Thursday, October 5, 2017

TRAGEDI Pembantaian G-30 S PKI Plosoklaten KEDIRI

loading...
loading...
Setelah pembersihan Pki oleh TNI AD di wilayah Jakarta, Jawa Tengah, Madiun, Ponorogo, Malang dan Tulung Agung. Pimpinan daerah Partai Komunis Indonesia (PKI) yang lolos dari kejaran Tentara AD, mereka melarikan diri ke KEDIRI dan membuat markas di Plosoklaten. Mereka menguasai Hampir Seluruh Kecamatan Plosoklaten dan membawa pengaruh kuat terhadap masyarakat.

TRAGEDI PLOSOKLATEN



Sebelum terjadi Pembantaian besar-besaran di Kediri, khususnya di wilayah Plosoklaten terdapat Tragedi mengerikan yang membuat masyarakat dan Ansor Murka terhadap PKI dan memicu terjadinya Pembantaian terhadap PKI.

Pristiwa itu terjadi kepada 2 Orang Pemuda, yang satu bernama JAINUDIN pemuda dari Dusun Dermo, desa Pranggang dan yang kedua bernama MURSYID Pemuda Santri asal Dusun Mloko, desa Jarak.

1- PEMBUNUHAN JAINUDIN (Pemuda Dermo)

Tragedi berdarah ini terjadi saat Jainudin sedang mengairi sawahnya di sebelah barat pasar Dermo, kemudian datanglah segrembolan anggota pki dari Spawon yang sedang berpatroli untuk membunuh santri-santri dan para Kyai di wilayah Plosoklaten. Setelah Jainudin mengetahui datangnya dan mengetahui tujuanya pki itu lantas dia lari ke sungai, namun karena anggota pki cukup banyak di sungai itu Jainudin dipergoki anggota pki lainya. Kemudian dia menghindar lagi ke arah Masjid untuk mencari perlindungan.

Setelah sembunyi di Masjid, anggota pki terus mencarinya hingga akhirnya Jainudin tertangkap di dalam Masjid itu. Sebelum dibunuh Jainudin disiksa oleh pki, menjelang kematiannya anggota pki tanpa ampun memotong-motong tubuhnya, antara kepala, kaki, tangan, paha dan perut. Lalu potongan manusia ini di buang terpisah di tempat yang berbeda.

2- PEMBUNUHAN MURSYID (Santri Ponpes Ringen Agung)

Pada hari yang sama setelah pembunuhan Jainudin asal Dermo desa Pranggang, anggota pki belum merasa puas. Hingga suatu ketika Mursyid seorang santri asal dusun Mloko desa Jarak sedang dalam perjalanan pulang dari Pondok untuk keperluan salah satu anggota kluarganya yang akan melaksanakan pernikahan.

Setelah sampai di wilayah Dermo, Mursyid dihadang segrombolan pki. Anggota pki itu mengetahui kalau MURSYID adalah seorang Santri, tanpa ampun pki itu menangkap Mursyid dan menganiayanya. Setelah itu Mursyid juga dibunuh dan dipotong-potong tubuhnya, kemudian dibuang dengan terpisah.

Tragedi pembunuhan 2 Pemuda ini, merupakan pemicu Utama masyarakat ANSOR Wilayah Plosoklaten seperti desa Pranggang, Punjul, Jarak dan Mipitan Murka pada PKI karena kejadian Biadab tersebut.

Selang beberapa hari seluruh anggota Pemuda Ansor Plosoklaten dan wilayah Kediri berkumpul jadi satu untuk menyerbu markas PKI yang keseluruhan pelarian dari Jakarta, Madiun, Ponorogo dan sebagian dari Jawa Tengah yang telah menguasai wilayah Desa Petong Ombo dan Spawon.

Sebelum menyerbu Markas PKI Spawon dan Petong Ombo, Pimpinan ANSOR Plosoklaten meminta bantuan BANSER dari Tebu Ireng, anggota TNI Kodim 521 Kediri dan Pasukan Khusus (Pagar Nusa) dari Pondok Lirboyo. Kurang lebih total 700 anggota BANSER dan ANSOR, barisan belakang yaitu anggota TNI sekitar 2300.

Pada Tanggal 22 Oktober 1965, Gabungan pasukan ANSOR, BANSER dan TNI AD 521 KEDIRI menyerbu ke Spawon dan Petong Ombo, Basis PKI yang telah dikuasainya.
Anggota PKI yang berada di wilayah tersebut berjumlah sekitar 25.000 lebih.

Tak sebanding dengan jumlah Pasukan TNI, ANSOR dan Banser, namun tak di duga hampir seluruh Anggota PKI yang berjumlah 25.000 lebih itu berhasil dibantai oleh ANSOR dan BANSER. Karena dibalik PERANG BERDARAH PKI PLOSOKLATEN, sebelum perang pasukan ANSOR dan BANSER telah digembleng terlebih dahulu oleh Tokoh-Tokoh Kyai dari Kediri dan Jombang.


Setelah Pristiwa Pembantaian besar-besaran di Plosoklaten Kediri, hampir seluruh Anggota PKI tewas dan dipihak ANSOR dan BANSER yang terbunuh satu orang yaitu bernama Muhammad Hamim Ansor dari desa Brenggolo. Yang sekarang telah dijadikan salah satu nama jalan di perdukuhan yang berada di Desa Brenggolo.

Banyak mayat-mayat tanpa kepala, potongan mayat tanpa tangan dan kaki yang tergletak di jalanan, dipersawahan, diperumahan dan diperkebunan. Khusus mayat PKI mereka dikubur dalam satu lubang yang berisi antara 20-50 orang.

Setelah pembantaian itu, Pada 27 Oktober 1965, pemerintah mengeluarkan seruan agar masing-masing ormas tidak saling membunuh dan melakukan aksi
kekerasan. Siapa saja yang melakukan penyerangan sepihak, akan diadili
sebagai penjahat.

Itulah Pristiwa Pembantaian PKI besar-besaran yang terjadi di Plosoklaten KEDIRI antara Pasukan Gabungan ANSOR dan Anggota PKI.

Wallohua'lam Bisshowab


SUMBER : (Mantan Anggota ANSOR Plosoklaten)