Showing posts with label Nama Pahlawan Nasional. Show all posts
Showing posts with label Nama Pahlawan Nasional. Show all posts

Friday, May 3, 2019

Asal Usul Mas Tirtodarmo Haryono Pahlawan Asal Surabaya Jawa Timur

Letnan Jenderal TNI Anumerta Mas Tirtodarmo Haryono lahir di Surabaya, Jawa Timur, 20 Januari 1924 – meninggal di Lubang Buaya, Jakarta, 1 Oktober 1965 pada umur 41 tahun. Dia adalah salah satu pahlawan revolusi Indonesia yang terbunuh pada persitiwa G30S. Ia dimakamkan di TMP Kalibata - Jakarta.

ASAL USUL MAS TIRTODARMO HARYONO

Pada tahun 1924 yang menjadi asisten wedana ( sekarang disebut camat ) di Kalitengah, Gresik, ialah Mas Harsono Tirtodarmo. Pada bulan Januari tahun itu ia dinaikkan pangkatnya menjadi jaksa di Sidoarjo. Karena itu ia berangkat pindah ke Sidoarjo meskipun isterinya ( Ibu Patimah ) sudah mengandung tua. Tetapi dalam perjalanan ke Sidoarjo itu ibu Patimah merasa akan melahirkan kandungannya. Perjalanan ke Sidoarjo tidak diteruskan dan mereka menuju ke rumah M.Harsono Tirtodarmo di Nieuw Holland Straat ( sekarang Jalan Gatotan ) di Surabaya. Di situ, pada tanggal 20 Januari 1924, ibu Patimah melahirkan puteranya yang ketiga yang diberi nama Haryono, lengkapnya M.T.Haryono.

M.T. Haryono dilahirkan sebagai putera seorang B.B.( Pamong Praja ) Kalangan B.B. pada waktu itu mempunyai kedudukan yang istimewa di antara pegawai-pegawai Belanda lainnya. Hanya B.B. lah yang di samping kedudukan istimewanya biasanya juga mampu menyekolahkan anak-anaknya sampai di Perguruan Tinggi. Karena nasionalisme itu boleh dikata timbul dan berkembang di antara orang-orang terpelajar, maka tidaklah mengherankan kalau putera-putera orang-orang B.B. ini tidak sedikit yang menjadi penggerak dan pemimpin nasionalisme, misalnya R.A. Kartini, Dewi Sartika, dr. Sutomo. Mr.Sartono, dan lain lain. Demikian halnya kelak dengan M.T. Haryono.

Pada masa kecilnya M.T. Haryono hidup sebagai putera seorang jaksa di Sidoarjo. Ketika umur empat tahun ayahnya diangkat menjadi wedana di Kertosono dan mereka pindah ke kota itu. Di sinilah ia ketika umur enam tahun masuk sekolah di HIS 6 (Hollands Inlandsche School = Sekolah Dasar ) ia suka berteman dan bermain-main dengan anak-anak lainnya dan selalu menjadi pemimpin mereka. Karena wataknya yang keras ia sebagai pemimpin dijuluki "Si Kepala Macan". Tetapi walaupun demikian ia pada hakikatnya seorang pendiam dan bertindak hati-hati dalam segala hal. Ia belajar di HIS sampai kelas tiga dan kemudian, atas tanggungan seorang Belanda guru ELS ( Europese Lagere School : Sekolah Dasar Belanda ) dan teman ayahnya, ia pindah ke kelas empat ELS di kota itu sampai tamat pada tahun 1937.

Tamat dari ELS, M.T. Haryono meneruskan sekolahnya di HBS (Hogere Burgerschool : semacam SMP ditambah SMA yang disatukan dan hanya lima tahun, biasanya hanya untuk orang Belanda) di Bandung. Selama lima tahun ia harus berpisah dari orang tuanya dan menumpang pada orang lain di kota Bandung.

Sebagai pemuda pelajar ia suka berolahraga. Ia suka atletik, tenis dan baseball. Hanya dalam masa libur ia pulang ke orang tuanya yang sejak tahun 1939 telah dipindahkan menjadi wedana di Gorang-Gareng, Mangetan, Madiun. M.T. Haryono menyelesaikan studinya di HBS tepat dalam waktu lima tahun. Ia tamat dari HBS pada tahun l942 ketika Jepang masuk merebut dan menduduki Indonesia (Maret l942).

Ketika GHS(Geneeskundige Hogeschool : Perguruan Tinggi Kedokteran ) di Jakarta dibuka kembali oleh Jepang sebagai Ika Dai Gakko, maka M.T. Haryono masuk Perguruan Tinggi Kedokteran tersebut untuk meneruskan studinya. Ia memang ingin menjadi seorang dokter. Baru tiga tahun lamanya M.T. Haryono belajar di lka Dai Gakko ketika tiba-tiba Jepang menyerah dan Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya. M.T. Haryono sebagai pemuda mahasiswa Ika Dai Gakko tidak mau ketinggalan. Segera menceburkan diri dalam kancah perjuangan militer.

Jenderal bintang tiga kelahiran Surabaya, 20 Januari 1924, ini sebelumnya memperoleh pendidikan di ELS (setingkat Sekolah Dasar) kemudian diteruskan ke HBS (setingkat Sekolah Menengah Umum). Setamat dari HBS, ia sempat masuk Ika Dai Gakko (Sekolah Kedokteran masa pendudukan Jepang) di Jakarta, namun tidak sampai tamat.

Ketika kemerdekaan RI diproklamirkan, ia yang sedang berada di Jakarta segera bergabung dengan pemuda lain untuk berjuang mempertahankan kemerdekaan. Perjuangan itu sekaligus dilanjutkannya dengan masuk Tentara Keamanan Rakyat(TKR). Awal pengangkatannya, ia memperoleh pangkat Mayor.

Selama terjadinya perang mempertahankan kemerdekaan yakni antara tahun 1945 sampai tahun 1950, ia sering dipindahtugaskan. Pertama-tama ia ditempatkan di Kantor Penghubung, kemudian sebagai Sekretaris Delegasi RI dalam perundingan dengan Inggris dan Belanda. Suatu kali ia juga pernah ditempatkan sebagai Sekretaris Dewan Pertahanan Negara dan di lain waktu sebagai Wakil Tetap pada Kementerian PertahananUrusan Gencatan Senjata. Dan ketika diselenggarakan Konferensi Meja Bundar(KMB), ia merupakan Sekretaris Delegasi Militer Indonesia.

