Social Items

Tampilkan postingan dengan label Wafatnya Nabi Adam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wafatnya Nabi Adam. Tampilkan semua postingan
Pada suatu ketika nabi Sulaiman menyendiri di Baitul Maqdis yang saat itu dibangun pada tahun keempat kekuasaannya. Nabi Sulaiman AS menyendiri dalam waktu satu atau dua tahun, satu atau dua bulan.

Kuwaluhan.com

Beliau membawa makanan dan minumannya. Beliau tidak bangun pagi dan di dalam Baitul Maqdis sudah tumbuh pohon. Nabi Sulaiman AS mendatangi pohon itu dan bertanya,

“Siapa namamu?”
“Namaku ini dan ini,” jawab pohon itu.
“Akan tumbuh sebagai tumbuhan atau sebagai obat?” tanya Nabi Sulaiman lagi.
“Aku tumbuh sebagai obat itu dan ini,” jawab pohon tersebut.

Akhirnya pohon itu dinamakan Al Kharubah (Perusak).

Nabi Sulaiman bertanya lagi, “Siapa namamu?”

“Namaku Kharubah,” jawab pohon itu lagi.
“Kenapa engkau tumbuh?” tanya Nabi Sulaiman.

“Aku tumbuh untuk merusak masjid ini,” jawab pohon itu.

Nabi Sulaiman berkata, “Allah tidak akan merusak masjid ini selama aku hidup. Pada wajahmu, ada kebinasaanku dan kerusakan Baitul Maqdis.”

Nabi Sulaiman lalu mencabut pohon itu dan menanamnya di dinding rumahnya. Lalu, Nabi Sulaiman masuk ke mihrab dan berdiri shalat sambil bersandar pada tingkatnya dan kemudian meninggal tanpa setan pun tahu.

Setan-setan yang sedang bekerja untuk Nabi Sulaiman pun takut kalau Nabi Sulaiman akan keluar dan memberikan hukuman pada mereka. Akhirnya mereka berkumpul di sekeliling mihrab dan di depan serta belakang Nabi Sulaiman ada dinding.

Setan yang ingin mencabut pohon Al Kharubah berkata, "Bukankah akan menjadi kuat jika aku masuk dan keluar dari sisi itu?"

Maka setan itu pun masuk dari sisi tersebut hingga keluar dari sisi yang lain. Setan yang berjalan di mihrab itu tidak melihat maupun mendengar suara Nabi Sulaiman 'alaihissalam yang berada di dalam mihrab dan setan tersebut malah terbakar.

Hingga setan itu kembali berada di Baitul Maqdis dan tidak terbakar lagi, ia lalu melihat Nabi Sulaiman telah jatuh dalam keadaan wafat.

Setan tersebut lalu keluar dan memberitahukan pada orang-orang bahwa Nabi Sulaiman telah meninggal dunia. Mereka pun membuka pintu dan mengeluarkan Nabi Sulaiman, lalu menemukan tongkat yang telah dimakan oleh tanah dan mereka tidak mengetahui sejak kapan Nabi Sulaiman telah meninggal dunia.

Mereka lalu menaruh tanah di atas tongkat tersebut, sehingga tanah itu memakannya siang dan malam hari. Akhirnya, mereka memperkirakan bahwa Nabi Sulaiman telah meninggal dunia sejak satu tahun yang lalu.

Ibnu Mas'ud berkata, "Kemudian mereka mencermati secara bersungguh-sungguh untuknya setelah kematian Sulaiman selama satu tahun penuh sehingga orang-orang pun yakin bahwa jin telah berdusta.

Seandainya bangsa jin mengetahui hal ghaib, niscaya mereka mengetahui kematian Sulaiman. Kemudian mereka akan merasakan azab yang menghinakan. Dan itulah makna firman Allah ta'ala yang diterangkan dalam Al-Quran Surat Saba’ ayat 14.
Maka tatkala Kami telah menetapkan kematian Sulaiman, tidak ada yang menunjukkan kepada mereka kematiannya itu kecuali rayap yang memakan tongkatnya. Maka tatkala ia telah tersungkur, tahulah jin itu bahwa kalau sekiranya mereka mengetahui yang gaib tentulah mereka tidak akan tetap dalam siksa yang menghinakan.” (QS. Saba' ayat 14).

Peristiwa kematian Nabi Sulaiman yang penuh dengan misteri dan keajaiban, wafat dalam keadaan duduk di kursi, dengan memegang tongkat sambil mengawasi dan memperhatikan jin yang bekerja.. Hal ini menunjukkan tanda-tanda kekuasaan Allah.

Ibnu Mas'ud mengemukakan, "Tampak oleh orang-orang secara jelas bahwa jin-jin itu telah berbohong. Kemudian setan-setan itu berkata kepada bumi, 'Jika kamu memakan makanan, niscaya aku akan datangkan kepadamu makanan yang paling lezat untukmu. Dan jika kamu meminum minuman, niscaya aku akan memberikan minuman yang paling segar kepadamu.
Tetapi, kami akan memindahkan air dan tanah kepadamu.'

Asbagh mengatakan, "Aku pernah mendengar juga dari ulama lainnya bahwa binatang-binatang itu tinggal di sana selama satu tahun memakan tongkat Sulaiman hingga akhirnya rapuh dan roboh,"

Wallohua'lam Bisshowab

Kisah Cerita Wafatnya Nabi Sulaiman As

Nabi Daud meninggal dalam usia sekitar 100 tahun dan dikebumikan di Baitul Muqaddis.
Nabi Daud dalam islam di kenal dengan puasanya yaitu puasa Daud,(sehari puasa sehari tidak).

Kuwaluhan.com

Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah bersabda,
“Nabi Daud adalah seorang nabi yang memiliki rasa cemburu tinggi. Setiap Kali Beliau keluar Selalu Pintu-Pintu Nirkabel, tidak ada yang bisa masuk ke rumah Nabi Daud sebelum beliau pulang.

Suatu hari beliau ke luar dan rumah pun telah dikunci. Tiba-tiba tiba-tiba mengintip dan melihat ada lelaki ber-diri di ruang tengah. Istrinya bertanya, 'siapa yang di dalam kamar?' Dari mana lelaki itu bisa masuk padahal pintu terkunci? Demi Allah, ini merupakan cara untuk mencemarkan nama baik Daud .

Kemudian Nabi Daud datang, lelaki itu masih berada di ruang tengah, lalu Daud bertanya kepada lelaki tersebut, 'Kamu siapa?' Dia menjawab, 'Aku adalah yang tidak pernah merasa takut dengan para raja dan tidak ada sesuatu yang dapat terkendali!'

