Social Items

Gunung Krakatau dulunya merupakan kepulauan berupa pegunungan vulkanik aktif yang berada di selat sunda, antara pulau sumatera dan pulau jawa. Gunung Krakatau sudah ada sejak zaman purba dan pernah terjadi letusan. 


Berdasarkan situs wikipedia, catatan mengenai letusan Krakatau Purba yang diambil dari sebuah teks Jawa Kuno yang berjudul Pustaka Raja Parwa yang diperkirakan berasal dari tahun 416 Masehi. Isinya antara lain menyatakan:

” Ada suara guntur yang menggelegar berasal dari Gunung Batuwara. Ada pula goncangan bumi yang menakutkan, kegelapan total, petir dan kilat. 

Kemudian datanglah badai angin dan hujan yang mengerikan dan seluruh badai menggelapkan seluruh dunia. Sebuah banjir besar datang dari Gunung Batuwara dan mengalir ke timur menuju Gunung Kamula…. Ketika air menenggelamkannya, pulau Jawa terpisah menjadi dua, menciptakan pulau Sumatera “

Berdasarkan catatan teks jawa kuno tersebut, ketinggian krakatau purba diperkiraan setinggi 2000 m. Wikipedia pun mencatat bahwa letusan krakatau purba ini juga dianggap turut andil atas berakhirnya masa kejayaan Persia purba, transmutasi Kerajaan Romawi ke Kerajaan Byzantium, berakhirnya peradaban Arabia Selatan, punahnya kota besar Maya, Tikal dan jatuhnya peradaban Nazca di Amerika Selatan yang penuh teka-teki. 

Ledakan Krakatau Purba diperkirakan berlangsung selama 10 hari dengan perkiraan kecepatan muntahan massa mencapai 1 juta ton per detik. Ledakan tersebut telah membentuk perisai atmosfer setebal 20-150 meter, menurunkan temperatur sebesar 5-10 derajat selama 10-20 tahun.

Letusan gunung krakatau purba yang terjadi pada ratusan ribu tahun lalu tersebut, menghancurkan dan menenggelamkan 2/3 bagian krakatau purba. Akibat letusan tersebut, menyisakan 3 pulau, yaitu Pulau Rakata, Pulang Panjang, dan Pulau Sertung. Pertumbuhan lava yang terjadi didalam kaldera rakata membentuk 2 pulau vulkanik baru, yaitu Danan dan Perbuatan.

Pada tanggal 27 Agustus 1883, terjadi letusan mahadahsyat (skala VEI/Volcano Eruption Index = 6.0) yang menghancurkan 60% tubuh krakatau di bagian tengah sehingga terbentuk lubang kaldera sepanjang 7 km dan menyisakan 3 pulau kecil, yaitu Pulau Rakata, Pulau Sertung, dan Pulau Panjang. Letusan krakatau tersebut dapat terdengar hingga 4600 km. 

Ledakan Krakatau telah melemparkan batu-batu apung dan abu vulkanik dengan volume 18 kilometer kubik. Semburan debu vulkanisnya mencapai 80 km. Benda-benda keras yang berhamburan ke udara itu jatuh di dataran pulau Jawa dan Sumatera bahkan sampai ke Sri Lanka, India, Pakistan, Australia dan Selandia Baru. 

Dampak dari letusan gunung krakatau adalah tercatat jumlah korban yang tewas mencapai 36.417 orang dan menimbulkan tsunami. Aktivitas gunung krakatau dimulai sejak tiga bulan sebelumnya. “Terjadilah letusan yang amat dahsyat…gumpalan abu menyembur ke udara setinggi 70 kilometer, dibarengi dengan tsunami. Ombak setinggi 40 meter menyapu habis pantai sebelah Sumatra dan Jawa di kawasan selat Sunda.

MUNCULNYA ANAK KRAKATAU

Pada tahun 1927, kurang lebih sekitar 43 tahun setelah gunung krakatau meletus, muncul gunung api dari kaldera purba yang masih aktif. Kecepatan pertumbuhan tingginya sekitar 20 inci per bulan. Setiap tahun ia menjadi lebih tinggi sekitar 20 kaki. Ketinggian anak krakatau saat ini adalah 450 meter. 

Namun untuk para wisatawan, sejak letusan gunung anak krakatau tahun 2011, para wisatawan tidak dapat pergi ke puncak anak krakatau. Saat ini, para wisatawan hanya dapat mendaki gunung anak krakatau sampai ketinggian sekitar 200 meter / pos terakhir.

Di pulau anak krakatau, punggung gunung anak krakatau tidak ada tumbuhan yang hidup karena suhu yang tinggi dan kekurangan air. Namun di daerah tersebut dapat dijumpai tumbuhan pioner seperti gelagah (Saccharum spontaneum) yang bersimbiosis dengan Azospirillum lippoferrum. 

Pada bagian bawah yang telah ditumbuhi gelagah terjadi proses pelapukan pasir disekitarnya yang kemudian tumbuh jenis Melastoma affine dan tumbuhan jenis lainnya.

Berdasarkan catatan yang ada, saat ini terdapat beberapa jenis tumbuhan seperti terdapat 206 fungi, 13 jenis lichenes, 61 jenis paku-pakuan, dan 257 jenis spermatophyta. Untuk hewan tercatat ada tikus dan kalong untuk mamalia dan 40 jenis unggas / burung / aves, seperti Centropus bengalensis, Falco severus, Plegadis sp. Hewan reptilia terdapat biawak, penyu, dan ular.