KEMATIAN TIRTODARMO HARYONO

Dini hari pada tanggal 1 Oktober 1965, anggota Tjakrabirawa, yang menyebut diri mereka adalah Gerakan 30 September, mendatangi rumah Haryono di Jalan Prambanan No 8. Istrinya terbangun oleh sekelompok orang yang mengatakan bahwa suaminya telah dipanggil oleh Presiden Sukarno. Mrs Haryono kembali ke kamar tidur mengunci pintu di belakangnya dan mengatakan suaminya apa yang terjadi. Dia mengatakan kepadanya untuk tidak pergi dan memberitahu para pasukan untuk kembali pada pukul 8:00. Namun, Haryono curiga dan mematikan lampu memberitahu istrinya untuk pindah bersama anak-anak mereka ke kamar sebelah.

Tjakrabirawa kemudian melepaskan tembakan melalui pintu kamar tidur terkunci dan Haryono melompat ke lantai. Ia bersembunyi untuk menunggu penyerang pertama yang masuk ke kamar tidur membawa kertas pembakaran untuk cahaya. Haryono mencoba untuk merebut senjata prajurit, namun gagal dan berlari keluar dari pintu dalam kebingungan. Dia ditembak mati oleh ledakan dari senjata, diseret melalui kebun, dan tubuhnya dibawa ke salah satu truk yang menunggu. Tubuhnya dimasukkan ke dalam truk dan dibawa ke Lubang Buaya, markas pemberontak di selatan pinggiran Jakarta, Jenazahnya disembunyikan di sumur bekas bersama dengan mayat para jenderal dibunuh lainnya.

Seluruh mayat ditemukan pada 4 Oktober dan para jenderal diberi pemakaman kenegaraan. Haryono dimakamkan dengan rekan-rekannya di Taman Makam Pahlawan di Kalibata pada tanggal 5 Oktober. Pada hari yang sama, atas perintah Presiden Soekarno, ia secara anumerta dipromosikan dan menjadi Pahlawan Revolusi.

Sumber : Wikipedia.org

Kisah Asal Usul Moestopo Pejuang Asal Kediri Jawa Timur

Mayor Jenderal TNI (Purn.) Prof. DR. Moestopo lahir di Ngadiluwih, Kediri, Jawa Timur, 13 Juni 1913 –dan meninggal di Bandung, Jawa Barat, 29 September 1986 pada umur 73 tahun. Beliau adalah seorang dokter gigi Indonesia, pejuang kemerdekaan, dan pendidik. Dia dinyatakan sebagai Pahlawan Nasional pada tanggal 9 November 2007.

ASAL USUL MOESTOPO

Mustopo Lahir di Kediri, Jawa Timur, Moestopo pindah ke Surabaya untuk menghadiri Sekolah Kedokteran Gigi di sana. Praktek dokter gigi yang dimulainya terputus pada tahun 1942 ketika Jepang menduduki Indonesia dan Moestopo ditangkap oleh Kempeitai karena terlihat mencurigakan. Setelah dibebaskan, ia sempat menjadi dokter gigi untuk orang Jepang tetapi akhirnya memutuskan untuk mengikuti pelatihan perwira tentara. Setelah lulus dengan pujian, Moestopo diberi komando pasukan PETA di Sidoarjo, ia kemudian dipromosikan menjadi komandan pasukan di Surabaya.

Sementara di Surabaya, selama Revolusi Nasional Indonesia Moestopo menghadapi pasukan ekspedisi Inggris yang dipimpin oleh Brigadir Walter Sothern Mallaby Aubertin. Ketika hubungan rusak dan Presiden Soekarno dipanggil ke Surabaya untuk memperbaikinya, Moestopo ditawari pekerjaan sebagai penasihat tetapi tidak diterimanya. Selama perang ia menjabat beberapa posisi lainnya, termasuk memimpin satu skuadron tentara reguler, pencopet, dan pelacur untuk menyebarkan kebingungan di jajaran pasukan Belanda. Setelah perang, Moestopo meneruskan bekerja sebagai dokter gigi, dan pada tahun 1961 ia mendirikan Universitas Moestopo. Dia meninggal di Bandung pada tahun 1986.

PENDUDUKAN JEPANG

Ketika Jepang menduduki Indonesia pada tahun 1942 Moestopo ditangkap oleh Kempeitai karena dicurigai sebagai orang Indo (campuran Eropa dan Indonesia); kecurigaan ini didasarkan pada perawakan besar Moestopo. Namun, ia segera dibebaskan, dan setelah melayani sebagai dokter gigi militer bagi Jepang, ia menerima pelatihan militer di Bogor. Satu angkatan dengan calon jenderal Sudirman dan Gatot Soebroto, ia selesai terbaik di kelasnya. Selama pelatihan, ia menulis sebuah makalah tentang penerapan militer senjata bambu runcing yang diberi kotoran kuda, dari makalah ini Moestopo menerima nilai tinggi.

Setelah lulus, Moestopo diberi komando pasukan PETA di Sidoarjo. Segera setelah itu, ia dipromosikan menjadi komandan pasukan pribumi Gresik dan Surabaya, ia adalah salah satu dari hanya lima orang Indonesia yang menerima promosi tersebut. Saat di Surabaya, ia menanggulangi naiknya tingkat pengangguran dengan mendirikan bengkel penghasil sabun dan sikat gigi. Ia sempat dilaporkan menyuruh anak buahnya untuk memberi kotoran kuda di bambu runcing untuk menyebarkan tetanus dan juga menyuruh mereka makan kucing untuk mendapatkan penglihatan malam yang lebih baik - konon kabarnya sisa-sisa kucing yang dimakan tersebut kemudian dikubur di pemakaman pahlawan.

