Social Items

Kuwaluhan.com
Raja Kangsa adalah seorang yang berhati kejam dan tidak memiliki belas kasihan kepada sesama manusia. Suatu hari Raja Kangsa dikunjungi oleh Hyang Narada, Wiku dari Sorgaloka, yang memberitahu bahwa kelak ia akan dibunuh oleh anak Dewaki yang nomor 8. Setelah itu Hyang Narada segera kembali ke sorgaloka.

Dewaki adalah bibi raja Kangsa dan ia adalah isteri dari Wasudewa (Basudewa).
Setelah raja Kangsa menerima pemberitahuan oleh Hyang Narada, timbullah niat yang jahat untuk membunuh anak Dewaki sehingga sabda Hyang Narada tidak terlaksana. Pada waktu itu Dewaki belum memiliki anak.

Beberapa waktu berlalu, Dewaki mulai mengandung. Ketika bayi lahir, dengan segera dibunuh oleh raja Kangsa. Kejadian ini berulang-ulang hingga Dewaki melahirkan anak yang keenam. Saat mengandung bayi yang ketujuh, bayi yang masih di dalam kandungan dipindahkan oleh dewi Nidra (dewi tidur) dengan jalan gaib ke Rohini, istri Wasudewa yang kedua. Setelah sampai waktunya, bayi lahir dengan selamat dan dinamakan Baladewa atau Balarama.

Dewaki mengandung lagi kedelapan kalinya. Wasudewa mendapat akal untuk menyelamatkan bayi yang akan dilahirkan itu. Jika kelak bayi lahir, maka akan digantikan dengan bayi yang lain. Kebetulan ketika itu Yasoda, isteri Nanda seorang gembala, juga sedang bunting. Ketika Dewaki melahirkan, Yasoda pun melahirkan. Dengan segera bayi itu dipertukarkan.

Ketika raja Kangsa mendengar Dewaki melahirkan anak yang kedelapan, segera ia pergi ke rumah Dewaki. Raja Kangsa tidak mengetahui bahwa bayi telah dipertukarkan, sehingga ia membunuh bayi yang sebenarnya adalah anak Yasoda. Sementara itu, anak Dewaki yang kedelapan selamat dan diberi nama Kresna.

Setelah Kresna besar ia memiliki kekuatan gaib. Keberaniannya semakin tersiar ke mana-mana sehingga raja Kangsa mendengar pula. Kresna lalu dipanggil menghadap ke Matura, akan diadu dengan orang yang terkenal kuat dan berani.

Nanda, yang mengasuk Kresna, menjadi bersedih hati. Ia tahu raja Kangsa sangat kejam. Karena itu ia selalu mendoakan Kresna.

Selama di Matura, Kresna disuruh mengerjakan pekerjaan yang tidak dapat dilakukan oleh orang biasa. Maksudnya jika Kresna tak sanggup ia akan dihukum seberat-beratnya. Tapi yang terjadi sebaliknya, semua pekerjaan dapat dilakukan dengan mudah oleh Kresna. Ia disuruh menarik busur yang bahkan tak seorangpun dewa yang sanggup menariknya, mengalahkan gajah, diadu dengan orang-orang kuat.

Melihat kekuatan dan keprawiraan Kresna, raja Kangsa menjadi murka karena merasa kalah kuat dan berani. Kemurkaan itu tidak hanya dilampiaskan kepada Kresna, melainkan kepada seluruh gembala. Maka gembala-gembala itu pun disuruh meninggalkan Matura dengan segera, dan bila tidak maka akan dibunuh.

Kresna pun sangat marah mendengar hal itu. Maka terjadilah perkelahian sengit antara raja Kangsa dengan Kresna. Raja Kangsa pun kalah dan mati. Sabda Hyang Narada terbukti.

Setelah raja Kangsa meninggal, Kresna meninggalkan Matura dan menikah dengan dewi Rukmini, putri raja Bismaka dari negeri Widarba. Perkawinan itu disertai dengan perang besar karena diam-diam Dewi Rukmini dilarikan oleh Kresna. Setelah perang, Kresna tinggal di Dwaraka (Dwarawati) dengan dewi Rukmini dan jadi raja di negeri itu dengan gelar Batara.

