Sejarah Asal usul Karna dalam Kisah Mahabharata - Kuwaluhan.com
Sri Krisna, adalah keturunan terhormat wangsa Yadawa. Putrinya, Pritha, terkenal berkat kecantikan dan kebaikan budinya. Karena sepupunya Kuntibhoja tidak memiliki anak, Sura memberikan Pritha untuk dijadikan anak angkat. Sejak saat itulah, Pritha dikenal sebagai Dewi Kunti, mengikuti nama ayah angkatnya.

KELAHIRAN KARNA

Ketika Dewi Kunti masih kecil, Resi Durwasa tinggal cukup tinggal cukup lama di rumah ayah angkatnya. Dewi Kunti melayani resi itu dengan penuh perhatian, kesabaran, dan bakti. Resi Durwasa sangat senang dengan sikap Dewi Kunti yang penuh perhatian, sehingga ia menghadiahkan mantra sakti kepada putri kecil itu. Katanya: “Dengan mantra ini, engkau bisa memanggil dewa, siapa pun dia. Ia akan muncul dihadapanmu dan memberimu seorang anak yang mempunyai keagungan sepertinya.” Resi Durwasa menghadiahi putri kecil mantra itu karena ia dengan kekuatan yoganya bisa meramalkan bahwa kelak putri itu akan mengalami nasib buruk dengan suaminya.

Karena sangat ingin tahu, suatu hari ia mencoba mantra sakti itu. Dia mengucapkan mantra dan memanggil Batara Surya yang sedang memancarkan cahayanya dari kahyangan. Tiba-tiba langit menjadi gelap tertutup awan. Kemudian, dari balik awan muncullah Batara Surya dari balik awan. Dewa itu menatap takjub pada kecantikan Dewi Kunti dan bergairah. Dewi Kunti yang terpesona oleh kekuatan gaib dan kewibawaan tamu agungnya bertanya: “Siapkah yang mulia?”

Batara Surya menjawab: “Wahai putri yang cantik, akulah Dewa Matahari. Engkau memanggilku dengan mantra pemberi anak yang engkau ucapkan.”

Kunti sangat terkejut dan berkata: “Hamba seorang gadis dan belum menikah. Hamba belum siap untuk menjadi ibu. Hamba hanya ingin mencoba mantra yang diberikan Resi Durwasa. Hamba mohon paduka kembali ke khayangan. Maafkan kebodohanku.” Namun demikian, Batara Surya tak dapat kembali karena keatan sakti mantra itu.

Singkat cerita, akhirnya Dewi Kunti mengandung anak Batara Surya. Tidak seperti manusia biasa yang butuh waktu 9 bulan untuk melahirkan, tapi karena ini kehamilan yang bersifat keilahian maka Dewi Kunti pun melahirkan seketika itu juga.

Kunti melahirkan Karna yang lahir lengkap dengan perangkap senjata perang yang suci, hiasan telinga. Anak itu tampan dan tampan seperti dewa matahari. Kelak, ia akan menjadi salah satu pahlawan besar dunia.

Kunti kebingungan dengan apa yang harus dilakukan dengan anak itu. Untuk menghindari rasa malu, Kunti menaruh anak itu ke dalam kotak yang tertutup rapat dan menghanyutkannya di sungai. Kebetulan seorang sais yang tidak punya anak melihat kotak yang terhanyut arus sungai itu. Ia mengambil kotak itu dan membukanya. Ia sangat terkejut dan gembira ketika mendapati seorang bayi tampan di kotak itu. Ia segera menyerahkan kepada istrinya. Sang istri menerimanya dengan kasih ibu yang melimpah.

KARNA GUGUR Di MEDAN PERTEMPURAN

Setelah Durna gugur, para senapati bala tentara Kurawa mengangkat Karna sebagai mahasenapati. Karna berdiri di atas kereta kuda yang megah dengan Salya sebagai sais. Rasa percaya diri dan kemashyuran Karna sebagai kesatria membangkitkan semangat tempur pasukan Kurawa. Perang dimulai lagi.

