Social Items

Showing posts with label kisah sahabat nabi. Show all posts
Showing posts with label kisah sahabat nabi. Show all posts
Bilal bin Rabah adalah seorang budak kulit hitam, dan hampir pasti orang tuanya pun budak juga. Dia diyakini berasal dari Abyssinia (sekarang dikenal sebagai Ethiopia). Orang tua Bilal termasuk tawanan yang dibawa dari Etihopia ke Arabia.


Terlahir dalam perbudakan, dia mungkin tidak pernah mengharapkan bentuk kehidupan untuk ditawarkan kepadanya selain dari sekadar kerja keras, kesakitan, dan kesusahan.

Bilal adalah satu dari sekian banyak orang yang diperbudak oleh seorang kepala suku Quraisy bernama Umayyah bin Khalaf. Umayyah adalah salah seorang pemuka Bani Jumah. Salah satu tugas yang ditugaskan oleh tuannya adalah untuk menggembalakan unta di bawah terik matahari di padang pasir Mekah pada siang hari.

Di malam hari tugasnya menyajikan makanan dan anggur kepada tuannya. Umayyah bin Khalaf diriwayatkan apabila sedang makan dia seperti binatang yang makan dengan rakus sampai kekenyangan, kemudian mabuk dan tertidur.

Dia memperlakukan budaknya secara tidak manusiawi, tidak ada satupun yang bisa mengatakan ‘tidak’ atas perintahnya atau menunjukkan tanda-tanda mengeluh. Umayyah bin Khalaf menyukai Bilal hanya karena tubuhnya yang kuat, jika tidak, dia pasti akan membuangnya seperti kain gombal atau membunuhnya tanpa ampun. Bilal harus melakukan yang terbaik untuk memuaskan tuannya, dia harus menjaga tubuhnya tetap kuat dan sehat sehingga bisa mengurus harta benda tuannya.

Umayyah bin Khalaf membeli Bilal saat masih kecil. Dari saat pertama dia masuk ke dalam rumah tuannya, Bilal menerima semua perlakuan buruk dan kasar dari setiap anggota keluarganya. Tidak ada seorang pun dari mereka yang menghormati atau memberinya waktu istirahat dari banyak beban yang diperintahkannya untuk dipikul.

Seiring berjalannya waktu, Bilal merasa bahwa dia akan menghabiskan seluruh hidupnya di bawah perbudakan. Dia lemah, tidak punya uang untuk membayar kebebasannya, atau memiliki kekuatan untuk melindungi dirinya dari kekejaman tuannya.

Bahkan jika dia ingin mencari kebebasan, seluruh masyarakat akan berbalik melawan dia. Dia akan disebut ‘budak yang melarikan diri’. Seperti biasa, Bilal menyembah berhala yang terbuat dari batu karena tuannya menginginkan dia melakukannya.

Namun, Bilal tahu di dalam hatinya bahwa batu-batu semacam itu tidak akan bisa membahayakan dirinya atau pun membuatnya lebih baik. Berkali-kali, dia tertegun di depan berhala dan meminta mereka untuk memberkati dia. Dia yakin bahwa situasi masyarakat di Mekah akan berubah tapi dia tidak tahu bagaimana perubahan semacam itu akan dimulai.

BERITA TENTANG NABI MUHAMMAD

Hari-hari Bilal tidak berbeda dengan budak lainnya. Hari-harinya dilalui dengan rutinitas yang menyengsarakan dan tidak memiliki harapan untuk hari esok. Suatu saat, berita-berita tentang Muhammad yang diceritakan dari mulut ke mulut para penduduk Mekah sampai juga ke telinganya. Dari tamu-tamu yang datang menemui tuannya, Bilal mendengar percakapan mereka yang mengutuk, marah, menuduh, mengancam, dan membenci Muhammad.

Namun, di antara pembicaraan tentang keburukan Muhammad, Bilal juga mendengar tentang ajaran-ajaran yang disampaikan Muhammad. Di antaranya yang dia dengar adalah bahwa Muhammad mengaku dirinya seorang Nabi, dan dia menyeru orang untuk menyembah Allah, Tuhan satu-satunya; Muhammad juga menganjurkan untuk memperlakukan satu sama lain dengan keadilan dan kesetaraan; bahwa semua orang sama di hadapan Pencipta mereka, satu-satunya hal yang membuat seseorang berbeda adalah keyakinannya terhadap Allah dan kebenaran-Nya; Muhammad juga mendesak orang-orang Mekah untuk meninggalkan dewa-dewa palsu mereka, dan menyembah hanya kepada Yang Maha Esa, Pencipta seluruh alam semesta; dan Muhammad juga menyerukan kepada pembesar-pembesar untuk memperlakukan budak mereka dengan baik.

Apa yang disampaikan oleh Muhammad, bagi Bilal itu merupakan suatu hal yang aneh dan baru. Bilal semakin tertarik. Terlebih, walapun Umayyah dan teman-temannya membicarakan sesuatu yang buruk tentang Muhammad, namun mereka juga sebenarnya takjub dengan pribadi Muhammad. “Tidak pernah Muhammad berdusta atau menjadi tukang sihir. Tidak pula sinting atau berubah akal, walau kita terpaksa menuduhnya demikian, demi untuk membendung orang-orang yang memasuki agamanya!” kata salah seorang dari mereka kepada yang lainnya.

