Social Items

Dalam sastra dan wiracarita India Kuno, Kerajaan Kuru merupakan kerajaan yang diperintah oleh Wangsa Kuru, keturunan Sang Kuru. Tidak diketahui dengan pasti kapan kerajaan ini berdiri, dan hingga sekarang dikenal sebagai legenda dalam wiracarita India, seperti misalnya Mahabharata. Kerajaan Kuru yang lain berada di utara Himalaya, dan disebut Uttara Kuru. Menurut sastra Hindu, Kerajaan Kuru terbentang di antara sungai Saraswati dan sungai Gangga. Salah satu kitab yang dijadikan sumber keberadaan kerajaan Kuru adalah Mahabharata, dan tokoh utama yang diceritakan dalam kitab tersebut merupakan keturunan Kuru. Menurut Mahabharata, pada masa pemerintahan Raja Dretarastra, Kerajaan tersebut terbagi menjadi dua bagian, yaitu Kurujangala dan Kuru asli.

RAJA PERTAMA DINASTI KURU INDIA

Dalam Mahabharata disebutkan bahwa para raja Dinasti Kuru merupakan keturunan Sambarana. Sambarana, seorang yang lahir dalam garis keturunan Pururawa, menikahi Tapati, dan memiliki seorang putera yang diberi nama Kuru. Raja Kuru tersebut memiliki sifat kebaikan yang tinggi, maka dari itu ia dilantik untuk mewarisi tahta kerajaan oleh rakyatnya. Namanya membuat dataran Kurujanggala menjadi masyur di seluruh dunia. Ia melakukan tapa di sebuah tempat bernama Kurukshetra dan semenjak itu tempat tersebut suci dan keramat.

Leluhur Dinasti Kuru adalah Sang Puru. Purumenikah dengan Pausti dan memiliki tiga putera, yaitu: Prawira, Iswara, dan Rodraswa. Di antara mereka, Prawira merupakan penerus dinasti. Prawira menikah dengan Suraseni dan berputera Manasyu. Manasyu menikah dengan Sauwiri dan memiliki tiga putera bernama Sakta, Sahana, dan Wagmi. Rodraswa menikah dengan bidadari Misrakesi dan memiliki sepuluh putera. Mereka adalah Riceyu, Kaksreyu Wrikeyu, Standileyu, Waneyu, Jaleyu, Tejeyu, Satyeyu, Dharmeyu dan Sanateyu yang kesepuluh.

Di antara mereka semua, Riceyu menjadi penguasa tunggal dan dikenal dengan nama Anadristi. Anadristi memiliki putera bernama Matinara yang kemudian menjadi seorang raja terkenal dan bijaksana dan menyelenggarakan Rajasuya dan Ashwamedha. Matinara memiliki empat putera, yaitu Tansu, Mahan, Atirata, dan Druhyu. Di antara mereka, Tansu yang dipilih menjadi penerus keturunan Puru. Tansu memiliki putera bernama Ilina. Ilina menikah dengan Ratantara dan memiliki lima putera.

 Mereka adalah Duswanta, Sura, Bima, Prabasu, dan Basu (Basu dikatakan sebagai pendiri kerajaan Chedi). Yang sulung di antara mereka adalah Duswanta, yang kemudian menjadi raja. Dushmanta menikah dengan Sakuntala dan memiliki putera yang sangat cerdas bernama Bharata, yang kemudian menjadi raja. Bharata memberikan namanya kepada setiap suku yang ia dirikan. Dari sanalah dinasti Bharata terkenal tersebar dengan luas. Bharata memiliki tiga istri dan sembilan putera. Namun di antara mereka tidak ada yang seperti ayahnya sehingga Bharata tidak senang kepada mereka. Ibu mereka akhirnya menjadi marah dan membunuh mereka semua.

Kemudian diselenggarakan upacara besar dan atas bantuan Bharadwaja, lahirlah putera bernama Bumanyu. Kemudian Bharata, keturunan terbesar Sang Puru, mengangkatnya sebagai anak dan memilihnya sebagai ahli waris. Bumanyu menikah dengan Puskarini dan memiliki enam putera bernama Suhotra, Suhotri, Suhawiha, Sujeya, Diwirata dan Kicika. Suhotra menikah dengan Aikasaki dan memiliki tiga putera bernama Ajamida, Sumida, dan Purumida. Yang sulung di antara mereka, Ajamida, menjadi pewaris kerajaan. Ia memiliki enam putera, antara lain Riksa yang lahir dari Dumini; Dusmanta dan Paramestina lahir dari Nili; Jahnu, Jala dan Rupina yang lahir dari Kesini.

Pangeran dari Dinasti Bharata bernama Riksa yang lebih tua daripada Jala dan Rupina menjadi raja dan memiliki putera bernama Sambarana, penerus tahta kerajaan. Dikisahkan ketika Sambarana berkuasa, banyak penduduk yang meninggal karena kelaparan, penyakit pes, kekeringan, dan wabah. Kemudian kerajaannya mendapat serbuan dari Kerajaan Panchala.

 Para kesatria Bharata terpukul mundur oleh tentara musuh. Panchala dengan sepuluh Aksauhini mengalahkan dinasti Bharata. Kemudian Sambarana bersama istri, menteri, putera dan kerabatnya, melarikan diri, dan menempati sebuah hutan di tepi sungai Sindhu, yang termasuk wilayah dari kaki pegunungan di sebelah barat.

Di sana para keturunan Bharata hidup selama seribu tahun penuh (untuk jangka waktu yang lama) dengan bentengnya. Setelah mereka tinggal di sana dalam jangka waktu yang cukup lama, suatu hari Resi Wasista datang mengunjungi tempat pengasingan tersebut.

AWAL MULA DINASTI KURU

Sambarana menikahi Tapati (yang tinggal di tepi sungai Tapati), puteri Surya (raja dari Dinasti Surya) dengan pertolongan Wasista, pendeta para raja Dinasti Surya. Sambarana berputera Sang Kuru. Raja Kuru tersebut memiliki sifat kebaikan yang sangat tinggi, maka dari itu ia dilantik untuk mewarisi tahta kerajaan oleh rakyatnya. Namanya membuat dataran Kurujanggala (sebelah timur Haryana) menjadi masyur di seluruh dunia. Ia melakukan tapa di sebuah tempat bernama Kurukshetra dan semenjak itu tempat tersebut suci dan keramat.

Wahini, istri Sang Kuru, melahirkan lima putera, yaitu Awikesit, Bhawisyanta, Citrarata, Muni dan Janamejaya-1. Awikesit berputera Parikesit-1, Sawalaswa, Adiraja (lihat: Kerajaan Karusha), Wiraja, Salmali, Uccaihsrawa, Bhanggakara dan Jitari yang kedelapan. Parikesit-1 memiliki putera-putera yang bernama Kaksasena, Ugrasena, Citrasena, Indrasena, Susena dan Bimasena. Putera dari Janamejaya-2 adalah Dretarastra-1 yang tertua, Pandu-1, Balhika-1, Nishadha, Jambunada, Kundodara, Padati, dan Wasati yang kedelapan.

