nyai Subang Larang serta masyarakat Syahbandar Muara Jati merasa tertarik dengan Suara lantunan ayat Qur’an serta ajarannya yang dibawa Syekh Hasanuddin, hingga akhirnya banyak warga yang memeluk Islam.

Penyebaran agama Islam yang disampaikan oleh syekh Hasanuddin di Muara Jati Cirebon, yang merupakan bawahan dari Kerajaan Pajajaran, rupanya sangat mencemaskan raja Pajaran Prabu Anggalarang, sehingga pada waktu itu,penyebaran agama Islam dperintahkan agar dihentikan. Perintah dari Raja Negeri Pajajaran tersebut dipatuhi oleh Syekh Hasanuddin. Beberapa saat kemudian Syekh Hasanuddin mohon diri kepada Ki Gedeng Tapa. Sebagai sahabat, Ki Gedeng Tapa sendiri sangat prihatin atas peristiwa yang menimpa ulama besar itu, Sebab ia pun sebenarnya masih ingin menambah pengetahuannya tentang Agama Islam. Oleh karena itu, sebagai wujud kesungguhannya terhadap agama Islam, putri Ki Gedeng Tapa yang bernama Nyai Subang Karancang atau Nyai Subang Larang dititipkan ikut bersama ulama besar ini untuk belajar mengaji dan Agama Islam di Campa.

Beberapa waktu lamanya berada di Campa, kemudian Syekh Hasanuddin membulatkan tekadnya untuk kembali ke wilayah negeri Pajajaran. Dan untuk keperluan tersebut, maka telah disiapkan dua perahu dagang yang memuat rombongan para santrinya adalah Syekh Abdul Rahman.Syekh Maulana Madzkur dan Syekh Abdilah Dargom.termasuk Nyai Subang Larang.

MENIKAH DENGAN PRABU SILIWANGI

Sekitar tahun 1416 Masehi, setelah rombongan ini memasuki Laut Jawa, dan Sunda Kelapa lalu memasuki Kali Citarum,yang waktu itu di Kali tersebut ramai dipakai Keluar masuk para pedagang ke Negeri Pajajaran, akhirnya rombongan perahu singgah di Pura Dalam atau Pelabuhan Karawang. dimana kegiatan Pemerintaahan dibawah kewenangan Jabatan Dalem. Karena rombongan tersebut,sangat menjunjung tinggi peraturan kota Pelabuhan,sehingga aparat setempat sangat menghormati dan,memberikan izin untuk mendirikan Mushola ( 1418 Masehi) sebagai sarana Ibadah sekaligus tempat tinggal mereka. Setelah beberapa waktu berada di pelabuahan Karawang, Syekh Hasanuddin menyampaikan Dakwah-dakwahnya di Mushola yang dibangunya ( sekarang Mesjid Agung Karawang ).dari urainnya mudah dipahami dan mudah diamalkan,ia beserta santrinya juga memberikan contoh pengajian Al-Qur’an menjadi daya tarik tersendiri di sekitar karawang.

Ulama besar ini sering mengumandangkan suara Qorinya yang merdu bersama murid-muridnya,Nyi Subang Larang,Syekh Abdul Rohman,Syekh Maulana Madzkur dan santri lainnya seperti ,Syekh Abdiulah Dargom alias Darugem alias Bentong bin Jabir Modafah alias Ayekh Maghribi keturunan dari sahabat nabi (sayidina Usman bin Affan).karena ulama besar ini memang seorang Qori yang merdu suaranya. Oleh karena itu setiap hari banyak penduduk setempat yang secara sukarela menyatakan masuk Islam.

Berita tentang dakwah Syeh Hasanuddin yang kemudian masyarakat Pelabuhan Karawang memanggilnya dengan Syekh Quro, rupanya telah terdengar kembali oleh Prabu Angga Larang, yang dahulu pernah melarang Syekh Quro melakukan kegiatan yang sama tatkala mengunjungi pelabuhan Muara Jati Cirebon. Sehingga ia segera mengirim utusan yang dipimpin oleh sang putra mahkota yang bernama Raden Pamanah Rasa untuk menutup Pesantren Syekh Quro.

Namun tatkala putra mahkota ini tiba di tempat tujuan, rupanya hatinya tertambat oleh alunan suara merdu ayat-ayat suci Al-Qur’an yang dikumandangkan oleh Nyai Subang Larang. Putra Mahkota (yang setelah dilantik menjadi Raja Pajajaran bergelar Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi) itu pun mengurungkan niatnya untuk menutup Pesantren Quro, dan tanpa ragu-ragu menyatakan isi hatinya untuk memperistri Nyi Subang Larang yang cantik dan halus budinya.

Pinangan tersebut diterima tapi,dengan syarat mas kawinnya yaitu Lintang Kerti Jejer Seratus yang di maksud itu adalah simbol dari Tasbeh yang merupakan alat untuk berwirid yang berada di Mekkah. permohonan Nyi Subang Larang disanggupi oleh Raden Pamanah Rasa.Atas petunjuk Syekh Quro,Prabu Pamanah Rasa segera pergi ke Mekkah.

Di tanah suci Mekkah,Prabu Pamanah Rasa disambut oleh Syekh Maulana Jafar Sidik. Prabu Pamanah Rasa merasa keget,ketika namanya di ketahui oleh seorang syekh. Dan Syekh itu, bersedia membantu untuk mencarikan Lintang Kerti Jejer Seratus dengan syarat harus mengucapkan Dua Kalimah Syahadat. Sang Prabu Pamanah Rasa mengucapkan Dua Kalimah Syahadat.yang makna pengakuan pada Allah SWT,sabagai satu-satunya Tuhan yang harus disembah dan, Muhammad adalah utusannya. Semenjak itulah, Prabu Pamanah Rasa masuk agama Islam dan menerima Lintang Kerti Jejer Seratus atau Tasbeh, mulai dari itu,Prabu Pamanah Rasa diberi ajaran tentang agama islam yang sebenarnya.Prabu Pamanah Rasa segera kembali ke Pajajaran untuk melangsungkan pernikahannya keduanya dengan Nyi Subang Larang waktu terus berjalan maka pada tahun 1422 M,pernikahan di langsungkan di Pesantren Syekh Quro dan dipimpin langsung oleh Syekh Quro. Beberapa lama setelah menikah Prabu Pamanahah Rasa dinobatkan sebagai Raja Pakuan Pajajaran dengan gelar Prabu Siliwangi.

Kerajaan Pakuan Pajajaran biasa disebut kerajaan Pajajaran saja (1482 – 1579 M). Pada masa kejayaannya kerajaan Prabu Pamanah Rasa terkenal dengan sebutan Sri Baduga Maharaja dengan gelar Prabu Siliwangi dinobatkan sebagai raja pada usia 18 tahun. Meski sudah masuk agama Islam ternyata Prabu Siliwangi tetap menjadikan agama “resmi” kerajaan yang dianut saat itu tetap “Sunda Wiwitan” yakni “ajaran dari leluhur yang dijunjung tinggi yang mengejar kesejahteraan”. Konon agama Sunda memang tidak mensyaratkan untuk membangun tempat peribadatan khusus, oleh karena itu maka sisa-sisa peninggalan yang berupa bangunan candi hampir tidak ditemukan di Jawa Barat.

Prabu Siliwangi seorang raja besar dari Pakuan Pajajaran. Putra dari Prabu Anggalarang dari dinasti Galuh yang berkuasa di Surawisesa atau Kraton Galuh. Pada masa mudanya dikenal dengan nama Raden Pamanah Rasa. Diasuh oleh Ki Gedeng Sindangkasih, seorang juru pelabuhan Muara Jati. Istri pertama adalah Nyi Ambetkasih, sepupunya sendiri, yang merupakan putri dari Ki Gedeng Sindangkasih, putra ketiga Wastu Kancana dari Mayangsari, yang menjadi raja muda di Surantaka (Sekitar Majalengka sekarang). Dengan pernikahan ini dia ditunjuk menjadi pengganti Ki Gedeng Sindangkasih sebagai raja muda Surantaka. Dari Ambetkasih dia tidak mendapat keturunan. Istri kedua,Nyai Subang Larang putri dari Ki Gedeng Tapa. Istri Ketiga, adalah Kentring Manik Mayang Sunda, adik dari Amuk Murugul.