Bilal juga mendengarkan percakapan mereka tentang kesetiaan Muhammad menjaga amanat, tentang kejujuran dan ketulusannya, tentang akhlak dan kepribadiannya. Didengarnya juga bisik-bisik mengenai sebab mereka menentang dan memusuhi Muhammad, yaitu karena: pertama, kesetiaan mereka terhadap kepercayaan yang diwariskan oleh nenek moyang, dan kedua, khawatir akan merosotnya kemuliaan suku Quraisy sebagai pemegang kuasa pusat tempat ibadah dan ritual haji di jazirah Arab, dan ketiga, kedengkian terhadap Bani Hasyim (keluarga Muhammad), mereka mempertanyakan kenapa Nabi dan Rasul baru tersebut bukannya keluar dari golongan mereka.

Mendengar itu semua, di sela-sela rutinitasnya sebagai budak, keseharian Bilal selanjutnya dipenuhi dengan perenungan tentang Islam. Sepanjang hari ketika sedang menggembala ternak dia terus berpikir tentang ide-ide yang sebelumnya bahkan untuk diimajinasikan saja dia tidak berani. Dia berpikir dalam-dalam tentang Pencipta dan Ciptaannya.

Esok, ucapkanlah kata-kata yang baik terhadap Tuhan-tuhan kami, sebutlah, ‘Tuhanku Lata dan ‘Uzza’, nanti kami lepaskan dan biarkan engkau sesuka hatimu. Telah letih kami menyiksamu, seolah-olah kami sendirilah yang disiksa!” Bilal hanya menggelengkan kepalanya dan berkata, “Ahad…. Ahad….”

Setelah melalui berbagai perenungan yang panjang, pada suatu hari Bilal “menyaksikan” cahaya Ilahi, dan hatinya berkata dengan sebuah dorongan yang murni untuk menemui Muhammad.

Maka di hadapan Sang Nabi, Bilal menyatakan keislmannya, “ʾašhadu ʾal lā ilāha illa l-Lāh wa ʾašhadu ʾanna muḥammadar rasūlu l-Lāh”. Bilal sebagaimana sebagian muslim lainnya pada waktu itu masih merahasiakan keislamannya.

Namun, malang tak dapat dihindarkan, berita mengenai keislaman Bilal tidak dapat disimpan selamanya. Berita rahasia keislaman Bilal terungkap dan beredar di lingkungan para pemuka Quraisy. “Apa? Budak mereka orang Habsyi itu masuk Islam dan menjadi pengikut Muhammad?” ujar mereka.

Demi Umayyah bin Khalaf yang congkak, berita tentang keislaman Bilal merupakan tamparan pahit yang menghina dan menjatuhkan kehormatan dirinya serta Bani Jumah. Walaupun demikian, tidak apa, katanya di dalam hati, seraya berkata, “matahari yang terbit hari ini takkan tenggelam dengan Islamnya budak durhaka itu!”.

Di tengah hari, ketika matahari sedang terik-teriknya menyinari padang pasir, mereka membawa Bilal ke luar dan menelanjanginya. Kemudian mereka melemparkan Bilal ke atas pasir yang seolah menyala karena saking panasnya. Beberapa orang lelaki mengangkat batu besar yang sangat panas dan menindihkannya ke atas tubuh dan dadanya.

“Engkau akan tetap dalam keadaan begini sampai engkau mati, atau engkau menyumpahi Islam,” kata Umayyah.[5]Riwayat lainnya mengatakan bahwa Umayyah berkata, “aku tak akan membebaskan engkau sampai engkau mati seperti ini atau menolak agama Muhammad dan menyembah Lata dan ‘Uzza.” Mendapat perlakuan sedemikian rupa, Bilal menjawabnya hanya dengan dua kata yang jelas membuktikan kekokohan imannya. Ia berkata, “Ahad! Ahad!” (Yakni, Allah itu Esa.)

Bilal tidak bergeming, dia kokoh pada pendiriannya dan tidak ingin mengikuti perintah para penyiksanya untuk meninggalkan Islam. Sehingga, tuan dan para penyiksanya harus mengulang terus-menerus penyiksaan terhadap Bilal selama beberapa hari ke depannya.

Konon, Abu Jahal pun suatu waktu turut serta dalam penyiksaan tersebut, dia berkata, “ingkarilah Tuhan Muhammad!” namun jawaban dari Bilal tetap sama, “Ahad! Ahad!”

Dengan penyiksaan yang terus menerus seperti itu, beberapa algojo menaruh kasihan pada Bilal. Sehingga mereka membujuk Bilal dan berjanji akan melepaskannya asalkan dia mau menyebutkan nama Tuhan mereka secara baik-baik, tidak apa-apa walaupun hanya sepatah kata, karena mereka hampir putus asa dengan kegigihan dan kekeraskepalaan Bilal. Sebab, apa yang akan dikatakan oleh orang-orang Quraisy lainnya? Apabila mereka mengalah dan tunduk kepada seorang budak hitam yang hina. Mereka khawatir apabila ini dibiarkan mereka akan jadi buah bibir di kalangan Quraisy dan nama baik mereka tercemar.

Tapi apa yang dikatakan Bilal ketika dibujuk? Masih tetap sama, “Ahad! Ahad!” Para penyiksa pun sampai berteriak seolah-olah seperti memohon, “sebutlah Lata dan ‘Uzza!” “Ahad! Ahad!” jawaban Bilal masih sama. “Sebutlah apa yang kami sebut!” pinta mereka. Bilal dengan lirih menjawab, “lidahku tak dapat mengucapkannya.” Maka ditinggalkannya lah Bilal sepanjang hari di padang pasir dengan batu panas yang terus menindihnya.