KELAHIRAN RAJA SANTANU

Di antara keturunan Janamejaya-2, Drestarastra-1 yang menjadi raja. Dretarastra-1 memiliki delapan putera, yaitu Kundika, Hasti, Witarka, Krata, Hawihsrawas, Indraba, dan Bumanyu. Dretarastra-1 memiliki cucu-cucu, dan hanya tiga orang yang terkenal. Mereka adalah Pratipa, Dharmanetra, Sunetra. Di antara mereka bertiga, Pratipa menjadi seorang yang tak tersaingi di muka bumi. Pratipa memiliki tiga putera, yaitu Dewapi, Santanu dan Bahlika-2. Putera sulung yang bernama Dewapi meninggalkan kerajaannya demi bertapa, sedangkan Bahlika meninggalkan kerajaannya karena berambisi menaklukkan suku Arya di wilayah Afganistan. Oleh karena keadaan tersebut, tahta diwariskan kepada Santanu.

Dalam Mahabharata diceritakan bahwa raja Janamejaya ingin mengetahui garis keturunan leluhurnya yang dimulai dari Manu, yang konon merupakan raja pertama di dunia. Wesampayana kemudian menguraikan penjelasan dengan panjang lebar, dan dimulai dari Daksa.

DINASTI CANDRA

Daksa menurunkan Aditi, dan Aditi menurunkan Wiwaswat (Surya). Wiwaswat (golongan Dinasti Surya) melahirkan Waiwaswata Manu, dan Manu menurunkan Iladan Ila menurunkan Pururawa. Maka dari itu ia disebut Pururawa-Aila. Seorang dewa yang bernama Budha (Vudha) dikatakan sebgai ayahnya. Pururawa menikah dengan Urwasi dan menurunkan Ayu.

Raja Ayu menurunkan Nahusa, dan Nahusa menurunkan Yayati. Maharaja Yayati memiliki lima putera, yaitu Yadu dan Tuwasu dari Dewayani (puteri dari Usana atau Mahaguru Sukra); dan Anu, Druhyu, Puru dari Sarmishta. Di antara kelima orang tersebut, Puru-lah yang menurunkan keluarga Bharata, yaitu keluarga besar Pandawa dan Korawa. Keturunan Yadu disebut Yadawa sedangkan keturunan Puru disebut Paurawa.

Puru menikahi Kosalya, kemudian menurunkan Janamaejaya-1, yang menyelenggarakan tiga upacara korban kuda, dan upacara tersebut bernama Wiswajit. Janamejaya-1 menikahi Ananta, puteri dari Kerajaan Madhawa, yang kemudian menurunkan Pracinwata. Pracinwata disebut sebagai penakluk negara timur dimana matahari terbit (Arunachal Pradesh).

KETURUNAN RAJA BHARATA

Pracinwata menikahi Asmaki, puteri dari Wangsa Yadawa, yang kemudian menurunkan Sanyati. Sanyati menikahi Waranggi, puteri dari Dresadwata, yang kemudian menurunkan Ahayanti. Ahayanti menikahi Bhanumati, puteri dari Kertawirya, yang kemudian menurunkan Sarwaboma. Sarwaboma menikahi Sunanda-1, kemudian menurunkan Jayatsena, yang kemudian menikahi Susrawa, puteri Raja Widarbha, dan menurunkan Awacina. Awacina juga menikahi puteri dari Kerajaan Widarbha, bernama Maryada-1. Kemudian ia menurunkan Arihan-1. Arihan-1 menikahi Anggi, kemudian menurunkan Mahaboma.

Mahaboma menikahi Suyadnya, puteri Prasenajit. Darinya lahirlah Ayutanayi. Ayutanayi menikahi Kama, puteri Pertusrawas. Darinya lahirlah Akrodana. Akrodana kemudian menikahi Karamba, puteri dari Kerajaan Kalinga. Mereka memiliki putera bernama Dewatithi, dan Dewatithi menikahi Maryada-2, puteri Kerajaan Wideha. Dewatithi menurunkan Arihan-2. Arihan-2 menikahi Sudewa, puteri dari Kerajaan Anga, dan darinya lahirlah Riksa. Riksa menikahi Jwala, puteri dari Naga Taksaka, dan menurunkan putera bernama Matinara. Matinara menikahi seorang puteri dari lembah sungai Saraswati, kemudian menurunkan putera bernama Tansu. Tansu menikahi puteri dari Kerajaan Kalinga, dan memiliki putera bernama Ilina. Ilina menikahi Ratantari, dan memiliki lima putera, yang tertua bernama Duswanta. Duswanta menikahi Sakuntala, kemudian menurunkan Bharata.

DINASTI BHARATA

Bharata menikahi Sunanda-1, puteri Sarwasena, raja dari Kerajaan Kasi, dan menurunkan putera bernama Bumanyu. Bumanyu menikahi Wijaya, puteri Dasarha, kemudian menurunkan putera bernama Suhotra. Suhotra menikahi Suwarna, puteri Ikswaku. Suhotra menurunkan Hasti, pendiri Hastinapura. Hasti menikahi Yasodara, puteri dari Kerajaan Trigarta. Hasti menurunkan Wikuntana. Wikunthana menikahi Sudewa, puteri dari Kerajaan Dasarha. Wikuntana menurunkan Ajamidha. Ajamidha memiliki empat istri, yaitu Kekayi, Gandari, Wisala dan Riksa. Mereka melahirkan banyak putera, namun yang paling terkemuka bernama Sambarana. Sambarana menikahi Tapati, putera Wiwaswat (Dewa Surya).

Sambarana menurunkan Sang Kuru. Kuru menikahi Subanggi, puteri dari kerajaan Dasarha, kemudian ia menurunkan putera bernama Widurata. Widurata menikahi Supriya, puteri dari Kerajaan Madhawa. Darinya lahirlah putera bernama Anaswan. Anaswan menikahi Amerta, puteri dari Kerajaan Madhawa. Darinya lahirlah putera bernama Parikesit-1. Parikesit-1 menikahi Suwasa, kemudian menurunkan Bhimasena-1. Bhimasena-1 menikahi Kumari, puteri dari kerajaan Kekaya, dan menurunkan Pratisrawas. Pratisrawas menurunkan Pratipa. Pratipa menikahi Sunanda, puteri dari Kerajaan Siwi, kemudian menurunkan tiga putera. Di antara ketiga putera tersebut, Santanu menjadi Raja.

KETURUNAN RAJA SANTANU

Santanu menikahi Dewi Gangga, yang kemudian memberinya seorang putera bernama Dewabrata, namun di kemudian hari bernama Bisma. Bisma yang ingin memberikan sesuatu yang terbaik bagi ayahnya, menikahkan ayahnya dengan Satyawati, alias Durgandini atau Gandakali atau Gandawati. Sebelumnya Satyawati pernah menikah dengan Parasara, yang memberinya seorang putera bernama Kresna Dwaipayana Wyasa. Dengan Satyawati, Santanu memiliki dua orang putera bernama Citrānggada dan Wicitrawirya. Setelah Citrānggada dibunuh oleh seorang Gandarwa, Wicitrawirya menjadi raja, dan menikahi dua orang puteri dari Kerajaan Kasi, bernama Ambika dan Ambalika. Namun Wicitrawirya wafat di usia muda tanpa memiliki keturunan.

LAHIRNYA PANDAWA DAN KURAWA

Atas permohonan Satyawati, Kresna Dwaipayana Wyasa memberikan tiga orang putera bernama Dretarastra, Pandu, dan Widura kepada janda Wicitrawirya. Dretarastra menikah dengan Gandari dan memiliki seratus putera atas pertolongan dari Kresna Dwaipayana Wyasa. Di antara seratus putera Dretarastra, hanya empat yang terkemuka. Mereka adalah Duryodana, Dursasana, Wikarna, dan Citrasena. Pandu memiliki dua orang istri, bernama Kunti (yang juga disebut Partha) dan Madri.

