Social Items

Showing posts with label Alam Dunia. Show all posts
Showing posts with label Alam Dunia. Show all posts
"Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warna-nya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. (QS. Al Hadiid, 57: 20)

Dalam ayat lainnya, Allah menyebutkan kecenderungan manusia kepada dunia daripada akhirat:

Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal. (QS. Al-A'laa, 87: 16-17)

Berbagai masalah muncul hanya karena, dibandingkan hari akhirat, manusia menilai hidup ini terlalu tinggi. Mereka merasa senang dan puas dengan apa yang mereka miliki di sini, di dunia ini. Perilaku seperti ini tidak lain berarti memalingkan diri dari janji Allah dan karenanya dari realitas keberadaan-Nya yang agung. Allah menyatakan bahwa akhir yang memilukan telah menunggu mereka.

"Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan Kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami. (QS. Yunus, 10: 7)

Tentu saja, ketidak sempurnaan hidup ini tidak menyangkal kenyataan adanya hal-hal yang baik dan indah di muka bumi. Tetapi di bumi ini, apa yang dinilai indah, menggembirakan, menyenangkan, dan menarik berpasang-pasangan dengan ketidak sempurnaan, cacat dan jelek. Tentu saja, jika diamati dengan pikiran yang tenang dan teliti, fakta-fakta ini akan membuat seseorang menyadari kebenaran hari akhir. Bersama Allah, kehidupan yang benar-benar baik dan bermanfaat bagi manusia adalah kehidupan akhirat.

Allah memerintahkan para hamba-Nya yang setia untuk berupaya keras memperoleh surga dalam ayat berikut:

"Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa." (QS. Ali ‘Imran, 3: 133)

Dalam Al Quran, orang-orang yang beriman diberikan kabar gembira mengenai ganjaran dan kebahagiaan abadi. Namun, apa yang umumnya diabaikan adalah fakta bahwa kebahagiaan dan kesenangan abadi ini dimulai semenjak kita masih ada di kehidupan sekarang ini. Ini karena, di dunia ini juga, orang-orang beriman tidak dicabut dari kemurahan hati dan kasih sayang Allah.

Dalam Al Quran, Allah menyatakan bahwa orang mukmin sebenarnya yang menyibukkan diri dengan amal kebajikan di dunia ini akan memperoleh tempat tinggal yang amat baik di Akhirat:

"Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan". (QS. An-Nahl, 16: 97)

Sebagai ganjaran dan sumber kebahagiaan, di dunia ini Allah melimpahkan banyak kemurahan dan juga rezeki yang tak terduga-duga dalam kehidupan yang menyenangkan secara pribadi dan masyarakat kepada hamba-hamba-Nya yang sejati. Inilah hukum Allah yang kekal.

Karena kekayaan, kemegahan, dan keindahan merupakan ciri-ciri asasi dari surga, Allah juga membuka kekayaan-Nya kepada orang-orang mukmin yang tulus di dunia ini. Ini tentu saja awal dari kehidupan yang menyenangkan dan terhormat tanpa akhir.

Berbagai tempat dan perhiasan yang indah di dunia ini hanyalah gaung dari yang sebenarnya di surga. Keberadaan mereka membuat orang mukmin sejati memikirkan surga dan merasa kerinduan yang makin dalam kepadanya.

Pribadi mukmin adalah seorang yang terus-menerus menyadari keberadaan penciptanya. Dia tunduk akan semua perintah-Nya dan berhati-hati menjalani kehidupan sebagaimana diuraikan dalam Al Quran. Dia memiliki dugaan dan harapan yang realistis bagi kehidupannya setelah kematian. Karena seorang mukmin meletakkan kepercayaannya kepada penciptanya, Allah meringankan semua kesengsaraan dan penderitaan dari hatinya.

Ini sudah tentu merupakan sebuah perasaan aman yang mengilhami hati seorang mukmin yang memahami bahwa:

"Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah."(QS. Ar-Ra'd, 14: 11)

"dan bahwa dia akan memperoleh kemenangan dalam perjuangannya dengan nama Allah, dan bahwa dia akan menerima kabar baik mengenai ganjaran abadi: surga. Maka, mukmin sejati tidak pernah takut atau bersedih, sesuai dengan ilham Allah kepada para malaikat "Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkan orang-orang yang telah beriman"(QS. Al Anfaal, 8: 12)


"Orang mukmin adalah mereka yang berkata "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka" (QS. Fushshilat, 41: 30).

"bagi mereka para malaikat turun" dan kepada siapa para malaikat berkata, "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu" (QS. Fusshhilat, 4: 30).

"Orang mukmin juga menyadari bahwa pencipta mereka "tidak memikulkan kewajiban kepada diri seseorang melainkan sekadar kesanggupannya"(QS. Al A'raaf, 7: 42).

"Mereka sangat menyadari bahwa"Allah lah menciptakan segala sesuatu menurut ukuran."(QS. Al Qamar, 54: 49).

Jadi, merekalah yang berkata,

"Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal" (QS. At-Taubah, 9: 51) 

dan meletakkan kepercayaannya kepada Allah.

 "Tidak ada kerugian bagi mereka" karena "Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung" (QS. Ali Imran, 3: 173-174).

Namun, karena dunia merupakan tempat untuk menguji semua manusia, orang mukmin perlu dihadapkan pada beberapa kesulitan. Kelaparan, kehausan, kehilangan harta, penyakit, kecelakaan, dan sebagainya mungkin menimpa mereka kapan pun juga. Kemiskinan, juga bentuk-bentuk kesulitan atau kemalangan lainnya mungkin pula menimpa mereka. Bentuk ujian yang mungkin dilalui seorang mukmin diterangkan sebagai berikut dalam Al Quran:

"Dan Allah menyelamatkan orang-orang yang bertakwa karena kemenangan mereka, mereka tiada disentuh oleh azab (neraka dan tidak pula) mereka berduka cita". (QS. Az-Zumar, 39: 61)


Ketakutan, kehilangan harapan, pesimisme, kesedihan, kecemasan, dan gejolak yang merupakan ciri pembawaan dari orang yang tidak beriman di dunia tak lain hanya bentuk kecil dari kepedihan sebenarnya yang akan mereka tanggung di akhirat.

"menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman." (QS. Al An'aam, 6: 125)

Di lain pihak, orang mukmin sejati yang mencari pengampunan dan bertobat kepada Allah menerima kemurahan dan kasih sayang Allah di dunia ini sebagaimana dituturkan ayat berikut:

"Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertobat kepada-Nya. (Jika kamu mengerjakan demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus-menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberi kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari kiamat". (QS. Huud, 11: 3)

Pada ayat lain, kehidupan orang-orang mukmin diuraikan sebagai berikut:

Dan dikatakan kepada orang-orang yang bertakwa:

"Apakah yang telah diturunkan oleh Tuhanmu?" Mereka menjawab: "kebaikan". Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini mendapat yang baik. Dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik dan itulah sebaik-baik tempat bagi orang yang bertakwa." (QS. An-Nahl, 16: 30-31)

Hari akhirat jelas lebih utama dan lebih baik daripada dunia ini. Dibandingkan dengan hari akhir, dunia ini tak lain hanyalah sarana dan merupakan tempat yang tak berharga sama sekali. Maka, jika seseorang ingin mencari tujuan untuk dirinya, tujuan itu haruslah surga di akhirat.

Seharusnya juga diingat bahwa mereka yang mencari surga menerima kebajikan dari Penciptanya di dunia ini juga. Tetapi mereka yang mencari kehidupan dunia ini dan mendurhaka terhadap Allah seringkali tak mendapatkan apa-apa yang berharga darinya dan kemudian kediaman mereka pada kehidupan selanjutnya adalah neraka.

SURGA


Allah menjanjikan surga bagi mereka yang menghadap-Nya sebagai mukmin. Tentu saja, Allah tidak pernah menyalahi janji-Nya. Mereka yang teguh keimanannya mengetahui bahwa Pencipta mereka akan memegang janji-Nya dan bahwa mereka akan diterima di surga asalkan mereka hidup sebagai mukmin sejati di dunia ini:

"Yaitu surga 'Adn yang telah dijanjikan oleh Tuhan Yang Maha Pemurah kepada hamba-hamba-Nya, sekalipun (surga itu) tidak tampak. Sesungguhnya janji Allah pasti akan ditepati." (QS. Maryam, 19: 61)

Saat memasuki surga merupakan hal terpenting bagi orang-orang mukmin yang beriman dan beramal saleh. Sepanjang hayat, mereka bekerja keras, berdoa, melakukan hal-hal yang benar untuk memperolehnya. Di sisi Allah, itulah tentunya tempat terbaik untuk tinggal dan tempat paling nyata untuk dicapai: surga, tempat yang disediakan khusus bagi mereka yang beriman. Allah menceritakan saat yang unik ini dalam ayat berikut:

"(Yaitu) surga 'Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, istri-istrinya, dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu; (sambil mengucapkan), ‘Keselamatan atas kamu karena kesabaranmu,' Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu." (QS. Ar-Ra'd, 13: 23-24)

KEINDAHAN SURGA


"Perumpamaan surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa ialah (seperti taman), mengalir sungai-sungai di dalamnya; buahnya tiada henti sedang naungannya (demikian pula). Itulah tempat kesudahan bagi orang-orang yang bertakwa; sedang tempat kesudahan bagi orang-orang kafir ialah neraka. (QS. Ar-Ra'd, 13: 35)

Keindahan dan keagungan surga jauh melebihi imajinasi manusia. Penyebutan Quran "Kedua surga itu mempunyai pohon-pohonan dan buah-buahan," (QS. Ar-Rahman, 55:48) jelas mengilustrasikan gambaran hidup tentang sifat nyata dari surga.

