BANDUNG - Warga Jawa Barat yang positif COVID-19 menyentuh angka 263 orang atau 10,55 persen dari angka nasional yang menginjak 2.491 orang. Data itu ditampilkan Pusat Informasi dan Koordinasi COVID-19 Jawa Barat (Pikobar) pada Selasa (7/4/2020) pukul 08.13 WIB.

Dari data yang ada tercatat ada 13 orang yang terpapar virus Corona di Jabar dinyatakan sembuh, sementara 29 orang lainnya meninggal dunia. Dari laman yang sama, pasien dalam pengawasan (PDP) di Jabar mencapai 1.670 orang, 1.174 lainnya masih menjalani pengawasan dan 496 lainnya selesai diawasi.

Jumlah orang dalam pemantauan (ODP) di Jabar terus bertambah, kini mencapai total 28.706 orang, dengan rincian 23.183 orang yang masih menjalani proses pemantauan mayoritas merupakan pemudik yang berasal dari wilayah episentrum COVID-19 seperti Jakarta atau kota lainnya. 5.523 lainnya telah selesai menjalani proses pemantauan.

Sebelumnya, Gubernur Jawa Barat (Jabar) Ridwan Kamil mengatakan, Pemerintah Daerah (Pemda) Provinsi Jabar akan mengajukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) kepada pemerintah pusat berdasarkan data sebagai argumentasinya.

"Jabar akan ambil keputusan berdasarkan data, termasuk PSBB itu akan kita exercise berdasarkan data yang kita terima (dari daerah)," ucap Ridwan Kamil usai rapat koordinasi Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan COVID-19 Jawa Barat, di Gedung Pakuan, Kota Bandung.

"Kalau datanya tidak lengkap, kita susah melengkapi argumentasi PSBB kepada pemerintah pusat," ujarnya.

Pria yang akrab disapa Kang Emil menambahkan, pihaknya kini masih menunggu laporan hasil tes masif COVID-19 lewat rapid diagnostic test (RDT) guna melihat peta sebaran dan pola-pola baru yang ada.

Hasil tersebut kemudian akan dijadikan dasar pengambilan keputusan terkait PSBB di Jabar. Untuk itu, Emil telah mengimbau agar kepala daerah agar segera melaporkan hasil tes masif di masing-masing kabupaten/kota.

"Saya imbau kepala daerah untuk mengecek ke Dinkes (Dinas Kesehatan) masing-masing, melaporkan (ke Pemda Provinsi Jabar) secepatnya. Semakin cepat data itu masuk, semakin mudah kita memetakan (COVID-19)," ujar Kang Emil.

Corona di Jabar 7 April: 263 Positif Dan 29 Meninggal

BANDUNG - Warga Jawa Barat yang positif COVID-19 menyentuh angka 263 orang atau 10,55 persen dari angka nasional yang menginjak 2.491 orang. Data itu ditampilkan Pusat Informasi dan Koordinasi COVID-19 Jawa Barat (Pikobar) pada Selasa (7/4/2020) pukul 08.13 WIB.

Dari data yang ada tercatat ada 13 orang yang terpapar virus Corona di Jabar dinyatakan sembuh, sementara 29 orang lainnya meninggal dunia. Dari laman yang sama, pasien dalam pengawasan (PDP) di Jabar mencapai 1.670 orang, 1.174 lainnya masih menjalani pengawasan dan 496 lainnya selesai diawasi.

Jumlah orang dalam pemantauan (ODP) di Jabar terus bertambah, kini mencapai total 28.706 orang, dengan rincian 23.183 orang yang masih menjalani proses pemantauan mayoritas merupakan pemudik yang berasal dari wilayah episentrum COVID-19 seperti Jakarta atau kota lainnya. 5.523 lainnya telah selesai menjalani proses pemantauan.

Sebelumnya, Gubernur Jawa Barat (Jabar) Ridwan Kamil mengatakan, Pemerintah Daerah (Pemda) Provinsi Jabar akan mengajukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) kepada pemerintah pusat berdasarkan data sebagai argumentasinya.

"Jabar akan ambil keputusan berdasarkan data, termasuk PSBB itu akan kita exercise berdasarkan data yang kita terima (dari daerah)," ucap Ridwan Kamil usai rapat koordinasi Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan COVID-19 Jawa Barat, di Gedung Pakuan, Kota Bandung.

"Kalau datanya tidak lengkap, kita susah melengkapi argumentasi PSBB kepada pemerintah pusat," ujarnya.

Pria yang akrab disapa Kang Emil menambahkan, pihaknya kini masih menunggu laporan hasil tes masif COVID-19 lewat rapid diagnostic test (RDT) guna melihat peta sebaran dan pola-pola baru yang ada.

Hasil tersebut kemudian akan dijadikan dasar pengambilan keputusan terkait PSBB di Jabar. Untuk itu, Emil telah mengimbau agar kepala daerah agar segera melaporkan hasil tes masif di masing-masing kabupaten/kota.

"Saya imbau kepala daerah untuk mengecek ke Dinkes (Dinas Kesehatan) masing-masing, melaporkan (ke Pemda Provinsi Jabar) secepatnya. Semakin cepat data itu masuk, semakin mudah kita memetakan (COVID-19)," ujar Kang Emil.