Nabi Daud berkata, 'Demi Allah, Tuhan adalah malaikat pencabut nyawa. Kalau begitu, aku ucapkan selamat datang kepadamu untuk melaksanakan perintah Allah. '

Kemudian Nabi Daud akan menuju kamar yang di situ akan dicabut ruhnya .

Setelah semua tanggung jawab jenazah ditunaikan dengan baik, matahari pun terbit. Nabi Sulaiman berkata kepada burung, 'Naungilah ayahku, Nabi Daud.' Kemudian burung itu menaunginya hingga sekian hari. Sulaiman berkata lagi, 'Lepaskan sayapmu satu persatu!'

Abu Hurairah berkata, “Rasulullah itu kepada kami apa yang dilakukan burung itu. Ketika beliau wafat, beliau dinaungi oleh burung-burung bersayap lebar. ”

Jenazah Daud terpayungi, begitu pula para pengantarnya. Langit matahari tidak berhasil menyusupkan dosa ke para pengantar. Menyesuaikan bumi menjadi gelap. Kisah-kisah tersebut dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad.

Wallohua'lam Bisshowab

Kisah Cerita Wafatnya Nabi Daud As

Disebutkan dalam riwayat, bahwa para malaikat yang mengurus pemakamannya dan yang menyalatkannya. Ketika itu, usia nabi Musa sekitar 120 tahun.

Kuwaluhan.com

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallammenceritakan tentang wafatnya Nabi Musa ‘alaihissalam sebagai berikut:

جَاءَ مَلَكُ الْمَوْتِ إِلَى مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ. فَقَالَ لَهُ: أَجِبْ رَبَّكَ قَالَ فَلَطَمَ مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ عَيْنَ مَلَكِ الْمَوْتِ فَفَقَأَهَا، قَالَ فَرَجَعَ الْمَلَكُ إِلَى اللهِ تَعَالَى فَقَالَ: إِنَّكَ أَرْسَلْتَنِي إِلَى عَبْدٍ لَكَ لَا يُرِيدُ الْمَوْتَ، وَقَدْ فَقَأَ عَيْنِي، قَالَ فَرَدَّ اللهُ إِلَيْهِ عَيْنَهُ وَقَالَ: ارْجِعْ إِلَى عَبْدِي فَقُلْ: الْحَيَاةَ تُرِيدُ؟ فَإِنْ كُنْتَ تُرِيدُ الْحَيَاةَ فَضَعْ يَدَكَ عَلَى مَتْنِ ثَوْرٍ، فَمَا تَوَارَتْ يَدُكَ مِنْ شَعْرَةٍ، فَإِنَّكَ تَعِيشُ بِهَا سَنَةً، قَالَ: ثُمَّ مَهْ؟ قَالَ: ثُمَّ تَمُوتُ، قَالَ: فَالْآنَ مِنْ قَرِيبٍ، رَبِّ أَمِتْنِي مِنَ الْأَرْضِ الْمُقَدَّسَةِ، رَمْيَةً بِحَجَرٍ، قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «وَاللهِ لَوْ أَنِّي عِنْدَهُ لَأَرَيْتُكُمْ قَبْرَهُ إِلَى جَانِبِ الطَّرِيقِ، عِنْدَ الْكَثِيبِ الْأَحْمَرِ»

Malaikat maut datang kepada Nabi Musa ‘alaihissalam, lalu malaikat itu berkata kepadanya, “Penuhilah Tuhanmu.” Maka Nabi Musa segera memukul mata malaikat maut dan mencoloknya, kemudian malaikat itu kembali kepada Allah Ta’ala dan berkata, “Engkau mengirimku kepada seorang hamba yang tidak mau mati.” Dan ia telah mencolok mataku, lalu Allah mengembalikan matanya dan berfirman, “Kembalilah kepada hamba-Ku dan katakan, “Apakah engkau ingin hidup?” Jika engkau ingin hidup, maka letakkanlah tanganmu di atas punggung sapi, maka hidupmu sampai waktu sebanyak bulu yang tertutup tanganmu. Engkau masih dapat hidup setahun.” Kemudian Musa berkata, “Selanjutnya apa?” Allah berfirman, “Selanjutnya engkau mati.” Musa berkata, “Kalau begitu sekaranglah segera.” Wahai Tuhanku, matikanlah aku di dekat negeri yang suci yang jaraknya sejauh lemparan batu.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Demi Allah, kalau sekiranya aku berada dekat sana, tentu aku akan memberitahukan kalian kuburnya di pinggir jalan, di dekat bukit pasir merah.” (HR. Muslim)

Pada suatu hari malaikat Izrail mendekati Musa as. Musa bertanya,“ Apakah engkau datang untuk mengunjungiku atau mencabut nyawaku?“

Izrail,“Untuk mengambil nyawamu.“
Musa,“Bisakah engkau beri kesempatan kepadaku untuk melakukan perpisahan dengan anak-anakku.“
Izrail,“Tidak ada kesempatan untuk itu.“
Musa bersujud kepada Tuhan memohon agar memerintahkan Izrail untuk memberikan kesempatan kepada Musa menyampaikan kata perpisahan kepada anak-anaknya.

Tuhan berkata kepada Izrail, “Berikan kesempatan kepada Musa.“
Izrail memberinya kesempatan. Musa as., mendatangi ibunya dan berkata,“Saya sebentar lagi mau melakukan safar.“
Ibunya bertanya,“Safar apa?“
Musa berkata,“Perjalanan ke akhirat“
Ibunya pun menangis.

Kemudia Musa mendatangi istrinya. Ia mengucapkan perpisahan kepada istrinya. Anak-anaknya mendekati pangkuan Musa as., dan menangis. Musa as., terharu dan ia menangis juga.

Tuhan berkata kepada Musa as.,“Hai Musa, kamu akan datang menemui-Ku. Untuk apa tangisan dan rintihan ini?“
Musa as. ,berkata,“Hatiku mencemaskan anak-anakku.“

Tuhan berfirman,“Hai Musa, lepaskan hatimu dari mereka. Biarkan aku menjaga mereka. Biarkan Aku mengurus mereka dengan kecintaanku.“ Barulah hati Musa as., berfikir tenang.

