Tampilkan postingan dengan label Mandala Agrabinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mandala Agrabinta. Tampilkan semua postingan
Mandala Cirebonlarang adalah cikal bakal Kerajaan Cirebon Larang atau Kerajaan Pasambangan dan selanjutnya menjadi Kesultanan Cirebon. Lokasi Manadala Cirebon Larang ini berada di Muara Jati Cirebon. Pesisir utara Kota Cirebon sekarang.

Umumnya sebagai Mandala, Cirebon larang adalah daerah perdikan atau pusat pendidikan pra Islam di bawah Kerajaan Galuh Pakuan pajajaran. Sebelum Pajajaran berdiri di Bogorsekarang, daerah ini berada di bawah pemerintahan Kerajaan Galuh, Ciamis sekarang. Awal mula berdirinya Manda Cirebonlarang tidak diketahui secara persis. Keberadaannya bersamaan dengan tumbuhnya pemukiman atau pakuwuan Cirebonlarang.

AWAL MULA

Pada tahun 1302 AJ (Anno Jawa)/1389 M, dipantai Pulau Jawa yang sekarang disebut Cirebon, ada tiga daerah otonom bawahan kerajaan Pajajaran yang diketuai oleh Mangkubumi yaitu Singhapura, Pesambangan, dan Japura. Pasambangan ini yang dikenali sebagai Cirebonlarang.

Seharusnya Mandala Cirebonlarang dipimpin oleh seorang Guru Resi atau dalam naskah Sanghyang Siksa Kanda ng Karesian disebut Gulu Loka. Namun kesejarahan pimpinan Mandala ini telah hilang atau tidak diketahui. Sejarah Cirebon hanya mencata Ki Gedeng Tapa atau Ki Jumanjang Jati, seorang juru labuan sebagai pemimpin pemukiman Cirebonlarang.

Informasi dalam Cerita Purwaka Caruban Nagari hanya mengisahkan heroisme masa penyebaran Islam di Cirebon, sehingga masa pra-Islam tidak diketahui. Kondisi masyarakat dan kepemimpinan saat itu masih gelap. Meskipun demikian, temuan artefak Kubur Batu (Dolmen) pra-sejarah dapat menjadi acuan penelitian masyarakat Cirebon pra-Islam.

Kubur batu merupakan tradisi megalitik yang sudah sangat tua. Diduga tradisi ini sudah dilakukan sejak masa bercocok tanam pada masa prasejarah.

Akan tetapi, beberapa kubur batu menunjukan penanggalan yang lebih muda. Hal ini terutama diperkuat dari hasil temuan bekal kubur yang berasal dari zaman yang lebih awal.

Dengan demikian dapat disimpulakan bahwa tradisi kubur batu telah berlangsung sejak masa prasejarah hingga masa setelahnya, bahkan dibeberapa tempat tradisi ini terus berlanjut pada masa kerajaan kuna. Kubur batu umumnya diletakan dengan orientasi timur-barat hal ini dipercaya sebagai bagian dari konsep religi dan sistem kepercayaan masyarakat pada masa itu. Kekuasaan alam seperti matahari dan juga bulan dianggap menjadi pedoman dalam hidup mereka.

MASA ISLAM

Dalam naskah, dikisahkan secara singkat perihal perjalanan hidup Prabu Siliwangi,seorang raja besar yang memerintah Pakuan Pajajaran. Ia adalah putra Prabu Anggalarang dari wangsa Galuh yang berkuasa di Surawisesa (keraton galuh). Pada masa mudanya, ia bernama Raden Manah Rarasa (Pamanah Rasa) dan dipelihara oleh uaknya, Ki Gedeng Sindangkasih, seorang juru labuhan yang menguasai pelabuhan Muara Jati. Prabu Siliwangi memperistri puteri Ki Gedeng Sindangkasih bernama Nyai Ambetkasih.