Yang dimaksud dengan "afnan" (pohon-pohonan dan buah-buahan) adalah hal-hal yang diciptakan khusus oleh Allah Yang Mahatahu. Kesenangan ini dapat pula menjadi imbalan yang mengejutkan atau hal-hal yang memberi kesenangan yang tak pernah dibayangkan manusia. Janji Allah, "kesenangan" adalah hal-hal yang khusus diciptakan Allah Yang Mahatahu.

Kesenangan ini mungkin akan menjadi ganjaran yang mengejutkan atau hal yang tak pernah terbayangkan oleh manusia. Janji Allah, "Mereka memperoleh apa yang mereka kehendaki di sisi Tuhan mereka. Yang demikian itu adalah karunia yang besar."(QS. Asy-Syura, 42: 22) menjelaskan bahwa sebagai kemurahan Allah, imajinasi orang mukmin akan membentuk Surga sesuai dengan selera dan keinginan mereka.

KEHIDUPAN AKHIRAT DALAM ISLAM



Tatkala nyawa-nyawa telah dihidupkan kembali, mereka kemudian mencari jasadnya masing-masing. Selama seribu tahun mereka menunggu keputusan Allah SWT sambil duduk, seribu tahun sambil berdiri seribu tahun sambil menengadah terus-menerus, dan seribu tahun sambil menunduk terus-menerus.

Mereka pun bertanya, "Ke manakah kita pergi?"

Mereka segera dihimpunkan ke Padang Mahsyar. Orang-orang kafir dan berdosa terendam oleh banjir peluhnya sendiri. Di padang mahsyar orang yang mula-mula berusaha ialah Nabi Ibrahim as. Beliau bergantung dengan asap ‘Arsy yang naik lalu menyeru:

"Tuhanku dan Penguasaku! Aku adalah khalil-Mu Ibrahim. Kasihanilah kedudukanku pada hari ini! Aku tidak meminta kejayaan Ishak dan anakku pada hari ini."

Allah Ta’ala berfirman: "Wahai Ibrahim! Adakah kamu melihat Kekasih mengazab kekasihnya."

Nabi Musa as datang. Beliau bergantung dengan asap ‘Arsy yang naik lalu menyeru:

"Kalam-Mu. Aku tidak meminta kepada-Mu melainkan diriku. Aku tidak meminta saudaraku Harun. Selamatkanlah aku dari kacau balau Jahanam!"

Isa as datang di dalam keadaan menangis. Beliau pun bergantung dengan ‘Arsy lalu menyeru:

"Tuhanku… Penguasaku.. Penciptaku! Isa roh Allah. Aku tidak meminta melainkan diriku. Selamatkanlah aku dari kacau balau Jahanam!" Suara jeritan dan tangisan semakin kuat.

Nabi Muhammad SAW menyeru: "Tuhanku.. Penguasaku Penghuluku…! Aku tidak meminta untuk diriku. Sesungguhnya aku meminta untuk umatku dari-Mu!"

Ketika itu juga, neraka Jahanam berseru: "Siapakah yang memberi syafaat kepada umatnya?" Neraka pula berseru: "Wahai Tuhanku… Penguasaku dan PenghuluKu! Selamatkanlah Muhammad dan umatnya dari siksaannya! Selamatkanlah mereka dari kepanasanku, bara apiku, penyiksaanku dan azabku! Sesungguhnya mereka adalah umat yang lemah. Mereka tidak akan sabar dengan penyiksaan." Malaikat Zabaniah menolaknya sehingga terdampar di kiri ‘Arsy. Neraka sujud di hadapan Tuhannya.

Allah Ta’ala berfirman: "Di mana matahari?" Maka, matahari dibawa menghadap Allah Ta’ala. la berhenti di hadapan Allah Ta’ala.

Allah Ta’ala berfirman kepadanya, "Kamu! Kamu telah memerintahkan hamba-Ku untuk sujud kepada kamu?"

Matahari menjawab. "Tuhanku! Maha Suci diri-Mu! Bagaimana aku harus memerintahkan mereka berbuat demikian sedangkan aku adalah hamba yang halus?"

Allah Ta’ala berfirman: "Aku percaya!"

Allah Ta’ala telah menambahkan cahaya dan kepanasannya sebanyak 70 kali lipat, la telah didekatkan dengan kepala makhluk.

Ibnu Abbas berkata: "Peluh manusia bertiti dan sehingga mereka berenang di dalamnya. Otak-otak kepala mereka menggeleggak seperti periuk yang sedang panas. Perut mereka menjadi seperti jalan yang sempit. Air mata mengalir seperti air mengalir”.

Suara ratap umat-umat manusia semakin kuat. Nabi Muhammad SAW lebih-lebih lagi sedih. Air matanya telah hilang dan kering dari pipinya. Sekali, baginda SAW sujud di hadapan ‘Arsy dan sekali lagi, baginda SAW rukuk untuk memberi syafaat bagi umatnya. Para Nabi melihat keluh kesah dan tangisannya.

Mereka berkata: "Maha Suci Allah! Hamba yang paling dimuliakan Allah Ta’ala ini begitu terbebani akan hal keadaan umatnya”.

Dari Thabit Al-Bani, dari Usman Am Nahari berkata: "Pada suatu hari Nabi SAW menemui Fatimah Az-Zahara’ r.h. Baginda SAW dapati, dia sedang menangis.

Baginda SAW bersabda: "Permata hatiku! Apa yang menyebabkan dirimu menangis?"

Fatimah menjawab "Aku teringat akan firman Allah Ta’ala, “Dan, kami akan menghimpunkan, maka Kami tidak akan mengkhianati walau seorang dari mereka."

Lalu Nabi SAW pun menangis. Baginda SAW bersabda: "Wahai permata hatiku! Sesungguhnya, aku teringat akan hari yang terlalu dahsyat Umatku telah dikumpulkan pada hari kiamat dikelilingi dengan perasaan dahaga dan telanjang Mereka memikul dosa mereka di atas belakang mereka Air mata mereka mengalir di pipi."

Fatimah r.h. berkata: "Wahai ayah Apakah wanita tidak merasa malu terhadap lelaki?"

Baginda SAW menjawab: "Wahai Fatimah! Sesungguhnya, hari itu, setiap orang akan sibuk dengan nasib dirinya. Adapun aku telah mendengar Firman Allah Taala "Bagi setiap orang dari mereka, di hari itu atau satu utusan yang melalaikan dia. ( Abasa: 37)

Fatimah ra. bertanya: "Di mana aku hendak mendapatkanmu di hari kiamat nanti, wahai ayahku?"

Baginda SAW menjawab. "Kamu akan menjumpaiku di sebuah telaga ketika aku sedang memberi minum umatku."

Fatimah r.h. bertanya lagi: "Sekiranya aku dapati engkau tiada di telaga?"

Baginda SAW bersabda: "Kamu akan menjumpaiku di atas Shirat sambil dikelilingi para Nabi. Aku akan menyeru: "Tuhan Kesejahteraan! Tuhan Kesejahteraan! Para malaikat akan menyambut: "Aamiin." Ketika itu juga, terdengar seruan dari arah Allah Ta’ala lalu berfirman: "Niscaya akan mengikuti kata-katanya pada apa yang kamu sembah." Setiap umat akan berkumpul dengan sesuatu yang mereka sembah. Ketika itu juga, neraka Jahanam melebarkan tengkuknya lalu menangkap mereka sebagaimana burung mematuk kacang.

Apabila seruan dari tengah ‘Arsy terdengar, maka manusia yang menyembah-Nya datang beriring. Sebagian dari orang yang berdiri di situ berkata: "Kami adalah umat Muhammad SAW!" Allah Ta’ala berfirman kepada mereka: "Mengapa kamu tidak mengikuti orang yang kamu sembah?" Mereka berkata: "Kami tidak menyembah melainkan Tuhan Kami. Dan, kami tidak menyembah selain-Nya" Mereka ditanya lagi: "Kamu mengenali Tuhan kamu?" Mereka menjawab: "Maha Suci diriNya! Tiada yang kami kenali selainNya."

Apabila ahli neraka dimasukkan ke dalamnya untuk diazab, umat Muhammad SAW mendengar bunyi pukulan dan jeritan penghuni neraka. Lalu malaikat Zabaniah mencela mereka. Mereka berkata: "Marilah kita pergi meminta syafaat kepada Muhammad SAW!"

Manusia berpecah kepada tiga kumpulan.

Kumpulan orang tua yang menjerit-jerit.

Kumpulan pemuda.

Wanita yang bersendirian mengelilingi mimbar-mimbar.

Mimbar para Nabi didirikan di atas kawasan lapang ketika kiamat. Mereka semua berharap kepada mimbar Nabi Muhammad SAW. Mimbar Nabi Muhammad SAW terletak berdekatan dengan tempat berlaku kiamat, la juga merupakan mimbar yang paling baik, besar dan cantik. Nabi adam as dan isterinya Hawa berada di bawah mimbar Nabi SAW.

