Showing posts with label Sejarah Suku Arab. Show all posts
Showing posts with label Sejarah Suku Arab. Show all posts

Friday, February 1, 2019

Sejarah Asal Usul Suku Bangsa Arab (Orang Arab)

Menurut bahasa, ʻArab artinya padang pasir, tanah gundul dan gersang yang tiada air dan tanamannya. Sebutan dengan istilah ini sudah diberikan sejak dahulu kala kepada jazirah Arab, sebagaimana sebutan yang diberikan kepada suatu kaum yang disesuaikan dengan daerah tertentu atau nama dari leluhur terdahulu, lalu mereka menjadikan namanya sebagai tempat tinggal.


Berdasarkan tradisi Ibrahim, bangsa Arab dihubungkan dengan Isma'il; sedangkan beberapa penulis sejarah dan nasab beranggapan bahwa bangsa Arab berasal dari Ya'rab, yang mana keduanya tidak dapat dipastikan dari perspektif sejarah. Dalam sejarah, penyebutan paling awal istilah Arabditemukan pada manuskrip Assyria dari abad ke-9 SM; yang menurut pendapat kebanyakan peneliti, dalam bahasa Assyria dan beberapa bahasa Semit lainnya artinya adalah "orang-orang gurun (badui)".

Awal mula sejarah Kata Arab pertama kali muncul pada abad ke-9 sebelum masehi. Bangsa Arab tidak selalu terdiri orang-orang Islam, tetapi juga orang Kristen dan Yahudi. Beberapa buktinya adalah adanya perabadan Nabath yang didirikan oleh bangsa Arab beragama Kristen.

Pada zaman modern ini, seseorang dikatakan berbangsa Arab bila memenuhi tiga syarat sebagai berikut:

- Genealogi: seseorang yang memiliki keturunan dari Arab dan nenek moyangnya tinggal di negeri Arab.
- Bahasa: seseorang yang menuturkan bahasa Arab sebagai bahasa ibu. Rakyat Mesir menolak dasar ini.
- Politik: seseorang yang memiliki kebangsaan negara di kawasan Arab.

Bangsa Semit pada awalnya membangun peradaban di Mesopotamia dan Syria, kemudian perlahan-lahan mereka kehilangan dominasi politik mereka disebabkan serangan dari bangsa nomad Semit dan bangsa non Semit. Bangsa Aram, Akkadia, Asiria, dan Minean berbicara dalam bahasa yang hampir sama dengan bahasa Semit. Akhirnya, bangsa Semit kehilangan kekuasaannya tepat pada serangan Persia dan kedatangan bangsa Yunani pada 330 SM.

Setelah penyerangan itu, bangsa Semit berdiaspora ke segala bagian. Kebanyakan dari suku bangsa ini berpindah ke daerah selatan dan daerah utara, dimana bangsa Arab akan berkembang disana. Bangsa Arab di Utara membangun sebuah peradaban yang dinamakan peradaban Arab Nabatea. Kemudian, Arab bagian Selatan membentuk kafilah-kafilah yang tersebar.

Kafilah-kafilah ini kemudian membentuk sebuah kerajaan di daerah Yaman, yang disebut oleh bangsa Yunani sebagai Arabia Felix yang berarti "kawasan Arab yang beruntung".

Pada masa Sassanid, Kekaisaran Romawimenguasai daerah Syam yang kemudian disebut Arab Petra. Bangsa Romawi menyebut daerah gurun di Timur Dekat ini sebagai Arabi. Dan pada awal abad pertama masehi, Kaum Ghassan dari Yaman berpindah ke daerah Syam. Kaum Ghassan, Lakhm dan Kindi menjadi kabilah-kabilah yang terakhir kali berpindah ke Arab Petra. Kabilah Ghassan kemudian berpindah ke daerah Syria, dan tinggal di kawasan Hurran dan daerah Levantine (Lebanon, Palestina). Bangsa Ghassan menguasai Syria sampai kedatangan kaum Muslimin di sana.

Sementara itu, kaum Lakhm bermukim di daerah pertengahan Sungai Tigris. Mereka bersekutu dengan Sassanid untuk melawan Kekaisaran Bizantium dan Kabilah Ghassan. Mereka kemudian mengontrol daerah Arab bagian Tengah. Kabilah Kindi bermigrasi ke Utara, tetapi mereka kemudian berpindah ke Bahrain dan tetap bermukim di Yaman.

