Social Items

Showing posts with label Sejarah. Show all posts
Showing posts with label Sejarah. Show all posts
Kesultanan Pajang adalah satu kesultanan yang berpusat di Jawa Tengah sebagai kelanjutan Kesultanan Demak. Kompleks keratonnya pada zaman ini tinggal tersisa berupa batas-batas fondasinya saja yang berada di perbatasan Kelurahan Pajang - Kota Surakarta dan Desa Makamhaji, Kartasura, Sukoharjo.

Dalam Sejarah, Nama Pajang telah dikenal sejak zaman Kerajaan Majapahit. Menurut Nagarakretagama yang ditulis tahun 1365, bahwasanya pada zaman tersebut adik perempuan Hayam Wuruk (raja Majapahit saat itu) bernama asli Dyah Nertaja menjabat sebagai penguasa Pajang, bergelar Bhatara i Pajang, atau disingkat Bhre Pajang. Dyah Nertaja merupakan ibu dari Wikramawardhana (raja Majapahit selanjutnya).

Berdasar naskah-naskah babad, bahwa negeri Pengging disebut sebagai cikal bakal Pajang. Cerita Rakyat yang melegenda menyebut bahwa Pengging sebagai kerajaan kuno yang pernah dipimpin Prabu Anglingdriya, musuh bebuyutan Prabu Baka raja Prambanan. Kisah ini dilanjutkan dengan dongeng berdirinya Candi Prambanan.

Ketika Majapahit dipimpin oleh Brawijaya (raja terakhir versi naskah babad), bahwa nama Pengging muncul kembali. Dikisahkan bahwa putri Brawijaya yang bernama Retno Ayu Pembayun diculik Menak Daliputih raja Blambangan putra Menak Jingga. Muncul seorang pahlawan bernama Jaka Sengara yang berhasil merebut sang putri dan membunuh penculiknya.

Atas jasanya itu, kemudian Jaka Sengara diangkat oleh Brawijaya sebagai bupati Pengging dan dinikahkan dengan Retno Ayu Pembayun. Jaka Sengara kemudian bergelar Andayaningrat.

Pajang terlihat sebagai kerajaan pertama yang muncul di pedalaman Jawa setelah runtuhnya kerajaan Muslim di daerah Pasisir.

Menurut naskah babad, Andayaningrat gugur di tangan Sunan Ngudung saat terjadinya perang antara Majapahit dan Demak. Ia kemudian digantikan oleh putranya, yang bernama Raden Kebo Kenanga, bergelar Ki Ageng Pengging. Sejak saat itu Pengging menjadi daerah bawahan Kerajaan Demak.

Beberapa tahun kemudian Ki Ageng Pengging dihukum mati karena dituduh hendak memberontak terhadap Demak. Putranya yang bergelar Jaka Tingkir setelah dewasa justru mengabdi ke Demak.

Prestasi Jaka Tingkir yang cemerlang dalam ketentaraan membuat ia diangkat sebagai menantu Trenggana, dan menjadi bupati Pajang bergelar Hadiwijaya. Wilayah Pajang saat itu meliputi daerah Pengging (sekarang kira-kira mencakup Boyolali dan Klaten), Tingkir (daerah Salatiga), Butuh, dan sekitarnya.

Sepeninggal Trenggana tahun 1546, selanjutnya Sunan Prawoto naik takhta. Namun Sultan Prawoto kemudian tewas dibunuh sepupunya, yaitu Arya Penangsang bupati Jipang tahun 1549. Setelah itu, Arya Penangsang juga berusaha membunuh Hadiwijaya namun gagal.

Dengan dukungan Ratu Kalinyamat (bupati Jepara dan puteri Trenggana), Hadiwijaya dan para pengikutnya berhasil mengalahkan Arya Penangsang. Hadiwijaya selanjutnya menjadi pewaris takhta Demak. Pada masa kepemimpinan Hadiwijaya ini, ibu kota Demak dipindahkan ke Pajang.

Pada awal berdirinya atau pada tahun 1549, bahwa wilayah Pajang yang terkait eksistensi Demak pada masa sebelumnya, hanya meliputi sebagian Jawa Tengah. Hal ini disebabkan karena negeri-negeri Jawa Timur banyak yang melepaskan diri sejak kematian Sultan Trenggana.

Pada tahun 1568 Hadiwijaya dan para adipati Jawa Timur dipertemukan di Giri Kedaton oleh Sunan Prapen. Dalam kesempatan itu, para adipati sepakat mengakui kedaulatan Pajang di atas negeri-negeri Jawa Timur. Sebagai tanda ikatan politik, Panji Wiryakrama dari Surabaya (pemimpin persekutuan adipati Jawa Timur) dinikahkan dengan puteri Hadiwijaya.

Negeri kuat lainnya, yaitu Madura juga berhasil ditundukkan Pajang. Pemimpinnya yang bernama Raden Pratanu alias Panembahan Lemah Dhuwur juga diambil sebagai menantu Hadiwijaya.

RUNTUHNYA KERAJAAN PAJANG

Sepeninggal Hadiwijaya, terjadilah persaingan antara putra dan menantunya, yaitu Pangeran Benawa dan Arya Pangiri sebagai raja selanjutnya. Arya Pangiri didukung Panembahan Kudus berhasil naik takhta tahun 1583.

Pemerintahan Arya Pangiri hanya disibukkan dengan usaha balas dendam terhadap Mataram. Kehidupan rakyat Pajang terabaikan akibat kemelut tersebut. Hal itu membuat Pangeran Benawa yang sudah tersingkir ke Jipang, merasa prihatin.

Pada tahun 1586 Pangeran Benawa bersekutu dengan Sutawijaya menyerbu Pajang. Meskipun pada tahun 1582 Sutawijaya memerangi Hadiwijaya, tetapi Pangeran Benawa tetap menganggapnya sebagai saudara tua.

Perang antara Pajang melawan Mataram dan Jipang berakhir dengan kekalahan Arya Pangiri. Ia dikembalikan ke negeri asalnya yaitu Demak. Pangeran Benawa kemudian menjadi raja Pajang yang ketiga.

Pemerintahan Pangeran Benawa berakhir tahun 1587. Tidak ada putra mahkota yang menggantikannya sehingga Pajang pun dijadikan sebagai negeri bawahan Mataram. Yang menjadi bupati di sana ialah Pangeran Gagak Baning atau adik Sutawijaya.

Sutawijaya sendiri mendirikan Kerajaan Mataram, di mana ia sebagai raja pertama bergelar Panembahan Senopati.

Awal Mula Berdiri Dan Runtuhnya Kerajaan Pajang

Prabu Anglingdarma adalah seorang legenda Jawa dan Nusantara, yang merupakan titisan Batara Wisnu. Terdapat Gua NagaRaja tepatnya di Sukolilo, Pati. Makam dan Peninggalan Prabu Angling Dharma berada di Desa Baleadi, Kec. Sukolilo, Kab. Pati, Jawa Tengah.

Salah satu keistimewaan tokoh ini adalah kemampuannya untuk mengetahui bahasa segala jenis binatang. Selain itu, ia juga disebut sebagai keturunan Arjuna, seorang tokoh utama dalam kisah Mahabharata.

Anglingdarma merupakan keturunan ketujuh dari Arjuna, seorang tokoh utama dalam kisah Mahabharata. Hal ini dapat dimaklumi karena menurut tradisi Jawa, kisah Mahabharata dianggap benar-benar terjadi di Pulau Jawa.

Dikisahkan bahwa, Arjuna berputra Abimanyu. Abimanyu berputra Parikesit. Parikesit berputra Yudayana. Yudayana berputra Gendrayana. Gendrayana berputra Jayabaya. Jayabaya memiliki putri bernama Pramesti, dan dari rahim Pramesti inilah lahir seorang putra bernama Prabu Anglingdarma.

KELAHIRAN ANGLING DARMA

Semenjak Yudayana putra Parikesit naik takhta, nama kerajaan diganti dari Hastina menjadi Yawastina. Yudayana kemudian mewariskan takhta Yawastina kepada Gendrayana. Pada suatu hari Gendrayana menghukum adiknya yang bernama Sudarsana karena kesalahpahaman. Batara Narada turun dari kahyangan sebagai utusan dewata untuk mengadili Gendrayana. Sebagai hukuman, Gendrayana dibuang ke hutan sedangkan Sudarsana dijadikan raja baru oleh Narada.

Gendrayana membangun kerajaan baru bernama Mamenang. Ia kemudian digantikan oleh putranya yang bernama Jayabaya. Sementara itu, Sudarsana digantikan putranya yang bernama Sariwahana. Sariwahana kemudian mewariskan takhta Yawastina kepada putranya yang bernama Astradarma.

Antara Yawastina dan Mamenang terlibat perang saudara berlarut-larut. Atas usaha pertapa kera putih bernama Hanoman yang sudah berusia ratusan tahun, kedua negeri pun berdamai, yaitu melalui perkawinan Astradarma dengan Pramesti, putri Jayabaya.

Pada suatu hari Pramesti mimpi bertemu Batara Wisnu yang berkata akan lahir ke dunia melalui rahimnya. Ketika bangun tiba-tiba perutnya telah mengandung. Astradarma marah menuduh Pramesti telah berselingkuh. Ia pun mengusir istrinya itu pulang ke Mamenang.

Jayabaya marah melihat keadaan Pramesti yang terlunta-lunta. Ia pun mengutuk negeri Yawastina tenggelam oleh banjir lumpur. Kutukan tersebut menjadi kenyataan. Astradarma pun tewas bersama lenyapnya istana Yawastina.

Setelah kematian suaminya, Pramesti melahirkan seorang putra yang diberi nama Anglingdarma. Kelahiran bayi titisan Wisnu tersebut bersamaan dengan wafatnya Jayabaya yang mencapai moksa. Takhta Mamenang kemudian diwarisi oleh Jaya Amijaya, saudara Pramesti.

Berikut ini tim kami Kuwaluhan.com telah merangkum beberapa kesaktian yang telah dimiliki oleh Prabu Angling Darma dari berbagai sumber :

1. Mengerti bahasa Hewan atau disebut Aji Gineng
2. Bisa merubah wajah nya menjadi yang diinginkan (Malih Rupo)
3. Ajian Ngrogoh Sukma
4. Ajian Saipi Angin
5. Mampu Menangkal Ajian Pancasona dan Rawarontek.

Sedangkan Senjata Ampuh yang dimiliki Prabu Angling Darma adalah :

1. Tombak Nagagini
2. Mustika Nagagini
3. Cincin
4. Pusaka Gigi Gajah

Itulah beberapa kesaktian dan Senjata Ampuh yang dimiliki Prabu Angling Darma.

Inilah Kesaktian Dan Senjata Ampuh Angling Darma

Gajah Mada adalah seorang panglima perang dan tokoh yang sangat berpengaruh pada zaman kerajaan Majapahit. Menurut berbagai sumber mitologi, kitab, dan prasasti dari zaman Jawa Kuno, ia memulai kariernya tahun 1313, dan semakin menanjak setelah peristiwa pemberontakan Ra Kuti pada masa pemerintahan Sri Jayanagara, yang mengangkatnya sebagai Patih.

Ia menjadi Mahapatih (Menteri Besar) pada masa Ratu Tribhuwanatunggadewi, dan kemudian sebagai Amangkubhumi (Perdana Menteri) yang mengantarkan Majapahit ke puncak kejayaannya.

Gajah Mada terkenal dengan sumpahnya, yaitu Sumpah Palapa, yang tercatat di dalam Pararaton. Ia menyatakan tidak akan memakan palapa sebelum berhasil menyatukan Nusantara. Meskipun ia adalah salah satu tokoh sentral saat itu, sangat sedikit catatan-catatan sejarah yang ditemukan mengenai dirinya. Wajah sesungguhnya dari tokoh Gajah Mada, saat ini masih kontroversial. Banyak masyarakat Indonesia masa sekarang yang menganggapnya sebagai pahlawan dan simbol nasionalisme Indonesia dan persatuan Nusantara.

Meski perannya di Kerajaan Majapahit begitu melegenda, akhir riwayat Gajah Mada hingga kini masih belum jelas. Dari cerita-cerita rakyat Jawa Timur, Gajah Mada dikisahkan menarik diri setelah Peristiwa Bubat dan memilih hidup sebagai pertapa di Madakaripura di pedalaman Probolinggo selatan, wilayah kaki pegunungan Bromo-Semeru. Di wilayah Probolinggo ini memang terdapat air terjun bernama Madakaripura yang airnya jatuh dari tebing yang tinggi.

Di balik air terjun yang mengguyur bak tirai itu terdapat deretan ceruk dan satu goa yang cukup menjorok dalam dan dipercaya dulu Gajah Mada menjadi pertapa dengan menarik diri dari dunia ramai sebagai wanaprastha (menyepi tinggal di hutan) hingga akhir hayatnya.

Berikut ini tim kami Kuwaluhan.com telah merangkum beberapa kesaktian Patih Gajah Mada :

1. Memiliki Ajian Saipi Angin
2. Aji Mundri
3. Kebal terhadap senjata
4. Ajian Gelap Ngampar
5. Ilmu Brajamusti
6. Ajian Rawarontek

Itulah beberapa kesaktian Patih Gajah Mada, jika ada kekeliruan silahkan berkomentar.

Inilah Kumpulan Kesaktian Patih Gajah Mada Dari Majapahit

Aji Saka adalah legenda Jawa yang mengisahkan tentang kedatangan peradaban ke tanah Jawa, dibawa oleh seorang raja bernama Aji Saka. Kisah ini juga menceritakan mengenai mitos asal usul Aksara Jawa.