Orang-orang takjub akan kegigihan budak hitam ini, tawanan orang yang berhati bengis. Demikianlah sehingga Waraqah bin Naufal, pendeta Arab, menangisi keadaan Bilal seraya berkata kepada Umayyah, “demi Allah! Bila Anda membunuhnya dalam kondisi demikian, aku akan jadikan kuburannya tempat keramat untuk dikunjungi peziarah.”

Mendengar itu, Umayyah malah bertindak lebih keras. Ketika sore tiba, mereka dirikan Bilal, dan diikatkanlah tali ke leher Bilal, lalu mereka menyuruh anak-anak untuk menyeret dan mengaraknya keliling bukit-bukit dan jalan-jalan di sekitar kota Mekah. Sementara bibir Bilal terus bersenandung, “Ahad…. Ahad…. ”

Hingga malam tiba, para penyiksa menawarkan kepada Bilal, “esok, ucapkanlah kata-kata yang baik terhadap Tuhan-tuhan kami, sebutlah, ‘Tuhanku Lata dan ‘Uzza’, nanti kami lepaskan dan biarkan engkau sesuka hatimu. Telah letih kami menyiksamu, seolah-olah kami sendirilah yang disiksa!” Bilal hanya menggelengkan kepalanya dan berkata, “Ahad…. Ahad….”

Karena tak dapat menahan gusar dan amarah, maka Umayyah meninju Bilal dan berkata, “kesialan apa yang menimpa kami disebabkanmu, hai budak celaka! Demi Tuhan Lata dan ‘Uzza, akan kujadikan kau contoh bagi bangsa budak dan majikan-majikan mereka!” Mendengar itu, Bilal hanya berkata, “Ahad…. Ahad….”

“Bawahlah dia! Demi Lata dan ‘Uzza, seandainya harga tebusannya tak lebih dari satu ugia, pastilah dia akan kulepas juga,”

Segala acara dilakukan oleh Umayyah bin Khalaf untuk membuat Bilal meninggalkan agama Islam dan kembali ke agama penyembah berhala. Meskipun itu hanya sekedar di bibir Bilal saja Umayyah tidak peduli, yang paling penting adalah menyelamatkan mukanya dari cibiran Quraisy lainnya karena mempunyai seorang budak yang beragama Islam dan tidak menurut terhadap perintah tuannya untuk menyembah Lata dan ‘Uzza.

Setelah disiksa dengan ditindih batu panas, dibujuk, diarak keliling kota, dan dipukul, Bilal tidak juga bergeming, dia masih saja berkata, “Ahad… Ahad….” Hingga akhirnya Umayyah menyusun skenario, disuruhnyalah beberapa orang dari Bani Jumah untuk menemui Bilal. Mereka berpura-pura seolah-olah menaruh kasihan terhadap Bilal. Kemudian mereka berkata, “Biarkanlah dia wahai Umayyah! Demi Lata dan ‘Uzza! Mulai saat ini dia takkan disiksa lagi! Bilal ini anak buah kami, bukankah ibunya sahaya kami? Nah, dia takkan rela bila dengan keislamannya itu nama kami menjadi ejekan dan cemoohan bangsa Quraisy.”

Bilal mengetahui bahwa itu semua sekedar tipu muslihat, dia marah dan membelalakkan matanya menantang mereka semua. Namun dia segera tersadar, maka dibuanglah segala kemarahan dan ketegangannya, kemudian dia menyunggingkan sebuah senyuman. Dan dengan ketenangan yang teramat sangat, dia kembali berkata, “Ahad… Ahad….”

Keesokan harinya, di tengah hari Bilal kembali digelandang menuju padang pasir untuk menerima hukuman yang sama dengan hari kemarin, ditelanjangi kemudian ditindih dengan batu panas. Namun Bilal tetap sabar, tenang, dan tidak tergoyahkan. Sementara dia disiksa, datanglah Abu Bakar as-Shiddiq, dia berseru, “apakah kalian akan membunuh seorang laki-laki karena mengatakan bahwa Tuhanku ialah Allah?” Kemudian dia berkata kepada Umayyah, “terimalah ini untuk tebusannya, lebih tinggi dari harganya, dan bebaskan dia!”

Mendengar itu Umayyah malah merasa lega dan beruntung, karena dia sudah mulai putus asa dapat menundukkan Bilal. Apalagi Umayyah adalah seorang saudagar, dia melihat peluang keuntungan di sana, ketimbang membunuhnya, lebih baik dia menjualnya karena akan mendatangkan uang. Umayyah setuju dengan penawaran Abu Bakar.

“Bawahlah dia! Demi Lata dan ‘Uzza, seandainya harga tebusannya tak lebih dari satu ugia, pastilah dia akan kulepas juga,” kata Umayyah. Abu Bakar kemudian menjawab, “demi Allah, seandainya kalian tidak hendak menjualnya kecuali seratus ugia, pastilah akan kubayar juga!” Demikianlah akhirnya Bilal memperoleh kebebasannya.

Kemudian pergilah Abu Bakar sambil mengepit Bilal untuk menemui Nabi Muhammad SAW, dan menyampaikan berita gembira tentang kebebasan Bilal sebagai orang merdeka. Momen itu adalah momen yang tak ubah bagai hari raya besar.