REVOLUSI NASIONAL

Setelah akhir Perang Dunia II, pada 17 Agustus 1945 Indonesia memproklamirkankemerdekaannya, Moestopo mengendalikan kekuatan militer yang baru di Surabaya dan melucuti pasukan Jepang dengan hanya dipersenjatai bambu runcing. Pada bulan Oktober tahun itu ia menyatakan dirinya sebagai pejabat sementara Menteri Pertahanan. Pada tanggal 25 Oktober tahun itu, Brigade Infanteri India ke-49 di bawah komando Brigadir Aubertin Walter Sothern Mallaby tiba di Surabaya. Mallaby mengirim petugas intelijennya, Kapten Macdonald, untuk bertemu dengan Moestopo. Menurut laporan Macdonald, Moestopo sangat keberatan atas kedatangan pasukan Inggris.

Ketika pihak Inggris kemudian menemui Gubernur Jawa Timur Soerjo untuk mencari respon yang lebih positif. Para utusan Inggris, yaitu Macdonald dan seorang perwira angkatan laut, mengabarkan bahwa Moestopo menginginkan mereka ditembak saat mereka datang. Akan tetapi, Soeryo menerima deklarasi Inggris bahwa mereka datang dalam damai, ia hanya menolak menemui Mallaby di kapal HMS Waveney. Pasukan Inggris mendarat di Surabaya pada sore hari itu, kemudian Moestopo bertemu dengan Kolonel Pugh. Pugh menekankan bahwa Inggris tidak berniat untuk mengembalikan kekuasaan Belanda, dan Moestopo setuju untuk bertemu dengan Mallaby keesokan harinya.

Pada pertemuan tersebut, Moestopo dengan enggan menyetujui pelucutan pasukan Indonesia di Surabaya. Namun, suasana segera memburuk. Sore itu, Moestopo mungkin telah dipaksa Mallaby membebaskan kapten Belanda Huijer. Pada tanggal 27 Oktober, pesawat Douglas C-47 Skytrain dari ibukota Batavia (saat ini Jakarta) menjatuhkan serangkaian pamflet yang ditandatangani oleh Jenderal Douglas Hawthorn yang menuntut pasukan Indonesia menyerahkan senjata mereka dalam waktu 48 jam atau dieksekusi. Karena ini bertentangan dengan kesepakatan dengan Mallaby, Moestopo dan sekutu-sekutunya tersinggung dengan tuntutan tersebut dan menolak untuk mengikuti permintaan Inggris. Pertempuran pecah pada tanggal 28-30 Oktober setelah Moestopo mengatakan kepada pasukannya bahwa Inggris akan berusaha untuk melucuti paksa mereka, puncak pertempuran ditandai dengan kematian Mallaby.

Pihak Inggris kemudian meminta Presiden Soekarno untuk menengahi. Presiden Soekarno mengangkat Moestopo sebagai penasihat dan memerintahkan pasukan Indonesia untuk menghentikan pertempuran. Moestopo yang tidak mau melepaskan kendali atas pasukannya, memilih untuk pergi ke Gresik. Jadi, ketika Pertempuran Surabayaterus berlanjut, Moestopo tidak lagi mengomandani pasukan di Surabaya. Pada Februari 1946, ketika tentara Belanda telah kembali ke Jawa, ia pergi ke Yogyakarta untuk bekerja sebagai pendidik militer, ia mengajar beberapa saat di akademi militer di sana.

Pada pertengahan 1946 Moestopo dikirim ke Subang, di mana dia memimpin Pasukan Terate. Selain dari pasukan militer reguler, Pasukan Terate di bawah Moestopo juga beranggotakan legiun pencopet dan pelacur yang diberi tugas menyebarkan kebingungan dan mengadakan pasokan dari belakang garis Belanda. Moestopo juga menjabat sebagai pendidik politik bagi pasukan militer di Subang. Pada Mei 1947, setelah menjalani periode sebagai kepala Biro Perjuangan di Jakarta, ia dipindahkan ke Jawa Timur setelah terluka dalam pertempuran dengan pasukan Belanda.

Setelah perang, Moestopo pindah ke Jakarta, di mana dia menjabat sebagai Kepala Bagian Bedah Rahang di Rumah Sakit Angkatan Darat (sekarang RSPAD Gatot Subroto Militer). Pada tahun 1952, Moestopo mulai melatih dokter gigi lain di rumahnya saat tidak bertugas. Ia memberikan pelatihan dasar dalam kebersihan, gizi, dan anatomi. Di saat yang sama, ia dipertimbangkan untuk menjabat posisi Menteri Pertahanan dalam Kabinet Wilopo, tetapi akhirnya ia tidak terpilih, bahkan ia memimpin serangkaian demonstrasi menentang sistem parlementer.

Moestopo melegalkan kursus kedokteran gigi rumahnya pada tahun 1957, dan pada tahun 1958 - setelah pelatihan di Amerika Serikat - ia mendirikan Dr Moestopo Dental College, yang terus dikembangkannya sampai menjadi sebuah universitas pada 15 Februari 1961. Pada tahun yang sama, ia menerima gelar doktor dari Universitas Indonesia.

Moestopo meninggal dunia pada 29 September 1986 dan dimakamkan di Pemakaman Cikutra, Bandung.

PENGHARGAAN

Pada tanggal 9 November 2007, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberi Moestopo gelar Pahlawan Nasional Indonesia. Moestopo mendapat predikat ini bersama dengan Adnan Kapau Gani, Ida Anak Agung Gde Agung, dan Ignatius Slamet Riyadiberdasarkan Keputusan Presiden Nomor 66/2007 TK. Pada tahun yang sama ia dianugerahi Bintang Mahaputera Adipradana.

Sumber : Wikipedia.org

Sunday, February 24, 2019

Kumpulan Nama Tokoh Pahlawan Nasional Dari Daerah Istimewa Jakarta

Berikut ini adalah daftar nama-nama tokoh Pahlawan Nasional yang berasal dari Daerah Istimewa Jakarta :

1. ABDULRAHMAN SALEH


Lahir : di Jakarta 02 Juli 1909
Wafat : 29 Juli 1947 Sleman

Abdul Rahman Saleh Sp.F lahir di Jakarta, 1 Juli 1909 dan meninggal di Maguwoharjo, Sleman, 29 Juli 1947 pada umur 38 tahun. Beliau juga sering dikenal dengan nama julukan "Karbol". Abdul Rahman Saleh merupakan seorang pahlawan nasional Indonesia, tokoh Radio Republik Indonesia (RRI) dan bapak fisiologi kedokteran Indonesia.