 Setelah Pandu dan Madri wafat, Kunti menjadi kepala keluarga sesuai dengan harapan Pandu. Dari Dewa Dharma(Yamaraja), lahirlah Yudistira. Dari Marut (Bayu), lahirlah Bima. Dari Sakra (Indra), lahirlah Arjuna. Dari dua Aswin, lahirlah Nakula dan Sadewa. Kelima pangeran tersebut dikenal dengan sebutan Pandawa. Para Pandawa tinggal bersama para Korawadi Hastinapura. Duryodana yang selalu merasa cemburu dengan Pandawa, selalu berusaha membunuh mereka. Namun Pandawa selalu berhasil melewati segala upaya pembunuhan. Pandawa memerintah sebagian dari Kerajaan Kuru, dengan Indraprastha sebagai ibu kota.

KETURUNAN PANDAWA

Yudistira berputera Pratiwindya; Bimaberputera Sutasoma; Arjuna berputera Srutakriti; Nakula berputera Satanika; dan Sadewa berputera Srutakarma. Di samping itu, Yudishtira menikahi Dewika, puteri dari Gowasana dari suku Saibya, dan memiliki putera bernama Yodheya. Bima menikahi Walandara, puteri dari Kerajaan Kasi, dan memiliki putera bernama Sarwaga. Arjuna menikahi Subadra, adik Kresna dari Dwarawati, dan memiliki putera bernama Abimanyu.

 Nakula juga menikahi Karenumati, puteri dari Kerajaan Chedi, dan memiliki seorang putera bernama Niramitra. Sadewa menikahi Wijaya, puteri Dyutimat, raja di Kerajaan Madra, dan memiliki seorang putera bernama Suhotra. Di kerajaan Rakshasa, Bima menikahi Hidimbi dan memiliki putera bernama Gatotkaca. Arjuna juga memiliki putera bernama Irawan dari Ulupi dan putera yang lain bernama Babruwahana dari Citrānggadā, puteri dari Manipura.

Di antara keturunan Pandawa, Abimanyumenjadi penerus keluarganya. Ia menikahi Utara, puteri Wirata dari Kerajaan Matsya, dan memiliki seorang putera bernama Parikesit. Parikesit menikahi Madrawati, dan memiliki seorang putera bernama Janamejaya. Janamejaya menikahi Wapustama alias Bamustiman, dan memiliki dua putera bernama Satanika-2 dan Sangkukarna. Satanika-2 menikahi puteri dari Kerajaan Wideha dan memiliki seorang putera bernama Aswamedadatta.

PENDIDIKAN MILITER OLEH GURU DRONA

Hastinapura, ibu kota kerajaan Kuru pada masa Mahabharata, adalah pusat pendidikan militer. Bhagawan Drona adalah yang paling utama dari semua guru dalam segala modus peperangan. Drona sendiri belajar ilmu perang dari ayahnya, Bharadwaja dan sang pendekar utama kala itu, Parasurama alias Bhargawa Rama. Bisma yang merupakan pendekar utama kaum Kuru juga siswa Bhargawa Rama. Krepa adalah ahli lainnya dalam ilmu peperangan. Di bawah bimbingan para ahli ilmu militer ini, kaum Pandawa dan Korawamenjadi sangat pandai dalam ilmu perang.

 Berkat akademi militer ini para Korawa dan Pandawa menjadi yang paling kuat di antara semua kerajaan kuno di India. Ilmu panah, pertempuran dengan gada, perang dengan pedang dan macam-macam senjata lainnya seperti lembing, ini semua bersama-sama dengan segala macam jenis peperangan, yaitu dengan kaki, di atas kuda, kereta atau gajah. Semua hal ini diajarkan oleh Drona kepada para siswanya di akademi ini. Ia juga mengajarkan ilmu membuat tata formasi barisan serdadu (Sanskerta: vyūha atau byūha) dan strategi perang serta cara mengendalikan kereta perang.

 Ilmu memanah adalah spesialisasi Drona, terutama jika sang pemanah berada di kereta perang. Yudistirapandai dalam menggunakan tombak, Arjunadan Karna adalah siswanya yang paling pandai dalam memanah. Bima dan Duryodanaterutama pandai dalam menggunakan gada; Drestadyumna, Nakula dan Sadewa terutama pandai menggunakan pedang.

Bahkan Drestadyumna, pangeran dari kerajaan Panchala yang paling kuat bertanding dengan kaum Kuru dalam menguasai Aryawarta, datang untuk mempelajari ilmu perang di akademi militer bagawan Drona di Hastinapura. Tokoh-tokoh lain yang datang ke Hastinapura untuk belajar adalah Ekalawya, pangeran dari kerajaan Nishada dan Karna, dari kerajaan Anga yang diperintah oleh suku-suku Suta.

WILAYAH KERAJAAN KURU

Raja kerajaan Kuru pertama – Pururawa – selalu dikelilingi sekutu/tetangga yang merupakan ras manusia sakti. Kerajaannya kemungkinan terbentang dari wilayah Himalaya di Tibet atau di utara Xin Jiang atau di Kirgizstan. Nahusa disebutkan pernah memerintah wilayah para dewa (suatu tempat di Tibet). Yayati adalah raja pertama dalam generasi tersebut yang berinteraksi dengan anggota klan asura seperti misalnya Wresaparwa (kerajaan Wresaparwa terbentang di sebelah utara Uttarakhand, di Tibet). Putera Yayati yang bernama Purumendirikan Dinasti Paurawa, salah satu cabang Dinasti Candra. Kemungkinan dia memerintah wilayah Himalaya selatan di Uttarakhand, Himachal Pradesh dan Punjab.

Di antara keturunan Puru, Bharata putera Duswanta adalah yang paling mahsyur yang telah mendirikan Dinasti Bharata. Selama masa itu, dinasti tersebut memerintah seluruh wilayah yang sekarang dikenal sebagai dataran Indo-Gangga dan menambah kekuasaan mereka di pegunungan Windhya di sebelah selatan. Dalam garis keturunan Bharata, lahirlah Sambarana. Selama pemerintahan Sambarana, dinasti tersebut diserbu oleh kerajaan Panchala di sebelah selatan dan barat.

 Kemudian mereka hidup di tepi sungai Sindhu dan di lembah pegunungan sebelah barat. Kuru putera Sambarana mendirikan dinasti Kuru dan merebut kembali wilayah mereka yang dahulu di dataran Indo-Gangga. Mereka memerintah sebuah wilayah antara sungai Saraswati dan Gangga.

Kerajaan Kuru diwarisi oleh Pratipa, Santanu, Wicitrawirya dan Dretarastra. Selama pemerintahan Dretarastra, karena kurangnya tanggapan pemerintah terhadap kebutuhan rakyatnya, disebutkan bahwa kemakmuran kerajaan Kuru menurun (9,41). Para Pandawabersama Yudistira sebagai rajanya, mencoba membangkitkan keharuman nama kerajaan Kuru dengan melakukan kampanye militer oleh empat kesatria yaitu Bima, Arjuna, Nakula and Sadewa.

 Ia menaklukkan seluruh wilayah India Kuno dan mengumpulkan banyak upeti, kumpulan persembahan dari para raja yang telah tunduk. Namun kemakmuran tersebut hilang saat terjadi perang di Kurukshetra, ketika para kesatria Kuru saling bantai satu sama lain, menghancurkan kerabat mereka, para pemimpin bangsa pada zaman India Kuno. Kehancuran besar yang tak terhitung mengakibatkan seluruh India pada masa itu mengalami depresi sosio-ekonomi yang panjang.