Riwayat dalam versi lain mengatakan bukan Abu Bakar yang membebaskan Bilal, namun Abbas, paman Nabi Muhammad SAW. Berikut ini adalah kisahnya, suatu hari, ketika Bilal disiksa, Rasulullah SAW kebetulan melihatnya. Kemudian Rasulullah berkata kepada Abu Bakar, “Seandainya aku memiliki harta, niscaya aku akan membebaskan Bilal.”

Kemudian Rasulullah SAW datang ke rumah Abbas dan mengatakan, “bebaskanlah Bilal untukku!” Abbas, kemudian datang ke wanita pemilik Bilal. Dalam kondisi hampir meninggal dunia disebabkan siksaan pedih yang dideritanya, Abbas datang membebaskan Bilal. Setelah wanita itu mencaci dan menghina Bilal, dia pun menjualnya kepada Abbas. Bilal terbebas dari siksaah lantaran kesabarannya. Sepanjang sisa hidup Rasulullah, kemudian Bilal mengabdi kepadanya sebagai orang yang merdeka.

Di kemudian hari, diriwayatkan bahwa Umayyah bin Khalaf terbunuh dalam perang Badar oleh Bilal. Sementara dalam versi lain, meskipun dalam latar belakang yang sama, yakni perang Badar, Umayyah dibunuh oleh pasukan Muslim. Berikut ini adalah kisahnya, Umayyah bin Khalaf dan putranya tertangkap oleh ‘Abd ar-Rahman bin ‘Auf. Karena latar belakang persahabatan, ‘Abd ar-Rahman bermaksud membawa keduanya ke luar dari medan pertempuran hidup-hidup sebagai tawanan.

Bilal melihat Umayyah dan menyadari bahwa ‘Abd ar-Rahman bin ‘Auf hendak menolongnya. Karena itu, Bilal berteriak keras-keras, “wahai para sahabat Allah! Umayyah adalah salah seorang pemimpin kafir. Ia tak boleh dibiarkan hidup.” Kemudian pasukan Muslim mengepung Umayyah lalu membunuhnya beserta putranya.

Versi lainnya lagi, Umayyah dan putranya tidak dibunuh ketika perang Badar sedang berlangsung, namun dia dan putranya menjadi tawanan perang. Sebagian Muslim tak menghendaki Umayyah dibunuh, namun Bilal mengatakan, “dia pemimpin kafir yang harus dibunuh.” Berdasarkan desakan Bilal, ayah dan anak itu akhirya dibunuh.

Aku, Bilal, budak Umayyah, akan memberitahumu tentang hari-hari yang harus dikagumi, aku ada di sana–dua puluh dua tahun mendampingi—ketika Muhammad, Rasulullah, berjalan di atas muka bumi, aku mendengar apa yang beliau katakan dan melihat apa yang beliau lakukan….”

Pada tahun 622 M, orang-orang Islam di Mekah melakukan Hijrah ke Madinah. Hijrah dilakukan secara bertahap selama dua bulan dari sejak peristiwa Baiat Aqabah Kubra. Baiat Aqabah Kubra adalah peristiwa Baiat terhadap penduduk Yastrib (Madinah) oleh Rasulullah mengenai pengesahan jalinan agama dan militer di bukit Aqabah, Mekah.

Setelah semua Muslim berhijrah ke Madinah, yang tersisa di Mekah hanya tinggal tiga orang, yakni Nabi Muhammad SAW sendiri, Abu Bakar as-Shiddiq, dan Ali bin Abu Thalib. Mereka bertiga menetap di Mekah karena belum mendapat perintah dari Allah SWT untuk berhijrah. Suatu hari datanglah Jibril kepada Nabi Muhammad SAW, dia mengabarkan bahwa perintah berhijrah telah turun, seraya berkata, “janganlah engkau tidur di tempat tidurmu malam ini seperti biasanya.”

Nabi Muhammad SAW kemudian memberi perintah kepada Ali, beliau berkata, “tidurlah di atas tempat tidurku, berselimutlah dengan mantelku warna hijau yang berasal dari Hadhramaut ini. Tidurlah dengan berselimut mantel itu. Sesungguhnya engkau tetap akan aman dari gangguan mereka yang engkau khawatirkan.” Demikianlah Ali menjadi pengganti Nabi untuk mengelabui orang-orang Quraisy.

Tengah malamnya, sebelas orang Quraisy hendak melakukan pembunuhan berencana terhadap Nabi Muhammad SAW. Di antara sebelas orang itu terdapat mantan majikan Bilal, yaitu Umayyah bin Khalaf. Atas izin Allah, mereka semua tidak dapat melihat Nabi ketika beliau keluar rumah.

BILAL MENGUMANDANGKAN ADZAN PERTAMA KALI

Kemudian mereka masuk ke dalam rumah Nabi hendak membunuh orang yang sedang tertidur yang mereka kira Nabi. Ali kemudian bangkit dari tempat tidur dan langsung dikepung. Mereka bertanya keberadaan Muhammad. Ali menjawab, “aku tidak tahu.”

Singkat cerita, pada akhirnya hampir seluruh Muslim dapat berhijrah ke Madinah, dan dari kota itulah secara perlahan umat Muslim dapat bangkit dan menjadi kekuatan yang diperhitungkan. Kembali kepada kisah Bilal bin Rabah, setelah kemerdekaannya, Bilal sangat setia terhadap Nabi Muhammad SAW, ke mana pun Nabi pergi, Bilal selalu mengikutinya.

