Social Items

Tampilkan postingan dengan label Wafatnya Nabi Nuh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wafatnya Nabi Nuh. Tampilkan semua postingan
Nabi Daud meninggal dalam usia sekitar 100 tahun dan dikebumikan di Baitul Muqaddis.
Nabi Daud dalam islam di kenal dengan puasanya yaitu puasa Daud,(sehari puasa sehari tidak).

Kuwaluhan.com

Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah bersabda,
“Nabi Daud adalah seorang nabi yang memiliki rasa cemburu tinggi. Setiap Kali Beliau keluar Selalu Pintu-Pintu Nirkabel, tidak ada yang bisa masuk ke rumah Nabi Daud sebelum beliau pulang.

Suatu hari beliau ke luar dan rumah pun telah dikunci. Tiba-tiba tiba-tiba mengintip dan melihat ada lelaki ber-diri di ruang tengah. Istrinya bertanya, 'siapa yang di dalam kamar?' Dari mana lelaki itu bisa masuk padahal pintu terkunci? Demi Allah, ini merupakan cara untuk mencemarkan nama baik Daud .

Kemudian Nabi Daud datang, lelaki itu masih berada di ruang tengah, lalu Daud bertanya kepada lelaki tersebut, 'Kamu siapa?' Dia menjawab, 'Aku adalah yang tidak pernah merasa takut dengan para raja dan tidak ada sesuatu yang dapat terkendali!'

Nabi Daud berkata, 'Demi Allah, Tuhan adalah malaikat pencabut nyawa. Kalau begitu, aku ucapkan selamat datang kepadamu untuk melaksanakan perintah Allah. '

Kemudian Nabi Daud akan menuju kamar yang di situ akan dicabut ruhnya .

Setelah semua tanggung jawab jenazah ditunaikan dengan baik, matahari pun terbit. Nabi Sulaiman berkata kepada burung, 'Naungilah ayahku, Nabi Daud.' Kemudian burung itu menaunginya hingga sekian hari. Sulaiman berkata lagi, 'Lepaskan sayapmu satu persatu!'

Abu Hurairah berkata, “Rasulullah itu kepada kami apa yang dilakukan burung itu. Ketika beliau wafat, beliau dinaungi oleh burung-burung bersayap lebar. ”

Jenazah Daud terpayungi, begitu pula para pengantarnya. Langit matahari tidak berhasil menyusupkan dosa ke para pengantar. Menyesuaikan bumi menjadi gelap. Kisah-kisah tersebut dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad.

Wallohua'lam Bisshowab

Kisah Cerita Wafatnya Nabi Daud As

Disebutkan dalam riwayat, bahwa para malaikat yang mengurus pemakamannya dan yang menyalatkannya. Ketika itu, usia nabi Musa sekitar 120 tahun.

Kuwaluhan.com

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallammenceritakan tentang wafatnya Nabi Musa ‘alaihissalam sebagai berikut:

جَاءَ مَلَكُ الْمَوْتِ إِلَى مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ. فَقَالَ لَهُ: أَجِبْ رَبَّكَ قَالَ فَلَطَمَ مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ عَيْنَ مَلَكِ الْمَوْتِ فَفَقَأَهَا، قَالَ فَرَجَعَ الْمَلَكُ إِلَى اللهِ تَعَالَى فَقَالَ: إِنَّكَ أَرْسَلْتَنِي إِلَى عَبْدٍ لَكَ لَا يُرِيدُ الْمَوْتَ، وَقَدْ فَقَأَ عَيْنِي، قَالَ فَرَدَّ اللهُ إِلَيْهِ عَيْنَهُ وَقَالَ: ارْجِعْ إِلَى عَبْدِي فَقُلْ: الْحَيَاةَ تُرِيدُ؟ فَإِنْ كُنْتَ تُرِيدُ الْحَيَاةَ فَضَعْ يَدَكَ عَلَى مَتْنِ ثَوْرٍ، فَمَا تَوَارَتْ يَدُكَ مِنْ شَعْرَةٍ، فَإِنَّكَ تَعِيشُ بِهَا سَنَةً، قَالَ: ثُمَّ مَهْ؟ قَالَ: ثُمَّ تَمُوتُ، قَالَ: فَالْآنَ مِنْ قَرِيبٍ، رَبِّ أَمِتْنِي مِنَ الْأَرْضِ الْمُقَدَّسَةِ، رَمْيَةً بِحَجَرٍ، قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «وَاللهِ لَوْ أَنِّي عِنْدَهُ لَأَرَيْتُكُمْ قَبْرَهُ إِلَى جَانِبِ الطَّرِيقِ، عِنْدَ الْكَثِيبِ الْأَحْمَرِ»