Hawa melihat ke arah mereka lalu berkata: "Wahai Adam! Ramai dari zuriatmu dari umat Muhammad SAW serta cantik wajah mereka. Mereka menyeru "Di mana Muhammad?" Mereka berkata: "Kami adalah umat Muhammad SAW. Semua umat telah mengiringi apa yang mereka sembah Hanya tinggal kami saja. Matahari di atas kepala kami. la telah membakar kami. Neraka pula, cahaya juga telah membakar kami. Timbangan semakin berat. Oleh itu tolonglah kami agar memohon kepada Allah Ta’ala untuk menghisab kami dengan segera! Sama halnya kami akan pergi ke sorga atau neraka."

Nabi Adam as berkata: "Pergilah kamu dariku! Sesungguhnya aku sibuk dengan dosa-dosaku. Aku mendengar firman Allah Ta’ala: Dan dosa Adam terhadap Tuhannya karena lalai”.

Mereka berjalan selama seribu tahun. Mereka pergi berjumpa nabi Nuh as yang telah berumur, umur yang panjang dan sangat sabar. Mereka menghampirinya. Tatkala Nabi Nuh as melihat mereka, dia berdiri.

Pengikut (umat Nabi Muhammad SAW) berkata: "Wahai datuk kami, Nuh! Tolonglah kami kepada Tuhan kami agar Dia dapat memisahkan di antara kami dan mengutuskan kami dari ahli sorga ke sorga dan ahli neraka ke neraka."

Nabi Nuh as berkata: "Sesungguhnya, aku sibuk dengan kesalahanku. Aku pernah mendoakan agar kaumku dimusnahkan. Aku malu dengan Tuhanku. Pergilah kamu berjumpa Ibrahim kekasih Allah Ta’ala! Mintalah kepadanya agar menolong kamu!"

Nabi Ibrahim as berkata: "Sesungguhnya aku pernah berbohong di dalam usiaku sebanyak tiga pembohongan di dalam Islam. Aku takut dengan Tuhanku. Pergilah kamu berjumpa Musa as! Mintalah pertolongan darinya!"

Nabi Musa as berkata: "Aku sibuk dengan kesalahanku. Aku pernah membunuh seorang nyawa tanpa hak Aku membunuhnya bukan dari kemauanku sendiri. Aku dapati dia melampaui batas terhadap seorang lelaki Islam. Aku ingin memukulnya. Aku terperanjat kerana menyakitinya lalu menumbuk lelaki tersebut, la jatuh lalu mati. Aku takut terhadap tuntutan dosaku Pergilah kamu berjumpa Isa as!"

Mereka pergi berjumpa nabi Isa a.s. Nabi Isa a.s. berkata: "Sesungguhnya Allah Ta’ala telah melaknat orang-orang Kristen. Mereka telah mengambil aku, ibuku sebagai dua Tuhan selain Allah Ta’ala. Hari ini, aku malu untuk bertanya kepada Nya mengenai ibuku Maryam."

Maryam, Asiah, Khadijah dan Fatimah Az-Zahra’ sedang duduk. Ketika Maryam melihat umat Nabi Muhammad SAW dia berkata: "Ini umat Nabi Muhammad SAW. Mereka telah sesat dari Nabi mereka."

Suara Maryam, telah didengar oleh Nabi Muhammad SAW, Nabi Adam a.s. berkata kepada nabi Muhammad SAW. "Ini umatmu, wahai Muhammad! Mereka berkeliling mencarimu untuk meminta syafaat kepada Allah Taala."

Nabi Muhammad SAW menjerit dari atas mimbar lalu bersabda: "Marilah kepadaku, wahai umatku! Wahai siapa yang beriman dan tidak melihatku. Aku tidak pernah lari dari kamu melainkan aku sentiasa memohon kepada Allah Ta’ala untukmu!" Umat Nabi Muhammad SAW berkumpul di sisinya.

Terdengar suara seruan: "Wahai Adam! Kemarilah kepada Tuhanmu!" Nabi Adam as berkata: "Wahai Muhammad! Tuhanku telah memanggilku. Moga moga Dia akan meminta kepadaku." Nabi Adam as pergi menemui Allah Taala.

Allah Ta’ala berfirman kepadanya: "Wahai Adam! Bangunlah dan antarkan anak- anakmu ke neraka!" Nabi Adam as bertanya: "Berapa banyak untukku kirimkan?" Allah Taala berfirman: Setiap seribu lelaki kamu antarkan seorang ke sorga, 999 orang ke neraka "

Allah Ta’ala berfirman lagi: "Wahai Adam! Sekiranya Aku tidak melaknat orang yang berdusta dan Aku haramkan pembohongan, niscaya Aku akan mengasihi anakmu keseluruhannya. Akan, tetapi, Aku telah janjikan sorga bagi orang yang mentaati-Ku Neraka pula bagi orang yang mendurhakai-Ku. Aku tidak akan memungkiri janji Wahai Adam! Berhentilah di sisi mizan (timbangan)”.

Umat Nabi Muhammad menangis memohon kepada Nabi Muhammad saw, katanya, "Tuan, engkau yang kami harapkan memohonkan keputusan kepada Tuhan Yang Esa, karena kami sudah terlalu lama menderita, Tuan. Berjalan berdesak-desakan melalui jalan yang panjang; pergi dari satu nabi ke nabi yang lain, dan tidak ada yang mau bersedia memohonkan keputusan kepada Tuhan yang menciptakan. Semuanya berkata, ‘Aku sendiri sangat malu dan takut memohonkan keputusan kepada Tuhan’ "

Nabi Muhammad saw berucap, "Betul perkataanmu dan pengharapanmu. Itulah gunanya keberadaanku, yaitu memohonkan syafa’at kepada Tuhan yang empunya. Mudah-mudahan Tuhan Yarig Mahamurah dan Mahakasih menaruh kasih kepada hamba-Nya."

Bergembiralah mereka mendengar penjelasan dari nabi kita. Lalu Nabi Muhammad saw pergi menemui Allah SWT. Di hadapan Allah SWT, Nabi saw bersujud dan memuji tak henti-hentinya, dan berkata, "Yang aku mohon kepada-Mu, Tuhan, berikanlah keputusan karena sudah terlalu lama di Padang Mahsyar."

Setelah berkata demikian, Nabi saw bersujud dan memuji kembali. Allah SWT berfirman kepada beliau, "Pergilah Muhammad, adililah semua hamba yang hina dina itu agar masuk sorga hamba yang mulia dan benar, serta masuk neraka hamba yang tak mendengar apa yang tertulis dalam Kitab yang diturunkan ke alam dunia."

Demikianlah, orang yang tertipu dengan kehidupan dunia, dan tidak berbuat amal kebaikan, dan menyangka Tuhan tidak akan membalas perbuatan baik dan buruknya.

Rasulullah saw kembali kepada orang-orang yang tengah menunggu keputusan itu. Kemudian beliau memisahkan orang-orang yang diketahui banyak berbuat dosa dan banyak berbuat kebaikan. Orang-orang yang terbukti bersalah bergemetar hebat ketakutan, karena akan dimasukkan ke dai am neraka. Mereka sudah melihat ombak lautan api yang siap melahapnya di atas jembatan shirathal mustaqim. Melewati jembatan itu, orang harus menjalaninya selama tiga tahun. Lebih kecil daripada sehelai rambut. Lebih tajam daripada sebilah pedang. Di bawahnya terdapat binatang-binatang buas yang siap memangsanya. Orang-orang bersalah tertunduk menangis seraya berkata, "Inilah balasannya, karena aku tidak mau mendengar pengajaran dari para ulama. Tidak mendengar apa yang dikatakan dalam Kitab yang telah diturunkan ke dunia."

Dipisahkanlah orang-orang kafir dan Kristen, orang Islam yang tidak shalat. dan orang munafik berbaris memanjang. Ada yang dirantai kemudian diikat satu dengan yang lainnnya, lalu dimasukkan ke dalam neraka.

Jibril bertanya kepada Rasul saw mengenai batasan umatnya. Mereka adalah, kata Nabi saw, orang yang dapat mengucapkan dua kalimat syahadat. Namun tidak semuanya langsung masuk sorga, melainkan banyak yang dimasukkan ke neraka terlebih dahulu.

Setelah dipisahkan, Rasul saw pun datang kepada Allah SWT untuk melaporkannya. Dan Rasulullah saw juga memohon kepada Allah untuk membawa umatnya masuk ke dalam sorga bersama-sama Rasul saw. Allah pun mengabulkan keinginan Rasulullah saw itu.

Umat Muhammad saw berbaris berdasarkan bendera yang dibawa pimpinannya. Kelompok Kelompok itu berjumlah hingga 400.000 kelompok. Mereka berjalan menuju ke sorga. Namun, masih banyak umat Nabi saw yang tidak terbawa. Mereka tidak bisa mengangkat kakinya di Padang Mahsyar. Matanya pun Buta. Demikianlah nasib orang-orang Islam yang tidak mempedulikan ajaran-ajaran agamanya dalam kehidupannya di dunia.

Rombongan Nabi saw dan umatnya kini telah sampai di Telaga Al- Kautsar. Di sana sudah tersedia cawan-cawan untuk meminum air telaga. Rombongan pun meminumnya. Setelah itu, mereka berjalan lagi menuju ke sungai madu. Di sini pun mereka singgah untuk menikmatinya. Dari sungai ini, perjalanan dilanjutkan ke sungai susu. Semuanya menikmati air susu yang tidak terhingga kenikmatannya itu. Selanjutnya, perjalanan menuju ke sungai Salsabil, yang bebatuannya adalah permata hijau. Seperti yang dilakukan sebelumnya, di tempat ini pun rombongan menikmati terlebih dahulu air sungai yang’amat-sangat nikmatnya itu.

