Social Items

Showing posts with label kesaktian Krisna. Show all posts
Showing posts with label kesaktian Krisna. Show all posts
Ini masih ada hubungannya dengan kisah permusuhan garuda dan para naga. Ibu para garuda adalah dewi winata dan ibu para naga adalah dewi kadru. Mereka berdua adalah putri prajapati daksha,saudara dewi sati.


Dalam film diperlihatkan jika Garuda bertempur dengan Naga vasuki. vasuki meminta perlindungan Dewa Syiwa dan Garuda meminta perlindungan kepada Dewa Vishnu. (Mungkin msh ingat saat krishna kecil menari di kepala naga kaliya yg saat itu telah menyadari kesalahannya, itu bertujuan untuk melindungi kaliya dari Garuda dengan meninggalkan jejak kakinya di kepala kaliya).

dalam Harivamsha Purana menceritakan bagaimana rudra membuang sifat jahat dan menjadi baik hati, Dewa Siwa. juga mengenai rahasia dari Srivatsa tanda pada dada Dewa Wisnu, dan mengapa Dewa Siwa kemudian dikenal sebagai Shithikantha.

Menurut teks, ada pertempuran besar antara para naga dan Garuda, di mana Dewa Wisnu telah mendukung Garuda. raja naga Vasuki, mencari perlindungan Rudra. Selama pertempuran utama, Vasuki dikalahkan oleh Garuda dan ia memanggil Rudra untuk perlindungan. Rudra menegur Garuda dan dan brkata bahwa garuda tidak adil terhadap para Naga.

Dewa Wisnu menantang Rudra untuk brtempur, Rudra menerima tantangan itu. Dewa Wisnu mencekik dewa Rudra untuk mengalahkan dia, tapi ini membangkitkan kemarahan Rudra. Dia menikam Dewa Wisnu dengan trisula dan membuat tiga lubang di dadanya. namun akhirnya Rudra melihat dewa wisnu dengan penuh kasih sayang dan ia melepaskan energi kemarahannya (rudra) menjadi "Shiva",

Dewa Siwa memiliki tanda-tanda jari Dewa Wisnu dan kemudian dikenal sebagai Shithikantha. Bekas luka yang ditinggalkan oleh trisula Dewa Siwa di dada Wisnu kemudian dikenal sebagai Srivatsa. Juga, dewa Shiva menerima naga Vasuki dan ia mnjadi ular di leher shiwa. Tidak ada yg menang maupun kala karena brahma, wisnu dan shiwa adalah TUNGGAL

prtarungan ini bkn brdsarkan kebencian atau permusuhan, namun dgn tujuan utk menunjukkan kepada bhakta mereka bahwa tuhan akan selalu melindungi mereka jika mereka berdoa dgn tulus. Pertarungan ini jg bertujuan utk menghentikan aspek kemarahan dewa shiwa.

kisah mahadewa harus dipahami bkn hanya dilihat dan dinilai sepihak sebab banyak filosofi yg ada di dlmnya dan perlu pikiran yg trbuka utk memahaminya.

kisah mahadewa masuk k dalam purana di dlm pustaka suci weda. Jadi setiap karakter sangat disucikan.

Kisah Pertempuran Dewa Siwa (Mahadewa) vs Wisnu (Krisna) Dalam kepercayaan Hindu

Tugas pengangkatan Prabu Salya sebagai Senapati perang telah selesai. Prabu Salya mohon ijin pada Raja Astina, untuk pulang ke Mandaraka, guna berpamitan kepada istri.


Sesampai di Istana Mandaraka, Prabu Salya merenungi perjalanan hidupnya dimasa lalu. Masa remaja Prabu Salya, yang waktu itu bernama Narasoma, adalah satriya berwajah tampan dan juga sakti. Narasoma berpamitan kepada ayahnya, Prabu Mandrapati, untuk mengikuti Sayembara memperebutkan Dewi Kunti puteri Prabu Basukunti, Raja Mandura.

Ayahnya merestui dan berangkatlah Narasoma ke Mandura.  Adiknya yang bernama Dewi Madrim, juga mengikuti kepergiannya.

Setelah beberapa lama perjalanan, tiba tiba saja ada angin besar yang menarik  tubuh Narasoma. Narasoma terbuncang angin dan jatuh  di depan sebuah pertapaan. Pertapaan Argabelah. Pertapaan Argabelah adalah sebuah Istana raja.

Semua adalah Kerajaan Argabelah, yang rajanya bernama Prabu Bagaspati. Karena Prabu Bagaspati merasa banyak salah dan dosa, maka kerajaannya dirobah menjadi pertapaan. Masih nampak bekas bangunan Istana yang sebagaian besar sudah rusak tidak terpelihara.

Begawan Bagaspati mencegat perjalanan Narasoma. Diajaknya Narasoma menuju pertapaannya. Ia pun berjalan kesana bersama Begawan Bagaspati. Sesampai di Pertapaan Argabelah,Narasoma diperkenalkan dengan anaknya, seorang puteri yang cantik jelita, bernama Dewi Pujawati.

Narasoma melihat Dewi Pujawati langsung jatuh cinta Tetapi didalam hati Narasoma malu memiliki calon mertua seorang raksasa.Disuatu saat keduanya sedang bercengkerama di taman Argabelah, Narasoma berkata, bahwa ia mencintai Dewi Pujawati, namun untuk memetik sekuntum mawar merah, Narasoma takut terkena durinya.Dewi Pujawati tidak mengerti apa maksud perkataan calon suaminya,

Pujawati mendapatkan ayahnya dan bertanya apa arti perkataan calon suaminya. Begawan Bagaspati, memaklumi apa yang diinginkan oleh Narasoma. Disuruhnya Pujawati memanggilkan Narasoma agar datang menghadap dirinya. Narasoma pun datang menghadap.

Begawan Bagaspati, memberitahu kepada Narasoma bahwa Bega wan Bagaspati akan menurunkan Ajian Candrabirawa kepada Narasoma.Dewi Pujawati oleh ayahnya, diminta  agar menjauh dari tempat itu, Karena Begawan Bagaspati akan   menurunkan Aji Candrabirawa pada Narasoma.

Setelah Narasoma menyiapkan diri nya untuk menerima Aji Candrabirawa,  keluarlah dari  tubuh Begawan Bagaspati  seorang raksasa besar sekali, dan berjalan mendekati Narasoma Melihat itu Narasoma menjadi ketakutan.Sang Begawan meminta Narasoma agar tenang.

Raksasa itu memasuki tubuh Narasoma, Setelah menerima Aji Candrabirawa Narasoma merasa bangga.Narasoma sekarang sudah memiliki Aji Candra birawa, yang kekuatannya melebihi kekuatan 1000 raksasa, suatu ajian yang amat dahsyat.

Tetapi Narasoma belum puas kalau hanya menerima  Aji Candrabirawa saja. Narasoma masih menginginkan sebuah permintaan lagi, yaitu ingin melenyapkan Begawan Bagaspati. Karena malu mempunyai seorang mertua yang berujud raksasa. Begawan Bagaspati berserah diri, ia membuka dadanya, agar Narasoma segera membunuhnya. Tetapi keris Narasoma tidak bisa melukai dada Begawan Bagaspati. Begawan Bagaspati berpesan kepada Narasoma, bahwa sebelum ia  mati,

Narasoma akan tetap  menyayangi  Pujawati. Karena Pujawati adalah anak satu satunya  yang ia miliki dan yang paling dicintainya.Meminta Narasoma jangan sampai menyia nyiakannya dan memberikan  perlindungan kepada Pujawati.Demi cinta pada Pujawati, Begawan Bagaspati merelakan kematiannya.

