Tampilkan postingan dengan label kota tertua Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kota tertua Indonesia. Tampilkan semua postingan
Beberapa peneliti dari Eropa mengatakan bahwa pulau Jawa dan pulau Bali sebenarnya masih satu daratan. Akibat adanya gunung api meletus, daratan ini terbelah menjadi dua seperti sekarang yg dibatasi dengan Selat Bali.


Dalam sejarah Bali juga disebutkan bahwa Jawa dan Bali adalah satu daratan panjang yg disebut pulau Dawa (pulau panjang). Secara ilmiah mungkin argumentasi dari peneliti-peneliti bisa dibenarkan.

Tetapi orang Bali memiliki cerita tersendiri tentang pemisahan Pulau Jawa dengan Pulau Bali ini yg dikenal dgn peristiwa SEGARA RUPEK.

Mpu Siddhimantra, putra Mpu Tantular dari kerajaan Daha (Kediri-Jawa Timur), adalah seorang pendeta sakti abad XIV yg memiliki seorang sahabat berwujud naga di Bali. Naga itu bernama Naga Basukih yg berdiam di goa dekat Pura Besakih.

Persahabatan antara sang Mpu dengan sang Naga membuat sang Mpu sering mengunjungi sahabatnya itu setiap bulan purnama untuk bercakap-cakap sambil membawakan makanan berupa susu, mentega dan madu. Sebagai gantinya, sang Naga menghadiahi Mpu perhiasan emas, permata dan berlian.

Mpu Siddhimantra mempunyai satu putra bernama Manik Angkeran, yg gemar berjudi. Dia telah banyak menghabiskan harta sang Mpu ayahnya untuk bertaruh. Suatu bulan purnama sang Mpu sakit dan tidak bisa pergi mengunjungi sang Naga sahabatnya.

Mengetahui bahwa sang ayah sakit, Manik Angkeran yg sedang memerlukan modal untuk berjudi kemudian mencuri bajra (genta) sang ayah dan pergi ke Bali menemui Naga Basuki, dengan maksud mendapatkan emas, permata dan berlian sebagai hadiah yg biasanya diberikan sang Naga kepada ayahnya.

Sesampai di mulut gua, Manik Angkeran membunyikan genta dan sang Naga keluar. Dia menyampaikan bahwa ayahnya Mpu Siddhimantra sedang sakit dan mengutus dirinya untuk membawakan susu, mentega dan madu kehadapan sang Naga.

Sebagai balasan, sang Naga memberikan emas, permata dan berlian kepada Manik Angkeran. Saat sang Naga masuk ke dalam gua, Manik Angkeran terkesima dengan batu permata yg bercahaya pada ekor sang naga. Tanpa basa-basi dipotongnya-lah ekor itu sambil membawa kabur permata nan elok itu.


Sial, sebelum sampai di Kediri, Sang Naga Basuki menemui jejak kaki Manik Angkeran dan menjilatnya. Kekuatan sakti Naga Basuki mampu membakar Manik Angkeran menjadi abu di Cemara Geseng. Diceritakan kemudian Mpu Siddhimantra mengetahui genta-nya hilang pergi menemui Naga Basuki sambil menanyakan keberadaan putranya Manik Angkeran.

Sang Naga menceritakan kejadian tewasnya Manik Angkeran karena telah memotong ekornya. Akhirnya Mpu Siddhimantra berjanji akan menyatukan kembali ekor Naga Basuki, dan Naga Basuki juga berjanji akan menghidupkan kembali Manik Angkeran.

Setelah ekor naga disatukan dan Manik Angkeran hidup kembali, Mpu Siddhimantra memerintahkan anaknya Manik Angkeran untuk berdiam di Bali dan menjadi abdi pura Besakih sebagai pemangku (orang suci).

Agar sang anak tidak balik mengikuti ayahnya ke Kediri (Jawa Timur), dengan kesaktiannya Mpu Siddimantra menorehkan tongkatnya di Blambangan (Banyuwangi sekarang), sehingga daratan terpisah menjadi dua yang sekarang menjadi Pulau Jawa dan Pulau Bali.

