Pondok Pesantren Al-Fathaniyah merupakan pesantren yang terletak di Jalan Raya Pandeglang KM. 03 Komplek. Tembong Indah (Tengkele) RT/RW. 002/001 Kelurahan. Tembong Kecamatan. Cipocok Jaya Kota. Serang Provinsi. Banten Kode Pos 42126.

Sejarah pada awal pendiriannya pesantren ini bernama Al-Ikhlas dengan lokasi hanya beberapa meter dari jalan raya, yaitu tepat berseberangan dengan penziarahan Tengkele (Tubagus Ahmad dan Tubagus Chuluq). didirikan pada tahun 1972 oleh seorang ulama kharismatik bernama KH. Fathoni Bin Sa'id, membuat pesantren ini termasuk kategori relatif muda. Pada perkembangan selanjutnya dalam kepemimpinan pesantren ini dipegang oleh salah satu murid kesayangan beliau yaitu KH. Syarqowi Bin Rofieq.

Pada periode awal, pesantren ini masih sangat sederhana, terutama dari segi bangunan. Sebagaimana halnya sebuah pesantren salafi, bangunan pada saat itu masih berbentuk kobong/bale rombeng (biasanya disebut Pondok Rombeng). Lokasi pesantern yang terletak tidak jauh dari jalan raya sangat berpengaruh terhadap aktivitas belajar santri, akibat dari suara kendaraan yang mekintas. Sehingga pada akhirnya tahun 1979 lokasi pesantren dipindahkan ke arah barat, sekitar 150 M dari jalan raya (lokasi sekarang). Sejak dipindahkan sesuai dengan perkembangan zaman, bentuk bangunan mulai dipermanenkan.

Meskipun bentuk bangunan lama masih dipertahankan, hal ini dilakukan untuk mengabadikan sejarah dan memantapkan citra pesantren yang notabennya salafiyah, dengan ciri khas “kobong”. Adapun pergantian nama pesantren yang awalnya bernama Al-Ikhlas diganti menjadi Al-Fathaniyah pada saat KH. Syarqowi Bin Rofieq memimpin, hal ini dilakukan dengan beberapa pertimbangan dari beliau, salah satunya adalah mengabadikan nama sang guru (KH. Fathoni Bin Sa'id) pada nama Al-Fathaniyah, sekaligus dijadikan sebagai pendekatan dan tabarukan (mengambil berkah) dari guru beliau.


Dalam perkembangan pesantren selanjutnya dan tuntutan masyarakat, maka pada tahun 1996 Pondok Pesantren Al-Fathaniyah mulai di aktenotariskan menjadi sebuah yayasan. Gagasan ini diambil oleh putra sang kiayi yakni KH. Matin Syarqowi beliau merupakan Pimpinan Yayasan Pondok Pesantren Al-Fathaniyah yang ingin mendirikan pendidikan formal dengan latar belakang adanya para santri yang baru tamat SD tidak bisa melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Sedangkan putra sang kiai selanjutnya yakni KH. Saifun Nawasi beliau merupakan Pengasuh Pondok Pesantren Al-Fathaniyah.


Sehingga pada tanggal 01 Januari 1997 didirikan Pendidikan Formal jenjang Madrasah Tsanawiyah (MTs) Al-Fathaniyah dan selanjutnya pada tahun 2000 didirkan pula jenjang Madrasah Aliyah (MA) Al-Fathaniyah. Seiring dengan perkembangan tersebut, kemudian Pondok Pesantren Al-Fathaniyah dalam sistem pendidikan menganut sistem terintegrasi (integrated edicational system) yang merupakan perpaduan dari sistem Salafiyah (Tradisional) dan sistem modern. Sistem Kegiatan Belajar Mengajar dan/atau Ngaji Sorogan (Talaqi) atau yang dalam bahasa inggrisnya ialah face to face yang artinya saling berhadapan antara santri atau murid dengan seorang guru dan Bandungan/Balagan kitab kuning serta spesifikasi pendalaman baca Al-Qur’an tetap menjadi ke-khas-an untuk memberikan pengetahuan Agama bagi para Santri dan Sistem KBM Kurikulum Formal untuk memberikan pengetahuan umum.


Pondok Pesantren Al-Fathaniyah menganut ideology (Manhaj) Islam Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja), yaitu ajaran Islam yang mendasarkan ajarannya bersumber kepada : Al-Qur’an, Hadits, Ijma’ dan Qiyas. Dalam memahami sumber-sumber tersebut, dalam beraqidah mengikuti pola pikir Imam Abu Hasan Al Asy’ary (Manhaj Tauhid Asy’ariyah) dan Imam Abu Mansur Al Maturidy, dalam bidang Fiqh mengikuti Madzhab Imam Syafi’i (Fiqh Syafi’iyah), serta Afiliasi Kultural Nahdlatul ‘Ulama (NU) sekalipun Pondok Pesantren Al-Fathaniyah tidak terikat secara organisasional dengan NU. Alasan mengapa Pondok Pesantren Al-Fathaniyah menjadikan NU sebagai pilihan dalam berafiliasi cultural, karena NU dipandang mewakili sikap toleransi dan inklusivisme yang sangat sesuai dalam keberagaman Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang merupakan sikap moderat (washat) yang sesuai dengan spirit Islam.