Musa bertanya kepada Izrail,“Dari mana engkau akan mengambil nyawaku ?“
Izrail,“Dari mulutmu.“

Musa,“Apakah engkau akan mengambil nyawaku lewat mulut yang sudah bermunajat kepada Tuhan?“
Izrail,“Kalau begitu lewat tanganmu.“
Musa,“Apakah engkau akan mengambil nyawaku melalui tangan yang pernah membawa lembaran-lembaran Taurat?“
Izrail,“Kalau begitu dari kakimu.“
Musa,“Apakah engkau mengambil nyawa dari kaki yang pernah berjalan ke bukit Thur untuk bermunajat kepada Tuhan ?“

Izrail kemudian memberikan jeruk yang harum untuk dihirup Musa dan Musa menghembuskan nafas yang terakhir.
Para malaikat bertanya kepada Musa,“ Ya ahwanal anbiya` mawtan. Kaifa wajadta al-mawt? Hai Nabi yang paling ringan matinya, bagaimana rasanya kematian ?“
Musa berkata,“Kasyatin tuslaku wa hiya hayyatun. Seperti kambing yang dikuliti hidup-hidup.“

Sungguh betapa sakit yang luar biasa ketika menghadapi kematian, oleh karenya ada sebuah doa yang dianjurkan untuk dibaca rutin agar diselamatkan Allah dari kepedihan jelang kematian.

Wallohua'lam Bisshowab


Kisah Cerita Wafatnya Nabi Musa As

Setelah Nabi Ya’qub memiliki 12 keturunan yang disebut dengan asbath (keturunan Ya’qub). Dengan istri pertamanya, Rahiil, Nabi Ya’qub mendapatkan Nabi Yusuf ‘alaihissalaam dan Bunyamin.

Kuwaluhan.com

Dari istri keduanya, Laya, lahirlah Ruubil, Syam’un, Laawi, Yahuudza, Isaakhar dan Zabilon. Sedangkan dari budak milik Rahiil lahir Daan dan Naftaali, dan dari budak milik Layaa lahir Jaad dan Asyir.
Beliau pun juga semakin dekat dengan datangnya kematian.

Alloh berfirman :

“Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab: “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya”. (Q.S. Al-Baqarah (2): 133)

Tergeletak di atas tikar maut, Nabi Ya’kub As tetap memikirkan keselamatan aqidah putra-putranya. Mulutnya terbata-bata menanyakan kiblat aqidah mana yang akan diikuti putra-putranya sepeninggalnya.

“Sepeninggalku, ke arah mana wajah aqidah kalian hadapkan? Tuhan seperti apa yang kalian sembah?” Tanya Ya’kub As.

“Qiblat aqidah kami mengikuti nenek moyang; Ibrahim, Ismail dan Ishaq. Sembahan mereka itu juga sembahan kami,  Tuhan Yang Maha Esa.” Jawab mereka.

Nabi Ya’kub As tidak menanyakan label ketuhanan dari apa yang akan mereka sembah sepeninggalnya, tetapi dia menanyakan sifat-sifat seperti apa yang dimiliki tuhan yang kelak mereka sembah.

Suatu hari Nabi Ya’qub sedang berbincang dengan Malaikat Maut. Di tengah-tengah perbincangannya, Nabi Ya’qub berkata, “Aku tahu tugasmu sebagai pencabut nyawa. Alangkah baiknya, jika engkau mengabari aku terlebih dahulu sebelum menjemput ajalku nanti.”

Malaikat Maut pun berkata, “Baiklah, nanti akan aku kirimkan kepadamu dua atau tiga utusan.” Kemudian Malaikat itupun pergi meninggalkan Nabi Ya’qub.

Setelah beberapa lama, Malaikat itu datang menghampiri Nabi Ya’qub. Karena biasanya bertamu, Nabi Ya’qub tak kaget lagi melihat Malaikat itu datang menemuinya.

Nabi Ya’kub bertanya, “Apa kedatangan engkau sekadar bertamu seperti biasanya?”

Malaikat Maut menjawab, “Tidak, aku mau mencabut nyawamu.”

Kaget, Nabi Ya’qub lantas berkata, “Bukankah aku pernah berpesan padamu agar mengingatkan aku sebelum kau mencabut nyawaku?”

Malaikat Maut menjawab, “Aku sudah kirimkan kepadamu pesan itu, tidak hanya satu bahkan tiga : pertama, rambutmu yang mulai memutih; kedua, badanmu yang mulai melemah; dan ketiga badanmu yang mulai membungkuk. Itulah pesan yang kukirimkan kepada semua manusia sebelum aku mendatangi mereka.”

Kemudian Malaikat mau mencabut nyawa Nabi Ya’qub. Ayah dari Nabi Yusuf itupun meninggalkan dunia dengan kedamaian.

Cerita ini menjadi pelajaran bagi kita. Bukan tanpa peringatan, Allah dan Malaikat-Nya sudah memberikan tanda-tanda seseorang yang akan menemui ajalnya melalui 3 hal tersebut.

Melaui uban pula seseorang akan ditinggikan derajatnya dan dihitung sebagai kebaikan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan, “Uban adalah cahaya bagi seorang mukmin. Tidaklah seseorang beruban, walau hanya sehelai, kecuali setiap ubannya akan dihitung sebagai kebaikan yang akan meninggikan derajatnya”

Maka ketika tanda-tanda tersebut telah muncul, hendaknya menjadi alarm kita bahwa sebentar lagi akan meninggalkan dunia yang fana. Bukan lagi waktunya untuk bersenang-senang dengan memperbanyak dosa, melainkan mnimbun pahala.

Alangkah baiknya seseorang yang panjang umurnya dan baik pula perbuatannya seperti hadits Nabi berikut, ”Sungguh berbahagia bagi orang yang panjang usianya dan baik amal perbuatannya.” (HR Thabrani).

Wallohua'lam Bisshowab

Kisah Cerita Wafatnya Nabi Ya'qub As

Bismillahirrahmanirrohim

Artikel berikut ini mengisahkan tentang Wafatnya Nabi Ibrahim As dalam berbagai sumber. Langsung saja berikut kisahnya :

Ketika Siti Sarah meninggal, Nabi Ibrahim menikahi perempuan dari bangsa Kan'an. Lahir darinya lima  anak ; Bakisyan bin Ibrahim, Zamran bin Ibrahim, Madyan bin Ibrahim, Sabaq bin Ibrahim, dan Syuh bin Ibrahim. Mereka semua tidak menjadi nabi, akan tetapi yang menjadi nabi hanya keturunan Nabi Ishaq dan Nabi Ismail.

Kuwaluhan.com

Pada umur 150 tahun, Allah menampakkan uban Nabi Ibrahim. Ulama berkata, "Alasan Allah memunculkan uban kepada Nabi Ibrahim adalah karena Ishaq, putra beliau sangat mirip dengan beliau. Masyarakat tidak bisa membedakan antara keduanya.