Asal Usul Aji Saka disebutkan berasal dari Bumi Majeti. Bumi Majeti sendiri adalah negeri antah-berantah mitologis, akan tetapi ada yang menafsirkan bahwa Aji Saka berasal dari Jambudwipa (India) dari suku Shaka (Scythia), karena itulah ia bernama Aji Saka (Raja Shaka). Legenda ini melambangkan kedatangan Dharma (ajaran dan peradaban Hindu-Buddha) ke pulau Jawa. Akan tetapi penafsiran lain beranggapan bahwa kata Saka adalah berasal dari istilah dalam Bahasa Jawa saka atau soko yang berarti penting, pangkal, atau asal-mula, maka namanya bermakna "raja asal-mula" atau "raja pertama".

Mitos ini mengisahkan mengenai kedatangan seorang pahlawan yang membawa peradaban, tata tertib dan keteraturan ke Jawa dengan mengalahkan raja raksasa jahat yang menguasai pulau ini. Legenda ini juga menyebutkan bahwa Aji Saka adalah pencipta tarikh Tahun Saka, atau setidak-tidaknya raja pertama yang menerapkan sistem kalender Hindu di Jawa. Kerajaan Medang Kamulan mungkin merupakan kerajaan pendahulu atau dikaitkan dengan Kerajaan Medang dalam catatan sejarah.

KISAH AJI SAKA DENGAN RAJA SILUMAN

Setelah pulau Jawa dipakukan ke tempatnya, pulau ini menjadi dapat dihuni. Akan tetapi bangsa pertama yang menghuni pulau ini adalah bangsa denawa (raksasa) yang biadab, penindas, dan gemar memangsa manusia. Kerajaan yang pertama berdiri di pulau ini adalah Medang Kamulan, dipimpin oleh raja raksasa bernama Prabu Dewata Cengkar, raja raksasa yang lalim yang punya kebiasaan memakan manusia dan rakyatnya.

Pada suatu hari datanglah seorang pemuda bijaksana bernama Aji Saka yang berniat melawan kelaliman Prabu Dewata Cengkar. Aji Saka berasal dari Bumi Majeti. Suatu hari menjelang keberangkatannya ia memberi amanat kepada kedua abdinya yang bernama Dora dan Sembodo, bahwa ia akan berangkat ke Jawa. Ia berpesan bahwa saat ia pergi mereka berdua harus menjaga pusaka milik Aji Saka.

Tidak ada seorangpun yang boleh mengambil pusaka itu selain Aji Saka sendiri. Setelah tiba di Jawa, Aji Saka menuju ke pedalaman tempat ibu kota Kerajaan Medang Kamulan. Ia kemudian menantang Dewata Cengkar bertarung. Setelah pertarungan yang sengit, Aji Saka akhirnya berhasil mendorong Prabu Dewata Cengkar ke laut Selatan (Samudra Hindia). Akan tetapi Dewata Cengkar belum mati, ia berubah wujud menjadi Bajul Putih (Buaya Putih). Maka Aji Saka naik takhta sebagai raja Medang Kamulan.

KISAH AJI SAKA DENGAN ULAR RAKSASA

Sementara itu seorang perempuan tua di desa Dadapan, menemukan sebutir telur. Ia meletakkan telur itu di lumbung padi. Setelah beberapa waktu telur itu hilang dan sebagai gantinya terdapat seekor ular besar di dalam lumbung itu. Orang-orang desa berusaha membunuh ular itu, akan tetapi secara ajaib ular itu dapat berbicara: "Aku anak dari Aji Saka, bawalah aku kepadanya!" Maka diantarkanlah ia ke istana. Aji Saka mau mengakui ular itu sebagai putranya dengan syarat bahwa ular itu dapat mengalahkan dan membunuh Bajul Putih di Laut Selatan. Ular itu menyanggupi, setelah berkelahi dengan sangat sengit dengan kedua pihak memperlihatkan kekuatan yang luar biasa, ular itu akhirnya dapat membunuh Bajul Putih.

Sesuai janjinya ular itu diangkat anak oleh Aji Saka dan diberi nama Jaka Linglung (anak lelaki yang bodoh). Di istana Jaka Linglung dengan rakus memangsa semua hewan peliharaan istana. Sebagai hukumannya sang raja mengusir dia ke hutan Pesanga. Ia diikat erat hingga tak dapat bergerak, lalu Aji Saka bersabda bahwa ia hanya boleh memakan benda apa saja yang masuk ke mulutnya.

Suatu hari ada sembilan orang bocah lelaki bermain di hutan. Tiba-tiba turun hujan, mereka pun berlarian mencari tempat berteduh. Untungnya mereka menemukan sebuah gua. Hanya delapan anak yang masuk berteduh ke gua itu. Seorang anak yang menderita penyakit kulit dilarang ikut masuk ke dalam gua. Tiba-tiba gua runtuh dan menutup pintu keluarnya. Delapan orang bocah itu hilang terkurung di gua. Sesungguhnya gua itu adalah mulut Jaka Linglung.

AWAL MULA AKSARA JAWA

Sementara setelah Aji Saka memerintah di Medang Kamulan, Aji Saka mengirim utusan pulang ke rumahnya di Bumi Majeti untuk mengabarkan kepada abdinya yang setia Dora and Sembodo, untuk mengantarkan pusakanya ke Jawa. Utusan itu bertemu Dora dan mengabarkan pesan Aji Saka. Maka Dora pun mendatangi Sembodo untuk memberitahukan perintah Aji Saka.

 Sembodo menolak memberikan pusaka itu karena ia ingat pesan Aji Saka: tidak ada seorangpun kecuali Aji Saka sendiri yang boleh mengambil pusaka itu. Dora dan Sembodo saling mencurigai bahwa masing-masing pihak ingin mencuri pusaka tersebut. Akhirnya mereka bertarung, dan karena kedigjayaan keduanya sama maka mereka sama-sama mati. Aji Saka heran mengapa pusaka itu setelah sekian lama belum datang juga, maka ia pun pulang ke Bumi Majeti.

Aji saka terkejut menemukan mayat kedua abdi setianya dan akhirnya menyadari kesalahpahaman antara keduanya berujung kepada tragedi ini. Untuk mengenang kesetiaan kedua abdinya maka Aji Saka menciptakan sebuah puisi yang jika dibaca menjadi Aksara Jawa hanacaraka. Susunan alfabet aksara Jawa menjadi puisi sekaligus pangram sempurna, yang diterjemahkan sebagai berikut :

Hana caraka; Ada dua utusan
data sawala; Yang saling berselisih
padha jayanya; (Mereka) sama jayanya (dalam perkelahian)
maga bathanga; Inilah mayat (mereka).

secara rinci:

hana / ana = ada
caraka = utusan (arti sesungguhnya, 'orang kepercayaan')
data = punya
sawala = perbedaan (perselisihan)
padha = sama
jayanya = 'kekuatannya' atau 'kedigjayaannya', 'jaya' dapat berarti 'kejayaan'
maga = 'inilah'
bathanga = mayatnya

Itulah kisah singkat cerita Aji Saka yang melegenda, jika ada kekeliruan silahkan berkomentar.

Kisah Cerita Dan Asal Usul Aji Saka Legenda Jawa

Maharaja Jayabhaya adalah Raja Kediri yang memerintah sekitar tahun 1135-1157. Nama gelar lengkapnya adalah Sri Maharaja Sang Mapanji Jayabhaya Sri Warmeswara Madhusudana Awataranindita Suhtrisingha Parakrama Uttunggadewa.

Nama besar Jayabhaya tercatat dalam ingatan masyarakat Jawa, sehingga namanya muncul dalam kesusastraan Jawa zaman Mataram Islam atau sesudahnya sebagai Prabu Jayabaya. Contoh naskah yang menyinggung tentang Jayabaya adalah Babad Tanah Jawi dan Serat Aji Pamasa.

Dikisahkan Jayabaya adalah titisan Wisnu. Negaranya bernama Widarba yang beribu kota di Mamenang. Ayahnya bernama Gendrayana, putra Yudayana, putra Parikesit, putra Abimanyu, putra Arjuna dari keluarga Pandawa.

Permaisuri Jayabaya bernama Dewi Sara. Lahir darinya Jayaamijaya, Dewi Pramesti, Dewi Pramuni, dan Dewi Sasanti. Jayaamijaya menurunkan raja-raja tanah Jawa, bahkan sampai Majapahit dan Mataram Islam. Sedangkan Pramesti menikah dengan Astradarma raja Yawastina, melahirkan Anglingdarma raja Malawapati.

Jayabaya turun takhta pada usia tua. Ia dikisahkan moksha di desa Menang, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri. Tempat petilasannya tersebut dikeramatkan oleh penduduk setempat dan masih ramai dikunjungi sampai sekarang.

Prabu Jayabaya adalah tokoh yang identik dengan ramalan masa depan Nusantara. Terdapat beberapa naskah yang berisi “Ramalan Joyoboyo”, antara lain Serat Jayabaya Musarar, Serat Pranitiwakya, dan lain sebagainya.

Berikut ini adalah beberapa kesaktian Prabu Jayabaya yang kami dapatkan dari berbagai sumber :

1. Meramalkan Keadaan Nusantara, yang disebut "Jangka Jayabaya",
2. Tidak Pernah Kalah Setiap Perang,
3. Menyabda Seorang Putri Dari Kadipaten Lodoyo Menjadi Batu (Arca Totok Kerot)
4. Mengetahui Sesuatu Yang Belum Terjadi
5. Bisa Mengalahkan Dan Menyatukan Kembali Kerajaan Jenggala.

Itulah beberapa kesaktian Prabu Jayabaya dari Kerajaan Kediri, jika menurut anda tulisan di atas keliru silahkan berkomentar di kotak yang disediakan.

Inilah Kesaktian Prabu Jayabaya Dari Kerajaan Kediri

Batara Guru adalah Dewa yang merajai ketiga dunia, yakni Mayapada (dunia para dewa atau surga), Madyapada (dunia manusia atau bumi), Arcapada (dunia bawah atau neraka). Namanya berasal dari bahasa Sanskrit Bhattara yang berarti "tuan terhormat" dan Guru, epitet dari Bṛhaspati.

Menurut mitologi Jawa, Bathara Guru merupakan Dewa yang merajai ketiga dunia, yakni Mayapada (dunia para dewa atau surga), Madyapada (dunia manusia atau bumi), Arcapada (dunia bawah atau neraka). Ia merupakan perwujudan dari dewa Siwa yang mengatur wahyu, hadiah, dan berbagai ilmu. Batara Guru mempunyai sakti (istri) bernama Dewi Uma dan Dewi Umaranti. Bathara Guru mempunyai beberapa anak.

Wahana (hewan kendaraan) Batara Guru adalah sang lembu Nandini. Ia juga dikenal dengan berbagai nama seperti Sang Hyang Manikmaya, Sang Hyang Caturbuja, Sang Hyang Otipati, Sang Hyang Jagadnata, Nilakanta, Trinetra, dan Girinata.

KELAHIRAN BHATARA GURU

Betara Guru (Manikmaya) diciptakan dari cahaya yang gemerlapan oleh Sang Hyang Tunggal, bersamaan dengan cahaya yang berwarna kehitam-hitaman yang merupakan asal jadinya Ismaya (Semar). Oleh Hyang Tunggal, diputuskanlah bahwa Manikmaya yang berkuasa di Suryalaya, sedangkan Ismaya turun ke bumi untuk mengasuh para Pandawa.

Batara Guru memiliki dua saudara, Sang Hyang Maha Punggung dan Sang Hyang Ismaya. Orang tua mereka adalah Sang Hyang Tunggal dan Dewi Rekatawati. Suatu hari, Dewi Rekatawati menelurkan sebutir telur yang bersinar. Sang Hyang Tunggal mengubah telur tersebut, kulitnya menjadi Sang Hyang Maha Punggung(Togog) yang sulung, putih telur menjadi Sang Hyang Ismaya (Semar), dan kuningnya menjadi Sang Hyang Manikmaya.

Kemudian waktu, Sang Hyang Tunggal menunjuk dua saudaranya yang lebih tua untuk mengawasi umat manusia, terutama Pandawa, sementara Batara Guru (atau Sang Hyang Manikmaya) memimpin para dewa di kahyangan.

Saat diciptakan, ia merasa paling sempurna dan tiada cacatnya. Hyang Tunggal mengetahui perasaan Manikmaya, lalu Hyang Tunggal bersabda bahwa Manikmaya akan memiliki cacad berupa lemah di kaki, belang di leher, bercaling, dan berlengan empat. Batara Guru amat menyesal mendengar perkataan Hyang Tunggal, dan sabda dia betul-betul terjadi.

Suatu ketika Manikmaya merasa sangat dahaga, dan ia menemukan telaga. Saat meminum air telaga itu—yang tidak diketahuinya bahwa air tersebut beracun—lantas dimuntahkannya kembali, maka ia mendapat cacad belang di leher. Diperhatikannya kalau manusia ketika lahir amatlah lemah kakinya. Seketika, kakinya terkena tulah, dan menjadi lemahlah kaki kiri Manikmaya.

Saat ia bertengkar dengan istrinya Dewi Uma, dikutuknya Manikmaya oleh Dewi Uma, agar ia bercaling seperti raksasa, maka bercalinglah Manikmaya. Sewaktu Manikmaya melihat manusia yang sedang sembahyang yang bajunya menutupi tubuhnya, maka tertawalah Manikmaya karena dikiranya orang itu berlengan empat. Maka seketika berlengan empatlah Manikmaya.

