Sejarah Terbentuknya Kabupaten Kapuas dan Kota Kuala Kapuas, Kalimantan Tengah - Kuwaluhan.com

Pada awal terbentuknya Kabupaten Kapuas, merupakan salah satu eks daerah dayak besar dan swapraja kota Waringin yang termasuk dalam wilayah karesidenan Kalimantan Selatan, dengan penduduk asli Suku Dayak Ngaju, yang terdiri dari dua sub suku yaitu Suku Kapuas Kahayan dan Suku Ot Danum (oldaman) yang bermukim disebelah kanan kiri sungai Kahayan, serta Suku Kapuas Kahayan bermukin disamping kanan kiri Sungai Kapuas dan Sungai Kahayan antara hilir sampai tengah, sedangkan ot danum (oldaman) bagian hulu dari kedua sungai tersebut.

Penyebaran pemukiman di sepanjang tepi Sungai Kapuas dan Sungai Kahayan tersebut tidak diketahui secara pasti kapan mulainya, karena tidak ada peninggalan baik berupa tulisan maupun barang jadi (artfakta)yang dapat dijadikan dasar, sehingga sekitar abad 14 dalam naskah Nagarakertagama yang ditulis oleh Pujangga Prapanca dari Majapahit dari tahun 1365 Masehi, menyebutkan adanya pemukiman tersebut, kemudian dalam Naskah Hikayat Banjar, berita Tionghoa pada masa dinasti Ming tahun 1368 - 1644 Masehi dan Piagam-piagam perjanjian antara sultan Banjarmasin dengan pemerintah Belanda pada abad 19 yang memuat berita adanya pemukiman di sepanjang Sungai Kapuas dan Sungai Kahayan yang disebut pemukiman Lewu Juking, yang pada saat ini dikenal dengan Ujung Murung.

Lewu Juking/ Ujung Murung merupakan sebuah pemukiman rumah panjang yang terletak di dekat muara Sungai Kapuas Murung, atau tepatnya bagian barat daerah Pulau Petak yang bermuara di Laut Jawa, sekitar 10 kilometer dari arah pesisir laut Jawa, dan daerah pemukiman ini cukup banyak bersama dengan pemukiman lainnya, yang tersebar sampai ke arah Muara Terusan, dengan jumlah penduduk sekitar 1000 kepala Keluarga, Pemukiman Lewu Juking/ Ujung murung dan pemukiman disekitarnya pada masa itu di pimpin oleh seorang Kepala Suku bernama Raden Labih.

Akibat merasa kurang amannya kehidupan penduduk Lewu Juking dan masyarakat disekitarnya dari bajak laut, maka pada tahun 1800 banyak penduduk pindah tempat tinggal, sehingga dari perpindahan tersebut disepanjang Sungai Kapuas dan Sungai Kapuas Murung, pemukiman Palangkai diseberang Sungai Tatas, pemukiman Sungai Handiwung, pemukiman Sungai Apui, Pemukiman Pulau Telo, pemukiman Sungai Bapalas, pemukiman Sungai Kanamit dan pemukiman Betang di Sei Pasah sekaligus merupakan satu-satunya bukti sejarah di kota Kuala Kapuas yang masih ada, dalam perkembangan selanjutnya dijadikan sebagai tonggak sejarah berdirinya kota Kuala Kapuas pada tahun 1806.

Pada bulan Oktober tahun 1892 tepatnya 20 tahun setelah pemukiman Betang Sei Pasah dibangun, orang Belanda yang pertama kali datang menginjak kakinya di bumi Kapuas menurut catatan sejarah Zacharis Hartman. Dalam perjalanan kerja pada masa itu menggunakan trasportasi perahu dayung untuk menjelajahi Sungai Kapuas Murung dan Sungai Kapuas sampai ke Jangkang.

Dalam perkembangan sejarah berikutnya hubungan Orang Kapuas dengan Orang Belanda identik dengan hubungan peperangan, dan menyikapi kondisi tersebut, dalam rangka mengawasi lalu lintas perairan di kawasan Kapuas, pada bulan Februari tahun 1860 pihak Belanda membangun benteng di Ujung murung (sekitar rumah jabatan Bupati saat ini), dan tempat tersebut dinamakan Kuala Kapuas. Nama Kuala Kapuas di ambil dari bahasa dayak ngaju yaitu bahasa yang digunakan penduduk setempat, yang menyebut daerah tersebut Tumbang Kapuas. Pada daerah ini Belanda Mengangkat seorang pejabat dalam pangkat Pemangku Kuasa yang bernama Brosers merangkap sebagai komandan benteng,. Disamping pejabat Pemangku Kuasa, Tamanggung Nicodemus Ambu atau Tamanggung Nikodemus Jatanegara di tunjuk sebagai kepala distrik, dan pada bulan Maret 1863 Tamanggung Nikodemus Jayanegara membangun betang di Hampatung.

Dalam rangka memantapkan kekuasaan Belanda di wilayah Kalimantan, daerah Kapuas dimekarkan membentuk Onderdistri Baru, yaitu Onderdistri Kapuas Hilir Ibukota Kuala Kapuas, Onderdistri Kapuas Barat beribukota Mandomai, Onderdistri Kapuas Tengah beribukota Pujon, Onderdistri Kahayan Tengah beribukota Pahandut, Onderdistri Kahayan Hilir beribukota Pulang Pisau dan Onderdistri Kahayan Hulu dengan ibukota tewah.

Pada tanggal 27 Maret 1946 di Banjarmasin dibentuk dewan daerah dayak besar yang pertama, yaitu suatu badan pemerintah daerah yang meliputi apdeling Kapuas-Barito dan di pilih sebagai ketua adalah Grineveld (eks asisten residen), Wakil Ketua Raden Cyrillus Kesranegara dan Sekretaris adalah Mahir Mahar.

