Tampilkan postingan dengan label Sejarah Banda Aceh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah Banda Aceh. Tampilkan semua postingan
Kabupaten Aceh Jaya adalah salah satu kabupaten di Provinsi Aceh, Indonesia. Kabupaten Aceh Jaya dibentuk tahun 2002 sebagai hasil pemekaran dari Kabupaten Aceh Barat.

SEJARAH ACEH JAYA


Kabupaten Aceh Jaya, khususnya kecamatan Jaya terkenal dengan profil penduduknya yang khas. Sebagian penduduk Kecamatan Jaya ini berprofil seperti orang Eropa di mana ada yang berkulit putih, bermata biru, dan berrambut pirang. Mereka dipercaya merupakan keturunan prajurit Portugis pada abad ke-16 yang kapalnya terdampar di pantai Kerajaan Daya, dan ditawan oleh raja kawasan itu.

Para prajurit Portugis yang tertawan ini lama-kelamaan masuk Islam, menikah dengan penduduk setempat dan mengadaptasi tradisi Aceh secara turun-temurun. Keturunan mereka saat inilah yang terlihat khususnya di kecamatan Jaya (sekitar 75 km arah barat daya Banda Aceh).

Dahulu Kabupaten Aceh Jaya merupakan bagian dari Kabupaten Aceh Barat dan terletak di wilayah pantai barat Provinsi Aceh. Mula dibangun oleh Sultan Saidil Mukawil (1588-1604 M) lalu dilanjutkan oleh Sultan Iskandar Muda (1607-1636 M) dengan mendatangkan orang-orang dari Aceh Besar dan Pidie. Kerajaan pertama “Negeri Daya” muncul pada akhir abad ke-16 M dengan rajanya Sultan Alaidin Riatsyah bergelar Po Teumereuhom Daya. Kerajaan ini berlokasi di wilayah Kecamatan Jaya sekarang ini.

Pada zaman penjajahan Belanda, wilayah Kabupaten Aceh Jaya sekarang ini merupakan onderafdeeling dari Afdeeling Westkust van Atjeh (Aceh Barat), salah satu dari empat afdeeling Wilayah Kresidenan Aceh. Afdeeling Westkust van Atjeh merupakan suatu daerah administratif yang meliputi wilayah pantai barat Aceh dari Gunung Geurute sampai daerah Singkil dan Kepulauan Simeulue. Afdeeling ini dibagi menjadi enam onderafdeeling,

yaitu:

  1. Meulaboh dengan ibukotanya , dengan Meulaboh Tjalangibukotanya Tjalang (sebelum tahun 1910 ibukotanya adalah Lhok Kruet). 
  2. Landschapnya meliputi Keulueng, Kuala Daya, Lambeusoi, Kuala Unga, Lhok Kruet, Patek, Lageun, Rigaih, Krueng Sabee, dan Teunom.
  3. Tapak Tuan dengan ibukotanya Tapak Tuan
  4. Simeulue dengan ibukotanya Sinabang.
  5. Zuid Atjeh dengan ibukotanya Bakongan 
  6. Singkil dengan ibukotanya Singkil


MASA PENJAJAHAN JEPANG

Di zaman penjajahan Jepang struktur wilayah administratif tidak banyak mengalami perubahan kecuali pergantian cara penamaan wilayah. Afdeeling diubah menjadi Bunsyu yang dikepalai seorang Bunsyucho, Onderafdeeling menjadi Gun yang dikepalai seorang Guncho, dan Landshap menjadi Son yang dikepalai seorang Soncho.

Setelah Indonesia merdeka, sesuai dengan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1956 tentang Pembentukan Daerah Otonom Kabupaten-Kabupaten dalam Lingkungan Provinsi Sumatera Utara, Wilayah Barat dimekarkan menjadi dua kabupaten, yaitu Kabupaten Aceh Barat dan Kabupaten Aceh Selatan.

Kabupaten Aceh Barat terdiri dari 3 wilayah, yaitu Meulaboh, Calang, dan Simeulue. Wilayah Calang menjadi daerah otonom setelah memekarkan diri dari kabupaten induk menjadi Kabupaten Aceh Jaya berdasarkan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2002 dan Peraturan Daerah Nomor 5 Tahun 2002.

Wilayah administratif Kabupaten Aceh Jaya terdiri dari atas 6 kecamatan; Kecamatan Teunom, Panga, Krueng Sabee, Setia Bakti, Sampoiniet, dan Jaya. Kabupaten Aceh Jaya berada dalam iklim tropis yang hangat dan lembab. (Aceh Jaya Dalam  Angka 2014).

Sumber : Acehjayakab.go.id

Sejarah Asal Usul Kabupaten Aceh Jaya, Provinsi Aceh

Kabupaten Aceh Besar adalah salah satu kabupaten di Provinsi Aceh, Indonesia. Sebelum dimekarkan pada akhir tahun 1970-an, ibu kota Kabupaten Aceh Besar adalah Kota Banda Aceh.