Kresna sangat sakti dan bahkan berani berkelahi dengan Dewa. Alkisah suatu saat Hyang Narada memberi bunga Parijata kepada dewi Rukmini. Dewi Setyaboma, permaisuri yang kedua pun mengiri. Kresna menyanggupi untuk mohon bunga tersebut.

Hyang Indra tidak mengijinkan dan terjadi perkelahian yang hebat karena masing-masing mengeluarkan kesaktiannya. Sebelum ada yang kalah, datanglah Dewi Aditi, ibu para dewa memisah. Akhirnya Kresna diperkenankan mengambil bunga Parijata sesuka hati.

PERAN KRISNA DALAM PERANG BARATAYUDHA

Sri Krishna adalah titisan Dewa Wisnu yang bertugas melindungi Pandawa yang mana di dholimi pihak Kurawa dan memenangkannya dalam perang Baratayuda. Sebelum perang dimulai Kresna tampil sebagai duta Pandawa ke Astina dalam rangka menyelesaikan konflik perebutan kerajaan Astina. Misi yang diemban Kresna adalah agar tidak terjadi perang.

Pandawa minta setengah wilayah Astina kepada kurawa, andaikata tidak diberikan Pandawa rela hanya menerima lima wilayah pedesaan yaitu Awisthala, Wrekashala, Waranawata, Makandi, dan Awasana. Bagaimanapun Pandawa tetap menempuh jalan damai. Namun Duryadana menolak mentah-mentah permintaan Kresna, bahkan dengan seluruh kekuatan Kurawa berusaha membinasakan Kresna.

Dalam keadaan terdesak Kresna berubah menjadi raksasa dan akan menghancurkan Kurawa, namun Batara  Narada mencegahnya dan menjelaskan bahwa menurut Serat Jitabsara perang Baratayuda harus terjadi. Akhirnya Kresna mengurungkan niatnya tersebut.

Sadar perang Baratayuda akan terjadi, dengan kepintarannya Kresna berusaha sedkit demi sedikit melemahkan posisi Kurawa antara lain dengan meminta Karna memihak Pandawa, namun merasa sadar bahwa dirinya berhutang budi kepada Kurawa dan lebih mementingkan Astina sekalipun Kurawa dipihak yang salah, Karna menolak permintaan Kresna tersebut.

Demikian pula terhadap Baladewa kakaknya sendiri yang sebenarnya bersikap netral. Sadar sang kakak akan memihak Kurawa Kresna memohon Baladewa untuk bertapa di Grojogan sewu yang dijaga Setiyaki. Baladewa sendiri adalah satria yang senang melakukan tapa brata, dia tidak bisa menyaksikan keseluruhan berlangsungnya perang Baratayuda dan baru muncul disaat diakhir episode perang tersebut ketika Bima bertarung melawan Duryudana.

Dalam perang Baratayuda, Kresna memihak Pandawa. Ia dipilih Arjuna sebagai penasehat yang mana Kresna tidak diperbolehkan mengeluarkan senjata untuk berperang langsung dengan pihak Kurawa, sementara pasukannya yang berjumlah besar dipilih Duryudana menjadi bagian dari pasukan Kurawa. 

Pilihan yang dijatuhkan Duryudana membuat Sengkuni marah kepada Duryudana baginya apalah arti pasukan yang besar jika tidak melibatkan pengatur strategi yang ulung sekaliber Kresna. Kresna pada waktu perang memposisikan diri sebagai kusir kereta Arjuna. Kresna juga memantapkan hari Arjuna yang masih ragu-ragu melihat orang-orang yang dihormatinya seperti Bisma dan Durna berada dipihak Kurawa.

Arjuna mendapatkan lawan yang sepadan yaitu Karna yang tak lain kakak tertuanya sendiri. Kereta Karna dikemudikan mertuanya sendiri yaitu Prabu Salya. Prabu Salya sebenarnya tidak ingin Baratayuda terjadi sehingga dalam mengemudikan kereta Karna ia setengah hati sampai pada suatu ketika roda kereta Karna terjerembab dalam tanah. Mengetahui hal tersebut Kresna menyuruh Arjuna segera melepaskan senjata Pasopati.