Malaikat maut datang kepada Nabi Musa ‘alaihissalam, lalu malaikat itu berkata kepadanya, “Penuhilah Tuhanmu.” Maka Nabi Musa segera memukul mata malaikat maut dan mencoloknya, kemudian malaikat itu kembali kepada Allah Ta’ala dan berkata, “Engkau mengirimku kepada seorang hamba yang tidak mau mati.” Dan ia telah mencolok mataku, lalu Allah mengembalikan matanya dan berfirman, “Kembalilah kepada hamba-Ku dan katakan, “Apakah engkau ingin hidup?” Jika engkau ingin hidup, maka letakkanlah tanganmu di atas punggung sapi, maka hidupmu sampai waktu sebanyak bulu yang tertutup tanganmu. Engkau masih dapat hidup setahun.” Kemudian Musa berkata, “Selanjutnya apa?” Allah berfirman, “Selanjutnya engkau mati.” Musa berkata, “Kalau begitu sekaranglah segera.” Wahai Tuhanku, matikanlah aku di dekat negeri yang suci yang jaraknya sejauh lemparan batu.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Demi Allah, kalau sekiranya aku berada dekat sana, tentu aku akan memberitahukan kalian kuburnya di pinggir jalan, di dekat bukit pasir merah.” (HR. Muslim)

Pada suatu hari malaikat Izrail mendekati Musa as. Musa bertanya,“ Apakah engkau datang untuk mengunjungiku atau mencabut nyawaku?“

Izrail,“Untuk mengambil nyawamu.“
Musa,“Bisakah engkau beri kesempatan kepadaku untuk melakukan perpisahan dengan anak-anakku.“
Izrail,“Tidak ada kesempatan untuk itu.“
Musa bersujud kepada Tuhan memohon agar memerintahkan Izrail untuk memberikan kesempatan kepada Musa menyampaikan kata perpisahan kepada anak-anaknya.

Tuhan berkata kepada Izrail, “Berikan kesempatan kepada Musa.“
Izrail memberinya kesempatan. Musa as., mendatangi ibunya dan berkata,“Saya sebentar lagi mau melakukan safar.“
Ibunya bertanya,“Safar apa?“
Musa berkata,“Perjalanan ke akhirat“
Ibunya pun menangis.

Kemudia Musa mendatangi istrinya. Ia mengucapkan perpisahan kepada istrinya. Anak-anaknya mendekati pangkuan Musa as., dan menangis. Musa as., terharu dan ia menangis juga.

Tuhan berkata kepada Musa as.,“Hai Musa, kamu akan datang menemui-Ku. Untuk apa tangisan dan rintihan ini?“
Musa as. ,berkata,“Hatiku mencemaskan anak-anakku.“

Tuhan berfirman,“Hai Musa, lepaskan hatimu dari mereka. Biarkan aku menjaga mereka. Biarkan Aku mengurus mereka dengan kecintaanku.“ Barulah hati Musa as., berfikir tenang.

Musa bertanya kepada Izrail,“Dari mana engkau akan mengambil nyawaku ?“
Izrail,“Dari mulutmu.“

Musa,“Apakah engkau akan mengambil nyawaku lewat mulut yang sudah bermunajat kepada Tuhan?“
Izrail,“Kalau begitu lewat tanganmu.“
Musa,“Apakah engkau akan mengambil nyawaku melalui tangan yang pernah membawa lembaran-lembaran Taurat?“
Izrail,“Kalau begitu dari kakimu.“
Musa,“Apakah engkau mengambil nyawa dari kaki yang pernah berjalan ke bukit Thur untuk bermunajat kepada Tuhan ?“

Izrail kemudian memberikan jeruk yang harum untuk dihirup Musa dan Musa menghembuskan nafas yang terakhir.
Para malaikat bertanya kepada Musa,“ Ya ahwanal anbiya` mawtan. Kaifa wajadta al-mawt? Hai Nabi yang paling ringan matinya, bagaimana rasanya kematian ?“
Musa berkata,“Kasyatin tuslaku wa hiya hayyatun. Seperti kambing yang dikuliti hidup-hidup.“

Sungguh betapa sakit yang luar biasa ketika menghadapi kematian, oleh karenya ada sebuah doa yang dianjurkan untuk dibaca rutin agar diselamatkan Allah dari kepedihan jelang kematian.

