Social Items

Jodoh merupakan ketentuan dan telah menjadi rahasia Allah SWT. Dalam islam, pada dasarnya tidak digunakan istilah jodoh, namun hal ini lebih mengarah kepada pasangan.


Pasangan yang dimaksud ialah sepasang laki-laki dan perempuan yang kemudian mengikat tali suci dalam ikatan sebuah pernikahan dan kemudian membangun rumah tangga dalam ajaran islam. Jodoh diidentikan dengan pasangan yang menikah kemudian terpisah karena maut yang memisahkan. Perihal perkara jodoh ini dengan jelas Allah SWT telah menjelaskan dalam firmanNya di bawah ini :

Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu dan orang-orang yang layak (nikah) dan hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. An Nur : 32)

Dalam hal jodoh dan cinta menurut islam Allah SWT telah memberikan pertanda bahwa orang tersebut layak atau tidak untuk dijadikan pasangan seumur hidup. Seperti dalam firman Allah SWT berikut :

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS. Ar-Rum:21).

Perlu diketahui bahwa tidak setiap pasangan yang memiliki hubungan serius berakhir di kursi pelaminan. Banyak dari mereka yang telah bertahun tahun dekat namun, kemudian berpisah. Dan banyak juga yang bertemu sebentar dan langsung menikah. Artinya bahwa Allah SWT telah mentakdirkan jodoh yang ideal bagi kita.

Sebagai manusia kita tidak boleh mengabaikan setiap tanda darinya dalam upaya menikah dalam islam . Karenanya, berikut tanda kalau dia bukan jodoh kita dalam Agama islam.

Berikut penjelasannya :

Menyembunyikan Kamu dari Keluarga dan Sahabatnya

Salah satu hal yang meyakinkan bagi anda untuk menganggap bahwa si dia bukan jodoh yang tepat adalah, dapat anda liat dari keseriusannya untuk mengenalkan anda pada orang-orang terdekatnya. Jika ia malah terkesan menyembunyikan anda dari orang terdekat maka anda harus mulai bertanya tanya ada yang ditutupo olehnya. Biasanya seorang yang serius berkomitmen tidak akan segan dan akan langsung mengajak anda untuk dikenalkan kepeda orang tua dan teman-temanya.

Jika telah diajak bertemu orang tua maka sudah pasti ia tidak akan berani bermain-main dan siap melanjutnkan ke jenjang yang lebih serius. Namun, jika terkesan sembunyi-sembunyi, mungkin ia hanya ingin bermain-main dan tidak memiliki niatan serius.

Meminta Persyaratan Yang Mustahil Kamu Turuti

Cinta adalah berusaha menerima segala kekurangan dan mengabaikan segala keburukan. Dalam hal ini cinta sebagai pasangan ialah yang mampu menerima kekurangan dan kelebihan satu sama lain. Apalaginjika ada komitmen untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius tentu setiap pasangan tidak akan mensyaratkan hal yang tidak mungkin dipenuhi oleh pasangannya. Jika ia mensyratkan hal yang bahkan tidak dapat anda sanggupi maka bisa jadi ia bukanlah jodoh yang tepat.

Tidak Banyak Komunikasi Yang Di jalin 

Komunikasi merupakan hal dasar dalam sebuah hubungan. Tanpa komunikasi yang intens maka sebuah hubungan tidak akan berjalan dengan baik. Banyak yang mengatakan jika seseorang berjodoh dengan kita maka kita akan mudah dalam berkomunikasi dengannya. Sebaliknya jika anda jarang berkomunikasi, dan malah terkesan ogah-ogahan ya mungkin itu bisa menjadi sebuah tanda bahwa ia bukanlah pilihan yang tepat. Maka segeralah lepaskan, sebelum segala sesuatunya lebih mengarah ke arah yang serius.

Tidak Saling Percaya

Kepercayaan merupakan salah satu modal utama dalam melanjutkan sebuah hubungan. Jika tidak ada rasa saling percaya maka hubungan yang dibina akan dipenuhi rasa kecurigaan. Sehingga tentunya akan jauh dari kata harmonis. Bagaimana hubungan yang demikian akan di lanjutkan ke jejang pernikahan. Karena jika ia adalah jodoh yang di takdirkan kepada kita maka dalam hati keduanya akan saling percaya meskipun terpisah oleh jarak yang jauh.

Tidak Ada Komitmen Untuk Masa Depan

Hubungan yang baik akan selalu dilandasi oleh komitmen yang kuat. Baik anda ataupun si dia harus memiliki komitmen untuk bisa melanjutkan hubungan ke jenjang yang lebih serius . Banyak pasangan yang memiliki komitmen kuat namun, pada akhirnya tidak berjodoh. Nah, bagaimana yang komitmennya saja sudah tidak ada. Apakah layak disebut jodoh.

 Dia Tidak Disukai Keluargamu

Pernikahan bukan hanya menyatukan anda dan calon pasangan, namun juga menyatukan dua keluarga besar. Artinya bahwa siapapu jodoh anda tentunya akan bisa diterima oleh pihak keluarga satu sama lain. Namun, jika keluarga anda terutama kedua orang tua anda tidak menyukai pasngan anda. Maka segera pikirkan kembali, apakah dia jodoh terbaik untuk anda. Karena bisa jadi dedinisi jodoh disini adalah bukan hanya baik dimata anda tapi juga di mata keluarga dan Allah SWT.

Banyak Rahasia yang Disembunyikan

Setiap orang pasti memiliki rahasia dalam kehidupannya. Namun, bagi mereka yang berjodoh pasti akan salinh terbuka terhadap rahasia masing-masing yang dimiliki. Apalagi jika hubungan telah mengatah ke jenjang pernikahan tentu, sikap saling terbuka sangat penting. Dari pada mendengarnya dari orang lain, lebih baik mendengarnya langsung dari kita. Namun, jika pasangan anda terkesan menutup diri dan menyimpan banyak rahasia, maka hal tersebut bisa menjadi tanda bahwa ia bukanlah jodoh yang tepat bagi anda.

Tidak Menemukan Ketenangan Jiwa dan Hati Dalam Hubungan 

Firman Allah SWT dalam QS Al-Furqon ayat 74 dibawah ini :

“Dan orang orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqon:74).

Dalam islam, jodoh merupakan seseorang yang bisa memberika ketenangan baik secara lahir dan batin. Ikatan emosional pada pasangan yang beejodoh akan lebih besar ketimbang dengqn yang tidak. Mereka yang berjodoh akan merasa aman, nyaman, tenang, dan bahagia saat bersama pasangan. Namun, jika kondisi sebaliknya yang dirasakan maka kemungkinan besar pasangan anda daat ini bukanlah jodoh yang tepat bagi anda.

Tidak Bisa Menerima Masa Lalu

Setiap orang memiliki masa lalu yang menjadi bagian dari cerita hidupnya. Ada yang suram, kelam dan bahkan penuh dengan aib. Namun, tahukah anda bahwa jodoh anda adalah ia yang bisa menerima segala kekurangan dan masa lalu amda seburuk apapun. Karena jodoh adalah mereka yang akan membimbing kita ke jalan yang lebih baik. Sebaliknya jika anda bertemu dengan sosok yang tidak bisa mentoleransi masa lalu anda, maka berfikirlah kembali untuk melanjutkan ke jenjang pernikahan. Karena hal tersebut menjadi pertanda bahwa ia bukanlah jodoh bagi anda.

Kasar dan Protektif

Setiap manusia lahir dengan karakter dan tabiatnya masing-masing. Ada yang lembut, kasar, culas, protektif bahkan cenderung over protektif. Dalam sebuah hubungan jika pasangan mulai menunjukkan sikap kasar dan protektif atau menunjukkan perubahan prilakunya yang demikian. Maka, ini bisa menjadi sinyal bahwa ia bukanlah jodoh yang tepat bagi anda. Apalagi jika saat membina awal hubungan ia bersikap sebaliknya. Artinya bahwa ia berpura-pura dan menutupi tabiat aslinya untuk merebut simpati anda. Apakah anda mau tetap melanjutkannya dan hidup bersama orang yang kasar da protektif seumur hidup anda.

Sering Berbohong

Kebohongan adalah salah satu cara untuk menutupi ain dan kesalahan. Biasanya mereka yang biasa berbohong akan sulit dibedakan dengan mereka yang jujur. Dalam hubungan sebuah kebohongan merupakan sinyal bahwa hubungan yang dijalin bukan merupakan hubungan yang sehat. Bagaimana anda bisa melanjutkan hubungan yang serius jika is selalu membohongi anda. Jika tetap dipaksakan maka akan bisa berakhir ditengah jalan. So, mereka yang pembohong sudah pasti tidak layak disebut sebagai jodoh.

Dipersulit dalam Segala Hal 

Allah SWT telah mengatur setiap jodoh umatnya. Artinya bahwa ketika dipertemukan maka segala urusan akan selalu di mudahkan. Karena jodoh tersebut telah di restui oleh Allah SWT maka tidak akan dipersulit segala urusannya. Namun, sebaliknya jika semua urusan anda terasa sulit dan dipersulit dan selalu timbul masalah didalamnya. Maka hal tersebut merupakan pertanda bahwa Allah SWT memberi tahu anda melalui setiap kejadian bahawa ia bukanlah orang yang tepat untuk mendampingi anda.

Petunjuk Berdasarkan Shalat Istikharah yang Dilakukan

Dalam Islam sendiri Allah SWT menganjurkan kita untuk melaksanakan shalat istikharah ketika mengalami kebimbangan. Begitupula dalam hal jodoh, jika anda merasa ragu, maka segera lakukan shalat istikharah. Insyaallah Allah SWT akan memberikan petunjuk bagi anda, apakah ia merupakan jodoh anda atau bukan. Agar tidak kecewa, maka asrahkanlah segalanya kepadaNya. Karena  Allah SWT tidak akan pernah mengabaikan umatnya. Seperti dalam Firman Allah SWT QS. AlBaqarah ayat 4 berikut :

“Dan jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu, sesungguhnya yang demikian itu amat berat kecuali bagi orang-orang yang khusyu’, yaitu orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Rabbnya, dan mereka akan kembali pada-Nya.”

Wallohua'lam Bisshowab

Inilah Tanda-tanda Dia Bukan Jodoh Kita Dalam Islam

Dalam ajaran agama islam tidak ada istilah pacaran dan tidak diperbolehkan seseorang untuk berduaan atau berkhalwat yang dapat menjerumuskan pada perbuatan zina. Akibatnya banyak gadis yang hamil diluar nikah dan pernikahan yang terjadi karena kecelakaan.


Lantas apa yang dapat kita lakukan apabila kita melakukan perbuatan zina dan ingin menghapuskan dosa zina mengingat sebagai manusia kita pernah melakukan kesalahan dan ingin memperbaikinya. Berikut ini dijelaskan tentang zina dan amalan yang dapat dilakukan untuk menghapus dosa zina :

ZINA DAN HUKUMNYA

Perbuatan Zina dalam agama islam didefinisikan sebagai perbuatan keji yang dilakukan oleh pria dan wanita dan terjadi persetubuhan diantara keduanya. Perbuatan zina adalah salh satu perbuatan yang dikutuk Allah SWT dan sebagai umat islam kita dilarang atau haram hukumnya untuk mendekati zina.