Pada awalnya Arjuna tidak mau karena hal tersebut bukan tindakan ksatria. Namun Kresna menjelaskan bahwa Karna salah satu orang yang membunuh Abimanyu, putra Arjuna, maka Arjuna segera melepaskan anak panah Pasopati mengenai leher Karna yang mengakibatkan kematian Karna.

Arjuna sebenarnya menyesali tindakannya tersebut. Prabu Salya sendiri tewas ditangan Puntadewa. Ketika Prabu Salya maju ke medan perang, Pandawa kewalahan menghadapi Candrabirawa ilmu Prabu Salya berupa kemampuan memanggil raksasa yang apabila terluka oleh musuhnya jumlah bertambah banyak.

Kresna yang tahu bahwa ilmu itu hanya bisa dihadapi orang suci hati dan sabar seperti Puntadewa maka ia segera menyuruh Puntadewa menghadapinya. Puntadewa sendiri sebenarnya tidak mau karena dalam Baratayuda ia tidak akan turun gelanggang.

Pada saat itu arwah Resi Bagaspati masuk ke tubuh Puntadewa bermaksud mengambil Candrabirawa miliknya. Puntadewa yang telah dirasuki kemudian melempar Jimat Kalimasada dan mengenai dada Prabu Salya. Prabu Salya akhirnya gugur.

KEMATIAN SRI KRISHNA

Kematian Shri Krishna ditakdirkan berada dalam situasi sepi oleh seorang pemburu bernama Jara. Krishna dianggap inkarnasi atau avatar Dewa Wisnu dan secara luas diyakini sebagai pewahyu ajaran suci Hindu; Bhagavad Gita . Menurut Srimad Bhagavatam,Shri Krishna sangat terlibat dengan Pandawa selama Perang Kurukshetra . Dia juga bergabung dengan mereka dan membantu mereka selama Perang Besar.

Krishna menjadi Sarathi atau kusir Arjuna, karena ia tidak harus menggunakan senjata, selama perang yang berlangsung 18 hari. Sebelum awal perang Shri Krishna meriwayatkan Bhagavad Gita dan juga saksi kematian Bisma dan Duryodana. Krishna menerima kutukan dari Ibu Duryodhana, Gandhari karena tidak menyelamatkan anaknya.

Dia adalah seorang penyembah sejati Dewa Wisnu dan mengakui Krishna sebagai inkarnasi nya. Dia sangat percaya dan menghormati Shri Krishna, tapi melihat anaknya mati, ia tidak bisa menemukan kebenaran mengapa Krishna membiarkan hal-hal itu menimpa anaknya.

PENYEBAB KEMATIAN SRI KRISHNA

Gandhari , ibu dari Duryadhona, mengutuk Krishna bahwa ia akan binasa setelah 36 tahun, sendirian dan dalam keadaan menyedihkan. Semua pengikutnya, umat, kerabat dan orang-orang terkasih juga akan mati secara bersamaan.

Akhirnya waktu tiba dalam kehidupan Krishna, kekacauan terjadi pada penduduk Dwaraka, orang-orang mulai membunuh satu sama lain. Semua anak dan cucu dari Krishna juga mati dalam pembantaian itu. Hanya Seorang perempuan, Krishna dan Balarama yang masih hidup di Dwaraka.

Setelah beberapa saat Baladewa menyelamatkan dirinya dalam hutan lebat. Krishna mengirim perempuan dan anak-anak bersama dengan utusan ke kota Kuru dan mereka yang tersisa dengan Pandawa. Lord Krishna kemudian pergi ke ayahnya, meminta restu dan berangkat ke hutan, di mana Baladewa menunggunya.

Ia melihat bahwa kakaknya sedang duduk di bawah sebuah pohon raksasa di pinggiran hutan. Baladewa sedang duduk dengan sikap Yoga, akhirnya ular berkepala seribu, Naga Ananta , keluar dari mulutnya dan berjalan menuju laut. Segera, laut dan sungai-sungai suci lainnya berkumpul untuk menyambut Ananta Naga ke wilayah mereka.

Krishna melihat saudaranya wafat dan ia mulai mengembara di hutan. Akhirnya ia duduk di tanah, mulai berpikir tentang kutukan Gandari, dan menyadari bahwa waktu untuk kematiannya sudah tiba. Dia sendiri memiliki indra dan berkonsentrasi pada Yoga . Seorang pemburu bernama Jara mendekati tempat itu dari hutan dan dari jauh melihat kaki kiri Khrisna sebagian terlihat dan dianggap rusa.

