Social Items

Tarumanagara atau Kerajaan Taruma adalah sebuah kerajaan yang pernah berkuasa di wilayah barat pulau Jawa pada abad ke-4 hingga abad ke-7 M.


Taruma merupakan salah satu kerajaan tertua di Nusantara yang meninggalkan catatan sejarah. Dalam catatan sejarah dan peninggalan artefak di sekitar lokasi kerajaan, terlihat bahwa pada saat itu Kerajaan Taruma adalah kerajaan Hindu beraliran Wisnu.

dari catatan sejarah ataupun prasasti yang ada, tidak ada penjelasan atau catatan yang pasti mengenai siapakah yang pertama kalinya mendirikan kerajaan Tarumanagara. Raja yang pernah berkuasa dan sangat terkenal dalam catatan sejarah adalah Purnawarman. Pada tahun 417 ia memerintahkan penggalian Sungai Gomati dan Candrabaga (Kali Bekasi) sepanjang 6112 tombak (sekitar 11 km). Selesai penggalian, sang prabu mengadakan selamatan dengan menyedekahkan 1.000 ekor sapi kepada kaum brahmana.

Bukti keberadaan Kerajaan Taruma diketahui dengan tujuh buah prasasti batu yang ditemukan. Lima di Bogor, satu di Jakarta dan satu di Lebak Banten. Dari prasasti-prasasti ini diketahui bahwa kerajaan dipimpin oleh Rajadirajaguru Jayasingawarman pada tahun 358 M dan dia memerintah sampai tahun 382 M. Makam Rajadirajaguru Jayasingawarman ada di sekitar sungai Gomati (wilayah Bekasi). Kerajaan Tarumanegara ialah kelanjutan dari Kerajaan Salakanagara.

PRASASTI YANG DITEMUKAN

Prasasti Kebon Kopi, dibuat sekitar 400 M (H Kern 1917), ditemukan di perkebunan kopi milik Jonathan Rig, Ciampea, BogorPrasasti Tugu, ditemukan di Kampung Batutumbu, Desa Tugu, Kecamatan Tarumajaya, Kabupaten Bekasi, sekarang disimpan di museum di Jakarta.

Prasasti tersebut isinya menerangkan penggalian Sungai Candrabaga oleh Rajadirajaguru dan penggalian Sungai Gomati sepanjang 6112 tombak atau 12 km oleh Purnawarman pada tahun ke-22 masa pemerintahannya.Penggalian sungai tersebut merupakan gagasan untuk menghindari bencana alam berupa banjir yang sering terjadi pada masa pemerintahan Purnawarman, dan kekeringan yang terjadi pada musim kemarau.

Prasasti Cidanghiyang atau Prasasti Munjul, ditemukan di aliran Sungai Cidanghiyang yang mengalir di Desa Lebak, Kecamatan Munjul, Kabupaten Pandeglang, Banten, berisi pujian kepada Raja Purnawarman.Prasasti Ciaruteun, Ciampea, BogorPrasasti Muara Cianten, Ciampea, BogorPrasasti Jambu, Nanggung, BogorPrasasti Pasir Awi, Citeureup, Bogor

Lahan tempat prasasti itu ditemukan berbentuk bukit rendah berpermukaan datar dan diapit tiga batang sungai: Cisadane, Cianten dan Ciaruteun. Sampai abad ke-19, tempat itu masih dilaporkan dengan nama Pasir Muara. Dahulu termasuk bagian tanah swasta Ciampea. Sekarang termasuk wilayah Kecamatan Cibungbulang.

Kampung Muara tempat prasasti Ciaruteun dan Telapak Gajah ditemukan, dahulu merupakan sebuah "kota pelabuhan sungai" yang bandarnya terletak di tepi pertemuan Cisadane dengan Cianten. Sampai abad ke-19 jalur sungai itu masih digunakan untuk angkutan hasil perkebunan kopi. Sekarang masih digunakan oleh pedagang bambu untuk mengangkut barang dagangannya ke daerah hilir.

Prasasti pada zaman ini menggunakan aksara Sunda kuno, yang pada awalnya merupakan perkembangan dari aksara tipe Pallawa Lanjut, yang mengacu pada model aksara Kamboja dengan beberapa cirinya yang masih melekat. Pada zaman ini, aksara tersebut belum mencapai taraf modifikasi bentuk khasnya sebagaimana yang digunakan naskah-naskah (lontar) abad ke-16.

PRASASTI PASIR MUARA

Di Bogor, prasasti ditemukan di Pasir Muara, di tepi sawah, tidak jauh dari prasasti Telapak Gajah peninggalan Purnawarman. Prasasti itu kini tak berada ditempat asalnya. Dalam prasasti itu dituliskan :

ini sabdakalanda rakryan juru panga-mbat i kawihaji panyca pasagi marsa-n desa barpulihkan haji su-nda

Terjemahan:

Ini tanda ucapan Rakryan Juru Pengambat dalam tahun (Saka) kawihaji (8) panca (5) pasagi (4), pemerintahan begara dikembalikan kepada raja Sunda.

Karena angka tahunnya bercorak "sangkala" yang mengikuti ketentuan "angkanam vamato gatih" (angka dibaca dari kanan), maka prasasti tersebut dibuat dalam tahun 458 Saka atau 536 Masehi.

PRASASTI CIARUTEUN

Prasasti Ciaruteun ditemukan pada aliran Ci Aruteun, seratus meter dari pertemuan sungai tersebut dengan Ci Sadane; namun pada tahun 1981 diangkat dan diletakkan di dalam cungkup. Prasasti ini peninggalan Purnawarman, beraksara Palawa, berbahasa Sanskerta. Isinya adalah puisi empat baris, yang berbunyi:

vikkrantasyavani pateh shrimatah purnavarmmanah tarumanagararendrasya vishnoriva padadvayam

Terjemahan :

Kedua (jejak) telapak kaki yang seperti (telapak kaki) Wisnu ini kepunyaan raja dunia yang gagah berani yang termashur Purnawarman penguasa Tarumanagara.

Selain itu, ada pula gambar sepasang "padatala" (telapak kaki), yang menunjukkan tanda kekuasaan &mdash& fungsinya seperti "tanda tangan" pada zaman sekarang. Kehadiran prasasti Purnawarman di kampung itu menunjukkan bahwa daerah itu termasuk kawasan kekuasaannya. Menurut Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara parwa II, sarga 3, halaman 161, di antara bawahan Tarumanagara pada masa pemerintahan Purnawarman terdapat nama "Rajamandala" (raja daerah) Pasir Muhara.

PRASASTI TELAPAK GAJAH

Dua arca Wishnu dari Cibuaya, Karawang, Jawa Barat. Tarumanagara sekitar abad ke-7 Masehi. Mahkotanya yang berbentuk tabung menyerupai gaya seni Khmer Kamboja.

Prasasti Telapak Gajah bergambar sepasang telapak kaki gajah yang diberi keterangan satu baris berbentuk puisi berbunyi:

jayavi s halasya tarumendrsaya hastinah airavatabhasya vibhatidam padadavayam

Terjemahan:

Kedua jejak telapak kaki adalah jejak kaki gajah yang cemerlang seperti Airawata kepunyaan penguasa Tarumanagara yang jaya dan berkuasa.

Menurut mitologi Hindu, Airawata adalah nama gajah tunggangan Batara Indra dewa perang dan penguawa Guntur. Menurut Pustaka Parawatwan i Bhumi Jawadwipa parwa I, sarga 1, gajah perang Purnawarman diberi nama Airawata seperti nama gajah tunggangan Indra. Bahkan diberitakan juga, bendera Kerajaan Tarumanagara berlukiskan rangkaian bunga teratai di atas kepala gajah. Demikian pula mahkota yang dikenakan Purnawarman berukiran sepasang lebah.

Ukiran bendera dan sepasang lebah itu dengan jelas ditatahkan pada prasasti Ciaruteun yang telah memancing perdebatan mengasyikkan di antara para ahli sejarah mengenai makna dan nilai perlambangannya. Ukiran kepala gajah bermahkota teratai ini oleh para ahli diduga sebagai "huruf ikal" yang masih belum terpecahkan bacaaanya sampai sekarang.

Demikian pula tentang ukiran sepasang tanda di depan telapak kaki ada yang menduganya sebagai lambang labah-labah, matahari kembar atau kombinasi surya-candra (matahari dan bulan). Keterangan pustaka dari Cirebon tentang bendera Taruma dan ukiran sepasang "bhramara" (lebah) sebagai cap pada mahkota Purnawarman dalam segala "kemudaan" nilainya sebagai sumber sejarah harus diakui kecocokannya dengan lukisan yang terdapat pada prasasti Ciaruteun.

PRASASTI JAMBU

Di daerah Bogor, masih ada satu lagi prasasti lainnya yaitu prasasti batu peninggalan Tarumanagara yang terletak di puncak Bukit Koleangkak, Desa Pasir Gintung, Kecamatan Leuwiliang. Pada bukit ini mengalir (sungai) Cikasungka. Prasasti inipun berukiran sepasang telapak kaki dan diberi keterangan berbentuk puisi dua baris:

shriman data kertajnyo narapatir - asamo yah pura tarumayam nama shri purnnavarmma pracurarupucara fedyavikyatavammo tasyedam - padavimbadavyam arnagarotsadane nitya-dksham bhaktanam yangdripanam - bhavati sukhahakaram shalyabhutam ripunam.

Terjemahan :

Yang termashur serta setia kepada tugasnya ialah raja yang tiada taranya bernama Sri Purnawarman yang memerintah Taruma serta baju perisainya tidak dapat ditembus oleh panah musuh-musuhnya; kepunyaannyalah kedua jejak telapak kaki ini, yang selalu berhasil menghancurkan benteng musuh, yang selalu menghadiahkan jamuan kehormatan (kepada mereka yang setia kepadanya), tetapi merupakan duri bagi musuh-musuhnya.

NASKAH WANGSAKERTA

Penjelasan tentang Tarumanagara cukup jelas di Naskah Wangsakerta. Sayangnya, naskah ini mengundang polemik dan banyak pakar sejarah yang meragukan naskah-naskah ini bisa dijadikan rujukan sejarah.

Pada Naskah Wangsakerta dari Cirebon itu, Tarumanegara didirikan oleh Rajadirajaguru Jayasingawarman pada tahun 358, yang kemudian digantikan oleh putranya, Dharmayawarman (382-395). Jayasingawarman dipusarakan di tepi kali Gomati, sedangkan putranya di tepi kali Candrabaga.

