Social Items

Berdasarkan Naskah Wangsakerta - Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara (yang disusun sebuah panitia dengan ketuanya Pangeran Wangsakerta) diperkirakan merupakan kerajaan paling awal yang ada di Nusantara.

Sejarah Salakanagara

Salakanagara diyakini sebagai leluhur Suku Sunda, hal dikarenakan wilayah peradaban Salakanagara sama persis dengan wilayah peradaban orang Sunda selama berabad-abad. Dan yang memperkuat lagi adalah kesamaan kosakata antara Sunda dan Salakanagara. Disamping itu ditemukan bukti lain berupa Jam Sunda atau Jam Salakanagara, suatu cara penyebutan Waktu/Jam yang juga berbahasa Sunda.

Terbentuknya Kerajaan Salakanagara

Nama ahli dan sejarawan yang membuktikan bahwa tatar Pasundan memiliki nilai-nilai sejarah yang tinggi, antara lain adalah Husein Djajadiningrat, Tubagus H. Achmad, Hasan Mu’arif Ambary, Halwany Michrob dan lain-lainnya.

Banyak sudah temuan-temuan mereka disusun dalam tulisan-tulisan, ulasan-ulasan maupun dalam buku. Belum lagi nama-nama seperti John Miksic, Takashi, Atja, Saleh Danasasmita, Yoseph Iskandar, Claude Guillot, Ayatrohaedi, Wishnu Handoko dan lain-lain yang menambah wawasan mengenai Banten menjadi tambah luas dan terbuka dengan karya-karyanya dibuat baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris.

Tokoh awal yang berkuasa di sini adalah Aki Tirem. Konon, kota inilah yang disebut Argyrèoleh Ptolemeus dalam tahun 150, dikarenakan Salakanagara diartikan sebagai "Negara Perak" dalam bahasa Sansakerta.

Kota ini terletak di daerah Teluk Lada, Pandeglang, Banten. Adalah Aki Tirem, penghulu atau penguasa kampung setempat yang akhirnya menjadi mertua duta dari Pallawa Dewawarman ketika puteri Sang Aki Luhur Mulya bernama Dewi Pohaci Larasati diperisteri oleh Dewawarman.

Hal ini membuat semua pengikut dan pasukan Dewawarman menikah dengan wanita setempat dan tak ingin kembali ke kampung halamannya.

Ketika Aki Tirem meninggal, Dewawarman menerima tongkat kekuasaan. Tahun 130 Masehi ia kemudian mendirikan sebuah kerajaan dengan nama Salakanagara beribukota di Rajatapura. Ia menjadi raja pertama dengan gelar Prabu Darmalokapala Dewawarman Aji Raksa Gapura Sagara.

Beberapa kerajaan kecil di sekitarnya menjadi daerah kekuasaannya, antara lain Kerajaan Agninusa (Negeri Api) yang berada di Pulau Krakatau.

Rajatapura adalah ibukota Salakanagara yang hingga tahun 362 menjadi pusat pemerintahan Raja-Raja Dewawarman (dari Dewawarman I - VIII). Salakanagara berdiri hanya selama 232 tahun, tepatnya dari tahun 130 Masehi hingga tahun 362 Masehi.

Raja Dewawarman I sendiri hanya berkuasa selama 38 tahun dan digantikan anaknya yang menjadi Raja Dewawarman II dengan gelar Prabu Digwijayakasa Dewawarmanputra. Prabu Dharmawirya tercatat sebagai Raja Dewawarman VIII atau raja Salakanagara terakhir hingga tahun 363 karena sejak itu Salakanagara telah menjadi kerajaan yang berada di bawah kekuasaan Tarumanagara yang didirikan tahun 358 Masehi oleh Maharesi yang berasal dari Calankayana, India bernama Jayasinghawarman.

Pada masa kekuasaan Dewawarman VIII, keadaan ekonomi penduduknya sangat baik, makmur dan sentosa, sedangkan kehidupan beragama sangat harmonis.

