Social Items

Showing posts with label kesaktian Arjuna. Show all posts
Showing posts with label kesaktian Arjuna. Show all posts
Tugas pengangkatan Prabu Salya sebagai Senapati perang telah selesai. Prabu Salya mohon ijin pada Raja Astina, untuk pulang ke Mandaraka, guna berpamitan kepada istri.


Sesampai di Istana Mandaraka, Prabu Salya merenungi perjalanan hidupnya dimasa lalu. Masa remaja Prabu Salya, yang waktu itu bernama Narasoma, adalah satriya berwajah tampan dan juga sakti. Narasoma berpamitan kepada ayahnya, Prabu Mandrapati, untuk mengikuti Sayembara memperebutkan Dewi Kunti puteri Prabu Basukunti, Raja Mandura.

Ayahnya merestui dan berangkatlah Narasoma ke Mandura.  Adiknya yang bernama Dewi Madrim, juga mengikuti kepergiannya.

Setelah beberapa lama perjalanan, tiba tiba saja ada angin besar yang menarik  tubuh Narasoma. Narasoma terbuncang angin dan jatuh  di depan sebuah pertapaan. Pertapaan Argabelah. Pertapaan Argabelah adalah sebuah Istana raja.

Semua adalah Kerajaan Argabelah, yang rajanya bernama Prabu Bagaspati. Karena Prabu Bagaspati merasa banyak salah dan dosa, maka kerajaannya dirobah menjadi pertapaan. Masih nampak bekas bangunan Istana yang sebagaian besar sudah rusak tidak terpelihara.

Begawan Bagaspati mencegat perjalanan Narasoma. Diajaknya Narasoma menuju pertapaannya. Ia pun berjalan kesana bersama Begawan Bagaspati. Sesampai di Pertapaan Argabelah,Narasoma diperkenalkan dengan anaknya, seorang puteri yang cantik jelita, bernama Dewi Pujawati.

Narasoma melihat Dewi Pujawati langsung jatuh cinta Tetapi didalam hati Narasoma malu memiliki calon mertua seorang raksasa.Disuatu saat keduanya sedang bercengkerama di taman Argabelah, Narasoma berkata, bahwa ia mencintai Dewi Pujawati, namun untuk memetik sekuntum mawar merah, Narasoma takut terkena durinya.Dewi Pujawati tidak mengerti apa maksud perkataan calon suaminya,

Pujawati mendapatkan ayahnya dan bertanya apa arti perkataan calon suaminya. Begawan Bagaspati, memaklumi apa yang diinginkan oleh Narasoma. Disuruhnya Pujawati memanggilkan Narasoma agar datang menghadap dirinya. Narasoma pun datang menghadap.

Begawan Bagaspati, memberitahu kepada Narasoma bahwa Bega wan Bagaspati akan menurunkan Ajian Candrabirawa kepada Narasoma.Dewi Pujawati oleh ayahnya, diminta  agar menjauh dari tempat itu, Karena Begawan Bagaspati akan   menurunkan Aji Candrabirawa pada Narasoma.

Setelah Narasoma menyiapkan diri nya untuk menerima Aji Candrabirawa,  keluarlah dari  tubuh Begawan Bagaspati  seorang raksasa besar sekali, dan berjalan mendekati Narasoma Melihat itu Narasoma menjadi ketakutan.Sang Begawan meminta Narasoma agar tenang.

Raksasa itu memasuki tubuh Narasoma, Setelah menerima Aji Candrabirawa Narasoma merasa bangga.Narasoma sekarang sudah memiliki Aji Candra birawa, yang kekuatannya melebihi kekuatan 1000 raksasa, suatu ajian yang amat dahsyat.

Tetapi Narasoma belum puas kalau hanya menerima  Aji Candrabirawa saja. Narasoma masih menginginkan sebuah permintaan lagi, yaitu ingin melenyapkan Begawan Bagaspati. Karena malu mempunyai seorang mertua yang berujud raksasa. Begawan Bagaspati berserah diri, ia membuka dadanya, agar Narasoma segera membunuhnya. Tetapi keris Narasoma tidak bisa melukai dada Begawan Bagaspati. Begawan Bagaspati berpesan kepada Narasoma, bahwa sebelum ia  mati,

Narasoma akan tetap  menyayangi  Pujawati. Karena Pujawati adalah anak satu satunya  yang ia miliki dan yang paling dicintainya.Meminta Narasoma jangan sampai menyia nyiakannya dan memberikan  perlindungan kepada Pujawati.Demi cinta pada Pujawati, Begawan Bagaspati merelakan kematiannya.