Sampai dengan sekarang, para pemangku di pura Besakih wajib memiliki trah keturunan Manik Angkeran. Peristiwa terbelahnya daratan oleh tongkat sakti Mpu Siddhimantra disebut dengan peristiwa Segara Rupek yg memunculkan selat Bali, yg sekarang adalah jalur penyeberangan Jawa-Bali (Ketapang-Gilimanuk).

Sejarah Terputus dan Terpisahnya Pulau Jawa Dan Pulau Bali

Para ahli telah bersepakat bahwa Pulau Jawa dengan Sumatera dulu Pernah menyatu. Bahkan penyatuan itu Bersama Kalimantan, kemudian membentuk dataran yang disebut Sunda Besar. Maka, bisa dibayangkan betapa besarnya sunda besar itu.


Sejarah pemisahan antara Pulau Jawa dan Sumatera itu memiliki dua versi penyebabnya. Pertama, pemisahan Jawa dan Sumatera diyakini adalah akibat gerakan lempeng Bumi. Kedua, pendapat yang mengatakan bahwa pemisahan itu akibat letsan gunung Krakatau.

Pendapat yang mendukung pemisahan Jawa dan Sumatera karena letusan gunung Krakatau biasanya mengacu pada Pustaka Raja Purwa, yang ditulis pujangga besar Jawa, Ronggowarsito, pada tahun 1869.

Dalam buku ini dikisahkan, letusan Gunung Kapi yang belakangan diidentifikasi sebagai Gunung Krakatau menjadi penyebab pemisahan Pulau Jawa dan Sumatera. Peristiwa ini disebutkan terjadi pada tahun 416 Masehi.

Peneliti dari Los Alamos National Laboratory (New Mexico), Ken Wohletz, termasuk yang mendukung tentang kemungkinan letusan besar Krakatau purba hingga memisahkan Pulau Jawa dan Sumatera. Dia membuat simulasi tentang skenario letusan super. Namun, berbeda dengan Ronggowarsito, Ken menyebutkan, letusan itu kemungkinan terjadi puluhan ribu tahun lalu.

Melalui penanggalan karbon dan radioaktif, para ahli geologi memastikan bahwa Krakatau pernah beberapa kali meletus hebat. "Sepertinya pembentukan Selat Sunda tidak mungkin karena sebuah letusan tunggal besar, seperti ditulis dalam legenda (Pustaka Raja Purwa) itu.

Setidaknya ada dua periode letusan besar di Krakatau, tetapi itu sekitar ratusan bahkan ribuan tahun lalu, tidak pada tahun 416 Masehi," sebut Zeilinga de Boer dan Donald Theodore Sannders dalam Volcanoes in Human History, 2002.

Walaupun pencatatan Ronggowarsito tentang waktu letusan masa lalu Krakatau diragukan ketepatannya, pujangga ini barangkali benar soal "pemisahan" Pulau Jawa dengan Sumatera yang berkaitan erat dengan letusan Krakatau.

Namun, pemisahan Jawa dan Sumatera sepertinya bukan karena letusan Krakatau. Sebaliknya, Krakatau terbentuk karena pemisahan kedua pulau ini sebagai produk gerakan tektonik di dalam Bumi.

Geolog dari Museum Geologi, Indyo Pratomo pernah mengatakan, pemisahan Jawa dan Sumatera terjadi karena gerakan tektonik. ”Pulau Jawa dan Sumatera bergerak dengan kecepatan dan arah yang berbeda akibat tumbukan lempeng Indo-Australia ke Euro-Asia. Perbedaan ini menyebabkan terbukanya celah di dalam Bumi.

Gunung Krakatau tepatnya gunung Anak Krakatau yang merupakan gunung Krakatau Muda,  adalah kepulauan vulkanik yang masih aktif dan berada di Selat Sunda antara pulau Jawa dan Sumatra. Nama ini pernah disematkan pada satu puncak gunung berapi di sana (Gunung Krakatau) yang sirna karena letusannya sendiri pada tanggal 26-27 Agustus 1883.

Letusan itu sangat dahsyat; awan panas dan tsunami yang diakibatkannya menewaskan sekitar 36.000 jiwa. Suara letusan itu terdengar sampai di Alice Springs, Australia dan Pulau Rodrigues dekat Afrika, 4.653 kilometer. Daya ledaknya diperkirakan mencapai 30.000 kali bom atom yang diledakkan di Hiroshima dan Nagasaki di akhir Perang Dunia II.