“Aku, Bilal, budak Umayyah, akan memberitahumu tentang hari-hari yang harus dikagumi, aku ada di sana–dua puluh dua tahun mendampingi—ketika Muhammad, Rasulullah, berjalan di atas muka bumi, aku mendengar apa yang beliau katakan dan melihat apa yang beliau lakukan….” kata Bilal.

Ketika Masjid Nabawi di Madinah selesai dibangun, Rasulullah telah mengambil keputusan akan menggunakan naqus(lonceng) sebagai alat untuk memanggil orang-orang untuk shalat. Namun Rasul sendiri tidak menyukainya karena menyerupai orang Nasrani. Hingga salah seorang sahabat Nabi yang bernama Abdullah bin Zaid bin Abdi Rabbih bermimpi, di dalam mimpinya itu dia didatangi seorang laki-laki.

“Laki-laki itu memakai baju hijau di tangannya membawa naqus. Aku bertanya kepadanya, ‘Ya Abdullah, apakah engkau mau menjual naqus itu?’ Orang itu menjawab, ‘akan kau gunakan untuk apa?’ Aku menjawab, ‘untuk memanggil orang buat shalat.’ Dia berkata, ‘maukah aku tunjukkan kepadamu cara yang lebih baik? Sebutlah Allahuakbar, Allahuakbar, Allahuakbar, Allahuakbar…. (diteruskan sampai dengan kalimat Adzan yang kita kenal hari ini).’ Maka aku bangun pagi, lalu pergi kepada Rasulullah. Aku kabarkan kepadanya mengenai mimpi itu. Lalu Rasulullah bersabda, ‘sesungguhnya mimpi itu betul, insya Allah.’…. ,” kata  Abdullah bin Zaid.

Kemudian Rasulullah memberikan perintah kepada Abdullah bin Zaid, “dapatkan Bilal dan katakan padanya apa yang telah engkau lihat, ajari dia kata-katanya sehingga dia bisa memberikan panggilan, karena dia memiliki suara yang indah.” Abdullah bin Zaid menemui Bilal dan mengajari kata-katanya.

Setelah diajari, mulailah Bilal Adzan, “Allaahu Akbar Allaahu Akbar. Allaahu Akbar Allaahu Akbar. Asyhadu an laa illaaha illallaah. Asyhadu an laa illaaha illallaah. Asyhadu anna Muhammadar rasuulullah.  Asyhadu anna Muhammadar rasuulullah. Hayya ‘alas-shalaah. Hayya ‘alas-shalaah. Hayya ‘alal-falaah. Hayya ‘alal-falaah. Allaahu Akbar, Allaahu Akbar. Laa ilaaha illallaah.” Adzan tersebut adalah Adzan pertama dalam sejarah Islam, dan dilakukan oleh mantan budak yang sebelumnya dihinakan.

Umar bin Khattab mendengar seruan itu saat masih berada di rumahnya, dia buru-buru keluar, menyeret jubahnya di belakangnya, berkata, “demi Dia yang mengutusmu dengan kebenaran, wahai Rasulullah, aku melihat mimpi yang sama.” Nabi Muhammad SAW senang dan berkata, “segala puji bagi Allah.”

Wallohua'lam Bisshowab

Adzan Pertama Kali Berkumandang, Kisah Bilal Bin Robbah

Nama lengkap Abu Bakar adalah ‘Abdullah bin ‘Utsman bin Amir bi Amru bin Ka’ab bin Sa’ad bin Tayyim bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ay bin Ghalib bin Quraisy.


Bertemu nasabnya dengan nabi pada kakeknya Murrah bin Ka’ab bin Lu’ai, dan ibu dari abu Bakar adalah Ummu al-Khair salma binti Shakhr bin Amir bin Ka’ab bin Sa’ad bin Taim yang berarti ayah dan ibunya sama-sama dari kabilah Bani Taim.

Abu Bakar adalah ayah dari Aisyah, istri Nabi Muhammad. Nama yang sebenarnya adalah Abdul Ka’bah (artinya ‘hamba Ka’bah’), yang kemudian diubah oleh Muhammad menjadi Abdullah (artinya ‘hamba Allah’). Muhammad memberinya gelar Ash-Shiddiq (artinya ‘yang berkata benar’) setelah Abu Bakar membenarkan peristiwa Isra Mi’raj yang diceritakan oleh Muhammad kepada para pengikutnya, sehingga ia lebih dikenal dengan nama “Abu Bakar ash-Shiddiq”.

Abu Bakar ash-Shiddiq dilahirkan di kota Mekah dari keturunan Bani Tamim , sub-suku bangsa Quraisy. Beberapa sejarawan Islam mencatat ia adalah seorang pedagang, hakim dengan kedudukan tinggi, seorang yang terpelajar, serta dipercaya sebagai orang yang bisa menafsirkan mimpi.

Ketika Muhammad menikah dengan Khadijah binti Khuwailid, ia pindah dan hidup bersama Abu Bakar. Saat itu Muhammad menjadi tetangga Abu Bakar. Sejak saat itu mereka berkenalan satu sama lainnya. Mereka berdua berusia sama, pedagang dan ahli berdagang.

MEMELUK AGAMA ISLAM

Dalam kitab Hayatussahabah, bab Dakwah Muhammad kepada perorangan, dituliskan bahwa Abu bakar masuk Islam setelah diajak oleh nabi. Abubakar kemudian mendakwahkan ajaran Islam kepada Utsman bin Affan, Thalhah bin Ubaidillah,Zubair bin Awwam, Sa’ad bin Abi Waqas dan beberapa tokoh penting dalam Islam lainnya.

