Tampilkan postingan dengan label kisah Dewi Sekartaji. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kisah Dewi Sekartaji. Tampilkan semua postingan
Pada zaman dahulu, di wilayah Jawa Timur terdapat sebuah kerajaan yang bernama Kerajaan Jenggala. Sang Prabu bernama Raden Putra. Ia mempunyai seorang permaisuri dan seorang selir.

Baginda Raden Putra sangat menyayangi permaisuri, tetapi begitu pula kepada selirnya. Akan tetapi, rupanya selir raja tidak puas dengan kedudukannya saat ini.

Apalagi dari tabib istana ia mendapatkan bocoran bahwa permaisuri kini sudah mengandung. Ia takut kalau posisinya di mata Raden Putra menjadi lemah dan tersisih. Kehadiran seorang putra atau putri dari permaisuri tentu dapat merubah segalanya bukan?

Diam-diam ia menyusun sebuah rencana jahat. Dipanggilnya tabib istana untuk membuat persekongkolan untuk menyingkirkan permaisuri dari istana. Jika rencananya berhasil, maka tabib akan diberi hadiah istimewa.

Pada suatu hari, selir raja sakit keras. Raden Putra sangat gundah. Ia meminta tabib istana memberikan pengobatan terbaik yang mungkin dapat diberikannya. Tabib mengatakan kepada baginda raja Raden Putra bahwa ia akan berusaha sebaik-baiknya untuk menyembuhkan selir. Ia mengatakan kepada Raden Putra bahwa sakitnya selir disebabkan oleh racun. Selir memperkuat perkataan tabib istana bahwa ia merasa telah diracun oleh permaisuri.

Sontak Raden Putra marah. Ia memanggil permaisuri dan kemudian berniat menghukumnya. Raja Raden Putra memerintahkan patih istana untuk membunuh permaisuri yang telah meracun selir di hutan yang ada di tepi kerajaan Jenggala.

Permaisuri mencoba membela diri, tetapi fitnah kejam telah ditujukan padanya oleh tabib kerajaan dan selir. Tidak ada cara yang dapat dilakukannya untuk membela diri.

PERMAISURI DIHUKUM


Sementara permaisuri dibawa menuju hutan, selir telah berhasil disembuhkan dari racun. Tentu saja untuk menyembuhkan selir dari racun yang sengaja dimakannya itu sangat mudah bagi tabib istana karena ia memiliki penawarnya.

Persekongkolan keduanya berhasil dan selirpun diangkat menjadi permaisuri baru. Tabib menerima berbagai hadiah perhiasan berupa uang, emas, dan barang berharga lainnya dari permaisuri.

Patih kerajaan yang mengetahui bagaimana sebenarnya sifat permaisuri yakin bahwa permaisuri tidak melakukan kejahatan. Ia sama sekali percaya dengan permaisuri.

Tidak mungkin wanita seagung permaisuri melakukan kekejian untuk meracun selir. Justru patih curiga bahwa selirlah yang telah memfitnah permaisuri untuk menyingkirkannya. Walaupun demikian, tentu patih kerajaan tidak mempunyai kemampuan untuk menyelematkan permaisuri dari fitnah itu.

Sesampainya di hutan, patih tidak menghukum mati permaisuri. Justru ia membuatkan sebuah pondok yang kokoh untuk permaisuri. Ia juga mencarikan makanan yang cukup untuk beberapa hari sementara permaisuri belum mengenal hutan itu.

Permaisuri sangat berterima kasih kepada patih. Permaisuri justru mengkhawatirkan keselamatan patih karena jika baginda raja Raden Putra tahu bahwa patih tidak membunuhnya, maka beliau tentu marah besar.

Patih mengatakan kepada permaisuri bahwa ia tak perlu khawatir akan keselamatannya. Ia akan menangkap seekor rusa dan menyembelihnya. Darah rusa itu akan dioleskan ke pedangnya sebagai bukti bahwa ia telah membunuh sang permaisuri.

Demikianlah, hari demi hari dilalui oleh permaisuri dengan berat di hutan. Dalam keadaan hamil, ia harus mencari makan dan melindungi diri dari berbagai binatang buas.

KELAHIRAN CINDELARAS DAN AYAM JAGONYA


Ketika usia kandungannya telah sampai umur, permaisuri melahirkan seorang bayi laki-laki. Bayi itu sangat tampan. Permaisuri memberinya nama Cindelaras. Dengan penuh kasih sayang permaisuri merawat Cindelaras sehingga menjadi anak yang tangkas.

Setiap hari Cindelaras berteman dengan binatang-binatang hutan. Baginya, mencari makanan di hutan untuk menghidupi dirinya dan ibunya sangatlah mudah. Ia sangat menyayangi ibunya, walaupun ia tak habis pikir kenapa seorang wanita seperti ibunya tinggal di tengah hutan tanpa kerabat dan keluarga.

Pada suatu hari Cindelaras yang masih anak-anak itu sedang bermain-main dengan binatang-binatang hutan sahabatnya. Tiba-tiba, dari angkasa, seekor burung rajawali besar menjatuhkan sebutir telur ayam ke pangkuannya.

Cindelaras kemudian menyimpan telur ayam itu hingga menetas. Cindelaras sangat sayang dengan anak ayam itu. Setelah beberapa lama, ayam itu kini telah menjadi seekor ayam jantan. Badannya tidak terlalu besar, begitupun bulu-bulunya, biasa saja. Tidak ada yang menarik dari ayam jago itu, sampai suatu hari ayam jantan itu mulai berkokok.

Kuku kukuuuuruyuuuuuuuk.... (Kuku kukuuuuruyuuuuuuuk....)
Jagone Cindelaras (Ayam jantan milik Cindelaras)
Omahe tengah alas (Rumahnya di tengah hutan)
Payone godhong klaras (Atapnya daun kelapa)
Bapakne Raden Putra.... (Ayahnya bernama Raden Putra ....)