Zina itu sendiri dapat digolongkan dalam zina mukhson atau zina yang dilakukan oleh mereka yang sudah menikah dan zina ghoiru mukhson yang dilakukan oleh mereka yang belum pernah menikah. Adapun hukuman dari perbuatan zina adalah dengan rajam atau lemparan batu hingga mati bagi pelaku zina mukhson dan hukuman dera atau cambuk serta diasingkan satu tahun lamanya bagi mereka yang melakukan zina ghouro mukhson. Sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah SWT

الزَّانِيَةُ وَالزَّانِي فَاجْلِدُوا كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مِائَةَ جَلْدَةٍ ۖ وَلَا تَأْخُذْكُمْ بِهِمَا رَأْفَةٌ فِي دِينِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۖ وَلْيَشْهَدْ عَذَابَهُمَا طَائِفَةٌ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ

“Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus dali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman”. (QS An Nur ayat 2)

وَاللَّاتِي يَأْتِينَ الْفَاحِشَةَ مِنْ نِسَائِكُمْ فَاسْتَشْهِدُوا عَلَيْهِنَّ أَرْبَعَةً مِنْكُمْ ۖ فَإِنْ شَهِدُوا فَأَمْسِكُوهُنَّ فِي الْبُيُوتِ حَتَّىٰ يَتَوَفَّاهُنَّ الْمَوْتُ أَوْ يَجْعَلَ اللَّهُ لَهُنَّ سَبِيلًا

“Dan (terhadap) para wanita yang mengerjakan perbuatan keji, hendaklah ada empat orang saksi diantara kamu (yang menyaksikannya). Kemudian apabila mereka telah memberi persaksian, maka kurunglah mereka (wanita-wanita itu) dalam rumah sampai mereka menemui ajalnya, atau sampai Allah memberi jalan lain kepadanya.” (QS An Nisa ayat 15)

AMALAN PENGHAPUS DOSA ZINA

Menyesali perbuatannya

Tidak akan terhapus dosa seseirang jika ia tidak mengawalinya dengan penyesalan, rasa sesal yang dirasakan oleh seseirang yang berbuat zina dapat mengembalikannya pada jalan yang benar dan kembali pada Allah SWT. Menyesali dosa yang pernah dilakukan dapat membersihkan hati dan memantapkan niat jika rasa sesal itu dijadikan awal dan cambuk untuk bertaubat kepada Allah SWT.

Taubatan Nasuha

Jika ingin menghapus dosa apa saja terutama zina maka seseorang haruslah bertaubat dengan sungguh-sungguh atau taubat nasuha. Taubat nasuha adalah taubat yang sungguh-sungguh berasal dari hati dan dilakukan karena seseorang menyesali perbuatannya. Allah memberikan janji bahwa Ia akan mengampuni dosa-dosa hambanya yang melakukan kesalahan sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah SWT pada surat At Tahrim ayat 8 berikut ini

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا عَسَىٰ رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ يَوْمَ لَا يُخْزِي اللَّهُ النَّبِيَّ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ ۖ نُورُهُمْ يَسْعَىٰ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا وَاغْفِرْ لَنَا ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang mukmin yang bersama dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: “Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”. (QS At tahrim ayat 8)

Shalat Taubat

Shalat adalah salah satu amalan yang dapat mendekatkan diri pada Allah SWt dan menghapuskan dosa. Seseorang yang ingin bertaubat atas dosa-dosanya dapat meminta ampunan lewat shalat taubat.Shalat taubat itu sendiri adalah shalat sunnah yang dikerjakan sebanyak dua hingga enam rakaat pada malam hari selepas shalat isha. Dengan mengerjakan shalat taubat dan tentunya tidak meninggalkan shalat wajib, dosa yang dilakukan akan diampuni oleh Allah SWT sebagaimana yang disebutkan dalam Qu’an surat Al baqarah ayat 222

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ………………

“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.” (QS Al Baqarah 222)

Perbanyak Zikir dan Istigfhar

Memperbanyak dzikir dan istigfar pada Allah adalah salah satu amalan untuk menghapuskan dosa-dosa kita. Kalimat istigfar merupakan kalimat permohonan ampun dari Allah SWT dan dosa-dosa seseorang dapat dihilangkan dengan terus menyebut nama Allah SWT. Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah SWT surat Al imran ayat 135 berikut ini (baca keutamaan berdzikir)


وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَىٰ مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ

Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. (QS Al imran ayat 135)Melakukan kebaikan pada sesama

Jika seseorang berbuat dosa dan keburukan maka untuk menghapuskannya ia perlu melakukan hal atau kebaikan pada orang atau makhluk lainnya seperti dengan bersedekah. menghapuskan hutang orang lain padanya, memberi makan binatang dan sebagainya seperti yang dikisahkan seorang wanita pelacur yang masuk surga karena memberi minum anjing yang kehausan.

Berpuasa

Berpuasa adalah salah satu cara melatih hawa nafsu dan kesabaran kita. Puasa juga dapat menghapuskan dosa apabila dilakukan dengan sungguh-sungguh terutama jika melakukan puasa sunnah seperti puasa arafah dan asy syura.

Memperbanyak Baca Alqur’an

Alqur’an dapat menjernihkan hati dan membacanya tidak hanya mendatangkan ketenangan akan tetapi juga menghapuskan dosa seseorang. Sebagaimana yang disebutkan dalam hadits berikut ini.

“Bacalah Al Qur`an, karena sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat untuk memberikan syafa`at kepada pembacanya” (HR. Muslim)

Itulah beberapa amalan yang dapat menghapus dosa besar yaitu Zina.
Wallohua'lam Bisshowab

Inilah 7 Amalan Penghapus Dosa Besar Zina

Di balik ucapan mengkafirkan orang lain itu sebenarnya tersembunyi perasaan bahwa saya lebih baik dari dia; saya lebih islami, lebih suci, dan lebih benar serta akan masuk surga ketimbang dia. Persoalannya darimana kita tahu bahwa amalan ibadah kita "yang banyak sekali itu" pasti diterima Allah dan dosa mereka "yang begitu banyak itu" tidak akan Allah ampuni?


Seperti pengulangan sejarah kelam umat Islam yang gara-gara persoalan kepemimpinan selepas terbunuhnya Khalifah Utsman bin Affan kemudian terjadi perang antara pasukan Ali bin Abi Thalib dan Mu'awiyah. Keduanya adalah sahabat Nabi yang harus kita hormati, namun gara-gara perbedaan politik ada sebagian pihak yang mengkafirkan salah satu atau keduanya. Muncul pula sejumlah hadits palsu hanya sekedar untuk mencaci atau mendukung salah satunya. Ayat suci direduksi menjadi alat politik.

Sepanjang sejarah kita saksikan betapa mudahnya sebagian pihak mengkafirkan Muslim lainnya. Seolah mereka tidak takut dengan ancaman dari penggalan Hadits Nabi ini:

‎وَمَنْ دَعَا رَجُلًا بِالْكُفْرِ أَوْ قَالَ عَدُوَّ اللَّهِ وَلَيْسَ كَذَلِكَ إِلَّا حَارَ عَلَيْهِ

"Barangsiapa memanggil dengan sebutan kafir atau musuh Allah padahal yang bersangkutan tidak demikian, maka tuduhan itu akan kembali kepada penuduh" (HR Bukhari-Muslim)

Berdasarkan prinsip kehati-hatian yang terkandung dalam Hadits di atas, maka para ulama berhati-hati untuk menjatuhkan vonis kafir kepada sesama Muslim.

Qadhi Iyad yang bermazhab Maliki menulis kitab yang sangat terkenal, yaitu al-Syifa bi Ta'rif Huquq al-Musthafa. Beliau menukil pendapat para ulama:

‎ونقل القاضي عياض رحمه الله عن العلماء المحققين قولهم:
‎يجب الاحتراز من التكفير في أهل التأويل فإن استباحة دماء المصلين الموحدين خطر، والخطأ في ترك ألف كافر أهون من الخطأ في سفك محجمة من دم مسلم واحد.

"Wajib menahan diri dari mengkafirkan para ahli ta'wil karena sungguh menghalalkan darah orang yang shalat dan bertauhid itu sebuah kekeliruan. Kesalahan dalam membiarkan seribu orang kafir itu lebih ringan dari pada kesalahan dalam membunuh satu nyawa Muslim."

Kitab al-Syifa di atas diberi syarh (penjelasan) salah satunya oleh al-Mulla Ali al-Qari al-Harawi yang bermazhab Hanafi. Beliau memberi penjelasan sebagai berikut:

قال علماؤنا إذا وجد تسعة وتسعون وجها تشير إلى تكفير مسلم ووجه واحد إلى ابقائه على إسلامه فينبغي للمفتي والقاضي أن يعملا بذلك الوجه وهو مستفاد من قوله عليه السلام ادرؤوا الحدود عن المسلمين ما استطعتم فإن وجدتم للمسلم مخرجا فخلوا سبيله فإن الإمام لأن يخطئ في العفو خير له من أن يخطئ في العقوبة رواه الترمذي وغيره والحاكم وصححه

"Berkata para ulama kita jika terdapat 99 hal yg menguatkan kekafiran seorang Muslim, tetapi masih ada satu alasan yang menetapkan keislamannya maka sebaiknya Mufti dan Hakim beramal dengan satu alasan tersebut, dan ini sesuai dengan sabda Nabi Muhammad SAW: 'Hindarkanlah hukuman-hukuman pidana dari kaum Muslimin semampu kalian, jika kalian mendapatkan jalan keluar bagi seorang Muslim, maka pilihlah jalan itu. Karena sesungguhnya seorang pemimpin yang salah dalam memberi maaf itu lebih baik dari pada pemimpin yang salah dalam menghukum,' sebagaimana diriwayatkan Imam Turmudzi dan lainnya dan Imam al-Hakim yang mensahihkannya."

Dari penjelasan di atas terlihat jelas kehati-hatian para ulama. Meskipun ada sekian banyak bukti yang mengarah pada kekafiran saudara kita, namun jikalau masih terlihat satu saja alasan untuk menetapkan keislamannya, para ulama memilih satu alasan tersebut dan menahan diri untuk mengkafirkan orang tersebut. Lebih baik kita keliru menyatakan dia tetap Islam ketimbang kita keliru mengatakan dia kafir. Lebih baik kita keliru memaafkan dia ketimbang kita keliru menghukum orang yang tak bersalah.

Ucapan senada juga sudah disampaikan oleh Hujjatul Islam Imam al-Ghazali yang bermazhab Syafi'i dalam kitab al-Iqtishad fil I'tiqad:

‎وقال أبو حامد الغزالي :
‎"والذي ينبغي الاحتراز منه :"التكفير" ما وجد إليه سبيلا، فإن استباحة الدماء والأموال من المصلين إلى القبلة، المصرحين بقول لا إله إلا الله محمد رسول الله خطأٌ، والخطأ في ترك ألفِ كافر في الحياة أهون من الخطأ في سفك دمٍ لمسلم"

"Agar menjaga diri dari mengkafirkan orang lain sepanjang menemukan jalan untuk itu. Sesungguhnya menghalalkan darah dan harta Muslim yang shalat menghadap qiblat, yang secara jelas mengucapkan dua kalimat syahadat, itu merupakan kekeliruan. Padahal kesalahan dalam membiarkan hidup seribu orang kafir itu lebih ringan dari pada kesalahan dalam membunuh satu nyawa Muslim.”