Begawan Bagaspati menyerahkan pedang pusaka kepada Narasoma, dan minta agar segera ditikamkan kedadanya. Narasoma menerima pedang itu dan ditikamnya Begawan Bagaspati. Tiba tiba tubuh Bagawan Bagaspati hilang dari pandangan, tetapi kemudian  terdengar suara Begawan Bagaspati, bahwa  apabila nanti ada perang besar, saat itulah Narasoma akan menemui kematiannya.

Seorang  berdarah putih, itulah yang sanggup mengantar kematian Narasoma. Setelah itu keadaan menjadi hening. Dewi Pujawati menyaksikan ayahnya dibunuh oleh Narasoma, namun Dewi Pujawati tetap mencintai suminya.

Narasoma, kemudian berpamitan kepada Dewi Pujawati, untuk mengikuti Sayembara memperebutkan dewi Kunti ke negeri Mandura.  Dikatakan  oleh Narasoma bahwa sejak keberangkatan dari Mandaraka, ia akan ke Manmdura, mengikuti Sayembara tersebut.Naun tidak tahu apa sebabnya, Narasoma kesasar masuk dalam Pertapaam Argabelah. Dewi Pujawati tidak keberatan, dipersilakannya suaminya untuk mengikuti Sayembara tersebut.

Sesampai di Mandura, sayembara baru usai. Pemenang sayembara adalah Pandu. Melihat Pandu yang menang, maka Narasoma meminta agar Pandu mau melayani tantangannya untuk meminta Dewi Kunti. Karena apabila Narasoma ikut dalam Sayembara, maka pastilah yang akan memenangkannya. Pandu tidak keberatan, Pandu meladeninya.

Terjadi perkelahian yang hebat. Narasoma mengeluarkan aji Candrabirawa. Melihat aji Candrabirawa, maka Pandu bersemadi memohon pertolongan dewa. agar selamat dalam melawan aji yang luar biasa. Satu raksasa, kalau di pukul menjdi ratusan raksasa. Dewa memberikan perlindungan. Ajian Cabnsdrawirawa bisa disirep. Narasolma merasa kalah. Narasoma simpati pada Pandu.

Narasoma menawarkan kepada Madrim, adiknya, apakah bersedia menjadi istri Pandu. Dewi Madrim sangat terpesona ketampanan Pandu, maka dengan senang hati ia mau menjadi istrinya. Maka diserahkannya adiknya,Dewi Madrim kepada Pandu. Narasoma berpaminta kepada adiknya pergi ke Argabelah, hendak memboyong Dewi Pujawati kembali ke Kerajaan Mandaraka. Karena kesetiaan Dewi Pujawati pada Narasoma, maka Narasoma memberi nama Setyawati pada Dewi Pujawati.

Setelah beberapa hari kemudian, mereka berdua boyongan kembali Ke Negeri Mandaraka. Kehadiran mereka disambut gembira oleh ayahandanya, Prabu Mandrapati. Narasoma dan Dewi Setyawati hidup berbahagia. Prabu Mandrapati menyerahkan kekuasaannya pada Narasoma.

Narasoma diangkat menjadi raja di Mandaraka dan bergelar Prabu Salya, Prabu Salyapati. Dari perkawinan Narasoma dan Dewi Setyawati, lahirlah putera puterinya Dewi Irawati, Dewi Surtikanti, Dewi Banowati, Burisrawa  dan Rukmarata. Dewi Irawati yang diperistri Prabu Baladewa, Dewi Surtikanti diperistri Adipati Karna, sedangkan Banowati adalah istri Prabu Suyudana.

Kini sudah terjadi perang besar, orang yang berdarah putih semula  ada tiga orang, Resi Subali, Begawan Bagaspati dan Puntadewa. Resi Subali dan Begawan Bagaspati sudah tiada, Sekarang hanya tinggal satu satunya,yaitu Puntadewa. Prabu Salya khawatir kalau sampai tidak bertemu dengan orang berdarah putih, apakah  dia tidak bisa mati. Bisa jadi umurnya seumur dunia.  Untuk itu Prabu Salya sudah siap mati. Prabu Salya juga lebih sayang dengan Pandawa.  Prabu Salya sudah bertekad mati untuk Pandawa.

Sementara itu Nakula dan Sadewa datang menghadap. Prabu Salya sangat bahagia melihat kedatangan kedua kemenakannya,  Kembar  menyangsikan keselamatan Prabu Salya dalam  perang Baratayu dha. Kembar menghendaki agar Prabu Salya tidak berperang. Prabu Salya, menjadi terharu merangkul Nakula dan Sadewa.

Prabu Salya menangisi nasib keluarga Mandaraka mengapa jadi terseret perang besar Barata Yudha. Akhirnya Prabu Salya berjanji tidak akan  membunuh siapapun dalam  Perang Barata Yudha besok pagi. Nakula dan Sadewa berpamitan, dan pulang ke perkemahan Pandawa, Prabu Salya masuk dalam sanggar pamujan. Selesai berdoa di sanggar pamujan,

Prabu Salya menghampiri istrinya di Keputrean Istana Mandaraka. Mereka berdua merasakan kasih sayang mendalam yang tak bisa terpisahkan. Didalam kesempatan ini, Prabu Salya meminta pamit mati. Ia tidak berperang, ia menjemput kematian, karena sudah  menjadi ketetapan Dewa , seperti apa yang dikatakan Rama Begawan Bagaspati, saat kematian Prabu Salya adalah dalam Perang Barata Yudha, Kematian itu akan diperoleh dari seorang satria suci berdarah putih yaitu Prabu Puntadewa (Yudistira).

Kesempatan itu adalah kesempatan baik, untuk ke surga bersama Begawan Bagaspati. Dewi Pujawati menyembunyikan kesedihannya. Ia selalu menghibur suaminya. Dimintanya  agar Prabu Salya hati hati dalam berperang, dan mengharap agar Prabu Salya  bisa kembali dengan selamat.

Keesokan harinya, di Tegal Kurusetra, sangkala telah dibunyikan, perajurit bersiap-siap utuk maju kemedan laga. Prabu Salya  berbaju putih-putih memasuki  Tegal Kurusetra dengan kereta perangnya.  Sedangkan Prajurit Kurawa yang mengikuti dibelakang kereta perang Prabu Salya menjadi bagian perajurit Pandawa untuk menggempurnya.

Pertempuran sengit antara perajurit terjadi. Sementara itu Kereta Perang Prabu Punta Dewa dengan sais Bathara Kresna memasuki medan perang dari garis pertahanan Pandawa. Disinilah kereta perang Prabu Salya dan kereta perang Prabu Puntadewa bertemu.

Prabu Puntadewa dan Prabu Salya langsung turun dari kereta masing-masing, Prabu Punta Dewa  mencium kaki Prabu Salya.  Prabu Salya jadi tersipu-sipu. Prabu Punta Dewa menghaturkan salam hormat dari keluarga Pandawa dan setelah itu Yudistira langsung membunuh Raja Salya.

Sejarah Kesaktian Raja Salya(Narasoma) dalam Perang Baratayudha

Kangsa sesungguhnya bukanlah putra kandung Ugrasena. Dalam Bhagawata Purana dikisahkan, ada seorang raksasa yang terbang di atas kota Mathura dan terpesona melihat Padmawati, istri Ugrasena.