Kentring Manik Mayang Sunda, dinikahkan kepadanya untuk menyatukan kembali kekuasaan Sunda-Galuh yang sempat terpecah menjadi dua. Keturunan Kentring Manik Mayang Sunda dan Prabu Siliwangi inilah yang dianggap paling sah menduduki tahta Pajajaran. Istri keempatnya Aciputih Putri dari Ki Dampu Awang, seorang panglima perang dari Cina yang menjadi nakhoda kapal Laksamana Cheng Ho.

Pernikahan kedua di Musholla yang senantiasa mengagungkan alunan suara merdu ayat-ayat suci Al-Qur’an yang dikumandangkan oleh Nyai Subang Larang. memang telah membawa hikmah yang besar, dan Syekh Quro memegang peranan penting dalam masuknya pengaruh ajaran Islam ke keluarga Sang Prabu Siliwangi. Sebab para putra-putri yang dikandung oleh Nyai Subang Larang yang muslimah itu, memancarkan sinar IMAN dan ISLAM bagi umat di Negeri Pajajaran. Nyai Subang Larang sebagai isteri kedua seorang raja memang harus berada di Istana Pakuan Pajajaran, dengan tetap memancarkan Cahaya Islamnya.

Perbedaan yang mencolok antara Ibu Subang Larang dengan istri-istri Prabu Siliwangi lainnya adalah keunggulan mendidik anak-anaknya yang mencerminkan sosok ibu yang idealnya seperti seorang ibu bahkan bagi sebagian orang Bogor, Ibu Subang Larang-lah yang biasa disebut dengan nama Ibu Ratu bukan Nyai Roro Kidul seperti yang diyakini sebagian masyarakat. Hasil dari pernikahan Prabu Siliwangi dan Nyai Subang Larang tersebut mereka dikarunai tiga anak Ideal yaitu:

1.Raden Walangsungsang ( 1423 Masehi) ; 2.Nyi Mas Rara Santang ( 1426 Masehi) ; 3.Raja Sangara ( 1428 Masehi).

Melihat kondisi Pakuan Pajajaran yang menganut keyakinan “Sunda Wiwitan” Subang Larang tidak mungkin mengajari Islam putra putrinya sendiri di istana Pakuan Pajajaran. Diizinkan Putra pertama yang laki-laki bernama Raden Walangsungsang setelah melewati usia remaja, maka bersama adiknya yang bernama Nyimas Rara Santang, meninggalkan Istana Pakuan Pajajaran dan mendapat bimbingan dari ulama Syekh nur Kahfi adalah muballigh asal Baghdad memilih pengajian di pelabuhan Muara Jati, yaitu Perguruan Islam Gunung Jati Cirebon. Setelah kakak beradik ini menunaikan ibadah Haji, maka Raden Walangsungsang, dengan restu Prabu Siliwangi menjadi Pangeran Cakrabuana mendirikan kerajaan dibawah Pajajaran dan memimpin pemerintahan Nagari Caruban Larang, Cirebon.

Sedangkan Nyi Mas Rara Santang Di tempat pengajian Gunung Jati Cirebon tampaknya Nyai Rara Santang bertemu atau dipertemukan dengan Syarif Abdullah, cucu Syekh Maulana Akbar Gujarat. Setelah mereka menikah, lahirlah Raden Syarif Hidayatullah kemudian hari dikenal sebagai Sunan Gunung Jati. Penerus raja Caruban Larang yang menurut cerita versi Pajajaran beliau yang mendirikan asal muasal kota Cirebon.

Sedangkan Raja Sangara menuntut ilmu Islam mengembara hingga ke Timur Tengah. Kemudian menyebarkan agama Islam di tatar selatan dengan sebutan Prabu Kian Santang (Sunan Rohmat), wafat dan dimakamkan di Godog Suci Garut.

Adapun kegiatan Pesantren Quro, Kemudian para santri yang telah berpengalaman disebarkan ke pelosok pedesaan untuk mengajarkan agama Islam, terutama di daerah Karawang bagian selatan seperti Pangkalan. Demikian juga ke pedesaan di bagian utara Karawang yang berpusat di Desa Pulo Kalapa dan sekitarnya.

Setelah wafat, Syekh Quro dimakamkan di Dusun Pulobata, Desa Pulokalapa, Kecamatan Lemahabang, Lokasi makam penyebar agama Islam tertua, yang konon lebih dulu dibandingkan Walisongo tersebut, berada sekitar 30 kilometer ke wilayah timur laut dari pusat kota Lumbung Padi di Jawa Barat itu.

Wallohu'alam bisshowab

Kisah Asal Usul Nyai Subang Larang, Istri Prabu Siliwangi

Berikut ini tim kami Kuwaluhan.com telah merangkum beberapa daftar Pondok Pesantren Modern maupun Salafiyah Terbaik, Terbesar dan Terkenal di Ciamis Jawa Barat :

1. PONDOK PESANTREN DARUSSALAM CIAMIS

Lokasi : Jl. K.H. Ahmad Fadlil No.1, Dewasari, Kec. Cijeungjing, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat 46271

Melalui sejarah yang panjang (berdiri tahun 1929 oleh K.H. Ahmad Fadlil), kini Pondok Pesantren Darussalam telah berkembang dan mencapai kemajuan yang sangat menggembirakan. Pondok Pesantren yang pada awal berdirinya hanya memiliki sebuah rumah tempat tinggal Kiayi, sebuah masjid dan sebuah asrama (pondok) yang sederhana, kini telah memiliki fasilitas bangunan yang relatif lengkap dan beberapa diantaranya cukup megah.

Disamping peningkatan fasilitas dan sarana pendidikan untuk santri, hal yang sangat penting lain adalah pengembangan sistem pendidikannya. ketika di banyak Pondok Pesantren lain masih mengkhususkan pada pengajian kitab, Pesantren Darussalam mulai merintis untuk menyelenggarakan pendidikan formal. Maka sejak dasawarsa 60-an, Pesantren Darussalam mulai memodernisasikan sistem pendidikannya dengan mendirikan lembaga-lembaga pendidikan formal.

Pada tahun 1967, mulai dirintis penyelenggaraan sistem pendidikan modern dengan mengadaptasi model klasikal dan sampai saat ini semua jenjang pendidikan dar mulai Taman Kanak-kanak (TK) (di Pesantren Darussalam disebut Raudlatul Athfal/RA) hingga perguruan tinggi telah ada di pesantren ini.

Lembaga pendidikan formal yang pertama didirikan adalah Raudlatul Athfal (Taman Kanak-kanak) pada tahun 1967, kemudian pada tahun 1968 berdiri Madrasah Ibtidaiyah/MI (setingkat SD), lalu Madrasah Tsanawiyah Darussalam/MTsD (setingkat SMP) pada tahun 1968. kemudian berdiri Madrasah Aliyah Negeri Darussalam (setingkat SMA) pada tahun 1969. Selanjutnya didirikan SMA Plus Darussalam yang merupakan lembaga pendidikan swasta pada tahun 2003. Sedangkan Pendidikan Tinggi (PT) di Pondok Pesantren Darussalam adalah berbentuk Institut yang didirikan pada tahun 1970, dengan nama Institut Agama Islam Darussalam (IAID) yaitu Perguruan Tinggi Agama Islam yang menggabungkan pendidikan akademik dengan pendidikan kepesantrenan, yaitu Pondok Pesantren Darussalam.