Cindelaras sangat kaget. Ia walaupun tidak pernah memelihara ayam jantan, tetapi ia tahu betul bagaimana cara berkokok seekor ayam jantan. Tidak ada ayam yang bisa berbicara.

Cindelaras yakin ayamnya bukan ayam sembarangan. Dan kata-kata ayam jagonya itu seakan menjawab sebuah pertanyaan besar yang selama ini disimpannya. Ayahnya bernama Raden Putra.

CINDELARAS MENCARI ASAL-USULNYA

Dengan segala kebingungannya Cindelaras akhirnya memutuskan untuk bertanya tentang siapa dirinya. Permaisuri menceritakan kisah sebenarnya karena ia melihat anaknya kini sudah mulai tumbuh menjadi semakin dewasa.

Cindelaras tak terasa kini sudah menjadi pemuda yang tampan dan siap mengetahui siapa dirinya sebenarnya. Betapa marahnya Cindelaras setelah mendengar cerita ibunya. Tetapi dengan hati-hati permaisuri menyabarkan hati Cindelaras.

Cindelaras akhirnya berniat menemui ayahnya baginda raja Raden Putra di istana. Ibunya Cuma bisa mewanti-wanti agar ia selalu berhati-hati dalam setiap langkah dan perbuatannya. Ia mendoakan Cindelaras selalu mendapatkan keberuntungan dalam hidup dan perjalanannya menuju istana Jenggala.

Di tengah jalan menuju istana Jenggala, Cindelaras bertemu dengan orang-orang yang mengadu ayam jago. Mereka memasang taruhan. Ada yang berupa uang, barang-barang, atau apapun yang bisa dipertaruhkan dalam perjudian.

Ketika orang-orang yang mengadu ayam itu melihat Cindelaras memegang seekor ayam jago, ia kemudian ditantang mereka untuk adu ayam. Cindelaras sebenarnya sangat tidak tertarik untuk mengadu ayam jago kesayangannya itu. Ia tidak ingin berjudi dan lagipula ia tidak ingin menyakiti ayam jagonya. Tetapi orang-orang itu memaksa.

Cindelaras dengan sangat berat hati akhirnya mengadu ayam jagonya. Ia tidak punya apa-apa untuk dipertaruhkan. Tetapi orang-orang itu mengatakan bahwa Cindelaras dapat mempertaruhkan dirinya sendiri, misalnya bila kalah ia dapat bekerja kepada orang yang memenangi adu jago itu dengan bekerja selama seminggu penuh.

Karena terus dipaksa dan si jago ayam peliharaannya juga seperti ingin menerima tantangan itu, maka akhirnya Cindelaras mengiyakan.


Ternyata di luar dugaan, ayam jago Cindelaras yang tidak berapa besar badannya itu memenangkan pertarungan. Orang-orang lainnya kemudian terus menantang dan memaksanya untuk mengadu jagonya.

Anehnya, semua pertarungan dimenangkan ayam jago milik Cindelaras. Ayam itu sepertinya tidak pernah merasa lelah dan tidak dapat dilukai kulitnya.

Cindelaras dari hasil pertaruhannya kemudian mendapatkan banyak uang dan barang berharga lainnya. Akan tetapi ia tak pernah mengambil semuanya.

CINDELARAS MENUJU ISTANA JENGGALA

Cindelaras dan ayam jagonya menjadi sangat terkenal. Belum separuh perjalanan menuju istana Jenggala, raja Raden putra telah mendengar tentang kehebatan ayam jago milik Cindelaras.

Baginda raja Raden Putra kemudian menantang adu jago dengan Cindelaras. Bukan sembarangan, kali ini Raden Putra yang sangat yakin dengan kehebatan ayam jantannya akan mempertaruhkan istana Jenggala.

Cindelaras mengatakan bahwa ia tak punya apa-apa untuk dipertaruhkan. Raden Putra, yang tidak lain adalah ayah Cindelaras itu mengatakan bahwa Cindelaras dapat mempertaruhkan nyawanya.

Cindelaras berdoa semoga ia dapat memenangkan pertaruhan ini. Ketika kedua ayam jago dilepaskan, tampaklah perbedaan yang mencolok dari keduanya. Ayam jago milik Raden Putra tampak besar, gagah, kuat, dan beringas. Sementara, ayam jago milik Cindelaras tampilannya biasa-biasa saja. Tampak tidak istimewa sama sekali.

Ayam jago milik Raden Putra segera menyambar ayam jago Cindelaras. Tetapi ternyata ayam jago Cindelaras dengan gesit berkelit. Berkali-kali ayam jago milik Raden Putra berusaha dengan beringas mematuk-matuk dan menyambar-nyambar ayam Cindelaras, tidak pernah berhasil.

Lalu tiba-tiba ayam jago Cindelaras mulai membalas. Sekali terjang, ayam jago milik Raden Putra langsung terjengkang. Ayam jago Cindelaras terus mengejar dan menyambar-nyambar ayam Raja Raden Putra. Akhirnya, dalam waktu sebentar saja, ayam jago milik Raden Putra lari terbirit-birit.

KEBAHAGIAAN CINDELARAS DAN PERMAISURI

Raja Raden Putra dengan disaksikan para penduduk kerajaan Jenggala terpaksa mengakui kekalahannya. Ia rupanya harus merelakan istana kerajaan Jenggala kepada Cindelaras. Ia tentu saja merasa sangat menyesal. Pada saat itulah ayam jago milik Cindelaras berkokok sebagai tanda kemenangannya.

Kuku kukuuuuruyuuuuuuuk.... (Kuku kukuuuuruyuuuuuuuk....)
Jagone Cindelaras (Ayam jantan milik Cindelaras)
Omahe tengah alas (Rumahnya di tengah hutan)
Payone godhong klaras (Atapnya daun kelapa)
Bapakne Raden Putra.... (Ayahnya bernama Raden Putra ....)