Sumber : https://id.m.wikipedia.org/wiki/Pondok_Pesantren_Al-Fathaniyah

Profil Sejarah Pondok Pesantren Al-Fathaniyah Serang

Pondok Pesantren Al-Fathaniyah merupakan pesantren yang terletak di Jalan Raya Pandeglang KM. 03 Komplek. Tembong Indah (Tengkele) RT/RW. 002/001 Kelurahan. Tembong Kecamatan. Cipocok Jaya Kota. Serang Provinsi. Banten Kode Pos 42126.

Sejarah pada awal pendiriannya pesantren ini bernama Al-Ikhlas dengan lokasi hanya beberapa meter dari jalan raya, yaitu tepat berseberangan dengan penziarahan Tengkele (Tubagus Ahmad dan Tubagus Chuluq). didirikan pada tahun 1972 oleh seorang ulama kharismatik bernama KH. Fathoni Bin Sa'id, membuat pesantren ini termasuk kategori relatif muda. Pada perkembangan selanjutnya dalam kepemimpinan pesantren ini dipegang oleh salah satu murid kesayangan beliau yaitu KH. Syarqowi Bin Rofieq.

Pada periode awal, pesantren ini masih sangat sederhana, terutama dari segi bangunan. Sebagaimana halnya sebuah pesantren salafi, bangunan pada saat itu masih berbentuk kobong/bale rombeng (biasanya disebut Pondok Rombeng). Lokasi pesantern yang terletak tidak jauh dari jalan raya sangat berpengaruh terhadap aktivitas belajar santri, akibat dari suara kendaraan yang mekintas. Sehingga pada akhirnya tahun 1979 lokasi pesantren dipindahkan ke arah barat, sekitar 150 M dari jalan raya (lokasi sekarang). Sejak dipindahkan sesuai dengan perkembangan zaman, bentuk bangunan mulai dipermanenkan.

Meskipun bentuk bangunan lama masih dipertahankan, hal ini dilakukan untuk mengabadikan sejarah dan memantapkan citra pesantren yang notabennya salafiyah, dengan ciri khas “kobong”. Adapun pergantian nama pesantren yang awalnya bernama Al-Ikhlas diganti menjadi Al-Fathaniyah pada saat KH. Syarqowi Bin Rofieq memimpin, hal ini dilakukan dengan beberapa pertimbangan dari beliau, salah satunya adalah mengabadikan nama sang guru (KH. Fathoni Bin Sa'id) pada nama Al-Fathaniyah, sekaligus dijadikan sebagai pendekatan dan tabarukan (mengambil berkah) dari guru beliau.


Dalam perkembangan pesantren selanjutnya dan tuntutan masyarakat, maka pada tahun 1996 Pondok Pesantren Al-Fathaniyah mulai di aktenotariskan menjadi sebuah yayasan. Gagasan ini diambil oleh putra sang kiayi yakni KH. Matin Syarqowi beliau merupakan Pimpinan Yayasan Pondok Pesantren Al-Fathaniyah yang ingin mendirikan pendidikan formal dengan latar belakang adanya para santri yang baru tamat SD tidak bisa melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Sedangkan putra sang kiai selanjutnya yakni KH. Saifun Nawasi beliau merupakan Pengasuh Pondok Pesantren Al-Fathaniyah.


Sehingga pada tanggal 01 Januari 1997 didirikan Pendidikan Formal jenjang Madrasah Tsanawiyah (MTs) Al-Fathaniyah dan selanjutnya pada tahun 2000 didirkan pula jenjang Madrasah Aliyah (MA) Al-Fathaniyah. Seiring dengan perkembangan tersebut, kemudian Pondok Pesantren Al-Fathaniyah dalam sistem pendidikan menganut sistem terintegrasi (integrated edicational system) yang merupakan perpaduan dari sistem Salafiyah (Tradisional) dan sistem modern. Sistem Kegiatan Belajar Mengajar dan/atau Ngaji Sorogan (Talaqi) atau yang dalam bahasa inggrisnya ialah face to face yang artinya saling berhadapan antara santri atau murid dengan seorang guru dan Bandungan/Balagan kitab kuning serta spesifikasi pendalaman baca Al-Qur’an tetap menjadi ke-khas-an untuk memberikan pengetahuan Agama bagi para Santri dan Sistem KBM Kurikulum Formal untuk memberikan pengetahuan umum.


Pondok Pesantren Al-Fathaniyah menganut ideology (Manhaj) Islam Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja), yaitu ajaran Islam yang mendasarkan ajarannya bersumber kepada : Al-Qur’an, Hadits, Ijma’ dan Qiyas. Dalam memahami sumber-sumber tersebut, dalam beraqidah mengikuti pola pikir Imam Abu Hasan Al Asy’ary (Manhaj Tauhid Asy’ariyah) dan Imam Abu Mansur Al Maturidy, dalam bidang Fiqh mengikuti Madzhab Imam Syafi’i (Fiqh Syafi’iyah), serta Afiliasi Kultural Nahdlatul ‘Ulama (NU) sekalipun Pondok Pesantren Al-Fathaniyah tidak terikat secara organisasional dengan NU. Alasan mengapa Pondok Pesantren Al-Fathaniyah menjadikan NU sebagai pilihan dalam berafiliasi cultural, karena NU dipandang mewakili sikap toleransi dan inklusivisme yang sangat sesuai dalam keberagaman Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang merupakan sikap moderat (washat) yang sesuai dengan spirit Islam.

Sumber : https://id.m.wikipedia.org/wiki/Pondok_Pesantren_Al-Fathaniyah

Tidak ada komentar