Social Items

Menurut kisah Ramayana, Wibisana adalah putra bungsu pasangan Wisrawa dan Kaikesi. Ayahnya seorang resi putra Pulastya. Sementara ibunya adalah putri Sumali, seorang raja Rakshasa dari Kerajaan Alengka.


Ia adalah adik kandung Rahwana yang menyeberang ke pihak Sri Rama. Dalam perang besar antara bangsa Rakshasamelawan Wanara, Wibisana banyak berjasa membocorkan kelemahan kaumnya, sehingga pihak Wanara yang dipimpin Rama memperoleh kemenangan. Sepeninggal Rahwana, Wibisana menjadi raja Alengka. Ia dianggap sebagai salah satu Chiranjiwin, yaitu makhluk abadi selamanya.

Versi lain, yaitu Mahabharata menyebut Wibisana sebagai putra wisrawa dan Malini. Menurut versi kedua tersebut, Kaikesi hanya melahirkan dua seorang putra saja, yaitu Rahwana dan Kumbakarna.

Wibisana menikah dengan seorang wanita dari bangsa Rakshasa bernama Sarama. Istrinya itu juga bersifat bijaksana. Ia menjadi pelindung Sita istri Rama ketika ditawan Rahwana.

SIFAT WIBISANA

Meskipun berasal dari bangsa Rakshasa, namun Wibisana memiliki kepribadian yang berbeda. Biasanya para Rakshasa dikisahkan sebagai pembuat onar, perusuh kaum brahmana, dan pemakan daging manusia. Namun Wibisana terkenal berhati lembut dan hidup dalam kebijaksanaan.

Wibisana menghabiskan masa mudanya dengan bertapa memuja Wisnu. Ia juga memuja Brahma bersama dengan kedua kakaknya, yaitu Rahwana dan Kumbakarna. Ketika Dewa Brahma turun untuk memberikan anugerah, Rahwana dan Kumbakarna mengajukan permohonan diberi kekuatan dan kesaktian untuk bisa menaklukkan para dewa.

Wibisana bersikap lain. Ia justru meminta agar selalu berada di jalan kebenaran atau dharma. Ia tidak minta diberi kekuatan, tetapi minta diberi kebijaksanaan.

WIBISANA DI KERAJAAN ALENGKA DIRAJA

Dalam kisah Ramayana, setelah gagal membujuk kakaknya untuk mengembalikan Sinta kepada Rama, Wibisana memutuskan untuk berpihak pada Rama yang diyakininya sebagai pihak yang benar. Hal ini berarti dia harus melawan kakaknya sendiri (Rahwana) demi membela kebenaran.

Menarik untuk dilihat bahwa Kumbakarna (yang juga masih saudara kandung dengan Wibisana dan Rawana) mengambil sikap yang berlawanan, dimana Kumbakarna tetap membela tanah air, walaupun menyadari bahwa dia berada di pihak yang salah. Wibisana merupakan tokoh yang menunjukkan bahwa kebenaran itu menembus batas-batas nasionalisme, bahkan ikatan persaudaraan.

WIBISANA BERPIHAK PADA SRI RAMA

Karena merasa tidak mendapat tempat di Alengka, Wibisana pergi bersama empat rakshasa yang baik dan menghadap Rama. Dalam perjalanan ia dihadang oleh Sugriwa, raja wanara yang mencurigai kedatangan Wibisana dari Alengka. Setelah Rama yakin bahwa Wibisana bukan orang jahat, Wibisana menjanjikan persahabatan yang kekal.

Dalam misi menghancurkan Rahwana, Wibisana banyak memberi tahu rahasia Alengka dan seluk-beluk setiap rakshasa yang menghadang Rama dan pasukannya. Wibisana juga sadar apabila ada mata-mata yang menyusup ke tengah pasukan wanara, dan melaporkannya kepada Rama.

Saat pasukan wanara berhasil dikelabui oleh Indrajit, Wibisana adalah orang yang tanggap dan mengetahui akal Indrajit yang licik.

Ketika Kumbakarna maju menghadapi Rama dan pasukannya, Wibisana memohon agar ia diberi kesempatan berbincang-bincang dengan kakaknya itu. Rama mengabulkan dan mempersilakan Wibisana untuk bercakap-cakap sebelum pertempuran meletus. Saat bertatap muka dengan Kumbakarna, Wibisana memohon agar Kumbakarna mengampuni kesalahannya sebab ia telah menyeberang ke pihak musuh.