Wallohua'lam Bisshowab


Kisah Cerita Wafatnya Nabi Musa As

Setelah Nabi Ya’qub memiliki 12 keturunan yang disebut dengan asbath (keturunan Ya’qub). Dengan istri pertamanya, Rahiil, Nabi Ya’qub mendapatkan Nabi Yusuf ‘alaihissalaam dan Bunyamin.

Kuwaluhan.com

Dari istri keduanya, Laya, lahirlah Ruubil, Syam’un, Laawi, Yahuudza, Isaakhar dan Zabilon. Sedangkan dari budak milik Rahiil lahir Daan dan Naftaali, dan dari budak milik Layaa lahir Jaad dan Asyir.
Beliau pun juga semakin dekat dengan datangnya kematian.

Alloh berfirman :

“Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab: “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya”. (Q.S. Al-Baqarah (2): 133)

Tergeletak di atas tikar maut, Nabi Ya’kub As tetap memikirkan keselamatan aqidah putra-putranya. Mulutnya terbata-bata menanyakan kiblat aqidah mana yang akan diikuti putra-putranya sepeninggalnya.

“Sepeninggalku, ke arah mana wajah aqidah kalian hadapkan? Tuhan seperti apa yang kalian sembah?” Tanya Ya’kub As.

“Qiblat aqidah kami mengikuti nenek moyang; Ibrahim, Ismail dan Ishaq. Sembahan mereka itu juga sembahan kami,  Tuhan Yang Maha Esa.” Jawab mereka.

Nabi Ya’kub As tidak menanyakan label ketuhanan dari apa yang akan mereka sembah sepeninggalnya, tetapi dia menanyakan sifat-sifat seperti apa yang dimiliki tuhan yang kelak mereka sembah.

Suatu hari Nabi Ya’qub sedang berbincang dengan Malaikat Maut. Di tengah-tengah perbincangannya, Nabi Ya’qub berkata, “Aku tahu tugasmu sebagai pencabut nyawa. Alangkah baiknya, jika engkau mengabari aku terlebih dahulu sebelum menjemput ajalku nanti.”

Malaikat Maut pun berkata, “Baiklah, nanti akan aku kirimkan kepadamu dua atau tiga utusan.” Kemudian Malaikat itupun pergi meninggalkan Nabi Ya’qub.

Setelah beberapa lama, Malaikat itu datang menghampiri Nabi Ya’qub. Karena biasanya bertamu, Nabi Ya’qub tak kaget lagi melihat Malaikat itu datang menemuinya.

Nabi Ya’kub bertanya, “Apa kedatangan engkau sekadar bertamu seperti biasanya?”

Malaikat Maut menjawab, “Tidak, aku mau mencabut nyawamu.”

Kaget, Nabi Ya’qub lantas berkata, “Bukankah aku pernah berpesan padamu agar mengingatkan aku sebelum kau mencabut nyawaku?”

Malaikat Maut menjawab, “Aku sudah kirimkan kepadamu pesan itu, tidak hanya satu bahkan tiga : pertama, rambutmu yang mulai memutih; kedua, badanmu yang mulai melemah; dan ketiga badanmu yang mulai membungkuk. Itulah pesan yang kukirimkan kepada semua manusia sebelum aku mendatangi mereka.”

Kemudian Malaikat mau mencabut nyawa Nabi Ya’qub. Ayah dari Nabi Yusuf itupun meninggalkan dunia dengan kedamaian.

Cerita ini menjadi pelajaran bagi kita. Bukan tanpa peringatan, Allah dan Malaikat-Nya sudah memberikan tanda-tanda seseorang yang akan menemui ajalnya melalui 3 hal tersebut.