Berdirinya Kerajaan Salakanagara

Pendiri Tarumanagara adalah menantu Raja Dewawarman VIII. Ia sendiri seorang Maharesi dari Calankayana di India yang mengungsi ke Nusantara karena daerahnya diserang dan ditaklukkan Maharaja Samudragupta dari Kerajaan Maurya.

Dewawarman, merupakan seorang duta keliling, pedagang sekaligus perantau dari Pallawa, Bharata (India) yang akhirnya menetap karena menikah dengan puteri penghulu setempat, sedangkan pendiri Tarumanagara adalah Maharesi Jayasingawarman, pengungsi dari wilayah Salankayana, Bharata karena daerahnya dikuasai an Magada. Sementara Kerajaan Kutai didirikan oleh pengungsi dari Magada, Bharata setelah daerahnya juga dikuasai oleh kerajaan lain.

Di kemudian hari setelah Jayasinghawarman mendirikan Tarumanagara, pusat pemerintahan beralih dari Rajatapura ke Tarumanagara. Salakanagara kemudian berubah menjadi Kerajaan Daerah.

Memang banyak para ahli yang masih memperdebatkan masalah institusi kerajaan sebelum Tarumanegara melalui berbagai sumber sejarah seperti berita Cina dan bangsa Eropa atau naskah-naskah Kuna. Claudius Ptolemaeus, seorang ahli bumi masa Yunani Kuno menyebutkan sebuah negeri bernama Argyrè yang terletak di wilayah Timur Jauh.

Negeri ini terletak di ujung barat Pulau Iabodio yang selalu dikaitkan dengan Yawadwipa yang kemudian diasumsikan sebagai Jawa. Argyrè sendiri berarti perak yang kemudian ”diterjemahkan” oleh para ahli sebagai Merak.

Kemudian sebuah berita Cina yang berasal dari tahun 132 M menyebutkan wilayah Ye-tiao  yang sering diartikan sebagai Yawadwipadengan rajanya Pien yang merupakan lafal Cina dari bahasa Sansakerta Dewawarman. Namun tidak ada bukti lain yang dapat mengungkap kebenaran dari dua berita asing tersebut.

Kekuasaan Kerajaan Salakanagara

Salakanagara membawahi kerajaan-kerajaan kecil, yang didirikan oleh orang-orang yang berasal dari dinasti Dewawarman (raja-raja yang memerintah Salakanagara). Kerajaan yang menjadi bawahan Salakanagara antara lain :

1. Kerajaan Ujung Kulon

Kerajaan Ujung Kulon berlokasi di wilayah Ujung Kulon dan didirikan oleh Senapati Bahadura Harigana Jayasakti (adik kandung Dewawarman I). Saat kerajaan ini dipimpin oleh Darma Satyanagara, sang raja menikah dengan putri dari Dewawarman III dan kemudian menjadi raja ke-4 di Kerajaan Salakanagara.

Ketika Tarumanagara tumbuh menjadi kerajaan yang besar, Purnawarman(raja Tarumanagara ke-3) menaklukan Kerajaan Ujung Kulon. Akhirnya Kerajaan Ujung Kulon menjadi Kerajaan bawahan dari Tarumanagara. Lebih dari itu, pasukan Kerajaan Ujung Kulon juga ikut membantu pasukan Wisnuwarman (raja Tarumanagara ke-4) untuk menumpas pemberontakan Cakrawarman.

2. Kerajaan Tanjung Kidul

Kerajaan Tanjung Kidul beribukota Aghrabintapura (Sekarang termasuk wilayah Cianjur Selatan). Kerajaan ini dipimpin oleh Sweta Liman Sakti (adik ke-2 Dewawarman I). 

Sejarah Asal Usul Berdirinya Kerajaan Salakanagara

Kerajaan Sumedang Larang adalah salah satu kerajaan Islam yang pernah berdiri di Jawa Barat, Indonesia. Namun, popularitas kerajaan ini tidak sebesar popularitas Kerajaan Demak, Mataram, Banten dan Cirebon dalam literatur sejarah kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia.