Raksasa itu kemudian menjelma menjadi Ugrasena dan bersetubuh dengan Padmawati. Dari hubungan itu lahirlah Kangsa. Kitab Padmapurana menyebutkan bahwa Gobila, teman dewa Kuwera terpesona dengan Padmawati saat sang putri berada di Widarbha.

Gobila menyamar menjadi Ugrasena, lalu merayu Padmawati. Mereka tinggal di Widarbha selama beberapa tahun. Saat Padmawati hamil, Gobila mengakui hal yang sebenarnya karena didesak Padmawati.

Akhirnya ia meninggalkan Padmawati, sementara Padmawati kembali ke Mathura. Tidak ada seorang pun yang mengetahui kenyataan ini, termasuk Kangsa sendiri.

VERSI LAIN

Pada waktu Raja Darmaji berusaha mencari mahkota Bathara Rama, lalu pergi ke kerajaan Dwarawati. Ketika raja Darmaji datang, raja Dwarawati, Ditya Kresna sedang dihadap oleh Patih Muksamuka, Murkabumi, Muksala, Karungkala dan Gelapsara. Ditya Kresna menyapa dan bertanya maksud kedatangan Darmaji. Raja Darmaji meminta mahkota Bathara Rama yang dipakai Ditya Kresna. Namun Ditya Kresna tidak mau memberikannya, maka terjadilah perkelahian. Raja Darmaji mati karena digigit, dan putus perutnya.

Padmawati, isteri pertama Basudewa, cemburu akibat kehadiran Ugraini dan Badraini. Ia berusaha membunuh mereka namun gagal. Pada suatu malam Padmawati bertemu dengan raja Gorawangsa yang menyamar sebagai raja Basudewa. Padmwati tidak mengira bahwa yang dijumpainya adalah Basudewa palsu.

Namun padmawati menyambut dengan senang hati. Pertemuan padmawati dengan Basudewa palsu berkepanjangan, akhirnya Angsawati (padmawati) hamil.

Raja Basudewa sungguhan tidak mengetahui hal itu. Ia tidak mengerti bahwa isterinya hamil karena Gorawangsa. Pada bulan ketujuh, raja hendak mengadakan selamatan. Sang raja dan para pegawai istana hendak berburu ke hutan. Basusena bertugas menunggu kerajaan.

Pada suatu malam Basusena berkeliling di istana. Waktu tiba di tempat tinggal Angsawati ia mendengar suara tamu pria di kamar. Setelah dilihat, nampak bahwa pria dalam kamar itu adalah Basudewa. Setelah Basusena lama memandang, Basudewa nampak seperti raksasa. Basudewa palsu diserang, terjadilah perkelahian. Basusena mengenakan senjata, lalu Basudewa palsu berubah menjadi Gorawangsa. Raksasa Gorawangsa lari kembali ke negara Jadingkik.

Basusena kembali ke hutan, melapor peristiwa yang terjadi di istana. Dikatakannya, Angsawati berbuat serong dengan raksasa. Raja Basudewa marah, Basusena disuruh membawa Angsawati ke hutan, untuk kemudian membunuh dan mengambil hatinya. Bila hati Angsawati berbau busuk berarti bayi dalam kandungan bukan anaknya, sedangkan bila berbau harum berarti bayi itu anak Basudewa.

Basusena menjalankan perintah raja Basudewa. Angsawati dibawa ke tengah hutan dan dibunuhnya. Hatinya diambil, dan setelah dicium ternyata berbau busuk. Basusena membawa hati itu kepada sang raja. Karena hati tersebut berbau busuk, raja percaya bahwa bayi dalam kandungan bukanlah anaknya.

Bathara Wisnu, Dewi Sri dan Bathara Basuki mengelilingi dunia guna mencari titisan raja Watugunung. Diketahuinya, raja Gorawangsa adalah titisan raja Watugunung. Maka Bathara Wisnu meminta Bathara Basuki agar menitis kepada raja Basudewa, untuk mengalahkan raja Gorawangsa.

Bathara Wisnu kembali ke kahyangan. Kepada Bathara Guru, ia minta ijin untuk menitis ke dunia, untuk membunuh titisan raja Watugunung. Bathara Guru memberi ijin, dan memberi tugas kepada Bathara Wisnu untuk mengadu ayah melawan anak, mengadu sesama saudara. Namun Bathara Wisnu tidak boleh ikut berperang, hanya diperkenankan terlibat dalam pembicaraan.

Bathara Wisnu menerima tugas tersebut tetapi mengajukan permintaan. Permintaan itu ialah bagi mereka yang bermusuhan supaya diperkenankan naik ke surga, supaya dirinya diperkenankan duduk di dua belah pihak, dan supaya disertai Bathara Basuki untuk bersama menitis ke dunia. Bathara Guru mengabulkan permintaan tersebut, lalu menyuruh Bathara Narada agar keberanian Wisnu dijelmakan kepada Arjuna. Sedang Bathara Wisnu diminta menjelma menjadi putra Basudewa.

Bathara Wisnu turun ke dunia bersama Dewi Sri. Senjata Cakranya dititipkan kepada awan yang dijaga dua dewa. Bathara Wisnu berpesan, bahwa senjata itu hanya boleh diambil Narayana. Selain Nayarana, tidak seorang pun berhak mengambilnya.

Raja Basudewa telah mempunyai putra. Ugraini telah melahirkan anak laki-laki berkulit putih, titisan Bathara Basuki. Anak itu diberi nama Kakrasana. Bathara Wisnu dan Dewi Sri merasuk ke jiwa raja Basudewa. Saat mereka merasuk, Basudewa bermimpi melihat matahari dan bulan. Matahari dan bulan itu kemudian bersatu.

Anak padmawati yang dibawa raja Gorawangsa diberi nama Kangsa. Setelah dewasa Kangsa menanyakan, siapa ibunya. Gorawangsa menjelaskan bahwa ibunya bernama padmawati, isteri Basudewa raja Mathura. Tetapi ibunya telah meninggal dunia, dibunuh oleh Basusena atas perintah raja Basudewa. Mendengar penjelasan Gorawangsa itu Kangsa ingin membalas kematian ibunya. Gorawangsa berpesan agar Kangsa menemui pamannya yang bernama Arya Prabu, adik Angsawati. Kangsa meninggalkan Jadingkik menuju ke Mathura.

Di Mathura Kangsa menemui Arya Prabu, lalu menyampaikan maksud kedatangannya. Arya Prabu berjanji akan membantunya. Mereka berdua menghadap raja Basudewa yang sedang dihadap Basusena dan warga Mandura.

Kangsa menyampaikan maksud kedatangannya, yakni ia akan membalas kematian ibunya. Terjadilah perkelahian antara Kangsa dengan Basusena. Basusena kalah, lalu melarikan diri. Raja Basudewa dimasukkan ke dalam penjara. Gorawangsa datang bersama pasukan raksasa. Kangsa lalu menduduki tahta kerajaan Mathura.

Basudewa berhasil melarikan diri bersama dengan Badraini yang sedang hamil dan Kakrasana yang masih kanak-kanak. Perjalanan mereka terhalang oleh Bengawan Erdura. Bathara Sakra datang menolong dan menyeberangkan mereka. Basudewa diminta mengungsi ke kademangan Widarakandang. Sang Bathara memberi tahu bahwa kelak Badraini akan melahirkan dua anak.