Adab seseorang yang datang kepada Ishaq dan menyangka bahwa dia adalah Ibrahim. Orang tersebut menyapa, "Assalamualaikum, wahai kholilullah." Akhirnya Ishaq menjawab, "Aku adalah anak dari kholilullah. Ia lebih baik dari pada aku. Dia bak tuanku dan aku ibarat budaknya."

Saat orang-orang mulai tidak bisa membedakan antara Nabi Ibrahim dan Nabi Ishaq maka Allah memberinya tanda berupa uban. Nabi Ibrahim merasa sedih melihat rambut ubannya yang memutih. Namun beliau tidak bisa menolak apa yang dialaminya. Nabi Ibrahim adalah orang yang pertama kali beruban dari keturunan Nabi Adam.

"Wahai Tuhanku, apakah ini(uban)" tanya Ibrahim.

"Itu adalah kewibawaan, ketenangan, kebijaksanaan dariku." Jawab Allah.

"Wahai Allah, tambahkan kewibawaan, ketenangan, dan kegembiraan dengannya." Doa Ibrahim.

Nabi Ibrahim tetap hidup hingga 25 tahun kemudian. Umur beliau seluruhnya adalah 175 tahun. Ada yang mengatakan 200 tahun.

Ketika Allah hendak mencabut nyawa Nabi Ibrahim, terlebih dahulu Allah mengutus malaikat maut kepadanya. Saat itu Ibrahim berada di sebuah rumah, yang sama sekali tidak ada yang diperbolehkan masuk kecuali dengan izin beliau.

Suatu ketika malaikat maut masuk ke rumah beliau. Namun saat itu Nabi Ibrahim tidak di rumah. Hingga ketika Nabi Ibrahim kembali, dia mendapati laki-laki yang sangat buruk rupanya. Nabi Ibrahim pun tidak menginginkan kehadirannya.

"Siapa yang memperbolehkan kamu masuk?" Tanya beliau.

"Dzat yang memiliki rumah ini." Jawabnya.

"Dzat yang memiliki rumah lebih berhak atas rumah ini."

Lalu Malaikat maut keluar dari beliau.

Keesokan harinya, Nabi Ibrahim keluar dari rumahnya. Beliau mengunci pintu rumah tersebut. Malaikat maut kembali datang. Dia masuk.

Nabi Ibrahim pulang. Ternyata, di rumah beliau melihat laki-laki yang sangat bagus rupanya. Tidak pernah dia melihat orang yang lebih tampan darinya. Ketampanannya benar-benar membuat Nabi Ibrahim tercengang.

"Siapa kamu? Dan siapa yang mengizinkan kamu masuk rumahku?" Tanya beliau.

"Yang memberi izin kepadaku adalah dzat yang memiliki rumah ini." Jawabnya.

"Dzat yang memiliki rumah ini lebih berhak atasnya. Siapa sebenarnya dirimu?"

"Saya adalah malaikat maut, dan sayalah yang menemuimu kemarin." Dia berhenti. Kemudian melanjutkan ucapannya.

"Sesungguhnya ketika Allah menghendaki buruk terhadap seorang hamba maka dia akan mengutusku dalam keadaan yang engkau lihat kemarin. Apabila dia menghendaki baik maka dia mengutusku dalam wujud seperti ini."

Dalam riwayat lain :

Sesungguhnya Allah berkata kepada malaikat maut, "Pergilah kepada kekasihku, Ibrahim. Dia sudah tidak senang lagi dengan kehidupan dunia dan lebih suka kematian." Lalu malaikat maut pergi dengan wujud orang tua, yang punggungnya  menghitam, matanya buram, dan lubang hidungnya telah meleleh. Dia bersandar di tongkatnya.

Sedangkan Nabi Ibrahim duduk di rumahnya. Datang kepadanya orang-orang miskin, maka beliau menghormati mereka sebagai tamu. Lalu datang malaikat dengan rupa tersebut. Dia mengucapkan salam kepada beliau. Beliau mempersilakannya untuk makan. Dia duduk. Nabi Ibrahim melihat dia hendak makan. Namun saat ia menelan makanannya dari mulut, seketika itu makanannya terjatuh dari bawah. Nabi Ibrahim heran melihatnya.

"Wahai orang tua, apa yang terjadi dengan makananmu? Dan apa yang sebenarnya menimpamu?" Tanya beliau.

"Ini karena umurku yang sudah tua. Orang yang umurnya sudah tua juga akan mengalaminya." Jawab orang tua tersebut.

"Berapakah umurmu?"

"201 tahun."

Saat itu umur Nabi Ibrahim sudah 200 tahun. Beliau berkata dalam hati, "Masa antara diriku dan orang ini hanya satu tahun. Melihat apa yang dialaminya membuatku benci akan kehidupan dunia dan ingin segera meninggal." Kemudian orang tua tersebut pulang.

Setahun berlalu orang tua atau malaikat datang dengan wujud yang tampan. Nabi Ibrahim tahu bahwa dia adalah malaikat maut.

"Hai malaikat maut, aku ingin waktumu sebentar." Nabi Ibrahim menceritakan kejadian orang tua kemarin.

"Sedangkan aku diperintah untuk mencabut nyawamu."

Dalam riwayat lain :

Sesungguhnya malaikat maut datang kepada Nabi Ibrahim untuk mencabut nyawanya. Dia mengucapkan salam kepada beliau dan beliau pun menjawabnya.

"Siapa kamu?" Tanya nabi Ibrahim.

"Aku adalah malaikat maut. Aku diperintah karenamu," jawab malaikat.

Nabi Ibrahim menangis. Kemudian Nabi Ishaq mendengar tangisannya. Nabi Ishaq pun masuk, menemui beliau.

"Wahai kholilurrahman, apa yang membuatmu menangis?" Tanya Nabi Ishaq.

"Dia adalah malaikat maut yang akan mencabut nyawaku." Jawab beliau.

Nabi Ishaq pun ikut menangis. Karenanya, malaikat maut kembali kepada Tuhannya.

"Wahai Tuhanku, kekasihmu bersedih karena kematian," kata malaikat.

"Hai Jibril, ambilah wewangian dari surga. Pergilah bersama malaikat maut menuju Ibrahim. Tenangkan perasaannya dengan bau tersebut, dan katakan kepadanya, "Sesungguhnya seseorang akan rindu bila sudah lama tidak bisa berjumpa. Apakah kamu tidak rindu kepada-Ku, padahal kamu adalah kekasih-Ku." Perintah Allah kepada malaikat Jibril.