Wallohua'lam Bisshowab

SUMBER : WORDPRESS.COM

Sejarah Gunung Krakatau Purba dan munculnya Anak Krakatau

Gunung di Indonesia yang masih aktif dan mengalami letusan yang dahsyat adalah gunung Krakatau yang berada di selat Sunda. Letusan gunung Krakatau yang paling besar dan mengakibatkan runtuhnya kaldera terjadi pada tahun 1884, letusan itu juga melenyapkan pulau-pulau di sekitarnya.

Letusan ini adalah salah satu letusan gunung api paling mematikan dan paling merusak dalam sejarah. Akibat dari letusan ini setidaknya terdapat 36.417 korban jiwa akibat letusan dan tsunami yang dihasilkannya.

Efek dari letusan gunung Krakatau juga bisa dirasakan di seluruh penjuru dunia karena pasca letusan bertahun-tahun suhu di dunia rata-rata mengalami penurunan 1,2 derajat celcius dan baru bisa kembali normal lagi setelah 4 tahun kemudian.

Beberapa gunung di Indonesia yang pernah aktif dan mengalami aktifitas vulcanik seringkali meninggalkan sisa letusan yang bisa kita jumpai sampai saat ini, sebut saja danau Toba di pulau Sumatera. Danau Toba itu sebenarnya berasal dari letusan Gunung Toba yang meletus sekitar 800 ribu tahun lalu. Letusan ini menghasilkan kaldera di selatan Danau Toba, meliputi daerah Prapat dan Porsea.

Berikut kami akan menulis Daftar Gunung di Indonesia yang masih Aktif untuk saat ini :

1. GUNUNG SEMERU PROPINSI JAWA TIMUR


Keindahan gunung Semeru yang berada di Jawa Timur ini banyak mengundang kedatangan para pendaki dari berbagai tempat. Karena Mendaki di Gunung Semeru bagi sebagian pendaki merupakan suatu impian. Gunung yang terkenal dengan adanya danau alaminya ini juga termasuk gunung yang aktif mengeluarkan meterial dan gas beracun dari kawah Jonggring Saloka.

Gunung Semeru seolah menjadi magnet bagi sebagian pendaki baik itu di wilayah Jawa maupun bagi pendaki yang berasal dari luar Pulau Jawa. Beberapa kali gunung ini mengalami buka tutup jalur pendakian dikarenakan aktifitas vulcanik gunung ini dirasa cukup membahayakan para pendaki yang nekad mendaki sampai wilayah Kalimati.

2. GUNUNG KELUD KEDIRI DI JAWA TIMUR


Pada tahun 2014 lalu, masyarakat khususnya di Jawa Timur dihebohkan dengan adanya hujan abu vulcanik yang mengharuskan aktifitas masyarakat terhenti untuk beberapa hari. Hujan abu vulcanik tersebut berasal dari erupsi gunung Kelud yang secara administratif berada di perbatasan antara Kabupaten Blitar dan Kabupaten Kediri Propinsi Jawa Timur.

Hujan abu vulcanik yang dihasilkan oleh letusan gunung Kelud tidak hanya dirasakan masyarakat Jawa Timur saja, melainkan juga dirasakan oleh masyarakat di Yogyakarta. Pasalnya akibat erupsi gunung Kelud, ribuan ton abu vulcanik terlempar membumbung tinggi ke angkasa dan menyebar ke berbagai wilayah yang berjarak ratusan kilometer dari Kota Kediri termasuk di Kota Yogyakarta yang jaraknya ratusan kilometer dari kota Kediri.

Gunung Kelud termasuk gunung aktif yang jarang meletus, namun setiap kali meletus kekuatan yang dihasilkan cukup besar yakni 5 Volcanix Explosif Index ( VEI ).

3. GUNUNG MERAPI PERBATASAN JAWA TENGAH DAN YOGYAKARTA


Gunung Merapi merupakan salah satu gunung di Indonesia yang masih aktif dan memiliki siklus erupsi yang cukup teratur yakni 2-5 tahun untuk siklus pendek dan 5-7 tahun untuk siklus erupsi yang panjang. Karena seringkali mengalami aktifitas vulcanik dan sering meletus, menyebabkan gunung Merapi mendapat julukan sebagai gunung teraktif di dunia.

Beberapa sumber menyebutkan bahwa gunung Merapi setidaknya pernah mengalami erupsi sebanyak 100 x. Gunung Merapi memang menjadi salah satu gunung di Indonesia yang masih aktif dan sering mengalami letusan yang cukup dahsyat, namun letusan gunung Merapi merupakan letusan yang berada di tingkat sedang saja, bukan letusan yang bersifat katastrofik ( letusan yang dapat menghanjurkan dirinya sendiri ) seperti yang dialami oleh gunung Krakatau di selat sunda.

4. GUNUNG SINABUNG DI DATARAN TINGGI KARO SUMATERA


Tidak lengkap rasanya jika tidak memasukkan gunung Sinabung yang berada di Dataran Tinggi Karo ke dalam daftar gunung di Indonesia yang masih dan paling aktif. Gunung Sinabung dalam beberapa tahun ini menjadi pusat perhatian terutama bagi ahli geologi, pasalnya gunung Sinabung sudah lama tidak ada aktifitas vulcanik namun dalam beberapa tahun lalu gunung ini mengalami erupsi terlama di Indonesia yang sebelumnya dipegang oleh gunung Bromo.