Di Widara kandhang Badraini melahirkan seorang bayi laki-laki dan dua orang perempuan, yang berkulit hitam. Sesuai pesan Bathara Sakra, Basudewa memberi nama kedua anaknya, Krishna dan Balarama. Sedangkan Badraini memberi nama yang seorang lagi, Subadra. Tiga anak itu diasuh oleh Ki Antagopa dan Ni Sagopi.

SIFAT RAJA KANGSA

Kangsa sangat menyayangi Dewaki seperti adiknya sendiri. Suatu hari Dewaki menikah dengan Basudewa. Saat mengiringi Basudewa dan Dewaki terdengar bisikan gaib bahwa salah satu putra Dewaki akan membunuhnya, karena khawatir dengan nyawanya Kangsa memenjarakan Dewaki dan Basudewa.

MEREBUT TAKHTA KERAJAAN

Setelah dewasa, Kangsa sangat berambisi untuk segera menggantikan Ugrasena sebagai raja di Mathura. Apalagi ia sering dihasut oleh orang kepercayaannya, yang bernama Banasura. Penasihatnya yang lain, yaitu Canur menyarankan agar Kangsa menikahi dua orang puteri Jarasanda raja Kerajaan Magadha, yang juga sahabat Banasura. Nama kedua putri itu adalah Asti dan Prapti.

Kangsa akhirnya berhasil menjadi menantu dan sekutu Jarasanda. Pasukan Magadha yang dikirim Jarasanda untuk mengawal kedua putri digunakan Kamsa untuk memaksa Ugrasena turun dari takhta Mathura. Ugrasena kemudian dijebloskan ke dalam penjara istana.

RAMALAN DARI DEWA

Kangsa memiliki sepupu bernama Dewaki yang dianggapnya sebagai adik kandungnya sendiri. Dewaki menikah dengan Basudewa dan pernikahan mereka dirayakan secara meriah oleh Kangsa. Tiba-tiba terdengar suara dari langit bahwa kelak Kabgsa akan mati di tangan anak Dewaki.

Karena panik, Kangsa pun menjebloskan Basudewa dan Dewaki ke dalam penjara. Setiap kali Dewaki melahirkan, Kangsa langsung membunuh bayinya. Hal ini berlangsung sampai enam kali. Pada kehamilan ketujuh, istri pertama Basudewa yang bernama Rohini datang menjenguk. Secara ajaib, kandungan Dewaki pun berpindah ke dalam rahim Rohini.

Pada kelahiran bayi kedelapan, tiba-tiba datanglah pertolongan dewata. Pintu penjara terbuka dan seluruh penjaga tertidur lelap. Basudewa pun dengan mudah membawa bayinya pergi untuk dititipkan kepada sahabatnya yaitu Nanda. Setelah itu, Basudewa membawa bayi perempuan anak Nandagopa kembali ke penjara.

Esok paginya, Kangsa datang ke penjara untuk membunuh bayi Dewaki yang baru lahir. Ketika melihat bayi tersebut ternyata perempuan, ia pun merasa menang atas ramalan dewata.

KEMATIAN RAJA KANGSA

Bayi yang dilahirkan oleh Rohini dan Dewaki masing-masing tumbuh menjadi pemuda bernama Balarama dan Kresna. Keduanya dibesarkan oleh pasangan Nanda dan Yasoda di lingkungan pedesaan. Kangsa akhirnya mengetahui keberadaan keduanya. Mereka pun diundang ke Mathura untuk menghadiri pesta perayaan.

Ketika keduanya tiba di Mathura, Kangsa mencoba untuk membunuh mereka. Namun ramalan dewata benar-benar menjadi kenyataan. Dalam sebuah perkelahian, justru Kresna yang berhasil membunuh Kangsa.

Sejarah Asal Usul Raja Kangsa (Kamsa), dari lahir sampai Tewas

Basudewa Krisnha adalah Otak strategi para Pandawa yang menang melawan Kurawa, bahkan raja Gandhara (Sengkuni) sebagai otak strategi Kurawa tidak mampu bersaing dengan Basudewa Krishna.


Setelah hukuman pengasingan selama 13 tahun dihutan selesai, Pandawa ngamuk sehingga melayangkan surat kepada Raja Destrarasta dengan isi mengajak perang melawan 100 Kurawa untuk membalaskan dendam akibat kekalahan dadu dengan kelicikan Sangkuni dan tragedi pelucutan baju Drupadi.

Melihat pergerakan Pandawa, Kurawa menjadi ketar-ketir akan kekalahannya soalnya dipihak Pandawa ada Arjuna dengan Panah Brahmastranya dan Gada BIMA yang telah mendapatkan anugerah dari Hanuman. Atas perintah Sangkuni, Duryudana pergi ke Dwaraka untuk mencari bantuan. Tujuan Snagkuni sebenarnya ada dua, yang pertama ingin mengadu domba Krishna dengan kakanya Balarama, dan ingin mendapatkan dukungan dari Balarama.

Duryudana merasa yakin 100% Balarama mendukungnya, karena Duryudana adalah murit kesayangannya dalam adu Gada. Ternyata Balarama dan Krishna mengambil keputusan yang tepat dengan tidak memihak Pandawa dan Kurawa. Balarama berkata kepada Duryudana siapa yang disamping Krishna pihaknya akan menang, karena Krishna adalah Narayana (titisan Dewa Wisnu), dan Krishna berjanji akan memberikan bantuan kepada yang pertama kali meminta bantuan.

Atas perintah istrinya yakni Dewi Subadra, Arjuna pergi ke Dwaraka untuk meminta bantuan Basudewa Krishna. Di Dwaraka Arjuna bertemu dengan putranya Abimanyu dan Istrinya Subadra yang tidak lain adalah adik Krishna dan Balarama. Subadra mengatakan bahwa kakanya akan memberikan bantuan bagi yang meminta duluan. Disaat yang bersamaan Arjuna, dan Duryudana bertemu Krishna namun si Narayana sedang tidur.

Duryudana enggan membangunkan Krishna, dan duduk di atas kursi. Arjuna lantas duduk dibawah tempat tidur Krishna sambil menunggunya bangun. Ketika Krishna bangun, yang dilihat pertama kali adalah Arjuna, dan kemudian Duryudana ada disampingya duduk di kursi. Karena yang muncul pertama kali dihadapannya adalah Arjuna, maka memeprsilahkan Arjuna untuk meminta bantuan terlebih dahulu.

Duryudana marah dan mengatakan "engkau Krishna telah melanggar janjimu seperti apa yanng dikatakan kakakmu Balarama, bahwa yang meninta duluan maka akan dituruti permintaanya". Krishna berdiri lalu tersenyum, mungkin engkau keliru memahami kata-kata kakaku Balarama, maksutku bukan begitu tetapi siapa yang pertama kali mumcul dihadapanku maka beliau harus memilih duluan.

Krishna memberikan dua pilihan, yang pertama Krishna akan memberikan pasukan Narayana yang tanggguh, terlatih, serta menguasai banyak senjata. Pilihan kedua Krishna hanya akan mendampingi pihak yang memintanya karena telah bersumpah bersama kakaknya Balarama untuk tidak mengakat sejata Cakra Baskara dalam perang nanti.