Rasulullah SAW juga bersabda:

"tiga perkara yang merupakan dasar keimanan: menahan diri dari orang yang mengucapkan La Ilaha illallah, tidak mengkafirkannya karena suatu dosa, dan tidak mengeluarkannya dari keislaman karena sebuah amalan..." (HR Abu Dawud, nomor 2170)

Pengkafiran Hanya Hak Allah dan Rasulullah

Sebelum memahami tentang perbuatan mengkafirkan, kita wajib mengetahui terlebih dahulu mengenai kedudukan kaum muslimin di mata Allah. Kaum muslimin ialah kaum yang paling dilindungi dan diberkahi Allah, kaum muslimin selalu mendapat ridho dalam setiap urusannya jika melakukan segala sesuatu sesuai syariat dan aturan islam serta tidak melanggar perintahNya. keutamaan iman dalam islam akan menjauhkan seorang mukmin dari hawa nafsu yang dapat menuju kepada kafir.

Allah selalu memerintahkan hambaNya untuk tolong menolong dan saling mengingatkan dalam kebaikan, jika sesama muslim saling mengkafirkan atau saling berkhianat tentu tidak akan ada kerukunan dan kedamaian dalam beragama. Contohnya ialah saing tuduh menuduh dan mengkafirkan. “Pengkafiran itu adalah hak Allah dan RasulNya, oleh karena itu tidaklah seseorang itu kafir kecuali yang dikafirkan oleh Allah dan RasulNya”. (Irsyad Ulil Abshar wal Albab linail Fiqh hal 198).

Pengkafiran hanya menjadi hak Allah dan RasulNya yang mengetahui isi hati manusia, sesama manusia tidak diperbolehkan mengkafirkan orang lain baik yang berhubungan dengan ajakan atau menuduh. Hal tersebut akan merusak kedudukan kaum muslimin di mata Allah dan mendapat berbagai azab baik di dunia maupun di akherat dimana seharusnya sesama muslim saling menjaga akhlak agar sama sama menjauhi godaan syetan yang terkutuk sehingga akan terkena azab menghina islam.

HUKUM MENGKAFIRKAN SESAMA MUSLIM

Hukum mengkafirkan orang lain ialah haram, tidak pernah ada perintah atau teladan Rasulullah dalam hal tersebut manusia tidak berhak memastikan hati dan amalan orang lain, sebab merupakan kuasa Allah semata. Bagaimana mungkin mengajak kepada kemungkaran sementara dia tahu bahwa hidup di  dunia menurut islam hnayaah sementara? Haramnya mengkafirkan orang lain sesuai dengan berbagai hadist dan firman Allah berikut

Kekafiran Kembali Kepada Orang yang Melakukan

“Siapa saja yang berkata pada saudaranya : hai kafir, maka akan terkena salah satunya jika yang vonisnya itu benar, dan jika tidak maka akan kembali kepada orang yang mengucapkannya”. (HR Bukhari). Penjelasan dari hadist tersebut ialah seseorang yang mengkafirkan orang lain sekalipun dengan ucapan, hal tersebut akan kembali kepada dirinya sendiri. artinya orang tersebut juga dianggap kafir sebab telah berkata demikian pada sesama muslim yang seharusnya saling mencegah maksiat satu sama lain.

Contoh yang demikian tidak wajib dihindari, tidak diperbolehkan mengkafirkan orang lain walaupun hanya dengan kata kata yang tidak sengaja seperti ucapan yang bercanda. Hal demikian termasuk haram. Agama islam bukan sebagai bahan untuk bercanda, sebab akhlak dan syariat islam adalah bagian yang terdalam dari hati manusia dan menjadi panduan dalam kehidupan sehari hari. menjadikannya sebagai bahan gurauan sama saja seperti mengkafirkan orang lain.

Termasuk Dosa Besar

“Dan melaknat seorang mukmin sama dengan membunuhnya, dan menuduh seorang mukmin dengan kekafiran adalah sama dengan membunuhnya”. (HR Bukhari). Mengkafirkan walaupun hanya dengan menuduh termasuk dosa besar yang hukumannya sama dengan membunuh sebab mengkafirkan telah menjauhkan orang dari jalan Allah yang lurus dan menjerumuskan orang lain kepada jalan yang sesat.

Contoh nyata mengkafirkan orang lain ialah adanya aliran yang mengaku mengikuti syariat islam tetapi dalam segala urusannya sama sekali tidak mengikuti perintah Allah dan RasulNya. Seperti yang dilakukan oleh para teroris yang melakukan pembunuhan dan pengeboman di berbagai tempat yang berawal dari pengaruh bahwa hal tersebut akan membawanya ke surga. Padahal justru hal sebaliknya yang terjadi sebab dia telah menghilangkan nyawa orang banyak.

Larangan Rasulullah

“Tidaklah seorang memvonis orang lain sebagai fasiq atau kafir maka akan kembali kepadanya jika yang divonis tidak demikian”. (HR Bukhari). Penjelasan tersebut ialah larangan untuk mengkafirkan seseorang yang muslim atau memiliki akhlak islam yang baik sebab kekafiran tersebut justru akan kembali kepada dirinya sendiri. contohnya ialah tindakan yang menuduh orang alim atau ulama dengan sesuatu yang buruk.

Hukum mengkafirkan orang lain jelas haram sesuuai sabda Rasulullah walaupun hanya berupa vonis atau tuduhan semata. Setiap manusia wajib menghormati sesama muslim dan mencegah keburukan serta kemaksiatan satu sama lain. jika melakukan kekafiran maka orang tersebut telah melakukan hal yang sebaliknya, yaitu mengarahkan orang lain kepada kemaksiatan.

Mengingkari Ayat Ayat Allah

“ Dan tiadalah yang mengingkari ayat ayat kami selain orang orang kafir”. (QS Al Ankabut : 47 ). Mengkafirkan orang lain sama saja dengan mengingkari ayat ayat Allah sebab mengingkari perintah yang terdapat dalam firmanNya. Jelas dalam firman Allah diperintahkan untuk mengasihi sesama dan mengajak sesama muslim untuk berbuat kebaikan. Jika ada seseorang yang tidak mengikuti syariat islam, maka bukan menjadi hak manusia untuk menghakimi atau mengakfirkan melainkan hanya Allah yang berhak menilainya.

Rasulullah dan para sahabat sejak jaman terdahulu ketika islam telah disebarkan tidak pernah mengingkari atau meragukan ayat ayat Allah. Rasulullah juga tetap bersikap baik pada setiap orang walaupun orang tersebut bukan pengikutnya atau menjalankan perintah islam. Tetapi rasulullah tidak semata menganggap orang tersebut akan kafir untuk seterusnya sebab beliau menyadari bahwa Allah bisa kapan saja membolak balikkan hati umatNya.

Ikut Menjadi Golongan Kafir

“ Barang siapa mencari agama selain agama islam, maka sekali kali tidaklah akan diterima agama itu daripadanya dan dia di akherat termasuk orang orang yang rugi”. (Kasfu Al Qana ). Mengkafirkan orang lain termasuk tindakan mencari agama selain islam, hal tersebut ialah sebuah kerugian dan tidak akan diterima amal kebaikannya di dunia dan di akherat.

contoh dalam masa sekarang ialah seseorang yang mempegaruhi sesama muslim untuk tidak menjalankan kewajiban sebagai umat muslim.
Walaupun hanya sebuah tindakan sepele, tetapi termasuk mengkafirkan sebab menjadi umat muslim ialah berarti keseluruhan dan kesempurnaan amal ibadah seperti menjalankan segala perintah dan menjauhi laranganNya.

Dosa orang yang dikafirkan akan ditanggug oleh orang yang mengkafirkan dan keduanya sama sama mendapat azab dari Allah dan menjadi golongan kafir.

Hati Dikunci oleh Allah

“ Dan diantara mereka ada yang mendengar perkataanmu sehingga apabla mereka keluar dari sisimu orang orang berkata kepada orang yang telah diberi ilmu pengetahuan: apakah yang dikatakan tadi? Mereka itulah orang orang yang hatinya dikunci oleh Allah”. (QS Muhammad : 16 ). Hukum mengkafirkan orang lain yang jelas haram membuat orang yang melakukannya sennatiasa berada dalam jalan yang sesat, sulit menerima hidayah karena hatinya telah dikunci oleh Allah.

Wallohua'lam Bisshowab

Semoga tulisan di atas bisa bermanfaat bagi kita semua.

Sumber : www.dalamislam.com & www.NU.or.id

Larangan Mengkafirkan Orang Lain dan Hukumnya dalam Islam

Banyak Pertanyaan mengenai Mahar yang beredar di masyarakat bahwa mas kawin itu harus digunakan oleh sang isteri sampai habis. Oleh sebab itu, beberapa tokoh menyarankan untuk memberikan mas kawin berupa barang yang cepat habis jika dipakai oleh sang istri.



Allah berfirman dalam QS An-Nisa' 4:4

وَآتُواْ النِّسَاء صَدُقَاتِهِنَّ نِحْلَةً فَإِن طِبْنَ لَكُمْ عَن شَيْءٍ مِّنْهُ نَفْسًا فَكُلُوهُ هَنِيئًا مَّرِيئًا

Artinya: Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya. 

Dalam kitab Al-Mausu'ah Al-Fiqhiyah dikatakkan:

قال جمهور الفقهاء: ليس للزوج الانتفاع بما تملكه الزوجة من متاع كالفراش, والأواني, وغيرها بغير رضاها, سواء ملكها إياه هو, أم ملكته من طريق آخر, وسواء قبضت الصداق, أم لم تقبضه. ولها حق التصرف فيما تملكه بما أحبت من الصدقة, والهبة, والمعاوضة, ما لم يعد ذلك عليها بضرر

Artinya: Mayoritas ulama fiqih (jumhur) menyatakan bahwa uami tidak boleh mengambil manfaat (menggunakan) apapun yang dimiliki istri seperti ranjang, wadah, dan lain-lain tanpa persetujuan istri. Baik harta itu hasil pemberian suami atau dari orang lain. Baik istri menerima mahar atau tidak. Istri berhak menggunakan harta yang dimilikinya sesukanya selagi tidak mengandung kemudaratan seperti harta mahar, pemberian, tukar menukar, dll.

Uang mahar atau maskawin yang diberikan oleh suami kepada istrinya menjadi hak milik penuh dari istri. Oleh karena itu, keputusan penggunaan mahar tersebut tergantung dari pemiliknya yaitu sang istri. Apabila istri tidak mengijinkan harta maskawin dimakan atau digunakan oleh suaminya, maka haram hukumnya bagi suaminya untuk menggunakan harta mahar tersebut.

