Social Items

Tampilkan postingan dengan label Berita Jateng. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita Jateng. Tampilkan semua postingan
YOGYAKARTA -  Berita pengeluaran siswi ini berawal dari informasi viral di media sosial yang menyebut salah satu SMP di Solo mengeluarkan siswinya yang mengucapkan selamat ulang tahun kepada teman laki-laki di sekolah yang sama pada akhir pekan lalu. Sedangkan siswa yang diberi ucapan tidak dikeluarkan.

Setelah ditelusuri, sekolah yang dimaksud ialah SMP IT Nur Hidayah Solo. Pihak sekolah pun membenarkan telah menyerahkan kembali siswi berinisial AN kepada orang tuanya.

Kepala SMP IT Nur Hidayah, Zuhdi Yusroni, menegaskan sekolah telah melakukan penindakan sesuai dengan prosedur. Pihaknya telah melakukan pendampingan sebelum mengeluarkan siswi kelas VIII itu.

Zuhdi mengungkap siswi tersebut sudah berulang kali melakukan pelanggaran. Selama masa hukuman, kata Zuhdi, siswi tersebut kembali melakukan pelanggaran.

Siswi tersebut disebut Zuhdi paling sering melanggar aturan soal hubungan komunikasi dengan lawan jenis.

Akumulasi pelanggaran terus dihitung sebagai poin pelanggaran. AN terpaksa dikeluarkan karena poin pelanggarannya sudah melebihi ambang batas.

Sementara itu, siswa yang disebut-sebut menerima ucapan ulang tahun tidak dikeluarkan karena poin pelanggarannya belum mencapai batas maksimal untuk dikenai sanksi dikembalikan kepada orang tuanya.

Zuhri mengaku telah melakukan pembinaan sejak AN pertama kali melakukan pelanggaran saat kelas VII. Orang tua AN pun sudah beberapa kali dipanggil ke sekolah.

Hal lain yang jadi pertanyaan pembaca saat itu adalah soal sekolah yang enggan memberikan surat pengantar pindah kepada siswi tersebut. Ditanya soal alasan di balik keputusan itu, Zuhri menilai surat tersebut justru tidak perlu diberikan untuk melindungi siswi tersebut.

"Justru kami ingin masalah ini tidak perlu meluas sampai ke sekolah barunya," katanya.

Zuhri memastikan siswi tersebut kini sudah masuk ke sekolah barunya.

Hal serupa juga ditegaskan oleh Kepala Dinas Pendidikan Surakarta, Etty Retnowati. Dia mengaku memantau masalah tersebut. Namun dia memastikan bahwa AN sudah bersekolah lagi di salah satu SMP di Laweyan, Solo.

Viral, Gara-gara Ucapkan Selamat Ultah, Siswi SMP Solo Dikeluarkan

Logo mirip lambang Nazi ada di Keraton Agung Sejagat, Purworejo. Apa sebenarnya maksud sang Raja, Toto Santoso memasang simbol itu?

Kabid Humas Polda Jawa Tengah, Kombes Iskandar Fitriana Iskandar mengatakan Toto mengatakan lambang mirip Nazi dan lainnya itu digunakan untuk pataka keratonnya. Menurut KBBI, pataka merupakan bendera lambang pasukan atau panji-panji.

"Sempat saya tanya lambang-lambang itu, itu pataka dia, pataka keraton, ada bendera keraton juga. Lambang kayak Nazi itu pataka dia katanya," kata Iskandar di Mapolda Jawa Tengah, Kamis (16/1/2020).

Iskandar menjelaskan, lambang itu tidak ada hubungannya dengan Nazi karena hanya karangan Toto saja. Sejumlah desain dalam keraton itu, termasuk seragam merupakan ide sang 'Ratu', Fanni Aminadia.

"Tidak ada (tidak berhubungan dengan Nazi). Dia merancang sendiri, pakaian juga membuat merancang sendiri, istrinya yang merancang," ujar Iskandar.