Jibril datang kepada Nabi Ibrahim, menyampaikan pesan dari Allah dan memberikannya wewangian surga. Nabi Ibrahim berkata, "Iya, wahai Tuhanku. Aku benar-benar rindu bertemu dengan-Mu dan akan bau wewangian ini." Lalu malaikat maut mencabut nyawa beliau.

Dan diriwayatkan bahwa, ketika malaikat maut hendak mencabut nyawa Nabi Ibrahim as, maka beliau berkata, "Hai malaikat maut, apakah kamu pernah tahu seorang kekasih mencabut nyawa orang yang dicintainya." Maka malaikat maut naik ke langit untuk melaporkannya kepada Allah Swt. Lalu Allah berkata, "Katakanlah kepada kekasihku, "Apakah seorang kekasih tidak suka bertemu dengan orang yang dicintainya?" Lalu malaikat maut kembali kepada Nabi Ibrahim.

Dia menyampaikan apa yang dikatakan Allah Swt. Mendengarnya, Nabi Ibrahim berkata kepada dirinya, "Tenanglah dirimu untuk saat ini." Lalu malaikat maut mencabut nyawa beliau. Beliau dikuburkan di perkebunan Hairun. Kebun ini adalah kebun milik seorang yang telah beliau beli. Beliau berwasiat agar dikuburkan di sana.

Wallohua'lam Bisshowab

Itulah kisah singkat Wafatnya Nabi Ibrahim As, jika ada kekeliruan silahkan anda berkomentar.

Inilah Kisah cerita Wafatnya Nabi Ibrahim As

Wahab bin Manbah berkata “Nabi Nuh as, hidup selama 200 tahun setelah terjadinya badai taufan. Dan beliau telah berhaji setelah turun dari kapalnya”. Wahab bin Manbah berkata “Nabi Nuh as, diutus oleh Allah  untuk menyeru menyembah Allah  dan diangkat sebagai nabi dan Rasul saat beliau berusia 250 tahun.

Kuwaluhan.com

Dan beliau dikaruniai umur yang panjang hingga beliau hidup selama 950 (sembilan ratus lima puluh) tahun lamanya. Ketika ajal sudah mendekati nabi Nuh, datanglah malaikat maut dan mengucapkan salam kepadanya

“Assalamu’alaikum ya Nabi ِِAlloh,”

nabi Nuh menjawab “Wa’alaika salam, kamu siapa? Kenapa kedatangan-mu membuat hatiku ketakutan setelah mendengar salam darimu?” tanya nabi Nuh.

Maka malaikat maut menjawab:

"Saya adalah malaikat pencabut nyawa, saya datang kepadamu untuk mencabut rohmu."

Ketika nabi Nuh mendengar ucapan malaikat, lalu berubah menjadi terkejut.

Malaikat bertanya:

"Apa yang kamu susahkan, wahai Nuh? Apakah kamu masih kurang hidup di dunia ini? Apakah kamu yang manusia tertua panjang?"

Maka nabi Nuh menjawab:

“Saya menemukan dunia ini adalah seperti rumah yang memiliki dua pintu, satu pintu untuk masuk dan satu lagi untuk keluar.”

Maka malaikat maut memberikan nabi Nuh satu gelas minuman dari surga seraya mengatakan:

“Minumlah isi yang ada di dalam gelas ini bisa tenang dan tidak ketakutan lagi.

Maka Nabi nuh mengambil gelas itu dan kemudian meminumnya.

Ketika nabi Nuh meminumnya, jatuhlah ia dan meninggallah ia seketika itu juga.

Ketika nabi Nuh meninggal maka anak-anak Beliau merawatnya, memandikan, mengkafani, menshalati serta menguburkannya di dekat tanah turki dan mengatakan bahwa didekat kuburan nabi Nuh terdapat udara yang mengalir. Wafatnya Nabi Nuh

KEJADIAN SEBELIM NABI NUH WAFAT

Imam al-Kasa’i (الكسائى) berkata “Nabi Nuh As, tinggal dibumi dan membaginya menjadi 3 bagian, dan diberikan kepada ke tiga anaknya, yaitu (1)Ham (حام) (2)Syam (شام) (3)Yafits (يافث). Adapun Sam bin Nuh, tinggal di daerah Mahghrib (Maroko, Afrika).

Banyak dari keturunan Sam ini menyebar sampai ke daerah Romawi, Persia, Hijaz, Yaman, Iraq, Arab dan sekitarnya. Dari garis sam inilah banyak keturunan para nabi dan rasul serta orang-orang beriman diseluruh dunia. Karena diwajah Sam terdapat nur nubuwah (cahaya kenabian) warisan dari ayahnya, Nabi Nuh.

Adapun Ham bin Nuh menetap bagian utara yang meliputi daerah Zanji, Hambsyah (Abessinia). dari garis keturunan ini lahir beberapa tokoh yang membantu perjuangan para nabi dan rasul di muka bumi. Sedangkan Yafits bin Nuh tinggal di bagian barat, dari garis ini lahir beberapa keturunan dari golongan orang-orang musyrik, diantaranya adalah golongan Tar-Tar, Ya’juj Ma’juj dan bani Turki.

Kemudian Allah mewahyukan kepada kepada nabi Nuh untuk menguburkan jasad nabi Adam as, beserta istrinya Hawa ditempat semula dan meletakkan kembali Hajar Aswad ditempat semula. Kemudian nabi Nuh berjalan mengelilingi bumi untuk melihat keadaan bumi setelah usai bencana badai taufan”.

Ka’ab bin Manbah berkata “setelah merasa usia nabi Nuh menua dan sudah dekat dengan ajalnya, beliau memanggil seluruhputra-putranya untuk berwasiat dan mendoakan mereka dan keturunannya. Beliau naik diatas bukit yang tinggi seraya memanggil-manggil putra-putranya.

Yang pertama-tama menghadiri panggilan ayahnya adalah Sam. Sam duduk didepan nabi Nuh dan meletakkan kedua tangannya dikepalanya seraya berdoa “Ya Allah, berkahilah sam dan keturunannya, dan anugerahkanlah nur nubuwah (cahaya kenabian) didahinya, jadikanlah ia dan keturunannya sebagai raja-raja diseluruh dunia, jadikanlah mereka sebagai nabi-nabi dan orang-orang yang shalih.

Kemudian nabi Nuh memanggil putra kedua, Ham. Namun ham tidak menghadiri panggilan ayahnya, namun yang datang malah cucu nabi Nuh dari keturunan Ham. Maka nabi Nuh mendoakan cucunya itu dengan doa seperti ini “Ya Allah, Jadikanlah Ham dan keturunannya sebagai orang yang hina, dengan wajah yang menghitam. Dan jadikanlah mereka budak-budak dan pembantu bagi keturunan Sam.”