Istrinya Qutaylah binti Abdul Uzza tidak menerimaIslam sebagai agama sehingga Abu Bakar menceraikannya. Istrinya yang lain, Ummu Ruman, menjadi Muslimah. Juga semua anaknya kecuali ‘Abd Rahman bin Abu Bakar, sehingga ia dan ‘Abd Rahman berpisah.

PENYIKSAAN OLEH QURAISY

Sebagaimana yang juga dialami oleh para pemeluk Islam pada masa awal. Ia juga mengalami penyiksaan yang dilakukan oleh penduduk Mekkah yang mayoritas masih memeluk agama nenek moyang mereka. Namun, penyiksaan terparah dialami oleh mereka yang berasal dari golongan budak.

Sementara para pemeluk non budak biasanya masih dilindungi oleh para keluarga dan sahabat mereka, para budak disiksa sekehendak tuannya. Hal ini mendorong Abu Bakar membebaskan para budak tersebut dengan membelinya dari tuannya kemudian memberinya kemerdekaan.

Ketika peristiwa Hijrah, saat Nabi Muhammad pindah ke Madinah (622 M), Abu Bakar adalah satu-satunya orang yang menemaninya. Abu Bakar juga terikat dengan Nabi Muhammad secara kekeluargaan. Anak perempuannya, Aisyah menikah dengan Nabi Muhammad beberapa saat setelah Hijrah.

Selama masa sakit Rasulullah saat menjelang wafat, dikatakan bahwa Abu Bakar ditunjuk untuk menjadi imam salat menggantikannya, banyak yang menganggap ini sebagai indikasi bahwa Abu Bakar akan menggantikan posisinya.

Bahkan setelah Nabi SAW telah meninggal dunia, Abu Bakar Ash-Shiddiq dianggap sebagai sahabat Nabi yang paling tabah menghadapi meninggalnya Nabi SAW ini. Segera setelah Wafatnya Nabi Muhammad, dilakukan musyawarah di kalangan para pemuka kaum Anshar dan Muhajirin di Madinah, yang akhirnya menghasilkan penunjukan Abu Bakar sebagai pemimpin baru umat Islam ataukhalifah Islam pada tahun 632 M.

Apa yang terjadi saat musyawarah tersebut menjadi sumber perdebatan. Penunjukan Abu Bakar sebagai khalifah adalah subyek kontroversial dan menjadi sumber perpecahan pertama dalam Islam, dimana umat Islam terpecah menjadi kaum Sunni dan Syi’ah.

Di satu sisi kaum Syi’ah percaya bahwa seharusnya Ali bin Abi Thalib (menantu nabi Muhammad) yang menjadi pemimpin dan dipercayai ini adalah keputusan Rasulullah sendiri, sementara kaum sunni berpendapat bahwa Rasulullah menolak untuk menunjuk penggantinya.

Kaum sunni berargumen bahwa Muhammad mengedepankan musyawarah untuk penunjukan pemimpin. Sementara muslim syi’ah berpendapat bahwa nabi dalam hal-hal terkecil seperti sebelum dan sesudah makan, minum, tidur, dan lain-lain, tidak pernah meninggal umatnya tanpa hidayah dan bimbingan apalagi masalah kepemimpinan umat terahir.

Banyak hadits yang menjadi Referensi dari kaum Sunni maupun Syi’ah tentang siapa khalifah sepeninggal rasulullah, serta jumlah pemimpin Islam yang dua belas. Terlepas dari kontroversi dan kebenaran pendapat masing-masing kaum tersebut, Ali sendiri secara formal menyatakan kesetiaannya (berbai’at) kepada Abu Bakar dan dua khalifah setelahnya (Umar bin Khattab dan Usman bin Affan).

Kaum sunni menggambarkan pernyataan ini sebagai pernyataan yang antusias dan Ali menjadi pendukung setia Abu Bakar dan Umar. Sementara kaum syi’ah menggambarkan bahwa Ali melakukan baiat tersebut secara pro forma, mengingat ia berbaiat setelah sepeninggal Fatimah istrinya yang berbulan bulan lamanya dan setelah itu ia menunjukkan protes dengan menutup diri dari kehidupan publik.

PERANG RIDDA

Segera setelah sukses Abu Bakar, beberapa masalah yang mengancam persatuan dan stabilitas komunitas dan negara Islam saat itu muncul. Beberapa suku Arab yang berasal dari Hijaz danNejed membangkang kepada khalifah baru dan sistem yang ada.

Beberapa di antaranya menolak membayar zakat walaupun tidak menolak agama Islam secara utuh. Beberapa yang lain kembali memeluk agama dan tradisi lamanya yakni penyembahan berhala.

Suku-suku tersebut mengklaim bahwa hanya memiliki komitmen dengan Nabi Muhammad dan dengan kematiannya komitmennya tidak berlaku lagi. Berdasarkan hal ini Abu Bakar menyatakan perang terhadap mereka yang dikenal dengan nama perang Riddah.

Dalam perang Ridda peperangan terbesar adalah memerangi “Ibnu Habib al-Hanafi” yang lebih dikenal dengan nama Musailamah al-Kazab (Musailamah si pembohong), yang mengklaim dirinya sebagai nabi baru menggantikan Nabi Muhammad.