Selama tujuh bulan lebih gunung ini mengalami erupsi, sedangkan erupsi terakhir tercatat sekitar 800 tahun yang lalu. Siapa sangka, justru gunung ini mengeluarkan letusan yang dahsyat. Peristiwa 800 tahun lalu tetap menjadi misteri yang pelan-pelan dikupas menjadi fakta.

5. ANAK GUNUNG KRAKATAU DI SELAT SUNDA


Keberadaan anak Gunung Krakatau tidak lepas dari sejarah Gunung Krakatau Purba yang tercatat pernah meletus dengan tipe letusan katastrofik pada tahun 1883 dan mengakibatkan tsunami, serta menewaskan setidaknya 36.000 jiwa. Bahkan suara letusan gunung ini sampai terdengar di Alice Spring Australia serta pulau Rodrigues Afrika 4.653 km dari lokasi letusan.

Krakatau mencetak sejarah sebagai gunung aktif di Indonesia yang letusannya bardampak pada perubahan iklim dunia. Bumi ini pernah mengalami kegelapan selama setidaknya dua hari karena material dan debu vulcanik dari letusan krakatau menutupi atmosfer bumi pada masa itu. Kini gunung Krakatau purba telah tergantikan dengan anak gunung Krakatau yang muncul 40 tahun setelah letusan dahsyat.

Anak gunung Krakatau muncul sebagai sebuah gunung muda yang aktif mengeluarkan material dan memiliki pertumbuhan ketinggian setidaknya 0,5 meter dalam satu bulan. Menurut beberapa riset yang dilakukan oleh beberapa ilmuwan dari negera Jepang, gunung Krakatau memungkinkan akan mengalami erupsi yang besar pada rentang tahun 2030-2050.

6. GUNUNG GALUNGGUNG DI JAWA BARAT


Gunung Galunggung merupakan salah satu gunung yang masih aktif dan terletak di Kabupaten Tasikmalaya Jawa Barat. Gunung yang memiliki ketinggian 2.176 meter ini tercatat pernah mengalami letusan hebat yakni di tahun 1822.

Setelah itu gunung ini seringkali mengalami erupsi yang menyebabkan hujan pasir panas serta meluncurkan awan panas yang mengakibatkan setidaknya 4.011 jiwa melayang dan menyebabkan setidaknya 122 desa harus hancur.

Tidak hanya awan panas dan hujan abu vulkanik saja, ancaman banjir lahar dingin juga  mengakibatkan terputusnya jaringan jalan dan aliran sungai serta areal perkampungan akibat melimpahnya aliran lava dingin berupa material batuan-kerikil-pasir.

7. GUNUNG BROMO DI JAWA TIMUR


Siapa yang tidak kenal dengan gunung Bromo di Jawa Timur. Keindahan kawasan gunung ini tidak hanya terkenal di Indonesia saja melainkan juga di mancanegara. Hal itu dibuktikan dengan banyaknya kunjungan turis mancanegara ke gunung yang memiliki ketinggian 2.329 MDPL ini.

Gunung Bromo secara administratif masuk dalam kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru dan wilayahnya masuk ke dalam empat wilayah Kabupaten sekaligus yakni Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Lumajang dan Kabupaten Malang. Gunung Bromo menjadi sangat menarik karena gunung ini termasuk gunung yang masih aktif serta pengunjung dapat melihat dengan jelas lembah serta kalderanya yang seringkali mengeluarkan asap putih.

Dalam catatannya gunung ini pernah mengalami setidaknya 4 x erupsi dengan interval yang cukup teratur yakni 30 tahun. Letusan gunung Bromo yang terbesar tercatat pada tahun 1974 sedangkan letusan terakhir tercatat pada tahun 2015.

8. GUNUNG LOKON SULAWESI UTARA


Siapa yang menyangka gunung yang hanya memiliki ketinggian 1.580 MDPL ini masuk dalam 15 gunung di Indonesia yang masih aktif. Gunung yang lebih rendah dibandingkan dengan gunung Andong di Kabupaten Magelang Jawa Tengah ini tercatat mengalami letusan sebanyak 5 x terhitung sejak tahun 1941.

Letusan terbesar tercatat pada tahun 1991 yang berakibat menimbulkan kerugian hingga milyaran rupiah serta menewaskan korban jiwa karena longsoran material vulcanik.

9. GUNUNG KERINCI DI PROPINSI JAMBI


Gunung Kerinci selain terkenal dengan alamnya yang masih perawan, juga terkenal sebagai salah satu gunung yang masih aktif mengalami aktifitas vulcanik. Gunung yang memiliki puncak tertinggi di Pulau Sumatera ini memiliki sebuah kawah aktif selebar 400 x 120 meter di bagian puncaknya dan berisi air berwarna hijau. Gunung Kerinci tercatat mengalami erupsi terakhir pada tahun 2009.

Gunung Kerinci seakan menjadi magnet tersendiri bagi kalangan pendaki gunung karena alamnya yang masih sangat alami. Kawasan lereng gunung menjadi habitat alami harimau Sumatera, Gajah, Babi hutan serta hewan liar lainnya.

10. GUNUNG EGON PULAU FLORES NUSA TENGGARA TIMUR


Mungkin belum banyak yang mendengar gunung aktif yang satu ini. Gunung Egon merupakan gunung berapi dan masih aktif yang terletak di Pulau Flores. Gunung Egon sendiri berada di wilayah timur dari Maumere atau sekitar tiga puluh kilometer dari ibu kota Kabupaten Sikka. Gunung yang memiliki ketinggian 1703 ini pernah mengalami erupsi dahsyat pada tahun 1925.

