Tampilkan postingan dengan label Berita Jateng. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita Jateng. Tampilkan semua postingan
KLATEN JATENG - Lima SMP negeri di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah diizinkan untuk mulai sekolah tatap muka. Sekolah tatap muka itu akan dimulai tanggal 9 Oktober 2020.

"Kita sudah menggelar rapat dengan Forkompinda tadi malam. Hasilnya disepakati uji coba belajar tatap muka dimulai tanggal 9 Oktober atau hari Jumat besok," jelas Kepala Dinas Pendidikan Klaten, Wardani Sugiyanto, kepada wartawan, usai menggelar rapat koordinasi di kantornya, Rabu (7/10/2020).

Wardani mengatakan proses belajar uji coba tatap muka itu sifatnya masih terbatas dan tidak berlangsung di semua SMP. Untuk sementara belajar tatap muka akan berlangsung di lima SMPN.

"Untuk sementara di SMPN 1 Karangdowo, SMPN 2 Klaten, SMPN 1 Gantiwarno, SMPN 2 Kemalang dan SMPN 1 Kebonarum. Belajar tatap muka itu dengan beberapa skenario.

Skenario yang akan diambil yakni belajar selama dua jam, setiap satu mata pelajaran berlangsung 30 menit dengan jumlah siswa 10-12 orang.

"Sehingga sehari hanya empat jam pelajaran," ungkap Wardani.

Selain itu, jelas Wardani, para murid hanya akan masuk sekolah dua kali dalam sepekan. Kemudian pada tahap awal, para siswa akan diberi materi terkait protokol kesehatan COVID-19.

"Kita sosialisasi protokol COVID dulu, agar siswa terbiasa hidup di tengah COVID. Sarana penunjang belajar itu sudah disiapkan sekolah sejak jauh hari dan sudah dicek oleh tim dinas," jelasnya.

Wardani juga mengungkap nantinya tidak ada jam istirahat saat sekolah tatap muka berlangsung. Jam istirahat diganti dengan kegiatan berjemur selama 15 menit.

"(Belajar tatap muka) untuk menghilangkan beban psikologis. Ibarat berkendara kalau kita terus takut berkendara tidak akan sampai sehingga belajar harus jalan dengan tetap berhati-hati," terang Wardani.

"Semua setuju dan siap mendampingi tetapi dengan protokol Kesehatan ketat. Nanti sebelum masuk juga akan di-screening dulu dan jika mungkin diantar orang tua, setelah pulang tidak ke mana-mana," sambung Wardani.

Dia menegaskan proses sekolah tatap muka ini tetap akan mempertimbangkan situasi perkembangan kasus COVID-19 di wilayahnya. Apabila ada banyak kasus dan risiko penularannya tinggi, maka proses sekolah tatap muka akan dihentikan.

Proses sekolah tatap muka di tingkat SMP ini, kata Wardani, nantinya akan dievaluasi. Jika hasil evaluasinya positif maka akan dipertimbangkan untuk melaksanakan proses sekolah tatap muka pada siswa SD.

"SD sudah kita minta untuk persiapan," kata Wardani.

Sumber : detik.com

Mulai 9 Oktober, 5 SMPN Di Klaten Bisa Belajar Tatap Muka

KUDUS JATENG - Rumah warga di Desa Karangmalang Kecamatan Gebog, Kudus diduga dirampok. Pemilik rumah sempat disekap oleh pelaku bersenjata tajam.

"Iya ada dugaan perampokan rumah warga bernama Purwaningsih, guru SMPN 2 Gebog," kata Kepala Desa Mashuri saat ditemui di lokasi kejadian, Rabu (7/10/2020).

Mashuri mengaku tidak mengetahui secara pasti kejadian dugaan perampokan itu. Namun disebutkan, kejadian sekitar pukul 05.00 WIB. Korban yang tinggal sendirian di rumah tersebut sempat disekap dan dipaksa menunjukkan lokasi penyimpanan barang berharga.

"Ya (disekap), diminta untuk menunjukkan lokasi menyimpan barang. Pelaku satu orang masuk dari belakang," ujar dia.