Begawan Bagaspati menyerahkan pedang pusaka kepada Narasoma, dan minta agar segera ditikamkan kedadanya. Narasoma menerima pedang itu dan ditikamnya Begawan Bagaspati. Tiba tiba tubuh Bagawan Bagaspati hilang dari pandangan, tetapi kemudian  terdengar suara Begawan Bagaspati, bahwa  apabila nanti ada perang besar, saat itulah Narasoma akan menemui kematiannya.

Seorang  berdarah putih, itulah yang sanggup mengantar kematian Narasoma. Setelah itu keadaan menjadi hening. Dewi Pujawati menyaksikan ayahnya dibunuh oleh Narasoma, namun Dewi Pujawati tetap mencintai suminya.

Narasoma, kemudian berpamitan kepada Dewi Pujawati, untuk mengikuti Sayembara memperebutkan dewi Kunti ke negeri Mandura.  Dikatakan  oleh Narasoma bahwa sejak keberangkatan dari Mandaraka, ia akan ke Manmdura, mengikuti Sayembara tersebut.Naun tidak tahu apa sebabnya, Narasoma kesasar masuk dalam Pertapaam Argabelah. Dewi Pujawati tidak keberatan, dipersilakannya suaminya untuk mengikuti Sayembara tersebut.

Sesampai di Mandura, sayembara baru usai. Pemenang sayembara adalah Pandu. Melihat Pandu yang menang, maka Narasoma meminta agar Pandu mau melayani tantangannya untuk meminta Dewi Kunti. Karena apabila Narasoma ikut dalam Sayembara, maka pastilah yang akan memenangkannya. Pandu tidak keberatan, Pandu meladeninya.

Terjadi perkelahian yang hebat. Narasoma mengeluarkan aji Candrabirawa. Melihat aji Candrabirawa, maka Pandu bersemadi memohon pertolongan dewa. agar selamat dalam melawan aji yang luar biasa. Satu raksasa, kalau di pukul menjdi ratusan raksasa. Dewa memberikan perlindungan. Ajian Cabnsdrawirawa bisa disirep. Narasolma merasa kalah. Narasoma simpati pada Pandu.

Narasoma menawarkan kepada Madrim, adiknya, apakah bersedia menjadi istri Pandu. Dewi Madrim sangat terpesona ketampanan Pandu, maka dengan senang hati ia mau menjadi istrinya. Maka diserahkannya adiknya,Dewi Madrim kepada Pandu. Narasoma berpaminta kepada adiknya pergi ke Argabelah, hendak memboyong Dewi Pujawati kembali ke Kerajaan Mandaraka. Karena kesetiaan Dewi Pujawati pada Narasoma, maka Narasoma memberi nama Setyawati pada Dewi Pujawati.

Setelah beberapa hari kemudian, mereka berdua boyongan kembali Ke Negeri Mandaraka. Kehadiran mereka disambut gembira oleh ayahandanya, Prabu Mandrapati. Narasoma dan Dewi Setyawati hidup berbahagia. Prabu Mandrapati menyerahkan kekuasaannya pada Narasoma.

Narasoma diangkat menjadi raja di Mandaraka dan bergelar Prabu Salya, Prabu Salyapati. Dari perkawinan Narasoma dan Dewi Setyawati, lahirlah putera puterinya Dewi Irawati, Dewi Surtikanti, Dewi Banowati, Burisrawa  dan Rukmarata. Dewi Irawati yang diperistri Prabu Baladewa, Dewi Surtikanti diperistri Adipati Karna, sedangkan Banowati adalah istri Prabu Suyudana.

Kini sudah terjadi perang besar, orang yang berdarah putih semula  ada tiga orang, Resi Subali, Begawan Bagaspati dan Puntadewa. Resi Subali dan Begawan Bagaspati sudah tiada, Sekarang hanya tinggal satu satunya,yaitu Puntadewa. Prabu Salya khawatir kalau sampai tidak bertemu dengan orang berdarah putih, apakah  dia tidak bisa mati. Bisa jadi umurnya seumur dunia.  Untuk itu Prabu Salya sudah siap mati. Prabu Salya juga lebih sayang dengan Pandawa.  Prabu Salya sudah bertekad mati untuk Pandawa.

Sementara itu Nakula dan Sadewa datang menghadap. Prabu Salya sangat bahagia melihat kedatangan kedua kemenakannya,  Kembar  menyangsikan keselamatan Prabu Salya dalam  perang Baratayu dha. Kembar menghendaki agar Prabu Salya tidak berperang. Prabu Salya, menjadi terharu merangkul Nakula dan Sadewa.