Pasukan Musailamah kemudian dikalahkan pada pertempuran Akraba oleh Khalid bin Walid. Sedangkan Musailamah sendiri terbunuh di tangan Al Wahsyi, seorang mantan budak yang dibebaskan oleh Hindunistri Abu Sufyan karena telah berhasil membunuhHamzah Singa Allah dalam Perang Uhud.

Al Wahsyi kemudian bertaubat dan memeluk Islam serta mengakui kesalahannya atas pembunuhan terhadap Hamzah. Al Wahsyi pernah berkata, “Dahulu aku membunuh seorang yang sangat dicintai Rasulullah (Hamzah) dan kini aku telah membunuh orang yang sangat dibenci rasulullah (yaitu nabi palsu Musailamah al-Kazab).”Setelah menstabilkan keadaan internal dan secara penuh menguasai Arab, Abu Bakar memerintahkan para jenderal Islam melawan kekaisaran Bizantium dan Kekaisaran Sassanid. Khalid bin Walid menaklukkan Irak dengan mudah sementara ekspedisi ke Suriah juga meraih sukses.

PEMBUKUAN AL-QUR’AN

Abu Bakar juga berperan dalam pelestarian teks-teks tertulis Al Qur’an. Dikatakan bahwa setelah kemenangan yang sangat sulit saat melawan Musailamah al-kadzab dalam perang Riddah, banyak para penghafal Al Qur’an yang ikut tewas dalam pertempuran.

Umar lantas meminta Abu Bakar untuk mengumpulkan koleksi dari Al Qur’an. oleh sebuah tim yang diketuai oleh sahabat Zaid bin Tsabit, mulailah dikumpulkan lembaran-lembaran al-Qur’an dari para penghafal al-Qur’an dan tulisan-tulisan yang terdapat pada media tulis seperti tulang, kulit dan lain sebagainya,setelah lengkap penulisan ini maka kemudian disimpan oleh Abu Bakar.

Setelah Abu Bakar meninggal maka disimpan oleh Umar bin Khaththab dan kemudian disimpan oleh Hafsah, anak dari Umar dan juga istri dari Nabi Muhammad. Kemudian pada masa pemerintahan Usman bin Affan koleksi ini menjadi dasar penulisan teks al-Qur’an yang dikenal saat ini.

WAFATNYA ABU BAKAR

Abu Bakar meninggal pada tanggal 23 Agustus 634 di Madinah karena sakit yang dideritanya pada usia 61 tahun. Abu Bakar dimakamkan di rumah putrinya Aisyah di dekat Masjid Nabawi, di samping makam Nabi Muhammad SAW.

Karomah Abu Bakr As-Siddiq Fakhrur Razi, tatkala menafsirkan Surat AI¬Kahfi banyak menceritakan tentang karomah para sahabat Nabi termasuk di dalamnya karomah Abu Bakr As-Siddiq.

Diceritakan bahwa saat mayat Abu Bakar dibawa dan mendekati pintu makam Rasulullah, para pengusung mengucapkan salam, “Assalammu’alaika ya Rasulullah, ini Abu Bakar sedang di luar pintu”. Tanpa diduga pintu makam langsung terbuka dan terdengar suara, “Masuklah orang yang dicintai kepada orang yang mencintainya”.

Menurut Imam Taj Al-Subki, Abu Bakar memiliki 2 macam keramat. Pertama, mengetahui penyakit yang dialaminya membawa kematian dan mengetahui bayi yang ada didalam kandungan isterinya adalah bayi perempuan.

Wallohua'lam Bisshowab

Kisah Asal Usul Abu Bakar As Shiddiq, Sejarah Sahabat Nabi

Ali Bin Abi Thalib masih berkerabat dekat dengan Rasulullah SAW. Beliau adalah sepupu Nabi Muhammad SAW atau putra dari pamannya Abu Thalib.


Ali bin abi Thalib lahir dikota Mekah tepatnya didaerah yang disebut sebagai Hijaz pada tanggal 13 rajab (baca keutamaan puasa rajab). Beliau lahir dari seorang ibu yang bernama Fatimah Binti Asad.

Beberapa kalangan ulama berpendapat bahwa Ali bin Abi Thalib lahir pada tahun ke 10 sebelum Nabi Muhammad SAW memulai kenabiannya atau pada sekitar tahun 599 atau 600 Masehi .

Pada saat lahir, sebenarnya Ali bin Abi Thalib bernama Haydar bin Abu Thalib yang artinya singa dari keluarga Abu Thalib, namun Rasulullah SAW tidak begitu menyukai nama tersebut dan beliau SAW memanggilnya dengan nama Ali yang memiliki arti “yang tinggi derajatnya disisi Allah”.

ALI BIN ABI THALIB MASUK ISLAM

Karena Nabi Muhammad SAW tidak memiliki putra atau anak laki-laki pada saat itu, maka paman nabi, Abu Thalib menyerahkan Ali bin Abi Thalib pada beliau SAW dan istrinya Khadijah RA untuk diasuh saat usianya 6 tahun (baca istri-istri nabi muhammad SAW dan cara mendidik anak dalam islam).

Akhirnya Rasul mengasuh Ali bin Abi Thalib hingga ia dewasa dan Rasul mengajarkannya banyak hal. Ali bin Abi Thalib juga merupakan orang pertama yang masuk islam sebelum sahabat-sahabat lainnya. Ia mengakui kenabian Muhammad SAW saat usianya masih kecil atau sekitar 10 tahun.

