Social Items

Setiap wanita normal yang sudah bersuami pasti menginginkan segera memiliki momongan atau buah hati. Karena dalam rumah tangga sosok seorang anak sangat lah berharga, tanpa seorang anak dalam keluarga kuranglah sempurna.

Ciri ciri perempuan sedang hamil

Mengetahui seorang istri yang lagi hamil itu perlu, ada banyak cara untuk mengetahui kehamilan. Namun tidak sedikit pula yang belum tahu tanda kehamilan pada seorang wanita.

Di bawah ini adalah beberapa tanda awal kehamilan yang layak dicermati.

1. Perubahan payudara

Perubahan hormon pada awal kehamilan dapat membuat payudara terasa lebih padat, sensitif, dan lebih kencang. Puting terlihat lebih muncul (menonjol) dan berwarna lebih gelap dengan pembuluh darah yang lebih tampak pada permukaan kulit payudara.

2. Sering buang air kecil 

Perubahan saat hamil juga menyebabkan kebanyakan wanita lebih sering ingin buang air kecil pada awal kehamilan, terutama pada malam hari. Pada tahap kehamilan selanjutnya, keinginan buang air kecil lebih disebabkan oleh pembesaran rahim yang menekan kantong kemih.

3. Merasa sangat lelah

Kelelahan yang tidak tertahankan dan sering tanpa sebab dapat menjadi gejala awal dari kehamilan. Gejala ini dapat berlanjut terutama pada 3 bulan awal masa kehamilan. Kondisi ini umumnya disebabkan oleh meningkatnya kadar progesteron dan perubahan pada produksi darah, detak jantung, dan metabolisme tubuh. Hindari menangani kelelahan dengan mengonsumsi kafein yang dapat membahayakan janin. Sebisa mungkin atasi kondisi ini dengan mengkonsumsi makanan bernutrisi dan beristirahat cukup.

4. Sering Mual dan muntah

Mual dan muntah umumnya baru akan terasa pada usia kehamilan 6 minggu. Tapi gejala ini juga bisa muncul lebih awal. Kondisi ini biasanya akan hilang setelah memasuki usia kehamilan 12-16 minggu. Situasi ini lebih sering terjadi di pagi hari karena menumpuknya asam lambung selama Anda tidur.

Mual dan muntah dapat dicegah dengan menjaga perut agar tidak kosong. Konsumsilah makanan sedikit demi sedikit, tapi lebih sering. Mengonsumsi permen mint atau jahe juga dapat meringankan gejala.

5. Sensitif terhadap bau 

Mual yang dialami pada awal kehamilan umumnya disebabkan oleh indera penciuman yang menjadi lebih tajam terhadap bau-bauan tertentu, baik yang beraroma positif, seperti minyak wangi, atau yang beraroma negatif seperti asap rokok. Makanan dengan aroma tertentu yang biasa dikonsumsi pun tiba-tiba membuat mual, terutama yang beraroma kuat seperti telur dan bawang.

6. Hilangnya nafsu makan

Peningkatan kadar hormon dan sensitivitas terhadap bau-bauan dapat membuat wanita hamil menjadi tidak berselera menyantap makanan yang sebelumnya biasa dikonsumsi.

7. Konstipasi

Perubahan hormon dapat menyebabkan kinerja sistem pencernaan melambat sehingga menimbulkan kondisi sembelit.
Suasana hati yang mudah berubah. Perubahan hormon juga dapat membuat Anda merasa lebih emosional. Suasana hati cepat berubah tanpa alasan yang jelas.

8. Sering mengalami Pusing

Pusing kerap dirasakan di awal usia kehamilan akibat turunnya tekanan darah dan menyempitnya pembuluh darah.

9. Bercak darah

Terkadang kehamilan diawali dengan bercak-bercak darah yang keluar dari vagina. Bercak darah yang muncul menjadi tanda menempelnya sel telur yang sudah dibuahi pada dinding rahim.

Semua gejala di atas, sayangnya, tidak selalu merujuk kepada kehamilan, tapi dapat menjadi tanda adanya penyakit. Beberapa wanita bahkan juga tidak merasakan satu pun gejala di atas sebelum hamil.

Menggunakan alat tes kehamilan (test pack) yang dijual bebas di pasaran dapat menentukan kepastian kehamilan. Tes kehamilan bekerja dengan mendeteksi hormon hCG yang diproduksi sepekan setelah pembuahan terjadi.

Tes kehamilan dilakukan dengan mengambil sampel urine, terutama di pagi hari. Tempatkan urine pada wadah yang bersih, kemudian celupkan alat uji ke dalamnya. Hasil positif ditunjukkan dengan cara yang berbeda sesuai dengan alat tes yang anda gunakan. Sebagai contoh, kemunculan dua garis merah bisa menunjukkan hasil positif dan hasil negatif ditunjukkan dengan kemunculan satu garis merah.

Wallohua'lam Bisshowab

Itulah ciri-ciri perempuan yang lagi hamil, semoga bisa bermanfaat.

Inilah tanda tanda kehamilan pada wanita yang perlu diketahui

Zaman sekarang sudah tak heran jika ada banyak orang dilingkungan kita yang menikahkan Putrinya dalam keadaan Hamil. Mereka lebih memilih menyembunyikan rasa malu daripada menanggung beban Dosa yang telah diperbuatnya di luar pernikahan.

Dan pada pembahasan ini kita akan membahas tentang hukum menikahi wanita yang sedang hamil.


Perempuan yang dinikahi dalam keadaan hamil ada dua macam:

1- Perempuan yang diceraikan oleh suaminya dalam keadaan hamil.
2-  Perempuan yang hamil karena melakukan zina sebagaimana yang banyak terjadi di zaman ini.

Adapun perempuan hamil yang diceraikan oleh suaminya, tidak boleh dinikahi sampai lepas ‘iddahnya. Dan ‘iddah-nya ialah sampai ia melahirkan sebagaimana dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَأُولَاتُ الْأَحْمَالِ أَجَلُهُنَّ أَنْ يَضَعْنَ حَمْلَهُنَّ

Dan perempuan-perempuan yang hamil waktu ‘iddah mereka sampai mereka melahirkan kandungannya.” (QS. Ath-Tholaq: 4)

Dan hukum menikah dengan perempuan hamil seperti ini adalah haram dan nikahnya batil tidak sah sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala:

وَلَا تَعْزِمُوا عُقْدَةَ النِّكَاحِ حَتَّى يَبْلُغَ الْكِتَابُ أَجَلَهُ

Dan janganlah kalian ber’azam (bertetap hati) untuk beraqad nikah sebelum habis ‘iddahnya.”(QS. Al-Baqarah: 235)

Berkata Ibnu Katsir dalam tafsir-nya tentang makna ayat ini: “Yaitu jangan kalian melakukan akad nikah sampai lepas ‘iddah-nya.” Kemudian beliau berkata: “Dan para ‘ulama telah sepakat bahwa akad tidaklah sah pada masa ‘iddah.”

Adapun perempuan hamil karena zina, kami melihat perlu dirinci lebih meluas karena pentingnya perkara ini dan banyaknya kasus yang terjadi di seputarnya.

Maka dengan mengharap curahan taufiq dan hidayah dari Allah Al-‘Alim Al-Khabir, masalah ini di uraikan sebagai berikut:

Perempuan yang telah melakukan zina menyebabkan dia hamil atau tidak, dalam hal bolehnya melakukan pernikahan dengannya terdapat persilangan pendapat dikalangan para ‘ulama.

Secara umum para ‘ulama berbeda pendapat dalam pensyaratan dua perkara untuk sahnya nikah dengan perempuan yang berzina.

Syarat yang pertama: Bertaubat dari perbuatan zinanya yang nista.

Dalam pensyaratan taubat ada dua pendapat dikalangan para ‘ulama:

1- Disyaratkan bertaubat. Dan ini merupakan madzhab Imam Ahmad dan pendapat Qatadah, Ishaq dan Abu ‘Ubaid.

2- Tidak disyaratkan taubat. Dan ini merupakan pendapat Imam Malik, Syafi’iy dan Abu Hanifah.

Yang benar dalam masalah ini adalah pendapat pertama yang mengatakan disyaratkan untuk bertaubat.

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Al-Fatawa32/109:

Menikahi perempuan pezina adalah haram sampai ia bertaubat, apakah yang menikahinya itu adalah yang menzinahinya atau selainnya. Inilah yang benar tanpa keraguan.

Tarjih di atas berdasarkan firman Allah ‘Azza wa Jalla:

الزَّانِي لَا يَنْكِحُ إلَّا زَانِيَةً أَوْ مُشْرِكَةً وَالزَّانِيَةُ لَا يَنْكِحُهَا إِلَّا زَانٍ أَوْ مُشْرِكٌ وَحُرِّمَ ذَلِكَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ

Laki-laki yang berzina tidak menikahi melainkan perempuan yang berzina atau perempuan yang musyrik. Dan perempuan yang berzina tidak dinikahi melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik. Dan telah diharamkan hal tersebut atas kaum mu`minin.”(QS. An-Nur: 3)

Dan dalam hadits ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya ‘Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash, beliau berkata:

أَنَّ مَرْثَدَ بْنَ أَبِيْ مَرْثَدٍ الْغَنَوِيَّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ كَانَ يَحْمِلُ الْأَسَارَى بِمَكَّةَ وَكَانَ بِمَكَّةَ امْرَأَةٌ بَغِيٌّ يُقَالُ لَهَا عَنَاقٌ وَكَانَتْ صَدِيْقَتَهُ. قَالَ: فَجِئْتُ إِلىَ النَّبِيِّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ يَا رَسُوْلَ اللهِ أَنْكِحُ عَنَاقًا ؟ قَالَ: فَسَكَتَ عَنِّيْ فَنَزَلَتْ: ((وَالزَّانِيَةُ لَا يَنْكِحُهَا إِلَّا زَانٍ أَوْ مُشْرِكٌ)) فَدَعَانِيْ فَقَرَأَهَا عَلَيَّ. وَقَالَ: لاَ تَنْكِحْهَا

"Sesungguhnya Martsad bin Abi Martsad Al-Ghonawy membawa tawanan perang dari Makkah dan di Makkah ada seorang perempuan pelacur disebut dengan (nama) ‘Anaq dan ia adalah teman (Martsad). (Martsad) berkata: “Maka saya datang kepada Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam lalu saya berkata: “Ya Rasulullah, Saya nikahi ‘Anaq?” Martsad berkata: “Maka beliau diam, maka turunlah (ayat): “Dan perempuan yang berzina tidak dinikahi melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik.” Kemudian beliau memanggilku lalu membacakannya padaku dan beliau berkata: “Jangan kamu nikahi dia.” (Hadits hasan, riwayat Abu Daud)

Ayat dan hadits ini tegas menunjukkan haram nikah dengan perempuan pezina. Namun hukum haram tersebut bila ia belum bertaubat. Adapun kalau ia telah bertaubat maka terhapuslah hukum haram nikah dengan perempuan pezina tersebut berdasarkan sabda Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam:

التَّائِبُ مِنَ الذَّنْبِ كَمَنْ لَا ذَنْبَ لَهُ

Orang yang bertaubat dari dosa seperti orang yang tidak ada dosa baginya.” (Dihasankan oleh Syeikh Al-Albany dalam Adh-Dho’ifah)

Adapun para ‘ulama yang mengatakan bahwa kalimat ‘nikah’ dalam ayat An-Nur ini bermakna jima’ atau yang mengatakan ayat ini mansukh(terhapus hukumnya) ini adalah pendapat yang jauh dan pendapat ini (yaitu yang mengatakan bermakna jima’atau mansukh) telah dibantah secara tuntas oleh Ibnu Taimiyah dalam Al-Fatawa. Dan pendapat yang mengatakan haram nikah dengan perempuan pezina sebelum bertaubat, ini pula yang dikuatkan Asy-Syinqithy dalam Adwa Al-Bayan.