Cakra Baskara adalah senjata terkuat yang pernah ada dan tidak ada yang mampu mengalahkannya kecuali senjata pemberian Dewa, bahkan Dewa juga berhati-hati dengan kekuatan Krishna bersama Cakranya. Dengan pertimbangan bahwa Krishna tidak mengangkat senjatanya maka Duryudana dalam hatinya akan memilih pasukan Narayana.

Krishna mempersilahkan Arjuna untuk memilih duluan, karena Arjuna dekat dengan Krishna dan tau sifatnya sehingga memintanya untuk berada disamping Pandawa. Mendengar pilihan Arjuna, Duryudana merasa kegirangan karena keinginannya untuk mendapatkan tentara Narayana segera terwujut.

Dalam perang di Kurukshetra (Perang Barata Yudha), Krishna menjadi kusir kereta kuda Arjuna. Berkat kecerdikan dan siasat Krishna akhirnya Pandawa berhasil mengalahkan Kurawa dan merebut kembali tahta Hastinapura ke pihak Pandawa.

Sejarah Asal Usul Pasukan Narayana Krishna Berpihak pada Kurawa

Usai perang Bharatayuda, ketika dilangsungkan upacara pembakaran mayat para kurawa yang telah tewas, semua anak menantu Gandari (Ibu para Kurawa) telah menjadi janda dan menangis sedih di hadapan mayat-mayat suami yang telah tewas. Gandari juga ada di tempat itu.


Para Pandawa dengan ditemani oleh Kunti dan Sri Krisna juga hadir di iringi oleh rakyat yang merasa sangat sedih karena kehilangan sanak saudara mereka. krisna menghibur Gandari, dan berkata, "Mengapa Ibunda menangis? Inilah dunia Ibupun pada suatu ketika akan meninggalkan dunia ini. lalu mengapa menangis?'’. Gandari menjawab, "Kalau saja anda tidak merencanakan hal ini maka semua anak-anak-ku akan hidup, tidak terbunuh seperti ini". Krisna menjawab, "Perang untuk menegakan Dharma tidak dapat dicegah. Apa yang dapat kuperbuat, aku hanya suatu alat". Lalu Gandari berkata, "Paduka ini Taraka Brahma. Apabila paduka menghendaki, paduka bisa mengubah pikiran mereka tanpa perlu melakukan pertempuran".
Biarlah seluruh dunia melihat dan menarik pelajaran.

Selanjutnya Gandari mengucapkan sumpah, ‘Seperti halnya anggauta keluargaku mengalami kehancuran dihadapan mataku sendiri demikianlah hendaknya anggauta keluarga paduka mengalami kehancuran dihadapan mata paduka sendiri’

Krisna tersenyum dan menjawab, ‘Semoga demikian’. Krisna menerima sumpah itu. Ia ingin menunjukkan bahwa kekuatan moral itu mempunyai nilai dalam kehidupan dan kekuatan itu harus diakui adanya

Pada suatu hari, Narada beserta beberapa resi berkunjung ke Dwaraka. Beberapa pemuda yang jahil merencanakan sesuatu untuk mempermainkan para resi. Mereka mendandani Samba (putera Kresna dan Jembawati) dengan busana wanita dan diarak keliling kota lalu dihadapkan kepada para resi yang mengunjungi Dwaraka.

Kemudian salah satu dari mereka berkata, "Orang ini adalah permaisuri Sang Babhru yang terkenal dengan kesaktiannya. Kalian adalah para resi yang pintar dan memiliki pengetahuan tinggi. Dapatkah kalian mengetahui, apa yang akan dilahirkannya? Bayi laki-laki atau perempuan?". Para resi yang tahu sedang dipermainkan menjadi marah dan berkata, "Orang ini adalah Sang Samba, keturunan Basudewa. Ia tidak akan melahirkan bayi laki-laki ataupun perempuan, melainkan senjata mosala yang akan memusnahkan kamu semua!"

Kutukan tersebut menjadi kenyataan. Sang Samba melahirkan gada besi dari dalam perutnya. Atas perintah Raja Ugrasena, senjata itu kemudian dihancurkan sampai menjadi serbuk. Beberapa bagian dari senjata tersebut sulit dihancurkan sehingga menyisakan sepotong besi kecil. Setelah senjata tersebut dihancurkan, serbuk dan serpihannya dibuang ke laut. Lalu Sang Baladewa dan Sang Kresna melarang orang minum arak.

Legenda mengatakan bahwa serbuk-serbuk tersebut kembali ke pantai, dan dari serbuk tersebut tumbuhlah tanaman seperti rumput namun memiliki daun yang amat tajam bagaikan pedang. Potongan kecil yang sukar dihancurkan akhirnya ditelan oleh seekor ikan. Ikan tersebut ditangkap oleh nelayan lalu dijual kepada seorang pemburu. Pemburu yang membeli ikan itu menemukan potongan besi kecil dari dalam perut ikan yang dibelinya. Potongan besi itu lalu ditempa menjadi anak panah.

Setelah senjata yang dilahirkan oleh Sang Samba dihancurkan, datanglah Batara Kala, Dewa Maut, dan ini adalah pertanda buruk. Atas saran Kresna, para Wresni, Yadawa dan Andhaka melakukan perjalanan suci menuju Prabhastirtha, dan mereka melangsungkan upacara di pinggir pantai. Di pantai, para Wresni, Andhaka dan Yadawa tidak bisa menghilangkan kebiasaan buruk mereka, yaitu minum arak sampai mabuk. Dalam keadaan mabuk, Satyaki berkata, "Kertawarma, kesatria macam apa kau ini? Dalam Bharatayuddha dahulu, engkau telah membunuh para putera Dropadi, termasuk Drestadyumna dan Srikandi dalam keadaan tidur. Perbuatan macam apa yang kau lakukan?". Ucapan tersebut disambut oleh tepuk tangan dari Pradyumna, yang artinya bahwa ia mendukung pendapat Satyaki. Kertawarma marah dan berkata, "Kau juga kejam, membunuh Burisrawa yang tak bersenjata, yang sedang meninggalkan medan laga untuk memulihkan tenaga".

Setelah saling melontarkan ejekan, mereka bertengkar ramai. Satyaki mengambil pedang lalu memenggal kepala Kertawarma di hadapan Kresna. Melihat hal itu, para Wresni marah lalu menyerang Satyaki. Putera Rukmini menjadi garang, kemudian membantu Satyaki. Setelah beberapa lama, kedua kesatria perkasa tersebut tewas di hadapan Kresna. Kemudian setiap orang berkelahi satu sama lain, dengan menggunakan apapun sebagai senjata, termasuk tanaman eruka yang tumbuh di sekitar tempat tersebut. Ketika dicabut, daun tanaman tersebut berubah menjadi senjata setajam pedang.

Dengan memakai senjata tersebut, para keturunan Wresni, Andhaka, dan Yadu saling membunuh sesama. Tidak peduli kawan atau lawan, bahkan ayah dan anak saling bunuh. Anehnya, tak seorang pun yang berniat untuk meninggalkan tempat itu. Dengan mata kepalanya sendiri, Kresna memperhatikan dan menyaksikan rakyatnya digerakkan oleh takdir kehancuran mereka. Dengan menahan kepedihan, ia mencabut segenggam rumput eraka dan mengubahnya menjadi senjata yang dapat meledak kapan saja. Setelah putera dan kerabat-kerabatnya tewas, ia melemparkan senjata di tangannya ke arah para Wresni dan Yadawa yang sedang berkelahi. Senjata tersebut meledak dan mengakhiri riwayat mereka semua.