Namun apabila istri rela memberikan harta mahar itu digunakan suami atau dipakai berdua, maka halal bagi suami untuk memakan harta/uang yang berasal dari mahar tersebut.

Wallohua'lam Bisshowab

Sumber : Alkhoirot.net

Hukum Suami Makan dan Memakai Uang Mahar Dalam Islam

Khamr secara bahasa artinya menutup, yakni menutup akal sehat. Dan berdasarkan hadist rosulullah dijelaskan:

" semua yang memabukkan adalah khamr dan semua khamr haram (H.R bukhori).

Dari hadits ini dapat ditarik kesimpulan semua yang memabukkan adalah haram.


Pada surat an nahl ayat 67 dijelaskan :

Dan dari buah korma dan anggur, kamu buat minimuman yang memabukkan dan rezki yang baik. Sesunggguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang memikirkan”.

Ayat ini menjelaskan khamr itu dibuat dari kurma dan anggur, tidak ada kata larangan sehingga para sahabat masih minum khamr.

Kemudian di surat al baqarah ayat 119 dijelaskan :

Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: "Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya." Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: " Yang lebih dari keperluan." Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir”.

Ayat ini menjelaskan pada khamr terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat, ayat ini juga belum ada larangan, sehingga para sahabat juga masih minum khamr.

Kemudian lihat lagi di surat an nisa ayat 43:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan”.

Pada ayat ini ada larangan mabuk pada waktu sholat sehingga para sahabat mendefinisikan boleh mabuk di luar jam sholat. Sehingga para sahabat minum khamr dijam yang jauh dari waktu sholat.

Kemudian lihat surat al maidah ayat 90-91 dijelaskan :

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan pana, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu)”. 

Turun ayat ini berkenaan ketika para sahabat berpesta khamr sahabat hamzah bin abdul mutholib mabuk dan menyobek pelana kuda sahabat ustman bin affan, dan terjadi pertengkaran karena semua mabuk, kemudian salah satu sahabat melaporkan kepada nabi,  nabi menghampiri sahabat hamzah, ternyata malah dipelototi karena sahabat hamzah sedang mabuk. Berkenaan dengan peristiwa itu maka turunlah ayat ini sehingga hokum khamr menjadi jelas yakni haram dan dilarang oleh Allah SWT.

SEJARAH KHAMR PADA MASA NABI NUH


Dikisahkan ketika banjir bandang di permukaan bumi telah surut dan membersihkan orang orang yang membangkang, Nabi Nuh dan para pengikutnya turun dari kapal untuk melanjutkan kehidupan di bumi seperti sebelum banjir terjadi.. Hewan-hewan dilepaskan agar hidup dan menyebar di habitatnya masing-masing. Nabi Nuh beserta kaumnya yang selamat juga mulai menebarkan bibit-bibit tanaman.

Dan pohon pertama kali yang ditanam adalah pohon jati. Kemudian Nabi Nuh As. hendak menanam pohon anggur, namun beliau tidak menemukan pohon itu. Maka Nabi Nuh bertanya kepada putranya, Sam: “Wahai putraku, apakah kamu mengambil pohon anggur?”
Sam menjawab: “Saya tidak tahu, Ayah.”

Akhirnya turunlah Malaikat Jibril As. memberitahukan: “Wahai Nuh, sesungguhnya pohon anggur itu telah dicuri iblis.”
 Lalu Nabi Nuh As. berkata kepada iblis: “Kembalikanlah kepadaku pohon anggur yang telah kau curi itu.”
 Iblis menjawab: “Aku tidak akan mengembalikan pohon anggur itu sehingga kau mau membaginya denganku.”
 Nabi Nuh As. berkata: "baiklah, nanti kamu mendapat 1/3 bagian"

Mendengar keputusan Nabi Nuh tersebut, iblis pun menolak. Kemudian Nabi Nuh As. menaikkan tawaran menjadi 2/3, maka setujulah iblis.

Syaikh Kamaluddin ad-Damiri dalam kitabnya Hayat al-Hayawan mengatakan: “Ketika iblis pertama kali menanam pohon anggur, ia menyembelih burung merak dan menyiramkan darahnya pada pohon anggur itu sampai terseraplah darah itu ke dalamnya.

Setelah daunnya tumbuh maka iblis menyembelih monyet dan menyiramkan darahnya ke pohon anggur itu. Dan ketika berbuah muda maka iblis menyembelih harimau dan menyiramkan darahnya ke pohon anggur itu. Ketika buahnya sudah besar-besar maka iblis menyembelih babi dan menyiramkan darahnya ke pohon anggur itu. Maka dari itu siapapun yang meminum khamr maka tidak akan terlepas dari 4 sifat hewan itu."

Iblis adalah makhluk pertama yang memeras anggur menjadi arak untuk menggoda manusia agar mabuk dan Iblis pula yang pertama kali membuat alat-alat musik untuk menandingi suara merdu Nabi Daud.

Wallohua'lam Bisshowab

Sejarah Asal usul Khamr, Arak (Minuman Keras) dalam Islam

Allah SWT melarang orang-orang yang beriman berputus asadari rahmat Allah. Misalnya, Allah berfirman:

"Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir (QS. Yusuf ayat 87).

Firman-Nya:

"Katakanlah: Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang" (QS. Az-Zumar ayat 53).


Oleh karenanya putus asa dari rahmat Allah, adalah salah satu dari dosa-dosa besar yang paling besar, sebagiamana dikatakan Ibnu Mas’uud radhiyallaahu ‘anhu:

الكبائر: الإشراك بالله ، والأمن من مكر الله ، والقنوط من رحمة الله ، واليأس من روح الله

“Dosa besar yang paling besar adalah menyekutukan Allah, merasa aman dari makar Allah, putus asa terhadap rahmat Allah, dan putus harapan terhadap kelapangan dari Allah.”
(Hadis hasan sahih; diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir)

A. PUTUS ASA DALAM MASALAH DUNIA


Allah berfirman:

وَإِذَا أَنْعَمْنَا عَلَى الْإِنسَانِ أَعْرَضَ وَنَأَىٰ بِجَانِبِهِ ۖ وَإِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ كَانَ يَئُوسًا

Dan apabila Kami berikan kesenangan kepada manusia niscaya berpalinglah dia; dan membelakang dengan sikap yang sombong; dan apabila dia ditimpa kesusahan niscaya dia berputus asa.
(Al-Israa’: 83)

Allah juga berfirman:

وَإِذَا أَذَقْنَا النَّاسَ رَحْمَةً فَرِحُوا بِهَا وَإِن تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيهِمْ إِذَا هُمْ يَقْنَطُونَ

Dan apabila Kami rasakan sesuatu rahmat kepada manusia, niscaya mereka gembira dengan rahmat itu. Dan apabila mereka ditimpa suatu musibah (bahaya) disebabkan kesalahan yang telah dikerjakan oleh tangan mereka sendiri, tiba-tiba mereka itu berputus asa.
(Ar-Ruum: 36)

Allah juga memfirmankan tentang mereka:

لَّا يَسْأَمُ الْإِنسَانُ مِن دُعَاءِ الْخَيْرِ وَإِن مَّسَّهُ الشَّرُّ فَيَئُوسٌ قَنُوطٌ

Manusia tidak jemu memohon kebaikan, dan jika mereka ditimpa malapetaka dia menjadi putus asa lagi putus harapan.

وَلَئِنْ أَذَقْنَاهُ رَحْمَةً مِّنَّا مِن بَعْدِ ضَرَّاءَ مَسَّتْهُ لَيَقُولَنَّ هَٰذَا لِي وَمَا أَظُنُّ السَّاعَةَ قَائِمَةً وَلَئِن رُّجِعْتُ إِلَىٰ رَبِّي إِنَّ لِي عِندَهُ لَلْحُسْنَىٰ

Dan jika Kami merasakan kepadanya sesuatu rahmat dari Kami sesudah dia ditimpa kesusahan, pastilah dia berkata: “Ini adalah hakku, dan aku tidak yakin bahwa hari Kiamat itu akan datang. Dan jika aku dikembalikan kepada Tuhanku maka sesungguhnya aku akan memperoleh kebaikan pada sisi-Nya”.

فلننبئن الذين كفروا بما عملوا ولنذيقنهم من عذاب غليظ

Maka Kami benar-benar akan memberitakan kepada orang-orang kafir apa yang telah mereka kerjakan dan akan Kami rasakan kepada mereka azab yang keras.
(QS. Fushshilat: 49-50)

Allah juga berfirman:

وَلَئِنْ أَذَقْنَا الْإِنسَانَ مِنَّا رَحْمَةً ثُمَّ نَزَعْنَاهَا مِنْهُ إِنَّهُ لَيَئُوسٌ كَفُورٌ

Dan jika Kami rasakan kepada manusia suatu rahmat (nikmat) dari Kami, kemudian rahmat itu Kami cabut daripadanya, pastilah dia menjadi putus asa (atas apa yang sedang terjadi padanya, az) lagi kufur (ia lupa dan tidak berterima kasih atas rahmat yang dahulu diberikan padanya, az).

وَلَئِنْ أَذَقْنَاهُ نَعْمَاءَ بَعْدَ ضَرَّاءَ مَسَّتْهُ لَيَقُولَنَّ ذَهَبَ السَّيِّئَاتُ عَنِّي ۚ إِنَّهُ لَفَرِحٌ فَخُورٌ

Dan jika Kami rasakan kepadanya kebahagiaan sesudah bencana yang menimpanya, niscaya dia akan berkata: “Telah hilang bencana-bencana itu daripadaku”; sesungguhnya dia sangat gembira lagi bangga…

Firman Allah SWT :

إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَٰئِكَ لَهُم مَّغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ كَبِيرٌ

kecuali orang-orang yang sabar (terhadap bencana), dan mengerjakan amal-amal saleh; mereka itu beroleh ampunan dan pahala yang besar.
(Huud: 9-11)

Allah mengabarkan tentang manusia dan sifat-sifat tercela yang ada dalam diri mereka. Yaitu mereka yang jika bencana setelah mendapatkan nikmat, maka mereka berputus asa untuk mendapatkan kebaikan di masa yang akan datang, dan mereka KUFUR (ingkar) terhadap keadaan yang telah berlalu, seakan-akan mereka tidak pernah melihat kebaikan (sebelumnya) dan setelah itu mereka tidak mengharap untuk memperoleh keberuntungan…

Ketika Allah menguji mereka dengan cobaan, sehingga seakan-akan sebelumnya mereka LUPA atas nikmat yang telah Allah berikan kepada mereka, mereka pun putus asa, dan KUFUR terhadap apa yang telah Allah berikan kepada mereka.

Hal ini seperti yang dikatakan dalam hadits:

وَرَأَيْتُ النَّارَ فَلَمْ أَرَ كَالْيَوْمِ مَنْظَرًا قَطُّ وَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا النِّسَاءَ

“…Dan aku melihat neraka. Aku belum pernah sama sekali melihat pemandangan seperti hari ini. Dan aku lihat ternyata mayoritas penghuninya adalah para wanita.”

Mereka bertanya, “Kenapa para wanita menjadi mayoritas penghuni neraka, ya Rasulullah?”

