Social Items

Tampilkan postingan dengan label 3 amalan tak terputus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 3 amalan tak terputus. Tampilkan semua postingan
BISMILLAHIRROHMANIRROHIM

Sebelum Manusia dilahirkan, Allah SWT menciptakan semua makhluk telah sempurna dengan pembagian rezekinya. Tidak ada satu pun yang akan ditelantarkan-Nya, termasuk Manusia.
Yang dibutuhkan adalah mau atau tidakkah kita berusaha mencarinya. Yang harus diperhatikan lagi, benar atau tidakkah cara kita mendapatkannya.


Dalam kehidupan ini ada banyak orang yang dipusingkan oleh masalah pembagian rezeki. Dia merasa rezekinya sedang seret, padahal mereka sudah berusaha maksimal mencarinya.

Ada banyak penyebab yang membuat Rizki menjadi seret, mungkin cara mencarinya yang kurang hati-hati, kurang serius mengusahakannya, atau ada kondisi yang menyebabkan Allah SWT menahan rezeki orang yang tersebut.

Di bawah ini merupakan kebiasaan yang menjadi penyebab terhambatnya Rizki, yang juga sering diabaikan oleh manusia :

1. KURANG BERTAWAKAL

Kita menggantungkan diri kepada selain Allah. Kita berusaha, namun usaha yang kita lakukan tidak dikaitkan dengan-Nya. Padahal, Allah SWT itu Maha Tahu terhadap hamba-Nya.

Barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupi (keperluan)-nya.” (QS. Ath-Thalaq: 3).

Usaha dan doa adalah kewajiban manusia, namun masalah Hasil dan Kesuksesan adalah hak, wewenang dan Kebijakan Allah. Kita tak perlu mengatur Allah serta sok-sok-an menertibkan hak veto dan prerogatif Allah, tapi diri kitalah yang Perlu Diatur Dan Ditertibkan

2. SERING BERBUAT DOSA

Dosa adalah penghalang datangnya rezeki. Rasulullah SAW bersabda,

Sesungguhnya seseorang terjauh dari rezeki disebabkan oleh perbuatan dosanya.” (HR Ahmad)

Perbuatan Dosa tersebut diantaranya :

- Mabuk-mabukan (Minum Khamr)
- Berzina
- Syirik (Menyekutukan Alloh)
- Durhaka kepada Kedua Orang Tua
- Memutuskan Tali Silaturahim
- Ghibah (Membicarakan Keburukan Orang Lain)
- Berselingkuh dengan Suami/Istri Orang.

3. MENGHALALKAN SEGALA CARA

Apakah pekerjaan kita dihalalkan agama?
Kecurangan dalam mencari nafkah, entah itu menipu, korupsi, manipulasi, akan membuat rezeki kita tidak berkah.
Mungkin saja uang dapat kita peroleh, namun berkah dari uang tersebut telah hilang.

Ciri ciri Harta yang kurang Berkah :

- Mudah digunakan untuk hal sia-sia
- Tidak membawa ketenangan
- Sulit dipakai untuk taat dan ibadah kepada Allah
- Membawa dan mendatangkan Musibah.

Bila kita telanjur melakukannya, segera bertobat dan kembalikan harta tersebut kepada yang berhak menerimanya.

4. MELUPAKAN KEWAJIBAN

Banyak Aktivitas kita yang membuat hubungan kita dengan Allah semakin menjauh. Kita disibukkan oleh kerja, sehingga lupa untuk shalat, lupa membaca Al-quran, lupa mendidik keluarga, lupa menuntut ilmu agama, lupa menjalankan apa yang Allah dan Rasul-Nya perintahkan.

Akibatnya, pekerjaan kita tidak berkah. Jika sudah demikian, jangan heran bila rezeki kita akan tersumbat. Idealnya, semua pekerjaan harus membuat kita semakin dekat pada Allah. Sibuk boleh, namun jangan sampai hak-hak Allah kita abaikan.

5. PELIT ATAU KIKIR 

Siapapun yang pelit, niscaya hidupnya akan sulit, rezekinya sempit, hutang melilit, badai bencana datang menghampiri. Sebaliknya, sedekah adalah penolak bala, penyubur kebaikan, serta pelipat ganda rezeki.