Raden putra sangat takjub dan menanyakan perihal kebenaran kokok ayam jago milik Cindelaras. Pemuda tampan itu kemudian menceritakan asal-usulnya. Ceritanya kemudian diperkuat oleh patih kerajaan yang juga menyaksikan adu jago itu.

Akhirnya permaisuripun dijemput dari hutan setelah belasan tahun tinggal di sana. Sementara selir yang jahat dan tabib istana mendapat hukuman yang setimpal atas perbuatannya.

Cindelaras akhirnya menggantikan ayahnya raja Raden Putra untuk memerintah kerajaan Jenggala. Ia memerintah dengan adil bijaksana. Kejayaan Jenggala luar biasa di bawah kepemimpinanya. Mereka kemudian hidup bahagia selamanya.

Kisah Cerita Cindelaras dan Ayam Jagonya, Sejarah Jenggala


Dewi Sekartaji dilahirkan di Kerajaan Kediri, Jawa Timur.
Beliau ini adalah seorang Putri Raja Kediri (dulu bernama Kerajaan Dhaha) yang bernama Prabu Lembu Amiluhur.
Dewi Sekartaji ini bernama asli Putri Galuh Candra Kirana.

Duh indahnya nama putri yang satu ini. Tapak tilasnya masih ada loh di Kota Kediri, yang terkenal adalah Taman Sekartaji, dimana yang dulunya biasa dibuat taman bermain puteri Kediri.

Dewi Sekartaji ini memiliki wajah yang cantik jelita, tiada tanding di jamannya.
Hanya seorang pria saja yang sangat dicintainya kala itu. Pria kesatria gagah berani itu bukanlah aku loh...b'canda.
Kesatria tampan rupawan tersebut adalah Raden Panji Asmara Bangun atau yang lebih dikenal dengan Andhe-Andhe Lumut.
Beliau adalah putra dari Raja Jenggala.

Walaupun pertempuran dengan Prabu Klanasewandana dengan pasukan Hindu sudah berakhir dan telah dimenangkan oleh Kediri. Namun Sang Prabu masih merasa sedih dan cemas. Beliau berpikir bahwa selama Dewi Sekartaji belum bersuami pertempuran besar pasti akan terulang lagi.

Hal itupun dirasakan oleh Sang Resi Dewi Kilisuci. Maka beliau kemudian menemui Sang Raja Jenggala, menyampaikan permasalahan yang dihadapi adindanya Sang Raja Kediri. Sang Resi menyarankan bahwa untuk menghindari permasalahan timbulnya peperangan lagi, maka Prabu Lembu Hamilihur harus memaksa Raden Panji untuk dinikahkan dengan tunangannya yang lama yaitu Dewi Sekartaji.

Namun Prabu Lembu Hamiluhur tidak sanggup merasa Raden Panji sudah bukan miliknya sebab sudah diambil menantu oleh adindanya Raja Ngurawan. Di samping itu juga takut kalau sampai mengkhianatinya lagi seperti dahulu.

Prabu Lembu Hamiluhur menyerahkan sepenuhnya kepada Sang Resi dalam hal membicarakannya, baik dengan yang bersangkutan yaitu Raden Panji, maupun dengan mertuanya. Oleh karena itu lalu sang Resi segera pergi ke Ngurawan untuk membicarakan hal tersebut.


Sesampainya di Ngurawan, ditemuinya Raja Ngurawan, sekalian dengan Raden Panji Kudarawisrengga beserta istrinya. Sang Resi segera menyampaikan maksud kedatangannya, seperti yang telah dibicarakannya dengan Raja Jenggala. Sang Raja Ngurawan menyerahkan permasalahan tersebut kepada sang menantu.

Raden Panji pun bersedia asalkan istrinya mengizinkan, serta bersedia dimadu. Ternyata sang istri yaitu Dewi Surengrana mengizinkan. Oleh karena semua sudah bersedia dan sudah tidak ada permasalahan lagi, maka sang Prabu Ngurawan segera membuat surat untuk Raja Kediri yang isinya meminta Dewi Sekartaji untuk diambil menantu, dijodohkan dengan tunangan lamanya yaitu Raden Panji Kudarawisrengga.

Setelah Surat selesai dibuat segera memanggil dua orang menteri yaitu Cungcung dan Calbung untuk menghaturkan surat tersebut kepada kakandanya Sang Raja Kediri. Begitu menerima dan membaca surat lamaran dari Ngurawan, Sang Prabu Kediri lalu minta persetujuan kepada putranya, Raden Gunungsari.

Pada mulanya Raden Gunungsari tidak setuju sebab Raden Panji Kudarawisrengga sudah diambil menantu sendiri oleh sang Paman Raja Ngurawan, dijodohkan dengan putri sulungnya yang bernama Dewi Surengrana.

Dengan begitu berarti kakandanya, yaitu Dewi Sekartaji akan dimadu dengan saudaranya sendiri. Oleh karena itu Raden Gunungsari merasa berkeberatan, sebab kasihan pada kakaknya. Akan tetapi Sang Prabu mempunyai pandangan lain menurut beliau memang sudah menjadi kehendak Dewa, bahwa Dewi Sekartaji itu memang sudah ditentukan menjadi jodoh bagi Raden Panji Kudarawisrengga.

Oleh karena itu, apapun yang terjadi, walaupun harus dimadu dengan seratus putri, hanya Sekartaji yang akan mampu melahirkan putra mahkota. Dengan alasan tersebut Sang Prabu Kediri akan mengabulkan permintaan adindanya Sang Prabu Ngurawan untuk memberikan Dewi Sekartaji menjadi istri Raden Panji.

Sang Prabu kemudian memerintahkan kepada putranda Raden Gunungsari untuk membuat surat balasan, serta Raden Gunungsari pula yang diutus menyerahkannya ke Ngurawan.