Setelah vakum sekian puluh tahun, pada tahun 2006 lalu status gunung ini dinaikkan menjadi siaga. akibat dari aktivitas vulkanik yang meningkat pada saat itu. Gunung Egon layaknya gunung yang cantik untuk di jawamah terutama di  kalangan pendaki, pasalnya kawasan ini menawarkan panorama yang eksotis.

Pendaki dapat melihat kawah yang seringkali menyemburkan asap putih sebagai tanda bahwa gunung ini masih memiliki aktifitas vulcanik di dalamnya.

11. GUNUNG AWU DI KEPULAUAN SANGIHE


Jauh di Propsnsi Sulawesi utara terdapat sebuah gunung dengan ketinggian 1.320 MDPL yang masih aktif. Gunung yang dimaksud adalah gunung Awu. Dari catatan sejarah diketahui, dari tahun 1640 sampai dengan 1966 telah terjadi 5 kali erupsi yang menelan korban serta kerugian yang cukup besar.

Korban manusia yang tewas akibat letusan  Gunung Awu sebelum tahun 1711 tidak diketahui, namun yang tercatat sejak tahun 1711 sampai dengan erupsi 1966 adalah 7.377 orang ( tahun 1966 korban tewas 39 orang, lebih dari 1.000 orang luka-luka ringan ).

12. GUNUNG KARANGETAN KABUPATEN SIAU


Gunung Karangetang yang terletak di Kepulauan Siau, Sulawesi Utara. Gunung ini merupakan salah satu gunung api yang cukup aktif di Indonesia. Gunung Karangetan merupakan gunung yang bertipe stratovolcano yang hampir setiap tahunnya meletus. Terbentuknya gunung ini mirip dengan gunung api Krakatau yang telah tenggelam akibat erupsi hebat.

Karena adanya zona subduksi dan tumbukan maka magma yang terdapat di perut bumi naik melalui celah subduksi sehingga terbentuklah gunung api ini. Letusan yang cukup besar tercatat pada tahun 2011 dimana gunung ini meluncurkan awan panas yang merusak pemukiman warga sekitarnya.

13. GUNUNG SOPUTAN SULAWESI UTARA


Gunung Soputan merupakan gunung aktif yang terletak di Propinsi Sulawesi Utara dan berjarak kurang lebih 50 km di sebelah barat daya Kota Manado. Gunung Soputan akhir-akhir ini juga menjadi perhatian ahli kegunung apian karena dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan adanya peningkatan kegiatan vulcanik.

Gunung yang memiliki ketinggian 1.784 MDPL ini tercatat mengalami erupsi pada tanggal 7 maret tahun 2015 dan menyemburkan awan panas yang membumbung tinggi sejauh 2.500 meter dan menyebabkan hujan debu di Kecamatan Touluaan, Kecamatan Tombatu, dan Kecamatan Ratahan di Kabupaten Mihanasa Tenggara.

14. GUNUNG AGUNG DI PROPINSI BALI


Gunung agung merupakan gunung tertinggi di Bali dan memiliki ketinggian  3.031 mdpl. Gunung ini termasuk gunung yang masih aktif ditandai dengan adanya asap yang keluar dari kawahnya yang sangat besar dan dalam, Bagi masyarakat Bali gunung Agung merupakan tempat bersemayam para dewa dan tempat bersemayamnya Dewata.

Dari atas ketinggian di gunung Agung dalam kondisi yang cukup cerah kita dapat melihat puncak gunung-gunung lainnya di pulau seberang yakni gunung Rinjani di pulau Lombok. Gunung Agung tercatat mengalami letusan terakhir pada tahun 1963 dimana erupsi yang terjadi meluncurkan lahar sejauh 7 km selama 20 hari.

15. GUNUNG TALANG PROPINSI SUMATERA BARAT


Gunung yang memiliki ketinggian 2.957 mdpl ini berjarak 40 km dari kota Padang. Gunung ini menjadi surganya pendaki di Sumatera Barat berkat adanya hamparan kebun teh di awal pendakian, serta terdapat hutan Mati yang eksotis, Di bagian puncak gunung, pendaki akan menyaksikan indahnya 3 danau dari ketinggian 2.597 mdpl. Danau yang ada sebenarnya merupakan bekas dari kawah  gunung Talang.

Itulah beberapa daftar gunung di Indonesia yang masih Aktif sampai saat ini.

Inilah Daftar Gunung Berapi Di Indonesia yang Masih Aktif dan Berbahaya

Para ahli telah bersepakat bahwa Pulau Jawa dengan Sumatera dulu Pernah menyatu. Bahkan penyatuan itu Bersama Kalimantan, kemudian membentuk dataran yang disebut Sunda Besar. Maka, bisa dibayangkan betapa besarnya sunda besar itu.


Sejarah pemisahan antara Pulau Jawa dan Sumatera itu memiliki dua versi penyebabnya. Pertama, pemisahan Jawa dan Sumatera diyakini adalah akibat gerakan lempeng Bumi. Kedua, pendapat yang mengatakan bahwa pemisahan itu akibat letsan gunung Krakatau.

Pendapat yang mendukung pemisahan Jawa dan Sumatera karena letusan gunung Krakatau biasanya mengacu pada Pustaka Raja Purwa, yang ditulis pujangga besar Jawa, Ronggowarsito, pada tahun 1869.