Melaui uban pula seseorang akan ditinggikan derajatnya dan dihitung sebagai kebaikan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan, “Uban adalah cahaya bagi seorang mukmin. Tidaklah seseorang beruban, walau hanya sehelai, kecuali setiap ubannya akan dihitung sebagai kebaikan yang akan meninggikan derajatnya”

Maka ketika tanda-tanda tersebut telah muncul, hendaknya menjadi alarm kita bahwa sebentar lagi akan meninggalkan dunia yang fana. Bukan lagi waktunya untuk bersenang-senang dengan memperbanyak dosa, melainkan mnimbun pahala.

Alangkah baiknya seseorang yang panjang umurnya dan baik pula perbuatannya seperti hadits Nabi berikut, ”Sungguh berbahagia bagi orang yang panjang usianya dan baik amal perbuatannya.” (HR Thabrani).

Wallohua'lam Bisshowab

Kisah Cerita Wafatnya Nabi Ya'qub As

Bismillahirrahmanirrohim

Artikel berikut ini mengisahkan tentang Wafatnya Nabi Ibrahim As dalam berbagai sumber. Langsung saja berikut kisahnya :

Ketika Siti Sarah meninggal, Nabi Ibrahim menikahi perempuan dari bangsa Kan'an. Lahir darinya lima  anak ; Bakisyan bin Ibrahim, Zamran bin Ibrahim, Madyan bin Ibrahim, Sabaq bin Ibrahim, dan Syuh bin Ibrahim. Mereka semua tidak menjadi nabi, akan tetapi yang menjadi nabi hanya keturunan Nabi Ishaq dan Nabi Ismail.

Kuwaluhan.com

Pada umur 150 tahun, Allah menampakkan uban Nabi Ibrahim. Ulama berkata, "Alasan Allah memunculkan uban kepada Nabi Ibrahim adalah karena Ishaq, putra beliau sangat mirip dengan beliau. Masyarakat tidak bisa membedakan antara keduanya.

Adab seseorang yang datang kepada Ishaq dan menyangka bahwa dia adalah Ibrahim. Orang tersebut menyapa, "Assalamualaikum, wahai kholilullah." Akhirnya Ishaq menjawab, "Aku adalah anak dari kholilullah. Ia lebih baik dari pada aku. Dia bak tuanku dan aku ibarat budaknya."

Saat orang-orang mulai tidak bisa membedakan antara Nabi Ibrahim dan Nabi Ishaq maka Allah memberinya tanda berupa uban. Nabi Ibrahim merasa sedih melihat rambut ubannya yang memutih. Namun beliau tidak bisa menolak apa yang dialaminya. Nabi Ibrahim adalah orang yang pertama kali beruban dari keturunan Nabi Adam.

"Wahai Tuhanku, apakah ini(uban)" tanya Ibrahim.

"Itu adalah kewibawaan, ketenangan, kebijaksanaan dariku." Jawab Allah.

"Wahai Allah, tambahkan kewibawaan, ketenangan, dan kegembiraan dengannya." Doa Ibrahim.

Nabi Ibrahim tetap hidup hingga 25 tahun kemudian. Umur beliau seluruhnya adalah 175 tahun. Ada yang mengatakan 200 tahun.

Ketika Allah hendak mencabut nyawa Nabi Ibrahim, terlebih dahulu Allah mengutus malaikat maut kepadanya. Saat itu Ibrahim berada di sebuah rumah, yang sama sekali tidak ada yang diperbolehkan masuk kecuali dengan izin beliau.

Suatu ketika malaikat maut masuk ke rumah beliau. Namun saat itu Nabi Ibrahim tidak di rumah. Hingga ketika Nabi Ibrahim kembali, dia mendapati laki-laki yang sangat buruk rupanya. Nabi Ibrahim pun tidak menginginkan kehadirannya.

"Siapa yang memperbolehkan kamu masuk?" Tanya beliau.

"Dzat yang memiliki rumah ini." Jawabnya.

"Dzat yang memiliki rumah lebih berhak atas rumah ini."

Lalu Malaikat maut keluar dari beliau.

Keesokan harinya, Nabi Ibrahim keluar dari rumahnya. Beliau mengunci pintu rumah tersebut. Malaikat maut kembali datang. Dia masuk.