Kemudian rombongan menjumpai sebuah pohon yang teramat besarnya. Terdapat bermacam-macam buah-buahan yang tumbuh di pohon itu. Umat Nabi saw bertanya kepada beliau, "Apa namanya pohon yang besar itu, yang hanya satu batangnya, namun berlainan cabang-cabangnya? Daunnya tidak terlihat kalau digenggam tetapi kalau dibentangkankan dapat menutupi dunia ini”.

Nabi Muhammad saw menjawab, "Itulah yang dinamakan pohon Tuba di sorga yang memiliki bermacam-macam rasa dari setiap jenis bebuahannya. Setelah rombongan memakan buah-buahan itu, segera tumbuh kembali buah-buahan yang baru.

Di sorga, masing-masing penghuninya diberi sebuah istana yang disertai dengan 70 bidadari. Para bidadari itu (akan) menghibur para penghuni sorga dengan mendendangkan lagu-lagu yang diiringi dengan musik-musik yang sangat merdu. Mereka seluruhnya dalam kegembiraan yang sangat.

Sementara itu, Jibril diperintahkan oleh Allah SWT untuk menemui umat Nabi Muhammad saw yang masih tertinggal di Padang Mahsyar dalam keadaan yang sangat memprihatinkan itu. "Siapa Tuhanmu dan siapa nabimu, sehingga kamu ditinggal di Padang Mahsyar?" tanya Jibril kepada mereka. "Tidak kuketahuilah siapa Tuhanku dan tidak kuingatlah nabiku. Engkaulah yang kami pertuhankan dan engkaulah juga nabi kami," jawabnya.

Segera setelah itu, Jibril kembali ke hadirat Allah SWT, lalu melaporkan, "Ada sangat banyak umatnya Muhammad saw di Padang Mahsyar, tidak dapat mengangkat kakinya dan gelap penglihatannya, sehingga tidak dapat dilihat ke mana perginya bendera nabinya. Aku menanyainya, siapa Tuhanmu dan nabimu; lalu mereka menjawabnya bahwa tidaklah kuketahui Tuhanku dan tidak kuingat nabiku. Engkaulah yang kami pertuhankan dan engkaulah juga nabi kami, (katanya kepadaku)." Mendengar laporan tersebut, Allah SWT memerintahkan Jibril untuk menyeret mereka semua ke neraka.

Setelah tujuh ratus tahun lamanya mereka menetap di neraka, Allah SWT memerintahkan Jibril untuk meninjau ke dalam neraka. Di depan api neraka yang bergolak, Jibril menyuruh api agar sedikit bergesar, "Geser-geserlah sedikit, neraka, supaya dapat kulihat ke bawah orang yang tengah disiksa itu."

Mundurlah semua api neraka itu. Jibril bertanya kepada para penghuni neraka, "Siapa sesungguhnya yang engkau pertuhankan dan yang engkau jadikan nabimu?"

Para penghuni neraka yang beragama Islam, namun banyak dosanya itu bersujud seraya berkata, "Tidak kuketahui Tuhanku, dan tidak kuingat lagi nabiku."

Jibril berkata iagi, "Bukankah yang engkau jadikan nabi itu adalah yang bernama Muhammad?"

Para penghuni neraka menyahut, "Itulah nabiku yang dinamakan Muhammad.

Jibril menanyai lagi, "Kalau begitu, mengapa engkau tidak sama-sama masuk ke dalam sorga?"

"Aku tidak melaksanakan semua yang diperintahkan Tuhan saat aku berada di dunia. Itulah sebabnya sehingga kami dihukum," jawab penghuni neraka.

Jibril kembali menghadap kepada Allah SWT untuk melaporkan hasil peninjauannya ke neraka. Kemudian Allah SWT memerintahkannya untuk menemui Nabi Muhammad saw di sorga. Membicarakan mengenai keberadaan umatnya di neraka. Ketika diberitahukan mengenai hal itu, perasaan Nabi saw sangat terharu mendengarnya.

"Adakah umatku yang masuk ke neraka?" tanya Nabi saw kepada Jibril.

"Ada sangat banyak yang masih tertinggal berceceran di Padang Mahsyar, mereka tidak dapat mengangkat kakinya dan gelap penglihatannya. Tidak dilihat ke mana perginya bendera nabinya. Lalu aku pergi menanyakan kepada mereka, "Siapa Tuhanmu dan siapa nabimu, la menjawab kepadaku, ‘Tidak kuketahuilah Tuhanku dan tidak kuingat nabiku. Engkaulah yang kami pertuhankan dan engkaulah juga yang kami jadikan nabi. Lalu Tuhan menyuruh aku membawanya ke neraka."

Nabi Muhammad saw berujar, "Duduklah semua, aku pergi bersama Jibril menghadap Tuhan!”.

Tiba di hadapan Allah SWT, Nabi saw bersujud setaya menangis, pintanya, "Kasihanilah aku, ya Tuhan. Berikanlah kepada umatku yang masuk ke dalam neraka (kasih sayang-Mu)." Allah SWT pun mengabulkan permohonan kekasih-Nya itu. Nabi saw segera mendatangi neraka. Kemudian meminta kepada Malaikat Zabaniyah agar membukakan pintu neraka.

"Bergeserlah sedikit api neraka, supaya dapat kulihat umatku," ujar Nabi saw kepada neraka. Setelah diketahui siapa saja umat nabi, beliau pun menjulurkan sorbannya. Dengan sorban itu, beliau menarik orang- orang Islam yang berdosa yang akan diselamatkan.

"Marilah kita pergi ke sumur Al-Kautsar, mandi dan cucilah bekas api neraka, serta minumlah supaya tidak haus lagi"

Betapa bahagianya orang-orang itu mendengar ucapan Nabi saw itu. Selesai mereka berada di Telaga Al-Kautsar, Nabi Muhammad saw membawanya ke sungai madu, sungai susu, dan sungai arak, untuk menikmati masing-masing airnya sebelum mereka masuk ke sorga.

Di dalam sorga, mantan penghuni neraka itu sama seperti yang lainnya, mereka dianugerahi berbagai macam ke-nikmatan.

Namun, di antara mereka ada yang mengeluhkan tanda lobang didahinya sebagai suatu tanda mantan penghuni neraka. Kepada Nabi Muhammad saw mereka mengadukan keluhannya Mendengar keluhan pada umatnya tersebut, Nabi saw segera menyampaikannya langsung kepada Allah SWT. Allah SWT pun menanggapinya;

firman-Nya, "Bawalah mereka Muhammad ke sungai yang bernama Hatoma, dan mandikanlah di sana supaya keluar lobang dahinya itu."

Di sungai Hatoma, mantan penghuni neraka itu pun mandi. Karena kemurahan Allah SWT, lobang di dahi mereka pun dapat hilang.

Di dalam sorga, kegiatan para penghuninya lebih banyak bersenang-senang seraya bertandang ke setiap istana. Bersilaturahmi ke setiap para penghuni sorga. Mereka berbincang-bincang mengenai pengalamannya selama di dunia.

Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Mu’allif dari Anas bin Malik, Rasulullah saw bersabda, "Adalah di dalam sorga pekan-pekannya tidak ada satu pun yang melakukan jual beli (perniagaan), akan tetapi hanya diisi saling mengunjungi dan menceritakan pengalamannya masing-masing selama di dunia."

Pada hari Sabtu, kaum bapak mengunjungi ke istana anak-anaknya. Hari Ahad, kaum ibu berkunjung ke anak-anaknya. Hari Senin, semua murid bersilaturahmi ke istana-istana gurunya. Hari Selasa, giliran guru-gurunya yang bertandang ke istana murid-muridnya. Pada hari Rabu, seluruh umat nabi pergi berkunjung ke istana setiap nabinya. Pada hari Kamis, giliran para Nabi yang mengunjungi umatnya. Hari Jum’at, seluruh umat penghuni sorga datang ke istana Nabi Muhammad saw.

Diriwayatkan, Rasulullah saw bersabda, "(Demi Allah) Tuhan yang nyawaku berada di tangan kodrat-Nya, tiada satu jua pun yang terlebih besar (kenikmatannya) daripada isi sorga yang lain, selain memandang Allah SWT. Itulah hari yang lebih besar daripada seluruh hari (di dalam sorga). Dan dijadikannya oleh Allah Ta’ala di dalam Sorga Jannatul Firdaus pada suatu tempat pertemuan yang bernama Kasibal Abyazar yang terbuat dari Kesturi.

Dari istana Nabi saw itu, mereka diajak oleh beliau menemui Allah SWT. Nabi Muhammad saw menggunakan Buroq sebagai kendaraannya. Yang lain pun menaiki kendaraannya masing-masing.

Di pintu sorga, mengetahui rombongan penghuninya akan menemui Tuhannya, para Malaikat melaporkan, "illahi, hamba-hamba-Mu yang benar telah datang. Laki-laki, perempuan, anak-anak, orang tua, hendak menyembah."

Allah SWT berfirman, "Aku mengasihi semua hamba-Ku yang menyembah-Ku, dan Aku mengasihi semua hamba-Ku yang mengasihi Aku. Aku memuliakan kamu semua dan semua malaikat”.