Dalam buku ini dikisahkan, letusan Gunung Kapi yang belakangan diidentifikasi sebagai Gunung Krakatau menjadi penyebab pemisahan Pulau Jawa dan Sumatera. Peristiwa ini disebutkan terjadi pada tahun 416 Masehi.

Peneliti dari Los Alamos National Laboratory (New Mexico), Ken Wohletz, termasuk yang mendukung tentang kemungkinan letusan besar Krakatau purba hingga memisahkan Pulau Jawa dan Sumatera. Dia membuat simulasi tentang skenario letusan super. Namun, berbeda dengan Ronggowarsito, Ken menyebutkan, letusan itu kemungkinan terjadi puluhan ribu tahun lalu.

Melalui penanggalan karbon dan radioaktif, para ahli geologi memastikan bahwa Krakatau pernah beberapa kali meletus hebat. "Sepertinya pembentukan Selat Sunda tidak mungkin karena sebuah letusan tunggal besar, seperti ditulis dalam legenda (Pustaka Raja Purwa) itu.

Setidaknya ada dua periode letusan besar di Krakatau, tetapi itu sekitar ratusan bahkan ribuan tahun lalu, tidak pada tahun 416 Masehi," sebut Zeilinga de Boer dan Donald Theodore Sannders dalam Volcanoes in Human History, 2002.

Walaupun pencatatan Ronggowarsito tentang waktu letusan masa lalu Krakatau diragukan ketepatannya, pujangga ini barangkali benar soal "pemisahan" Pulau Jawa dengan Sumatera yang berkaitan erat dengan letusan Krakatau.

Namun, pemisahan Jawa dan Sumatera sepertinya bukan karena letusan Krakatau. Sebaliknya, Krakatau terbentuk karena pemisahan kedua pulau ini sebagai produk gerakan tektonik di dalam Bumi.

Geolog dari Museum Geologi, Indyo Pratomo pernah mengatakan, pemisahan Jawa dan Sumatera terjadi karena gerakan tektonik. ”Pulau Jawa dan Sumatera bergerak dengan kecepatan dan arah yang berbeda akibat tumbukan lempeng Indo-Australia ke Euro-Asia. Perbedaan ini menyebabkan terbukanya celah di dalam Bumi.

Gunung Krakatau tepatnya gunung Anak Krakatau yang merupakan gunung Krakatau Muda,  adalah kepulauan vulkanik yang masih aktif dan berada di Selat Sunda antara pulau Jawa dan Sumatra. Nama ini pernah disematkan pada satu puncak gunung berapi di sana (Gunung Krakatau) yang sirna karena letusannya sendiri pada tanggal 26-27 Agustus 1883.

Letusan itu sangat dahsyat; awan panas dan tsunami yang diakibatkannya menewaskan sekitar 36.000 jiwa. Suara letusan itu terdengar sampai di Alice Springs, Australia dan Pulau Rodrigues dekat Afrika, 4.653 kilometer. Daya ledaknya diperkirakan mencapai 30.000 kali bom atom yang diledakkan di Hiroshima dan Nagasaki di akhir Perang Dunia II.

Letusan Krakatau menyebabkan perubahan iklim global. Dunia sempat gelap selama dua setengah hari akibat debu vulkanis yang menutupi atmosfer. Matahari bersinar redup sampai setahun berikutnya. Hamburan debu tampak di langit Norwegia hingga New York.

Ledakan Krakatau ini sebenarnya masih kalah dibandingkan dengan letusan Gunung Toba dan Gunung Tambora di Indonesia, Gunung Tanpo di Selandia Baru dan Gunung Katmal di Alaska.

Namun gunung-gunung tersebut meletus jauh di masa populasi manusia masih sangat sedikit. Sementara ketika Gunung Krakatau meletus, populasi manusia sudah cukup padat, sains dan teknologi telah berkembang, telegraf sudah ditemukan, dan kabel bawah laut sudah dipasang. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa saat itu teknologi informasi sedang tumbuh dan berkembang pesat.

Tercatat bahwa letusan Gunung Krakatau adalah bencana besar pertama di dunia setelah penemuan telegraf bawah laut. Kemajuan tersebut, sayangnya belum diimbangi dengan kemajuan di bidang geologi. Para ahli geologi saat itu bahkan belum mampu memberikan penjelasan mengenai letusan tersebut.

Jadi, sudah bisa dibayangkan betapa  besar dan dahsyatnya kekuatan letusan gunung Krakatau ketika itu, atau betapa hebatnya  pergerakan lempeng bumi ketika itu yang dapat memecah atau memisahkan pulau Jawa dan Sumatera, bahkan juga Kalimantan.

Dan bisa dibayangkan lagi betapa besar dan banyaknya korban nyawa manusia jika itu terjadi pada zaman sekarang dimana populasi manusia zaman sekarang yang sudah sangat besar. Pada tahun 1880-an saja korban nyawa sudah mencapai 36.000 jiwa, jika itu terjadi sekarang, entah berapa juta manusia yang harus korban.

SUMBER : NETRALNEWS,COM

Inilah Sejarah Terpisahnya Pulau Jawa Dengan Sumatra

Ternyata Letusan Gunung yang ada di Indonesia juga berdampak Buruk pada Dunia. Seperti Gunung Krakatau dan Gunung Tambora yang membuat dunia mengalami perubahan Iklim berbulan bulan.