SEJARAH KABUPATEN ACEH BESAR


Pada waktu Aceh masih sebagai sebuah kerajaan, yang dimaksud dengan Aceh atau Kerajaan Aceh adalah wilayah yang sekarang dikenal dengan nama Kabupaten Aceh Besar ditambah dengan beberapa kenegerian/daerah yang telah menjadi bagian dari Kabupaten Pidie.

Selain itu, juga termasuk Pulau Weh (sekarang telah menjadi pemerintah kota Sabang), sebagian wilayah pemerintah kota Banda Aceh, dan beberapa kenegerian/daerah dari wilayah Kabupaten Aceh Barat.

Aceh Besar dalam istilah Aceh disebut Aceh Rayeuk. Penyebutan Aceh Rayeuk sebagai Aceh yang sebenarnya karena daerah inilah yang pada mulanya menjadi inti Kerajaan Aceh dan juga karena di situlah terletak ibukota kerjaaan yang bernama Bandar Aceh atau Bandar Aceh Darussalam. Untuk nama Aceh Rayeuk ada juga yang menamakan dengan sebutan Aceh Lhee Sagoe (Aceh Tiga Sagi).

Setelah Kota Banda Aceh berpisah menjadi kotamadya tersendiri, ibukota kabupaten dipindahkan ke Jantho di Pegunungan Seulawah. Kabupaten Aceh Besar juga merupakan tempat kelahiran pahlawan nasional Cut Nyak Dhien yang berasal dari Lampadang.

Sebelum dikeluarkan Undang-undang Darurat Nomor 7 Tahun 1956, Kabupaten Daerah Tingkat II Aceh Besar merupakan daerah yang terdiri dari tiga kewedanaan yaitu :

1. Kewedanaan Seulimum
2. Kewedanaan Lhoknga
3. Kewedanaan Sabang

Akhirnya dengan perjuangan yang panjang Kabupaten Aceh besar disahkan menjadi daerah otonom melalui Undang-undag Nomor 7 Tahun 1956 dengan ibukotanya pada waktu itu adalah Banda Aceh dan juga merupakan wilayah hukum Kotamadya Banda Aceh.

Sehubungan dengan tuntutan dan perkembangan daerah yang semakin maju dan berwawasan luas, Banda Aceh sebagai pusat ibukota dianggap kurang efisien lagi, baik untuk masa kini maupun untuk masa yang akan datang. Usaha pemindahan Ibukota tersebut dari Wilayah Banda Aceh mulai dirintis sejak tahun 1969, dimana lokasi awalnya dipilih Kecamatan Indrapuri yang jaraknya 25 km dari Banda Aceh Usaha pemindahan tersebut belum berhasil dan belum dapat dilaksanakan sebagaimana diharapkan.

Kemudian pada tahun 1976 usaha perintisan pemindahan ibukota untuk kedua kalinya mulai dilaksanakan lagi dengan memilih lokasi yang lain yaitu di Kecamatan Seulimum tepatnya kemukinan Janthoi yang jaraknya sekitar 52 km dari Banda Aceh.

Akhirnya usaha yang terakhir ini berhasil dengan ditandai keluarnya Peraturan pemerintah Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 1976 tentang pemindahan Ibukota Kabupaten Daerah Tingkat II Aceh Besar dari wilayah Kotamadya Banda Aceh.

Daerah Tingkat II Banda Aceh ke kemukinan Janthoi di Kecamatan Seulimum Wilayah Kabupaten Daerah Tingkat II Aceh Besar dengan berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh team departemen Dalam Negeri danpemerintah Daerah yang bekerjasama dengan Konsultan PT. Markam Jaya yang ditinjau dari segala aspek dapat disimpulkan bahwa yang dianggap memenuhi syarat sebagai ibukota Kabupaten Daerah Tingkat II Aceh besar adalah Kemukinan Janthoi dengan nama "KOTA JANTHOI".

Setelah ditetapkan Kota Jantho sebagai ibukota Kabupaten Daerah Tingkat II Aceh Besar yang baru, maka secara bertahap pemindahan ibukota terus dimulai, dan akhirnya secara serentak seluruh aktifitas perkantoran resmi dipindahkan dari Banda Aceh ke Ibukota Jantho pada tanggal 29 Agustus 1983, dan peresmiannya dilakukan oleh Bapak Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia pada masa itu, yaitu Bapak Soepardjo Rustam pada tanggal 3 Mei 1984.

Sumber : Acehbesarkab.co.id & Wikipedia

Sejarah Asal Usul Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh

Banda Aceh adalah salah satu kota yang berada di Aceh dan menjadi ibukota Provinsi Aceh, Indonesia. Sebagai pusat pemerintahan, Banda Aceh menjadi pusat kegiatan ekonomi, politik, sosial dan budaya. Kota Banda Aceh juga merupakan kota Islam yang paling tua di Asia Tenggara, di mana Kota Banda Aceh merupakan ibu kota dari Kesultanan Aceh.