Meskipun masih kecil, Ali sudah mengenal islam dengan baik dan beberapa kalangan ulama menyebutnya sebagai orang kedua yang masuk islam setelah Khadijah RA. (baca juga keutamaan Aisyah istri Rasulullah SAW )

MASA REMAJA

Masa remaja Ali bin Abi Thalib dihabiskan bersama Rasulullah dan menimba ilmu dalam islam. Sejak Ali bin Abi Thalib masih muda, ia banyak melakukan hal-hal bersama Rasulullah termasuk mengikuti perang untuk membela agama islam (baca hukum menuntut ilmu dan ilmu pendidikan islam).

Ketika Ali bin Abi Thalib beranjak dewasa ia dinikahkan dengan puteri Rasulullah SAW, Fatimah dan kemudian mereka memiliki empat orang anak dari pernikahannya yakni Hasan, Husein, Zainab dan Ummu Kultsum.

Sebelum menerima Ali bin Abi Thalib sebagai menantunya, Rasul pernah menolak lamaran sahabat yang dikenal kaya dan memiliki jabatan kala itu yakni sahabat Abu Bakar Ash shiddiq dan juga Umar Bin Khatab.

Saat itu Rasul menolak pinangan kedua sahabat tersebut karena malaikat Jibril datang kepada Muhammad SAW dan mengabarkan bahwa Ali lah yang akan menikah dengan Fatimah Az zahra putrinya.

Menurut pendapat ulama, Ali menikahi Fatimah saat usianya 18 tahun dan fatimah berusia 14 atau 15 tahun (Wallahu A’lam Bisshawab) dan mereka menikah setelah peristiwa perang Badar terjadi.

KEBERANIAN ALI BIN ABI THALIB

Selain dikenal akan kebaikan sifat dan pribadinya, Ali juga dikenal pemberani. Dikisahkan ketika Rasul akan pergi berhijrah dengan Abu Bakar Ash Shiddiq, Ali bin Abi Thalib menggantikan beliau SAW untuk tidur diranjangnya padahal saat itu kaum kafir Quraisy berniat untuk mencelakai Nabi Muhammad SAW.

Tidak hanya itu, banyak peperangan yang telah diikuti oleh Ali bin Abi Thalib bersama Rasulullah SAW diantaranya adalah perang badar, perang khandak, perang khaibar dan peperangan lainnya kecuali perang Tabuk karena saat terjadinya perang Tabuk, Ali sedang menggantikan posisi Rasulullah SAW untuk menjaga kota Madinah Al Munawarah dari serangan musuh.

Kita juga mengetahui bahwa Ali bin Abi Thalib berhasil mengahancurkan benteng khaibar pada perang khaibar dan juga membunuh musuh termasuk Amar bin Abdi Wud pada perang khandak.

KEKHALIFAHAN ALI BIN ABI THALIB

Setelah Rasullulah SAW wafat maka kepemimpinan umat islam dipegang oleh Khulafair Rasyidin. Setelah peristiwa terbunuhnya khalifah Utsman bin Affan, masyarakat Arab kemudian meminta dan membaiat Ali bin Abi Thalib untuk menjadi pemimpin bagi mereka namun ada beberapa kalangan yang tidak menyukai hal tersebut termasuk keluarga Utsman bin Affan dan kerabatnya karena jika Ali memimpin maka mereka tidak lagi bisa hidup senang dan nyaman sebagaimana saat kepemimpinan Utsman bin Affan yang cenderung mudah dan lunak.

Kepemimpinan Ali adalah layaknya kepemimpinan Umar bin Khatab yang keras dan disiplin. Ada beberapa hal yang dilakukan Ali saat masa pemerintahannya yang berlangsung selama lima tahun yakni dari tahun 656 – 661 M, antara lain:

- Menghapus nepotisme yang kala itu banyak terjadi dalam lingkungan pemerintahan.
- Mengganti pejabat atau gubernur yang berkuasa kala kepemimpinan Utsman bin Affan dan menunjuk pejabat baru untuk menggantikannya.
- Menarik kembali semua tanah yang telah dihibahkan oleh Utsman bin Affan kepada para keluarganya.
- Memperkuat pengaruh islam didaerah-daerah yang telah ditaklukkan oleh khalifah sebelumnya antara lain di kawasan Persia dan afrika Utara.

Pada masa kekhalifan Ali bin Abi Thalib juga terjadi kerusuhan dan perang saudara antar umat muslim. Saat itu disebutkan bahwa Ali bin Abi Thalib berperang melawan Aisyah RA yang dihasut oleh beberapa orang diantaranya Abdullah bin Zubair dan Thalhah.

Perang tersebut dikenal sebagai perang jamal. Selain itu perang lainnya yang terjadi pada masa Ali bin Abi Thalib adalah perang Shiffin dimana Ali berperang dengan Muawiyah bin Abu Sufyan.

WAFATNYA ALI BIN ABI THALIB

Ali bin Abi Thalib wafat saat usianya menginjak 63 tahun dan diketahui bahwa beliau meninggal karena dibunuh oleh Abdurrahman Bin Muljam yang merupakan anggota dari Khawarijmi atau kaum pembangkang pada tanggal 19 ramadhan, dan akhirnya Ali bin Abi Thalib RA menghembuskan nafas terakhirnya pada tanggal 21 Ramadhan pada tahun ke 40 hijriyah.

Wallohua'lam Bisshowab

Kisah Asal usul Ali bin Abi Tholib, Sejarah Sahabat Rosulullah