Maharaja Purnawarman adalah raja Tarumanagara yang ketiga (395-434 M). Ia membangun ibukota kerajaan baru pada tahun 397 yang terletak lebih dekat ke pantai. Dinamainya kota itu Sundapura—pertama kalinya nama "Sunda" digunakan.

Prasasti Pasir Muara yang menyebutkan peristiwa pengembalian pemerintahan kepada Raja Sunda itu dibuat tahun 536 M. Dalam tahun tersebut yang menjadi penguasa Tarumanagara adalah Suryawarman (535 - 561 M) Raja Tarumanagara ke-7. Pustaka Jawadwipa, parwa I, sarga 1 (halaman 80 dan 81) memberikan keterangan bahwa dalam masa pemerintahan Candrawarman (515-535 M), ayah Suryawarman, banyak penguasa daerah yang menerima kembali kekuasaan pemerintahan atas daerahnya sebagai hadiah atas kesetiaannya terhadap Tarumanagara. Ditinjau dari segi ini, maka Suryawarman melakukan hal yang sama sebagai lanjutan politik ayahnya.

Rakeyan Juru Pengambat yang tersurat dalam prasasti Pasir Muara mungkin sekali seorang pejabat tinggi Tarumanagara yang sebelumnya menjadi wakil raja sebagai pimpinan pemerintahan di daerah tersebut. Yang belum jelas adalah mengapa prasasti mengenai pengembalian pemerintahan kepada Raja Sunda itu terdapat di sana? Apakah daerah itu merupakan pusat Kerajaan Sunda atau hanya sebuah tempat penting yang termasuk kawasan Kerajaan Sunda?

Baik sumber-sumber prasasti maupun sumber-sumber Cirebon memberikan keterangan bahwa Purnawarman berhasil menundukkan musuh-musuhnya. Prasasti Munjul di Pandeglang menunjukkan bahwa wilayah kekuasaannya mencakup pula pantai Selat Sunda. Pustaka Nusantara, parwa II sarga 3 (halaman 159 - 162) menyebutkan bahwa di bawah kekuasaan Purnawarman terdapat 48 raja daerah yang membentang dari Salakanagara atau Rajatapura (di daerah Teluk Lada Pandeglang) sampai ke Purwalingga (sekarang Purbolinggo) di Jawa Tengah. Secara tradisional Cipamali (Kali Brebes) memang dianggap batas kekuasaan raja-raja penguasa Jawa Barat pada masa silam.

Kehadiran Prasasti Purnawarman di Pasir Muara, yang memberitakan Raja Sunda dalam tahun 536 M, merupakan gejala bahwa Ibukota Sundapura telah berubah status menjadi sebuah kerajaan daerah. Hal ini berarti, pusat pemerintahan Tarumanagara telah bergeser ke tempat lain. Contoh serupa dapat dilihat dari kedudukaan Rajatapura atau Salakanagara (kota Perak), yang disebut Argyre oleh Ptolemeus dalam tahun 150 M. Kota ini sampai tahun 362 menjadi pusat pemerintahan Raja-raja Dewawarman (dari Dewawarman I - VIII).

Ketika pusat pemerintahan beralih dari Rajatapura ke Tarumangara, maka Salakanagara berubah status menjadi kerajaan daerah. Jayasingawarman pendiri Tarumanagara adalah menantu Raja Dewawarman VIII. Ia sendiri seorang Maharesi dari Salankayana di India yang mengungsi ke Nusantara karena daerahnya diserang dan ditaklukkan Maharaja Samudragupta dari Kerajaan Magada.

Suryawarman tidak hanya melanjutkan kebijakan politik ayahnya yang memberikan kepercayaan lebih banyak kepada raja daerah untuk mengurus pemerintahan sendiri, melainkan juga mengalihkan perhatiannya ke daerah bagian timur. Dalam tahun 526 M, misalnya, Manikmaya, menantu Suryawarman, mendirikan kerajaan baru di Kendan, daerah Nagreg antara Bandung dan Limbangan, Garut. Putera tokoh Manikmaya ini tinggal bersama kakeknya di ibukota Tarumangara dan kemudian menjadi Panglima Angkatan Perang Tarumanagara. Perkembangan daerah timur menjadi lebih berkembang ketika cicit Manikmaya mendirikan Kerajaan Galuh dalam tahun 612 M.

Tarumanagara sendiri hanya mengalami masa pemerintahan 12 orang raja. Pada tahun 669, Linggawarman, raja Tarumanagara terakhir, digantikan menantunya, Tarusbawa. Linggawarman sendiri mempunyai dua orang puteri, yang sulung bernama Manasih menjadi istri Tarusbawa dari Sunda dan yang kedua bernama Sobakancana menjadi isteri Dapuntahyang Sri Jayanasa pendiri Kerajaan Sriwijaya. Secara otomatis, tahta kekuasaan Tarumanagara jatuh kepada menantunya dari putri sulungnya, yaitu Tarusbawa.

Kekuasaan Tarumanagara berakhir dengan beralihnya tahta kepada Tarusbawa, karena Tarusbawa pribadi lebih menginginkan untuk kembali ke kerajaannya sendiri, yaitu Sundayang sebelumnya berada dalam kekuasaan Tarumanagara. Atas pengalihan kekuasaan ke Sunda ini, hanya Galuh yang tidak sepakat dan memutuskan untuk berpisah dari Sunda yang mewarisi wilayah Tarumanagara.

Sejarah Asal Usul Berdirinya Kerajaan Tarumanagara

Banda Aceh adalah salah satu kota yang berada di Aceh dan menjadi ibukota Provinsi Aceh, Indonesia. Sebagai pusat pemerintahan, Banda Aceh menjadi pusat kegiatan ekonomi, politik, sosial dan budaya. Kota Banda Aceh juga merupakan kota Islam yang paling tua di Asia Tenggara, di mana Kota Banda Aceh merupakan ibu kota dari Kesultanan Aceh.

Sejarah Banda Aceh


Banda Aceh sebagai ibu kota Kesultanan Aceh Darussalam berdiri pada abad ke-14. Kesultanan Aceh Darussalam dibangun di atas puing-puing kerajaan-kerajaan Hindu dan Budha yang pernah ada sebelumnya, seperti Kerajaan Indra Purba, Kerajaan Indra Purwa, Kerajaan Indra Patra, dan Kerajaan Indrapura (Indrapuri). Dari batu nisan Sultan Firman Syah, salah seorang sultan yang pernah memerintah Kesultanan Aceh, didapat keterangan bahwa Kesultanan Aceh beribukota di Kutaraja (Banda Aceh). (H. Mohammad Said a, 1981:157).

Kemunculan Kesultanan Aceh Darussalam yang beribukota di Banda Aceh tidak lepas dari eksistensi Kerajaan Islam Lamuri. Pada akhir abad ke-15, dengan terjalinnya suatu hubungan baik dengan kerajaan tetangganya, maka pusat singgasana Kerajaan Lamuridipindahkan ke Meukuta Alam. Lokasi istana Meukuta Alam berada di wilayah Banda Aceh.

Sultan Ali Mughayat Syah memerintah Kesultanan Aceh Darussalam yang beribukota di Banda Aceh, hanya selama 10 tahun. Menurut prasasti yang ditemukan dari batu nisan Sultan Ali Mughayat Syah, pemimpin pertama Kesultanan Aceh Darussalam ini meninggal dunia pada 12 Dzulhijah Tahun 936 Hijriah atau bertepatan dengan tanggal 7 Agustus 1530 Masehi.

Kendati masa pemerintahan Sultan Mughayat Syah relatif singkat, namun ia berhasil membangun Banda Aceh sebagai pusat peradaban Islam di Asia Tenggara. Pada masa ini, Banda Aceh telah berevolusi menjadi salah satu kota pusat pertahanan yang ikut mengamankan jalur perdagangan maritim dan lalu lintas jemaah haji dari perompakan yang dilakukan armada Portugis.

Pada masa Sultan Iskandar Muda, Banda Aceh tumbuh kembali sebagai pusat perdagangan maritim, khususnya untuk komoditas lada yang saat itu sangat tinggi permintaannya dari Eropa. Iskandar Muda menjadikan Banda Aceh sebagai taman dunia, yang dimulai dari komplek istana. Komplek istana Kesultanan Aceh juga dinamai Darud Dunya (Taman Dunia).

Pada masa agresi Belanda yang kedua, terjadi evakuasi besar-besaran pasukan Aceh keluar dari Banda Aceh yang kemudian dirayakan oleh Van Swieten dengan memproklamasikan jatuhnya kesultanan Aceh dan mengubah nama Banda Aceh menjadi Kuta Raja.

Setelah masuk dalam pangkuan Pemerintah Republik Indonesia baru sejak 28 Desember 1962 nama kota ini kembali diganti menjadi Banda Aceh berdasarkan Keputusan Menteri Pemerintahan Umum dan Otonomi Daerah bertanggal 9 Mei 1963 No. Des 52/1/43-43

Pada tanggal 26 Desember 2004, kota ini dilanda gelombang pasang tsunami yang diakibatkan oleh gempa 9,2 Skala Richter di Samudera Indonesia. Bencana ini menelan ratusan ribu jiwa penduduk dan menghancurkan lebih dari 60% bangunan kota ini.

Berdasarkan data statistik yang dikeluarkan Pemerintah Kota Banda Aceh, jumlah penduduk Kota Banda Aceh hingga akhir Mei 2012 adalah sebesar 248.727 jiwa.
Sedangkan Hari jadi Kota Banda Aceh yaitu pada tanggal 22 April 1205 M.


SEJARAH KERAJAAN LAMURI


Bandar Aceh mempunyai sejarah yang sangat panjang sebagai cikal-bakal Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Disinilah mula-mula berdirinya Kerajaan Aceh yang bernama Lamuri atau Al Ramni atau Rami, yang situsnya masih terdapat di Gampong Pande.

Dari literature-literatur dan buku-buku sejarah tentang Aceh, sejarah Melayu, Naskah-naskah tua, hikayat-hikayat Aceh serta wawancara dengan orang-orang tua, maka dapatlah diketahui, bahwa Aceh sudah mempunyai peradaban dan mempunyai system pemerintahan pada masa berabad-abad sebelum masehi.