Pada saat Belanda mengadakan agresi pertamanya, Adisutjipto dan Abdulrachman Saleh diperintahkan ke India. Dalam perjalanan pulang mereka mampir di Singapura untuk mengambil bantuan obat-obatan dari Palang Merah Malaya. Keberangkatan dengan pesawat Dakota ini, mendapat publikasi luas dari media massa dalam dan luar negeri.

Tanggal 29 Juli 1947, ketika pesawat berencana kembali ke Yogyakarta melalui Singapura, harian Malayan Timesmemberitakan bahwa penerbangan Dakota VT-CLA sudah mengantongi izin pemerintah Inggris dan Belanda. Sore harinya, Suryadarma, rekannya baru saja tiba dengan mobil jip-nya di Maguwo. Namun, pesawat yang ditumpanginya ditembak oleh dua pesawat P-40 Kitty-Hawk Belanda dari arah utara. Pesawat kehilangan keseimbangan dan menyambar sebatang pohon hingga badannya patah menjadi dua bagian dan akhirnya terbakar.

Peristiwa heroik ini, diperingati TNI AU sebagai hari Bakti TNI AU sejak tahun 1962 dan sejak 17 Agustus 1952, Maguwo diganti menjadi Lanud Adisutjipto.

Abulrachman Saleh dimakamkan di Yogyakarta dan ia diangkat menjadi seorang Pahlawan Nasional berdasarkan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No.071/TK/Tahun 1974, tanggal 9 November 1974.

Nama Ia diabadikan sebagai nama Pangkalan TNI-AU dan Bandar Udara di Malang. Selain itu, piala bergilir yang diperebutkan dalam Kompetisi Kedokteran dan Biologi Umum yang diselenggarakan oleh Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) yaitu (National Medical and General Biology Competition) disebut Piala Bergilir Abdulrahman Saleh.

2. ISMAIL MARZUKI


Lahir : Batavia, 11 Mei 1914
Wafat :  Tanah Abang, Jakarta, 25 Mei1958

Ismail Marzuki lahir di Kwitang, Senen, Batavia pada 11 Mei 1914 dan meninggal di Kampung Bali, Tanah Abang, Jakarta pada 25 Mei 1958 pada umur 44 tahun. Beliau adalah salah seorang komponis besar Indonesia. Namanya sekarang diabadikan sebagai suatu pusat seni di Jakarta yaitu Taman Ismail Marzuki (TIM) di kawasan Salemba, Jakarta Pusat.

Lagu ciptaan karya Ismail Marzuki yang paling populer adalah Rayuan Pulau Kelapa yang digunakan sebagai lagu penutup akhir siaran oleh stasiun TVRI pada masa pemerintahan Orde Baru.

Ismail Marzuki mendapat anugerah penghormatan pada tahun 1968 dengan dibukanya Taman Ismail Marzuki, sebuah taman dan pusat kebudayaan di Salemba, Jakarta Pusat. Pada tahun 2004 dia dinobatkan menjadi salah seorang tokoh pahlawan nasional Indonesia.

3. MOHAMMAD HUSNI THAMRIN


Lahir : Batavia, 16 Februari 1894
Wafat : Batavia, 11 Januari 1941

Mohammad Husni Thamrin atau Mohammad Hoesni Thamrin, lahir di Weltevreden, Batavia pada 16 Februari 1894 dan meninggal di Senen, Batavia pada 11 Januari 1941 pada umur 46 tahun. Beliau adalah seorang politisi era Hindia Belanda yang kemudian dianugerahi gelar pahlawan nasional Indonesia.

Mohammad Husni Thamrin dikenal sebagai salah satu tokoh Betawi (dari organisasi Kaoem Betawi) yang pertama kali menjadi anggota Volksraad ("Dewan Rakyat") di Hindia Belanda, mewakili kelompok Inlanders ("pribumi"). Thamrin juga salah satu tokoh penting dalam dunia sepak bola Hindia Belanda (sekarang Indonesia), karena pernah menyumbangkan dana sebesar 2000 Gulden pada tahun 1932 untuk mendirikan lapangan sepak bola khusus untuk rakyat Hindia Belanda pribumi yang pertama kali di daerah Petojo, Batavia (sekarang Jakarta).

Pada tanggal 11 Januari 1941 Muhammad Husni Thamrin wafat, setelah sakit beberapa waktu lamanya. Akan tetapi beberapa saat sebelum kewafatannya, pemerintah kolonial telah melakukan tindakan "sangat kasar" terhadap dirinya. Dalam keadaan sakit, ia harus menghadapi perlakuan kasar itu, yaitu rumahnya digeledah oleh polisi-polisi rahasia Belanda (PID). Ia memprotesnya, akan tetapi tidak diindahkan.

Sejak itu rumahnya dijaga ketat oleh PID dan tak seorangpun dari rumahnya yang diperbolehkan meninggalkan rumah tanpa seizin polisi, juga termasuk anak perempuannya yang masih juga tidak diperkenankan meninggalkan rumahnya, sekalipun utntuk pergi ke sekolah. Tindakan polisi Belanda itu tentulah sangat menekan perasaannya dan menambah parah sakitnya. Wafatnya Muhammad Husni Thamrin tentulah sangat besar artinya bagi bangsa Indonesia. Bangsa Indonesia telah kehilangan salah seorang pemimpinnya yang cerdas dan berwibawa

Menurut laporan resmi, ia dinyatakan bunuh diri namun ada dugaan ia dibunuh. Jenazahnya dimakamkan di TPU Karet, Jakarta. Di saat pemakamannya, lebih dari 10000 pelayat mengantarnya yang kemudian berdemonstrasi menuntuk penentuan nasib sendiri dan kemerdekaan dari Belanda.

Namanya diabadikan sebagai salah satu jalan protokol di Jakarta dan proyek perbaikan kampung besar-besaran di Jakarta ("Proyek MHT") pada tahun 1970-an.