Raden Gunungsari pun sanggup dengan syarat Dewi Honengan (putri bungsu Jenggala) akan dimintanya menjadi istri. Hal itupun telah disanggupi oleh ayahandanya.
Raden Gunungsari berangkat ke Ngurawan dengan diiringkan oleh lima orang abdinya yang sangat setia, yaitu:
-Ki Tisnapati
-Wiranala
-Singabureng
-Tirtayuda
-Secareka

Sesampainya di Ngurawan, sang paman sangatlah senang menerima balasan surat dari Kediri, terutama atas terkabulnya permintaannya. Oleh karena itu Raden Gunungsari ditahan untuk beberapa hari tinggal di Ngurawan, tidak boleh segera kembali ke Kediri, melainkan nanti bersama-sama dengan pengiringan pengantin laki-laki.

Untuk sementara Raden Gunungsari beserta kelima abdinya diminta beristrirahat di kepatihan. Sedangkan Sang Prabu Ngurawan mengirimkan utusan ke Kediri lagi untuk meminta perintah kapan pengantin laki-laki harus diiringkan ke Kediri.

Selama di Ngurawan, setiap sore Raden Gunungsari diajak berpesta bersama seluruh keluarga Ngurawan sambil menikmati indahnya tari-tarian. Adapun yang menari adalah para putri Ngurawan yang dipimpin oleh Dewi Kumudaningrat. Raden Gunungsari sangat terpesona pada kemolekan Dewi Kumudaningrat, sehingga segala geraknya senantiasa tidak lepas dari perhatiannya.

Namun Dewi Kumudaningrat tampak tidak menaruh perhatian kepada Raden Gunungsari, melainkan perhatiannya sepenuhnya tercurah kepada Raden Panji Sastramiruda. Maka Raden Gunungsari merasa bertepuk sebelah tangan.

Pada suatu malam hasrat Raden Gunungsari pada Dewi Kumudaningrat sudah tidak dapat dibendung lagi. Sehingga dengan diam-diam dia keluar dari kepatihan ingin menemui Dewi Kumudaningrat di taman Keputrian. Namun malang baginya. Begitu Raden Gunungsari masuk ke kamar tidur Dewi Kumudaningrat, ternyata Raden Panji Sastramiruda sudah berada disana sedang bercumbu dengan sang putri.

Sehingga mereka berdua lalu berkelahi, dan Raden Gunungsari terkena senjata terluka di paha. Raden Gunungsari lalu melarikan diri kembali ke kepatihan. Di sana beliau berjumpa dengan kelima abdinya yang terheran-heran.

Kemudian Raden Gunungsari menceritakan apa telah terjadi. Atas nasehat para abdinya, Raden Gunungsari lalu melarikan diri dari Ngurawan, sebab takut ketahuan oleh pamannya Sang Raja. Setelah tiga hari tiga malam mereka berjalan, sampailah di sebuah hutan belantara.

Di sana mereka sangatlah kelaparan. Tiba-tiba mereka melihat sebuah gubuk yang berada di tepi hutan. Maka singgahlah mereka di gubug tersebut.

Namun oleh karena hari tengah malam, maka yang empunya rumah sudah tidur. Kemudian dibangunkan oleh para abdi, dan diberi tahu bahwa yang datang tersebut adalah Raden Gunungsari, putra raja Kediri. Sang empunya rumah segera bangun dan tergopoh-gopoh menghaturkan sembah. Raden Gunungsari berterus terang bahwa beliau beserta kelima abdinya sangat kelaparan. Maka yang empunya rumah yang bernama Pak Sogol segera menanak nasi untuk menjamu para tamunya. Setelah masak, nasi segera disuguhkan, hanya dengan sebutir telur asin (kamal) serta sambal tanpa terasi.

Mula-mula jamuan disuguhkan kepada Raden Gunungsari. Beliau hanya makan sedikit. Selebihnya diberikan pada kelima abdinya, dan mereka makan dengan lahapnya, sehingga kesemuanya habis seketika. Sesudahnya Raden Gunungsari berniat akan segera melanjutkan perjalanan kembali ke Kediri.

Sebelum berangkat beliau berkata pada Pak Sogol, bahwa tempat tersebut akan dinamakan Desa Kamal, dan Pak Sogol sendiri diganti nama menjadi Ki Sugata. Hal tersebut sebagai tanda peringatan bahwa beliau telah dijamu (disugata= Jawa) dengan lauk telur asin (telur kamal). Beliau berjanji bahwa nanti setelah beliau kembali ke istana, Raden Gunungsari akan membalas kebaikan Pak Sogol tersebut.

Sesudah berkata demikian, Raden Gunungsari lalu mengajak kelima abdinya untuk melanjutkan perjalanan. Kemudian Singabureng mengingatkan bahwa Raden Gunungsari terluka karena tindakan yang memalukan.

Sehingga kalau ayahandanya mengetahui pasti akan marah, apalagi jika nanti disusul dengan surat dari Ngurawan, yang menyatakan bahwa tuanku di Ngurawan berbuat yang tidak baik. Pasti ayahanda Raja akan menjadi semakin marah, karena merasa dipermalukan. Oleh karena itu maka Raden Gunungsari lalu bertanya kepada Singabureng mengenai bagaimana yang sebaiknya dilakukan.
Singabureng berkata, bahwa daripada kembali ke Kediri, lebih baik bersembunyi dahulu di Gunung Wilis, sekalian mencari obat sambil mencari berita mengenai kepergian tuan, bagaimana sikap ayahanda tuanku Raja Ngurawan maupun Kediri.

Hal itupun disetujui Raden Gunungsari, sehingga mereka lalu meneruskan perjalanan menuju Gunung Wilis.
Sesampainya di Gunung Wilis mereka berjumpa dengan sang pendeta yang bernama Wasi Curiganata.