Wibisana juga pasrah apabila Kumbakarna hendak membunuhnya. Melihat ketulusan adiknya, Kumbakarna merasa terharu. Kumbakarna tidak menyalahkan Wibisana sebab ia berbuat benar. Kumbakarna juga berkata bahwa ia bertempur karena terikat dengan kewajiban, dan bukan semata-mata karena niatnya sendiri.

Setelah bercakap-cakap, Wibisana mohon pamit dari hadapan Kumbakarna dan mempersilakannya maju untuk menghadapi Rama.

WIBISANA MENJADI RAJA ALENGKA

Setelah Kumbakarna dan Rahwana dibunuh oleh Sri Rama, Wibisana dan para sahabatnya menyelenggarakan upacara pembakaran yang layak bagi kedua ksatria tersebut. Kemudian ia dinobatkan menjadi Raja Alengka yang sah. Ia merawat Mandodari, janda yang ditinggalkan Rahwana, dan hidup bersama dengan permaisurinya yang bernama Sarma.

Wibisana memerintah Alengka dengan bijaksana. Ia mengubah Alengka menjadi kota yang berlandaskan dharma dan kebajikan, setelah sebelumnya rusak karena pemerintahan Rahwana.

Kisah Asal Usul Wibisana Dalam Ramayana

Kumbakarna adalah saudara kandung Rahwana, raja rakshasa dari Alengka. Kumbakarna merupakan seorang rakshasa yang sangat tinggi dan berwajah mengerikan, tetapi bersifat perwira dan sering menyadarkan perbuatan kakaknya yang salah.


Ia memiliki suatu kelemahan, yaitu tidur selama enam bulan, dan selama ia menjalani masa tidur, ia tidak mampu mengerahkan seluruh kekuatannya.

Ayah Kumbakarna adalah seorang resi bernama Wisrawa, dan ibunya adalah Kekasi, puteri seorang Raja Detya bernama Sumali. Rahwana, Wibisana dan Surpanaka adalah saudara kandungnya, sementara Kubera, Kara, Dusana, Kumbini, adalah saudara tirinya. Marica adalah pamannya, putera Tataka, saudara Sumali.

Kumbakarna memiliki putera bernama Kumba dan Nikumba. Kedua puteranya itu gugur dalam pertempuran di Alengka. Kumba menemui ajalnya di tangan Sugriwa, sedangkan Nikumba gugur di tangan Hanoman.

SUKA TIDUR PANJANG

Saat Rahwana dan Kumbakrana mengadakan tapa, Dewa Brahma muncul karena berkenan dengan pemujaan yang mereka lakukan. Brahma memberi kesempatan bagi mereka untuk mengajukan permohonan.

Saat tiba giliran Kumbakarna untuk mengajukan permohonan, Dewi Saraswati masuk ke dalam mulutnya untuk membengkokkan lidahnya, maka saat ia memohon "Indraasan" (Indrāsan – tahta Dewa Indra), ia mengucapkan "Neendrasan" (Nīndrasan – tidur abadi). Brahma mengabulkan permohonannya.

Karena merasa sayang terhadap adiknya, Rahwana meminta Brahma agar membatalkan anugerah tersebut. Brahma tidak berkenan untuk membatalkan anugrahnya, namun ia meringankan anugrah tersebut agar Kumbakarna tidur selama enam bulan dan bangun selama enam bulan. Pada saat ia menjalani masa tidur, ia tidak akan mampu mengerahkan seluruh kekuatannya.

MENJADI PENASEHAT DI KERAJAAN ALENGKA

Kumbakarna sering memberikan nasihat kepada Rahwana, menyadarkan bahwa tindakanya keliru. Ketika Rahwana kewalahan menghadapi Sri Rama, maka ia menyuruh Kumbakarna menghadapinya. Kumbakarna sebenarnya tahu bahwa kakaknya salah, tetapi demi membela Alengka tanah tumpah darahnya dia pun maju sebagai prajurit melawan serbuan Rama.

Kumbakarna sering dilambangkan sebagai perwira pembela tanah tumpah darahnya, karena ia membela Alengka untuk segala kaumnya, bukan untuk Rahwanasaja, dan ia berperang melawan Rama tanpa rasa permusuhan, hanya semata-mata menjalankan kewajiban.

