Social Items

Tampilkan postingan dengan label 3 Dewa Tertinggi Hindu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 3 Dewa Tertinggi Hindu. Tampilkan semua postingan
Batara Cakra adalah dewa yang menguasai hampir seluruh seluk-beluk dan pengetahuan di Tribuana, yaitu Jagat Mayapada (dunia kedewatan), Jagat Madyapada (dunia makhluk halus) dan Jagat Arcapada (dunia fana/ dunia manusia di Bumi.

Cakra berarti sebuah bentuk lingkaran, sebuah kesinambungan, keserasian. Batara Cakra adalah seorang bangsa Dewa yang selalu memperhatikan keserasian, kesetimbangan, dan kesinambungan kehidupan di dunia wayang.

ASAL USUL BATARA CAKRA

Batara Cakra merupakan putra sulung dari Sang Hyang Manikmaya dengan permaisuri kedua Umarakti/Umaranti. Batara Cakra mempunyai dua orang adik kandung bernama Sang Hyang Mahadewa dan Sang Hyang Asmara. Batara Cakra juga mempunyai enam saudara seayah lain ibu, putra Dewi Umayi, masing-masing bernama, Sang Hyang Sambo, Sang Hyang Brahma, Sang Hyang Indra, Sang Hyang Bayu, Sang Hyang Wisnu, dan Sang Hyang Kala.

Cakra juga merupakaan seorang cendikiawan yang teliti dan memupunyai sifat untuk menjadi dewa, karena pengetahuan dan sifat-sifatnya itu Batara Cakra diberi tugas sebagai pujangga kahyangan, dan juga ditetapkan sebagai pendamping pribadi Sanghyang Manikmaya (ayahnya), sedangkan batara Ganesya atau batara Gana sama-sama mempunyai tugas membina kesustraan dan ilmu pengetahuan. Batara Gana sebagai lambang dewa pengetahuan dan pendidikan. Hyang Cakradewa sebagai lambang dewa sastra dan budaya.

Oleh Sang Hyang Manikmaya, Batara Cakra dipercaya memberikan anugerah dewa berupa pustaka kepada umat di Arcapada, seperti Pustakan Kalimasada kepada Prabu Puntadewa, Raja Amarta dan Kitab Pustaka Jitapsara kepada Begawan Parasara dari pertapaan Retawu.

Batara Cakra juga dipercaya untuk memberikan anugrah Dewa berupa surat antara lain seperti, Kalimasada kepada Prabu Puntadewa dan jitapsara kepada Bagawan parasara. Sang Hyang Cakra pula yang ditugaskan memberi wejangan kepada Brahmana Sutiksna, brahmana suci di Gunung Citrakuta/Kutarunggu mengenai ilmu ketatanegaraan dan doktrin kepemimpinan yang disebut Asthabrata. Oleh Brahmana Sutiksan Asthabrata kemudian diajarkan kepada Ramawijaya. Ajaran Asthabrata itu juga diberikan Begawan Kesawasidi kepada Arjuna.

Dengan tugas-tugas yang dilakukan oleh Batara Cakra sangat paham tentang seluk beluk Tribuwana. Selama hidupnya Batara Cakra tetap mengabdikan diri kepada ayahnya Syanghyang Manikmaya. Batara Cakra juga selalu mencatat segala pembicaraan dan perintah Batara Guru dan disimpan di dalam pembendaharaan kedewataan. Batara Guru adalah tokoh dewa yang merupakan raja dewa-dewa dalam cerita wayang, anak Sanghyang Tunggal dengan Dewi Wirandi.

 Menjadi raja di tiga buana (Mayapada, Madyapada, dan Arcapada) dan tokoh wayang Batara guru digambarkan mempunyai 4 tangan, berwarna biru dan bercaling.