Pada tahun 1948 diadakan pemilihan anggota dewan dayak besar dalam sistem bertingkat yaitu setiap 100 orang pemilih menunjuk seorang kepala pemilih, yang secara langsung memberikan suaranya terhadap calon yang diajukan, dan yang terpilih sebagai ketua Haji Alwi, wakil Ketua Helmut Konom, Sekretaris Roosenshooen, Anggota badan pengurus harian Markasi dari Sampit, Barthhleman dari Barito, Adenan Maratif dan E.D Tandan dari Kapuas.

Pada bulan januari 1950 dewan daerah dayak besar resmi bergabung dalam wilayah Republik Indonesia Serikat (RIS) menjadi daerah bagian dari Republik Indonesia Serikat, tetapi situasi saat itu rakyat menghendaki suatu negara kesatuan, bukan Negara Federasi hasil kompromi pihak Belanda, menyikapi hal tersebut maka pada tanggal 14 April 1950 atas dasar tuntutan rakyat tersebut dan untuk memenuhi aspirasi rakyat, maka pihak dewan dayak besar menentukan sikap peleburan diri secara resmi kedalam Negara Republik Indonesia. Sebagai mana diatur dalam surat keputusan menteri dalam negeri nomor : C.17/15/3 tanggal 29 Juni 1950 tentang penetapan daerah-daerah di Kalimantan yang sudah tergabung dalam Republik Indonesia dengan adminidtrasi Pemerintah terdiri dari 6 daerah kabupaten yaitu banjarmasin, Hulu Sungai, Kota Baru, Kapuas dan Kota Waringin serta 3 daerah Swapraja yaitu Kutai, Berau dan Bulungan.

HARI JADI KABUPATEN KAPUAS

Dalam perkembangan sejarah selanjutnya, pada akhir tahun 1950 Kepala Kantor Persiapan Kabupaten Kapuas Wedana F. Dehen memasuki masa pensiun dan selanjutnya diserahkan kepada Mrakasi yaitu mantan anggota dewan daerah Dayak besar pada saat itu. Selanjutnya pada bulan Januari 1951 Markasi diganti oleh Patih Barnstein Baboe sebagai Bupati sementara saat itu,dan pada masa inilah Kabupaten Kapuas di resmikan tepatnya pada hari Rabu tanggal 21 Maret 1951 oleh Menteri Dalam Negeri dan sekaligus melantik para anggota Dewan Rakyat daerah sementara yang terdiri dari wakil partai politik dan organisasi non-politik dari Masyumi, Parkindo, PNI, Muhammadiyah dan lainnya.

Pada awal Mei 1951 Raden Darussapati diangkat selaku Bupati Kepala Daerah Kabupaten Kapuas yang pertama, dan dilantik pada tanggal 9 mei 1951 oleh Gubernur Murjani atas nama Menteri Dalam Negeri. Sehingga oleh masyarakat Kabupaten Kapuas setiap tanggal 21 Maret dinyatakan sebagai hari jadi Kabupaten Kapuas yang bertepatan dengan peresmian Pemerintah Kabupaten Kapuas.

Berkat usaha dan perjuangan rakyat Kuala Kapuas bersama-sama dengan rakyat daerah lainnya pada saat itu, maka lahirlah Undang-undang No. 27 tahun 1959 tentang pembentukan daerah tingkat II Kalimantan Tengah dan Undang-undang Nomor 5 tahun 2002 tentang pembentukan Kabupaten Katingan, Kabupaten Seruyan, Kabupaten Sukamara, Kabupaten Lamandau, Kabupaten Gunung Mas, Kabupaten Pulang Pisau, Kabupaten Murung Raya dan Kabupaten Barito Timur.

Sesuai dengan perkembangan Kabupaten Kapuas dimekarkan menjadi tiga Kabupaten, yaitu Kabupaten Kapuas sebagai Kabupaten induk dengan Ibukota Kuala Kapuas, Kabupaten Pulang Pisang Pisau dengan Ibukota Pulang Pisau dan Kabupaten Gunung Mas Ibukota Kurun.

Kota Kuala Kapuas berdiri sejak tahun 1806 , namun Pemerintahan Kabupaten Kapuas berdiri sejak tahun 1951. Kemudian sejak tahun 2002 Kabupaten Kapuas mengalami pemekaran menjadi 3 (tiga) kabupaten yakni Kabupaten Kapuas , Kabupaten Pulang Pisau dan Kabupaten Gunung Mas (saat ini masuk wilayah hukum PN. Palangkaraya).

SEJARAH KOTA KUALA KAPUAS


Kota ini dibangun jauh sebelum adanya Ibukota Kalimantan Tengah Palangka Raya, Kabupaten Kapuas adalah salah satu dari Kabupaten otonom eks Daerah Dayak Besar dan Swapraja Kotawaringin yang termasuk dalam wilayah Keresidenan Kalimantan Selatan. Suku Dayak Ngaju merupakan penduduk asli Kabupaten Kapuas.

Suku ini terdiri dari 2 (dua) sub suku yaitu Suku Olah Kapuas-Kahayan dan Olah Otdaman, bermukim disebelah kanan kiri sungai Kapuas dan Sungai Kahayan. Olah Kapuas-Kahayan bermukim disamping kanan kiri Sungai  Kapuas dan Sungai Kahayan antara Hilir sampai tengah sungai, sedangkan Olah Otdaman bagian hulu dari kedua sungai tersebut.

Kabupaten Kapuas dengan Ibukota Kuala Kapuas adalah Daerah otonom sebagaimana dimaksud dalam UU nomor 27/1959 tentang pembentukan Daerah Tingkat II Kalimantan Tengah. Berdasarkan Undang-Undang nomor 5 tahun 2002 tentang Pembentukan Kabupaten Katingan, Kabupaten Seruyan, Kabupaten Sukamara, Kabupaten Lamandau, Kabupaten Gunung Mas, Kabupaten Pulang Pisau, Kabupaten Murung Raya dan Kabupaten Barito Timur, Kabupaten Kapuas dimekarkan menjadi 3 (tiga) Kabupaten yaitu Kabupaten Kapuas dengan ibukota Kuala Kapuas sebagai Kabupaten induk terdiri dari 12 kecamatan, Kabupaten Pulang Pisau dengan Ibukota Pulang Pisau terdiri atas 6 Kecamatan dan Kabupaten Gunung Mas dengan Ibukota Kuala Kurun dengan 6 Kecamatan. Setelah adanya perubahan ini luas wilayah Kabupaten Kapuas adalah 14.999 km2.