Saat ini Raja dan Ratu Keraton Agung Sejagat tersebut mendekam di tahanan Mapolda Jawa Tengah. Mereka dijerat pasal penipuan dan juga dianggap meresahkan warga di Desa Pogung, Purworejo.

Raja' Keraton Agung Sejagat ceritakan Makna Logo Mirip Nazi

'Raja' Keraton Agung Sejagat, Toto Santoso, ternyata memiliki usaha angkringan di rumah kontrakannya, di Jalan Berjo-Pare, RT 05 RW 04, Sidoluhur, Godean, Sleman. Sebelumnya, Toto pernah mengajukan permohonan izin usaha koperasi dan ormas di desa tempat dia mengontrak di Sleman.

"Pertama mengajukan (izin) koperasi, ini kami tolak karena legalitasnya tidak sesuai," kata Kepala Seksi (Kasi) Pemerintahan Desa Sidoluhur, Adi Arya Pradana, saat ditemui wartawan di Kantor Desa Sidoluhur, Rabu (15/1/2020).

Pengajuan izin KJ Inkor ini ditolak Pemdes Sidoluhur. Sebab, Pemdes mencurigai permohonan izin koperasi yang diajukan pada 2017 tersebut masih ada sangkut pautnya dengan Jogja Development Committee atau Jogja DEC, yang menjanjikan kesejahteraan finansial bagi para pengikutnya itu.

"Kan pada saat ini marak-maraknya Jogja DEC, makanya kita tolak," ungkap Adi.

Toto tak kurang akal. Ia kembali mengajukan izin untuk mendirikan Markas Daerah Laskar Merah Putih Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) di Sidoluhur awal 2019. Lagi-lagi Pemdes Sidoluhur menolak permohonan Toto.

Toto kemudian berencana melakukan sosialisasi pendirian Markas Daerah Laskar Merah Putih DIY di Desa Sidoagung pada 28 Maret 2019. Namun, menurut Adi, sosialisasi itu juga mendapatkan penolakan dari warga.

"Jadi berencana membuka markas di sini, tapi kita tolak, karena ormas ini kita curigai kaitannya dengan Jogja DEC lagi. Makanya kami tolak langsung," terangnya.

Berdasarkan salinan dokumen yang diterima Pemdes Sidoluhur, Markas Daerah Laskar Merah Putih DIY diketuai oleh Subadri. Sedangkan Toto bersama Fanni tercatat sebagai Dewan Penasihat Laskar Merah Putih DIY.

Pengajuan izin pendirian Markas Daerah Laskar Merah Putih DIY itu juga ditolak. Bersama para pengikutnya, Toto kemudian mendirikan angkringan persis di samping rumah kontrakan Toto.

"Mereka beralih dengan niatannya membuka angkringan. Makanya itu kami panggil, terus mereka dari desa kami perintahkan untuk sosialisasi, tapi ternyata warga (sekitar) juga menolak," jelas Adi.

Pada akhirnya usaha angkringan itu tetap dibuka oleh Toto beserta pengikutnya. Raja Keraton Agung Sejagat itu lalu mendirikan sejumlah gazebo di samping rumah kontrakan yang dihuninya. Namun tadi malam angkringan itu dibongkar, dan dilepas papan tulisnya oleh polisi.

Surat izin Koperasi-Laskar Raja Keraton Agung Sejagat di tolak 2 kali

Setelah ramai diberitakan tentang keberadaan Keraton Agung Sejagat (KAS). Polisi menangkap dan mengamankan Totok Santosa (42) dan istrinya Fanni Aminadia (41) alias Dyah Gitarja, pada Selasa (14/1) pukul 17.00 WIB

Orang yang mengaku sebagai Raja dan Ratu KAS diamankan oleh pihak kepolisian saat dalam perjalanan ke markas Keraton Agung Sejagat di Desa Pogung Jurutengah, Kecamatan Bayan, Kabupaten Purworejo.