Riwayat Asal Usul Batara Cakra Putra Batara Guru

Batara Guru adalah Dewa yang merajai ketiga dunia, yakni Mayapada (dunia para dewa atau surga), Madyapada (dunia manusia atau bumi), Arcapada (dunia bawah atau neraka). Namanya berasal dari bahasa Sanskrit Bhattara yang berarti "tuan terhormat" dan Guru, epitet dari Bṛhaspati.

Menurut mitologi Jawa, Bathara Guru merupakan Dewa yang merajai ketiga dunia, yakni Mayapada (dunia para dewa atau surga), Madyapada (dunia manusia atau bumi), Arcapada (dunia bawah atau neraka). Ia merupakan perwujudan dari dewa Siwa yang mengatur wahyu, hadiah, dan berbagai ilmu. Batara Guru mempunyai sakti (istri) bernama Dewi Uma dan Dewi Umaranti. Bathara Guru mempunyai beberapa anak.

Wahana (hewan kendaraan) Batara Guru adalah sang lembu Nandini. Ia juga dikenal dengan berbagai nama seperti Sang Hyang Manikmaya, Sang Hyang Caturbuja, Sang Hyang Otipati, Sang Hyang Jagadnata, Nilakanta, Trinetra, dan Girinata.

KELAHIRAN BHATARA GURU

Betara Guru (Manikmaya) diciptakan dari cahaya yang gemerlapan oleh Sang Hyang Tunggal, bersamaan dengan cahaya yang berwarna kehitam-hitaman yang merupakan asal jadinya Ismaya (Semar). Oleh Hyang Tunggal, diputuskanlah bahwa Manikmaya yang berkuasa di Suryalaya, sedangkan Ismaya turun ke bumi untuk mengasuh para Pandawa.

Batara Guru memiliki dua saudara, Sang Hyang Maha Punggung dan Sang Hyang Ismaya. Orang tua mereka adalah Sang Hyang Tunggal dan Dewi Rekatawati. Suatu hari, Dewi Rekatawati menelurkan sebutir telur yang bersinar. Sang Hyang Tunggal mengubah telur tersebut, kulitnya menjadi Sang Hyang Maha Punggung(Togog) yang sulung, putih telur menjadi Sang Hyang Ismaya (Semar), dan kuningnya menjadi Sang Hyang Manikmaya.

Kemudian waktu, Sang Hyang Tunggal menunjuk dua saudaranya yang lebih tua untuk mengawasi umat manusia, terutama Pandawa, sementara Batara Guru (atau Sang Hyang Manikmaya) memimpin para dewa di kahyangan.

Saat diciptakan, ia merasa paling sempurna dan tiada cacatnya. Hyang Tunggal mengetahui perasaan Manikmaya, lalu Hyang Tunggal bersabda bahwa Manikmaya akan memiliki cacad berupa lemah di kaki, belang di leher, bercaling, dan berlengan empat. Batara Guru amat menyesal mendengar perkataan Hyang Tunggal, dan sabda dia betul-betul terjadi.

Suatu ketika Manikmaya merasa sangat dahaga, dan ia menemukan telaga. Saat meminum air telaga itu—yang tidak diketahuinya bahwa air tersebut beracun—lantas dimuntahkannya kembali, maka ia mendapat cacad belang di leher. Diperhatikannya kalau manusia ketika lahir amatlah lemah kakinya. Seketika, kakinya terkena tulah, dan menjadi lemahlah kaki kiri Manikmaya.

Saat ia bertengkar dengan istrinya Dewi Uma, dikutuknya Manikmaya oleh Dewi Uma, agar ia bercaling seperti raksasa, maka bercalinglah Manikmaya. Sewaktu Manikmaya melihat manusia yang sedang sembahyang yang bajunya menutupi tubuhnya, maka tertawalah Manikmaya karena dikiranya orang itu berlengan empat. Maka seketika berlengan empatlah Manikmaya.

