Social Items

Tampilkan postingan dengan label Kesaktian Adipati karna. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesaktian Adipati karna. Tampilkan semua postingan
Tugas pengangkatan Prabu Salya sebagai Senapati perang telah selesai. Prabu Salya mohon ijin pada Raja Astina, untuk pulang ke Mandaraka, guna berpamitan kepada istri.


Sesampai di Istana Mandaraka, Prabu Salya merenungi perjalanan hidupnya dimasa lalu. Masa remaja Prabu Salya, yang waktu itu bernama Narasoma, adalah satriya berwajah tampan dan juga sakti. Narasoma berpamitan kepada ayahnya, Prabu Mandrapati, untuk mengikuti Sayembara memperebutkan Dewi Kunti puteri Prabu Basukunti, Raja Mandura.

Ayahnya merestui dan berangkatlah Narasoma ke Mandura.  Adiknya yang bernama Dewi Madrim, juga mengikuti kepergiannya.

Setelah beberapa lama perjalanan, tiba tiba saja ada angin besar yang menarik  tubuh Narasoma. Narasoma terbuncang angin dan jatuh  di depan sebuah pertapaan. Pertapaan Argabelah. Pertapaan Argabelah adalah sebuah Istana raja.

Semua adalah Kerajaan Argabelah, yang rajanya bernama Prabu Bagaspati. Karena Prabu Bagaspati merasa banyak salah dan dosa, maka kerajaannya dirobah menjadi pertapaan. Masih nampak bekas bangunan Istana yang sebagaian besar sudah rusak tidak terpelihara.

Begawan Bagaspati mencegat perjalanan Narasoma. Diajaknya Narasoma menuju pertapaannya. Ia pun berjalan kesana bersama Begawan Bagaspati. Sesampai di Pertapaan Argabelah,Narasoma diperkenalkan dengan anaknya, seorang puteri yang cantik jelita, bernama Dewi Pujawati.

Narasoma melihat Dewi Pujawati langsung jatuh cinta Tetapi didalam hati Narasoma malu memiliki calon mertua seorang raksasa.Disuatu saat keduanya sedang bercengkerama di taman Argabelah, Narasoma berkata, bahwa ia mencintai Dewi Pujawati, namun untuk memetik sekuntum mawar merah, Narasoma takut terkena durinya.Dewi Pujawati tidak mengerti apa maksud perkataan calon suaminya,

Pujawati mendapatkan ayahnya dan bertanya apa arti perkataan calon suaminya. Begawan Bagaspati, memaklumi apa yang diinginkan oleh Narasoma. Disuruhnya Pujawati memanggilkan Narasoma agar datang menghadap dirinya. Narasoma pun datang menghadap.

Begawan Bagaspati, memberitahu kepada Narasoma bahwa Bega wan Bagaspati akan menurunkan Ajian Candrabirawa kepada Narasoma.Dewi Pujawati oleh ayahnya, diminta  agar menjauh dari tempat itu, Karena Begawan Bagaspati akan   menurunkan Aji Candrabirawa pada Narasoma.

Setelah Narasoma menyiapkan diri nya untuk menerima Aji Candrabirawa,  keluarlah dari  tubuh Begawan Bagaspati  seorang raksasa besar sekali, dan berjalan mendekati Narasoma Melihat itu Narasoma menjadi ketakutan.Sang Begawan meminta Narasoma agar tenang.

Raksasa itu memasuki tubuh Narasoma, Setelah menerima Aji Candrabirawa Narasoma merasa bangga.Narasoma sekarang sudah memiliki Aji Candra birawa, yang kekuatannya melebihi kekuatan 1000 raksasa, suatu ajian yang amat dahsyat.