Nabi Ibrahim pulang. Ternyata, di rumah beliau melihat laki-laki yang sangat bagus rupanya. Tidak pernah dia melihat orang yang lebih tampan darinya. Ketampanannya benar-benar membuat Nabi Ibrahim tercengang.

"Siapa kamu? Dan siapa yang mengizinkan kamu masuk rumahku?" Tanya beliau.

"Yang memberi izin kepadaku adalah dzat yang memiliki rumah ini." Jawabnya.

"Dzat yang memiliki rumah ini lebih berhak atasnya. Siapa sebenarnya dirimu?"

"Saya adalah malaikat maut, dan sayalah yang menemuimu kemarin." Dia berhenti. Kemudian melanjutkan ucapannya.

"Sesungguhnya ketika Allah menghendaki buruk terhadap seorang hamba maka dia akan mengutusku dalam keadaan yang engkau lihat kemarin. Apabila dia menghendaki baik maka dia mengutusku dalam wujud seperti ini."

Dalam riwayat lain :

Sesungguhnya Allah berkata kepada malaikat maut, "Pergilah kepada kekasihku, Ibrahim. Dia sudah tidak senang lagi dengan kehidupan dunia dan lebih suka kematian." Lalu malaikat maut pergi dengan wujud orang tua, yang punggungnya  menghitam, matanya buram, dan lubang hidungnya telah meleleh. Dia bersandar di tongkatnya.

Sedangkan Nabi Ibrahim duduk di rumahnya. Datang kepadanya orang-orang miskin, maka beliau menghormati mereka sebagai tamu. Lalu datang malaikat dengan rupa tersebut. Dia mengucapkan salam kepada beliau. Beliau mempersilakannya untuk makan. Dia duduk. Nabi Ibrahim melihat dia hendak makan. Namun saat ia menelan makanannya dari mulut, seketika itu makanannya terjatuh dari bawah. Nabi Ibrahim heran melihatnya.

"Wahai orang tua, apa yang terjadi dengan makananmu? Dan apa yang sebenarnya menimpamu?" Tanya beliau.

"Ini karena umurku yang sudah tua. Orang yang umurnya sudah tua juga akan mengalaminya." Jawab orang tua tersebut.

"Berapakah umurmu?"

"201 tahun."

Saat itu umur Nabi Ibrahim sudah 200 tahun. Beliau berkata dalam hati, "Masa antara diriku dan orang ini hanya satu tahun. Melihat apa yang dialaminya membuatku benci akan kehidupan dunia dan ingin segera meninggal." Kemudian orang tua tersebut pulang.

Setahun berlalu orang tua atau malaikat datang dengan wujud yang tampan. Nabi Ibrahim tahu bahwa dia adalah malaikat maut.

"Hai malaikat maut, aku ingin waktumu sebentar." Nabi Ibrahim menceritakan kejadian orang tua kemarin.

"Sedangkan aku diperintah untuk mencabut nyawamu."

Dalam riwayat lain :

Sesungguhnya malaikat maut datang kepada Nabi Ibrahim untuk mencabut nyawanya. Dia mengucapkan salam kepada beliau dan beliau pun menjawabnya.

"Siapa kamu?" Tanya nabi Ibrahim.

"Aku adalah malaikat maut. Aku diperintah karenamu," jawab malaikat.

Nabi Ibrahim menangis. Kemudian Nabi Ishaq mendengar tangisannya. Nabi Ishaq pun masuk, menemui beliau.

"Wahai kholilurrahman, apa yang membuatmu menangis?" Tanya Nabi Ishaq.

"Dia adalah malaikat maut yang akan mencabut nyawaku." Jawab beliau.

Nabi Ishaq pun ikut menangis. Karenanya, malaikat maut kembali kepada Tuhannya.

"Wahai Tuhanku, kekasihmu bersedih karena kematian," kata malaikat.

"Hai Jibril, ambilah wewangian dari surga. Pergilah bersama malaikat maut menuju Ibrahim. Tenangkan perasaannya dengan bau tersebut, dan katakan kepadanya, "Sesungguhnya seseorang akan rindu bila sudah lama tidak bisa berjumpa. Apakah kamu tidak rindu kepada-Ku, padahal kamu adalah kekasih-Ku." Perintah Allah kepada malaikat Jibril.