Arab Aribah yang dikenal sebagai Arab asli merupakan bangsa yang berasal dari keturunan Qahthan, nasab (keturunan) Qahthan berakhir pada Sam bin Nuh. Mengapa dinisbatkan pada Ya’rub, karena dialah yang pertama kali berbicara dalam bahasa Arab. Ini merupakan salah satu tradisi Arab, mereka menamai sesuatu dari orang yang pertama kali mencetusnya. Tempat atau wilayah misalkan, mereka menaminya dengan orang yang pertama kali tinggal atau suku yang paling dominan. Yatsrib misalnya, atau Hadhramaut, Yaman, dan Oman, semua itu adalah nama-nama orang yang pertama kali membuka wilayah tersebut. Begitu juga dengan Arab, mereka menamainya dari Ya’rub. Dalam bahasa Arab, Ya’rub (يعرب) menjadi ‘Arab (عرب) dengan menghilangkan huruf ya di depan.

Kabilah yang terkenal dari Arab Aribah antara lain Himyar dan Kahlan. Himyar memiliki beberapa suku antara lain Jumhur, Qudha’ah, dan Sakasik. Kahlan memiliki suku Hamdan, Anmar, Wathi’, Mudzhij, Kindah, Lakham, Judzam, Azdi, Aus, Khazraj, dan anak keturunan Jafnah (raja Syam). Dari kesemua suku tersebut suku Jumhur, Aus, dan Khazraj yang perlud digarisbawahi karena memiliki peranan penting dalam sirah nabawiyah.

Arab Musta’ribah dikenal juga dengan Arab ‘Adnaniyah. Karena Arab ini berasal dari campuran Arab Aribah dan keturunan Nabi Ismail (‘Adnan). Untuk mengenal lebih jauh Arab Musta’ribah ada baiknya kita kilas balik kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail.

Nabi Ibrahim adalah putra Azhar, keturunan Sam bin Nuh. Nabi Ibrahmim berasal dari Ar, wilayah di Mesopotamia (kini Iraq). Di pinggir barat sungat Furat, dekat Kufah. Setelah sekian lama di Mesopotamia, Nabi Ibrahim pindah ke Harran dan Kan’an hingga ke Mesir. Dakwah Nabi Ibrahim di Mesir di halangi oleh Firaun.

Firaun pada zaman Ibrahim sangat menyukai dengan wanita yang sudah memiliki suami, karena dalam pikirannya adalah jika wanita dinikahi oleh seorang laki-laki, maka wanita tersebut adalah pilihan. Saat itu Ibrahim sudah menikah dengan Sarah, Sarah adalah wanita yang terkenal dengan kecantikannya dan kesholihannya.

Agar tidak mendapatkan bahaya, Ibrahim meminta Sarah agar berkata bahwa ia adalah saudari Ibrahim bukan istrinya. Meskipun demikian Firaun tertarik dengan Sarah, sehingga Firaun memaksa Sarah untuk tinggal bersamanya. Atas perlindungan Allah, setiap kali Firaun ingin menjamah Sarah, Allah membuat Firaun tak berdaya. Hingga sampai tiga kali kejadian tersebut terulang sehingga Firaun memperbolehkan Sarah pulang, Firaun juga menghadiahkan Hajar untuk digunakan sebagai budak Sarah.

Selama beberapa tahun dengan Ibrahim, Sarah tidak diberi buah hati, beberapa riwayat mengatakan bahwa umur Sarah saat itu sudah mencapai 60 tahun. Agar mendapatkan keturunan, Sarah menawarkan Hajar agar menikah dengan Ibrahim. Beberapa riwayat mengatakan selisih umur antara Sarah dan Hajar cukup jauh meskipun tidak disebutkan angkanya. Tawaran tersebut diterima dan Hajar menjadi istri Ibrahim.

Setelah lama di Mesir, mereka bertiga pindah ke Syam. Di Syam, setahun kemudian Ismail lahir dari rahim Hajar. Sarah cemburu karena tidak dikarunia anak, ia pun berdoa kepada Allah agar dikaruniai seorang anak meskipun umurnya sudah tua. Akhirnya malaikat pun datang ke Nabi Ibrahim dan mengatakan bahwa akan lahir seorang putra dari rahim Sarah. Hingga akhirnya lahirlah Ishaq dari Sarah. Karena itu Ibrahim disebut sebagai Abul Anbiya (ayahnya para nabi) karena melahirkan Nabi Ismail dan Nabi Ishaq.