Hal ini adalah salah satu upaya de-Hinduisasi wayang dari budaya Jawa yang dilakukan Walisongo dalam upayanya menggunakan wayang sebagai sarana penyebaran Islam di Jawa. Contoh lain adalah penyebutan Drona menjadi Durna (nista), adanya kisah Yudistira harus menyebut kalimat syahadat sebelum masuk surga, dan lain-lain.

KETURUNAN BHATARA GURU

Berikut adalah urutan anak-anak Batara Guru, dimulai dari yang paling sulung (menurut tradisi wayang Jawa):

- Bhatara Cakra
- Batara Sambu
- Batara Brahma
- Batara Indra
- Batara Bayu
- Batara Wisnu
- Batara Ganesha
- Batara Kala
- Hanoman

Kisah Asal Usul Batara Guru (Manikmaya) Dalam Hindu

Dewa Yama adalah satu dari Dewa-dewa Hindu yang mengembara paling jauh ke dunia dibandingkan dengan dewa-dewa lainnya. Yamaraja memiliki tugas untuk mengadili jiwa-jiwa,menentukan apakah jiwa tersebut harus dijatuhi hukuman neraka atau di kirim ke sorga.

Kuwaluhan.com

Dewa Yama menjatuhkan hukuman kepada para roh pendosa berdasarkan dosa-dosa yang telah mereka lakukan semasih hidup di dunia. Karena Yamaraja memiliki kemampuan dalam menentukan jenis hukuman yang dijatuhkan kepada para roh pendosa sesuai dengan aturan-aturan agama, maka Yamaraja juga dikenal dengan nama Dharmaraja. Alhasil, Yamaraja menjadi Dewa yang paling andal dalam hal mengadili para roh.

Meskipun bagi sebagian masyarakat penganut ilmu modern Dewa Yama dianggap sebagai tokoh khayalan belaka, namun berdasarkan catatan-catatan dalam sastra suci dan penyelidikan langsung oleh para orang suci, maka telah terbukti bahwa Dewa Yama memang benar-benar ada

Dalam purana-purana diceritakan bahwa Yamaraja adalah putera Dewa Matahari, Vivasvat. Ia juga memiliki saudara kembar perempuan bernama Yami atau Sungai Yamuna. Keduanya, Yama dan Yami disebutkan sebagai pasangan manusia pertama yang menjadi asal muasal dari ras manusia. Yama adalah orang pertama yang mengalami kematian dan juga yang pertama menuju alam kematian sehingga ia behasil menemukan dunia bawah.

Karena ia adalah orang yang tiba di dunia bawah tersebut, ia pun mendapatkan anugrah kekuatan untuk memimpin keseluruhan wilayah di dunia bawah tersebut dan mendapatkan jubah Dewa Kematian. Dalam menjalani perannya sebagai Dewa Kematian, Dewa yama bekerjasama dengan Sang Penghancur/Pelebur, Dewa Siva.

Dewa Yama menjatuhkan hukuman kepada roh pendosa dengan sangat adil dan bijaksana berdasarkan dosa-dosa yang mereka perbuat dalam kehidupan mereka di Bumi. Hukuman yang diberikan oleh Dewa Yamadapat berupa siksaan-siksaan yang terlihat sangat kejam, misalnya roh-roh pendosa dibakar dalam samudra minyak mendidih, dipukul tanpa henti dengan tulang bergerigi, dan lain-lain.

Yamaraja adalah Raja bagi para pitra dan bertempat tinggal di Pitraloka bersama para prajurit pribadinya, Yamaduta. Ia diberi kekuatan resmi sebagai hakim di bagian selatan (bagian bawah) alam semesta, yaitu di Patala. Lebih tepatnya, ia berdiam di Samyamani, sebelah selatan gunung Sumeru dengan dikelilingi oleh sabuk abadi yang bernama Sungai Vaitarani di depan pintu masuk planet kediamanYamaraja.