Sebagian ‘ulama berpendapat bahwa perlu diketahui kesungguhan taubat perempuan yang berzina ini dengan cara dirayu untuk berzina kalau ia menolak berarti taubatnya telah baik.

Tapi Ibnu Qudamah dalam Al-Mughny berpendapat lain, beliau berkata:

 “Tidak pantas bagi seorang muslim mengajak perempuan untuk berzina dan memintanya. Karena permintaannya ini pada saat berkhalwat (berduaan) dan tidak halal berkhalwat dengan Ajnabiyah (perempuan bukan mahram) walaupun untuk mengajarinya Al-Qur’an maka bagaimana (bisa) hal tersebut dihalalkan dalam merayunya untuk berzina?”

Maka yang benar adalah ia bertaubat atas perbuatan zinanya sebagaimana ia bertaubat kalau melakukan dosa besar yang lainnya. Yaitu dengan lima syarat:

1. Ikhlas bertaubat karena Allah.
2. Menyesali perbuatannya.
3. Meninggalkan dosa tersebut.
4. Ber‘azam dengan sungguh-sungguh tidak akan mengulanginya.
5. Pada waktu yang masih bisa bertaubat seperti sebelum matahari terbit dari Barat dan sebelum ruh sampai ke tenggorokan.

Dan bukan disini tempat menguraikan dalil-dalil lima syarat ini.

Syarat Kedua: Telah lepas ‘iddah.

Para ‘ulama berbeda pendapat apakah lepas ‘iddah, apakah merupakan syarat bolehnya menikahi perempuan yang berzina atau tidak, ada dua pendapat:

Pertama: Wajib ‘iddah.

Ini adalah pendapat Hasan Al-Bashry, An-Nakha’iy, Rabi’ah bin ‘Abdurrahman, Imam Malik, Ats-Tsaury, Imam Ahmad dan Ishaq bin Rahawaih.

Kedua: Tidak wajib ‘iddah.

Ini adalah pendapat Imam Syafi’iy dan Abu Hanifah, tapi ada perbedaan antara mereka berdua pada satu hal, yaitu menurut Imam Syafi’iy boleh untuk melakukan akad nikahdengan perempuan yang berzina dan boleh ber-jima’ dengannya setelah akad, apakah orang yang menikahinya itu adalah orang yang menzinahinya itu sendiri atau selainnya.

Sedangkan Abu Hanifah berpendapat boleh melakukan akad nikahdengannya dan boleh ber-jima’dengannya, apabila yang menikahinya adalah orang yang menzinahinya itu sendiri. Tapi kalau yang menikahinya selain orang yang menzinahinya maka boleh melakukan akad nikah tapi tidak boleh ber-jima’ sampai istibro` (telah nampak kosongnya rahim dari janin) dengan satu kali haid atau sampai melahirkan kalau perempuan tersebut dalam keadaan hamil.

Dan yang benar dalam masalah ini adalah pendapat pertama yang wajib ‘iddah berdasarkan dalil-dalil berikut ini:

1. Hadits Abu Sa’id Al-Khudry radhiyallahu ‘anhu, sesungguhnya Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallambersabda tentang tawanan perang Authos:

لاَ تُوْطَأُ حَامِلٌ حَتَّى تَضَعُ وَلاَ غَيْرُ حَامِلٍ حَتَّى تَحِيْضَ حَيْضَةً

“Jangan dipergauli perempuan hamil sampai ia melahirkan dan jangan (pula) yang tidak hamil sampai ia telah haid satu kali.”(HR. Ahmad)

2. Hadits Ruwaifi’ bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam, beliau bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلاَ يَسْقِ مَاءَهُ زَرْعَ غَيْرِهِ

Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka jangan ia menyiramkan airnya ke tanaman orang lain.” (HR. Ahmad)

3. Hadits Abu Ad-Darda` riwayat Muslim dari Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam:

أَنَّهُ أَتَى بِامْرَأَةٍ مُجِحٍّ عَلَى بَابِ فُسْطَاطٍ فَقَالَ لَعَلَّهُ يُرِيْدُ أَنْ يُلِمَّ بِهَا فَقَالُوْا نَعَمْ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ لَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ أَلْعَنَهُ لَعْنًا يَدْخُلُ مَعَهُ قَبْرَهُ كَيْفَ يُوَرِّثُهُ وَهُوَ لاَ يَحِلُّ لَهُ كَيْفَ يَسْتَخْدِمُهُ وَهُوَ لاَ يَحِلُّ لَهُ.

"Beliau mendatangi seorang perempuan yang hampir melahirkan di pintu Pusthath. Beliau bersabda: “Barangkali orang itu ingin menggaulinya?” (Para sahabat) menjawab: “Benar.” Maka Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda: “Sungguh saya telah berkehendak untuk melaknatnya dengan laknat yang dibawa ke kuburnya. Bagaimana ia mewarisinya sedangkan itu tidak halal baginya dan bagaimana ia memperbudakkannya sedang ia tidak halal baginya.”

Berkata Ibnul Qayyim rahimahullah: “Dalam (hadits) ini ada dalil yang sangat jelas akan haramnya menikahi perempuan hamil, apakah hamilnya itu karena suaminya, tuannya (kalau ia seorang budak-pent.), syubhat(yaitu nikah dengan orang yang haram ia nikahi karena tidak tahu atau karena ada kesamar-samaran-pent.) atau karena zina.”

Nampaklah dari sini kuatnya pendapat yang mengatakan wajib ‘iddah dan pendapat ini yang dikuatkan oleh Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim, Asy-Syinqithy, Syaikh Ibnu Baz dan Al-Lajnah Ad-Daima.

Nampak dari dalil-dalil yang disebutkan di atas bahwa perempuan hamil karena zina tidak boleh dinikahi sampai melahirkan, maka ini ‘iddah bagi perempuan yang hamil karena zina dan ini juga ditunjukkan oleh keumuman firman Allah ‘Azza wa Jalla:

وَأُولَاتُ الْأَحْمَالِ أَجَلُهُنَّ أَنْ يَضَعْنَ حَمْلَهُنَّ

Dan perempuan-perempuan yang hamil waktu ‘iddah mereka sampai mereka melahirkan kandungannya.” (QS. Ath-Tholaq: 4)

Adapun perempuan yang berzina dan belum nampak hamilnya, ‘iddahnya diperselisihkan oleh para ‘ulama yang mewajibkan ‘iddah bagi perempuan yang berzina. Sebagian para ‘ulama mengatakan bahwa ‘iddahnya adalah istibro` dengan satu kali haid. Dan ‘ulama yang lainnya berpendapat: tiga kali haid yaitu sama dengan ‘iddah perempuan yang ditalak.

Dan yang dikuatkan oleh Imam Malik dan Ahmad dalam satu riwayat adalah cukup dengan istibro` dengan satu kali haid. Dan pendapat ini yang dikuatkan oleh Ibnu Taimiyah berdasarkan hadits Abu Sa’id Al-Khudry di atas. Dan ‘iddah dengan tiga kali haid hanya disebutkan dalam Al-Qur’an bagi perempuan yang ditalak (diceraikan) oleh suaminya sebagaimana dalam firman Allah Jalla Sya`nuhu:

وَالْمُطَلَّقَاتُ يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ ثَلاَثَةَ قُرُوْءٍ

Dan wanita-wanita yang dithalaq (hendaknya) mereka menahan diri (menunggu) selama tiga kali quru`(haid).” (QS. Al-Baqarah: 228)

KETERANGAN

1. Tidak boleh nikah dengan perempuan yang berzina kecuali dengan dua syarat yaitu, bila perempuan tersebut telah bertaubat dari perbuatan nistanya dan telah lepas ‘iddah-nya.

2. Ketentuan perempuan yang berzina dianggap lepas ‘iddahadalah sebagai berikut:

• Kalau ia hamil, maka ‘iddahnya adalah sampai melahirkan.

• Kalau ia belum hamil, maka ‘iddahnya adalah sampai ia telah haid satu kali semenjak melakukan perzinahan tersebut.

Telah jelas dari jawaban di atas bahwa perempuan yang hamil, baik hamil karena pernikahan sah, syubhat atau karena zina, ‘iddahnya adalah sampai melahirkan. Dan para ‘ulama sepakat bahwa akad nikah pada masa ‘iddah adalah akad yang batil lagi tidak sah.

Dan kalau keduanya tetap melakukan akad nikah dan melakukan hubungan suami-istri setelah keduanya tahu haramnya melakukan akad pada masa ‘iddah maka keduanya dianggap pezina dan keduanya harus diberi hadd (hukuman) sebagai pezina kalau negara mereka menerapkan hukum Islam, demikian keterangan Imam Ibnu Qudamah dalam Al-Mughny 11/242.

Jumhur (kebanyakan) ‘ulama berpendapat: “Perempuan tersebut tidak diharamkan baginya bahkan boleh ia meminangnya setelah lepas ‘iddah-nya.”

Dan mereka diselisihi oleh Imam Malik, beliau berpendapat bahwa perempuan telah menjadi harambaginya untuk selama-lamanya. Dan beliau berdalilkan dengan atsar ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu yang menunjukkan hal tersebut.

Dan pendapat Imam Malik ini juga merupakan pendapat dulu dari Imam Syafi’iy tapi belakangan beliau berpendapat bolehnya menikah kembali setelah dipisahkan. Dan pendapat yang terakhir ini zhohir yang dikuatkan oleh Ibnu Katsir dalam tafsir-nya dan beliau melemahkan atsar ‘Umar yang menjadi dalil bagi Imam Malik bahkan Ibnu Katsir juga membawakan atsar yang serupa dari ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu yang menunjukkan bolehnya. Maka sebagai kesimpulan pendapat yang kuat dalam masalah ini adalah boleh keduanya menikah kembali setelah lepas ‘iddah. Wal ‘Ilmu ‘Indallah.

3. Laki-laki dan perempuan hamil yang melakukan pernikahan dalam keadaan keduanya tahu tentang haramnya menikahi perempuan hamil kemudian mereka berdua tetap melakukan jima’ maka keduanya dianggap berzina dan wajib atas hukum hadd kalau mereka berdua berada di negara yang diterapkan di dalamnya hukum Islam dan juga tidak ada mahar bagi perempuan tersebut.

Adapun kalau keduanya tidak tahu tantang haramnya menikahi perempuan hamil maka ini dianggap nikah syubhat dan harus dipisahkan antara keduanya karena tidak sahnya nikah yang seperti ini sebagaimana yang telah diterangkan.

Adapun mahar, si perempuan hamil ini berhak mendapatkan maharnya kalau memang belum ia ambil atau belum dilunasi.

Hal ini berdasarkan hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda:

أَيُّمَا امْرَأَةٍ نَكَحَتْ بِغَيْرِ إِذْنِ وَلِيِّهَا فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ فَإِنْ دَخَلَ بِهَا فَلَهَا الْمَهْرُ بِمَا اسْتُحِلَّ مِنْ فَرْجِهَا فَإِنْ اشْتَجَرُوْا فَالسُّلْطَانُ وَلِيُّ مَنْ لاَ وَلِيَّ لَهَا

Perempuan mana saja yang nikah tanpa izin walinya, maka nikahnya batil, nikahnya batil, nikahnya batil, dan apabila ia telah masuk padanya (perempuan) maka baginya mahar dari dihalalkannya kemaluannya, dan apabila mereka berselisih maka penguasa adalah wali bagi yang tidak mempunyai wali.” (HR. Syafi’iy)

Nikah tanpa wali hukumnya adalah batil tidak sah sebagaimana nikah di masa ‘iddah hukumnya batil tidak sah. Karena itu kandungan hukum dalam hadits mencakup semuanya.