Sinuhun sebelumnya akan mengajak awak media untuk berbincang-bincang.

Hal itu mengingat ramainya pemberitaan tentang kerajaan Keraton Agung Sejagat yang mengklaim mempunyai kekuasaan di seluruh dunia.

Penangkapan dipimpin langsung oleh Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Jateng Komisaris Besar Budi Haryanto di rumah pelaku yang juga menjadi Keraton. "Kita bawa ke Polres Purworejo untuk dimintai keterangannya," kata Budi Haryanto.

Polisi berhasil mengamankan barang bukti berupa berkas atau surat-surat palsu yang dicetak sendiri pelaku untuk merekrut anggota Keraton.

Raja dan permaisuri Keraton Agung Sejagat diduga melakukan perbuatan melanggar pasal 14 UU No 1 tahun 1946 tentang penyebaran berita bohong berakibat membuat onar di kalangan rakyat dan pasal 378 KUHP tentang penipuan.

"Kita sangkakan kepada pelaku dengan pasal 14 UU No.1 tahun 1946 dan penipuan pasal 378 KUHP. Namun saat ini masih dalam pemeriksaan intensif. Masyarakat dimohon tetap tenang," tambah Budi.

Terkait adanya dugaan makar, Budi mengaku pihaknya masih tengah didalami oleh jajarannya.

Diberitakan sebelumnya, Keraton Agung Sejagat di Kabupaten Purworejo mendadak ramai diperbincangkan netizen di media sosial twiiter.

Hal yang menggelitik netizen adalah soal Keraton Agung Sejagat yang mengklaim sebagai kerajaan penguasa penerus Majapahit.

Penggeledahan istana Keraton Agung Sejagat oleh pihak Polres Purworejo, Selasa (14/1/2020) malam (TRIBUN JATENG/PERMATA PUTRA SEJATI)

Masyarakat Purworejo tengah dihebohkan dengan keberadaan Kerajaan Keraton Agung Sejagat (KAS) beberapa hari terakhir.

Keraton itu berada di RT 3 RW 1 Desa Pogung Jurutengah, Kecamatan Bayan, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah.

Layaknya sebuah kerajaan, Keraton Agung Sejagad dipimpin oleh seorang yang dipanggil dengan sebutan Sinuhun.

Nama asli sinuhun sendiri adalah Totok Santoso Hadiningrat. Dari penuturan warga setempat, Totok merupakan warga asal kota Yogyakarta.

Keberadaan Kerajaan Keraton Agung Sejagat dianggap sebagai cara menunaikan janji 500 tahun dari runtuhnya Kerajaan Majapahit tahun 1518.

Kemunculannya Keraton Agung Sejagat ini adalah untuk menyambut kehadiran Sri Maharatu (Maharaja) Jawa kembali ke Jawa.

Para pengikut KAS disebut dengan istilah punggawa kerajaan. Akhir-akhir ini aktifitas KAS membuat para warga sekitar resah.

Pada mulanya warga sama sekali tidak tahu-menahu dengan berbagai kegiatan yang dilakukan.

Warga hanya tahu bahwa di dalam area rumah yang sekarang disebut sebagai keraton, sering melakukan aktifitas budaya.

"Akan ada semacam museum, ada berbagai macam kesenian lainnya, sehingga masyarakat sekitar makmur karena ada wisatawan akan datang," ujar Sumarni (53) tetangga yang rumahnya dekat dengan area keraton, Selasa (14/1).

Dulunya hanya dikenal sebagai perkumpulan-perkumpulan biasa yang menamai dirinya sebagai Development Economic Commite (DEC).

"Itu adalah komunitas yang akan mencairkan dana pemerintah zaman dulu," katanya.

Sumarni mengatakan kegiatan mulai ramai dan datang berbagai orang dari luar mulai 14 Agustus 2019. Orang-orang datang berdatangan menggunakan kain-kain tradisional seperti kerajaan.