Sejarah Banda Aceh


Banda Aceh sebagai ibu kota Kesultanan Aceh Darussalam berdiri pada abad ke-14. Kesultanan Aceh Darussalam dibangun di atas puing-puing kerajaan-kerajaan Hindu dan Budha yang pernah ada sebelumnya, seperti Kerajaan Indra Purba, Kerajaan Indra Purwa, Kerajaan Indra Patra, dan Kerajaan Indrapura (Indrapuri). Dari batu nisan Sultan Firman Syah, salah seorang sultan yang pernah memerintah Kesultanan Aceh, didapat keterangan bahwa Kesultanan Aceh beribukota di Kutaraja (Banda Aceh). (H. Mohammad Said a, 1981:157).

Kemunculan Kesultanan Aceh Darussalam yang beribukota di Banda Aceh tidak lepas dari eksistensi Kerajaan Islam Lamuri. Pada akhir abad ke-15, dengan terjalinnya suatu hubungan baik dengan kerajaan tetangganya, maka pusat singgasana Kerajaan Lamuridipindahkan ke Meukuta Alam. Lokasi istana Meukuta Alam berada di wilayah Banda Aceh.

Sultan Ali Mughayat Syah memerintah Kesultanan Aceh Darussalam yang beribukota di Banda Aceh, hanya selama 10 tahun. Menurut prasasti yang ditemukan dari batu nisan Sultan Ali Mughayat Syah, pemimpin pertama Kesultanan Aceh Darussalam ini meninggal dunia pada 12 Dzulhijah Tahun 936 Hijriah atau bertepatan dengan tanggal 7 Agustus 1530 Masehi.

Kendati masa pemerintahan Sultan Mughayat Syah relatif singkat, namun ia berhasil membangun Banda Aceh sebagai pusat peradaban Islam di Asia Tenggara. Pada masa ini, Banda Aceh telah berevolusi menjadi salah satu kota pusat pertahanan yang ikut mengamankan jalur perdagangan maritim dan lalu lintas jemaah haji dari perompakan yang dilakukan armada Portugis.

Pada masa Sultan Iskandar Muda, Banda Aceh tumbuh kembali sebagai pusat perdagangan maritim, khususnya untuk komoditas lada yang saat itu sangat tinggi permintaannya dari Eropa. Iskandar Muda menjadikan Banda Aceh sebagai taman dunia, yang dimulai dari komplek istana. Komplek istana Kesultanan Aceh juga dinamai Darud Dunya (Taman Dunia).

Pada masa agresi Belanda yang kedua, terjadi evakuasi besar-besaran pasukan Aceh keluar dari Banda Aceh yang kemudian dirayakan oleh Van Swieten dengan memproklamasikan jatuhnya kesultanan Aceh dan mengubah nama Banda Aceh menjadi Kuta Raja.

Setelah masuk dalam pangkuan Pemerintah Republik Indonesia baru sejak 28 Desember 1962 nama kota ini kembali diganti menjadi Banda Aceh berdasarkan Keputusan Menteri Pemerintahan Umum dan Otonomi Daerah bertanggal 9 Mei 1963 No. Des 52/1/43-43

Pada tanggal 26 Desember 2004, kota ini dilanda gelombang pasang tsunami yang diakibatkan oleh gempa 9,2 Skala Richter di Samudera Indonesia. Bencana ini menelan ratusan ribu jiwa penduduk dan menghancurkan lebih dari 60% bangunan kota ini.

Berdasarkan data statistik yang dikeluarkan Pemerintah Kota Banda Aceh, jumlah penduduk Kota Banda Aceh hingga akhir Mei 2012 adalah sebesar 248.727 jiwa.
Sedangkan Hari jadi Kota Banda Aceh yaitu pada tanggal 22 April 1205 M.


SEJARAH KERAJAAN LAMURI


Bandar Aceh mempunyai sejarah yang sangat panjang sebagai cikal-bakal Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Disinilah mula-mula berdirinya Kerajaan Aceh yang bernama Lamuri atau Al Ramni atau Rami, yang situsnya masih terdapat di Gampong Pande.

Dari literature-literatur dan buku-buku sejarah tentang Aceh, sejarah Melayu, Naskah-naskah tua, hikayat-hikayat Aceh serta wawancara dengan orang-orang tua, maka dapatlah diketahui, bahwa Aceh sudah mempunyai peradaban dan mempunyai system pemerintahan pada masa berabad-abad sebelum masehi.

Catatan sejarah tentang kegiatan pelaut-pelaut Paoenisia yang tersimpan dalam perpustakaan dikota pelabuhan Alexandria (Iskandariyah), tetapi karena sudah hilang maka yang dapat digunakan sebagai sumber adalah Injil (Thomas Braddell “ The Ancient trede of the Indian Archipelago”, Jil. II No: 3, 1857) antara lain tentang apa yang pernah disampaikan oleh The King of Salomon (Nabi Sulaiman A.S) kepada rakyatnya, yaitu pelaut-pelaut Phonesia supaya berlayar menuju ke timur untuk menemui gunung Ophir, karena ditempat tersebut banyak tersimpan harta berharga yaitu emas.

Tiga tahun lamanya pelaut tersebut berpergian, mereka kembali dengan berhasil membawa harta karun tersebut dalam jumlah besar ( D.M. Champhel mengatakan Ophir itu terletak di ujung utara Sumatra yaitu Aceh yang sekarang disebut kampong Pande.