Catatan sejarah tentang kegiatan pelaut-pelaut Paoenisia yang tersimpan dalam perpustakaan dikota pelabuhan Alexandria (Iskandariyah), tetapi karena sudah hilang maka yang dapat digunakan sebagai sumber adalah Injil (Thomas Braddell “ The Ancient trede of the Indian Archipelago”, Jil. II No: 3, 1857) antara lain tentang apa yang pernah disampaikan oleh The King of Salomon (Nabi Sulaiman A.S) kepada rakyatnya, yaitu pelaut-pelaut Phonesia supaya berlayar menuju ke timur untuk menemui gunung Ophir, karena ditempat tersebut banyak tersimpan harta berharga yaitu emas.

Tiga tahun lamanya pelaut tersebut berpergian, mereka kembali dengan berhasil membawa harta karun tersebut dalam jumlah besar ( D.M. Champhel mengatakan Ophir itu terletak di ujung utara Sumatra yaitu Aceh yang sekarang disebut kampong Pande.

Semenjak itu daya tarik berlayar semakin besar untuk menuju ke timur kearah matahari terbit dan berangsur angsur pula bahan dagangan bertambah ragam. Dari Eropa dibawa orang-orang barang perdagangan ke Alexanderia, disini dipertukarkan dengan barang-barang yang dibawa oleh orang Arab Saba yang pada giliranya pula menampung barang-barang baik dari sepanjang pantai Arab Selatan maupun dari Teluk Parsi dan India.

Pada masa itulah tampil di pasar Alexanderia hasil-hasil kekayaan dari Aceh seperti rempah-rampah, kapur barus, belerang, kemenyan, emas, perak dan timah. Pada tahun 376 S.M.

MASUKNYA AGAMA ISLAM DI BANDA ACEH


Seorang nahkoda Yunani yang tidak dikenal siapa orangnya pernah membuat semacam buku penuntun yang diberinama “Periplus Maris Erythraea) (Petunjuk Pelayaran laut India) menjelaskan lintasan perdagangan yang terjadi masa itu antara Mesir dan India dan pelabuhan-pelabuhan yang dijumpai ditengah perjalanan laut dan barang yang diperjual belikan antara negara yang bersangkutan, tetapi keterangan sampai ke timur lagi diperoleh dari orang-orang India yang mena mereka menceritakan ada suatu pulau dilautan India yang bernama Chryse yang menghasilkan penyu terbaik di lautan India. Jadi dapatlah diketahui bahwa pulau yang menghasilkan penyu adalah Sumatera, yang oleh Periplus ini oleh orang-orang barat dianggap sebagai perintis jalan untuk mengenal kepulauan Indonesia yang menghasilkan kekayaan alam dan hasil bumi rempah-rempah tersebut.

Namun orang pertama yang memperkenalkan Nusantara dan semenanjung Melayu adalah Ptolemaeus pada tahun 301 SM dia juga salah seorang panglima atau menteri dari Maharaja Iskandar Zulkarnaen, dimana setelah beliau wafat dia mengambil alih kekuasaan di Alexanderia.

Kota tersebut merupakan suatu pelabuhan besar pada zaman dulu di Mesir yang banyak memegang peranan dalam lintas perdagangan antar bangsa. Bukunya yang terkenal “geograpike Uplehesis” berupa ilmu bumi dunia yang lengkap dengan peta-petanya.

Pada Bab ketujuh, dia membicarakan kepulauan dan semenanjung bagian Asia Tenggara. Dia memperkenalkan “Aureachersoneseus” atau “Golden Chersoneseus” atau dalam bahasa Indonesia disebut “Pulau Emas” kalau orang Belanda menyebutnya Golden Berg.

Dalam peta itu ditempatkannya sebuah pulau bernama Jabadiou (Sumatera). Suatu kemungknan dapat diperhitungkan bahwa barang-barang yang dibeli atau diangkut dari Barygaza, sebagiannya berasal dari ujung pulau Sumatera yaitu Aceh, dalam kaitan ini dapat diperhitungkan, telah terjadi perdagangan antar pulau, seperti Kalimantan, Bugis, Maluku, Jawa maupun Palembang, Aceh sebagai entreport untuk hubungan ke luar negeri karena yang terpenting komoditi eksport pada masa itu adalah rempah-rempah (lada), kapur barus, emas dan perak, semuanya disuplai oleh pelabuhan Aceh.

Ptolemaeus menyebutkan kota pelabuhan daripada Aurea Chersoneseus dalam catatannya bernama “Argure” atau kota perak yang terletak dibagian paling barat pulau emas, yang banyak menghasilkan emas dan sangat subur.

Dapat diperhitungkan bahwa Argire yang dimaksudkan adalah Lamuri, atau sekarang kampong Pandee (J. L Moens). Dalam catatan sejarah China dalam tarikh Dinasti Han pada abad 206 SM, catatan dimaksud berkenaan dengan masa pemerintahan Kaisar “Wang Mang” yang mana Kaisar tersebut mengirimkan bingkisan berupa mutiara, permata dan barang-barang lain kepada sebuah negeri yang disebut dalam catatan itu bernama Huang Tsche dan Kaisar Wang meminta imbalan dari bingkisan nya, supaya dikirimkan binatang badak yang terdapat dinegeri itu, Wang bermaksud hendak memelihara badak tersebut dikebun binatangnya, disini sejarahwan berpendapat yang dimaksud Huang Tsuie adalah Aceh yang terletak di Ujung Pulau Sumatera Bagian Utara.

Dapat dijelaskan disini bahwa masih banyak catatan-catatan sejarah baik dari perjalanan pelaut-pelaut Phoenesia maupun perjalanan daripada bangsa-bangsa Arab, Persia dan Tionghoa yang tidak ditulis disini.

Sesudah ± tahun 400 SM, Aceh di ujung paling barat Pulau Sumatera, dinamai oleh orang Arab Rami (Al Ramni) oleh orang Tionghoa menyebut Lan-li, Lam-wuli, Nan-wuli, Nan-poli yang sebenarnya sebutan Aceh adalah Lamuri menurut sejarah Melayu, oleh Marcopolo menyebut Lambri setelah kedatangan Portugis nama Lambri tidak pernah disebut lagi melainkan Achem atau (Acheh) Sejak permulaan abad ke 1 Masehi di Aceh sudah ada pemerintahan atau kerajaan yang diperintahkan oleh Meurah-Meurah dan meugat-meugat dengan nama Kerajaanya Lamuri, yang terletak di ujung Barat Pulau Sumatera didekat pantai ± 2 km dan ± 500 meter di pinggir Krueng Aceh yang sekarang disebut Kampung Pande Situs daripada Istana (pendopo). Dan mesjid masih ada sampai dengan sekarang) walaupun sebagian sudah rusak akibat tsunami pada tanggal 26 Desember 2004.

Kalau diperhatikan dari letak geografisnya, maka Aceh Lamuri berkedudukan sebagai pintu masuk perlintasan laut dari Barat ke timur, atau pintu keluar dari timur ke barat. Jadi disini dapat diketahui bahwa Aceh menjadi daerah lintasan pedagang-pedagang dari segala bangsa yang terutama pelaut-pelaut atau saudagar-saudagar Arab, Persi, Phoenesia, India dan Cina.

Dengan berjalanya waktu dan bertambah majunya arus perdagangan Aceh Lamuri dengan dunia luar dan hilir mudik saudagar-saudagar Parsi, Arab maka mereka membuat perkampungan di Aceh Lamuri, sampai pada abad ke VI Masehi.

Kedatangan Islam ke Aceh Menjelang wafatnya Nabi Besar Muhammad SAW pada tanggal 8 Juni 632 Masehi, tahun pertama Hijriah. Agama Islam sudah berkembang luas ke seluruh Jazirah Arab. Pengembangan keluar Jazirah Arab berjalan terus bahkan sudah mencapai ke Tiongkok pada Zaman Khalifah Usman bin Affan pada tahun 651 M.

Sesuai catatan sejarahwan Dinasti Tang tentang kedatangan perutusan amirul mukminin dalam bahasa tiong hoa bertana han mi mo mo ni dengan membawa sepucuk surat yang menyebut bahwa kerajaanya (Islam) sudah berdiri sejak 34 tahun yang lalu. Untuk penelitian kapan Islam mencapai Nusantara khususnya Aceh, yang cukup penting adanya fakta, yaitu:

  • Sudah terlaksananya peng-Islaman diseluruh Jazirah Arab sebelum Rasullullah wafat. 
  • Pedagang-pedagang atau pelaut-pelaut Arab yang menlintasi lautan sejak masa itu sudah terdiri dari oang-orang muslim. 
  • Pedagang/pelaut Arab selalu mondar-mandir ke Aceh untuk membeli barang-barang dagangan yang akan dibawa ke Iskandariyah. 

Seperti yang tersebut sebelumnya bahwa orang-orang Arab dan Parsi sudah membuat perkampungan di Aceh (Lamuri), jadi kegiatan merantau dan orang-orang Arab dan Parsi yang terdapat dalam catatan Tionghoa, paling sedikit ada dua yang menjadi perhatian, antara lain: a. Kesan-kesan perjalanan biksu Tionghoa I-Tsing pada tahun 672 M menuju Nusantara melewati selat malaka menyinggahi O-Shen yang dimaksud adalah pelabuhan Aceh Lamuri. b. Catatan yang dilengkapi oleh W.P Groenevelt yang didapat dalam naskah Dinasti Tang, bahwa di pantai sebelah Barat Sumatera (Aceh) telah ada bermukim orang-orang Arab yang disebut bangsa TA-SHI.

Mengenai (a) I Tsing mengatakan bahwa dia menumpang kapal orang Po-ssu yaitu Parsi, diperhatikan dari masanya tahun 672 M yaitu sekitar 40 tahun berkembangnya Islam di Parsi, dapat diambil suatu kesimpulan bahwa pelaut-pelaut dan saudagar-saudagar dari Parsi sudah memeluk agama Islam.

Mengenai (b), orang Arab atu Ta-Shi yang bermukim dipantai barat Sumatera (Aceh) disekitar tahun 674 Masehi, tentulah pula sudah menjadi pemeluk agama Islam.

Pencatat dari Tionghoa menyebut mereka orang Ta-shi. Jadi pendatang Arab, Parsi yang membangun permukiman di Aceh Lamuri atau Kampung Pande sekarang ini jumlah mereka sangat banyak, ini dapat dilihat sewaktu mereka bermaksud menyerang Holling (Keudah-Malaysia) yang juga negerinya sangat makmur sama dengan di Aceh Lamuri, sekaligus memberi petunjuk bahwa jumlah mereka tidak sedikit dan kedudukan mereka sudah sangat kuat.