Hal ini adalah salah satu upaya de-Hinduisasi wayang dari budaya Jawa yang dilakukan Walisongo dalam upayanya menggunakan wayang sebagai sarana penyebaran Islam di Jawa. Contoh lain adalah penyebutan Drona menjadi Durna (nista), adanya kisah Yudistira harus menyebut kalimat syahadat sebelum masuk surga, dan lain-lain.

KETURUNAN BHATARA GURU

Berikut adalah urutan anak-anak Batara Guru, dimulai dari yang paling sulung (menurut tradisi wayang Jawa):

- Bhatara Cakra
- Batara Sambu
- Batara Brahma
- Batara Indra
- Batara Bayu
- Batara Wisnu
- Batara Ganesha
- Batara Kala
- Hanoman

Kisah Asal Usul Batara Guru (Manikmaya) Dalam Hindu

Mungkin banyak yang belum begitu mengenal siapa sebenarnya Maharaja Prabu Lingga Buana tersebut termasuk orang sunda sendiri, padahal kita sering mendengar raja sunda yang gugur di Bubat, waktu perang melawan Patih gajah Mada dari Majapahit. Dengan demikian yang akan dibahas selanjutnya adalah Raja yang gugur di medan Bubat.

Banyak sejarah tentang Prabu Wangi ini yang belum diungkap ke publik, terutama dari sumber kuno yang hingga kinipun tidak pernah dipakai, karena masalah politik dan dominasi di negara kita ini. Tetapi dalam kisah Prabu Lingga Buana disini akan banyak menampilkan sejarah atau kisah yang diungkapkan oleh naskah kuno yang bernama Kidung sunda atau kidung sundayana, yang ditulis oleh sejarawan Bali, yang waktu itu ada di majapahit, ketika sama sama akan menghadiri acara pernikahan Hayam Wuruk, Raja dari majapahit dan Dyah Pitaloka putri dari kerjaan Sunda.

Prabu Linggabuana terkenal sebagai seorang yang perkasa. Naskah Wangsakerta melukiskan dirinya sebagai berikut: ” Di medan perang bubat ia banyak membinasakan musuhnya karena Prabu Maharaja sangat menguasai ilmu senjata dan mahir berperang, tidak mau negaranya  diperintah dan dijajah  orang lain.” Ia tidak merasa takut berhadapan dengan pasukan majapahit meskipun berada dikandang lawan (di daerah majapahit). Ia juga tidak merasa gentar meskipun pasukannya tidak dipersiapkan untuk berperang (ia membawa pasukan hanya untuk mengantar penganten), dan dalam jumlah yang sedikit, melawan pasukan Majapahit yang memang sudah dipersiapkan untuk berperang. Ia tidak gentar mengahadapi pasukan majapahit yang dipimpin  oleh Patih Gajah Mada  yang jumlahmya tidak terhitung.

Pada tahun 1339 M Sang Raja Sunda sangat bahagia ketika menyaksikan kelahiran sang bayi wanita, cucunya  yang sangat cantik. Sang raja tersebut tersebut kemudian memberi nama bayi tersebut dengan nama  Citraresmi.

Sang Raja yang berbahagia tersebut diatas bernama Maharaja Prabu Raga Mulya Luhur Prabawa. Ia merupakan raja Kerajaan Sunda  yang berkuasa  dari tahun 1340 hingga tahun 1350 M. Dan anak wanita tersebut merupakan putri dari putra Mahkota, Pangeran Linggabuana.

Maharaja Prabu Raga Mulya Luhur Prabawa, dalam naskah Carita parahiyangan di sebut Sang Aki Kolot. Ia berkuasa di tanah Sunda dan galuh selama 10 tahun. Ia menggantikan menjadi raja menggantikan ayahnya Prabu Ajiguna Wisesa atau Sang Mokteng Kidding (yang hilang di kidding) yang berkuasa dari tahun 1333-1340 M. Sang Aki Kolot atau Prabu Ragamulya Luhur Prabawa merupakan putra dari Ajigunana wisesa dengan putri Rimamelati.      Setelah meninggal, ia dikenal  dengan Salumah Ing  Taman, karena ia meninggal di Taman.

RagamulyaLuhur Prabawa atau sang aki kolot mempunyai adik yang bernama Prabu Suryadewata, yang diangkat menjadi raja Galuh. sang adik raja atau  Prabu Suryadewata inilah di kemudian hari yang menurunkan raja raja kerajaan Talaga.  Dan Prabu Suryadewata ini juga yang merupakan cikal bakal dari kerajaan Sumedang larang. Prabu Suryadewata sebelum kepindahan keraton Galuh ke Pakuan, menginstruksikan kepada Prabu Aji Putih untuk membangun kabuyutan di Tembong Agung, yang merupakan cikal bakal kerajaan Sumedang larang.

Pada tahun 1350 M, Sang raja Prabu Raga Mulya Luhur Prabawa meninggal dunia. Dan ia kemudian digantikan oleh anaknya pangeran Linggabuana. Sang Pangeran dinobatkan menjadi raja  pada  tanggal 14 bagian terang bulan palguna tahun 1272 Saka (22 Februari 1350 M), dengan nama penobatan Prabu Linggabuana Wisesa.

Dalam melaksanakan pemerintahannya sehari hari Sang Raja  baru tersebut di bantu oleh adik iparnya, yang menjadi mangkubumi, yaitu Sang Bunisora yang bergelar Mangkubumi Saradipati.

Dalam naskah carita Parahiyangan Prabu Linggabuana hanya disebut Prabu Maharaja saja.

 Sebagai berikut: “....Boga anak, Prebu Maharaja, lawasna jadi ratu tujuh taun, lantaran keuna ku musibat,

 Kabawa cilaka ku anakna, ngaran Tohaan, menta gede pameulina.

 Urang rea asalna indit ka Jawa, da embung boga salaki di Sunda. Heug wae perang di Majapahit.....“

Prabu Maharaja Linggabuana berprameswarikan Dewi Lara Linsing, darinya ia mempunyai 4 orang anak, tetapi anak kedua dan ketiganya meninggal pada usia 1 tahun. Anak pertamanya seorang wanita yang terkenal dalam sejarah, yaitu Dyah Pitaloka, lahir tahun 1339 M, oleh kakeknya diberi nama Citraresmi, dan anak terakhirnya ( yang ke-empat) seorang laki-laki yang dikemudian hari menjadi raja yang sangat terkenal, yaitu Wastukencana yang lahir tahun 1348 M.

HAYAM WURUK JATUH HATI PADA PUTRI PRABU LINGGABUANA

Di ibukota majapahit, telah beredar lukisan seorang wanita cantik. Masyarakat ibukota Majapahit merasa kagum terhadap kecantikan wanita dalam lukisan  yang begitu sempurnanya. Seolah di seluruh negeri Majapahit tidak ada yang menandinginya. Lukisan tersebut adalah karya maestro waktu itu yang bernama Sungging Prabangkara, yang secara diam diam ia melukis Sang Putri Sunda ketika berkunjung ke Pakuan, ibukota kerajaan Sunda.

Sungging Prabangkara adalah Seorang seniman dan pelukis profesional, yang senang mengembara ke berbagai negeri untuk melukis berbagai hal yang menarik dari negeri negeri yang dikunjunginya. Ia tidak hanya melukis kecantikan putri sunda saja, tetapi banyak juga koleksinya tentang putri putri raja atau bangsawan di berbagai negeri yang ia kunjungi. Dan yang mendapat respon yang paling besar dari lukisannya adalah lukisan tentang putri sunda tersebut.

Tentang lukisan wanita cantik begitu terkenalnya. Banyak orang yang memperbicangkan bahwa wanita itu cocok untuk Sang Raja yang baru dilantik menjadi raja. Apalagi sang raja belum punya pasangan. Tidak hanya di masyarakat banyak, ternyata lukisan tersebut juga menjadi perbincangan yang hangat di kalangan istana majapahit. Sejumlah pangeran banyak yang begitu mengaguminya, termasuk Sang raja Muda Majapahit, yaitu Hayam Wuruk, yang waktu itu masih bujangan.

 Melihat lukisan tersebut seolah memberikan jawaban tentang angan angan sang raja untuk mempersunting seorang wanita yang cantik, yang ia rasakan belum ada yang cocok di lingkungan kerajaan Majapahit.  Padahal banyak bangsawan dan raja bawahan majapahit yang mengidolakan sang raja untuk menjadi menantu mereka. Dan hal ini juga sangat diharap oleh kaum mudi Majapahit dan putri putri bangsawan serta raja bawahan Majapahit. Tetapi seolah semua putri bangsawan dan raja bawahan tidak membuat Sang raja tertarik. Justru Sang Raja sangat mengidolakan lukisan karya maestro, Sungging Prabangkara tersebut.

Setelah menjadi raja, seolah Hayam Wuruk merasa ada yang kurang dalam dirinya. Ia begitu merindukan sosok pendamping yang ia idolakan. Seolah tidak ada yang menarik hatinya di sekitar istana Majapahit. Dan hal ini seolah mendapat jawaban dari karya sang pelukis tersebut.

Karena itu ia mengutus para mentrinya untuk mendatangkan sang pelukis ke istana. Apakah memang benar benar lukisannya itu nyata, atau hanya khayalan sang pelukis belaka. Sang pelukis meyakinkan bahwa memang benar adanya. Menurutnya, ia telah mengembara ke berbagai negeri, dan ia begitu terpesona tentang kecantikan Diah Pitaloka, putri Sang Raja Sunda yang begitu cantiknya, sehingga ia melukisnya.

Mendengar penjelasan dari sang pelukis, sang raja seolah ingin meyakinkan tentang kebenaran lukisan wanita tersebut. Maka sang raja kemudian mengutus pelukis istana, dan orang orang kepercayaannya sang raja untuk meyakinkannya. Disamping pelukis, orang kepercayaan yang diustus oleh sang raja terdiri dari 5 orang, yaitu:Gajah Enggon yang menjabat sbagai pimpinan utusan, Ma Panji Elam (sang Arya Rajapakrama), Pu Kapasa (stys suradhiraja), Pu Menur (sang Arya Wangsaprana), Pu Kapat (Sng arya Patipati).

Setelah utusan kembali ke Majapahit dan meaporkan tentang kebenaran Sang Putri Sunda yang cantik tiada taranya. Maka dengan persetujuan keluarganya, Hayam Wuruk mengirimkan surat kehormatan kepada maharaja Linggabuan untuk meminang putri Sunda melalui perantara tuan Anepaken. Dan rombongan utusan kedua dipimpin oleh Patih Madu yang membawa berbagai macam keperluan untuk meminang putri tersebut sekaligus membicarakan kapan dan dimana pesta perkawinan antara raja Hayam Wuruk dan putri akan dilangsungkan.

Setelah pinangan dari Haayam Wuruk diterima, akhirnya disepakati bersama bahwa Raja Linggabuana, permaisuri dan beberapa bangsawan istana akan berangkat ke Majapahit untuk mengantarkan Putri, sekaligus melangsungkan acara pesta perkawinan di ibukota Majapahit.

Raja Sunda, Prabu Linggabuana adalah seorang ksatria, yang sangat menjunjung tinggi moral. Ia sangat mempercayai maksud dan tujuan Raja Majapahit untuk menjadikan putrinya menjadi istri raja majapahit tersebut. Tidak ada rasa takut, karena kelurusan hatinya. Ia tidak pernah menyangka bahwa nantinya akan dikhianati justru sudah nyampai tujuan.

Dan Sang Raja juga menerima pinangan karena untuk mempererat tali persaudaraan, karena pendiri Majapahit, atau kakek sang Raja Majapit tersebut adalah merupakan keturunan dari Raja Sunda. Dengan demikian dengan jauh dari rasa prasangka seolah persaudaraan turunan sedarah seolah akan dieratkan lagi dengan acara perkawinan di antara kedua negara.

Seperti telah diceritakan sebelumnya, bahwa Raden Wijaya adalah ketrunan dari Raja Sunda. Ayahnya  Pangeran Jayadarma, yang merupakan putra mahkota dari kerajaan Sunda meninggal akibat di racun, ketika Rade Wijaya masih kecil. Karena itu, ibunya yang berasal dari Singasari, meminta kembali pulang ke daerah asalnya, Singasari. pangeran jayadarma merupakan putra dari raja Prabu Darmasiksa.

Tentang rencana keberangkatan Sang raja ke Majapahit, pada awalnya ditentang oleh piak dewan kerajaan Sunda, terutama Mangkubumi Hyang Bunisora Suradipati. Kaarena menurut adat yang berlaku, tidak lazim pihak pengantin wanita datang ke pengantin laki-laki. Menurut mereka kemungkinan hal itu merupakan jebakan dari pihak majapahit yang saat itu ingin menguasai tanah sunda, karena dari beberapa peperangan seblumnya Majapahit pernah dikalahkan.

Tetapi Sang Raja Linggabuana sangatlah berjiwa besar, apalagi bahwa pendiri Majapahit masih merupakan bangsawan Sunda. Dengan alasan silaturahmi untuk mempererat persaudaraan. Sebagai bangsa besar yang tidak pernah dikalahkan, seolah Sang Raja terlalu percaya diri akan kebaikan orang lain. Apalagi masih keturunan yang sama. Dan akhirnya iia memutuskan untuk berangkat ke Majapahit, karena rasa persaudaraan yang sudah ada dari garis leluhur kedua negara tersebut.

Prabu Lingga Buana berangkat bersama rombongan Sunda ke Majapahit dan diterima dan ditempatkan dipasanggrahan Bubat. Rombongan Sang raja disamping diikuti oleh oleh Prameswarinya, juga diikuti oleh pembesar Sunda lainnya.

