Social Items

Kuwaluhan.com

Pada Zaman dahulu Brahma menciptakan wujud kera yang perkasa agar beranak-pinak di dunia. Kera tersebut dinamai Ruksharaja karena mempunyai kekuatan luar biasa akan tetapi belum seimbang antara pikiran dan tindakannya. Kera tersebut diminta bertapa di sebuah telaga dan diminta membunuh raksasa dan menyelamatkan suatu wilayah dari kejahatan para raksasa.

Saat kera tersebut melihat bayangan wajahnya di permukaan telaga, dia menganggap itu adalah wujud raksasa karena dia belum menyadari wajahnya sendiri. Kera tersebut segera menceburkan diri ke air untuk membunuh “musuhnya”. Akan tetapi ternyata dia berubah wujudnya menjadi kera betina.

Sang kera kemudian mohon kepada Indra mohon karunia dan lahirlah Subali. Dia juga melihat Sang Surya dan memohon karunia sehingga lahirlah Sugriva. Setelah melahirkan, dia kembali berubah wujud menjadi Ruksharaja dan membawa putra-putranya kepada Brahma. Brahma berkata kepada Subali dan Sugriva agar menetap di Kishkinda. Akan datang saatnya kalian menemui Sang Pemelihara Alam yang mewujud sebagai putra Raja Dasaratha. Dengarkan Dia berbicara dan kalian akan terberkati!”

Pada suatu hari Raksasa Mayavi menantang bertarung untuk membalaskan dendam kematian adiknya oleh Subali. Setelah bertarung beberapa lama Mayavi lari masuk ke dalam gua dan Subali serta Sugriwa mengejarnya.  Subali berkata agar Sugriwa menjaga di luar gua, agar Mayavi tidak bias melarikan diri dan bila sudah 2 minggu dia tidak keluar agar gua ditutup batu besar, mungkin dia sudah terbunuh oleh Mayavi.

PERKELAHIAN SUGRIWA DAN SUBALI

Sugriwa menunggu sampai 30 hari dan membaui darah anyir yang menyengat, menganggap kakaknya mati dia menutup gua dengan batu besar dan kembali ke Kiskindha. Para petinggi kera minta dia menjadi raja kera menggantikan Subali dan akhirnya dia menerimanya.

Ternyata Subali tidak mati dan menganggap Sugriwa berkhianat. Subali tidak mau mendengarkan alasan Sugriwa. Terjadilah pertarungan dan Sugriwa kalah dan melarikan diri. Para kera yang tidak mau di bawah perintahnya ikut diusir, sedangkan istri Sugriwa tidak boleh pergi dan dipaksa menjadi istrinya.

Sugriwa melihat kemampuan Rama dan ingat pesan Brahma untuk mendengarkan Rama. “Paduka Rama, tadinya hamba begitu membenci Subali, akan tetapi justru karena hamba tinggal di puncak gunung hamba bisa bertemu dan berbicara dengan Paduka yang merupakan Wujud Ilahi untuk membimbing makhluk dan membinasakan adharma.

Bersujud pada kaki Paduka, hamba merasa bahwa istri dan istana tidak ada artinya dibanding kesempatan melayani Paduka!” Rama tetap meminta Sugriva menegakkan dharma dengan mengajak bertarung dengan Subali.

Sugriwa bertarung dengan Subali dan Sugriwa kalah dengan luka parah sehingga melarikan diri. Sugriwa protes dengan Rama mengapa tidak membantu, seorang avatar pasti bisa membedakan mana Subali dan mana Sugriva, walau mereka kembar. Rama tersenyum dan mengusap luka-luka Sugriwa yang langsung sembuh.

Sekarang pakailah karangan bunga dan mengajak berkelahi lagi. Tadi Aku berbuat demikian agar kau tidak hanya bertarung dan menggantungkan diri sepenuhnya padaKu. Sugriwa patuh pada kata Rama dan kembali bertarung dengan Subali. Rama kemudian memanah Subali dan Subali luka parah terkena panah Rama di dadanya.