Alloh SWT berfirman :

"Sedekah bagaikan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh tangkai/bulir, yang pada tiap-tiap butir itu terurai seratus biji. Artinya, Allah yang Mahakaya akan membalasnya hingga tujuh ratus kali lipat. (QS Al-Baqarah:261)

Wallohua'lam Bisshowab

Semoga tulisan diatas bisa bermanfaat dan dapat membuka pintu Rizki yang berlimpah kepada kita. Amin..

Inilah Kebiasaan yang Jadi Penyebab Rizki Anda Seret, Namun Sering diabaikan

Sebelum Islam masuk ke Indonesia, telah ada berbagai kepercayaan yang di anut oleh sebagian besar penduduk tanah air ini, di antara keyakinan- keyakinan yang mendominasi saat itu adalah animisme dan dinamisme.


Di antara mereka meyakini bahwa arwah yang telah dicabut dari jasadnya akan gentayangan di sekitar rumah selam tujuh hari, kemudian setelahnya akan meninggalkan tempat tersebut dan akan kembali pada hari ke empat puluh, hari keseratus dan hari keseribunya atau mereka mereka meyakini bahwa arwah akan datang setiap tanggal dan bulan dimana dia meninggal ia akan kembali ke tempat tersebut, dan keyakinan seperti ini masih melekat kuat di hati kalangan awan di tanah air ini sampai hari ini.

Sehingga masyarakat pada saat itu ketakutan akan gangguan arwah tersebut dan membacakan mantra-mantra sesuai keyakinan mereka. Setelah Islam mulai masuk di bawa oleh para Ulama’ yang berdagang ke tanah air ini, mereka memandang bahwa ini adalah suatu kebiasaan yang menyelisihi syari’at Islam, lalu mereka berusaha menghapusnya dengan perlahan, dengan cara memasukkan bacaan-bacaan berupa kalimat-kalimat thoyyibah sebagai pengganti mantra-mantra yang tidak dibenarkan menurut ajaran Islam dengan harapan supaya mereka bisa berubah sedikit demi sedikit dan mininggalkan acara tersebut menuju ajaran Islam yang murni dan benar.

Akan tetapi sebelum tujuan akhir ini terwujud, dan acara pembacaan kalimat-kalimat thoyibah ini sudah menggantikan bacaan mantra-mantra yang tidak sesuai dengan ajaran Islam, para Ulama’ yang bertujuan baik ini meninggal dunia, sehingga datanglah generasi selanjutnya yang mereka ini tidak mengetahui tujuan generasi awal yang telah mengadakan acara tersebut dengan maksud untuk meninggalkan secara perlahan.

Perkembangan selanjutnya datanglah generasi setelah mereka dan demikian selanjutnya, kemudian pembacaan kalimat-kalimat thoyibah ini mengalami banyak perubahan baik penambahan atau pengurangan dari generasi ke generasi, sehingga kita jumpai acara tahlilan di suatu daerah berbeda dengan prosesi tahlilan di tempat lain sampai hari ini.

MANFAAT TAHLILAN

Kegiatan tahlilan merupakan sebuah hasil proses akulturasi antara adat Jawa dengan norma keislaman. Pada kegiatan ini, tidak ada yang tunduk antara yang satu dengan yang lain. Jika dikatakan Islam tunduk kepada budaya, maka pernyataan itu salah.

Kedua hal tersebut, yaitu kebudayaan dan nilai keagamaan Islam, berpadu menjadi satu menjadi sebuah inovasi dalam agama Islam. Karena itu, banyak pihak yang menilai hal tersebut adalah bid’ah yang dlalâlah dan sesat sehingga pelakunya divonis akan masuk neraka.

Padahal, jika ditelusuri dan dikaji secara mendalam, kontekstual, dan komprehensif, maka akan didapatkan bahwa kegiatan Tahlilan tersebut memiliki dasar hukum yang kuat, baik dari Al Quran, maupun hadits dan dasar hukum yang lain, seperti ijma’ dan qiyas.

Dengan begitu, pernyataan bahwa kegiatan Tahlilan adalah bid’ah merupakan pernyataan yang keliru karena bid’ah adalah sesuatu hal yang tidak memiliki landasan syar’i dan tidak dikerjakan di jaman Rasulullah SAW sedangkan ritual Tahlilan (dan ritual lainnya yang sejenis, misalkan peringatan meninggalnya seseorang pada hari ke-7, ke-40, 1 tahun, 3 tahun, dan majelis Yasinan) adalah memiliki landasan syar’i.