KESALAHPAHAMAN GAJAH MADA

Mengetahui bahwa Raja sunda beserta rombongan tidak membawa senjata lengkap, karena bertujuan untuk mengantar sang penganten. Timbullah niatnya untuk untuk memamfaatkan kesempatan. Karena waktu itu kerajaan Sunda adalah salah satu negara terkuat di Jawa, untuk menyerang ke negaranya kemungkinan akan kalah seperti yang dialami sebelumnya (Kisah peperangan antara majapahit dengan Sunda, pernah terjadi seperti yang diungkapkan oleh salah seorang patih Sunda yang memaki Gajahmada (lihat Naskah Kidung Sundayana yang ditulis oleh orang Bali)).

Karena itu seolah kesempatan yang ditunggu tunggu justru datang sendiri. Karena itu seolah sudah disetting sbelumnya, bahwa kerajaan Sunda ditempatkan di pasanggarahan Bubat, karena jika terjadi peperangan akan mudah diserang di berbagai penjuru.

Gajah Mada juga memamfaatkan keberadaan raja sunda yang ada dekat pusat kerajaan Majapahit. Dengan demikian, jika terjadi pertempuranpun akan mudah mendatangkan seluruh pasukan Majapahit ke medan perang.

Etika dalam perang bukanlah budaya yang dikembangkan oleh Gajah Mada, menjunjung sikap ksatria juga bukanlah jiwa dari sang patih ini. Justru mengembangkan sikap Ajimumpung. Sikap mumpung Sang raja Sunda tidak bersenjata untuk perang. Karena itu ia dengan gagah beraninya membuat suatu kepustusan bahwa kedatangan sang Raja sunda ke tanah majapahit sebagai suatu tanda takluk kepada Majapahit.

Tentu sikap Patih Gajah mada ini membuat Sang Raja Marah, dan karen itu ia mengutus sang Patih untuk menemui Patih Gajah Mada. Patih Sunda dengan gagah berani tanpa sedikitpun takut meski di negeri orang memaki maki Gajah Mada yang tidak mengembangkan sikap seorang ksatria, seperti yang diungkapkan dalam Naskah Kidung Sundayana.

Ih angapa, Gajah Mada, agung wuwusmu i kami, ngong iki mangkw angaturana sira sang rajaputri, adulurana bakti, mangkana rakwa karěpmu, pada lan Nusantara dede Sunda iki, durung-durung ngong iki andap ring yuda.

Abasa lali po kita nguni duk kita aněkani jurit, amrang pradesa ring gunung, ěnti ramening yuda, wong Sunda kagingsir, wong Jipang amburu, praptâpatih Sunda apulih, rusak wadwamu gingsir.

Mantrimu kalih tinigas anama Lěs Beleteng angěmasi, bubar wadwamu malayu, anânibani jurang, amurug-murug rwi, lwir patining lutung, uwak setan pating burěngik, padâmalakw ing urip.

Mangke agung kokohanmu, uwabmu lwir ntuting gasir, kaya purisya tinilar ing asu, mengkene kaharěpta, tan pracura juti, ndi sasana tinutmu gurwaning dustârusuh, dadi angapusi sang sadubudi, patitânêng niraya atmamu těmbe yen antu.

“Wahai Gajah Mada, apa maksudnya engkau bermulut besar terhadap kami? Kami ini sekarang ingin membawa Tuan Putri, sementara engkau menginginkan kami harus membawa bakti sama seperti dari Nusantara. Kami lain, kami orang Sunda, belum pernah kami kalah berperang.

Seakan-akan lupa engkau dahulu kala, ketika engkau berperang, bertempur di daerah-daerah pegunungan. Sungguh dahsyat peperangannya, diburu orang Jipang. Kemudian patih Sunda datang kembali dan bala tentaramu mundur.

Kedua mantrimu yang bernama Lěs dan Beleteng diparang dan mati. Pasukanmu bubar dan melarikan diri. Ada yang jatuh di jurang dan terkena duri-duri. Mereka mati bagaikan kera, siamang dan setan. Di mana-mana mereka merengek-rengek minta tetap hidup.

Sekarang, besar juga kata-katamu. Bau mulutmu seperti kentut jangkrik, seperti tahi anjing. Sekarang maumu itu tidak sopan dan berkhianat. Ajaran apa yang kau ikuti selain engkau ingin menjadi guru yang berdusta dan berbuat buruk. Menipu orang berbudi syahdu. Jiwamu akan jatuh ke neraka, jika mati!”

Dari perkataan sang Patih Sunda ini,  (yang terdapat dalam Kidung Sundayana ini) kita jadi mengetahui, bahwa telah terjadi peperangan antara Majapahit dan kerajaan Sunda sebelumnya. Dimana pasukan Majapahit dikejar kejar dan diburu orang Jipang. Dan kemudian pasukan sunda kembali dan balatentara Majapahit Mundur. Kedua mentriMajapahit yang bernama Les dan Beleteng diparang dan mati. Pasukan Majapahit bubar dan melarikan diri, ada yang masuk ke jurang dan kena duri. Dimana mana pasukan majapahit merengek rengek minta dkasihani untuk hidup.

Sang Patih Sunda seolah tidak takut terhadap Gajah Mada meskipun mereka di daerah Majapahit. Cuma Dia menyayangkan  sikap Gajah Mada yang hianat, tidak sopan. Sehingga sang Patih mempertanyakan tentang ajaran yang dianut oleh sang patih, seolah tidak beragama dan tidak punya etika sebagai ksatria, yang senang menipu orang yang berbudi sahdu.

TERJADINYA PERANG BUBAT

Sumber yang paling banyak menceritakan tentang perang Bubat adalah naskah Kidung Sunda dan Kidung Sundayana yang berasal dari Bali. Dalam Kitab pararthon dikisahkan peristiwa Bubat terjadi padaa tahun saka 1257 atau 1357 M.

Dalam naskah-naskah kuno, yang dibuat pada masa majapahit, baik oleh para pujangga, tidak memasukan kerajaan sunda pada negara-negara nusantara. Kerajaan Sunda tidak pernah kalah perang melawan majapahit, bahkan dimungkinkan Majapahit  pernah mengalami kekalahan yang tragis, seperti apa yang diungkapkan oleh Patih Anepaken kepada Gajah Mada, naskah Kidung Sunda dari Bali menceritakan dengan jelas tentang itu.

Patih anepaken merupahan mahapatih Sunda yang mengikuti rombongan maharaja Linggabuana untuk mengantar putri ke Majapahit. Ia tidak merasa takut meskipun hanya diiringi oleh 300 pasukan untuk melawan ribuan yang dipersiapkan oleh Gajah Mada.

 Dari perkataan yang dikutip dalam kidung Sunda tersebut, maka ada beberapa kesimpulan:

Pertama Patih Anepaken ingin mengatakan bahwa kerajaan Sunda adalah kerajaan besar, yang tidak ada satu negarapun yang dapat menguasai Sunda, demikian juga Majapahit.

Kedua: Kritikannya terhadap moralitas Majapahit yang  mengambil kesempatan dalam kesempitan. Menantang perang kepada lawan yang tidak membawa senjata perang, dan dengan harapan persaudaraan (perkawinan).

Ketiga. Ingin mengingatkan bahwa tempo dulu ketika majapahit berperang dengan kerajaan Sunda, dengan kekalahan yang telak, dimana para mantrinya dengan meminta belas kasihan dari para prajurit Sunda.

Keempat: Gajah mada sangat mengetahui kehebatan kerajaan Sunda, karena tidak mungkin mengalahkan mereka, bahkan pernah kalah sebelumnya. Karena itu ia bagaikan mendapat durian runtuh ketika rombongan raja Sunda datang ke kandangnya dengan tidak bersenjata lengkap, karena hendak mengantar penganten, suatu kesempatan untuk  balas dendam.

PENGARUH DARI PERANG BUBAT

Perang bubat diyakini mengakibatkan akhir dari karir patih Gajah Mada. Ia dipersalahkan  karena peristiwa itu. Meskipun masih menjabat patih hingga beberapa tahun berikutnya, tetapi pamornya sangat menurun.

Dan perang Bubat ini membuat pamor dari Majapahit menurun drastis, dan dalam perkembangannya tidak terlalu lama majapahit hancur dan hilang seolah ditelan Bumi.

Hayam Wuruk meninggal pada tahun 1389 M, dan dimakamkan di Tayung (daerah Kediri sekarang). Ia digantikan oleh menantunya dan juga keponakannnya, Wikrawardhana, (suami dari anak perempuannya). Dan anaknya dari selirnya, Bhre Wirabhumi, diber kekuasaan di ujung Jawa timur. Dan dalam perkembangannya sering terjadi perang antara kedaton kulon (Wikramardhana) dan kedaton wetan (Bhre Wirabhumi), untuk memperebutkan keekuasaannya. Dengan demikian Setelah hayam Wuruk wilayah Majapahit hanyalah kekuasaan yang meliputi jawa tengah dan jawa timur.

Patih Gajah Mada meninggal pada tahun 1364 M (7 tahun setelah perang bubat).

Kisah Asal Usul Prabu Linggabuana Dari Kerajaan Sunda

Berdasarkan perbandingan dengan peninggalan sejarah lainnya seperti naskah Carita Parahyangan dan Pustaka Rajya Rajya i Bhumi Nusantara, disimpulkan bahwa Prasasti Kawali I merupakan sakakala atau tugu peringatan untuk mengenang kejayaan Prabu Niskala Wastu Kancana, penguasa Sunda Galuh yang bertahta di Kawali, putra Prabu Linggabuana yang gugur di Bubat.

Niskala Wastu Kancana atau Anggalarang atau Wangisutah lahir di Galuh, Kawali pada tahun 1348 dan wafat pada tanggal 1475, di Kawali, Ciamis. Niskala Wastu Kancana adalah raja dari Kerajaan Sunda Galuh bersatu dan memerintah antara tahun 1371 hingga 1475. Sebelumnya didahului oleh pamannya, Prabu Guru Mangkubumi Bunisora Suradipati atau Prabu Guru di Jampang (1357-1371) yang memerintah setelah kakaknya, Prabu Maharaja Linggabuana, gugur di Palagan Bubat.

BIOGRAFI DAN SILSILAH

Ayahnya bernama Prabu Maharaja Linggabuana (yang gugur di Bubat saat ia berusia 9 tahun) putra Prabu Ragamulya Luhur Prabawa putra Prabu Ajiguna Linggawisésa. Ibunya Dewi Lara Linsing putri Prabu Arya Kulon Raja Sunda (di Pakuan Bogor sebagai raja bawahan) dengan Dewi Kiranasari putri Prabu Ajiguna Linggawisésa 1333-1340 M. Kakaknya, Puteri Dyah Pitaloka Citraresmi yang lahir pada tahun 1339 M dan ikut gugur bersama ayahnya, Prabu Maharaja, di Bubat pada hari Selasa Wage tanggal 4 September 1357 M.

Setelah mulai remaja Wastukancana kemudian melanglang buana ke Lampung, yang waktu itu masih dalam pengaruh kerajaan Sunda. Dan dari Lampung ini, ia kemudian menikah dengan putri Raja lampung, yang bernama Lara Sarkati. Dan kemudian menjadi prameswari pertamanya ketika ia diangkat menjadi raja pada tahun 1371 M, pada usia 23 tahun. Dari perkawinannya ini ia kemudian mempunyai anak yang bernama Sang Haliwungan, yang dikemudian hari menjadi raja Sunda di Pakuan, dengan bergelar Prabu Susuk Tunggal.

Sedang dari pernikahan dengan Dewi Mayangsari, putri pamannya, Prabu Rahyang Bunisora, Niskala Wastukancana mempunyai 4 orang putra. Yang sulung, bernama Ningrat Kancana yang naik tahta Kawali (Galuh) dan bergelar Prabu Dewa Niskala, yang berkuasa di timur sungai Citarum hingga sungai Cipamali. Yang kedua Surawijaya, yang ketiga Gedeng Sindangkasih, dan yang ke-4, Gedeng Tapa.

MASA PEMERINTAHAN

Mahaprabu Niskala Wastu Kancana banyak dibimbing tentang masalah kenegaraan dan keagaamaan oleh pamannya, Sang Bunisora, sehingga ia tumbuh menjadi orang bijaksana dan banyak disukai masyarakat. kepada Sang Bunisora, pamannya yang terkenal ketaatannya terhadap agama, sehingga Bunisora dikenal pula sebagai Rajaresi, penulis Carita Parahyangan memberi gelar Satmata, yakni gelar keagamaan tingkat kelima dari tujuh tingkat keagamaan yang dianut penguasa Sunda waktu itu.

Menurut naskah Kropak 630, tingkat batin manusia dalam keagamaan (Sunda) adalah: acara, adigama, gurugama, tuhagama, satmata, suraloka, dan nirawerah. Satmata adalah tingkatan ke 5, merupakan tahap tertinggi, bagi seseorang yang masih ingin mencampuri urusan duniawi. Setelah mencapai tingkat ke-6 (Suraloka), orang sudah sinis terhadap kehidupan umum. Pada tingkatan ke 7 (Nirawerah), padamlah segala hasrat dan nafsu, seluruh hidupnya pasrah kepada Hiyang Batara Tunggal (Tuhan Yang Esa).