Kemudian para nalaikat menjemput para penghuni sorga. Para nabi ditempatkan di mimbar kehormatan yang terbuat dari emas yang ditatah dengan permata yang beraneka ragam coraknya. Para fuqaha ditempatkan di palaka perak. Orang-orang mukmin menempati kursi kehormatan. Orang-orang shidiq menempati permadani. Selanjutnya mereka duduk di

kursi-kursi yang memiliki tujuh puluh mahkota. Setiap mahkotanya berisi tujuh puluh macam makanan yang beraneka ragam rasa dan jenisnya. Diberinya pula buah-buahan. Mereka pun makan bersama-sama.

Allah SWT bertanya kepada Malaikat dan Penghuni sorga, "Siapakah yang akan memberi mereka minum?’

Kemudian berdirilah Nabi Adam a.s., "Kalau saya yang disuruh, maka sayalah yang akan memberi minum.

Allah berfirman, "Yang (harus) memberi mereka minum ialah yang lebih mulia daripada engkau."

Lalu Nabi Nuh a.s. berdiri dan berkata, "Akulah neneknya seluruh nabi yang diutus. Kalau saya yang disuruh, maka sayalah yang memberi mereka minum."

"Allah menanggapinya, "Yang memberi mereka minum iaiah yang lebih mulia daripada engkau."

Kini giliran Nabi Ibrahim a.s. yang berdiri, "Akulah, ya Tuhan, nabi-Mu, yang paling Engkau kasihi. Kalau saya yang disuruh, maka sayalah yang memberi mereka minum."

Allah menjawab, "Yang memberi mereka minum ialah yang lebih mulia daripada engkau."

Nabi Musa menawarkan diri pula, "Akulah, ya Tuhan, nabi-Mu yang engkau temani berbicara di dunia. Kalau saya yang disuruh, maka sayalah yang memberi mereka minum," Allah SWT tetap belum memenuhi keinginan Nabi Musa sekalipun.

"Akulah, ya Tuhan, nabi-Mu yang naik ke langit. Kalau saya yang disuruh, Maka sayalah yang memberi minum," Nabi Isa menawarkannya pula.

Namun tetap, Allah belum berkenan memenuhi keinginan nabi-nabi-Nya tersebut.

Terakhir vang mengajukan diri adalah Nabi Muhammad saw. Pintanya, "Akulah nabi-Mu yang sangat Engkau kasihi, dan akulah juga nabi-Mu yang menutup antara seluruh nabi yang diutus. Dan aku juga penghulu seluruh nabi yang diutus. Kalau saya yang disuruh, maka sayalah yang memberi mereka minum."

Namun, belum ada seorang pun yang termasuk yang dikehendaki Allah firman-Nya, "Yang memberi mereka minum adalah yang lebih mulia daripada engkau."

Nabi saw bertanya, "Siapa lagi yang lebih mulia daripada saya?’
Allah SWT menjawab, "Nanti Tuhannya yang akan memberi mereka minum dengan piala yang bersih kepada hamba yang mulia dan takut kepada Tuhannya." Maka berdatanganlah piala piala emas itu dari atas ‘Arsy, kemudian mendekat pada mulut mereka masing masing.

Kemudian Allah SWT berfirman, "Tuhanmu yang memberikan kepada kamu piala-piala emas." Mereka pun meminum suguhan dari Tuhannya itu.

"Aku gantikan semua (pakaianmu), dan Aku juga memasangimu gelang, banyaknya tujuh puluh gelang dan cincin emas di jarinya yang bertuliskan.

Pertama, berbunyi, "sejahtera kepada kamu, sentosalah kepada kamu, diamlah kamu di dalam sorga kekal selama-lamanya". Kedua, tulisan cincinnya berbunyi, "selamat/amanlah kamu semua di dalam sorga". Ketiga, tulisan cincinya berbunyi, "sorga adalah balasan dari perbuatanmu". Keempat, berbunyi, "Aku memakaikan kamu pakaian yang beraneka ragam". Kelima, berbunyi, "engkau sudah mendapat semua yang engkau ingini". Keenam, berbunyi, "Kutiadakan semua yang menyusahkan". Ketujuh, berbunyi, "Aku memperisterikan kamu dengan bidadari". Kedelapan, berbunyi, "Aku menempatkan kamu sekampung dengan seluruh nabi". Kesembilan, "Aku memperlihatkan (kepada) kamu seluruh nabi sehingga kamu kelihatan muda kembali’. Kesepuluh, "Aku menempatkanmu sekampung dengan orang yang tidak akan pernah sakit". Kemudian Tuhan berfirman, "Aku hendak memberikan kepada hamba-Ku wewangian di atas kursinya.

Sesudah itu, Tuhan Yang Maha Pemurah berfirman, "Apalagi janjiku yang belum Kupenuhi bagi yang melakukan kebaikan? Aku sudah memberi kamu sorga dan kebenaran. Mintalah, maka Aku akan memberikannya kepadamu."

Para penghuni sorga berkata, "Yang kuminta, ya Allah, ialah supaya suka cita kami lebih disempurnakan, demikian juga kasih Allah terhadap seluruh hamba-Nya yang mulia."

Kemudian mereka ditulis dengan cahaya terang yang berlapis-lapis. Setelah itu. barulah Tuhan Yang Maha Murah kasihnya menyatakan diri kepada hamba yang disayangi-Nya itu. Para penghuni sorga itu berkata, "Sudah terang penglihatanku kepada Allah yang menciptakan. Sudah kulihat dan di mana-mana ada karyanya. Sudah kulihat Allah sesungguhnya tidak memiliki tempat. Semua datang mengabdi kepada Tuhan, yang menciptakan, yang lebih sempurna sifat-Nya dan Pemilik satu-satunya."

Kemudian firman Allah rang Maha Pemurah kepada hamba-Nya, "Kamu hidup dan tidak mati."

Sangat bersuka-citalah para penghuni sorga itu mendengar firman Penciptanya. Lalu datang burung-burung hinggap di muka mereka. Menari sambil terbang melayang-layang di atas pintu. Terdengar juga suara-suara musik dan nyanyian yang bermacam-macam, sehingga bergembiralah mereka mendengarnya.

Setelah dirasa cukup puas berada di hadapan Allah SWT, mereka pun kembali ke istananya masing-masing. Dirasakanlah oleh mereka wajahnya yang semakin indah saja setelah menghadap Tuhan. Dalam kesempatan itu, Allah SWT bertajalli, menampakan diri-Nya kepada penghuni sorga. Begitu sangat nikmatnya mereka memandangnya.

Itulah sedikit gambaran kehidupan di alam akhirat yang telah dijelaskan di atas. Semoga bermanfaat dan menambah keimanan kita terhadap Alloh SWT.

WALLOHUA'LAM BISSHOWAB

Kehidupan Manusia di Alam Akhirat (Keabadian) Menurut Islam

Kehidupan Dunia adalah alam yang kita tempati saat ini, alam yang telah disiapkan oleh Allah Swt sebagai tempat untuk manusia beribadah kepada-Nya.


Alam dunia adalah alam ujian bagi manusia untuk membuktikan perkataannya ketika berada di alam ruh (Al- A’raaf : 172) apakah mereka masih beriman ataukah malah berkhianat.

Alam ini pun sebagai alam perlombaan manusia untuk menunjukan tingkat derajat keimanan dan ketakwaannya serta berlomba untuk berbuat amal baik kepala Sang Pencipta.

Namun halnya, bahwa manusia adalah makhluk yang tidak akan pernah luput dari khilap atau salah maka Allah Berfirman dalam surah Al- Mulk ayat 2:

Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.”


Allah Maha Perkasa dan Maha Pengampun, kedua sifat Allah Swt ini menekankan bahwa Allah Swt lah yang bisa menjadikan seseorang mati dan Allah lah yang akan menghidupkannya, seperti halnya janin yang sebelum berumur 40 hari, maka ketika berumur 40 hari Allah menghidupkan janin itu dengan meniupkannya ruh dan ketika Alam akhirat tiba Allah akan membangkitkan manusia dari kuburnya.

Allah pun maha perkasa dengan bisa membuat orang mati, yaitu ketika kiamat terjadi, manusia meninggal dan sebagainya. Allah Maha Pengampun, Manusia tempatnya dosa dan salah sehingga jika manusia bertobat dengan sungguh-sungguh dan mengakui kesalahan, maka Allah akan menghapus kesalahannya dan menjadikan amal baik baginya.

Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan.”

Yang dimaksud dengan dua jalan ialah jalan kebajikan dan jalan kejahatan. Jalan yang bisa dilakukan manusia di dunia, jalan yang menentukan akhir dari perjalan hidup manusia, jalan yang menentukan Surga atau Neraka.

Hai manusia, Sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu, Maka pasti kamu akan menemui-Nya.”

Maksud dari firman Allah Swt dalam surah Al Insyiqaaq ayat 6 di atas adalah manusia di dunia itu baik disadarinya atau tidak akan dalam perjalanan kepada Tuhannya.

Dan tidak dapat tidak dia akan menemui Tuhannya untuk menerima pembalasan-Nya dari perbuatannya yang buruk maupun yang baik dalam menjalankan hidupnya di dunia. Yakinlah jika di hari Pembalasan nanti manusia akan bertemu Zat Allah Yang Maha Raja, Raja yang menguasai hari Akhir.