Prabu Salya menangisi nasib keluarga Mandaraka mengapa jadi terseret perang besar Barata Yudha. Akhirnya Prabu Salya berjanji tidak akan  membunuh siapapun dalam  Perang Barata Yudha besok pagi. Nakula dan Sadewa berpamitan, dan pulang ke perkemahan Pandawa, Prabu Salya masuk dalam sanggar pamujan. Selesai berdoa di sanggar pamujan,

Prabu Salya menghampiri istrinya di Keputrean Istana Mandaraka. Mereka berdua merasakan kasih sayang mendalam yang tak bisa terpisahkan. Didalam kesempatan ini, Prabu Salya meminta pamit mati. Ia tidak berperang, ia menjemput kematian, karena sudah  menjadi ketetapan Dewa , seperti apa yang dikatakan Rama Begawan Bagaspati, saat kematian Prabu Salya adalah dalam Perang Barata Yudha, Kematian itu akan diperoleh dari seorang satria suci berdarah putih yaitu Prabu Puntadewa (Yudistira).

Kesempatan itu adalah kesempatan baik, untuk ke surga bersama Begawan Bagaspati. Dewi Pujawati menyembunyikan kesedihannya. Ia selalu menghibur suaminya. Dimintanya  agar Prabu Salya hati hati dalam berperang, dan mengharap agar Prabu Salya  bisa kembali dengan selamat.

Keesokan harinya, di Tegal Kurusetra, sangkala telah dibunyikan, perajurit bersiap-siap utuk maju kemedan laga. Prabu Salya  berbaju putih-putih memasuki  Tegal Kurusetra dengan kereta perangnya.  Sedangkan Prajurit Kurawa yang mengikuti dibelakang kereta perang Prabu Salya menjadi bagian perajurit Pandawa untuk menggempurnya.

Pertempuran sengit antara perajurit terjadi. Sementara itu Kereta Perang Prabu Punta Dewa dengan sais Bathara Kresna memasuki medan perang dari garis pertahanan Pandawa. Disinilah kereta perang Prabu Salya dan kereta perang Prabu Puntadewa bertemu.

Prabu Puntadewa dan Prabu Salya langsung turun dari kereta masing-masing, Prabu Punta Dewa  mencium kaki Prabu Salya.  Prabu Salya jadi tersipu-sipu. Prabu Punta Dewa menghaturkan salam hormat dari keluarga Pandawa dan setelah itu Yudistira langsung membunuh Raja Salya.

Sejarah Kesaktian Raja Salya(Narasoma) dalam Perang Baratayudha

Raden Arjuna adalah putra ketiga dari pasangan Dewi Kunti dan Prabu Pandu atau sering disebut dengan ksatria Panengah Pandawa. Seperti yang lainnya, Arjuna pun sesungguhnya bukan putra Pandu, namun ia adalah putra dari Dewi Kunti dan Batara Indra. Dalam kehidupan orang jawa, Arjuna adalah perlambang manusia yang berilmu tingga namun ragu dalam bertindak. Hal ini nampak jelas sekali saat ia kehilangan semangat saat akan menghadapi saudara sepupu, dan guru-gurunya di medan Kurusetra. Keburukan dari Arjuna adalah sifat sombongnya. Karena merasa tangguh dan juga tampan, pada saat mudannya ia menjadi sedikit sombong.



Arjuna memiliki dasanama sebagai berikut: 
Herjuna, Jahnawi, Sang Jisnu, Permadi sebagai nama Arjuna saat muda, Pamade, Panduputra dan Pandusiwi karena merupakan putra dari Pandu, Kuntadi karena punya panah pusaka, Palguna karena pandai mengukur kekuatan lawan, Danajaya karena tidak mementingkan harta, Prabu Kariti saat bertahta menjadi raja di kayangan Tejamaya setelah berhasil membunuh Prabu Niwatakaca, Margana karena dapat terbang tanpa sayap, Parta yang berarti berbudi luhur dan sentosa, Parantapa karena tekun bertapa, Kuruprawira dan Kurusatama karena ia adalah pahlawan di dalam baratayuda, Mahabahu karena memiliki tubuh kecil tetapi kekuatannya besar, Danasmara karena tidak pernah menolak cinta manapun, Gudakesa, Kritin, Kaliti, Kumbawali, Kumbayali, Kumbang Ali-Ali, Kuntiputra, Kurusreta, Anaga, Barata, Baratasatama, Jlamprong yang berarti bulu merak adalah panggilan kesayangan Werkudara untuk Arjuna, Siwil karena berjari enam adalah panggilan dari Prabu Kresna, Suparta, Wibaksu, Tohjali, Pritasuta, Pritaputra, Indratanaya dan Indraputra karena merupakan putra dari Batara Indra, dan Ciptaning dan Mintaraga adalah nama yang digunakan saat bertapa di gunung Indrakila. Arjuna sendiri berarti putih atau bening.