Demikian rincian Ibnu Qudamah, Ibnu Taimiyah dan Ibnul Qayyim.

Adapun orang yang ingin meminang kembali perempuan hamil ini setelah ia melahirkan, maka kembali diwajibkan maharatasnya berdasarkan keumuman firman Allah Ta’ala:

وَآتُوا النِّسَاءَ صُدَقَاتِهِنَّ نِحْلَةً

Berikanlah kepada para perempuan (yang kalian nikahi) mahar mereka dengan penuh kerelaan.” (QS. An-Nisa`: 4)

Dan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

فَآتُوْهُنَّ أُجُوْرَهُنَّ فَرِيْضَةً

Berikanlah kepada mereka mahar mereka sebagai suatu kewajiban.” (QS. An-Nisa`: 24)

Berkata Al-Hafizh Ibnu Hajar sebagaimana dalam Nailul Author : “‘Iddah adalah nama bagi waktu penungguan seorang perempuan dari menikah setelah suaminya meninggal atau (suaminya) menceraikannya. Apakah dengan melahirkan, quru` (yaitu haid menurut pendapat yang kuat-pen.) atau dengan beberapa bulan.”

Wallohua'lam Bisshowab

Hukum Menikahi Wanita yang telah Hamil, Menurut Islam

Berikut ini merupakan 5 macam Alam yang akan kita lalui dalam proses kehidupan manusia, yang semoga sedikit penjelasan ini akan membuat kita Introspeksi diri yang insyaallah semakin mendekatkan kita pada sang Khaliq (Pencipta). Adapun 5 macam Alam itu, yaitu sebagai berikut :

1. ALAM RUH


Manusia terdiri dari 2 kepribadian, yaitu pribadi Ruh dan pribadi Jasad, oleh karena itu secara teoritis dia bisa hidup dalam dua alam, yaitu alam roh dan alam duniawi. Pada awalnya sebelum kita terlahir di Dunia yang penuh dengan kisah, cerita susah atau senang dimana dunia penuh dengan hiasan, godaan dan ujian bagi setiap manusia.

2.ALAM RAHIM (KANDUNGAN)


Alam rahim adalah masa perpindahan sejak pertama dalam tulang sulbi para ayah dan rahim para ibu sebelum dilahirkan dimana masa kehidupan manusia sejak dalam tulang sulbi ayah dan rahim ibu sebelum dilahirkan. Ketika Allah SWT menciptakan Adam a.s.

Dia menyimpankan zurriyat di tulang punggungnya yaitu kaum “ahli kanan” (ahlulyamin) dan kaum ahli kiri (ahlul-syimal). Allah SWT pernah mengeluarkan semua zurriyat ini dari tulang punggung Adam a.s. pada hari mitsaaq (hari pengambilan janji manusia untuk mengakui keesaan dan ketuhanan Allah SWT di Na'man, sebuah lembah yang dekat padang Arafah). 

Mengenai hal ini Allah swt berfirman dalam surah al-A’raf ayat 172:

"Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Benar (Engkau adalah Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (anak-anak Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)".

Dalam surah Al-Mursalaat, juz keduapuluh sembilan, ayat 20 hingga 23 Allah Ta'ala berfirman.
Yang artinya : 

"Bukankah kami telah menciptakan kamu dari air (benih) yang sedikit (hina) dipandang orang. Lalu Kami jadikan air (benih) itu pada tempat penetapan yang kukuh (rahim ibu). Serta Kami tentukan keadaanya, maka Kamilah sebaik-baik yang berkuasa menentukan dan melakukan tiap-tiap sesuatu".


Dalam surah Al-Mu'minun,juz kelapan belas ayat 12, 13 & 14, Allah Ta'ala berfirman :

"Dan sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dari pati yang berasal dari tanah. (Pati yang berasal dari tanah, ialah pati makanan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan dan tanaman yang tumbuh di bumi).Kemudian Kami jadikan pati itu setitis air benih (air mani), pada tempat penetapan yang kukuh. Kemudian Kami ciptakan air benih itu menjadi sebuku darah beku lalu Kami ciptakan darah beku itu menjadi seketul daging, kemudian Kami ciptakan daging itu menjadi beberapa ketul daging, kemudian Kami ciptakan daging itu menjadi beberapa tulang, kemudian Kami balut tulang-tulang itu dengan daging. Setelah sempurna kejadian itu Kami bentuk ia menjadi makhluk yang lain sifat keadaannya (keadaannya yang asal serta ditiupkan roh padanya). Maka nyatalah kelebihan dan ketinggian Allah sebaik baik Pencipta".

Dalam surah Al-'Imran, juz ketiga ayat 6, Allah Ta'ala berfirman :

"Dia lah yang membentuk rupa kamu dalam rahim (ibu kamu) sebagaimana yang dikehendakiNya. Tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Kuasa, lagi Maha Bijaksana."

3.ALAM DUNIA


Alam Dunia adalah Masa kehidupan di dunia sejak dilahirkan dan diwafatkan oleh Allah SWT, dimana proses perpindahan dari Alam Rahim ke Alam Dunia bukanlah hal yang gampang. Selama sembilan bulan di alam rahim itu, janin tumbuh dan membentuk diri sehingga menjadi bentuk yang sempurna.

Dengan izin Allah SWT kita terlahir ke dunia ini dengan perjuangan ibu yang melahirkan kita antara hidup dan mati. Al-Quran menyebut perjuangan itu dengan istilah “wahnan ‘ala wahnin” (kelemahan di atas kelemahan), saking sakitnya proses melahirkan itu. Hanya karena izin Allah SWT kita bisa selamat terlahir ke dunia hingga hidup seperti sekarang ini.

Alloh berfirman :

"Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari (sari) tanah. Kemudian Kami jadikan (sari tanah) itu air mani yang tersimpan dalam tempat yang kukuh (rahim). Lalu Kami jadikan air mani itu segumpal darah, lalu gumpalan darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan Kami jadikan gumpalan daging itu tulang belulang, lalu Kami lapisi tulang belulang itu dengan daging. Kemudian Kami bentuk ia jadi mahluk yang lain. Maha Suci Allah, sebaik-baik Pencipta." (QS: Al-Mu’minun: 12-14.)

Di alam dunia ini kita juga melalui proses pertumbuhan dari tahun ke tahun. Ibnu Jauzi telah membagikan umur manusia pada lima masa:

1. Masa kanak-kanak; dari sejak dilahirkan hingga mencapai umur lima belas tahun.
2. Masa muda; dari umur limabelas tahun hingga umur tigapuluh lima tahun.
3. Masa dewasa; dari umur tigapuluh lima tahun hingga umur limapuluh tahun.
4. Masa tua; dari umur limapuluh tahun hingga umur tujuh puluh tahun.
5. Masa usia lanjut; dari umur tujuhpuluh tahun hingga akhir umur yang ditentukan oleh Allah SWT.

Pada tahap masa kanak-kanak berlaku masa keringanan dari Allah SWT yaitu belum adanya taklif (beban kewajiban) untuk mengerjakan solat dan puasa ataupun ibadah lainnya. Orang-orang yang sudah baligh atau sudah dewasa diwajibkan menyuruh mereka mengerjakannya karena kebaikan dan amal soleh dari anak yang belum baligh selain menjadi amal kebaikannya juga akan menjadi catatan pahala bagi ibu-bapanya selama kedua orang tuanya memperhatikan pendidikan dan pengasuhannya.

 Jika anak telah mencapai masa baligh dan telah sempurna akalnya maka ia telah menjadi mukallaf. Saat itulah segala kewajiban agama telah berlaku atas dirinya.
Pada tahap masa muda terjadi banyak perubahan baik fisik maupun non-fisik. Pada masa ini akan dipenuhi dengan semangat dan kekuatan serta memuncaknya vitalitas. 

Masa muda ini merupakan kesempatan untuk memperbanyak amal dan serta kebaikan. Namun kecenderungan yang terjadi adalah sebagian besar memanfaatkannya untuk pemuasan nafsu keduniaan. 

Dalam hal ini Rasullullah saw telah mengingatkan: 
"Rebutlah lima perkara sebelum terjadi lima perkara: Masa mudamu sebelum tiba masa tuamu, masa sehatmu sebelum tiba masa sakitmu, masa lapangmu sebelum tiba masa sibukmu, masa kayamu sebelum masa miskinmu dan masa hidupmu sebelum tiba masa ajalmu." (HR. Al-Hakim, Baihaqi, Ibnu Abi'ddunia, Ibnul-Mubarrak). 

"Takkan bergeser kedua kaki manusia pada hari kiamat sampai selesai ditanya tentang empat perkara:
1. Tentang nya, untuk apa dihabiskan
2. Tentang masa mudanya, untuk apa dipergunakan
3. Tentang hartanya, dari mana diperoleh dan untuk apa dibelanjakan.
4. Tentang ilmunya, apa yang sudah diperbuat dengannya. (HR. Tirmidzi).

4.ALAM BARZAH(KUBUR)


Alam kubur disebut juga dengan alam Barzakh. Ketika manusia meninggal, mereka akan menempati alam ini sampai hari kiamat tiba. Alam barzah adalah suatu dunia lain yang dimasuki seseorang setelah meninggal dunia untuk menunggu datangnya kebangkitan kembali pada hari kiamat. 

Pada alam kubur akan datang malaikat mungkar dan nakir untuk memberikan pertanyaan seputar keimanan dan amal perbuatan kita. Jika kita beriman dan termasuk orang baik, maka di dalam kubur akan mendapatkan nikmat kubur yang sangat menyenangkan daripada nikmat duniawi, sedangkan sebaliknya bagi orang yang tidak beriman kepada Allah SWT, siksa kubur praneraka yang pedih sudah menanti di depan mata.

Alam Barzah adalah kurun waktu (periode) di antara saat kematian manusia di dunia ini dengan saat pembangkitan (dihidupkannya kembali) manusia di Hari Pembalasan. Kita tidak mengetahui apa yang terjadi di dalam periode ini. Namun demikian, kita dapat menyimak dari berbagai ayat didalam kitab suci Al-Qur-an dan Hadits Nabi Muhammad SAW mengenai periode ini. 

Sebagai contoh, Allah SWT berfirman dalam Surat Al-An’aam Ayat 93 :

Jika saja kamu dapat melihat betapa dahsyatnya saat orang-orang zalim didalam sakaratul maut, Para malaikat memukul dengan tangan mereka (seraya berkata), “Keluarkanlah nyawamu! Di hari ini kamu akan dibalas dengan siksa yang menghinakan; karena perkataan-perkataanmu yang selama ini kamu ucapkan perihal Allah yang tidak benar, dan kamu selalu sombong terhadap petunjuk (ayat-ayat)-Nya.”

Jelaslah dari ayat ini bahwa manusia bisa mendapatkan hukuman diwaktu kematian mereka. Dan dalam sebuah hadits Asma bin Abu Bakar RA meriwayatkan:

"bahwa pada suatu hari Nabi Muhammad SAW menasehati umat dan menjelaskan perihal siksa kubur. Ketika beliau menjelaskan hal ini, semua orang beriman mulai menangis dengan kerasnya, sehingga terciptalah suasana seperti berbaurnya beraneka-ragam ratap-tangis". (Bukhari).

5.ALAM AKHIRAT


Alam akhirat adalah Masa kehidupan di alam yang kekal dalam kenikmatan syurga atau dalam kepedihan neraka. Seseorang tidak mungkin memiliki pengetahuan yang sempurna mengenai persoalan-persoalan yang belum ia alami atau belum mengetahuinya secara hudhuri, atau belum ia sentuh dengan indranya. 