Orang-orang itu datang bukan dari Purworejo atau orang asli di situ, melainkan mereka datang dari luar seperti Bantul, Imogiri, dan lainnya.

Aktifitas mereka dimulai pada pukul 17.00 WIB sore, hingga sekitar pukul 22.00 WIB.

Acara yang mereka selenggarakan menggunakan tatacara upacara ala manten Jawa. Ada tarian gambyong, cucuk lampah hingga prosesi pecah telor.

Warga yang melihat prosesi tersebut menjadi terheran-heran ada kegiatan apa seperti itu.

"Kita sebagai warga jelas heran itu ada apa kok malam-malam seperti itu," katanya.

Rasa penasaran dan keanehan yang dialami oleh warga semakin bertambah mana kala pada Minggu kedua Oktober, menurut warga tiba-tiba datang sebuah batu besar pada malam hari.

Itu batunya datang jam setengah tiga malam, otomatis kita sebagai tetangga dekat jelas dengar suaranya," ungkapnya.

Setelah datang batu besar tersebut, Sumarni melihat ada kursi-kursi sudah tertata rapi.

Batu besar itu dianggap sebagai bentuk bangunan Prasasti tanda telah sah menjadi kerajaan berdiri.

Pendopo, Prasasti, hingga Sendang

Proses Pembangunan Keraton Agung Sejagat masih terus dikerjakan. Terlihat ada sebuah bangunan kerangka mirip saka atau tiang-tiang dari kayu berdiri kokoh seperti akan menjadi sebuah pendopo.

Di sisi yang lain yang kurang lebih 20 meter dari bangunan pendopo, terdapat sebuah kolam atau sendang yang memiliki sumber air tapi tidak terlalu jernih.

Sementara di sudut lain juga ada sebuah batu besar di gubug kecil agar tidak terhindar dari hujan atau panas secara langsung.

Rumah dan lahan yang saat ini ditempati menjadi Keraton Agung Sejagat adalah milik dari Cikmawan (53) warga asli RT 3 RW 1 Desa Pogung Jurutengah, Kecamatan Bayan.

Cikmawan adalah Adipati Djajadiningrat, yakni bagian dari punggawa keraton atau sebagai koordinator ndalem Keraton Agung Sejagat.

"Sinuhun itu adalah kaisar, setelah nantinya diangkat menjadi kaisar nantinya dia akan pindah di situ," kata Djajadiningrat.

Sumarni (56) yang merupakan tetangga, keraton mengatakan para pengikut keraton berpandangan aneh dan di luar kebiasaan.

Salah satu konsep pemikirannya adalah bahwa negara tidak akan sejahtera jika tidak dipimpim oleh kaisar.

Sang Kaisar sendiri adalah Totok Santoso Hadiningrat dianggap akan menjadi pemimpin dan menguasai dunia.

Namun sayang ketika ditanya terkait izin mendirikan perkumpulan, Sumarni mengatakan mereka mengaku tidak perlu izin.

"Ketika ditanya apakah sudah ada izin, mereka menjawab tidak perlu izin di Indonesia. Hal itu karena pengaruhnya yang sudah internasional.

Hebohkan warga Purworejo. Penangkapan Ratu Agung Sejagat lengkap

Tersangka pejambretan, Aji Soleh (29) berhasil diringkus oleh Tim Unit Reskrim Polsek Pedurungan, Selasa (14/1/2020).

Tersangka ditangkap di rumah beralamat di Kelurahan Gebangsari, Genuk.

Dia sebelumnya merampas handphone milik Korban, Dwi Ambar Puspitasari

"Alhamdulillah setelah kurang lebih 6 jam kami berhasil meringkus tersangka," tutur Kapolsek Pedurungan AKP Eko Rubiyanto.

Dikatakan Kapolsek ternyata tersangka sudah tiga kali menjambret di wilayah Tlogosari.