Sehingga sadarlah dan berbuat baiklah dari sekarang jangan sampai terus-terusan berbuat dosa dan mungkar. Allah adalah zat Yang Maha Pengampun, maka mohon ampunlah dari saat ini dan kedepan.

Dan ingatlah bahwa kesenangan dunia itu adalah sementara, jangan sampai terbuai oleh kesenangan dunia yang maya dan sesaat ini. Namun bukan berarti manusia tidak boleh menikmati hidup dunia dan mengejar dunia.

Manusia juga harus mengejar hidupnya di dunia agar bahagia, karena yang mendorong manusia dapat beriman dan bertakwa ternyata adalah kehidupan dunianya, seperti harta, pekerjaan dan sebagainya.

Seperti yang sering manusia do’a kan, yaitu doa sapu jagad, yang maknanya kurang lebih begini ‘ Ya Rabb berikanlah kehidupan yang baik di dunia ini dan kehidupan akhirat pun berikan yang terbaik dan jauhkanlah aku dari neraka yang pedih.’

Firman Allah Swt dalah surah Al- Hadid ayat: 20

Ketahuilah, bahwa Sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan Para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu Lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” 

Wallohua'lam Bisshowab

Kehidupan Manusia di Alam Dunia Sebelum Ke Alam Barzah

Alam Arham adalah ketika manusia berada di Rahim ibunya. Arham adalah bentuk jamak dari kata “rahim”. Rahim berarti kasih sayang. Alam arham adalah suatu alam di mana manusia dibentuk atas dasar kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. Saat di alam arham ini, sejak itulah terjalin kasih sayang yang disebut silaturahim.


Sebelum rahim itu ditempelkan kepada manusia, sebelum ditempelkan kepada manusia rasa kasih sayang Allah itu di sifat rahim tersebut, maka dia (rahim) berbicara kepada Allah:
 “Tuhan, inilah saatnya aku berlindung kepada-Mu dari putusnya tali kasih sayang.

Dijawab oleh Allah,
Ketahuilah wahai rahim, Aku akan terhubungkan dengan orang yang menghubungkan denganmu, dan Aku akan memutuskan hubungan dengan orang yang memutuskanmu.” (Hadits Qudsi)

Ketika durhaka terhadap ibu kita, maka berarti kita putus dari rahmat Allah. Ketika bermusuhan dengan saudara kita, berarti kita putus dengan rahmat Allah. Karena itulah, seperti diinformasikan Alquran, bahwa dosa kedua sesudah durhaka kepada Allah adalah dosa memutuskan silaturahim.

"(yaitu) orang-orang yang melanggar perjanjian Allah sesudah perjanjian itu teguh, dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk menghubungkannya dan membuat kerusakan di muka bumi. Mereka itulah orang-orang yang rugi". (Q.S. Al-Baqarah: 27)

Dosa pertama manusia adalah mengingkari janji dengan Allah. Jika orang tersebut mulanya bertauhid tapi kemudian syirik, maka itu berarti dia melanggar janji dengan Allah. Semua ibadah yang dia lakukan menjadi tidak berarti. Dosa kedua adalah memutuskan apa yang diperintahkan oelh Allah untuk dihubungkan, yaitu silaturahim.

Informasi dari Alquran mengenai alam rahim adalah sebagai berikut:

"Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik." (Q.S. Al-Mu’minun: 12-14)

Ketika di dalam rahim ibu, jasad kita diciptakan dalam 7 tahap.
Pertama, saripati tanah.
Kedua, nuthfah (air mani yang bercampur dengan telur).
Ketiga, ‘alaqah (segumpal darah yang melekat pada dinding rahim).
Keempat, mudgah (segumpla daging yang warnanya merah kehitam-hitaman).
Kelima, tulang-belulang.
Keenam, tulang itu dibungkus oleh daging. Ketujuh, diberi bentuk lain, maksudnya dia tidak sama dengan bapaknya, tidak sama dengan ibunya, tidak sama dengan orang yang lain, sehingga tak ada manusia yang sama. Jangankan wajahnya, jangankan organ tubuhnya, bahkan sidik jarinya pun berbeda.

Dalam suatu buku berjudul “Al-Arqam wa Tarqim fil Qur’anil Karim (Angka dan Bilangan dalam Al-Qur’an)” diuraikan, bahwa al-insaan (dalam bahasa Arab) yang artinya adalah manusia jumlah hurufnya adalah 7 (alif, lam, alif, nun, sin, alif, nun). Mengapa al-insan itu terdiri dari 7 huruf? Karena manusia diciptakan dalam rahim melalui 7 tahap. Kemudian dia hidup di alam dunia 7 hari dalam sepekan.

Nanti setelah meninggal dunia, maka 7 alam lagi yang akan dijalani manusia, yaitu sakaratul maut, alam barzah, kiamat, yaumul ba’ats, yaumul mahsyar, neraka, dan, surga.

Karena itulah, ibadah haji itu serba tujuh: thawaf 7 putaran, sa’i 7 kali bolak-balik antara Shafa dan Marwa, melontar Jamrah 7 kali. Jadi semua ini sudah diatur secara sistematis oleh Allah.

Disebutkan juga di buku tersebut, bahwa manusia berada di antara pengaruh dua makhluk, sebelah kanannya malaikat, sebelah kirinya setan. Setan di dalam bahasa Arab adalah asy-syaithaanu. Malaikat bahasa Arabnya adalah al-malaaikatu. Jumlah huruf kedua-duanya sama-sama 7 huruf. Al-malaaikatu (alif, lam, mim alif hamzah, kaf, ta) dan Asy-syaithaanu (alif, lam, syin, ya, tha, alif, nun).

Selanjutnya dalam buku itu juga disebutkan, bahwa kata-kata al-malaaikat dan kata-kata asy-syaithaan itu di Alquran terulang sama banyaknya, yaitu sama-sama 89 kali. Selanjutnya, masing-masing mempengaruhi manusia dengan 7 cara pula. Malaikat mempengaruhi manusia melalui 7 cara, dan setan pun menyesatkan manusia melalui 7 cara.

Setelah bentuk lain sempurna (seluruh organ tubuh manusia sempurna), disebutkan di dalam Alquran:

"Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan) Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud". (Q.S. Al-Hijr: 29)

Pada usia berapakah ruh tersebut ditiupkan? Di Alquran memang tidak disebutkan, tetapi di hadis disebutkan, yaitu pada usia 4 bulan (120 hari). Karena itulah, ibu-ibu yang hamil ketika 4 bulan mulai terasa di perutnya. Ketika itulah baru disebut manusia.

Jadi, penggabungan ruh dan jasad itu terjadi di alam rahim. Karena manusia itu diciptakan dari dua komponen super, yaitu ruhnya dari Allah dan jasadnya dari tanah, maka manusia terikat dengan pemenuhan kebutuhan ruhani dan jasmani.

Perkembangan kejadian jasad 7 tahap menjadi sempurna sesudah 4 bulan Allah meniupkan ruh-Nya, maka jadilah manusia sebagai makhluk yang mono-dualistik (dua komponen dalam satu diri), yaitu komponen Ilahiah berupa ruh dan komponen benda berupa jasad.

Manusia menjadi hidup karena bergabungnya ruh dengan jasad. Begitu ruh keluar dari jasad, berarti manusia mati. Jasmani manusia asalnya tanah, jenisnya materi, sifatnya syahadah, kondisinya berubah dan rusak, masanya di dunia saja, kebutuhannya santapan jasmani, nilai ukuran santapan jasmani adalah uang. Ruhani manusia asalnya dari cahaya Allah, jenisnya immateri (bukan benda), sifatnya gaib, kondisinya kekal, masa hidupnya dunia sampai akhirat, kebutuhannya santapan ruhani, nilai ukurannya adalah pahala.

Semakin banyak pahala yang diproduksi dari iman dan amal shalaeh, maka akan semakin bahagia ruhnya. Semakin mampu manusia memproduksi uang, maka semakin terpenuhi kesempurnaan kebutuhan jasmaninya, sehingga semakin bahagia jasadnya. Tapi yang patut diingat, uang itu berguna untuk jasad yaitu selama jasad itu hidup, sedangkan jasad itu hanya hidup di dunia. Jadi, yang banyak uangnya bisa bahagia, namun hanya di dunia. Baru bahagia akhiratnya jika uangnya diubah menjadi pahala, seperti diinfakkan, dizakatkan, dan disedekahkan.

Sesudah digabungkan ruh dan jasad di alam rahim, lalu oleh Allah diberi hidayah (petunjuk). Di dalam Alquran disebutkan, bahwa Allah menciptakan manusia untuk mengujinya:

"Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut? Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat. Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir. (Q.S. Al-Insaan: 1-3)

Maka Allah memberikan petunjuk kepada manusia, yaitu: Pertama, hidayatul wujdan (naluri). Kedua, hidayatul hawaas (indera). Ketiga, hidayatul ‘aqli (akal atau logika). Keempat, hidayatud-diin (petunjuk agama atau iman).

Binatang diberikan petunjuk oleh Allah berupa hidayatul wujdan (naluri). Binatang tergerak mencari makan melalui nalurinya. Dia merasa ada bahaya, dia harus menghindar dari bahaya tersebut karena nalurinya. Hidayatul wujdan ini diberikan kepada binatang, tumbuh-tumbuhan, dan manusia.