Dikatakan; putra  Ham (حام) yang bernama Mishrayam (مصريم), ketika mendengar doa kakeknya, dengan segera ia sowan mendatangi kakeknya dan berkata ”Duhai kakek, aku mengamini doa-doamu kepada ayahku yang tidak mau memenuhi panggilanmu.” Kemudian nabi Nuh meletakkan kedua tangannya dan mendoaakan cucunya Mishrayam dengan doa yang baik “Ya Allah, ’Seperti doa-doaku yang telah Engkau kabulkan, maka berkahilah cucuku dan keturunannya ini.

Dan tempatkanlah mereka di bumi yang penuh dengan berkah-Mu, dimana tempat itu merupakan pusat kota/negara, dimana kota itu terdapat sungai (Nil) yang terbaik dimuka bumi ini.

Demikianlah doa nabi Nuh kepada cucunya Mishrayam, sehingga ia dan keturunannya tinggal di kota Mesir didekat sungai Nil, dan keturunan ini kelak disebut sebagai bangsa Qibthi (قبط).

Kemudian nabi Nuh mendoakan putranya yang ketiga yakni Yafits, namun Yafits tidak menghiraukan panggilan ayahnya itu. Kemudian Nabi Nuh mendoakan Yafits dan keturunannya dengan doa sebagai berikut “Ya Allah, jadikanlah ia (Yafits) dan keturunannya seburuk-buruknya makhluk.” Maka dengan doa nabi Nuh inilah, lahir keturunan bangsa Ya’juj-Ma’juj dan bangsa Tar-Tar.

Setelah nabi Nuh berdoa kepada putranya Yafits, maka seketika itu hamillah ia dengan sendirinya dan akhirnya ia melahirkan dua orang bayi laki-laki dan perempuan. Setelah melihat kedua anaknya yang baru lahir itu, Yafits mengingkari bahwa itu adalah anaknya, karena mereka memiliki wajah yang sangat hitam dan sangat menyeramkan.

Istri Yafits berkata “ini adalah keturunanmu melalui doa ayahmu nabi Nuh, lantaran engkau tidak mau menghadiri undangannya dan membuat kakek Nuh murka padamu.” Setelah mendengar jawaban dari istrinya, Yafits melarikan diri dari rumah, karena merasa malu memiliki keturunan yang sangat jelek sekali.

Setelah anak-anak itu dewasa, mereka berdua keluar dari rumah orang tuanya, hingga mereka berhenti ditepian sungai Nil dan tidak bisa meneruskan perjalanannya karena terhalang lebarnya sungai Nil. Akhirnya salah satu dari mereka melompati saudarinya dan dengan izin Allah, maka hamillah saudarinya itu dan melahirkan dua orang anak laki-laki dan perempuan yang berwajah hitam semua.

Dari kedua anak inilah mereka saling mengawini antar saudaranya dan berhasil menjadi kelompok besar yang akhirnya disebut sebagai orang-orang Sudan yang artinya “Orang-orang yang hitam” hingga kini. Menurut Imam Kasa’i, desa dimana tempat mereka berkumpul disebut desa Naubah.

Adapun Yafits putra Nabi Nuh yang ke-3 yang melarikan diri dari keluarganya menuju wilayah barat, menikah lagi dan memiliki 5 (lima) anak, mereka adalah (1)Jauhar (جوهر), memiliki keturunan dari bangsa Shabqalibah (سبقالبة) dan bangsa Rum (2)Batrus (بتروس), memiliki keturunan yang dikenal dengan Bani Turki dan bani Kazar (3)Mayasyikh (مياشيخ), memiliki keturunan dari bani ‘Ajam (orang-orang asing) (4)Sannaf(سناف), memiliki keturunan Ya’juj-Ma’juj. Sedangkan (5)Saqwil  (سقويل), memiliki keturunan dari bani Arman.”

Adapun Sam bin Nuh putra pertama memiliki 5 (lima) anak, yaitu :


  • Arfakhisydza (أرفحشذ), dari garis keturunan inilah lahir beberapa Nabi dan orang-orang Salih.
  •  ‘Arab (العرب) bin Sam bin Nuh memiliki keturunan yang tinggal di tanah Arab, hingga sampai pada Mudhor (مضار)(kaum Qurays Makkah) leluhur nabi Muhammad  dan kabilah-kabilah lain yang ada di  Yaman,
  •  Hasyim (حاشيم) yang kemudian dikenal dengan sebutan bani Nasanis (النسانيس)mereka ini memiliki mata satu dan telinganya juga satu, dan kemudian hari mereka disebut sebagai bani Imalaqoh(العمالقة) dan bani Imadiyah (العمادية).
  • Irom (إرام) keturunan Sam bin Nuh dikenal sebagai kaum ‘Aad (عاد) dan kaum Tsamud.
  • Syamlikha (شمليخا) termasuk keturunan Sam, namun ia tidak memiliki keturunan, karena istrinya mandul.


Imam Tsa’labi berkata “Sam bin Nuh (putra kedua) hidup selama 600 tahun, sepanjang hidupnya ia menjalaninya dengan penuh penderitaan hinga meninggal dunia. Dalam doa nabi Nuh, Sam tidak akan mati sebelum ia sendiri yang memintanya kepada Allah ﷻ. Setelah sekian lamanya hidup dalam penderitaan, dan seluruh badannya sudah tidak dapat lagi digerakan, tibalah ajalnya dan ia dimakamkan di kota Nuwa (نوى) di daerah Hauran (حوران)”.

Wallohua'lam Bisshowab

Kisah Wafatnya Nabi Nuh As setelah Banjir Air Bah

Dalam kisah Nabi Idris a.s, beliau adalah seorang ahli ibadah, kuat mengerjakan sholat sampai puluhan raka’at dalam sehari semalam dan selalu berzikir di dalam kesibukannya sehari-hari.

Kuwaluhan.com

Catatan amal Nabi Idris a.s yang sedemikian banyak, setiap malam naik ke langit. Hal itulah yang sangat menarik perhatian Malaikat Maut, Izrail.

Malaikat Izrail, Maka bermohonlah ia kepada Allah Swt agar di perkenankan mengunjungi Nabi Idris a.s. di dunia. Allah Swt, mengabulkan permohonan Malaikat Izrail, maka turunlah ia ke dunia dengan menjelma sebagai seorang lelaki tampan, dan bertamu kerumah Nabi Idris.