Prabu Niskala Wastu Kancana menggantikan posisi Prabu Bunisora pada usia 23 tahun (1371) M, dengan gelar Mahaprabu Niskala Wastu Kancana atau Praburesi Buana Tunggadewata, dalam naskah yang paling muda ia disebut Prabu Linggawastu putra Prabu Linggahiyang. Tulisan dalam Carita Parahyangan tersebut, sebagai berikut :

aya deui putra prebu, kasohor ngaranna, nya eta prebu Niskala Wastu Kancana, nu tilem di nusalarang gunung wanakusuma. lawasna jadi ratu saratus opat taun, lantaran hade ngajalankeun agama, nagara gemah ripah. sanajan umurna ngora keneh, tingkah lakuna seperti nu geus rea luangna, lantaran ratu eleh ku satmata, nurut ka nu ngasuh, hiang bunisora, nu hilang di gegeromas. batara guru di jampang.sakitu nu diturut ku nu ngereh lemah cai. batara guru di Jampang teh, nya eta nyieun makuta sanghiang pake, waktu nu boga hak diangkat jadi ratu. beunang kuru cileuh kentel peujit ngabakti ka dewata. nu dituladna oge makuta anggoan sahiang indra. sakitu, sugan aya nu dek nurutan. enya eta lampah nu hilang ka nusalarang, daek eleh ku satmata. mana dina jaman eta mah daek eleh ku nu ngasuh. mana sesepuh kampung ngeunah dahar, sang resi tengtrem dina ngajalankeun palaturan karesianana ngamalkeun purbatisti purbajati. dukun-dukun kalawan tengtrem ngayakeun perjangjian-perjangjian make aturan anu patali jeung kahirupan, ngabagi-bagi leuweung jeung sakurilingna, ku nu leutik boh kunu ngede moal aya karewelanana, para bajo ngarasa aman lalayaran nurutkeun palaturan ratu. cai, cahaya, angin, langit, taneuh ngarasa senang aya dina genggaman pangayom jagat. ngukuhan angger-angger raja, ngadeg di sanghiang linggawesi, puasa, muja taya wates wangenna. sang wiku kalawan ajen ngajalankeun angger-angger dewa, ngamalkeun sanghiang watangageung. ku lantaran kayakinan ngecagkeun kalungguhanana teh.

AKHIR PEMERINTAHAN

Sang Mahaprabu Niskala Wastu Kancana, memerintah di Kerajaan Sunda, selama 103 tahun 6 bulan lebih 15 hari (1371 1475 Masehi). la wafat dalam usia kurang lebih 126 tahun. la masih sempat mendengar, Majapahit dilanda Perang Paregreg, akibat perebutan tahta di antara keturunan Prabu Hayam Wuruk, yang terjadi pada tahun 1453-1456 Masehi. Akibatnya, selama 3 tahun, Majapahit tidak mempunyai raja.

 Di saat Majapahit sedang dilanda kerusuhan, ia sedang menikmati ketenangan dan kedamaian pemerintahannya, sambil tak henti hentinya bertirakat dan beribadah (brata siya puja tan palum).

Setelah wafat, Sang Mahaprabu Niskala Wastu Kancana, dipusarakan di Nusalarang, sehingga ia kemudian dikenal dengan Sang Mokteng Nusalarang. Dan membagi wilayah sunda kepada 2 orang anaknya, yang satu berkuasa di Sunda sebelah barat (Pakuan), Bogor dan Sunda sebelah timur (Galuh), Kawali, Ciamis.

Pertama, Ningrat Kancana merupakan putra sulung hasil perkawinan Prabu Niskala Wastu Kancana dengan putri Dewi Mayangsari putri Prabu Bunisora. Ia kemudian diangkat menjadi sebagai Raja Anom di Galuh mendampingi ayahnya (Mahapraburesi Niskala Wastu Kancana penguasa Kerajaan Sunda Galuh), dengan gelar penobatan Ningrat Kancana, Prabu Dewa Niskala. Ia berkuasa di timur sungai Citarum hingga sungai Cipamali. Ia adalah ayah Jayadewata atau Sri Baduga Maharaja.

Kedua, Sang Haliwungan menjadi raja anom di kerajaan Sunda sejak tahun 1382 Masehi, dengan nama penobatan Prabu Susuk Tunggal, dengan pusat pemerintahannya di kota Pakuan (Bogor). Prabu Susuk Tunggal merupakan putra Mahapraburesi Niskala Wastu Kancana (penguasa Kerajaan Sunda Galuh yang berkedudukan di daerah timur, Kawali) dari istrinya, Dewi Lara Sarkati, putri penguasa Lampung, Resi Susuk Lampung.

 Ia berkuasa di tanah kerajaan Sunda, dari sungai Citarum ke barat. Ia berkuasa cukup lama (selama 100 tahun), sebab sudah dimulai saat ayahnya berkuasa (1371-1475) M. Putrinya, Kentring Manik Mayang Sunda, kemudian menikah dengan Jayadewata putra Prabu Dewa Niskala dari Keraton Galuh.

Dengan demikian jadilah raja Sunda dan Galuh yang seayah (keduanya putra Niskala Wastu Kancana) menjadi besan. kemudian Prabu Jayadewata menerima tahta Galuh dari ayahnya, Prabu Dewa Niskala dengan gelar Prabu Guru Dewataprana dan menerima tahta Sunda dari mertuanya, Prabu Susuk Tunggal, yang kemudian bergelar Sri Baduga Maharaja mempersatukan 2 istana Sunda, yaitu keraton Galuh dan Sunda Pakuan.

Asal Usul Prabu Niskala Wastu Kencana Kerajaan Sunda Galuh


Prabu Kiansantang atau Raden Sangara adalah Putra Prabu Siliwangi atau Sri Baduga Maharaja Raja Pakuan Pajajaran dengan Nyi Subang Larang, Pernikahan Prabu Siliwangi dengan Nyi Subang Larang dinikahkan oleh Syekh Quro Karawang. Dari pernikahan Sri Baduga Maharaja dengan Nyi Subang Larang dikarunia 3 orang putra yaitu Walangsungsang (Pangeran Cakrabuana), Rara Santang (ibu Sunan Gunung Jati) dan Prabu Kiansantang.

Raden Kiansantang lahir di Pajajaran tahun 1315. Dia merupakan seorang pemuda yang sangat cakap. Tidak heran jika pada usianya yang masih muda Kiansantang diangkat menjadi Dalem Bogor kedua (panglima besar Pajajaran). R aden Kiansantang  di kenal memiliki kesaktian yang  sakti mandraguna.

Berikut ini adalah ilmu kesaktian yang dimiliki oleh Raden Kian Santang :

1. Kebal terhadap segala jenis Senjata
2. Memiliki Ilmu Napak Sancang
3. Menguasai Aji suket kalanjana
4. Memiliki Ajian Saifi Angin 
5. Menguasa ilmu Bisa menjadi Banyak
6. Brajamusti

Itulah ilmu kesaktian yang dimiliki oleh Prabu Kian Santang.

Inilah Ilmu Kesaktian Raden Kian Santang

Pada abad ke-7, di Jawa Barat berdiri pula kerajaan Banjarsari yang terletak di daerah Rawalakbok, sebuah daerah yang diapit kota Cimais dan Banjar Tasikmalaya, hingga sekarang masih ada petilasannya yaitu petilasan Pameradan Ciung Wanara, rajanya bernama Prabu Adi Mulya, semasa kecilnya bernama Pangeran Lelean.

Raja Ciung Wanara (Prabu Adi Mulya) wafat lalu digantikan oleh putri sulungnya yang bernama Ratu Purbasari, kemudian ia membangun dan memindahkan kerajaanya ke Pakuan Bogor. Pada waktu itu agama yang dianutnya adalah agama Sang Hiyang (Hindu-Budha). Setelah Ratu Purbasari wafat, kemudian secara berturut-turut digantikan oleh putra-putranya, yaitu:

1. Prabu Linggahian
2. Prabu Linggawesi
3. Prabu Wastukancana
4. Prabu Susuk Tunggal
5. Prabu Banyak Larang
6. Prabu Banyakwangi
7. Prabu Anggalarang
8. Prabu Mundingkawati
9. Prabu Siliwangi

Prabu Siliwangi, Raja Pajajaran, semasa kecilnya bernama Raden Pamanahrasa yang merupakan raja Pajajaran yang ke-9. Kemudian ia mempersuting Nyimas Subanglarang (Subang Kerancang), yaitu seorang putri Mangkubumi Mertasinga (Singapura). Dari perkawinannya dengan Nyimas Subanglarang tahun 1404 M dikaruniai 3 (tiga) orang anak yaitu:

1. Pangeran Walangsungsang (1423 M)
2. Nyimas Ratu Rarasantang (1427 M)
3. Pangeran Raja Sengara/Kian Santang (1429 M)

Tiga putra inilah kelak kemudian hari akan membabad / membangun pedukuhan Cirebon yang berlangsung pada tanggal 1 Syuro tahun 1445.  Pangeran Walangsungsang dilahirkan pada tahun 1423 M di keraton Pajajaran ayahnya bernama Prabu Siliwangi, raja ke-9. Sedangkan ibunya Ratu Subang Larang yang memeluk agama Islam di Pengguron Syekh Quro Kerawang, Jawa Barat.

Pangeran Walangsungsang dalam usia remaja pada tahun 1441 M keluar dari kerton Pajajaran, pada saat itu usianya baru 17 tahun. Kala itu, pada suatu malam ia mimpi bertemu dengan Nabi Muhammad saw. Dalam mimpinya beliau diperintahkan agar mencari agama Islam yang dapat menyelamatkan manusia di dunia dan akhirat. Hal yang sama juga dialami oleh adiknya yaitu Nyimas Rarasantang, kemudian satu persatu mereka keluar dari keraton Pajajaran untuk berguru agama Islam, mengembara menelusuri hutan belantara, naik gunung turun gunung selama sembilan bulan. Pertama kali yang dituju adalah Gunung Merapi yang terletak di Padepokan Priyangan Timur, tepatnya di desa Raja Desa Ciamis Timur.

Alkisah, Ratu Mas Rarasantang yang berada di Pajajaran rindu kepada kakanda Raden Walangsungsang yang telah mendahului keluar dari istana. Setelah ditinggalkan oleh kakandanya, Ratu Mas Rarasantang selalu murung. Ia menangis tersedu-sedu siang malam berturut-turut selama empat hari. Dikala malam telah sunyi Ratu Mas Rarasantang sedang tidur nyenyak bermimpi bertemy dengan seorang laki-laki yang tampan lagi berbau harum memberi wejangan-wejangan ajaran Islam dan menyuruh berguru agama Islam syaiat Nabi Muhammad saw, dan kelak dikemudian hari akan mempunyai suami raja islam dan akan mempunyai anak laki-laki yang akan menjadi wali kutub. Ratu Mas Rarasantang tersentak dan bangun dari tidurnya dan ia sadar dari mimpinya, lalu ia keluar dari istana untuk menyusul kakaknda Raden Walangsungsang yang sedang terus berjalan tak mengenal lelah menuju ke arah timur.

Dikisahkan setelah keluarnya dua putra mahkotanya, sang ibunda tercinta, Ratu Subang Larang, merasa sangat sedih dan prihatin. Ia menangisi dan menyungkemi sang prabu karena kedua putranya telah hilang pergi. Setelah mendengar penuturan Ratu Subang Larang, sang prabu tersentak dan terkejut.

Sang prabu segera memanggil seluruh satria, sentana, patih, bupati, dan menteri. Setelah semua para wadiabala dikumpulkan dan  juga para pembesar kerajaan sudah hadir, maka Sang Prabu Siliwangi bersabda: “Wahai Patih Argatala, Dipati Siput, sekarang carilah putriku Dewi Ratu Mas Rarasantang , disuruh pulang, carilah jangangan sampai tidak berhasil.” Patih Argatala menjawab: “Sendika Gusti.”

Patih Argatala segera keluar dari keraton untuk mengumumkan kepada seluruh wadiabala di Pajajaran. Seketika semua orang geger dan panik, lalu semuanya menyebar ke segala penjuru Patih Argatala mencarinya dengan bertapa menuruti perjalanan para pendeta. Adipati Siput mencarinya dengan cara memasuki hutan keluar hutan menuruti perjalanan hewan. Para wadiabala bubar ketujuannya masing-masing, mereka takut pulang sebelum berhasil membawa pulang dua putra mahkota Pajajaran.

MENDIRIKAN CARUBAN

Pangeran Walangsungsang Cakrabuana dengan gelar raja muda. Pangeran Walangsungsang Cakrabuana merintis Caruban Nagari dari jenjang yang paling bawah sampai menjadi raja muda. Perintisannya diantaranya membuat pemukiman di Tegal Alang Alang, hingga akhirnya disebut Caruban yang artinya campuran. Membuat lahan pertanian di daerah Panjunan, membuat industry produk laut diantaranya terasi, petis, ikan kering dan garam. Mendirikan masjid dan Keraton Pakungwati dengan pembiayaan darai warisan kakeknya Ki Ageng Tapa, serta membuat pasukan keamanan lengkap dengan angkatan bersenjatanya.  Pada saat Pangeran Walangsungsangmenjadi pemimpin di Caruban, Ayahnya, Raja Sunda merestui dengan mengirim Tumenggung Jagabaya membawa panji-panji kerajaan serta memberikan wilayah kekuasaan kepada Pangeran Walngsungsang Cakrabuana.

Pangeran Walangsungsang Cakrabuana, bukan semata-mata untuk membentuk suatu pemerintahan yang berkuasa, namun mempersiapkan perkembangan dakwah Islamiyah yang menjadi cita-cita saat itu, yang kelanjutannya akan diteruskan oleh anak dari adiknya, Nyi Mas Ratu Rarasantang, yaitu Syarief Hidayat. Pengetahuan tentang akan datang seorang pemimpin dan pemuka agama islam, yang tidak lain adlah keponakannya sendiri, telah diketahui berdasarkan nasehat dari guru-guru keduanya diantaranya adalah Syekh Quro, Syekh Maulana Magribi dan Syekh Datul Kahfi.