Namun, keberadaan kerajaan ini merupakan bukti sejarah yang sangat kuat pengaruhnya dalam penyebaraan Islam di Jawa Barat sebagaimana yang dilakukan oleh Kerajaan Cirebon dan Kerajaan Banten.

Kerajaan Sumedang Larang (kini Kabupaten Sumedang) adalah salah satu dari berbagai kerajaan Sunda yang ada di provinsi Jawa Barat, Indonesia. Selain itu dikenal juga kerajaan sunda lainnya seperti kerajaan Pajajaran yang juga masih berkaitan erat dengan kerajaan sebelumnya (Galuh), namun keberadaan kerajaan Pajajaran ini berakhir di Pakuan (Bogor) karena serangan aliansi kerajaan Cirebon, Banten dan Demak (Jawa Tengah). Sejak itu, Kerajaan Sumedang Larang menjadi kerajaan yang memiliki otonomi luas untuk menentukan nasibnya sendiri.

Kerajaan Sumedang Larang berasal dari kerajaan Sunda-Pajajaran yang didirikan oleh Prabu Geusan Ulun Adji Putih atas perintah Prabu Suryadewata sebelum Keraton Galuh dipindahkan ke Padjadjaran, Bogor. Seiring dengan perubahan zaman dan kepemimpinan, nama Sumedang mengalami beberapa perubahan.

Yang pertama yaitu Kerajaan Tembong Agung (Tembong artinya nampak dan Agung artinya luhur) dipimpin oleh Prabu Guru Adji Putih pada abad ke XII. Kemudian pada masa zaman Prabu Tadjimalela, diganti menjadi Himbar Buana, yang berarti menerangi alam, dan kemudian diganti lagi menjadi Sumedang Larang (Sumedang berasal dari Insun Medal/ Insun Medangan yang berarti aku dilahirkan, dan larang berarti sesuatu yang tidak ada tandingnya).

Pada pertengahan abad ke-16, Ratu Pucuk Umun, seorang wanita keturunan raja-raja Sumedang kuno yang merupakan seorang Sunda muslim menikahi Pangeran Santri(1505-1579 M) yang bergelar Ki Gedeng Sumedang dan memerintah Sumedang Larang bersama-sama serta menyebarkan ajaran Islam di wilayah tersebut.

Pangeran Santri adalah cucu dari Syekh Maulana Abdurahman (Sunan Panjunan) dan cicit dari Syekh Datuk Kahfi, seorang Ulama keturunan Arab Hadramaut yang berasal dari Mekkah dan menyebarkan agama Islam di berbagai penjuru daerah di kerajaan Sunda. Pernikahan Pangeran Santri dan Ratu Pucuk Umun ini melahirkan Prabu Geusan Ulun atau dikenal dengan Prabu Angkawijaya.

Prabu Geusan Ulun dinobatkan sebagai Bupati Sumedang I (1580-1608 M) menggantikan kekuasaan Ayahnya, Pangeran Santri. Beliau menetapkan Kutamaya sebagai Ibu kota kerajaan Sumedang Larang, yang letaknya di bagian Barat kota.

Wilayah kekuasaannya meliputi Kuningan, Bandung, Garut, Tasik, Sukabumi (Priangan) kecuali Galuh (Ciamis). Kerajaan Sumedang pada masa Prabu Geusan Ulun mengalami kemajuan yang pesat di bidang sosial, budaya, agama, militer dan politik pemerintahan.

Setelah wafat pada tahun 1608, putera kandungnya, Pangeran Rangga Gempol Kusumadinata/Rangga Gempol I atau yang dikenal dengan Raden Aria Suradiwangsa menggantikan kepemimpinan ayahnya. Namun, pada saat Rangga Gempol memegang kepemimpinan, pada tahun 1620 M Sumedang Larang dijadikan wilayah kekuasaan Kerajaan Mataram di bawah Sultan Agung, dan statusnya sebagai ‘kerajaan’ dirubah menjadi ‘kabupaten’ olehnya.