PERTANYAAN SUBALI KEPADA RAMA

Subali bertanya, “Wahai Paduka Rama, mengapa paduka memanah hamba tanpa berkata lebih dahulu kepada hamba. Sesuai pesan Brahma, kami tahu bahwa apa yang paduka lakukan adalah kebenaran. Kami hanya mohon petunjuk apakah salah hamba sehingga hamba paduka panah tanpa memberitahu hamba terlebih dahulu, padahal hamba tidak punya permasalahan dengan paduka?”

Rama menjawab, “Sugriwa kau suruh menutup gua setelah lima belas hari dan dia bahkan menutup setelah tiga puluh hari. Sugriwa menjadi raja atas desakan para petinggi kera agar Kishkinda mempunyai pemimpin. Kemudian istri Sugriwa tidak boleh ikut Sugriwa dan kau ambil sebagai istri. Subali engkau adalah seorang kera yang sakti, Rahwana pun takut padamu, akan tetapi kau membiarkan pesawat Rahwana lewat di tempatmu padahal Sinta berteriak minta tolong. Mengapa kau tidak meneladani Jatayu yang mencoba menghentikan penculikan Rahwana sampai mengorbankan nyawa?”

Subali sadar akan kesalahannya. Saat Rama bertanya apakah Subali mau Rama menyembuhkan luka akibat anak panahnya dan mengembalikan hidupnya, serta Subali tidak akan mengalami uzur dan ketuaan. Subali menangis penuh haru. Subali minta Sugriwa memanggil Tara, istrinya dan Anggada, putranya.

Subali minta Sugriwa merawat Tara dan Anggada dan menjadi Raja Kishkinda. Kepada Rama, Subali berkata, “Paduka Rama, kumpulan karma yang telah hamba lakukan telah terselesaikan, untuk apa hamba hidup lebih panjang dengan resiko jatuh kesadaran setiap saat. Untuk apa tidak mengalami uzur dan menjadi raja bila dihadapkan ancaman jatuh ke kesadaran lebih rendah.

Mati di tangan Paduka, seorang avatara akan membuat tugas kami di dunia yang penuh perangkap maya ini selesai. Apakah ada kebahagiaan yang lebih tinggi daripada hal ini. Aku siap mati. Oh Sri Sai Rama, Oh Sri Sai Rama….” Subali menutup mata, hanya ingat dan menyebut nama Sri Rama sampai menghembuskan nafasnya yang terakhir di dunia.

“Hidup dalam rahim ibu selama lebih dari sembilan bulan, hidup dalam kegelapan itu, merupakan pengalaman yang tidak pernah pernah terlupakan oleh manusia. Setelah dilahirkan sampai ajal tiba, hidup manusia sebenarnya merupakan proses pencarian yang panjang. Apa pula yang dicarinya, kalau bukan kegelapan itu? Kenapa demikian? Karena, dalam kegelapan itu, ia pernah merasa begitu aman, begitu nyaman.

Dalam kegelapan itu, ia merasakan kehangatan kasih ibu. Dalam kegelapan dan keheningan itu, ia pernah merasa begitu tenang, begitu tenteram, begitu damai, begitu bahagia. Sepanjang umur, ia mencari kebahagiaan seperti yang pernah dialaminya dulu.

Apabila, sampai saat ini pun ia belum berhasil memperolehnya, itu karena pencarian dia selama ini salah. Ia menerangi kehidupannya dan ingin mendapatkan kebahagiaan lewat cahaya. Ia tidak akan pernah mendapatkan kebahagiaan lewat cahaya. Ia tidak akan pernah bisa mendapatkannya, karena kebahagiaan berasal dari kegelapan. Kegelapan berarti keheningan.

Kegelapan berarti kasunyatan. Kegelapan berarti kesadaran akan jati diri Anda. Selama Anda mencarinya di luar, Anda tidak akan pernah mendapatkannya. Memang cahaya dapat membuat hidup Anda sedikit lebih nyaman, tetapi hanya itu saja. Tidak lebih dari itu. Carilah kebahagiaan dalam kegelapan dan keheningan jiwa Anda sendiri.

