Tuesday, October 3, 2017

Sejarah Asal Usul Terbentuknya Persis Solo Dan Pasoepati

loading...
loading...
Persis Solo adalah salah satu klub sepak bola di Indonesia. Pendiriannya diadakan 8 November 1923 di Surakarta, Jawa Tengah, Indonesia oleh Sastrosaksono(tokoh dari Klub Mars serta R. Ng. Reksodiprojo dan Sutarman dari Klub Romeo, di bawah nama Vorstenlandsche Voetbal Bond (VVB).


Pada tahun 1928, di bawah kepemimpinan Soemokartiko, Vorstenlandsche Voetbal Bond resmi berganti nama menjadi Persatuan Sepak bola Indonesia Solo, disingkat Persis.

Saat ini Persis bermarkas di Stadion Manahan, Surakarta, yang memiliki kapasitas 35.000 penonton. Pendukung Persis dijuluki sebagai "Laskar Samber Nyawa". Persis memiliki suporter fanatik dan atraktif yang disebut Pasoepati (Pasukan Soeporter Solo Sejati).

Persis pernah meraih juara kompetisi perserikatan PSSI sebanyak 7 kali.
Persis kembali hadir di kancah sepak bola nasional sejak tahun 2006, setelah sebelumnya bertahun-tahun lamanya Persis mengendap di kompetisi amatir.

Musim kompetisi 2006/2007 menjadi puncak prestasi bagi Persis modern karena di musim itu Persis berhasil lolos promosi ke kompetisi liga kasta tertinggi Indonesia yakni level Divisi Utama.

Sayang, raihan positif itu tidak dibarengi dengan gelar juara Liga Divisi 1 karena Persis kalah dari Persebaya Surabaya di pertandingan final yang berlangsung di Stadion Brawijaya, Kediri.

MARKAS PERSIS SOLO


Persis Solo memiliki dua homebase stadion, yakni Stadion Sriwedari dan Stadion Internasional Manahan. Selama hampir sepanjang sejarah Persis hampir selalu menggunakan stadion Sriwedari sebagai homebase.

Pada pertengahan 2006 ketika Persis promosi ke divisi utama, mereka memindahkan homebase menuju stadion Manahan untuk mengakomodir antusiasme penonton yang semakin membesar seiring kesuksesan Persis kembali ke divisi utama. Melalui langkah tersebut, Persis Solo bisa membawa lebih banyak suporter untuk mendukung tim kesayangan mereka.

SEJARAH SUPORTER PASOEPATI


Pada hari Rabu, tanggal 9 Februari 2000, bertempat di Griya Reka yang berlokasi di jalan Kolonel Sugiyono 37 Solo, kelompok suporter Solo pun resmi didirikan. Nama Pasoepati yang berarti Pasukan Soeporter Pelita Sejati, menjadi nama yang dipilih untuk melabeli suporter Pelita Solo kala itu.

Berdirinya Pasoepati berarti mengikuti langkah kota Malang yang telah lebih dulu mempunyai kelompok suporter bernama Aremania. Respon masyarakat terhadap berdirinya kelompok suporter Pasoepati terbilang sangat luar biasa.

Selang beberapa hari setelah Pasoepati resmi berdiri, aksesoris suporter bertuliskan Pasoepati mulai terlihat dijual di sekitar kawasan komplek Gelora Manahan, Solo. Mulai dari kaos, bendera, syal maupun topi, ludes terjual dalam waktu singkat.

Mengenakan kaos merah bertuliskan PASOEPATI, seakan telah menjadi kebanggaan tersendiri bagi warga Solo ketika itu. Animo masyarakat dalam menyaksikan tim Pelita Solo bertanding di stadion Manahan pun semakin mengalami lonjakan. Terbukti, setiap laga Pelita Solo di stadion Manahan selalu dibanjiri oleh warga Solo yang berbondong-bondong untuk menyaksikan secara langsung tim Pelita bertanding. Setiap sudut tribun tidak menyisakan ruang kosong untuk sekedar meluruskan kaki, semua tampak penuh dengan penonton yang sudah resmi dinamai PASOEPATI.

Bahkan, lintasan lari di tepi lapangan yang seharusnya menjadi area steril pertandingan, terpaksa harus diisi oleh ribuan Pasoepati akibat tidak mendapatkan tempat duduk di atas tribun. Kibaran bendera-bendera merah bertuliskan PASOEPATI, menjadi pemandangan baru di dalam stadion Manahan ketika itu.

PASOEPATI telah berhasil menjadi alat pemersatu puluhan ribu warga Solo dan sekitarnya untuk bisa saling bersatu, saling bahu-membahu mendukung sebuah tim sepak bola yang bisa membuat bangga kota Solo.