Meskipun banyak pihak yang ingin memberantas kegiatan tersebut dengan alasan yang picik dan tidak berpikir holistik (dengan memakai alasan lagi-lagi bid’ah), ritual Tahlilan dan sejenisnya terbukti memberikan banyak manfaat.

K.H. Muhyiddin Abdusshomad, pengasuh Pondok Pesantren Nurul Islam Jember, mengemukakan setidaknya ada enam manfaat dari ritual Tahlilan tersebuT.

1. Sebagai ikhtiar (usaha) bertaubat kepada Allah SWT untuk diri sendiri dan saudara yang telah meninggal dunia.

2. Mempererat tali persaudaraan antara sesama, baik yang masih hidup atau yang telah meninggal dunia. Sebab sejatinya ukhuwah Islamiyyah itu tidak terputus karena kematian.

3. Untuk mengingat bahwa akhir dari kehidupan dunia ini adalah kematian, yang setiap jiwa tidak akan terlewati.

4. Di tengah hiruk pikuk dunia, manusia yang selalu bergelut dengan materi tentu memerlukan dzikir (mengingat Allah SWT). Tahlil adalah sebuah ritual yang bisa dikatakan sebagai majelis dzikir karena di dalamnya dibaca berbagai ayat Al Quran, kalimat, tahlil, kalimat shalawat Nabi, dan bacaan yang lain.

5. Tahlil sebagai salah satu media dakwah yang efektif di dalam penyebaran agama Islam. Di dalam Tahlilan, seseorang pasti membaca kalimat Tahlil (lailahaillallah). Bukankah dengan membaca kalimat Tahlil tersebut seseorang telah menjadi muslim? Walaupun dia masih perlu pembinaan untuk kesempurnaan imannya, akan tetapi dengan cara yang kultural ini, tanpa terasa saudara umat Islam semakin bertambah.

6. Sebagai manifestasi dari rasa cinta sekaligus penenang hati bagi keluarga almarhum yang sedang dirundung duka cita.

A. Tahlil Menurut Pendapat Ulama Muhammadiyah


Para ulama Muhammadiyah menganggap bahwa tahlilan yangdilakukan oleh umat islam untuk mendo’akan orang yang telah meninggal adalah sesuatu yang bid’ah, karena menurut mereka masalah tahlilan itu tidak ada dalil yang kuat yang dijelaskan dalam Al-Quran, namun para ulamaMuhammadiyah tidak mengharamkan pelaksanaan tahlilan tersebut.

Menurut ulama Muhammadiyah bahwa seorang yang telah meninggal dunia maka segala sesuatu yang berhubungan dengan manusia yang masih hidup adalah putus tidak ada kaitan lagi, karena sudah terdapat perbedaan alam yaitu orang yang meninggal ada di alam barjah, sedangkan orang yang belum meninggal ada di alam dunia.

B. Tahlil Menurut Pendapat Ulama Nahdatul Ulama (NU)


Kaum muslimin Nahdatul Ulama (NU) mengakui bahwa tahlilan tidak ada dalil yang menguatkan dalam Al-Quran maupun hadis, namun kenapa mereka masih melaksanakan acara tahlilan tersebut karena kaum muslimin Nahdatul Ulama mempunyai pendapat lain bahwa tahlilan dilaksanakan dikeluarga yang meninggal mempunyai tujuan-tujuan tertentu di antaranya adalah sebagai berikut :

1. Tahlilan dilakukan untuk menyebar syiar islam, karena sebelum dilakukantahlilan seorang imam melakukan ceramah keagamaan.

2. Isi dari tahlilan adalah dzikir dan do’a dengan kata lain melaksanakan tahlilan berarti mendo’akan kepada yang meninggal dunia.

3. Menghibur keluarga yang ditinggalkan dengan kata lain, kaum muslimin yang berada di sekitar rumah yang ditinggal, maka terjalinlah silaturahmi diantara umat islam.

Dari uraian tersebut di atas, bahwa kaum muslimin Nahdatul Ulama (NU) walaupun tidak ada dalil yang kuat di dalam Al-Quran dan hadis namun melakanakan acara tahlilan dengan tujuan yang baik dan tidak menyimpang dari hadis-hadis lainnya.