Akhirnya para keturunan Wresni, Andhaka dan Yadu tewas semua di Prabhasatirtha, dan disaksikan oleh Kresna. Hanya para wanita dan beberapa kesatria yang masih hidup, seperti misalnya Babhru dan Bajra. Kresna mampu menyingkirkan kutukan brahmana yang mengakibatkan bangsanya hancur, namun ia tidak mau mengubah kutukan Gandari, Ia mengetahui bahwa tidak ada yang mampu mengalahkan bangsa Wresni, Yadawa dan Andhaka kecuali diri mereka sendiri.

Bangsa itu mulai senang bermabuk-mabukan sehingga berpotensi besar mengacaukan Bharatavarsa yang sudah berdiri kokoh. Setelah menyaksikan kehancuran bangsa Wresni, Yadawa, dan Andhaka dengan mata kepalanya sendiri. Kemudian Balarama pergi ke hutan, sedangkan Kresna mengirim utusan ke kota para Kuru, untuk menempatkan wanita dan kota Dwaraka di bawah perlindungan Pandawa; Babhru disuruh untuk melindungi para wanita yang masih hidup sedangkan Daruka disuruh untuk memberi tahu para keturunan Kuru bahwa Wangsa Wresni, Andhaka, dan Yadawa telah hancur. ke hadapan Raja Yudistira di Hastinapura.


Sri Krisna kemudian pergi ke hutan tempat dimana Balarama menunggunya. Kresna menemukan kakaknya duduk di bawah pohon besar di tepi hutan; ia duduk seperti seorang yogi. Kemudian ia melihat seekor ular besar keluar dari mulut kakaknya, yaitu naga berkepala seribu bernama Ananta, dan melayang menuju lautan yang di mana naga dan para Dewa datang berkumpul untuk bertemu dengannya.

Dalam Bhagawatapurana dikisahkan setelah Baladewa ambil bagian dalam pertempuran yang menyebabkan kehancuran Dinasti Yadu Setelah itu Ia duduk bermeditasi di bawah pohon dan meninggalkan dunia dengan mengeluarkan ular putih besar dari mulutnya, kemudian diangkut oleh ular tersebut, yaitu Sesa.

Setelah menyaksikan kepergian kakaknya, Kresna kemudian duduk disebuah batu dibawah pohon di Prabhasa Tirta, mengenang segala peristiwa Ia tahu bahwa sudah saatnya ia ‘kembali’. Kemudian ia memulai menutup panca indrianya melakukan yoga dengan sikap Lalita Mudra. Bagian dibawah kakinya berwarna kemerah-merahan.

Saat itu ada seorang Vyadha (pemburu) bernama Jara, setelah seharian tidak mendapat buruan, melihat sesuatu berwarna kerah-merahan, Ia pikir, ‘Ah, akhirnya kutemukan juga buruanku’, Ia memanahnya dengan panah yang berasal dari sepotong besi yang berasal dari senjata mosala yang telah dihancurkan kemudian panah itu diberi racun. Ia memanah dan panah itu tepat mengenai benda kemerah-merahan itu. Jara, sang Pemburu segera berlari ketempat itu untuk menangkap mangsanya dan dilihatnya Shri Krisna yang berjubah kuning sedang melakukan Yoga namun dengan tubuh kebiru-biruan akibat menyebarnya racun panah itu. Jara kemudian meminta ma'af atas kesalahannya itu. Sri Kresna tersenyum dan berkata,

‘Kesalahan-kesalahan sedemikian ini jamak dilakukan manusia. Seandainya aku adalah engkau tentu akupun melakukan kesalahan itu. Kamu tidak dengan sengaja melakukannya. Jangan di pikir. Kamu tidak tahu sebelumnya aku berada di tempat ini. Kamu tidak dapat dihukum secara hukum maupun moral, Aku mengampunimu. Aku sudah menyelesaikan hidupku’.

Ketika Daruka tiba di Hastinapura, ia segera memberitahu para keturunan Kuru bahwa keturunan Yadu di Kerajaan Dwaraka telah binasa karena perang saudara. Beberapa di antaranya masih bertahan hidup. Setelah mendengar kabar sedih tersebut, Arjuna mohon pamit demi menjenguk Basudewa (Sri Krisna). Dengan diantar oleh Daruka, ia pergi menuju Dwaraka.

Setibanya di Dwaraka, Arjuna mengamati bahwa kota tersebut telah sepi. Ia juga berjumpa dengan Orang-orang tua, anak-anak, janda-janda yang ditinggalkan mati oleh para suaminya di dalam peperangan, Arjuna bersama para ksatria yang tersisa kemudian membawa pergi para Brahmana, Ksatria, waisya, sudra, wanita dan anak-anak Wangsa Wresni, untuk menyebarkannya di sekitar Kurukshetra.

Kemudian Arjuna bertemu dengan Basudewa yang sedang lunglai. Setelah menceritakan beberapa pesan kepada Arjuna, Basudewa mangkat.

Sesuai dengan amanat yang diberikan kepadanya, Arjuna mengajak para wanita dan beberapa kesatria untuk mengungsi ke Kurukshetra. Sebab menurut pesan terakhir dari Sri Kresna, kota Dwaraka akan disapu oleh gelombang samudra, tujuh hari setelah ia wafat.

Dalam perjalanan menuju Kurukshetra, rombongan Arjuna dihadang oleh sekawanan perampok. Anehnya, kekuatan Arjuna seoleh-oleh lenyap ketika berhadapan dengan perampok tersebut. Ia sadar bahwa takdir kemusnahan sedang bergerak. Akhirnya beberapa orang berhasil diselamatkan namun banyak harta dan wanita yang hilang. Di Kurukshetra, para Yadawa dipimpin oleh Bajra.
Setelah menyesali peristiwa yang menimpa dirinya, Arjuna menemui kakeknya, yaitu Resi Byasa. Atas nasihat beliau, para Pandawa serta Dropadi memutuskan untuk melakukan perjelanan suci untuk meninggalkan kehidupan duniawi.

Bangsa Yadawa terkenal tidak terkalahkan sehingga menjadi sombong, arogan kasar dan gemar mabuk2an di menjelang akhir kehidupan sehingga cukup aneh bila ada pemburu yang tidak terusik dan santai di sekitar tempat pertemuan bangsa Yadawa tersebut
Disekitar hutan tersebut, saat itu justru sendang terjadi perang dashyat yang berujung musnahnya bangsa Yadawa, maka bagaimana mungkin ada seorang Pemburu yang begitu santainya berburu?
Sebagai seorang pemburu rusa, tentunya ia mengerti prilaku rusa yang sangat waspada dan gampang terkejut, jadi bagaimana mungkin ada rusa disekitar perang besar bangsa Yadawa tersebut.
Satu kebetulan menarik lainnya adalah arti nama Jara adalah Usia Tua, Sehingga ada pendapat bahwa kematian Krisna di panah Pemburu bernama Jara, merupakan sebuah metaphora? yaitu wafat dikarenakan usia tua [125 tahun]

PESAN TERAKHIR DARI KRISHNA

Kematian Krisna adalah benar karena usia tua, sehingga percakapan antara Krishna dan Jara merupakan tambahan dan bukan yang sebenarnya, maka pesan terakhir dari Krisna hanyalah kepada Arjuna untuk menyelamatkan sisa-sisa penduduk bangsa Yadawa yang tidak mati akibat perang saudara dan tenggelamnya Drawaka
Apabila Pemburu itu ada maka pesan terakhir krisna ada dua yaitu menenangkan Jara dari perasaan bersalah dan kepada Arjuna untuk menyelamatkan sisa2 penduduk Yadawa yang tidak mati akibat perang saudara dan tenggelamnya Drawaka.