Beliau menjawab,

بِكُفْرِهِنَّ

“Disebabkan kekufuran mereka.”

Ada yang bertanya kepada beliau, “Apakah para wanita itu kufur kepada Allah?”

Beliau menjawab,

يَكْفُرْنَ الْعَشِيْرَ وَيَكْفُرْنَ اْلإِحْسَانَ، لَوْ أَََحْسَنْتَ إِلىَ إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ، ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شَيْئًا قَالَتْ: مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ

“(Tidak, melainkan) mereka kufur kepada suami dan mengkufuri kebaikan (suami). Seandainya engkau berbuat baik kepada salah seorang istri kalian pada suatu waktu, kemudian suatu saat ia melihat darimu ada sesuatu (yang tidak berkenan di hatinya) niscaya ia akan berkata, ‘Aku sama sekali belum pernah melihat kebaikan darimu’.”
(HR. al-Bukhari dan Muslim)

Bahkan inilah sikap orang-orang munaafiq, sebagaimana Allah berfirman tentang mereka:

وَمِنَ النَّاسِ مَن يَعْبُدُ اللَّهَ عَلَىٰ حَرْفٍ

Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi…

فَإِنْ أَصَابَهُ خَيْرٌ اطْمَأَنَّ بِهِ

maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu

وَإِنْ أَصَابَتْهُ فِتْنَةٌ انقَلَبَ عَلَىٰ وَجْهِهِ

dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang.

خَسِرَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةَ ذَٰلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ

"Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata"
(Al-Hajj: 11)

Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

تَعِسَ عَبْدُ الدِّينَارِ تَعِسَ عَبْدُ الدِّرْهَمِ تَعِسَ عَبْدُ الْخَمِيصَةِ تَعِسَ عَبْدُ الْخَمِيْلَةِ

“Celakalah hamba dinar (uang emas), celakalah hamba dirham (uang perak), celakalah hamba khamishah (pakaian yang cantik) dan celakalah hamba khamilah (ranjang yang empuk).”

إِنْ أُعْطِيَ رَضِيَ وَإِنْ لَمْ يُعْطَ سَخِطَ تَعِسَ وَانْتَكَسَ وَإِذَا شِيكَ فَلَا انْتَقَشَ

Jika diberi, dia senang, tetapi jika tidak diberi, dia marah. Celakalah dia dan tersungkurlah. Apabila terkena duri, semoga tidak dapat mencabutnya.
(HR Bukhaariy)

Sebagaimana firman Allah Ta’ala

وَمِنْهُم مَّن يَلْمِزُكَ فِي الصَّدَقَاتِ فَإِنْ أُعْطُوا مِنْهَا رَضُوا وَإِن لَّمْ يُعْطَوْا مِنْهَا إِذَا هُمْ يَسْخَطُونَ

“Dan di antara mereka ada orang yang mencelamu tentang (pembagian) zakat, jika mereka diberi sebagian darinya, mereka bersenang hati, dan jika mereka tidak diberi sebagian darinya, dengan serta merta mereka menjadi marah”
[At-Taubah:58].

Janganlah kesempitan harta atau banyaknya masalah dunia, menjadikan kita putus asa terhadap rahmatNya

Allah berfirman perkataan Nabi Ya’qub:

يَا بَنِيَّ اذْهَبُوا فَتَحَسَّسُوا مِن يُوسُفَ وَأَخِيهِ وَلَا تَيْأَسُوا مِن رَّوْحِ اللَّهِ إِنَّهُ لَا يَيْأَسُ مِن رَّوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ

Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya; dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir

(Yusuf: 87)

Lihat perkara diatas adalah perkara duniawi, akan tetapi Nabi Ya’qub mewasiatkan anak-anaknya ketika berusaha (berikhtiar) mencari solusi problem duniawi untuk tidak berputus asa terhadap rahmatNya.

Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,

الْمُؤْمِنُ الْقَوِىُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِى كُلٍّ خَيْرٌ

“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah. Namun, keduanya tetap memiliki kebaikan.

احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ

Bersemangatlah atas hal-hal yang bermanfaat bagimu. Minta tolonglah pada Allah, jangan engkau lemah.

وَإِنْ أَصَابَكَ شَىْءٌ فَلاَ تَقُلْ لَوْ أَنِّى فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا. وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ

Jika engkau tertimpa suatu musibah, maka janganlah engkau katakan: ‘Seandainya aku lakukan demikian dan demikian.’ Akan tetapi hendaklah kau katakan: ‘Qadarullaah wa maasyaa’a fa’al [Ini sudah jadi takdir Allah. Setiap apa yang telah Dia kehendakiNya pasti terjadi].’ Sesungguhnya perkataan (seandainya) dapat membuka pintu syaithon.”
[HR. Muslim)

Pelajarilah pula bagaimana beliau menghadapi banyaknya masalah dunia yang menimpa beliau:

فَصَبْرٌ جَمِيلٌ . وَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ عَلَىٰ مَا تَصِفُونَ

Maka kesabaran yang baik (itulah kesabaranku) [ditafsirkan para ulamaa’: yaitu kesabaran yang tidak diiringi keluh kesah kepada manusia]; Dan Allah sajalah yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan.

قَالَ إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ

Ya’qub berkata: “Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku…”
(Yusuf 18 dan 86)

Kebanyakan kita melihat kaum muslimin begitu cepatnya berputus asa, ketika Allah menguji mereka akan perkara dunia mereka. Hati mereka begitu sempit, dan mereka lupa akan luasnya rahmat Allah.

firmanNya:

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh).” (Hud: 6)

Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ

“Allah telah mencatat takdir setiap makhluk sebelum 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi.”
(HR. Muslim)

Apa yang Allah takdirkan ini tak ada yang bisa mengelaknya. Dalam sebuah hadits disebutkan,

وَتَعْلَمَ أَنَّ مَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ وَأَنَّ مَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيبَكَ

“Engkau harus tahu bahwa sesuatu yang ditakdirkan akan menimpamu, tidak mungkin luput darimu dan sesuatu yang ditakdirkan luput darimu, tidak mungkin menimpamu.”
(HR. Abu Daawud, shahih)

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,

“Landasan setiap kebaikan adalah jika engkau tahu bahwa setiap yang Allah kehendaki pasti terjadi dan setiap yang tidak Allah kehendaki tidak akan terjadi.”
(Al Fawaid, hal. 94)

Jadi, meskipun engkau berusaha sekuat tenaga pun, mendatangi dukun, atau melakuakn segala perkara haram, maka tidaklah apa yang akan engkau dapatkan kecuali apa yang sudah Allah takdirkan bagimu!

Rasuulullaah bersabda:

إِنَّ رُوحَ القُدُسِ نَفَثَ فيِ رَوْعِي أَنَّ نَفْسًا لَنْ تَمُوتَ حَتَّى تَسْتَكْمِلَ أَجَلَهَا وَتَسْتَوْعِبَ رِزْقَهَا

“Sesungguhnya Ruhul Qudus (Jibril) telah meniupkan wahyu ke dalam hatiku, bahwa suatu jiwa tidak akan mati sehingga dia menyempurnakan ajalnya dan mengambil seluruh rezekinya.

فَاتَّقُوا اللهَ وَأَجْمِلُوا فيِ الطَّلَبِ وَلاَ يَحْمِلَنَّ أَحَدَكُمْ اِسْتِبْطَاءُ الرِّزْقِ أَنْ يَطْلُبَهُ بِمَعْصِيَةِ اللهِ فَإِنَّ اللهَ تَعَالىَ لاَ يُنَالُ مَا عِنْدَهُ إِلاَّ بِطَاعَتِهِ

Maka bertakwalah kepada Allah, dan carilah rezeki dengan baik. Dan jangan sampai anggapanmu akan lambatnya rezeki mendorongmu untuk mencarinya dengan maksiat kepada Allah. Karena sesungguhnya apa yang di sisi Allah tidak akan bisa diraih kecuali dengan menaati-Nya.”
(Riwayat Abu Nu’aim dalam al-Hilyah, Lihat Shahihul Jami’ no. 2085)

Bahkan Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

من كانت الآخرة همه جعل الله غناه في قلبه وجمع له شمله وأتته الدنيا وهي راغمة

Barangsiapa yang impiannya adalah akhirat maka Allah akan menjadikan kekayaan dalam hatinya, dan Allah akan memudahkan urusannya, dan kenikmatan dunia akan datang kepadanya dalam keadaan tunduk.

ومن كانت الدنيا همه جعل الله فقره بين عيينه وفرق عليه شمله ولم يأته من الدنيا إلا ما قدر له

Dan barangsiapa yang impiannya hanyalah dunia maka Allah akan menjadikan kefakiran di depan kedua matanya, dan Allah akan mempersulit urusannya, dan ia tidak akan mendapatkan kenikmatan dunia kecuali apa yang sudah ditakdirkan untuknya.
(at Tirmidziy dengan sanad yang Sahih)

Janganlah dengan diujiNya kita dengan penyakit yang berkepanjangan menjadikan kita putus asa terhadap rahmatNya

Demikian pula, contoh lainnya: seperti jika ditimpa penyakit yang berkepanjangan. Maka kita tidak boleh berputus asa dari rahmatNya! Apalagi sampai membunuh diri kita atau orang lain, karena tidak sabar menahan derita. Padahal Allah menjanjikan pahala yang besar kepada kita, apabila kita bersabar dalam menghadapi musibah tersebut, ikhlash karenaNya.

Lihatlah kesabaran nabi ayyub ketika beliau ditimpa penyakit yang berkepanjangan:

وَاذْكُرْ عَبْدَنَا أَيُّوبَ إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الشَّيْطَانُ بِنُصْبٍ وَعَذَابٍ

Dan ingatlah akan hamba Kami Ayyub ketika ia menyeru Rabb-nya: “Sesungguhnya aku diganggu syaitan dengan kepayahan dan siksaan”.
(Shaad: 41)

Dan lihatlah bagaimana keyakinan al-Khaliil ibrahim ‘alayhis salaam, yang disebutkan dalam firmanNya:

وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ

"dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku"
(Ash-Shu’araa: 80)

dari Abu Sa’id Al Khudri dia berkata, “Aku pernah menjenguk Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ketika beliau sedang sakit panas, aku meletakkan tanganku dan aku mendapati panasnya terasa hingga di atas selimut. Aku lalu berkata, “Wahai Rasulullah, alangkah panasnya sakit yang menimpa dirimu.”

Beliau bersabda:

إِنَّا كَذَلِكَ يُضَعَّفُ لَنَا الْبَلَاءُ وَيُضَعَّفُ لَنَا الْأَجْرُ

“Sesungguhnya begitulah kita, ketika dilipat gandakan cobaan bagi kita maka akan dilipat gandakan pula pahalanya.”

Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling keras cobaannya?”

beliau menjawab:

الْأَنْبِيَاءُ

“Para nabi.”

Aku bertanya lagi, “Wahai Rasulullah, kemudian siapa?”