Jibril datang kepada Nabi Ibrahim, menyampaikan pesan dari Allah dan memberikannya wewangian surga. Nabi Ibrahim berkata, "Iya, wahai Tuhanku. Aku benar-benar rindu bertemu dengan-Mu dan akan bau wewangian ini." Lalu malaikat maut mencabut nyawa beliau.

Dan diriwayatkan bahwa, ketika malaikat maut hendak mencabut nyawa Nabi Ibrahim as, maka beliau berkata, "Hai malaikat maut, apakah kamu pernah tahu seorang kekasih mencabut nyawa orang yang dicintainya." Maka malaikat maut naik ke langit untuk melaporkannya kepada Allah Swt. Lalu Allah berkata, "Katakanlah kepada kekasihku, "Apakah seorang kekasih tidak suka bertemu dengan orang yang dicintainya?" Lalu malaikat maut kembali kepada Nabi Ibrahim.

Dia menyampaikan apa yang dikatakan Allah Swt. Mendengarnya, Nabi Ibrahim berkata kepada dirinya, "Tenanglah dirimu untuk saat ini." Lalu malaikat maut mencabut nyawa beliau. Beliau dikuburkan di perkebunan Hairun. Kebun ini adalah kebun milik seorang yang telah beliau beli. Beliau berwasiat agar dikuburkan di sana.

Wallohua'lam Bisshowab

Itulah kisah singkat Wafatnya Nabi Ibrahim As, jika ada kekeliruan silahkan anda berkomentar.

Inilah Kisah cerita Wafatnya Nabi Ibrahim As

Wahab bin Manbah berkata “Nabi Nuh as, hidup selama 200 tahun setelah terjadinya badai taufan. Dan beliau telah berhaji setelah turun dari kapalnya”. Wahab bin Manbah berkata “Nabi Nuh as, diutus oleh Allah  untuk menyeru menyembah Allah  dan diangkat sebagai nabi dan Rasul saat beliau berusia 250 tahun.

Kuwaluhan.com

Dan beliau dikaruniai umur yang panjang hingga beliau hidup selama 950 (sembilan ratus lima puluh) tahun lamanya. Ketika ajal sudah mendekati nabi Nuh, datanglah malaikat maut dan mengucapkan salam kepadanya

“Assalamu’alaikum ya Nabi ِِAlloh,”

nabi Nuh menjawab “Wa’alaika salam, kamu siapa? Kenapa kedatangan-mu membuat hatiku ketakutan setelah mendengar salam darimu?” tanya nabi Nuh.

Maka malaikat maut menjawab:

"Saya adalah malaikat pencabut nyawa, saya datang kepadamu untuk mencabut rohmu."

Ketika nabi Nuh mendengar ucapan malaikat, lalu berubah menjadi terkejut.

Malaikat bertanya:

"Apa yang kamu susahkan, wahai Nuh? Apakah kamu masih kurang hidup di dunia ini? Apakah kamu yang manusia tertua panjang?"

Maka nabi Nuh menjawab:

“Saya menemukan dunia ini adalah seperti rumah yang memiliki dua pintu, satu pintu untuk masuk dan satu lagi untuk keluar.”

Maka malaikat maut memberikan nabi Nuh satu gelas minuman dari surga seraya mengatakan:

“Minumlah isi yang ada di dalam gelas ini bisa tenang dan tidak ketakutan lagi.

Maka Nabi nuh mengambil gelas itu dan kemudian meminumnya.

Ketika nabi Nuh meminumnya, jatuhlah ia dan meninggallah ia seketika itu juga.

Ketika nabi Nuh meninggal maka anak-anak Beliau merawatnya, memandikan, mengkafani, menshalati serta menguburkannya di dekat tanah turki dan mengatakan bahwa didekat kuburan nabi Nuh terdapat udara yang mengalir. Wafatnya Nabi Nuh

KEJADIAN SEBELIM NABI NUH WAFAT

Imam al-Kasa’i (الكسائى) berkata “Nabi Nuh As, tinggal dibumi dan membaginya menjadi 3 bagian, dan diberikan kepada ke tiga anaknya, yaitu (1)Ham (حام) (2)Syam (شام) (3)Yafits (يافث). Adapun Sam bin Nuh, tinggal di daerah Mahghrib (Maroko, Afrika).