Tahlil merupakan fenomena sosial yang melekat dalam tradisi Muslim Jawa. Hal ini tidak lepas dari peran dakwah Walisongo dengan ajaran-ajaran Islamnya. Tradisi ini begitu membudaya dan kental dalam masyarkat Jawa sehingga pada gilirannya menjadi melembaga dalam kehidupan sosial masyarakat dengan dibentuknya jamiyyah tahlil.

Jamiyyah inilah yang secara efektif dan aktif mengamalkan ajaran tahlil pada setiap Jumat, di samping tahlil dalam acara selamatan hari kematian masyarakat Jawa. Dengan demikian, fenomena ini bahkan sampai merambah pada umat lain selain Islam.


BACAAN TAHLIL


Isi Bacaan Tahlil adalah rangkaian bacaan yang meliputi bacaan beberapa ayat al-Qur’an, Tasbih, Tahmid, Takbir, Tahlil, sholawat dan bacaan-bacaan lain yang sudah tidak asing lagi bagi kebanyakan penduduk Indonesia.

Jadi dalam perspektif Ilmu Balaghoh, Istilah Tahlil dengan arti serangkaian bacaan-bacaan seperti di atas adalah termasuk Majaz Mursal yang ‘alaqohnya Min Ithlaqil Juz wa Uriida bihil Kul (Menyebutkan sebagiannya saja tetapi yang dimaksudkaan adalah seluruh rangkaian bacaan-bacaan tersebut).

Dari sekian makna harfiah di atas, maka makna terkahirlah yang dimaksudkan dalam pengertian tahlil dalam kajian ini. Dengan demikian Tahlil adalah bacaan "lailahaillallah" dengan disertai bacaan-bacaan tertentu yang mengandung fadhilah dan pahala bacaannya disampaikan kepada Mayit Muslim.

Dalam bacaan tahlil yang ada, maka terdapat serangkaian ayat al-Qur’an dan kalimat toyyibah sebagai berikut:

1. Surat al-Fatihah
2. Surat al-Ikhlas
3. Surat al-Muawwidzatain
4. Surat al-Fatihah
5. Permulaan dan akhir surat al-Baqarah
6. Ayat kursi
7. Istigfar
8. Tahlil (lailahaillah)
9. Tasbih
10. Sholawat Nabi
11.  Do’a, yang diakhiri juga dengan surat al-Fatihah.

WALLOHUA'LAM BISSHOWAB


Sejarah Asal-usul Tahlilan Menurut Pendapat NU dan Muhammadiyah

Salah satu kalimat dzikir yang sangat besar pahalanya disisi Allah adalah kalimat tasbih (kalimat meAgungkan dan mensucikan Tuhan, Allah SWT).


Bahkan dalam sebuah hadits kalimat tasbih disebutkan bahwa dengan tasbih kita akan mendapat 1000 Kebaikan dan Menghapus 1000 Dosa, “Hendaklah dia membaca 100 tasbih, maka ditulis seribu kebaikan baginya atau seribu kejelekannya dihapus” (HR Muslim)

Adapun beberapa keutamaan kalimat tasbih sebagai berikut:

A. Mendapatkan ampunan semua dosa, baik yang telah lewat maupun yang baru saja terjadi, dan bahkan dapat memberatkan timbangan amal baik nanti dihadapan Allah ta’ala. Rasulullah Saw. Bersabda:

“Dua kalimat yang ringan diucapkan lidah tetapi sangat memberatkan timbangan (amal) dan sangat disukai Allah adalah Subhanallahi wa bihamdihi, subhanallahil adziim (Artinya “Maha suci Allah dan segala puji bagi-Nya, Maha suci Allah yang Maha Agung,” (HR. Bukhari)

B. Dapat menghapus atau menghilangkan dosa-dosa orang yang biasa mengucapkan. Nabi Saw. Bersabda: “Apakah salah seorang tidak sanggup untuk mengusahakan seribu kebaikan setiap hari?” Maka ditanyakan kepada beliau: “Bagaimana hal itu dapat diusahakan ya Rasulullah”? Berliau Berkata; “Yaitu bertasbih kepada Allah 100 kali, dengan tasbih tersebut dicatatat 1.000 kebaikan untuknya dan dihapuskan dari padanya 100 keburukan (dosa),” (HR. Muslim)