Hal ini dilakukan sebagai upaya menjadikan wilayah Sumedang sebagai wilayah pertahanan Mataram dari serangan Kerajaan Banten dan Belanda yang sedang mengalami konflik dengan Mataram.

Sultan Agung memberi perintah kepada Rangga Gempol I beserta pasukannya untuk memimpin penyerangan ke Sampang, Madura. Sedangkan pemerintahan sementara diserahkan kepada adiknya, Dipati Rangga Gede. Hingga suatu ketika, pasukan Kerajan Banten datang menyerbu dan karena setengah kekuatan militer kabupaten Sumedang Larang dipergikan ke Madura atas titah Sultan Agung, Rangga Gede tidak mampu menahan serangan pasukan Banten dan akhirnya melarikan diri.

Kekalahan ini membuat marah Sultan Agung sehingga ia menahan Dipati Rangga Gede, dan pemerintahan selanjutnya diserahkan kepada Dipati Ukur. Sekalilagi, Dipati Ukur diperintahkan oleh Sultan Agung untuk bersama-sama pasukan Mataram untuk menyerang dan merebut pertahanan Belanda di Batavia (Jakarta) yang pada akhirnya menemui kegagalan.

Kekalahan pasukan Dipati Ukur ini tidak dilaporkan segera kepada Sultan Agung, diberitakan bahwa ia kabur dari pertanggung jawabannya dan akhirnya tertangkap dari persembunyiannya atas informasi mata-mata Sultan Agung yang berkuasa di wilayah Priangan.

Setelah habis masa hukumannya, Dipati Rangga Gede diberikan kekuasaan kembali untuk memerintah di Sumedang. Sedangkan wilayah Priangan di luar Sumedang dan Galuh (Ciamis) dibagi kepada tiga bagian; Pertama, Kabupaten Bandung, yang dipimpin oleh Tumenggung Wirangunangun, Kedua, Kabupaten Parakanmuncang yang dimpimpin oleh Tanubaya dan Ketiga, kabupaten Sukapura yang dipimpin oleh Tumenggung Wiradegdaha/ R. Wirawangsa.

Hingga kini, Sumedang masih berstatus kabupaten, sebagai sisa peninggalan konflik politik yang banyak diinterfensi oleh Kerajaan Mataram pada masa itu. Adapun artefak sejarah berupa pusaka perang, atribut kerajaan, perlengkapan raja-raja dan naskah kuno peninggalan Kerajaan Sumedang Larang masih dapat dilihat secara umum di Museum Prabu Geusan Ulun, Sumedang letaknya tepat di selatan alun-alun kota Sumedang, bersatu dengan Gedung Srimanganti dan bangunan pemerintah daerah setempat.

Sejarah Asal usul Kerajaan Sumedang Larang

Pada zaman dahulu, di wilayah Jawa Timur terdapat sebuah kerajaan yang bernama Kerajaan Jenggala. Sang Prabu bernama Raden Putra. Ia mempunyai seorang permaisuri dan seorang selir.

Baginda Raden Putra sangat menyayangi permaisuri, tetapi begitu pula kepada selirnya. Akan tetapi, rupanya selir raja tidak puas dengan kedudukannya saat ini.

Apalagi dari tabib istana ia mendapatkan bocoran bahwa permaisuri kini sudah mengandung. Ia takut kalau posisinya di mata Raden Putra menjadi lemah dan tersisih. Kehadiran seorang putra atau putri dari permaisuri tentu dapat merubah segalanya bukan?

Diam-diam ia menyusun sebuah rencana jahat. Dipanggilnya tabib istana untuk membuat persekongkolan untuk menyingkirkan permaisuri dari istana. Jika rencananya berhasil, maka tabib akan diberi hadiah istimewa.