Para ahli perbintangan dimintai nasihat dan para Pandawa menentukan waktu yang tepat untuk bertempur. Arjuna memimpin serangan pada Karna. Bima menyusul di belakangnya. Dursasana memusatkan serangan pada Bima. Ia lepaskan hujan panah kepada Bima. Bima tertawa kecil menyambut serangan itu. Katanya dalam hati: “Kesempatan ini tidak boleh aku sia-siakan. Akan kutuntaskan sumpahku pada Drupadi hari ini. Aku sudah menunggu kesempatan ini lama sekali.”

Bima terbayang kembali penghinaan yang dilakukan Dursasana pada Drupadi. Amarahnya meluap-luap tak terkendali. Ia buang senjata dan melompat ke arah kereta Dursasana dan menerkam Dursasana seperti harimau. Dursasana dilemparkan ke tanah dan badannya remuk redam. Ia patahkan tangan Dursasana dan ia lemparkan tubuh yang bersimbah darah itu ke tengah arena. Kemudian, ia memenuhi sumpah mengerikan yang dia ucapkan 13 tahun yang lalu. Dia hisap dan minum darah Dursasana seperti binatang buas memangsa korban.


Kejadian yang mengerikan itu membuat gemetar semua yang melihat. Bahkan Karna, sang kesatria besar itu pun kecut hatinya melihat Bima menuntaskan dendam kesumatnya.

Sementara itu di arena yang lain pun pertempuran tak kalah hebatnya. Karna putra Batara Surya melepaskan panah api ke arah Arjuna. Panah itu meluncur ke arah Arjuna seperti ular yang menjulurkan lidah bercabang api. Persis pada saat itu, Khrisna menghentakkan tali kekang dan memutar kereta hingga terperosok ke dalam lumpur. Panah Karna mendesing. Hampir saja mengenai kepala Arjuna dan mengenai mahkota senapati yang dipakai Arjuna. Mahkota itu tersentak dan jatuh ke tanah. Wajah Arjuna merah karena malu dan amarah. Ia segera pasangkan anak panah di busur Gandewa untuk menamatkan Karna. Dan detik-detik kematian Karna sudah menjelang. Seperti yang sudah diramalkan sebelumnya, roda kiri kereta Karna tiba-tiba terperosok ke dalam lumpur. Ia segera melompat dari keretanya untuk mengangkat rodanya.

Teriak Karna: “Tunggu! Keretaku masuk ke dalam lumpur. Kesatria besar sepertimu tidak akan memanfaatkan kecelakaan ini. Aku akan betulkan keretaku dahulu dan kita bertarung kembali.”

Arjuna ragu-ragu. Sementara itu Karna menjadi sedikit panik karena kecelakaan kecil itu. Ia menjadi ingat kutukan yang diucapkan kepadanya. Sekali lagi, ia meminta Arjuna untuk bersikap ksatria.

Krishna menyela: “Hai, Karna! Bagus engkau masih ingat hal ikhwal bersikap kesatria! Ketika dalam kesulitan engkau baru ingat nilai-nilai kesatria. Tapi ketika kau dan Duryudana, Dursasana serta Sengkuni menyeret Drupadi ke ruang pertemuan dan mempermalukannya, mengapa engkau melupakan nilai-nilai itu? Engkau turut berperan membantu menipu Dharmaputra, yang memang suka bermain dadu tapi kurang berpengalaman. Pada saat itu dimanakah sikap kesatriamu? Apakah artinya sikap kesatria ketika kalian mengeroyok dan membunuh Abimanyu beramai-ramai? Hai, manusia jahat jangan berbicara sikap kesatria karena engkau tidak pernah bersikap kesatria!”