GAMBARAN DEWA YAMA


Menurut pengalaman para waskita dan juga merujuk pada catatan-catatan dalam kitab suci Hindu, Dewa Yama pada umunya muncul sebagai sosok yang menakutkan. Bagi para roh pendosa, yamaraja terlihat sebagai sosok hitam dengan tangan dan kaki yang sangat besar, bibir yang bergetar, mata yang cekung sedalam antariksa, dan rambut yang berupa kobaran api.

Namun, bagi para roh yang baik, Yamaraja akan mewujudkan diri sebagai sosok yang tampan menyerupai Wishnu dengan empat lengan dan sepasang mata yang indah. Namun pada umumnya, Yamaraja sering digambarkan sebagai sosok berwarna hijau dan berpakaian merah dengan mengendarai seekor kerbau. Tangannya memegang gada (Yamadunda) dan tali jerat untuk membebaskan roh dari badan wadagnya ketika sedang dalam proses kematian.

Yamaraja memiliki dua ekor anjing rakus, yang mana masing-masing dari anjing tersebut mempunyai empat mata dan lubang hidung yang sangat besar. Kedua anjing tersebut menjaga jalan di sekitar kediaman Dewa yama.

Disebutkan bahwa anjing-anjing Dewa Yama turut berkeliaran di antara manusia sebagai pembawa pesan kematian dengan mengirimkan seekor burung yang menandakan bahwa Dewa Yama akan segera datang.

KEDIAMAN DEWA YAMA


Dewa Yama tinggal di dunia bawah, di kota Yamapura. Di kerajaan yang bernama Kalichi, ia tinggal bersama beberapa istrinya, yaitu Hemamala, Sushila dan Vijaya, dan beliau sendiri duduk diatas takhta pengadilan bernama Vicharabhu.

Dalam menjalankan tugasnya, Dewa Yama dibantu oleh penasehat dan tukang catat semua perbuatan manusia di bumi,Chitragupta. Ia juga didampingi oleh seorang ketua pelayan (Canda atau Mahacanda) dan seorang penjaga (Kalapurusha). Selain itu, ada pula Yavana sebagai pelayan Yamaraja dan para Yamaduta sebagai prajurit dan pembawa pesan.

PENGADILAN DI KEDIAMAN DEWA YAMA


Yamaraja dan para Yamaduta mengambil roh seseorang menuju ke tempat pengadilan.Setiba di kediaman Yamaraja, pintu pengadilan pun ditutup dan dijaga oleh seorang penjaga pintu bernama Vaidhyata. Lalu, Chitragupta, sang pencatat atau perekam semua perbuatan sang roh mulai membacakan catatannya dari buku besar bernama Agrasandhani.

Kemudian Yamaraja menentukan apakah roh tersebut akan dikirim ke tempat kediaman para pitri (pitriloka) atau ke salah satu dari ribuan planet neraka berdasarkan dosa yang diperbuatnya, atau juga akan dilahirkan kembali ke dunia dalam bentuk tubuh yang lain.

Yogi Sampurna memuji keagungan Yamaraja sebagai Dewa Kematian yang menjalankan tugasnya dengan dharma. Yamaraja memimpin dunia bawah bersama para prajurit dan pembantunya menjatuhi hukuman kepada para roh pendosa dengan seadil-adilnya, yang tujuannya adalah menyucikan roh-roh tersebut sehingga mereka dapat kembali ke jalan Tuhan.

Meskipun Yamaraja terkenal sebagai sosok yang menjadi terror bagi hampir semua orang yang takut menghadapi kematian, namun ternyata Dewa Kematian ini adalah juga Bhakta agung dari Tuhan, yaitu sebagi Mahajana dan Vaisnava. Dewa Yama yang gagah perkasa dan ditakuti ini tidak akan mampu berbuat apa-apa dihadapan para penyembah Tuhan, atau mereka yang teguh menginginkan pengetahuan tentang kesadaran atma dan wanita yang setia kepada suaminya.