Pada suatu hari, selir raja sakit keras. Raden Putra sangat gundah. Ia meminta tabib istana memberikan pengobatan terbaik yang mungkin dapat diberikannya. Tabib mengatakan kepada baginda raja Raden Putra bahwa ia akan berusaha sebaik-baiknya untuk menyembuhkan selir. Ia mengatakan kepada Raden Putra bahwa sakitnya selir disebabkan oleh racun. Selir memperkuat perkataan tabib istana bahwa ia merasa telah diracun oleh permaisuri.

Sontak Raden Putra marah. Ia memanggil permaisuri dan kemudian berniat menghukumnya. Raja Raden Putra memerintahkan patih istana untuk membunuh permaisuri yang telah meracun selir di hutan yang ada di tepi kerajaan Jenggala.

Permaisuri mencoba membela diri, tetapi fitnah kejam telah ditujukan padanya oleh tabib kerajaan dan selir. Tidak ada cara yang dapat dilakukannya untuk membela diri.

PERMAISURI DIHUKUM


Sementara permaisuri dibawa menuju hutan, selir telah berhasil disembuhkan dari racun. Tentu saja untuk menyembuhkan selir dari racun yang sengaja dimakannya itu sangat mudah bagi tabib istana karena ia memiliki penawarnya.

Persekongkolan keduanya berhasil dan selirpun diangkat menjadi permaisuri baru. Tabib menerima berbagai hadiah perhiasan berupa uang, emas, dan barang berharga lainnya dari permaisuri.

Patih kerajaan yang mengetahui bagaimana sebenarnya sifat permaisuri yakin bahwa permaisuri tidak melakukan kejahatan. Ia sama sekali percaya dengan permaisuri.

Tidak mungkin wanita seagung permaisuri melakukan kekejian untuk meracun selir. Justru patih curiga bahwa selirlah yang telah memfitnah permaisuri untuk menyingkirkannya. Walaupun demikian, tentu patih kerajaan tidak mempunyai kemampuan untuk menyelematkan permaisuri dari fitnah itu.

Sesampainya di hutan, patih tidak menghukum mati permaisuri. Justru ia membuatkan sebuah pondok yang kokoh untuk permaisuri. Ia juga mencarikan makanan yang cukup untuk beberapa hari sementara permaisuri belum mengenal hutan itu.

Permaisuri sangat berterima kasih kepada patih. Permaisuri justru mengkhawatirkan keselamatan patih karena jika baginda raja Raden Putra tahu bahwa patih tidak membunuhnya, maka beliau tentu marah besar.

Patih mengatakan kepada permaisuri bahwa ia tak perlu khawatir akan keselamatannya. Ia akan menangkap seekor rusa dan menyembelihnya. Darah rusa itu akan dioleskan ke pedangnya sebagai bukti bahwa ia telah membunuh sang permaisuri.

Demikianlah, hari demi hari dilalui oleh permaisuri dengan berat di hutan. Dalam keadaan hamil, ia harus mencari makan dan melindungi diri dari berbagai binatang buas.

KELAHIRAN CINDELARAS DAN AYAM JAGONYA


Ketika usia kandungannya telah sampai umur, permaisuri melahirkan seorang bayi laki-laki. Bayi itu sangat tampan. Permaisuri memberinya nama Cindelaras. Dengan penuh kasih sayang permaisuri merawat Cindelaras sehingga menjadi anak yang tangkas.

Setiap hari Cindelaras berteman dengan binatang-binatang hutan. Baginya, mencari makanan di hutan untuk menghidupi dirinya dan ibunya sangatlah mudah. Ia sangat menyayangi ibunya, walaupun ia tak habis pikir kenapa seorang wanita seperti ibunya tinggal di tengah hutan tanpa kerabat dan keluarga.