Sudah hakikat wanita, jika Sarah cemburu dengan Hajar. Sarah-pun meminta Ibrahim agar memisahkannya dengan Hajar. Atas perintah Allah, permintaan Sarah dituruti, dan Ibrahim membawa Hajar dan Ismail kecil ke Hijaz, tepatnya Makkah.

Makkah saat itu bukanlah sebuah kota, Makkah adalah sebuah lembah di padang pasir yang tandus dan gersang, tak ada seorang pun yang tinggal disana. Lembah tersebut biasa digunakan kafilah untuk tempat istirahat dalam perjalanan dangang mereka. Hajar dan Ismail berdua di padang pasir, dan Ibrahim setelah menyediakan bekal untuk mereka kembali ke Syam ke tempat Sarah berada.

Hajar tidak menyangkal permintaan Ibrahim karean dia tahu ini adalah perintah Allah. Ibrahim pun akhirnya meninggalkan mereka berdua atas perintah Allah. Dan ketika bekal dari Ibrahim sudah habis, Hajar kebingungan, dia meninggalkan Ismail kecil dan berlari-lari antara gunung Shofa dan Marwah sebanyak tujuh kali untuk mencari air, karena ia mengira melihat air di kedua gunung tersebut, padahal hal tersebut hanyalah efek fatamorgana karena panas.

Ketika Hajar menyadari tak ada air di dua gunung tersebut dan kembali ke Ismail, ia terkejut ketika melihat mata air di dekat ismail. Hajar pun membendung mata air tersebut layaknya kita membuat bangunan dari pasir di pantai sambil berkata “berkumpullah-berkumpullah”, dalam bahasanya adalah “zam-zam“. Mereka pun menetap di Makkah di dekat mata air zam-zam tersebut.

TIGA KAUM ARAB TERDAHULU

Ditilik dari silsilah keturunan dan cikal-bakalnya, para sejarawan membagi kaum-kaum Arab menjadi tiga bagian, yaitu:

Arab Ba'idah : 
Kaum-kaum Arab terdahulu yang sudah punah dan tidak mungkin sejarahnya bisa dilacak secara rinci dan komplet, seperti ʿĀd, Tsamud, Thasm, Judais, 'Imlaq dan lain-lainnya.

Arab 'Aribah : 
Kaum-kaum Arab yang berasal dari keturunan Ya'rib bin Yasyjub bin Qahthan, atau disebut pula Qahthaniyah.

Arab Musta'ribah: 
yaitu kaum-kaum Arab yang berasal dari keturunan Isma'il, yang disebut pula 'Adnaniyah.

Tempat kelahiran Arab 'Aribah atau kaum Qahthan adalah negeri Yaman, lalu berkembang menjadi beberapa kabilah dan suku, yang terkenal adalah dua kabilah: Kabilah Himyar, yang terdiri dari beberapa suku terkenal, yaitu Zaid Al-Jumhur, Qudh'ahdan Saksik.

Kahlan, yang terdiri dari beberapa suku terkenal yaitu Hamadan, Anmar, Thayyi', Madzhaj, Kindah, Lakham, Judzam, Azd, Aus, Khazraj, anak keturunan Jafnah raja Syam dan lain-lainnya. Suku-suku Kahlan banyak yang hijrah meninggalkan Yaman, lalu menyebar ke berbagai penjuru Jazirah menjelang terjadinya banjir besar saat mereka mengalami kegagalan dalam perdagangan.

Hal ini sebagai akibat dari tekanan Bangsa Romawi dan tindakan mereka menguasai jalur perdagangan laut dan setelah mereka menghancurkan jalur darat serta berhasil menguasai Mesir dan Syam, (dalam riwayat lain) dikatakan : bahwa mereka hijrah setelah terjadinya banjir besar tersebut.

AGAMA BANGSA ARAB

Sebagian bangsa Arab Badui sebelum kedatangan Islam menganut agama berhala. Berhala-berhala yang mereka sembah di antaranya adalah Hubal, Manat, Uzza dan Latta.

Agama utama orang Arab pada saat ini ialah Islam, yang terbagi atas Sunni, Syi'ah dan Ibadiah. Bangsa Arab juga menganut agama Kristen, yang sejak abad ke-1 Masehi telah masuk ke Arab.

Kebanyakan penganut Kristen tersebar di daerah Syam (Lebanon, Suriah, Yordania, dan Palestina) dan Mesir. Terdapat segelintir bangsa Arab menganut agama Yahudi, namun saat ini umumnya mereka dianggap sebagai golongan Yahudi Mizrahi, yaitu penganut agama Yahudi yang berbahasa dan berbudaya Arab.