Yamaraja melarang para prajuritnya mendekati dan ataupun menyentuh para Bhakta Tuhan yang walaupun karena suatu kesalahan atau dikaburkan oleh kebingungan dan ilusi pada suatu kesempatan melakukan perbuatan berdosa. Para Bhakta ini terlindungi dari reaksi dosa karena mereka selalu mengula-ulang nama suci Tuhan atau senantisa merenungkan-Nya.

Kisah Asal Usul Dewa Yama, dalam Ajaran Hindu

Dalam ajaran agama Hindu,dewa Indra adalah dewa cuaca dan raja kahyangan. Oleh orang-orang bijaksana, ia diberi gelar dewa petir, dewa hujan, dewa perang, raja surga, pemimpin para dewa, dan banyak lagi sebutan untuknya sesuai dengan karakter yang dimilikinya. Menurut mitologi Hindu, Dia adalah dewa yang memimpin delapan Wasu, yaitu delapan dewa yang menguasai aspek-aspek alam.

Kuwaluhan.com

Dewa Indra terkenal di kalangan umat Hindudan sering disebut dalam susastra Hindu, seperti kitab-kitab Purana (mitologi) dan Itihasa (wiracarita). Dalam kitab-kitab tersebut posisinya lebih menonjol sebagai raja kahyangan dan memimpin para dewamenghadapi kaum raksasa.

Indra juga disebut dewa perang, karena Dia dikenal sebagai dewa yang menaklukkan tiga benteng musuhnya (Tripuramtaka). Ia memiliki senjata yang disebut Bajra, yang diciptakan oleh Wiswakarma, dengan bahan tulang ResiDadici. Kendaraan Dia adalah seekor gajahputih yang bernama Airawata. Istri Dia DewiSaci.

Dewa Indra muncul dalam kitab Mahabarata. Ia menjemput Yudistira bersama seekor anjing, yang mencapai puncak gunung Mahameru untuk mencari Swargaloka.

Kadangkala peran dewa Indra disamakan dengan Zeus dalam mitologi Yunani, dewa petir sekaligus raja para dewa. Dalam agama Buddha, dia disamakan dengan Sakra.

KELAHIRAN DEWA INDRA

Tepat setahun setelah perkawinan Batara Guru dengan Batari Uma lahirlah seorang putra yang diiringi dengan gempa bumi melanda banyak tempat. Putra pertama itu diberi nama Batara Sambu, yang kemudian dimandikan dengan air keabadian Tirtamarta Kamandanu sehingga langsung tumbuh menjadi dewasa seketika.

Dua tahun kemudian Batari Uma melahirkan lagi seorang putra yang diiringi dengan letusan gunung berapi di banyak tempat. Putra kedua itu diberi nama Batara Brahma, yang kemudian dimandikan dengan Tirtamarta Kamandanu sehingga langsung berubah dewasa.

Dua tahun berikutnya Batari Uma melahirkan seorang putra yang diiringi dengan hujan petir dan banjir besar melanda di banyak tempat. Putra ketiga itu diberi nama Batara Indra, yang kemudian dimandikan dengan Tirtamarta Kamandanu pula sehingga langsung berubah dewasa seketika.

Dua tahun setelah itu, Batari Uma kembali melahirkan seorang putra yang diiringi dengan angin topan dan badai melanda di banyak tempat. Putra keempat itu diberi nama Batara Bayu, yang kemudian dimandikan dengan Tirtamarta Kamandanu sehingga langsung berubah menjadi dewasa seketika.

NAMA LAIN DÉWA INDRA

Dewa Indra memiliki nama lain sesuai dengan karakter dan mitologi yang terkait dengannya. Nama lain tersebut juga mengandung suatu pujian. Nama lain Dewa Indra yakni:


  • Sakra (yang berkuasa)
  • Swargapati (raja surga)
  • Diwapati (raja para Dewa)
  • Meghawahana (yang mengendarai awan)
  • Wasawa (pemimpin para Wasu).