Salah satu keluarga korban, Yoyok, mengatakan kejadian dugaan perampokan terjadi pada pukul 05.00 WIB, Rabu (7/10). Pelaku hanya seorang dengan membawa senjata tajam.

"Kejadian jam 5 (pagi), yang dibawa perhiasan sama uang. Tidak bisa menyebutkan (nominal) saya. Pelaku satu orang," kata dia kepada wartawan di lokasi.

Kata Yoyok korban sempat disekap. Namun beruntung dalam kejadian itu tidak ada korban jiwa. Hanya barang berharga berupa perhiasan dan uang raib. "Tidak ada yang luka," ujar Yoyok.

Kapolres Kudus AKBP Aditya Surya Dharma mengatakan masih akan mengecek kejadian tersebut. "Saya cek dulu ya," kata Aditya saat dimintai konfirmasi wartawan, Rabu pagi ini.

Dari pantauan, sejumlah petugas kepolisian INAFIS Polres Kudus sedang melakukan pemeriksaan. Sejumlah petugas sedang memeriksa sejumlah saksi.

Sumber : detik.com

Sebuah Rumah Di Kudus Dibobol Rampok, Pemilik Rumah Disekap

SRAGEN JATENG - Ervan Wahyu Anjasworo (16) bocah asal Sragen, Jawa Tengah, berhasil kembali bertemu dengan keluarganya usai dinyatakan hilang selama 11 tahun. Ervan hilang saat diajak ayahnya liburan di Jakarta tahun 2009 lalu.

Ervan dan ayahnya, Suparno (37), warga Dusun Gabus Wetan, Desa Gabus, Kecamatan Ngrampal, Sragen, dipertemukan atas kerja sama Dinas Sosial Kota Bogor dan Dinas Sosial Kabupaten Sragen. Untuk pertama kalinya dalam 11 tahun, Ervan kembali ke kampung halamannya hari ini, Selasa (6/10/2020).

Ayah Ervan, memang bekerja di Jakarta sebagai sopir metromini. Tahun 2009 lalu, Suparno mengajak Ervan yang masih duduk di bangku taman kanak-kanak untuk berlibur di Jakarta.

"Biasanya Ervan saya titipkan di rumah kakeknya. Karena sedang liburan, saya ajak ke Jakarta. Waktu itu kontrakan saya di daerah Kemayoran," ujar Suparno, ditemui wartawan di rumah orang tuanya di Dusun Panurejo, Desa Kedungupit, Kecamatan Sragen Kota.

Hampir tiga pekan di Jakarta, lanjutnya, Ervan minta untuk dipulangkan ke Sragen. Saat itu Suparno menyanggupi akan memulangkan Ervan dua hari kemudian.

"Saya bilang ke Ervan menyanggupi hari Minggu pulang ke Sragen. Tapi Jumat sekitar jam 3 sore sudah tidak ada," kata Suparno.

Suparno mengatakan, saat itu Ervan berpamitan untuk mengembalikan game watch yang disewanya dari tetangga. Namun hingga malam hari, bocah berumur 5 tahun tersebut tak kunjung pulang.

"Saya masih ingat waktu itu makanan dan minumannya saja belum sempat dihabiskan. Saya cari kesana kemari, akhirnya tengah malam saya lapor ke polisi," paparnya.

Suparno bahkan sempat tidak bekerja selama dua bulan agar lebih fokus mencari anaknya. Hari-hari dia habiskan menyusuri gang demi gang di seantero Jakarta, namun anaknya tidak bisa diketemukan.

"Karena waktu itu marak penculikan, pikiran saya anak saya diculik orang. Tapi saya yakin anak saya masih hidup, makanya saya tetap bekerja di Jakarta agar bisa terus mencari anak saya," terangnya.

Sementara ditanya seputar momen hilangnya, Ervan mengaku masih ingat betul apa yang menimpanya. Ervan yang waktu itu masih polos, dibujuk oleh empat orang pengamen untuk mengikuti mereka.

"Saya selesai ngembaliin game watch, baru mau pulang. Di jalan ada empat pengamen minta saya ikut, katanya nanti mau diantar pulang," kata Ervan yang kini sudah tidak bisa berbicara bahasa Jawa itu.