Sejak tersiarnya pendapat dari Groneveldt itu, para sarjana menjadi meningkat perhatianya untuk mengetahui kedatangan Islam ke Aceh. Kolonel G. E. Gerini dalam studinya mengatakan bahwa pernah ada permukiman orang Arab, Persi di wilayah Ta-shi (Aceh) dan dia meneguhkan ketidak sangsian lagi bahwa yang dimaksud Ta-shi adalah Aceh. Antara lain diyakinkan bahwa ISLAM sudah masuk ke Aceh pada tahun 674 M atau pada abad pertama Hijriah.

Profesor Syed Naquib Al-Ahas dalam satu studinya yang kemudian disiarkan oleh Dewan Bahasa dan Pustaka Kualalumpur mengatakan bahwa “catatan yang paling tua mengenai kemungkinan bermukimnya orang Arab Muslim di Aceh adalah bersumber daripada laporan Cina tentang permukiman Arab dan Parsi di ujung Sumatera bagian utara (Aceh) di tahun 55 H atau 674 M.

Pada seminar sejarah masuknya Islam ke Indonesia yang dilangsungkan di Medan pada tanggal 17-20 Maret 1967 telah diambil kesimpulan antara lain: a. Bahwa Islam masuk pertama kali ke Indonesia adalah pada Abad ke I Hijriah dan langsung dari Arab. b. Bahwa daerah pertama didatangi Islam ialah pesisir Sumatera dan terbentuknya masyarakat Islam dan system kerajaan (kesultanan) di Aceh.

Professor Hamka yang dalam seminarnya itu tampil sebagai pembanding utama, yang mendukung penuh bahkan menperjelas kelansungan datangnya ISLAM dari Arab pada Abad ke I Hijriah.

Dalam tahun 1978 pada tanggal 10-16 Juli 1978 di Banda Aceh telah berlangsung suatu seminar tentang masuk dan berkembangnya Islam di Aceh yang diselenggarakan oleh Majelis Ulama Propinsi D. I Aceh, seminar tersebut bertujuan mengupas dan mencari kesimpulan yang akurat bagian-bagian seluruh aspek yang berkaitan dengan sejarah perkembangan islam di Propinsi Aceh.

Kesimpulan-kesimpulan yang berhasil diambil terbagi dalam tiga bab yaitu: - Bab pertama diambil kesimpulan yaitu, masih banyak lagi bahan-bahan yang harus dikumpulkan dan diteliti sehubungan dengan masuk dan berkembangnya Islam di Aceh. - Bab kedua meliputi 29 kesimpulan - Bab Ketiga: berkenaan dengan saran-saran yang bernilai dengan Bab 2, khususnya mengenai masuk dan berkembangnya Islam, yang terpenting diantaranya adalah: a. Sebelum Islam masuk ke Aceh, sudah ada kerajaan-kerajaan di Aceh diantaranya Lamuri di Aceh Besar (Kampung Pande sekarang) dan kerajaan-kerajaan lain (Sumber catatan bangsa lain yang pernah atau sering berkunjung ke Lamuri). b. Pada abad ke I Hijriah, Islam sudah masuk ke Aceh. c. Kerajaan Islam yang pertama adalah Lamuri, Peureulak dan Pasai.

Jadi disini dapat diambil kesimpulan bahwa Islam masuk ke Aceh pada tahun 674 M, sesuai dengan catatan dan pendapat-pendapat dari para ahli sejarah dan catatan naskah Tionghoa, dan masih banyak pendapat ahli-ahli sejarah yang tidak diungkapkan dalam tulisan ini, serta dari hasill seminar-seminar yang sudah dijelaskan sebelumnya.

Sejarah Kerajaan Aceh Lamuri sampai Aceh Darussalam. Sudah dikelaskan pada permulaan sekali, bahwa Aceh sudah dikenal sejak dari 1000 tahun SM dimasa pemerintahan Nabi Sulaiman A.s (The King of Salomon) sampai pada masa Periplus, tahun 376 SM, Prolemeus 301 S.M Dinasti Han I, 206 SM smpai pada abab I M s/d abad ke 4 Masehi, dimana orang-orang Arab menamakan Aceh dengan Al-Ramni atau Lamuri yang terletak di ujung barat pulau Sumatera atau di Kampung Pandee sekarang (situsnya masih ada) sampai dengan masuknya Islam pada tahun 674 M, disini penulis tidak mau mempermasalahkan apakah Aceh Besar yang pertama masuk Islam menurut “Bustanul Salatun” karangan Syech Nurdin Arraniry ataupun di Pasai menurut Hikayat raja-raja Pasai.

Sejak masuknya Islam ke Aceh Besar pada tahun 674 M dimana Islam terus berkembang pesat dan dapat diketahui system pemerintahan sejak 1000 tahun SM sampai abad ke I M sudah mulai ada dan mulai abad 1 M sampai dengan masuknya Islam sistem pemerintahan bertambah baik dan komplet.

Pada waktu itu kerajaan Lamuri di Aceh Besar atau lebih dikenal dengan nama Aceh tiga segi (Aceh Lhee Sagoe), dimana pada masa itu Aceh Lamuri masih diperintah oleh meurah-meurah dan meugat-meugat (pembesar Negara).

Pada saat Islam terus berkembang dengan pesatnya, mulailah berdatangan ulama-ulama yang mengembangkan agama Islam ke Aceh Raya, salah seorang diantaranya adalah turunan Bani Saljuk berasal dari bangsa Turky yaitu Sulthan Malik Syah Saljuk, salah seorang Sulthan Malik Syah Saljuk salah seorang Sulthan pada masa Dinastu Abbasyiah yang mana salah seorang cucu beliau yaitu Machdum Abi Abdullah Syeh Abdurrauf Baghdady atau Tuan dikandang Syeh Bandar Aceh Darussalam yang makamnya sekarang ada dikampung Pande.

Kalau kita mengikuti catatan dari naskah tua yang disimpan di perpustakaan Universitas Kebangsaan Malaysia di Kuala Lumpur (foto copy dari naskah tersebut tersimpan dalam perpustakaan Ali Hasyimi Banda Aceh) oleh Ayahnda Ali Hasyimi menyimpulkan dan beliau lebih condong dan sangat meyakinkan fakta-fakta yang tercatat dalam naskah tua tersebut, selain itu dalam naskah itu terdapat banyak lagi fakta-fakta sejarah yang sangat penting mengenai Aceh.

Kesimpulan yang diambil oleh Prof. Ali Hasyimi, bahwa sebagian raja-raja dan para pembesar yang memerintah Aceh dan para ulama. Ulama yang mengembangkan ilmu agama dan ilmu pengetahuan di Aceh dan daerah-daerah kekuasaanya adalah turunan dari Bani Saliuk yang berasal dari Kabilah kecil keturunan Turki, yaitu Kabilah Qunuq.

Kabilah ini bersama dengan duapuluh kabilah-kabilah kecil lainnya bersatu membentuk rumpun Chuz, semula gabungan Kabilal ini tidak memiliki nama hingga muncul tokoh Saljuk bin Tuqaq yang mempersatukam mereka dengan memberi nama suku Saljuk.

Suku ini bermukim atau mendiami pengunungan emas di Asia Barat, mereka terkenal salah satu suku yang berdarah panas dan berani, daerah tempat suku ini bermukim di daerah Turkistan. Dibawah pemerintahan Raja Bighu yang mengangkat Saljuk bin Tugaq sebagai pemimpin militer dari suku Saljuk. Suku ini bertetangga dengan Dinasti Samaniyah dan Dinasti Gaznawijah, suku ini memihak pada Dinasti Samaniyah ketika terjadi persengketaan anatara samaniyah dengan Gaznawijah dimana Dinasti Samaniyah dikalahkan oleh Dinasti Gaznawiyah, Saljuk menolak untuk bergabung dengan Gaznawiyah dan memproklamirkan wilayah yang diduduki suku ini sebagai negeri merdeka.

Bahkan ketika muncul tokoh generasi Saljuk yang bernama Tughrilbek, suku Saljuk berhasil mengalahkan dan mengakhiri kekuasaan Ghaznawiyah pada tahun 429 H (1036 M), dan semenjak itu Dinasti Saljuk sukses dalam setiap upaya ekspansi. Pada masa kepemimpinan Tughril Bek tahun1037-1063 M (430-456 H) suku Saljuk berhasil memasuki Bagdad, setelah mengalahkan DInasty Buwaihiyyah.

Mulai dari sini Bani Saljuk mulai memerintahkan didalam DInasty Abbasiyah. Setelah Tughril beg wafat dan diganti oleh kemenakannya yang bernama Alp Arselan (1063-1072 atau 456 H-465 H), pada masa itu ekspansi besar-besaran kea rah timur, menundukan Armenia, ke Arab bagian barat sampai ke Asia kecil, begitu hebat perkembangan pada masa itu sehingga semakin luas daerah kekuasaan Bani Saljuk. Disini tercatat Alp Arsilan sebagai penguasa yang adil dan bijaksana, beliau mangkat pada tahun 465 H/1072 M dan digantikan oleh putranya bernama Malik Syaj.

Pada masa Pemerintahan Sultan Malik Syah seluruh wilayah kesultanan saljuk yang luas ini diwarnai kemakmuran dan kedamaian hidup, pembangunan dalam segala bidang berkembang dengan pesat, demikian juga bidang seni dan budaya terutama bidang ilmu pengetahuan pengembanganya sangat maju sekali.

Yang paling menonjol adalah ilmu teknik pemerintahan , ilmu astronomi, ilmu matematika (Aljabar) dengan penemuan system hitungan decimal, aritmatika, geometri, logaritma. Selain itu mereka juga memberikan kontribusi besar dalam bidang ilmu kimia yaitu “Term chemistry” yang mereka sebut Al Kimia. Demikian masa pemerintahan Sulthan Malik Syah sampai dengan mangkatnya beliau tahun 485 H/1092M.

Kemudian sulthan-sulthan pengganti beliau tidak memiliki kecakapan dalam memerintah sehingga kesulthanan Bani Saljuk mengalami kemunduran, sampai pada masa perang salib dan kehancuran Bani Saljuk oleh serangan bangsa Mongol (Hulagu Khan) pada masa itu sedang dibentuk Dinasti Turki Usmani berpangkal pada sebuah suku kecil yakni Kabilah Ughu semula mereka tinggal disebelah utara negeri Cina.

