Sejarah Terbentuknya Kabupaten Muara Enim Sumatera Selatan - Kuwaluhan.com
Kabupaten Muara Enim adalah salah satu kabupaten di provinsi Sumatera Selatan, Indonesia. Ibu kota kabupaten ini terletak di Muara Enim.


Kabupaten ini memiliki luas wilayah mencapai 7.383,90 km2 dengan jumlah Penduduk sekitar 567.450 jiwa.

ASAL USUL MUARA ENIM

Pada zaman dahulu banyak tumbuh kerajaan-kerajaan baik yang besar maupun kecil. Begitupun untuk menjadi raja berlaku hukum rimba.

Siapa yang kuat akan menjadi raja dan sebaliknya yang lemah akan tertekan.

Dengan seiring waktu, bagi masyarakat yang lemah dan tidak mau diperintah sewenang-wenang memilih melarikan diri dengan mengembara berkelompok-kelompok menjadi beberapa suku.

Mereka berlayar dari pulau ke pulau hingga ke pelosok daerah baik melalui jalur darat maupun menyusuri Sungai Musi menetap menjadi Kesultanan Palembang, Sungai Ogan hingga Sungai Lematang yang berasal dari suku Jawa dan suku Melayu.

Ketika mereka berlayar, kemudian mereka berhenti di Muara Sungai Lematang dan Sungai Enim, karena mereka binggung mau melajutkan arah perjalanan sehingga mereka memilih untuk beristirahat.

Ketika sedang beristirahat di malam hari, di antara mereka mempunyai firasat bahwa tempat inilah yang menjanjikan kehidupan baru.

Keesokan harinya, mereka memeriksa tanah dan kondisi alam di sekelilingnya dan diketahui jika daerah itu dialiri dua sungai, yang kemudian mereka memutuskan untuk mendirikan pemukiman sebagai tinggal yang baru.

Setelah sekian lama beranak pinak, akhirnya dinamailah tempat tersebut dengan nama Karang Enim, yang kemudian berubah menjadi Muaraenim sampai sekarang yang disesuikan dengan nama sungai yang bermuara ke Sungai Lematang yaitu Sungai Enim.

Setelah itu mereka membentuk marga yang pertama kali terbentuknya rumah yakni rumah tersebut terdiri dari empat puluh rumah atau empat puluh bubungan yaitu Tambelang Patang Puluh Bubung (TPPB) yang berasal dari bahasa Jawa dan yang dipakai sehari-hari bahasa Melayau sampai sekarang.

AWAL PEMBENTUKAN KABUPATEN MUARA ENIM

Pada awal terbentuknya Kabupaten Muara Enim bernama Kabupaten Lematang Ilir Ogan Tengah (LIOT). Terbentuknya Kabupaten Muara Enim berawal dari sejarah yang dilakukan oleh panitia Sembilan sebagai realisasi surat Keputusan Bupati Daerah Kabupaten Lematang Ilir Ogan Tengah tanggal 20 November 1946.

Hasil karya panitia tersebut disimpulkan dalam bentuk kertas yang terdiri dari 10 Bab, dangan judul Naskah Hari Jadi Kabupaten Lematang Ilir Ogan Tengah dan dan telah dikikuhkan dengan surat keputusan Bupati Kepala Daerah Kabupaten Lematang Ilir Ogan Tengah tanggal 14 Juni 1972 No. 47/Deshuk/1972. Tanggal 20 November tersebut kemudian menjadi dasar hari jadi Kabupaten Muara Enim.

Kabupaten Muara Enim sebelumnya terdiri dari 22 kecamatan kemudian pada tahun 2012 bertambah tiga kecamatan, yaitu Belimbing, Belida Darat, dan Lubai Ulu, sehingga menjadi 25 kecamatan, dan terakhir menjadi 20 kecamatan sejak keluarnya UU Nomor 7 Tahun 2013, di mana lima kecamatan dalam kabupaten ini, yaitu Talang Ubi, Penukal Utara, Penukal, Abab, dan Tanah Abang, bergabung membentuk kabupaten sendiri yaitu Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir.