Karena masih bocah, Ervan pun menuruti rayuan keempat pengamen tersebut. Bersama keempat pengamen tersebut, Ervan pun hidup di jalanan.

"Saya disuruh mengamen. Hasilnya dibagi dua, separuh untuk Ervan makan separuh disetor ke mereka. Kalau tidurnya sembarangan, kadang di kolong kadang di trotoar," terangnya.

Hidup di jalanan, Ervan mengaku kerap mendapatkan kekerasan dari para pengamen jika setorannya tidak memenuhi target. Ervan menjalani hidup seperti itu selama 2,5 tahun.

"Sering dipukul kalau tidak dapat uang. Lari juga percuma, nanti ketangkep lagi malah dipukuli," paparnya.

Para pengamen tersebut ternyata menepati janji untuk memulangkan Ervan. Dengan menumpang kereta api, Ervan sempat diantar sampai Kota Solo. Namun karena tak ingat alamat rumahnya, Ervan pun terpaksa kembali ke Jakarta.

"Ada sebulan muter-muter di Solo sambil ngamen tapi saya bener-bener nggak ingat. Akhirnya balik lagi ke Jakarta tapi berhenti di Parung Bogor," lanjutnya.

Di Parung, jalan hidup Ervan berubah. Dirinya terpisah dari rombongan pengamen saat lari menghindari petugas Satpol PP. Ervan beristirahat di masjid daerah Kemang Bogor, dan bertemu dengan orang baik yang mau mengangkatnya sebagai anak.

"Di masjid ketemu pak RT, saya ditanya-tanya terus diangkat anak. Namun hanya empat bulan karena pak RT meninggal, saya lalu diangkat anak oleh orang lain bernama Mbah Eli," kata dia.

Tujuh bulan setelahnya, Ervan dikirim ke Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan Dan Anak (P2TP2A) dan diasuh oleh salah seorang pegawainya bernama bu Wiwid. Saat itulah Ervan di sekolahkan hingga jenjang SMP.

"Sempat dipesantrenin juga selama tiga tahun. Setelah itu ditarik sama panti di Bogor untuk dilatih kerja," sambungnya.

Sampai September lalu, Ervan yang semakin rindu untuk pulang, mencoba mencari keterangan tentang kampung halamannya di internet. Berbekal kata kunci yang tepat, Ervan berhasil menemukan titik terang.

"Yang saya inget Pak Parno (ayah), Bu Tanti (ibu) dan Mbak Ajeng (kakak). Sama saya ingat rumah saya dekat Pasar Gonggang. Saya ingat sekali namanya karena nenek dulu sering ajak saya ke pasar," tukasnya.

Ervan semakin yakin setelah menelusuri Pasar Gonggang melalui aplikasi Google Street View. Menurutnya, bangunan Pasar Gonggang masih persis seperti waktu dirinya masih kecil dulu.

"Saya lapor kepada kepala panti yang kemudian menghubungi Dinas Sosial Solo dan sekitarnya, termasuk Sragen. Selang beberapa hari petugas panti datang membawakan saya foto. Benar itu foto keluarga saya," ujarnya haru.

Ternyata, lanjut Ervan, informasi dari panti sosial Kota Bogor tersebut ditindak lanjuti oleh Dinas Sosial Sragen, yang langsung melakukan home visit ke rumah Suparno untuk memastikan informasi tersebut.

"Lalu ayah saya bersama petugas Dinsos Sragen datang ke Bogor untuk menjemput. Setelah merampungkan proses, hari ini saya bisa sampai rumah lagi," imbuh Ervan.

Suparno mengaku bersyukur bisa kembali dipertemukan dengan anaknya. Dirinya berterima kasih kepada seluruh pihak, termasuk orang-orang yang berbaik hati mengasuh anaknya.

"Terima kasih kepada seluruh pihak. Saya berharap ini jadi pengalaman bagi orang tua yang lain, untuk lebih mengawasi anaknya dengan baik," pungkasnya.