DALAM WEDA

Indra adalah dewa pemimpin dalam Regweda(disamping Agni). Ia senang meminum Soma, dan mitos yang penting dalam Weda adalah kisah kepahlawanannya dalam menaklukkan Wretra, membebaskan sungai-sungai, dan menghancurkan Bala, sebuah pagar batu di mana Panis memenjarakan sapi-sapi dan Usas (dewa fajar). Ia adalah dewa perang, yang telah menghancurkan benteng milik Dasyu, dan dipuja oleh kedua belah pihak dalam Pertempuran Sepuluh Raja.

Regweda sering menyebutnya Śakra: yang perkasa. Saat zaman Weda, para dewa dianggap berjumlah 33 dan Indra adalah pemimpinnya (secara ringkas Brihadaranyaka Upanishad menjabarkan bahwa para dewa terdiri dari delapan Wasu, sebelas Rudra, dua belas Aditya, Indra, dan Prajapati). Sebagai pemimpin para Wasu, Indra juga dijuluki Wasawa.

Pada zaman Wedanta, Indra menjadi patokan untuk segala hal yang bersifat penguasa sehingga seorang raja bisa disebut "Manawèndra" (Manawa Indra, pemimpin manusia) dan Rama, tokoh utama wiracaritaRamayana, disebut "Raghawèndra" (Raghawa Indra, Indra dari klan Raghu). Dengan demikian Indra yang asli juga disebut Déwèndra (Dewa Indra, pemimpin para dewa).

DALAM PURANA

Dalam kitab Purana, Indra adalah pemimpin para dewa, putra Aditi dan Kasyapa. Kekuasaannya digulingkan oleh Bali, cucu Hiranyakasipu, raksasa yang dibunuh Dewa Wisnu. Atas permohonan Aditi, Wisnu menjelma sebagai anak Aditi yang disebut Wamana, yang disebut pula Upendra (secara harfiah berarti adik Indra). Upendra menghukum Bali untuk mengembalikan kekuasaan Indra. Karena kemurahan hati Dewa Wisnu, Bali diberi anugerah bahwa ia berhak menjabat sebagai Indra pada Manwantara berikutnya.

Dalam kitab Bhagawatapurana (dan Puranalainnya), Indra beserta para putra Aditi (para dewa) berseteru dengan para putra Diti (detyaatau raksasa). Sukra, guru para raksasa memiliki ilmu yang mampu menghidupkan orang mati sehingga setiap prajurit raksasa yang gugur dapat dihidupkan kembali, sementara laskar para dewa tidak dapat hidup lagi.

Para dewa kecewa dengan keadaan tersebut, sehingga mereka memohon petunjuk Dewa Wisnu. Atas petunjuk dia, para dewa bernegosiasi dengan para raksasa untuk mencari minuman keabadian yang disebut amerta di samudra susu. Pada akhirnya, minuman tersebut jatuh ke tangan para raksasa. Atas bantuan awatara(penjelmaan) Wisnu yang bernama Mohini, para dewa berhasil merebut tirta tersebut dan mendapatkan keabadian.

Dalam kitab Markandeyapurana disebutkan bahwa setiap manwantara (satuan waktu) akan dipimpin oleh seorang Indra. Jadi jabatan Indra berganti seiring bergantinya manwantara. Manwantara sekarang adalah manwantara ketujuh, yang terdiri dari 71 mahayuga. Indra yang menjabat sekarang disebut Purandara, dan pada manwantara berikutnya akan digantikan oleh Bali alias Mahabali.

Dalam kitab Brahmawaiwartapurana, setelah mengalahkan Wretra, Indra menjadi angkuh dan meminta Wiswakarma, arsitek para dewa untuk membangun suatu kediaman megah untuknya. Indra kurang puas dengan pekerjaan Wiswakarma sehingga Indra tidak mengizinkannya pergi sebelum ia mampu menyelesaikan pekerjaannya.