Tetapi Narasoma belum puas kalau hanya menerima  Aji Candrabirawa saja. Narasoma masih menginginkan sebuah permintaan lagi, yaitu ingin melenyapkan Begawan Bagaspati. Karena malu mempunyai seorang mertua yang berujud raksasa. Begawan Bagaspati berserah diri, ia membuka dadanya, agar Narasoma segera membunuhnya. Tetapi keris Narasoma tidak bisa melukai dada Begawan Bagaspati. Begawan Bagaspati berpesan kepada Narasoma, bahwa sebelum ia  mati,

Narasoma akan tetap  menyayangi  Pujawati. Karena Pujawati adalah anak satu satunya  yang ia miliki dan yang paling dicintainya.Meminta Narasoma jangan sampai menyia nyiakannya dan memberikan  perlindungan kepada Pujawati.Demi cinta pada Pujawati, Begawan Bagaspati merelakan kematiannya.

Begawan Bagaspati menyerahkan pedang pusaka kepada Narasoma, dan minta agar segera ditikamkan kedadanya. Narasoma menerima pedang itu dan ditikamnya Begawan Bagaspati. Tiba tiba tubuh Bagawan Bagaspati hilang dari pandangan, tetapi kemudian  terdengar suara Begawan Bagaspati, bahwa  apabila nanti ada perang besar, saat itulah Narasoma akan menemui kematiannya.

Seorang  berdarah putih, itulah yang sanggup mengantar kematian Narasoma. Setelah itu keadaan menjadi hening. Dewi Pujawati menyaksikan ayahnya dibunuh oleh Narasoma, namun Dewi Pujawati tetap mencintai suminya.

Narasoma, kemudian berpamitan kepada Dewi Pujawati, untuk mengikuti Sayembara memperebutkan dewi Kunti ke negeri Mandura.  Dikatakan  oleh Narasoma bahwa sejak keberangkatan dari Mandaraka, ia akan ke Manmdura, mengikuti Sayembara tersebut.Naun tidak tahu apa sebabnya, Narasoma kesasar masuk dalam Pertapaam Argabelah. Dewi Pujawati tidak keberatan, dipersilakannya suaminya untuk mengikuti Sayembara tersebut.

Sesampai di Mandura, sayembara baru usai. Pemenang sayembara adalah Pandu. Melihat Pandu yang menang, maka Narasoma meminta agar Pandu mau melayani tantangannya untuk meminta Dewi Kunti. Karena apabila Narasoma ikut dalam Sayembara, maka pastilah yang akan memenangkannya. Pandu tidak keberatan, Pandu meladeninya.

Terjadi perkelahian yang hebat. Narasoma mengeluarkan aji Candrabirawa. Melihat aji Candrabirawa, maka Pandu bersemadi memohon pertolongan dewa. agar selamat dalam melawan aji yang luar biasa. Satu raksasa, kalau di pukul menjdi ratusan raksasa. Dewa memberikan perlindungan. Ajian Cabnsdrawirawa bisa disirep. Narasolma merasa kalah. Narasoma simpati pada Pandu.

Narasoma menawarkan kepada Madrim, adiknya, apakah bersedia menjadi istri Pandu. Dewi Madrim sangat terpesona ketampanan Pandu, maka dengan senang hati ia mau menjadi istrinya. Maka diserahkannya adiknya,Dewi Madrim kepada Pandu. Narasoma berpaminta kepada adiknya pergi ke Argabelah, hendak memboyong Dewi Pujawati kembali ke Kerajaan Mandaraka. Karena kesetiaan Dewi Pujawati pada Narasoma, maka Narasoma memberi nama Setyawati pada Dewi Pujawati.

Setelah beberapa hari kemudian, mereka berdua boyongan kembali Ke Negeri Mandaraka. Kehadiran mereka disambut gembira oleh ayahandanya, Prabu Mandrapati. Narasoma dan Dewi Setyawati hidup berbahagia. Prabu Mandrapati menyerahkan kekuasaannya pada Narasoma.

Narasoma diangkat menjadi raja di Mandaraka dan bergelar Prabu Salya, Prabu Salyapati. Dari perkawinan Narasoma dan Dewi Setyawati, lahirlah putera puterinya Dewi Irawati, Dewi Surtikanti, Dewi Banowati, Burisrawa  dan Rukmarata. Dewi Irawati yang diperistri Prabu Baladewa, Dewi Surtikanti diperistri Adipati Karna, sedangkan Banowati adalah istri Prabu Suyudana.