Letusan Krakatau menyebabkan perubahan iklim global. Dunia sempat gelap selama dua setengah hari akibat debu vulkanis yang menutupi atmosfer. Matahari bersinar redup sampai setahun berikutnya. Hamburan debu tampak di langit Norwegia hingga New York.

Ledakan Krakatau ini sebenarnya masih kalah dibandingkan dengan letusan Gunung Toba dan Gunung Tambora di Indonesia, Gunung Tanpo di Selandia Baru dan Gunung Katmal di Alaska.

Namun gunung-gunung tersebut meletus jauh di masa populasi manusia masih sangat sedikit. Sementara ketika Gunung Krakatau meletus, populasi manusia sudah cukup padat, sains dan teknologi telah berkembang, telegraf sudah ditemukan, dan kabel bawah laut sudah dipasang. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa saat itu teknologi informasi sedang tumbuh dan berkembang pesat.

Tercatat bahwa letusan Gunung Krakatau adalah bencana besar pertama di dunia setelah penemuan telegraf bawah laut. Kemajuan tersebut, sayangnya belum diimbangi dengan kemajuan di bidang geologi. Para ahli geologi saat itu bahkan belum mampu memberikan penjelasan mengenai letusan tersebut.

Jadi, sudah bisa dibayangkan betapa  besar dan dahsyatnya kekuatan letusan gunung Krakatau ketika itu, atau betapa hebatnya  pergerakan lempeng bumi ketika itu yang dapat memecah atau memisahkan pulau Jawa dan Sumatera, bahkan juga Kalimantan.

Dan bisa dibayangkan lagi betapa besar dan banyaknya korban nyawa manusia jika itu terjadi pada zaman sekarang dimana populasi manusia zaman sekarang yang sudah sangat besar. Pada tahun 1880-an saja korban nyawa sudah mencapai 36.000 jiwa, jika itu terjadi sekarang, entah berapa juta manusia yang harus korban.

SUMBER : NETRALNEWS,COM

Inilah Sejarah Terpisahnya Pulau Jawa Dengan Sumatra

Indonesia adalah negara dengan begitu banyak kota dan daerah di dalamnya. Indonesia juga negara yang banyak diberkahi kejaiban alam dan budaya.

Berikut ini kita akan membahas Kabupaten dan Kota-kota tertua di Indonesia menurut tahun Berdirinya dan pada sejarahnya di masa lampau.

Berikut keterangannya :

1. PALEMBANG


Palembang adalah kota terbesar kedua di Pulau Sumatera setelah Kota Medan. Kota ini memiliki luas wilayah sekitar 358,55 kilometer persegi. Lebih dari 1,7 juta orang tinggal di kota yang berjuluk Bumi Sriwijaya ini. Ikon utama dari kota ini adalah Jembatan Ampera yang khas.

Kota ini berdiri pada 16 Juni 682 Masehi, seperti yang tertulis di sebuah prasasti Kedukan Bukit. Keberadaan prasasti tersebut juga mengukuhkan posisi Palembang sebagai kota tertua di Indonesia.

Kota tersebut juga menjadi pusat Kerajaan Sriwijaya yang merupakan kekuatan maritime terbesar se-Asia Tenggara.

2. SALATIGA


Salatiga merupakan kota kecil yang terletak di Provinsi Jawa Tengah yang berdiri sejak tahun 750 Masehi. Meskipun kota ini kecil, namun kota ini menyimpan sejarah yang panjang dan kuat karena pernah megalami sebuah peperangan hebat di masa kerajaan.

Lahirhnya kota Salatiga ini tertuang dalam sebuah tulisan yang tertera jelas di atas sebuah batu andesit, yang dikenal sebagai Prasasti Plumpungan. Prasasti tersebut berada di Desa Kauman Kidul, Sidorejo.

3. KEDIRI


Kota KEDIRI adalah salah satu kota tertua di Indonesia yang berdiri sejak 25 Maret tahun 879 Masehi. Kota ini terletak di Porvinsi Jawa Timur dengan luas wilayah mencapai 63,40 kilometer persegi. Kota Kediri juga dikenal sebagai pusat perdagangan gula dan rokok terbesar di Indonesia.