Sebelum abad ke XIV daerah Kapuas belum mengenal pendatang atau penjajahan atas wilayah tersebut. Alat lulu lintas untuk menghubungkan daerah-daerah atau tempat-tempat lainnya adalah perahu berlayar. Dalam tahun 1350 Kerajaan Hindu memasuki daerah Kotawaringin, tapi pada tahun 1365 dapat disingkirkan oleh kerajaan Majapahit dan mengangkat wakil-wakil kerajaan disana atau Kepala-kepala suku sebagai Menteri Kerajaan tersebut. Agama Islam mulai berkembang mulai tahun 1620 di Kotawaringin pada waktu pantai Kalimantan bagian Selatan dikuasai oleh Kerajaan Demak

Dalam tahun 1679 kerajaan Banjar mendirikan Kerajaan Kotawaringin yang meliputi daerah pantai Kalimantan tengah yaitu Sampit, Mendawai dan Pembuang dan daerah lainnya tetap bebas dibawah pimpinan kepala-kepala suku dan ada yang menarik diri ke pedalaman. Perang di Pematang Sawang Pulau Kupang / Kota Bataguh dekat dengan Kuala Kapuas semasa dalam pemerintahan Puteri Udang (wanita) dengan pahlawan-pahlawan / panglima-panglima antara lain bernama Tambun Bungai, Andin Sindai, Tawala Rawa Raca , dll ( nama Pahlawan Tambun Bungai menjadi lambang Kodam XI Tambun Bungai).

Dengan suatu perjanjian antara VOC dan Sultan Banjar pada tahun 1787, hamper seluruh wilayah Kalimantan Tengah dikuasai oleh VOC. Dalam tahun 1917 Pemerintah penjajah mulai mengangkat petugas-petugas Pemerintahnya dari penduduk daerah dibawah pengawasan pejabat-pejabat penjajah sendiri.

Sejak abad ke XIX petugas-petugas penjajahan mulai mengadakan expedisi kedaerah pedalaman untuk memperkuat kedudukan mereka. Tetapi penduduk selalu memberikan perlawanan hingga abad ke XX. Perlawanan rakyat secara frontal berakhir pada tahun 1905, setelah terbunuhnya Sultan Muhammad Seman di Sei Menawing (sekarang Kabupaten Murung Raya) dan dimakamkan di Puruk Cahu.

Agama Kristen Protestan mulai memasuki daerah ini pada tahun 1835 yang menuju pedalaman. Hingga saat proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 penjajah Belanda tak dapat menguasai seluruh wilayah dan pelosok daerah karena banyak putera-putera daerah yang menerjunkan diri dalam pergerakan-pergerakan Nasional dengan semangat yang meluap-luap didaerah ini.

Pertempuran terakhir Pemerintah Belanda dengan suku Daya Punan yaitu Oot Marikit pada bulan Agustus tahun 1935 dengan perdamaian di Kota Sampit, antara Ot Marikit dengan menantunya Panganen (Panganon) kepada Pemerintah Belanda.

Orang Dayak di Kapuas seperti orang Ngaju, Ot-Danum sudah lama berhubungan dengan orang luar seperti Melayu, Jawa, Bugis, Cina, Arab dan Eropah. Walaupun demikian sebelumnya berkembang system pendidikan sekolah, penduduk Kapuas masih berkembang dalam alam lingkungannya sendiri terutama dimasa penjajahan Belanda dan Jepang.

Beberapa pemuda Dayak Kapuas yang telah mendapat pendidikan modern dengan penuh edialisme berusaha untuk memajukan suku bangsanya antara lain mendirikan organisasi seperti “ Serikat Dayak “ dalam tahun 1919 dan “ Koperasi Dayak “. Dalam tahun 1928 kedua organisasi tadi diteruskan menjadi “Pakat Dayak” yang bergerak dalam lapangan social, ekonomi dan juga politik dalam pimpinan tokoh-tokoh dayak antara lain : Hausman Babu, Anton Samat, Loei Kamis dan diteruskan oleh tokoh Mahir Mahar, C. Luran, H.Nyangkal, Oto Ibrahim, Philips Sinar, E.S. Handuran, Amir Hassan, Christian Nyunting, Cilik Riwut,dll.

Setelah kemerdekaan, orang dayak berhasrat agar Kalimantan Tengah menjadi Propinsi sendiri lepas dari Kalimantan Selatan. Hasrat itu diperjuangkan oleh organisasi “Penyalur Hasrat Rakyat Kalimantan tengah” ketuanya Bapa Moris Ismail atau terkenal dipanggil Bapa Hawon dan perjuangan mereka berhasil dengan terbentuknya Propinsi Kalimantan tengah pada tanggal 23 Mei 1957.

Pembentukan Propinsi Kalimantan tengah tidak berjalan lancer dan mula-mula hasrat orang dayak di Kalimantan Tengah kurang dihiraukan oleh Pemerintah Pusat. Demikian mereka terpaksa mempergunakan kekerasan juga untuk mendesak kemauan mereka. Perkumpulan rahasia bernama “Gerakan Mandau Telawang Pancasila” (GMTPS) yang bersifat amat militant pernah melaksanakan suatu serangan bersenjata terhadap beberapa pos pemerintahan antara lain di Buntok, Pahandut, Kuala Kuayan dan Kuala Kapuas dalam Pimpinan Ch.Simbar (Uria Mapas), W.Embang, Sahari Andung, Hartman Assan, F.J Tuweh, Muller Antang,dll. Antara lain tokoh PNI di Kalimantan Tengah yaitu Bapa Brono Sandan yang terkenal dengan Bapa Popo.