PERTEMPURAN DAN KEMATIAN KUMBAKARNA

Saat Kerajaan Alengka diserbu oleh Rama dan sekutunya, Rahwana memerintahkan pasukannya untuk membangunkan Kumbakarna yang sedang tertidur. Utusan Rahwana membangunkan Kumbakarna dengan menggiring gajah agar menginjak-injak badannya serta menusuk badannya dengan tombak, kemudian saat mata Kumbakarna mulai terbuka, utusannya segera mendekatkan makanan ke hidung Kumbakarna. Setelah menyantap makanan yang dihidangkan, Kumbakarna benar-benar terbangun dari tidurnya.

Setelah bangun, Kumbakarna menghadap Rahwana. Ia mencoba menasihati Rahwana agar mengembalikan Sita dan menjelaskan bahwa tindakan yang dilakukan kakaknya itu adalah salah. Rahwana sedih mendengar nasihat tersebut sehingga membuat Kumbakarna tersentuh.

Tanpa sikap bermusuhan dengan Rama, Kumbakarna maju ke medan perang untuk menunaikan kewajiban sebagai pembela negara. Sebelum bertarung Kumbakarna berbincang-bincang dengan Wibisana, adiknya, setelah itu ia berperang dengan pasukan wanara.

Dalam peperangan, Kumbakarna banyak membunuh pasukan wanara dan banyak melukai prajurit pilihan seperti Anggada, Sugriwa, Hanoman, Nila, dan lain-lain. Dengan panah saktinya, Rama memutuskan kedua tangan Kumbakarna.

Namun dengan kakinya, Kumbakarna masih bisa menginjak-injak pasukan wanara. Kemudian Rama memotong kedua kaki Kumbakarna dengan panahnya. Tanpa tangan dan kaki, Kumbakarna mengguling-gulingkan badannya dan melindas pasukan wanara.

Melihat keperkasaan Kumbakarna, Rama merasa terkesan dan kagum. Namun ia tidak ingin Kumbakarna tersiksa terlalu lama. Akhirnya Rama melepaskan panahnya yang terakhir. Panah tersebut memisahkan kepala Kumbakarna dari badannya dan membawanya terbang, lalu jatuh di pusat kota Alengka.

Asal Usul Kumbakarna Dalam Kisah Ramayana

Sri Rama adalah seorang anak yang elok parasnya dan gagah berani, tetapi ia nakal. Mentri kerajaan lebih senang kalau anak Baliadri yang menjadi raja, karena Dasarata sendiri juga pernah berjanji dua kali, akan merajakan anak Baliadri karena jasa-jasa gundik tersebut.


Rahwana mendengar bahwa Dasarata telah beristri seorang putri yang elok parasnya. Timbul keinginan untuk memilikinya. Ia meminta kepada Dasarata, dan dasarata tidak keberatan. Kemudian Mandudari segera segera diberitahu hal ini, dan masuklah ia ke bilik. Lalu keluarlah dari bilik, Mandudaki, putri yang serupa dengan Mandudari, Kemudian di bawa oleh Rahwana.

Mandudaki hamil, dan melahirkan putri yang sangat elok, Sinta Dewi. Berdasarkan ramalan, kelak suami Sinta yang akan membunuh Rahwana. Rahwana marah, lalu Mandudaki membujuk agar Sinta Dewi ditaruh di peti besi dan dihanyutkan ke sungai.

Maharisi Kali, raja negeri Darwati Purwa, bertapa di laut dan mendapat peti besi yang dihanyutkan oleh Rahwana, kemudian Sinta dewi dipelihara dengan baik. Setelah Sinta dewi brumur dua belas tahun, ia mengadakan sayembara untuk memilih suami bagi dewi Sinta. Sayembara dimulai, dan diikuti oleh banyak anak-anak raja, tetapi tidak ada yang berhasil kecuali Rama.

Segala persiapan sedang diadakan untuk menabalkan Rama dalam negeri. Si budak bungkuk mengahasut Baliadri untuk menagih janjinya, yaitu menabalkan anak Baliadri. Maka terpaksalah Rama dan Sita, serta Laksmana meninggalkan negeri lalu bertapa di hutan.

Rama diberitahu oleh Maharisi Astana, bahwa di dalam hutan ada kolam aneh, yag satu bening dan yang satu keruh. Rama mandi dengan Sinta di kolam yang bening, kemudian mereka berdua menjadi kera, untunglah mereka ditolong oleh Laksmana. Kerongkongan Sinta diurut dan keluarlah mani Rama, yang selanjutnya dibawa oleh Bayu Bata, dan dimasukkan ke dalam mulut Dewi Anjani. Dewi Anjani hamil, dan lahirlah Hanoman.