Maka setelah ditangkap di rumahnya, tersangka diminta Polisi untuk menunjukan tempat kejadian perkara (TKP) selama pelaku melakukan aksinya.

Namun saat itu ternyata korban berusaha kabur.

Polisi menembak kaki kanan tersangka.

"Tersangka mengaku sudah tiga kali beraksi.
Untuk itu terus kami dalami dengan melakukan penyelidikan lebih lanjut dari lokasi mana saja dan mengumpulkan barang bukti, " ujarnya.

AKP Eko menegaskan masih terus mendalami aksi penjambretan tersangka yang melibatkan anaknya.

Begitupun juga informasi terkait keterlibatan istri tersangka ketika beraksi.

"Kami akan terus dalami yang jelas tersangka sudah ditangkap.

Setidaknya ini memberikan rasa aman dan nyaman di masyarakat khususnya di wilayah Pedurungan, " katanya.

Kapolsek menerangkan tersangka merupakan seorang residivis dengan kasus yang sama di Polsek Semarang Barat di tahun 2010.

Selanjutnya barang bukti yang diamankan berupa handphone hasil rampasan berjenis Oppo A5, Motor supra X nopol H 6974 WS, satu helm warna merah dan jaket warna coklat.

"Kami jerat tersangka dengan Pasal 361 KUHP terkait pencurian dengan ancaman hukuman maksimal 9 tahun," paparnya.

Sementara Korban, Dwi Ambar Puspitasari (19) mengaku saat itu sedang menggunakan handphone untuk menghubungi teman kampusnya.

Tiba-tiba dari arah belakang ada pria yang merebut handphone dari tangannya.


"Saya refleks mempertahankan handphone kemudian saya terseret hampir lima meter, akibatnya saya terluka di bagian tangan lutut dan pinggang," jelasnya. (Iwan Arifianto)

Polsek Pedurungan tembak kaki pelaku jambret

BANYUWANGI JATIM - Seorang pria bernama Tiswanto (54), warga Desa Kumendung, Kecamatan Muncar, Kabupaten Banyuwangi, ditemukan tewas sekitar pukul 14.00 Wib, Selasa (14/1/2020).

Korban ditemukan tewas di sebuah bangunan bekas salon mobil Jalan Raya Banyuwangi-Jember, Kecamatan Kabat, Kabupaten Banyuwangi.

Kapolsek Kabat AKP Supriyadi mengatakan, dari keterangan sejumlah saksi, korban ditemukan terlentang tidak bergerak sekitar pukul 14.00 Wib di tempat bekas salon mobil.

Sebelum tergeletak, korban diketahui turun dari motornya sekira pukul 12.00 Wib.

"Seorang warga yang melihat korban mulai curiga karena korban tidak bergerak lama. Warga itu kemudian lapor ke kami," terang Supriyadi.

Setelah mendapat laporan, Supriyadi dan sejumlah anggotanya mendatangi lokasi yang tak jauh dari mapolsek.

Setelah diperiksa, korban sudah tidak bernyawa, sehingga Supriyadi mendatangkan Tim Inafis Polresta Banyuwangi.

Dalam identifikasi awal, Tim Inafis tidak menemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban. Keluarga korban juga sudah menerima peristiwa meninggalnya korban.

Berdasarkan keterangan dari keluarga, korban mempunyai riwayat penyakit jantung dan sudah dua kali dirawat di rumah sakit akibat penyakit dalam tersebut.

"Keluarganya menolak proses autopsi terhadap jenazah korban dan menganggap kejadian tersebut sebagai takdir," tandas Supriyadi.

Pria Banyuwangi Tewas dalam Bangunan Bekas Salon Mobil

Seekor anak macan tutul (Panthera Pardus Melas) berusia sekira 1,5 tahun ditemukan dalam keadaan mati di kawasan hutan Gunung Muria, tepatnya di Kebun Sekar Gading, Desa Plukaran, Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati, Minggu (12/1/2020) lalu.