Beliau menjawab:

ثُمَّ الصَّالِحُونَ إِنْ كَانَ أَحَدُهُمْ لَيُبْتَلَى بِالْفَقْرِ حَتَّى مَا يَجِدُ أَحَدُهُمْ إِلَّا الْعَبَاءَةَ يُحَوِّيهَا وَإِنْ كَانَ أَحَدُهُمْ لَيَفْرَحُ بِالْبَلَاءِ كَمَا يَفْرَحُ أَحَدُكُمْ بِالرَّخَاءِ

“Kemudian orang-orang shalih, salah seorang di antara mereka yang dicoba dengan kefakiran sehingga tidak menemukan kecuali mantel untuk dia pakai, dan ada salah seorang dari mereka yang senang dengan cobaan sebagaimana salah seorang dari kalian senang dengan kemewahan.”
(Shahiih; HR Ibnu Maajah, al Haakim, dan selainnya)

dari Abu Hurairah, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa beliau bersama Abu Hurairah pernah mengunjungi orang sakit karena demam, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadanya;

أَبْشِرْ إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ نَارِي أُسَلِّطُهَا عَلَى عَبْدِي الْمُؤْمِنِ فِي الدُّنْيَا لِتَكُونَ حَظَّهُ مِنْ النَّارِ فِي الْآخِرَةِ

“Berilah kabar gembira kepadanya bahwasanya Allah ‘azza wa jalla berfirman; “Api neraka-Ku Aku timpakan kepada hamba-Ku yang beriman di dunia sehingga bisa mengurangi bagiannya di akhirat.”

(Shahiih, dishahiihkan syaikh al Albaaniy dalam shahiihul jaami’ dan ash shahiihah)

Beliau juga bersabda:

اَبْشِرِىْ يَا أُمِّ العَلاَءِ، فَإِنِّ مَرَضَ المُسْلِمِ يُذْ هِِبُ اللَّهُ بِهِ خَطَايَاهُ كَمَا تُذْ هِبُ النَّارُ خَببَثَ الذَّهَبِ وَالفِضَّةِ

‘Gembirakanlah wahai Ummu Al-‘Ala`. Sesungguhnya sakitnya orang Muslim itu membuat Allah menghilangkan kesalahan-kesalahan, sebagaimana api yang menghilangkan kotoran emas dan perak”
(Shahiih; HR Abu Dawud)

Beliau juga bersabda:

مَا مِنْ مُصِيْبَةٍ تُصِيْبُ الْمُسْلِمَ إِلاَّّ كَفَّرَ اللهُ بِهَا عَنْهُ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا

“Tidaklah suatu musibah menimpa seorang muslim kecuali Allah akan hapuskan (dosanya) karena musibahnya tersebut, sampai pun duri yang menusuknya.”
(HR. Al-Bukhariy dan Muslim dari ‘Aa-isyah)

Beliau juga bersabda:

مَا يُصِيْبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حُزْنٍ وَلاَ أَذًى وَلاَ غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلاَ كَفَّرَ اللهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

“Tidaklah seorang muslim ditimpa keletihan/kelelahan, sakit, sedih, duka, gangguan ataupun gundah gulana sampai pun duri yang menusuknya kecuali Allah akan hapuskan dengannya kesalahan-kesalahannya.”
(HR. Al-Bukhariy; dari Abu Sa’id Al-Khudriy dan Abu Hurairah)

Tidakkah kita bergembira dengan hal ini? Tapi ingat, kita harus bertawakkal kepada Allah, yakni kita tidak mengharapkan sakit atau menyengajakan sakit (bahkan hal ini adalah bentuk kufur dari nikmat sehat yang sudah diberikanNya)! Tapi yang dimaksudkan adlaah ketika kita ditimpa sakit, hendaknya kita bersabar karena Allah, agar sekiranya cobaan tersebut dapat bernilai menjadi pahala; bahkan jika kita MARAH dari hal tersbeut (baik itu kemarahan hati, apalagi sampai diucapkan), maka akan mendapatkan kemarahan dari Allah pula!

إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلاَءِ وَإِنَّ اللهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السُّخْطُ

“Sesungguhnya besarnya balasan tergantung besarnya ujian, dan sesungguhnya Allah Ta’ala apabila mencintai suatu kaum maka Allah akan menguji mereka (dengan suatu musibah), maka barangsiapa yang ridha maka baginya keridhaan (dari Allah) dan barangsiapa yang marah maka baginya kemarahan (Allah).”
(HR. At-Tirmidziy, lihat Silsilah Ash-Shahiihah)

Setelah kita tahu akan hal ini, maka janganlah kita berputus asa ketika ditimpa sakit atau bencana.. Apalagi kita mencari solusi yang sebenarnya polusi, seperti mendatangi dukun (untuk menyembuhkan penyakit), atau melakukan ritual-ritual kufur atau syirik lain!

B. BERPUTUS ASA APABILA JATUH KEDALAM MAKSIAT


Berkata salafush shalih:

“Sesungguhnya bersabar dalam kebenaran itu berat, namun indah akibatnya.
Dan jatuh kedalam kebathilan/kemungkaran itu ringan, namun buruk akibatnya.
Ketahuilah (bersabar dalam) meninggalkan dosa itu lebih ringan daripada berusaha bertaubat.
Dan sesungguhnya syaithan sangat pandai menipu manusia…

Ketika manusia sibuk dalam ketaatan, maka ia menipunya dengan berkata: “sesungguhnya engkau banyak beramal, dosa-dosamu telah diampuni”, hingga orang tersebut tertipu[2. Baca: Janganlah tertipu dengan amalmu], kemudian ia meremehkan dosa[3. Baca: Larangan merasa aman dari adzab Allah], kemudian ia mengamalkan dosa-dosa[4.

Ketika manusia tersebut jatuh kedalam dosa, maka ia berkata: “sesungguhnya dosa-dosamu sangat banyak dan sangat membinasakan, tiada harapan bagimu!” dan orang tersebut pun putus harapan.. mengira mustahil bagi dirinya mendapatkan ampunan Allah.. hingga akhirnya ia tidak bertaubat, bahkan terus berada dalam jurang kebinasaan..

Maka hendaknya mereka yang berada dalam ketaatan, tidak tertipu dengan ketaatannya, dan tidak meremehkan dosa, ketahuilah Allah Maha Keras AdzabNya! jika engkau memberanikan diri, maka engkau tidak tahu masa depanmu.. apakah engkau jamin engkau tetap hidup ketika sedang bermaksiat? apakah engkau jamin engkau tetap hidup setelah engkau jatuh ke dalamnya (sehingga engkau memiliki kesempatan untuk bertaubat)?

Dan hendaknya mereka yang jatuh kedalam maksiat, segera bertaubat kepada Allah, karena Allah Maha Pengampun lagi Maha Penerima taubat.. tidak ada yang mustahil bagi Allah, bahkan dosa kufur dan syirik pun akan diampunkanNya jika engkau jujur/benar dalam taubatmu…

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُون

“ Setiap anak Adam pasti berbuat salah dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah yang bertaubat.”
(Shahih Jami’us Shaghir 4391)

Firman Allah:

أَفَلَا يَتُوبُونَ إِلَى اللَّهِ وَيَسْتَغْفِرُونَهُ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Maka mengapa mereka tidak bertaubat kepada Allah dan memohon ampun kepada-Nya? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
(Al Maa-idah: 74)

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu menafsirkan ayat ini:

“Allah menyeru kepada orang yang mengklaim bahwa al-Masih (Nabi Isa) adalah Allah, orang yang mengklaim bahwa al-Masih adalah anak Allah, orang yang mengklaim bahwa Uzair adalah anak Allah, orang yang mengklaim bahwa Allah itu fakir, orang yang mengklaim bahwa Tangan Allah terbelenggu, dan orang yang mengklaim bahwa Allah adalah ketiga unsur dalam trinitas; agar (memohon ampun dan bertaubat) kepadaNya”
(Tafsir Ibnu Katsir)

Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah menafsirkan ayat di atas sebagai berikut:

“Maksud ayat dari surat az-Zumar tersebut adalah larangan berputus asa dari rahmat Allah, meski dosa-dosa yang dilakukannya besar. Tidak diperbolehkan bagi siapapun untuk berputus asa dari rahmat Allah”

Bahkan untuk dosa syirik/kufur/nifaq sekalipun, karena Allåh berfirman:

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(QS. Az Zumar: 53).

Ketika menjelaskan surat Az Zumar ayat 53 di atas, Ibnu Abbas mengatakan,

“Barangsiapa yang membuat seorang hamba berputus asa dari taubat setelah turunnya ayat ini, maka ia berarti telah menentang Kitabullah ‘azza wa jalla. Akan tetapi seorang hamba tidak mampu untuk bertaubat sampai Allah memberi taufik padanya untuk bertaubat.”
(Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 12/141)

Ibnu al-Qayyim –rahimahullâh– berkata:

“Jika Allah menginginkan kebaikan pada hamba-Nya, maka Dia akan membukakan baginya pintu-pintu taubat, penyesalan, rasa bersalah, hina, membutuhkan, meminta pertolongan kepada-Nya, keinginan kembali kepada-Nya, rendah diri, berdoa, dan mendekatkan diri kepada-Nya dengan melakukan amal kebaikan. Dosa itu tidak menjadi sebab turun rahmat-Nya, hingga musuh Allah berkata: ‘Andai aku meninggalkannya dan tidak melakukannya’…”

Maka ketika diri kita terjatuh kedalam maksiat; maka janganlah berputus asa terhadap rahmat Allah.. bertaubatlah kepadaNya dengan benar.. karena Allah pasti mengampuni orang-orang yang bertaubat (namun apakah taubat kita sudah kita lakukan dengan benar?!).. diantara orang yang putus asa terhadap rahmatNya adalah ia merasa bahwa dosa-dosa (yang sangat banyak, dan sangat besar) “sepertinya” sulit baginya untuk mendapatkan pengampunan Allah.. ini keliru, padahal Allah Maha Pengampun lagi Penerima Taubatnya orang-orang bertaubat..

Demikian pula, terhadap orang lain, yang jatuh kepada maksiat; janganlah menjadikannya putus asa dari rahmat Allah (meskipun kita pun mengingatkannya dari adzabNya).. kita pun ingatkan dirinya (sebagaimana kita mengingatkan diri kita sendiri) tentang hari akhir, dsb.. yang semoga dengan hal itu, ia meninggalkan perbuatan jeleknya, dan bertaubat kepadaNya..

Janganlah kita sampai putus asa dari rahmat Allah kepadanya, dengan berkata: “segala usaha sudah aku kerahkan.. kayanya ia tidak mungkin untuk bertaubat”.. ini adalah keputus-asaan.. jika benar bahwa kita mencintainya, maka kita akan berusaha dengan keras agar ia dapat bertaubat, tidak gampang menyerah.. ini membuktikan keputus-asaan kita akan rahmat Allah terhadap dirinya..

Jangan pula kita sampai berkata, “temanku (–yang masih muslim–) ini kayanya ahli neraka dan Allah tidak akan mengampuninya”.. ini perkataan yang berbahaya.. Darimana kita tahu bahwa dia ahli neraka? darimana kita tahu bahwa Allah tidak mengampuninya? apakah kita mendapatkan wahyu dari allah yang mengabarkan demikian?! benar, perbuatannya tersebut diancam nereka.. benar, bahwa Allah akan mengadzab orang yang berbuat demikian.. tapi apakah hal ini pasti berlaku pada setiap orang? tidak demikian..