Berangkat dari kenyataan ini, kita tidak dapat meyakini hakikat alam akhirat dan keadaan-keadaannya secara detail dan sempurna, kita juga tidak dapat menyingkap hakikat-hakikatnya. Meski begitu, kita bisa mengetahui sifat-sifat akhirat melalui akal atau wahyu. Adapun sarana untuk mengetahui sifat-sifat tersebut kita dapat mengenalnya melalui ciri-ciri dari alam akhirat, yaitu :

1. Alam akhirat bersifat kekal dan abadi
2. Alam akhirat merupakan wadah yang pasti untuk terealisasinya kenikmatan dan kasih sayang yang seutuhnya, tanpa ada kesusahan dan kelelahan di dalamnya, sehingga orang-orang yang telah mencapai tingkat kesempurnaan insaninya dapat menikmati kebahagiaan itu. 

Alam tersebut tidak dicemari oleh maksiat dan penyelewengan apapun. Berbeda dengan dunia yang di dalamnya kebahagiaan yang seutuhnya tidak mungkin terwujud. Yang hanya terwujd di dunia adalah kebahagiaan semu dan bercampur dengan berbagai kesulitan dan kesengsaraan.

3. Alam akhirat setidaknya meliputi dua bagian yang terpisah, yang pertama adalah rahmat, dan yang kedua adalah siksa, sehingga dapat dibedakan orang-orang yang baik dari orang-orang yang jahat, dan masing-masing mendapatkan balasan perbuatannya.Kedua bagian ini biasa dikenal dalam syariat dengan istilah surga dan neraka.

4. Alam akhirat itu luas sehingga bisa menampung pahala dan siksa bagi seluruh umat manusia atas segala apa yang mereka lakukan, berupa amal baik dan amal buruk. Misalnya, ketika seseorang melakukan pembunuhan atas jutaan manusia yang tidak bersalah, hukuman siksa terhadapnya semestinya bisa terjadi di alam itu.

Begitu pula sebaliknya, jika seseorang menyelamatkan nyawa jutaan umat manusia, ia dapat menerima pahala setimpal yang terdapat di alam tersebut.

5. Alam akhirat itu merupakan tempat pembalasan, bukan tempat pembebanan tugas dan tanggung jawab.

Wallohua'lam Bisshowab

Proses Perjalanan Ruh Manusia ke pada 5 Alam yang berbeda

Tumbuhan Penangkal Ilmu Santet memang tidak semua orang mengetahuinya, namun ini sangat diperlukan ketika Anda merasa dalam bahaya terhadap ilmu santet. Santet atau disebut juga dengan guna-guna atau jampi-jampi merupakan suatu cara mistis untuk menyakiti seseorang secara gaib.

Di Indonesia sendiri ada beberapa santet yang sering di gunakan orang, ada yang tidak terlihat, yaitu melalui kejiwaan seseorang, dan ada yang terlihat, berupa seperti luka pada anggota tubuh sampai membuat anda cacat seumur hidup.

Santet sendiri merupakan ilmu yang gaib, dan lebih dekat dengan alam, dan santet tidak hanya ada di Indonesia, bahkan di luar negeri ilmu santet sangat kerap digunakan. Jika anda pernah menonton film hantu, maka anda akan sedikit mengetahui trik-trik yang menyeramkan.

Santet sangat dekat dengan alam, dan berikut, ada beberapa macam tanaman yang selama ini dikenal sejumlah orang memiliki aura penangkal ilmu hitam. Akan tetapi, sebagian harus diperhatikan letak tanamannya agar aura yang dimiliki bisa melindungi Anda sebagai pemilik rumah.

Berikut ini adalah Tanaman dan Tumbuhan yang Insyaalloh bisa menangkal pengaruh buruk dari Ilmu Hitam dan sejenisnya ;

BAMBU KUNING


Pohon bambu ini biasanya dijadikan orang sebagai pagar, selain memiliki daun yang hijau mengkilat dan warna batang yang kuning serta ruas yang hampir sejajar, bambu ini juga memiliki aura yaitu dipercaya mampu menolak maling atau pencuri. Selain disebut dengan bambu kuning, tanaman ini juga memiliki nama ilmiah, yaitu bambusa vulgaris.

BUNGA MAWAR

Bunga yang dijuluki lambang cinta ini memiliki batang yang penuh duri, dan mempunyai kekuatan yang mampu menyerap hawa-hawa negatif, termasuk menangkal serangan santet.

Hawa negatif yang berhasil diserapnya akan langsung dibuang ke dalam tanah dan kembali ke tanah. Sarannya, jangan ditanam di depan rumah, karena hawa negatif yang sudah dimasukkan ke dalam tanah, akan terlangkahi kita sebagai penghuni rumah. Dan bila ini terjadi, maka Anda penghuni rumah akan mendapatkan musibah kiriman orang lain.

BUNGA KAKTUS

Tanaman yang kebanyakan tumbuh didaerah pergunungan kering ini memiliki kekuatan yang sama seperti bunga mawar, mampu menangkal santet dan hawa-hawa negatif lain.

Namun kekuatan ini hanya bisa keluar bila Anda menanamnya atau menaruhnya di luar rumah, seperti di belakang, di depan, atau di samping rumah. Jika anda meletakkan di dalam rumah, tidak berguna, dan sebagian orang berkata, akan menolak datangnya rejeki kerumah Anda.

POHON PINANG MERAH

Di Indonesia, tanaman ini disebut dengan pinang merah, kenapa demikian?, karena buahnya yang merah. Dan tanaman tumbuhan ini memiliki nama lain, secara ilmiah disebutkan sebagai cyrtostachys lakka, dan sejumlah orang mempercayai sebagai penolakan serangan black magic atau ilmu hitam, yang ditujukan untuk penghuni rumah.

BUNGA KEMUNING JAWA

Di Indonesia, tepatnya di pulau jawa disebut dengan bunga kemuning jawa, dan tanaman ini juga memiliki nama ilmiah, yaitu Murraya Paniculata, yang juga dipercaya mampu menolak kekuatan black magic atau ilmu hitam.

Di sisi lain, didunia obat tradisional atau obat kampung, tanaman bunga ini dapat mengobati beberapa penyakit seperti bisul, rematik, memar, sakit gigi, radang buah zakar, infeksi saluran kencing, dan beberapa penyakit lainnya.

TEBU WULUNG

Tanaman tebu ini kegunaannya sama seperti pinang merah dan kemuning jawa, dan dapat ditanam dimanapun, dengan warna kulit dan daun berwarna hitam, ini dapat menangkal ilmu-ilmu hitam yang mengancam penghuni rumah.

Tebu ini memiliki tuah yang luar biasa, dimana sejumlah paranormal biasanya menggunakan tanaman yang memiliki nama latin Saccharum officniarum tersebut sebagai media penyembuhan pasien.

POHON SERUT

Tanaman ini merupakan salah satu pohon yang paling digemari para kolektor bonsai atau tanaman hias, dan biasanya tanaman ini sering kali diletakkan orang di ruangan-ruangan atau halaman-halaman yang strategis untuk mempercantik ruangan dan halaman tentunya.

Namun dibalik semua itu, pohon ini berguna untuk menghilangkan niat jahat yang mengancam penghuni rumah. Dapat ditanam dimanapun Anda suka, dan khasiat pohon bonsai atau dengan nama lain Camona retusa ini akan muncul.

Ada beberapa tanaman lain yang memiliki aura serupa, selain mengusir ilmu-ilmu santet, pohon ini juga mampu mendinginkan hawa panas. Sejumlah orang percaya, mampu mengusir binatang berbisa dan ancaman orang jahat yang memiliki niat mencuri.

JAMBU DERSONO

Tanaman jambu yang mempunyai ciri seperti jambu air ini memiliki aura yang sangat kuat. Dengan kekuatan aura yang dimiliki dan dikeluarkannya, tanah yang awalnya panas, bila ditanami jambu ini akan berubah menjadi hoki.

Aura yang dimilikinya juga dapat mendatangkan rejeki bagi sang pemiliknya atau penghuni rumah dimana dia tumbuh. Di sejumlah kraton, pohon jambu yang memiliki nama latin Eugenia malaccencis ini juga menjadi simbol 'kadersan sih ing sesama', yang mencitrakan kasih dan cinta satu sama lainnya.

KEMBANG COCOR BEBEK

Anda pasti kenal dengan bunga yang satu ini, Cocor Bebek memiliki nama latin, yaitu Kalanchoe pinnata, dan memiliki kekuatan hampir sama dengan jambu dersono, mampu mendinginkan tanah yang panas.

Di beberapa daerah di Indonesia, cocor bebek biasanya digunakan sebagai obat sakit kepala, batuk, sakit dada, borok, demam, luka, dan memperlancar haid wanita serta dapat mengobati bisul.

POHON TANJUNG

Tanaman ini memiliki daun yang rimbun, dan biasanya ditanam dipinggir jalan dengan daun yang menyerupai daun beringin dan berbuah mirip buah melinjo ini sudah sejak lama dipercaya orang terdahulu mampu mengusir gangguan ular berbisa. Selain pohonnya yang besar, pohon bernama ilmiah Mimusopselengi ini memiliki makna tersendiri yaitu agar selalu disanjung-sanjung selalu.

Itulah beberapa tips untuk menangkal pengaruh dari ilmu Hitam, Santet dan sejenisnya memakai Tanaman dan Tumbuhan.

Semoga tulisan ini bisa bermanfaat.
Amin ya Robbal Al-Amin

Jenis Tumbuhan dan Tanaman inilah yang dapat menangkal Ilmu Sihir, Santet dan Pelet


Penciptaan Nabi Adam a.s. adalah kisah penciptaan manusia yang pertama. Peristiwa tersebut disebut dalam al-Qur’an dan hadits Rasulullah Muhammad saw.

Ketika Allah berfirman kepada malaikat:

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” . (Surat Al Baqarah [2]: 30)

PENGAMBILAN TANAH DI BUMI

Allah telah memerintahkan Malaikat Jibril turun ke Bumi untuk mengambil sebagian kecil tanah sebagai bahan untuk menjadikan Adam, manusia pertama di Bumi.

Walau bagaimanapun, Bumi enggan membenarkan tanahnya diambil, malah Bumi bersumpah dengan nama Allah bahwa Bumi tidak rela untuk menyerahkannya kerena kebimbangannya, mirip seperti yang dibimbangkan oleh para malaikat. Ternyata, Bumi tak mau memberikan tanahnya, maka Jibril kembali ke hadapan Allah setelah mendengar sumpah Bumi tersebut.

Lalu Allah mengutuskan malaikat kedua, yaitu Malaikat Izrafil. Maka Izrafil pun turun ke Bumi untuk mengambil sedikit tanah guna penciptaan Adam, sebagai manusia pertama di Bumi.

Tapi ternyata Malaikat Izrafil juga kembali ke hadapan Allah, karena juga tidak diberikan oleh Bumi, ia tak berdaya dan tak bisa berbuat apa-apa akibat sumpah demi Allah yang dibuat oleh Bumi.

Maka, Allah memerintahkan malaikat ketiga, yaitu Malaikat Izrail untuk melakukan tugas tersebut, dan Allah menugaskan Izrail mendesak Bumi agar tidak menolak walaupun Bumi bersumpah, karena tugas tersebut dijalankan atas perintah dan nama Allah.

Maka, Izrail turun ke Bumi dan mengatakan bahwa kedatangannya adalah atas perintah Allah dan memberi amanat kepada Bumi untuk tidak membantah, yang memungkinkan Bumi mendurhakai Allah.