Arjuna mempunyai banyak sekali istri,dari kisah lain ada 40 istri Arjuna.itu semua sebagai simbol penghargaan atas jasanya ataupun atas keuletannya yang selalu berguru kepada banyak pertapa.
Namun Berikut sebagian kecil istri dan keturunan nya :

-Dewi Subadra, berputra Raden Abimanyu
-Dewi Sulastri, berputra Raden Sumitra
-Dewi Larasati, berputra Raden Bratalaras
-Dewi Ulupi atau Palupi, berputra Bambang Irawan
-Dewi Jimambang, berputra Kumaladewa dan Kumalasakti
-Dewi Ratri, berputra Bambang Wijanarka
-Dewi Dresanala, berputra Raden Wisanggeni
-Dewi Wilutama, berputra Bambang Wilugangga
-Dewi Manuhara, berputra Endang Pregiwa dan Endang Pregiwati
-Dewi Supraba, berputra Raden Prabakusuma
-Dewi Antakawulan, berputra Bambang Antakadewa
-Dewi Juwitaningrat, berputra Bambang Sumbada
-Dewi Maheswara
-Dewi Retno Kasimpar
-Dewi Dyah Sarimaya
-Dewi Srikandi

Itulah beberapa istri dari Arjuna dan garis Keturunan nya.

Garis keturunan Arjuna dari beberapa Istrinya, Kisah Mahabharata


Arjuna adalah putra ketiga dari pasangan Dewi Kunti dan Prabu Pandu atau sering disebut dengan ksatria Panengah Pandawa. Seperti yang lainnya, Arjuna pun sesungguhnya bukan putra Pandu, namun ia adalah putra dari Dewi Kunti dan Batara Indra. Dalam kehidupan orang jawa, Arjuna adalah perlambang manusia yang berilmu tingga namun ragu dalam bertindak. Hal ini nampak jelas sekali saat ia kehilangan semangat saat akan menghadapi saudara sepupu, dan guru-gurunya di medan Kurusetra. Keburukan dari Arjuna adalah sifat sombongnya. Karena merasa tangguh dan juga tampan, pada saat mudannya ia menjadi sedikit sombong.

Arjuna memiliki beberapa nama sebagai berikut :

Herjuna
Jahnawi
Sang Jisnu
Permadi sebagai nama Arjuna saat muda, Pamade
Panduputra dan Pandusiwi karena merupakan putra dari Pandu, Kuntadi karena punya panah pusaka, Palguna karena pandai mengukur kekuatan lawan, Danajaya karena tidak mementingkan harta, Prabu Kariti saat bertahta menjadi raja di kayangan Tejamaya setelah berhasil membunuh Prabu Niwatakaca, Margana karena dapat terbang tanpa sayap, Parta yang berarti berbudi luhur dan sentosa, Parantapa karena tekun bertapa, Kuruprawira dan Kurusatama karena ia adalah pahlawan di dalam baratayuda, Mahabahu karena memiliki tubuh kecil tetapi kekuatannya besar, Danasmara karena tidak pernah menolak cinta manapun, Gudakesa, Kritin, Kaliti, Kumbawali, Kumbayali, Kumbang Ali-Ali, Kuntiputra, Kurusreta, Anaga, Barata, Baratasatama, Jlamprong yang berarti bulu merak adalah panggilan kesayangan Werkudara untuk Arjuna, Siwil karena berjari enam adalah panggilan dari Prabu Kresna, Suparta, Wibaksu, Tohjali, Pritasuta, Pritaputra, Indratanaya dan Indraputra karena merupakan putra dari Batara Indra, dan Ciptaning dan Mintaraga adalah nama yang digunakan saat bertapa di gunung Indrakila.
Arjuna sendiri berarti putih atau bening.

Kelahiran Arjuna

Pada saat lahir, sukma Arjuna yang berwujud cahaya yang keluar dari rahim ibunya dan naik ke kayangan Kawidaren tempat para bidadari. Semua bidadari yang ada jatuh cinta pada sukma Arjuna tersebut yang bernama Wiji Mulya. Kegemparan tersebut menimbulkan kemarahan para dewa yang lalu menyerangnya. Cahaya yang samar samar tersebut lalu berubah menjadi sesosok manusia tampan yang berpakaian sederhana.
Hilangnya sukma Arjuna dari tubuh Dewi Kunthi menyebabkan kesedihan bagi Prabu Pandu. Atas nasehat Semar, Pandu lalu naik ke kayangan dan meminta kembali putranya setelah diberi wejangan oleh Batara Guru.

Sejak muda, Arjuna sudah gemar menuntut ilmu. Ia menuntut ilmu pada siapapun. Menurutnya lingkungan masyarakat adalah gudang dari ilmu. Guru-gurunya antara lain adalah Resi Drona, dari Resi Dona ia mendapat senjata ampuh yang bernama panah Cundamanik dan Arya Sengkali, yang kedua adalah Begawan Krepa, Begawan Kesawasidi, Resi Padmanaba, dan banyak pertapa sakti lainnya. Dalam kisah Mahabarata, Arjuna berguru pada Ramaparasu, namun dalam kisah pewayangan, hal tersebut hampit tidak pernah disinggung.