Semenjak itu daya tarik berlayar semakin besar untuk menuju ke timur kearah matahari terbit dan berangsur angsur pula bahan dagangan bertambah ragam. Dari Eropa dibawa orang-orang barang perdagangan ke Alexanderia, disini dipertukarkan dengan barang-barang yang dibawa oleh orang Arab Saba yang pada giliranya pula menampung barang-barang baik dari sepanjang pantai Arab Selatan maupun dari Teluk Parsi dan India.

Pada masa itulah tampil di pasar Alexanderia hasil-hasil kekayaan dari Aceh seperti rempah-rampah, kapur barus, belerang, kemenyan, emas, perak dan timah. Pada tahun 376 S.M.

MASUKNYA AGAMA ISLAM DI BANDA ACEH


Seorang nahkoda Yunani yang tidak dikenal siapa orangnya pernah membuat semacam buku penuntun yang diberinama “Periplus Maris Erythraea) (Petunjuk Pelayaran laut India) menjelaskan lintasan perdagangan yang terjadi masa itu antara Mesir dan India dan pelabuhan-pelabuhan yang dijumpai ditengah perjalanan laut dan barang yang diperjual belikan antara negara yang bersangkutan, tetapi keterangan sampai ke timur lagi diperoleh dari orang-orang India yang mena mereka menceritakan ada suatu pulau dilautan India yang bernama Chryse yang menghasilkan penyu terbaik di lautan India. Jadi dapatlah diketahui bahwa pulau yang menghasilkan penyu adalah Sumatera, yang oleh Periplus ini oleh orang-orang barat dianggap sebagai perintis jalan untuk mengenal kepulauan Indonesia yang menghasilkan kekayaan alam dan hasil bumi rempah-rempah tersebut.

Namun orang pertama yang memperkenalkan Nusantara dan semenanjung Melayu adalah Ptolemaeus pada tahun 301 SM dia juga salah seorang panglima atau menteri dari Maharaja Iskandar Zulkarnaen, dimana setelah beliau wafat dia mengambil alih kekuasaan di Alexanderia.

Kota tersebut merupakan suatu pelabuhan besar pada zaman dulu di Mesir yang banyak memegang peranan dalam lintas perdagangan antar bangsa. Bukunya yang terkenal “geograpike Uplehesis” berupa ilmu bumi dunia yang lengkap dengan peta-petanya.

Pada Bab ketujuh, dia membicarakan kepulauan dan semenanjung bagian Asia Tenggara. Dia memperkenalkan “Aureachersoneseus” atau “Golden Chersoneseus” atau dalam bahasa Indonesia disebut “Pulau Emas” kalau orang Belanda menyebutnya Golden Berg.

Dalam peta itu ditempatkannya sebuah pulau bernama Jabadiou (Sumatera). Suatu kemungknan dapat diperhitungkan bahwa barang-barang yang dibeli atau diangkut dari Barygaza, sebagiannya berasal dari ujung pulau Sumatera yaitu Aceh, dalam kaitan ini dapat diperhitungkan, telah terjadi perdagangan antar pulau, seperti Kalimantan, Bugis, Maluku, Jawa maupun Palembang, Aceh sebagai entreport untuk hubungan ke luar negeri karena yang terpenting komoditi eksport pada masa itu adalah rempah-rempah (lada), kapur barus, emas dan perak, semuanya disuplai oleh pelabuhan Aceh.

Ptolemaeus menyebutkan kota pelabuhan daripada Aurea Chersoneseus dalam catatannya bernama “Argure” atau kota perak yang terletak dibagian paling barat pulau emas, yang banyak menghasilkan emas dan sangat subur.

Dapat diperhitungkan bahwa Argire yang dimaksudkan adalah Lamuri, atau sekarang kampong Pandee (J. L Moens). Dalam catatan sejarah China dalam tarikh Dinasti Han pada abad 206 SM, catatan dimaksud berkenaan dengan masa pemerintahan Kaisar “Wang Mang” yang mana Kaisar tersebut mengirimkan bingkisan berupa mutiara, permata dan barang-barang lain kepada sebuah negeri yang disebut dalam catatan itu bernama Huang Tsche dan Kaisar Wang meminta imbalan dari bingkisan nya, supaya dikirimkan binatang badak yang terdapat dinegeri itu, Wang bermaksud hendak memelihara badak tersebut dikebun binatangnya, disini sejarahwan berpendapat yang dimaksud Huang Tsuie adalah Aceh yang terletak di Ujung Pulau Sumatera Bagian Utara.

Dapat dijelaskan disini bahwa masih banyak catatan-catatan sejarah baik dari perjalanan pelaut-pelaut Phoenesia maupun perjalanan daripada bangsa-bangsa Arab, Persia dan Tionghoa yang tidak ditulis disini.