Menurut Ibnu Abbas, tanah bumi dan syurga, digunakan untuk dijadikan bahan mencipta Adam. Berikut adalah tanah-tanah yang sebagian wilayahnya disebut sebagai bagian dari negara atau wilayah Bumi pada masa kini. Tanah tersebut adalah:

Tanah Baitulmuqaddis (Palestina) – kepala sebagai tempat kemuliaan untuk diletakkan otak dan akal.
Tanah Bukit Tursina (Mesir) – telingasebagai tempat mendengar dan menerima nasihat.
Tanah Iraq – dahi sebagai tempat sujud kepada Allah.
Tanah Aden (Yaman) – muka sebagai tempat berhias dan kecantikan.
Tanah telaga Al-Kautsar – mata sebagai tempat menarik perhatian.
Tanah Al-Kautsar – gigi sebagai tempat memanis-manis.
Tanah Kaabah (Makkah) – tangan kanan sebagai tempat mencari nafkah dan bekerjasama.
Tanah Paris (Perancis) – tangan kiri sebagai anggota untuk melakukan istinjak.
Tanah Khurasan (Iran) – perut sebagai tempat berlapar.
Tanah Babilon (Iraq) – kelamin sebagai organ seks dan tempat bernafsu serta godaan syaitan.
Tanah Tursina (Mesir) – tulang sebagai peneguh manusia.
Tanah India – kaki sebagai anggota tubuh untuk berdiri dan berjalan.
Tanah Firdaus (Syurga) – hati sebagai tempat keyakinan, keimanan, dan kemahuan.
Tanah Taif (Arab Saudi) – lidah sebagai tempat untuk mengucapkan syahadah, syukur dan do’a.

Sesungguhnya tanah yang akan dijadikan “tubuh Adam” adalah tanah pilihan. Maka sebelum dijadikan patung, tanah itu dicampurkan dengan rempah-rempah dan wangi-wangian dari sifat Nur sifat Allah, dan diresmikan dengan air hujan “Barul Uluhiyah”.

PENYEMPURNAAN WUJUD ADAM

Tubuh Adam mempunyai sembilan rongga atau liang. Tujuh liang di kepala dan dua dibawah badan yaitu dua mata, dua telinga, dua hidung, satu mulut, satu dubur dan satu uretra.

Lima panca indera dilengkapi dengan anggota tertentu seperti mata untuk penglihatan, telinga untuk pendengaran, hidung untuk pengesanan bauan, lidah untuk perasa seperti asam, asin, manis dan pahit dan kulit untuk sentuhan bagi panas, dingin, tekanan, viskositas dan sakit.

Ketika Allah menjadikan tubuh Adam, tanah dicampurkan dengan air tawar, asin dan anyir beserta api dan angin.

Kemudian Allah resapkan Nur ke dalam tubuh Adam dengan berbagai “sifat”. Lalu tubuh Adam digenggam dengan genggaman Jabarut dan diletakkan di dalam Alam Malakut.

Tanah itu dicampurkan lagi dengan istilah wewangian dan ramuan dari Nur-Sifat Allah dan dirasmi dengan “Bahrul Uluhiyah“.

Kemudian, tubuh tersebut dibenamkan dalam “Kudral ‘Izzah” yaitu sifat “Jalan dan Jammal” lalu disempurnakan tubuh tersebut.

Waktu kejadian, manusia belum disebut, berapa lama masanya, melalui cara apa, seperti dalam al-Quran suraj Al Insaan (manusia):

Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut?” (Surat Al Insaan [76]:1)

Menurut keterangan ulama, tubuh Adam diselubungi dalam tempo 120 tahun, 40 tahun di tanah yang kering, 40 tahun di tanah yang basah dan 40 tahun di tanah yang hitam dan berbau.

Dari situ, Allah ubah tubuh Adam dengan rupa kemuliaan dan tertutuplah dari rupa hakikatnya. Karena proses kejadian itu melalui peringkat yang “kotor”, tidak heran Malaikat dan Iblis memandang rendah akan kejadian manusia yang diciptakan dari tanah.

Izrail yang mengambil tanah, maka Izrail pula yang akan mencabut Rohnya

Ketika Izrail berhasil mengambil tanah dari Bumi, lalu Israil kembali mengadap Allah.

Allah berfirman: “Wahai Israil! Engkau yang Ku-tugaskan untuk mengambil tanah, dan kelak engkau pula yang Aku tugaskan untuk mencabut nyawa manusia”.

Lalu Israil berkata: ”Wahai Tuhanku! Hamba takut akan dibenci oleh seluruh anak Adam!”

Allah menjawab melalui firman-Nya: ”Tidak!, Mereka (manusia) tidak akan memushi engkau”. Aku yang mengaturnya. Lalu Aku jadikan ada sebab untuk mendatangkan kematian mereka seperti terbunuh, terbakar dan sebagainya”.

MASUKNYA ROH ADAM

Roh diperintah Allah untuk memasuki jasad Adam, tetapi seperti makhluk lain, roh itu enggan, malas dan segan karena jasad yang seperti batu. Dikatakan ruh berputar mengelilingi jasad Adam sambil disaksikan malaikat.

Kemudian, Allah memerintahkan Malaikat Izrail untuk memaksa roh memasuki ke dalam tubuh Adam tersebut. Ia memasukkannya ke dalam tubuh dan roh secara perlahan-lahan masuk hingga ke kepalanya yang mengambil masa 200 tahun.

Setelah meresapi ke kepala Adam, maka berfungsilah otak dan tersusunlah urat saraf dengan sempurna. Lalu, terbukalah mata dan  melihat tubuhnya yang masih keras dan juga melihat malaikat di sekelilingnya.

Telinga mulai berfungsi dan didengarnya kalimah tasbih para malaikat. Apabila roh tiba ke hidung, lalu ia bersin dan mulutnya juga terbuka. Allah mengajarkan kalimah “Alhamdulillah” yang merupakan kalimah pertama yang diucapkan Adam, dan Allah sendiri yang membalasnya.

Kemudian, roh tiba ke dadanya, lalu Adam berkeinginan untuk bangun padahal tubuhnya yang bawah masih keras membatu. Ketika itu ditunjukkan sifat manusia yang terburu-buru.

Dan manusia mendo’a untuk kejahatan sebagaimana ia mendo’a untuk kebaikan. Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa”. (Al-Israa’ [17]:11)

Ketika roh sampai di perut, maka organ dalam dan perut tersusun sempurna dan saat itu Adam mula merasakan lapar. Akhirnya, roh meresap ke seluruh tubuh Adam, tangan dan kaki dan berfungsilah dengan sempurna segala darah, daging, tulang, urat saraf dan kulit. Urat-urat berkulit dengan sempurna, yang mana kulit itu kian lama kian cantik dan halus.

Menurut riwayat, kulit Adam sangat baik ketika itu, jika berbanding kulit manusia pada masa kini. Kerena Adam telah diturunkan ke dunia, terjadilah perubahan pada warna kulitnya.

Sebagai peringatan, yang masih tertinggal warnanya hanyalah pada kuku manusia. Oleh karena itu, meskipun orang kulitnya hitam, tetapi warna kukunya adalah sama, ialah putih kemerah-merahan.

Dengan itu, sempurnalah sudah kejadian manusia pertama, dan Adam digelar sebagai “Abul Basyar” yaitu Bapak Manusia. Walau bagaimanapun, hanya Nabi Muhammad s.a.w. mendapat gelaran “Abul Ruh” atau “Abul Arwah” iaitu Bapak segala Roh.

Wajahnya Nabi Adam a.s. cukup cantik rupawan, semua malaikat berasa kagum melihat Adam yang begitu menawan. Kemudian Adam diarak oleh malaikat-malaikat selama 100 tahun lalu diperkenalkan kepada seluruh penghuni jagat raya, dari langit pertama hingga ke langit ketujuh, sebelum dibawa kembali ke syurga tempat awalnya Adam diciptakan.

Wallohua'lam Bisshowab

Kisah Penciptaan Adam, Pengambilan Tanah Oleh Para Malaikat


Ada banyak hadis yang menjelaskan bahwa dalam hubungan suami istri hendaknya dilakukan dengan pemanasan terlebih dahulu, atau dalam bahasa sekarang istilahnya adalah 'foreplay'.

Rasulullah SAW Bersabda :

"Janganlah antara kamu melakukan hubungan badan dengan isterinya seperti binatang. Sebaiknya mereka melakukan dua perkara terlebih dulu." Sahabat bertanya, apa dua perkara itu? Rasulullah menjawab "kecupan dan kata-kata mesra” (Hadis riwayat Dailami).

Dalam hadis tersebut nampak bahwa ada hal tentang seks yang tidak difahami oleh sahabat, sehingga kemudian mereka bertanya lalu Rasulullah SAW menjelaskan. Dari hadis ini dapat diambil pelajaran bahwa menjadi tanggung jawab bagi seorang pemimpin dan guru untuk menerangkan sesuatu yang kurang difahami dalam soal hubungan kelamin / seks, dan hal ini bukanlah sesuatu yang memalukan.

Dalam hadis lain yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari meriwayatkan:

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ :
كُنْتُ أَغْتَسِلُ أَنَا وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ إِنَاءٍ وَاحِدٍ كِلَانَا جُنُبٌ وَكَانَ يَأْمُرُنِي فَأَتَّزِرُ فَيُبَاشِرُنِي وَأَنَا حَائِضٌ صحيح البخاري (1/ 499)

Dari Aisyah berkata, "Aku dan Nabi SAW pernah mandi bersama dari satu wadah. Ketika itu kami berdua sedang junub. Baginda juga pernah memerintahkan aku memakaikan kain, lalu beliau mencumbuiku sedangkan aku sedang haid.”

Dari hadis ini juga menjadi jelas bahwa bercumbu antara suami istri diperbolehkan dalam keadaan istri sedang haid.

Para sahabat juga pernah membicarakan tentang hubungan seks suami isteri bila terdapat keadaan memerlukan, seperti riwayat di bawah ini:

و حَدَّثَنِي عَنْ مَالِك عَنْ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ أَبَا مُوسَى الْأَشْعَرِيَّ فَقَالَ:

إِنِّي مَصِصْتُ عَنْ امْرَأَتِي مِنْ ثَدْيِهَا لَبَنًا فَذَهَبَ فِي بَطْنِي فَقَالَ أَبُو مُوسَى لَا أُرَاهَا إِلَّا قَدْ حَرُمَتْ عَلَيْكَ فَقَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْعُودٍ انْظُرْ مَاذَا تُفْتِي بِهِ الرَّجُلَ فَقَالَ أَبُو مُوسَى فَمَاذَا تَقُولُ أَنْتَ فَقَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْعُودٍ لَا رَضَاعَةَ إِلَّا مَا كَانَ فِي الْحَوْلَيْنِ فَقَالَ أَبُو مُوسَى لَا تَسْأَلُونِي عَنْ شَيْءٍ مَا كَانَ هَذَا الْحَبْرُ بَيْنَ أَظْهُرِكُمْ

Dari Malik dari Yahya bin Sa'id berkata, "Seorang lelaki bertanya kepada Abu Musa Al Asy'ari; "Aku pernah menghisap payudara isteriku hingga air susunya masuk ke dalam perutku. Abu Musa menjawab; Menurutku isterimu setatusnya telah berubah menjadi mahrammu." Abdullah bin Mas'ud pun berkata; "Lihatlah (Bagaimana) kamu boleh berfatwa begini kepada lelaki ini?!" Abu Musa bertanya; "Bagaimana pendapatmu dalam hal ini?" Abdullah bin Mas'ud berkata; "Tidak berlaku hukum penyusuan kecuali bila masih pada masa penyusuan. (sebelum bayi berumur 2 tahun sahaja)" Kemudian Abu Musa berkata; "Janganlah kamu semua menanyakan suatu perkara kepadaku selagi orang alim ini (Ibnu Mas'ud) masih berada bersama."

Dari perbincangan para sahabat tersebut menjadi jelas bagaimana tentang perkara bercumbu suami istri yang menyebabkan air susu istri tertelan oleh suami.