– Bisa jadi Allah memberikan hidayah kepadaNya sebelum ia wafat, sehingga ia bertaubat.. dan ia mati dalam keadaan seluruh dosanya allah ampuni.. (inilah yang seharusnya yang senantiasa tertanam dalam diri kita, trhdp saudara kita, sehingga kita terus berusaha mengingatkannya dan menasehatinya dan tidak putus asa)

– kalaupun dia wafat dalam keadaan tidak bertaubat.. bukankah Allah berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَاءُ وَمَن يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَىٰ إِثْمًا عَظِيمًا

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.

(An-Nisaa: 48)

Bukankah secara zhahir, dia mati tanpa membawa dosa kesyirikan?! Bukankah BISA JADI bahwa dia termasuk dalam ayat diatas “bagi siapa yagn dikehendakiNya”?!Maka jangan sampai lisan kita berkata perkataan yang sangat besar dan sangat parah ini..

Ketahuilah, dahulu.. ada dua orang dari bani israil, yang satunya shalih, yang satunya suka maksiat.. si shalih ini senantiasa menasehati si tukang maksiat.. teruus demikian, tapi ia tidak melihat adanya perubahan dari temannya ini, dan dengan marah ia berkata: “Demi Allah, Allah tidak akan mengampunimu…” maka ketika di hari kiamat Allah mengumpulkan mereka berdua, dan berfirman:

مَنْ ذَا الَّذِى يَتَأَلَّى عَلَىَّ أَنْ لاَ أَغْفِرَ لِفُلاَنٍ فَإِنِّى قَدْ غَفَرْتُ لِفُلاَنٍ وَأَحْبَطْتُ عَمَلَكَ

“Siapakah yang bersumpah atas (nama)Ku agar Aku tidak mengampuni si fulan ? Sesungguhnya Aku telah mengampuninya dan menghapus semua pahala amalmu”
(HR al-Bukhariy)

Maka berhati-hatilah.. jangan sampai banyaknya maksiat yang kita perbuat, juga menjadikan kita putus asa dari rahmatNya.. jangan sampai pula rasa takut kita terhadap adzabNya menjadikan kita PUTUS ASA akan rahmatNya.. jangan sampai pula, rasa harap kita terhadap rahmatNya, menjadikan kita malah merasa aman dari adzabNya.. akan tetapi… takutlah akan adzabNya, dan jangan putus asa dari rahmatNya..

Allah berfirman:

فَإِن كَذَّبُوكَ فَقُل رَّبُّكُمْ ذُو رَحْمَةٍ وَاسِعَةٍ وَلَا يُرَدُّ بَأْسُهُ عَنِ الْقَوْمِ الْمُجْرِمِينَ

Katakanlah: “Rabbmu mempunyai rahmat yang luas; dan siksa-Nya tidak dapat ditolak dari kaum yang berdosa”.
(Al-An’aam: 147)

Menurut AN. Ubaidy, Allah SWT melarang berputus asa, karena manusia bisa mudah tenggelam dalam keputusasaan apabila otaknya hanya digunakan untuk melihat kehidupan dari hal-hal yang nyata saja (materi dengan berbagai simbolnya, duniawi dengan berbagai maknanya).

Seseorang, tegas Ubaidy, juga akan mudah putus asa jika harapannya hanya digantungkan pada kenyataan hari ini, misalnya miskin, serba kurang, tidak punya resource, dan lain-lain. Karena itu, Al-Qur’an menyuruh bahwa hanya kepada Tuhanlah manusia menggantungkan harapan. Maksudnya, urai Ubaedy, yakinilah sunnatullah, yakinilah balasan Allah, jalankan perintah Allah, dan seterusnya. Itulah, kata Ubaedy, makna dari ayat wailaaa rabbika farghab (QS. Alam Nasyrah ayat 8)

Jadi, putus asa itu bukanlah sifat orang beriman. Bahwa semua orang yang terbukti sanggup meraih prestasi di bidangnya dengan serangkaian perjuangan yang dilakukannya, sebetulnya mereka telah beriman meski itu tidak ia katakan.

Wallohua'lam Bisshowab

Dosa Besar Putus Asa yang dilarang Dalam Al-Qur'an dan Hadits

Ketika Nabi Muhammad Shalallaahu alaihi wasalam Isra’ Mi’raj, pada saat itu pula Allah Ta'ala perlihatkan berbagai kejadian kepada beliau yang kelak akan memimpin jaga raya ini. Di antaranya Rasulullah n melihat adanya beberapa orang yang tengah disiksa di Neraka, perut mereka besar bagaikan rumah yang sebelumnya tidak pernah disaksikan Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam.

Kemudian Allah Ta’ala tempatkan orang-orang tersebut di sebuah jalan yang tengah dilalui kaumnya Fir’aun yang mereka adalah golongan paling berat menerima siksa dan adzab Allah di hari Kiamat. Para pengikut Fir’aun ini melintasi orang-orang yang sedang disiksa api dalam Neraka tadi. Melintas bagaikan kumpulan unta yang sangat kehausan, menginjak orang-orang tersebut yang tidak mampu bergerak dan pindah dari tempatnya disebabkan perutnya yang sangat besar seperti rumah.

Akhirnya Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bertanya kepada malaikat Jibril yang menyertainya, “Wahai Jibril, siapakah orang-orang yang diinjak-injak tadi?” Jibril menjawab, “Mereka itulah orang-orang yang makan harta riba.” (lihat Sirah Nabawiyah, Ibnu Hisyam, 2/252).

Dalam syariat Islam, riba diartikan dengan bertambahnya harta pokok tanpa adanya transaksi jual beli sehingga menjadikan hartanya itu bertambah dan berkembang dengan sistem riba. Maka setiap pinjaman yang diganti atau dibayar dengan nilai yang harganya lebih besar, atau dengan barang yang dipinjamkannya itu menjadikan keuntungan seseorang bertambah dan terus mengalir, maka perbuatan ini adalah riba yang jelas-jelas diharamkan oleh Allah Subhannahu wa Ta'ala dan RasulNya Shalallaahu alaihi wasalam, dan telah menjadi ijma’ kaum muslimin atas keharamannya.

Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman:

Allah menghilangkan berkah riba dan menyuburkan shadaqah, dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran dan selalu berbuat dosa”. (QS. Al-Baqarah: 270).

Larangan memakan harta hasil riba juga berlaku bagi orang yang membayar atau memberi riba kepada orang lain, baik secara individu maupun lembaga keuangan seperti bank, bmt, koperasi, pegadaian, dan semisalnya.


Demikian pula setiap orang yang terlibat dalam proses berlangsungnya muamalah ribawi, seperti orang yang mencatat atau menjadi saksinya. Mereka semua di hadapan Allah sama dalam hal hukum dan kedudukan, yaitu sama-sama telah berbuat dosa besar dan terkena laknat (kutukan) dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Hal ini sebagaimana diterangkan di dalam hadits berikut.

عَنْ جَابِرٍ قَالَ : لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- آكِلَ الرِّبَا وَمُوكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ وَقَالَ هُمْ سَوَاءٌ

Dari Jabir radhiyallahu anhu, ia berkata:
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melaknat pemakan riba, pemberi makan riba, dua saksinya dan penulisnya.” Dan Beliau bersabda, “Mereka semua sama (kedudukannya dalam hal dosa, pent).”(Shahih. Diriwayatkan oleh Muslim III/1219 no. 1598).

Arti laknat ialah diusir dan dijauhkan dari rahmat dan kebaikan Allah ta’ala. Maka setelah kita mengetahui sedemikian besar akibat berinteraksi dengan riba, yaitu pelakunya dikutuk oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, maka apakah kita masih merasa tenang dan nyaman dalam menjalani hidup tanpa berhenti dan bertaubat kepada Allah.

Dalam rangka menyelamatkan diri kita dan keluarga kita dari ancaman laknat tersebut, dan demi membersihkan harta benda kita dari hal yang mengotorinya dan menghilangkan keberkahannya.

Bencana yang ditimbulkan oleh riba bagi pelakunya adalah sebagai berikut:

- HARTA TIDAK BERKAH

Allah ta’ala berfirman:

يَمْحَقُ اللَّهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ

Allah memusnahkan Riba dan menyuburkan sedekah.” (QS. Al-Baqarah: 276)

- DI PADANG MAHSYAR SEPERTI ORANG GILA

Allah ta’ala berfirman:

الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لا يَقُومُونَ إِلا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا فَمَنْ جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَى فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ وَمَنْ عَادَ فَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), Maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. orang yang kembali (mengambil riba), Maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Baqarah: 275)

- BERENANG DI SUNGAI DARAH

Diriwayatkan dari Samuroh bin Jundub radhiyallahu anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda menceritakan tentang siksaan Allah kepada para pemakan riba, bahwa

“Ia akan berenang di sungai darah, sedangkan di tepi sungai ada seseorang (malaikat) yang di hadapannya terdapat bebatuan, setiap kali orang yang berenang dalam sungai darah hendak keluar darinya, lelaki yang berada di pinggir sungai tersebut segera melemparkan bebatuan ke dalam mulut orang tersebut, sehingga ia terdorong kembali ke tengah sungai, dan demikian itu seterusnya.”. (HR. Bukhari II/734 nomor 1979).

- TIDAK DITERIMANYA ZAKAT, AMAL DAN SEDEKAH MEREKA

Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّبًا 

Wahai manusia, sesungguhnya Allah itu maha baik dan tidak akan menerima sesuatu kecuali yang baik.” (HR. Muslim II/703 nomor 1015, dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu).

- DO’A PEMAKAN RIBA TIDAK AKAN DIKABULKAN ALLAH

Di dalam hadits yang shohih, Rasullullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menceritakan

ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِىَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ ».

"Bahwa ada seseorang yang melakukan safar (bepergian jauh), kemudian menengadahkan kedua tangannya ke langit seraya berdo’a, “Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku!” Akan tetapi makanan dan minumannya berasal dari yang haram, pakaiannya haram dan dikenyangkan oleh barang yang haram. Maka bagaimana mungkin do’anya akan dikabulkan (oleh Allah)?”. (HR. Muslim II/703 no. 1015).

- MEMAKAN HARTA RIBA MENYEBABKAN HATI MENJADI KERAS DAN BERKARAT

 Allah ta’ala berfirman:

كَلا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Sekali-kali tidak (demikian), Sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.” (QS. Al-Muthaffifin: 14)

Diriwayatkan dari An-Nu’man bin Basyir radhiyallahu anhu, ia berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

 أَلاَ وَإِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ . أَلاَ وَهِىَ الْقَلْبُ 

Ketahuilah di dalam jasad terdapat sepotong daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh badan. Namun jika ia rusak, maka rusaklah seluruh badan. Ketahuilah sepotong daging itu adalah hati.” (HR. Bukhari 1/28 no. 52, dan Muslim III/1219 no.1599)

-  TERBAKAR DENGAN API NERAKA

Hal ini sebagaimana diriwayatkan dari Ka’ab bi ‘Ujroh radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

يَا كَعْبُ بْنَ عُجْرَةَ إِنَّهُ لاَ يَرْبُو لَحْمٌ نَبَتَ مِنْ سُحْتٍ إِلاَّ كَانَتِ النَّارُ أَوْلَى بِهِ

Wahai Ka’ab bin ‘Ujroh, sesungguhnya daging badan yang tumbuh berkembang dari sesuatu yang haram, akan berhak dibakar dalam api neraka.” (HR. At-Tirmidzi II/512 no.614. dan dinyatakan Shohih Lighoirihi oleh syaikh Al-Albani di dalam Shohih At-Targhib wa At-Tarhib II/150 no.1729).