Dia dilepaskan busur panahnya, mengambil panah, dan akhirnya menusuk kaki Krishna. Dia berlari mendekati dan dia menyaksikan seorang pria berbalut jubah kuning sedang melakukan yoga. Pemburu segera menyentuh kaki Krishna dan meminta maaf.

Shri Krishna membuka matanya dan menasehati pemburu itu. Dia memberitahu sang pemburu tentang hidupnya sebelumnya Bali yang dibunuh oleh Shri Rama .Jiwa Shri Krishna menuju ke surga, sehingga mengisi seluruh langit dengan kemuliaan. Setelah melewati Dewa Indra di surga, ia mencapai alamnya di tingkat yang lebih tinggi.

Arjuna mengkremasi Krishna dan Rukmini , Sati dan dibakar di tumpukan kayu. Sisanya para wanita Dwaraka menjadi pertapa dan biarawati.Setelah masing-masing dan setiap makhluk hidup dari Dwaraka pindah ke tempat lain, laut muncul dan menelan kota, sehingga tidak meninggalkan jejak tanah dari Shri Krishna.

Hal ini diyakini bahwa Shri Krishna hidup di bumi dengan saudara Balarama selama 126 tahun dan 5 bulan. Menurut para peneliti dan para ulama, Dia menghilang pada tanggal 18 Februari 3102 SM. Era setelah kepergiannya menandai awal dari Kali Yuga . Dikatakan Krishna telah meramalkan bahwa tepat tujuh hari setelah hilangnya Tuhan, kota Emas Dwarka dan Kuil Dwarkanath di Gujarat akan tenggelam oleh lautan.

Demikian kurang lebih Sejarah asal usul Sri Krishna atau Basudewa dalam kisah Mahabharata.
Terima Kasih..!!

Sejarah lengkap Sri Krishna, Kisah Mahabharata

Kuwaluhan.com
Raja Kangsa adalah seorang yang berhati kejam dan tidak memiliki belas kasihan kepada sesama manusia. Suatu hari Raja Kangsa dikunjungi oleh Hyang Narada, Wiku dari Sorgaloka, yang memberitahu bahwa kelak ia akan dibunuh oleh anak Dewaki yang nomor 8. Setelah itu Hyang Narada segera kembali ke sorgaloka.

Dewaki adalah bibi raja Kangsa dan ia adalah isteri dari Wasudewa (Basudewa).
Setelah raja Kangsa menerima pemberitahuan oleh Hyang Narada, timbullah niat yang jahat untuk membunuh anak Dewaki sehingga sabda Hyang Narada tidak terlaksana. Pada waktu itu Dewaki belum memiliki anak.

Beberapa waktu berlalu, Dewaki mulai mengandung. Ketika bayi lahir, dengan segera dibunuh oleh raja Kangsa. Kejadian ini berulang-ulang hingga Dewaki melahirkan anak yang keenam. Saat mengandung bayi yang ketujuh, bayi yang masih di dalam kandungan dipindahkan oleh dewi Nidra (dewi tidur) dengan jalan gaib ke Rohini, istri Wasudewa yang kedua. Setelah sampai waktunya, bayi lahir dengan selamat dan dinamakan Baladewa atau Balarama.

Dewaki mengandung lagi kedelapan kalinya. Wasudewa mendapat akal untuk menyelamatkan bayi yang akan dilahirkan itu. Jika kelak bayi lahir, maka akan digantikan dengan bayi yang lain. Kebetulan ketika itu Yasoda, isteri Nanda seorang gembala, juga sedang bunting. Ketika Dewaki melahirkan, Yasoda pun melahirkan. Dengan segera bayi itu dipertukarkan.

Ketika raja Kangsa mendengar Dewaki melahirkan anak yang kedelapan, segera ia pergi ke rumah Dewaki. Raja Kangsa tidak mengetahui bahwa bayi telah dipertukarkan, sehingga ia membunuh bayi yang sebenarnya adalah anak Yasoda. Sementara itu, anak Dewaki yang kedelapan selamat dan diberi nama Kresna.