TEMPAT PENTING DI KERAJAAN KURU

Hastinapura merupakan kota terbesar di kerajaan Kuru dan ibu kota para Korawa(keturunan Kuru), dan ketika Pandawamemerintah di Indraprastha, kota tersebut menjadi kota terbesar kedua. Selain kota utama tersebut, Kerajaan Kuru juga memiliki banyak desa seperti misalnya Wardamana, Pramanakoti, Waranawati, Wrekastali; provinsi seperti misalnya Makandi; hamparan Kurukshetra dan hutan-hutan seperti hutan Kamyaka dan hutan Dwaita.

KURUKSHETRA

Perang di Kurukshetra terjadi karena adanya perkara di antara dua keluarga dalam Dinasti Kuru, yaitu Pandawa dan Korawa. Dalam pertempuran tersebut, hampir seluruh pemimpin kerajaan pada zaman India kuno berpartisipasi. Kehancuran yang didapat sebagai akibat dari pertempuran membawa India menuju zaman depresi sosial dan ekonomi (Kaliyuga atau 'zaman kegelapa') yang dapat berakhir dalam jangka waktu yang lama.

Setelah pemerintahan kaum Yadawa berakhir ketika pulau Dwaraka tenggelam dalam samudra, Arjuna membawa sisa kaum Yadawa dari sana ke Kurukshetra dan menempatkannya di beberapa daerah sekitarnya.

Putera Kretawarma (sang pahlawan Wangsa Bhoja-Yadawa) ditaruh di kota Martikawata. Kota ini adalah ibu kota kerajaan Salwa yang terletak di barat daya Kurujanggala. Pahalwan Wresni-Yadawa atau putera Satyaki ditaruh di tepi sungai Saraswati. Pangeran Bajra keturunan Kresna ditaruh di Indraprastha(16,7).

Trah Kuru dilanjutkan oleh Parikesit setelah pemerintahan prabu Yudistira. Putera Parikesit adalah prabu Janamejaya yang merupakan raja Kuru terkenal yang terakhir.

KERAJAAN KURU JENGALA

Kerajaan Kurujanggala, yang merupakan pecahan dari kerajaan Kuru asli, diperintah oleh Yudistira, saudara tertua dari para Pandawa, keturunan Pandu. Kerajaan ini diserahkan kepada para Pandawa karena adanya perselisihan di antara para putera Pandu (Pandawa) dengan para putera Dretarastra (Korawa). Perselisihan pecah sehingga kerajaan Kuru dibagi menjadi dua. Letak Kurujanggala di antara sungai Ganggadan sungai Yamuna. Ibu kota kerajaan ini adalah Indraprastha, yang pada masa sekarang merupakan sebuah kota kecil bernama Indraprast, di sebelah selatan New Delhi. Di peta India pada masa kini, wilayah kerajaan tersebut kira-kira mencakup seluas negara bagian Haryana.

KERAJAAN KURU ASLI

Kerajaan Kuru yang asli berada dibawah pemerintahan Duryodana, putera sulung Dretarastra. Letaknya di sebelah timur Kerajaan Kurujanggala yang dipimpin oleh para Pandawa, yakni di antara sungai Ganggadan sungai Yamuna. Di peta India masa kini, luas kerajaan ini mencakup Uttara Pradeshbagian barat, membatasi Haryana. Hastinapura (kini merupakan kota kecil bernama Hastinapur, 37 km sebelah timur laut dari kota Meerut, Uttar Pradesh) diidentifikasi sebagai ibu kotanya.

Asal Usul Dan Silsilah Keturunan Dinasti Kuru Mahabharata

Satyaki adalah putra Satyaka, sedangkan Satyaka adalah putra Sini, seorang pemuka bangsa Wresni. Sini merupakan tokoh yang melamar Dewaki sebagai istri Basudewa. Dalam peristiwa itu ia harus bersaing dengan Somadatta ayah Burisrawa. Dari perkawinan Basudewa dan dewaki kemudian lahirlah Kresna.


Menurut versi Jawa, Satyaki adalah putra Satyajit raja Kerajaan Lesanpura. Satyajit merupakan adik termuda Basudewadan Kunti. Dengan kata lain, Satyaki adalah adik sepupu Kresna dan para Pandawa.

KELAHIRAN SATYAKI

Dalam buku Mahabharata di kisahkan ketika Warsini mengandung, ia mengidam ingin bertamasya menunggang macan putih. Satyajit mendatangkan para keponakannya, yaitu Kresna, Baladewa dan para Pandawauntuk ikut membantu. Ternyata yang berhasil menangkap macan putih idaman Warsini adalah Kresna.

Namun, macan putih tersebut penjelmaan Singamulangjaya, patih Kerajaan Swalabumi yang diutus rajanya, yaitu Prabu Satyasa untuk menculik Warsini. Singamulangjaya segera membawa Warsini kabur begitu naik ke punggungnya.

Kresna yang dicurigai Satyajit segera mengejar Singamulangjaya. Di tengah jalan, Singamulangjaya mencoba mengeluarkan isi kandungan Warsini. Lahirlah seorang bayi yang bukannya mati, namun justru bertambah besar setelah dihajar Singamulangjaya.

Akhirnya, bayi tersebut berubah menjadi pemuda dan membunuh Singamulangjaya. Arwah Singamulangjaya bersatu ke dalam diri pemuda itu.

Warsini memberi nama putranya yang sudah dewasa dalam waktu singkat itu dengan nama Satyaki. Kresna pun menemukan mereka berdua. Bersama mereka menyerang dan membunuh Satyasa sebagai sumber masalah. Satyaki kemudian menduduki Kerajaan Swalabumi sebagai daerah kekuasaannya.

SAYEMBARA MENDAPATKAN SATYABOMA

Dalam versi Jawa dikisahkan Satyaboma dilamar oleh Drona dengan dukungan para Korawa. Tujuan lamaran ini hanya sekadar untuk menjadikan Kerajaan Lesanpura sebagai sekutu Kerajaan Hastina. Satyaki segera mengumumkan sayembara bahwa jika ingin menikahi kakaknya harus bisa mengalahkan dirinya terlebih dulu.

Satu per satu para Korawa maju namun tidak ada yang mampu mengalahkan Satyaki. Bahkan, Drona sekalipun dikalahkannya. Arjuna selaku murid Drona maju atas nama gurunya. Satyaki yang gentar meminta bantuan Kresna. Maka, Kresna pun meminjamkan Kembang Wijayakusuma kepada Satyaki.

Dengan berbekal bunga pusaka milik Kresna, Satyaki dapat menahan serangan Arjuna, bahkan berhasil mengalahkan Arjuna tersebut. Ternyata Kresna juga melamar Satyaboma untuk dirinya sendiri. Dalam pertarungan adu kesaktian, Kresna berhasil mengalahkan Satyaki dan mempersunting Satyaboma.

Dari perkawinan antara Kresna dan Satyaboma lahir seorang putra bernama Satyaka.

PERAN SATYAKI DALAM BARATAYUDA

Dalam perang Baratayuda yang meletus di Kuruksetra, Satyaki memihak para Pandawa. Ia bahkan dipercaya memimpin salah satu di antara tujuh aksohini pasukan Pandawa.