Berikut ini kami merangkum beberapa gunung yang meletus dengan Dahsyat yang berada di Indonesia :

1. GUNUNG GALUNGGUNG


Gunung Galunggung tercatat pernah meletus dengan dahsyatnya pada tahun 1882 (VEI=5). Tanda-tanda awal letusan diketahui pada bulan Juli 1822, di mana air Cikunir menjadi keruh dan berlumpur. Hasil pemeriksaan kawah menunjukkan bahwa air keruh tersebut panas dan kadang muncul kolom asap dari dalam kawah.

Kemudian pada tanggal 8 Oktober s.d. 12 Oktober 1882, letusannya menghasilkan hujan pasir kemerahan yang sangat panas, abu halus, awan panas, serta lahar. Aliran lahar bergerak ke arah tenggara mengikuti aliran-aliran sungai. Letusan ini menewaskan 4.011 jiwa dan menghancurkan 114 desa, dengan kerusakan lahan ke arah timur dan selatan sejauh 40 km dari puncak gunung.

Gunung ini meletus dengan mengeluarkan lahar, awan panas, serta hujan pasir panas. Sebanyak empat ribu jiwa melayang dan ada 114 desa hancur.

2. GUNUNG AGUNG


Gunung Agung terakhir meletus pada 1963-64 dan masih aktif hingga kini, dengan sebuah kawah besar dan sangat dalam yang kadang-kadang mengeluarkan asap dan abu. Meskipun dari kejauhan gunung ini tampak kerucut, ternyata didalamnya terdapat kawah besar.

Dari puncak gunung Agung terlihat jelas puncak Gunung Rinjani di pulau Lombok, meskipun kedua gunung ini sering tertutup awan.

Pada tanggal 18 Februari 1963, penduduk setempat mendengar ledakan keras dan melihat awan naik dari kawah Gunung Agung. Pada tanggal 24 Februari 1963 lava mulai mengalir menuruni lereng utara gunung.

Pada tanggal 17 Maret 1963, gunung Agung meletus, mengirimkan puing-puing 8-10 km ke udara dan menghasilkan aliran piroklastik yang besar. Arus ini banyak menghancurkan desa-desa, menewaskan sekitar 1500 orang. Sebuah letusan kedua pada 16 Mei 1963 menyebabkan aliran awan panas yang menewaskan 200 penduduk lain.

3. GUNUNG MERAPI


Gunung Merapi merupakan gunung teraktif di dunia. Ia secara periodik meletus. Tahun 1006 gunung ini meletus dan membuat seluruh wilayah pulau Jawa dikelilingi abu vulkanik. Karena letusan ini lah membuat Kerajaan Mataram kuno berpindah pusat pemerintahannya ke Jawa Timur.

Gunung Merapi ini merupakan yang termuda dalam kumpulan gunung berapi di selatan Pulau Jawa. Gunung ini terletak di zona subduksi, dimana Lempeng Indo-Australia terus bergerak ke bawah Lempeng Eurasia. Letusan di daerah tersebut berlangsung sejak 400.000 tahun lalu, dan sampai 10.000 tahun lalu jenis letusannya adalah efusif. Setelah itu, letusannya menjadi eksplosif, dengan lava kental yang menimbulkan kubah-kubah lava.

Letusan-letusan kecil terjadi tiap 2-3 tahun, dan yang lebih besar sekitar 10-15 tahun sekali. Letusan-letusan Merapi yang dampaknya besar antara lain di tahun 1006, 1786, 1822, 1872, dan 1930.

Letusan besar pada tahun 1006 membuat seluruh Pulau Jawa diselubungi abu vulkanik. Diperkirakan, letusan tersebut menyebabkan kerajaan Mataram Kuno harus berpindah ke Jawa Timur. Letusan terdahsyatnya terjadi di tahun 1930 yang menghancurkan 13 desa dan menewaskan 1400 orang.

4. GUNUNG KELUD


Pada abad ke-15, Gunung Kelut meletus dan telah memakan korban lebih dari 15.000 jiwa. Letusan gunung ini pada tahun 1586 merenggut korban lebih dari 10.000 jiwa. Kelud juga terletak di Pulau Jawa, Indonesia.

Sisi timur Kelud telah ‘menggerutu’ pada tahun 2008, di mana sebelumnya pada tahun 1919 lumpur lahar telah membunuh di atas 5,000 orang. Sejak itu, Terowongan Ampera, suatu sistem pengeringan untuk menampung banjir lahar dari kawah telah dibangun.

Pada abad ke-20, Gunung Kelud tercatat meletus pada tahun 1901, 1919 (1 Mei), 1951, 1966, dan 1990. Tahun 2007 gunung ini kembali meningkatkan aktivitasnya, hingga puncaknya muncul gunung baru di tengah-tengah danau kawah Kelud. Pola ini membuat para ahli gunung api menyimpulkan terjadi siklus 15 tahunan bagi letusan gunung ini.

Oktober 2007, ketika itu 30,000 penduduk lokal harus diungsikan setelah gunung api dalam kondisi Siaga Merah. Selama dua minggu Kelud memuntahkan debu hingga 8 mil jauhnya.

5. GUNUNG PAPANDAYAN


Papandayan adalah sebuah gunung api semi-aktif yang terletak di pulau Jawa, Indonesia. Pada 1772, gunung api ini meletus menghancurkan 40 desa di dekatnya. Lebih dari 3,000 orang terbunuh. Gunung api ini diperkirakan masih sangat berbahaya dan terus mengeluarkan asap dan letusan-letusan di tahun 1923, 1942, dan terus meningkatkan kekuatannya di tahun 2002.