Banyak dari keturunan Sam ini menyebar sampai ke daerah Romawi, Persia, Hijaz, Yaman, Iraq, Arab dan sekitarnya. Dari garis sam inilah banyak keturunan para nabi dan rasul serta orang-orang beriman diseluruh dunia. Karena diwajah Sam terdapat nur nubuwah (cahaya kenabian) warisan dari ayahnya, Nabi Nuh.

Adapun Ham bin Nuh menetap bagian utara yang meliputi daerah Zanji, Hambsyah (Abessinia). dari garis keturunan ini lahir beberapa tokoh yang membantu perjuangan para nabi dan rasul di muka bumi. Sedangkan Yafits bin Nuh tinggal di bagian barat, dari garis ini lahir beberapa keturunan dari golongan orang-orang musyrik, diantaranya adalah golongan Tar-Tar, Ya’juj Ma’juj dan bani Turki.

Kemudian Allah mewahyukan kepada kepada nabi Nuh untuk menguburkan jasad nabi Adam as, beserta istrinya Hawa ditempat semula dan meletakkan kembali Hajar Aswad ditempat semula. Kemudian nabi Nuh berjalan mengelilingi bumi untuk melihat keadaan bumi setelah usai bencana badai taufan”.

Ka’ab bin Manbah berkata “setelah merasa usia nabi Nuh menua dan sudah dekat dengan ajalnya, beliau memanggil seluruhputra-putranya untuk berwasiat dan mendoakan mereka dan keturunannya. Beliau naik diatas bukit yang tinggi seraya memanggil-manggil putra-putranya.

Yang pertama-tama menghadiri panggilan ayahnya adalah Sam. Sam duduk didepan nabi Nuh dan meletakkan kedua tangannya dikepalanya seraya berdoa “Ya Allah, berkahilah sam dan keturunannya, dan anugerahkanlah nur nubuwah (cahaya kenabian) didahinya, jadikanlah ia dan keturunannya sebagai raja-raja diseluruh dunia, jadikanlah mereka sebagai nabi-nabi dan orang-orang yang shalih.

Kemudian nabi Nuh memanggil putra kedua, Ham. Namun ham tidak menghadiri panggilan ayahnya, namun yang datang malah cucu nabi Nuh dari keturunan Ham. Maka nabi Nuh mendoakan cucunya itu dengan doa seperti ini “Ya Allah, Jadikanlah Ham dan keturunannya sebagai orang yang hina, dengan wajah yang menghitam. Dan jadikanlah mereka budak-budak dan pembantu bagi keturunan Sam.”

Dikatakan; putra  Ham (حام) yang bernama Mishrayam (مصريم), ketika mendengar doa kakeknya, dengan segera ia sowan mendatangi kakeknya dan berkata ”Duhai kakek, aku mengamini doa-doamu kepada ayahku yang tidak mau memenuhi panggilanmu.” Kemudian nabi Nuh meletakkan kedua tangannya dan mendoaakan cucunya Mishrayam dengan doa yang baik “Ya Allah, ’Seperti doa-doaku yang telah Engkau kabulkan, maka berkahilah cucuku dan keturunannya ini.

Dan tempatkanlah mereka di bumi yang penuh dengan berkah-Mu, dimana tempat itu merupakan pusat kota/negara, dimana kota itu terdapat sungai (Nil) yang terbaik dimuka bumi ini.

Demikianlah doa nabi Nuh kepada cucunya Mishrayam, sehingga ia dan keturunannya tinggal di kota Mesir didekat sungai Nil, dan keturunan ini kelak disebut sebagai bangsa Qibthi (قبط).

Kemudian nabi Nuh mendoakan putranya yang ketiga yakni Yafits, namun Yafits tidak menghiraukan panggilan ayahnya itu. Kemudian Nabi Nuh mendoakan Yafits dan keturunannya dengan doa sebagai berikut “Ya Allah, jadikanlah ia (Yafits) dan keturunannya seburuk-buruknya makhluk.” Maka dengan doa nabi Nuh inilah, lahir keturunan bangsa Ya’juj-Ma’juj dan bangsa Tar-Tar.