Pangeran Walangsungsang bertemu Syekh Quro, di dalam pertemuan tersebut. Syekh Quro mengatakan kepada Pangeran Walangsungsang bahwa kelak adiknya akan berjodoh dengan raja Mesir dan akan dianugerahi anak yang bernama Maulana Jati, yang kelak ditakdirkan menjadi penguasa Cirebon. Seperti yang tertera dalam Naskah Carub Kanda Carang Seket.

Pada kesempatan yang berbeda, pada saat Pangeran Walangsungsang hendak berguru pada Syekh Maulana Magribi, Syekh Maulana Magribi  menolak untuk menjadi guru mereka. Ia menyarankan Pangeran Walangsungsang untuk berguru pada Syekh Datul Kahfi/ Syekh Maulana Idhofi.

Pada pertemuan tersebut Syekh Maulana Magribi mengatakan bahwa pada saat Pangeran Walangsungsang dan Nyi Mas Ratu Rarasantang menunaikan ibadah haji, maka beliau akan dinikahi oleh Sultan Mesir dan menikah disana, kemudian dari pernikahan tersebut akan lahir pemimpin para wali di Pulau Jawa.   Pertemuan Pangeran Walangsungsang dengan Syekh Maulana Magribi tersebut terekam dalam  Carub Kanda Carang Seket pupuh Asmarandana.

Pangeran Cakrabuana dan Nyi Mas Ratu Rarasantang kemudian menuruti saran dari Syekh Maulana Magribi berguru pada Syekh Datul Kahfi pada tahun 1442 M. Nyekh Datul Kahfi beserta istrinya sangat senang akan kedatangan keduanya. Mereka diperkenankan tinggal di Gunung Jati dan melarang keduanya kembali ke Negara Sunda. Syekh Datul Kahfi mengatakan pada Nyi Mas Ratu Rarasantang bahwa ia kelak akan bersuamikan Sultan Bani Israil, dan darinya akan lahir seorang anak yang akan meng-Islamkan tanah Sunda, mengalahkan agama Sunda.

Nyi Mas Ratu Rarasantang dan Pangeran Walangsungsang Cakrabuana memperoleh banyak nasehat dan ilmu dari Syekh Datul Kahfi.  Setelah tiga tahun berguru, mereka kemudian diperintahkan oleh Syekh Datul Kahfi untuk membuka Tegal Alang-Alang di Lemahwungkuk yang merupakan cikal bakal kota Cirebon.

Pada  tanggal 14 bagian terang bulan Carita tahun 1367 Saka atau Kamis tanggal 8 April tahun 1445 Masehi, bertepatan dengan masuknya penanggalan 1 Muharam 848 Hijriyah, Pangeran Walangsungsang alias Somadullah dibantu 52 orang penduduk, membuka perkampungan baru di hutan pantai kebon pesisir. Lama kelamaan daerah Tegal Alang-Alang berkembang menjadi pedukuhan yang maju. Tak lama kemudian mereka diperintahkan untuk menunaikan Rukun Islam kelima.  Setelah berhaji Nyi Mas Ratu Rarasantang bernama Hajjah Syarifah Mudaim, sedangkan Pangeran Walangsungsang Cakrabuana menjadi Haji Abdullah Iman.

Pada saat itulah Nyi Mas Ratu Rarasantang bertemu dengan  Maulana Sultan Mahmud/ Syarif Abdullah/ Sultan Amiril Mukminin/ Sultan Khut, Anak Nurul Alim dari bangsa Hasyim (Bani Ismail), yang memerintah kota Ismailiyah, Palestina.  Maulana Sultan Mahmud, yang baru saja ditinggal mati oleh istrinya bermaksud menikahi Nyi Mas Ratu Rarasantang. Syarif Abdullah pergi ke arah timur dari istananya dengan mengajak Nyi Mas Ratu Rarasantang ke bukit Tursinah dengan diikuti Pangeran Cakrabuana dan patih Jalalluddin.

Disana ia melamar Nyi Mas Rarasantang. Perjanjian pra nikah antara keduanya di Bukit Tursina terdapat dalalam Pupuh Kasmaran Naskah Mertasinga, Carang Seket, Serat Kawedar dan Sejarah Lampah ing para Wali Kabeh. Isi dari perjanjian tersebut adalah bahwa Nyi Mas Ratu Rarasantang bersedia dinikahi oleh  Syarif Abdullah dengan syarat bahwa bila ia melahirkan anak laki-laki, anak tersebut diperbolehkan untuk menjadi pemimpin agama di Jawa untuk mengislamkan saudara-saudaranya di Padjajaran.

Perjanjian tersebut dihadiri oleh Pangeran Walangsungsang Cakrabuana selaku wali dari Nyi Mas Rarasantang. Syarif Abdullah menyepakati perjanjian tersebut.

Pangeran Walangsungsang Cakrabuana pun menyetujui perjanjian tersebut. Karena hal tersebut pun telah diramalkan pada saat pertemuan mereka dengan Syekh Quro,  Syekh Maulana Magribi dan Syekh Datul Kahfi. Yang secara tidak langsung ramalan tersebut merupakan nasehat dan sekaligus merupakan amanat dari para pemuka agama di sana saat itu.

Akhirnya Nyi Mas Ratu Rarasantang menikah dengan Maulana Sultan Mahmud. Menikahnya Syarifah Mudaim dan Syarif Abdullah bukan merupakan kebetulan belaka. Syarif  Abdullah adalah adik ipar dari Syekh Datul Kahfi.  Antara Syekh Datul Kahfi, Syekh Quro dan Syekh Maulana Magribi merupakan utusan utusan dari Persia yang diperintahkan baik secara langsung maupun tidak langsung untuk menyebarkan  Agama Islam diluar jazirah Arab.

Penyebaran agama Islam keluar jazirah Arab sudah dilakukan beberapa abad sebelumnya, tetapi belum sanggunp mengislamisasi masal penduduk di luar jazirah Arab. Bahkan ratusan orang mati sahid dalam perjuan dakwah tersebut. Sampai akhirnya abad ke-13 penyebaran Islam di jazirah Arab mulai mengalami penurunan, sehingga dibuatlah strategi dakwah untuk tetap menyebarkan Islam dengan cara mengirimkan para pemuka agama ke berbagai daerah.

 Selain berdakwah, para penyebar agama Islam tersebut menikah pula dengan penduduk lokal. Pernikahan Nyi Mas Ratu Rarasantang merupakan sebuah skenario besar untuk melakukan Islamisasi masal melalui keturunan mereka di kemudian hari. Dengan cara mensugesti Pangeran Walangsungsang dan Nyi Mas Ratu Rarasantang, sehingga mereka mau mengikuti petunjuk para guru mereka.

 Para pendakwah senior tersebut telah mengkaji dan mengambil pelajaran dari pengamalan mereka sebelumnya, dimana perkawinan antar mualaf Nyi Mas Subang Karancang, ibunda Nyi Mas Ratu Rarasantang yang berguru pada Syekh Quro,  dengan Pemanah Rasa, calon Raja Sunda, gagal, tidak berhasil mengislamkan tanah Sunda, sehingga mereka membuat strategi dakwah baru dengan cara kaderisasi potensi calon-calon pendakwah baru.

 Salah satu caranya adalah mengawinkan anak-anak perempuan keturunan raja-raja Jawa dengan keturunan raja-raja di Timur Tengah, yang keturunan nabi, sehingga keturunannya yang akan menyebarkan agama Islam kelak memiliki legitimasi.

Pada tahun 1448 M,Syarifah Mudaim  yang dalam keadaan hamil tua menunaikan ibadah haji kembali. Di Kota Mekah ia melahirkan Syarif Hidayatullah di Kota Mekah. Dua tahun kemudian lahirlah Syarif Nurullah, adik Syarif Hidayat.

Syarif Hidayat, keponakan Pangeran Cakrabuana dibesarkan di negara ayahnya, Mesir. Syarif Hidayat tumbuh menjadi  pemuda yang cerdas.  Syarif Hidayatullah sangat taat menjalankan syariat Islam. Ia seorang muslim yang takwa. Syarif Hidayat gemar mempelajari ajaran Agama Islam. Ia bercita-cita mengajarkan dan menyebarkan agama Islam.Suatu hari ia membaca dan mempelajari sebuah kitab.

 Dari kitab tersebut ia menyatakan keinginannya kkepada ibundanya, Syarifah Mudaim, berguru kepada Nabi Muhammad SAW. Syariffah Mudaim mengatakan bahwa Rasulullah telah meninggal dunia. Dengan ilmu yang dipelajari oleh Syarif Hidayat secara diam-diam,  melalui silaturruhiyah ia bertemu dengan Nabi Khidir dan Rasulullah, hal tersebut merupakan perjalanan spiritual Syarif Hidayat yang ditulis pada Naskah Mertasinga dan Naskah Kuningan. Dalam naskah tersebut, Syarif Hidayat  hendak berguru kepada Rasulullah. Namun Rasullullah menyuruh Syarif Hidayat mencari guru dzohir.

Sehingga ketika berusia dua puluh tahun, pergi ke Mekah, berguru kepada Syekh Tajuddin al-Kubri/ Najmuddin. Naskah Kuningan menjelaskan tentang Syarif Hidayat yang berguru kepada Syekh Tajuddin. Kepada Syekh Tajuddin, Syarif Hidayat belajar adab para guru, dzikir, silsilah, shugul, Tarekat Isqiyah, dan adab Syatori. Ia juga belajar tentang ilmu syariat, ilmu tarekat, ilmu hakekat dan ilmu makrifat. Pada saat berguru pada Syekh Tajuddin, Syarif Hidayat diberi nama Madkurullah.

Setelah dua tahun lamannya, Syarif Hidayat kemudian menuntut ilmu tawasul rasul pada Syekh Athaullah Sadili, yang bermahzab Syafi’i  di Bagdad. Darinya Syarif Hidayat juga belajar istilah Sirr (Sirrullah), Tarekat Syaziliyah, Tarekat Syatariyah, Isyki Naqisbandiyah, dzikir jiarah, bermeditasi,  riyadhah (latihan tarekat/sufi) di tempat-tempat suci.  Oleh Syekh Athaullah, Syarif idayat diberi nama Arematullah.

Setelah itu ia kembali ke negara ayahnya, dan diminta untuk menggantikan posisi ayahnya yang sudah meninggal. Tetapi ia memilih untuk pergi ke Pulau Jawa untuk menyebarkan Islam bersama pamannya, Pangeran Walangsungsang Cakrabuana.  Posisi Raja Mesir diserahkan dari Patih Ongkhajuntra, paman Syarif Hidayat kepada oleh adiknya, Syarif Nurullah.

Syarif Hidayat memiliki banyak nama yaitu Sayyid Kamil dan  Syekh Nuruddin Ibrahim Ibnu Maulana Sultanil Mahmud al Kibti[9].  Kemudian Sayid Kamil pergi ke pulau Jawa, di perjalanananya  ia singgah di Gujarat, tingal disitu selama tiga bulan, selanjutnya ia tingal di Paseh (Pasei). Di Paseh, Syarif Hidayat tinggal di pondok saudaranya selama dua tahun, yaitu Sayid Ishaq, bapak Raden Paku/ Sunan Giri, yang menjadi guru agama Islam di Paseh di Sumatra. 

Kemudian Syarif Hidayat pergi ke ke pulau Jawa, singgah di negeri Banten. Disini banyak penduduk telah memeluk agama Rasul, karena Sayyid Rahmat (Ngampel Gading) telah menyebarkan Agama Islam di sini, yang di gelari Susuhunan Ampel, juga salah seorang saudaraanya.

Berdasarkan Naskah Kuningan, Syarif Hidayat kemudian berguru pada Syekh Sidiq di Surandil  jati wisik (ajaran sejati), ba’iyat serta muhal maha, talkin dalam dzikir sirr, tarekat Muhammadiyah, Anapsiah, dan Jaujiyah Makomat Pitu, serta melakukan kanaat dan uzlah.

Syarif Hidayat kemudian berguru kepada Syekh Mad Kurullah (Syekh Quro) di Gunung Gundul. Syekh Quro adalah penganut mahdzab Hanafi. Pada saat berguru pada Syekh Quro, Syarif Hidayat banyak mempelajari dan mengalami perjalanan spiritual. Kemudian ia diperintahkan berguru pada Syekh Bahrul al Amien, yang tinggal di sebelah utara Kudus. Syarif hidayat berguru mengenai sifat-sifat jati (baca : sempurna), rasa jati (sejatine rasa), khofiyah, dukiyah, sarariyah (rasa yang sejati) ranaban. Belajar mengenai Sirrullah, ya hati ya badan, ya badan, ya roh, ya badan ya nyawa, nyawa adalah wujud tunggalnya Dzatullah (ibarat punglu). Rasa yang sejati, rasa goib, yang tidak ada antara dengan yang agung, ya badan ya rasa, ibarat jambe/ pinang yang menyatu antara kulit dengan buahnya. Kemudian Datul Bahrul kemudian memberi nama Syarif Hidayat dengan Wujudullah dan menyarankan Syarif  Hidayat menambah pengetahuan tentang pada Sunan Ampel Denta. Maka berangkatlah Syarif Hidayat  pergi ke Ngampel dengan naik perahu milik orang Jawa Timur. Perjalanan Syarif Hidatyat berguru pada beberapa orang tertulis dalam Kitab Negara Kertabhumi.