Prabu Siliwangi mengikuti sayembara di negeri Surantaka, bawahan negeri Pajajaran, yang diselenggarakan oleh raja Singapura, Ki Gedeng Tapa. Dalam sayembara itu, ia tampil sebagai pemenang dan berhak memperistri Nyai Subanglarang, putri Ki Gedeng Tapa.

Setelah Ki Gedeng sindangkasih wafat, Raden Pamanah Rasa dijadikan Raja Sindangkasih dengan gelar Prabu Siliwangi. Selang beberapa waktu lamanya, Prabu Siliwangi dinobatkan menjadi Maharaja di Pakwan Pajajaran bergelar Pabu Dewatawisesa dan tinggal di keraton Sang Bima bersama istrinya Nyai Subanglarang.

Versi lain, pertemuan Prabu Siliwangi dengan Nyai Subanglarang di pesantren Syekh Quro di karawang. Jadi menyunting Nyai Subang Larang tidak melalui sayembara. Kisah epik menikahi seorang wanita, khususnya di wilayah Cirebon, Majalengka dan sekitarnya. Mungkin hal ini dimaksudkan sebagai tanda sulitnya mendapat seorang wanita mulia.

CIREBON PRA ISLAM

Sebutan Negeri Caruban atau Cerbon itu adalah menurut nama ibukotanya,ialah Caruban yang berasal dari istilah “Sarumban”berarti pusat tempat percampuran penduduk. Hal ini karena Letak Cirebon yang merupakan kota pelabuhan yang sejak abad ke-5 M sudah ramai sebagai jalur perdagangan internasional. Kebanyakan para pedagang biasanya berlabuh untuk kemudian menunggu musim berlayar kembali hingga membentuk koloni dan lama-kelamaan membaur dengan pribumi. Kondisi geografis Kesultanan Cirebon tidak jauh berbeda dengan kondisi Kota Cirebon sekarang.

Dalam buku Cirebon Sebagai Bandar Jalur Sutra, letak Pelabuhan Cirebon berada di teluk yang terlindung dari gangguan alam seperti gelombang laut. Pelabuhan Cirebon juga terletak cukup jauh dari Pelabuhan besar lainnya,ditengah Pulau Jawa bagian utara diantara Pelabuhan Jepara, Tuban, dan Surabaya didaerah timur dan Pelabuhan Sunda Kelapa (Jayakarta) dan Banten disebelah Barat. Oleh karena itu, Pelabuhan Cirebon menjadi mata rantai dalam jalur perdagangan di Kepulauan Nusantara dan Perairan Asia.

Peran Pelabuhan Cirebon inilah yang menyebabkan Sejak abad ke-5 M Pelabuhan Cirebon sudah ramai oleh para pedagang lokal maupun internasional. Sebelum berdirinya kekuasaan politik Islam dibawah kepemimpinan Sunan Gunung Jati, wilayah Cirebon dapat dikelompokkan atas dua daerah yaitu daerah pesisir disebut dengan nama Cirebon Larang dan daerah pedalaman yang disebut Cirebon Girang.

Cirebon Larang adalah sebuah daerah bernama Dukuh Pesambangan dan Cirebon Girang adalah Lemah Wungkuk. Dari Cirebon Larang/Dukuh Pesambangan inilah perdagangan melalui jalur laut berlangsung dan menjadi jalur masuknya Islam di Cirebon. Cirebon Larang mempunyai pelabuhan yang sudah ramai dan mempunyai mercusuar untuk memberi petunjuk tanda berlabuh kepada perahu-perahu layar yang singgah dipelabuhan yang disebut Muara Jati (sekarang disebut Alas Konda).

Tahun 1302 AJ (Anno Jawa)/1389 M, tiga daerah otonom bawahan kerajaan Pajajaran masing-masin dipimpin oleh Mangkubumi yaitu Singhapura, Pesambangan, dan Japura. Setiap daerah memiliki pemimpin sendiri, Singapura (Mertasinga) dipimpin oleh Mangkubumi Singhapura, Pesambangan dikepalai Ki Ageng Jumajan Jati, dan Japura dikepalai Ki Ageng Japura. Dari ketiga daerah otonom ini, salah satunya adalah Dukuh Pesambangan yang dalam perkembangannya berubah menjadi Cirebon.