NENEK MOYANG MASYARAKAT BANDA ACEH


Karena tekanan-tekanan dari bangsa Mongol, mereka dibawah pimpinan Sulaiman Syah, berpindah kearah barat hingga mereka bergabung dengan saudara seketurunan, yakni orang Turki Saljuk di Asia Kecil. Dibawah pimpinan Usman mereka membentuk kerajaan Turki Usmani dengan raja yang pertama Usman I yang bergelar “Padinsyah Ali Usman” pada tahun 1281-1324 kemudian Dinasti Usman berjalan terus sampai terjadi perang dunia pertama (1915 M), dan pada masa Mustafa Kamal dalam kapasitas pemimpin dewan majelis menghapus jabatan Khalifah pada tahun 1924 semenjak itu berakhir Imperium Turki Usmani dan sejarah Turki memasuki era modern dengan system pemerintahan republik.

Kembali pada masalah datangnya ulama-ulama ke Aceh Besar, yaitu ada lima orang ulama yang mengembangkan agama Islam dan ilmu pengetahuan di Aceh Bandar Darussalam (Lamuri-Aceh Besar). Kelima ulama-ulama pengembang Islam tersebut adalah:

  • Abdullah, berasal dari Persia, Mazhab hanafi, Ahlus sunnah wal jama’ah, datan ke Aceh pada tahun 229 H (843 M). 
  • Sulaiman bin Abdullah Yamani, Mazhab Zidi, datang ke Aceh pada tahun 236 H (850 M). 
  • Syeck Umar bin Abdullah Malabari, dari Mekkah, Mazhab Syafi’i, Ahlus sunnah wal jama’ah, ke Aceh pada tahun 275 H (879 M). 
  • Abdullah Hasan Al-Makki, dari Mekkah, Mazhab Syafi’i, Ahlus sunnah wal jama’ah, ke Aceh pada tahun 284 H (889 M). 
  • Makhdum Abi Abdullah Syekh Abdul Rauf Baghdadi bergelar Tuan dikandang Syekh Bandar Aceh Darussalam, beliau keturunan dari Sultan Malik Syah Saljuk, kuburan di Kampung Pandee. 

Beliau inilah nenek moyang dari pada raja-raja, pembesar-pembesar dan Ulama-ulama dalam zaman kerajaan Aceh Lamuri (Bandar Aceh Darussalam) sampai pada zaman Kerajaan Aceh Darussalam. Beliau datang ke Aceh pada Abad ke 11 Masehi atau ke IV Hijriah.

Setelah ulama-ulama berdatangan ke Aceh, perkembangan Islam yang mencapai puncaknya, apalagi dengan datangnya ulama pendiri Tharikat Kadriyah yaitu Sykh Abdulkadir Jaelani, pada abad k XI atau pada masa Tuan Dikandang atau Makhdun Abi Abdullah Syekh Abdul Ra’uf Baghdadi, dari sinilah mulai terbentuk kerajaan Islam Aceh Lamuri atau Bandar Aceh Darussalam dilembah Aceh Tiga Segi (Aceh Lhee Sagoe) Aceh Besar.

Menurut Naskah tua yang terdapat di perpustakaan Universitas Kebangsaan Malaysia, terdapat sarakata (Ranji) sisilah dari raja-raja Aceh, mulai dari raja-raja kerajaan Aceh Lamuri sampai kepada raja-raja dan ratu-ratu kerajaan Aceh-Darussalam.

Begitulah sarakata atau ranji atau silsilah daripada raja-raja dari kerajaan Aceh, dan menurut keterangan dari salah seorang pegawai Dinas Kebudayaan Bagian Purbakala NAD, juga pernah ada silsilah atau sarakata dari raja-raja kerajaan Aceh yang persis sama dengan yang terdapat pada perpustakaan Universitas Kebangsaan Malaysia, tetapi sewaktu terjadi kebakaran pada tahun 2002, silsilah tersebut turut terbakar.

Sudah dijelaskan di atas bahwa kuburan dari pada Tuan di Kandang atau Makhdum Abi Abdullah Syekh Abdul Ra’uf Baghdadi terletak di Kampung Pandee, dan kuburan itu rusak dilanda tsunami, juga kuburan Sulthan Abdul Aziz Johan Syah serta Sulthan-Sulthan sesudahnya, Putroe Ijo, kuburan Raja Si Uroe atau Sulthan Alaiddin Mukminsyah, juga bernama raja Mukhal Ibnu Ali Riatsyah, beliau pernah menjadi raja di Pariaman Sumatera Barat dengan panggilan Sulthan Seri Alam Firmansyah.

Selain dari kuburan raja-raja juga terdapat kuburan ulama-ulama dan raja-raja di Kampung Jawa, Pelanggahan di Kecamatan Kutaraja, seperti kuburan Tengku Di Anjong atau Syekh Abubakar Al Fakih. Banyak kuburan-kuburan lama itu belum disentuh atau diselidiki oleh ahli-ahli sejarah dan juga bekas istana (pendopo) dan bekas mesjid pada masa kerajaan Lamuri.

Rangkuman Dari : Sejarah.Aceh.my.id dan Wikipedia

Sejarah Asal Usul Terbentuknya Kota Banda Aceh Indonesia



A. AWAL BERDIRINYA KERAJAAN

Pendiri Kerajaan Singasari adalah Ken Arok. Asal usul Ken Arok tidak jelas. Menurut kitab Pararaton, Ken Arok adalah anak seorang wanita tani dari Desa Pangkur (sebelah timur Gunung Kawi). Para ahli sejarah menduga ayah Ken Arok seorang pejabat kerajaan, mengingat wawasan berpikir, ambisi, dan strateginya cukup tinggi. Hal itu jarang dimiliki oleh seorang petani biasa. Pada mulanya Ken Arok hanya merupakan seorang abdi dari Akuwu Tumapel bernama Tunggul Ametung. Ken Arok setelah mengabdi di Tumapel ingin menduduki jabatan akuwu dan sekaligus memperistri Ken Dedes (istri Tunggul Ametung). Dengan menggunakan tipu muslihat yang jitu, Ken Arok dapat membunuh Tunggul Ametung. Setelah itu, Ken Arok mengangkat dirinya menjadi akuwu di Tumapel dan memperistri Ken Dedes yang saat itu telah mengandung. Ken Arok kemudian mengumumkan bahwa dia adalah penjelmaan Dewa Brahma, Wisnu, dan Syiwa. Hal itu dimaksudkan agar Ken Arok dapat diterima secara sah oleh rakyat sebagai seorang pemimpin.

Tumapel pada waktu itu menjadi daerah kekuasaan Kerajaan Kediri yang diperintah oleh Raja Kertajaya atau Dandang Gendis. Ken Arok ingin memberontak, tetapi menunggu saat yang tepat. Pada tahun 1222 datanglah beberapa pendeta dari Kediri untuk meminta perlindungan kepada Ken Arok karena tindakan yang sewenang-wenang dari Raja Kertajaya. Ken Arok menerima dengan senang hati dan mulailah menyusun barisan, menggembleng para prajurit, dan melakukan propaganda kepada rakyatnya untuk memberontak Kerajaan Kediri.

Setelah segala sesuatunya siap, berangkatlah sejumlah besar prajurit Tumapel menuju Kediri. Di daerah Ganter terjadilah peperangan dahsyat. Semua prajurit Kediri beserta rajanya dapat dibinasakan. Ken Arok disambut dengan gegap gempita oleh rakyat Tumapel dan Kediri. Selanjutnya, Ken Arok dinobatkan menjadi raja. Seluruh wilayah bekas Kerajaan Kediri disatukan dengan Tumapel yang kemudian disebut Kerajaan Singasari. Pusat kerajaan dipindahkan ke bagian timur, di sebelah Gunung Arjuna.

B. KEHIDUPAN POLITIK

Kehidupan politik pada masa Kerajaan Singasari dapat kita lihat dari raja-raja yang pernah memimipinya. Berikut ini adalah raja-raja yang pernah memimpin Kerajaan Singasari.

1. Ken Arok (1222–1227).

Pendiri Kerajaan Singasari ialah Ken Arok yang menjadi Raja Singasari dengan gelar Sri Ranggah Rajasa Sang Amurwabumi. Munculnya Ken Arok sebagai raja pertama Singasari menandai munculnya suatu dinasti baru, yakni Dinasti Rajasa (Rajasawangsa) atau Girindra (Girindrawangsa). Ken Arok hanya memerintah selama lima tahun (1222–1227). Pada tahun 1227 Ken Arok dibunuh oleh seorang suruhan Anusapati (anak tiri Ken Arok). Ken Arok dimakamkan di Kegenengan dalam bangunan Siwa– Buddha.

2. Anusapati (1227–1248).

Dengan meninggalnya Ken Arok maka takhta Kerajaan Singasari jatuh ke tangan Anusapati. Dalam jangka waktu pemerintahaannya yang lama, Anusapati tidak banyak melakukan pembaharuan-pembaharuan karena larut dengan kesenangannya menyabung ayam.

Peristiwa kematian Ken Arok akhirnya terbongkar dan sampai juga ke Tohjoyo (putra Ken Arok dengan Ken Umang). Tohjoyo mengetahui bahwa Anusapati gemar menyabung ayam sehingga diundangnya Anusapati ke Gedong Jiwa ( tempat kediamanan Tohjoyo) untuk mengadakan pesta sabung ayam. Pada saat Anusapati asyik menyaksikan aduan ayamnya, secara tiba-tiba Tohjoyo menyabut keris buatan Empu Gandring yang dibawanya dan langsung menusuk Anusapati. Dengan demikian, meninggallah Anusapati yang didharmakan di Candi Kidal.

3) Tohjoyo (1248)

Dengan meninggalnya Anusapati maka takhta Kerajaan Singasari dipegang oleh Tohjoyo. Namun, Tohjoyo memerintah Kerajaan Singasari tidak lama sebab anak Anusapati yang bernama Ranggawuni berusaha membalas kematian ayahnya. Dengan bantuan Mahesa Cempaka dan para pengikutnya, Ranggawuni berhasil menggulingkan Tohjoyo dan kemudian menduduki singgasana.