Setelah Kresna besar ia memiliki kekuatan gaib. Keberaniannya semakin tersiar ke mana-mana sehingga raja Kangsa mendengar pula. Kresna lalu dipanggil menghadap ke Matura, akan diadu dengan orang yang terkenal kuat dan berani.

Nanda, yang mengasuk Kresna, menjadi bersedih hati. Ia tahu raja Kangsa sangat kejam. Karena itu ia selalu mendoakan Kresna.

Selama di Matura, Kresna disuruh mengerjakan pekerjaan yang tidak dapat dilakukan oleh orang biasa. Maksudnya jika Kresna tak sanggup ia akan dihukum seberat-beratnya. Tapi yang terjadi sebaliknya, semua pekerjaan dapat dilakukan dengan mudah oleh Kresna. Ia disuruh menarik busur yang bahkan tak seorangpun dewa yang sanggup menariknya, mengalahkan gajah, diadu dengan orang-orang kuat.

Melihat kekuatan dan keprawiraan Kresna, raja Kangsa menjadi murka karena merasa kalah kuat dan berani. Kemurkaan itu tidak hanya dilampiaskan kepada Kresna, melainkan kepada seluruh gembala. Maka gembala-gembala itu pun disuruh meninggalkan Matura dengan segera, dan bila tidak maka akan dibunuh.

Kresna pun sangat marah mendengar hal itu. Maka terjadilah perkelahian sengit antara raja Kangsa dengan Kresna. Raja Kangsa pun kalah dan mati. Sabda Hyang Narada terbukti.

Setelah raja Kangsa meninggal, Kresna meninggalkan Matura dan menikah dengan dewi Rukmini, putri raja Bismaka dari negeri Widarba. Perkawinan itu disertai dengan perang besar karena diam-diam Dewi Rukmini dilarikan oleh Kresna. Setelah perang, Kresna tinggal di Dwaraka (Dwarawati) dengan dewi Rukmini dan jadi raja di negeri itu dengan gelar Batara.

Kresna sangat sakti dan bahkan berani berkelahi dengan Dewa. Alkisah suatu saat Hyang Narada memberi bunga Parijata kepada dewi Rukmini. Dewi Setyaboma, permaisuri yang kedua pun mengiri. Kresna menyanggupi untuk mohon bunga tersebut.

Hyang Indra tidak mengijinkan dan terjadi perkelahian yang hebat karena masing-masing mengeluarkan kesaktiannya. Sebelum ada yang kalah, datanglah Dewi Aditi, ibu para dewa memisah. Akhirnya Kresna diperkenankan mengambil bunga Parijata sesuka hati.

PERAN KRISNA DALAM PERANG BARATAYUDHA

Sri Krishna adalah titisan Dewa Wisnu yang bertugas melindungi Pandawa yang mana di dholimi pihak Kurawa dan memenangkannya dalam perang Baratayuda. Sebelum perang dimulai Kresna tampil sebagai duta Pandawa ke Astina dalam rangka menyelesaikan konflik perebutan kerajaan Astina. Misi yang diemban Kresna adalah agar tidak terjadi perang.

Pandawa minta setengah wilayah Astina kepada kurawa, andaikata tidak diberikan Pandawa rela hanya menerima lima wilayah pedesaan yaitu Awisthala, Wrekashala, Waranawata, Makandi, dan Awasana. Bagaimanapun Pandawa tetap menempuh jalan damai. Namun Duryadana menolak mentah-mentah permintaan Kresna, bahkan dengan seluruh kekuatan Kurawa berusaha membinasakan Kresna.

Dalam keadaan terdesak Kresna berubah menjadi raksasa dan akan menghancurkan Kurawa, namun Batara  Narada mencegahnya dan menjelaskan bahwa menurut Serat Jitabsara perang Baratayuda harus terjadi. Akhirnya Kresna mengurungkan niatnya tersebut.

Sadar perang Baratayuda akan terjadi, dengan kepintarannya Kresna berusaha sedkit demi sedikit melemahkan posisi Kurawa antara lain dengan meminta Karna memihak Pandawa, namun merasa sadar bahwa dirinya berhutang budi kepada Kurawa dan lebih mementingkan Astina sekalipun Kurawa dipihak yang salah, Karna menolak permintaan Kresna tersebut.