C. Tasbih adalah salah satu ucapan yang paling disukai Allah: Perkataan yang paling disukai Allah ada empat, yaitu: Subhanallah (Maha Suci Allah), wallhamdulillah (segala puji bagi Allah), dan Laaila ha illallahu wallahu akbar (tiada Tuhan melainkan Allah dan Allah Maha Besar),” (HR. Muslim)

D. Allah Swt menjanjikan balasan surga bagi orang yang membiasakan diri mengucapkan tasbih. “Barangsiapa yang mengucapkan Subhanallah wa bihamdihi (Maha Suci Allah dengan puji-Nya), maka ditanamkan sebatang pohon kurma di surga” (HR. Tarmidzi)

E. Ucapan tasbih dapat menjadi salah satu alat bukti (kesaksian) bagi perbuatan seseorang pada hari kiamat.

“Hendaklah kamu sekalian membaca tasbih, tahlil, dan taqdis (penyucian), maka janganlah kamu lalai dan ikatan dengan jari-jari, karena sesungguhnya bacaan-bacaan itu dijadikan mampu untuk berbicara (memberikan kesaksian pada hari kiamat),” (HR. Abu Daud, at-Tarmidzi dan al-Hakim).

Tasbih merupakan kalimat yang ringan dan mudah untuk diucapkan, tetapi mendapat pahala yang sangat besar di sisi Allah Swt.

“Ada dua kalimat yang ringan atas lidah, tetapi berat di atas timbangan dan dicintai oleh Allah Yang Maha Pemurah, yaitu Subhanallah wa bihamdihi, Subhanallahil adzim (Maha Suci Allah Yang Maha Agung),” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Begitulah keutamaan dzikir. Sangat banyak dan sangat utama manfaatnya. Oleh karena itu dimanapun dan kapanpun kita diharuskan berdzikir kepada-Nya supaya hati tenang dan tentram dan menghindarkan kita dari semua bentuk kemaksiatan yang menyengsarakan.

Sebaik-baik perkataan adalah perkataan dzikir seburuk buruk perkataan adalah perkataan musyrik dan maksiat. Maka seorang mukmin tidak akan menyibukkan dirinya untuk mengucapkan kata-kata sia-sia seperti mencela, mengumpat, berbohong, berkata-kata kotor dan lain sebagainya.

HADIST TENTANG KEISTIMEWAAN BERTASBIH


Allah berfirman dalam al-Quran: ”Hai orang-orang yang beriman! berzikirlah (mengingat) kepada Allah dengan zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang.” (al-Ahzaab: 41-42).

Hal ini juga dijelaskan dalam Hadist Nabi bahwasannya Nabi SAW bersabda:

"Barangsiapa bertasbih sebanyak tiga puluh tiga kali, bertakbir tiga puluh tiga kali, dan bertahmid tiga puluh tiga kali, kemudian mengucapkan: Laa ilaaha illa Allah wahdahu laa syarikalah lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ’ala kulli sya’in qadir, setiap selesai shalat, maka akan diampuni dosanya meski sebanyak buih di lautan.”(HR Imam Ahmad, Darimi, Malik)

Setiap kalimat tasbih adalah sedekah, takbir adalah sedekah, tahmid adalah sedekah dan tahlil adalah sedekah.” (HR Muslim)

Hendaklah dia membaca seratus tasbih, maka ditulis seribu kebaikan baginya atau dihapuskan darinya seribu keburukan.”

Maukah Aku sampaikan kepada kalian amalan yang dapat melampaui derajat orang kaya dan tidak ada yang mengalahkan derajat kalian sehingga menjadi yang terbaik di antara kalian dan mereka, kecuali mengerjakan amalan berikut, yaitu membaca tasbih, tahmid, dan takbir setiap selesai shalat sebanyak 33 kali.”(HR Bukhori)

Dua Kalimat yang ringan di lidah dan berat dalam timbangan amal, dan sangat disukai oleh Tuhan Arrahman, adalah: Subhanallahi wabihamdihi (Maha Suci Allah Yang Maha Agung dan segala puji bagiNya).

Ucapan yang paling Allah sukai itu adalah empat : Subhanallah, al-Hamdulillah, Laa Ilaaha Illa Allah, Allahu Akbar. Tidak ada bahaya darimanapun kamu mulai.” (HR. Muslim)

Bacaaan tasbih :

سُبْحَانَ اللّهُ

SUBHANALLOH”,
artinya : “Maha Suci Alloh”.