Pada tanggal 19 Desember 2016, atas jasa jasanya, Pemerintah Republik Indonesia, mengabadikan beliau di pecahan uang kertas rupiah baru, pecahan Rp. 2.000

4. WAGE RUDOLF SUPRATMAN


Lahir : di Jatinegara Batavia 9 Maret 1903
Wafat : Surabaya
Jawa Timur 17 Agustus 1938

Wage Rudolf Supratman adalah pengarang lagu kebangsaan Indonesia, "Indonesia Raya", dan pahlawan nasional Indonesia.

Sewaktu tinggal di Makassar, Soepratman memperoleh pelajaran musik dari kakak iparnya yaitu Willem van Eldik, sehingga pandai bermain biola dan kemudian bisa menggubah lagu. Ketika tinggal di Jakarta, pada suatu kali ia membaca sebuah karangan dalam majalah Timbul. Penulis karangan itu menantang ahli-ahli musik Indonesia untuk menciptakan lagu kebangsaan.

Soepratman tertantang, lalu mulai menggubah lagu. Pada tahun 1924 lahirlah lagu Indonesia Raya. Pada waktu itu ia berada di Bandung dan berusia 21 tahun.

Pada bulan Oktober 1928 di Jakarta dilangsungkan Kongres Pemuda II. Kongres itu melahirkan Sumpah Pemuda. Pada malam penutupan kongres, tanggal 28 Oktober 1928, Soepratman memperdengarkan lagu ciptaannya secara instrumental di depan peserta umum (secara intrumental dengan biola atas saran Soegondo berkaitan dengan kondisi dan situasi pada waktu itu, lihat Sugondo Djojopuspito).

Pada saat itulah untuk pertama kalinya lagu Indonesia Raya dikumandangkan di depan umum. Semua yang hadir terpukau mendengarnya. Dengan cepat lagu itu terkenal di kalangan pergerakan nasional. Apabila partai-partai politik mengadakan kongres, maka lagu Indonesia Raya selalu dinyanyikan. Lagu itu merupakan perwujudan rasa persatuan dan kehendak untuk merdeka.

Sesudah Indonesia merdeka, lagu Indonesia Raya dijadikan lagu kebangsaan, lambang persatuan bangsa. Tetapi, pencipta lagu itu, Wage Roedolf Soepratman, tidak sempat menikmati hidup dalam suasana kemerdekaan.

Akibat menciptakan lagu Indonesia Raya, ia selalu diburu oleh polisi Hindia Belanda, sampai jatuh sakit di Surabaya. Karena lagu ciptaannya yang terakhir "Matahari Terbit" pada awal Agustus 1938, ia ditangkap ketika menyiarkan lagu tersebut bersama pandu-pandu di NIROM Jalan Embong Malang, Surabaya dan ditahan di penjara Kalisosok, Surabaya. Ia meninggal pada tanggal 17 Agustus 1938 karena sakit.

Soepratman diberi gelar Pahlawan Nasionaloleh pemerintah Indonesia dan Bintang Maha Putera Utama kelas III pada tahun 1971.

5. KAPTEN CZI ANUMERTA 
PIERRE ANDREAS TENDEAN


Lahir : Batavia 21 Februari 1939
Wafat : 1 Oktober 1965

Kapten Czi. (Anumerta) Pierre Andries Tendean lahir pada 21 Februari 1939 dan meninggal pada 1 Oktober 1965 pada umur 26 tahun. Beliau adalah seorang perwira militer Indonesia yang menjadi salah satu korban peristiwa Gerakan 30 September pada tahun 1965. Mengawali karier militer dengan menjadi intelijen dan kemudian ditunjuk sebagai ajudan Jenderal Besar TNI Abdul Haris Nasution dengan pangkat letnan satu, ia dipromosikan menjadi kapten anumerta setelah kematiannya. Tendean dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata dan bersama enam perwira korban Gerakan 30 September lainnya, ia ditetapkan sebagai Pahlawan Revolusi Indonesia pada tanggal 5 Oktober 1965.

Pada pagi tanggal 1 Oktober 1965, pasukan Gerakan 30 September (G30S) mendatangi rumah Nasution dengan tujuan untuk menculiknya. Tendean yang sedang tidur di ruang belakang rumah Jenderal Nasution terbangun karena suara tembakan dan ribut-ribut dan segera berlari ke bagian depan rumah. Ia ditangkap oleh gerombolan G30S yang mengira dirinya sebagai Nasution karena kondisi rumah yang gelap. Nasution sendiri berhasil melarikan diri dengan melompati pagar. Tendean lalu dibawa ke sebuah rumah di daerah Lubang Buaya bersama enam perwira tinggi lainnya. Ia ditembak mati dan mayatnya dibuang ke sebuah sumur tua bersama enam jasad perwira lainnya.

Tendean bersama keenam perwira lainnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. Untuk menghargai jasa-jasanya, Tendean dianugerahi gelar Pahlawan Revolusi Indonesia pada tanggal 5 Oktober 1965 berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI No. 111/KOTI/Tahun 1965. Pasca kematiannya, ia secara anumertadipromosikan menjadi kapten. Sejumlah jalan juga dinamai sesuai namanya, termasuk di Manado, Balikpapan, dan di Jakarta.

Itulah daftar tokoh Pahlawan Nasional yang berasal dari Provinsi Daerah Istimewa Jakarta.

Wednesday, February 13, 2019

Inilah Daftar Nama Pahlawan Yang Berasal dari Jawa Barat

Berikut ini merupakan kumpulan Nama-nama Pahlawan yang berasal dari Provinsi/Wilayah Jawa Barat yang diambil dari banyak sumber :


1. Abdul Halim

Abdul Halim atau K.H. Abdul Halim, lebih dikenal dengan nama K.H. Abdul Halim Majalengka lahir di Desa Ciborelang, Jatiwangi Kecamatan Jatiwangi Kabupaten Majalengka, Jawa Barat.