“Assalamu’alaikum, yaa Nabi Allah”. Salam Malaikat Izrail,

“Wa’alaikum salam wa rahmatulloh”. Jawab Nabi Idris a.s.

Beliau sama sekali tidak mengetahui, bahwa lelaki yang bertamu ke rumahnya itu adalah Malaikat Izrail.

Seperti tamu yang lain, Nab i Idris a.s. melayani Malaikat Izrail, dan ketika tiba saat berbuka puasa, Nabi Idris a.s. mengajaknya makan bersama, namun di tolak oleh Malaikat Izrail.

Selesai berbuka puasa, seperti biasanya, Nabi Idris a.s mengkhususkan waktunya “menghadap”. Allah sampai keesokan harinya. Semua itu tidak lepas dari perhatian Malaikat Izrail. Juga ketika Nabi Idris terus-menerus berzikir dalam melakukan kesibukan sehari-harinya, dan hanya berbicara yang baik-baik saja.

Pada suatu hari yang cerah, Nabi Idris a.s mengajak jalan-jalan “tamunya” itu ke sebuah perkebunan di mana pohon-pohonnya sedang berbuah ranum dan menggiurkan. “Izinkanlah saya memetik buah-buahan ini untuk kita”. pinta Malaikat Izrail (menguji Nabi Idris a.s).

“Subhanallah, (Maha Suci Allah)” kata Nabi Idris a.s.

“Kenapa?” Malaikat Izrail pura-pura terkejut.

“Buah-buahan ini bukan milik kita” . Ungkap Nabi Idris a.s.

Kemudian Beliau berkata: ” Semalam anda menolak makanan yang halal, kini anda menginginkan makanan yang haram”.

Malaikat Izrail tidak menjawab. Nabi Idris a.s perhatikan wajah tamunya yang tidak merasa bersalah. Diam-diam beliau penasaran tentang tamu yang belum dikenalnya itu. Siapakah gerangan pikir Nabi Idris a.s.

” Siapakah engkau sebenarnya?” tanya Nabi Idris a.s.

“Aku Malaikat Izrail”. Jawab Malaikat Izrail.

Nabi Idris a.s terkejut, hampir tak percaya, seketika tubuhnya bergetar tak berdaya.

“Apakah kedatanganmu untuk mencabut nyawaku?”tanya Nabi Idris a.s.

“Tidak” Senyum Malaikat Izrail penuh hormat.

“Atas izin Allah, aku sekedar berziarah kepadamu”. Jawab Malaikat Izrail.

Nabi Idris manggut-manggut, beberapa lama kemudian beliau hanya terdiam.

“Aku punya keinginan kepadamu”. Tutur Nabi Idris a.s

“Apa itu? Katakanlah!”. Jawab Malaikat Izrail.

“Kumohon engkau bersedia mencabut nyawaku sekarang. Lalu mintalah kepada Allah SWT untuk menghidupkanku kembali, agar bertambah rasa takutku kepada-Nya dan meningkatkan amal ibadahku” . Pinta Nabi Idris a.s.

“Tanpa seizin Allah, aku tak dapat melakukannya” ,tolak Malaikat Izrail. Pada saat itu pula Allah SWT memerintahkan Malaikat Izrail agar mengabulkan permintaan Nabi Idris a.s.

Dengan izin Allah Malaikat Izrail segera mencabut nyawa Nabi Idris a.s. sesudah itu beliau wafat.

Malaikat Izrail menangis, memohonlah ia kepada Allah SWT agar menghidupkan Nabi Idris a.s. kembali. Allah mengabulkan permohonannya. Setelah dikabulkan Allah Nabi Idris a.s. hidup kembali.

“Bagaimanakah rasa mati itu, sahabatku? ” Tanya Malaikat Izrail.
“Seribu kali lebih sakit dari binatang hidup dikuliti”.Jawab Nabi Idris a.s.
“Caraku yang lemah lembut itu, baru kulakukan terhadapmu”. Kata Malaikat Izroil.

NABI IDRIS DI ANGKAT KE LANGIT

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga mengangkat namanya ke seluruh penjuru alam, serta Allah angkat kedudukannya di antara makhluk yang dekat dengan-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Demikianlah komentar Syaikh As-Sa’di dalam menafsirkan Surat Maryam: 56-57.

Dalam Alquran dan sunah tidaklah terlalu panjang lebar cerita akan Nabi Idris ‘alaihissalam. Dalam Alquran hanya tiga ayat yang menyebut langsung tentangnya. Di antaranya,

وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِدْرِيسَ إِنَّهُ كَانَ صِدِّيقًا نَّبِيًّا {56} وَرَفَعْنَاهُ مَكَانًا عَلِيًّا {57}

Dan ingatlah apa di dalam al-Kitab tentang Nabi Idris. Dia adalah seorang sangat pembenar, lagi seorang Nabi.” (QS. Maryam: 56-57)

Mujahid menjelaskan tentang ayat tersebut bahwa Nabi Idris ‘alaihissalam diangkat ke langit dalam keadaan tidak mati seperti Nabi Isa ‘alaihissalam (Tafsir Ath-Thabari, 72:16 dengan sanad yang shahih). Ada riwayat lain yang menjelaskan bahwa dia diangkat malaikat ke langit, kemudian datanglah malaikat maut mencabut nyawanya di sana, wallahu a’lam.

Nabi Idris ‘alaihissalam bertemu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di langit yang keempat saat peristiwa mi’raj. Hal ini menunjukkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menempatkan kedudukannya pada derajat yang tinggi di antara para nabi lainnya. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam ayat yang lain,

وَإِسْمَاعِيلَ وَإِدْرِيسَ وَذَا الْكِفْلِ كَلٌّ مِّنَ الصَّابِرِينَ

Dan Nabi Ismail, Nabi Idris, Nabi Dzulkifli, mereka termasuk orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Anbiya: 85)

Demikian juga, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan dalam hadis sesuatu yang mengisyaratkan tentang sifat Nabi Idris ‘alaihissalam. Beliau bersabda:

Adalah seorang nabi dari para nabi yang menggaris nasib, maka barang siapa yang mampu melakukannya (dengan bekal ilmu yang pasti dan mencocoki), maka hal itu boleh baginya.” (HR. Muslim)

Sebagian ahli ilmu mengatakan bahwa nabi yang dimaksud (dalam hadis di atas) adalah Nabi Idris ‘alaihissalam. Imam Nawawi menjelaskan tentang hadis ini, “Maksud yang sesungguhnya menggaris nasib itu hukumnya haram, dikarenakan hal itu tidaklah dilakukan kecuali dengan syarat harus dengan ilmu yang pasti dan mencocoki, dan tidak ada bagi kita.