Wallohua'lam Bisshowab

Keutamaan dan Manfaat Besar Dzikir (Membaca) Kalimat Tasbih

Kematian adalah wajib bagi semua makhluk ciptaan Alloh, Wafat dalam keadaan Khusnul Khotimah adalah keinginan Umat Manusia. Karena dalam keadaan tersebut Alloh SWT akan memulyakan hambanya di alam Akhirat atau alam Keabadian dan memasukkan ke surga.

Banyak hadist yang menerangkan ciri-ciri Meninggal dalam keadaan Khusnul Khotimah, berikut ciri-ciri nya beserta keterangannya dan hadistnya :


1. Mereka yang dapat mengucapkan syahadat menjelang kematian

Sebagaimana ditunjukkan dalam banyak hadis sahih, antaranya Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud: “Barang siapa yang ucapan terakhirnya ‘Laa ilaaha illallah’, maka dia masuk syurga.” (Hadis Hasan).

2. Kematian yang disertai dengan basahnya kening dengan keringat atau peluh.

Berdasarkan hadis Buraidah bin Hushaib r.a: Dari Buraidah bin Khusaib RA bahawa ketika dia berada di Khurasan sedang membesuk seorang sahabatnya yang sakit dia mendapatinya sudah meninggal tiba-tiba keningnya berkeringat maka dia berkata: “Allahu Akbar!, aku mendengar Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud: “Kematian seorang mukmin disertai keringat di keningnya.” (Hadis Sahih).

3. Mereka yang (baik-baik dan soleh) meninggal dunia pada malam Jumaat atau siangnya

berdasarkan sabda Rasulullah SAW: “Tidaklah seorang Muslim yang meninggal pada hari Jumaat atau malam Jumaat melainkan Allah melindunginya daripada seksa kubur.”

4. Meninggal dalam keadaan syahid di medan perang

Alloh berfirman yang artinya: “Dan janganlah sekali-kali kamu mengira bahawa orang-orang yang terbunuh di jalan Allah mati, tetapi mereka hidup diberi rezeki di sisi Tuhan mereka. Mereka bergembira dengan kurnia yang diberikan Allah kepada mereka dan memberi khabar gembira kepada orang yang belum mengikuti mereka di belakang janganlah mereka takut dan sedih. Mereka memberi khabar gembira dengan kenikmatan dari Allah dan kurniaNya dan bahawa Allah tidak mensia-siakan balasan bagi orang-orang beriman.” (QS Ali Imran:169-171) 

Rasulullah SAW juga pernah bersabda: “Orang yang syahid mendapatkan enam perkara: Diampuni dosanya sejak titisan darahnya yang pertama; diperlihatkan tempatnya dalam syurga; dijauhkan dari seksa kubur; diberi keamanan dari goncangan yang dahsyat di hari kiamat; dipakaikan mahkota keimanan; dinikahkan dengan bidadari syurga; diizinkan memberi syafaat bagi tujuh puluh anggota keluarganya.

5. Mereka yang meninggal dunia ketika berjuang di jalan Allah (bukan terbunuh)

berdasarkan sabda Rasulullah SAW: “Apa yang kalian nilai sebagai syahid antara kalian? Mereka berkata: Ya Rasulullah, siapa yang terbunuh di jalan Allah, maka dia syahid. Beliau berkata: Jadi sesungguhnya syuhada’ umatku sedikit.” Mereka berkata: “Lalu siapa mereka Ya Rasulullah?” Baginda bersabda: “Barang siapa yang terbunuh di jalan Allah syahid, barang siapa yang mati di jalan Allah syahid, barang siapa yang mati kerana wabak taun syahid, barang siapa yang mati kerana penyakit perut syahid dan orang yang tenggelam syahid.”

6. Mati kerana satu wabah penyakit tahun

berdasarkan beberapa hadis antaranya:
Rasulullah SAW bersabda: “Wabah tahun adalah kesyahidan bagi setiap Muslim.”