Ketika Krishna mencela Karna habis-habisan dan mendesak Arjuna untuk segera menghabisinya, Karna hanya bisa menundukkan kepala dan tidak bisa berkata-kata. Tanpa suara, ia naik ke atas kereta dan membiarkan roda keretanya terbenam dalam lumpur. Ia segera lepaskan panah ke arah Arjuna. Untuk sesaat, Arjuna terhenyak. Dengan cepat Karna memanfaatkan kesempatan itu untuk membetulkan kereta kudanya. Tapi tampaknya takdir sudah memutuskan dan nasib baik pun menjauh dari kesatria besar itu. Roda itu sama sekali tidak bergeming, meskipun kesatria besar itu sudah mengerahkan seluruh tenaga. Kemudian, dia mencoba mengingat mantra Brahmastra pemberian Parasurama. Tapi, persis pada saat yang sangat dia butuhkan, seperti yang diramalkan Parasurama, Karna tidak bisa mengingat mantra itu.

Seru Krishna: “Arjuna, jangan buang-buang waktu. Lepaskan panahmu dan bunuh manusia jahat itu!”

Arjuna ragu-ragu. Tangannya tidak yakin untuk melakukan tindakan yang tidak mencerminkan sikap ksatria itu. Tapi ketika Krishna berkata: “Arjuna, melaksanakan kehendak yang maha kuasa dan melepaskan panah yang mengena dan melukai kepala Karna.” sang begawan tak sampai hati menghubungkan tindakan tidak kesatria ini dengan Arjuna yang merupakan perwujudan keluhuran budi. Krishna lah yang menyuruh Arjuna menghabisi Karna ketika ia berusaha mengangkat roda dari lumpur. Menurut tata krama perang, tindakan tersebut tidak dibenarkan, tapi siapa yang bisa mengelak dari takdirnya? Akhirnya Arjuna melepaskan panahnya dan tepat mengenai kepala Karna. Karna pun tewas ditangan Arjuna.

Sejarah Asal usul Karna dalam Kisah Mahabharata

Sri Krisna, adalah keturunan terhormat wangsa Yadawa. Putrinya, Pritha, terkenal berkat kecantikan dan kebaikan budinya. Karena sepupunya Kuntibhoja tidak memiliki anak, Sura memberikan Pritha untuk dijadikan anak angkat. Sejak saat itulah, Pritha dikenal sebagai Dewi Kunti, mengikuti nama ayah angkatnya.

KELAHIRAN KARNA

Ketika Dewi Kunti masih kecil, Resi Durwasa tinggal cukup tinggal cukup lama di rumah ayah angkatnya. Dewi Kunti melayani resi itu dengan penuh perhatian, kesabaran, dan bakti. Resi Durwasa sangat senang dengan sikap Dewi Kunti yang penuh perhatian, sehingga ia menghadiahkan mantra sakti kepada putri kecil itu. Katanya: “Dengan mantra ini, engkau bisa memanggil dewa, siapa pun dia. Ia akan muncul dihadapanmu dan memberimu seorang anak yang mempunyai keagungan sepertinya.” Resi Durwasa menghadiahi putri kecil mantra itu karena ia dengan kekuatan yoganya bisa meramalkan bahwa kelak putri itu akan mengalami nasib buruk dengan suaminya.

Karena sangat ingin tahu, suatu hari ia mencoba mantra sakti itu. Dia mengucapkan mantra dan memanggil Batara Surya yang sedang memancarkan cahayanya dari kahyangan. Tiba-tiba langit menjadi gelap tertutup awan. Kemudian, dari balik awan muncullah Batara Surya dari balik awan. Dewa itu menatap takjub pada kecantikan Dewi Kunti dan bergairah. Dewi Kunti yang terpesona oleh kekuatan gaib dan kewibawaan tamu agungnya bertanya: “Siapkah yang mulia?”

Batara Surya menjawab: “Wahai putri yang cantik, akulah Dewa Matahari. Engkau memanggilku dengan mantra pemberi anak yang engkau ucapkan.”