Sesudah ± tahun 400 SM, Aceh di ujung paling barat Pulau Sumatera, dinamai oleh orang Arab Rami (Al Ramni) oleh orang Tionghoa menyebut Lan-li, Lam-wuli, Nan-wuli, Nan-poli yang sebenarnya sebutan Aceh adalah Lamuri menurut sejarah Melayu, oleh Marcopolo menyebut Lambri setelah kedatangan Portugis nama Lambri tidak pernah disebut lagi melainkan Achem atau (Acheh) Sejak permulaan abad ke 1 Masehi di Aceh sudah ada pemerintahan atau kerajaan yang diperintahkan oleh Meurah-Meurah dan meugat-meugat dengan nama Kerajaanya Lamuri, yang terletak di ujung Barat Pulau Sumatera didekat pantai ± 2 km dan ± 500 meter di pinggir Krueng Aceh yang sekarang disebut Kampung Pande Situs daripada Istana (pendopo). Dan mesjid masih ada sampai dengan sekarang) walaupun sebagian sudah rusak akibat tsunami pada tanggal 26 Desember 2004.

Kalau diperhatikan dari letak geografisnya, maka Aceh Lamuri berkedudukan sebagai pintu masuk perlintasan laut dari Barat ke timur, atau pintu keluar dari timur ke barat. Jadi disini dapat diketahui bahwa Aceh menjadi daerah lintasan pedagang-pedagang dari segala bangsa yang terutama pelaut-pelaut atau saudagar-saudagar Arab, Persi, Phoenesia, India dan Cina.

Dengan berjalanya waktu dan bertambah majunya arus perdagangan Aceh Lamuri dengan dunia luar dan hilir mudik saudagar-saudagar Parsi, Arab maka mereka membuat perkampungan di Aceh Lamuri, sampai pada abad ke VI Masehi.

Kedatangan Islam ke Aceh Menjelang wafatnya Nabi Besar Muhammad SAW pada tanggal 8 Juni 632 Masehi, tahun pertama Hijriah. Agama Islam sudah berkembang luas ke seluruh Jazirah Arab. Pengembangan keluar Jazirah Arab berjalan terus bahkan sudah mencapai ke Tiongkok pada Zaman Khalifah Usman bin Affan pada tahun 651 M.

Sesuai catatan sejarahwan Dinasti Tang tentang kedatangan perutusan amirul mukminin dalam bahasa tiong hoa bertana han mi mo mo ni dengan membawa sepucuk surat yang menyebut bahwa kerajaanya (Islam) sudah berdiri sejak 34 tahun yang lalu. Untuk penelitian kapan Islam mencapai Nusantara khususnya Aceh, yang cukup penting adanya fakta, yaitu:

  • Sudah terlaksananya peng-Islaman diseluruh Jazirah Arab sebelum Rasullullah wafat. 
  • Pedagang-pedagang atau pelaut-pelaut Arab yang menlintasi lautan sejak masa itu sudah terdiri dari oang-orang muslim. 
  • Pedagang/pelaut Arab selalu mondar-mandir ke Aceh untuk membeli barang-barang dagangan yang akan dibawa ke Iskandariyah. 

Seperti yang tersebut sebelumnya bahwa orang-orang Arab dan Parsi sudah membuat perkampungan di Aceh (Lamuri), jadi kegiatan merantau dan orang-orang Arab dan Parsi yang terdapat dalam catatan Tionghoa, paling sedikit ada dua yang menjadi perhatian, antara lain: a. Kesan-kesan perjalanan biksu Tionghoa I-Tsing pada tahun 672 M menuju Nusantara melewati selat malaka menyinggahi O-Shen yang dimaksud adalah pelabuhan Aceh Lamuri. b. Catatan yang dilengkapi oleh W.P Groenevelt yang didapat dalam naskah Dinasti Tang, bahwa di pantai sebelah Barat Sumatera (Aceh) telah ada bermukim orang-orang Arab yang disebut bangsa TA-SHI.

Mengenai (a) I Tsing mengatakan bahwa dia menumpang kapal orang Po-ssu yaitu Parsi, diperhatikan dari masanya tahun 672 M yaitu sekitar 40 tahun berkembangnya Islam di Parsi, dapat diambil suatu kesimpulan bahwa pelaut-pelaut dan saudagar-saudagar dari Parsi sudah memeluk agama Islam.

Mengenai (b), orang Arab atu Ta-Shi yang bermukim dipantai barat Sumatera (Aceh) disekitar tahun 674 Masehi, tentulah pula sudah menjadi pemeluk agama Islam.

Pencatat dari Tionghoa menyebut mereka orang Ta-shi. Jadi pendatang Arab, Parsi yang membangun permukiman di Aceh Lamuri atau Kampung Pande sekarang ini jumlah mereka sangat banyak, ini dapat dilihat sewaktu mereka bermaksud menyerang Holling (Keudah-Malaysia) yang juga negerinya sangat makmur sama dengan di Aceh Lamuri, sekaligus memberi petunjuk bahwa jumlah mereka tidak sedikit dan kedudukan mereka sudah sangat kuat.

Sejak tersiarnya pendapat dari Groneveldt itu, para sarjana menjadi meningkat perhatianya untuk mengetahui kedatangan Islam ke Aceh. Kolonel G. E. Gerini dalam studinya mengatakan bahwa pernah ada permukiman orang Arab, Persi di wilayah Ta-shi (Aceh) dan dia meneguhkan ketidak sangsian lagi bahwa yang dimaksud Ta-shi adalah Aceh. Antara lain diyakinkan bahwa ISLAM sudah masuk ke Aceh pada tahun 674 M atau pada abad pertama Hijriah.