Daripada Aisyah RA, ia bertanya kepada Rasulullah mengenai wabak taun. Rasulullah SAW menerangkan bahawa wabak taun itu adalah satu azab (bala) daripada Allah yang diantar kepada siapa yang dikehendakinya, dan Allah menjadikannya sebagai rahmat bagi hambanya yang beriman. Maka seseorang (Mukmin) yang berada di daerah yang ditimpa wabak taun, dan terus tinggal di situ dan bersabar menghadapi bala itu serta mengetahui yang dia tidak akan terkena kecuali menurut apa yang telah ditentukan Allah. Baginya pahala seperti pahala orang yang mati syahid.

7. Mereka yang mati kerana tenggelam dan terkena runtuhan

Sabda Nabi SAW: “Syuhada ada lima: yang mati kerana wabak taun, karena penyakit perut, yang tenggelam, yang terkena runtuhan dan yang syahid di jalan Allah.”

8. Matinya seorang wanita dalam nifasnya disebabkan melahirkan anaknya

Dari Ubadah bin Shamit RA bahawa Rasulullah SAW menjenguk Abdullah bin Rawahah RA dan berkata: Beliau tidak berpindah dari tempat tidurnya lalu berkata: “Tahukah kamu siapa syuhada’ dari umatku?” Mereka berkata: “Terbunuhnya seorang Muslim adalah syahid.” Baginda berkata: “Jadi sesungguhnya para syuhada’ umatku, terbunuhnya seorang Muslim syahid, mati kerana wabak taun syahid, wanita yang mati kerana janinnya syahid (ditarik oleh anaknya dengan tali arinya ke syurga).”

9. Mereka yang mati karena terbakar dan sakit bengkak panas yang menimpa selaput dada di tulang rusuk

ada beberapa hadis yang terkait yang paling masyhur: Dari Jabir bin ‘Atik dengan sanad marfu’: “Syuhada’ ada tujuh selain terbunuh di jalan Allah: yang mati kerana wabak taun syahid; yang tenggelam syahid; yang mati kerana sakit bengkak yang panas pada selaput dada syahid; yang sakit perut syahid; yang mati terbakar syahid; yang mati terkena runtuhan syahid; dan wanita yang mati setelah melahirkan syahid.”

10. Mereka yang mati kerana sakit TB 

berdasarkan hadis:
Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud: “Terbunuh di jalan Allah syahid, wanita yang mati kerana melahirkan syahid, orang yang terbakar syahid, orang yang tenggelam syahid, dan yang mati kerana sakit TB syahid, yang mati kerana sakit perut syahid.” (Hadis Hasan)

11. Mereka yang mati kerana mempertahankan hartanya yang hendak dirampas

Dalam hal itu ada beberapa hadis di antaranya: Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang terbunuh kerana hartanya (dalam riwayat: barang siapa yang hartanya diambil tidak dengan alasan yang benar lalu dia mempertahankannya dan terbunuh,) maka dia syahid.”

12. Mereka yang mati kerana mempertahankan agama dan dirinya

Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang terbunuh kerana hartanya syahid, barang siapa yang terbunuh kerana keluarganya syahid, barang siapa yang terbunuh kerana agamanya syahid, barang siapa yang terbunuh kerana darahnya syahid.”

13. Mereka yang mati dalam keadaan ribath (berjaga-jaga di perbatasan) di jalan Allah

Ada dua hadis dalam hal itu salah satunya: Rasulullah SAW bersabda: “Ribath sehari semalam lebih baik dari berpuasa dan qiyamullail selama sebulan, dan jika mati maka akan dijalankan untuknya amalan yang biasa dikerjakannya, akan dijalankan rezekinya dan diamankan dari fitnah.”

14. Mati ketika melakukan amal soleh 

berdasarkan hadis:
Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud: “Barang siapa yang mengucapkan: ‘Laa ilaaha illallah’ mengharapkan wajah Allah lalu wafat setelah mengucapkannya maka dia masuk syurga, barang siapa berpuasa satu hari mengharapkan wajah Allah lalu wafat ketika mengerjakannya maka dia masuk syurga, barang siapa yang bersedekah dengan satu sedekah mengharapkan wajah Allah lalu wafat ketika mengerjakannya maka dia masuk syurga.”