Disamping itu, pada tahun 1995 diselenggarakan pula Ma'had 'Aly, yaitu pendidikan tinggi Pesantren Darussalam. Mahasantri Ma'had 'Aly ini terdiri dari lulusan Madrasah Aliyah dan para mahasiswa Institut Agama Islam Darussalam dari berbagai fakultas yang memenuhi persyaratan, diantaranya telah mampu membaca kitab-kitab kuning.

Lembaga pendidikan yang ada di Pondok Pesantren Darussalam Ciamis adalah sebagai berikut:

1. Raudhatul Athfal Al-Fadliliyah Darussalam Ciamis (RA / TK)
2. Madrasah Ibtidaiyah Al-Fadliliyah Darussalam Ciamis (MI / SD)
3. Madrasah Tsanawiyah Al-Fadliliyah Darussalam Ciamis(MTs / SMP)
4. Madrasah Aliyah Negeri 1 Darussalam Ciamis (MAN / SMA)
5. Sekolah Menengah Atas Plus Darussalam Ciamis (SMA Plus)
6. Institut Agama Islam Darussalam Ciamis (IAID / PT) (Program S1 dan S2)
7. Pendidikan Diniyah Formal Ulya Darussalam Ciamis (PDFU)
8.Majelis Ta'lim Darussalam Ciamis

2. PONDOK PESANTREN AL HASAN


Lokasi : Jl. Jenderal Ahmad Yani No.120, Kertasari, Kec. Ciamis, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat 46213

Pondok Pesantren Al Hasan merupakan salah satu Pesantren yang cukup dikenal di Kabupaten Ciamis dan sekitarnya. Hal ini dikarenakan prestasinya yang membanggakan dan letaknya yang strategis.

Al Hasan didirikan pada tahun 1985 yang diasuh oleh KH. Muhammad Syarif Hidayat, Kiyai muda alumni Pondok Pesantren Miftahul Huda Manonjaya Tasikmalaya Jawa Barat serta salah seorang murid Kiyai besar yang kharismatik (Uwa Ajengan) KH. Choer Affandy (Alm.). Menurut sumber yang didapat, pendirian Al Hasan ikut dibantu oleh beberapa Kiyai setempat, diantaranya : KH. M. Arsyad (Alm.), KH. Asikin (Alm.), KH. Hasan (Alm.) dan Drs. KH. Udin Saefuddin (Alm.). Nama Al Hasan merupakan sebutan khas Muwaqif tanah pendirian Pondok Pesantren Al Hasan yang bernama KH. Hasan (Alm.).

Dalam memadukan perkembangan Pondok Pesantren Al Hasan yang demikian pesat, maka sedikit demi sedikit terus menambah berbagai sarana serta fasilitas pendidikan yang diperlukan bagi kebutuhan para santri. Alhamdulillah pada perkembangan terakhir, Pondok Pesantren Al Hasan membenah diri untuk tidak sekedar mengkaji kitab-kitab klasik kepada para santrinya, namun telah memodernisasikan system pesantren dengan mendirikan lembaga-lembaga pendukung kegiatan pesantren.

Kini Pondok Pesantren Al Hasan telah membangun lima asrama (2 asrama putra dan 3 asrama putri), Madrasah, Gedung Pertemuan Aula Ar Roudloh, GOR, KBIH dan Umroh Al Hasan, BMT Al Hasan (kini menjadi Bank Santri Al Hasan), TKA, TPA dan DTA dan Smesco Mart Mini Market yang merupakan bagian dari Koppontren Al Hasan. Tersedianya sarana yang lengkap membuat santri semakin nyaman mencari ilmu di Pondok Pesantren Al Hasan.

3. PONDOK PESANTREN AR-RISALAH CIJANTUNG IV


Lokasi : Jalan Raya Banjar Km.3,5, RT.24/RW.08, Pamalayan, Kec. Cijeungjing, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat 46271

Pondok pesantren Ar-Risalah didirikan pada tahun 1997 M oleh KH. Drs. Asep Saefulmilah bersama istri Hj. Dra. Ai Siti Masitoh Saefulmillah dan didaftarkan pada notaris tahun 1999 bernomor 02. tanggal 29 Mei 1999. Ar-Risalah didirikan sebagai pengembangan dari Pondok Pesantren Al-Qur’an Cijantung Ciamis yang didirikan KH. Mohammad Siradj (w. 1997 M).

Proses pendidikan di Pondok pesantren Ar-Risalah menerapkan pendidikan integratif yang diselenggarakan atas dasar prinsip keterpaduan yang meliputi: Keseimbangan tiga pilar kecerdasan; emosional, intelektual, dan spiritual; Keterpaduan sistematik keilmuan islam yang non-dikotomik antara agama dan ilmu, Keterpaduan pada kontinuitas pencapaian hal yang terbaik dengan akar tradisi yang baru, dan keterpaduan fungsional pendidikan yang berorientasi kepada pembukaan kecakapan.

4. PONDOK PESANTREN ISLAM NURUSSALAM PUTRI


Lokasi : Dusun Citaharja, Kujang, Cikoneng, Kujang, Kec. Cikoneng, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat 12970

Pendidikan diniyyah di Komplek Nurussalam Putri dikelola di bawah Madrasah Salafiyah I yang dikembangkan dengan muatan kurikulum kepesantrenan / takhassus, ditambah dengan beberapa ketrampilan yang mendukung. Metode pengajian yang digunakan adalah Sorogandan Bandongan. Sedangkan untuk pengajian Al-Qur'an dilakukan dengan metode musyafahah bin Nadzri dan bil Ghoib. Adapun kitab yang dikaji untuk santri putri adalah: Riyadus Sholihin, Bidayatul Hidayah, Safinatun Najah, Sulam Taufiq, Shorof Krapyak, Fasholatan, Aqidatul Awam, Ta'lim Muta'allim, Mabadi 'Fiqhiyah, Jurumiyah, Jawahirul Kalamiqa, Taisirul 'idul Fiqhi, Fathul Qorib, Muslim Minhajul, Di Tibyan fi Ulumil Qur'an, Waroqot, Bidayatul Mustafid, Mushtholahul Hadits, Tafsir Ayatil Ahkam, at-Tibyan fi Adabi Hamalatil Qur'an, dll.

5. PONDOK PESANTREN DAARUL MA'ARIF CIAMIS


Lokasi : Jl. Angganaya No. 37 Rt. 06/10 Ciwahangan, Imbanagara, Kec, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat 46219

Pondok Pesantren Darul Ma'arif didirikan oleh Yayasan Darul Ma'arif terkait pengembangannya pendidikan di bawah naungan Yayasan Darul Ma'arif mulai dari TK, SD, SMP, SMA, SMK, MA hingga Sekola Tinggi yang sangat meningkat sesuai jumlah siswa dan meluasnya daerah asal siswa yang menuntut ilmu di lingkungan pendidikan Kampus Hijau Kaplongan Kab. Indramayu dibutuhkan disediakan asrama guna menampung siswa yang diambil dari luar daerah.

Selain itu, Pondok Pesantren berguna untuk memfasilitasi siswa yang ingin mempercayakan agama Islam yang lengkap  ahlussunnah wal jama'ah  melalui sistem pendidikan yang merupakan kombinasi antara sistem  shalaf  dan  kholaf , pondok pesantren yang memadukan sistem pendidikan berbasis salaf dan modern. Dengan tetap membaca kitab-kitab kuning, namun juga berbahasa Arab dan Inggris.

6. PONDOK PESANTREN NURUL 'AMAL


Lokasi : Jl. Bojong - Cimaragas, RT.004/RW.017, Cikawung, Bojongmengger, Cijeungjing, Karangkamulyan, Ciamis, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat 46271

Nama NURUL AMAL diambil dari nama Mesjid kecil yang digunakan untuk pengajian pada fase awal sebagai cikal bakal berdirinya pondok pesantren Nurul Amal.