Profesor Syed Naquib Al-Ahas dalam satu studinya yang kemudian disiarkan oleh Dewan Bahasa dan Pustaka Kualalumpur mengatakan bahwa “catatan yang paling tua mengenai kemungkinan bermukimnya orang Arab Muslim di Aceh adalah bersumber daripada laporan Cina tentang permukiman Arab dan Parsi di ujung Sumatera bagian utara (Aceh) di tahun 55 H atau 674 M.

Pada seminar sejarah masuknya Islam ke Indonesia yang dilangsungkan di Medan pada tanggal 17-20 Maret 1967 telah diambil kesimpulan antara lain: a. Bahwa Islam masuk pertama kali ke Indonesia adalah pada Abad ke I Hijriah dan langsung dari Arab. b. Bahwa daerah pertama didatangi Islam ialah pesisir Sumatera dan terbentuknya masyarakat Islam dan system kerajaan (kesultanan) di Aceh.

Professor Hamka yang dalam seminarnya itu tampil sebagai pembanding utama, yang mendukung penuh bahkan menperjelas kelansungan datangnya ISLAM dari Arab pada Abad ke I Hijriah.

Dalam tahun 1978 pada tanggal 10-16 Juli 1978 di Banda Aceh telah berlangsung suatu seminar tentang masuk dan berkembangnya Islam di Aceh yang diselenggarakan oleh Majelis Ulama Propinsi D. I Aceh, seminar tersebut bertujuan mengupas dan mencari kesimpulan yang akurat bagian-bagian seluruh aspek yang berkaitan dengan sejarah perkembangan islam di Propinsi Aceh.

Kesimpulan-kesimpulan yang berhasil diambil terbagi dalam tiga bab yaitu: - Bab pertama diambil kesimpulan yaitu, masih banyak lagi bahan-bahan yang harus dikumpulkan dan diteliti sehubungan dengan masuk dan berkembangnya Islam di Aceh. - Bab kedua meliputi 29 kesimpulan - Bab Ketiga: berkenaan dengan saran-saran yang bernilai dengan Bab 2, khususnya mengenai masuk dan berkembangnya Islam, yang terpenting diantaranya adalah: a. Sebelum Islam masuk ke Aceh, sudah ada kerajaan-kerajaan di Aceh diantaranya Lamuri di Aceh Besar (Kampung Pande sekarang) dan kerajaan-kerajaan lain (Sumber catatan bangsa lain yang pernah atau sering berkunjung ke Lamuri). b. Pada abad ke I Hijriah, Islam sudah masuk ke Aceh. c. Kerajaan Islam yang pertama adalah Lamuri, Peureulak dan Pasai.

Jadi disini dapat diambil kesimpulan bahwa Islam masuk ke Aceh pada tahun 674 M, sesuai dengan catatan dan pendapat-pendapat dari para ahli sejarah dan catatan naskah Tionghoa, dan masih banyak pendapat ahli-ahli sejarah yang tidak diungkapkan dalam tulisan ini, serta dari hasill seminar-seminar yang sudah dijelaskan sebelumnya.

Sejarah Kerajaan Aceh Lamuri sampai Aceh Darussalam. Sudah dikelaskan pada permulaan sekali, bahwa Aceh sudah dikenal sejak dari 1000 tahun SM dimasa pemerintahan Nabi Sulaiman A.s (The King of Salomon) sampai pada masa Periplus, tahun 376 SM, Prolemeus 301 S.M Dinasti Han I, 206 SM smpai pada abab I M s/d abad ke 4 Masehi, dimana orang-orang Arab menamakan Aceh dengan Al-Ramni atau Lamuri yang terletak di ujung barat pulau Sumatera atau di Kampung Pandee sekarang (situsnya masih ada) sampai dengan masuknya Islam pada tahun 674 M, disini penulis tidak mau mempermasalahkan apakah Aceh Besar yang pertama masuk Islam menurut “Bustanul Salatun” karangan Syech Nurdin Arraniry ataupun di Pasai menurut Hikayat raja-raja Pasai.

Sejak masuknya Islam ke Aceh Besar pada tahun 674 M dimana Islam terus berkembang pesat dan dapat diketahui system pemerintahan sejak 1000 tahun SM sampai abad ke I M sudah mulai ada dan mulai abad 1 M sampai dengan masuknya Islam sistem pemerintahan bertambah baik dan komplet.

Pada waktu itu kerajaan Lamuri di Aceh Besar atau lebih dikenal dengan nama Aceh tiga segi (Aceh Lhee Sagoe), dimana pada masa itu Aceh Lamuri masih diperintah oleh meurah-meurah dan meugat-meugat (pembesar Negara).