6. GUNUNG KRAKATAU


Urutan selanjutnya dengan korban sebanyak 36,000, adalah meletusnya Gunung Krakatoa (Indonesia) pada August 26–27, 1883. Krakatoa, juga dikenal sebagai Krakatau, adalah pulau vulkanis yang still-dangerous, terletak di Selat Sunda, Indonesia. Agustus 1883, sebuah rangkaian ledakan dahsyat yang mengerikan dengan kekuatan 13,000 kali lebih besar dari bom Hiroshima. Ledakannya terdengar hingga ke Perth, Australia.

Muntahan lebih dari 21 kilometer kubik batu dan debu membumbung hingga setinggi 70 mil. Secara resmi, lebih dari 37,000 orang tewas. Namun dengan tsunami yang ditimbulkannya, korban sepertinya bisa lebih besar lagi.

Menurut para peneliti di University of North Dakota, ledakan Krakatau bersama ledakan Tambora (1815) mencatatkan nilai Volcanic Explosivity Index (VEI) terbesar dalam sejarah modern. The Guiness Book of Records mencatat ledakan Krakatau sebagai ledakan yang paling hebat yang terekam dalam sejarah.

Ledakan Krakatau telah melemparkan batu-batu apung dan abu vulkanik dengan volume 18 kilometer kubik. Semburan debu vulkanisnya mencavai 80 km. Benda-benda keras yang berhamburan ke udara itu jatuh di dataran pulau Jawa dan Sumatera bahkan sampai ke Sri Lanka, India, Pakistan, Australia dan Selandia Baru.

7. GUNUNG TAMBORA


Yang paling besar telah menelan korban sebanyak 92,000, yaitu letusan Gunung Tambora, Indonesia (dikenal dengan Year Without a Summer, setahun tanpa musim panas). Gunung di Sumbawa ini meletus pada tahun 1815. Tambora adalah gunung api aktip dari 130-an gunung api yang yang ada di Indonesia.

Gunung raksasa setinggi 4,300 meter telah ‘melakukan’ serangkaian ledakan dari April hingga Juni di tahun 1815 dan mengguncangkan dunia dengan after-effect-nya yang mengubah stratosfir dan menyebabkan kelaparan yang buruk hingga ke US dan Eropa pada abad ke 19.

Batu merah berpijar menghujani angkasa ketika sepenuhnya gunung tersebut meletus. Semua tumbuh-tumbuhan pada pulau dimana gunung tersebut berada dibinasakan oleh lahar dan awan beracun. Secara keseluruhan, lebih 92,000 orang tewas karena terbakar, kelaparan ataupun keracunan.

Letusan Tambora tahun 1815 adalah letusan terbesar di sejarah. Letusan gunung ini terdengar sejauh 2.600 km, dan abu jatuh setidaknya sejauh 1.300 km. Kegelapan terlihat sejauh 600 km dari puncak gunung selama lebih dari dua hari. Aliran piroklastik menyebar setidaknya 20 km dari puncak.

8. GUNUNG TOBA


Toba yang sekarang dikenal sebagai danau Toba dulunya adalah sebuah gunung. Letusannya dikatakan memiliki level Supervolcanic pada level 8, tertinggi diantara jenis letusan gunung berapi.

Letusan Gunung Toba terjadi sekitar 67.500 sampai 75.500 tahun yang lalu. Letusan ini adalah yang terakhir dari serangkaian tiga letusan pembentukan kaldera yang terjadi di gunung berapi. Dengan kaldera yang terbentuk sebelumnya sekitar 700.000 dan 840.000 tahun yang lalu.

Tercatat letusan terakhir ini memiliki Explosivity Index diperkirakan tertinggi sehingga dijuluki sebagai letusan “Mega-Kolosal”. Ini adalah letusan gunung berapi terbesar dalam 25 juta tahun terakhir.

Itulah daftar Letusan Gunung Terbesar dan sebagian juga berdampak buruk pada iklim di Dunia.

Inilah Daftar Letusan Gunung Terbesar, Terparah Dan Terdahsyat di Indonesia

Letusan Krakatau 1883 terjadi di Hindia Belanda sekarang Indonesia, yang bermula pada tanggal 26 Agustus 1883 dengan gejala pada awal Mei dan berpuncak dengan letusan hebat yang meruntuhkan kaldera.


Tepat Pada tanggal 27 Agustus 1883, dua pertiga bagian Krakatau runtuh dalam sebuah letusan berantai, melenyapkan sebagian besar pulau di sekelilingnya. Aktivitas seismik tetap berlangsung hingga Februari 1884.

Letusan ini adalah salah satu letusan gunung api paling mematikan dan paling merusak dalam sejarah, menimbulkan setidaknya 36.417 korban jiwa akibat letusan dan tsunami yang dihasilkannya. Dampak letusan ini juga bisa dirasakan di seluruh penjuru dunia.


Bulan Mei tahun 1883 adalah masa kelam dalam sejarah Indonesia. Bukan karena Indonesia dijajah oleh Belanda, tetapi karena Gunung Krakatau mulai menunjukkan tanda-tanda tidak ramah.

Pada awal bulan Mei, Krakatau terus aktif sampai puncaknya di bulan Agustus, gunung gagah ini meledak sejadi-jadinya.