Arti NURUL AMAL adalah cahaya amal. Sesuai dengan tujuannya yaitu banyak berbuat amal kebaikan agar menjadi penerang bagi ummat. Santri dibekali ilmu dan hafalan Al-qur’an sebagai pondasi awal untuk beramal shalih. Dengan demikian mereka diharapkan menjadi generasi Rabbani yang berakhlak Qur’ani yang memiliki keteguhan jiwa dan berakhlak mulia agar tercapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Mampu menjadi penerang bagi ummat sebagai pengemban risalah dakwah.

Sejak tahun 1997 dimulailah pendidikan kepesantrenan yang diperuntukan bagi masyarakat sekitar yang meliputi pendidikan TPA bagi anak usia dini, Pemberantasan Buta Huruf Qur’an (PBHQ) dan Majlis Ta’lim  bagi masyarakat sekitar.

Seiring dengan pertambahan santri pada tiap tahunnya, sarana dan prasarana belajar di MI sudah tidak memadai. Hal itu mengharuskan dilakukannya rehabilitasi dan penambahan ruangan belajar. Maka mulai tahun ajaran 2008/2009 mulai dilakukan rehabilitasi dan penambahan ruangan belajar serta fasilitas lainnya.

7. PESANTREN PERSATUAN ISLAM 109 KUJANG


Lokasi : Kujang, Kec. Cikoneng, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat 46261

Pondok Pesantren Persatuan Islam 109 Kujang merupakan salah satu Lembaga Pendidikan Islam modern dari sekian banyak lembaga pendidikan serupa di seluruh dunia ini pun termasuk untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut dengan mengembangkan generasi muda muslim menjadi santriwan / santriwati yang memiliki kesungguhan dalam belajar dan kemuliaan dalam bermoral.

Untuk mencapai pendidikan yang sesuai dengan Visi dan Misi, kurikulum yang di gunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran adalah perpaduan antara kurikulum Departemen Agama dan Pimpinan Pusat Persatuan Islam.

Itulah Deretan Pondok Pesantren Terbaik dan Terkenal di Ciamis Jawa Barat.

Inilah 7 Pondok Pesantren Terbaik dan Terbesar di Ciamis Jawa Barat

Prabu Kiansantang atau Raden Sangara adalah Putra Prabu Siliwangi atau Sri Baduga Maharaja Raja Pakuan Pajajaran dengan Nyi Subang Larang, Pernikahan Prabu Siliwangi dengan Nyi Subang Larang dinikahkan oleh Syekh Quro Karawang. Dari pernikahan Sri Baduga Maharaja dengan Nyi Subang Larang dikarunia 3 orang putra yaitu :
 1. Pangeran Cakrabuana),
 2.Rara Santang (ibu Sunan Gunung Jati)
3. Prabu Kiansantang.

KISAH PRABU KIAN SANTANG DENGAN ALI BIN ABI THALIB


Tiba-tiba datang seorang kakek yang memberitahu bahwa orang yang dapat menandingi kegagahan Prabu Kiansantang itu adalah Sayyidina Ali, yang tinggal jauh di Tanah Mekah. Sebetulnya pada waktu itu Sayyidina Ali telah wafat, tetapi kejadian ini dipertemukan secara goib dengan kekuasaan Allah Yang Maha Kuasa.

Lalu orang tua itu berkata kepada Prabu Kiansantang, "Kalau memang anda mau bertemu dengan Sayyidina Ali harus melaksanakan dua syarat: Pertama, harus mujasmedi dulu di ujung kulon. Kedua, nama harus diganti menjadi Galantrang Setra (Galantrang - Berani, Setra - Bersih-Suci). Setelah Prabu Kiansantang melaksanakan dua syarat tersebut, maka berangkatlah dia ke tanah Suci Mekah.

Setiba di tanah Mekah dia bertemu dengan seorang lelaki yang disebut Sayyidina Ali, tetapi Kiansantang tidak mengetahui bahwa laki-laki itu bernama Sayyidina Ali. Prabu Kiansantang yang namanya sudah berganti menjadi Galantrang Setra menanyakan kepada laki-laki itu, "Kenalkah dengan orang yang namanya Sayyidina Ali?" Laki-­laki itu menjawab bahwa ia kenal, malah bisa mengantarkannya ke tempat Sayyidina Ali.

Sebelum berangkat laki-laki itu menancapkan dulu tongkatnya ke tanah, yang tak diketahui oleh Galantrang Setra. Setelah berjalan beberapa puluh meter, Sayyidina Ali berkata, "Wahai Galantrang Setra tongkatku ketinggalan di tempat tadi, coba tolong ambilkan dulu." Semula Galantrang Setra tidak mau, tetapi Sayyidina Ali mengatakan, "Kalau tidak mau ya tentu tidak akan bertemu dengan Sayyidina Ali."

Terpaksalah Galantrang Setra kembali ke tempat bertemu, untuk mengambilkan tongkat. Setibanya di tempat tongkat tertancap, Galantrang Setra mencabut tongkat dengan sebelah tangan, dikira tongkat itu akan mudah lepas. Ternyata tongkat tidak bisa dicabut, malahan tidak sedikitpun berubah. Sekali lagi dia berusaha mencabutnya, tetapi tongkat itu tetap tidak berubah. Ketiga kalinya, Galantrang Setra mencabut tongkat dengan sekuat tenaga dengan disertai tenaga bathin. Tetapi daripada kecabut, malahan kedua kaki Galantrang Setra amblas masuk ke dalam tanah, dan keluar pulalah darah dari seluruh tubuh Galantrang Setra.

Ternyata laki-laki yang baru dikenalnya tadi namanya Sayyidina Ali. Setelah Prabu Kiansantang meninggalkan kota Mekah untuk pulang ke Tanah Jawa (Padjadjaran) dia terlunta-lunta tidak tahu arah tujuan, maka dia berpikir untuk kembali ke tanah Mekah lagi. Maka kembalilah Prabu Kiansantang dengan niatan akan menemui Sayyidina Ali dan bermaksud masuk agama Islam. Prabu Kiansantang masuk agama Islam, dia bermukim selama dua puluh hari sambil mempelajari ajaran agama Islam. Kemudian dia pulang ke tanah Sunda (Padjadjaran) untuk menengok ayahnya Prabu Siliwangi dan saudara-saudaranya. Setibanya di Padjadjaran dan bertemu dengan ayahnya, dia menceritakan pengalamannya selama bermukim di tanah Mekah serta pertemuannya dengan Sayyidina Ali. Pada akhir ceritanya dia memberitahukan dia telah masuk Islam dan berniat mengajak ayahnya untuk masuk agama Islam.

KISAH PRABU KIANSANTANG DAN RAKEYAN SANCANG

Prabu Kiansantang inilah yang disebut-sebut tradisi masyarakat Garut sebagai putra Raja Padjadjaran (Prabu Siliwangi) yang berselisih paham tentang keyakinan agama, tapi akhirnya mereka bersepakat Kean Santang diberi keleluasaan untuk menyebarkan agama Islam di seluruh wilayah Kerajaan Padjadjaran, petilasan yang bertalian dengan Kean Santang berada di Godog Garut berupa makam, gunung Nagara berupa bekas pertahanan dan di Cilauteureun.

Cerita rakyat turun menurun dari mulut ke mulut bahwa Prabu Kiansantang / Kian Santang abad ke 15 yang bertemu dengan Sayyidina Ali bin Abi Thalib tahun 599-661 dan mengejar bapaknya Prabu Siliwangi untuk di Islam-kan, hai ini terkait dengan siapa pemeluk Islam pertama di tataran Sunda, yakni dengan nama yang serupa dengan Pangeran dari Kerajaan Tarumanagara, yang bernama Rakeyan Sancang (lahir 591 M) putra Raja Kertawarman (Raja Kerajaan Tarumanagara 561 – 618 M) saudara sebapak Raja Suraliman Sakti (568–597) Putra Manikmaya cucu Suryawarman Raja Kerajaan Kendan.