Setibanya Syarif Hidayat/ Wujudullah di Ampel Denta lalu pergi menghadap dan menyampaikan hormatnya kepada yang mulia Sunan Ampel. Maka Wujudullah pun kemudian mengabdi di Ampel Denta dan dia diangkat saudara oleh anak-anaknya. Di sana sudah berguru pula murid yang lain diantaranya , Sunan Bonang, Sunan Giri, Sunan KaliJaga. Wujudullah sangat disayangi oleh Sunan Ampel karena berbagai ilmu yang diajarkan oleh Sunan Ampel dapat dikuasai oleh Wujudullah.

Sementara itu, para Wali semuanya (sedang) ada di situ, mereka masing-masing di beri tugas mengajarkan agama Rasul kepada penduduk di daerah yang menganut agama Siwa- Budha. Kemudian Syarif Hidayat meminta nasehat pada Sunan Ampel. Sunan Ampel memberikan nasihat sebagai berikut :

“he putra, jandika iku mung aja ngebat-tebati, iku laku ingkang ala.lawan putra ya den wani  ngajaga ing perkara agama ingkang sayakti. Lan kang sabar putera iku, tawekal maring yang Widhi. Lan den esak maring sanak, saying ing kawla wargi, lawan putera ya den inget enggal, saniki wis sedeng dadi. Molana ingkang luhung, dadi guru ing Gunung Jati, ya kalawan uwa dika, mapan waris saking umi. Cipamali wates sira dumugi ing ujung kulon. Inggih waris dika ikumugi jandika wengkoni. Mung pacuan ngembat-embatan, sabab lepen cipamali wawtesing balambangan iku dudu dika waris. Poma-poma ya den emut, lawan putera dika yen wangsul ing amparan sampun margi ing darat, marginana sing lautan”.

(Anakku, janganlah kamu bertindak berlebihan karena itu adalah sifat yang tercela, dan beranilah menjaga kebenaran agama, bersabarlah, tawakkal kepada yang Maha esa, dan jangan menyakiti sesame saudara. Dan ingatlah anakku bahwa sekarang sudah cukup waktunya anakku untuk menjadi Maulana yang luhur dan menjadi Guru di Gunungjati bersama uwakmu. Mewarisi pusaka ibumu, dari Cipamali hingga di Ujung Kulon, itulah warisanmu. Hanya saja hati-hati bahwa batas dari sungan Cipamali hingga Blambangan itu bukanlah warisanmu. Ingatlah nasihatku baik-baik, dan anakku bilmana kamu pulang ke Amparan janganlah pulang melalui daratan, pergilah melalui lautan). Demikianlah pesan sang guru.

Sayid kamil menerima tugas di negeri Carbon, yaitu di Gunung Sembung, karena disana tempat tinggal uwanya, yaitu Haji Abdullah Iman yang menjadi Kuwu Carbon kedua.
Syarif Hidayat menuruti nasehat Sunan Ampel.

Dalam perjalanan ke Carbon, Syarif Hidayat bertemu dengan Dipati Keling dan berhasil mengislamkannya berikut rombongan mereka sejumlah sembilan puluh delapan orang. Selanjutnya Dipati Keling dan rombonganpa tahun, nya menjadi pengikut Syarif Hidayat yang setia.

Setibanya di Carbon Syarif Hidayat  kemudian membangun pondok dan menjadi guru agama Islam. Di Babadan Syarif Hidayat mengislamkan Ki Gede Babadan dan menikah dengan putrinya Ki Gede Babadan. Umur pernikahan mereka hanya berlangsung beberapa tahun karena Nyi Mas Babadan meninggal dunia. Kemudian Syarif Hidayat menikah dengan Syaripah Bagdad, putri Syekh Datul Kahfi.


Kisah Cerita Raden Walang Sungsang Dan Perjalanan Hidupnya


Konon, raden Kiansantang terkenal sakti mandraguna. Tubuhnya kebal, tak bisa dilukai senjata jenis apapun. Auranya memancarkan wibawa seorang ksatria, dan sorot matanya menggetarkan hati lawan.
Diriwayatkan, prabu Kiansantang telah menjelajahi seluruh tanah Pasundan. Tapi, seumur hidupnya dia belum pernah bertemu dengan orang yang mampu melukai tubuhnya. Padahal ia ingin sekali melihat darahnya sendiri. Maka pada suatu hari, dia memohon kepada ayahnya agar dicarikan lawan yang hebat.

Untuk memenuhi permintaan putranya, Prabu Siliwangi mengumpulkan para ahli nujum. Dia meminta bantuan pada mereka untuk menunjukkan siapa dan dimana orang sakti yang mampu mengalahkan putranya.

Kemudian datang seorang kakek yang bisa menunjukkan orang yang selama ini dicari. Menurut kakek tersebut, orang gagah yang bisa mengalahkan Raden Kiansantang ada di tanah suci Mekkah, namanya Sayidina Ali.
“Aku ingin bertemu dengannya.” Tukas Raden Kiansantang.
“Untuk bisa bertemu dengannya, ada syarat yang harus raden penuhi,” ujar si kakek.
Syarat-syarat tersebut adalah:
Harus bersemedi dulu di ujung kulon, atau ujung barat Pasundan
Harus berganti nama menjadi Galantrang Setra
Dua syarat yang disebutkan tidak menjadi penghalang. Dengan segera Raden Kiansantang memakai nama Galantrang Setra. Setelah itu ia segera pergi ke ujung kulon Pasundan untuk bersemedi.
Pergi Ke Mekkah
Tak dijelaskan dengan apa Galantrang Setra pergi ke Mekkah. Yang pasti sesampainya di Arab beliau langsung mencari Sayidina Ali.
“Anda kenal dengan Sayidina Ali?” Tanya Kiansantang pada seorang lelaki tegap yang kebetulan berpapasan dengannya.
“Kenal sekali,” jawabnya.
“Kalau begitu bisakah kau antar aku kesana?”
“Bisa, asal kau mau mengambilkan tongkatku itu.”
Demi untuk bertemu dengan Ali, Kiansantang menurut untuk mengambil tongkat ya tertancap di pasir. Tapi alangkah terkejutnya ia ketika mencoba mencabut tongkat itu ia tak berhasil, bahkan meski ia mengerahkan segala kesaktiannya dan pori-porinya keluar keringat darah.
Begitu mengetahui Kiansantang tak mampu mencabut tongkatnya, maka pria itu pun menghampiri tongkatnya sambil membaca Bismillah tongkat itu dengan mudah bisa dicabut.
Kiansantang keheranan melihat orang itu dengan mudahnya mencabut tongkat tersebut sedang ia sendiri tak mampu mencabutnya.
“Mantra apa yang kau baca tadi hingga kau begitu mudah mencabut tongkat itu? Bisakah kau mengajarkan mantra itu kepadaku?”
“Tidak Bisa, karena kau bukan orang islam.”
Ketika ia terbengong dengan jawaban pria itu, seorang yang kebetulan lewat di depan mereka menyapa; “Assalamu’alaikum Sayidina Ali.”
Mendengar sapaan itulah kini ia tahu bahwa Sayidina Ali yang ia cari adalah orang yang sedari tadi bersamanya. Begitu menyadari ini maka keinginan Kiansantang untuk mengadu kesaktian musnah seketika. “Bagaimana mungkin aku mampu mengalahkannya sedang mengangkat tongkatnya pun aku tak mampu,” pikirnya.
Singkat cerita akhirnya Kiansantang masuk agama islam. Dan setelah beberapa bulan belajar agama islam ia berniat untuk kembali ke Pajajaran guna membujuk ayahnya untuk juga ikut memeluk agama islam.

Usaha Kiansantang Mengislamkan Ayahnya
Sesampainya di Pajajaran, dia segera menghadap ayahandanya. Dia ceritakan pengalamannya di tanah Mekkah dari mulai bertemu Sayidina Ali hingga masuk islam. Karena itu ia berharap ayahandanya masuk islam juga. Tapi sayangnya ajakan Kiansantang ini tak bersambut dan ayahandanya bersikeras untuk tetap memeluk agama Hindu yang sejak lahir dianutnya.
Betapa kecewanya Kiansantang begitu mendengar jawaban ayahandanya yang menolak mengikuti ajakannya. Untuk itu ia memutuskan kembali ke Mekkah demi memperdalam agama islamnya dengan satu harapan seiring makin pintarnya ia berdakwah mungkin ayahnya akan terbujuk masuk islam juga.

Setelah 7 tahun bermukin di Mekkah, Kiansantang pun kembali lagi ke Pajajaran untuk mencoba mengislamkan ayahandanya. Mendengar Kiansantang kembali Prabu Siliwangi yang tetap pada pendiriannya untuk tetap memeluk agama Hindu itu tentu saja merasa gusar. Maka dari itu, ketika Kiansantang sedang dalam perjalanan menuju istana, dengan kesaktiannya prabu Siliwangi menyulap keraton Pajajaran menjadi hutan rimba.

Bukan main kagetnya Kiansantang setelah sampai di wilayah keraton pajajaran tidak mendapati keraton itu dan yang terlihat malah hutan belantara, padahal dia yakin dan tidak mungkin keliru, disanalah keraton Pajajaran berdiri.
Dan akhirnya setelah mencari kesana kemari ia menemukan ayahandanya dan para pengawalnya keluar dari hutan.

Dengan segala hormat, dia bertanya pada ayahandanya, “Wahai ayahanda, mengapa ayahanda tinggal di hutan? Padahal ayahanda seorang raja. Apakah pantas seorang raja tinggal di hutan? Lebih baik kita kembali ke keraton. Ananda ingin ayahanda memeluk agama islam.”
Prabu Siliwangi tidak menjawab pertanyaan putranya, malah ia balik bertanya, “Wahai ananda, lantas apa yang pantas tinggal di hutan?”

“Yang pantas tinggal di hutan adalah harimau.” Jawab Kiansantang
Konon, tiba-tiba prabu Siliwangi beserta pengikutnya berubah wujud menjadi harimau. Kiansantang menyesali dirinya telah mengucapkan kata harimau hingga ayahanda dan pengikutnya berubah wujud menjadi harimau.

Maka dari itu, meski telah berubah menjadi harimau, namun Kiansantang masih saja terus membujuk mereka untuk memeluk agama islam.
Namun rupanya harimau-harimau itu tidak mau menghiraukan ajakannya. Mereka lari ke daerah selatan, yang kini masuk wilayah Garut. Kiansantang berusaha mengejarnya dan menghadang lari mereka. Dia ingin sekali lagi membujuk mereka. Sayang usahanya gagal. Mereka tak mau lagi diajak bicara dan masuk ke dalam goa yang kini terkenal dengan nama goa Sancang, yang terletak di Leuweung Sancang, di kabupaten Garut.

Wallohu'alam bisshowab

Itulah kisah Pertemuan Kian Santang Dengan Sayidina Ali, semoga bermanfaat.

Kisah Pertemuan Kian Santang Dengan Sayidina Ali


Sunan Kalijaga dan Prabu Siliwangi merupakan tokoh yang sangat terkenal akan kesaktian dan kedigdayaannya. Sunan Kalijaga sendiri memiliki karomah luar biasa yang tidak dimiliki oleh wali lain, sedangkan Prabu Siliwangi juga memiliki senjata cukup kuat untuk mengalahkan semua musuh-musuhnya.

Pertempuran yang terjadi antara prabu siliwangi dan sunan kalijaga merupakan salah satu lanjutan dari peperangan yang lebih dulu terjadi antara prabu siliwangi dengan sunan gunung jati. Karena memang prabu siliwangi sendiri merupakan seorang yang ahli dalam menyusun strategi perang, maka bukan hal mudah untuk bisa mengalahkan prabu siliwangi dengan segala cara.

Termasuk juga dengan sunan kalijaga yang harus kalah melawan prabu siliwangi. Namun, meskipun secara fisik memang sunan kalijaga kalah dengan prabu siliwangi, namun masih banyak cara lain yang kemudian digunakan sunan kalijaga untuk melawan prabu siliwangi.

Dengan karomah atau keajaiban dari Allah kemudian memberikan kekuatan kepada sunan kalijaga untuk bisa melawan prabu siliwangi. Setelah sunan kalijaga dan juga sunan gunung jati berdoa dan juga meminta petunjuk kepada Allah, maka diutus kembali sunan kalijaga untuk bisa melawan prabu siliwangi sendiri. Kemudian sunan kalijaga kembali diutus untuk kembali ke istana idul tempat prabu siliwangi dan juga nyi roro kidul tinggal.

Ketika sudah sampai di istana kemudian sunan kalijaga meminta bantuan dari nyi roro kidul dengan meminta untuk dipinjamkan tombak yang akan digunakan untuk mengahadapi prabu siliwangi. Tombak yang dipinjam sunan kalijaga tersebut bernama tombak kareksa reksa.

Dengan menggunakan tombak yang dipinjam dari nyi roro kidul inilah yang kemudian membuat sunan kalijaga bisa menang mengahadapi prabu siliwangi. Ini juga yang kemudian menjadi satu dari beberapa bagian penting cerita prabu siliwangi dan nyi roro kidul yang banyak orang kenang terutama untuk orang jawa khususnya.

Hanya dengan menggunakan tombak yang dipinjam dan hasil dari hidayah yang diterima oleh sunan kalijaga tersebut memang membawa sebuah keajaiban bagi sunan kalijaga khususnya yang kemudian bisa menang melawan prabu siliwangi yang banyak orang tahu memang sangat sulit dikalahkan karena prabu siliwangi pandai dalam menyusun strategi untuk mengalahkan musuhnya dengan mudah.