Membuat dunia bergoncang berkali-kali lipat dari yang biasa diterpa bom Atom Hiroshima dan Nagasaki. Dunia jadi berakhir, mayat-mayat terbakar bergelimpangan dengan jumlah yang tak bisa lagi di hitung pasti.

DAMPAK DARI LETUSAN GUNUNG KRAKATAU


1. Tsunami Raksasa Muncul dan Menyapu Peradaban

Begitu dahsyatnya goncangan yang terjadi, akhirnya semuanya terpengaruhi. Termasuk lautan yang berkenan tenang jadi jadi bergejolak. Sampai akhirnya yang ditakutkannya terjadi.
Muncul kemudian deretan tsunami-tsunami besar yang kekuatannya jauh melebihi bencana yang pernah menghantam Aceh beberapa tahun lalu.

Peneliti ramalan tsunami yang terjadi sebagai akibat erupsi Krakatau benar-benar gila. Ukuran besar bisa mencapai 100 kaki atau hampir 30 meter. Tsunami ini sendiri ikut ikut andil menyumbang korban meninggal lebih dari 50 persen.

2. Letusan Krakatau Terdengar Sampai Sri Lanka dan Australia

Pada penghujung bulan Agustus 1883, bolak balik gunung Krakatau mengalami erupsi. Hampir semuanya sangat mengerikan, termasuk di tanggal 27 Agustus yang bisa dibilang gong-nya. Ya, meledak di tanggal itu yang paling dahsyat. Bahkan bunyinya membuat telinga orang-orang berdenging saking kerasnya.

Begitu kerasnya Krakatau ini meledak, suaranya bahkan terdengar sampai sekitar 3000 mil, mencapai Sri Lanka dan Australia. Benar-benar sangat kasar! Bahkan menurut peneliti bunyi yang dihasilkannya lebih keras sepuluh ribu kali lipat dibandingkan bom atom Hiroshima dan Nagasaki.

3. Jutaan Ton Debu Vulkanis Menutupi Atmosfir

Hentakan letusan yang besar tak hanya mengguncang Bumi dan menciptakan banyak tsunami, tapi juga bawa jutaan material abu ke angkasa. Alhasil, saat itu erupsi langit benar-benar sangat gelap. Ngerinya lagi, kondisi ini bertahan hampir tiga hari.

Kondisi ini tak hanya dialami oleh indonesia, tapi juga negara-negara belahan bumi lain misalnya Nikaragua. Di sana langit juga sangat gelapnya saat siang hari. Setelah beberapa waktu kemudian, debu vulkanis itu berusak dari langit dan tutup bumi dengan abu sedalam hampir tiga meter.

4. Perubahan Iklim Selama Bertahun-Tahun

Jutaan ton debu vulkanis yang menutupi atmosfir buatan matahari tak mampu menembus Bumi. Alhasil, iklim di bawah atmosfir pun mendingin. Menurut peneliti, saat itu secara signifikan suhu Bumi semakin turun sampai beberapa derajat.

Kondisi ini bertahan selama tahun-tahun. Tepatnya dari 1883-1888, alias hampir lima tahun! Seumpama kondisi ini bertahan lebih lama lagi, maka akan sangat merugikan bagi kehidupan di Bumi. Ya, tanpa sinar matahari, hampir dipastikan kehidupannya akan segera mati.

5. Korban Jiwa dari Letusan Gunung Krakatau

Letusan Krakatau sangat dahsyat, menurut catatan resmi colonial Hindia Belanda, 165 desa dan kota di dekat Krakatau hancur, dan 132 rusak berat, dan awan panas dan tsunami yang diakibatkannya menewaskan sekitar 36.000 jiwa. Sumber lain menyebutkan 36.417 jiwa.

Meskipun beberapa sumber memberikan perkiraan lebih dari 120.000. Mereka berasal dari 295 kampung kawasan pantai mulai dari Merak di Kota Cilegon hingga Cilamaya di Karawang, pantai barat Banten hingga Tanjung Layar di Pulau Panaitan Ujung Kulon serta Sumatera Bagian selatan. Ada banyak laporan didokumentasikan dari kelompok tengkorak manusia yang mengambang di Samudra Hindia di atas rakit apung vulkanik dan menyapu pantai timur Afrika sampai satu tahun setelah letusan.

PERBANDINGAN DENGAN LETUSAN GUNUNG LAINNYA


Ledakan Krakatau tahun 1883 ini sebenarnya masih kalah dibandingkan dengan letusan Gunung Toba dan Gunung Tambora di Indonesia, Gunung Tanpo di Selandia Baru, dan Gunung Katmal di Alaska.

Namun gunung-gunung tersebut meletus jauh pada masa ketika populasi manusia masih sangat sedikit. Sementara ketika Gunung Krakatau meletus, populasi manusia sudah cukup padat, sains dan teknologi telah berkembang, telegraf bawah laut sudah ditemukan, dan kabel bawah laut sudah dipasang.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa saat itu teknologi informasi sedang tumbuh dan berkembang pesat. Kemajuan tersebut, sayangnya belum diimbangi dengan kemajuan di bidang geologi. Para ahli geologi saat itu bahkan belum mampu memberikan penjelasan mengenai letusan tersebut. Gunung Krakatau yang meletus, getarannya terasa sampai Eropa.

Sejarah Letusan Gunung Krakatau dan Dampaknya pada Dunia

Subscribe Our Newsletter