Demikian pula terhadap Baladewa kakaknya sendiri yang sebenarnya bersikap netral. Sadar sang kakak akan memihak Kurawa Kresna memohon Baladewa untuk bertapa di Grojogan sewu yang dijaga Setiyaki. Baladewa sendiri adalah satria yang senang melakukan tapa brata, dia tidak bisa menyaksikan keseluruhan berlangsungnya perang Baratayuda dan baru muncul disaat diakhir episode perang tersebut ketika Bima bertarung melawan Duryudana.

Dalam perang Baratayuda, Kresna memihak Pandawa. Ia dipilih Arjuna sebagai penasehat yang mana Kresna tidak diperbolehkan mengeluarkan senjata untuk berperang langsung dengan pihak Kurawa, sementara pasukannya yang berjumlah besar dipilih Duryudana menjadi bagian dari pasukan Kurawa. 

Pilihan yang dijatuhkan Duryudana membuat Sengkuni marah kepada Duryudana baginya apalah arti pasukan yang besar jika tidak melibatkan pengatur strategi yang ulung sekaliber Kresna. Kresna pada waktu perang memposisikan diri sebagai kusir kereta Arjuna. Kresna juga memantapkan hari Arjuna yang masih ragu-ragu melihat orang-orang yang dihormatinya seperti Bisma dan Durna berada dipihak Kurawa.

Arjuna mendapatkan lawan yang sepadan yaitu Karna yang tak lain kakak tertuanya sendiri. Kereta Karna dikemudikan mertuanya sendiri yaitu Prabu Salya. Prabu Salya sebenarnya tidak ingin Baratayuda terjadi sehingga dalam mengemudikan kereta Karna ia setengah hati sampai pada suatu ketika roda kereta Karna terjerembab dalam tanah. Mengetahui hal tersebut Kresna menyuruh Arjuna segera melepaskan senjata Pasopati.

Pada awalnya Arjuna tidak mau karena hal tersebut bukan tindakan ksatria. Namun Kresna menjelaskan bahwa Karna salah satu orang yang membunuh Abimanyu, putra Arjuna, maka Arjuna segera melepaskan anak panah Pasopati mengenai leher Karna yang mengakibatkan kematian Karna.

Arjuna sebenarnya menyesali tindakannya tersebut. Prabu Salya sendiri tewas ditangan Puntadewa. Ketika Prabu Salya maju ke medan perang, Pandawa kewalahan menghadapi Candrabirawa ilmu Prabu Salya berupa kemampuan memanggil raksasa yang apabila terluka oleh musuhnya jumlah bertambah banyak.

Kresna yang tahu bahwa ilmu itu hanya bisa dihadapi orang suci hati dan sabar seperti Puntadewa maka ia segera menyuruh Puntadewa menghadapinya. Puntadewa sendiri sebenarnya tidak mau karena dalam Baratayuda ia tidak akan turun gelanggang.

Pada saat itu arwah Resi Bagaspati masuk ke tubuh Puntadewa bermaksud mengambil Candrabirawa miliknya. Puntadewa yang telah dirasuki kemudian melempar Jimat Kalimasada dan mengenai dada Prabu Salya. Prabu Salya akhirnya gugur.

KEMATIAN SRI KRISHNA

Kematian Shri Krishna ditakdirkan berada dalam situasi sepi oleh seorang pemburu bernama Jara. Krishna dianggap inkarnasi atau avatar Dewa Wisnu dan secara luas diyakini sebagai pewahyu ajaran suci Hindu; Bhagavad Gita . Menurut Srimad Bhagavatam,Shri Krishna sangat terlibat dengan Pandawa selama Perang Kurukshetra . Dia juga bergabung dengan mereka dan membantu mereka selama Perang Besar.

Krishna menjadi Sarathi atau kusir Arjuna, karena ia tidak harus menggunakan senjata, selama perang yang berlangsung 18 hari. Sebelum awal perang Shri Krishna meriwayatkan Bhagavad Gita dan juga saksi kematian Bisma dan Duryodana. Krishna menerima kutukan dari Ibu Duryodhana, Gandhari karena tidak menyelamatkan anaknya.