Kini sudah terjadi perang besar, orang yang berdarah putih semula  ada tiga orang, Resi Subali, Begawan Bagaspati dan Puntadewa. Resi Subali dan Begawan Bagaspati sudah tiada, Sekarang hanya tinggal satu satunya,yaitu Puntadewa. Prabu Salya khawatir kalau sampai tidak bertemu dengan orang berdarah putih, apakah  dia tidak bisa mati. Bisa jadi umurnya seumur dunia.  Untuk itu Prabu Salya sudah siap mati. Prabu Salya juga lebih sayang dengan Pandawa.  Prabu Salya sudah bertekad mati untuk Pandawa.

Sementara itu Nakula dan Sadewa datang menghadap. Prabu Salya sangat bahagia melihat kedatangan kedua kemenakannya,  Kembar  menyangsikan keselamatan Prabu Salya dalam  perang Baratayu dha. Kembar menghendaki agar Prabu Salya tidak berperang. Prabu Salya, menjadi terharu merangkul Nakula dan Sadewa.

Prabu Salya menangisi nasib keluarga Mandaraka mengapa jadi terseret perang besar Barata Yudha. Akhirnya Prabu Salya berjanji tidak akan  membunuh siapapun dalam  Perang Barata Yudha besok pagi. Nakula dan Sadewa berpamitan, dan pulang ke perkemahan Pandawa, Prabu Salya masuk dalam sanggar pamujan. Selesai berdoa di sanggar pamujan,

Prabu Salya menghampiri istrinya di Keputrean Istana Mandaraka. Mereka berdua merasakan kasih sayang mendalam yang tak bisa terpisahkan. Didalam kesempatan ini, Prabu Salya meminta pamit mati. Ia tidak berperang, ia menjemput kematian, karena sudah  menjadi ketetapan Dewa , seperti apa yang dikatakan Rama Begawan Bagaspati, saat kematian Prabu Salya adalah dalam Perang Barata Yudha, Kematian itu akan diperoleh dari seorang satria suci berdarah putih yaitu Prabu Puntadewa (Yudistira).

Kesempatan itu adalah kesempatan baik, untuk ke surga bersama Begawan Bagaspati. Dewi Pujawati menyembunyikan kesedihannya. Ia selalu menghibur suaminya. Dimintanya  agar Prabu Salya hati hati dalam berperang, dan mengharap agar Prabu Salya  bisa kembali dengan selamat.

Keesokan harinya, di Tegal Kurusetra, sangkala telah dibunyikan, perajurit bersiap-siap utuk maju kemedan laga. Prabu Salya  berbaju putih-putih memasuki  Tegal Kurusetra dengan kereta perangnya.  Sedangkan Prajurit Kurawa yang mengikuti dibelakang kereta perang Prabu Salya menjadi bagian perajurit Pandawa untuk menggempurnya.

Pertempuran sengit antara perajurit terjadi. Sementara itu Kereta Perang Prabu Punta Dewa dengan sais Bathara Kresna memasuki medan perang dari garis pertahanan Pandawa. Disinilah kereta perang Prabu Salya dan kereta perang Prabu Puntadewa bertemu.

Prabu Puntadewa dan Prabu Salya langsung turun dari kereta masing-masing, Prabu Punta Dewa  mencium kaki Prabu Salya.  Prabu Salya jadi tersipu-sipu. Prabu Punta Dewa menghaturkan salam hormat dari keluarga Pandawa dan setelah itu Yudistira langsung membunuh Raja Salya.

Sejarah Kesaktian Raja Salya(Narasoma) dalam Perang Baratayudha

Nakula adalah seorang tokoh protagonis dalam wiracarita Mahabharata. Ia merupakan putra Madri dan Pandu. Ia adalah saudara kembar Sadewa dan dianggap putra Dewa Aswin, dewa tabib kembar.

Menurut kitab Mahabharata, Nakula sangat tampan dan sangat elok parasnya. Menurut Dropadi, Nakula merupakan suami yang paling tampan di dunia. Namun, sifat buruk Nakula adalah membanggakan ketampanan yang dimilikinya.