PRABU KIANSANTANG MENJADI DALEM BOGOR

Pada usia 22 tahun Prabu Kiansantang diangkat menjadi Dalem Bogor ke 2 yang saat itu bertepatan dengan upacara penyerahan tongkat pusaka kerajaan dan penobatan Prabu Munding Kawati, putra Sulung Prabu Susuk Tunggal, menjadi panglima besar Pajajaran. Guna mengenang peristiwa sakral penobatan dan penyerahan tongkat pusaka Pajajaran tersebut, maka ditulislah oleh Prabu Susuk Tunggal pada sebuah batu, yang dikenal sampai sekarang dengan nama Batu Tulis Bogor.

Peristiwa itu merupakan kejadian paling istimewa di lingkungan Keraton Pajajaran dan dapat diketahui oleh kita semua sebagai pewaris sejarah bangsa khususnya di Pasundan. Prabu Kiansantang merupakan sinatria yang gagah perkasa, tak ada yang bisa mengalahkan kegagahannya. Sejak kecil sampai dewasa yaitu usia 33 tahun, Prabu Kiansantang belum tahu darahnya sendiri dalam arti belum ada yang menandingi kegagahannya dan kesaktiannya di sejagat pulau Jawa.

Sering dia merenung seorang diri memikirkan, "Dimana ada orang gagah dan sakti yang dapat menandingi kesaktian dirinya." Akhirnya Prabu Kiansantang memohon kepada ayahnya yaitu Prabu Siliwangi supaya mencarikan seorang lawan yang dapat menandinginya. Sang ayah memanggil para ahli nujum untuk menunjukkan siapa dan dimana ada orang gagah dan sakti yang dapat menandingi Prabu Kiansantang. Namun tak seorangpun yang mampu menunjukkannya.

Profil Dan Kumpulan Kisah Prabu Kian Santang

Berikut ini adalah daftar Pondok Pesantren Terbaik, Terkenal dan Terbesar di Bogor Jawa Barat berdasarkan ulasan Kuwaluhan.com :

1. PONDOK PESANTREN AL-ASHRIYYAH NURUL IMAN


Lokasi : Jalan Nurul Iman No.01, Warujaya, Kec. Parung, Bogor, Jawa Barat 16330

Seperti layaknya lembaga pendidikan lainnya, pesantren ini memiliki program pengembangan untuk masa datang baik dalam bidang pendidikan maupun dalam pengembangan bangunan di lingkungan Pondok Pesantren.

Untuk pendidikan, pesantren ini memiliki program untuk mewujudkan SDM yang berkualitas tinggi dalam keimanan dan ketakwaan, menguasai IPTEK yang menjadi tumpangan hidup didunia, oleh sebab itu diadakannya kursusu-kursus di luar pendidikan formal dalam pembelajaran keseharian para santri seperti diadakannya kursus bahasa, kursus komputer, kursus menjahit, pelatihan pertanian, pemanfaatan sampah-sampah menjadi bahan bangunan, peternakan ikan dan lain-lain.

Para santri-pun di tuntut untuk mampu menguasai minimal empat bahasa yaitu bahasa arab, inggeris dan mandarin untuk bekal panduan pelepasan mereka kelak. Dengan modal awal seperti inilah yang terektur pada dirimereka agar mampu memproyeksikan ilmu dunia dan ilmu akhirat, serta mampu mengaktualisasikannya dalam masyarakat dengan menyiapkan calon pemimpin masa depan yang menguasai IPTEK, mempunyai daya juang tinggi, kreatif, inofatif dan tetap di landasan iman dan takwa yang kuat, karena itu yayasan berusahamengembangkan kreatifitas serta meningkatkan pengetahuan dan profesional tenaga kependidikan sesuai perkembangan dunia pendidikan yang menjadikan pondok pesantren Al Ashriyyah Nurul Iman sebagai pondok percontohan di seluruh indonesia dalam pengembangan pengajaran IPTEK dan IMTAK bagipendidikan lembaga lainnya.

Dan untuk program pengembangan pembangunan, pesantren ini memiliki program untuk menambah asrama untuk anak-anak tinggal, karena anak- anak tidur di masjid dan tempat - tempat yang terbuka baik anak laki -laki maupun perempuan mengingat belum cukupnya asrama-asrama sebagai tempat yang layak untuk tempat tinggal. Di samping itu karena pendidikan ini pendidikan padat karya, Dia (Al Syekh Habib Saggaf bin Mahdi) mendidik anak-anak untuk belajar cara membuat roti, tahu, tempe, kecap, sabun dan tata cara jahit-menjahit. Dia sangat membutuhkan sarana-sarana yang memudahkan terlaksananya pendidikan tersebut.Mudah-mudahan cita-cita ini mengantar anak-anak didiknya di jalan kesuksesan.

Jenjang pendidikan Pondok Pesantren Al-Ashriyyah Nurul Iman sistem pembelajaran yang memadukan antara sistem pembelajaran salafiyyah yang merujuk pada pembahasan kitab-kitab klasik ( Tafsir Jalalain, Nahwu Al-Jurumiyah, I’mrithi, Alfiyah, Fiqih Safinatun Najah, Ghoyah wataqrib, Fathul Mu’in dll ). Serta system pendidikan modern yang merujuk pada kurikulum yang ditetapkan oleh DEPDIKNAS.

2. PONDOK PESANTREN DARUNNAJAH 2 CIPINING


Lokasi : Jl. Argapura, RT.02/RW.3, Argapura, Kec. Cigudeg, Bogor, Jawa Barat 16660

Pondok Pesantren Darunnajah 2 Cipining berdiri di bawah naungan Yayasan Darunnajah dan merupakan pengembangan dari Pondok Pesantren Darunnajah 1 Ulujami Jakarta Selatan. Kurikulum, sistem pengajaran dan jenis aktifitas santrinya sama.

Pondok Pesantren Darunnajah 2  Cipining berada di atas tanah wakaf seluas 70 ha., di Desa Argapura Kecamatan Cigudeg Kabupaten Bogor Propinsi Jawa Barat.

Pondok Pesantren Darunnajah 2  Cipining adalah lembaga pendidikan dan da’wah Islam yang independen tidak berafiliasi kepada partai politik dan/atau organisasi massa tertentu. Juga tidak terlibat/berhubungan dengan kelompok/sekte atau ajaran di luar ahlu sunnah wal jama’ah maupun yang dilarang oleh Pemerintah Republik Indonesi. “berdiri di atas dan untuk semua golongan”.

Kurikulum Pondok Pesantren Darunnajah 2  Cipining, Bogor, tingkat Tarbiyatul Mu’allimin wa al-Mu’allimat al Islamiyah adalah perpaduan kurikulum Pondok Modern Darussalam Gontor dan kurikulum Nasional serta Pesantren Salafiah.

Sistem pengajaran yang dipakai adalah klasikal, dengan metode yang mendorong keaktifan siswa dalam belajar dan dengan terus mengikuti perkembangan di bidang teori kependidikan/metodologi pengajaran.
Bidang-bidang (ilmu-ilmu) Bahasa Arab dan Bahasa Inggris diajarkan langsung dengan bahasa aslinya, begitu pula (ilmu-ilmu) agama Islam diajarkan dengan Bahasa Arab (tujuannya antara lain agar santri/siswa mampu memahami dan menerangkannya dengan bahasa aslinya). Adapun bidang studi lainnya diajarkan dalam bahasa Nasional.

Untuk lebih menunjang penguasaan bahasa Arab dan bahasa Inggris, diselenggarakan juga kegiatan-kegiatan extrakurikuler yang mendukung, anatara lain ; Muhadhoroh (latihan berpidato, muhadatsah/conversation, penerbitan majalah dinding, pemberian kosa kata baru (dua kali dalam sehari), dan penindakan pelanggar disiplin bahasa.