Istri Arjuna

Dalam pewayangan diceritakan bahwa Arjuna memiliki lebih dari 40 orang istri namun hanya beberapa saja yang terkenal dan sering di singgung dalam pedalangan. Istri-istri Arjuna adalah sebagai berikut :
- Endang Jimambang berputra Bambang Kumaladewa dan Bambang Kumalasekti
- Dewi Palupi atau Dewi Ulupi berputra Bambang Irawan
- Dewi Wara Sumbadra berputra Raden Angkawijaya atau Raden Abimanyu.
- Dewi Srikandi tidak berputra
- Dewi Ratri berputra Bambang Wijanarka
- Dewi Dresnala berputra Bambang Wisanggeni
- Dewi Juwitaningrat berputra Bambang Senggoto yang beujud raksasa
- Endang Manuhara berputri Dewi Pregiwa dan Dewi Manuwati
- Dewi Banowati berputri Endang Pergiwati (diasuh oleh Endang Manuhara)
- Dewi Larasati berputra Bambang Sumitra dan Bambang Brantalaras
- Dewi Gandawati berputra Bambang Gandakusuma
- Endang Sabekti berputra Bambang Priyembada
- Dewi Antakawulan berputra Bambang Antakadewa
- Dewi Supraba berputra Bambang Prabakusuma
- Dewi Wilutama berputra Bambang Wilugangga
- Dewi Warsiki tidak diketahui putranya
- Dewi Surendra tidak diketahui putranya
- Dewi Gagarmayang tidak diketahui putranya
- Dewi Tunjungbiru tidak diketahui putranya
- Dewi Leng-Leng Mulat tidak diketahui putranya
- Dewi Citranggada berputra Bambang Babruwahana
- Dewi Lestari tidak berputra
- Dewi Larawangen tidak berputra
- Endang Retno Kasimpar tidak berputra
- Dewi Citrahoyi tidak berputra
- Dewi Manukhara tidak berputra

Banyaknya istri yang dimiliki Arjuna ini dalam cerita pewayangan bukanlah merupakan gambaran seseorang yang serakah istri atau mata keranjang, namun gambaran bahwa Arjuna dapat menerima dan diterima oleh semua golongan. Ketika muda, Arjuna pernah ingin memperistri Dewi Anggraini, istri Prabu Ekalaya atau juga sering disebut Prabu Palgunadi dari kerajaan Paranggelung. Saat itu Arjuna yang ingin memaksakan kehendaknya mengakibatkan Dewi Anggraini bunuh diri karena ia hanya setia pada suaminya. Prabu Ekalaya yang mengetahui hal itu menantang Arjuna, namun kehebatan Prabu Ekalaya ternyata lebih dari Arjuna. Arjuna lalu mengadu pada Drona. Ia beranggapan gurunya telah ingkar janji dengan pernah menyebutkan tidak akan pernah mengajari memanah kepada siapapun selain Arjuna. Resi Drona lalu pergi kepada Prabu Ekalaya. Prabu Ekalaya memang adalah penggemar dari Resi Drona, namun karena ia tak dapat berguru secara langsung, ia menciptakan arca Drona di istananya untuk diajak bicara dadn berlatih. Oleh Drona hal tersebut dianggap sebagai suatu hal terlarang dengan memasang arcanya di sana. Maka sebagai gantinya Resi Drona lalu meminta Cincin Mustika Ampal yang telah tertanam di ibu jari Prabu Ekalaya. Oleh drona jari tersebut lalu dipotong lalu di tempelkan pada jari Arjuna. Sejak itulah Arjuna memiliki enam jari pada tangan kanannya. Hal ini dalam bahasa Jawa disebut siwil. Saat bertemu dengan Arjuna lagi, Prabu Ekalaya kalah. Saat itu ia menyadari bahwa ia telah diperdaya, maka sebelum mati ia berkata akan membalas dendam pada Drona kelak dalam Perang Baratayuda.