Wiswakarma memohon bantuan Dewa Brahma agar ia terbebas dari jerat Indra. Brahma pun meminta bantuan Wisnu, sehingga Wisnu menemui Indra dalam wujud seorang brahmana kecil. Indra menyambutnya tanpa mengetahui bahwa brahmana itu adalah penjelmaan Wisnu.

Wisnu memuji kemegahan istana Indra yang dibangun oleh Wiswakarma, dan berkata bahwa Indra sebelumnya tidak memiliki kediaman semegah itu. Karena tidak memahami maksudnya, Indra pun bertanya tentang Indra sebelumnya. Wisnu menjelaskan bahwa dalam setiap alam semesta, ada satu Indra yang berkuasa dengan umur 70 yuga sehingga jumlah Indra tak terhitung, bagai partikel dalam debu.

Kemudian tampak serombongan semut lewat dan Wisnu berkata bahwa mereka adalah reinkarnasi Indra pada masa lampau. Indra yang sekarang pun sadar bahwa kemewahan yang dimilikinya tidak berarti sehingga ia membiarkan Wiswakarma pergi.

Kisah Asal Usul Dewa Indra, dalam Ajaran Hindu

Dewa Bayu dalam agama Hindu adalah Dewa utama, bergelar sebagai Dewa angin. Udara (Vāyu) atau angin(Pāvana) merupakan salah satu unsur dalam Panca Maha Bhuta, lima elemen dasar dalam ajaran agama Hindu.


Bayu sering disejajarkan dengan dengan Akasha, dewa aether; Jala, dewa air; Agni, dewa api; dan Prithvi, dewa bumi.
Bayu juga kadang disebut sebagai Prana atau Pavana yang berarti Sang Pemurni.

Bayu biasanya digambarkan sebagai seorang pria tampan dengan kulit sedikit ungu. Dia memiliki kereta menakjubkan yang ditarik oleh seribu kuda ungu dan putih.

Bayu biasanya mengenakan perhiasan indah dan sering digambarkan memiliki empat lengan, dengan dua lengan memegang bendera kecil. Ketika tidak sedang dibawa dalam kereta, Bayu akan mengendarai seekor kijang.

Bayu dikisahkan sebagai dewa yang menggelora dan sering menampakkan kemarahan yang tidak bisa ditahan.

Salah satu mitos mengisahkan Bayu yang memutuskan meniup puncak gunung mitos Meru. Dia meniup dan meniup, tapi dewa burung Garuda mempertahankannya.
Saat Garuda beristirahat, Bayu yang dikuasai kemarahan meniup puncak gunung Meru, menerbangkannya, untuk kemudian mendarat dan membentuk pulau Sri Lanka.

Bayu juga dikenal memiliki banyak pasangan. Salah satu anaknya yang paling terkenal adalah dewa kera, Hanuman. Bayu juga menjadi bapak Bima, salah satu anggota Pandawa dalam kisah Mahabharata.

Bayu adalah dewa angin yang memiliki makna lebih dari sekedar angin yang bertiup kencang.
Dia juga dipandang sebagai dewa nafas kehidupan. Salah satu cerita yang paling terkenal mengilustrasikan pentingnya nafas bagi setiap sesuatu yang hidup.

Terdapat sebuah cerita bahwa semua dewa yang memberikan sebagian kekuasaannya kepada manusia berkumpul pada suatu hari.

Masing-masing dewa mengklaim lebih kuat dibanding yang lain. Untuk menentukan siapa sebenarnya yang paling kuat, mereka setuju untuk berkompetisi.

Dewa yang bertanggung jawab atas kemampuan manusia untuk mendengar akan mencabut pemberiannya sehingga membuat manusia menjadi tuli. Meskipun tuli, namun manusia masih tetap bisa hidup.

Satu demi satu para dewa bergiliran mencabut pemberiannya kepada manusia, hingga akhirnya datang giliran Bayu.

Saat Bayu mencabut pemberiannya, manusia mulai tercekik kemudian kehilangan kemampuan berpikir, melihat, mendengar, dan akhirnya mati.