Sumber : detik.com

Hilang 11 Tahun, Bocah Di Sragen Kembali Pulang Bertemu Keluarga

CILACAP JATENG - Sejumlah pengrajin jamu di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, menggelar aksi demo di lapangan Desa Gentansari. Mereka berunjuk rasa terkait dugaan pemerasan seorang oknum polisi.

"Tuntutan kami segera hentikan perilaku atau kelakuan AKBP Agus Wardi dalam melakukan pemerasan kepada kami. Kami juga memohon dan meminta terutama kepada Bapak Presiden, Bapak Kapolri, Bareskrim," kata salah seorang pengrajin jamu di Kabupaten Cilacap, Mulyono, kepada wartawan usai melakukan aksi di lapangan Desa Gentasari, Senin (5/10/2020).

Mulyono mengaku diperas oknum polisi tersebut dengan nilai yang berbeda-beda. Mulai ratusan hingga miliaran rupiah.

Dia juga menjelaskan pemerasan itu dilakukan oknum polisi dengan proses penahanan. Aksi tersebut, kata Mulyono, sudah berlangsung selama beberapa tahun.

"Pemerasannya ini, tiba-tiba kami didatangi oleh oknum Mabes Polri, yang dipimpin bapak Agus Wardi dan pasukannya, kemudian kita dibawa ke sana (Bareskrim Mabes Polri). Setelah di sana ditahan satu dua sampai enam hari kemudian dilepas dan disuruh cari uang dan ada juri tagihannya. Uang via transfer. Pak Agusnya minta seperti itu, kalau juru tagihannya cuma suruh transfer-transfer. Jadi kita dikasih waktu sekian hari sampai lunas, nominalnya sana yang menentukan," ujarnya.

"Tuduhannya melakukan produksi yang melanggar aturan undang-undang. Korbannya sangat banyak sekali, tidak terhitung. Per orang ada yang Rp 350 juta, Rp 500 juta, Rp 1,7 miliar, Rp 2,5 miliar dan ada yang Rp 3,5 miliar," urai Mulyono.

Selain melakukan aksi, mereka juga membawa beberapa spanduk bertuliskan, 'Adili, Pecat AKBP Agus W, kami korban', 'Presiden, Kapolri, Kabareskrim : Lindungi kami demi mengais rezeki anak istri kami, terzolimi Agus Wardi', 'Pak Kapolri Pecat Agus W', 'Pak Jokowi Pecat AKBP Agus W yang memeras kami'.

"Permintaannya 'karena ini melanggar, jadi mungkin denda kali di sana ya, daripada mengikuti proses begini-begini, lebih baik kamu saya tolong, tapi konsekuensi nya kamu memberikan sejumlah uang. Itu sudah bertahun-tahun, sudah lama, jadi dia datang dan pergi secara tiba-tiba melakukan tindakan seperti itu di sini, kemudian kami ditahannya di Bareskrim, belum ada yang sampai ke proses pengadilan," jelasnya.

Tampak terdapat salah satu spanduk yang dibawa peserta aksi yang bertuliskan sejumlah nama dan nominal dengan total mencapai Rp 7,6 miliar. Waluyo menjelaskan angka tersebut merupakan permintaan oknum polisi sejak bulan Agustus.

"Yang tertulis di spanduk saja itu periode Agustus, kalau bertahun-tahun sudah lebih. Saya korban juga, saya baru setor Rp 100 juta, saya dimintain Rp 1,2 miliar pada bulan Juli," ujarnya.

Waluyo mengatakan dirinya minta agar pemerintah berkomunikasi dan membina para pengrajin jamu. Jika ada pelanggaran, Waluyo berharap ada solusi tanpa intimidasi.

"Semua pihak yang terkait terutama pemerintah untuk melakukan pembinaan terhadap kami sebagai pengusaha jamu Jawa asli. Sekiranya bisa dibina, diarahkan, sehingga bisa menjadi mata pencaharian kami, yang intinya bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat di wilayah Cilacap ini," ucapnya.

Dalam aksi tersebut mereka juga sempat membakar ban dan dijaga sejumlah personel polisi dan petugas Gugus Tugas terkait protokol kesehatan COVID-19.