Dukuh Pesambangan adalah dukuh yang mengawali lahirnya pemukiman di Cirebon, kemudian dibuka pedukuhan baru dikenal dengan nama Lemah Wungkuk (Kebon Pesisir). Pada masa Pangeran Cakrabuana/Walangsungsang menjabat Kuwu Cerbon ke II, Ibukota Caruban Larang yang tadinya di Pesambangan dipindah ke daerah Caruban (Kebon Pesisir) yang kemudian disebut Sarumban/Caruban, Carbon, Cerbon, Crebon, kemudian Cirebon.

Cirebon pada awalnya adalah sebuah daerah yang bernama Tegal Alang-alangy ang kemudian disebut Lemah Wungkuk dan setelah dibangun oleh Pangeran Walangsungsang diubah namanya menjadi Caruban. Nama Caruban sendiri terbentuk karena diwilayah Cirebon dihuni oleh beragam masyarakat.

Sebutan lain Cirebon adalah Caruban Larang. Pada perkembangannya Caruban berubah menjadi Cirebon karena kebiasaan masyarakatnya sebagai nelayan yang membuat terasi udang dan petis, masakan berbahan dasar air rebusan udang (cai rebon).

Menurut Kitab Purwaka Caruban Nagari, Cirebon dulunya bernama Dukuh Caruban. Dukuh Caruban adalah dukuh yang dibangun oleh putra mahkota Pajajaran, Pangeran Cakrabuana/Raden Walangsungsang yang dibantu oleh adiknya Nyai Lara Santang dan istrinya Nyai Indang Geulis. Pangeran Cakrabuana membuka pedukuhan atas perintah gurunya, Syekh Nurul Jati/Syekh Datuk Kahfi.

Legenda Asal Usul Mandala Cirebon Larang

Mandala Agraginta adalah tempat suci orang sunda berupa kamandalaan atau kabuyutan sebagai tempat mempelajari ilmu keagamaan. Mandala Agrabinta adalah cikal bakal Kerajaan Agrabintapura atau kerajaan Tanjung Kidul.

Mandala ini disebutkan dalam naskah kuno Sunda (NSK), sebagaimana dijelaskan oleh undang A Darsa.

 Mandala atau Kabuyutan ini adalah budaya masyarakat di tatar Sunda zaman kuno. Ajaran Hyang atau Sunda Wiwitan atau agama Jati Sunda yang menjadi latar belakang pendirian Kemandalaan atau Kabuyutan ini. Bentuk kemandalaan ini adalah bukit yang disebut orang Sunda sebagai Gunung, berupa punden berundak.

SEJARAH MANDALA AGRABINTA

Pengertian Agrabintapura terdiri atas tiga kata yaitu Agra, Binta dan pura. Kata Agra berasal dari Bahasa Sangsekerta yang berarti pucuk atau puncak, kata Binta merupakan penggalan dari kata Bintaro (Cerbera manghas) yaitu tumbuhan pantai atau paya berupa pohon dengan ketinggian dapat mencapai 12 m, Daunnya berbentuk bulat telur, berwarna hijau tua, yang tersusun berselingan. Bunganya harum dengan mahkota berdiameter 3-5cm berbentuk terompet dengan pangkal merah muda. Benang sari berjumlah lima dan posisi bakal buah tinggi. Buah berbentuk telur, panjang 5-10cm, dan berwarna merah cerah jika masak. Pohon bintaro dahulu banyak terdapat di wilayah Agrabinta untuk saat ini banyak terdapat dialiran sungai Cibintaro. Kata pura berasal dari bahasa sangsekerta yang berarti Karaton atau Istana. Jadi pengertian Agrabintapura yaitu Keraton yang berada di atas cahaya dan dikelilingi oleh pohon bintaro yang indah serta rindang ( Keraton yang berkilau cahaya mentari).

