Social Items

Pada suatu zaman dahulu ada seorang nelayan tua yang kehidupannya hanya menangkap ikan sambil bertasbih. Pekerjaannya itu dilakukan sehari-hari dengan istiqamah.


Tiba-tiba ia di datangi oleh 39 orang berpakaian gamis dan jubah dengan menggunakan surban. Seorang pemimpin dari mereka langsung berkata kepada nelayan tua itu: “Kami dari para Wali Abdal ingin mencari (anggota) sahabat yang baru.

Jumlah kami sebelumnya adalah 40 orang, tetapi setelah salah seorang di antara kami meninggal maka jumlah kami sekarang 39 orang. Maukah anda ikut dengan kami dan diangkat menjadi seorang Wali Allah?” Betapa tercengangnya nelayan itu dan langsung menyetujuinya.

Namun sebelum itu ia menanyakan: “Katanya seorang Wali itu bisa berjalan di atas air, apakah saya bisa melakukannya setelah menjadi seorang Wali?” Maka jawab pemimpin Wali Abdal itu: “Oh tentu, Insya Allah. Silahkan buktikan”. Setelah itu nelayan tua itu membuktikan kebenaran ucapan Wali tersebut.

Dan ternyata benar, kakinya tidak tenggelam ke dasar laut. Dengan serta merta ia berujar dengan gembiranya: “Baiklah, aku mau ikut bersama kalian”. Pemimpin Wali itu berkata: “Kalau kamu ingin ikut dengan kami, ada satu syarat yang harus kamu penuhi.

Jika tidak, kami tidak mengakuimu lagi sebagai anggota dari kami. Yaitu, jangan engkau membantah (berkomentar) atas apapun yang akan terjadi. Apakah kamu sanggup?” Karena merasa ringan akan syarat tersebut maka nelayan tua itu menyetujuinya. Lalu ikutlah ia bersama para Wali Abdal tersebut, yang sekarang telah genap berjumlah 40 orang.

Belum lama dari peristiwa tersebut, 40 Wali tadi berdzikir bersama di atas sebuah kapal dan melakukan ibadah ritual lainnya. Pemimpin Abdal, setelah acara selesai berkata: “Kini tibalah waktunya kita makan bersama”. Seketika itu datanglah sebuah hidangan dari langit yang berisi ikan yang amat besar”.

Melihat kejadian itu terkagum-kagum nelayan tua itu, dikarenakan baru menyaksikan hal itu seumur hidupnya. Baru saja ikan itu dihidangkan, Pak tua itu langsung mencicipi ikan tadi. Kontan dari mulutnya mengatakan: “Wah, ikannya memang besar, tapi lebih lezat lagi kalau dikasih garam”.

Pada saat itulah para Wali tadi menghadapkan wajahnya kepada Pak tua, dan berkatalah pemimpin Abdal: “Wahai Pak tua, tak pantas rasanya seorang Wali mengucapkan perkataan itu, padahal rizqi yang datang di hadapan kita ini Allah yang memberi dan kita tinggal menerima. Anda mencela rizqi dariNya berarti anda mencelaNya. Maka sudah kukatakan sebelumnya bahwa syarat mengikuti kami adalah jangan membantah (mengomentari) apa-apa yang akan terjadi. Dengan sangat menyesal kami tidak dapat menerimamu di hadapan kami”. Setelah itu Pak Tua menjadi nelayan kembali.

Wallohu a’lam Bisshowab.

Kisah dan Riwayat Wali Abdal yang Gagal karena Nafsu

Pada suatu zaman dahulu ada seorang nelayan tua yang kehidupannya hanya menangkap ikan sambil bertasbih. Pekerjaannya itu dilakukan sehari-hari dengan istiqamah.


Tiba-tiba ia di datangi oleh 39 orang berpakaian gamis dan jubah dengan menggunakan surban. Seorang pemimpin dari mereka langsung berkata kepada nelayan tua itu: “Kami dari para Wali Abdal ingin mencari (anggota) sahabat yang baru.

Jumlah kami sebelumnya adalah 40 orang, tetapi setelah salah seorang di antara kami meninggal maka jumlah kami sekarang 39 orang. Maukah anda ikut dengan kami dan diangkat menjadi seorang Wali Allah?” Betapa tercengangnya nelayan itu dan langsung menyetujuinya.

Namun sebelum itu ia menanyakan: “Katanya seorang Wali itu bisa berjalan di atas air, apakah saya bisa melakukannya setelah menjadi seorang Wali?” Maka jawab pemimpin Wali Abdal itu: “Oh tentu, Insya Allah. Silahkan buktikan”. Setelah itu nelayan tua itu membuktikan kebenaran ucapan Wali tersebut.

Dan ternyata benar, kakinya tidak tenggelam ke dasar laut. Dengan serta merta ia berujar dengan gembiranya: “Baiklah, aku mau ikut bersama kalian”. Pemimpin Wali itu berkata: “Kalau kamu ingin ikut dengan kami, ada satu syarat yang harus kamu penuhi.

Jika tidak, kami tidak mengakuimu lagi sebagai anggota dari kami. Yaitu, jangan engkau membantah (berkomentar) atas apapun yang akan terjadi. Apakah kamu sanggup?” Karena merasa ringan akan syarat tersebut maka nelayan tua itu menyetujuinya. Lalu ikutlah ia bersama para Wali Abdal tersebut, yang sekarang telah genap berjumlah 40 orang.

Belum lama dari peristiwa tersebut, 40 Wali tadi berdzikir bersama di atas sebuah kapal dan melakukan ibadah ritual lainnya. Pemimpin Abdal, setelah acara selesai berkata: “Kini tibalah waktunya kita makan bersama”. Seketika itu datanglah sebuah hidangan dari langit yang berisi ikan yang amat besar”.

Melihat kejadian itu terkagum-kagum nelayan tua itu, dikarenakan baru menyaksikan hal itu seumur hidupnya. Baru saja ikan itu dihidangkan, Pak tua itu langsung mencicipi ikan tadi. Kontan dari mulutnya mengatakan: “Wah, ikannya memang besar, tapi lebih lezat lagi kalau dikasih garam”.

Pada saat itulah para Wali tadi menghadapkan wajahnya kepada Pak tua, dan berkatalah pemimpin Abdal: “Wahai Pak tua, tak pantas rasanya seorang Wali mengucapkan perkataan itu, padahal rizqi yang datang di hadapan kita ini Allah yang memberi dan kita tinggal menerima. Anda mencela rizqi dariNya berarti anda mencelaNya. Maka sudah kukatakan sebelumnya bahwa syarat mengikuti kami adalah jangan membantah (mengomentari) apa-apa yang akan terjadi. Dengan sangat menyesal kami tidak dapat menerimamu di hadapan kami”. Setelah itu Pak Tua menjadi nelayan kembali.

Wallohu a’lam Bisshowab.

No comments