Hal itu diungkapkan oleh Yudistira dalam kitab Mahaprasthanikaparwa. Selain tampan, Nakula juga memiliki kemampuan dan Kesaktian khusus dalam merawat kuda dan astrologi.
Kuwaluhan.com

Senjata yang dimiliki Nakula adalah :
- Pedang
- Cupu "Air Kehidupan"

Nakula merupakan titisan Batara Aswin, dewa tabib. Ia mahir menunggang kuda dan pandai mempergunakan senjata panah dan lembing. Nakula tidak akan dapat lupa tentang segala hal yang diketahui karena ia mempunyai Kekuatan Pranawajati pemberian Ditya Sapujagad, Senapati negara Mretani. Ia juga mempunyai cupu berisi Banyu Panguripan atau "Air kehidupan" pemberian Batara Indra.

Nakula mempunyai watak jujur, setia, taat, belas kasih, tahu membalas guna dan dapat menyimpan rahasia. Ia tinggal di kesatrian Sawojajar, wilayah negara Amarta.

KESAKTIAN DAN SENJATA SADEWA

Meskipun Sadewa merupakan Pandawa yang paling muda, namun ia dianggap sebagai yang terbijak di antara mereka. Yudistirabahkan pernah berkata bahwa Sadewa lebih bijak daripada Wrehaspati, guru para dewa.

Sadewa merupakan ahli perbintangan yang ulung dan mampu meramalkan kejadian yang akan datang. Namun ia pernah dikutuk apabila sampai membeberkan rahasia takdir, maka kepalanya akan terbelah menjadi dua.
Senjata Yang dimiliki Sadewa adalah Pedang.
Kuwaluhan.com

Dalam penyamaran di Kerajaan Matsya, Sadewa berperan sebagai seorang gembala sapi bernama Tantripala. Ia menyadari bahwa penderitaan para Pandawa adalah akibat ulah licik Sangkuni. Maka ia pun bersumpah akan membunuh orang itu apabila meletus perang saudara melawan Korawa.

Setelah masa hukuman berakhir, pihak Korawa menolak mengembalikan hak-hak Pandawa. Upaya perundingan pun mengalami kegagalan. Perang di Kurukshetra pun meletus. Meskipun jumlah kekuatan pihak Pandawa lebih sedikit, namun mereka memperoleh kemenangan.

Pada hari ke-18 Sangkuni bertempur melawan Sadewa. Dengan mengandalkan ilmu sihirnya, Sangkuni menciptakan banjir besar melanda dataran Kurukshetra. Sadewa dengan susah payah akhirnya berhasil mangalahkan Sangkuni dengan pedangnya. Sementara itu dalam pewayangan Jawa, Sangkuni bukan mati di tangan Sadewa, melainkan di tangan Bimasena atau Werkudara.

Kesaktian Dan Senjata Ampuh yang dimiliki Nakula Sadewa dalam Mahabharata

Sri Krisna, adalah keturunan terhormat wangsa Yadawa. Putrinya, Pritha, terkenal berkat kecantikan dan kebaikan budinya. Karena sepupunya Kuntibhoja tidak memiliki anak, Sura memberikan Pritha untuk dijadikan anak angkat. Sejak saat itulah, Pritha dikenal sebagai Dewi Kunti, mengikuti nama ayah angkatnya.

KELAHIRAN KARNA

Ketika Dewi Kunti masih kecil, Resi Durwasa tinggal cukup tinggal cukup lama di rumah ayah angkatnya. Dewi Kunti melayani resi itu dengan penuh perhatian, kesabaran, dan bakti. Resi Durwasa sangat senang dengan sikap Dewi Kunti yang penuh perhatian, sehingga ia menghadiahkan mantra sakti kepada putri kecil itu. Katanya: “Dengan mantra ini, engkau bisa memanggil dewa, siapa pun dia. Ia akan muncul dihadapanmu dan memberimu seorang anak yang mempunyai keagungan sepertinya.” Resi Durwasa menghadiahi putri kecil mantra itu karena ia dengan kekuatan yoganya bisa meramalkan bahwa kelak putri itu akan mengalami nasib buruk dengan suaminya.