Darsa Singa terbunuh oleh Laksmana di dalam rumpun buluh petung. Kemudian Sura Pandaki sebagai orang tuanya ingin balas dendam, tetapi kalah. Saudranya Darkalah Singa menyerang Rama, juga tidak berhasil.

Lalu Sura membujuk rawana untuk menyerang Rama dengan duaorang raksasa sakti, Rahwana datang ke hutan pertapaan Rama. Seorang raksasa menjadikan diri sebagai kijang emas, dan satuya kijang perak. Lalu dewi Sinta meminta Rama mengangkap kedua kijang itu hidup-hidup.
Terdengar Rama meminta tolong. Sinta mendesak Laksmana menolong Rama, dengan tuduhan Laksmana ingin memilikinya, seandainya Rama mati.

Maka Laksmana pergi, tapi sebelumnya ia meggoreskan tanah dengan telunjuknaya dengan tujuan siapa yang melangkahinya akan kena tangkap.
Rahwana menyamar sebagai rahmana dan meminta sedekah pada Sinta, burung Jentayu ingin menolong Sinta, tapi akhirnya terbunuh.

Rama dan Laksmana bertemu dengan kakak burung Jentayu, dan mengatakan bahwa Sinta telah dibawa oleh Rahwana. Kemudian mereka berdua bertemu dengan Sugriwa yang diusir dari kerajaannya oleh saudaranya Balya. Kemudian Rama dan Laksmana membantunya merebut kerajaannya kembali.

Balya meminta Rama dan Laksmana memperistri kedua anaknya Anggada dan Anila. Kemudian ia memberitahu bahwa yang bisa menolong Rama merebut Sita adalah anak saudaranya yaitu Anoman.
Mandudari sangat sedih dan wafat, saat mendengar Rama berpisah dengan Sinta. Dasarata meminta Rama menjadi raja, tapi Rama tolak, dan meminta saudaranya saja yag dijadikan raja.

Sugriwa mengumpulkan seluruh rakyat keranya, tapi tidak sanggup melompat ke pulau Langka. Hanoman sanggup melakukan tugas ini, asala diijinkan memakan sehelai daun bersama Rama. Rama menyetujuainya asal Hanoman mandi dulu di laut. Setelah itu, Rama menyerahkian cincinya untuk dibawa ke Dewi Sinta sebagai tanda.

Hanuman menyamar sebagai Maharisi dan menemui Sinta Dewi di istana Rawana. Hanuman menceritakan asal-usulnya sebagai anaknya. Hanuman memakan seluruh mempelam di dalam istana. Karena hal ini, ia ditangkap dan dibakar.

Lalu ia meloncat kesana-kemari dan mengakibatkan kebakaran. Ia ingin membawa Dewi Sinta, tapi Sinta menolak. Karena ia ingin yang menyelamatkannya ialah Rama.

Jembatan titian hampir selesai. Rahwana mulai gentar dan berunding dengan mentri-mentrinya. Wibisana mentri yang paling tua, menyarankan supaya mnyerahkan Dewi Sinta, Rahwana geram dan akan membunuh Wibisana.

Begitu pila anak-anak Rahwana, IndraJit dan Kumbakarna mereka juga menganjurkan sepeti itu. Rahwana tetap berkeras, akhirnya peperangan berlangsung dan Rahwana tewas di tangan Sri Rama.

Rama tidak mau menerima Sinta kembali, takut kalau Sinta diperkosa Rahwana. Sinta membuktikan kesuciannya dengan duduk di dalam bara api yang menyala. Akhirnya berkumpullah mereka berdua.

Sesudah memakan obat dari Maharasi Kala, Sinta hamil. Kikewi Dewi datang, dan meminta Sinta melukiskan wajah Rawana di atas kipas. Kipas itu didapati Rama, Kikewi berbohong Sinta yang melukisnya, dan dibawanya beradu. Sinta diusir, dan pergi ke Maharisi.

Sebelum pergi ia bersumpah, barang sipa bohong, dia tidak akan dapat berkata-kata lagi. Dan kalau ia benar, sesudah meinggalkan negeri, binatang-binatang akan dalam percintaan.

Di tempat Maharisi, Sita melahirkan. Tilawi namanya. Tilawi tersesat, kemudian Maharisi membuat anak dari ilalang, bernama Kusa. Kemudian Tilawi dan Kusa menjadi pemuda yang gagah berani dan membunuh banyak raksasa.