15. Mereka yang dibunuh oleh penguasa yang zalim kerana memberi nasihat kepadanya

Rasulullah SAW bersabda: “Penghulu para syuhada’ adalah Hamzah bin Abdul Mutalib dan seseorang yang mendatangi penguasa yang zalim, lalu dia memerintahkan yang baik dan melarang dari yang mungkar lalu dia dibunuhnya.” Hadis dikeluarkan oleh Al-Hakim dan disahihkannya, dan Al Khatib.

Jika suatu saat tiba waktunya kita dipanggil Alloh SWT, Semoga kita wafat dalam keadaan Khusnul Khotimah dan digolongkan sebagai hamba yang taat dan beriman kepada Alloh SWT, serta diampuni semua dosa-dosa kita.
Amin yaa Robbal'Alaamin

Inilah Ciri-ciri Kematian Dalam Keadaan Khusnul Khotimah

Ajaran agama Islam menerangkan bahwa, manusia hidup hanya untuk mencari pahala dari amal ibadahnya dan keridhoan Allah SWT. Tidak untuk yang lain, sehingga orang-orang Mukmin dan Mukminat akan terus berlomba-lomba dalam kebaikan agar mendapatkan kehidupan yang layak kelak di akhirat.

Setiap amal ibadah pasti ada balasannya yang tak lain adalah sebuah pahala. Ketika manusia telah menemui ajalnya, maka terputuslah semua amal ibadahnya. Tak lagi bisa melakukan sholat wajib, sholat sunnah, puasa, berdzikir dan ibadah-ibadah lainnya.

Namun jika ajal sudah datang menjemput, maka tidak ada lagi kesempatan untuk menambah pahala-pahalanya, ia tidak akan mendapatkan pahalanya sholat, karena ia sudah tidak lagi sholat dan begitupun yang lainnya.

Setelah kita wafat dan segala amalan kita terputus, maka tidak lagi bisa kita mendapatkan tambahan pahala, kecuali 3 perkara.
Berikut penjelasan mengenai tiga Amalan Yang tidak akan terputus meski orang itu sudah meninggal :

Dari Abu Hurairah ra., Rasulullah bersabda:

Artinya: “Apabila seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): shodaqoh jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, dan anak yang sholeh yang mendoakannya“. (HR. Muslim)

BERSHODAQOH ATAU AMAL JARIYAH

Kuwaluhan.com

Amal jariyah yang dilakukan semasa hidup di dunia akan terus mengalir dan menambah pahala bagi yang beramal. Contoh amal jariyah diantaranya, membangun madrasah atau sekolah, mewakafkan tanah untuk kepentingan umat, membangun masjid atau sarana umum lainnya, memberikan buku yang bermanfaat bagi orang dan lain sebagainya.

Selama semua yang diberikan itu masih terus berjalan dan bermanfaat bagi orang-orang, seperti bangunan Masjid yang terus digunakan untuk ibadah, selama buku yang disedekahkan masih digunakan dan bermanfaat, dalam bentuk apapun jika masih ada dan terus digunakan untuk kemaslahatan umat maka pahalanya akan terus mengalir pula kepada yang beramal meskipun sudah wafat.

ILMU YANG BERMANFAAT

Kuwaluhan.com

Ilmu agama yang kita ajarkan kepada orang lain, baik itu secara lisan atau dalam bentuk tulisan (buku), selama ilmu itu masih bermanfaat dan terus dimanfaatkan oleh orang-orang yang kita ajari, maka pahalanya akan terus mengalir kepada kita.

ANAK SHOLEH YANG MENDOAKAN KEDUA ORANG TUANYA

Kuwaluhan.com


Ini dia kenapa pentingnya mendidik anak secara islami, menanamkan aqidah sejak dini kepada anak, dan membimbing anak menjadi generasi yang Qur’ani. Karena dibalik kebanggaan tersendiri memiliki anak yang patuh, bertaqwa dan sholeh sholehah, ternyata segala amal ibadah dan kebaikan yang dilakukan oleh anak yang sholeh akan terus mengalir kepada kedua orangtuanya.

Doa anak sholeh yang ikhlas, tulus dan selalu dipanjatkan untuk kedua orang tuanya merupakan suatu kebanggaan luar biasa bagi orang tua.

WALLOHUA'LAM BISSHOWAB

Semoga penjelasan tersebut dapat bermanfaat bagi kita semua.
Amiinn Yaa Robbal'alamiin

Tiga Amalan Yang tidak akan pernah Putus Menurut Hadist dan Al-qu'ran