4) Ranggawuni (1248–1268)

Ranggawuni naik takhta Kerajaan Singasari pada tahun 1248 dengan gelar Sri Jaya Wisnuwardana oleh Mahesa Cempaka (anak dari Mahesa Wongateleng) yang diberi kedudukan sebagai ratu angabhaya dengan gelar Narasinghamurti. Ppemerintahan Ranggawuni membawa ketenteraman dan kesejahteran rakyat Singasari.

Pada tahun 1254, Wisnuwardana mengangkat putranya yang bernama Kertanegara sebagai yuwaraja (raja muda) dengan maksud mempersiapkannya menjadi raja besar di Kerajaan Singasari. Pada tahun 1268 Wisnuwardanameninggal dunia dan didharmakan di Jajaghu atau Candi Jago sebagai Buddha Amogapasa dan di Candi Waleri sebagai Siwa.

5) Kertanegara (1268–-1292).

Kertanegara adalah Raja Singasari terakhir dan terbesar karena mempunyai cita-cita untuk menyatukan seluruh Nusantara. Ia naik takhta pada tahun 1268 dengan gelar Sri Maharajadiraja Sri Kertanegara. Dalam pemerintahannya, ia dibantu oleh tiga orang mahamentri, yaitu mahamentri i hino, mahamentri i halu, dan mahamenteri i sirikan. Untuk dapat mewujudkan gagasan penyatuan Nusantara, ia mengganti pejabat-pejabat yang kolot dengan yang baru, seperti Patih Raganata digantikan oleh Patih Aragani. Banyak Wide dijadikan Bupati di Sumenep (Madura) dengan gelar Aria Wiaraja.

Setelah Jawa dapat diselesaikan, kemudian perhatian ditujukan ke daerah lain. Kertanegara mengirimkan utusan ke Melayu yang dikenal dengan nama Ekspedisi Pamalayu 1275 yang berhasil menguasai Kerajaan Melayu. Hal ini ditandai dengan mengirimkan patung Amogapasa ke Dharmasraya atas perintah raja Kertanegara. Tujuannya untuk menguasai Selat Malaka. Selain itu juga menaklukkan Pahang, Sunda, Bali, Bakulapura (Kalimantan Barat) dan Gurun (Maluku). Kertanegara juga menjalin hubungan persahabatan dengan raja Champa, dengan tujuan untuk menahan perluasan kekuasaan Kublai Khan dari Dinasti Mongol. Kublai Khan menuntut rajaraja di daerah selatan termasuk Indonesia mengakuinya sebagai yang dipertuan. Kertanegara menolak dengan melukai utusannya yang bernama Mengki. Tindakan Kertanegara ini membuat Kublai Khan marah besar dan bermaksud menghukumnya dengan mengirikan pasukannya ke Jawa.

Mengetahui sebagian besar pasukan Singasari dikirim untuk menghadapi serangan Mongol, maka Jayakatwang menggunakan kesempatan untuk menyerangnya. Jayakatwang adalah keturunan Kertajaya - Raja terakhir Kerajaan Kediri.  Serangan dilancarakan oleh Jayakatwang dari dua arah, yakni dari arah utara merupakan pasukan pancingan dan dari arah selatan merupakan pasukan inti. Pasukan Kediri dari arah selatan dipimpin langsung oleh Jayakatwang dan berhasil masuk istana dan menemukan Kertanagera berpesta pora dengan para pembesar istana. Kertanagera beserta pembesarpembesar istana tewas dalam serangan tersebut. Raden Wijaya (menantu Kertanegara) berhasil menyelamatkan diri dan menuju Madura dengan maksud minta perlindungan dan bantuan kepada Aria Wiraraja (Buapati Sumenep). Atas bantuan Aria Wiraraja, Raden Wijaya mendapat pengampunan dan mengabdi kepada Jayakatwang serta diberikan sebidang tanah yang bernama Tanah Terik yang nantinya menjadi asal usul Kerajaan Majapahit.

Dengan gugurnya Kertanegara pada tahun 1292, Kerajaan Singasari dikuasai oleh Jayakatwang. Ini berarti berakhirlah kekuasan Kerajaan Singasari. Sesuai dengan agama yang dianutnya, Kertanegara kemudian didharmakan sebagai Siwa-Buddha (Bairawa) di Candi Singasari. Sedangkan arca perwujudannya dikenal dengan nama Joko Dolog, yang sekarang berada di Taman Simpang, Surabaya.

C. KEHIDUPAN EKONOMI

Tidak banyak sumber prasasti dan berita dari negeri asing yang dapat memberi keterangan secara jelas kehidupan perekonomian rakyat Singasari. Akan tetapi, berdasarkan analisis bahwa pusat Kerajaan Singasari berada di sekitar Lembah Sungai Brantas dapat diduga bahwa rakyat Singasari banyak menggantungkan kehidupan pada sektor pertanian. Keadaan itu juga didukung oleh hasil bumi yang melimpah sehingga menyebabkan Raja Kertanegara memperluas wilayah terutama tempat-tempat yang strategis untuk lalu lintas perdagangan.

Keberadaan Sungai Brantas dapat juga digunakan sebagai sarana lalu lintas perdagangan dari wilayah pedalaman dengan dunia luar. Dengan demikian, perdagangan juga menjadi andalan bagi pengembangan perekonomian Kerajaan Singasari.
D. KEHIDUPAN SOSIAL BUDAYA

Peninggalan kebudayaan Kerajaan Singasari, antara lain berupa prasasti, candi, dan patung. Candi peninggalan Kerajaan Singasari, antara lain Candi Jago, Candi Kidal, dan Candi Singasari. Adapun patung-patung yang berhasil ditemukan sebagai hasil kebudayaan Kerajaan Singasari, antara lain Patung Ken Dedes sebagai Dewi Prajnaparamita lambang dewi kesuburan dan Patung Kertanegara sebagai Amoghapasa.

Rakyat Singasari mengalami pasang surut kehidupan sejak zaman Ken Arok sampai masa pemerintahan Wisnuwardhana. Pada masa-masa pemerintahan Ken Arok, kehidupan sosial masyarakat sangat terjamin. Kemakmuran dan keteraturan kehidupan sosial masyarakat Singasari kemungkinan yang menyebabkan para brahmana meminta perlindungan kepada Ken Arok ataskekejaman rajanya.

Akan tetapi, pada masa pemerintahan Anusapati kehidupan masyarakat mulai terabaikan. Hal itu disebabkan raja sangat gemar menyabung ayam hingga melupakan pembangunan kerajaan.

Keadaan rakyat Singasari mulai berangsur-angsur membaik setelah Wisnuwardhana naik takhta Singasari. Kemakmuran makin dapat dirasakan rakyat Singasari setelah Kertanegara menjadi raja. Pada masa pemerintahan Kertanegara, kerajaan dibangun dengan baik. Dengan demikian, rakyat dapat hidup aman dan sejahtera.

Dengan kerja keras dan usaha yang tidak henti-henti, cita-cita Kertanegara ingin menyatukan seluruh wilayah Nusantara di bawah naungan Singasari tercapai juga walaupun belum sempurna. Daerah kekuasaannya, meliputi Jawa, Madura, Bali, Nusa Tenggara, Melayu, Semenanjung Malaka, Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku.

E. MASA KEJAYAAN KERAJAAN SINGASARI
Puncak kejayaan Kerajaan Singasari terjadi pada masa pemerintahan Sri Maharajadiraja Sri Kertanegara. Kertanegara berhasil melakukan konsolidasi dengan jalan menempatkan pejabat yang memiliki kemampuan sesuai dengan bidang tugasnya. Raja tidak segan-segan untuk mengganti pejabat yang dipandang kurang berkualitas. Selain itu, raja juga melakukan persahabatan dengan kerajaan-kerajaan besar, salah satunya dengan Kerajaan Campa. Berkat politik pemerintahan yang dijalankan Kertanegara, Singasari berkembang menjadi salah satu kerajaan terkuat di Nusantara, baik dl bidang perdagangan maupun militer.
F. RUNTUHNYA KERAJAAN SINGASARI
Kerajaan Singasari mengalami keruntuhan oleh dua sebab utama, yaitu tekanan luar negeri dan pemberontakan dalam negeri. Tekanan asing datang dari Khubilai Khan dan Dinasti Yuan di Cina. Khubilai Khan menghendaki Singasari untuk menjadi taklukan Cina. Sebagai orang yang mengambil gelar sebagai maharajadiraja, tentu Kertanegara menolaknya. Penolakan itu disampaikan dengan cara menghina utusan Khubilai Khan yang bernama Meng-chi. Sejak itu konsentrasi Kertanegara terfokus pada usaha memperkuat pertahanan lautnya. Di tengah usaha menghadapi serangan dari Kekaisaran Mongol, tiba-tiba penguasa daerah Kediri yang bernama Jayakatwangmelakukan pemberontakan. Kediri sebagai wilayah kekuasaan terakhir Wangsa Isana, memang berpotensi untuk melakukan pemberontakan. Sebetulnya Kertanegara telah memperhitungkannya, sehingga mengambil menantu Ardharaja, anak Jayakatwang. Akan tetapi langkah Kertanegara ternyata tidak efektif. Pada tahun 1292 Jayakatwang menyerbu ibukota dan berhasil membunuh Kertanegara serta menguasai istana sehingga runtuhlan Kerajaan Singasari.
G. PENINGGALAN KERAJAAN SINGASARI
1. Candi Singosari
Sejarah dan Peninggalan Kerajaan Singasari Lengkap
     Candi ini berlokasi di Kecamatan Singosari,Kabupaten Malang dan terletak pada lembah di antara Pegunungan Tengger dan Gunung Arjuna. Berdasarkan penyebutannya pada Kitab Negarakertagama serta Prasasti Gajah Mada yang bertanggal 1351 M di halaman komplek candi, candi ini merupakan tempat "pendharmaan" bagi raja Singasari terakhir, Sang Kertanegara, yang mangkat(meninggal) pada tahun 1292 akibat istana diserang tentara Gelang-gelang yang dipimpin oleh Jayakatwang. Kuat dugaan, candi ini tidak pernah selesai dibangun.
2. Candi Jago
Sejarah dan Peninggalan Kerajaan Singasari Lengkap
     Arsitektur Candi Jago disusun seperti teras punden berundak. Candi ini cukup unik, karena bagian atasnya hanya tersisa sebagian dan menurut cerita setempat karena tersambar petir. Relief-relief Kunjarakarna dan Pancatantra dapat ditemui di candi ini. Sengan keseluruhan bangunan candi ini tersusun atas bahan batu andesit.
3. Candi Sumberawan
Sejarah dan Peninggalan Kerajaan Singasari Lengkap