Pada saat Islam terus berkembang dengan pesatnya, mulailah berdatangan ulama-ulama yang mengembangkan agama Islam ke Aceh Raya, salah seorang diantaranya adalah turunan Bani Saljuk berasal dari bangsa Turky yaitu Sulthan Malik Syah Saljuk, salah seorang Sulthan Malik Syah Saljuk salah seorang Sulthan pada masa Dinastu Abbasyiah yang mana salah seorang cucu beliau yaitu Machdum Abi Abdullah Syeh Abdurrauf Baghdady atau Tuan dikandang Syeh Bandar Aceh Darussalam yang makamnya sekarang ada dikampung Pande.

Kalau kita mengikuti catatan dari naskah tua yang disimpan di perpustakaan Universitas Kebangsaan Malaysia di Kuala Lumpur (foto copy dari naskah tersebut tersimpan dalam perpustakaan Ali Hasyimi Banda Aceh) oleh Ayahnda Ali Hasyimi menyimpulkan dan beliau lebih condong dan sangat meyakinkan fakta-fakta yang tercatat dalam naskah tua tersebut, selain itu dalam naskah itu terdapat banyak lagi fakta-fakta sejarah yang sangat penting mengenai Aceh.

Kesimpulan yang diambil oleh Prof. Ali Hasyimi, bahwa sebagian raja-raja dan para pembesar yang memerintah Aceh dan para ulama. Ulama yang mengembangkan ilmu agama dan ilmu pengetahuan di Aceh dan daerah-daerah kekuasaanya adalah turunan dari Bani Saliuk yang berasal dari Kabilah kecil keturunan Turki, yaitu Kabilah Qunuq.

Kabilah ini bersama dengan duapuluh kabilah-kabilah kecil lainnya bersatu membentuk rumpun Chuz, semula gabungan Kabilal ini tidak memiliki nama hingga muncul tokoh Saljuk bin Tuqaq yang mempersatukam mereka dengan memberi nama suku Saljuk.

Suku ini bermukim atau mendiami pengunungan emas di Asia Barat, mereka terkenal salah satu suku yang berdarah panas dan berani, daerah tempat suku ini bermukim di daerah Turkistan. Dibawah pemerintahan Raja Bighu yang mengangkat Saljuk bin Tugaq sebagai pemimpin militer dari suku Saljuk. Suku ini bertetangga dengan Dinasti Samaniyah dan Dinasti Gaznawijah, suku ini memihak pada Dinasti Samaniyah ketika terjadi persengketaan anatara samaniyah dengan Gaznawijah dimana Dinasti Samaniyah dikalahkan oleh Dinasti Gaznawiyah, Saljuk menolak untuk bergabung dengan Gaznawiyah dan memproklamirkan wilayah yang diduduki suku ini sebagai negeri merdeka.

Bahkan ketika muncul tokoh generasi Saljuk yang bernama Tughrilbek, suku Saljuk berhasil mengalahkan dan mengakhiri kekuasaan Ghaznawiyah pada tahun 429 H (1036 M), dan semenjak itu Dinasti Saljuk sukses dalam setiap upaya ekspansi. Pada masa kepemimpinan Tughril Bek tahun1037-1063 M (430-456 H) suku Saljuk berhasil memasuki Bagdad, setelah mengalahkan DInasty Buwaihiyyah.

Mulai dari sini Bani Saljuk mulai memerintahkan didalam DInasty Abbasiyah. Setelah Tughril beg wafat dan diganti oleh kemenakannya yang bernama Alp Arselan (1063-1072 atau 456 H-465 H), pada masa itu ekspansi besar-besaran kea rah timur, menundukan Armenia, ke Arab bagian barat sampai ke Asia kecil, begitu hebat perkembangan pada masa itu sehingga semakin luas daerah kekuasaan Bani Saljuk. Disini tercatat Alp Arsilan sebagai penguasa yang adil dan bijaksana, beliau mangkat pada tahun 465 H/1072 M dan digantikan oleh putranya bernama Malik Syaj.

Pada masa Pemerintahan Sultan Malik Syah seluruh wilayah kesultanan saljuk yang luas ini diwarnai kemakmuran dan kedamaian hidup, pembangunan dalam segala bidang berkembang dengan pesat, demikian juga bidang seni dan budaya terutama bidang ilmu pengetahuan pengembanganya sangat maju sekali.

Yang paling menonjol adalah ilmu teknik pemerintahan , ilmu astronomi, ilmu matematika (Aljabar) dengan penemuan system hitungan decimal, aritmatika, geometri, logaritma. Selain itu mereka juga memberikan kontribusi besar dalam bidang ilmu kimia yaitu “Term chemistry” yang mereka sebut Al Kimia. Demikian masa pemerintahan Sulthan Malik Syah sampai dengan mangkatnya beliau tahun 485 H/1092M.

Kemudian sulthan-sulthan pengganti beliau tidak memiliki kecakapan dalam memerintah sehingga kesulthanan Bani Saljuk mengalami kemunduran, sampai pada masa perang salib dan kehancuran Bani Saljuk oleh serangan bangsa Mongol (Hulagu Khan) pada masa itu sedang dibentuk Dinasti Turki Usmani berpangkal pada sebuah suku kecil yakni Kabilah Ughu semula mereka tinggal disebelah utara negeri Cina.