KISAH PERNIKAHAN SUNAN KALIJAGA DENGAN NYI RORO KIDUL

Pada saat sunan kalijaga bertemu dengan nyi roro kidul untuk meminjam tombak yang akan digunakan untuk melawan prabu siliwangi. Ketika sunan kalijaga bertemu untuk meminjam tombak, pertama kali memang sempat ditolak oleh nyi roro kidul karena sunan kalijaga tidak membawa bukti kalau sunan kalijaga telah diperintahkan oleh sunan gunung jati untuk meminjam tombak.

Karena inilah kemudian sunan kalijaga memutuskan untuk membawa nyi roro kidul kepada sunan gunung jati. Setelah bertemu dengan sunan gunung jati nyi roro kidul merasa sedikit malu karena sunan gunung jati ternyata juga bisa membaca apa yang dipikirkannya.Kemudian sunan gunung jati meminta nyi roro kidul untuk meminjamkan tombak pusakanya kepada sunan kalijaga karena itu merupakan satu-satunya jalan untuk mengalahkan prabu siliwangi.

Kemudian nyi roro kidul mengatakan kalau pusakanya yang dimilikinya yaitu tombak hanya akan diserahkan dan diberikan kepada suaminya. Atas alasan inilah yang kemudian membuat sunan gunung jati meminta sunan kalijaga untuk menikah saja dengan nyi roro kidul. Dengan memberikan nasihat kepada sunan kalijaga, akhirnya nyi roro kidul dan sunan kalijaga pun dinikahkan.

Pernikahan antara sunan kalijaga dan juga nyi roro kidul memang disetujui oleh sunan kalijaga pada kisah cerita prabu siliwangi dan nyi roro kidul. Namun, mulanya memang dari pihak nyi roro kidul tidak setuju untuk menikah dengan sunan kalijaga. Nyi roro kidul berpendapat kalau dia tida mau menikah dengan sunan kalijaga yang sama sekali tidak mencintai nyi roro kidul dan akhirnya mempertanyakan kesetiaan sunan kalijaga atas dirinya.

Untuk menguji kesetiaan dari sunan kalijaga, maka nyi roro kidul meminta sunan kalijaga untuk mencarikan tasbih kecubung wulung yang hanya bisa ditemukan dan didapatkan di laut merah. Dengan meminta satu keajaiban dari Allah, maka sunan kalijaga pun meminta bantuan dari 3 makhluk halus untuk membantunya mencarikan tasbih yang diminta oleh nyi roro kidul tersebut. Ketiga makhluk halus inilah yang kemudian mencari tasbih tersebut ke laut merah dan menemukannya untuk selanjutnya diserahkan kepada sunan kalijaga.

Karena sunan kalijaga sudah mendapatkan apa yang diinginkan nyi roro kidul, maka secepatnya memang sunan kalijaga menghadap untuk bertemu nyi roro kidul dan juga sunan gunung jati. Karena memang pertempuran antara sunan kalijaga dan juga prabu siliwangi harus dilakukan secepatnya, maka sunan kalijaga pun juga harus bertemu dan memberikan apa yang diinginkan nyi roro kidul tersebut secepatnya juga.

Ketika akan memberikan tasbih yang diinginkan oleh nyi roro kidul, sunan kalijaga didampingi oleh 40 orang rombongan yang menemani sampai ke pantai selatan. Kedatangan dari sunan kalijaga ini ternyata sudah diketahui oleh nyi roro kidul yang ternyata juga sudah mempersiapkan dirinya supaya cantik saat bertemu dengan sunan kalijaga. Karena keinginan dari nyi roro kidul sudah dipenuhi sunan kalijaga, maka keduanya akhirnya pun menikah.

Dengan keduanya menikah, maka tentuya pusaka tombak milik nyi roro kidul diberikan kepada sunan kalijaga untuk bisa digunakan untuk mengalahkan prabu siliwangi. Tombak yang diberikan kepada sunan kalijaga ini kemudian diberikan tambahan cabang runcing oleh sunan gunung jati sehingga menjadi 9 runcing yang awalnya hanya ada 7 runcing saja. Perang dan pertempuran antara bala dari sunan kalijaga dan juga prabu siliwangi berlangsung selama 7 hari full.

Karena memang sunan kalijaga bisa mengalahkan prabu siliwangi, maka sekarang bukti dari tombak yang digunakan sunan kalijaga untuk mengalahkan prabu siliwangi juga masih disimpan di instana pantai selatan. Itu tadi cerita prabu siliwangi dan nyi roro kidul dan juga kisah romansa antara sunan kalijaga dan juga nyi roro kidul. Intinya dalam hikmat cerita ini adalah tidak ada seorang manusia yang hebat dan mengalahkan kekuasaan yang dimiliki oleh Allah.

WALLOHU'ALAM BISSHOWAB

Kisah Pertarungan Sunan Kalijaga Vs Prabu Siliwangi

Prabu Siliwangi dikenal sebagai salah satu Raja Pajajaran sebagaimana dituliskan dalam kitab Suwasit. Kitab yang berisi sejarah Kerajaan Padjajaran ini berisi tulisan tentang perjalanan Sejarah Prabu Siliwangi dimulai dari ayahnya, Prabu Anggararang Raja Kerajaan Gajah.

Pada masa mudanya, Prabu Siliwangi diasuh oleh Ki Gedeng Sindangkasih, seorang juru pelabuhan Muara Jati di kerajaan Singapura (sebelum bernama kota Cirebon). Prabu Siliwangi adalah keturunan ke-12 dari Maharaja Adimulia. Setelah Prabu Anggararang merasa puteranya layak memangku jabatan raja Gajah, akhirnya kerajaan diserahkan kepada Pangeran Pamanah Rasa (sebelum bergelar Siliwangi).

Bagi masyarakat Sunda atau Jawa Barat, siapa yang tidak mengenal nama Prabu Siliwangi. Raja Pajajaran yang identik dengan Harimau Putih itu dikenal sebagai salah satu raja sakti yang pernah dimiliki oleh negeri Pasundan (Jawa Barat). Nama Prabu Siliwangi sendiri sesungguhnya adalah nama lain dari Pangeran Pamanah Rasa.

Dalam Kitab Suwasit, dikisahkan bahwa Pangeran Pamanah Rasa merupakan putra mahkota dari Prabu Anggararang yang menguasai Kerajaan Gajah. Pangeran Pamanah kemudian melanjutkan kepemimpinan ayahnya, Prabu Anggararang sebagai Raja gajah.

Berikut ini kami telah merangkum beberapa kesaktian dan kedigdayaan Prabu Siliwangi :

1. Dalam Kitab Suwasit di ceritakan bahwa "pada saat Prabu Siliwangi menjadi Raja di Kerajaan Gajah beliau dikisahkan  mampu mengalahkan siluman harimau putih".

2. Prabu Siliwangi bisa memindahkan Kerajaan Pajajaran ke alam ghaib,

3. Prabu Siliwangi pandai dalam menyusun strategi untuk mengalahkan musuhnya dengan sangat mudah.
4. Memiliki Ajian Brajamusti
5. Ajian Suket Kalanjana
6. Bisa membelah raga menjadi tujuh
7. Rawarontek

SENJATA AMPUH PRABU SILIWANGI

Prabu Siliwangi telah memerintahkan Eyang Jaya Perkasa untuk membuat tiga senjata keramat.

Senjata-senjata itu tidak lain adalah senjata kujang yang tiap-tiap pegangannya diberi bentuk harimau dengan warna yang berbeda-beda. Diantaranya yaitu:

1. Kujang pertama berwarna hitam, dibuat dari batu meteor yang jatuh dari langit.
2. Kujang kedua berwarna kuning, dibuat dari api yang dibekukan menjadi besi kuning.
3. Kujang ketiga berwarna putih, dibuat dari besi biasa namun direndam oleh air suci sehingga berwarna putih mengkilat. Ketiga senjata keramat itulah yang kemudian dinamai sebagai ‘Kujang Tiga Serangkai’.
4. Mustika Suket Kalanjana (Penerawangan mata batin)

Itulah kesaktian dan senjata yang telah dimiliki oleh Prabu Siliwangi Pajajaran.

Inilah Kesaktian Prabu Siliwangi Dan Senjata Ampuhnya

Nyai Dewi Rara Santang lahir pada sekitar tahun 1427 masehi, beliau merupakan anak kedua Prabu Siliwangi (Sribaduga Maharaja) Raja Kerajaan Pajajaran dari istrinya Ratu Subang Larang. Dari kecil beliau sudah memeluk Agama Islam mengikuti agama ibundanya, meskipun pada waktu itu ayah dan saudara-saudara tirinya Surya Wisesa masih memeluk Agama Budha.

Masa kanak-kanak Dewi Rara Santang dihabiskan di Istana Galuh Kawali akan tetapi, setelah ayahnya diangkat menjadi Raja Seluruh Tanah Sunda beliau kemudian hijrah ke Istana baru Kerajaan Pajajaran di Pakwan. Istana baru tersebut dikenal dalam sejarah dengan nama Istana Sang Bhima Narayan.

Seperti kabar yang beredar, pada masa kelahiran Dewi Rara Santang, sang Prabu Agung Binetoro Raja Siliwangi bersabda yang disertai gemuruh guntur dan badai.

Dalam sabdanya Siliwangi mengatakan, “Kelak putri keduaku ini, akan menjadi Ibunda dari berbagai Raja-raja besar di Nusantat. Dengan itu aku beri nama dia Rara Santang”.

Setelah kewafatan ibundanya, Dewi Rara Santang memilih keluar Istana bersama kakak kandungnya Pangeran Walangsungsang. Selama dalam pengembaraan Pangeran Walangsungsang mengganti namanya sebagai Cakrabuana untuk menutupi identitasnya dalam mengembara dari tempat satu ke tempat lainnya guna belajar agama Islam.

MENIKAH DENGAN RAJA MESIR

Pada sekitar tahun 1443 Dewi Lara Santang kemudian menjalankan ibadah haji bersama kakanya, ke tanah suci. Mereka berdua berguru di Bukit Amparan Jati Makkah/Baghdad kepada Syekh Nurul Jati selama 3 (tiga) tahun dan mendirikan Pedukuhan di Kebon Pasir.

Disana beliau dinikahi oleh penguasa Mesir dan Palestina bernama SULTAN BANI ISRAIL atau SULTAN MAHMUD atau Sultan Hud. Setelah menikah beliau diubah namanya menjadi Syarifah Muda’im. Sedang Raden Walang Sungsang diganti namanya kembali menjadi HAJI ABDULLAH IMAN.

Kisah perkawinan Sang Dewi tersebut, tertulis dalam naskah Mertasinga Pupuh I-05 sampai dengan II.04.

Dikisahkan bahwa, di Negeri Banisrail, istri Sultan Hud meninggal Dunia. Tidak lama kemudian Sultan pun mengirim utusan keseluruh pelosok negeri untuk mencari penggantinya, mencari seorang puteri yang setara dengan yang telah tiada.

Karena kesungguhannya utusan itu melakukan pencarian, akhirnya mereka berjumpa dengan kakak beradik yang tengah menunaikan haji dari Negara Pajajaran. Yaitu pengeran Cakrabwana dan adiknya Dewi Rarasantang, yang konon kecantikannya mirip bahkan melebihi mendiang Istri Sultan Hud yang telah tiada.

Utusan itu kemudian menanyakan tentang asal-asul dari keduanya, dan apa hubangan diantara keduanya. Setelah Pangeran Cakrabuana memberikan jawaban bahwa mereka berdua merupakan kakak beradik maka, gembiralah sang utusan tersebut. Sehingga kemudian sang utusan membawa keduanya kepada tuannya untuk dipertemukan dengan Sultan Hud.

Sang Sultan kemudian memohon agar Cakrabwana mengizinkan adiknya untuk dinikahi. Namun, demikian Cakrabwana menyerahkan sepenuhnya kepada adiknya. Singkat cerita, Rara Santang pun kemudian bersedia dinikahi oleh Sultan Hud dengan syarat-syarat khusus. Sultan Hud kemudian menyanggupi Syarat-syarat yang di ajukan Dewi Lara Santang.

Adapun syarat-syarat tersebut adalah bahwa kelak jika dari hasil perkawinan keduanya mempunyai seorang anak pertama laki-laki, maka anak tersebut harus direlakan untuk mensyiarkan Islam di tanah kelahiran Ibundanya yaitu di tatar Pasundan (Kerajaan Sunda).

Selain itu, Dewi Lara Santang juga menginginkan agar janji kesanggupan Sultan Hud di ikrarkan di bukit Tursnia (Palestina). Sang Sultan kemudian menyanggupinya dan ikrar janji tersebut kemudian dilaksanakan di bukit Tursina dan disaksikan oleh Pangeran Cakrabwana. Setelah Peristiwa tersebut kemudian keduanya menikah.

Pernikahaan Dewi Rara Santang dengan Sultan Hud dikarunia dua anak laki-laki, anak pertama diberi nama Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati yang belakangan menjadi Raja di Cirebon sementara anak keduanya diberi nama Syarif Nurullah.

Menurut Naskah Mertasinga, dimasa tuanya, selepas kemangkatan suaminya Sultan Hud Dewi Rara Santang dijemput anaknya Syarif Hidayatullah untuk diajak pulang ke Cirebon, beliaupun wafat di Cirebon dan dimakamkan di Cirebon.

Kisah Asal Usul Dewi Rara Santang, Putri Prabu Siliwangi