Raden Gunungsari bercerita dengan terus terang mengenai apa yang telah terjadi, maka kepada sang Resi, disamping mencari obat, juga ingin minta perlindungan.
Begitu mendengar cerita dari Raden Gunungsari sang resi segera memeluknya sambi! berkata: “Aduhai adikku, ketahuilah bahwa saya ini adalah kakakmu sendiri. Saya adalah Raden Nilaprabangsa putra Jenggala yang tertua”. Raden Nilaprabangsa lalu mengisahkan awal mulanya sehingga beliau menyamar sebagai pendeta di Gunung Wilis tersebut, yaitu bahwa mula-mula dipanggil oleh uwanda resi lalu disuruh menyingkirkan istri Raden Panji Kudarawisrengga yang pertama yang bernama Dewi Hangreni.

Setelah berhasil membunuh Dewi Hangreni dia disarankan untuk bersembunyi di Gunung Wilis dengan menyamar sebagai seorang pendeta dengan nama Wasi Curiganata, sehingga dapat berjumpa dengan raden Gunungsari di tempat tersebut.

Raden Nilaprabangsa menyarankan, bahwa untuk sementara waktu Raden Gunungsari tinggal di Gunung Wilis dahulu menunggu sembuhnya luka. Sedangkan kembalinya ke Kediri besok bersama-sama dengan iring-iringan pengantin dari Ngurawan. Raden Gunungsari tidak membantah, sehingga selama beberapa hari tinggal di tempat tersebut bersama dengan kelima orang abdinya.

Hari yang telah ditentukan untuk pengiringan pengantin pun telah tiba. Namun Sang Prabu Jenggala yaitu ayahanda sang pengantin laki-laki tidak berkenan hadir, melainkan hanya memberi doa restu. Oleh beliau, Raden Panji Kudarawisrengga diberi sebutan Raden Panji Klana Jayakusuma, juga disebut Raden Panji Hasmarabangun.

Maksudnya Raden Panji telah dapat mengalahkan Prabu Klana, kemudian membangun parkawinan dengan tunangan lama.

Setelah Raden Panji Kudarawisrengga dipertemukan dengan Dewi Sekartaji, untuk sementara waktu Sang Maharesi Rara Dewi Kilisuci tetap tinggal di Kediri, bertempat tinggal di padepokan Gua Selamangleng, yaitu di Desa Kandairen. Begitu juga Dewi Surengrana dan raden Panji Sastramiruda juga ikut tinggal di Kediri serta Raden Gunungsari jadi memperistri Dewi Honengan.

Raden Gunungsari kemudian memberi hadiah kepada kelima orang abdinya yang telah dengan setia mendampinginya, masing-masing sebuah desa. Yaitu Desa Tisnapaten untuk Ki Tisnapati Desa Wiranalan untuk Ki Wiranala, Desa Burengan untuk Ki Singabureng, Desa Tirtayudan untuk Ki Tirtayuda, serta Desa Secarekan untuk Ki Secareka.


Tidak lama kemudian Raden Panji Kudarawisrengga dipanggil kembali ke Jenggala untuk diangkat menjadi raja menggantikan ayahandanya.

Kisah Asal usul Dewi Sekartaji (Galuh Candra Kirana), Putri Kediri


Pada masa dulu di satu tempat Kota Pekalongan hiduplah seseorang putri yang sangatlah cantik jelita bernama Dewi Rara Kuning. Adapun rumahnya masih tetap simpang siur, tak ada yang tahu dengan cara pasti. Dalam meniti kehidupnya Dewi Rara Kuning alami penderitaan yang sangatlah berat, karena dalam umur yang sangatlah muda ia telah jadi janda.

Suaminya wafat dunia sesudah sekian waktu menyelenggarakan pernikahannya. Jadi dari tersebut Dewi Rara Kuning lalu populer dengan sebutan Dewi Lanjar. (Lanjar sebutan untuk seseorang wanita yang bercerai dari suaminya dalam umur yang masih tetap muda serta belum memiliki anak). Mulai sejak ditinggal mati suaminya itu Dewi Lanjar hidupnya sangatlah merana serta senantiasa pikirkan suaminya saja.

Hal yang sekian itu jalan sekian waktu lamanya, namun lama kelamaan Dewi Lanjar pernah memikirkan kembali bahwa bila dilewatkan sekian selalu tidak akan baik mengakibatkan. Jadi dari tersebut ia lalu mengambil keputusan untuk pergi meninggalkan kampung halamannya, merantau sembari menangis hatinya yang tengah dilanda kesedihan.

Perjalanan Dewi Lanjar hingga disebuah sungai yang bernama kali Opak. Ditempat ini ia bersua Raja Mataram berbarengan Mahapatih Singaranu yang tengah bertapa mengapung diatas air sungai itu. Dalam pertemuan itu Dewi Lanjar mengungkapkan isi hatinya dan juga menyampaikan tak bersedia untuk menikah lagi.

Panembahan Senopati serta Mahapatih Singoranu untuk mendengar katanya terharu serta terasa iba. Oleh karenanya dinasehatinya supaya bertapa di Pantai Selatan dan juga menghadap pada Ratu Kidul. Sesudah sekian waktu lamanya, mereka berpisahan dan meneruskan perjalanan semasing, Panembahan Senopati beserta patihnya meneruskan bertapa menyusuri kali Opak sedang Dewi Lanjar pergi kearah Pantai Selatan untuk menjumpai Ratu Kidul.

Dewi Lanjar setelah tiba di Pantai Selatan mencari tempat yang baik untuk bertapa. Lantaran ketekunan serta kepercayaan bakal saran dari Raja Mataram itu pada akhirnya Dewi Lanjar bisa moksa (hilang) serta bisa bersua dengan Ratu Kidul. Dalam pertemuan itu Dewi Lanjar memohon agar bisa jadi anak buahnya, serta Ratu Kidul tidak ada keberatan.