Beliau lahir tanggal 26 Juni 1887 dan meninggal di Majalengka tanggal 7 Mei 1962 pada umur 74 tahun. Abdul Halim adalah Pahlawan Nasional berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudoyono Nomor: 041/TK/Tahun 2008 tanggal 6 November 2008 . Seorang tokoh pergerakan nasional, tokoh organisasi Islam, dan ulama yang terkenal toleran dalam menghadapi perbedaan pendapat antar ulama tradisionaldan pembaharu (modernis).

2. Ahmad Soebardjo


Mr. Raden Achmad Soebardjo Djojoadisoerjo lahir di Kabupaten Karawang, Jawa Barat tanggal 23 Maret 1896 dan meninggal pada tanggal 15 Desember 1978 pada umur 82 tahun. Beliau adalah tokoh pejuang kemerdekaan Indonesia, diplomat, dan seorang Pahlawan Nasional Indonesia. Beliau merupakan Menteri Luar Negeri Indonesia yang pertama. Achmad Soebardjo memiliki gelar Meester in de Rechten, yang diperoleh di Universitas Leiden Belanda pada tahun 1933.

3. Dewi Sartika


Dewi Sartika lahir dari keluarga Sunda yang ternama, yaitu R. Rangga Somanegara dan R. A. Rajapermas di Cicalengka pada 4 Desember 1884.

Beliau meninggal di Cineam, Tasikmalaya, 11 September 1947 pada umur 62 tahun) adalah tokoh perintis pendidikan untuk kaum wanita. Ia diakui sebagai Pahlawan Nasional oleh Pemerintah Indonesia pada tahun 1966.

4. Eddy Martadinata

Raden Eddy Martadinata lahir di Bandung, Jawa Barat tanggal 29 Maret 1921 dan meninggal di Riung Gunung, Jawa Barat tanggal 6 Oktober 1966 pada umur 45 tahun. Beliau juga lebih dikenal dengan nama R. E. Martadinata. Eddy Martadinata merupakan tokoh ALRI dan pahlawan nasional Indonesia. Ia meninggal dunia akibat kecelakaan helikopter di Riung Gunung dan dimakamkan di TMP Kalibata, Jakarta.

5. Gatot Mangkoepradja

Gatot Mangkoepradja lahir di Sumedang, Jawa Barat, 25 Desember 1898 dan meninggal di Bandung Jawa Barat tanggal 4 Oktober 1968 pada umur 69 tahun. Ayahandanya adalah dr. Saleh Mangkoepradja, dokter pertama asal Sumedang.

6. Oto Iskandar di Nata

Otto Iskandardinata lahir pada 31 Maret 1897 di Bojongsoang, Kabupaten Bandung. Ayah Otto adalah keturunan bangsawan Sunda bernama Nataatmadja. Otto adalah anak ketiga dari sembilan bersaudara.

Beliau meninggal di Mauk, Tangerang, Banten tanggal 20 Desember 1945 pada umur 48 tahun. Beliau merupakan salah satu Pahlawan Nasional Indonesia. Ia mendapat nama julukan si Jalak Harupat.

7. Zainal Mustafa

Zaenal Mustofa adalah pemimpin sebuah pesantren di Tasikmalaya dan pejuang Islampertama dari Jawa Barat yang mengadakan pemberontakan terhadap pemerintahan Jepang. Nama kecilnya Hudaeni. Lahir dari keluarga petani berkecukupan, putra pasangan Nawapi dan Ny. Ratmah, di kampung Bageur, Desa Cimerah, Kecamatan Singaparna (kini termasuk wilayah Desa Sukarapih Kecamatan Sukarame) Kabupaten Tasikmalaya (ada yang menyebut ia lahir tahun 1901 dan Ensiklopedia Islam menyebutnya tahun 1907, sementara tahun yang tertera di atas diperoleh dari catatan Nina Herlina Lubis, Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia Cabang Jawa Barat). Namanya menjadi Zaenal Mustofa setelah ia menunaikan ibadah haji pada tahun 1927.

Zainal Mustafa meninggal di Jakarta tanggal 28 Maret 1944. Beliau juga merupakan salah satu pahlawan nasional Indonesia. Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Tasikmalaya.

8. Noer Alie

Kiai Haji Noer Alie lahir di Bekasi, Jawa Barat, 15 Juli 1914 – meninggal di Bekasi, Jawa Barat, 29 Januari 1992 pada umur 77 tahun Adalah pahlawan nasional Indonesia Dengan SK Presiden : Keppres No. 085/TK/2006, Tgl. 3 November 2006, dia berasal dari Jawa Barat dan juga seorang ulama.

Beliau merupakan putera dari Anwar bin Layu dan Maimunah binti Tarbin. Noer Ali mendapatkan pendidikan agama dari beberapa guru agama di sekitar Bekasi. Pada tahun 1934, ia menunaikan ibadah haji dan memperdalam ilmu agama di Mekkah dan selama 6 tahun bermukim disana.

9. Raden Djoeanda Kartawidjaja

Ir. H. Djuanda dilahirkan di Tasikmalaya, 14 Januari 1911, merupakan anak pertama pasangan Raden Kartawidjaja dan Nyi Monat, ayahnya seorang Mantri Guru pada Hollandsch Inlansdsch School (HIS).

Beliau meninggal di Jakarta tanggal 7 November 1963 pada umur 52 tahun.

Ir.H. Djuanda adalah Perdana Menteri Indonesia ke-10 sekaligus yang terakhir. Ia menjabat dari 9 April 1957 hingga 9 Juli 1959. Setelah itu ia menjabat sebagai Menteri Keuangan dalam Kabinet Kerja I.

10. Iwa Kusuma Sumantri

Iwa Kusuma Sumantri lahir di Ciamis, Jawa Barat, pada tanggal 31 Mei 1899. Beliau adalah seorang politikus Indonesia. Iwa lulus dari sekolah hukum di Hindia Belanda (sekarang Indonesia) dan Belanda sebelum menghabiskan waktu di sebuah sekolah di Uni Soviet.
Iwa Kusuma Sumantri meninggal tanggal 27 November 1971 pada umur 72 tahun.

11. Kusuma Atmaja

Kusuma Atmaja adalah salah satu pahlawan Indonesia dan Ketua Mahkamah Agung Indonesia pertama.