Peran Satyaki tampak menonjol pada hari ke-14 di mana ia ditugasi Arjuna untuk menjaga Yudistira dari serangan Drona. Menurut versi Mahabharata, Arjuna merupakan guru Satyaki dalam ilmu memanah. Sementara itu menurut versi Jawa, murid Arjuna adalah Srikandi yang kemudian menjadi istrinya.

Pada hari tersebut Arjuna bergerak mencari Jayadrata yang telah menyebabkan putranya, yaitu Abimanyu tewas. Satyaki sendiri mati-matian melindungi Yudistira yang hendak ditangkap hidup-hidup oleh Drona sebagai sandera.

Drona adalah guru Arjuna, sedangkan Satyaki adalah murid Arjuna. Namun, dalam pertempuran itu Drona memuji kesaktian Satyaki setara dengan Parasurama, yaitu guru Drona sendiri.

Setelah keadaan aman, Yudistira memaksa Satyaki pergi membantu Arjuna. Dalam keadaan letih, Satyaki menerobos barisan sekutu Korawa yang menghadangnya. Tidak terhitung jumlahnya yang mati. Namun ia sendiri bertambah letih.

Burisrawa maju menghadang Satyaki. Pertarungan tersebut akhirnya dimenangkan Burisrawa. Dengan pedang di tangan ia siap membunuh Satyaki yang sudah jatuh pingsan. Adapun Burisrawa merupakan putra Somadatta yang dulu dikalahkan Sini kakek Satyaki sewaktu melamar Dewaki.

Arjuna yang mengendarai kereta dengan Kresna sebagai kusir sudah mendekati tempat persembunyian Jayadrata. Kresna memintanya untuk berbalik membantu Satyaki. Mula-mula Arjuna menolak karena hal itu melanggar peraturan.

Namun, Kresna berhasil meyakinkan Arjuna bahwa sudah menjadi kewajibannya untuk menolong Satyaki yang sudah bersusah payah datang membantunya.

Arjuna akhirnya memanah lengan Burisrawa sampai putus. Burisrawa terkejut dan menuduh Arjuna berbuat curang. Arjuna membantah karena Burisrawa sendiri hendak membunuh Satyaki yang sudah pingsan serta kemarin ikut serta mengeroyok Abimanyu.

Burisrawa sadar atas kesalahannya. Ia pun duduk bermeditasi. Tiba-tiba Satyaki sadar dari pingsan dan langsung memungut potongan lengan Burisrawa yang masih memegang pedang. Dengan menggunakan pedang itu ia membunuh Burisrawa.

Menurut versi Bharatayuddha, Satyaki membunuh Burisrawa menggunakan pedang Mangekabhama, menurut versi Serat Bratayuda menggunakan panah Nagabanda, sedangkan menurut versi pewayangan menggunakan gada Wesikuning.

KEMATIAN SATYAKI

Kematian Satyaki terdapat dalam Mahabharata bagian ke-16 berjudul Mausalaparwa. Dikisahkan selang 36 tahun setelah pertempuran di Kurukshetra berakhir, bangsa Wresni dan Yadawa mengadakan upacara di tepi pantai Pramanakoti. Meskipun ada larangan untuk tidak membawa minuman keras, namun tetap saja ada yang melanggar.

Akibatnya, mereka pun berpesta mabuk-mabukan. Dalam keadaan tidak sadar, Satyaki mengejek Kretawarma yang dulu memihak Korawa sebagai pengecut karena menyerang perkemahan Pandawa pada waktu malam. Sebaliknya, Kretawarma juga mengejek Satyaki yang membunuh Burisrawa secara licik.

Satyaki yang sudah sangat mabuk segera membunuh Kretawarma. Akibatnya, orang-orang pun terbagi menjadi dua,sebagian membela Satyaki, sebagian membela Kretawarma. Mereka semua akhirnya saling bunuh dan semua tumpas.

Sejarah Asal Usul Satyaki Dalam Kisah Mahabharata

Kuwaluhan.com

Radha adalah putri Vrishbhanu gurjar. Ia adalah raja Suchandra di kehidupan sebelumnya. Suchandra dan istrinya telah memperoleh anugerah dari dewa Brahma bahwa di saat Dwapara yuga , dewi Lakshmi akan lahir sebagai putri mereka dalam bentuk Radha. Raja dan Ratu Suchendra Kalavati dilahirkan kembali sebagai Vrishbhanu dan Kirtikumari dan dewi Lakshmi menjelma sebagai Radha .

Dikatakan bahwa saat Radha lahir, ia tidak mau membuka matanya. Kemudian Sri Narada Muni datang menemui Vrishbhanu dan memberitahunya , "Gadis ini adalah penjelmaan dewi keberuntungan. Ia hanya akan membuka matanya jika penjelmaan dari suaminya hadir di hadapannya. Pertemukanlah ia dengan putra Nanda.

Setelah mereka bertemu maka keberuntungan dan kebahagiaan akan selalu menyertai dunia ini. Dan rawatlah ia layaknya engkau merawat dunia." Sesuai dengan saran Narada Muni itu, Vrishbhanu merawat Radha dengan cinta dan kasih sayang.

Nanda yang tinggal di desa terdekat berteman dengan Vrishbanu. Setelah festival Holi ; Vrishbanu pergi ke Gokul untuk bertemu Nanda. Vrishbanu mengajak serta Radha yang masih bayi dan masih tidak mau membuka matanya.

Vrishbanu yang sedang menggendong Radha bertatap muka dengan Nanda yang juga sedang menggendong Krishna. Saat itulah Radha dengan seketika membuka matanya dan melihat Krishna yang ada di hadapannya. Pertemuan ini adalah pertemuan pertama Radha dan Krishna.

HUBUNGAN CINTA RADHA DENGAN KRISHNA

Cinta Radha terhadap Krishna merupakan cinta spriritual. Cinta dan pengabdian Radha kepada Krishna melebihi cinta dan pengabdian material. Cinta Radha merupakan cinta yang tulus tanpa memandang status apapun. Bagi Radha, Krishna adalah kehidupannya. Bagi Krishna, Radha adalah jiwanya. Itulah sebabnya dikatakan, " Atma Tu Radhika Tasya " ( Radha , Engkau adalah jiwa-Nya ). Radha menempatkan dirinya sebagai seorang pemuja/penyembah Krishna dan dalam bentuk kedua dia adalah pemuja yang dikhususkan oleh Krishna. Vrishbhanu adalah inkarnasi parsial Dewa Vishnu sementara ibunya Kalavati adalah inkarnasi parsial Dewi Laksmi.

Dalam Brihad - Gautamiya Tantra , Radha digambarkan sebagai berikut : " Srimati Radharani adalah mitra langsung dari Sri Krishna. Dia adalah tokoh sentral untuk semua dewi keberuntungan. Dia memiliki semua daya tarik untuk menarik keberuntungan dan kebahagiaan."

Dalam pikiran Radha hanya ada Krishna. Setiap tindakannya akan dipersembahkan kepada Krishna. Krishna pun membalas dengan menyatukan jiwanya dengan Radha. Kemanapun Radha pergi akan selalu diikuti oleh Krishna. "Aku tidak akan pergi dari mu. Engkau dan aku adalah Satu. Kemanapun engkau pergi. Dimanapun namamu disebutkan, namaku akan ada dibelakangmu." Oleh sebab itu, kita semua mengenal nama "Radha Krishna" bukan "Krishna Radha".