Disuatu hari Dewi Lanjar berbarengan jin – jin diperintahkan untuk mengganggu serta menghindar Raden Bahurekso yang tengah buka rimba Gambiran (saat ini letaknya di sekitar jembatan anim Pekalongan serta desa Sorogenen tempat Raden Bahurekso bikin api) namun lantaran kesaktian Raden Bahurekso, yang didapat dari bertapa Ngalong (seperti Kalong/Kelelawar), seluruhnya godaan Dewi Lanjar serta jin – jin bisa ditaklukkan bahkan juga tunduk pada Raden Bahurekso.

Lantaran Dewi Lanjar gagal menunaikan pekerjaan jadi ia mengambil keputusan tak kembali ke Pantai Selatan, namun lalu memohon ijin pada Raden Bahurekso agar bisa bertempat tinggal di Pekalongan. Oleh Raden Bahurekso di setujui bahkan juga juga oleh Ratu Kidul. Dewi Lanjar diperbolehkan tinggal dipantai utara Jawa Tengah terlebih di Pekalongan.

Konon letak keraton Dewi Lanjar terdapat dipantai Pekalongan disamping sungai Slamaran. Tempat wisata SLAMARAN INDAH adalah Daerah pesisir yang memberi rasa sejuk serta nyaman. Terdapat disamping timur Pantai Pasir Kencana dibatasi oleh muara Pelabuhan Perikanan Nusantara Pekalongan.

Kisah asal usul Dewi Lanjar yang melegenda

Dewi Kilisuci Putri Kediri

Pada zaman Kerajaan Kahuripan atau yang lebih dikenal dengan Kerajaan KEDIRI, Prabu Airlangga memiliki seorang putri bernama Dyah Ayu Puspasari atau dikenal juga Dewi Kilisuci, Layaknya seorang putri zaman dahulu, Dewi Kilisuci sangatlah cantik dan berbudi pekerti halus. Dia sangat mencintai rakyatnya dan begitu pula sebaliknya. Tokoh Dewi Kili Suci dalam Cerita Panji dikisahkan juga sebagai sosok agung yang sangat dihormati.

Ia sering membantu kesulitan pasangan Panji Inu Kertapati dan Galuh Candrakirana, keponakannya. Suatu hari Mahasesura atau biasa disebut Lembu Suro, seorang adipati dari kerajaan tetangga datang untuk melamarnya. Lembu Suro adalah seorang yang sakti mandraguna. Kepalanya berbentuk Kerbau sedangkan badannya ke bawah berbentuk manusia.

Dewi Kilisuci sangat sedih mendapat lamaran Lembu Suro. Namun apadaya, kekuatannya dan ayahandanya tidak kuasa untuk menolak keinginan Lembu Suro dan kerajaannya.

Ketika tenaga nya sudah tidak bisa diandalkan, maka otaklah yang berkerja. Dewi Kilisuci membuat permintaan kepada Lembu Suro atau istilahnya syarat untukLembu Suro kalau tetap ingin mendapatkannya. Dewi Kilisuci ingin dibuatkan sumur raksasa dalam waktu 1 hari. Maka berangkatlah Lembu Suro untuk membuatnya.

Sumur raksasa pun tercipta berkat kesaktian Lembu Suro. Namun sayang, Lembu Suro jatuh ke dalam sumur itu karena dijebak Dewi KiliSuci. Para prajurit Kadiri atas perintah Dewi KiliSuci menimbun sumur itu dengan batu-batuan, Timbunan batu begitu banyak sampai menggunung, dan terciptalah Gunung Kelud. Oleh sebab itu, apabila Gunung Kelud meletus, daerah Kediri selalu menjadi korban, sebagai wujud kemarahan arwah Lembu Suro.

"wong Kediri mbesuk bakal pethuk piwalesku sing makaping kaping yoiku. Kediri bakal dadi kali, Blitar dadi latar, Tulungagung bakal dadi Kedung".
 ("orang Kediri besok akan mendapatkan balasanku yang sangat besar. Kediri bakal jadi sungai, Blitar akan jadi daratan dan Tulungagung menjadi danau,” )
demikian kutukannya.


Gunung Kelud dan Lembu Suro


Ada kisah lain yg menceritakan juga bahwa arwah Lembu Suro pun akhirnya tahu kalau dia di jebak. Dia pun marah besar. Dia menyumpahi Dewi Kilisuci dan rakyatnya, kalau tidak ingin sumur ini meledak (maksudnya : gunung Kelud ini meletus), maka Dewi Kilisuci dan keturunannya, harus melemparkan tujuh Intanke dasar sumur atau kawah.

Namun yg dilakukan Dewi Kilisuci selain itu adalah dia melakukan sebuah pertapaan di sebuah goa yang sekarang dinamakan Goa Selomangleng sebuah bukit di kaki gunung Klothok. Demi menyelamatkan rakyatnya dari amukan arwah Lembu Suro, bahkan dia rela untuk tidak menikah demi menyelamatkan rakyatnya dari marabahaya. Dan hingga akhir hayatnya dia bertapa di Goa itu demi rakyat.

Terlepas dari cerita itu benar atau tidak, namun masyarakat Kediri dan Blitar sangat memegang teguh legenda rakyat ini. Masyarakat dua kota itu tetap melaksanakan tebar 7 intan ke dasar kawah untuk menghindari bencana. Bahkan untuk menjalankan ritual ini, bupati Kediri dan Blitar, sebagai pewaris kerajaanDewi Kilisuci, datang sendiri untuk menjalankan ritual. Mereka tidak mau ambil resiko dengan keselamatan seluruh penduduk Kediri dan Blitar.

Begitulah sekilas tentang sejarah seorang Dewi Kilisuci. Seorang Putri Raja Kediri yang arif dan bijaksana, mencintai rakyatnya, menolong mreka dari mara bahaya. Hidupnya adalah untuk rakyat. Bahkan dia mengorbankan kebahagiaannya demi rakyat. Kisah inspiratif inilah yang menjadi sejarah Kediri dan sejarah seorang Putri yang juga ingin menyelamatkan rakyat Kediri dari mara bahaya. Dengan jalan mulia ini akan menyelamatkan Kediri dari keterpurukan, kemiskinan, kebodohan dan sebagainya. Untuk mewujudkan keseimbangan di masyarakat Kediri.