     Candi Sumberawan merupakan satu-satunya stupa yang ditemukan di Jawa Timur. Dengan jarak sekitar 6 km dari Candi Singosari, Candi ini merupakan peninggalan Kerajaan Singasari dan digunakan oleh umat Buddha pada masa itu. Pemandangan di sekitar candi ini sangat indah karena terletak di dekat sebuah telaga yang sangat bening airnya. Keadaan inilah yang memberi nama Candi Rawan.
4. Arca Dwarapala
Sejarah dan Peninggalan Kerajaan Singasari Lengkap

     Arca ini berbentuk Monster dengan ukuran yang sangat besar. Menurut penjaga situs sejarah ini, arca Dwarapala merupakan pertanda masuk ke wilayah kotaraja, namun hingga saat ini tidak ditemukan secara pasti dimanan letak kotaraja Singhasari.
5. Prasasti Manjusri
Sejarah dan Peninggalan Kerajaan Singasari Lengkap

Prasasti Manjusri merupakan manuskrip yang dipahatkan pada bagian belakang Arca Manjusri, bertarikh 1343, pada awalnya ditempatkan di Candi Jago dan sekarang tersimpan di Museum Nasional Jakarta
6. Prasasti Mula Malurung
Sejarah dan Peninggalan Kerajaan Singasari Lengkap

     Prasasti Mula Malurung adalah piagam pengesahan penganugrahan desa Mula dan desa Malurung untuk tokoh bernama Pranaraja. Prasasti ini berupa lempengan-lempengan tembaga yang diterbitkan Kertanagara pada tahun 1255 sebagai raja muda di Kadiri, atas perintah ayahnya Wisnuwardhana raja Singhasari.
     Kumpulan lempengan Prasasti Mula Malurung ditemukan pada dua waktu yang berbeda. Sebanyak sepuluh lempeng ditemukan pada tahun 1975 di dekat kota Kediri, Jawa Timur. Sedangkan pada bulan Mei 2001, kembali ditemukan tiga lempeng di lapak penjual barang loak, tak jauh dari lokasi penemuan sebelumnya. Keseluruhan lempeng prasasti saat ini disimpan di Museum Nasional Indonesia, Jakarta.
7. Prasastri Singosari
Sejarah dan Peninggalan Kerajaan Singasari Lengkap

     Prasasti Singosari, yang bertarikh tahun 1351 M, ditemukan di Singosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur dan sekarang disimpan di Museum Gajah dan ditulis dengan Aksara Jawa.
     Prasasti ini ditulis untuk mengenang pembangunan sebuah caitya atau candi pemakaman yang dilaksanakan oleh Mahapatih Gajah Mada. Paruh pertama prasasti ini merupakan pentarikhan tanggal yang sangat terperinci, termasuk pemaparan letak benda-benda angkasa. Paruh kedua mengemukakan maksud prasasti ini, yaitu sebagai pariwara pembangunan sebuah caitya.
8. Candi Jawi
Sejarah dan Peninggalan Kerajaan Singasari Lengkap

     Candi ini terletak di pertengahan jalan raya antara Kecamatan Pandaan - Kecamatan Prigen dan Pringebukan. Candi Jawi banyak dikira sebagai tempat pemujaan atau tempat peribadatan Buddha, namun sebenarnya merupakan tempat pedharmaan atau penyimpanan abu dari raja terakhir Singhasari, Kertanegara. Sebagian dari abu tersebut juga disimpan pada Candi Singhasari. Kedua candi ini ada hubungannya dengan Candi Jago yang merupakan tempat peribadatan Raja Kertanegara.
9. Prasasti Wurare
Sejarah dan Peninggalan Kerajaan Singasari Lengkap

     Prasasti Wurare adalah sebuah prasasti yang isinya memperingati penobatan arca Mahaksobhya di sebuah tempat bernama Wurare (sehingga prasastinya disebut Prasasti Wurare). Prasasti ditulis dalam bahasa Sansekerta, dan bertarikh 1211 Saka atau 21 November 1289. Arca tersebut sebagai penghormatan dan perlambang bagi Raja Kertanegara dari kerajaan Singhasari, yang dianggap oleh keturunannya telah mencapai derajat Jina (Buddha Agung). Sedangkan tulisan prasastinya ditulis melingkar pada bagian bawahnya.

10. Candi Kidal
Sejarah dan Peninggalan Kerajaan Singasari Lengkap

     Candi Kidal adalah salah satu candi warisan dari kerajaan Singasari. Candi ini dibangun sebagai bentuk penghormatan atas jasa besar Anusapati, Raja kedua dari Singhasari, yang memerintah selama 20 tahun (1227 - 1248). Kematian Anusapati dibunuh oleh Panji Tohjaya sebagai bagian dari perebutan kekuasaan Singhasari, juga diyakini sebagai bagian dari kutukan Mpu Gandring.

Sejarah Lengkap Kerajaan Singosari

Suku Betawi merupakan sebuah suku bangsa di Indonesia yang penduduknya umumnya bertempat tinggal di Jakarta. Mereka adalah keturunan penduduk yang bermukim di Batavia (nama kolonial dari Jakarta) dari sejak abad ke-17.

Sejarah Betawi diawali pada masa zaman batu yang menurut Sejarawan Sagiman MD sudah ada sejak zaman neolitikum. Arkeolog Uka Tjandarasasmita dalam monografinya "Jakarta Raya dan Sekitarnya Dari Zaman Prasejarah Hingga Kerajaan Pajajaran" (1977) secara arkeologis telah memberikan bukti-bukti yang kuat dan ilmiah tentang sejarah penghuni Jakarta dan sekitarnya dari masa sebelum Tarumanagara pada abad ke-5. 

Dikemukakan bahwa paling tidak sejak zaman neolitikum atau batu baru (3500–3000 tahun yang lalu) daerah Jakarta dan sekitarnya di mana terdapat aliran-aliran sungai besar seperti Ciliwung, Cisadane, Kali Bekasi, Citarum pada tempat-tempat tertentu sudah didiami oleh masyarakat manusia yang menyebar hampir di seluruh wilayah Jakarta.


Dari alat-alat yang ditemukan di situs-situs itu, seperti kapak, beliung, pahat, pacul yang sudah diumpam halus dan memakai gagang dari kayu, disimpulkan bahwa masyarakat manusia itu sudah mengenal pertanian (mungkin semacam perladangan) dan peternakan. Bahkan juga mungkin telah mengenal struktur organisasi kemasyarakatan yang teratur.

Sementara Yahya Andi Saputra (Alumni Fakultas Sejarah Universitas Indonesia), berpendapat bahwa penduduk asli Betawi adalah penduduk Nusa Jawa. Menurutnya, dahulu kala penduduk di Nusa Jawa merupakan satu kesatuan budaya. Bahasa, kesenian, dan adat kepercayaan mereka sama. Dia menyebutkan berbagai sebab yang kemudian menjadikan mereka sebagai suku bangsa sendiri-sendiri.

Pertama, munculnya kerajaan-kerajaan pada zaman sejarah.Kedua, kedatangan dan pengaruh penduduk dari luar Nusa Jawa.Terakhir, perkembangan kemajuan ekonomi daerah masing-masing.

Penduduk asli Betawi berbahasa Kawi (Jawa kuno). Di antara penduduk juga mengenal huruf hanacaraka (abjad bahasa Jawa dan Sunda). Jadi, penduduk asli Betawi telah berdiam di Jakarta dan sekitarnya sejak zaman dahulu.

Pada abad ke-2, Menurut Yahya Andi Saputra Jakarta dan sekitarnya termasuk wilayah kekuasaan Kerajaan Salakanagara atau Holoan yang terletak di kaki Gunung Salak, Bogor. Penduduk asli Betawi adalah rakyat Kerajaan Salakanagara. Pada zaman itu perdagangan dengan Cina telah maju. Bahkan, pada tahun 432 M Salakanagara telah mengirim utusan dagang ke Tiongkok.

Pada akhir abad ke-5 berdiri kerajaan Hindu Tarumanagara di tepi sungai Citarum. Menurut Yahya, ada yang menganggap Tarumanagara merupakan kelanjutan Kerajaan Salakanagara. Hanya saja ibukota kerajaan dipindahkan dari kaki gunung Salak ke tepi sungai Citarum.

Penduduk asli Betawi menjadi rakyat kerajaan Tarumanagara. Tepatnya letak ibu kota kerajaan di tepi sungai Candrabhaga, yang oleh Poerbatjarakadiidentifikasi dengan sungai Bekasi. Candraberarti bulan atau sasih, jadi ucapan lengkapnya Bhagasasi atau Bekasi, yang terletak di sebelah timur pinggiran Jakarta.

Di sinilah, menurut perkiraan Poerbatjaraka, letak istana kerajaan Tarumanengara yang termasyhur itu. Raja Hindu ini ternyata seorang ahli pengairan. Raja mendirikan bendungan di tepi kali Bekasi dan Kalimati. Maka sejak saat itu rakyat Tarumanagara mengenal persawahan menetap.

Pada zaman Tarumagara kesenian mulai berkembang. Petani Betawi membuat orang-orangan sawah untuk mengusir burung. Orang-orangan ini diberi baju dan bertopi, yang hingga kini masih dapat kita saksikan di sawah-sawah menjelang panen. Petani Betawi menyanyikan lagu sambil menggerak-gerakkan tangan orang-orangan sawah itu.

Jika panen tiba petani bergembira. Sawah subur, karena diyakini Dewi Sri menyayangi mereka. Dewi Sri, menurut mitologi Hindu, adalah dewi kemakmuran. Penduduk mengarak barongan yang dinamakan ondel-ondel untuk menyatakan mereka punya kagumbiraan. Ondel-ondel pun diarak dengan membunyikan gamelan.

Nelayan juga bergembira menyambut panen laut. Ikan segar merupakan rezeki yang mereka dapatkan dari laut. Karenanya mereka mengadakan upacara nyadran. Ratusan perahu nelayan melaut mengarak kepala kerbau yang dilarungkan ke laut.