Akhirnya Rama sadar akan kesalahannya dan meminta Sinta kembali. Setelah ia pulang segala Marga satwa berbunyi kembali, dan Kikewi meminta maaf. Tilawi dikawinkan dengan putri Indra Kusuma Dewi, anak IndraJit dan dirajakan di dalam negeri Durjka Pura. Kusa dikawinkan dengan Gangga Surani Dewi anak Mahasura, dan dirajakan di negeri Langkapuri.

Setelah beberapa lama, Rama membuat negeri di tempat orang bertapa. Negeri itu dinamai Ayodya Pura Negara. Sesudah empat puluh tahun hidup bersuka-sukaan dengan Sinta dalam pertapaan, maka Sri Rama pun kembali ke negeri yang fana, yaitu Wafat.

Sejarah Asal Usul Sri Rama dalam Kisah Ramayana

Kuwaluhan.com

Pada Zaman dahulu Brahma menciptakan wujud kera yang perkasa agar beranak-pinak di dunia. Kera tersebut dinamai Ruksharaja karena mempunyai kekuatan luar biasa akan tetapi belum seimbang antara pikiran dan tindakannya. Kera tersebut diminta bertapa di sebuah telaga dan diminta membunuh raksasa dan menyelamatkan suatu wilayah dari kejahatan para raksasa.

Saat kera tersebut melihat bayangan wajahnya di permukaan telaga, dia menganggap itu adalah wujud raksasa karena dia belum menyadari wajahnya sendiri. Kera tersebut segera menceburkan diri ke air untuk membunuh “musuhnya”. Akan tetapi ternyata dia berubah wujudnya menjadi kera betina.

Sang kera kemudian mohon kepada Indra mohon karunia dan lahirlah Subali. Dia juga melihat Sang Surya dan memohon karunia sehingga lahirlah Sugriva. Setelah melahirkan, dia kembali berubah wujud menjadi Ruksharaja dan membawa putra-putranya kepada Brahma. Brahma berkata kepada Subali dan Sugriva agar menetap di Kishkinda. Akan datang saatnya kalian menemui Sang Pemelihara Alam yang mewujud sebagai putra Raja Dasaratha. Dengarkan Dia berbicara dan kalian akan terberkati!”

Pada suatu hari Raksasa Mayavi menantang bertarung untuk membalaskan dendam kematian adiknya oleh Subali. Setelah bertarung beberapa lama Mayavi lari masuk ke dalam gua dan Subali serta Sugriwa mengejarnya.  Subali berkata agar Sugriwa menjaga di luar gua, agar Mayavi tidak bias melarikan diri dan bila sudah 2 minggu dia tidak keluar agar gua ditutup batu besar, mungkin dia sudah terbunuh oleh Mayavi.

PERKELAHIAN SUGRIWA DAN SUBALI

Sugriwa menunggu sampai 30 hari dan membaui darah anyir yang menyengat, menganggap kakaknya mati dia menutup gua dengan batu besar dan kembali ke Kiskindha. Para petinggi kera minta dia menjadi raja kera menggantikan Subali dan akhirnya dia menerimanya.

Ternyata Subali tidak mati dan menganggap Sugriwa berkhianat. Subali tidak mau mendengarkan alasan Sugriwa. Terjadilah pertarungan dan Sugriwa kalah dan melarikan diri. Para kera yang tidak mau di bawah perintahnya ikut diusir, sedangkan istri Sugriwa tidak boleh pergi dan dipaksa menjadi istrinya.

Sugriwa melihat kemampuan Rama dan ingat pesan Brahma untuk mendengarkan Rama. “Paduka Rama, tadinya hamba begitu membenci Subali, akan tetapi justru karena hamba tinggal di puncak gunung hamba bisa bertemu dan berbicara dengan Paduka yang merupakan Wujud Ilahi untuk membimbing makhluk dan membinasakan adharma.

Bersujud pada kaki Paduka, hamba merasa bahwa istri dan istana tidak ada artinya dibanding kesempatan melayani Paduka!” Rama tetap meminta Sugriva menegakkan dharma dengan mengajak bertarung dengan Subali.

Sugriwa bertarung dengan Subali dan Sugriwa kalah dengan luka parah sehingga melarikan diri. Sugriwa protes dengan Rama mengapa tidak membantu, seorang avatar pasti bisa membedakan mana Subali dan mana Sugriva, walau mereka kembar. Rama tersenyum dan mengusap luka-luka Sugriwa yang langsung sembuh.