Fatwa Imam Malik, yang juga pernah memberikan kuliah sebagai berikut:

وَقَالَ ) الْإِمَامُ ( مَالِكُ ) بْنُ أَنَسٍ ( لَا بَأْسَ بِالنَّخْرِ عِنْدَ الْجِمَاعِ كشاف القناع عن متن الإقناع (17/ 409)

"Imam Malik berkata; Tidak mengapa desahan/mengerang panjang ketika berjimak (berhubungan suami istri) " (Kassyaf Al-Qina’'An Matni Al-Iqna, vol.18 ms 409)

Perkara ini barangkali tidak ada di dalam hadis, namun demikian Imam Malik merasa perlu menjelaskannya kembali supaya tidak terjadi kebingungan di kalangan murid dan pengikutnya.

Imam Abu Hanifah (Hanafi). As-Syarbini dalam kitabnya Mughni Al-Muhtaj mengambil riwayat dialog antara Abu Hanifah dengan muridnya Abu Yusuf;

سَأَلَ أَبُو يُوسُفَ أَبَا حَنِيفَةَ عَنْ مَسِّ الرَّجُلِ فَرْجَ زَوْجَتِهِ وَعَكْسِهِ ، فَقَالَ : لَا بَأْسَ بِهِ ، وَأَرْجُو أَنْ يَعْظُمَ أَجْرُهُمَا مغني المحتاج (12/ 68)

"Abu Yusuf bertanya kepada Abu Hanifah tentang seorang lelaki yang saling sentuh menyentuh (untuk merangsang) kemaluan dengan isterinya. Abu Hanifah menjawab; Tidak mengapa, dan aku berharap pahala keduanya besar." (Mughni Al-Muhtaj, vol.12 ms 68)

Sehebat-hebat Imam Hanafi, Imam Mazhab yang pertama, sebelum kedatangan Imam Malik dan Imam Syafi'i pun membincangkan soal seks dan menjadi catatan hingga sampai kepada kita. Peliknya ada seorang di akhir zaman menolak perbincangan ini.

Penjelasan dari Imam At-Thabari, meriwayatkan;

عن ليث قال: تذاكرنا عند مجاهد الرجل يلاعب امرأته وهي حائض، قال: اطعن بذكرك حيث شئت فيما بين الفخذين والأليتين والسرة، ما لم يكن في الدبر أو الحيض تفسير الطبري (4/ 380)

"Dari Laits beliau berkata; kami berbincang dekat Mujahid tentang seorang lelaki yang mencumbu isterinya ketika haid. Mujahid berkata; "Tusukkan zakarmu di manapun yang engkau hendak di celah dua paha, dua punggung dan pusat. Selagi tidak di dubur atau di faraj ketika haid” (tasfir At-Thobari, vol; 4 ms 380)

Dari kisah-kisah di atas, nampak bahwa salah satu tugas ulama/guru/pemimpin adalah menjelaskan penerapan seks dalam Islam kepada para pengikutnya.

Hubungan seks antara suami istri dalam Islam selain membawa kesenangan bagi kedua suami istri, juga dihitung kegiatan yang berpahala. Penjelasannya dapat dilihat pada hadis berikut:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Jika kalian bersetubuh dengan istri-istri kalian termasuk sedekah!.” Mendengar sabda Rasulullah itu para shahabat keheranan dan bertanya: “Wahai Rasulullah, seorang suami yang memuaskan nafsu birahinya terhadap istrinya akan mendapat pahala ?” Nabi shallallahu alaihi wa sallam menjawab: “Bagaimana menurut kalian jika mereka (para suami) bersetubuh dengan selain istrinya, bukankah mereka berdosa .? “Jawab para shahabat : “Ya, benar”. Beliau bersabda lagi : “Begitu pula kalau mereka bersetubuh dengan istrinya (di tempat yang halal), mereka akan memperoleh pahala!”. (Hadits Shahih Riwayat Muslim, Ahmad dan Nasa’i).

Keterangan lain yang lebih panjang tentang hadis ini:

Dari Abu Dzar r.a. berkata, bahwasanya sahabat-sahabat Rasulullah saw. berkata kepada beliau: “Wahai Rasulullah saw., orang-orang kaya telah pergi membawa banyak pahala. Mereka shalat sebagaimana kami shalat, mereka berpuasa sebagaimana kami berpuasa, namun mereka dapat bersedekah dengan kelebihan hartanya.” Rasulullah saw. bersabda, “Bukankah Allah telah menjadikan untukmu sesuatu yang dapat disedekahkan? Yaitu, setiap kali tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, menyuruh pada kebaikan adalah sedekah, melarang kemungkaran adalah sedekah, dan hubungan intim kalian (dengan isteri) adalah sedekah.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah salah seorang di antara kami melampiaskan syahwatnya dan dia mendapatkan pahala?” Rasulullah saw. menjawab, “Bagaimana pendapat kalian jika ia melampiaskan syahwatnya pada yang haram, apakah ia berdosa? Demikian juga jika melampiaskannya pada yang halal, maka ia mendapatkan pahala.” (HR. Muslim)

Jadi dengan demikian rupanya seks yang halal dalam Islam itu bukan hanya membawa kesenangan dunia, namun juga akan menjadi pahala yang diperhitungkan sebagai kesenangan di akhirat kelak.

ISTRI HORMATI SUAMI

Cukup terkenal hadis yang menyebutkan bahwa kalau Allah memerintahkan orang untuk sujud, maka Rasulullah akan perintahkan seorang istri untuk sujud pada suaminya.

seorang istri yang baik selalu menghormati suaminya, berikut kisah yang menguatkan hal tersebut:

Seekor unta mendekati Nabi shallallahu 'alaihi wasallam lalu ia merunduk sebagai ungkapan sujud kepada beliau, maka para sahabat berkata, “Rasulullah, hewan dan tumbuhan sujud kepadamu, semestinya kamilah yang lebih berhak untuk sujud kepadamu.” Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, “Sembahlah Rabb kalian, muliakanlah saudara kalian, kalau aku memerintahkan seseorang untuk sujud kepada seseorang tentulah aku perintahkan istri bersujud kepada suaminya.”

BERMESRAAN SUAMI ISTRI DI BULAN RAMADHAN

Nasihat dari Ibnu Abbas tentang pergaulan suami istri di bulan Ramadhan (bulan puasa):

“Dari Said bin Jubeir bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Ibnu Abbas: ‘Aku menikahi seorang putri anak paman saya, ia seorang yang cantik. Saya membawanya pada bulan Ramdhan.
Maka bolehkah bagi saya menciumnya?

Ibnu Abbas menjawab: “Apakah engkau bisa menahan hawa nafsu?’
dia menjawab: ‘Ya,’
Ibnu Abbas berkata: “Ciumlah!”
Laki-laki itu betanya lagi: ‘Bolehkah saya bercumbu dengannya?’
Ibnu Abbas bertanya: ‘Bisakah engkau meredam nafsumu?’
Laki-laki itu menjawab: ‘Ya.’
Ibnu Abbas berkata: ‘Bercumbulah.”
Laki-laki itu bertanya lagi: ‘Bolehkah tangan saya memegang kemaluannya?’
Ibnu Abbas bertanya: ‘Bisakah engkau meredam nafsumu?’
Laki-laki itu menjawab: ‘Ya.’
Ibnu Abbas berkata: ‘Peganglah.”

Taat dan selalu berbakti pada suami merupakan kewajiban seorang istri, selama bukan untuk bermaksiat kepada Allah SWT. Bahkan ketaatan istri pada suami serta mengakui hak suami pahalanya disamakan dengan jihad di jalan Allah. Namun sayang, hanya sedikit dari para wanita yang melakukannya.

Ada beberapa perkara yang jika dikerjakan maka akan membawa seorang wanita untuk memasuki surga, seperti hadis berikut: Nabi SAW bersabda yang bermaksud:

"Apabila seorang isteri telah mendirikan sholat lima waktu dan berpuasa bulan Ramadhan dan memelihara kehormatannya dan mentaati suaminya, maka diucapkan kepadanya: Masuklah Surga dari pintu surga mana saja yang kamu kehendaki." (Riwayat Ahmad dan Thabrani)

Memelihara kehormatan ini artinya menjaga kemaluan, menjauhkan diri dari berhubungan seks dengan selain suaminya.

Suami merupakan surga dan neraka seorang istri. Apabila istri taat pada suami, maka surga yang ia dapatkan, tetapi jika mengabaikan hak suami, tidak taat padanya, maka hal itu dapat menjatuhkannya ke dalam neraka. Sebagaimana sabda Rasulullah dalam sebuah haditsnya,

Perhatikanlah bagaimana hubunganmu dengannya, karena suamimu merupakan surgamu dan nerakamu.” (Riwayat Ibnu Abi Syaiban, an-Nasai, Ahmad, al-Hakim, al-Baihaqi, dari bibinya Husain bin Mihshan ra, Adz-Dhahabi)

Mentaati suami ini maksudnya adalah mematuhi segala perintah suami dalam keadaan apapun. Salah satu hal yang perlu ditaati oleh istri adalah ajakan dari suami untuk berhubungan seks. Istri wajib melayani suami dengan baik, termasuk masalah berjima’. Istri tak boleh menolak, kecuali jika ia sakit atau memiliki udzur yang membuat tak bisa melakukan kewajiban tersebut.

Sabda Rasulullah SAW, “Apabila seorang suami mengajak istri ke tempat tidur (untuk berjima’), dan istri menolak (sehingga membuat suaminya murka), maka si istri akan dilaknat oleh malaikat hingga (waktu) subuh.”(Diriwayatkan Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud, an-Nasa’I, ad-Darimi dan al-Baihaqi, dari Abu Hurairah ra)

Dalam haditsnya yang lain Rasulullah bersabda:
 “Demi Allah, yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, seorang wanita tidak akan bisa menunaikan hak Allah sebelum ia menunaikan hak suaminya. Andaikan suami meminta dirinya padahal ia sedang berada di atas punggung unta, maka ia (istri) tetap tidak boleh menolak.” (Ibnu Majah, Ahmad, Ibnu Hibban dari Abdullah bin Abi Aufa ra)

Istri hendaknya ikut saja kepada suami ketika sang suami mengajaknya untuk berhubungan seks. Sebaiknya berpikir positif saja bahwa sang suami terangsang karena sesuatu hal sehingga suami perlu untuk menyalurkan hasratnya kepada istrinya. Hal ini dicontohkan oleh Nabi menurut kisah berikut:

Dari Jabir, sesungguhnya Nabi saw pernah melihat wanita, lalu beliau masuk ke tempat Zainab, lalu beliau tumpahkan keinginan beliau kepadanya, lalu keluar dan bersabda,
Wanita, kalau menghadap, ia menghadap dalam rupa setan. Bila seseorang di antara kamu melihat seorang wanita yang menarik, hendaklah ia datangi istrinya, karena pada diri istrinya ada hal yang sama dengan yang ada pada wanita itu.” (HR Tirmidzi)

Dari hadis tersebut tentunya bukan berarti Nabi itu orang yang tidak tahan dengan wanita. Beliau itu adalah orang yang paling tahan terhadap hawa nafsu, namun demikian beliau melakukan hal tersebut sebagai contoh kepada para umatnya, yaitu untuk para suami jika terangsang oleh wanita lain, maka hendaknya hasrat seks tersebut disalurkan kepada istrinya. Jadi para suami tidak usah malu jika tiba-tiba mesti pulang 'mendatangi' istrinya.

Bagi para istri juga, jika tiba-tiba sang suami ingin menyalurkan hasratnya, hendaknya disambut dengan baik, karena hal ini adalah melaksanakan sunnah Rasul. Pada zaman dulu ketika orang masih soleh-solehah, sulit lelaki terangsang di luar rumah karena para wanita sangat menjaga aurat, namun pada zaman yang sudah rusak ini sangat mudah bagi lelaki untuk terangsang secara seksual mengingat banyak sekali wanita yang tidak menjaga auratnya di muka umum, sedangkan tidak mungkin juga kaum lelaki tinggal saja di rumah.