Penyebab Kematian Sri Krishna Dalam kisah Mahabharata

Kuwaluhan.com
Raja Kangsa adalah seorang yang berhati kejam dan tidak memiliki belas kasihan kepada sesama manusia. Suatu hari Raja Kangsa dikunjungi oleh Hyang Narada, Wiku dari Sorgaloka, yang memberitahu bahwa kelak ia akan dibunuh oleh anak Dewaki yang nomor 8. Setelah itu Hyang Narada segera kembali ke sorgaloka.

Dewaki adalah bibi raja Kangsa dan ia adalah isteri dari Wasudewa (Basudewa).
Setelah raja Kangsa menerima pemberitahuan oleh Hyang Narada, timbullah niat yang jahat untuk membunuh anak Dewaki sehingga sabda Hyang Narada tidak terlaksana. Pada waktu itu Dewaki belum memiliki anak.

Beberapa waktu berlalu, Dewaki mulai mengandung. Ketika bayi lahir, dengan segera dibunuh oleh raja Kangsa. Kejadian ini berulang-ulang hingga Dewaki melahirkan anak yang keenam. Saat mengandung bayi yang ketujuh, bayi yang masih di dalam kandungan dipindahkan oleh dewi Nidra (dewi tidur) dengan jalan gaib ke Rohini, istri Wasudewa yang kedua. Setelah sampai waktunya, bayi lahir dengan selamat dan dinamakan Baladewa atau Balarama.

Dewaki mengandung lagi kedelapan kalinya. Wasudewa mendapat akal untuk menyelamatkan bayi yang akan dilahirkan itu. Jika kelak bayi lahir, maka akan digantikan dengan bayi yang lain. Kebetulan ketika itu Yasoda, isteri Nanda seorang gembala, juga sedang bunting. Ketika Dewaki melahirkan, Yasoda pun melahirkan. Dengan segera bayi itu dipertukarkan.

Ketika raja Kangsa mendengar Dewaki melahirkan anak yang kedelapan, segera ia pergi ke rumah Dewaki. Raja Kangsa tidak mengetahui bahwa bayi telah dipertukarkan, sehingga ia membunuh bayi yang sebenarnya adalah anak Yasoda. Sementara itu, anak Dewaki yang kedelapan selamat dan diberi nama Kresna.

Setelah Kresna besar ia memiliki kekuatan gaib. Keberaniannya semakin tersiar ke mana-mana sehingga raja Kangsa mendengar pula. Kresna lalu dipanggil menghadap ke Matura, akan diadu dengan orang yang terkenal kuat dan berani.

Nanda, yang mengasuk Kresna, menjadi bersedih hati. Ia tahu raja Kangsa sangat kejam. Karena itu ia selalu mendoakan Kresna.

Selama di Matura, Kresna disuruh mengerjakan pekerjaan yang tidak dapat dilakukan oleh orang biasa. Maksudnya jika Kresna tak sanggup ia akan dihukum seberat-beratnya. Tapi yang terjadi sebaliknya, semua pekerjaan dapat dilakukan dengan mudah oleh Kresna. Ia disuruh menarik busur yang bahkan tak seorangpun dewa yang sanggup menariknya, mengalahkan gajah, diadu dengan orang-orang kuat.

Melihat kekuatan dan keprawiraan Kresna, raja Kangsa menjadi murka karena merasa kalah kuat dan berani. Kemurkaan itu tidak hanya dilampiaskan kepada Kresna, melainkan kepada seluruh gembala. Maka gembala-gembala itu pun disuruh meninggalkan Matura dengan segera, dan bila tidak maka akan dibunuh.

Kresna pun sangat marah mendengar hal itu. Maka terjadilah perkelahian sengit antara raja Kangsa dengan Kresna. Raja Kangsa pun kalah dan mati. Sabda Hyang Narada terbukti.

Setelah raja Kangsa meninggal, Kresna meninggalkan Matura dan menikah dengan dewi Rukmini, putri raja Bismaka dari negeri Widarba. Perkawinan itu disertai dengan perang besar karena diam-diam Dewi Rukmini dilarikan oleh Kresna. Setelah perang, Kresna tinggal di Dwaraka (Dwarawati) dengan dewi Rukmini dan jadi raja di negeri itu dengan gelar Batara.

Kresna sangat sakti dan bahkan berani berkelahi dengan Dewa. Alkisah suatu saat Hyang Narada memberi bunga Parijata kepada dewi Rukmini. Dewi Setyaboma, permaisuri yang kedua pun mengiri. Kresna menyanggupi untuk mohon bunga tersebut.

Hyang Indra tidak mengijinkan dan terjadi perkelahian yang hebat karena masing-masing mengeluarkan kesaktiannya. Sebelum ada yang kalah, datanglah Dewi Aditi, ibu para dewa memisah. Akhirnya Kresna diperkenankan mengambil bunga Parijata sesuka hati.

PERAN KRISNA DALAM PERANG BARATAYUDHA

Sri Krishna adalah titisan Dewa Wisnu yang bertugas melindungi Pandawa yang mana di dholimi pihak Kurawa dan memenangkannya dalam perang Baratayuda. Sebelum perang dimulai Kresna tampil sebagai duta Pandawa ke Astina dalam rangka menyelesaikan konflik perebutan kerajaan Astina. Misi yang diemban Kresna adalah agar tidak terjadi perang.

Pandawa minta setengah wilayah Astina kepada kurawa, andaikata tidak diberikan Pandawa rela hanya menerima lima wilayah pedesaan yaitu Awisthala, Wrekashala, Waranawata, Makandi, dan Awasana. Bagaimanapun Pandawa tetap menempuh jalan damai. Namun Duryadana menolak mentah-mentah permintaan Kresna, bahkan dengan seluruh kekuatan Kurawa berusaha membinasakan Kresna.

Dalam keadaan terdesak Kresna berubah menjadi raksasa dan akan menghancurkan Kurawa, namun Batara  Narada mencegahnya dan menjelaskan bahwa menurut Serat Jitabsara perang Baratayuda harus terjadi. Akhirnya Kresna mengurungkan niatnya tersebut.

Sadar perang Baratayuda akan terjadi, dengan kepintarannya Kresna berusaha sedkit demi sedikit melemahkan posisi Kurawa antara lain dengan meminta Karna memihak Pandawa, namun merasa sadar bahwa dirinya berhutang budi kepada Kurawa dan lebih mementingkan Astina sekalipun Kurawa dipihak yang salah, Karna menolak permintaan Kresna tersebut.

Demikian pula terhadap Baladewa kakaknya sendiri yang sebenarnya bersikap netral. Sadar sang kakak akan memihak Kurawa Kresna memohon Baladewa untuk bertapa di Grojogan sewu yang dijaga Setiyaki. Baladewa sendiri adalah satria yang senang melakukan tapa brata, dia tidak bisa menyaksikan keseluruhan berlangsungnya perang Baratayuda dan baru muncul disaat diakhir episode perang tersebut ketika Bima bertarung melawan Duryudana.

Dalam perang Baratayuda, Kresna memihak Pandawa. Ia dipilih Arjuna sebagai penasehat yang mana Kresna tidak diperbolehkan mengeluarkan senjata untuk berperang langsung dengan pihak Kurawa, sementara pasukannya yang berjumlah besar dipilih Duryudana menjadi bagian dari pasukan Kurawa. 