Secara konsep pertahanan Agrabintapura di kelilingi oleh Benteng-Benteng Alam, di sebelah utara di bentengi oleh lembah Citangkolo yang lebar dan dalam, disebelah timur di bentengi oleh lembah sungai Cibintaro, di sebelah selatan benteng alam Cibintaro yang berbatasan langsung dengan Samudera Hindia dan sebelah barat lembah sungai Ciagra.

Merunut konsep spiritual Agrabintapura berada sejajar membentuk garis lurus dengan Gunung gede, ketika berada di Agrabinta kita bisa melihat dengan jelas kesebelah utara terlihat Gunung Gede dan disebelah timur Gunung Papandayan dan sebelah selatan bergaris jelas Samudera Hindia. Disamping itu semua, di Agrabinta terdapat banyak aliran sungai yang tentunya mendukung untuk konsep ritual keagamaan jaman dahulu.

Pada jaman penjajahan, Agrabinta merupakan basis terakhir pertahanan Tentara Belanda yang ditaklukan oleh Tentara Jepangdi wilayah Jawa Barat. Pada waktu penaklukan, serangan laut tentara jepang tidak bisa mendarat di Pesisir Datarlega tepatnya muara sungai Cidahon dikarenakan kuatnya bungker pertahanan Belanda disepanjang benteng alam Cibintaro.

Keberadaan Mandala disinggung dalam naskah jatiniskala. Teks naskah ini pertama kali ditransliterasikan atau dikonversikan dari aksara Sunda Kuno ke aksara Latin oleh Ayatrohaedi dkk. Kata jatiniskala sendiri sering muncul dalam teks, dan tampak selaras dengan isinya yang menguraikan tentang dunia kosmologis orang Sunda dulu, masa pra-Islam. Ringkasnya, naskah ini berisi wejangan yang disampaikan oleh sejumlah sosok dewata tentang “bagaimana caranya manusia mencapai kelanggengan yang sejati atau jatiniskala”, dengan menekankan renungan tentang bayu, sabda, dan hdap (hidep) yang juga ditemukan dalam naskah Sunda Kuno sejenis seperti Sanghyang Siksa Kandang Karesian dan Sewa ka Darma.

Berikut kutipan Transliterasi Naskah jatiniskala:

Ditapa kyarasa nge (nyi nyu) casah, lungguh asa di mega, hum(e)neng nu tan papolah, awak diya mandala ni(ng) ratna sa(ma)di, teka tumwangtan sira mari adoh purek.

(Dikatakan sedang bertapa di perbatasan langit, berada berhimpitan dengan awan, diam bagaikan yang tidak bergerak, tubuh dia adalah tempat )Mandala) permata doa, sehingga pandangan dia begitu jauh juga dekat.

FUNGSI MANDALA AGRABINTA

Pada zaman sistem pemerintahan kerajaan, lembaga formal pendidikan atau pabrik orang-orang cerdas itu salah satunya adalah mandala. Dengan kata lain, salah satu pengertian mandala adalah lembaga formal pendidikan di Sunda pada masa sistem kerajaan. Dalam kronik lontar Sunda Kuno (abad XV-XVI Masehi) tercatat ada 73 mandala di Tatar Sunda, dari Ujung Kulon sampai batas Timur Kerajaan Sunda, Cipamali.

LOKASI

Mandala Agrabinta berada di kecamatan Agrabinta, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Kecamatan Agrabinta terletak sekitar 130 km dari Kota Cianjur ke arah selatan. Lokasi di wilayah selatan Kabupaten Cianjur sehingga lebih dekat dengan Samudra Hindia, yaitu sekitar 2 km serta dilintasi oleh jalan Lintas Selatan Jawa Barat.

Keberadaan Mandala Agrabinta juga dikenal sebagai kerajaan Agrabintapura diterangkan dalam naskah Wangsakerta tahun 1677 masehi. Kerajaan itu didirikan oleh Prabu Swetalimansakti, adik kandung Prabu Dewawarman Raja Salakanagara abad ke 2 masehi.

Legenda Asal Usul Tempat Suci Mandala Agrabinta