Sejak itu orang Kalimantan Tengah mulai membangun daerahnya yang sebagian besar masih berupa hutan rimba. Didekat desa Pahandut ditepi sungai Kahayan dijadikan tempat untuk membangun Ibukota Palangka Raya. Dibangun suatu jalan sepanjang 40 km yang menghubungkan Palangka Raya dengan Tengkiling, sedangkan pembangunan prasarana lain berupa pembuatan lapangan-lapangan terbang di Palangka Raya dan Pangkalan Bun, serta pembuatan tempat-tempat pendaratan diair dan tempat-tempat berlabuh untuk pesawat terbang seperti Catalina,dll misalnya di Sampit, Muara Teweh, Kasongan, Kuala Kapuas dan Kuala Kurun. Juga mulai digali terusan-terusan yang menghubungan satu sungai besar dengan lainnya seperti terusan Basarang diberi nama Terusan Milono mengambil nama Gubernur Kalimantan yang ketiga. Kecuali irigasi yang akan mengairi sawah-sawah bagi transmigran-transmigran dari Jawa dan Bali yang akan dating didaerah itu.

Kekayaan Kalimantan tengah tidak terutama terletak pada tanah yang subur dan tanah yang cocok untuk mengembangkan pertanian yang berarti, tetapi kekayaan Kalimantan terletak dalam kekayaan isi buminya yang mengandung minyak bumi, emas, batu bara, tembaga, kecubung dan intan. Sedang hutan rimbanya juga mengandung kekayaan-kekayaan yang dapat dieksploitasi yang menghasilkan kayu Meranti, Agathis, Ramin , dll yang diekspor keluar negeri.

Sayang bahwa usaha-usaha pembangunan tidak selalu berjalan lancer. Hal ini rupa-rupanya tidak terletak kepada sifat kurang kemampuan dan sikap mental dari orang dayak tetapi merupakan suatu akibat dari kemacetan menyeluruh yang dialami oleh Negara kita pada tahun-tahun terakhir ini.

Kalimantan Tengah adalah salah satu dari Propinsi-Propinsi Republik Indonesi yang terletak di Pulau Kalimantan Indonesia yaitu Propinsi ke 17. Penduduknya berdiam di Desa-desa sepanjang sungai besar dan kecil. Pulau Kalimantan adalah pulau terbesar ketiga setelah Pulau Tanah Hijau (Green Land) dan Pulau Irian. Sebagai akibat kolonialisme Barat, Pulau ini kini terpecah menjadi 3 wilayah dari 3 negara yaitu bekas jajahan Inggris di Utara menjadi wilayah Negara Malaysia dan Kesultanan Brunai, sedangkan bekas jajahan Belanda di Selatan menjadi wilayah Republik Indonesia dan terbagi menjadi 4 Propinsi yaitu Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur dan Kalimantan Barat.

Penduduk Kapuas selain orang dayak yang merupakan penduduk asli daerah itu adapula keturunan orang-orang pendatang. Mereka ini dalah orang-orang banjar, Bugis, Madura, Makasar, Melayu, Jawa, Cina, Arab, dll.

Yang menjadi pokok pembicaraan dalam tulisan ini adalah penduduk “asli” yang terdiri dari orang dayak. Dari demikian banyak orang dayak di Kapuas akan dijelaskan kebudayaan  dari 3 (tiga) suku bangsa saja yaitu Ngaju , Ot-Danum dan Ma’anyan..

Tempat tinggal suku dayak Ngaju adalah sepanjang sungai-sungai besar  di Kalimantan Tengah seperti Kapuas, Kahayan, Rungan, Manuhing, Barito dan Katingan. Sedangkan tempat kediaman orang Ot-Danum adalah selain sepanjang hulu sungai-sungai besar seperti Kahayan, Rungan, Barito dan Kapuas juga di hulu sungai-sungai dari Kalimantan Barat seperti sungai Melawi (anak sungai Kapuas besar pedalaman Kalimantan Barat) dan Hulu sungai-sungai Mahakam sekitar Long Pahangei kepedalamannya.

Suku-suku Dayak Ngaju dan Ot-Danum yang ditulis ini hanyalah mereka yang berdiam di Sungai-sungai Kapuas dan Kahayan. Secara administrative kenegaraan, kediaman mereka ini termasuk bagian dari Kabupaten Kapuas. Didaerah aliran sungai Kahayan suku Dayak Ngaju berdiam disebelah hilir, sedangkan Ot-Danum disebelah hulu. Batas kediaman orang Ngaju dihulu Kahayan hanya sampai di Tumbang Miri saja sebagai desanya yang terakhir, sedangkan dihilir terus turun sampai dimuara sungai Kahayan. Letak kediaman orang Ot-Danum adalah di Hulu Kahayan yaitu di daerah Utara Tumbang Miri dan di hulu sungai Katingan, Hulu sungai Samba, hulu sungai Kapuas dan sebagian hulu sungai Seruyan( Pembuang) di Sungai Kale (desa Tumbang Sabetung).

 Jika desa-desa Ot-Danum pada umumnya merupakan daerah tersendiri/khas dari orang Ot-Danum, maka suku dayak ma’anyan tersebar diberbagai bagian dari Kabupaten Barito Selatan yaitu ditepi Timur Sungai Barito terutama diantara anak-anak sungai seperti Patai, telang, Karau dan Ayuh.

Di timur suku Ma’anyan bersentuhan dengan suku banjar dari daerah hulu sungai dari Propinsi Kalimantan Selatan, dibarat berbatasan  dengan suku-suku dayak bakumpai dan orang banjar dari daerah hulu sungai Barito, di Selatan dibatasi tanah paya-paya di selatan sungai Patai, dan di utara sampai ke sungai Ayu disebelah Utara Buntok (Ibukota Kabupaten Barito Selatan).