Karena sangat ingin tahu, suatu hari ia mencoba mantra sakti itu. Dia mengucapkan mantra dan memanggil Batara Surya yang sedang memancarkan cahayanya dari kahyangan. Tiba-tiba langit menjadi gelap tertutup awan. Kemudian, dari balik awan muncullah Batara Surya dari balik awan. Dewa itu menatap takjub pada kecantikan Dewi Kunti dan bergairah. Dewi Kunti yang terpesona oleh kekuatan gaib dan kewibawaan tamu agungnya bertanya: “Siapkah yang mulia?”

Batara Surya menjawab: “Wahai putri yang cantik, akulah Dewa Matahari. Engkau memanggilku dengan mantra pemberi anak yang engkau ucapkan.”

Kunti sangat terkejut dan berkata: “Hamba seorang gadis dan belum menikah. Hamba belum siap untuk menjadi ibu. Hamba hanya ingin mencoba mantra yang diberikan Resi Durwasa. Hamba mohon paduka kembali ke khayangan. Maafkan kebodohanku.” Namun demikian, Batara Surya tak dapat kembali karena keatan sakti mantra itu.

Singkat cerita, akhirnya Dewi Kunti mengandung anak Batara Surya. Tidak seperti manusia biasa yang butuh waktu 9 bulan untuk melahirkan, tapi karena ini kehamilan yang bersifat keilahian maka Dewi Kunti pun melahirkan seketika itu juga.

Kunti melahirkan Karna yang lahir lengkap dengan perangkap senjata perang yang suci, hiasan telinga. Anak itu tampan dan tampan seperti dewa matahari. Kelak, ia akan menjadi salah satu pahlawan besar dunia.

Kunti kebingungan dengan apa yang harus dilakukan dengan anak itu. Untuk menghindari rasa malu, Kunti menaruh anak itu ke dalam kotak yang tertutup rapat dan menghanyutkannya di sungai. Kebetulan seorang sais yang tidak punya anak melihat kotak yang terhanyut arus sungai itu. Ia mengambil kotak itu dan membukanya. Ia sangat terkejut dan gembira ketika mendapati seorang bayi tampan di kotak itu. Ia segera menyerahkan kepada istrinya. Sang istri menerimanya dengan kasih ibu yang melimpah.

KARNA GUGUR Di MEDAN PERTEMPURAN

Setelah Durna gugur, para senapati bala tentara Kurawa mengangkat Karna sebagai mahasenapati. Karna berdiri di atas kereta kuda yang megah dengan Salya sebagai sais. Rasa percaya diri dan kemashyuran Karna sebagai kesatria membangkitkan semangat tempur pasukan Kurawa. Perang dimulai lagi.

Para ahli perbintangan dimintai nasihat dan para Pandawa menentukan waktu yang tepat untuk bertempur. Arjuna memimpin serangan pada Karna. Bima menyusul di belakangnya. Dursasana memusatkan serangan pada Bima. Ia lepaskan hujan panah kepada Bima. Bima tertawa kecil menyambut serangan itu. Katanya dalam hati: “Kesempatan ini tidak boleh aku sia-siakan. Akan kutuntaskan sumpahku pada Drupadi hari ini. Aku sudah menunggu kesempatan ini lama sekali.”

Bima terbayang kembali penghinaan yang dilakukan Dursasana pada Drupadi. Amarahnya meluap-luap tak terkendali. Ia buang senjata dan melompat ke arah kereta Dursasana dan menerkam Dursasana seperti harimau. Dursasana dilemparkan ke tanah dan badannya remuk redam. Ia patahkan tangan Dursasana dan ia lemparkan tubuh yang bersimbah darah itu ke tengah arena. Kemudian, ia memenuhi sumpah mengerikan yang dia ucapkan 13 tahun yang lalu. Dia hisap dan minum darah Dursasana seperti binatang buas memangsa korban.


Kejadian yang mengerikan itu membuat gemetar semua yang melihat. Bahkan Karna, sang kesatria besar itu pun kecut hatinya melihat Bima menuntaskan dendam kesumatnya.