Senjata dan Kesakitan yang dimiliki Arjuna

Arjuna memiliki banyak sekali senjata dan aji-aji.Senjata-senjata Arjuna antara lain adalah Panah Gendewa dari Batara Agni setelah ia membantu Batara Agni melawan Batar Indra dengan membakar Hutan Kandawa, Panah Pasopati dari Kirata, seorang pemburu jelmaan Batara Guru, sebelum Arjuna membunuh Niwatakaca, Mahkota Emas dan berlian dari Batara Indra, setelah ia mengalahkan Prabu Niwatakaca dan menjadi Raja para bidadari selama tujuh hari, keris Pulanggeni, keris Kalanadah yang berasal dari taring Batara Kala, Panah Sarotama, Panah Ardadali, Panah Cundamanik, Panah Brahmasirah, Panah Angenyastra, dan Arya Sengkali, keempatnya dari Resi Drona, Minyak Jayangketon dari Begawan Wilawuk, mertuanya, pusaka Mercujiwa, panah Brahmasirah, cambuk kyai Pamuk, panah Mergading dan banyak lagi. Selain itu aji-aji yang dimiliki Arjuna adalah sebagai berikut :

- Aji Panglimunan/Kemayan : dapat menghilang
- Aji Sepiangin : dapat berjalan tanpa jejak
- Aji Tunggengmaya : dapat mencipta sumber air
- Aji Mayabumi : dapat meperbesar wibawa dalam pertempuran
- Aji Mundri/Maundri/Pangatep-atep : dapat menambah berat tubuh
- Aji Pengasihan : menjadi dikasihi sesama
- Aji Asmaracipta : menambah kemampuan olah pikir
- Aji Asmaratantra : menambah kekuatan dalam perang
- Aji Asmarasedya : manambah keteguhan hati dalam perang
- Aji Asmaraturida : meanmbah kekuatan dalam olah rasa
- Aji Asmaragama : menambah kemampuan berolah asmara
- Aji Anima : dapat menjadi kecil hingga tak dapat dilihat
- Aji Lakuna : menjadi ringan dan dapat melayang
- Aji Prapki : sampai tujuan yang diinginkan dalam sekejap mata
- Aji Matima/Sempaliputri : dapat mengubah wujudnya.
- Aji Kamawersita : dapat perkasa dalam olah asmara

Arjuna pernah membantu Demang Sagotra rukun dengan istrinya saat ia mencari nasi bungkus untuk Nakula dan Sadewa setelah peristiwa Balesigala-gala. Konon hal ini yang membuat Demang Sagotra rela menjadi tawur kemenangan Pandawa kelak dalam Perang Baratayuda Jayabinangun.

Setelah Pandawa dihadiahi hutan Kandaprasta yang terkenal angker, Arjuna bertemu dengan Begawan Wilawuk yang sedang mencarikan pria yang diimpikan putrinya. Saat itu Begawan Wilawuk yang berujud raksasa membawa Arjuna dan menikahkannya dengan putrinya, Dewi Jimambang. Konon ini adalah istri pertama dari Arjuna. Dari mertuanya, ia mendapat warisan minyak Jayangketon yang berhasiat dapat melihat makhluk halus jika dioleskan di pelupuk mata. Minyak ini berjasa besar bagi para Pandawa yang saat itu berhadapan dengan Jin Yudistira dan saudara-saudaranya yang tak dapat dilihat mata biasa. Saat itu pulalah Arjuna dapat mengalahkan Jin Dananjaya dari wilayah Madukara. Jin Danajaya lalu merasuk dalam tubuh Arjuna. Selain mendapat nama Dananjaya, Arjuna juga memperoleh wilayah kesatrian di Madukara dengan Patih Suroto sebagai patihnya.

Arjuna dalam Pengasingan

Saat menjadi buangan selama 12 tahun di hutan setelah Puntadewa kalah dalam permainan dadu Arjuna pernah pergi untuk bertapa di gunung Indrakila dengan nama Begawan Mintaraga. Dia saat yang sama Prabu Niwatakaca dari kerajaan Manimantaka yang meminta Dewi Supraba yang akan dijadikan istrinya. Saat itu tak ada seorang dewapun yang dapat menandingi kehebatan Prabu Niwatakaca dan Patihnya Ditya Mamangmurka. Menurut para dewa, hanya Arjunalah yang sanggup menaklukan raja raksasa tersebut. Batara Indra lalu mengirim tujuh bidadari untuk memberhentikan tapa dari Begawan Mintaraga. Ketujuh bidadari tersebut adalah Dewi Supraba sendiri, Dewi Wilutama, Dewi Leng-leng Mulat, Dewi Tunjungbiru, Dewi Warsiki, Dewi Gagarmayang dan Dewi Surendra.