Dia adalah seorang penyembah sejati Dewa Wisnu dan mengakui Krishna sebagai inkarnasi nya. Dia sangat percaya dan menghormati Shri Krishna, tapi melihat anaknya mati, ia tidak bisa menemukan kebenaran mengapa Krishna membiarkan hal-hal itu menimpa anaknya.

PENYEBAB KEMATIAN SRI KRISHNA

Gandhari , ibu dari Duryadhona, mengutuk Krishna bahwa ia akan binasa setelah 36 tahun, sendirian dan dalam keadaan menyedihkan. Semua pengikutnya, umat, kerabat dan orang-orang terkasih juga akan mati secara bersamaan.

Akhirnya waktu tiba dalam kehidupan Krishna, kekacauan terjadi pada penduduk Dwaraka, orang-orang mulai membunuh satu sama lain. Semua anak dan cucu dari Krishna juga mati dalam pembantaian itu. Hanya Seorang perempuan, Krishna dan Balarama yang masih hidup di Dwaraka.

Setelah beberapa saat Baladewa menyelamatkan dirinya dalam hutan lebat. Krishna mengirim perempuan dan anak-anak bersama dengan utusan ke kota Kuru dan mereka yang tersisa dengan Pandawa. Lord Krishna kemudian pergi ke ayahnya, meminta restu dan berangkat ke hutan, di mana Baladewa menunggunya.

Ia melihat bahwa kakaknya sedang duduk di bawah sebuah pohon raksasa di pinggiran hutan. Baladewa sedang duduk dengan sikap Yoga, akhirnya ular berkepala seribu, Naga Ananta , keluar dari mulutnya dan berjalan menuju laut. Segera, laut dan sungai-sungai suci lainnya berkumpul untuk menyambut Ananta Naga ke wilayah mereka.

Krishna melihat saudaranya wafat dan ia mulai mengembara di hutan. Akhirnya ia duduk di tanah, mulai berpikir tentang kutukan Gandari, dan menyadari bahwa waktu untuk kematiannya sudah tiba. Dia sendiri memiliki indra dan berkonsentrasi pada Yoga . Seorang pemburu bernama Jara mendekati tempat itu dari hutan dan dari jauh melihat kaki kiri Khrisna sebagian terlihat dan dianggap rusa.

Dia dilepaskan busur panahnya, mengambil panah, dan akhirnya menusuk kaki Krishna. Dia berlari mendekati dan dia menyaksikan seorang pria berbalut jubah kuning sedang melakukan yoga. Pemburu segera menyentuh kaki Krishna dan meminta maaf.

Shri Krishna membuka matanya dan menasehati pemburu itu. Dia memberitahu sang pemburu tentang hidupnya sebelumnya Bali yang dibunuh oleh Shri Rama .Jiwa Shri Krishna menuju ke surga, sehingga mengisi seluruh langit dengan kemuliaan. Setelah melewati Dewa Indra di surga, ia mencapai alamnya di tingkat yang lebih tinggi.

Arjuna mengkremasi Krishna dan Rukmini , Sati dan dibakar di tumpukan kayu. Sisanya para wanita Dwaraka menjadi pertapa dan biarawati.Setelah masing-masing dan setiap makhluk hidup dari Dwaraka pindah ke tempat lain, laut muncul dan menelan kota, sehingga tidak meninggalkan jejak tanah dari Shri Krishna.

Hal ini diyakini bahwa Shri Krishna hidup di bumi dengan saudara Balarama selama 126 tahun dan 5 bulan. Menurut para peneliti dan para ulama, Dia menghilang pada tanggal 18 Februari 3102 SM. Era setelah kepergiannya menandai awal dari Kali Yuga . Dikatakan Krishna telah meramalkan bahwa tepat tujuh hari setelah hilangnya Tuhan, kota Emas Dwarka dan Kuil Dwarkanath di Gujarat akan tenggelam oleh lautan.

Demikian kurang lebih Sejarah asal usul Sri Krishna atau Basudewa dalam kisah Mahabharata.
Terima Kasih..!!

No comments:

Post a Comment

Berkomentarlah Dengan baik dan sopan agar tidak terjadi hal-hal yang membuat orang lain gagal paham

Subscribe Our Newsletter

Notifications

Disqus Logo