KRISNA MENINGGALKAN VRINDAVAN

Dalam berbagai sumber di kisahkan apa yang terjadi kepada Radha ketika Krishna meninggalkan Vrindavan dan tinggal di Mathura. Dalam sumber2 tersebut menjelaskan hal yang berbeda2. Ada yang menjelaskan bahwa setelah Krishna meninggalkan Vrindavan, Radha dengan susah payah kembali ke kehidupan normalnya yakni menikah dan mempunyai anak, namun pikirannya terus berpusat kepada Krishna. Radha melihat suaminya sebagai Krishna dan melayaninya bagaikan ia melayani Krishna.

Ada pula yang menjelaskan bahwa semenjak kehilangan Krishna, Radha menjadi gila akan kerinduannya dan memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Ia meminta kepada dewi sungai Yamuna untuk mengijinkannya menenggelamkan diri. Dan hal itupun terjadi. Namun krn cintanya kepada Krishna ia terlahir kembali menjadi salah satu istri Krishna yakni Jambhawati.

Akhir dari Radha yang sebenarnya adalah menyatu dengan Krishna (apapun bentuknya) di Vrindavan. Krishna selamanya tidak akan pernah meninggalkan Vrindavan, dan sebagaimana yang dijanjikan oleh Krishna, walaupun secara fisik mereka tidak saling berdekatan, jiwa mereka selalu bersama. Kemanapun Radha pergi akan selalu di ikuti oleh Krishna. Radha dan Krishna adalah pasangan tak terpisahkan.

Kisah Singkat Cinta Sri Krishna dan Radha

Perang Baratayudha

Tepat pada perang Bharatayudha yang ke 17 hari, Karna menyuruh Raja Salya yang menjadi kusir keretanya untuk memacu kencang keretanya agar bisa mendekat kereta yang ditumpangi oleh Arjuna.

Namun baru berjalan beberapa meter, roda kereta kuda yang dikusiri Raja Salya terjerembab dalam sebuah lubang berlumpur. Karna menyuruh Raja Salya untuk mengangkat roda kereta yang masuk dalam lubang tersebut. Namun Salya menolak karena menurutnya ia hanya bertugas menjadi sais kereta saja bukan seorang pesuruh dan menyuruh Karna sendiri yang memperbaiki roda keretanya itu.

Untuk sementara Karna menatap Arjuna dan berharap agar Arjuna mau menahan diri sebelum dirinya benar-benar siap bertarung kembali. Karna pun turun dari keretanya itu, lalu menyimpan busurnya dan mencoba mengangkat sendiri roda kereta yang terjerembab dalam lubang yang penuh lumpur.

Sebagai seorang ksatria, Arjuna faham betul seperti apa tindakan seorang ksatria ketika menghadapi musuhnya yang belum siap, Ia pun hanya memandang Karna dari kejauhan.

Krishna yang bertugas menjadi kusir kereta yang ditumpangi Arjuna berkata, " Inilah waktunya untuk membalaskan kematian Abimanyu, angkat panahmu sekarang, Arjuna. "  Tidak, bhatin Arjuna menjerit, ia tidak sampai hati harus menjadi seorang pengecut dengan membunuh musuh yang belum siap untuk bertempur.

Namun, Krishna tetap mengingatkan Arjuna akan sumpahnya, dan bagaimana Karna dengan teganya membunuh Abimanyu. Hati Arjuna bergolak, namun karena ia masih memikirkan tentang Abimanyu anaknya yang mati muda akhirnya Arjuna pun mengangkat busurnya dan mengarahkan panahnya pada Karna yang masih sibuk mengangkat roda keretanya itu.

Karna sadar, bahwa ia tidak memiliki waktu untuk mengambil senjatanya sehingga ia pun memilih untuk diam menunggu, meski dalam versi lain disebutkan bahwa ia lupa bagaimana memanggil senjata Bramastra. Akhirnya dengan sekelebat panah yang dilepaskan dari busur Arjuna pun menembus leher Karna yang membuatnya terpental menjauh dari keretanya.

Kisah Mahabharata

Sesaat semuanya hening, Arjuna dan saudara-saudaranya yang lain hanya terdiam menyaksikan tubuh Karna yang terbaring, begitu juga Duryudana yang terkejut menyaksikan kematian sahabatnya itu.

Dalam keheningan, tiba-tiba terdengar suara seorang perempuan yang tampak sedang mencari anaknya, " Anakku .... dimana kau anakku, " katanya sambil terlihat mencari-cari seseorang. Dan ketika melihat tubuh Karna yang terbaring ia langsung menjerit, "Anakku...!!,"


Para pandawa yang melihat peristiwa tersebut kaget bukan kepalang, melihat sang ibunda menghampiri tubuh Karna lalu membaringkan tubuhnya dipangkuannya.

Terdengar dialog antara ibu dengan anak yang sudah lama berpisah itu, yang intinya adalah penyesalan dari Kunti yang telah membuang anaknya itu. Bayangan-bayangan lama pun muncul menceritakan bagaimana Kunti merasa sangat menyayangi anak yang telah dibuangnya itu.

Arjuna, dan para pandawa yang lain kembali terkejut ketika mendapati kenyataan bahwa Karna yang selama ini menjadi musuh mereka ternyata adalah saudara kandung dan kakak tertua mereka. Betapa sakitnya hati mereka menyaksikan kondisi Karna yang tengah sekarat, dan menyesalkan keadaan yang harus membuat mereka yang adalah saudara kandung menjadi musuh bebuyutan.

Di hadapan Karna yang sekarat, Arjuna dan saudara-saudaranya yang lain berjanji akan memperlakukan jenazahnya sebagaimana perlakukan seorang saudara kandung.
Dan mataharipun mulai tenggelam, meninggalkan kepedihan yang terjadi di antara ibu dan anak-anaknya itu.

Sejarah Kekalahan dan Kematian Karna Mahabharata

Menurut Mahabharata, si kembar Nakula dan Sadewa memiliki kemampuan istimewa dalam merawat kuda dan sapi. Nakula digambarkan sebagai orang yang sangat menghibur hati. Ia juga teliti dalam menjalankan tugasnya dan selalu mengawasi kenakalan kakaknya, Bima, dan bahkan terhadap senda gurau yang terasa serius. Nakula juga memiliki kemahiran dalam memainkan senjata pedang.

Nakula



Dalam kitab Prasthanikaparwa, yaitu kitab ketujuh belas dari seri Astadasaparwa Mahabharata, diceritakan bahwa Nakula tewas dalam perjalanan ketika para Pandawa hendak mencapai puncak gunung Himalaya. Sebelumnya, Dropadi tewas dan disusul oleh saudara kembar Nakula yang bernama Sadewa. Ketika Nakula terjerembab ke tanah, Bima bertanya kepada Yudistira, “Kakakku, adik kita ini sangat rajin dan penurut. Ia juga sangat tampan dan tidak ada yang menandinginya. Mengapa ia meninggal sampai di sini?”. Yudistira yang bijaksana menjawab, “Memang benar bahwa ia sangat rajin dan senang menjalankan perintah kita. Namun ketahuilah, bahwa Nakula sangat membanggakan ketampanan yang dimilikinya, dan tidak mau mengalah. Karena sikapnya tersebut, ia hanya hidup sampai di sini”. Setelah mendengar penjelasan Yudistira, maka Bima dan Arjuna melanjutkan perjalanan mereka. Mereka meninggalkan jenazah Nakula di sana, tanpa upacara pembakaran yang layak, namun arwah Nakula mencapai kedamaian.