Sejarah Terbentuknya Kabupaten Kapuas dan Kota Kuala Kapuas, Kalimantan Tengah


Pada awal terbentuknya Kabupaten Kapuas, merupakan salah satu eks daerah dayak besar dan swapraja kota Waringin yang termasuk dalam wilayah karesidenan Kalimantan Selatan, dengan penduduk asli Suku Dayak Ngaju, yang terdiri dari dua sub suku yaitu Suku Kapuas Kahayan dan Suku Ot Danum (oldaman) yang bermukim disebelah kanan kiri sungai Kahayan, serta Suku Kapuas Kahayan bermukin disamping kanan kiri Sungai Kapuas dan Sungai Kahayan antara hilir sampai tengah, sedangkan ot danum (oldaman) bagian hulu dari kedua sungai tersebut.

Penyebaran pemukiman di sepanjang tepi Sungai Kapuas dan Sungai Kahayan tersebut tidak diketahui secara pasti kapan mulainya, karena tidak ada peninggalan baik berupa tulisan maupun barang jadi (artfakta)yang dapat dijadikan dasar, sehingga sekitar abad 14 dalam naskah Nagarakertagama yang ditulis oleh Pujangga Prapanca dari Majapahit dari tahun 1365 Masehi, menyebutkan adanya pemukiman tersebut, kemudian dalam Naskah Hikayat Banjar, berita Tionghoa pada masa dinasti Ming tahun 1368 - 1644 Masehi dan Piagam-piagam perjanjian antara sultan Banjarmasin dengan pemerintah Belanda pada abad 19 yang memuat berita adanya pemukiman di sepanjang Sungai Kapuas dan Sungai Kahayan yang disebut pemukiman Lewu Juking, yang pada saat ini dikenal dengan Ujung Murung.

Lewu Juking/ Ujung Murung merupakan sebuah pemukiman rumah panjang yang terletak di dekat muara Sungai Kapuas Murung, atau tepatnya bagian barat daerah Pulau Petak yang bermuara di Laut Jawa, sekitar 10 kilometer dari arah pesisir laut Jawa, dan daerah pemukiman ini cukup banyak bersama dengan pemukiman lainnya, yang tersebar sampai ke arah Muara Terusan, dengan jumlah penduduk sekitar 1000 kepala Keluarga, Pemukiman Lewu Juking/ Ujung murung dan pemukiman disekitarnya pada masa itu di pimpin oleh seorang Kepala Suku bernama Raden Labih.

Akibat merasa kurang amannya kehidupan penduduk Lewu Juking dan masyarakat disekitarnya dari bajak laut, maka pada tahun 1800 banyak penduduk pindah tempat tinggal, sehingga dari perpindahan tersebut disepanjang Sungai Kapuas dan Sungai Kapuas Murung, pemukiman Palangkai diseberang Sungai Tatas, pemukiman Sungai Handiwung, pemukiman Sungai Apui, Pemukiman Pulau Telo, pemukiman Sungai Bapalas, pemukiman Sungai Kanamit dan pemukiman Betang di Sei Pasah sekaligus merupakan satu-satunya bukti sejarah di kota Kuala Kapuas yang masih ada, dalam perkembangan selanjutnya dijadikan sebagai tonggak sejarah berdirinya kota Kuala Kapuas pada tahun 1806.

Pada bulan Oktober tahun 1892 tepatnya 20 tahun setelah pemukiman Betang Sei Pasah dibangun, orang Belanda yang pertama kali datang menginjak kakinya di bumi Kapuas menurut catatan sejarah Zacharis Hartman. Dalam perjalanan kerja pada masa itu menggunakan trasportasi perahu dayung untuk menjelajahi Sungai Kapuas Murung dan Sungai Kapuas sampai ke Jangkang.

Dalam perkembangan sejarah berikutnya hubungan Orang Kapuas dengan Orang Belanda identik dengan hubungan peperangan, dan menyikapi kondisi tersebut, dalam rangka mengawasi lalu lintas perairan di kawasan Kapuas, pada bulan Februari tahun 1860 pihak Belanda membangun benteng di Ujung murung (sekitar rumah jabatan Bupati saat ini), dan tempat tersebut dinamakan Kuala Kapuas. Nama Kuala Kapuas di ambil dari bahasa dayak ngaju yaitu bahasa yang digunakan penduduk setempat, yang menyebut daerah tersebut Tumbang Kapuas. Pada daerah ini Belanda Mengangkat seorang pejabat dalam pangkat Pemangku Kuasa yang bernama Brosers merangkap sebagai komandan benteng,. Disamping pejabat Pemangku Kuasa, Tamanggung Nicodemus Ambu atau Tamanggung Nikodemus Jatanegara di tunjuk sebagai kepala distrik, dan pada bulan Maret 1863 Tamanggung Nikodemus Jayanegara membangun betang di Hampatung.

Dalam rangka memantapkan kekuasaan Belanda di wilayah Kalimantan, daerah Kapuas dimekarkan membentuk Onderdistri Baru, yaitu Onderdistri Kapuas Hilir Ibukota Kuala Kapuas, Onderdistri Kapuas Barat beribukota Mandomai, Onderdistri Kapuas Tengah beribukota Pujon, Onderdistri Kahayan Tengah beribukota Pahandut, Onderdistri Kahayan Hilir beribukota Pulang Pisau dan Onderdistri Kahayan Hulu dengan ibukota tewah.

Pada tanggal 27 Maret 1946 di Banjarmasin dibentuk dewan daerah dayak besar yang pertama, yaitu suatu badan pemerintah daerah yang meliputi apdeling Kapuas-Barito dan di pilih sebagai ketua adalah Grineveld (eks asisten residen), Wakil Ketua Raden Cyrillus Kesranegara dan Sekretaris adalah Mahir Mahar.

Pada tahun 1948 diadakan pemilihan anggota dewan dayak besar dalam sistem bertingkat yaitu setiap 100 orang pemilih menunjuk seorang kepala pemilih, yang secara langsung memberikan suaranya terhadap calon yang diajukan, dan yang terpilih sebagai ketua Haji Alwi, wakil Ketua Helmut Konom, Sekretaris Roosenshooen, Anggota badan pengurus harian Markasi dari Sampit, Barthhleman dari Barito, Adenan Maratif dan E.D Tandan dari Kapuas.