Demikian kurang lebih Penjelasan tentang Dewi Kilisuci dengan Lembu Suro, yang telah menjadikan Gunung Kelud sebagai Ancaman bagi Warga Kediri Sampai Sekarang.

Kisah Asal usul Dewi Kilisuci dengan Lembu Suro, penguasa Gunung Kelud

Kerajaan Kediri adalah kerajaan tertua di Indonesia yang menyimpan banyak kisah dan misteri di dalamnya. Bagi warga Kediri sosok Dewi sekartaji atau putri kediri adalah simbol dari kekuasaan dan misteri di masa lampau yang jauh sebelum lahirnya raja raja kerajaan di Nusantara. Tentang  Dewi Sekartaji dan Sejarahnya di Masa Lampau ada sejak zaman keemasanKerajaan Jenggala - Kediri. 


Dikala masa Kerajaan Jenggala - Kediri saat di perintah oleh pemerintahanPrabu Lembu Amiluhur tersebutlahRaden Panji Inu Kertapati. Ia adalah pangeran Yang cukup dikenal dengan baik oleh banyak masyarakat kala itu karena kebaikan luhur budi nya, tanpan dan sakti mandraguna. Beliau Prabu Lembu Amiluhur adalah putra mahkota dari kerajaan Jenggala - Kediri

Ramalan dan Kepercayaan Kuno 

Raden Panji memiliki istri yang amat sangat dan teramat sangat cantik dan halus bahasanya beliau adalah Dewi Sekartaji atau Dewi Candra Kiranaatau Putri Kediri . Pujangga kerajaan pernah meramalkan tentang kerajaan kerajaan nusantara , bahwasanya kerajaan nusantara akan lahir raja raja besar dari pasangan Raden Panji dan Dewi Sekartaji .

Akan tetapi ini bukan hal mudah , pasalnya untuk dapat menjadikan kenyataan ramalan tersebut Raden Panji dan Dewi Sekartaji harus melewati hal hal sulit dengan mendekatkan lebih dekat kepada sang penciptanya dengan memperbanyak itikaf .

Kisah Mengharukan Raden Panji dan Dewi Sekartaji

Dewi Sekartaji bersama Raden Panji Putera dari Kerajaan Jenggala adalah pasangan serasi. Suatu ketika sang Dewi Sekartaji mengandung dan di tengah kandungannya itu sang Dewi mempunyai keinginan sebagaimana umumnya tanda tanda wanita mengandung. 

Apa yang kamu inginkan saat ini wahai istriku ? tanya sang suami.
Aku menginginkan  makan daging menjangan putih, " pinda Dewi Sekartaji". Permintaan itu terdorong selera yang sangat menggoda pada saat mengidam. Betapapun menjangan putih itu sangat sulit di temukan , namun Raden Panji tetap menyanggupinya.

Hutan Larangan dan Mistiknya

Pada suatu hari Raden Panji disertai isterinya berburu ke hutan. Mereka tiba di hutan Larangan. Hutan Larangan kala itu dikenal sebagai hutan terlarang karena angker dan mistiknya. Memasuki hutan sebagaimana mestinya sunyi senyap tanpa ada orang selain mereka " Dewi Sekartaji dan Raden Panji ".

mereka " Dewi Sekartaji dan Raden Panji " berburu dari pagi hingga petang tidak mendapati menjangan putih yang di idam-idamkan. Malam mulai menyelimuti hutan Larangan. Sebaiknya kita beristirahat disini , " ujar Dewi Sekartaji kepada Raden Panji ". Mereka " Dewi Sekartaji dan Raden Panji " segera mendirikan kemah. Sebelum tidur pasangan ini bermesrahan layaknya pengantin yang sedang berbulan madu.

Nampaknya di tengah kemesrahannya itu mereka sedang di awasi oleh dedemit hutan Larangan. Tersebutlah Kalakunti , " Dia harus menjadi suamiku "  ucap Kalakunti yang geram saat melihat sepasang sejoli itu bermesrahan. Kalakunti adalah kuntilanak ganas yang mendiami hutan Larangan itu. Kalakunti menginginkan Raden Panji untuk menjadi suaminya.


Untuk mewujudkan tujuan itu Kalakunti mencari cara untuk dapat menggoda dan menjerumuskan keduanya di dalam kebingungan yang nyata. Saat matahari telah terbit terdapat babi hutan yang menjelma menjadi menjangan putih sedang mengendap ngendap di sekeliling Kemah dari Raden Panji dan Dewi Sekartaji. Tidak ingin membangunkan Sang Istri yang sedang tertidur dengan lelap. 

Dengan segera Raden Panji memburunya sampai akhirnya berpisah jauh dengan istrinya. Dalam hati Raden Panji , " Aku harus sesegera mungkin mendapatkan menjangan putih ini ". Tetapi Raden panji gelisah karena semakin jauh dengan sang istri sedang menjangan putih berlari menjauhi perkemahannya. Kalakunti tertawa kegirangan karena daya dan upayanya berhasil. 

Tiba tiba Istrinya berada di belakang Raden Panji. Suami yang melihat istrinya datang dengan senang hati berkata , " syukurlah kamu dapat mengikutiku hingga kesini ". Padahal itu adalah kalakunti yang sedang menjelma menjadi Dewi Sekartaji Palsu. Ayo kejar terus menjangan putih itu kanda," pinta sang Dewi Sekartaji palsu,". Raden Panji akhirnya dapat memburu menjangan putih itu dan membidiknya dengan tepat. Dengan hati yang berbunga bunga Raden Panji memberikan daging menjangan putih itu kepada Dewi Sekartaji palsu.