Saat dimintai konfirmasi tentang nama oknum polisi yang dikeluhkan para pengrajin jamu tersebut, Kapolres Cilacap AKBP Dery Agung Wijaya mengaku masih mendalaminya.

Sumber : detik.com

Pengrajin Jamu Di Cilacap Demo Karena Diperas Oknum Polisi

PEKALONGAN JATENG - Pasangan suami istri (pasutri) Muhayadin (38) dan Rosyana (35) sudah tujuh tahun tinggal di rumah semi permanen yang nyaris roboh. Pasutri itu tinggal bersama dua buah hatinya Ahmad Sodik (7) dan Shinta (5).


Keempatnya merupakan warga warga Dukuh Blimbing Lor, Desa Blimbing Wuluh, Kecamatan Siwalan Pekalongan. Sehari-hari Muhayadin bekerja sebagai buruh pembuat batu bata.

Rumah tempat bernaung keluarganya itu berkuran 7X6 meter, beratapkan daun rumbia dan tak memiliki daun pintu. Kayu yang menjadi kerangka rumah lapuk dan banyak bocor di sana-sini.

"Saya sudah tujuh tahun di sini. Lima tahun rumah kondisi sudah seperti kemarin mau roboh," kata Muhayadin saat ditemui di rumahnya, Pekalongan, Minggu (4/10/2020).

Rumah itu pun berdiri di lahan milik orang lain. Beruntung Muhayadin dan keluarganya diizinkan sang pemilik pekarangan tinggal lahan tersebut.

Buruh batu bata itu sehari-hari hanya menerima upah Rp 30 ribu, sementara istrinya kadang kala bekerja serabutan untuk menambah penghasilan keluarga. Satu-satunya ruangan yang bisa ditinggal di rumah yang nyaris roboh itu hanya di bagian dapur.

"Dapur kayunya masih kuat. Makanya saya kalau malam tidurnya di situ. Kalau lainnya sudah keropos," terang Muhayadin.

Keluarga Muhayadin pun selalu siaga jika hujan turun. Sebab, atap daun rumbia tak kuasa menahan air hujan. Dia pun mengakui rumahnya itu dekat dengan kediaman orang tuanya.

"Rumah orang tua tidak jauh dari sini tapi juga sudah penuh oleh saudara-saudara. Jadi terpaksa di sini," tuturnya.

Pihak desa pun tak bisa berbuat banyak untuk membantu perbaikan rumah Muhayadin karena bangunan itu tidak berdiri di pekarangan milik pribadi.

"Kita sempat bingung juga awalnya. Mau kita bantu melalui anggaran dari desa program bedah rumah juga tidak bisa karena tanahnya masih menumpang," kata Kepala Desa Blimbing Wuluh Riyanto saat ditemui hari ini.

Akhirnya dengan kesepakatan warga dan pihak desa, rumah Muhayadin pun dipugar dan dipindahkan ke pekarangan yang berdekatan dengan rumah orang tuanya. Mereka juga dibantu donatur yang membantu membiayai bedah rumah Muhayadin.

"Kita rembug desa, dan dibantu Mas Candra (donatur), akhirnya memutuskan untuk memidah rumah ke perkarangan pihak keluarga yang tidak jauh dari lokasi semulanya," jelas Riyanto.

Sumber : detik.com

Keluarga di Pekalongan Ini 7 Tahun Tinggali Rumah Nyaris Roboh

BANYUMAS JATENG - Dua gadis dibawah umur pasrah layani kakek berusia 70 tahun demi bayar utang.

Tak sanggup bayar utang seberar Rp 600.000 gadis ini terpaksa layani kakek tua berumur 70 tahun.

Hal tersebut bermula dua gadis di Banyumas ini memiliki utang sewa motor dengan tersangka sebesar Rp 600.000.

Terlilit utang sewa motor, dua gadis ini terpaksa harus melayani kakek 70 tahun hingga kemaluannya mengalami benjolan.

Keduanya diminta melayani kakek 70 tahun itu agar bisa mendapatkan uang untuk membayar utangnya.

Melansir dari laman Kompas.com: Terlilit Utang Rp 600.000, Gadis Remaja Diduga Dipaksa Layani Kakek 70 Tahun, Rupanya kedua gadis ini diduga diperdagangkan oleh mucikari yang dikenalkan oleh pemilik motor.