Sementara itu di arena yang lain pun pertempuran tak kalah hebatnya. Karna putra Batara Surya melepaskan panah api ke arah Arjuna. Panah itu meluncur ke arah Arjuna seperti ular yang menjulurkan lidah bercabang api. Persis pada saat itu, Khrisna menghentakkan tali kekang dan memutar kereta hingga terperosok ke dalam lumpur. Panah Karna mendesing. Hampir saja mengenai kepala Arjuna dan mengenai mahkota senapati yang dipakai Arjuna. Mahkota itu tersentak dan jatuh ke tanah. Wajah Arjuna merah karena malu dan amarah. Ia segera pasangkan anak panah di busur Gandewa untuk menamatkan Karna. Dan detik-detik kematian Karna sudah menjelang. Seperti yang sudah diramalkan sebelumnya, roda kiri kereta Karna tiba-tiba terperosok ke dalam lumpur. Ia segera melompat dari keretanya untuk mengangkat rodanya.

Teriak Karna: “Tunggu! Keretaku masuk ke dalam lumpur. Kesatria besar sepertimu tidak akan memanfaatkan kecelakaan ini. Aku akan betulkan keretaku dahulu dan kita bertarung kembali.”

Arjuna ragu-ragu. Sementara itu Karna menjadi sedikit panik karena kecelakaan kecil itu. Ia menjadi ingat kutukan yang diucapkan kepadanya. Sekali lagi, ia meminta Arjuna untuk bersikap ksatria.

Krishna menyela: “Hai, Karna! Bagus engkau masih ingat hal ikhwal bersikap kesatria! Ketika dalam kesulitan engkau baru ingat nilai-nilai kesatria. Tapi ketika kau dan Duryudana, Dursasana serta Sengkuni menyeret Drupadi ke ruang pertemuan dan mempermalukannya, mengapa engkau melupakan nilai-nilai itu? Engkau turut berperan membantu menipu Dharmaputra, yang memang suka bermain dadu tapi kurang berpengalaman. Pada saat itu dimanakah sikap kesatriamu? Apakah artinya sikap kesatria ketika kalian mengeroyok dan membunuh Abimanyu beramai-ramai? Hai, manusia jahat jangan berbicara sikap kesatria karena engkau tidak pernah bersikap kesatria!”

Ketika Krishna mencela Karna habis-habisan dan mendesak Arjuna untuk segera menghabisinya, Karna hanya bisa menundukkan kepala dan tidak bisa berkata-kata. Tanpa suara, ia naik ke atas kereta dan membiarkan roda keretanya terbenam dalam lumpur. Ia segera lepaskan panah ke arah Arjuna. Untuk sesaat, Arjuna terhenyak. Dengan cepat Karna memanfaatkan kesempatan itu untuk membetulkan kereta kudanya. Tapi tampaknya takdir sudah memutuskan dan nasib baik pun menjauh dari kesatria besar itu. Roda itu sama sekali tidak bergeming, meskipun kesatria besar itu sudah mengerahkan seluruh tenaga. Kemudian, dia mencoba mengingat mantra Brahmastra pemberian Parasurama. Tapi, persis pada saat yang sangat dia butuhkan, seperti yang diramalkan Parasurama, Karna tidak bisa mengingat mantra itu.

Seru Krishna: “Arjuna, jangan buang-buang waktu. Lepaskan panahmu dan bunuh manusia jahat itu!”

Arjuna ragu-ragu. Tangannya tidak yakin untuk melakukan tindakan yang tidak mencerminkan sikap ksatria itu. Tapi ketika Krishna berkata: “Arjuna, melaksanakan kehendak yang maha kuasa dan melepaskan panah yang mengena dan melukai kepala Karna.” sang begawan tak sampai hati menghubungkan tindakan tidak kesatria ini dengan Arjuna yang merupakan perwujudan keluhuran budi. Krishna lah yang menyuruh Arjuna menghabisi Karna ketika ia berusaha mengangkat roda dari lumpur. Menurut tata krama perang, tindakan tersebut tidak dibenarkan, tapi siapa yang bisa mengelak dari takdirnya? Akhirnya Arjuna melepaskan panahnya dan tepat mengenai kepala Karna. Karna pun tewas ditangan Arjuna.

Sejarah Asal usul Karna dalam Kisah Mahabharata

Loading...