Adapun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyebutkan hukumnya, supaya tidak salah tafsir bahwa apa yang dilakukan nabi tersebut haram, karena memang nabi tersebut punya ilmunya sehingga boleh melakukannya. Adapun kita tidak punya ilmu tentangnya.” (Syarh Muslim, 5:21)

Wallohua'lam Bisshowab

Itulah kisah cerita wafat dan diangkatnya Nabi Idris As ke langit.

Inilah Kisah Wafatnya Nabi Idris As dalam Islam

Nabi Adam memiliki umur yang panjang, bahkan beliau hidup selama kurang lebih 1000 tahun dan telah memiliki keturunan yang banyak. Sehingga tibalah saat nya ia untuk bertemu kembali dengan sang Penciptanya, yaitu Allah SWT.

Kuwaluhan.com

Disebutkan dalam buku Imam Ibnu Katsir bahwa para ulama berbeda-beda dalam meriwayatkan usia nabi Adam, Dalam sebuah riwayat dari Ibnu Abbas dan Abu Hurairah secara Marfu' Bahwa usia Adam yang termaktub dalam Lauhul mahfuza adalah seribu tahun.

Dalam kitab Taurat juga menyebutkan bahwa Adam hidupselama 930 tahun. Jika keterangan dalam taurat ini benar dan terjaga dari tangan-tangan yang merubah kitab suci ini, maka bisa jadi keterangan ini benar adanya dan hampir sama dengan hadits nabi saw. yakni keterangan mereka yang menyebutkannabi Adam hidupselama 930 tahun adalah perhitungan menurut berputarnya matahari (kalender Syamsiyah), yang sekarang dikenal dengan tahun masehi, dan jika di hitung menurut berputanya bulan (kalender qomariyah) yang sekarang dikenal dengan tahun hijriyah maka menjadi 957 tahun dan itu adalah masa yang dihabiskan Adam selama tinggal di bumi setelah turun dari surga,lalu masa itu ditambah dengan masa yang dihabiskan Adam di surga selama 43 tahun.

Sebagaimana diriwayatkan dari Ibnu Katsir bahwa, "Para ahli sejarah mengungkapkan bahwa Nabi Adam tidak akan meninggal terkecuali ia telah melihat keturunannya, dari anak cucunya, cicit dan terus kebawah hingga jumlah mencapai 400rb jiwa."

Kemudian dalam Al-Qur'an, Allah SWT berfirman, :

"Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya, dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu." (QS. An-Nisa : 1)

Disebutkan bahwa Nabi Adam menderita sakit beberapa hari hingga pada hari Jumat, kemudian datanglah malaikat untuk mencabut nyawanya sekaligus mengungkapkan bela sungkawa kepada pemegang wasiat yaitu Syits.

Dari Uttiy bin Dhamurah As-Sa'di, ia berkata bahwa "Aku melihat seorang syeikh di Madinah sedang berbicara. Lalu aku bertanya tentangnya." Kemudian mereka menjawab, 'Itu adalah Ubay bin Ka'ab." Ketika itu Ubay berkata, "Saat maut datang menjemput Adam, ia berkata kepada anak-anaknya, "Wahai anak-anakku, aku ingin memakan buah surga." Maka anak-anaknya pun pergi mencarikan buah tersebut.

Namun di tengah perjalanan, mereka disambut oleh para malaikat yang membawa kain kafan, dan wewangian. Selain itu mereka juga membawa sejenis kapak, skop dan cangkul.

Para malaikat pun bertanya, "Wahai anak-anak Adam, apa yang kalian cari ? atau apa yang kalian mau ? Dan kemana kalian pergi ?" Mereka kemudian menjawab, "Bapak kami sakit, dan dia ingin makan buah dari surga." Lalu para malaikat berkata, "Pulanglah, karena ketetapan untuk bapak kalian telah tiba." Lalu para malaikat mendatangi rumah Adam, Hawa yang melihat dan mengenali mereka, berlindung kepada Adam. Namun Adam berkata, "Pergilah engkau dariku, sungguh aku diciptakan sebelummu. Biarkan nyawaku dicabut oleh para malaikat Rabb-ku."

Lalu para malaikat mencabut nyawa Adam pada hari Jumat. Mereka memandikannya, mengkafaninya, memberinya wewangian, menyiapkan kuburnya dengan membuat liang lahat di kuburnya, menshalatinya. Lalu mereka masuk ke kuburnya dan meletakkan Adam di dalamnya, lalu meletakkan bata diatasnya.

Kemudian mereka keluar dari kuburnya, mereka menimbunnya dengan batu. Kemudian mereka keluar dari kubur, lalu menimbunnya dengan tanah. Lalu mereka berkata, "Wahai Bani Adam, ini adalah tuntunan bagi kalian pada orang mati diantara kalian." (Diriwayatkan oleh Abdullah bin Imam Ahmad dalam Zawaidul Musnad, 5/ 136)

Ibnu Katsir menyebutkan bahwa "Hadits ini sanadnya shahih kepadanya, yakni kepada Ubay bin Ka'ab."  (Al-Bidayah wan Nihayah, 1/98)

Kemudian Al-Haitsami berkata, "Diriwayatkan oleh Abdullah bin Ahmad, Rawinya adalah rawi-rawi hadits shahih, kecuali Uttiy bin Dhamurah. Dia adalah rawi tsiqah." (Majmauz Zawaid, 8/199)

Dari hadits ini diketahui bahwa saat malaikat maut akan menjemputnya, tiba-tiba Adam sangat merindukan buah surga. Hal ini menunjukkan betapa cintanya ia kepada surga dan kerinduannya untuk kembali kepadanya. Selain itu bisa jadi keinginannya untuk makan buah surga merupakan tanda dekatnya ajal.

Sebagian hadits menyebutkan bahwa Adam mengetahui hitungan tahun-tahun umurnya. Ia menghitung umurnya yang telah berlalu. Dan nampaknya ia mengetahui bahwa tahun-tahun umurnya telah habis.

Para malaikat diutus Allah untuk mengurus jenazah Adam. Setelah nyawa Adam dicabut, mereka kemudian memandikannya, mengkafankannya, memberinya wangi wangian lalu menggali kuburnya, menshalatinya, memasukkannya ke kuburnya dan menutupnya dengan bata. Kemudian mereka keluar dari kubur dan menimbunkan tanah kepadanya. Para malaikat mengajarkan semua itu kepada anak-anak dan cucu nabi Adam.

Wallohua'lam Bisshowab

Inilah Kisah Wafatnya Nabi Adam As

Loading...