Tetapi ketujuh bidadari tersebut tetap saja tidak berhasil menggerakkan sang pertapa dari tempat duduknya. Setelah ketujuh bidadari tersebut kembali ke kayangan dan melaporkan kegagalannya, tiba-tiba munculah seorang raksasa besar yang mengobrak-abrik gunung Indrakila. Oleh Ciptaning, Buta tersebut di sumpah menjadi seekor babi hutan. Lalu babi hutan tersebut dipanahnya. Disaat yang bersamaan panah seorang pemburu yang bernama Keratapura. Setelah melalui perdebatan panjang dan perkelahian, ternyata Arjuna kalah. Arjuna lalu sadar bahwa yang dihadapinya tersebut adalah Sang Hyang Siwa atau Batara Guru. Ia lalu menyembah Batara Guru. Oleh Bataar Guru Arjuna diberi panah Pasopati dan diminta mengalahkan Prabu Niwatakaca. Ternyata mengalahkan Prabu Niwatakaca tidak semudah yang dibayangkan. Arjuna lalu meminta bantuan Batari Supraba. Dengan datangnya Dewi Supraba ke tempat kediaman Prabu Niwatakaca, membuat sang Prabu sangat senang karena ia memang telah keseng-sem dengan sang dewi. Prabu Niwatakaca yang telah lupa daratan tersebut menjawab semua pertanyaan Dewi Supraba, sedang Arjuna bersembunyi di dalam gelungnya. Pertanyaan tersebut diantaranya adalah dimana letak kelemahan Prabu Niwatakaca, sang Prabu dengan tenang menjawab, kelemahannya ada di lidah. Seketika itu Arjuna muncul dan melawan Prabu Niwatakaca. Karena merasa di permainkan, Prabu Niwatakaca membanting Arjuna dan mengamuk sejadi-jadinya. Saat itu Arjuna hanya berpura-pura mati. Ketika Niwatakaca tertawa dan sesumbar akan kekuatannya, Arjuna lalu melepaskan panah Pasopatinya tepat kedalam mulut sang prabu dan tewaslah Niwatakaca.

Naik ke Kahyangan

Arjuna lalu diangkat menjadi raja di kayangan Tejamaya, tempat para bidadari selama tujuh hari (satu bulan di kayangan = satu hari di dunia). Arjuna juga boleh memilih 40 orang bidadari untuk menjadi istrinya dimana ketujuh bidadari yang menggodanya juga termasuk dalam ke-40 bidadari tersebut dan juga Dewi Dresnala, Putri Batara Brahma. Selain itu Arjuna juga mendapat mahkota emas berlian dari Batara Indra, panah Ardadali dari Batara Kuwera, dan banyak lagi. Arjuna juga diberi kesempatan untuk mengajukan suatu permintaan. Permintaan Arjuna tersebut adalah agar Pandawa jaya dalam perang Baratayuda. Hal ini menimbulkan kritik keras dari Semar yang merupakan pamong Arjuna yang menganggap Arjuna kurang bijaksana. Menurut Semar, Arjuna seharusnya tidak egois dengan memikirkan diri sendiri dan tidak memikirkan keturunan Pandawa lainnya. Dan memang benar, kesemua Putra Pandawa yang terlibat dalam Perang Baratayuda tewas.

Di saat Arjuna sedang duduk-duduk tiba-tiba datanglah Dewi Uruwasi. Dewi Uruwasi yang telah jatuh cinta terhadap Arjuna meminta dijadikan istrinya. Arjuna menolak secara halus, namun Dewi Uruwasi yang sudah buta karena cinta tetap mendesak. Karena Arjuan tetap menolak, Dewi Uruwasi mengutuknya akan menjadi banci kelak. Arjuna yang sedih dengan kutukan tersebut dihibur Batara Indra. Menurut Batara Indra hal tersebut akan berguna kelak dan tak perlu disesali.Setelah kembali dari Kayangan, Arjuna dan saudara-saudaranya harus menyamar di negri Wirata. Dan disinilah kutukan Dewi Uruwasi berguna. Arjuna lalu menjadi guru tari dan kesenian, dan menjadi banci yang bernama Kendri Wrehatnala. Di akhir penyamarannya, Arjuna kembali menjadi seorang ksatria dan mengusir para kurawa yang ingin mnghancurkan kerajaan Wirata. Arjuna lalu akan dikawinkan dengan Dewi Utari namun Arjuna meminta agar Dewi Utari dikawinkan dengan putranya yaitu Raden Abimanyu.

Kendati Arjuna adalah seorang berbudi luhur namun ia tetap tidak dapat luput dari kesalahan. Hal ini menyangkut hal pilih kasih. Saat putranya Bambang Sumitra akan menikah dengan Dewi Asmarawati, Arjuna terlihat acuh tak acuh. Oleh Semar, lalu acara tersebut diambil alih sehingga pesta tersebut berlangsung dengan sangat meriah dengan mengadirkan dewa-dewa dan dewi-dewi dari kayangan. Arjuna kemudian sadar akan kekhilafannya dalam hal pilih-pilih kasih. Suatu pelajaran yang dapat dipetik disini adalah sebagai orang tua hendaknya tidak memilih-milih kasih pada anak-anaknya.