Akhirnya para dewa mengakui kekuasaan Bayu dan setuju bahwa napas kehidupan adalah yang terpenting di antara semua pemberian dewa.

Kisah Asal Usul Dewa Bayu, Dalam Agama Hindu

Ada banyak dewa dalam ajaran Hindu. Masing-masing dewa memiliki tugasnya sendiri. Di antara sekian banyak dewa tersebut, ada istilah trimurti.


Trimurti merupakan istilah untuk menyebutkan 3 dewa tertinggi agama Hindu yang memegang kuasa penuh terhadap tugas-tugas berat. Ketiga dewa tertinggi agama Hindu tersebut adalah Dewa Brahma, Dewa Wisnu, dan Dewa Siwa.

1. Dewa Brahma



Dalam agama Hindu, Dewa Brahma dianggap sebagai manifestasi tuhan dalam hal penciptaan semesta. Dewa Brahma digambarkan memiliki empat wajah (catur mukha), memiliki wahana berupa angsa, bersenjatakan gada, dan memiliki sakti Dewi Saraswati.

Keempat wajah Brahma menghadap 4 penjuru mata angin. Dewa ini dilukiskan sebagai sesosok pria tua berjanggut putih yang mempunyai empat buah tangan. Masing-masing tangan salah satu dewa tertinggi agama Hindu ini memegang alat-alat antara lain:

Aksamala atau tasbih yang menyimbol kekekalan yang tiada awal dan tiada akhir.Sruk dan Surva (sendok besar dan sendok biasa) yang menyimbolkan upacara yadnya.Kamandalu atau kendi sebagai simbol keabadian.Pustaka atau buku yang menyimbolkan ilmu pengetahuan.

2. Dewa Wisnu


Dewa tertinggi dalam agama Hindu selanjutnya adalah Dewa Wisnu. Dewa Wisnu dianggap sebagai dewa pemelihara semesta dan segala ciptaan Dewa Brahma.


Dewa Wisnu akan turun ke dunia bila kejahatan merajarela. Dewa Wisnu adalah dewa berkulit hitam-kebiruan, mempunyai sakti Dewi Sri, beraksara Ung, bersenjatakan Cakra dan berwahanakan Burung Garuda.

3. Dewa Siwa


Dewa tertinggi agama Hindu yang terakhir adalah Dewa Siwa. Dewa siwa dianggap sebagai dewa pelebur yang akan menghancurkan semua ciptaan brahma yang sudah usang jika waktunya sudah tiba.


Dewa Siwa diwujudkan sebagai seorang dewa bermata tiga (trinetra), menggunakan ikat pinggang kulit haimau, hiasan leher berupa ular kobra, dan berwahanakan lembu Nandini. Dewa Siwa memiliki sakti Dewi Durga, bersenjatakan trisula, dan memiliki 4 buah tangan yang masing-masing memegang tri wahyudi, kendi, cemara, dan tasbih.

Dewa Hindu Lainnya

Selain ketiga dewa tertinggi yang termasuk dalam trimurti, agama Hindu juga meyakini eksistensi beberapa dewa lainnya. Dewa-dewa dalam kepercayaan agama Hindu tersebut antara lain Dewa Chandra (Dewa bulan), Ganesha (Dewa pengetahuan dan kebijaksanaan), Indra (Dewa hujan, Dewa perang), Kuwera (Dewa kekayaan), Laksmi (Dewi kemakmuran, Dewi kesuburan), Maruta (Dewa petir), Saraswati (Dewi pengetahuan), Sri (Dewi pangan), Surya (Dewa matahari), Waruna (Dewa air, laut, dan samudra), Bayu (Dewa angin), Yama (Dewa maut, Dewa akhirat, hakim yang mengadili roh orang mati), dan Kartikeya (Dewa Pembunuh Iblis).


Sumber : kisahasalusul.blogspot.com

3 Dewa Tertinggi dan Terkuat dalam Ajaran Hindu

Loading...