Setelah nabi Nuh berdoa kepada putranya Yafits, maka seketika itu hamillah ia dengan sendirinya dan akhirnya ia melahirkan dua orang bayi laki-laki dan perempuan. Setelah melihat kedua anaknya yang baru lahir itu, Yafits mengingkari bahwa itu adalah anaknya, karena mereka memiliki wajah yang sangat hitam dan sangat menyeramkan.

Istri Yafits berkata “ini adalah keturunanmu melalui doa ayahmu nabi Nuh, lantaran engkau tidak mau menghadiri undangannya dan membuat kakek Nuh murka padamu.” Setelah mendengar jawaban dari istrinya, Yafits melarikan diri dari rumah, karena merasa malu memiliki keturunan yang sangat jelek sekali.

Setelah anak-anak itu dewasa, mereka berdua keluar dari rumah orang tuanya, hingga mereka berhenti ditepian sungai Nil dan tidak bisa meneruskan perjalanannya karena terhalang lebarnya sungai Nil. Akhirnya salah satu dari mereka melompati saudarinya dan dengan izin Allah, maka hamillah saudarinya itu dan melahirkan dua orang anak laki-laki dan perempuan yang berwajah hitam semua.

Dari kedua anak inilah mereka saling mengawini antar saudaranya dan berhasil menjadi kelompok besar yang akhirnya disebut sebagai orang-orang Sudan yang artinya “Orang-orang yang hitam” hingga kini. Menurut Imam Kasa’i, desa dimana tempat mereka berkumpul disebut desa Naubah.

Adapun Yafits putra Nabi Nuh yang ke-3 yang melarikan diri dari keluarganya menuju wilayah barat, menikah lagi dan memiliki 5 (lima) anak, mereka adalah (1)Jauhar (جوهر), memiliki keturunan dari bangsa Shabqalibah (سبقالبة) dan bangsa Rum (2)Batrus (بتروس), memiliki keturunan yang dikenal dengan Bani Turki dan bani Kazar (3)Mayasyikh (مياشيخ), memiliki keturunan dari bani ‘Ajam (orang-orang asing) (4)Sannaf(سناف), memiliki keturunan Ya’juj-Ma’juj. Sedangkan (5)Saqwil  (سقويل), memiliki keturunan dari bani Arman.”

Adapun Sam bin Nuh putra pertama memiliki 5 (lima) anak, yaitu :


  • Arfakhisydza (أرفحشذ), dari garis keturunan inilah lahir beberapa Nabi dan orang-orang Salih.
  •  ‘Arab (العرب) bin Sam bin Nuh memiliki keturunan yang tinggal di tanah Arab, hingga sampai pada Mudhor (مضار)(kaum Qurays Makkah) leluhur nabi Muhammad  dan kabilah-kabilah lain yang ada di  Yaman,
  •  Hasyim (حاشيم) yang kemudian dikenal dengan sebutan bani Nasanis (النسانيس)mereka ini memiliki mata satu dan telinganya juga satu, dan kemudian hari mereka disebut sebagai bani Imalaqoh(العمالقة) dan bani Imadiyah (العمادية).
  • Irom (إرام) keturunan Sam bin Nuh dikenal sebagai kaum ‘Aad (عاد) dan kaum Tsamud.
  • Syamlikha (شمليخا) termasuk keturunan Sam, namun ia tidak memiliki keturunan, karena istrinya mandul.


Imam Tsa’labi berkata “Sam bin Nuh (putra kedua) hidup selama 600 tahun, sepanjang hidupnya ia menjalaninya dengan penuh penderitaan hinga meninggal dunia. Dalam doa nabi Nuh, Sam tidak akan mati sebelum ia sendiri yang memintanya kepada Allah ﷻ. Setelah sekian lamanya hidup dalam penderitaan, dan seluruh badannya sudah tidak dapat lagi digerakan, tibalah ajalnya dan ia dimakamkan di kota Nuwa (نوى) di daerah Hauran (حوران)”.

Wallohua'lam Bisshowab

Kisah Wafatnya Nabi Nuh As setelah Banjir Air Bah

Loading...