Kunti sangat terkejut dan berkata: “Hamba seorang gadis dan belum menikah. Hamba belum siap untuk menjadi ibu. Hamba hanya ingin mencoba mantra yang diberikan Resi Durwasa. Hamba mohon paduka kembali ke khayangan. Maafkan kebodohanku.” Namun demikian, Batara Surya tak dapat kembali karena keatan sakti mantra itu.

Singkat cerita, akhirnya Dewi Kunti mengandung anak Batara Surya. Tidak seperti manusia biasa yang butuh waktu 9 bulan untuk melahirkan, tapi karena ini kehamilan yang bersifat keilahian maka Dewi Kunti pun melahirkan seketika itu juga.

Kunti melahirkan Karna yang lahir lengkap dengan perangkap senjata perang yang suci, hiasan telinga. Anak itu tampan dan tampan seperti dewa matahari. Kelak, ia akan menjadi salah satu pahlawan besar dunia.

Kunti kebingungan dengan apa yang harus dilakukan dengan anak itu. Untuk menghindari rasa malu, Kunti menaruh anak itu ke dalam kotak yang tertutup rapat dan menghanyutkannya di sungai. Kebetulan seorang sais yang tidak punya anak melihat kotak yang terhanyut arus sungai itu. Ia mengambil kotak itu dan membukanya. Ia sangat terkejut dan gembira ketika mendapati seorang bayi tampan di kotak itu. Ia segera menyerahkan kepada istrinya. Sang istri menerimanya dengan kasih ibu yang melimpah.

KARNA GUGUR Di MEDAN PERTEMPURAN

Setelah Durna gugur, para senapati bala tentara Kurawa mengangkat Karna sebagai mahasenapati. Karna berdiri di atas kereta kuda yang megah dengan Salya sebagai sais. Rasa percaya diri dan kemashyuran Karna sebagai kesatria membangkitkan semangat tempur pasukan Kurawa. Perang dimulai lagi.

Para ahli perbintangan dimintai nasihat dan para Pandawa menentukan waktu yang tepat untuk bertempur. Arjuna memimpin serangan pada Karna. Bima menyusul di belakangnya. Dursasana memusatkan serangan pada Bima. Ia lepaskan hujan panah kepada Bima. Bima tertawa kecil menyambut serangan itu. Katanya dalam hati: “Kesempatan ini tidak boleh aku sia-siakan. Akan kutuntaskan sumpahku pada Drupadi hari ini. Aku sudah menunggu kesempatan ini lama sekali.”

Bima terbayang kembali penghinaan yang dilakukan Dursasana pada Drupadi. Amarahnya meluap-luap tak terkendali. Ia buang senjata dan melompat ke arah kereta Dursasana dan menerkam Dursasana seperti harimau. Dursasana dilemparkan ke tanah dan badannya remuk redam. Ia patahkan tangan Dursasana dan ia lemparkan tubuh yang bersimbah darah itu ke tengah arena. Kemudian, ia memenuhi sumpah mengerikan yang dia ucapkan 13 tahun yang lalu. Dia hisap dan minum darah Dursasana seperti binatang buas memangsa korban.


Kejadian yang mengerikan itu membuat gemetar semua yang melihat. Bahkan Karna, sang kesatria besar itu pun kecut hatinya melihat Bima menuntaskan dendam kesumatnya.

Sementara itu di arena yang lain pun pertempuran tak kalah hebatnya. Karna putra Batara Surya melepaskan panah api ke arah Arjuna. Panah itu meluncur ke arah Arjuna seperti ular yang menjulurkan lidah bercabang api. Persis pada saat itu, Khrisna menghentakkan tali kekang dan memutar kereta hingga terperosok ke dalam lumpur. Panah Karna mendesing. Hampir saja mengenai kepala Arjuna dan mengenai mahkota senapati yang dipakai Arjuna. Mahkota itu tersentak dan jatuh ke tanah. Wajah Arjuna merah karena malu dan amarah. Ia segera pasangkan anak panah di busur Gandewa untuk menamatkan Karna. Dan detik-detik kematian Karna sudah menjelang. Seperti yang sudah diramalkan sebelumnya, roda kiri kereta Karna tiba-tiba terperosok ke dalam lumpur. Ia segera melompat dari keretanya untuk mengangkat rodanya.