Nakula adalah titisan Batara Aswin, Dewa tabib. Ia mahir menunggang kuda dan pandai mempergunakan senjata panah dan lembing. Nakula tidak akan dapat lupa tentang segala hal yang diketahui karena ia mepunyai Aji Pranawajati pemberian Ditya Sapujagad, Senapati negara Mretani. Ia juga mempunyai cupu berisi “Banyu Panguripan” atau “Air kehidupan” pemberian Bhatara Indra.


Nakula mempunyai watak jujur, setia, taat, belas kasih, tahu membalas guna dan dapat menyimpan rahasia. Ia tinggal di kesatrian Sawojajar, wilayah negara Amarta.

Nakula mempunyai dua orang isteri yaitu:

-Dewi Sayati puteri Prabu Kridakirata, raja negara Awuawulangit, dan memperoleh dua orang putera masing-masing bernama Bambang Pramusinta dan Dewi Pramuwati.

-Dewi Srengganawati, puteri Resi Badawanganala, kura-kura raksasa yang tinggal di sungai Wailu (menurut Purwacarita, Badawanangala dikenal sebagai raja negara Gisiksamodra alias Ekapratala) dan memperoleh seorang putri bernama Dewi Sritanjung.
Dari perkawinan itu Nakula mendapat anugrah cupu pusaka berisi air kehidupan bernama Tirtamanik.

Raden Sadewa atau Tangsen yang merupakan saudara kembar dari Raden Nakula adalah bungsu dari Pandawa. Ia adalah putra dari Dewi Madrim dan Batara Aswin, dewa kembar bersama Batara Aswan, ayah Nakula.



Raden Sadewa memiliki perwatakan jujur, setia, taat pada orang tua dan tahu membalas budi serta dapat menjaga rahasia. Dalam hal olah senjata, sadewa ahli dalam penggunaan pedang. Nama-nama lain dari Sadewa adalah Sudamala, dan Madraputra.

Jika Nakula tak dapat lupa akan segala hal maka, Sadewa juga memiliki ingatan yang kuat serta ahli dalam hal menganalisis sesuatu. Sadewa juga ahli dalam hal Metafisika dan dapat tahu hal yang akan terjadi. Ini diperoleh dari Ditya Sapulebu yang dikalahkannya dan menyatu dalam tubuhnya saat Pandawa membuka hutan Mertani. Selain itu, Sadewa mendapatkan wilayah Bumiretawu atau juga disebut Bawertalun. 

Berikut istri-istri Sadewa :

-Dewi Srengginiwati putri Begawan Badawanganala dan berputra Bambang Widapaksa.
-Dewi Rasawulan, putri dari Prabu Rasadewa dari kerajaan Selamiral. Menurut kabar, yang sanggup memperistri Dewi Rasawulan akan unggul dalam Baratayuda Di saat yang sama Arjuna dan Dursasana juga datang melamar, namun yang memenakan sayembara pilih itu hanyalah Sadewa karena ia sanggup menjabarkan apa arti cinta sebenarnya. 

Kisah Istri dan Keturunan Nakula dan Sadewa Mahabharata, Keturunan Pandawa Lima



Yudhistira adalah anak tertua Pandu dan Kunti, raja dan ratu dari Dinasti Kuru, dengan pusat administrasi di Hastinapura. Bagian pertama dari Buku Mahabharata (Adiparwa) menceritakan tentang kutukan yang dialami Pandu setelah membunuh seorang brahmana bernama Resi Kindama secara tidak sengaja. Sang brahmana dilanda panah Pandu saat dia dan istrinya berkopulasi dalam bentuk sepasang rusa.

Pada saat kematiannya, Resi Kindama telah mengutuk Pandu bahwa suatu hari ia akan meninggal saat bersenggama dengan istrinya. Dengan menyesal, Pandu meninggalkan tahta Hastinapura dan memulai kehidupan sebagai pertapa di hutan untuk mengurangi nafsu.

Kedua istrinya, Kunti dan Madri, dengan setia mengikutinya. Setelah lama tidak berproduksi, Pandu mengungkapkan niatnya untuk memiliki anak. Kunti yang menguasai mantra Adityahredaya segera mewujudkan keinginan suaminya. Mantra adalah ilmu pemanggil para dewa untuk mendapatkan seorang putra.

Dengan menggunakan mantra itu, Kunti berhasil membawa Dewa Dharma dan mendapatkan hadiah dari anak itu tanpa melalui hubungan intim. Putra pertama bernama Yudhistira. Dengan demikian, Yudhistira menjadi putra sulung Pandu, sebagai hasil pemberian Dharma, tuhan keadilan dan kebijaksanaan.

MASA MUDA YUDHISTIRA 

Yudhistira dan keempat adiknya, Bima (Bimasena), Arjuna, Nakula, dan Sadewa kembali ke Hastinapura setelah ayah mereka (Pandu) meninggal dunia. Saat itu, Hastinapura dipimpin oleh Dretarastra, saudara buta Pandu.

Kelima anak Pandu-yang dikenal sebagai Pandawa - membuat sepupu mereka, anak-anak Dretarastra (seratus Kaurava dipimpin oleh Duryodana) iri. Bisma (Penatua Dinasti Kuru) dan Widura (perdana menteri) lebih memilih Yudhishta daripada anak Dretarastra, jadi Duryodana merasa cemas saat Yudhistira dinobatkan sebagai putra mahkota. Duryodana mencoba menyingkirkan lima Pandawa, terutama Bima yang paling kuat.

Yudhistira, di sisi lain, selalu berusaha agar Bima tidak membalas tindakan Kaurava. Pandawa dan Kaurava kemudian mempelajari ilmu agama, hukum, dan administrasi negara daripada Crepi Rishi. Dalam pendidikannya, Yudhistira tampil sebagai murid paling cerdas. Krepa sangat mendukung jika tahta Hastinapura diserahkan ke Pandawa tertua.

Setelah itu, Pandawa dan Kauravas belajar ilmu perang ke Resi Drona. Dalam pendidikan kedua ini, Arjuna tampil sebagai murid paling cerdas, terutama dalam ilmu memanah. Sementara itu, Yudhistira sendiri lebih ahli dalam menggunakan senjata tombak.

PERNIKAHAN YUDISTIRA 

Setelah bertahan dalam pembunuhan konspirasi oleh Duryodana dan Sangkuni, Pandawa dan Kunti melewati kota Ekachakra, kemudian tinggal sementara di kerajaan Panchala.

Arjuna berhasil memenangkan kontes di kerajaan dan memperoleh seorang putri cantik bernama Dropadi. Kunti secara tidak sengaja memerintahkan agar Draupadi dibagi menjadi lima. Akibatnya, Draupadi menjadi istri kelima Pandawa. Dari pernikahan ke Yudhistira, Draupadi melahirkan Pratiwindya. Istri keduanya bernama Dewika, putri Gowasana dari suku Saibya, dan memiliki seorang putra bernama Yodeya.

MENJADI RAJA INDRAPRASTA 

Setelah menikahi Draupadi, Pandawa kembali ke Hastinapura dan menerima sambutan yang luar biasa, kecuali Duryodana. Persaingan antara Pandawa dan Kaurava di atas takhta Hastinapura kembali terjadi. Para tetua akhirnya setuju untuk memberi Pandawa bagian dari kerajaan. Korawa mendapat istana Hastinapura, sedangkan Pandawa mendapat hutan Kandawaprastha sebagai tempat untuk membangun istana baru. Meski daerahnya sangat gersang dan angker, namun Pandawa rela menerima daerah tersebut.