Pada abad ke-7 Kerajaan Tarumanagara ditaklukkan Kerajaan Sriwijaya yang beragama Buddha. Di zaman kekuasaan Sriwijaya berdatangan penduduk Melayu dari Sumatera. Mereka mendirikan permukiman di pesisir Jakarta. Kemudian bahasa Melayu menggantikan kedudukan bahasa Kawi sebagai bahasa pergaulan.

Ini disebabkan terjadinya perkawinan antara penduduk asli dengan pendatang Melayu. Bahasa Melayu mula-mula hanya dipakai di daerah pesisir saja kemudian meluas sehingga ke daerah kaki Gunung Salak dan Gunung Gede. Bagi masyarakat Betawi keluarga punya arti penting.

Kehidupan berkeluarga dipandang suci. Anggota keluarga wajib menjunjung tinggi martabat keluarga. Dalam keluarga Betawi ayah disebut baba. Tetapi ada juga yang menyebutnya babe, mba, abi atau abah — pengaruh para pendatang dari Hadramaut, Yaman. Ibu disebut mak. Tetapi tidak kurang banyaknya yang menyebut umi atau enya' dari kata nyonya. Anak pertama dinamakan anak bongsor dan anak bungsu dinamakan anak bontot.

Pada sekitar abad ke-10. Saat terjadi persaingan antara orang Melayu yaitu Kerajaan Sriwijaya dengan orang Jawa yang tak lain adalah Kerajaan Kediri. Persaingan ini kemudian menjadi perang dan membawa Tiongkok ikut campur sebagai penengah karena perniagaan mereka terganggu. Perdamaian tercapai, kendali lautan dibagi dua, sebelah Barat mulai dari Cimanuk dikendalikan Sriwijaya, sebelah timur mulai dari Kediri dikendalikan Kerajaan Kediri. Artinya pelabuhan Kalapa termasuk kendali Sriwijaya.

Sriwijaya kemudian meminta mitranya yaitu Syailendra di Jawa Tengah untuk membantu mengawasi perairan teritorial Sriwijaya di Jawa bagian barat. Tetapi ternyata Syailendara abai maka Sriwijaya mendatangkan migran suku Melayu Kalimantan bagian barat ke Kalapa.

Pada periode itulah terjadi persebaran bahasa Melayu di Kerajaan Kalapa yang pada gilirannya – karena gelombang imigrasi itu lebih besar ketimbang pemukin awal – bahasa Melayu yang mereka bawa mengalahkan bahasa Sunda Kawi sebagai lingua franca di Kerajaan Kalapa.

Sejarahwan Ridwan Saidi mencontohkan, orang “pulo”, yaitu orang yang berdiam di Kepulauan Seribu, menyebut musim di mana angin bertiup sangat kencang dan membahayakan nelayan dengan “musim barat” (bahasa Melayu), bukan “musim kulon” (bahasa Sunda), orang-orang di desa pinggiran Jakarta mengatakan “milir”, “ke hilir” dan “orang hilir” (bahasa Melayu Kalimantan bagian barat) untuk mengatakan “ke kota” dan “orang kota”.

Perjanjian antara Surawisesa (raja Kerajaan Pajajaran) dengan bangsa Portugis pada tahun 1512 yang membolehkan Portugis untuk membangun suatu komunitas di Sunda Kalapa mengakibatkan perkawinan campuran antara penduduk lokal dengan bangsa Portugis yang menurunkan darah campuran Portugis. Dari komunitas ini lahir musik keroncong atau dikenal sebagai Keroncong Tugu.

Setelah VOC menjadikan Batavia sebagai pusat kegiatan niaganya, Belanda memerlukan banyak tenaga kerja untuk membuka lahan pertanian dan membangun roda perekonomian kota ini. Ketika itu VOC banyak membeli budak dari penguasa Bali, karena saat itu di Bali masih berlangsung praktik perbudakan.

Itulah penyebab masih tersisanya kosakata dan tata bahasa Bali dalam bahasa Betawi kini. Kemajuan perdagangan Batavia menarik berbagai suku bangsa dari penjuru Nusantara hingga Tiongkok, Arab dan India untuk bekerja di kota ini. Pengaruh suku bangsa pendatang asing tampak jelas dalam busana pengantin Betawi yang banyak dipengaruhi unsur Arab dan Tiongkok.

Berbagai nama tempat di Jakarta juga menyisakan petunjuk sejarah mengenai datangnya berbagai suku bangsa ke Batavia, Kampung Melayu, Kampung Bali, Kampung Ambon, Kampung Jawa, Kampung Makassar dan Kampung Bugis. Rumah Bugis di bagian utara Jalan Mangga Dua di daerah kampung Bugis yang dimulai pada tahun 1690.

Pada April 1967 di majalah Indonesia terbitan Cornell University, Amerika, sejarahwan Australia, Lance Castles mengumumkan penelitiannya menyangkut asal usul orang Betawi. Hasil penelitian yang berjudul “The Ethnic Profile of Jakarta” menyebutkan bahwa orang Betawi terbentuk pada sekitar pertengahan abad ke-19 sebagai hasil proses peleburan dari berbagai kelompok etnis yang menjadi budak di Batavia.

Secara singkat sketsa sejarah terjadinya orang Betawi menurut Castles dapat ditelusuri dari:

- Daghregister, yaitu catatan harian tahun 1673 yang dibuat Belanda yang berdiam di dalam kota benteng Batavia.
- Catatan Thomas Stanford Raffles dalam History of Java pada tahun 1815.
- Catatan penduduk pada Encyclopaedia van Nederlandsch Indie tahun 1893
- Sensus penduduk yang dibuat pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1930.

Oleh karena klasifikasi penduduk dalam keempat catatan itu relatif sama, maka ketiganya dapat diperbandingkan, untuk memberikan gambaran perubahan komposisi etnis di Jakarta sejak awal abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebagai hasil rekonstruksi, angka-angka tersebut mungkin tidak mencerminkan situasi yang sebenarnya, namun menurut Castles hanya itulah data sejarah yang tersedia yang relatif meyakinkan walaupun hasil kajian yang dilakukan Castles mendapatkan banyak kritikan karena hanya menitikberatkan kepada skesta sejarah yang baru ditulis tahun 1673.

Mengikuti kajian Castles, antropolog Universitas Indonesia, Dr. Yasmine Zaki Shahab, M.A. memperkirakan etnis Betawi baru terbentuk sekitar seabad lalu, antara tahun 1815-1893. Di zaman kolonial Belanda, pemerintah selalu melakukan sensus, yang dibuat berdasarkan bangsa atau golongan etnisnya. Dalam data sensus penduduk Jakarta tahun 1615 dan 1815, terdapat penduduk dari berbagai golongan etnis, tetapi tidak ada catatan mengenai golongan etnis Betawi.

Hasil sensus tahun 1893menunjukkan hilangnya sejumlah golongan etnis yang sebelumnya ada. Misalnya saja orang Arab dan Moor, orang Melayu, orang Bali, Jawa, Sunda, orang Sulawesi Selatan, orang Sumbawa, orang Ambon dan Banda. Kemungkinan kesemua suku bangsa Nusantara dan Arab Moor ini dikategorikan ke dalam kesatuan penduduk pribumi (bahasa Belanda: inlander) di Batavia yang kemudian terserap ke dalam kelompok etnis Betawi.

Pada zaman kolonial Belanda tahun 1930, kategori orang Betawi yang sebelumnya tidak pernah ada justru muncul sebagai kategori baru dalam data sensus tahun tersebut. Jumlah orang Betawi sebanyak 778.953 jiwa dan menjadi mayoritas penduduk Bataviawaktu itu.

Namun menurut Uka Tjandarasasmita penduduk asli Jakarta telah ada sejak 3500-3000 tahun sebelum masehi. Antropolog Universitas Indonesia lainnya, Prof. Dr. Parsudi Suparlan menyatakan, kesadaran sebagai orang Betawi pada awal pembentukan kelompok etnis itu juga belum mengakar.

Dalam pergaulan sehari-hari, mereka lebih sering menyebut diri berdasarkan lokalitas tempat tinggal mereka, seperti orang Kemayoran, orang Senen, atau orang Rawabelong.

Pengakuan terhadap adanya orang Betawi sebagai sebuah kelompok etnis dan sebagai satuan sosial dan politik dalam lingkup yang lebih luas, yakni Hindia Belanda, baru muncul pada tahun 1923, saat Husni Thamrin, tokoh masyarakat Betawi mendirikan Pemoeda Kaoem Betawi. Baru pada waktu itu pula segenap orang Betawi sadar mereka merupakan sebuah golongan, yakni golongan orang Betawi.

Dr. Yasmine Zaki Shahab, M.A. berpendapat bahwa hingga beberapa waktu yang lalu penduduk asli Jakarta mengidentifikasikan dirinya sebagai orang Melayu atau menurut lokasi tempat tinggal mereka, seperti orang Kwitang; orang Kemayoran; orang Tanah Abang dan seterusnya.

Setelah tahun 1970-an yang merupakan titik balik kebangkitan kebetawian di Jakarta telah terjadi pergeseran lebel dari Melayu ke Betawi. Orang yang dulu menyebut kelompoknya sebagai Melayu telah menyebut dirinya sebagai orang Betawi.

Ada juga yang berpendapat bahwa orang Betawi tidak hanya mencakup masyarakat campuran dalam benteng Batavia yang dibangun oleh Belanda tapi juga mencakup penduduk di luar benteng tersebut yang disebut masyarakat proto Betawi. Penduduk lokal di luar benteng Batavia tersebut sudah menggunakan bahasa Melayu yang umum digunakan di Sumatera, Kalimantan, Semenanjung Malaka, Brunei dan Thailand Selatan yang kemudian dijadikan sebagai bahasa Indonesia.

Sejak akhir abad yang lalu dan khususnya setelah kemerdekaan (1945), Jakarta dibanjiri imigran dari seluruh Indonesia, sehingga orang Betawi — dalam arti apapun juga — tinggal sebagai minoritas. Pada tahun 1961, 'suku' Betawi mencakup kurang lebih 22,9 persen dari antara 2,9 juta penduduk Jakarta pada waktu itu.

Mereka semakin terdesak ke pinggiran, bahkan ramai-ramai digusur dan tergusur ke luar Jakarta. Proses asimilasi dari berbagai suku yang ada di Indonesia hingga kini terus berlangsung dan melalui proses panjang itu pulalah salah satu caranya ’suku’ Betawi hadir.

Sumber : Wikipedia.org

Sejarah Asal Usul Orang Betawi (Suku Betawi)

Subscribe Our Newsletter