Pada bulan januari 1950 dewan daerah dayak besar resmi bergabung dalam wilayah Republik Indonesia Serikat (RIS) menjadi daerah bagian dari Republik Indonesia Serikat, tetapi situasi saat itu rakyat menghendaki suatu negara kesatuan, bukan Negara Federasi hasil kompromi pihak Belanda, menyikapi hal tersebut maka pada tanggal 14 April 1950 atas dasar tuntutan rakyat tersebut dan untuk memenuhi aspirasi rakyat, maka pihak dewan dayak besar menentukan sikap peleburan diri secara resmi kedalam Negara Republik Indonesia. Sebagai mana diatur dalam surat keputusan menteri dalam negeri nomor : C.17/15/3 tanggal 29 Juni 1950 tentang penetapan daerah-daerah di Kalimantan yang sudah tergabung dalam Republik Indonesia dengan adminidtrasi Pemerintah terdiri dari 6 daerah kabupaten yaitu banjarmasin, Hulu Sungai, Kota Baru, Kapuas dan Kota Waringin serta 3 daerah Swapraja yaitu Kutai, Berau dan Bulungan.

HARI JADI KABUPATEN KAPUAS

Dalam perkembangan sejarah selanjutnya, pada akhir tahun 1950 Kepala Kantor Persiapan Kabupaten Kapuas Wedana F. Dehen memasuki masa pensiun dan selanjutnya diserahkan kepada Mrakasi yaitu mantan anggota dewan daerah Dayak besar pada saat itu. Selanjutnya pada bulan Januari 1951 Markasi diganti oleh Patih Barnstein Baboe sebagai Bupati sementara saat itu,dan pada masa inilah Kabupaten Kapuas di resmikan tepatnya pada hari Rabu tanggal 21 Maret 1951 oleh Menteri Dalam Negeri dan sekaligus melantik para anggota Dewan Rakyat daerah sementara yang terdiri dari wakil partai politik dan organisasi non-politik dari Masyumi, Parkindo, PNI, Muhammadiyah dan lainnya.

Pada awal Mei 1951 Raden Darussapati diangkat selaku Bupati Kepala Daerah Kabupaten Kapuas yang pertama, dan dilantik pada tanggal 9 mei 1951 oleh Gubernur Murjani atas nama Menteri Dalam Negeri. Sehingga oleh masyarakat Kabupaten Kapuas setiap tanggal 21 Maret dinyatakan sebagai hari jadi Kabupaten Kapuas yang bertepatan dengan peresmian Pemerintah Kabupaten Kapuas.

Berkat usaha dan perjuangan rakyat Kuala Kapuas bersama-sama dengan rakyat daerah lainnya pada saat itu, maka lahirlah Undang-undang No. 27 tahun 1959 tentang pembentukan daerah tingkat II Kalimantan Tengah dan Undang-undang Nomor 5 tahun 2002 tentang pembentukan Kabupaten Katingan, Kabupaten Seruyan, Kabupaten Sukamara, Kabupaten Lamandau, Kabupaten Gunung Mas, Kabupaten Pulang Pisau, Kabupaten Murung Raya dan Kabupaten Barito Timur.

Sesuai dengan perkembangan Kabupaten Kapuas dimekarkan menjadi tiga Kabupaten, yaitu Kabupaten Kapuas sebagai Kabupaten induk dengan Ibukota Kuala Kapuas, Kabupaten Pulang Pisang Pisau dengan Ibukota Pulang Pisau dan Kabupaten Gunung Mas Ibukota Kurun.

Kota Kuala Kapuas berdiri sejak tahun 1806 , namun Pemerintahan Kabupaten Kapuas berdiri sejak tahun 1951. Kemudian sejak tahun 2002 Kabupaten Kapuas mengalami pemekaran menjadi 3 (tiga) kabupaten yakni Kabupaten Kapuas , Kabupaten Pulang Pisau dan Kabupaten Gunung Mas (saat ini masuk wilayah hukum PN. Palangkaraya).

SEJARAH KOTA KUALA KAPUAS


Kota ini dibangun jauh sebelum adanya Ibukota Kalimantan Tengah Palangka Raya, Kabupaten Kapuas adalah salah satu dari Kabupaten otonom eks Daerah Dayak Besar dan Swapraja Kotawaringin yang termasuk dalam wilayah Keresidenan Kalimantan Selatan. Suku Dayak Ngaju merupakan penduduk asli Kabupaten Kapuas.

Suku ini terdiri dari 2 (dua) sub suku yaitu Suku Olah Kapuas-Kahayan dan Olah Otdaman, bermukim disebelah kanan kiri sungai Kapuas dan Sungai Kahayan. Olah Kapuas-Kahayan bermukim disamping kanan kiri Sungai  Kapuas dan Sungai Kahayan antara Hilir sampai tengah sungai, sedangkan Olah Otdaman bagian hulu dari kedua sungai tersebut.

Kabupaten Kapuas dengan Ibukota Kuala Kapuas adalah Daerah otonom sebagaimana dimaksud dalam UU nomor 27/1959 tentang pembentukan Daerah Tingkat II Kalimantan Tengah. Berdasarkan Undang-Undang nomor 5 tahun 2002 tentang Pembentukan Kabupaten Katingan, Kabupaten Seruyan, Kabupaten Sukamara, Kabupaten Lamandau, Kabupaten Gunung Mas, Kabupaten Pulang Pisau, Kabupaten Murung Raya dan Kabupaten Barito Timur, Kabupaten Kapuas dimekarkan menjadi 3 (tiga) Kabupaten yaitu Kabupaten Kapuas dengan ibukota Kuala Kapuas sebagai Kabupaten induk terdiri dari 12 kecamatan, Kabupaten Pulang Pisau dengan Ibukota Pulang Pisau terdiri atas 6 Kecamatan dan Kabupaten Gunung Mas dengan Ibukota Kuala Kurun dengan 6 Kecamatan. Setelah adanya perubahan ini luas wilayah Kabupaten Kapuas adalah 14.999 km2.