Kemudian disempurnakan lagi dengan hidayatul hawaas (indera), yaitu berupa pendengaran, penglihatan, perabaan, pencicipan, dan penciuman. Indera ini diberikan kepada binatang dan manusia, sedangkan tumbuh-tumbuhan tidak.

Kemudian disempurnakan lagi dengan hidayatul ‘aqli (logika/akal). Di sini berlaku hukum sebab-akibat. Indera begitu terbatas, sehingga akal menyempurnakannya. Misalkan, mata kita bisa saja melihat sesuatu yang itu bukanlah realitas sebenarnya.

Alam ini bukan yang nyata saja, melainkan juga ada yang gaib. Untuk yang gaib, maka turunlah wahyu dari Allah kepada para Rasul, yaitu disampaikan bahwa di balik alam yang nyata dan tampak ini, maka Yang Gaib dan Yang Menciptakannya adalah Allah. Maka, orang yang menerima petunjuk itu disebut hidayatud-diin (petunjuk agama), yang kemudian jadilah iman.

Ketika Allah memberikan akal, maka kepada orang kafir juga diberikan. Tetapi hidayatud-diin (petunjuk agama) hanya diberikan kepada orang yang beriman.

Ketika di alam rahim itu ditetapkan oleh Allah qadar (ukuran), yaitu rencana Allah kepada manusia. Ada empat qadar yang ditetapkan oleh Allah, yaitu: umur, rezeki, bahagia, dan sengsara. Hal ini termaktub di dalam Alquran:

"Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki) Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu". (Q.S. 65 Ath-Thalaaq: 3)

"Tidak ada suatu keberatanpun atas Nabi tentang apa yang telah ditetapkan Allah baginya. (Allah telah menetapkan yang demikian) sebagai sunnah-Nya pada nabi-nabi yang telah berlalu dahulu. Dan adalah ketetapan Allah itu suatu ketetapan yang pasti berlaku", (Q.S. 33 Al-Ahzaab: 38)

"Tidak ada suatu keberatanpun atas Nabi tentang apa yang telah ditetapkan Allah baginya. (Allah telah menetapkan yang demikian) sebagai sunnah-Nya pada nabi-nabi yang telah berlalu dahulu. Dan adalah ketetapan Allah itu suatu ketetapan yang pasti berlaku, (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri". (Q.S. 57 Al-Hadiid: 22-23)

Qadar manusia itu ada dua macam, yaitu ada khair (baik) dan syar (buruk). Baik dan buruk dalam qadar tersebut berdasarkan pandangan dan ukuran manusia. Contohnya yang baik adalah kaya, sedangkan yang buruk itu adalah miskin. Yang baik itu pintar, yang buruk itu bodoh, dan sebagainya. Jadi, semuanya sudah direncanakan oleh Allah bagi masing-masing manusia, yaitu sakitnya kapan, sehatnya kapan, kayanya berapa, miskinnya berapa, dan sebagainya. Inilah program dari Allah.

Dalam hal ini, kepada manusia diperintahkan untuk berusaha dan berdoa. Allah berfirman:

"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdo`a): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma`aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir”. (Q.S. Al-Baqarah: 286)

Wallohua'lam Bisshowab

Kehidupan Manusia di Alam Rahim (Kandungan) sebelum ke Alam Dunia


Alam ruh adalah suatu tempat yang dimana manusia itu semuanya dalam keadaan suci, alam gaib yang hanya Allah Swt yang tahu dan Allah yang menciptakan, tak ada makhluk Allah yang dapat menciptakan ruh ini.

Firman Allah Swt dalam Al-Quran surah Al- A’raaf ayat 172:

"Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah aku ini Tuhanmu?" mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuban kami), Kami menjadi saksi". (kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya Kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)."

Inilah Ayat yang menjelaskan tentang pertanyaan Allah kepada manusia saat manusia berada di alam ruh, Allah bertanya pada manusia yang masih dalam keadaan ruh itu atau lebih jelasnya yaitu meminta pengakuan manusia melalui potensi yang dianugerahi Allah Swt yaitu akal.

Allah Berfirman :

Bukankah aku tuhan pemelihara kamu dan yang selalu berbuat baik kepadamu?” Ketika mereka ada di alam ruh mereka menjawab, ”Betul! Kami menyaksikan bahwa Engkau adalah Tuhan kami dan menyaksikan pula bahwa Engkau Maha Esa”.


Jika ditelaah maka manusia pada waktu itu (saat dalam keadaan Ruh/di alam ruh) semuanya dalam keadaan beriman dan bertakwa kepada Allah tanpa satupun dari mereka itu berkhianat kepada Allah. mengapa? Karena pada saat di alam ruh, manusia itu sesungguhnya masih dalam keadaan suci, sepertinya bayi yang dilahirkan oleh manusia, mereka dalam keadaan suci.

Juga firman Allah dalam surah Al- Hadid, ayat 8:

Dan mengapa kamu tidak beriman kepada Allah Padahal Rasul menyeru kamu supaya kamu beriman kepada Tuhanmu. dan Sesungguhnya Dia telah mengambil perjanjianmu jika kamu adalah orang-orang yang beriman."

Yang dimaksud dengan perjanjianmu ialah Perjanjian ruh Bani Adam sebelum dilahirkan ke dunia bahwa Dia mengakui (naik saksi), bahwa Tuhan-nya ialah Allah, seperti tersebut dalam ayat 172 surat Al A´raaf.

Perjanjian yang dimaksud tiada lain adalah kesaksian dari Ruh manusia bahwa Allah adalah Tuhan manusia dan Allah adalah yang Maha Esa.

Al- Insan Ayat 1:

Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang Dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut.”

Surah ini mengingatkan manusia tentang kehadirannya di pentas bumi ini sekaligus menjelaskan tujuan penciptaanya.

Allah berfirman :

"Bukankah yakni sungguh telah datang atas mereka satu waktu dari masa yakni sebelum ia diciptakan, sedang ia pada waktu itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut. Ketika itu ia dalam ketiadaan, jangankan wujudnya, namanya pun belum ada. Kemudian kami menciptakannya".

Wallohua'lam Bisshowab

Kehidupan Manusia di Alam Ruh Sebelum Ke Alam Kandungan

Berikut ini merupakan 5 macam Alam yang akan kita lalui dalam proses kehidupan manusia, yang semoga sedikit penjelasan ini akan membuat kita Introspeksi diri yang insyaallah semakin mendekatkan kita pada sang Khaliq (Pencipta). Adapun 5 macam Alam itu, yaitu sebagai berikut :

1. ALAM RUH


Manusia terdiri dari 2 kepribadian, yaitu pribadi Ruh dan pribadi Jasad, oleh karena itu secara teoritis dia bisa hidup dalam dua alam, yaitu alam roh dan alam duniawi. Pada awalnya sebelum kita terlahir di Dunia yang penuh dengan kisah, cerita susah atau senang dimana dunia penuh dengan hiasan, godaan dan ujian bagi setiap manusia.

2.ALAM RAHIM (KANDUNGAN)


Alam rahim adalah masa perpindahan sejak pertama dalam tulang sulbi para ayah dan rahim para ibu sebelum dilahirkan dimana masa kehidupan manusia sejak dalam tulang sulbi ayah dan rahim ibu sebelum dilahirkan. Ketika Allah SWT menciptakan Adam a.s.

Dia menyimpankan zurriyat di tulang punggungnya yaitu kaum “ahli kanan” (ahlulyamin) dan kaum ahli kiri (ahlul-syimal). Allah SWT pernah mengeluarkan semua zurriyat ini dari tulang punggung Adam a.s. pada hari mitsaaq (hari pengambilan janji manusia untuk mengakui keesaan dan ketuhanan Allah SWT di Na'man, sebuah lembah yang dekat padang Arafah). 

Mengenai hal ini Allah swt berfirman dalam surah al-A’raf ayat 172:

"Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Benar (Engkau adalah Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (anak-anak Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)".

Dalam surah Al-Mursalaat, juz keduapuluh sembilan, ayat 20 hingga 23 Allah Ta'ala berfirman.
Yang artinya : 

"Bukankah kami telah menciptakan kamu dari air (benih) yang sedikit (hina) dipandang orang. Lalu Kami jadikan air (benih) itu pada tempat penetapan yang kukuh (rahim ibu). Serta Kami tentukan keadaanya, maka Kamilah sebaik-baik yang berkuasa menentukan dan melakukan tiap-tiap sesuatu".


Dalam surah Al-Mu'minun,juz kelapan belas ayat 12, 13 & 14, Allah Ta'ala berfirman :

"Dan sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dari pati yang berasal dari tanah. (Pati yang berasal dari tanah, ialah pati makanan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan dan tanaman yang tumbuh di bumi).Kemudian Kami jadikan pati itu setitis air benih (air mani), pada tempat penetapan yang kukuh. Kemudian Kami ciptakan air benih itu menjadi sebuku darah beku lalu Kami ciptakan darah beku itu menjadi seketul daging, kemudian Kami ciptakan daging itu menjadi beberapa ketul daging, kemudian Kami ciptakan daging itu menjadi beberapa tulang, kemudian Kami balut tulang-tulang itu dengan daging. Setelah sempurna kejadian itu Kami bentuk ia menjadi makhluk yang lain sifat keadaannya (keadaannya yang asal serta ditiupkan roh padanya). Maka nyatalah kelebihan dan ketinggian Allah sebaik baik Pencipta".