Teriak Karna: “Tunggu! Keretaku masuk ke dalam lumpur. Kesatria besar sepertimu tidak akan memanfaatkan kecelakaan ini. Aku akan betulkan keretaku dahulu dan kita bertarung kembali.”

Arjuna ragu-ragu. Sementara itu Karna menjadi sedikit panik karena kecelakaan kecil itu. Ia menjadi ingat kutukan yang diucapkan kepadanya. Sekali lagi, ia meminta Arjuna untuk bersikap ksatria.

Krishna menyela: “Hai, Karna! Bagus engkau masih ingat hal ikhwal bersikap kesatria! Ketika dalam kesulitan engkau baru ingat nilai-nilai kesatria. Tapi ketika kau dan Duryudana, Dursasana serta Sengkuni menyeret Drupadi ke ruang pertemuan dan mempermalukannya, mengapa engkau melupakan nilai-nilai itu? Engkau turut berperan membantu menipu Dharmaputra, yang memang suka bermain dadu tapi kurang berpengalaman. Pada saat itu dimanakah sikap kesatriamu? Apakah artinya sikap kesatria ketika kalian mengeroyok dan membunuh Abimanyu beramai-ramai? Hai, manusia jahat jangan berbicara sikap kesatria karena engkau tidak pernah bersikap kesatria!”

Ketika Krishna mencela Karna habis-habisan dan mendesak Arjuna untuk segera menghabisinya, Karna hanya bisa menundukkan kepala dan tidak bisa berkata-kata. Tanpa suara, ia naik ke atas kereta dan membiarkan roda keretanya terbenam dalam lumpur. Ia segera lepaskan panah ke arah Arjuna. Untuk sesaat, Arjuna terhenyak. Dengan cepat Karna memanfaatkan kesempatan itu untuk membetulkan kereta kudanya. Tapi tampaknya takdir sudah memutuskan dan nasib baik pun menjauh dari kesatria besar itu. Roda itu sama sekali tidak bergeming, meskipun kesatria besar itu sudah mengerahkan seluruh tenaga. Kemudian, dia mencoba mengingat mantra Brahmastra pemberian Parasurama. Tapi, persis pada saat yang sangat dia butuhkan, seperti yang diramalkan Parasurama, Karna tidak bisa mengingat mantra itu.

Seru Krishna: “Arjuna, jangan buang-buang waktu. Lepaskan panahmu dan bunuh manusia jahat itu!”

Arjuna ragu-ragu. Tangannya tidak yakin untuk melakukan tindakan yang tidak mencerminkan sikap ksatria itu. Tapi ketika Krishna berkata: “Arjuna, melaksanakan kehendak yang maha kuasa dan melepaskan panah yang mengena dan melukai kepala Karna.” sang begawan tak sampai hati menghubungkan tindakan tidak kesatria ini dengan Arjuna yang merupakan perwujudan keluhuran budi. Krishna lah yang menyuruh Arjuna menghabisi Karna ketika ia berusaha mengangkat roda dari lumpur. Menurut tata krama perang, tindakan tersebut tidak dibenarkan, tapi siapa yang bisa mengelak dari takdirnya? Akhirnya Arjuna melepaskan panahnya dan tepat mengenai kepala Karna. Karna pun tewas ditangan Arjuna.

No comments:

Post a Comment

Berkomentarlah Dengan baik dan sopan agar tidak terjadi hal-hal yang membuat orang lain gagal paham

Subscribe Our Newsletter

Notifications

Disqus Logo