Pada suatu hari Cindelaras yang masih anak-anak itu sedang bermain-main dengan binatang-binatang hutan sahabatnya. Tiba-tiba, dari angkasa, seekor burung rajawali besar menjatuhkan sebutir telur ayam ke pangkuannya.

Cindelaras kemudian menyimpan telur ayam itu hingga menetas. Cindelaras sangat sayang dengan anak ayam itu. Setelah beberapa lama, ayam itu kini telah menjadi seekor ayam jantan. Badannya tidak terlalu besar, begitupun bulu-bulunya, biasa saja. Tidak ada yang menarik dari ayam jago itu, sampai suatu hari ayam jantan itu mulai berkokok. 

Kuku kukuuuuruyuuuuuuuk.... (Kuku kukuuuuruyuuuuuuuk....)
Jagone Cindelaras (Ayam jantan milik Cindelaras)
Omahe tengah alas (Rumahnya di tengah hutan)
Payone godhong klaras (Atapnya daun kelapa)
Bapakne Raden Putra.... (Ayahnya bernama Raden Putra ....)

Cindelaras sangat kaget. Ia walaupun tidak pernah memelihara ayam jantan, tetapi ia tahu betul bagaimana cara berkokok seekor ayam jantan. Tidak ada ayam yang bisa berbicara.

PCindelaras yakin ayamnya bukan ayam sembarangan. Dan kata-kata ayam jagonya itu seakan menjawab sebuah pertanyaan besar yang selama ini disimpannya. Ayahnya bernama Raden Putra.

CINDELARAS MENCARI ASAL-USULNYA

Dengan segala kebingungannya Cindelaras akhirnya memutuskan untuk bertanya tentang siapa dirinya. Permaisuri menceritakan kisah sebenarnya karena ia melihat anaknya kini sudah mulai tumbuh menjadi semakin dewasa.

Cindelaras tak terasa kini sudah menjadi pemuda yang tampan dan siap mengetahui siapa dirinya sebenarnya. Betapa marahnya Cindelaras setelah mendengar cerita ibunya. Tetapi dengan hati-hati permaisuri menyabarkan hati Cindelaras.

Cindelaras akhirnya berniat menemui ayahnya baginda raja Raden Putra di istana. Ibunya Cuma bisa mewanti-wanti agar ia selalu berhati-hati dalam setiap langkah dan perbuatannya. Ia mendoakan Cindelaras selalu mendapatkan keberuntungan dalam hidup dan perjalanannya menuju istana Jenggala.

Di tengah jalan menuju istana Jenggala, Cindelaras bertemu dengan orang-orang yang mengadu ayam jago. Mereka memasang taruhan. Ada yang berupa uang, barang-barang, atau apapun yang bisa dipertaruhkan dalam perjudian.

Ketika orang-orang yang mengadu ayam itu melihat Cindelaras memegang seekor ayam jago, ia kemudian ditantang mereka untuk adu ayam. Cindelaras sebenarnya sangat tidak tertarik untuk mengadu ayam jago kesayangannya itu. Ia tidak ingin berjudi dan lagipula ia tidak ingin menyakiti ayam jagonya. Tetapi orang-orang itu memaksa.

Cindelaras dengan sangat berat hati akhirnya mengadu ayam jagonya. Ia tidak punya apa-apa untuk dipertaruhkan. Tetapi orang-orang itu mengatakan bahwa Cindelaras dapat mempertaruhkan dirinya sendiri, misalnya bila kalah ia dapat bekerja kepada orang yang memenangi adu jago itu dengan bekerja selama seminggu penuh.

Karena terus dipaksa dan si jago ayam peliharaannya juga seperti ingin menerima tantangan itu, maka akhirnya Cindelaras mengiyakan.


Ternyata di luar dugaan, ayam jago Cindelaras yang tidak berapa besar badannya itu memenangkan pertarungan. Orang-orang lainnya kemudian terus menantang dan memaksanya untuk mengadu jagonya.