Sejarah kerajaan Kediri dan Singasari memang sangat kental dengan kota ini. Berbagai peninggalan kerajaan-kerjaan pun terdapat di Kota Kediri. Selain itu, kota Kediri ini memiliki sebuah bangunan yang mirip dengan Monumen Arc de Triomphe yang ada di paris, monument tersebut memang dibuat mirip dan dijadikan sebagai ikon kota Kediri, nama Monumen tersebut adalah Monumen Simpan Lima Gumul.

4. MAGELANG


Kota tertua di Indonesia selanjutnya adalah Magelang. Kota Kecil ini memang menawan dan terletak di Provinsi Jawa Tengah. Meskipun kota ini kecil, namun memiliki sejarah yang sangat kuat dan bernilai tinggi. Kota Magelang terkenal karena menjadi lokasi salah satu keajaiban dunia, yaitu Candi Borrobudur.

Magaleng resmi didirikan sebagai kota pada 11 April 907 Masehi. Pada abad ke-18 Inggris pernah memerintah kota Magelang dan dijadikan pusat pemerintahan. Bupati pertama yang mempelopori pengembangan kota Magelang adalah Mas Ngabehi Danurukmo.

5. PURWOREJO


Kota selanjutnya adalah PURWOREJO, kota ini adalah sebuah kota yang terletak di selatan Jawa Tengah yang memiliki sejarah yang sangat panjang. Usia kota ini sendiri diperkirakan mencapai 1115 karena lahir pada 5 oktober 901 Masehi yang ditentukan sesuai dengan peristiwa pematokan tanah yang tercatat di prasasti Boro Tengah dan prasasti Kayu Ara Hiwang yang menandai beridirinya kota ini.

6. PASURUAN


Selanjutnya adalah Pasuruan, kota ini berdiri Pada tanggal 18 September 929 Masehi, berdasarkan ditemukannya Prasasti Cunggrang yang merupakan salah satu prasasti peninggalan Kerajaan Mataram Kuno yang terletak di Dusun Sukci, Desa Bulusari, Kecamatan Gempol.

Karena berada di dekat pemakaman umum, suasana prasasti ini terkesan sedikit mistis.
Prasasti Cunggrang ini dibuat oleh Mpu Sendok, sang Pendiri Wangsa Isyana Kerajaan Medang (Mataram Kuno) pada tanggal 18 September tahun 851 Saka atau 929 Masehi.

Prasasti ini dibangun sebagai ucapan terima kasih kepada penduduk Dusun Cunggrang (sekarang disebut dengan Dusun Sukci) yang telah bergotong royong merawat pertapaan, prasada, dan pancuran air di Gunung Penanggungan yang saat itu disebut dengan Pawitra.

Ini membuktikan bahwa budaya gotong royong sudah ada sejak dulu di Pasuruan. Isi dari Prasasti Cunggrang yang terdiri dari tulisan Jawa kuno yang diukirkan tidak dapat terbaca dengan jelas dikarenakan banyak bagian yang rumpil. Namun, inti dari prasasti tersebut menjelaskan bahwa daerah yang bernama Cunggrang, dijadikan daerah sima, yaitu daerah yang dibebaskan dari pajak oleh Kerajaan Mataram.

7. NGANJUK


Yang selanjutnya Kabupaten Nganjuk, Kabupaten ini berdiri Pada tanggal 10 April 937 Masehi, berdasarkan Prasasti Anjukladang yang dikeluarkan Maharaja Mpu Sindok atas jasa-jasa penduduk desa Anjukladang dalam membantu memerangi musuh negara.
Prasasti Anjuk Ladang adalah piagam batu berangka tahun 859 Saka (versi Brandes, 935 M) yang dikeluarkan oleh Raja Sri Isyana (Pu Sindok) dari Kerajaan Medang setelah pindah ke bagian timur Pulau Jawa.

Prasasti ini juga disebut Prasasti Candi Lor karena ditemukan pada reruntuhan Candi Lor, di Desa Candirejo, Loceret, Nganjuk, beberapa kilometer di tenggara kota Nganjuk.

Itulah beberapa kota paling Tua di seluruh Indonesia. Semoga bermanfaat dan menambah pengetahuan kita.

Daftar Kabupaten dan Kota Tertua di Indonesia