Pilihan yang dijatuhkan Duryudana membuat Sengkuni marah kepada Duryudana baginya apalah arti pasukan yang besar jika tidak melibatkan pengatur strategi yang ulung sekaliber Kresna. Kresna pada waktu perang memposisikan diri sebagai kusir kereta Arjuna. Kresna juga memantapkan hari Arjuna yang masih ragu-ragu melihat orang-orang yang dihormatinya seperti Bisma dan Durna berada dipihak Kurawa.

Arjuna mendapatkan lawan yang sepadan yaitu Karna yang tak lain kakak tertuanya sendiri. Kereta Karna dikemudikan mertuanya sendiri yaitu Prabu Salya. Prabu Salya sebenarnya tidak ingin Baratayuda terjadi sehingga dalam mengemudikan kereta Karna ia setengah hati sampai pada suatu ketika roda kereta Karna terjerembab dalam tanah. Mengetahui hal tersebut Kresna menyuruh Arjuna segera melepaskan senjata Pasopati.

Pada awalnya Arjuna tidak mau karena hal tersebut bukan tindakan ksatria. Namun Kresna menjelaskan bahwa Karna salah satu orang yang membunuh Abimanyu, putra Arjuna, maka Arjuna segera melepaskan anak panah Pasopati mengenai leher Karna yang mengakibatkan kematian Karna.

Arjuna sebenarnya menyesali tindakannya tersebut. Prabu Salya sendiri tewas ditangan Puntadewa. Ketika Prabu Salya maju ke medan perang, Pandawa kewalahan menghadapi Candrabirawa ilmu Prabu Salya berupa kemampuan memanggil raksasa yang apabila terluka oleh musuhnya jumlah bertambah banyak.

Kresna yang tahu bahwa ilmu itu hanya bisa dihadapi orang suci hati dan sabar seperti Puntadewa maka ia segera menyuruh Puntadewa menghadapinya. Puntadewa sendiri sebenarnya tidak mau karena dalam Baratayuda ia tidak akan turun gelanggang.

Pada saat itu arwah Resi Bagaspati masuk ke tubuh Puntadewa bermaksud mengambil Candrabirawa miliknya. Puntadewa yang telah dirasuki kemudian melempar Jimat Kalimasada dan mengenai dada Prabu Salya. Prabu Salya akhirnya gugur.

KEMATIAN SRI KRISHNA

Kematian Shri Krishna ditakdirkan berada dalam situasi sepi oleh seorang pemburu bernama Jara. Krishna dianggap inkarnasi atau avatar Dewa Wisnu dan secara luas diyakini sebagai pewahyu ajaran suci Hindu; Bhagavad Gita . Menurut Srimad Bhagavatam,Shri Krishna sangat terlibat dengan Pandawa selama Perang Kurukshetra . Dia juga bergabung dengan mereka dan membantu mereka selama Perang Besar.

Krishna menjadi Sarathi atau kusir Arjuna, karena ia tidak harus menggunakan senjata, selama perang yang berlangsung 18 hari. Sebelum awal perang Shri Krishna meriwayatkan Bhagavad Gita dan juga saksi kematian Bisma dan Duryodana. Krishna menerima kutukan dari Ibu Duryodhana, Gandhari karena tidak menyelamatkan anaknya.

Dia adalah seorang penyembah sejati Dewa Wisnu dan mengakui Krishna sebagai inkarnasi nya. Dia sangat percaya dan menghormati Shri Krishna, tapi melihat anaknya mati, ia tidak bisa menemukan kebenaran mengapa Krishna membiarkan hal-hal itu menimpa anaknya.

PENYEBAB KEMATIAN SRI KRISHNA

Gandhari , ibu dari Duryadhona, mengutuk Krishna bahwa ia akan binasa setelah 36 tahun, sendirian dan dalam keadaan menyedihkan. Semua pengikutnya, umat, kerabat dan orang-orang terkasih juga akan mati secara bersamaan.

Akhirnya waktu tiba dalam kehidupan Krishna, kekacauan terjadi pada penduduk Dwaraka, orang-orang mulai membunuh satu sama lain. Semua anak dan cucu dari Krishna juga mati dalam pembantaian itu. Hanya Seorang perempuan, Krishna dan Balarama yang masih hidup di Dwaraka.

Setelah beberapa saat Baladewa menyelamatkan dirinya dalam hutan lebat. Krishna mengirim perempuan dan anak-anak bersama dengan utusan ke kota Kuru dan mereka yang tersisa dengan Pandawa. Lord Krishna kemudian pergi ke ayahnya, meminta restu dan berangkat ke hutan, di mana Baladewa menunggunya.

Ia melihat bahwa kakaknya sedang duduk di bawah sebuah pohon raksasa di pinggiran hutan. Baladewa sedang duduk dengan sikap Yoga, akhirnya ular berkepala seribu, Naga Ananta , keluar dari mulutnya dan berjalan menuju laut. Segera, laut dan sungai-sungai suci lainnya berkumpul untuk menyambut Ananta Naga ke wilayah mereka.

Krishna melihat saudaranya wafat dan ia mulai mengembara di hutan. Akhirnya ia duduk di tanah, mulai berpikir tentang kutukan Gandari, dan menyadari bahwa waktu untuk kematiannya sudah tiba. Dia sendiri memiliki indra dan berkonsentrasi pada Yoga . Seorang pemburu bernama Jara mendekati tempat itu dari hutan dan dari jauh melihat kaki kiri Khrisna sebagian terlihat dan dianggap rusa.

Dia dilepaskan busur panahnya, mengambil panah, dan akhirnya menusuk kaki Krishna. Dia berlari mendekati dan dia menyaksikan seorang pria berbalut jubah kuning sedang melakukan yoga. Pemburu segera menyentuh kaki Krishna dan meminta maaf.

Shri Krishna membuka matanya dan menasehati pemburu itu. Dia memberitahu sang pemburu tentang hidupnya sebelumnya Bali yang dibunuh oleh Shri Rama .Jiwa Shri Krishna menuju ke surga, sehingga mengisi seluruh langit dengan kemuliaan. Setelah melewati Dewa Indra di surga, ia mencapai alamnya di tingkat yang lebih tinggi.

Arjuna mengkremasi Krishna dan Rukmini , Sati dan dibakar di tumpukan kayu. Sisanya para wanita Dwaraka menjadi pertapa dan biarawati.Setelah masing-masing dan setiap makhluk hidup dari Dwaraka pindah ke tempat lain, laut muncul dan menelan kota, sehingga tidak meninggalkan jejak tanah dari Shri Krishna.

Hal ini diyakini bahwa Shri Krishna hidup di bumi dengan saudara Balarama selama 126 tahun dan 5 bulan. Menurut para peneliti dan para ulama, Dia menghilang pada tanggal 18 Februari 3102 SM. Era setelah kepergiannya menandai awal dari Kali Yuga . Dikatakan Krishna telah meramalkan bahwa tepat tujuh hari setelah hilangnya Tuhan, kota Emas Dwarka dan Kuil Dwarkanath di Gujarat akan tenggelam oleh lautan.

Demikian kurang lebih Sejarah asal usul Sri Krishna atau Basudewa dalam kisah Mahabharata.
Terima Kasih..!!

Sejarah lengkap Sri Krishna, Kisah Mahabharata