Sebelum abad ke XIV daerah Kapuas belum mengenal pendatang atau penjajahan atas wilayah tersebut. Alat lulu lintas untuk menghubungkan daerah-daerah atau tempat-tempat lainnya adalah perahu berlayar. Dalam tahun 1350 Kerajaan Hindu memasuki daerah Kotawaringin, tapi pada tahun 1365 dapat disingkirkan oleh kerajaan Majapahit dan mengangkat wakil-wakil kerajaan disana atau Kepala-kepala suku sebagai Menteri Kerajaan tersebut. Agama Islam mulai berkembang mulai tahun 1620 di Kotawaringin pada waktu pantai Kalimantan bagian Selatan dikuasai oleh Kerajaan Demak

Dalam tahun 1679 kerajaan Banjar mendirikan Kerajaan Kotawaringin yang meliputi daerah pantai Kalimantan tengah yaitu Sampit, Mendawai dan Pembuang dan daerah lainnya tetap bebas dibawah pimpinan kepala-kepala suku dan ada yang menarik diri ke pedalaman. Perang di Pematang Sawang Pulau Kupang / Kota Bataguh dekat dengan Kuala Kapuas semasa dalam pemerintahan Puteri Udang (wanita) dengan pahlawan-pahlawan / panglima-panglima antara lain bernama Tambun Bungai, Andin Sindai, Tawala Rawa Raca , dll ( nama Pahlawan Tambun Bungai menjadi lambang Kodam XI Tambun Bungai).

Dengan suatu perjanjian antara VOC dan Sultan Banjar pada tahun 1787, hamper seluruh wilayah Kalimantan Tengah dikuasai oleh VOC. Dalam tahun 1917 Pemerintah penjajah mulai mengangkat petugas-petugas Pemerintahnya dari penduduk daerah dibawah pengawasan pejabat-pejabat penjajah sendiri.

Sejak abad ke XIX petugas-petugas penjajahan mulai mengadakan expedisi kedaerah pedalaman untuk memperkuat kedudukan mereka. Tetapi penduduk selalu memberikan perlawanan hingga abad ke XX. Perlawanan rakyat secara frontal berakhir pada tahun 1905, setelah terbunuhnya Sultan Muhammad Seman di Sei Menawing (sekarang Kabupaten Murung Raya) dan dimakamkan di Puruk Cahu.

Agama Kristen Protestan mulai memasuki daerah ini pada tahun 1835 yang menuju pedalaman. Hingga saat proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 penjajah Belanda tak dapat menguasai seluruh wilayah dan pelosok daerah karena banyak putera-putera daerah yang menerjunkan diri dalam pergerakan-pergerakan Nasional dengan semangat yang meluap-luap didaerah ini.

Pertempuran terakhir Pemerintah Belanda dengan suku Daya Punan yaitu Oot Marikit pada bulan Agustus tahun 1935 dengan perdamaian di Kota Sampit, antara Ot Marikit dengan menantunya Panganen (Panganon) kepada Pemerintah Belanda.

Orang Dayak di Kapuas seperti orang Ngaju, Ot-Danum sudah lama berhubungan dengan orang luar seperti Melayu, Jawa, Bugis, Cina, Arab dan Eropah. Walaupun demikian sebelumnya berkembang system pendidikan sekolah, penduduk Kapuas masih berkembang dalam alam lingkungannya sendiri terutama dimasa penjajahan Belanda dan Jepang.

Beberapa pemuda Dayak Kapuas yang telah mendapat pendidikan modern dengan penuh edialisme berusaha untuk memajukan suku bangsanya antara lain mendirikan organisasi seperti “ Serikat Dayak “ dalam tahun 1919 dan “ Koperasi Dayak “. Dalam tahun 1928 kedua organisasi tadi diteruskan menjadi “Pakat Dayak” yang bergerak dalam lapangan social, ekonomi dan juga politik dalam pimpinan tokoh-tokoh dayak antara lain : Hausman Babu, Anton Samat, Loei Kamis dan diteruskan oleh tokoh Mahir Mahar, C. Luran, H.Nyangkal, Oto Ibrahim, Philips Sinar, E.S. Handuran, Amir Hassan, Christian Nyunting, Cilik Riwut,dll.

Setelah kemerdekaan, orang dayak berhasrat agar Kalimantan Tengah menjadi Propinsi sendiri lepas dari Kalimantan Selatan. Hasrat itu diperjuangkan oleh organisasi “Penyalur Hasrat Rakyat Kalimantan tengah” ketuanya Bapa Moris Ismail atau terkenal dipanggil Bapa Hawon dan perjuangan mereka berhasil dengan terbentuknya Propinsi Kalimantan tengah pada tanggal 23 Mei 1957.

Pembentukan Propinsi Kalimantan tengah tidak berjalan lancer dan mula-mula hasrat orang dayak di Kalimantan Tengah kurang dihiraukan oleh Pemerintah Pusat. Demikian mereka terpaksa mempergunakan kekerasan juga untuk mendesak kemauan mereka. Perkumpulan rahasia bernama “Gerakan Mandau Telawang Pancasila” (GMTPS) yang bersifat amat militant pernah melaksanakan suatu serangan bersenjata terhadap beberapa pos pemerintahan antara lain di Buntok, Pahandut, Kuala Kuayan dan Kuala Kapuas dalam Pimpinan Ch.Simbar (Uria Mapas), W.Embang, Sahari Andung, Hartman Assan, F.J Tuweh, Muller Antang,dll. Antara lain tokoh PNI di Kalimantan Tengah yaitu Bapa Brono Sandan yang terkenal dengan Bapa Popo.