Sumber : Palembang.tribunews.com

Sejarah Terbentuknya Kabupaten Muara Enim Sumatera Selatan

Kabupaten Muara Enim adalah salah satu kabupaten di provinsi Sumatera Selatan, Indonesia. Ibu kota kabupaten ini terletak di Muara Enim.


Kabupaten ini memiliki luas wilayah mencapai 7.383,90 km2 dengan jumlah Penduduk sekitar 567.450 jiwa.

ASAL USUL MUARA ENIM

Pada zaman dahulu banyak tumbuh kerajaan-kerajaan baik yang besar maupun kecil. Begitupun untuk menjadi raja berlaku hukum rimba.

Siapa yang kuat akan menjadi raja dan sebaliknya yang lemah akan tertekan.

Dengan seiring waktu, bagi masyarakat yang lemah dan tidak mau diperintah sewenang-wenang memilih melarikan diri dengan mengembara berkelompok-kelompok menjadi beberapa suku.

Mereka berlayar dari pulau ke pulau hingga ke pelosok daerah baik melalui jalur darat maupun menyusuri Sungai Musi menetap menjadi Kesultanan Palembang, Sungai Ogan hingga Sungai Lematang yang berasal dari suku Jawa dan suku Melayu.

Ketika mereka berlayar, kemudian mereka berhenti di Muara Sungai Lematang dan Sungai Enim, karena mereka binggung mau melajutkan arah perjalanan sehingga mereka memilih untuk beristirahat.

Ketika sedang beristirahat di malam hari, di antara mereka mempunyai firasat bahwa tempat inilah yang menjanjikan kehidupan baru.

Keesokan harinya, mereka memeriksa tanah dan kondisi alam di sekelilingnya dan diketahui jika daerah itu dialiri dua sungai, yang kemudian mereka memutuskan untuk mendirikan pemukiman sebagai tinggal yang baru.

Setelah sekian lama beranak pinak, akhirnya dinamailah tempat tersebut dengan nama Karang Enim, yang kemudian berubah menjadi Muaraenim sampai sekarang yang disesuikan dengan nama sungai yang bermuara ke Sungai Lematang yaitu Sungai Enim.

Setelah itu mereka membentuk marga yang pertama kali terbentuknya rumah yakni rumah tersebut terdiri dari empat puluh rumah atau empat puluh bubungan yaitu Tambelang Patang Puluh Bubung (TPPB) yang berasal dari bahasa Jawa dan yang dipakai sehari-hari bahasa Melayau sampai sekarang.

AWAL PEMBENTUKAN KABUPATEN MUARA ENIM

Pada awal terbentuknya Kabupaten Muara Enim bernama Kabupaten Lematang Ilir Ogan Tengah (LIOT). Terbentuknya Kabupaten Muara Enim berawal dari sejarah yang dilakukan oleh panitia Sembilan sebagai realisasi surat Keputusan Bupati Daerah Kabupaten Lematang Ilir Ogan Tengah tanggal 20 November 1946.

Hasil karya panitia tersebut disimpulkan dalam bentuk kertas yang terdiri dari 10 Bab, dangan judul Naskah Hari Jadi Kabupaten Lematang Ilir Ogan Tengah dan dan telah dikikuhkan dengan surat keputusan Bupati Kepala Daerah Kabupaten Lematang Ilir Ogan Tengah tanggal 14 Juni 1972 No. 47/Deshuk/1972. Tanggal 20 November tersebut kemudian menjadi dasar hari jadi Kabupaten Muara Enim.

Kabupaten Muara Enim sebelumnya terdiri dari 22 kecamatan kemudian pada tahun 2012 bertambah tiga kecamatan, yaitu Belimbing, Belida Darat, dan Lubai Ulu, sehingga menjadi 25 kecamatan, dan terakhir menjadi 20 kecamatan sejak keluarnya UU Nomor 7 Tahun 2013, di mana lima kecamatan dalam kabupaten ini, yaitu Talang Ubi, Penukal Utara, Penukal, Abab, dan Tanah Abang, bergabung membentuk kabupaten sendiri yaitu Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir.

Sumber : Palembang.tribunews.com

No comments:

Post a Comment

Berkomentarlah Dengan baik dan sopan agar tidak terjadi hal-hal yang membuat orang lain gagal paham

Subscribe Our Newsletter

Notifications

Disqus Logo