Selain dari pertemuan langsung, rangsangan juga dapat melalui televisi, koran, website, facebook, dan sebagainya. Jadi bagi para istri jangan kaget kalau suami sehabis membaca koran langsung mengajak masuk kamar

Bentuk ketaatan seorang istri pada suami itu antara lain sebagai berikut :

Selalu menjaga kehormatan diri dan suami serta harta suami. Sebagaiman Allah firmankan dalam an-Nisa’ : 34: “Maka wanita-wanita yang baik itu ialah yang mentaati (suaminya) dan menjaga (hal-hal) yang tersembunyi dengan cara yang dipeliharakan oleh Allah.” 

Sabda Rasulullah SAW dalam haditsnya, “Tidaklah mau aku kabarkan kepada kalian tentang sesuatu yang paling baik dijadikan bekal seseorang? Wanita yang baik (shalihah), yang jika dilihat (suami) ia menyenangkan, jika diperintah (suami) ia mentaatinya, dan jika (suami) meninggalkannya ia menjaga dirinya dan harta suaminya.” (Riwayat Abu Daud dan an-Nasa’I).

Istri juga tidak boleh berpuasa sunnah kecuali dengan izin suaminya, apabila suaminya berada di rumahnya (tidak safar). Hal ini berdasarkan hadits Nabi SAW:
Tidak boleh seorang wanita puasa (sunnah) sedangkan suaminya ada (tidak safar) kecuali dengan izinnya. Tidak boleh ia mengizinkan seseorang memasuki rumahnya kecuali dengan izinnya. Apabila ia menginfakkan harta dari usaha suaminya tanpa perintahnya, maka separuh ganjarannya adalah untuk suaminya.”

Seorang istri harus melaksanakan hak suami, mengatur rumah dan mendidik anak.

Jika istri berkewajiban mematuhi suami dalam melampiaskan syahwatnya, maka lebih wajib lagi baginya untuk taat pada suami dalam urusan yang lebih penting dari itu, seperti masalah pendidikan anak dan kebaikan.

Pekerjaan ini adalah tugas yang sesuai dengan fitrah, bahkan merupakan tugas pokok yang wajib dilaksanakan dan diupayakan dalam rangka membentuk usrah (keluarga) bahagia dan mempersiapkan generasi yang baik.

Seorang istri berkewajiban pula untuk selalu menjaga kemuliaan dan perasaan suami, baik dalam penampilan, tidak menuntut suami dengan hal yang tak mampu, tidak melawan suami atau melakukan hal yang tidak disukainya, dan tidak merendahkannya ataupun menjelekkan keluarga suami. Sebab hal itu bisa membuatnya tidak ridho.

Maka benarlah apa yang dilakukan para sahabat Rasulullah SAW, apabila menyerahkan wanita kepada suaminya, mereka memerintahkan agar melayani suami, menjaga haknya dan mendidik anak-anak. Tunduk pada suami mereka dengan penuh kerelaan, mendengar dan taat pada suami dengan cara yang baik. Tidak mengeluh hingga suami tak menyukainya serta tidak mengkhianatinya. Para sahabat ini membekali putri mereka dengan nasehat sebagai dasar-dasar kehidupan suami istri yang penuh kebahagiaan.

Demikianlah, seorang suami adalah pemimpin dalam rumah tangganya, bagi istri juga bagi anak-anaknya. Karena Allah telah menjadikannya sebagai pemimpin, Allah memberikan keutamaan yang lebih besar pada laki-laki atas wanita, karena dialah yang berkewajiban memberi nafkah pada istrinya.

Masing-masing dari suami atau istri memiliki hak dan kewajiban. Namun suami mempunyai kelebihan atas istrinya. Hingga setelah wali atau orangtua sang istri menyerahkan kepada suaminya, maka kewajiban taat kepada suami menjadi hak tertinggi yang harus dipenuhinya, setelah kewajiban taatnya kepada Allah SWT dan Rasul-Nya SAW.

Perlu diketahui, Islam hanya membatasi ketaatan tersebut dalam hal-hal yang ma’ruf sesuai petunjuk Al-Qur’an dan As-Sunnah seperti yang dipahami generasi salafush shalih. Jika perintah suami bertentangan dengan hal di atas, tidak ada kewajiban bagi seorang istri untuk menaatinya, namun istri berkewajiban memberi nasihat pada suami dengan lemah lembut dan kasih sayang

KEWAJIBAN SUAMI TERHADAP ISTRI

Ada beberapa ayat/hadis yang menunjukkan bahwa suami itu adalah pemimpin dalam keluarganya, yang tentu saja perlu memenuhi keperluan-keperluan istrinya termasuk dalam perkara hubungan suami istri.

Dari Sulaiman bin Amr bin Al Ahwash berkata;Telah menceritakan kepadaku Bapakku bahwa dia melaksanakan haji wada' bersama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Beliau bertahmid dan memuji Allah, beliau memberi pengingatan dan nasehat. Beliau menuturkan cerita dalam haditsnya, lantas bersabda:

"Ketahuilah, berbuat baiklah terhadap wanita, karena mereka adalah tawanan kalian. Kalian tidak berhak atas mereka lebih dari itu, kecuali jika mereka melakukan perbuatan keji yang nyata. Jika mereka melakukannya, jauhilah mereka di tempat tidur dan pukullah mereka dengan pukulan yang tidak menyakitkan. Jika kemudian mereka menaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Ketahuilah; kalian memiliki hak atas istri kalian dan istri kalian memiliki hak atas kalian. Hak kalian atas istri kalian ialah dia tidak boleh memasukkan orang yang kalian benci ke tempat tidur kalian. Tidak boleh memasukan seseorang yang kalian benci ke dalam rumah kalian. Ketahuilah; hak istri kalian atas kalian ialah kalian berbuat baik kepada mereka dalam (memberikan) pakaian dan makanan (kepada) mereka." (H.R. At-Tirmidzi)

Dalam hadis tersebut disebut beberapa hal:

Berbuat baiklah terhadap wanita (istri). Kebaikan suami pada istrinya tentunya adalah termasuk dalam memenuhi hasrat istri Tentang 'janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya', maksudnya seorang suami jangan menyusahkan istrinya yang sudah taat kepadanya. Salah satu kesusahan istri adalah hasratnya yang belum tertunaikan.

Dari hadis tersebut dapat disimpulkan bahwa berbuat baik pada istri adalah perbuatan yang utama, termasuk di dalamnya memenuhi kebutuhan batin sang istri.

Perbandingan kewajiban suami dan istri dalam memenuhi hasrat pasangannya:

Secara ringkas, seorang istri memenuhi keinginan suaminya sebagai seorang pengikut yang taat kepada suaminya, sedangkan seorang suami memenuhi keperluan istrinya adalah dalam posisi sebagai seorang pemimpin yang bijaksana dan berkasih sayang.

Seorang istri dalam memenuhi hasrat suami, pertimbangannya relatif sederhana:

ketaatannya pada Allah terutama fardhu 'ainketaatannya pada suami

Jadi selama tidak bertentangan dengan perkara fardhu 'ain, seorang istri langsung menunaikan kewajibannya tersebut.

Sedangkan seorang suami dalam memenuhi hasrat istrinya, pertimbangannya lebih banyak:

ketaatannya pada Allah terutama fardhu 'ainposisi sebagai pemimpin & pendidik keluargakewajibannya terhadap masyarakat terutama fardhu kifayah

Jadi dengan demikian seorang suami tidak dapat serta-merta memenuhi hasrat istrinya, karena ada pertimbangan lain.

Misalkan sang suami ada kewajiban di luar rumah yang mendesak dalam perkara fardhu kifayah, sehingga tidak dapat segera mengurus istrinya. Dapat juga terjadi istri perlu dididik dengan didiamkan dulu sementara jika ada masalah syariat yang perlu diselesaikan dengan cara didiamkan.

Wallohua'lam Bisshowab 

Pahala Besar Hubungan Intim (Jima') Suami Istri Menurut Islam

Proses Terjadinya Janin sudah tertulis jelas dalam Al-qu'ran dan banyak juga Hadist yang menerangkan hal itu.
Mungkin kita pernah berfikir Berapa bulan prosesnya, dan berapa Hari ditiupkan Ruh terhadap Janin tersebut di dalam kandungan ? 


Mari kita simak perlahan-lahan, tentang proses perkembangan dan terjadinya Janin dalam kandungan menurut Al-Quran dan Hadits;

عَنِ ابْنِ مَسْعُوْدٍ رَضِيَ اللّهُ عَنْهُ قاَلَ ;حَدَّثَناَ رَسُوْلُ اللّهِ .صلم.
وَهُوَ الصَّادِقُ الْمَصْدُوْقُ ; إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيُجْمَعُ خَلْقُهُ فِيْ بَطْنِ أُمِّه أَرْبَعِيْنَ يَوْماً نُطْفَةً ، ثُمَّ يَكُوْنُ عَلَقَةً مِثْلَ ذاَلِكَ ، ثُمَّ يَكُوْنُ مُضْغَةً مِثْلَ ذاَلِكَ ،  ثُمَّ يُرْسَلُ إِلَيْهِ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيْهِ الرُّوْحَ ، وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِماَتٍ ; رِزْقِه ، وَأَجَلِه ، وَعَمَلِه ، وَهَلْ هُوَ شَقِيٌّ أَوْ سَعِيْدٌ - الحديث رواه أحمد -

“ Dari Ibnu Mas’ud RA, ia berkata : Telah bersabda kepada kami Rasulullah SAW – Beliau  adalah orang yang jujur dan terpercaya; “Sesungguhnya seorang diantara kamu (setiap kamu) benar-benar diproses kejadiannya dalam perut ibunya selama 40 hari berwujud air mani; kemudian berproses lagi selama 40 hari menjadi segumpal darah; lantas berproses lagi selama 40 hari menjadi segumpal daging; kemudian malaikat dikirim kepadanya untuk meniupkan roh kedalamnya; lantas (sang janin) itu ditetapkan dalam 4 ketentuan : 1. Ditentukan (kadar) rizkinya, 2. Ditentukan batas umurnya, 3. Ditentukan amal perbuatannya, 4. Ditentukan apakah ia tergolomg orang celaka ataukah orang yang beruntung“ (HR Ahmad).


Penjelasan Hadis :

            Hadis tersebut Dimuka menjelaskan proses kejadian manusia dalam rahim ibunya, yaitu 40 hari pertama berwujud “ Nutfah “ (air mani laki-laki bersenyawa dengan sel telur perempuan), 40 hari kedua berproses menjadi “ Alaqah “ (segumpal darah), 40 hari ketiga berproses menjadi “ Mudlghoh “ (segumpal daging).

   Hadis tersebut di muka lebih lanjut menjelaskan bahwa saat berwujud mudlghah itulah Allah SWT mengirim malaikat untuk memasangkan roh kepadanya bersamaan dengan ditetapkannya 4 ketentuan.

Dari Abu Abdirrahman Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, berkata:

"Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamtelah menceritakan kepada kami dan beliau seorang yang jujur lagi diakui kejujurannya, “Sesungguhnya seorang dari kalian dikumpulkan penciptaannya di perut ibunya selama empat puluh hari berupa sperma, kemudian menjadi segumpal darah selama itu pula, kemudian menjadi segumpal daging selama itu pula, kemudian diutus seorang malaikat kepadanya untuk meniupkan ruh padanya, dan diperintahkan empat kalimat: menulis rezekinya, ajalnya, amalnya, dan celaka atau bahagia. Demi Allah yang tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia, sesungguhnya seorang dari kalian benar-benar beramal dengan amal penghuni surga hingga jarak antaranya dan surga hanya sejengkal, lalu takdir mendahuluinya, lalu dia beramal dengan amal penduduk neraka lalu ia pun memasukinya. Dan sesungguhnya seorang dari kalian benar-benar  beramal dengan amal penduduk neraka hingga jarak antaranya dengan neraka hanya sejengkal, lalu takdir mendahuluinya, lalu ia beramal dengan amal penduduk surga, maka ia pun memasukinya.” Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim.