NENEK MOYANG MASYARAKAT BANDA ACEH


Karena tekanan-tekanan dari bangsa Mongol, mereka dibawah pimpinan Sulaiman Syah, berpindah kearah barat hingga mereka bergabung dengan saudara seketurunan, yakni orang Turki Saljuk di Asia Kecil. Dibawah pimpinan Usman mereka membentuk kerajaan Turki Usmani dengan raja yang pertama Usman I yang bergelar “Padinsyah Ali Usman” pada tahun 1281-1324 kemudian Dinasti Usman berjalan terus sampai terjadi perang dunia pertama (1915 M), dan pada masa Mustafa Kamal dalam kapasitas pemimpin dewan majelis menghapus jabatan Khalifah pada tahun 1924 semenjak itu berakhir Imperium Turki Usmani dan sejarah Turki memasuki era modern dengan system pemerintahan republik.

Kembali pada masalah datangnya ulama-ulama ke Aceh Besar, yaitu ada lima orang ulama yang mengembangkan agama Islam dan ilmu pengetahuan di Aceh Bandar Darussalam (Lamuri-Aceh Besar). Kelima ulama-ulama pengembang Islam tersebut adalah:

  • Abdullah, berasal dari Persia, Mazhab hanafi, Ahlus sunnah wal jama’ah, datan ke Aceh pada tahun 229 H (843 M). 
  • Sulaiman bin Abdullah Yamani, Mazhab Zidi, datang ke Aceh pada tahun 236 H (850 M). 
  • Syeck Umar bin Abdullah Malabari, dari Mekkah, Mazhab Syafi’i, Ahlus sunnah wal jama’ah, ke Aceh pada tahun 275 H (879 M). 
  • Abdullah Hasan Al-Makki, dari Mekkah, Mazhab Syafi’i, Ahlus sunnah wal jama’ah, ke Aceh pada tahun 284 H (889 M). 
  • Makhdum Abi Abdullah Syekh Abdul Rauf Baghdadi bergelar Tuan dikandang Syekh Bandar Aceh Darussalam, beliau keturunan dari Sultan Malik Syah Saljuk, kuburan di Kampung Pandee. 

Beliau inilah nenek moyang dari pada raja-raja, pembesar-pembesar dan Ulama-ulama dalam zaman kerajaan Aceh Lamuri (Bandar Aceh Darussalam) sampai pada zaman Kerajaan Aceh Darussalam. Beliau datang ke Aceh pada Abad ke 11 Masehi atau ke IV Hijriah.

Setelah ulama-ulama berdatangan ke Aceh, perkembangan Islam yang mencapai puncaknya, apalagi dengan datangnya ulama pendiri Tharikat Kadriyah yaitu Sykh Abdulkadir Jaelani, pada abad k XI atau pada masa Tuan Dikandang atau Makhdun Abi Abdullah Syekh Abdul Ra’uf Baghdadi, dari sinilah mulai terbentuk kerajaan Islam Aceh Lamuri atau Bandar Aceh Darussalam dilembah Aceh Tiga Segi (Aceh Lhee Sagoe) Aceh Besar.

Menurut Naskah tua yang terdapat di perpustakaan Universitas Kebangsaan Malaysia, terdapat sarakata (Ranji) sisilah dari raja-raja Aceh, mulai dari raja-raja kerajaan Aceh Lamuri sampai kepada raja-raja dan ratu-ratu kerajaan Aceh-Darussalam.

Begitulah sarakata atau ranji atau silsilah daripada raja-raja dari kerajaan Aceh, dan menurut keterangan dari salah seorang pegawai Dinas Kebudayaan Bagian Purbakala NAD, juga pernah ada silsilah atau sarakata dari raja-raja kerajaan Aceh yang persis sama dengan yang terdapat pada perpustakaan Universitas Kebangsaan Malaysia, tetapi sewaktu terjadi kebakaran pada tahun 2002, silsilah tersebut turut terbakar.

Sudah dijelaskan di atas bahwa kuburan dari pada Tuan di Kandang atau Makhdum Abi Abdullah Syekh Abdul Ra’uf Baghdadi terletak di Kampung Pandee, dan kuburan itu rusak dilanda tsunami, juga kuburan Sulthan Abdul Aziz Johan Syah serta Sulthan-Sulthan sesudahnya, Putroe Ijo, kuburan Raja Si Uroe atau Sulthan Alaiddin Mukminsyah, juga bernama raja Mukhal Ibnu Ali Riatsyah, beliau pernah menjadi raja di Pariaman Sumatera Barat dengan panggilan Sulthan Seri Alam Firmansyah.

Selain dari kuburan raja-raja juga terdapat kuburan ulama-ulama dan raja-raja di Kampung Jawa, Pelanggahan di Kecamatan Kutaraja, seperti kuburan Tengku Di Anjong atau Syekh Abubakar Al Fakih. Banyak kuburan-kuburan lama itu belum disentuh atau diselidiki oleh ahli-ahli sejarah dan juga bekas istana (pendopo) dan bekas mesjid pada masa kerajaan Lamuri.

Rangkuman Dari : Sejarah.Aceh.my.id dan Wikipedia

Sejarah Asal Usul Terbentuknya Kota Banda Aceh Indonesia