Dalam surah Al-'Imran, juz ketiga ayat 6, Allah Ta'ala berfirman :

"Dia lah yang membentuk rupa kamu dalam rahim (ibu kamu) sebagaimana yang dikehendakiNya. Tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Kuasa, lagi Maha Bijaksana."

3.ALAM DUNIA


Alam Dunia adalah Masa kehidupan di dunia sejak dilahirkan dan diwafatkan oleh Allah SWT, dimana proses perpindahan dari Alam Rahim ke Alam Dunia bukanlah hal yang gampang. Selama sembilan bulan di alam rahim itu, janin tumbuh dan membentuk diri sehingga menjadi bentuk yang sempurna.

Dengan izin Allah SWT kita terlahir ke dunia ini dengan perjuangan ibu yang melahirkan kita antara hidup dan mati. Al-Quran menyebut perjuangan itu dengan istilah “wahnan ‘ala wahnin” (kelemahan di atas kelemahan), saking sakitnya proses melahirkan itu. Hanya karena izin Allah SWT kita bisa selamat terlahir ke dunia hingga hidup seperti sekarang ini.

Alloh berfirman :

"Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari (sari) tanah. Kemudian Kami jadikan (sari tanah) itu air mani yang tersimpan dalam tempat yang kukuh (rahim). Lalu Kami jadikan air mani itu segumpal darah, lalu gumpalan darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan Kami jadikan gumpalan daging itu tulang belulang, lalu Kami lapisi tulang belulang itu dengan daging. Kemudian Kami bentuk ia jadi mahluk yang lain. Maha Suci Allah, sebaik-baik Pencipta." (QS: Al-Mu’minun: 12-14.)

Di alam dunia ini kita juga melalui proses pertumbuhan dari tahun ke tahun. Ibnu Jauzi telah membagikan umur manusia pada lima masa:

1. Masa kanak-kanak; dari sejak dilahirkan hingga mencapai umur lima belas tahun.
2. Masa muda; dari umur limabelas tahun hingga umur tigapuluh lima tahun.
3. Masa dewasa; dari umur tigapuluh lima tahun hingga umur limapuluh tahun.
4. Masa tua; dari umur limapuluh tahun hingga umur tujuh puluh tahun.
5. Masa usia lanjut; dari umur tujuhpuluh tahun hingga akhir umur yang ditentukan oleh Allah SWT.

Pada tahap masa kanak-kanak berlaku masa keringanan dari Allah SWT yaitu belum adanya taklif (beban kewajiban) untuk mengerjakan solat dan puasa ataupun ibadah lainnya. Orang-orang yang sudah baligh atau sudah dewasa diwajibkan menyuruh mereka mengerjakannya karena kebaikan dan amal soleh dari anak yang belum baligh selain menjadi amal kebaikannya juga akan menjadi catatan pahala bagi ibu-bapanya selama kedua orang tuanya memperhatikan pendidikan dan pengasuhannya.

 Jika anak telah mencapai masa baligh dan telah sempurna akalnya maka ia telah menjadi mukallaf. Saat itulah segala kewajiban agama telah berlaku atas dirinya.
Pada tahap masa muda terjadi banyak perubahan baik fisik maupun non-fisik. Pada masa ini akan dipenuhi dengan semangat dan kekuatan serta memuncaknya vitalitas. 

Masa muda ini merupakan kesempatan untuk memperbanyak amal dan serta kebaikan. Namun kecenderungan yang terjadi adalah sebagian besar memanfaatkannya untuk pemuasan nafsu keduniaan. 

Dalam hal ini Rasullullah saw telah mengingatkan: 
"Rebutlah lima perkara sebelum terjadi lima perkara: Masa mudamu sebelum tiba masa tuamu, masa sehatmu sebelum tiba masa sakitmu, masa lapangmu sebelum tiba masa sibukmu, masa kayamu sebelum masa miskinmu dan masa hidupmu sebelum tiba masa ajalmu." (HR. Al-Hakim, Baihaqi, Ibnu Abi'ddunia, Ibnul-Mubarrak). 

"Takkan bergeser kedua kaki manusia pada hari kiamat sampai selesai ditanya tentang empat perkara:
1. Tentang nya, untuk apa dihabiskan
2. Tentang masa mudanya, untuk apa dipergunakan
3. Tentang hartanya, dari mana diperoleh dan untuk apa dibelanjakan.
4. Tentang ilmunya, apa yang sudah diperbuat dengannya. (HR. Tirmidzi).

4.ALAM BARZAH(KUBUR)


Alam kubur disebut juga dengan alam Barzakh. Ketika manusia meninggal, mereka akan menempati alam ini sampai hari kiamat tiba. Alam barzah adalah suatu dunia lain yang dimasuki seseorang setelah meninggal dunia untuk menunggu datangnya kebangkitan kembali pada hari kiamat. 

Pada alam kubur akan datang malaikat mungkar dan nakir untuk memberikan pertanyaan seputar keimanan dan amal perbuatan kita. Jika kita beriman dan termasuk orang baik, maka di dalam kubur akan mendapatkan nikmat kubur yang sangat menyenangkan daripada nikmat duniawi, sedangkan sebaliknya bagi orang yang tidak beriman kepada Allah SWT, siksa kubur praneraka yang pedih sudah menanti di depan mata.

Alam Barzah adalah kurun waktu (periode) di antara saat kematian manusia di dunia ini dengan saat pembangkitan (dihidupkannya kembali) manusia di Hari Pembalasan. Kita tidak mengetahui apa yang terjadi di dalam periode ini. Namun demikian, kita dapat menyimak dari berbagai ayat didalam kitab suci Al-Qur-an dan Hadits Nabi Muhammad SAW mengenai periode ini. 

Sebagai contoh, Allah SWT berfirman dalam Surat Al-An’aam Ayat 93 :

Jika saja kamu dapat melihat betapa dahsyatnya saat orang-orang zalim didalam sakaratul maut, Para malaikat memukul dengan tangan mereka (seraya berkata), “Keluarkanlah nyawamu! Di hari ini kamu akan dibalas dengan siksa yang menghinakan; karena perkataan-perkataanmu yang selama ini kamu ucapkan perihal Allah yang tidak benar, dan kamu selalu sombong terhadap petunjuk (ayat-ayat)-Nya.”

Jelaslah dari ayat ini bahwa manusia bisa mendapatkan hukuman diwaktu kematian mereka. Dan dalam sebuah hadits Asma bin Abu Bakar RA meriwayatkan:

"bahwa pada suatu hari Nabi Muhammad SAW menasehati umat dan menjelaskan perihal siksa kubur. Ketika beliau menjelaskan hal ini, semua orang beriman mulai menangis dengan kerasnya, sehingga terciptalah suasana seperti berbaurnya beraneka-ragam ratap-tangis". (Bukhari).

5.ALAM AKHIRAT


Alam akhirat adalah Masa kehidupan di alam yang kekal dalam kenikmatan syurga atau dalam kepedihan neraka. Seseorang tidak mungkin memiliki pengetahuan yang sempurna mengenai persoalan-persoalan yang belum ia alami atau belum mengetahuinya secara hudhuri, atau belum ia sentuh dengan indranya. 

Berangkat dari kenyataan ini, kita tidak dapat meyakini hakikat alam akhirat dan keadaan-keadaannya secara detail dan sempurna, kita juga tidak dapat menyingkap hakikat-hakikatnya. Meski begitu, kita bisa mengetahui sifat-sifat akhirat melalui akal atau wahyu. Adapun sarana untuk mengetahui sifat-sifat tersebut kita dapat mengenalnya melalui ciri-ciri dari alam akhirat, yaitu :

1. Alam akhirat bersifat kekal dan abadi
2. Alam akhirat merupakan wadah yang pasti untuk terealisasinya kenikmatan dan kasih sayang yang seutuhnya, tanpa ada kesusahan dan kelelahan di dalamnya, sehingga orang-orang yang telah mencapai tingkat kesempurnaan insaninya dapat menikmati kebahagiaan itu. 

Alam tersebut tidak dicemari oleh maksiat dan penyelewengan apapun. Berbeda dengan dunia yang di dalamnya kebahagiaan yang seutuhnya tidak mungkin terwujud. Yang hanya terwujd di dunia adalah kebahagiaan semu dan bercampur dengan berbagai kesulitan dan kesengsaraan.

3. Alam akhirat setidaknya meliputi dua bagian yang terpisah, yang pertama adalah rahmat, dan yang kedua adalah siksa, sehingga dapat dibedakan orang-orang yang baik dari orang-orang yang jahat, dan masing-masing mendapatkan balasan perbuatannya.Kedua bagian ini biasa dikenal dalam syariat dengan istilah surga dan neraka.

4. Alam akhirat itu luas sehingga bisa menampung pahala dan siksa bagi seluruh umat manusia atas segala apa yang mereka lakukan, berupa amal baik dan amal buruk. Misalnya, ketika seseorang melakukan pembunuhan atas jutaan manusia yang tidak bersalah, hukuman siksa terhadapnya semestinya bisa terjadi di alam itu.

Begitu pula sebaliknya, jika seseorang menyelamatkan nyawa jutaan umat manusia, ia dapat menerima pahala setimpal yang terdapat di alam tersebut.

5. Alam akhirat itu merupakan tempat pembalasan, bukan tempat pembebanan tugas dan tanggung jawab.

Wallohua'lam Bisshowab

Proses Perjalanan Ruh Manusia ke pada 5 Alam yang berbeda