Peristiwa itu terungkap setelah kedua orangtua korban melapor ke Polresta Banyumas usai melihat kondisi anak mereka.

"Kasus ini terungkap atas laporan orangtua korban berinisial L pada Kamis (1/10/2020)," kata Kasat Reskrim Polresta Banyumas AKP Berry.

Berry mengatakan, peristiwa itu berawal saat kedua korban berinisial L (14) dan M (13) terlilit utang dengan salah satu tersangka berinisial IDR (19), warga Kecamatan Baturraden.

Kedua korban diketahui memiliki utang sewa motor dengan tersangka sebesar Rp 600.000.

Saat ditagih IN, kedua korban mengaku tak punya uang dan justru meminta IN mencarikan pekerjaan untuk mereka.

Namun, IN justru menawarkan korban ke tersangka muncikari berinisial MY (21), warga Kecamatan Purwokerto Barat.

Oleh MY, kedua korban diminta melayani RSJ warga Kota Bandung, agar berhubungan badan layaknya suami istri, di sebuah hotel dengan imbalan Rp 500.000.

"Korban M awalnya meminta pekerjaan kepada IN, IN kemudian menghubungi MY. Tersangka MY menunggu di luar kamar hotel saat M melayani RSJ," ujar Berry.

Korban L dan MS diketahui merupakan warga Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas.

Kasus tersebut diketahui setelah orangtua dari L mengetahui saat korban sedang berada di rumah sakit dan menanyakan hasil pemeriksaan mengapa bisa ada benjolan di alat vitalnya.

Saat itulah korban menjawab bahwa dirinya telah melayani seorang laki-laki untuk berhubungan badan.

Hal itu dilakukan agar ia bisa membayar utangnya pada IDR.

Keduanya kemudian terpaksa melayani kakek 70 tahun hingga akhirnya kemaluannya mengalami benjolan.

Korban bercerita jika awalnya dirinya memiliki utang kepada pelaku IDR (19), perempuan warga Baturraden sebesar Rp 600 ribu dari sewa motor milik pelaku.

Karena korban ditagih oleh pelaku IDR dan tidak memiliki uang akhirnya korban meminta untuk dicarikan pekerjaan.

Namun oleh pelaku justru dicarikan pekerjaan kepada pelaku lain, MY (21) perempuan yang juga berdomisili di Baturraden, Kabupaten Banyumas.

Korban ditawari untuk melayani RSJ (70) dan melakukan hubungan badan layaknya suami istri.

Sedangkan untuk korban MS, kejadian bermula saat dirinya datang kerumah IDR minta tolong dicarikan pekerjaan.
Lalu IDR menghubungi MY mengatakan ada job booking out (BO).

Selanjutnya MY minta bertemu korban MS.
Setelah bertemu kemudian MY memesankan gojek untuk MS menuju hotel di Kecamatan Purwokerto Selatan untuk BO dengan RSJ yang sebelumnya telah memesan kepada MY.

RSJ merupakan warga Bandung, Jawa Barat yang berdomisili di Kecamatan Kembaran, Kabupaten Banyumas.

Sumber : Kompas.com

Terlilit Hutang, 2 Gadis Di Banyumas Pasrah Layani Kakek 70 Tahun

SRAGEN JATENG - Sebuah mobil sedan menabrak truk tronton di jalan tol Solo-Ngawi Km 522, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Tiga penumpang sedan tewas sementara satu balita mengalami luka.

"Kecelakaan terjadi sekitar pukul 01.45 WIB, tepatnya di jalur A di bawah underpass 33 Masaran," kata Kasubag Humas Polres Sragen, Iptu Suwarso, saat dihubungi wartawan, Sabtu (3/10/20).

Suwarso mengatakan kecelakaan bermula saat kendaraan sedan bernopol AB-1411-RU yang ditumpangi para korban melaju dari arah barat ke timur. Setelah mendekati tempat kejadian, sedan tiba-tiba hilang kendali hingga akhirnya menabrak bak bagian belakang truk tronton muatan kayu bernopol B-9176-ZO yang berada di depannya.