 - DILAKNAT OLEH ALLAH DAN RASUL-NYA.

Hal ini berdasarkan hadits shohih berikut ini:

عَنْ جَابِرٍ قَالَ : لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- آكِلَ الرِّبَا وَمُوكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ وَقَالَ هُمْ سَوَاءٌ

Dari Jabir radhiyallahu anhu, ia berkata: “Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melaknat pemakan riba, pemberi makan riba, dua saksinya dan penulisnya.” Dan Beliau bersabda, “Mereka semua sama (kedudukannya dalam hal dosa). (Diriwayatkan oleh Muslim III/1219 no. 1598).

- MAKAN HARTA RIBA DOSANYA LEBIH BURUK DARI ZINA

Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

دِرْهَمُ رِبًا يَأْكُلُهُ الرَّجُلُ وَهُوَ يَعْلَمُ أَشَدُّ مِنْ سِتَّةِ وَثَلاَثِيْنَ زَنْيَةً

Satu dirham yang dimakan oleh seseorang dari transaksi riba sedangkan dia mengetahui bahwa yang didalamnya adalah hasil riba, dosanya itu lebih besar daripada melakukan perbuatan zina sebanyak 36 kali.” (HR. Ahmad dan Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman. Syaikh Al Albani dalam Misykatul Mashobih mengatakan bahwa hadits ini shahih).

- DOSA TERKECIL MAKAN RIBA SEPERTI DOSA ZINA DENGAN IBU KANDUNGNYA

Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

الرِبَا ثَلاَثَةٌ وَسَبْعُوْنَ بَابًا أيْسَرُهَا مِثْلُ أَنْ يَنْكِحَ الرُّجُلُ أُمَّهُ وَإِنْ أَرْبَى الرِّبَا عِرْضُ الرَّجُلِ الْمُسْلِمِ

Riba itu ada 73 pintu (dosa). Yang paling ringan adalah semisal dosa seseorang yang menzinai ibu kandungnya sendiri.” (HR. Al Hakim dan Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa Hadits ini shahih dilihat dari jalur lainnya).


Wallohua'lam Bisshowab

Demikian Pengertian Tentang makan Harta Riba, dan Akibatnya di dunia dan di Akhirat.

Pengertian Riba dan Akibatnya Memakan Harta Riba dalam Islam

Salah satu golongan hamba Allah yang sangat dimuliakan Allah SWT. adalah anak yatim. Anak yatim adalah salah satu orang yang memiliki kedudukan terbaik disisi Allah dan sebagai orang yang dikasihi oleh Allah SWT, maka oleh dari itu sudah sepantasnya anak yatim bersyukur atas nikmat lain yang dikaruniakan Allah terhadapnya meskipun telah kehilangan orang yang meraka cintai. Karena itu semua adalah ujian Allah SWT.


Anak yatim banyak disebutkan dalam Al-qur’an bahkan dalam hadits-hadits Rasulullah SAW.. termasuk disana menjelaskan tentang azab dan dosa bagi orang yang menganiaya anak yatim. Sebagaimana firman Allah swt dalam Al-qur’an surat Al-ma'un aya 1 dan 2 berikut ini.

أَرَءَيْتَ ٱلَّذِى يُكَذِّبُ بِٱلدِّينِ فَذَٰلِكَ ٱلَّذِى يَدُعُّ ٱلْيَتِيمَ

"Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim" (Q.S. Al-ma’un ayat 1 dan 2)

Salah satu di antara rasa belas kasihan yang dianugerahkan oleh Allah kepada mereka ialah, Allah melarang harta anak yatim dimakan. Siapa saja yang berani memakan harta anak yatim akan mendapat dosa yang amat besar dan di hari kelak kiamat akan mendapat siksaan yang pedih.

Allah telah berfirman sehubungan dengan perihal anak-anak yatim ini :

Dan berikanlah kepada anak-anak yatim (yang sudah baligh) harta mereka, jangan kamu menukar yang baik dengan yang buruk dan jangan kamu makan harta mereka bersama hartamu. Sesungguhnya tindakan-tindakan (menukar dan memakan) itu adalah dosa yang besar”. (Q.S. 4 : 2).

Selain itu Allah-pun mengancam dengan siksaan yang keras kepada orang yang berani memakan harta anak yatim secara dzalim, untuk itu Allah berfirman :

Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka)”. (QS. 4 : 10).

Rasulullah bersabda, memberikan perhatian kepada orang-orang yang berani memakan harta anak yatim :

 اجتنبوا السبع الموبقات وذكر منها : (اكل مال اليتيم) (رواه البخارى و مسلم

Jauhilah oleh kalian tujuh perkara yang merusak”. lalu Rasulullah SAW menyebut salah satu di antara ialah : “Memakan harta anak yatim”( Hadits riwayat Bukhari dan Muslim.).

Pahala menanggung penghidupan anak yatim : Ketika Islam melarang orang-orang memakan harta anak yatim dengan cara zalim, dari segi lain Islam meminta perhatian kepada orang-orang yang dibebani memelihara anak-anak yatim.

Allah berfirman sehubungan dengan hal ini :

Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (QS. 4 : 9).

Ayat di atas menganjurkan kepada orang-orang yang memelihara anak-anak yatim agar takut kepada Allah dalam hal anak-anak yatim. Janganlah mereka berani memakan harta anak-anak yatim dengan cara batil. Peliharalah mereka dengan penuh kasih sayang sebagaimana mereka memelihara anak-anak mereka sendiri.

Dalam Surat An Nisa ayat 10 yang berbunyi sebagai berikut:

إِنَّ ٱلَّذِينَ يَأْكُلُونَ أَمْوَٰلَ ٱلْيَتَٰمَىٰ ظُلْمًا إِنَّمَا يَأْكُلُونَ فِى بُطُونِهِمْ نَارًۭا ۖ وَسَيَصْلَوْنَ سَعِيرًۭا

"Sesungguhnya orang-orang yang makan harta-harta anak yatim dengan cara penganiayaan, maka hanyasanya yang mereka makan dalam perut mereka itu adalah api neraka dan mereka akan masuk dalam neraka Sa'ir." (an-Nisa': 10)

Dari Abu Syuraih, iaitu Khuwailid bin 'Amr al-Khuza'i r.a., katanya: "Nabi s.a.w. bersabda:

"Sesungguhnya saya sangat memberatkan dosa (kesalahan) orang yang menyia-nyiakan haknya dua golongan yang lemah, iaitu anak yatim dan orang perempuan."


Pernah dalam perjalanan isra dan miraj beliau Nabi Muhammad SAW, Allah memperlihatkan siksa bagi orang-orang yang hidup di dunia sesuai amal perbuatannya termasuk didalamnya orang-orang yang  memakan harta anak yatim.

Keadaan mereka sangat mengerikan dengan kedua tangan mereka dibelenggu dan begitu juga dengan kaki-kaki mereka. Diatas punggung mereka diletakkan setrika yang panasnya luar biasa membara. Tentu saja dalam waktu sekejap atau sebentar saja kulit akan rontok dan melepuh. Seketika, kulit kembali udah sebagaimana sedia kala, dan diletakkan kembali setrika yang maha panas tadi diatas punggungnya, begitulah seterusnya terjadi hingga pengulangan kejadian ini berlangsung dalam jangka waktu yang sangat lama. Yaitu sesuai kejahatannya.

Hadis riwayat Abu Hurairah ra.:
Bahwa Nabi saw. bersabda:

"Api kalian yang dinyalakan anak-cucu Adam adalah sepertujuh puluh dari panas api Jahanam. Para sahabat berkata: Demi Allah, bila sepanas ini saja sudah cukup wahai Rasulullah saw. Beliau bersabda: Sesungguhnya panas api tersebut masih tersisa sebanyak enam puluh sembilan bagian, panas masing- masing sama dengan api ini"
Hadis dalam kitab Sahih Muslim

Dan janganlah berbuat sembarangan terhadap harta anak-anak yatim yang diserahkan kepada mereka. Mereka harus menjaganya baik-baik, agar jangan sampai di kala ia mati, akan meninggalkan anak-anak dalam keadaan tak punya apa-apa.

Bukanlah termasuk perbuatan yang zalim apabila seseorang wali anak yatim mengambil harta anak yatim yang ada dalam pemeliharaannya, dengan syarat ia membutuhkannya dan harta yang diambil itu sebagai ganti jerih payah dalam memelihara.

Adapun jika keadaan wali itu serba cukup atau kaya, maka Islam menganjurkannya agar berbuat ‘Iffah (suci/ tidak mau mengambil harta anak yatim). Dan barang atau harta yang diambil oleh wali yang miskin harus dengan perkiraan menurut kebiasaan yang berlaku.

Kemudian Rasulullah SAW memberi semangat kepada orang-orang yang memelihara anak yatim, bahwa mereka akan diberi pahala yang agung di sisi Allah. Untuk itu beliau bersabda :

 انا وكافل اليتيم فى الجنة هكذا واشار باصبعيه السبابة والوسطى وفرج بينهما 

Aku dan orang yang memelihara anak yatim dalam surga seperti ini”, setelah itu beliau memberi isyarat dengan jari telunjuk serta jari tengahnya sambil merenggangkan kedua jari tersebut”.( Hadits riwayat Bukhari )

Beliau juga bersabda di lain kesempatan :

 خير بيت فى المسلمين بيت فيه يتيم محسن اليه, وشر بيت فى المسلمين بيت فيه يتيم يساء اليه (رواه ابن ماجه

Rumah yang paling baik di kalangan kaum muslimin ialah suatu rumah yang di dalamnya ada anak yatim dipelihara dengan baik-baik. Dan rumah yang paling jelek di kalangan muslimin ialah suatu rumah yang di dalamnya ada anak yatim diperlakukan dengan jelek.( Hadits riwayat Ibnu Majah)”

Alangkah luhurnya apa yang dianjurkan oleh Islam, yaitu kita harus berlaku hati-hati jangan sampai memakan harta anak yatim, dan kita dibebani agar menanggung mereka serta memelihara mereka dengan baik-baik seolah-olah kita memelihara anak-anak kita sendiri.

Karena dengan perlakuan yang baik dari kita, mereka akan merasakan penderitaannya akan hilang dan hatinya menjadi terhibur, sehingga mereka bisa tumbuh dengan wajar dan kelak mereka akan bisa menjadi orang-orang yang berguna.

Wallohua'lam Bisshowab


Inilah Pedihnya Azab dan Siksaan Memakan Harta Anak Yatim dalam Islam

Subscribe Our Newsletter