Sejak itu orang Kalimantan Tengah mulai membangun daerahnya yang sebagian besar masih berupa hutan rimba. Didekat desa Pahandut ditepi sungai Kahayan dijadikan tempat untuk membangun Ibukota Palangka Raya. Dibangun suatu jalan sepanjang 40 km yang menghubungkan Palangka Raya dengan Tengkiling, sedangkan pembangunan prasarana lain berupa pembuatan lapangan-lapangan terbang di Palangka Raya dan Pangkalan Bun, serta pembuatan tempat-tempat pendaratan diair dan tempat-tempat berlabuh untuk pesawat terbang seperti Catalina,dll misalnya di Sampit, Muara Teweh, Kasongan, Kuala Kapuas dan Kuala Kurun. Juga mulai digali terusan-terusan yang menghubungan satu sungai besar dengan lainnya seperti terusan Basarang diberi nama Terusan Milono mengambil nama Gubernur Kalimantan yang ketiga. Kecuali irigasi yang akan mengairi sawah-sawah bagi transmigran-transmigran dari Jawa dan Bali yang akan dating didaerah itu.

Kekayaan Kalimantan tengah tidak terutama terletak pada tanah yang subur dan tanah yang cocok untuk mengembangkan pertanian yang berarti, tetapi kekayaan Kalimantan terletak dalam kekayaan isi buminya yang mengandung minyak bumi, emas, batu bara, tembaga, kecubung dan intan. Sedang hutan rimbanya juga mengandung kekayaan-kekayaan yang dapat dieksploitasi yang menghasilkan kayu Meranti, Agathis, Ramin , dll yang diekspor keluar negeri.

Sayang bahwa usaha-usaha pembangunan tidak selalu berjalan lancer. Hal ini rupa-rupanya tidak terletak kepada sifat kurang kemampuan dan sikap mental dari orang dayak tetapi merupakan suatu akibat dari kemacetan menyeluruh yang dialami oleh Negara kita pada tahun-tahun terakhir ini.

Kalimantan Tengah adalah salah satu dari Propinsi-Propinsi Republik Indonesi yang terletak di Pulau Kalimantan Indonesia yaitu Propinsi ke 17. Penduduknya berdiam di Desa-desa sepanjang sungai besar dan kecil. Pulau Kalimantan adalah pulau terbesar ketiga setelah Pulau Tanah Hijau (Green Land) dan Pulau Irian. Sebagai akibat kolonialisme Barat, Pulau ini kini terpecah menjadi 3 wilayah dari 3 negara yaitu bekas jajahan Inggris di Utara menjadi wilayah Negara Malaysia dan Kesultanan Brunai, sedangkan bekas jajahan Belanda di Selatan menjadi wilayah Republik Indonesia dan terbagi menjadi 4 Propinsi yaitu Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur dan Kalimantan Barat.

Penduduk Kapuas selain orang dayak yang merupakan penduduk asli daerah itu adapula keturunan orang-orang pendatang. Mereka ini dalah orang-orang banjar, Bugis, Madura, Makasar, Melayu, Jawa, Cina, Arab, dll.

Yang menjadi pokok pembicaraan dalam tulisan ini adalah penduduk “asli” yang terdiri dari orang dayak. Dari demikian banyak orang dayak di Kapuas akan dijelaskan kebudayaan  dari 3 (tiga) suku bangsa saja yaitu Ngaju , Ot-Danum dan Ma’anyan..

Tempat tinggal suku dayak Ngaju adalah sepanjang sungai-sungai besar  di Kalimantan Tengah seperti Kapuas, Kahayan, Rungan, Manuhing, Barito dan Katingan. Sedangkan tempat kediaman orang Ot-Danum adalah selain sepanjang hulu sungai-sungai besar seperti Kahayan, Rungan, Barito dan Kapuas juga di hulu sungai-sungai dari Kalimantan Barat seperti sungai Melawi (anak sungai Kapuas besar pedalaman Kalimantan Barat) dan Hulu sungai-sungai Mahakam sekitar Long Pahangei kepedalamannya.

Suku-suku Dayak Ngaju dan Ot-Danum yang ditulis ini hanyalah mereka yang berdiam di Sungai-sungai Kapuas dan Kahayan. Secara administrative kenegaraan, kediaman mereka ini termasuk bagian dari Kabupaten Kapuas. Didaerah aliran sungai Kahayan suku Dayak Ngaju berdiam disebelah hilir, sedangkan Ot-Danum disebelah hulu. Batas kediaman orang Ngaju dihulu Kahayan hanya sampai di Tumbang Miri saja sebagai desanya yang terakhir, sedangkan dihilir terus turun sampai dimuara sungai Kahayan. Letak kediaman orang Ot-Danum adalah di Hulu Kahayan yaitu di daerah Utara Tumbang Miri dan di hulu sungai Katingan, Hulu sungai Samba, hulu sungai Kapuas dan sebagian hulu sungai Seruyan( Pembuang) di Sungai Kale (desa Tumbang Sabetung).

 Jika desa-desa Ot-Danum pada umumnya merupakan daerah tersendiri/khas dari orang Ot-Danum, maka suku dayak ma’anyan tersebar diberbagai bagian dari Kabupaten Barito Selatan yaitu ditepi Timur Sungai Barito terutama diantara anak-anak sungai seperti Patai, telang, Karau dan Ayuh.

Di timur suku Ma’anyan bersentuhan dengan suku banjar dari daerah hulu sungai dari Propinsi Kalimantan Selatan, dibarat berbatasan  dengan suku-suku dayak bakumpai dan orang banjar dari daerah hulu sungai Barito, di Selatan dibatasi tanah paya-paya di selatan sungai Patai, dan di utara sampai ke sungai Ayu disebelah Utara Buntok (Ibukota Kabupaten Barito Selatan).

No comments:

Post a Comment

Berkomentarlah Dengan baik dan sopan agar tidak terjadi hal-hal yang membuat orang lain gagal paham

Subscribe Our Newsletter

Notifications

Disqus Logo