3. PONDOK PESANTREN AZ ZIKRA


Lokasi : Komplek Masjid Az Zikra, Cibadung, Gunung Sindur, Jampang, Kec. Gn. Sindur, Bogor, Jawa Barat 16340

Pondok Pesantren Al-Qur'an dan Sunnah Az-Zikra (PPASA), dirintis pembangunannya oleh Almarhum KH. Muhammad Arifin Ilham sejak tahun 2012. Tarbiyah atau pendidikan di pesantren ini dibawah langsung bimbingan almarhum KH. Muhammad Arifin Ilham dengan tim dewan Asatidz Az-Zikra. Pada tahun ajaran 2015 ini dimulai program SMP unggulan Tahfidzul Qur'an, Bahasa Arab & Inggris Artinya program ini adalah upayauntuk mendidik generasi muslim yang sholih dengan tetap mendapatkan pendidikan umum yang seiring sejalan dengan materi unggulan pesantren.

Sementara itu, peserta didik pun semakin dewasa menilai pendidikan bukan semata untuk mencari kerja, namun Alhamdulillah manfaat ilmu islam dirasakan sebagai bekal hidup yang esensial sebagai landasan jiwa dan budi pekerti. Hadirnya PPASA ini semoga Allah menjadikan sebagai media pendidikan umat yang penuh keberkahan.

Selain materi pelajaran sesuai kurikulum nasional, Ponpes Az-Zikra sangat menekankan pelajaran pemahaman Alquran, terutama cara membaca yang benar dan menghafal Alquran.

Untuk santri dengan kelebihan khusus dalam menghafal Alquran disediakan kelas khusus (takhassus) tahfiz. Untuk santri dengan kelebihan berupa suara yang indah juga disediakan kelas khusus belajar lagam (lagu) Alquran.

Selain itu, yang tak kalah pentingnya adalah membiasakan tujuh sunah Rasulullah setiap hari, yakni, qiyamul lail, tadabur Alquran, shalat berjamaah di masjid, shalat Dhuha, puasa Senin-Kamis, sedekah, menjaga wudhu, serta zikir dan wirid setiap saat.

4. PONDOK PESANTREN DARUSSALAM BOGOR


Lokasi : Jl. Bubulak, RT.01/RW.02, Padasuka, Ciomas, Bogor, Jawa Barat 16610

Pondok Pesantren Darussalam, didirikan pada tahun 1992 diatas tanah wakaf yang secara yuridis formal memiliki kekuatan hukum yang tetap dari Kepala Kantor Pertanahan Kab. Bogor (Akta Ikrar Wakaf tanggal 26-06-2002, No. K.01/BA.02/w.2/05/VI/2002), berlokasi di kampung Bubulak Padasuka Ciomas Bogor. Pendidikan dan Pengajarannya mengacu pada Manhaj (kurikulum) Pondok Modern Gontor, Nasional dan Tradisional.

Pondok Pesantren Darussalam berdiri di atas tanah seluas 6.400 m2, berlokasi di Kampung Bubulak Desa Padasuka Kecamatan Ciomas Kabupaten Bogor, merupakan wakaf dari H. Harun Jazhar (almarhum). Secara geografis, letak lokasi pesantren Darussalam dikelilingi oleh perumahan dengan radius rata-rata 150 meter dari Pesantren.

Berdirinya Pondok Pesantren Darussalam sesungguhnya merupakan sebuah wujud kepedulian dan tanggungjawab moral dari para alumni Pondok Modern Gontor terhadap masalah pendidikan bagi para generasi umat, sekaligus sebagai bentuk jawaban atas amanah, niat suci dan cita-cita dari pewakaf, serta animo, minat, dan kepercayaan masyarakat terhadap keberadaan lembaga pendidikan model pesantren.

5. PONDOK PESANTREN MODERN AR-RIDHO SENTUL BOGOR


Lokasi : Jalan Parung Aleng, RT.003/RW.003, Desa Cikeas, Cikeas, Kec. Sukaraja, Bogor, Jawa Barat 16710

Pondok Pesantren Modern Ar-Ridho adalah salah satu pondok alumni Darussalam Gontor Mlarak Ponorogo yang didirikan untuk membimbing dan mempersiapkan diri untuk bekal dunia dan akhirat. Keberhasilan Pondok Pesantren Modern Darussalam Gontor dalam menerapkan disiplin serta pengkaderan untuk menjadi pemimpin yang Islami dan berkualitas sangat tidak diragukan lagi.

Pengalaman Yayasan Ar-Ridho dalam kiprahnya selama lebih dari 30 tahun dalam bidang pendidikan yang bekerja sama dengan YPI Al-Azhar Jakarta sebagai salah satu sekolah Islam terkemuka di Indonesia melahirkan suatu pendidikan yang global.

Pondok Pesantren Modern Ar-Ridho menerapkan dua program, yaitu pendidikan agama dan umum. Para santri di didik agar dapat menjaga dan meningkatkan akhlak, ibadah dan kemandiriannya serta beradaptasi dengan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) sehingga diharapkan menjadi pemimpin yang berakhlakul karimah,taat beribadah serta ahli dalam perkembangan teknologi.

Selain pendidikan agama (Al-Qur’an, fiqih, tauhid, Bahasa Arab, dll) santri juga diberikan pendidikan Bahasa Inggris, Matematika, Fisika, Komputer, Ekonomi, Sejarah, dan masih banyak lagi.

6. PONDOK PESANTREN MODERN SAHID


Lokasi : Jl. KH. Abdul Hamid No.KM.6, Situ Udik, Kec. Cibungbulang, Bogor, Jawa Barat 16630

Pondok Pesantren Modern Sahid didirikan pada tanggal 27 Mei 2000 oleh seorang pejuang kemerdekaan yang kemudian menjadi pengusaha nasional sekaligus politisi dan praktisi pendidikan yaitu KPH.Prof.DR.H.Sukamdani Sahid Gitosardjono bersama istrinya K.R.Ay.Hj. Juliah Sukamdani. Beliau berdua bercita-cita menjadikan Pondok Pesantren Modern Sahid ini sebagai Pusat Pendidikan Islam bertaraf Internasional mulai dari tingkat Raudhatul Athfal (TK Islam) sampai perguruan tinggi Islam (jenjang S-1,S-2, S-3) untuk menyiapkan generasi yang unggul, berbudaya, dan Islami dalam rangka merealisasi ajaran Islam rahmatan lil’alamin.

Pesantren ini didukung fasilitas yang lengkap, SDM yang mukhlish dan profesional, serta Sistem Manajemen Mutu ISO 9001 : 2008. Pada tanggal 27 Mei 2006, Pondok Pesantren Modern Sahid diwakafkan dengan nadzir Yayasan Wakaf Sahid Husnul Khatimah. Pondok Pesantren Modern Sahid terus berkembang secara bertahap dalam rangka mewujudkan cita-cita pendiri.

Pondok Pesantren Modern Sahid menerapkan sistem pendidikan terpadu yaitu mengintegrasikan tiga pusat pendidikan (Keluarga, Sekolah, dan Lingkungan). Dengan demikian, santri mendapatkan pendidikan selama 24 jam setiap hari dalam suasana yang Islami.

7. PONDOK PESANTREN RAFAH


Lokasi : Mekarsari, Kec. Ranca Bungur, Bogor, Jawa Barat 16320

Pondok Pesantren Rafah didirikan dengan dana dari umat dan para muhsinin yang menginfaqkan hartanya tanpa pamrih, ikhlas lillahi ta’ala. Terkhusus teman dekat KH. M. Nasir Zein, M.A. yang memiliki komitmen untuk membantu pesantren ini yaitu Al-Ustadz Sayyid Muhsin bin Abdurrahman Alkaf.

Selain itu Juga diambil dari sumbangan wali santri yang merupakan kewajiban mereka. Awal Pembangunan Masjid merupakan bangunan awal yang berdiri di Pondok Pesantren Rafah, karena masjid merupakan pusat dakwah untuk ummat dengan segala kegiatannya.

Sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW. di awal kedatangan beliau ke kota Madinah. Pembangunan masjid ini diselesaikan selama 8 bulan. Dimulai pada tanggal 1 Dzulqo’dah dan selesai pada bulan Sya’ban. Diresmikan pada tanggal 27 Desember 1997 M oleh para ulama dan pejabat setempat yang hadir waktu itu, di antaranya Drs. Muamal, selaku Asisten Daerah Bogor.

Mulai tahun ajaran  2009 - 2010 Pondok Pesantren Rafah membuka kurikulum pendidikan Tarbiyatul Mu’allimin Al Islamiyyah (TMI) program Pondok Pesantren dan MA dengan jenjang pendidikan 6 tahun untuk lulusan MI/SD, menginduk ke Departemen Agama, didukung dengan program unggulan hafalan Al Qur'an, kemampuan percakapan harian dengan Bahasa Arab dan Inggris serta praktek berorganisasi dan pengembangan kemampuan / skill  lainnya. Dengan kurikulum tersebut diatas diharapkan peserta didik bisa menjadi kader umat yang qur’ani,  bertafaquh fiddin, menjadi ulama da’i dan da’i ulama, orientasi kemasyarakatan dan bisa melanjutkan jenjang pendidikan baik dalam negeri maupun luar negeri dengan dasar nilai Qur’ani sehingga menjadi generasi khoiru ummah yang diharapkan.

8. PONDOK PESANTREN DARURRAHMAH (YAPIDA)


Lokasi : Jl. KH. Tb. Asep Basri, Bojong Nangka, Gunung Putri, Bojong Nangka, Kec. Gn. Putri, Bogor, Jawa Barat 16963

Pondok Pesantren Darurrahmah (YAPIDA), didirikan pada tahun 1989 oleh (alm) KH. Tb. Asep Basri diatas tanah seluas ± 6 Ha, untuk mewujudkan keinginannya yang besar dalam menangani pengembangan dan pelestarian budaya pendidikan dan da`wah di mata umat. Menurutnya, santri perlu dipersiapkan sejak dini dengan seperangkat ilmu dan keterampilan yang cukup untuk menyertai perkembangan kehidupan modern yang kian kompleks. Pondok Pesantren  Darurrahmah adalah lembaga pendidikan yang mewadahi visi dan misi umat islam secara aspiratif dengan mengalokasikan waktu selama 24 jam demi mengkondisikan santri aktif dan kondusif dalam belajar.

Pondok Pesantren Darurrahmah juga mempunyai sistem pendidikan yang kondusif dengan memadukan sistem salafiyah dan modern untuk memenuhi kebutuhan dan menjawab tantangan zaman yang diwarnai nuansa keilmuan dan pengetahuan yang Qur`ani dan Haditsi, dengan demikian diharapkan santri dapat mengenal, mempertahankan dan mengembangkan keimanan dan ketaqwaan (IMTAQ) sebagai mediator dan moderator dalam menggapai karunia dan ridho Allah SWT, serta menjadikan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) yang dimiliki santri terikat secara holistik serta menciptakan disiplin ilmu yang amaliyah dan amal yang ilmiyah.

Dengan inovasi sistem yang tiada henti, kini Pondok Pesantren Darurrahmah sudah diterima di masyarakat luas sebagai lembaga pendidikan yang tidak hanya menerima siswa yang mampu saja tapi juga santri yang tidak mampu atau yatim/piatu sebagai perwujudan dari bentuk rasa persaudaraan dan kebersamaan antar sesama.

9. PONDOK PESANTREN ANNUR DARUNNAJAH 8


Lokasi : Jl. Intan 1, Cidokom, Kec. Gn. Sindur, Bogor, Jawa Barat 16340

Pondok Pesantren Annur Darunnajah 8 merupakan lembaga pendidikan Islam, menyediakan sistem pendidikan yang berkualitas yang telah memenuhi dunia. Pondok Pesantren Annur menciptakan kader pemimpin agama Islam dengan sistem Pondok Modern Gontor Ponorogo. Membentuk karakter santri dengan pengetahuan agama Islam, kecakapan dakwah dan kecakapan hidup.

Pesantren ini menyelenggarakan sistem pendidikan Tarbiyatul Muallimin Al-Islamiyah (TMI) yang identik dan diadopsi dari sistem Kulliyatul Muallimin Al Islamiyah (KMI), sistem pendidikan yang dirancang oleh Pondok Modern Gontor sebagai pelopor pesantren modern. Sistem pendidikan ini sudah teruji baik ditingkat nasional maupun internasional sejak lama dan sudah diakui legalitasnya di bawah Departemen Agama Republik Indonesia melalui PMA tentang Pesantren Muadalah tahun 2014. Selain itu, tersedia program tahfidz Al-Quran dikampus khusus Rabi'ul Qulub (Darunnajah 13) kampus utama.

Keseimbangan antara kekuatan akademis-pendidikan karakter, penguasaan bahasa Arab dan Inggris sebagai bahasa komunikasi, integrasi antara Ilmu agama dan umum sebagai Ilmunnafi, pembentukan disiplin diri dan beragam kegiatan ekstrakurikuler selaras dengan konsep Multiple Intelligences, ditambah dengan program menghafal Al-Quran sebagai pelengkap, diciptakan ciri khas pondok pesantren yang disiapkan generasi muslim kreatif ini.

10. PONDOK PESANTREN AL-QURAN NURUL FURQON AL-HUSNI


Lokasi : Perum BCE Sukahati combining, Sukahati, Cibinong, Bogor, Jawa Barat 16913

Pondok Pesantren Al-Quran Nurul Furqon didirikan oleh KH Jejen Sukrillah S.PdI pada tahun 1990. Kampus pesantren berlokasi di Kompleks Perumahan Pemda, Sukahati, Cibinong, Bogor. Pondok Pesantren Al-QuranNurul Furqon dalam kurikulumnya berupaya memadukan antara sistem sorogan dan bandungan dengan sistem kelas. Dan agar para santri mampu mandiri setelah keluar dari pesantren, maka mereka diberi bekal berbagai keterampilan, sesuai pilihannya di BLK (Balai Latihan Kerja) di samping mereka memahami ilmu Qiroat, sebagai ciri khas Pondok Pesantren Nurul Furqon, juga wawasan keislaman, sains, dan teknologi. 

11. PONDOK PESANTREN MINHAJ SHAHABAH


Lokasi : Jl. Pam Ciburial, RT.001/RW.011, Sukamantri, Kec. Tamansari, Bogor, Jawa Barat 16610

Ma'had Minhaj Shahabah adalah lembaga pendidikan Islam berdasarkan Al-Qur'an dan As-Sunnah, Selain membahas Al-Qur'an dan Hadits, juga mengajarkan Pendidikan yang sesuai dengan sekolah formal lainnya. SMP AL MINHAJ & SMA AL MINHAJ TAMANSARI, beralamat di Kampung Sukamaju, RT / RW 001/011, Desa Sukamantri Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Indonesia di bawah Yayasan Minhaj Shahabah.

Ma'had Minhaj Shahabah Berada di lereng gunung salak Kabupaten Bogor yang nyaman untuk belajar, mengutamakan pendidikan syar'i dengan target hafal Al Qur'am ( Tahfidzul Qur'an ) 15 Juz di tingkat SMP dan 15 Juz di tingkat SMA dan tak lupa memberikan porsi bagi pendidikan umum yang memadai yang dibuktikan dengan legalitas sekolah dibawah kementerian pendidikan dan pertanian KEMDIKBUD.