Peran Arjuna dalam Perang Baratayudha

Dalam perang Baratayuda Arjuna menjadi senopati Agung Pandawa yang berhasil membunuh banyak satriya Kurawa dan juga senotapi-senopati lainnya. Yang tewas di tangan Arjuna antara lain Raden Jayadrata yang telah membunuh putra kesayangannya yaitu Abimanyu, Prabu Bogadenta, Raden Citraksa, Raden Citraksi, Raden Burisrawa, dan Adipati Karna.

Masih dalam Baratayuda, Arjuna yang baru saja kehilangan putra kesayangannya menjadi kehilangan semangat, ditambah lagi guru dan saudara-saudaranya satu-persatu gugur di medan Kurusetra. Prabu Kresna lalu memberi nasihat bahwa dalam perang itu tidak ada kawan-lawan, kakak-adik ataupun guru-murid semuanya adalah takdir dan harus dijalani. Ajaran ini dikenal dengan nama Bagawat Gita. Yang membuat semangat ksatria penengah pandawa tersebut kembali menyala saat akan berhadapan dengan Adipati Karna, saudara tua seibu.

Setelah Perang Baratayuda berakhir, Dewi Banowati yang memang telah lama berselingkuh dengan Arjuna kemudian diperistrinya. Sebelumnya Arjuna telah memiliki seorang putri dari Dewi Banowati. Di saat yang sama Prabu Duryudana yang mulai curiga dengan hubungan istrinya dan Arjuna lalu berkata bahwa jika yang lahir bayi perempuan, itu adalah putri dari Arjuna dan Banowati akan diusir tetapi jika itu laki-laki maka itu adalah putranya. Saat bayi tersebut lahir ternyata adalah seorang perempuan. Banowati sangat panik akan hal itu. Namun atas pertolongan Kresna, bayi tersebut ditukar sebelum Prabu Duryudana melihatnya. Bayi perempuan yang lalu diasuh oleh Dewi Manuhara, istri Arjuna yang lain kemudian di beri nama Endang Pergiwati. Karena kelahirannya hampir sama dengan putri Dewi Manuhara yang bernama Endang Pergiwa, lalu keduanya di aku kembar. Sedang untuk putra dari Dewi Banowati dan Prabu Duryudana, Prabu Kresna mengambil seorang anak gandrawa dan diberi nama Lesmana Mandrakumara. Karena ia adalah anak gandrawa yang dipuja menjadi manusia, maka Lesmana Mandrakumara memiliki perwatakan yang cengeng dan agak tolol. Malang bagi Dewi Banowati, pada malam ia sedang mengasuh Parikesit, ia dibunuh oleh Aswatama yang bersekongkol dengan Kartamarma dan Resi Krepa untuk membunuh Parikesit yang masih Bayi. Dihari yang sama Dewi Srikandi, dan Pancawala juga dibunuh saat sedang tidur. Untunglah bayi parikesit yang menangis lalu menendang senjata Pasopati yang di taruh Arjuna di dekatnya dan membunuh Aswatama.

Arjuna yang sedang sedih karena Banowati telah dibunuh bersama Dewi Srikandi lalu mencari seorang putri yang mirip dengan Dewi Banowati. Putri tersebut adalah Dewi Citrahoyi, istri Prabu Arjunapati yang juga murid dari prabu Kresna. Prabu Kresna yang tanggap akan hal itu lalu meminta Prabu Arjunapati menyerahkan istrinya pada Arjuna. Prabu Arjunapati yang tersinggung akan hal itu menantang Prabu Kresna berperang dan dalam pertempuran itu Prabu Arjunapati gugur sampyuh dengan Patih Udawa dan Dewi Citrahoyi lalu menjadi istri Arjuna.

Setelah penguburan para pahlawan yang gugur dalam perang Baratayuda dan pengangkatan Prabu Puntadewa menjadi raja Astina dengan gelar Prabu Kalimataya, Arjuna melaksanakan amanat kakaknya dengan mengadakan Sesaji Korban Kuda atau disebut Sesaji Aswameda. Arjuna yang diiringi sepasukan tentara Astina lalu mengikuti seekor kuda kemanapun kuda itu berjalan dan kerajaan-kerajaan yang dilewati kuda tersebut harus tunduk pada Astina, jika tidak Arjuna dan pasukannya akan menyerang kerajaan tersebut. Semua kerajaan yang dilewati kuda tersebut ternyata dapat dikalahkan. Arjuna lalu kembali ke Astina dan akhir hidupnya diceritakan mati moksa dengan keempat saudaranya dan Dewi Drupadi.

Demikian penjelasan tentang Kisah Arjuna,jika bermanfaat silahkan Share dan komentar.

Sejarah Asal Usul Arjuna Pandawa Lima dari Lahir sampai Moksa