Kisah Asal Usul Sugriwa dan Subali, dalam Sejarah Ramayana

Kuwaluhan.com

Pada Zaman dahulu Brahma menciptakan wujud kera yang perkasa agar beranak-pinak di dunia. Kera tersebut dinamai Ruksharaja karena mempunyai kekuatan luar biasa akan tetapi belum seimbang antara pikiran dan tindakannya. Kera tersebut diminta bertapa di sebuah telaga dan diminta membunuh raksasa dan menyelamatkan suatu wilayah dari kejahatan para raksasa.

Saat kera tersebut melihat bayangan wajahnya di permukaan telaga, dia menganggap itu adalah wujud raksasa karena dia belum menyadari wajahnya sendiri. Kera tersebut segera menceburkan diri ke air untuk membunuh “musuhnya”. Akan tetapi ternyata dia berubah wujudnya menjadi kera betina.

Sang kera kemudian mohon kepada Indra mohon karunia dan lahirlah Subali. Dia juga melihat Sang Surya dan memohon karunia sehingga lahirlah Sugriva. Setelah melahirkan, dia kembali berubah wujud menjadi Ruksharaja dan membawa putra-putranya kepada Brahma. Brahma berkata kepada Subali dan Sugriva agar menetap di Kishkinda. Akan datang saatnya kalian menemui Sang Pemelihara Alam yang mewujud sebagai putra Raja Dasaratha. Dengarkan Dia berbicara dan kalian akan terberkati!”

Pada suatu hari Raksasa Mayavi menantang bertarung untuk membalaskan dendam kematian adiknya oleh Subali. Setelah bertarung beberapa lama Mayavi lari masuk ke dalam gua dan Subali serta Sugriwa mengejarnya.  Subali berkata agar Sugriwa menjaga di luar gua, agar Mayavi tidak bias melarikan diri dan bila sudah 2 minggu dia tidak keluar agar gua ditutup batu besar, mungkin dia sudah terbunuh oleh Mayavi.

PERKELAHIAN SUGRIWA DAN SUBALI

Sugriwa menunggu sampai 30 hari dan membaui darah anyir yang menyengat, menganggap kakaknya mati dia menutup gua dengan batu besar dan kembali ke Kiskindha. Para petinggi kera minta dia menjadi raja kera menggantikan Subali dan akhirnya dia menerimanya.

Ternyata Subali tidak mati dan menganggap Sugriwa berkhianat. Subali tidak mau mendengarkan alasan Sugriwa. Terjadilah pertarungan dan Sugriwa kalah dan melarikan diri. Para kera yang tidak mau di bawah perintahnya ikut diusir, sedangkan istri Sugriwa tidak boleh pergi dan dipaksa menjadi istrinya.

Sugriwa melihat kemampuan Rama dan ingat pesan Brahma untuk mendengarkan Rama. “Paduka Rama, tadinya hamba begitu membenci Subali, akan tetapi justru karena hamba tinggal di puncak gunung hamba bisa bertemu dan berbicara dengan Paduka yang merupakan Wujud Ilahi untuk membimbing makhluk dan membinasakan adharma.

Bersujud pada kaki Paduka, hamba merasa bahwa istri dan istana tidak ada artinya dibanding kesempatan melayani Paduka!” Rama tetap meminta Sugriva menegakkan dharma dengan mengajak bertarung dengan Subali.

Sugriwa bertarung dengan Subali dan Sugriwa kalah dengan luka parah sehingga melarikan diri. Sugriwa protes dengan Rama mengapa tidak membantu, seorang avatar pasti bisa membedakan mana Subali dan mana Sugriva, walau mereka kembar. Rama tersenyum dan mengusap luka-luka Sugriwa yang langsung sembuh.

Sekarang pakailah karangan bunga dan mengajak berkelahi lagi. Tadi Aku berbuat demikian agar kau tidak hanya bertarung dan menggantungkan diri sepenuhnya padaKu. Sugriwa patuh pada kata Rama dan kembali bertarung dengan Subali. Rama kemudian memanah Subali dan Subali luka parah terkena panah Rama di dadanya.