"Akibat benturan, kendaraan sedan mengalami kerusakan bagian depan pengemudi sedan meninggal di lokasi, sementara dua penumpang lain meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit," papar Suwarso.

Identitas korban tewas, lanjutnya, yakni Dedek Faisal Zakaria (26), warga Desa Kepanjen Kidul, Kecamatan Kepanjen Kidul, Kabupaten Blitar, yang merupakan pengemudi sedan. Serta dua penumpang yakni Aditya Pradana (31) dan Rezka Paramita Putri (28), keduanya warga Desa Wedonartani, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Sleman.

"Satu balita perempuan berumur 1,5 tahun yang dimungkinkan adalah anak korban ditemukan selamat dengan luka memar di bagian wajah," terang Suwarso.

Seluruh korban, lanjutnya, dibawa ke RSUD dr Soehadi Prijonegoro, Sragen. Polisi masih mendalami penyebab pasti kejadian ini.

"Masih kita mintai keterangan saksi-saksi. Dugaan sementara diduga pengemudi hilang konsentrasi sehingga tidak bisa mengendalikan kendarannya," jelas Suwarso.

Sumber : detik.com

Mobil Sedan Tabrak Truk Di Sragen, 3 Penumpang Tewas

Kecelakaan maut terjadi di Jalan Magelang Km 8, Sendangadi, Mlati, Sleman pagi ini. Empat orang dilaporkan meninggal dunia dalam kecelakaan adu banteng antara mobil dengan mobil tersebut.


Menurut keterangan saksi mata, Agung Kusumo (45), yang tidak jauh dari lokasi kecelakaan, kejadian kecelakaan itu terjadi sekitar pukul 06.00 WIB tadi. Kecelakaan melibatkan dua mobil yaitu Honda Mobilio warna merah dan Mitsubishi Xpander warna hitam.

"Pagi sekitar jam 06.00 WIB, ada suara benturan keras. Lalu saya keluar ada mobil yang sudah ringsek," kata Agung ditemui di lokasi kejadian, Sabtu (3/10/2020).

Akibat kecelakaan itu korban sempat terlempar dari dalam mobil. Warga pun sempat berusaha menyelamatkan korban. Saat mengeluarkan korban yang masih di dalam mobil, warga menemukan minuman keras (miras).

"Mobil merah terlempar membentur rumah. Mobil merah setelah dikeluarkan ada miras. Di dalam mobil merah itu ada tujuh orang. Masih remaja semua," paparnya.

"Ada yang sadar di mobil merah. Mobil hitam aman," sambungnya.

Sementara itu, Kasat Lantas Polres Sleman AKP Mega Tetuko mengatakan kecelakaan melibatkan dua kendaraan dari arah yang berlawanan.

"Ya, dua kendaraan. Dari arah yang berlawanan, kendaraan dari arah utara sempat menabrak divider, melompat menuju jalur yang berlawanan, kemudian kena dengan kendaraan yang berlawanan. Setelah itu menghantam bangunan yang ada di pinggir jalan," kata Mega hari ini.

Mega menuturkan total korban dalam kecelakaan ini ada delapan orang. Empat di antaranya meninggal dunia.

"Saat ini, korban ada delapan orang, yang meninggal dunia ada empat orang," paparnya.

Saat ini, dari Satlantas Polres Sleman telah melaksanakan olah TKP terkait kecelakaan maut ini. Pihaknya juga telah mengevakuasi korban.

"Ada beberapa korban yang kami larikan ke tiga tempat, yaitu RS Bhayangkara, RSUD Sleman, dan RS UGM," jelasnya.

Terkait penyebab kecelakaan, Mega masih melakukan penyelidikan. Termasuk dugaan pengemudi mabuk saat berkendara.

"Langkah-langkah berikutnya kami memeriksa saksi. Kemudian perkembangan akan kami sampaikan berikutnya. Ini kecelakaan antara Honda Mobilio dan Xpander," imbuhnya.

Sumber : detik.com

Dua Mobil Terlibat Tabrakan, Mobil Hancur 4 Korban Tewas Seketika