Kusuma Atmaja Dilahirkan di Purwakarta, Jawa Barat pada tanggal 8 September 1898 dalam sebuah keluarga terpandang sebagai Raden Soelaiman Effendi Koesoemah Atmadja. Kusumah Atmadja pun dapat mengenyam pendidikan yang layak. Ia memperoleh gelar diploma dari Rechtshcool atau Sekolah Kehakiman pada 1913.

Beliau meninggal di Jakarta, Taman Makam Pahlawan Kalibata tanggal 11 Agustus 1952 pada umur 53 tahun.

12. Maskun Sumadireja

Maskoen Soemadiredja lahir di Bandung, Jawa Barat pada tanggal 25 Mei 1907 dan meninggal di Jakarta tanggal 4 Januari 1986 pada umur 78 tahun. Beliau adalah pahlawan nasional Indonesia yang berasal dari Jawa Barat.

Ia adalah putra dari Raden Umar Soemadiredja dan Nyi Raden Umi. Sejak tahun 1927, Maskoen sudah aktif dalam pergerakan politik untuk berjuang mewujudkan kemerdekaan negara Indonesia. Karena itu ia bergabung dengan Partai Nasional Indonesia(PNI) yang dipimpin oleh Ir. Soekarno.

Maskoen memegang jabatan sebagai komisaris merangkap sebagai sekretaris II PNI cabang Bandung. Ia sering melakukan propaganda dengan menyebarkan prinsip-prinsip nasionalisme dan menggugah semangat rakyat untuk memperjuangkan kemerdekaan.

13. Muhammad Toha

Muhammad Toha Lahir di Bandung pada tahun 1927. Mohammad Toha merupakan komandan dari Barisan Rakjat Indonesia. Ia bersama pasukannya berjuang dengan berperang pada masa Perang Kemerdekaan Indonesia. salah satu peristiwa yang membuat Mohammad Toha dikenang adalah peristiwa Bandung Lautan Api yang terjadi pada tanggal 24 Maret 1946.

Muhammad Toha meninggal dalam kebakaran dalam misi penghancuran gudang amunisi milik Tentara Sekutu bersama rekannya, Ramdan, setelah meledakkan dinamit dalam gudang amunisi tersebut.

14. Raden Abdullah Bin Nuh

K.H. R. Abdullah Bin Noeh lahir di Cianjur tanggal 30 Juni 1905 dan wafat di Bogor tanggal 26 Oktober 1987.

Selain maha guru para ulama ia juga merupakan seorang sastrawan, pendidik, dan pejuangkemerdekaan Indonesia. Sejak kecil mendapat pendidikan agama Islam yang sangat keras dari ayahnya, yakni K.H.R. Muhammad Nuh bin Muhammad Idris. Juga seorang ulama besar, pendiri Sekolah AI’ Ianah Cianjur.

15. Aria Adipati Wiranatakusuma

Wiranatakusuma adalah Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia yang pertama. Beliau Lahir di Bandung sebagai keturunan ningrat, Wiranatakoesoemah mendapat pendidikan di ELS, OSVIA, dan HBS. Sewaktu pembentukan Republik Indonesia Serikat, ia pernah menjabat sebagai Wali atau Presiden Negara Pasundan, salah satu negara federal RIS.

Selain itu ia juga merupakan Bupati BandungPeriode 1920 - 1931 dan Periode 1935 - 1945dan Pada tahun 1945 ia diangkat menjadi Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia setelah itu ia diangkat menjadi Ketua Dewan Pertimbangan Agung dari tahun 1945 sampai 1948, sebelum akhirnya menjadi Presiden Negara Pasundan.

Itulah daftar Nama Pahlawan Indonesia yang berasal dari Provinsi Jawa Barat. Jika ada kekurangan silahkan beri komentar di bawah.

Sumber : Google Search

Wednesday, June 28, 2017

Nama Pahlawan Nasional Indonesia, yang berperan besar pada Nusantara


Tak sekadar mengenang, pemikiran dan aksi para pahlawan pun memberi inspirasi tersendiri bagi generasi setelah mereka. Berikut 10 pahlawan paling menginspirasi hasil jajak pendapat KORAN SINDO.

1. IR.SOEKARNO


Soekarno mengusulkan dasar Negara RI, yakni Pancasila. Hal itu disampaikannya dalam pidato di depan Sidang BPUPKI, 1 Juni 1945. Rumusan Pancasila kemudian diterima sebagai dasar negara dan dicantumkan dalam Pembukaan UUD. Soekarno dikenal sebagai seorang orator yang handal. Ketika berpidato beliau mampu menggetarkan hati para pendengarnya. Selain memiliki jiwa patriotik, Soekarno juga seorang politikus yang cerdas. Beliau menguasai delapan bahasa.

Nama : Soekarno
Lahir : Surabaya, 6 Juni 1901
Pendidikan :
-Pendidikan Sekolah Dasar Eerste Inlandse School, Mojokerto
-Pendidikan Sekolah Dasar Europeesche Lagere School,Mojokerto
-Hoogere Burger School, Mojokerto (1911-1915)
-Technische Hoge School (sekarang ITB) (1920)
Penghargaan :
-Gelar Doktor Honoris Causa dari berbagai universitas di dalam maupun luar negeri
-Penghargaan bintang kelas satu The Order of The Supreme Companions of or Tambo

2. KARTINI


Kartini merupakan perempuan ningrat yang memiliki pemikiran moderat. Sebagian besar hidupnya beliau habiskan untuk memperjuangkan kesetaraan hak kaum wanita. Kartini mendirikan sekolah yang bernama Sekolah Kartini pada 1912 di Semarang. Perjuangan Kartini mengubah paradigma masyarakat Indonesia terhadap gender. Partisipasi perempuan di sektor publik saat ini juga tak lepas dari berbagai pemikiran Kartini dalam surat-surat yang dikirim kepada temannya.