PERTANYAAN SUBALI KEPADA RAMA

Subali bertanya, “Wahai Paduka Rama, mengapa paduka memanah hamba tanpa berkata lebih dahulu kepada hamba. Sesuai pesan Brahma, kami tahu bahwa apa yang paduka lakukan adalah kebenaran. Kami hanya mohon petunjuk apakah salah hamba sehingga hamba paduka panah tanpa memberitahu hamba terlebih dahulu, padahal hamba tidak punya permasalahan dengan paduka?”

Rama menjawab, “Sugriwa kau suruh menutup gua setelah lima belas hari dan dia bahkan menutup setelah tiga puluh hari. Sugriwa menjadi raja atas desakan para petinggi kera agar Kishkinda mempunyai pemimpin. Kemudian istri Sugriwa tidak boleh ikut Sugriwa dan kau ambil sebagai istri. Subali engkau adalah seorang kera yang sakti, Rahwana pun takut padamu, akan tetapi kau membiarkan pesawat Rahwana lewat di tempatmu padahal Sinta berteriak minta tolong. Mengapa kau tidak meneladani Jatayu yang mencoba menghentikan penculikan Rahwana sampai mengorbankan nyawa?”

Subali sadar akan kesalahannya. Saat Rama bertanya apakah Subali mau Rama menyembuhkan luka akibat anak panahnya dan mengembalikan hidupnya, serta Subali tidak akan mengalami uzur dan ketuaan. Subali menangis penuh haru. Subali minta Sugriwa memanggil Tara, istrinya dan Anggada, putranya.

Subali minta Sugriwa merawat Tara dan Anggada dan menjadi Raja Kishkinda. Kepada Rama, Subali berkata, “Paduka Rama, kumpulan karma yang telah hamba lakukan telah terselesaikan, untuk apa hamba hidup lebih panjang dengan resiko jatuh kesadaran setiap saat. Untuk apa tidak mengalami uzur dan menjadi raja bila dihadapkan ancaman jatuh ke kesadaran lebih rendah.

Mati di tangan Paduka, seorang avatara akan membuat tugas kami di dunia yang penuh perangkap maya ini selesai. Apakah ada kebahagiaan yang lebih tinggi daripada hal ini. Aku siap mati. Oh Sri Sai Rama, Oh Sri Sai Rama….” Subali menutup mata, hanya ingat dan menyebut nama Sri Rama sampai menghembuskan nafasnya yang terakhir di dunia.

“Hidup dalam rahim ibu selama lebih dari sembilan bulan, hidup dalam kegelapan itu, merupakan pengalaman yang tidak pernah pernah terlupakan oleh manusia. Setelah dilahirkan sampai ajal tiba, hidup manusia sebenarnya merupakan proses pencarian yang panjang. Apa pula yang dicarinya, kalau bukan kegelapan itu? Kenapa demikian? Karena, dalam kegelapan itu, ia pernah merasa begitu aman, begitu nyaman.

Dalam kegelapan itu, ia merasakan kehangatan kasih ibu. Dalam kegelapan dan keheningan itu, ia pernah merasa begitu tenang, begitu tenteram, begitu damai, begitu bahagia. Sepanjang umur, ia mencari kebahagiaan seperti yang pernah dialaminya dulu.

Apabila, sampai saat ini pun ia belum berhasil memperolehnya, itu karena pencarian dia selama ini salah. Ia menerangi kehidupannya dan ingin mendapatkan kebahagiaan lewat cahaya. Ia tidak akan pernah mendapatkan kebahagiaan lewat cahaya. Ia tidak akan pernah bisa mendapatkannya, karena kebahagiaan berasal dari kegelapan. Kegelapan berarti keheningan.

Kegelapan berarti kasunyatan. Kegelapan berarti kesadaran akan jati diri Anda. Selama Anda mencarinya di luar, Anda tidak akan pernah mendapatkannya. Memang cahaya dapat membuat hidup Anda sedikit lebih nyaman, tetapi hanya itu saja. Tidak lebih dari itu. Carilah kebahagiaan dalam kegelapan dan keheningan jiwa Anda sendiri.

1 comment:

Berkomentarlah Dengan baik dan sopan agar tidak terjadi hal-hal yang membuat orang lain gagal paham