Dengan lahap Dewi Sekartaji palsu melahapnya daging panggang menjangan putih itu. Setelah itu mereka kembali ke Istana bersama Dewi Sekartaji Palsu. Sedang Dewi Sekartaji Asli terperangkap di hutan bersama dedemit Hutan Larangan ," Kalawarok ". Hingga dalam waktu yang lama Kalakunti (Dewi Sekartaji Palsu)  mengutarakan kepada suaminya bahwa kandungannya sudah semakin besar.

Dewi Sekartaji palsu sudah saatnya melahirkan. Betapa gembiranya Raden Panji menyambut kelahiran anaknya itu. Namun ketika bayi itu lahir, istana kerajaan gempar. Sebab bayi laki- laki yang dilahirkan berbentuk aneh. Badannya besar bagaikan bayi raksasa. 


Kulitnya hitam legam. Giginya tumbuh bagai gergaji. Pada kedua sudut bibirnya menonjol taring yang runcing. “ Kuberi nama Pangeran Muda,” tutur Raden Panji menamai puteranya. Semakin bertambah umur, Pangeran Muda semakin mengerian. Tabiatnya pun sangat keras. Ia sering mengamuk.

Raden Panji sangat malu melihat puteranya bertabiat buruk. Ia bermaksud mengurung puteranya itu di salah satu ruang. “ Anak kita jangan dikekang apalagi dkurung. Berilah kebebasan sepuas-puasnya,” kata Sekartaji palsu menahan keinginan suaminya. Raden Panji tidak bisa membantah. Ia menuruti kemauan istrinya. 


Pada suatu hari ia mendatangi sebuah pasar desa. “ Hem, daging mentah ini sangat lezat. Baik akan kusantap semua,”kata Pangeran Muda. Para pemilik daging itu berusaha menghalang-halangi Pangeran Muda mengambil daging mentah yang akan dimakan. Melihat keadaan itu Pangeran Muda mengamuk. Ia merusak apa saja yang ditemuinya. Orang- orang berlarian menghindari serangan Pangeran Muda. Pangeran Muda mengejar orang- orang itu sampai ke dusun- dusun, tertangkap langsung dipukul dan disiksa. 

Banyak yang menemui ajal. Di tengah- tengah keberingasan Pangeran Muda itu, tiba- tiba tampak sekelebat bayangan seorang pemuda melompat tepat berada dihadapan Pangeran Muda. “ Raksasa biadab ! Sungguh kejam kau! Kedatanganku ingin menghabisi nyawamu !” tantang seorang pemuda.

“Berani benar kau! Awas kusantap hidup- hidup!” ancam Pangeran Muda berwajah garang. Seketika itu pula terjadilah pertarungan seru. Pangeran Muda berkali- kali kena pukulan dari pemuda itu. Dalam keadaan terdesak, Pangeran Muda melarikan diri dan melapor kepada ayahnya., Raden Panji dan istrinya mendapat laporan Pangeran Muda perihal kekalahan melawan seorang pemuda dusun. 


Mereka segera berangkat menuju di mana seorang pemuda itu berada.
“Oh, rupanya raksasa jahat itu putera Tuan,” kata seorang,” kata  pemuda itu sambil menyembah. “ Maafkan hamba, karena hamba telah menyakiti putera Tuan,” tambahnya. “Siapa namamu ? “tanya Raden Panji.


“Nama hamba Jaka Putera. Ibu hamba bernama Dewi Sekartaji,” jawab pemuda itu. Ibu hamba mengatakan bahwa ayah hamba bernama Raden Panji putera Raja Janggala,” lanjutnya. Betapa terkejutnya hati Raden Panji mendengar pengakuan Jaka Putera. 


Dewi Sekartaji palsu tampak gelisah dan segera mendesak suaminya agar segera menangkap Jaka Putera untuk dijebloskan ke dalam penjara. Namun, Raden Panji tidak mengikuti kemauan Dewi Sekartaji palsu itu.

Dewi Sekartaji palsu langsung menyerang Jaka Putera. Jaka Putera  langsung melemparkan pukulan maut tepat mengenai dada Dewi Sekartaji palsu. Seketika itu juga tubuh Dewi Sekartaji palsu terbakar, bentuk dan rupa dirinya berubah menjadi Kalakunti, lantas badannya kejang dan segera menghembuskan nafasnya yang terakhir. 


Pangeran Muda melihat ibunya tewas, langsung melompat hendak mencengkram kepala Jaka Putera. Namun Pangeran Muda terkena tendangan maut Jaka Putera, seketika itu juga tubuh Pangeran Muda gosong, ia tewas mengenaskan. Setelah Jaka Putera berhasil mengalahkan kedua makhluk itu, ia langsung menyembah Raden Panji.

“ Maafkan, Ayah. Ayahanda telah menjadi korban iblis betina yang bernama Ni Kalakunti yang telah menjelma menjadi ibunda,” ungkap Jaka Putera. Raden Panji mengakui Jaka Putera sebagai anak kandungnya. Ia pun ingin bertemu dengan ibu kandung Jaka Putera.

Pertemuan Raden Panji dengan Dewi Sekartaji sangat mengharukan. Mereka melepas rindu sambil meneteskan air mata dengan tak henti- hentinya. Dewi Sekartaji menjelaskan apa yang telah dialami di hutan. Demikian pula Raden Panji mengungkapkan pengalamnnya selama berpisah dengan istri yang dicintainya. Mereka bangga karena telah mempunyai anak yang membela kebenaran.


“ Dinda, kita harus segera kembali ke istana,” ajak Raden Panji kepada istrinya. Mereka bertiga tiba di istana dan disambut penuh dengan sukacita  oleh kedua orang tuanya. Akhirnya Raden Panji dan Dewi Sekartaji dapat membangun keluarga bahagia dan sejahtera.

Sejarah Legenda Dewi Sekartaji, Putri Kediri