Selain wilayahnya yang hampir setengah wilayah kerajaan Kuru, Kandawaprastha juga merupakan ibu kota bekas kerajaan Kuru, sebelum Hastinapura. Pandawa dibantu oleh sepupu mereka, yaitu Krishna dan Baladewa, dan berhasil membuka Kandawaprastha ke permukiman baru. Pandawa kemudian mendapatkan bantuan dari Wiswakarma, master bangunan terampil dari surga, dan juga Anggaraparna dari negara Gandharwa. Maka dibuat sebuah istana megah dan indah yang disebut Indraprastha, yang berarti "kota dewa Indra".

Prabu Yudhistira juga mempunyai dua saudara kembar lain ibu, yaitu ; Ditya Sapujagad bertempat tinggal di kesatrian Sawojajar, dan Ditya Sapulebu di kesatrian Baweratalun.Prabu Yudhistira menikah dengan Dewi Rahina, putri Prabu Kumbala, raja jin negara Madukara dengan permaisuri Dewi Sumirat.

Dari perkawinan tersebut ia memperoleh seorang putri bernama Dewi Ratri, yang kemudian menjadi istri Arjuna.Ketika hutan Mertani berhasil ditaklukan keluarga Pandawa berkat daya kesaktian minyak Jayengkaton milik Arjuna pemberian Bagawan Wilwuk/Wilawuk, naga bersayap dari pertapaan Pringcendani.

Prabu Yudhistira kemudian menyerahkan seluruh negara beserta istrinya kepada Puntadewa, sulung Pandawa, putra Prabu Pandu dengan Dewi Kunti. Prabu Yudhistira kemudian menjelma atau menyatu dalam tubuh Puntadewa, hingga Puntadewa bergelar Prabu Yudhistira. Prabu Yudhistira darahnya berwarna putih melambangkan kesuciannya.

Kisah Istri dan Keturunan Yudistira dalam Mahabharata

Arjuna merupakan anggota Pandawa yang paling rupawan dan terkenal lihai menaklukkan hati para wanita. Jika Anda melihat serial Mahabharata, maka Anda akan mengetahui bahwa tidak hanya Drupadi yang terpikat oleh Arjuna.



Ada sederet wanita lain yang juga menjadi istri sosok yang diperankan oleh Shaheer Sheikh itu. Dalam legenda di India, terdapat empat orang wanita yang menikah dengan Arjuna dan ada satu lagi wanita yang ditolak oleh putra ketiga Pandawa itu.

Dalam serial Mahabharata memang tak semuanya dihadirkan, namun tak ada salahnya jika kita mengetahui siapa saja istri Arjuna.
Berikut ini wanita-wanita yang dinikahioleh Arjuna :

-Wara Sembadra digambarkan sebagai seorang wanita yang mempunyai kesamaan dengan bidadari.
-Dewi Manohara digambarkan tentang kelebihan kecantikannya bagaikan lukisan yang indah. Wajahnya bagai bunga pandan, ibarat matahari yang tertutup tipisnya awan. Bentuk lambung yang kecil rapi dan ramping bagaikan kumbang besar yang mengitari bunga. Bibirnya yang kecil, merah, bagus bagaikan buah manggis yang merekah.
-Dewi Ulupi liriknya digambarkan bagai teratai biru yang bersinar.
-Ratna Gandawati digambarkan berambut hitam, sinom “ anak rambut “ banyak, berleher indah, berdada lebar kuning bagaikan kelapa gading yang masih muda, bila ia berjalan amat pelan bagaikan teratai yang melenggang di air.
-Wara Srikandhi digambarkan ibarat wanita dari bulan, suara menggema bagaikan suara kilat yang diatur dan berbunyi bersama-sama, kulitnya kuning bagaikan kencana yang digosok.

Enak juga yah punya istri banyak kayak Arjuna gitu, selain istrinya hidup rukun cantik-cantik pula.heheee..

Sejarah para istri Arjuna dalam kisah Mahabharata

Raden Arjuna adalah putra ketiga dari pasangan Dewi Kunti dan Prabu Pandu atau sering disebut dengan ksatria Panengah Pandawa. Seperti yang lainnya, Arjuna pun sesungguhnya bukan putra Pandu, namun ia adalah putra dari Dewi Kunti dan Batara Indra. Dalam kehidupan orang jawa, Arjuna adalah perlambang manusia yang berilmu tingga namun ragu dalam bertindak. Hal ini nampak jelas sekali saat ia kehilangan semangat saat akan menghadapi saudara sepupu, dan guru-gurunya di medan Kurusetra. Keburukan dari Arjuna adalah sifat sombongnya. Karena merasa tangguh dan juga tampan, pada saat mudannya ia menjadi sedikit sombong.



Arjuna memiliki dasanama sebagai berikut: 
Herjuna, Jahnawi, Sang Jisnu, Permadi sebagai nama Arjuna saat muda, Pamade, Panduputra dan Pandusiwi karena merupakan putra dari Pandu, Kuntadi karena punya panah pusaka, Palguna karena pandai mengukur kekuatan lawan, Danajaya karena tidak mementingkan harta, Prabu Kariti saat bertahta menjadi raja di kayangan Tejamaya setelah berhasil membunuh Prabu Niwatakaca, Margana karena dapat terbang tanpa sayap, Parta yang berarti berbudi luhur dan sentosa, Parantapa karena tekun bertapa, Kuruprawira dan Kurusatama karena ia adalah pahlawan di dalam baratayuda, Mahabahu karena memiliki tubuh kecil tetapi kekuatannya besar, Danasmara karena tidak pernah menolak cinta manapun, Gudakesa, Kritin, Kaliti, Kumbawali, Kumbayali, Kumbang Ali-Ali, Kuntiputra, Kurusreta, Anaga, Barata, Baratasatama, Jlamprong yang berarti bulu merak adalah panggilan kesayangan Werkudara untuk Arjuna, Siwil karena berjari enam adalah panggilan dari Prabu Kresna, Suparta, Wibaksu, Tohjali, Pritasuta, Pritaputra, Indratanaya dan Indraputra karena merupakan putra dari Batara Indra, dan Ciptaning dan Mintaraga adalah nama yang digunakan saat bertapa di gunung Indrakila. Arjuna sendiri berarti putih atau bening.

Arjuna mempunyai banyak sekali istri,dari kisah lain ada 40 istri Arjuna.itu semua sebagai simbol penghargaan atas jasanya ataupun atas keuletannya yang selalu berguru kepada banyak pertapa.
Namun Berikut sebagian kecil istri dan keturunan nya :

-Dewi Subadra, berputra Raden Abimanyu
-Dewi Sulastri, berputra Raden Sumitra
-Dewi Larasati, berputra Raden Bratalaras
-Dewi Ulupi atau Palupi, berputra Bambang Irawan
-Dewi Jimambang, berputra Kumaladewa dan Kumalasakti
-Dewi Ratri, berputra Bambang Wijanarka
-Dewi Dresanala, berputra Raden Wisanggeni
-Dewi Wilutama, berputra Bambang Wilugangga
-Dewi Manuhara, berputra Endang Pregiwa dan Endang Pregiwati
-Dewi Supraba, berputra Raden Prabakusuma
-Dewi Antakawulan, berputra Bambang Antakadewa
-Dewi Juwitaningrat, berputra Bambang Sumbada
-Dewi Maheswara
-Dewi Retno Kasimpar
-Dewi Dyah Sarimaya
-Dewi Srikandi

Itulah beberapa istri dari Arjuna dan garis Keturunan nya.

Garis keturunan Arjuna dari beberapa Istrinya, Kisah Mahabharata

Subscribe Our Newsletter