Sekarang pakailah karangan bunga dan mengajak berkelahi lagi. Tadi Aku berbuat demikian agar kau tidak hanya bertarung dan menggantungkan diri sepenuhnya padaKu. Sugriwa patuh pada kata Rama dan kembali bertarung dengan Subali. Rama kemudian memanah Subali dan Subali luka parah terkena panah Rama di dadanya.

PERTANYAAN SUBALI KEPADA RAMA

Subali bertanya, “Wahai Paduka Rama, mengapa paduka memanah hamba tanpa berkata lebih dahulu kepada hamba. Sesuai pesan Brahma, kami tahu bahwa apa yang paduka lakukan adalah kebenaran. Kami hanya mohon petunjuk apakah salah hamba sehingga hamba paduka panah tanpa memberitahu hamba terlebih dahulu, padahal hamba tidak punya permasalahan dengan paduka?”

Rama menjawab, “Sugriwa kau suruh menutup gua setelah lima belas hari dan dia bahkan menutup setelah tiga puluh hari. Sugriwa menjadi raja atas desakan para petinggi kera agar Kishkinda mempunyai pemimpin. Kemudian istri Sugriwa tidak boleh ikut Sugriwa dan kau ambil sebagai istri. Subali engkau adalah seorang kera yang sakti, Rahwana pun takut padamu, akan tetapi kau membiarkan pesawat Rahwana lewat di tempatmu padahal Sinta berteriak minta tolong. Mengapa kau tidak meneladani Jatayu yang mencoba menghentikan penculikan Rahwana sampai mengorbankan nyawa?”

Subali sadar akan kesalahannya. Saat Rama bertanya apakah Subali mau Rama menyembuhkan luka akibat anak panahnya dan mengembalikan hidupnya, serta Subali tidak akan mengalami uzur dan ketuaan. Subali menangis penuh haru. Subali minta Sugriwa memanggil Tara, istrinya dan Anggada, putranya.

Subali minta Sugriwa merawat Tara dan Anggada dan menjadi Raja Kishkinda. Kepada Rama, Subali berkata, “Paduka Rama, kumpulan karma yang telah hamba lakukan telah terselesaikan, untuk apa hamba hidup lebih panjang dengan resiko jatuh kesadaran setiap saat. Untuk apa tidak mengalami uzur dan menjadi raja bila dihadapkan ancaman jatuh ke kesadaran lebih rendah.

Mati di tangan Paduka, seorang avatara akan membuat tugas kami di dunia yang penuh perangkap maya ini selesai. Apakah ada kebahagiaan yang lebih tinggi daripada hal ini. Aku siap mati. Oh Sri Sai Rama, Oh Sri Sai Rama….” Subali menutup mata, hanya ingat dan menyebut nama Sri Rama sampai menghembuskan nafasnya yang terakhir di dunia.

“Hidup dalam rahim ibu selama lebih dari sembilan bulan, hidup dalam kegelapan itu, merupakan pengalaman yang tidak pernah pernah terlupakan oleh manusia. Setelah dilahirkan sampai ajal tiba, hidup manusia sebenarnya merupakan proses pencarian yang panjang. Apa pula yang dicarinya, kalau bukan kegelapan itu? Kenapa demikian? Karena, dalam kegelapan itu, ia pernah merasa begitu aman, begitu nyaman.

Dalam kegelapan itu, ia merasakan kehangatan kasih ibu. Dalam kegelapan dan keheningan itu, ia pernah merasa begitu tenang, begitu tenteram, begitu damai, begitu bahagia. Sepanjang umur, ia mencari kebahagiaan seperti yang pernah dialaminya dulu.

Apabila, sampai saat ini pun ia belum berhasil memperolehnya, itu karena pencarian dia selama ini salah. Ia menerangi kehidupannya dan ingin mendapatkan kebahagiaan lewat cahaya. Ia tidak akan pernah mendapatkan kebahagiaan lewat cahaya. Ia tidak akan pernah bisa mendapatkannya, karena kebahagiaan berasal dari kegelapan. Kegelapan berarti keheningan.

Kegelapan berarti kasunyatan. Kegelapan berarti kesadaran akan jati diri Anda. Selama Anda mencarinya di luar, Anda tidak akan pernah mendapatkannya. Memang cahaya dapat membuat hidup Anda sedikit lebih nyaman, tetapi hanya itu saja. Tidak lebih dari itu. Carilah kebahagiaan dalam kegelapan dan keheningan jiwa Anda sendiri.

Kisah Asal Usul Sugriwa dan Subali, dalam Sejarah Ramayana

Subscribe Our Newsletter