Nama : Raden Adjeng Kartini
Lahir : Jepara, 21 April 1879
Pendidikan : Menimba ilmu hanya sampai Sekolah Dasar
Penghargaan :
-Setiap tanggal 21 April diperingati sebagai Hari Kartini
-Namanya dijadikan sebagai nama jalan di Belanda

3. SOEDIRMAN


Soedirman diangkat sebagai panglima besar pada 18 Desember 1948. Pada 19 Desember 1948, Belanda melancarkan Agresi Militer II untuk menduduki Yogyakarta. Soedirman, beserta sekelompok kecil tentara dan dokter pribadinya, melakukan perjalanan ke arah selatan dan memulai perlawanan gerilya selama tujuh bulan. Beliau mengomandoi kegiatan militer di Pulau Jawa, termasuk Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta, yang dipimpin oleh Letnan Kolonel Soeharto.

Nama : Jenderal Besar Raden Soedirman
Lahir : Purbalingga, 24 Januari 1916
Jabatan : Panglima Besar TKR/TNI
Pendidikan Fomal :
-Sekolah Taman Siswa
-HIK Muhammadiyah, Solo (tidak tamat)
Pendidikan Tentara : Pembela Tanah Air (Peta) di Bogor
Pengalaman Pekerjaan sebelum masuk militer: Guru di HIS Muhammadiyah di Cilacap

4.TJUT NYAK DHIEN


Tjut Njak Dhien memimpin perlawanan terjadap Belanda pada masa Perang Aceh. Setelah suaminya, Ibrahim Lamnga, gugur saat bertempur melawan Belanda, Tjut Njak Dhien sangat marah dan bersumpah hendak menghancurkan Belanda. Beliau kemudian menikah dengan Teuku Umar dan keduanya bertempur bersama-bersama melawan Belanda. Namun, Teuku Umar gugur saat menyerang Meulaboh pada 11 Februari 1899. Tjut Njak Dhien kembali berjuang sendirian di pedalaman Meulaboh bersama pasukan kecilnya.

Nama : Tjut Nyak Dhien
Lahir : Aceh 1848
Peran : Pemimpin Perang Melawan Belanda di Perang Aceh

5. PANGERAN DIPONEGORO


Pangeran Diponegoro dikenal karena memimpin Perang Diponegoro (Perang Jawa) pada tahun 1825-1830 melawan pemerintahan Hindia Belanda. Perang tersebut tercatat sebagai Perang Terbesar dan memakan paling banyak korban dalam Sejarah Nusantara. Tercatat ribuan serdadu Belanda tewas dalam peristiwa ini, dan Belanda mengalami kerugian materi hingga 20 juta Gulden.

Nama : Mustahar
Lahir : Yogyakarta, 11 November 1785
Peran : Pemimpin Perang Jawa Melawan pemerintahan Hindia Belanda 1825-1830.

6. KI HAJAR DEWANTARA


Nama asli Raden Mas Soewardi Soerjaningrat adalah Pendiri Taman Siswa. Didirikan untuk mendidik rakyat Pribumi yang masih jelata. Ajarannya dikenal sebagai Tut Wuri Handayani, ing madyo mangun Karso, ing ngarso sungtulodo.
Pendidikan ini berperan besar dalam memberantas buta huruf di Nusantara. Atas jasa Ki Hajar Dewantara ini maka setiap tanggal 2 Mei diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional.

Nama : Ki Hajar Dewantoro
Lahir : Yogyakarta,2 Mey 1889
Pendidikan : ELS dan STOVIA
Penghargaan : Bapak Pendidikan Nasional dan Tanggal lahirnya diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional.

7. MUHAMMAD HATTA

Bung Hatta ini dikenal sebagai tokoh Proklamator, aktivis sejak berusia muda dan negarawan. Bung Hatta sering mendampingi Presiden Soekarno dan juga termasuk ikut merancang Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.
Selama menjadi wakil presiden Indonesia, Bung Hatta juga sering menulis berbagai Ilmu koprasi. Peran tersebut menjadikan Bung Hatta sebagai Bapak Koperasi.

Nama : Muhammad Hatta
Lahir : Bukittinggi, 12 Agustus 1902
Penghargaan : Bapak Koperasi, Proklamator Indonesia dan Doktor Honoris Causa dari UGM

8. BUNG TOMO

Bung Tomo merupakan Tokoh Jurnalis sekaligus berasal dari Surabaya. Dengan lantang Beliau Berteriak "Merdeka atau Mati" dalam mengobarkan semangat juang untuk masyarakat Surabaya. Pertempuran besar pun terjadi di Surabaya, dan hingga kini disebut sebagai Hari Pahlawan.

Nama : Soetomo
Lahir : Surabaya, 3 Oktober 1920
Peran :
-Menteri Negara Urusan Pejuang Bersenjata
- Menteri Sosial AD Interim pada tahun 1955-1956 diera Perdana Menteri Burhanuddin Harahap
- Anggota DPRD 1956-1959, dan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Rakyat Indonesia pada tahun 1964-1966.

9. IMAM BONJOL


Perlawanan IMAM BONJOL dalam Perang Padri bersama dengan kaum PADRI yang terjadi pada tahun 1803 terhadap Belanda membuat Beliau menjadi Pahlawan Nasional. Dahsyatnya perang ini diabadikan dalam bentuk Museum dan Monumen IMAM BONJOL yang terletak di Minangkabau Sumatera Barat.

Nama : Tuanku Imam Bonjol
Lahir : BONJOL Pasaman Sumatera Barat 1772
Peran : Memimpin PERANG PADRI melawan Belanda 1803-1838
Penghargaan : Namanya dijadikan Nama jalan, Stadion dan Universitas

10. PATTIMURA


Pattimura adalah Panglima Perang Melawan VOC Belanda di Tanah Maluku. Di bawah komando Pattimura Kerajaan di Nusantara seperti Ternate,Tidore,Bali, Jawa dan Sumatera bersatu untuk melawan Kolonial Belanda. Pattimura memilih gugur dengan kepala dipenggal dan digantung daripada harus menjadi penghianat bangsa.

Nama : Thomas Matulessy ( Kapiten Pattimura)
Lahir : 8 Juni 1783
Peran : Pemimpin Perang Melawan Belanda yang dikenal sebagai Perlawanan Pattimura 1817
Penghargaan : Nama beliau dijadikan sebagai Nama Jalan, Stadion dan Universitas