Mengenai hal ini, Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Jawa Tengah Darmanto menjelaskan, bangkai macan tutul berjenis kelamin jantan tersebut ditemukan oleh Siti, istri dari Tarmuin, warga Dukuh Beji RT 3 RW 2, Desa Plukaran, Kecamatan Gembong.

“Lokasi ditemukannya kira-kira 50 meter dari kendang sapi. Bangkai macan tutul yang ditemukan dalam kondisi anus berdarah tersebut kemudian dikuburkan oleh masyarakat, sehari setelah ditemukan,” ujar Darmanto.

Ia menyebut, Balai KSDA Jawa Tengah baru mendapat informasi mengenai kematian satwa dilindungi tersebut pada Senin, 13 Januari 2020 sore. Pihaknya pun langsung melakukan evakuasi.

Jelang tengah malam, sekira pukul 23.30 WIB, bangkai macan tutul tersebut sampai di Kantor Balai KSDA Jateng, diantarkan oleh petugas Resort Konservasi Wilayah (RKW) Pati dan Ketua Paguyuban Masyarakat Pelindung Hutan (PMPH) Gunung Muria, Shokib.

“Selanjutnya, kami bersama Drh Hendrik dari Semarang Zoo melakukan pemeriksaan kematian dengan rontgen dan uji laboratorium lambung dan usus,” jelasnya.

Pada hari ini, Selasa (14/1/2020), hasil pemeriksaan di Klinik Hewan Griya Satwa Lestari menyatakan, tidak ditemukan adanya proyektil/benda asing maupun luka baru di tubuh macan tutul tersebut.

Struktur tulangnya pun tidak mengalami perubahan.

“Selanjutnya, untuk mengetahui penyebab kematian lainnya, direncanakan akan dilakukan uji laboratorium lambung dan usus di Departemen Patologi Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga,” pungkasnya. (MZK)

Warga Gebong temukan Macan Tutul Mati di Hutan Gunung Muria Pati

Kecelakaan di tol Batang-Semarang Jawa Tengah Km 373, masuk wilayah Sawangan, Grinsing, Batang, terjadi pada Selasa (14/01/2020) dini hari.

Sebuah mobil Toyota Avanza bernomor polisi B 1893 PFS , mengalami kecelakaan tunggal di tol Batang-Semarang.

Akibat kecelakaan itu, dua orang penumpangnya, Tori (35) dan Sahidin (35), keduanya warga jalan Prapatan Baru, Kelurahan Senen Jakarta, tewas seketika.

Dua penumpang lainnya, yakni sopir mobil Rosyid dan Solikhin Hidayat warga Jakarta, mengalami luka-luka dan dirawat di Rumah Sakit Islam (RSI) Weleri Kendal.

Menurut Rosyid, saat kejadian, hujan turun deras dan jalan licin.

Mobil Avanza yang ia kemudikan melaju dari arah barat menuju ke Pasuruan Jawa Timur.

Namun, sesampai di tol Batang-Semarang KM 373, tiba-tiba Rosyid tidak bisa mengendalikan laju kendaraan dan terpelanting menabrak median jalan, hingga mobil masuk ke parit.

“Saya tidak tahu persis, tiba-tiba mobil oleng menabrak median, oleng ke kiri dan masuk ke parit yang ada di pinggir jalan tol,” kata Rosyid.

Hingga kini, dua jenazah korban kecelakaan masih disemayamkan di kamar jenasah RSI  Weleri Kendal, sementara dua korban luka menjalani perawatan intensif.

Kasus kecelakaan tunggal ini masih dalam penanganan satuan lalu lintas Polres Batang.

Untuk mobil Avanza yang ringsek, diamankan di pintu tol Weleri.

Kecelakaan tunggal di tol Batang-Semarang. 2 orang meninggal