Hadist diatas ini mengandung beberapa hal, antara lain sebagai berikut:

1.  Penjelasan perkembangan janin di dalam rahim:

       Hadits diatas ini menunjukkan bahwa janin diciptakan seratus dua puluh hari dalam tiga tahapan. Setiap tahapan adalah selama empat puluh hari. Pada empat puluh hari pertama berupanuthfah, pada empat puluh hari kedua berupa ‘alaqah dan empat puluh hari ketiga berupa mudhghah, dan pada hari ke seratus dua puluh, malaikat meniupkan ruh kepadanya, lalu dituliskan baginya kalimat. Allah Ta’ala  menyebutkan dalam kitab-Nya bahwa janin diciptakan dalam fase-fase tersebut, sebagaiamana firman-Nya:

dan Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah.kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. kemudian Kami jadikan Dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta yang paling baik.” (Q.S. Al-Mukminun: 12-14)

      Dalam ayat ini Allah menyebutkan empat fase yang disebutkan didalam hadits, lalu menambahinya dengan fase lainnya sehingga menjadi tujuh fase.

2. Penjelasan ditiupnya ruh pada janin

   Para ulama bersepakat bahwa ruh ditiupkan ke dalam janin setelah janin berumur seratus dua puluh hari terhitung dari mulai terjadinya pembuahan. Yaitu ketika usia kehamilan sudah empat bulan dan memasuki bulan yang kelima.

      Semua itu benar berdasarkan kenyataan yang dapat disaksikan, maka semenjak itu ditetapkan hukum-hukum untuk memenuhi kebutuhannya seperti hukum tentang penyandaran nasabnya dan kewajiban pemberian nafkah. Dan hal itu diyakinkan dengan bergeraknya janin dalam rahim. Inilah hikmah mengapa istri yang ditinggal mati suaminya, masa iddahnya selama empat bulan sepuluh hari. Alasannya ialah untuk meyakinkan bahwa rahimnya benar-benar kosong dari janin tanpa ada sedikit pun tanda-tanda kehamilan.
Ruh, yang membuat manusia hidup, adalah urusan Allah sebagaimana firman-Nya,

 “Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: "Roh itu Termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit". (Q.S. Al-Isra: 85)

            Dalam syarah Muslim karangan Imam Nawawi disebutkan bahwa ruh adalah jasad halus yang mengalir dalam badan dan merambat di dalamnya sebagaimana merambatnya air didalam batang pohon yang hidup. Dalam kitab Ihya Ulumuddin Imam Al-Ghazali berkata, “ruh adalah unsur yang berdiri sendiri yang bekerja di dalam badan.”

3. Penjelasan haramnya menggugurkan kandungan

     Para ulama bersepakat atas haramnya menggugurkan kandungan (aborsi) setelah ditiupkanya ruh kedalam janin. Hal itu dipandang sebagai tindakan criminal yang haram dilakukan oleh seorang muslim. Karena hal itu merupakan tindakan kejahatan atas orang yang telah hidup dengan sempurna.

      Adapun aborsi sebelum ditiupkannya ruh, maka hukumnya haram juga. Demikianlah pendapat sebagaian para ahli fiqih. Dalil yang menjadi landasan mereka adalah hadist shahih yan menjelaskan bahwa penciptaan dimulai dari menetapnya sperma didalam rahim. Imam Muslim meriwayatkan dari Hudzaifah bin Usaid, sesungguhnya Nabi SAW bersabda, yang artinya:

“Jika nuthfah telah melewati empat puluh dua malam – dalam sebagian riwayat empat puluh sekian malam – Allah mengutus malaikat untuk membentuk rupanya, menciptalkan pendengaran, penglihatan, kulit, daging dan tulang belulang.”

      Dalam kitab Jami’ul Ilmi wal Hikam  yang ditulis oleh Ibnu Rajab Al-Hanbali, hal 42, disebutkan, “sebagian ahli Fiqih merukhsahkan (memberi keringanan) bagi wanita untuk melakukan aborsi selama ruh belum ditiupkan ke dalam janin dan menganologikannya dengan azal pendapat ini adalah pendapat yang lemah karena janin adalah anak yang sudah tercipta dan adakalanya sudah berbentuk, sedang azal sama sekali belum ada wujud janin, tetapi hanya menghalangi terciptanya janin, bahkan jika Allah berkehendak, azal sama sekali tidak menghalangi untuk terciptanya bayi.

      Dalam Ihya Ulumuddin karangan Al-Ghazali, 2/51 : ‘azal itu tidak bisa disamakan dengan aborsi dan mengubur anak hidup-hidup karena kedua tindakan tersebut adalah kejahatan terhadap makhluk yang sudah berwujud, dan wujudnya memiliki beberapa tahapan. Tahapan pertama adalah tersimpannya  nuthfah  di dalam rahim dan bercampur dengan ovum wanita serta siap untuk menerima nyawa, maka merusak benda tersebut merupakan kejahatan. Apabila  nuthfah  menjadi ‘alaqah, maka kejahatannya lebih besar, dan apabila telah ditiupkan ke dalamnya ruh dan menjadi makhluk yang sempurna, maka kejahatannya pun termasuk ke dalam dosa besar dan puncak kejahatan adalah membunuh bayi yang sudah keluar dari perut dalam keadaan hidup.

4. Penjelasan tentang Ilmu Allah Ta’ala

      Sesungguhnya Allah mengetahui keadaan makhluk sebelum penciptaannya. Maka, tidak ada satu keadaan pun berupa iman, taat, kafir, maksiat, bahagia dan celaka kecuali semuanya diketahui oleh Allah dan berdasarkan kehendak-Nya. Banyak nash dari kitab yang menjelaskan hal itu. Dalam riwayat Bukhari dari Ali bin Abi Thalib RA dari Nabi SAW  berkata, “Tidak ada makhluk yang bernafas kecuali Allah  telah menentukan tempatnya di surga atau di neraka, telah dituliskan celaka atau bahagia.” Seseorang bertanya, “Ya Rasulullah, apakah kita berpegang dengan ketentuan tersebut dan meninggalkan amal?” Nabi menjawab, “Bekerjalah kalian dan setiap orang akan diberikan kemudahan sesuai dengan yang diciptakan baginya. Adapun orang-orang yang berbahagia akan dimudahkan untuk mengamalkan amalan-amalan kebaikan dan orang-orang celaka akan dimudahkan untuk mengamalkan amalan-amalan yang akan menghantarkan kepada kecelakaan.”

Kemudian beliau membaca firman Allah,

Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (syurga),” (Q.S. Al-Lail: 5-6)

      Ilmu allah tidak menghalangi kebebasan hamba untuk memilih dan meraih apa yang mereka inginkan. Karena ilmu adalah sifat yang tidak memiliki pengaruh. Allah memerintahkan makhluk-Nya untuk beriman dan taat, melarang mereka untuk kufur dan maksiat dan itu merupakan bukti bahwa hamba memilki kebebasan untuk memilih dan meraih apa yang mereka inginkan. Karena kalau tidak demikian, maka sia-sialah semua perintah dan larangan-Nya dan ini mustahil bagi Allah SWT.
 Allah berfirman,

“dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan Sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (Q.S. Asy-Syam: 7-10)

5. Penjelasan tentang amal dinilai dengan akhirnya

      Riwayat bukhari dari Sahal bin Sa’ad dari Nabi SAW, beliau bersabda, “sesungguhnya amal itu tergantung kepada niatnya.” Artinya barangsiapa yang baginya dituliskan keimanan dan ketaatan di akhir umurnya, adakalanya dia kufur dan maksiat pada suatu saat, kemudian Allah memberi taufik kepadanya dengan keimanan dan ketaatan pada waktu menjelang akhir hayatnya. Dia meninggal dalam keadaan demikian, maka dia masuk surga. Barangsiapa yang telah ditetapkan baginya kekufuran dan kefasikan di akhir hayatnya. Walau dalam suatu waktu  dia beriman dan taat, kemudian Allah membiarkannya – dikarenakan usaha, amal dan keinginannya – dia mengatakan kalimat kekufuran, lalu beramal dengan amal ahli neraka dan meninggal dalam keadaan demikian, maka dia masuk neraka.

Pendapat Lain menurut ULAMA'


 Para ulama umumnya mengataka bahwa ruh ditiupkan pada janin ketika berusia 120 hari, sejak dari terbentuknya. Dalil-dalil yang dikemukakan cukup banyak, di antaranya adalah:
Dari Abdullah bin Mas’ud ra berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, Sesungguhnya setiap kamu dibentuk di perut ibunya selama 40 hari, kemudian berbentuk ‘alaqah seperti itu juga, kemudian menjadi mudhghah seperti itu juga. Kemudian Allah mengutus malaikat untuk meniupkan ruh dan menetapkan 4 masalah.{HR. Bukhari, Ibnu Majah, At-Tirmizy}

Para ulama kemudian menghitung ketiga masa itu menjadi 40 hari tambah 40 hari tambah 40 hari, sehingga masa peniupan ruh itu menjadi 120 hari sejak pertama kali janin terbentuk.

Inilah pendapat yang paling umum dipegang oleh para ulama selama ini. Namun sebagian kecil lainnya melihat ada dalil lain yang tidak sama. Misalnya hadits berikut ini.

Dari Hudzaifah bin Usaid raberkata, Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, Apabila nutfah telah berusia empat puluh dua malam, maka Allah mengutus malaikat, lalu dibuatkan bentuknya, diciptakan pendengarannya, penglihatannya, kulitnya, dagingnya, dan tulangnya. Kemudian malaikat bertanya, ra Rabbi, laki-laki ataukah perempuan?` Lalu Rabb-mu menentukan sesuai dengan kehendak-Nya, dan malaikat menulisnya, kemudian dia bertanya, Ya Rabbi, bagaimana ajalnya?` Lalu Rabb-mu menetapkan sesuai dengan yang dikehendaki-Nya, dan malaikat menulisnya. Kemudian ia bertanya, `Ya Rabbi, bagaimana rezekinya?` Lalu Rabb-mu menentukan sesuai dengan yang dikehendaki-Nya, dan malaikat menulisnya. Kemudian malaikat itu keluar dengan membawa lembaran catatannya, maka ia tidak menambah dan tidak mengurangi apa yang diperintahkan
itu.

Hadits ini menjelaskan diutusnya malaikat dan dibuatnya bentuk bagi nutfah setelah berusia enam minggu , bukan setelah berusia 120 hari sebagaimana disebutkan dalam hadits di atas. Sehingga sebagian ulama berpendapat bahwa peniupan ruh itu dilakukan pada usia janin 42 hari berdasarkan hadits ini.

Namun sebagian ulama lainnya mengkompromikan kedua hadits tersebut dengan mengatakan bahwa malaikat itu diutus beberapa kali, pertama pada waktu nutfah berusia empat puluh hari, dan kali lain pada waktu berusia empat puluh kali tiga hari untuk meniupkan ruh. Secara nalar bila disebutkan bahwa ruh ditiupkan, maka wajar bila janin itu kemudian bisa merespon suara. Akan tetapi apakah respon itu hanya akan terjadi manakala ruh sudah ditiupkan, tentu perlu diselidiki lebih lanjut. Sebab respon itu ada yang berasal dari makhluq bernyawa, tetapi ada juga dari makhluq yang belum bernyawa.

Wallohua'lam Bisshowab

Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semua.

Proses perkembangan Janin dan ditiupkan Ruh pada Janin,menurut Al-Quran dan Hadits

Subscribe Our Newsletter