Anehnya, semua pertarungan dimenangkan ayam jago milik Cindelaras. Ayam itu sepertinya tidak pernah merasa lelah dan tidak dapat dilukai kulitnya.

Cindelaras dari hasil pertaruhannya kemudian mendapatkan banyak uang dan barang berharga lainnya. Akan tetapi ia tak pernah mengambil semuanya.

CINDELARAS MENUJU ISTANA JENGGALA

Cindelaras dan ayam jagonya menjadi sangat terkenal. Belum separuh perjalanan menuju istana Jenggala, raja Raden putra telah mendengar tentang kehebatan ayam jago milik Cindelaras.

Baginda raja Raden Putra kemudian menantang adu jago dengan Cindelaras. Bukan sembarangan, kali ini Raden Putra yang sangat yakin dengan kehebatan ayam jantannya akan mempertaruhkan istana Jenggala.

Cindelaras mengatakan bahwa ia tak punya apa-apa untuk dipertaruhkan. Raden Putra, yang tidak lain adalah ayah Cindelaras itu mengatakan bahwa Cindelaras dapat mempertaruhkan nyawanya.

Cindelaras berdoa semoga ia dapat memenangkan pertaruhan ini. Ketika kedua ayam jago dilepaskan, tampaklah perbedaan yang mencolok dari keduanya. Ayam jago milik Raden Putra tampak besar, gagah, kuat, dan beringas. Sementara, ayam jago milik Cindelaras tampilannya biasa-biasa saja. Tampak tidak istimewa sama sekali.

Ayam jago milik Raden Putra segera menyambar ayam jago Cindelaras. Tetapi ternyata ayam jago Cindelaras dengan gesit berkelit. Berkali-kali ayam jago milik Raden Putra berusaha dengan beringas mematuk-matuk dan menyambar-nyambar ayam Cindelaras, tidak pernah berhasil.

Lalu tiba-tiba ayam jago Cindelaras mulai membalas. Sekali terjang, ayam jago milik Raden Putra langsung terjengkang. Ayam jago Cindelaras terus mengejar dan menyambar-nyambar ayam Raja Raden Putra. Akhirnya, dalam waktu sebentar saja, ayam jago milik Raden Putra lari terbirit-birit.

KEBAHAGIAAN CINDELARAS DAN PERMAISURI

Raja Raden Putra dengan disaksikan para penduduk kerajaan Jenggala terpaksa mengakui kekalahannya. Ia rupanya harus merelakan istana kerajaan Jenggala kepada Cindelaras. Ia tentu saja merasa sangat menyesal. Pada saat itulah ayam jago milik Cindelaras berkokok sebagai tanda kemenangannya.

Kuku kukuuuuruyuuuuuuuk.... (Kuku kukuuuuruyuuuuuuuk....)
Jagone Cindelaras (Ayam jantan milik Cindelaras)
Omahe tengah alas (Rumahnya di tengah hutan)
Payone godhong klaras (Atapnya daun kelapa)
Bapakne Raden Putra.... (Ayahnya bernama Raden Putra ....)

Raden putra sangat takjub dan menanyakan perihal kebenaran kokok ayam jago milik Cindelaras. Pemuda tampan itu kemudian menceritakan asal-usulnya. Ceritanya kemudian diperkuat oleh patih kerajaan yang juga menyaksikan adu jago itu.

Akhirnya permaisuripun dijemput dari hutan setelah belasan tahun tinggal di sana. Sementara selir yang jahat dan tabib istana mendapat hukuman yang setimpal atas perbuatannya.

Cindelaras akhirnya menggantikan ayahnya raja Raden Putra untuk memerintah kerajaan Jenggala. Ia memerintah dengan adil bijaksana. Kejayaan Jenggala luar biasa di bawah kepemimpinanya. Mereka kemudian hidup bahagia selamanya.

SUMBER : Blogspot.com

Kisah Cerita Cindelaras dan Ayam Jagonya, Sejarah Jenggala

Subscribe Our Newsletter