12. PONDOK PESANTREN DARUL MUTTAQIEN


Lokasi : Jl. Jkt - Bogor No.KM. 41, Jabon Mekar, Kec. Parung, Bogor, Jawa Barat 16330

Sejak berdirinya, dari tahun ke tahun Pondok Pesantren Darul Muttaqien telah mengalami kemajuan yang cukup signifikan baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Hingga saat ini kegiatan pendidikan yang diselenggarakan Pesantren Darul Muttaqien meliputi : TK Islam, SD Islam Terpadu, Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Aliyah, SMP Islam Terpadu, Pesantren Salafiyah, TPA serta madrasah Diniyah. Semoga harapan wakif menjadi kenyataan, bahwa Darul Muttaqien menjadi lembaga pesantren yang berkhidmat kepada ummat dengan mendidik generasi bangsa. Dalam rangka menyiapkan generasi muslim yang berkualitas, Pondok Pesantren Darul Muttaqien menerapkan Pendidikan Islam Terpadu dengan pendekatan “learning process” serta berkomunikasi berbahasa Arab dan Inggris melalui manajemen terpadu dan peningkatan hubungan kemitraan.

Pesantren Darul Muttaqien meliputi :

1. R A
2. TPQ
3. Diniyah Takmiliyah
4. SD Islam Terpadu (Full Day School)
5. SMP Islam Terpadu (Full Day School)
6. Madrasah Tsanawiyah (Berasrama)
7. Madrasah Aliyah (Berasrama)
8. Pesantren Salafiyah (Berasrama)

Di masa yang akan datang sejalan dengan tuntutan dan kemampuan yang dimiliki, Pesantren Darul Muttaqien tidak menutup kemungkinan melakukan pengembangan sekolah-sekolah dengan jenjang dan bentuk lain seperti SMK, Madrasah Aliyah Kejuruan dan Perguruan Tinggi. Program-program serupa menjadi grand design Pesantren Darul Muttaqien dalam rangka merespon kebutuhan masyarakat dan tuntutan zaman.

13. PONDOK PESANTREN BINA MADANI


Lokasi : Jl. Raya H.E. Sukma Gg. Siliwangi No. 25, Bogor Selatan, Harjasari, Kec. Bogor Sel., Kota Bogor, Jawa Barat 16110

Pondok Pesantren Bina Madani Bogor Selatan adalah untuk Putera dan Puteri merupakan lembaga pendidikan berbasis Al-Qur’an yang dibangun diatas pondasi iman dengan asas Al-Qur’an dan As Sunnah serta berupaya melahirkan generasi muslim berji waqur’ani yang siap dan setia menegakan panji Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam pada diri, keluarga dan umatnya. Santri akan di tempa menjadi muslim sholih dan sholihah yang hafal 30 juz, beraqidah lurus, berakhlaq mulia dan menjadi tauladan yang baik serta siap berdakwah dalam kebenaran dan kesabaran.

14. PONDOK PESANTREN KILAT AL HIKMAH


Lokasi : Jalan Al Hikmah, Gang Warung Nangka , RT.04 / RW.02, Bojongkerta, Bogor Selatan, Bojongkerta, Kec. Bogor Sel., Kota Bogor, Jawa Barat 16139

Pada awalnya Wakaf Perseorangan atas lahan wakaf di Bojong Kerta atau lazim dikenal oleh masyarakat berada di daerah Rancamaya, Ciawi – Kota Bogor ini dicatatkan dengan status hukum berbentuk yayasan, maka landasan hukum yang menjadi pedoman dasar penyelenggaraan kegiatan yang dipakai sebagai acuan untuk merencanakan, mengembangkan program, dan penyelenggaraan kegiatan fungsional sesuai dengan tujuannya adalah yayasan. (Yayasan Wakaf Al-Hikmah, 1990-2012).

Dengan mengingat terjadinya perubahan perundang-perundangan yang menempatkan “yayasan” sebagai badan setara dengan “corporate” maka sesuai hakikat dan makna dari wakaf (sebagai aset ummat yang tidak dibagi dan tidak juga boleh habis) status hukum yayasan pun diubah menjadi lembaga. (Lembaga Wakaf Al-Hikmah, 2012).

Paket Studi Intensif merupakan program yang bertujuan membentuk generasi muda yang berkarakter ihsan, yang kelak siap menerima estafeta kepemimpinan kaum tua. Melalui paket studi intensif ini kalangan muda dibekali dan dilatih untuk mengenal dan memahami lebih dalam tentang nilai dasar Islam melalui pendekatan perkaderan.

Dari memahami nilai-nilai Islam secara substansif kelak pada gilirannya peserta latih akan mampu menghadapi derasnya pertarungan di tengah pergaulan hidup yang multinilai dalam era kesejagatan, yang dengan dibekali paradigma berfikir (fikrah) Islami mereka dapat membedakan dan memilah hal-hal di antara dua sisi yang berseberangan: yang hak atau batil, yang benar atau salah, yang halal atau haram untuk mereka mengambil sikap pada kecenderungan yang sesuai norma Islami. Peserta latih juga dibekali dengan metodologi kepemimpinan (leadership) dan teknik memecahkan masalah (scientific problem solving), serta simulasi dalam olah daya kecermatan.

15. PONDOK PESANTREN AL-HIKMAH AN-NAJIYAH


Lokasi: Kayumanis Ciri Mekar, Cibinong, Cirimekar, Cibinong, Bogor, Jawa Barat 16917

Berawal dari pengajian Al-Quran untuk anak-anak di sebuah kontrakan yang diikuti oleh anak-anak masyarakat kampung Poncol Cirimekar Cibinong. Tradisi pengajian sore atau lepas maghrib bagi anak-anak di sebuah kampung adalah merupakan kebutuhan bagi generasi Islam pemula, maka tidak aneh kalau pengajian ini diikuti oleh hampir semua anak-anak masyarakat Cirimekar dan sekitarnya.

Tahun 1994, pengajian dengan nama TPA Al-Ikhlash ini sedikit berbeda dengan pengajian tradisional yang ada di rumah-rumah guru ngaji, karena tenaga pengajarannya dilaksanakan dengan metode IQRO, sementara di tempat-tempat lain masih menggunakan sistim Baghdadiyah (ejahan). Di awal tahun 1994 Drs. Abdul Halim Al-Qorny, sebagai pengasuh pengajian Al-Ikhlash menerima wakaf tanah dari H. Adang Zakaria seluas 285 m2 (terdiri dari dua lokasi) Pada tgl. 04 Juni 1994 terbentuklah sebuah yayasan pendidikan Islam dengan nama YAYASAN PENDIDIKAN ISLAM AL-IKHLASH (Notaris HM.Adam.SH) sekaligus memulai pembangunan sarana pendidikan.

Pada tgl 1 Agustus 2001 bangunan tersebut sudah dapat diisi, walau dengan sangat darurat, rumah ustadz dan kamar santri hanya dibatasi hijab, Ponpes Al-Hikmah An-Najiyah sudah mulai melaksanakan tugas pendidikan da’wah dan pengabdiannya, dan pada waktu itu yang dapat diteima hanyalah santri putra.Sambil menyelesaikan pembangunan, pelaksanaan pendidikan kepesantrenan, majlis ta’lim dan kegiatan sosial lainnya terus dikembangkan, setahun kemudian rampung juga pembangunan ponpes tahap pertama.

Ekstrakurikuler

1. Kajian kitab-kitab kuning (kitab salaf)
2. Pembinaan Tahfidz dan Tilawatil Al-Qur’an
3. Latihan berpidato dalam tiga bahasa (Indonesia, Inggris dan Arab)
4. berbahasa Arab dan Inggris sehari-hari
5. Diskusi dan Penelitian Ilmiah
6. Kepramukaan
7. Pengembangan Olahraga
8. Pengembangan Seni Drumband, Qashidah dan Marawis
9. Pengembangan Seni Beladiri
10. Tahfidhul Qur’an
11. Pengembangan jurnalistik dan publisistik
12. Pengembangan Exacta (Lab Skill), Ketrampilan, Wirausaha

Itulah Deretan Pondok Pesantren Terbaik dan Terkenal di Kawasan Bogor Jawa Barat.

15 Pondok Pesantren Terbaik dan Terbesar di Bogor Jawa Barat